Sabtu, 30 Mei 2020

Sebongkah Masa Lalu Tambang Batubara yang Tersimpan di Sawahlunto

Menapaki abad ke-19, eksploitasi pemerintah kolonial terhadap bumi nusantara tidak hanya menyasar pada segala yang tumbuh di atas permukaan tanah saja, namun juga menyasar kandungan mineral yang terpendam di bawahnya. Di antara mineral yang ditemukan, batubara memainkan peran penting sebagai penggerak roda revolusi industri dan penemuan teknologi. Salah satu pusat penghasil batubara di nusantara adalah Sawahlunto, kota kecil di pelosok Sumatera Barat yang terkepung oleh lembah. Tidak pernah terbayangkan bila kota yang pada mulanya hanyalah sebuah terra incognita; tanah tak dikenal, akhirnya menjadi kota tambang batubara nan makmur yang namanya mahsyir dalam sejarah penambangan batubara di Indonesia dengan jejak kebesaran masa lalunya  yang sampai hari ini tetap kokoh walau berusia puluhan tahun. Melalui tinggalan sejarah tersebut, Jejak Kolonial akan mengisahkan seperti apa upaya Belanda dalam menyerap sumber daya yang ada di tanah jajahannya dengan mengerahkan segenap pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya demi meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Melihat kondisi alamnya yang terkurung oleh perbukitan curam dan jauh dari jalur strategis, maka siapapun yang pernah berkunjung ke sini mungkin akan berpikir mustahil jika seandaianya akan ada kota yang akan tumbuh di sini. Pemikiran tersebut akan semakin kuat bilamana kita berkunjung ke Sawahlunto sebelum tahun 1890an. Jika kita bisa kembali ke masa itu, pemandangan yang akan dijumpai hanyalah sebuah ladang persawahan terpencil yang terkurung oleh perbukitan. Jauh dari kata gemerlap. Namun di balik itu semua, tanah di dalamnya ternyata berkelimpahan endapan organik dari 45 juta tahun silam yang dengan kondisi tertentu membentuk suatu jenis batu yang tidak terlalu indah untuk dilihat namun menjadi sumber penggerak utama revolusi industri, yakni batubara. Sebelum potensi batubara di Sawahlunto terendus oleh Belanda, Van Lier dalam laporannya menyebutkan bahwa masyarakat lokal telah mengenal dan memanfaatkan lidah arang, julukan orang lokal terhadap batubara yang ditemukan di permukaan. Mereka memanfaatkan lidah arang atau batubara sebagai bahan bakar memasak. Beberapa batubara yang ditemukan oleh mereka ada yang dijual ke daerah selatan Sawahlunto dan diangkut menggunakan perahu menyusuri aliran sungai Ombilin.
Sawahlunto pada tahun 1890an, penambangan batubara baru dimulai. Terlihat pada saat itu belum ada bangunan PLTU dan kawasan Pecinan. (sumber : media-kitlv.nl)
Di kala masyarakat Sawahlunto masih menambang batubara secara tradisional dan memanfaatkan batubara hanya untuk keperluan rumah tangga, batubara telah memainkan peran penting bagi negeri-negeri yang telah menjadi kekuatan dunia seperti Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat. Bagi imperium tersebut, batubara lebih dari sekedar bahan bakar untuk memasak, melainkan juga sebagai menghidupi industri skala besar dan pendorong penemuan teknologi penting seperti kereta api, kapal uap, dan mesin-mesin canggih lain yang telah menyatukan kepentingan berbagai negara. Sumberdaya berjuluk ‘emas hitam’ tersebut juga memiliki peran penting bagi wilayah jajahan Eropa seperti Hindia-Belanda, dimana batubara menyalakan mesin kereta dan kapal uap pengangkut hasil eksploitasi dari tanah jajahan. Awalnya batubara masih didatangkan dari Eropa. Dibukanya terusan Suez dan kehadiran teknologi kereta api mendorong peningkatan konsumsi batubara di Hindia-Belanda. Supaya tidak bergantung dengan pasokan dari Eropa, maka pemerintah kolonial menjajaki potensi batubara di Hindia-Belanda. Upaya penyelidikan batubara di Hindia Belanda dilakukan pertama kali oleh Koninklijke Natuurkundige Vereeniging dan mereka menguak adanya kandungan batubara di Martapura, Kalimantan. Pada tahun 1846, pemerintah kolonial merintis pertambangan batubara di sana, namun karena tidak digarap secara serius maka tambang batubara pertama di Hindia Belanda tersebut berakhir dengan kegagalan (Van Lier, 1917; 10-13).
Wilem Hendrik de Greve, penemu potensi batubara di Sawahlunto.
Syahdan, ahli penambangan bernama C. De Groot mulai menyelidiki potensi batu bara di Sumatra barat (di sekitar Padang Sibusuk wilayah Sijunjung) pada tahun 1958. Untuk memastikan temuan De Groot tersebut, sekitar tahun 1867, pemerintah kolonial menugaskan ahli geologi, Willem Hendrik de Greeve, untuk mengungkap potensi kandungan batubara di perbukitan di sepanjang Sungai Ombilin. Berbekal laporan De Groot, W.H de Greeve yang dipandu oleh masyarakat lokal menempuh perjalanan yang berat. Perjalanan berat tersebut terbayar ketika ia berhasil memastikan adanya kandungan batubara dalam jumlah besar yang tersebar menjadi lima ladang, yakni Parambahan, Sigalut, Lurah, Sugar, dan Sungai Durian. Dari kelima ladang endapan tersebut, ladang Sungai Durian memiliki kandungan batubaranya paling melimpah yakni mencapai 93 juta ton. Pada 1872, de Greeve melanjutkan penjajakan batubara di Sumatera Barat. Malangnya, penjajakan kedua tersebut sekaligus menjadi penjajakan terakhir yang dilakukan de Greeve karena ia tewas terhanyut arus sungai Batang Kuantan pada 22 Oktober 1872. Kematian De Greeve ternyata tidak menyurutkan upaya penjajakan potensi batubara di sana. Pada tahun 1875, insinyur tambang D.M. Verbeek berhasil memetakan potensi batubara di ladang yang ditemukan oleh de Greeve. Hasrat untuk membuka tambang semakin kuat tatkala dr. Vlanderen, kepala laboratorium mineralogi, menyimpulkan bahwa mutu batu-bara Ombilin cukup tinggi karena mampu menghasilkan nyala api yang lebih lama dan meninggalkan sedikit jelaga sehingga layak untuk dijual ke pasaran dengan harga yang tinggi (Greve, 1907;10).
Kota Sawahlunto pada tahun 1930an, saat kegiatan penambangan mulai berkembang. (sumber : media-kitlv.nl)
Menindaklanjuti penelitian dari berbagai ahli tersebut, pemerintah kolonial akhirnya memutuskan untuk membuka ladang batu bara Ombilin. Bagi pemerintah kolonial, ladang batu bara di Ombilin memiliki nilai lebih dibanding ladang batu bara lain di Hindia Belanda. Selain karena memiliki kandungan batubara bermutu baik dalam jumlah besar, letaknya yang strategis juga menjadi pertimbangan tersendiri. Berada di Sumatera bagian tengah, keberadaan ladang batu bara Ombilin diharapkan mampu merangsang pembangunan di Sumatera bagian tengah yang saat itu masih sedikit tersentuh oleh pembangunan. Dalam konteks global, tidak ada tempat di antara terusan Suez dan Samudera Pasifik yang mampu menghasilkan batu bara sebaik dan sebanyak Ombilin sehingga pangsa pasar batubara Ombilin terbuka cukup lebar ditambah letaknya yangdi persimpangan rute perdagangan dunia akan memudahkan dalam pemasaran. Namun semua potensi besar tersebut akan terbuang sia-sia jika tidak ditopang oleh sistem transportasi yang memadai. Lantaran hal itu, sebelum upaya pembukaan tambang batubara di Ombilin dimulai, pemerintah terlebih dahulu menyiapkan jalur kereta yang menghubungkan lokasi tambang dengan pelabuhan pada 1887. Setelah jalur transportasi siap, pemerintah kolonial mulai melakukan penambangan batubara di Ombilin dimulai dari ladang Sungai Durian yang paling banyak kandungan batubaranya. Selagi ladang batubara di Sungai Durian mulai ditambang, perlahan mulai tumbuh sebuah kota kecil yang terletak di area persawahan dekat tambang Sungai Durian. Persawahan tersebut dilalui oleh Sungai Lunto dan dari situlah kota kecil tersebut mendapatkan namanya, Sawahlunto.
Lubang tambang Sungai Durian pada tahun 1920an. (sumber : media-kitlv.nl)
Terowongan tambang Lunto.

