Selasa, 18 Agustus 2026

Seluk Beluk Jejak-jejak Kolonial di Kota Cirebon

Cirebon, kota yang berjuluk "kota udang", adalah salah satu kota di pesisir utara Jawa yang menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu pelabuhan penting di Jawa Barat. Selain sebagai pelabuhan, Cirebon yang terletak di antara Jawa Barat dan Jawa Tengah akhirnya menjadi jembatan dua budaya yang berbeda dan melahirkan budaya Cirebon yang unik. Di tempat yang sama pula, tumbuh salah satu kerajaan penting di Pantai Utara Jawa yang akhirnya harus terpecah akibat intrik politik dan membuka jalan pemerintah kolonial Belanda untuk menempatkan Cirebon sebagai salah satu tempat yang penting untuk dikuasai. Pada kesempatan ini, saya akan mengajak anda untuk berjumpa dengan jejak-jejak masa kolonial yang masih berdiri di kota Cirebon.

Foto udara pelabuhan Cirebon.

Cirebon adalah kota yang diberi karunia berupa letaknya yang strategis, yakni berada di pesisir pantai utara Jawa yang terlindungi dari terjangan ombak besar sehingga memungkinkan kapal-kapal untuk bersandar. Hal tersebut menjadikan Cirebon sebagai salah satu titik utama dalam jalur perdagangan sutra dan rempah yang sudah eksis berabad-abad silam. Keunggulan lain Cirebon adalah wilayah pedalamannya yang subur dan memiliki ketinggian yang beragam sehingga hampir beraneka jenis tanaman dapat dibudidayakan di sana. Cirebon selain menjadi tempat yang sentral untuk perniagaan, juga menjadi tempat yang penting dalam penyebarluasan agama Islam di Jawa Barat. Meskipun menjadi tempat yang penting, nama Cirebon baru disebutkan dalam catatan yang dibuat oleh Tome Pires pada tahun 1513. Cirebon sebagai kota bandar mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Panembahan Ratu I yang memerintah pada tahun 1570-1649. Akan tetapi, sepeninggal Panembahan Ratu I, Cirebon menjadi incaran dua kerajaan di Jawa yang saat itu mulai menguat, yakni Banten dan Mataram (Ambary, 1997 : 39).

Pemandangan Cirebon dilihat dari laut pada abad ke-18.

Alkisah antara kurun waktu tahun 1670-an hingga 1680-an, Pulau Jawa sedang dilanda sebuah pemberontakan berskala besar yang dipimpin oleh Pangeran Trunajaya dari Madura. VOC mendapati kekacauan tersebut sebagai momen untuk “mengamankan” Cirebon karena letaknya strategis, yakni berada di tengah-tengah Pulau Jawa. Cirebon saat itu sedang menjadi incaran tiga kekuatan besar di Jawa, yakni Kerajaan Mataram, Kesultanan Banten, dan VOC. Akibatnya situasi keamanan di sekitar Cirebon menjadi tidak aman. VOC meyakini ganguan keamanan tersebut berasal dari kelompok gerilyawan yang dipimpin oleh Pangeran Kidul, seorang Pangeran Banten, yang diutus untuk membuat kekacauan di wilayah kekuasaan Mataram di Jawa bagian barat. Ketika itu, Kerajaan Mataram merasa tidak sanggup untuk menghadapi gerilyawan tersebut karena kekuatan mereka sudah dihabiskan untuk menumpas pemberontakan Trunajaya. Oleh karena itu Mataram meminta VOC untuk mengamankan wilayah milik Mataram di sekitar Cirebon, yakni Karawang dan Indramayu (Dwicahyo, 2020 : 84-87).

Peta kawasan Eropa Kota Cirebon.

Pemandangan perairan Cirebon pada tahun 1881 yang dilukis oleh O.G.H. Heldring (Sumber : Leiden University Libraries).

Ketika operasi penumpasan tengah berlangsung, kesultanan Cirebon sudah terpecah menjadi tiga ; Kasepuhan, Kanoman, dan Kaceribonan. Dari ketiga raja yang ada di Cirebon, hanya Sultan Sepuh I saja yang menjalin hubungan erat dengan VOC dengan harapan dapat mengembalikan marwahnya sebagai pewaris tunggal dari raja sebelumnya, Panembahan Girilaya. VOC kemudian mengutus Jacob van Dijk ke Cirebon pada 1678 untuk berunding dengan penguasa Cirebon dan pada perkembangan selanjutnya, tiga raja Cirebon akhirnya bersedia menjadikan Cirebon sebagai protektorat VOC. Pada saat yang sama, otoritas tinggi VOC di Batavia telah mempersiapkan dokumen perjanjian yang akan ditandatangani oleh penguasa Cirebon agar mereka mendapat perlindungan dari VOC. Dokumen tersebut ditandatangani pada 7 Januari 1681 dan disaksikan oleh Jacob van Dyck dan Jochem Michielse yang mewakili Gubernur Jenderal Rijklof van Goens (Stadsgemeente Cheribon, 1931: 3). Perlindungan yang diberikan oleh VOC tersebut harus dibayar sangat mahal karena Cirebon pada akhirnya terikat kontrak yang lebih banyak menyulitkan para sultan dan menguntungkan VOC. Ekspor-impor barang di Cirebon akan dimonopoli oleh VOC, bea impor barang yang biasanya dikenakan pada VOC sudah tidak berlaku, dan Sultan-Sultan Cirebon dilarang mendirikan bangunan baik di darat maupun di perairan Cirebon tanpa seizin kompeni. Sebaliknya, VOC dapat mendirikan bangunan apapun baik di darat maupun di perairan Cirebon tanpa harus menunggu persetujuan dari Sultan-Sultan Cirebon. Niat untuk mempertahankan legitimasi kerajaan justru membuat sirna kekuasaan para Sultan, baik Kasepuhan dan Kanoman, maupun Kacirebonan. Ketiganya menjadi kerajaan seremonial semata dan hanya bertindak sebagai perantara VOC dengan masyarakat pribumi di pedalaman. Walaupun posisi VOC di Cirebon sudah lebih leluasa, akan tetapi perseteruan antar raja di Cirebon masih terjadi yang malah membuat VOC kesulitan mendapatkan kendali penuh atas Cirebon (Dwicahyo, 2020 : 90).

Gambar denah Fort Beschermer Cirebon (Sumber : Nationaalarchief.nl).

