Jumat, 05 Agustus 2022

PG Gemuh yang Tak Lagi Bergemuruh

Bila tulisan Jejak Kolonial sebelumnya lebih banyak menyorot tentang pabrik gula di wilayah Jawa bagian selatan, maka Jejak Kolonial kali ini akan beranjak ke wilayah pantai utara Jawa, tepatnya di Kendal. Sejarah mencatat jika di Kendal dahulu ada tiga pabrik gula, yakni PG Cepiring, PG Kaliwungu, PG Puguh dan PG Gemuh. Pada kesempatan ini Jejak Kolonial akan mengulas tentang PG Gemuh yang namanya kurang tenar dibanding pabrik gula lain di Kendal.

Gambaran peta lingkungan sekitar PG Gemuh (kotak merah sebelah kiri tulisan "PEGANDON") (sumber : maps.library.leiden.edu)
Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang sejarah pendirian PG Gemuh ini. Hanya diketahui bahwa pabrik gula ini sudah eksis pada tahun 1845. Itu artinya PG Gemuh diperkirakan berdiri pada era tanam paksa atau sebelum diberlakukan kebijakan swastanisasi perekonomian Hindia-Belanda pada 1870. Keterangan tersebut diperoleh dari catatan perjalanan seorang dokter militer bernama P. Bleeker pada tahun 1840an. Ia menyebutkan bahwa dari seluruh tanah yang berada di bawah Karesidenan Semarang, hanya di wilayah Kendal sajalah budidaya tebu dapat ditemukan. Saat itu, kegiatan penanaman tebu dilakukan di empat distrik, yakni Kaliwungu, Perbuhan, Kendal, dan Truko. Tebu yang dihasilkan itu tentu saja tidak dijual langsung ke pasaran, melainkan diolah terlebih dahulu menjadi gula supaya nilai jualnya lebih tinggi. Maka dari itu, satu pabrik gula dibangun di setiap keempat distrik tersebut. Di distrik Truko, pabrik gula itu dibangun di Desa Gemuh (Bleeker, 1850: 5).

Peta PG Gemuh tahun 1903 (sumber : maps.library.leiden.edu).

Perlu diketahui bahwa PG Gemuh sebagaimana pabrik-pabrik gula yang didirikan pada era tanam paksa tidak didirikan bukan oleh suatu badan usaha swasta, melainkan perseorangan yang diberi kontrak dari pemerintah kolonial. Dalam kasus pabrik gula Gemuh, pabrik gula tersebut didirikan oleh P.H.A. van den Broek d’Obrenan. Ia selain pemilik PG Gemuh juga merupakan pemilik PG Puguh dan PG Cepiring. Saat itu, kemajuan teknologi mesin uap rupanya belum dikenal luas sehingga kegiatan pengolahan gula di ketiga PG tersebut masih mengandalkan teknologi yang tergolong primitif. Tebu digiling secara manual sementara kegiatan memasaknya masih dilakukan di wajan besar terbuka. Tanpa adanya teknologi mesin uap, angka produksi yang dihasilkan jelas kecil sekali. Teknologi mesin uap baru diterapkan tatkala ketiga PG milik Van den Broek tersebut dibeli oleh raksaksa dagang Hindia-Belanda Nederlands Handel Maatschappij atau NHM pada tahun 1863. NHM inilah yang berperan dalam pemasaran segala hasil sisten tanam paksa sehingga atas perannya ini NHM kondang dengan sebutan “VOC kecil”. Van den Broek bersedia untuk menjual ketiga pabriknya di Kendal asalkan NHM memperbolehkan Van den Broek untuk membelinya kembali (Mansvelt, 1924: 365).




Bagian dalam PG Gemuh (sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl).

Sebelum membeli ketiga pabrik tersebut, NHM memiliki PG Wonopringgo di Pekalongan yang jatuh ke tangan NHM pada tahun 1843 setelah pemilik sebelumnya mengalami kebangkrutan usaha. Langkah penting dari NHM yang kelak berpengaruh terhadap keberlangsungan industri gula di Jawa adalah mekanisasi pabrik gula itu dengan teknologi mesin uap. Segera saja PG Wonopringgo menuai kesuksesan dan keberhasilan otomatisasi PG Wonopringgo mendorong NHM untuk melakukan hal serupa pada ketiga pabriknya yang baru dikuasainya di Kendal. Tanggung jawab mekanisasi tersebut dipercayakan kepada insinyur NHM, Heyning yang telah berpengalaman dalam pekerjaan serupa di PG Wonopringgo. Sepeninggal Heyning yang meninggal dunia pada tahun 1867, pekerjaan pemasangan mesin uap pabrik gula di Kendal diteruskan oleh H.F. Morbotter. Mekanisasi PG Gemuh tuntas sekitar tahun 1869. Setelah mesin-mesin uap terpasang, jumlah gula yang dihasilkan dari ketiga pabrik tersebut meningkat pesat. Kualitasnya juga semakin bagus dengan menggunakan teknologi masakan tertutup. Selain dipasarkan ke dalam negeri Hindia-Belanda, berkarung-karung gula dari PG Gemuh diekspor ke Australia, Jepang, dan Singapura. Pabrik gula yang dimiliki Belanda saat itu menguasai rantai pasokan bahan baku untuk menekan harga dan mengendalikan mutu. Untuk kepentingan tersebut, PG Gemuh memiliki kebun pembibitan di Boja dan Selokaton yang memasok bibit tebu. PG Gemuh juga memiliki pemasok tersendiri yang menyediakan batu kapur untuk zat pemurni gula (Mansvelt, 1924: 365).

Gudang ampas tebu PG Gemuh (sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl).

Potongan artikel dari majalah De Ingenieur 17 November 1928 yang memuat obituari dari E.F.J. Tack, administratur PG Gemuh pada tahun 1918.

Di tangan NHM, keuntungan yang diperoleh dari pabrik-pabrik gula di Kendal itu kian pesat bertambah. Hal ini membuat pemilik lamanya tertarik untuk menguasainya kembali. Setelah mendapat dukungan modal dari Maclaine, Watson & Co dan Nederlandsch Indische Handels Bank, Van den Broek lantas membeli ketiga pabriknya terdahulu dengan harga sebesar 1.500.000 gulden pada tahun 1872 (Mansvelt, 1924: 366). Ketiga PG di Kendal itu kemudian dikelola dalam satu perseroan bernama “Maatschappij tot Exploitatie der Kendalsche Suikerfabrieken”. Perseroan itu mulai melantai di bursa saham pada tahun 1893 dengan menjual saham sebanyak 600 lembar dengan harga per lembarnya sebesar 2500 gulden. Saham “Kendalsche Suikerfabrieken” dikuasai oleh tiga pihak, yakni Van den Broek d’Obrenan, I.L.J. Baud dan Maclaine Watson & Co. (Het Vaderland 5 Juli 1893).