Terowongan tambang Sungai Durian.
Terowongan tambang Mbah Suro.
Gedung kompresor udara Barangin.
Kandungan batubara terbaik di Ombilin terpendam di dalam tanah sehingga kegiatan penambangan dilakukan dengan menerapkan metode tambang terowongan. Salah satu terowongan yang selama ini dikenal di Sawahlunto adalah terowongan Lubang Mbah Suro, namun sejatinya masih ada terowongan tambang lainnya yang tersebar di Sawahlunto seperti terowongan tambang Lunto, Sungai Durian, Panjang dan Waringin. Hanya saja terowongan-yang sudah disebutkan tadi tidak memungkinkan untuk ditelusuri pengunjung umum karena keadaanya sudah tertimbun tanah atau tergenang air. Sejak tahun 2007, lubang tambang Mbah Suro dibuka untuk umum namun tidak semua bagian terowongan dapat dijelajahi. Para penambang sehari-harinya berjibaku dengan kondisi terowongan yang sempit, panas, pengap, dan gelap. Selain merasakan ketidaknyamanan, para penambang masih harus menghadapi bahaya lain seperti gas methan yang dapat meledak bila terkena percikan api. Oleh karena itu, kebutuhan vital untuk penambang seperti udara dan penerangan dibuat dengan memperhitungkan keselamatan pekerja. Udara dihembuskan dari gedung kompresor lewat terowongan ventilasi dan kemudian udara disedot keluar melalui terowongan ventilasi lainnya untuk menjaga sirkulasi. Selain memasok oksigen pekerja, hembusan udara tersebut juga membantu dalam penguraian gas methan. Sumber penerangan berasal dari lampu yang dirancang khusus dapat mendeteksi keberadaan gas methan. Sementara itu, rangkaian lori ditarik dengan tenaga kuda atau lokomotif yang tidak menghasilkan asap seperti lokomotif listrik. Listrik tersebut dihantarkan ke montor penggerak lokomotif lewat kabel-kabel yang terentang di sepanjang pinggir dinding tambang.
Transportasi lori listrik yang digunakan untuk mengeluarkan gerobak dari dalam tambang (sumber ; media-kitlv.nl)

Jumat, 31 Januari 2020

Klenteng Hwie Wie Kiong dan See Hoo Kiong ; Dua Mutiara Tersembunyi di Pecinan Semarang