Penjelajahan dimulai dari area di depan pintu masuk pelabuhan Cirebon. Bukan tanpa alasan titik pertama penjelajahan saya dimulai dari tempat tersebut karena di tempat tersebut kurang lebihnya pernah berdiri sebuah benteng bernama Benteng Beschermer yang menjadi penanda utama kekuasaan Belanda di Cirebon. Benteng Beschermer atau yang berarti Benteng Perlindungan, awalnya adalah kubu pertahanan dari pagar-pagar bambu yang didirikan oleh Sultan Sepuh I dan diambilalih oleh VOC setelah tahun 1681. Benteng Beschermingh yang masih sederhana kemudian diperbarui menurut  rencana yang dibuat Francois Tack pada tahun 1685. Akan tetapi, Tack tidak sempat menyaksikan bentengnya tuntas dibangun karena ia terbunuh oleh pasukan Untung Surapati pada tahun 1686. Di dalam Benteng Beschermer, terdapat rumah tinggal dan kantor residen yang diutus sebagai perantara antara VOC dengan Sultan-sultan Cirebon  (Stadsgemeente Cheribon, 1931 : 7-8). Walaupun disebut benteng, pada kenyataanya Benteng Beschermer lebih berfungsi sebagai Kedutaan Besar VOC di Cirebon dan kegiatannya lebih banyak bersifat seremonial seperti mengibarkan bendera Belanda melepaskan tembakan salvo untuk menghormati kapal yang sedang lewat. Senjata yang dimiliki hanyalah empat meriam dengan kualitas yang buruk. Pada tahun 1810, Pangeran Natakusuma yang kelak menjadi Paku Alam I pernah ditawan di Fort Berschemer. Pada 31 Oktober 1835, sebuah ledakan keras dari gudang mesiu mengakhiri riwayat dari Benteng Beschermingh karena selanjutnya benteng tersebut tidak pernah dibangun lagi oleh Belanda. Parit-parit kelilingnya ditimbun pada tahun 1855 dan bekas lokasinya didirikan dengan berbagai bangunan (Stadsgemeente Cheribon, 1931 : 15). Oleh karena itu seperti halnya Francois Tack yang tidak sempat melihat benteng buatannya, kita yang hidup di masa sekarang juga tidak akan lagi menjumpai benteng ini.

Kantor Escompto Cirebon.

Gedung Bank Mandiri yang menempati bekas Escompto Bank.

Berjalan menyusuri kawasan di sekitar bekas Benteng Beschermer menghadirkan pengalaman yang menarik. Benteng yang dahulu menjadi simbol pertahanan kolonial itu kini telah lama hilang berkalang tanah. Namun, justru di luar jejak benteng itulah kehidupan kota terus berkembang dan hingga hari ini masih berdenyut sebagai jantung perekonomian Cirebon. Di sepanjang jalan ini, deretan bangunan tua masih menyajikan keanggunannya, seakan menjadi saksi bisu perjalanan kota pelabuhan yang ramai oleh aktivitas perdagangan. Salah satu bangunan yang menarik untuk dilihat adalah gedung Bank Mandiri. Sekilas bangunan ini tampak seperti gedung perbankan pada umumnya, tetapi di balik dinding-dinding kokohnya tersimpan kisah panjang sebagai bekas kantor Escompto Bank. Pada masa Hindia Belanda, Escompto memainkan peran penting dalam menggerakkan roda ekonomi dengan menyediakan kredit bagi para pelaku perdagangan dan industri. Lembaga keuangan ini pertama kali didirikan di Batavia pada tahun 1857 oleh Tiedeman Jr. dan C.F.W. Wiggers van Kerchem, sebelum kemudian memperluas jaringan usahanya ke berbagai kota. Menariknya, ketika Escompto memutuskan berekspansi keluar Batavia pada tahun 1902, Cirebon dipilih sebagai kota pertama untuk membuka kantor cabang (Djie Ting Ham,1926 : 67). Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Sebagai kota pelabuhan yang sibuk dan pusat distribusi hasil bumi dari wilayah pedalaman Jawa Barat dan Jawa Tengah, Cirebon menawarkan peluang ekonomi yang sangat besar. Keberadaan kantor Escompto menjadi salah satu penanda penting berkembangnya aktivitas bisnis dan perdagangan di kota ini. Gedung yang dibangun sekitar tahun 1917 berdasarkan rancangan biro arsitek Job & Sprey itu menampilkan karakter arsitektur Eropa yang begitu kuat. Di atas pintu masuk tampak sebuah gable yang memberi kesan megah, sementara dormer berbentuk setengah lingkaran menghiasi bidang atap sebagai elemen pencahayaan sekaligus estetika. Di puncak bubungan atap berdiri kubah ventilasi yang dahulu berfungsi menjaga sirkulasi udara di dalam bangunan tropis. Setiap detail tersebut bukan sekadar ornamen, melainkan bukti bagaimana arsitektur kolonial berusaha memadukan gaya Eropa dengan kebutuhan iklim Nusantara.

Selain bangunan kolonial, dapat dijumpai pula bangunan Vihara Dewi Welas Asih atau Klenteng Dewi Kwan Im yang memiliki corak arsitektur Tionghoa yang khas, menjadikanya kontras dengan bangunan berlanggam Eropa di sekitarnya. Jumlah penduduk Tionghoa di Cirebon cukup signifikan. Mereka sudah lama ada di Cirebon sejak abad ke-15 dan memainkan peran penting dalam sektor perekonomian di sana seperti perdagangan ecerean, transportasi, impor-ekspor, kredit, produksi gula serta perdagangan perantara beberapa produk seperti ikan, udang, beras, dan batik. Orang-orang Tionghoa yang bermukim di suatu tempat biasanya mendirikan klenteng sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan masyarakat. Sayangnya sejauh belum dapat dipastikan sejak kapan bangunan ini berdiri. Pai atau prasasti tertua yang ditemukan pada klenteng dari tahun 1658 hanya menyebutkan adanya sumbangan untuk klenteng dari Liem Tsiok Tiong dan dengan demikian klenteng tersebut tentu sudah ada sebelumnya. Klenteng tersebut setidaknya pernah diperbaiki sebanyak tiga kali pada masa kolonial, yakni pada tahun 1791, 1829, dan 1889, seperti yang dicatat dalam prasasti di dalam klenteng. Prasasti tersebut memuat daftar nama-nama donatur serta bagian mana saja yang diperbaiki. Pada gerbang masuk klenteng, terdapat tulisan Cina yang menyebutkan nama asli dari Vihara Dewi Welas Asih, yakni Tiao Kak Sie yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “klenteng dengan pandangan bertumbuh”.


Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen.

Arsitektur bangunan Vihara Welas Asih tidak berbeda dengan bangunan klenteng sebagaimana pada umumnya. Bangunan utama klenteng berada di balik halaman yang dibatasi oleh rumah gerbang yang memperlihatkan bunga-bunga simbol empat musim dan daun pintunya diberi lukisan prajurit penjaga tempat suci. Atap bangunan utama mengikuti karakter arsitektur Tiongkok Selatan dengan bentuk atap ekor walet dan dilengkapi binatang seperti naga, ikan, burung phoenix, dan qilin. Memasuki bagian dalam klenteng, akan dijumpai berbagai perabotan yang biasa dibawa untuk kirab seperti tandu, payung, dan papan bertuliskan nama-nama dewa. Ruang utama klenteng berisi patung dari Dewi Kwan Im yang menurut kepercayaan Buddha adalah Dewi Welas Asih. Dinding-dinding klenteng dihiasi oleh lukisan mural yang menggambarkan hukuman di neraka menurut ajaran Buddha.

Masih di Jalan Pasuketan, kita akan dibuat terkesima dengan keindahan bangunan eks pabrik BAT yang tampak elegan dengan arsitektur art deco khas tahun 1920-an sehingga menjadikannya ikon kota lama Cirebon. BAT atau British American Tobacco adalah raksasa tembakau dunia yang dibentuk dari hasil antara American Tobacco Componay dari Amerika Serikat dan Imperial Tobacco Company dari Inggris pada tahun 1902. Walau BAT sudah masuk ke Hindia-Belanda sejak tahun 1909, namun baru tahun 1923 BAT mendirikan pabrik di Cirebon sesudah mereka membeli pabrik rokok lokal yang didirikan oleh S.S Michael sebelum Perang Dunia I. Bangunan pabrik rokok lama seluruhnya dibongkar dan diganti bangunan baru yang dirancang oleh biro arsitek Hulswit-Fermont-Cuypers. Pembangunannya dimulai pada 9 Februari 1924 menggunakan konstruksi beton bertulang yang dibuat oleh NEDAM. Bangunan pabrik BAT Cirebon diresmikan pada 31 Juli 1925 dan saat itu menjadi bangunan paling menonjol di Cirebon. Gedung pabrik BAT terbagi menjadi dua bagian, yakni sisi barat untuk kantor dan sisi timur untuk pabrik yang di dalamnya terdapat 80 mesin produksi rokok bertenaga listrik. Perancangan gedung tidak hanya mendesain gedung yang sedap dipandang mata saja namun juga memenuhi aspek keselamatan untuk orang-orang di dalamnya. Misalnya bagian dalam gedung diberi penyekat kedap api supaya ketika  kebakaran terjadi api tidak menyebar, adanya akses untuk pemadam kebakaran, dan ruang medis untuk pekerja yang mengalami kecelakaan kerja (Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 3 Agustus 1925). Pabrik BAT Cirebon berhenti produksi setelah BAT memindahkan kegiatan produksinya ke Malang pada tahun 2010. Keberadaan pabrik BAT menunjukan bahwa Cirebon sejak dahulu kala sudah masuk dalam radar investor kelas kakap dari mancanegara seperti BAT. Kini, meskipun fungsi bangunannya telah berubah, jejak kejayaan ekonomi kolonial masih dapat dibaca melalui fasadnya. 

Dari kantor BAT, penjelajahan diteruskan melewati Jalan Talang. Di jalan ini terdapat bangunan klenteng yang masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan Klenteng Talang. Arsitektur klenteng tersebut tidak sepenuhnya murni mengusung gaya Tionghoa karena klenteng ini memiliki jendela kaca yang sebenarnya berasal dari arsitektur kolonial. Klenteng Talang awalnya berfungsi sebagai rumah abu yang dibangun pada tahun 1848 oleh Kapitan Tan Phan Long dan merupakan pindahan dari rumah abu yang berada di Klenteng Tiao Kak Sie atau Vihara Dewi Welas Asih. Dari Jalan Talang, penjelajahan dilanjutkan menuju Lapangan Kebumen.  

Gereja Kristen Pasundan pada tahun 1930-an (Sumber :Nationaal Museum van Wereldculturen).

Gereja Kristen Pasundan pada masa sekarang.

Lapangan Kebumen menjadi lokasi Belanda menempatkan bangunan-bangunan pentingnya. Bangunan pertama yang perlu kita sambangi adalah Gereja Kristen Pasundan yang menjadi bangunan tertua di Lapangan Kebumen. Sebelum bangunan tersebut dibangun, orang-orang Belanda di Cirebon yang beragama Kristen Protestan melakukan ibadah di gereja yang berada di dalam benteng Bescherming. Gereja tersebut dibangun pada tahun 1770-an tetapi dibongkar pada tahun 1808 atas perintah Daendels. Saat itu belum ada kebutuhan untuk mendirikan gereja lagi karena populasi penduduk Eropa di Cirebon masih sedikit dan belum ada pendeta tetap. Sesudah diterapkannya Cultuurstelsel pada tahun 1830-an, terjadi peningkatan jumlah penduduk Eropa sehingga mereka menyumbangkan uang secara sukarela untuk mendirikan gedung gereja di Cirebon. Pada tanggal 14 Juli 1841, diadakan upacara peletakan batu pertama oleh Residen Cirebon, Smissaert, yang diikuti dengan pemberkatan oleh pendeta R. Van Hoet dari Batavia (Javasche courant, 14 Juli 1841). Gereja tersebut dirancang oleh insinyur zeni J. Tromp dengan hiasan yang sederhana dan ukuran yang tidak terlalu besar karena uang pembangunan yang diperoleh tidak cukup banyak. Hingga tahun 1880, gedung gereja tersebut digunakan secara bergantian antara jemaat Protestan dengan jemaat Katolik.