Tampak aktivitas di emplasemen lori PG Gemuh
(sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Tidak jauh di sebelah timur PG Gemuh, ada sungai bernama Kali Bodri. Sungai tersebut dulunya menjadi perbatasan alami antara Distrik Truko dan Distrik Perbuhan. Kali Bodri selain melewati PG Gemuh juga melewati dua pabrik gula lain yang dibangun oleh d’Obrenan, PG Cepiring dan PG Puguh. Penentuan titik lokasi pabrik biasanya diawali dengan pemetaan secara seksama. Dalam pemetaan itu diperhitungkan kondisi tanah sekitarnya apakah memungkinkan untuk ditanam tebu dan kuat menahan pondasi pabrik. Lokasi pabrik sedapat mungkin berada di dekat sungai karena keberadaan sungai memiliki banyak manfaat untuk pabrik gula. Pertama sebagai sumber irigasi perkebunan. Kedua sebagai sarana pembuangan limbah cair pabrik. Ketiga, yakni sebagai tulang punggung pengangkutan gula dari pabrik untuk dikirim keluar sebelum sarana transportasi kereta api dikenal di Jawa. Selain itu material dan mesin-mesin yang diperlukan oleh pabrik juga dibawa melalui sungai. 

PG Gemuh dilihat dari Sungai Bodri
(sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl).

Kedekatan jarak antara sungai dengan pabrik akhirnya turut berpengaruh dalam seberapa besar keuntungan yang didapat dari suatu pabrik. “Oleh karena itu, menentukan lokasi pabrik gula tidak sesederhana yang dibayangkan”, seperti yang dijelaskan Emmen (1926) dalam Rietsuikerfabrieken op Java en Hare Machinerieen. “Dan jika kondisi-kondisi di atas tidak diperhatikan dengan baik kelak dibalaskan dengan hilangnya keuntungan”, sambungnya. Sayangnya, hal yang tidak diperhitungkan dari pihak pembangun PG Gemuh adalah bahwa Kali Bodri rupanya sering terjadi banjir. Banjir besar Sungai Bodri yang tercatat selama masa kolonial terjadi pada tahun 1862, 1906, 1918, dan 1936. Penggunaan kereta api untuk pabrik gula di Kendal baru dilakukan belakangan saat Semarang-Cheribon Stoomtram-Maatschappij membuka jalur trem uap untuk ruas Semarang-Weleri pada tahun 1897. Jalur-jalur tersebut melewati sejumlah pabrik gula di Kendal termasuk pabrik gula Gemuh. SCS membuka jalur percabangan khusus ke Pabrik Gula Gemuh pada tahun 1897 dan keberadaanya membantu dalam proses pemasaran gula (Soerabaiasch Handelsblad 27 September 1897). Turut dibangun pula jaringan telepon sebagai sarana komunikasi antar ketiga pabrik gula “Kendalsche Suikerfabrieken” pada tahun 1895 (De Locomotief, 28 Oktober 1895).

Bekas rumah dinas yang saat ini digunakan untuk kantor Polsek Gemuh.

“Kendalsche Suikerfabrieken” menutup pabrik gula Puguh pada tahun 1898 dan sejauh ini alasan penutupan pabrik gula tersebut belum dapat diketahui (Algemeen Handelsbad 26 Januari 1898). Setelah melewati masa keemasannya, industri gula di Jawa yang begitu digdaya akhirnya memasuki masa gelapnya pada dekade 1930an. Gejala kejatuhannya mulai tampak pada tahun 1920 ketika terjadi reses ekonomi ringan. Walau tidak berlangsung lama dan dampaknya tidak begitu besar, namun profit yang diperoleh beberapa produsen gula mulai menunjukan trend penurunan. Jatuhnya harga saham di Bursa Wall Street New York pada tahun 1929 yang dampaknya menyebar ke segala penjuru dunia akhirnya menjadi tanda dimulainya kiamat untuk industri gula di Jawa. Harga gula di pasaran terjun ke bawah secara menggila padahal di saat yang sama produksi gula sedang melimpahnya. Hal ini tentu membuat produsen gula merugi. Untuk mendongkrak harga gula di pasaran, satu per satu pabrik gula berhenti beroperasi termasuk PG Gemuh. Pada musim tanam tahun 1932, PG Gemuh tidak menanam tebu. Meski berhenti beroperasi, namun PG Gemuh masih membayar setengah gaji pokok beberapa pegawainya baik pegawai Eropa maupun pribumi. PG Gemuh juga masih menanggung pengeluaran lain seperti dana pensiun, listrik, dan dokter. PG Gemuh masih memelihara kebun bibit karena sebagai persiapan seandainya pabrik gula kembali beroperasi, bibit tebu harus tersedia untuk musim tanam berikutnya. Untuk segala keperluan tersebut, PG Gemuh mengeluarakan total biaya sebesar 125.000 gulden. Angka kerugian itu belum separah jika PG Gemuh memaksakan diri untuk tetap menggiling karena PG Gemuh akan mendapat kerugian sebesar 348.000 gulden jika tetap menghasilkan gula di saat harga gula sedang begitu rendahnya di pasaran (Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 5 Januari 1932). PG Gemuh sedianya akan kembali dibuka jika harga gula berangsur pulih walau akhirnya  PG Gemuh tutup permanen karena nama PG Gemuh tidak tercantum dalam daftar pabrik gula keluaran tahun 1940.



Rumah dinas eks rumah dinas PG Gemuh yang tidak terawat.


Bangunan-bangunan bekas rumah dinas PG Gemuh yang saat ini menjadi hunian.