Bagi pelancong yang pertama kali menjelajah Pecinan Semarang, mencari dua klenteng ini ibarat menyelam ke bagian terdalam samudera untuk mendapatkan mutiara. Dua tempat ibadah orang Tionghoa ini letaknya memang tersembunyi di tengah padatnya Kampung Sebandaran yang berada di bantaran Kali Semarang,dan jauh dari kata tersohor seperti halnya klenteng Sam Poo Kong. Kendati demikan, siapapun yang berhasil menemukan klenteng ini akan dibuat terkesima dengan kekunoan dan keindahannya laksana mutiara. Inilah cerita dari Klenteng Hwie Wie Kiong dan See Hoo Kiong...
Letak klenteng Hwie Wie Kiong (1) dan See Hoo Kiong (2).
Klenteng Hwie Wie Kiong.
Tampak luar dari klenteng Hwie Wie Kiong terlihat lengang Hanya ada dua kendaraan yang terparkir di halamannya yang tak begitu luas. Karakter Tiongkok selatannya langsung terlihat dari bentuk bubungan atapnya yang menyerupai jurai ekor walet. Patung shi zi atau singa jantan dan betina sebagai simbol keharmonisan, menyambut setiap pengunjung klenteng. Dinding depannya dihiasi dengan ukiran detail, menampakan kepiawaian para pengrajin kayu Tionghoa yang mencurahkan seluruh keahliannya di dindingnya. Dari rangka konstruksi atap terbuka hingga ukiran jendela depan yang menampilkan ukiran naga yang tampak natural. Ukiran naga tersebut bisa dikatakan adalah ukiran yang paling menawan dari klenteng ini. Pada dasarnya, hiasan pada klenteng bukan sekedar pemanis saja. Di dalamnya, terkandung  pesan moral dan “doa bisu”. Semisal adalah ukiran naga tadi. Dibalik tampangnya yang gahar nan seram, naga dalam mitologi Tiongkok sesungguhnya adalah makhluk pembawa berkah dan pemberi perlindungan. Jika diamati seksama, naga ini hanya memiliki empat kuku, jumlah kuku tertinggi yang diperbolehkan untuk rakyat biasa. Naga berkuku lima dikhususkan untuk bangunan kekaisaran.
Dinding luar klenteng Hwie Wie Kiong.
Ukiran naga.
Secara garis besar, tata ruang klenteng ini dibagi menjadi tiga, yakni ruang suci utama, balai leluhur, dan ruang paling belakang yang belum diketahui fengshuinya. Tidak ada bangunan samping seperti lazimnya klenteng-klenteng besar. Klenteng Hwie Wie Kiong memiliki tiga pintu masuk ke dalam ruang suci utama, namun pintu masuk yang sering dilalui oleh pengunjung adalah pintu masuk yang paling kanan. Hal tersebut rupanya juga ada maknanya. Pintu paling kanan disebut Pintu Naga Hijau (Qinglong) sementara pintu kiri klenteng disebut Pintu Macan Putih (Baihu). Masuk melalui pintu kanan merupakan lambang kemakmuran sementara keluar dari mulut macan merupakan lambang lolos dari bahaya. Sehingga diharapkan setiap orang yang masuk keluar klenteng diberi kemakmuran dan lolos dari bahaya. Sementara itu, pintu tengah klenteng senantiasa dibiarkan. Pintu ini biasanya dibuka pada perayaan Cap Go Meh dan patung dewa utama klenteng akan dibawa keluar melalui pintu ini. Dua daun pintu dihiasi lukisan malaikat pintu yang disebut Qie-Lan Pu-Sa dan Wei-tuo-Pu-Sa. Keduanya adalah Bodhisattva pelindung agama Buddha dan dilukis di pintu sebagai simbol pelindung klenteng dari roh jahat. Pada setiap pintu, terdapat ambang balok yang disebut di fu ban yang dapat dilepas.
Bagian dalam klenteng Hwie Wie Kiong.
Melangkah ke dalam, semerbak asap menyeruak dari batang dupa yang tertancap di depan altar, dibarengi aroma khasnya yang memenuhi setiap sudut ruang klenteng. Sebagai sumber pencahayaan alami dan sirkulasi udara, terdapat tiga ruang terbuka di klenteng ini. Dua ruang terbuka kembar berada di belakang serambi, dan satu ruang terbuka lainnya terletak di balai belakang. Keberadaan tiga ruang terbuka tersebut menghasilkan iklim sejuk di dalam ruang, tidak sesak oleh asap dupa karena udara senantiasa bergerak mengalir. Sementara sinar mentari juga bebas masuk tanpa menimbulkan panas. Orang akan merasa nyaman tatkala berada di dalam. Ketika siang hari, bagian dalam klenteng menjadi terang benderang.
Ruang terbuka sebagai sumber cahaya dan udara.
Suasana sepi adalah pemandangan sehari-hari dari klenteng Hwie Wie Kiong. Wajar karena klenteng ini bukan termasuk klenteng yang cukup terkenal di Semarang seperti klenteng Sam Poo Kong. Dinding klenteng dilabur dengan warna hitam, kuning dan merah yang berpadu indah, menghamburkan keindahaan arsitektur Tiongkok yang masih terjaga keasliannya. Atap bangunan dipikul oleh rangka konstruksi atap terbuka tanpa penutup plafond, sehingga memperlihatkan keseluruhan rangka yang dihias begitu meriah. Melihat permainya ornamen dan megahnya ukuran klenteng ini seakan menunjukan kemakmuran Tan Tiang Tjhing, sang pendiri klenteng indah ini. Membahas klenteng ini memang perlu menyinggung tentang sosok Tan Tiang Tjhing karena klenteng ini adalah bagian dari sejarah kehidupan sang “mayor” pemimpin orang Tionghoa di Semarang yang pernah hidup di masa kolonial.
Rangka-rangka penopang atap.
Menukil dari buku “Riwayat Semarang” karya dari Liem Thian Joe, dijelaskan bahwa Tan Tiang Tjhing adalah putra dari juragan Bing, pemilik penggilingan gula di Semarang. Tidak diketahui dengan pasti kapan ia lahir, hal yang diketahui dari masa kecilnya adalah bahwa walau lahir di Semarang, namun masa kecilnya dihabiskan di negeri Tiongkok. Ketika beranjak dewasa, ayahnya memanggil Tan Tiang Tjhing untuk kembali ke Semarang karena ayahnya dipekerjakan oleh pemerintah kolonial untuk mengurus pacht kehutanan sehingga dibutuhkan tenaga untuk mengelola penggilingan gula. Penggilingan gula tersebut kemudian diwariskan kepadanya sesudah ayahnya meninggal. Tahun 1809, berdasarkan pai yang masih ada hingga hari ini, Tan Tiang Tjhing diangkat sebagai Letnan oleh pemerintah kolonial. Walau menyandang gelar militer, bukan berarti Tan Tiang Tjhing memiliki kuasa atas sekelompok serdadu. Gelar tersebut sesungguhnya diberikan pemerintah kolonial sebagai tanda bahwa Tan Tiang Tjhing menjadi kepala masyarakat sekaligus penyambung lidah penduduk Tionghoa di Semarang dengan pemerintah kolonial (Liem, 1931 ; 90).
Pai yang menandai pengangkatan Tan Thiang Tjhing sebagai Letnan pada 1809 dan Mayor pada 1829.
Pada tahun 1814, Tan Thiang Tjhing ingin menunjukan baktinya kepada leluhurnya dengan mendirikan sebuah klenteng yang juga merangkap sebagai balai leluhur bagi marganya. Leluhur yang dimaksud ialah Tan Goan Kong. Siapakah gerangan sosok Tan Goang Kong ini sehingga sebuah sebuah klenteng dipersembahkan untuknya oleh salah satu keturunannya ? Alkisah di era Dinasti Tang, ada suatu tempat di dataran Tiongkok Selatan bernama Tjiang-Tjioe (Zhangzhou). Kala itu, wilayah tersebut masih belum tersentuh oleh pengaruh pemerintahan kaisar Tiongkok sehingga hampir segala kejahatan terjadi di situ. Jenderal Tan Goan Kong atau dalam ejaan Pinyin bernama Chen Yuanguang, diutus oleh Kaisar Tiongkok, Ruizong, untuk mengamankan wilayah tersebut. Setelah keamanan terjamin, Tan Goan Kong mengubah daerah tersebut dari sarang bandit menjadi daerah yang makmur. Walau sudah menjadi wilayah makmur, namun nyatanya masih ada pemberontakan di sekitar Tjiang-Tjioe. Tan Goan Kong bersama pasukannya berusaha menumpasan pemberontakan tersebut dan nahasnya, Tan Goan Kong tewas dalam pertempuran itu. Atas jasa-jasanya, kaisar Xuanzong yang menggantikan kaisar Riuzong, menganugerahkan gelar anumerta kepadanya dan menitahkan untuk mendirikan kuil penghormatan kepada Tan Goan Kong. Hari ini, kuil atau klenteng yang dipersembahkan kepada sang jenderal agung tersebar di berbagai penjuru, termasuk klenteng yang diangun Tan Thiang Tjhing. Lantaran klenteng ini didirikan oleh salah satu anggota marga Tan, maka nama klenteng ini aslinya adalah klenteng Tan Seng Ong.
Rumah tinggal mayor Tan di Sebandaran (sumber : colonialarchitecture.eu).
Tampaknya semesta memberkati kehidupan Tan Thiang Tjhing sesudah ia mendirikan klenteng sebagai bakti kepada leluhurnya. Pangkat Tan Thiang Tjhing dinaikan menjadi Kapten, menggantikan Kapitan Tan Tiang Khong yang mengundurkan diri karena alasan usia. Pada 1829, pangkat Tan Thiang Tjing ditinggikan lagi menjadi Mayor, menjadikannya sebagai orang Tionghoa pertama di Semarang yang mengemban pangkat tertinggi itu. Pangkat tersebut memang pantas disematkan kepada Tan Thiang Tjing karena ia berjasa dalam melindungi nyawa penduduk Tionghoa di Semarang selama terjadinya Perang Jawa. Pai dari Tan Thiang Tjhing yang menandai pengangkatannya sebagai Letnan dan Mayor masih dilestarikan dan dipajang berjejer di depan balai leluhur. Sepanjang hidupnya, Tan Thiang Tjhing dikenal memiliki sifat royal. Ia tidak segan memberi hadiah mahal kepada koleganya sebagai upaya memelihara ikatan persahabatan. Hal inilah yang membuat nama Tan Thiang Tjhing tak hanya dikenal di Semarang, namun di tempat lainnya. Tan Thiang Tjhing ketika masih hidup menempati rumah mewah di sisi selatan Sungai Semarang yang dijuluki Gedong Gula karena dibangun di bekas gudang gula yang masih kepunyaanya. Wilayah tempat tinggalnya berangsur-angsur berubah nama menjadi Sebandaran, berasal dari kata bandar karena Tan Thiang Tjhing dikenal sebagai bandar yang memegang banyak pacht atau konsensi. Bermodal pacht yang ia pegang itulah ia mampu meraih kemakmuran yang tercermin lewat rumah dan klenteng yang didirikannya. Tan Thiang Tjhing meninggal pada tahun 1833 sesudah menduduki jabatan mayor selama 18 tahun (Liem, 1931; 116-117). Sayangnya, bangunan rumah indah sang mayor telah lama musnah dan boleh dibilang bila klenteng Hwie Wie Kiong tinggal satu-satunya warisan yang masih bisa dijumpai. Lambat laun, semuar orang di luar marga Tan dapat bersembahyang di klenteng tinggalan Tan Thiang Tjhing ini.
Balai leluhur marga Tan.
Beranjak ke belakang, terdapat bangunan yang dikhususkan sebagai balai leluhur untuk marga Tan. Balai leluhur atau istilah lainnya disebut sebagai rumah abu, tempat disimpannya  papan arwah atau sin ci. Keberadaan balai leluhur bertalian erat dengan kepercayaan tradisional Tiongkok, dimana orang Tionghoa menjunjung rasa hormat yang tinggi kepada orang yang sudah meningal dunia karena mereka percaya orang yang sudah meninggal masih memiliki kehidupan yang berkelanjutan dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keberuntungan untuk mereka yang masih hidup di dunia. 