Di dinding depan gereja, terdapat sebuah prasasti yang kadang disangka orang sebagai batu peresmian gereja. Padahal prasasti tersebut aslinya adalah sebuah batu nisan yang berasal dari periode yang lebih tua dari gereja tersebut. Batu nisan tersebut berasal dari makam putri Residen Cirebon, Godfried Carel Cocking, yang meninggal pada 8 Oktober 1778 dan ia meninggal sehari setelah dilahirkan. Batu nisan dari ibu bayi perempuan tersebut, Johanna Maria Alting, dapat kita jumpai di halaman gereja. Johanna Maria Alting meninggal pada tahun 1789 saat ia berusia 21 tahun. Di atas batu nisannya, terdapat sebuah lambang heraldi yang menunjukan bahwa ia berasal dari keluarga yang terhormat. Jika membandingkan antara batu nisan Alting dengan batu nisan bayi yang dilahirkannya, maka ada petunjuk bahwa Alting melahirkan bayinya saat ia berusia 11 tahun. Hal tersebut menunjukan bahwa pada masa lalu, pernikahan dini di kalangan orang Eropa masih menjadi suatu hal yang lumrah dilakukan. Di sebelah batu nisan Alting, terdapat batu nisan dari makam Residen Cirebon, Joachim Wicherts yang lahir di Wageningen pada 17 Juni 1742 dan meninggal di Cirebon pada 28 November 1778. Wicherts diangkat sebagai Residen pada 10 April 1778. Akan tetapi, Wichert hanya sebentar menjabat sebagai residen karena beberapa bulan kemudian, Wichert meninggal pada usia 36 tahun. Selanjutnya ada batu nisan milik Geertruida Margaretha Mom dan tiga putranya. Ketiga putranya meninggal hanya dalam waktu lima bulan saja (30 Desember 1733, 25 Januari 1774 dan 3 April 1774). Putranya yang tertua meninggal saat usia 20 tahun. Sementara dua putra lainnya meninggal saat berusia 3 tahun dan 3 bulan. Sejauh ini belum diketahui lokasi asli dari seluruh batu nisan tersebut namun yang jelas batu nisan tersebut menjadi salah satu petunjuk berharga dalam menelusuri jejak VOC di Cirebon setelah hancurnya Benteng Beschermingh. Batu nisan tersebut juga menjadi gambaran kondisi kesehatan di Cirebon yang masih buruk pada masa itu dan akibatnya banyak penduduknya yang meninggal di usia yang masih belia seperti yang tercatat dalam nisan.

Bangunan gedung Internatio pada tahun 1910-an (Sumber : Neerlands Welvaart)

Melanjutkan langkah dari Gereja Kristen Pasundan, di sebelah bangunan gereja terdapat bangunan kuno yang kini digunakan sebagai kantor Perusahaan Perdagangan Indonesia. Dahulunya, gedung tersebut merupakan kantor Internationale Crediet en Handelsvereeniging Rotterdam, atau yang lebih dikenal sebagai Internatio, sebuah perusahaan dagang besar asal Belanda yang turut mewarnai perkembangan ekonomi kota pelabuhan ini. Sebuah menara menjulang di bagian tengah fasadnya menjadi penanda yang paling mencolok, yang membuat bangunan tersebut lebih dibandingkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Meskipun tampilannya telah mengalami beberapa perubahan seiring perjalanan waktu, siluet menara itu masih menyisakan kesan megah, mengingatkan kita pada era ketika perusahaan-perusahaan dagang Eropa berlomba menampilkan citra kemakmuran melalui arsitektur kantor mereka. Berhenti sejenak di depan bangunan ini, imajinasi seolah diajak kembali ke pertengahan abad ke-19. Internatio didirikan pada tahun 1863 dan berkembang menjadi salah satu perusahaan perdagangan terbesar di Hindia Belanda. Jaringan usahanya tersebar melalui tiga kantor utama di Batavia, Semarang, dan Surabaya, sebelum akhirnya merambah Cirebon pada tahun 1901. Keputusan membuka cabang di kota ini menunjukkan sekali lagi betapa strategisnya Cirebon sebagai simpul perdagangan yang menghubungkan hasil bumi dari wilayah pedalaman dengan jalur pelayaran internasional. Sepuluh tahun setelah membuka cabangnya, tepatnya pada tahun 1911, Internatio mendirikan gedung kantor yang kini masih dapat kita saksikan. Namun, bangunan ini bukan hanya menjadi pusat aktivitas perusahaan dagang tersebut. Di dalamnya juga berkantor dua perusahaan pelayaran ternama, Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Rotterdamsche Lloyd. Kehadiran ketiga perusahaan dalam satu bangunan memperlihatkan pertalian yang erat antara perdagangan dan transportasi laut. Dari sinilah berbagai komoditas ekspor diatur pengirimannya, sementara kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Cirebon menjadi penghubung antara kota ini dengan pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara maupun Eropa. Sekalipun demikian, perjalanan sejarah sebuah bangunan tidak selalu dipenuhi kisah kejayaan. Pada tahun 1935, kantor Internatio cabang Cirebon pernah menjadi sorotan akibat skandal keuangan yang melibatkan seorang akuntan berkebangsaan Belanda. Peristiwa tersebut bahkan diberitakan oleh surat kabar De Locomotief edisi 19 Desember 1935, menjadi pengingat bahwa di balik megahnya kantor-kantor dagang kolonial juga tersimpan dinamika dan persoalan yang mewarnai dunia bisnis pada masanya.

Bangunan kantor pos pada tahun 1930-an (Sumber : Nationaal Museum van Wereldculturen ).

Di sekitar Lapangan Kebumen, kita juga masih dapat menjumpai gedung-gedung tua lainnya. Misalnya di sebelah timur terdapat gedung Kantor Pos Besar Cirebon yang dari dibangun tahun 1906 oleh Burgerlijke Openbare Werken hingga sekarang melewati waktunya sebagai kantor pos. Pada masa ketika komunikasi jarak jauh masih dilakukan lewat surat-menyurat, bangunan tersebut menjadi tempat yang penting karena di tempat inilah masyarakat Cirebon bertukar kabar melalui surat-surat yang dikirim dan diterima di tempat ini. Jauh hari sebelum kantor pos tersebut dibangun, layanan pengiriman surat di Cirebon sudah ada sejak tahun 1754, dimana ada sebuah kapal khusus yang sekali dalam dua minggu akan singgah di Cirebon untuk membawa surat. Tujuan kapal pengangkut surat tersebut adalah Batavia, Tegal, Pekalongan, dan Semarang. Mengingat pentingnya barang yang dibawa kapal tersebut, maka beberapa tentara ditugaskan untuk mengawalnya. Surat-surat selanjutnya diangkut lewat jalur darat sesudah dibukanya Jalan Raya Anyer-Panarukan pada tahun 1810. Sebelum didirkan di lokasi yang sekarang, letak kantor pos Cirebon berada di dalam kompleks kantor residen yang dahulu berada di Lapangan Kebumen dan sempat rusak akibat gempa bumi 18 November 1847.