Kendati PG Gemuh sudah lama binasa, namun keberadaan rumah-rumah tua yang berjajar di sepanjang jalan setidaknya mewakili kehadiran PG Gemuh di masa sekarang. Rumah-rumah bergaya Indis tersebut dahulu diperuntukkan sebagai rumah dinas karyawan PG Gemuh. Sebagai sebuah industri, manajemen pabrik gula diisi oleh karyawan yang masing-masing sudah ditentukan bagiannya. Sebagai contoh adalah karyawan di bagian mekanik yang ahli di bidang permesinan. Tugasnya adalah merawat segala jenis mesin di pabrik agar dapat beroperasi dengan baik. Musim giling akan menjadi saat tersibuknya karena sepanjang hari ia harus memastikan mesin-mesin di pabrik tetap beroperasi dengan lancar tanpa gangguan sedikitpun. Sebuah gangguan kecil saja akan mengacaukan rangkaian produksi. Mekanik juga mengurus armada lokomotif yang mengangkut tebu. 

Bangunna yang saat ini digunakan oleh SMP N 1 Gemuh.

Selanjutnya adalah karyawan di bagian chemist yang tugasnya memastikan mutu gula yang dihasilkan tetap baik dan seperti halnya mekanik ia akan berkutat sepanjang hari di pabrik jika musim giling tiba. Berikutnya adalah pengawas ladang atau zinder yang keahlian utamanya adalah bidang pertanian. Berbeda dengan karyawan lain, zinder sudah bekerja sebelum musim giling tiba karena ia  akan mengurus segala proses dari menanam hingga memanen tebu di ladang. Pekerjaan yang tak kalah pentingnya adalah pegawai pembukuan yang mengurus perkara birokrasi dan keuangan pabrik. Dengan kondisi pekerjaan yang menuntut para pegawai untuk senantiasa berada di dekat lingkungan pabrik setiap hari, maka menjadi hal yang lumrah jika rumah-rumah pegawai pabrik dibangun berdampingan dengan pabrik seperti yang dijumpai pada PG Gemuh. Keuntungan dari hal ini adalah waktu kerja karyawan tidak habis di perjalanan. Selain mempersingkat waktu, keberadaan rumah itu juga memangkas biaya yang dikeluarkan pabrik untuk menanggung ongkos perjalanan pulang-pergi pegawai.

Referensi :

Bleeker, P. 1850. "Fragmenten eener Reis over Java. Hoofdstuk III : Samarang" dalam Tijdschrift voor Ned. Indie. Groningen : D.W.R. van Hoevell. Halaman 1-24.

Emmen. 1926. Rietsuikerfabrieken op Java en Hare Machinerieen.

Mansvelt, W.M.F. 1930. Geschiedenis van de Nederlandsche Handel-Maatschappij. Haarlem : Druk Van Joh. Enschede en Zoon.

Het Vaderland 5 Juli 1893

Soerabaiasch Handelsblad 27 September 1897

De Locomotief, 28 Oktober 1895

Sabtu, 12 Februari 2022

Gereja Sion, Meretas Masa Lalu Gereja Tertua di Jakarta

Jejak Kolonial kali ini akan menuturkan kisah tentang Gereja Sion atau di masa lalunya dikenal dengan Gereja Portugis Luar Kota. Di usianya yang sudah terbilang renta, gereja yang terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat ini masih tampak bugar seakan baru dibangun pada hari kemarin. Diresmikan pada tahun 1695, bangunan ini adalah bangunan kolonial tertua di Jakarta yang masih utuh dan menjalankan fungsinya sebagaimana peruntukannya saat diresmikan. Selain usia tuanya, apa yang membuat gereja ini istimewa ?

Tampak luar Gereja Sion dilihat dari jembatan penyeberangan.

Gereja Portugis Luar Kota sebagaimana yang dilukis oleh J.W. Heyd pada tahun 1739.

Mengapa gereja ini menyandang nama Gereja Portugis sementara kuasa bangsa Portugis sendiri tidak bertahan lama di sini ? Beberapa saat sebelum kapal-kapal bangsa Belanda mengarungi lautan Nusantara, bangsa Portugis telah melakukan penjelajahan yang diikuti dengan serangkaian penaklukan untuk menguasai rantai perdagangan rempah yang terbentang antara Kepulauan Maluku hingga Eropa. Mereka selanjutnya menyebarkan agama Katolik dan menjalin hubungan dengan perempuan lokal. Kondisi perdagangan rempah yang dikuasai Portugis mulai memasuki masa sulit ketika Raja Spanyol Phillip II mengambil alih tahta Kerajaan Portugis. Alhasil Portugis menjadi musuh beberapa bangsa Eropa yang sudah bermusuhan dengan Spanyol seperti Belanda. Kuasa Portugis atas perniagaan rempah perlahan jatuh ke tangan Belanda. Sewaktu merebut pos dagang Portugis, Belanda menawan sejumlah orang Portugis. Orang Portugis ini tidak hanya melingkupi orang Portugis tulen saja, namun juga kaum peranakan Portugis dari Pantai Malabar India. Kaum peranakan yang kemudian disebut Portugis Hitam ini dijadikan budak oleh Belanda dan dicerabut identitas Portugis yang sudah melekat pada diri mereka. Salah satunya adalah dengan menawarkan kebebasan kepada budak Portugis Hitam asalkan bersedia pindah agama dari Katolik ke Kalvinisme. Meskipun sudah berpindah agama, kelompok ini rupanya enggan meninggalkan bahasa yang sudah terlanjur digunakan dalam keseharian sehingga bahasa Portugis diizinkan untuk sebagai bahasa pengantar di gereja pada tahun 1664. Dari sinilah gereja yang sampai sekarang masih berdiri kokoh sebagai Gereja Sion tersebut memperoleh sebutan Gereja Portugis dan untuk membedakannya dengan Gereja Portugis yang ada di dalam tembok kota Batavia maka Gereja Sion disebut juga sebagai Gereja Luar atau Buitenkerk (de Castro 2019 : 232).

Gereja Sion (Porugeefche Buiten Kerk atau Gereja Portugis Luar) dalam peta Batavia tahun 1780.
Gambar Gereja Portugis Luar dari tahun 1775 oleh J.C. Rappard.