Bagian dalam balai leluhur marga Tan.
Fitur utama dari balai leluhur adalah meja altar dan lemari yang berisi sin ci. Selain budaya Tionghoa, sin ci atau papan arwah jamak dijumpai pada kebudayaan masyarakat Asia Timur lain seperti di Korea (shinwi) dan Jepang (ihai). Papan ruh tersebut memuat nama-nama orang-orang yang sudah meninggal. Penyusunan letak papan arwah biasanya disusun bertingkat sesuai silsilah keluarga dan tingkat yang tertinggi diperuntukan bagi leluhur paling atas. Di depan lemari, terdapat meja altar dan deretan kursi. Pada hari-hari khusus, beragam buah-buahan, minuman, dan makanan akan disajikan di atas meja tersebut sebagai persembahan terhadap arwah leluhur. Deretan kursi tetap dibiarkan kosong karena dipercayai bahwa arwah leluhur sedang duduk di kursi-kursi tersebut untuk menikmati persembahan.
Klenteng See Hoo Kiong.
Beringsut dari klenteng Hwie Wie Kiong, hanya berjalan beberapa langkah ke barat akan dijumpai bangunan klenteng lain yang juga tak kalah megahnya dengan klenteng Hwie Wie Kiong. Klenteng itu adalah klenteng See Hoo Kiong. Dari luar, klenteng See Hoo Kiong juga sama sepinya.  Dari luar, terlihat hanya ada tiga orang yang sedang duduk-duduk di serambi klenteng, mencari keteduhan di tengah panasnya udara kota Semarang. Dibanding klenteng klenteng Hwie Wie Kiong, pekarangan depan klenteng ini jauh lebih luas. Pekarangan suatu klenteng umumnya bersifat profan, dimana segala kegiatan masyarakat dilangsungkan di sini. Oleh karena itu, pekarangan depan klenteng harus bebas dari struktur permanen seperti pohon dan tiang. Hal lain yang patut diperhatikan dari klenteng ini adalah jumlah undakannya lebih banyak sehingga klenteng ini tampak lebih tinggi dibandingkan klenteng klenteng Hwie Wie Kiong. Hal tersebut menandakan bahwa klenteng tersebut memiliki status yang lebih tinggi di antara klenteng-klenteng di Semarang.