Gedung De Javasche Bank Cirebon. (Sumber : Nationaal Museum van Wereldculturen)

Bergeser ke sebelah utara Kantor Pos Cirebon, kita dapat menemukan gedung kantor Bank Indonesia Cirebon yang tampak khas dengan menara di sudutnya. Gedung tersebut dulunya adalah kantor cabang De Javasche Bank di Cirebon. De Javasche Bank merupakan bank sentral Hindia-Belanda yang memiliki wewenang dalam mengedarkan uang di Hindia-Belanda. Rencana pembentukan kantor cabang di Cirebon sudah muncul dalam rapat dewan bank tanggal 22 Juni 1866 (Gedenkboek der Javasche Bank)  Cabang De Javasche Bank di Cirebon mulai beroperasi pada 6 Agustus 1866 dengan notaris P.J. Janssens sebagai agen De Javasche Bank cabang Cirebon (Java Bode 4 Agustus 1866).  Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Heutsz (1904-1909), ekonomi Hindia-Belanda mengalami perkembangan yang pesat terutama pada sektor agribisnis. Hal tersebut juga dirasakan di Cirebon yang menjadi kota pelabuhan utama bagian timur Jawa Barat. Terlebih Cirebon  memiliki industri gula di sekitarnya dan memiliki sambungan jalur kereta Cikampek-Cirebon dan Cirebon-Kroya. Kegiatan perbankan De Javasche Bank akhirnya juga ikut meluas sehingga muncul desakan kebutuhan akan kantor baru yang lebih besar. Rencana pengembangan gedung De Javasche Bank Cheribon baru terlaksana setelah berakhirnya Perang Dunia I. Pada 22 September 1919, diadakan peletakan batu pertama oleh Jan Gerritsen, putra tertua direktur De Javasche Bank Cirebon, Theo Gerritsen. Saat proses pembangunan berlangsung, kegiatan De Javasche Bank Cirebon dipindahkan sementara di gedung Residen Cirebon. Bangunan tersebut dirancang oleh arsitek Hulswit dari biro arstek Hulswit, Fermont, en Cuypers yang telah merancang sejumlah gedung De Javasche Bank di berbagai tempat di Hindia-Belanda. Bangunan dirancang dalam tiga lantai, dimana lantai pertama yang ada di bawah tanah berfungsi sebagai ruang penyimpanan uang dan surat berharga. Sementara lantai kedua digunakan untuk kantor dan lantai ketiga dipakai untuk rumah direktur (De Locomotief, 22-23 September 1919).

Gereja Santo Yusuf Cirebon.

Berjalan beberapa langkah ke selatan dari Gereja Pasundan, terdapat bangunan Gereja Santo Yusuf yang menjadi penghujung dari penjelajahan di Cirebon. Gereja tersebut memiliki fasad berbentuk seperti lonceng dan terdapat hiasan-hiasan pilaster sederhana. Sebelum gereja dibangun, umat Katolik di Cirebon mengadakan misa di gedung gereja milik jemaat Protestan karena saat itu umat Katolik yang masih sedikit belum memiliki gedung gereja sendiri. Menyadari kondisi tersebut, seorang dermawan bernama Louis Theodore Gonsalves menyumbangkan sebidang tanah untuk didirikan gereja. Lahir di Batavia pada tahun 1828, Gonsalves sendiri saat itu termasuk tokoh terkemuka di Cirebon karena dia merintis sejumlah pabrik gula di sekitar Cirebon. Peletakan batu pertama gereja dilakukan pada 20 Oktober 1878 dan ditahbiskan pada 10 November 1880. Atas jasanya, Gonsalves dianugerahi gelar “Graaf van Rome” atau bangsawan Roma dari Paus Leo XIII pada 1886 dan diabadikan dalam prasasti yang ada di tembok depan gereja (De Koerier 23 Februari 1929). Meskipun bangunannya tidak begitu besar, gedung gereja tersebut menjadi titik awal persebaran agama Katolik di Jawa Barat, dimana saat itu Cirebon merupakan stasi baru yang didrikan pada 21 Februari 1878 dengan wilayah meliputi Karesidenan Cirebon, Tegal, dan Priangan. Meskipun sudah banyak terdapat penyesuaian seperti penambahan serambi di depan dan perluasan ruangan di belakang gereja, secara umum gereja tersebut masih asli.


Penelusuran kota kolonial Cirebon yang mungkin belum terlalu ramai oleh wisatawan luar seperti membuka lembar demi lembar sejarah, ketika setiap bangunan bukan hanya menjadi penanda ruang, tetapi juga menyimpan cerita tentang perkembangan Cirebon sebagai salah satu kota perdagangan terpenting di pesisir utara Jawa. Bangunan-bangunan kolonial tersebut tentunya juga bukan pajangan kota yang untuk dilihat semata karena setiap bangunan yang berdiri menyimpan kisah dan nilai yang menanti untuk diungkap. Sebagaimana kota-kota berkembang lainnya, pembangunan di Cirebon berpotensi menekan kelestarian bangunan-bangunan kuno yang masih tersisa. Maka dari itu, perlulah suatu kebijakan agar pembangunan yang ada dapat mewadahi upaya pelestarian warisan budaya yang ada di Cirebon.

Referensi

Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 3 Agustus 1925

De Koerier 23 Februari 1929

De Locomotief 22-23 September 1919

De locomotief 19 Desember 1935

Java Bode 4 Agustus 1866

Gedenkboek der Javasche Bank

Djie Ting Ham. 1926. De Algemeene Banken in Nederlandsch Indie. Den Haag : W. P. van Stockum & Zoon.

Ezerman, J.L.J.F. 1919. Beschrijving van den Koan Iem-tempel "Tiao-Kak-Sie" te Cheribon. Batavia : Bataviaasch Genootschap van kunsten en wetenschappen

Stadsgemeente Cheribon. 1931. Gedenkboek der gemeente Cheribon, 1906 - 1931. Bandung : N.V.  A.C. Nix.

Dwicahyo, Satro. 2022. "Benteng Bescherming di Cirebon:  Konteks Politik, Fitur Fisik, dan Fungsinya  Pada Akhir Abad Ke-17" dalam Patrawidya, Vol. 22, No. 1, April 2021 halaman 81-99.