Komunitas penutur bahasa Portugis di Batavia mulai bermukim di bagian timur kota sekitar tahun 1663. Pada tahun 1667, sebuah gardu didirikan di seberang bastion Gelderland yang ada di sudut tenggara kota Batavia dan di dekat gardu itu sebuah pemakaman dibuka pada tahun 1669. Pemakaman tersebut memiliki sebuah pondok sederhana yang kemudian menjadi gereja darurat. Pondok itu dilengkapi lonceng yang dibunyikan untuk memanggil orang untuk menghadiri pelajaran katekimus yang diberikan setiap Jum’at malam. Lonceng yang dibuat tahun 1675 itu masih ada dan kini tergantung di depan gereja Sion. Daya tampung pondok tersebut semakin tidak memadai seiring dengan bertambahnya orang yang mengikuti pelajaran dan kebaktian. Pada tahun 1692, pemerintah menyetujui rencana pembangunan gereja baru dari batu untuk menggantikan pondok kecil yang masih terbuat dari anyaman bambu. Upacara peletakan batu pertama gereja dilangsungkan pada 19 Oktober 1693 oleh Pieter Hoorn (Haan, 1935; 234-235). Mengingat jemaat Portugis itu bukan kumpulan orang kaya, maka dana untuk pembangunan gereja baru tersebut diambil dari sisa kas diakonia Formosa (Taiwan) yang ditinggalkan Belanda setelah diusir dari Formosa oleh Koxinga. Karena berdiri di atas tanah rawa, maka pondasi gereja baru tersebut diperkuat dengan 10.000 tiang pancang kayu. Rancangan gereja dibuat oleh Ewout Verhagen dengan arahan dari ketua Dewan Gereja Joan Van Hoorn.

Gambar tampak luar Gereja Portugis Luar pada abad tahun 1888 oleh J.C. Rappard (sumber : https://collectie.wereldculturen.nl/).

Gambar bagian dalam Gereja Portugis Luar pada abad ke-19 oleh J.C. Rach (sumber : https://collectie.wereldculturen.nl/).

Minggu 23 Oktober 1695, pagi pada hari itu terasa begitu hangat. Cahaya mentari menerpa ubin kemerahaan dan dinding putih dari gereja baru yang akan diberkati di hari itu. Secuil kegembiraan tampak dari penduduk sekitar gereja karena sebentar lagi mereka akan memiliki gedung gereja megah yang sudah diidamkan sekian lama. Sejumlah orang berbondong-bondong mendatangi gereja untuk menyaksikan acara pembukaan resminya. Di antara keriuhan itu, tampak majikan dan budaknya yang membawakan kotak sirih dan pinang. Sesekali pejalan kaki melambat untuk memberikan jalan bagi kereta berlapis emas yang mengangkut kaum elit Batavia. Kerumunan yang menghadiri acara peresmian tersebut, datang dengan memamerkan busana terbaik dan perhiasan terindahnya. Tidak perlu menunggu lama, arak-arakan pasukan yang mengiringi Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn dan istrinya tiba di halaman gereja. Saat pasangan tersebut memasuki rumah Tuhan, semua tamu yang ada di dalam berdiri memberi hormat dan disambut dengan sorak sorai. Setelah suasana kembali tenang barulah Pendeta Theodorus Zas mulai menyampaikan khotbah pertama di gereja itu dalam bahasa Jerman Rendah dan Zas memilih kutipan dari Kitab I Raja-raja Bab 8, ayat 29-30. Sementara khotbah dalam bahasa Portugis dibawakan oleh Jacobus Op den Acker (Wall, 1921 : 125-128).

Makam Henric Zwaadecroon.

Lukiasn Henrik Zwaadecroon.

Gereja Portugis layaknya gereja-gereja yang dibangun sebelum abad ke-19 memiliki pemakaman umum pada bagian halamannya. Pemakaman tersebut usianya lebih tua lagi dari Gereja Portugis karena sudah ada sejak tahun 1669. Aslinya lahan Gereja Portugis ini sendiri dahulu sangat luas dan tercatat ada 2.381 orang yang dahulu pernah dimakamkan di tempat ini. Kegiatan pemakaman di Gereja Portugis ini lalu dihentikan oleh pemerintahan Daendels. Jejak-jejak dari pemakaman di halaman gereja tersebut masih dapat diperlihatkan dengan keberadaan dua makam dari abad ke 18 yang bersanding di muka pintu gereja. Salah satu batu nisan tertera nama dari Henric (Hendrick) Zwaardecroon. Meskipun dahulu pemakaman di Gereja Portugis ditujukan untuk orang biasa, namun sosok tersebut semasa hidupnya bukanlah orang biasa karena Zwaardecroon adalah Gubernur Jenderal VOC ke-20 yang memerintah dari tahun 1718 hingga 1725. Henric Zwaardecroon lahir di Rotterdam pada 26 Januari 1667 dan memulai karirnya di perusahaan dagang terkuat dan terbesar sepanjang sejarah tersebut pada 1684. Zwaardecroon ditempatkan di Batavia lima tahun setelahnya. Dalam sejarah perkopian nusantara, Zwaadecroon berhasil mengembangkan usaha pembibitan kopi yang bijinya didatangkan dari Malabar kendati usahanya sempat dihambat oleh saingannya, Christoffel van Swoll. Singkat cerita, karir Zwaadecroon terus menanjak hingga ia diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada 1718 menggantikan Christoffel van Swoll. Sebagai tokoh yang memegang kekuasaan besar, Zwaadecroon kadang berlaku kejam juga. Pada tahun 1722, seorang Indo bernama Erbeveld hendak menghabisi seluruh penduduk Belanda di Batavia saat malam Tahun Baru. Sebelum melancarkan aksinya, Zwaardecroon mengendus rencana tersebut dan menangkap Erbeveld beserta pengikutnya. Atas tindakannya, Erbeveld dijatuhi hukuman mati pada 22 April 1722. Aksi ”pengkhianatan” Erebevld diabadikan dalam sebuah prasasti yang dipajang tidak jauh dari Gereja Portugis. Zwaadecroon mengakhiri masa jabatannya dengan mengundurkan diri pada 8 Juli 1725. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa masa kekuasaan Zwaadecroon merupakan masa puncak kejaayan VOC di Hindia-Timur. Keberadaan Gereja Portugis rupanya masih bertalian dengan sosok Zwaardecroon karena dialah yang menyumbangkan sepetak tanah luas di belakang gereja untuk umat Portugis. Zwaardecroon tutup usia pada 12 Agustus 1728 dan pemakamannya dilaksanakan begitu megah. Sekalipun dirinya berhak mendapatkan tempat makam di dalam gereja, dalam permintaan terakhirnya Zwaadcroon memilih untuk dikebumikan di luar gereja layaknya orang biasa. Makam Zwaadecroon merupakan satu-satunya makam Gubernur Jenderal VOC yang masih bertahan di tempat semula (Algemeene Handelsblad 11 Oktober 1933).

Tampak dalam Gereja Sion.

Orgel bergaya barok di Gereja Sion.