Di antara seluruh klenteng di Pecinan Semarang, klenteng ini adalah yang paling bungsu. Dibangun tahun 1881, pembangunan klenteng ini diprakarasi oleh Liem Siong Djian dan Liem Kiem Ling. Seperti tak mau ketinggalan dengan marga Tan, mereka berdua ingin mendirikan klenteng untuk marga mereka. Untuk mewujudkan pembangunan klenteng tersebut, anggota marga Liem mendermakan uangnya. Klenteng marga Liem itupun akhirnya dibangun di lahan yang masih bersebelahan dengan klenteng milik marga Tan (Liem; 1931; 174). Setelah klenteng dibangun, tampaknya kemakmuran menyertai kehidupan marga Liem. Beberapa keturunan mereka sukses menjadi taipan. Di samping klenteng ini, sisa kejayaan marga Liem yang masih dapat ditemui adalah bangunan villa Puri Gede di Candibaru, Semarang (kini Rumah Dinas Wakil Gubernur Jateng) dan villa yang kini menjadi bagian dari Hotel Semesta.
Satu dari dua pasang patung shi zi, sepasang singa jantan dan betina sebagai simbol keharmonisan
Pai klenteng See Hoo Kiong dengan lukisan mural pada ambang pintu.
Dilihat tata ruang dan komponen bangunannya, klenteng See Hoo Kiong bisa dikatakan sebelas-dua belas dengan klenteng Hwie Wie Kiong. Perbedaan yang terlihat hanyalah pada hiasan nan indah yang tergurat pada kayu-kayu serta ukuran bangunannnya saja. Nuansa Tiongkok masih melekat erat pada  pada tampak luar klenteng See Hoo Kiong seperti halnya klenteng Tan Seng Ong yang bersanding di sebelahnya. Atap klenteng memiliki bubungan atap berbentuk seperti jurai ekor walet atai yanwei yang menjadi ciri arsitektur Minnan. Di pucuk atap ekor waletnya, bertengger dua pasang naga yang saling berhadapan menghadap sebuah bola api. Pinggiran genting pada titisan serambi diberi penutup tabung bergelasir yang disebut liuliwa. Genting semacam ini hanya diperuntukan untuk istana kekaisaran atau bangunan suci. Salah satu hiasan pembeda klenteng ini adalah mural pada ambang bagian atas pintu yang menggambarkan kisah-kisah rakyat Tiongkok yang sarat dengan hikmah dan pesan. 
Ruang utama klenteng. Tampak bagian lantai yang masih dilapisi tegel lama.
Hal yang membuat bangunan klenteng tampak terlihat seragam adalah karena adanya semacam kaidah yang harus dipatuhi dalam pembangunan klenteng. Hal tersebut bertujuan sebagai upaya menyelaraskan diri dengan energi yang terkandung di alam sehingga kehidupan di dunia berlangsung lancar dan tidak terganggu oleh suatu halangan. Karenanya, dibalik fisik klenteng yang indah, tersimpan makna-makna yang terkait dengan kosmologi maupun falsafah orang Tionghoa yang mengutamakan keselarasan dengan alam dan pengaturan kosmologi dalam kepercayaan mereka, dengan demikian klenteng memiliki dimensi yang tampak dan yang tidak tampak (Cangianto, 2013).
Toapekong Thian Siang Seng Boo.
Klenteng See Hok Kiong adalah klenteng yang dipersembahkan kepada dewi lautan, Thian Siang Seng Boo atau Dewi Laut. Sebutan lainnya lainnya adalah Maktjouw Poo atau Mazu. Perihal asal-usul Thian Siang Seng Boo patut juga diceritakan di sini. Syahdan, pada abad ke-10 di wilayah Hokkian, hiduplah seorang perempuan Liem Bik Nio yang masih merupakan leluhur marga Liem. Sewaktu bayi, Liem Bik Nio samasekali tidak pernah menangis seperti bayi pada umumnya. Sesudah usia 8 tahun, Liem Bik Nio disekolahkan dan ternyata ia termasuk murid yang sangat cerdas. Suatu hari, ayah Liem Bik Nio didatangi oleh seorang pendeta Tao. Rupanya maksud kedatangan pendeta Tao itu adalah untuk menyampaikan kepada ayahnya bahwa Liem Bik Nio menunjukan tanda-tanda seorang calon dewa. Pada saat berusia 16 tahun, Liem Bik Nio secara tidak sengaja menemukan sebuah kitab yang berisi ajaran kesaktian di sumur rumahnya. Dengan cepat, Liem Bik Nio menguasai isi ajaran kitab tersebut dan dari situlah Liem Bik Nio mulai memperlihatkan mukjizatnya. Sepanjang hidupnya, Liem Bik Nio sering menolong para pelaut yang tertimpa musibah di tengah ganasnya lautan. Liem Bik Nio akhirnya menjadi bagian dari pantheon Tiongkok dengan diberi gelar Thian Siang Seng Boo atau Permaisuri Surga. Pemujaan terhadap Dewa Laut amatlah penting bagi mereka yang berpergian lewat jalur laut seperti para pedagang dan perantau Tionghoa. Pada masa lalu, para nelayan akan mendatangi kuil Maktjouw Poo pada saat musim menagkap ikan tiba. Patung atau gambar dari Maktjouw Poo kemudian dipasang di buritan kapal dengan harapan agar mereka dilindungi keselamatannya dan diberkahi dengan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Bila ada perjalanan laut yang akan menghabiskan waktu lebih lama, maka akan diadakan arak-arakan Maktjouw Poo. Pemujaanya menyebar luas tidak hanya di daratan Tiongkok, namun juga di wilayah perantauan orang Tionghoa seperti Semarang. Para perantau mendirikan kuil atau klenteng sebagai rasa syukur kepada Thian Siang Seng Boo atau Maktjouw Poo yang telah memberi keselamatan perjalanan selama di lautan (Roberts, 2010;104-105).
Balai leluhur marga Liem.