Ambary, Hasan Muarif. 1997. "Peranan Cirebon sebagai Pusat Perkembangan dan Penyebaran Islam" dalam Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Selasa, 19 Agustus 2025

Menyinggahi Eks Rumah Pompa Gambarsari dan Pesanggrahan ; Monumen Irigasi Belanda di Sungai Serayu


"Indah murni alam semesta, tepi Sungai Serayu, Sungai pujaan bapak tani". Begitulah penggal lirik lagu Di Tepinya Sungai Serayu karangan Soetedja Poerwodibroto yang menggambarkan keindahan Sungai Serayu yang memberi berkah kesuburan untuk dataran di tepi kanan-kirinya. Sayangnya karena kondisi medan dan teknologi, pemanfaatan sumber daya air Sungai Serayu dalam jangka waktu yang cukup lama, dilakukan secara terbatas. Oleh karena itulah para insinyur Belanda pada penghujung masa penjajahan menghadirkan sebuah teknologi khusus agar sumber daya air Sungai Serayu dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Teknologi macam apa yang dihadirkan oleh para insinyur Belanda tersebut akan diulas pada Jejak Kolonial kali ini.

Pemandangan udara Sungai Serayu (Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Sungai Serayu walaupun termasuk sungai yang memiliki debit air yang melimpah, namun penduduk setempat belum dapat memanfaatkan sungai tersebut untuk irigasi secara langsung. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan ketinggian yang cukup besar antara tinggi permukaan air dengan daratan yang ada di kanan-kirinya. Sungai Serayu baru bisa dimanfaatkan untuk irigasi setelah pemerintah kolonial Belanda meresmikan saluran irigasi Banjar-Cahyana pada tahun 1914. Sayangnya, saluran irigasi tersebut tidak dapat mencakup wilayah DAS Serayu secara keseluruhan. Wilayah yang belum merasakan manfaat dari Sungai Serayu adalah Dataran Banyumas Selatan atau Dataran Kroya yang dipisahkan dengan Dataran Banyumas Utara oleh perbukitan Serayu Selatan. Dataran tersebut pada mulanya adalah genangan rawa yang sangat luas yang airnya berasal dari sungai-sungai kecil yang hulunya terletak di perbukitan Serayu Selatan. Rawa tersebut perlahan terisi dengan endapan lumpur yang dibawa oleh sungai-sungai tersebut sehingga rawa tersebut perlahan menjelma sebagai dataran. (De Indische verlofganger, 1937).

Peta daerah irigasi Kroja-Werken (Sumber : De Locomotief 8 Februari 1939)

Dataran Banyumas Selatan tidak dapat disambung dengan irigasi Banjar-Cahyana karena terhalang oleh perbukitan Serayu Selatan. Untuk irigasi, penduduk hanya mengandalkan air dari sungai-sungai yang lebih kecil dan debit airnya sering menyusut selama periode musim kemarau. Akibat kurangnya pasokan air, maka panen yang dihasilkan masih terhitung rendah padahal tanahnya termasuk jenis yang subur (De Indische verlofganger, 1937). Pemerintah kolonial sebenarnya sudah menyadari keadaan tersebut sejak jauh hari. Pada tahun 1896, muncul sebuah wacana untuk membuat saluran irigasi di dataran Banyumas Selatan. Walaupun kajian teknisnya sudah dibuat, wacana tersebut tidak jadi diwujudkan karena terhalang oleh biaya dan teknis. Berikutnya pada tahun 1905, dibuat rencana lain dengan skala yang lebih kecil. Seperti pendahulunya, rencana tersebut tidak jadi terlaksana. 

Suasana rumah pompa Gambarsari saat peresmian.
(Sumber : Soerabaijasch handelsblad 17 Maret 1939)

Rencana yang sama kembali muncul di permukaan pada tahun 1920 namun sekali lagi rencana tersebut batal dibuat. Kendala utama dalam rencana tersebut adalah bahwa diperlukan kanal yang dalam untuk dapat mengalirkan air karena adanya perbedaan ketinggian yang cukup besar antara tinggi permukaan air dengan daratan yang ada di kanan-kirinya. Sementara di sisi lain, hasil survey geologi menujukan kondisi formasi tanah di dataran tersebut tidak mendukung untuk penggalian kanal yang dalam. Wacana lainnya muncul pada tahun 1929 dan kali ini idenya adalah membangun bendung gerak Serayu. Wacana tersebut, seperti halnya wacana sebelumnya, berakhir dengan penolakan karena biaya yang ada masih kurang untuk dapat membuat bendung gerak, terlebih teknologi semacam itu belum ada yang pernah membuatnya di Hindia-Belanda. Akhirnya pabrik-pabrik gula di daratan Banyumas Selatan; seperti PG Kalirejo, memutuskan untuk membuat saluran irigasi mandiri dalam skala kecil. Airnya diambil dari sungai-sungai kecil dan tentu saja karena debit airnya yang kecil, hasilnya tidak memuaskan (De Indische verlofganger, 1937).

Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenborough yang sedang meninjau saluran Gambarsari (Sumber : Zaans Volksblad Sociaal-democratisch Dagblad  23 Maret 1939).

Kebutuhan akan saluran irigasi untuk pertanian semakin mendesak setelah terjadi krisis ekonomi tahun 1930-an. Saat itu banyak pabrik gula yang berhenti beroperasi dan tidak menanam tebu lagi. Akibatnya petani yang selama ini mengandalkan upah sebagai buruh kontrak kehilangan pendapatannya. Irigasi akhirnya menjadi kebutuhan yang mendesak agar tanah-tanah tersebut dapat diolah lagi oleh penduduk (De Indische verlofganger, 1937). Harapan untuk dapat membuat saluran irigasi yang layak di dataran Kroya mulai terwujud pada tahun 1936 dengan dibuatnya proyek irigasi Kroja-Werken oleh Provincialen Waterstaatsdienst, satuan kerja pemerintah kolonial untuk mengelola sumber daya air di wilayah provinsi Jawa Tengah. Dana hibah dari Belanda sebesar 2,5 juta gulden dikucurkan untuk mendanai proyek tersebut. Keberadaan proyek tersebut rupanya membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal yang saat itu banyak kehilangan mata pencaharian akibat krisis malaise yang membuat banyak pabrik gula di sekitar Banyumas ditutup. 