Keindahan di dalam kesederhanaan. Begitulah ungkapan untuk menggambarkan bangunan ini. Dari luar, Gereja Sion tampak begitu bersahaja. Hiasan yang cukup menonjol hanyalah dua tiang gaya neo-klasik di pintu masuk yang menopang tonjolan segi tiga (fronton). Meskipun tampilan luarnya terkesan tak ada yang istimewa, namun bagian dalamnya menyimpan banyak daya tarik luar biasa. Melangkah masuk ke dalam, kita dibuat terpana dengan aura kekunoan gereja yang akan membuat kita terdampar ke masa lampau. Bagian dalamnya memiliki enam tiang bundar besar yang menyokong konstruksi atap. Mulanya tiang itu terbuat dari kayu saja dan “baru” dipertebal dengan batu bata pada tahun 1725. Sejumlah perabotan antik masih dapat dijumpai di dalamnya meski beberapa ada yang hilang seperti peralatan ibadat yang terbuat dari perak.

Mimbar dan kanopi.

Bangku gubernur jenderal.

Empat tiang penyangga.

Sulit dipercaya, di saat gedung seusianya habis termangsa oleh pembangunan ibukota, gereja mampu sintas dengan mempertahankan fungsi yang tak berubah sama sekali. Sebagai gereja Protestan, titik utama peribadatannya adalah mimbar tempat pendeta menyampaikan khotbah. Mimbar yang sudah ada sejak gereja berdiri itu merupakan rancangan dari H. Bruijn. Mimbar tersebut memiliki hiasan yang meriah dan dinaungi oleh kanopi besar yang kemungkinan berasal dari gereja lain dan baru ditambahkan di sini pada tahun 1838. Sumber penerangan bagian dalam gereja berasal dari empat kandelar besar dari tembaga kuning yang berasal dari akhir abad ke-17. Kandelar tersebut dilengkapi pemantul cahaya yang berhias lambang Batavia. Sementara dinding bagian dalam gereja terdapat perisai atau wapenboorde yang lazim dipasang dalam gereja-gereja lama di Belanda. Gereja ini juga memiliki bangku yang dikhususkan untuk Gubernur Jenderal. Tiga deret bangku itu dibuat antara tahun 1660 dan 1664. Di atas bangku itu, terdapat organ bergaya barok yang merupakan hadiah dari puteri Pendeta Johann Maurits Mohr. Organ yang digunakan untuk mengiringi kebaktian tersebut pernah direparasi pada tahun 1860 oleh ahli organ di Batavia E.F. Dijkmans (Heuken, 2016 : 144-145).

Batu nisan Carel Reyniersz.

Lukisan Carel Reyniersz.

Di dalam gereja juga dapat dijumpai batu nisan Gubernur Jenderal VOC Carel Reyniersz serta istrinya. Ia diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada 26 April 1650 untuk menggantikan Cornelis Van der Lijn yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Tidak seperti Gubernur Jenderal sebelumnya, Reyniersz memiliki hasrat besar untuk menyebarkan agama Kristen di Batavia. Bahkan dia pernah memutuskan untuk menutup semua tempat ibadah non-Kristen di Batava walau keputusan tersebut tidak jadi dilaksanakan karena tindakan tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan perlawanan dan orang-orang non-Belanda mengingkir dari Batavia. Reyniersz pula yang mengusulkan pemusanahan pohon-pohon cengkeh produktif di Maluku untuk mengurangi kuota produksi. Tindakan tersebut akhirnya memicu gejolak perlawanan di Maluku yang baru bisa diredam setelah Reyniersz meninggal. Segala tindakannya yang ceroboh membuat Reyniersz dicap sebagai “Gubernur Jenderal Paling Tidak Cakap”. Ketidakbecusan Reyniersz akhirnya terdengar sampai ke telinga Heeren XVII. Selaku dewan tertinggi di tubuh VOC, Heeren XVII memutuskan untuk memberhentikan Reyniersz dari jabatannya. Rupanya Reyniersz juga hendak mengundurkan diri karena alasan kesehatan dan Heeren XVII langsung menyetujui permintaannya. Namun sebelum kabar pemberhentian Reyniersz sebagai Gubernur Jenderal sampai di Batavia, Reyniersz meninggal pada 18 Mei 1653 dan dimakamkan di Hollandsche Kerk (Algemeene Handelsblad 15 November 1933). Entah bagaimana kisahnya, batu nisan Reyneirsz yang aslinya ada di Batavia tiba-tiba sampai di Surabaya. Pada tahun 1918, Gubernur Jenderal J.P. van Limburg Stirum meminta supaya batu nisan Reyniersz yang saat itu diamankan di Pemakaman Kembang Kuning untuk dipindahkan kembali ke Batavia (De Preanger Bode 6 Oktober 1920). Karena dianggap tidak memiliki hubungan sejarah dengan kota Surabaya, maka pemerintah kota Surabaya bersedia untuk mengembalikan batu nisan tersebut ke tempat asalnya dan batu nisan Reyniersz akhirnya dipulangkan ke Batavia pada tahun 1922. Karena gedung Hollandsche Kerk sudah lama lenyap, maka batu nisan Reyniersz diletakan di dalam gereja Portugis (Oudheidkundige Verslag 1922).

Bangku jemaat.

Dinding dalam.

Jemaat gereja duduk di bangku-bangku tua dari kayu hitam dan kayu eboni. Barangkali dua abad silam, bangku yang sama itu diduduki oleh kaum Mardijker saat kebaktian. Siapakah sesungguhnya kaum Mardijker ini ? Membicarakan sejarah Gereja Sion ini tentu tidak akan pernah lepas dari sejarah komunitas Mardijker. Seperti yang sudah disinggung di awal, VOC membawa sejumlah tawanan dan budak orang-orang Asia yang memakai nama Portugis dan dikenal dengan Portugis Hitam. Panasnya hubungan antara golongan Protestan dan Katolik di Eropa rupanya merembet sampai Batavia. Budak Portugis Hitam yang menganut agama Katolik diimingi kebebasan asalkan bersedia pindah keyakinan ke Protestan. Para budak yang dibebaskan karena pindah keyakinan itu selanjutnya dikenal sebagai Mardijker. Berbagai cara untuk dilakukan untuk memperkenalkan bahasa Belanda kepada kaum Mardijker walau berujung dengan kegagalan. Kuasa bahasa Portugis rupanya sangat besar di Batavia karena bahasa Portugis sudah terlanjur menjadi lingua franca di Asia dan diserap ke dalam beberapa bahasa lokal. Kelompok penutur bahasa Portugis ini akhirnya dibiarkan saja oleh VOC. Malahan VOC membentuk enam kompi yang anggotanya adalah sukarelawan orang-orang Mardijkers untuk menjaga keamanan kota (Algemeen Handelsblad 12 Desember 1932).