Seperti halnya klenteng Tan Seng Ong, klenteng See Hoo Kiong juga merupakan klenteng yang merangkap fungsi sebagai balai leluhur. Di balai leluhur tersebut, terdapat fitur yang sama seperti balai leluhur marga Tan seperti lemari tempat menaruh papan sin ci dari marga Liem dan altar persembahan. Pada dasarnya, balai leluhur merupakan bangunan untuk peringatan, penghormatan leluhur serta tempat menyelenggarakan upacara  keluarga. Sepanjang sejarah, balai leluhur dibuat dalam ukuran yang beragam dan pada periode dinasti Qing, balai leluhur dibuat lebih besar karena sifat balai leluhur tidak hanya sebagai tempat sembahyang untuk mengenang leluhur semata, namun juga tempat berkumpulnya sanak saudara semarga. Balai leluhur umunya dibuat mencerminkan kekayaan dan status sosial dari suatu marga. Oleh karena itu, balai leluhur biasanya dibangun ketika kemampuan finansial sudah mencukupi (Knapp, 2010; 204-205).
Lemari sin ci klenteng See Hoo Kiong. 
Kumpulan sin ci.
Klenteng sebagai tempat ibadah sarat dengan nilai agama mulai dari fungsinya, peletaknya, tata ruang, hingga ragam hias di dalamnya menyimpan makna yang diyakini oleh orang Tionghoa. Klenteng selain memiliki fungsi religious, juga melingkupi fungsi sosial dan budaya. Dengan demikian, klenteng adalah inti dari masyarakat Tionghoa baik di perdesaan atau perkotaan. Ketika banyak orang Tionghoa yang merantau ke wilayah luar Tiongkok seperti ke Indonesia, mereka akan mendirikan klenteng sebagai ungkapan rasa syukur kepada dewa-dewi atas kemakmuran dan keselamatan yang telah dilimpahkan. Dalam klenteng pula, dapat diamati suatu kesatuan seni yang tertuang dalam dekorasi yang mengandung simbol pengharapan dan berbagai kisah-kisah penuh hikmah. Demikian halnya dengan keberadaan balai leluhur marga yang menyatu dengan klenteng-klenteng itu. Boleh dikatakan bila balai leluhur yang menyatu pada kedua klenteng tersebut menunjukan nilai semangat memelihara tali persaudaraan keluarga. Di balai leluhur itulah, satu keluarga akan beribadah bersama untuk mengenang leluhur mereka dan dari sin ci yang tersimpan mereka dapat mengenal silsilah keluarganya. Sekian tulisan Jejak Kolonial. Layaknya mutiara yang bernilai tinggi, dua klenteng ini sudah sepatutnya untuk dijaga kelestariannya.


Referensi
Cangianto, Ardian. 2013. " Menghayati Klenteng sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa " dalam web.budaya-tionghoa.net.

Heuken, Adolf. 2003. Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka.

Knap, Ronald G. 2010. Chinese House of Southeast Asia. Tuttle : Singapore.

Liem Thian Joe. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta; Hasta Wahana.
Liu Weilin. 2013. Bagian-bagian dari Arsitekur Tionhoa dalam http://web.budaya-tionghoa.net/

Xuan Tong. 2013. " Asal Muasal Klenteng – Makna, Fungsi, dan Perkembangannya "dalam web.budaya-tionghoa.net.

Qing-hua Guo. 2002. Visual dictionary of Chinese Architecture. Image publishing. Mulgrave, Australia.
Roberts, Jeremy. 2010. Chinese Mythology A to Z. New York : Chelsea House.