Pembangunan rumah pompa Gambarsari (Sumber : De Locomotief 8 Februari 1939)

Saluran-saluran air segera digali di tempat yang sudah ditentukan. Selagi bagian pertama saluran sedang dibangun, para insinyur di Provincialen Waterstaatsdienst yang saat itu dipimpin oleh Ir. P.J.A Wijn berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk dapat membawa air Sungai Serayu masuk ke dalam saluran. Pilihan pertama masih sama dengan wacana dari tahun 1929, yakni membuat bendung gerak di Sungai Serayu yang dapat membuat permukaan air sungai akan naik dan setelah mencapai ketinggian yang diinginkan, air akan mengalir ke dalam saluran. Sayangnya pembuatan bendung gerak dinilai memiliki resiko tinggi dan biaya yang lebih besar untuk dibangun. Pilihan lainnya adalah dengan menyedot air Sungai Serayu dengan mesin pompa. 

Rumah pompa Gambarsari setelah selesai dibangun.
(Sumber : De Locomotief 20 Maret 1939)

Para insinyur Belanda sudah familiar dengan teknologi mesin pompa air karena teknologi tersebut sejak lama sudah digunakan di Belanda untuk memompa genangan air ke tempat yang lebih tinggi sehingga terbentuk daratan baru yang dapat diolah menjadi lahan-lahan pertanian. Penggunaan pompa untuk irigasi juga sudah digunakan oleh perusahaan-peruhaan perkebunan tebu meski dalam skala yang kecil. Di antara pilihan membuat bendung gerak atau rumah pompa, akhirnya pilihan kedua yang dipilih karena biaya pembangunannya dinilai lebih murah dan resikonya lebih sedikit. Dengan demikian, proyek irigasi Kroya-werken diklaim sebagai proyek irigasi skala besar pertama di Hindia-Belanda yang menerapkan teknologi pompa air (De Indische mercuur30 Desember 1936).

Saluran dan inlet Gambarsai. (Sumber : De Locomotief 20 Maret 1939)

Jejak pertama dari proyek Kroya Werken yang masih dapat dilihat adalah eks bangunan rumah pompa Gambarsari. Jika diperhatikan, rumah pompa Gambarsari tidak dibangun berdekatan langsung Sungai Serayu. Air Sungai Serayu rupanya tidak langsung disedot begitu saja karena Sungai Serayu membawa sedimen lumpur yang cukup besar sehingga sedimen tersebut dapat menjadi tumpukan endapan yang menyumbat saluran. Struktur lumpur halus juga yang dapat menyebabkan tanah menjadi keras. Oleh karena itu sebelum disedot, air dialirkan lewat sebuah saluran yang nantinya endapan lumpur perlahan akan mengendap dan tertampung dalam saluran tersebut. Pada saat tertentu, endapan tersebut akan dibuang lagi ke Sungai Serayu. Air dari Sungai Serayu mengalir masuk ke dalam saluran lewat pintu air yang titiknya dipilihkan di kedung atau bagian terdalam sungai (De Indische verlofganger 1937).

Sisa irigasi Kroja-Werken. Keterangan : A. Rumah pompa Gambarsari, B. Rumah pompa Pesanggrahan, Garis biru : Kroja-leiding, Garis hijau : Doplang-leiding, Garis merah : Soempioeh-leiding.


Bangunan rumah pompa Gambarsari yang saat ini sudah tidak berfungsi.

Proses pembangunan gedung mesin pompa Gambarsari dikerjakan oleh Perusahaan Hollandsche Beton Maatschappij. Bangunan rumah pompa Gambarsari dilengkapi dengan empat mesin pompa yang dapat menyedot air sekitar satu setengah juta meter kubik air per hari. Sementara itu satu mesin pompa difungsikan sebagai mesin Cadangan yang baru dinyalakan jika salah satu mesin pompa utama mengalami kerusakan atau sedang dalam perawatan. Mesin pompa tersebut dipasok dan dirakit oleh Perusahaan Stork dari Hengelo. Pekerjaan Kroya-werken melibatkan sejumlah insinyur, pengawas, juru gambar, surveyor, mandor, dan buruh. Meskipun sudah mengerahkan banyak pekerja, ada beberapa bagian proyek yang kemajuan pekerjaannya berjalan cukup pelan. Misalnya bagian saluran antara pintu air dan rumah pompa. Bagian tersebut awalnya digarap oleh kontraktor swasta namun kemudian diambil sendiri oleh pemerintah karena lambat. Meskipun sudah mengerahkan banyak pekerjan, bangunan rumah pompa Gambarsari ternyata juga masih belum selesai sehingga pembangunannya dikerjakan dengan tempo yang lebih cepat (De locomotief 14 Maret 1939).

Gubernur Jenderal Tjarda Van Stakenborough yang sedang menekan tuas sebagai tanda diresmikannya rumah pompa Gambarsari.
(Sumber : Soerabaijasch handelsblad 17 Maret 1939)

Ketika tanggal peresmian tiba, yakni 14 Maret 1939, bangunan rumah pompa ternyata masih belum sepenuhnya tuntas. Namun hal tersebut tidak menghalangi seremoni peresmian yang sudah dijadwalkan. Terlebih orang yang meresmikannya adalah orang nomor satu di Hindia-Belanda, gubernur jenderal Tjarda van Starkenborgh. Sambutan penduduk pada acara tersebut begitu antusias seperti yang dicatat dalam De Indische courant 15 Maret 1939, dimana “penduduk telah berkumpul di berbagai titik di sepanjang jalan Purwokerto-Gambarsari agar dapat melihat rombongan Gubernur Jenderal yang akan melewati jalan tersebut. Bendera merah-putih-biru, berkibar di depan rumah-rumah sepanjang jalan”. Gubernur Jenderal mengangkat tuas mesin di dekat mimbar dan deru suara mesin segera mengisi rumah pompa sebagai tanda bahwa rumah pompa Gambarsari sudah mulai beroperasi. (De Indische courant 15 Maret 1939).

Bangunan yang dahulu digunakan untuk kantor administrasi.
Bangunan yang dahulu digunakan untuk tempat tinggal pengawas rumah pompa Gambarsari.
Tampak bangunan gardu induk, kantor, dan rumah penjaga dari seberang saluran.