Lukisan karya F.X. Habberman yang memperlihatkan suasana lingkungan sekitar Gereja Portugis Luar pada tahun 1750 (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/).

Gambaran kaum Mardijkers di Batavia (sumber : https://collectie.wereldculturen.nl/).

Senjakala kelompok Mardijkers dimulai sekitar pertengahan abad ke-18. Merebaknya wabah di sekitar pemukiman kaum Mardijkers yang tidak sehat membuat banyak penduduknya yang meninggal. Pemakaman di sekitar akhirnya Gereja Portugis terisi penuh dan sebagai gantinya mereka dimakamkan di pemakaman yang aslinya untuk budak. Situasi itu diperparah dengan bertambahnya angka kemiskinan di kalangan Mardijkes. Orang-orang Mardijkers yang hanya berpenghasilan 6 atau 8 rijksdaaler per bulannya tidak mampu membayar ongkos sewa dan biaya hidup. Sejak tahun 1798, banyak rumah-rumah kaum Mardijkers yang dibongkar oleh mereka sendiri untuk dijual batu-batunya karena saat itu sedang terjadi kelangkaan bahan bangunan di Batavia. Kaum mardijkers lalu menyingkir ke perkampungan pribumi dan meleburkan diri dengan penduduk pribumi. Banyak dari mereka yang memeluk agama Islam dan untuk keseharian mereka memilih menggunakan bahasa Melayu daripada bahasa Portugis. Akhirnya hilang sudah identitas Portugis dari kaum Mardijkers. Sebagian keturunan kaum Mardijkers yang masih tersisa mencoba untuk bertahan di pinggiran kota seperti di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Merosotnya jumlah penutur Portugis di Batavia ternyata cukup berpengaruh terhadap kegiatan Gereja Portugis. Sejak tahun 1740, kehadiran jemaat Portugis di gereja mengalami penurunan. Pembacaan kitab suci dalam bahasa Portugis yang biasanya diadakan di gereja pada Kamis malam ditiadakan pada 1770 karena sudah tidak ada orang yang mendatanginya (Haan, 1935 : 626-627). Saudara tua dari Gereja Portugis Luar Kota, yakni Gereja Portugis Dalam Kota habis terlalap api ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1808 akibat kecerobohan tukang. Sementara itu pada tahun yang sama, Gereja Kubah yang digunakan oleh umat berbahasa Belanda dijual dan dibongkar oleh Daendels. Alhasil menjelang pergantian kekuasaan dari Inggris ke Belanda pada tahun 1816, Gereja Portugis Luar Kota masih memainkan peran pentingnya sebagai tempat ibadah sekalipun bahasa pengantarnya sudah digantikan dengan bahasa Melayu.

Foto dari awal tahun 1900an yang memperlihatkan kondisi Gereja Portugis sebelum pemugaran tahun 1921. (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/).

Peringatan pernikahan Putri Julianna dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937.

Seiring bergulirnya waktu, Gereja Portugis Luar Kota mulai menua sehingga harus menjalani perbaikan besar-besaran pada tahun 1825. Sejumlah kalangan yang peduli berupaya untuk menyelamatkan gereja warisan bersejarah tersebut. Misalnya pada tahun 1898, Dr. De Haan menulis buku tentang Gereja Portugis Luar Kota dan hasil penjualannya disumbangkan untuk kepentingan pelestarian gereja tua itu meskipun pemasukan yang diperoleh tidak begitu besar. Pemugaran besar-besar Gereja Portugis akhirnya dapat terlaksana setelah Oudkundige Dienst (Dinas Kepurbakalaan) memberi bantuan untuk pemugaran yang mulai dilakukan pada 15 Juni 1920 dengan arahan dari A.W. Jansz. Sejumlah kendala menyertai pemugaran tersebut seperti ketika pihak pemugar kesulitan mendapatkan balok kayu. Pasokan balok kayu akhirnya didapatkan dari Landberg & Zoon yang harganya lebih murah ketimbang membeli dari pemerintah (Oudheidkundige Dienst, 154 : 1921). Pemugaran itu juga melingkup perbaikan kandelar, kaca jendela, dan khusus bagian orgel ditangani oleh Riphagen, ahli orgel dari Jerman. Seluruh tahap pemugaran selesai dikerjakan pada tahun 1922. Sayangnya sebagian besar anggota jemaat Gereja Portugis rupanya bukan orang berada sehingga biaya perawatan rutin gereja tersebut sebesar 900 gulden per tahun dirasa memberatkan Gereja. Pada tahun 1936, sempat ada kajian untuk menjadikan gereja tersebut sebagai tempat wisata. Sayangnya menurut hasil kajian, jumlah pengunjung gereja tidak terlalu tinggi dan donasi yang diterima juga rendah. Sejumlah rombongan turis anak sekolah juga kedapatan mencuri kotak kolekte. Penyerahan gereja tersebut kepada pemerintah lewat Dinas Kepurbakalaan juga bukan jalan keluar yang tepat karena mereka sedang tidak memiliki anggaran besar akibat krisis ekonomi. Hal yang bisa mereka lakukan hanya menetapkannya sebagai monumen yang dilindungi undang-undang. Satu-satunya harapan adalah bahwa pelestarian Gereja Portugis tersebut dapat ditanggung bersama antara pemerintah pusat, kotamadya, dan LSM Vereeniging Oud Batavia  (Het Nieuws van den dag voor N.I, 2 Desember 1937).

Gereja Portugis Luar setelah dipugar tahun 1922 dengan bentuk atap yang berbeda dari sebelumnya (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Bagian dalam Gereja Portugis Luar saat pemugaran (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/) 

Sepeninggal penjajahan Belanda, gereja ini beberapa kali terancam. Ketika pendudukan Jepang, bangunan dialihfungsikan sebagai tempat penyimpanan abu tentara. Kemudian pada tahun 1946 gedung gereja digunakan oleh jemaat Tionghoa berbahasa Hakka. Gereja ini nyaris terjual dan dibongkar untuk pabrik pada tahun 1953. Namun berkat campur tangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Muhammad Yamin, tindakan kurang bijak dapat dicegah dan kini Gereja Portugis digunakan oleh umat GPIB. Setelah berdiri selama lebih tiga abad dan melalui banyak cobaan, sanggupkah gereja ini sintas di tengah pembangukan metroplotian Jakarta ?