Sabtu, 12 Oktober 2019

Stasiun Jakarta-Kota yang Melampaui Masa


Ketika matahari mulai menyongsong dari ufuk timur, sebuah kereta listrik perlahan memasuki satu dari dua belas jalur yang  terentang di Stasiun Jakarta Kota. Kereta berhenti dan segera para penumpang menyeruak dari dalam kereta, berpencar ke berbagai penjuru. Sudah berdiri lebih sembilan puluh tahun lamanya stasiun ini menyaksikan lika-liku kehidupan manusia ibukota. Lengkung kanopi besinya seakan ingin menceritakan sejarah kehadiran si ular besi di Batavia sekaligus karya salah satu arsitek yang mahsyur di masanya, Frans Johan Lowrens Ghijsels.
Stasiun Batavia Zuid sebelum direnovasi pada tahun 1927 (sumber : colonialarchitecture.eu).
Riwayat dari stasiun ini sendiri boleh dikatakan lebih tua dari bangunannya yang tampak sekarang. Membaca riwayat stasiun ini tak akan bisa lepas dari  upaya pembangunan jalur kereta di Batavia. Pembuatan jalur kereta dari Batavia menuju Bogor sudah direncanakan oleh pemerintah kolonial sejak tahun 1851, tiga belas tahun sebelum jalur kereta api pertama dibuka di Semarang pada 1864. Kala itu, Letnan Maarschalk, seorang perwira zeni militer Belanda, diberi tugas untuk menjajaki lokasi yang bakal dilalui jalur kereta api Batavia- Buitenzorg. Kendati rencana telah disusun matang, namun pemerintah kolonial tampaknya masih berpikir ulang untuk mengeksekusinya karena pembuatan jalur kereta jelas memakan biaya yang tinggi dan sementara itu belum ada kepastian apakah jalur kereta tersebut akan menghasilkan keuntungan atau tidak. Barulah setelah jalur kereta Semarang-Vorstenlanden menunjukan kesuksesannya, maka pemerintah kolonial memberi lampu hijau untuk pembangunan jalur kereta Batavia-Buitenzorg. Sebagai permulaan, diadakan upacara pencangkulan pertama yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Pieter Mijer di bakal lokasi stasiun Batavia pada 25 Oktober 1869 Bataviaasch (Nieuwsblad. 15 Agustus 1929). 2.500.000 gulden adalah perhitungan biaya yang dihabiskan pemerintah kolonial untuk membangun jalur kereta Batavia-Buitenzorg. Pembangunan tersebut rupanya dilakukan secara bertahap. Tahap pertama yakni pada ruas Batavia-Weltevreden yang dibuka 15 September 1871, kemudian disusul Weltevreden-Meester Cornelis yang dibuka pada 16 Juni 1872 dan diikuti dengan Mesteer Cornelis-Buitenzorg yang dibuka pada 31 Juni 1873. Begitulah cerita datangnya si ular baja di Batavia.
Peta tahun 1910an yang memperlihatkan letak Stasiun Batavia Selatan (St. Batavia Z.). Letak stasiun Batavia Selatan cukup strategis, yakni berada di antara kawasan perdagangan orang Eropa di Kota Tua dan orang Tionghoa di Glodok (sumber : maps.library.leiden.edu).
Sebelum dibangunnya Stasiun Jakarta Kota, Batavia memiliki dua stasiun dengan jarak yang berdekatan, yakni stasiun Zuid Batavia dan Nord Batavia. Stasiun Zuid Batavia atau Batavia Selatan yang dikelola B.E.O.S ini berdiri di lokasi stasiun Jakarta kota yang sekarang. Sementara itu, terpaut 200 meter ke utara, ada stasiun Noord Batavia yang merupakan stasiun milik NIS dan melayani jurusan Batavia-Bogor. NIS lalu menjual konsensus jalur tersebut kepada Staaspoorwegen pada 1913. Kemudian tahun 1923, stasiun Batavia selatan ditutup sehingga tinggal stasiun Batavia utara saja yang masih berfungsi. Rencana pemerintah dalam bidang perkeretapian di Batavia lainnya adalah menyatukan kedua Stasiun Batavia, yakni stasiun Zuid Batavia dan Nord Batavia. Stasiun Zuid Batavia atau Batavia Selatan yang dikelola B.E.O.S ini berdiri di lokasi stasiun Jakarta kota yang sekarang. Sementara itu, terpaut 200 meter ke utara, ada stasiun Noord Batavia yang merupakan stasiun milik NIS dan melayani jurusan Batavia-Bogor. NIS lalu menjual konsensus jalur tersebut kepada Staaspoorwegen pada 1913. Kemudian tahun 1923, stasiun Batavia selatan ditutup sehingga tinggal stasiun Batavia utara saja yang masih berfungsi.
Foto udara Stasiun Batavia Kota. Tampak di seberangnya terdapat kantor Nederlandsch Handel Maatschappij dan di sebelahnya adalah kantor De Javaasche Bank. Gaya dan ukuran ketiga gedung tersebut tampak kontras dengan bangunan ruko bergaya Tionghoa di sekitarnya. Dahulu di depan stasiun terdapat sebuah lapangan yang kini menjadi lorong penyeberangan dan halte Bus Transjakarta (sumber : colonialarchitecture.eu).
Bila melihat keadaan sekitar, Stasiun Batavia menempati tempat yang cukup strategis, yakni di sebelah selatan Balaikota yang menjadi jantung perekonomian. Ia diapit oleh pusat perdagangan Eropa di sebelah utaranya dan ruko-ruko orang Tionghoa di sebelah selatannya. Berhadapan dengan stasiun ini, berdiri dua gedung perusahaan terbesar di Hindia-Belanda, Nederlands Handel Maatschappij dan De Javaasche Bank. Selain lintas Batavia-Buitenzorg, stasiun Batavia juga juga tersambung dengan Tanjung Priok, Tanah Abang, dan Meester Cornelis (Jatinegara).  Sepanjang berdirinya, stasiun ini tersohor dengan nama Stasiun Beos. Nama Beos sendiri mengacu dari Bataviasche Oostpoorweg Maatschappij. Sejarah berdirinya maskapai ini dimulai ketika H.J. Meertens mengajukan konsensi pembangunan kereta api dari Batavia ke wilayah timurnya seperti Pasar Senen, Meester Kornelis, Tanjung Priok, dan Bekasi. Namun karena tidak memenuhi persyaratan hukum, maka konsensi tersebut ditolak. Tidak putus asa, Meertens beserta firma Tiedeman dan van Kerchem mengajukan konsensi yang sama pada pada 1881 dan setahun berikutnya, pemerintah akhirnya menerima konsensi tersebut. Mereka diberi konsensi selama 90 tahun untuk membangun dan mengoperasikan jalur kereta dari Batavia ke wilayah timur seperti Bekasi dan Meester-Cornelis. Lintas Batavia-Bekasi sendiri selesai dibuka pada tahun 1887, kemudian diikuti Bekasi-Cikarang pada 1890, dan Cikarang-Kedunggede pada 1901. Pemerintah kolonial rupanya juga meminta B.E.O.S untuk melanjukan pembangunan kereta hingga lebih jauh ke timur sampai Cirebon. Namun B.E.O.S menolak permintaan tersebut dengan pertimbangan bahwa biaya yang dibutuhkan sangat tinggi untuk membuat jalur di sana  mengingat mereka harus membuat jembatan di sungai Citarum (Rietsma, 1916;6-8). 