Dari Gambarsari, air selanjutnya dialirkan melewati sebuah saluran panjang. Sesampainya di Sampang, air tersebut didistribusikan ke tiga saluran lain, yakni saluran Induk Maos, Saluran Induk Sumpiuh, dan Saluran Sekunder Doplang. Pembuatan saluran tersebut dibangun oleh kontraktor yang berbeda. Misalnya saluran dari rumah pompa Gambarsari hingga pintu distribusi Sampang dibuat oleh Kuhbauch, pintu distribusi Sampang dibuat oleh Hangelbroek, saluran sekunder doplang dibuat oleh M. J. Reksomidjojo, dan saluran induk Maos dibuat oleh T.H. The. Biaya pekerjaan Kroya-werken; baik pembangunan rumah pompa dan salurannya, diperkirakan menghabiskan biaya hingga 1.600.000 gulden dan perawatan tahunan akan menelan biaya sebesar 121.000 gulden per tahun. Kendati biaya Pembangunan dan pemeliharaanya cukup besar, namun keberadaan Kroja-werken memberi manfaat ekonomi yang jauh lebih besar. Diperkirakan keberadaan Kroja-Werken dapat meningkatkan jumlah nilai panenan dari yang semula 2.017.000 gulden menjadi 2.838.000 per tahun (Algemeen Handelsblad 25 Maret 1939).



Kondisi bangunan rumah pompa Pesanggrahan saat ini.

Selain di Gambarsari, rumah pompa kedua dibangun di arah hilir di sisi barat Sungai Serayu. Letaknya berada di Desa Pesanggrahan yang masuk wilayah Kabupaten Cilacap. Tujuan dibangunnya rumah pompa pesanggrahan adalah agar wilayah yang berada di sisi barat Sungai Serayu juga dapat memanfaatkan keberadaan Sungai Serayu. Awalnya, irigasi di wilayah tersebut akan disambung dari Gambarsari dengan menggunakan sebuah akuaduk atau jembatan air yang ada di atas Sungai Serayu. Namun setelah dilakukan perhitungan kembali, ternyata jauh lebih menguntungkan untuk membangun rumah pompa kedua dibandingkan hanya mengandalkan rumah pompa Gambarsari dan membangun akuaduk. Begitulah alasannya mengapa rumah pompa Pesanggarhan dibangun (De Indische verlofganger, 1937). Rumah pompa dilengkapi dengan tiga mesin pompa, dimana salah satu mesin pompa difungsikan sebagai pompa cadangan jika sewaktu-waktu mesin utama mengalami kerusakan.

Pintu air rumah pompa Pesanggrahan.
Kondisi saat ini saluran buang air irigasi.

Rumah pompa Pesanggrahan dapat menyedot air sebanyak 4060 liter per detik. Mesin pompa Pasanggrahan disediakan oleh penyedia yang sama dengan rumah pompa Gambarsari, yakni dari Perusahaan Stork. Sebagaimana rumah pompa Gambarsari, air dari Sungai Serayu dimasukan ke rumah pompa Pasanggrahan lewat pintu air dan sebelum disedot, air ditampung dalam sebuah saluran untuk mengendapkan sedimen yang terbawa air sehingga sedimen tersebut tidak ikut tersedot ke dalam. Pembangunan rumah pompa pesanggrahan dan salurannya dikerjakan oleh kontraktor Pluyter. Satu-satunya bagian yang tidak dikerjakan lewat kontraktor adalah bagian pintu air guna mempercepat pembangunan rumah pompa Pasanggrahan karena tenggat waktu pekerjaanya hampir berakhir.

Tampak gardu listrik Gambarsari pada tahun 1940.
Gardu listrik Gambarsari.
Gardu listrik Pesanggarahan.

Mesin pompa di kedua rumah pompa tersebut menggunakan mesin pompa bertenaga listrik sehingga tidak jauh dari rumah pompa terdapat bangunan garud  Awalnya, air untuk rumah pompa akan dipasok dari PLTA yang airnya disadap dari Sungai Serayu dan dialirkan menuju Kali Bengawan yang lebih rendah. Namun rencana tersebut tidak jadi dibuat karena ada kendala teknis. Bagaimanapun juga, keberadaan rumah pompa tersebut tidak akan berfungsi jika tidak ada pasokan listrik untuk menggerakan pompa. Masalah kelistrikaan untuk pompa akhirnya terjawab setelah perusahaan listrik negara, ANIEM, bersedia untuk memasok listrik ke rumah pompa. Mereka menyelesaikan sebuah PLTA di Ketenger, Baturaden yang mulai beroperasi pada 1 Februari 1939. Listrik dari Ketenger dialirkan ke Gardu Gambarsari untuk pasokan listrik pompa dan diteruskan menuju gardu listrik Pesanggrahan yang kemudian diteruskan ke Maos dan Cilacap. Gardu listrik Gambarsari juga menjadi tempat distribusi listrik ke Kroja, Sumpiuh, hingga Karanganyar. Sistem kelistrikan internal rumah pompa disediakan dan dipasang oleh Perusahaan Van Swaay (Goemans, 1940 ; 156)


Seiring dengan kemajuan zaman, keberadaan mesin pompa di Gambarsari dan Pesanggrahan dinilai memiliki kekurangan karena operasionalnya bergantung pada pasokan listrik sebagai sumber tenaga penggerak dan kondisi mesin. Alhasil saat listrik sedang mengalami gangguan atau mesin pompa tidak dapat digunakan karena sedang diperbaiki, irigasi menjadi terganggu. Oleh sebab itulah para insinyur Belanda berkeinginan untuk dapat membuat bendung gerak di Sungai Serayu walau karena suatu alasan keinginan tersebut belum terlaksana. Keinginan tersebut baru terlaksana beberapa dekade dengan dibangunnya Bendung Gerak Serayu pada tahun 1993 dan diresmikan pada tahun 1996 oleh Presiden Suharto. Semenjak saat itu, bangunan pompa Gambarsari maupun Pesanggrahan tidak lagi digunakan dan menjadi semacam monumen sejarah irigasi. Kendati kedua bangunan pompa sudah tidak digunakan, namun jaringan irigasi yang sudah dirintis oleh para insinyur Belanda masih memberikan manfaat hingga hari ini. Pada akhirnya, nilai utama keberhasilan suatu proyek tidak diukur dari seberapa meriah seremoninya, namun apakah proyek tersebut masih berguna hingga kemudian hari.

Referensi

De Indische verlofganger; blad gewijd aan de belangen van den Indischen verlofganger in Holland, jrg 16, 1937

1936. De Indische mercuur; orgaan gewijd aan den uitvoerhandel, jrg 59, 1936, no. 53

De Indische courant 15 Maret 1939

Algemeen Handelsblad 25 Maret 1939

De Locomotief 14 Maret 1939

Goemans, G.S. 1940. "Het waterkrachtwerk „Ketenger" der N. V. Algemeene Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij in de residentie Banjoemas (Java)" dalam Ingenieur in Ned. Indie No.9 1940. Bandung : Groep Ned.-IndiĆ« van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. hlmn 143-156.