Referensi :

de Castro, Joaquim Magalhaes. 2019. Lautan Rempah Peninggalan Portugis di Nusantara. Jakarta ; Elex Media Komputindo.

Heuken, Adolf. 2016. Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta : Yayasan Loka Cipta Caraka.

Haan, F. De. 1935. Oud Batavia. Bandung : A.C. Nix & Co.

Wall, V.I. van De . 1921. De Inwijding Der Portugeesche Buitenkerk in 1695 dalam Nederlandsch-Indie, oud en nieuw, volume 006, issue 004 hal 125-128

Oudheidkundige Dienst. 1921. Oudheidkundige Verslag 1921. Weltevreden : Albrecht & Co.

Algemeen Handelsblad 12 Desember 1932

Algemeene Handelsblad, 11 Oktober 1933

Algemeene Handelsblad, 15 November 1933

De Preanger Bode, 6 Oktober 1920

Het Nieuws van den Dag Voor N.I, 2 Desember 1937

Rabu, 01 September 2021

Stasiun Demak, Meniti Jejak Trem Uap di Kota Wali

Mendengar nama Demak, seketika orang akan teringat dengan nama suatu kerajaan yang dikenal sejarah sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Masjid Agung Demak adalah jejak dari sejarah tersebut. Sementara hanya beberapa ratus meter dari masjid tersebut, terdapat jejak sejarah lainnya yang berasal dari era yang berbeda. Jejak itu tak lain adalah Stasiun Demak, tengara kehadiran moda transportasi trem uap yang dahulu sempat melintas di kota wali ini. Seperti apakah kisahnya ?

Stasiun Kereta api Demak semasa masih aktif. (Sumber: Berita Buana, 11-02-1975. Koleksi Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI)

Merunut mundur ke belakang, kehadiran moda transportasi trem uap di Demak tidak lepas dari peningkatan arus dagang antara Eropa dan Hindia-Belanda sesudah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869. Dari sana, arus investasi asing akhirnya terus mengalir untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Hindia-Belanda. Sayangnya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak ditopang oleh infrastruktur yang memadai. Jalan raya utama yang melewati Demak saat itu adalah Jalan Raya Pos atau Groote Post Weg yang dibangun pada masa Daendels (1808-1811) dan masih berwujud jalan tanah yang sulit dilintasi saat musim hujan karena terendam banjir. Berulangkali jalan itu diperbaiki sehingga membebani keuangan pemerintah. Di samping itu, angkutan darat yang tersedia saat itu masih berupa pedati atau perahu yang lambat dan daya angkutnya terbatas. Masalah perhubungan di sana sebenarnya hampir terjawab dengan kehadiran transportasi kereta api yang sudah dihadirkan di Pulau Jawa semenjak tahun 1867. Namun pembangunan jalur kereta api saat itu cukup mahal sehingga sejumlah wilayah belum sempat tersambung jalur kereta api. Salah satu wilayah yang terlewatkan itu ialah Pantura yang sejatinya menyimpan potensi besar karena di sana populasi penduduknya cukup besar dan ada pasar-pasar besar yang buka setiap harinya. Selain itu, di sana ada tujuh pabrik gula yang angka produksinya lumayan tinggi. Sayangnya, segala potensi tersebut belum mampu menarik perhatian pemerintah untuk membuatkan jalur kereta di sana. Sejauh itu, pemerintah masih terpaku pada pembuatan jalur kereta api pada wilayah Jawa bagian selatan danwilayah pantai utara Jawa masih belum terjangkau kereta (SJS, 1907; 9-10).

Salah satu rangkaian trem yang dioperasikan Semarang Joana Stoomtram Maatschappij.
(sumber : media-kitlv.nl)

Sementara di negeri Belanda sana, sebuah moda angkutan lain berbasis rel yakni trem uap mulai digunakan masyarakat pada tahun 1879. Sekilas, trem terlihat hampir mirip dengan kereta api. Hal yang membedakannya adalah laju kecepatannya yang menurut aturan dibatasi tidak lebih dari 15 km/jam. Karena lajunya lebih pelan, trem memiliki titik pemberhentian yang banyak dan akhirnya menjadi sarana transportasi komuter di lingkungan pedesaan. Keunggulan trem adalah biaya pembangunannya relatif murah karena jalurnya dibangun dengan memanfaatkan sebagian jalan yang sudah tersedia sehingga tidak perlu membuka jalur baru sebagaimana pembangunan jalur kereta api regular. Dari perkembangan transportasi di negeri Belanda sana, akhirnya tercetus gagasan untuk mendatangkan moda transportasi sejenis di Pantura sebagai jawaban untuk mengatasi keadaan perhubungan Pantura yang masih tertinggal dari tempat lainnya itu (SJS, 1907: 17). Gagasan itu sumbernya berasal dari dua pengusaha Belanda dan seorang Insinyur Inggris. Mereka adalah I.F. Dijkman; mantan ahli mesin di Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij yang kemudian menjadi pengusaha kayu dan kopi di Pati, lalu William Walker; insinyur Inggris yang juga importir mesin buatan Inggris, dan Baron G.H. Clifford; pengusaha perkebunan yang sudah memiliki pengetahuan mendalam soal lingkungan dan masyarakat di Hindia-Belanda (Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 19 Agustus 1880)

Baron van der Goes van Dirxland, direktur SJS pertama dan C.L.J. Martens, kepala pembangunan jalur trem Semarang-Joana (Sumber : De Tramwegen op Java).