Proses pembangunan stasiun Batavia Kota pada tahun 1927  (sumber : colonialarchitecture.eu).
Kuda-kuda atap yang sedang dalam proses pemasangan (sumber : colonialarchitecture.eu).
Sebagai stasiun yang berdiri di ibukota pemerintah, Belanda tentu berharap untuk memiliki stasiun megah yang dapat mencitrakan kejayaan kekuasaan mereka. Maka dari itu, Staatspoorwegen menugaskan C.W. Koch, kepala insinyur di Staatspoorwegen, untuk merancang sebuah stasiun dengan muka yang megah dan di salah satu sudutnya dilengkapi dengan menara jam. Namun karena alasan ekonomi dan ketidaksepakatan, maka rencana Koch dibatalkan. Tugas perancangan bangunan stasiun yang memiliki 12 jalur tersebut akhirnya diserahkan kepada Frans Josef Lowrens  Ghijsels, arsitek dari biro konsultan Algemeen Ingenieurs- en Architectenbureau (A.I.A).  Dalam merancang stasiun baru tersebut, arsitek kelahiran Tulungagung tersebut mencoba beberapa variasi bentuk pintu masuk utama pada bagian fasad depan. Setelah bereksperiman dengan berbagai bentuk, Ghijsels akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah bangunan yang lebar, fasad rendah, dan di bagian tengahnya terdapat sebuah atap melengkung yang megah. Bentuk tersebut dinilainya cocok untuk sebuah stasiun terminus atau stasiun ujung (Akihary, 1996; 83). Selepas Ghijsels mematangkan desainnya pada Juni 1927, stasiun Batavia selatan lantas dirobohkan. Proyek pembangunan tersebut ditangani oleh kontrakrtor Hollandsch Beton Maatschappij.
Stasiun Batavia Kota yang baru saja selesai dibangun (sumber : colonialarchitecture.eu).

Peron stasiun Batavia dengan bentang atap lengkungnya yang panjang(sumber : colonialarchitecture.eu).
Para penumpang kereta yang tiba di stasiun (sumber : Batavia Als Handels-, Industrie-,en Woonstad) .
Dengan kemajuan teknologi konstruksi saat itu, stasiun ini hanya perlu dibangun selama dua tahun. Kontras dengan bangunan stasiunnya yang bernuansa modern, upacara peresmian yang diadakan pada 8 Oktober 1929 menampilkan unsur tradisional yang sangat kental. Pada pagi hari, para pegawai baik yang berdarah Eropa dan pribumi menggelar upacara selamatan. Sementara itu, pada siang harinya, gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff melakukan upacara penanaman kepala kerbau yang ditanam di depan pintu masuk stasiun. Maksud dari upacara selamatan dan penanaman kepala kerbau itu ialah supaya bangunan stasiun selama beroperasi dapat terhindarkan dari marabahaya. Seminggu setelah upacara tersebut, koran Javabode menyebut stasiun Batavia “berdiri bak monumen yang bersaksi kepada penerus kita tentang apa yang harus dipahami seputar ekonomi. Bangunan itu akan menjadi stasiun yang memesona dan bergelar sebagai salah satu stasiun tercantik di timur”. Stasiun Jakarta Kota termasuk stasiun yang sudah dielektrifikasi oleh Staatspoorwagen pada tahun 1923. Keamanan perjalanan telah dipikirkan begitu matang pada saat itu. Mereka menggunakan sistem keamanan Siemens & Halke, sistem paling mutakhir yang sudah digunakan pada stasiun-stasiun besar di Eropa dan Amerika. Elektrifikasi jalur kereta disusul dengan rencana pengembangan bangunan stasiun-stasiun seperti Stasiun Tanjung Priok, dan Stasiun Pasar Senen (Anonim, 1937; 164-167)
Bagian muka stasiun yang kini sudah tidak dilalui untuk umum.




Kesan lapang tercipta berkat atap lengkung desain karya arsitek F.J.L. Ghijsels.
Seakan menolak kemewahan langgam neo-klasik yang menjadi pakem bangunan stasiun dari periode sebelumnya, Ghijsels memilih langgam arsitektur art deco yang terkesan lugas dan rasional, namun bercita rasa tinggi. Langgam tersebut tentu sejalan dengan prinsip Ghijsles, “kesederhanaan adalah jalan tersingkat menuju keindahan”. Prinsip tersebut dituangkan dalam hiasan interior dan eksterior stasiun baru yang tampak sederhana, hanya menampilkan permainan garis tegak lurus.  Bagian dalam stasiun ini sendiri berupa kantor berlantai dua yang membentuk galeri. Sementara itu, di atasnya terbentang atap lengkung yang ditopang oleh kuda-kuda baja yang menangkupi ruang di bawahnya. Perhatian besar juga ditujukan pada detil pintu dan jendela. Racikan Ghijsels tersebut menghasilkan sebuah bangunan stasiun yang melampaui masanya. Karenanya, orang yang pertama kali berjumpa dengan bangunan ini, tidak akan menyangka jika sebenarnya bangunan ini adalah bangunan lawas. Walau aura kekunoan masih membungkus di stasiun ini, namun bagaimanapun juga perkembangan zaman tak bisa dihindarkan. Pintu utama yang berada di tengah kini tidak bisa dilalui pengunjung lagi. Di samping itu, peron yang berada di sebelah utara ditambahkan ruang tunggu baru untuk penumpang kereta api jarak jauh dan menengah.
Jam antik di Stasiun Jakarta Kota.
Baut penyambung kuda-kuda baja.


Sebagai penghias, dinding stasiun dilapisi dengan lempengan batu alam yang digosok mengkilat.
Hiasan interior stasiun baru yang terlihat sederhana, hanya menampilkan permainan garis tegak lurus.
Seperti itulah kisah Stasiun Jakarta Kota, salah satu stasiun teragung di Hindia-Belanda, penanda babak baru sejarah transportasi di ibukota. Dengan visinya yang spektakuler, arsitek Ghijsels berhasil menghadirkan sebuah bangunan stasiun dengan arsitektur yang melampaui masa sehingga bangunan ini terlihat sedap dipandang di masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

Referensi

Akihary,H. 1996. Ir. F.J.L Ghijsels ; architect in Indonesia (1910-1929). Utrecht L: Seram Press.

Anonim. 1937. Batavia Als Handels-, Industrie-,en Woonstad. Batavia : G.Kolff & Co.

Anonim. Nederlandsch Indische Staatspoor-en Tramwegen. Nedelands Welvaart.

Reitsma, S.A. 1916. Indische Spoorweg Politiek (Deel I). Batavia : Landsdrukkerij

Bataviaasch Nieuwsblad. 15 Agustus 1929.