Ketiga pengusaha tadi mengajukan konsensi pembangunan trem uap dari Semarang hingga Juwana kepada pemerintah pada 1 Desember 1870 dan konsensi itu akhirnya diberikan pada 18 Maret 1881 berkat dukungan Menteri Koloni saat itu, Baron van Golsten. Untuk mewujudkan dan mengelola konsensi tersebut, maka dibentuklah maskapai Semarang Joana Stoomtram Maatchappij pada 28 September 1881Tahap pembangunan jalur trem SJS diawali dengan penjajakan rute, penentuan lokasi pemberhentian dan jenis lebar lintasan, lokomotif yang bakal digunakan, serta penggalangan dukungan dari pemerintah setempat. Lebar trek yang dipilih sedianya akan memakai lebar 0,914 seperti yang tertuang dalam konsesi. Namun atas permohonan direktur SJS pertama, Baron v.d. Goes van Dirxland, pilihan lebar jalur berubah menjadi 1067 mm mengikuti lebar jalur yang digunakan oleh Staaspoorwegen. Lembaran sejarah trem uap di Hindia-Belanda dimulai dari tanggal 1 Desember 1882 dengan dibukanya jalur trem uap dalam kota Semarang dari Jurnatan ke Jomblang. SJS selanjutnya meneruskan sambungan trem ke rute luar kota Semarang hingga Juwana. Pembangunan jalur yang berada di bawah arahan insinyur Clement Martens tersebut dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah ruas Semarang-Genuk yang dibuka pada 2 Juli 1883 dan trem uap untuk pertama kalinya beroperasi di Denak terhitung dari dibukanya ruas Genuk-Demak pada 28 September 1883. Dari Demak, pembangunan jalur trem diteruskan dengan ruas Demak-Kudus yang dibuka 15 Maret 1884 (Rietsma, 1916: 174). Tahapan pembangunan jalur SJS akhirnya berhasil menyentuh sampai Joana dan dibuka untuk umum pada 19 April 1884 yang dirayakan secara meriah. Di Demak sendiri, semarak pembukaan jalur trem uap Semarang-Joana dirayakan dengan permainan rakyat seperti balap karung dan panjat pinang yang digelar di setiap alun-alun kota yang dilintasinya (De Nieuwe Vorstenlanden, 25 April 1884). 



Kondisi Stasiun Demak pada tahun 1990. Terlihat kanopi peron Stasiun Demak yang saat itu masih berada di tempatnya.(Sumber : De Jong, Spoorwegstation op Java)

Letak Stasiun Demak sebelum direlokasi dan setelah direlokasi (sumber : maps.library.leiden.edu)

Salah satu titik yang dilalui rute tersebut adalah Demak, dimana tempat pemberhentiannya semula diletakan dekat dengan Pasar Bintoro. Hal tersebut rupanya ada maksud tersendiri. Sedari awal, SJS sengaja menempatkan stasiunnya sedekat mungkin dengan pasar di wilayah kota-kota besar untuk mendapatkan lebih banyak penumpang dan barang. Pemilihan lokasi ini sendiri sebenarnya tidak terlalu bermasalah di tempat lain. Hanya saja khusus di Demak, hal ini mendapat keberatan karena letak stasiun yang pemerintah setempat khawatir bila stasiun yang berdekatan dengan pasar yang ramai akan menimbulkan gangguan lalu lintas di sekitarnya. Apalagi ada kemungkinan jika pedagang pasar akan menggelar dagangannya di atas rel. Negosiasi akhirnya dilakukan oleh SJS yang berlangsung dari Januari hingga Agustus 1883. Hasilnya, SJS diizinkan pemerintah untuk membuka stasiun di dekat pasar Demak. SJS rupanya sudah menggali karakter masyarakat Jawa saat itu. Menurut SJS, bila ada trem yang hendak melintas dan di depannya ada kerumunan, kerumuman itu dengan sendirinya akan membuka jalan untuk trem yang akan lewat dan kembali berkeruman seperti sedia kala setelah trem melintas (SJS, 1907: 53).

Stasiun Demak (A), gudang stasiun (B), dan menara air (C)

Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran jalur trem Semarang-Juwana yang melintasi Demak telah mendatangkan manfaat yang sangat memuaskan. Arus perpindahan barang dan penduduk antar wilayah menjadi lebih lancar dari sebelumnya. Sebagai lumbung padi Jawa pada saat itu, hasil dapat diangkut ke berbagai tempat dengan cepat sehingga resiko hasil panen membusuk di perjalanan dapat terhindarkan. Di samping itu, barang-barang yang diimpor dari luar dapat didatangkan ke pedalaman sehingga masyarakat yang tinggal jauh dari pelabuhan dapat mendapatkan barang dengan mudah. Keberadaan jalur trem rupanya juga dimanfaatkan oleh peziarah makam Walisanga yang hendak berziarah mengingat makam salah satu Walisanga, Sunan Kalijaga, letaknya tidak terlampau jauh dari stasiun Demak. Sekalipun membawa manfaat yang cukup besar, di sisi lain kehadiran kereta api dan trem telah merampas rezeki sebagian penduduk lokal seperti yang ditulis G.D Willinck untuk harian De Locomotief, 4 September 1897. Sebelum adanya kereta dan trem, perpindahan barang dan penumpang bergantung pada layanan pedati dan perahu yang disediakan oleh penduduk lokal. Pendapatan sekitar ribuan gulden bisa mereka raup setiap tahunnya. Pemilik warung pinggir jalan pun juga kecipratan sebagian rezeki dari kegiatan itu. Namun secara tiba-tiba, kehadiran trem membuat pendapatan mereka merosot tajam. Masyarakat berbondong-bondong beralih ke trem sebagai moda transportasi karena lebih cepat dan ongkosnya terjangkau untuk semua kalangan. Akhirnya uang yang dulunya mengalir di antara rakyat lokal, kini semuanya terserap keluar ke negeri Belanda, ke kantung-kantung investor SJS di negeri Belanda.

Tampak depan stasiun.


Tampak luar Stasiun Demak dilihat dari arah peron.

Peron Stasiun Demak.

Stasiun Demak bertambah ramai seiring dibukanya jalur percabangan ke arah Godong yang mulai beroperasi pada 15 November 1888. Kemudian pada 13 September 1894, selesailah tahapan pembangunan jalur Demak-Blora sehingga Stasiun Demak menjadi lebih ramai daripada sebelumnya. Menginjak abad ke-20, kegiatan Stasiun Demak akhirnya menjadi lebih padat sehingga bangunan dan emplasemen stasiun Demak yang sudah ada selama ini dirasa tidak mencukupi untuk kebutuhan angkutan trem. Oleh karena itu, SJS memutuskan untuk membangun stasiun baru Demak di sebelah barat kota seperti yang tertuang dalam surat permohonan kepala perwakilan SJS di Hindia-Belanda, Hendrik Jacobs, yang dialamatkan kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tertanggal 1 Desember 1912. Meskipun wacana pembangunan stasiun kedua Demak sudah digulirkan dari tahun 1912, pembangunan stasiun akhirnya dihentikan untuk sementara pada tahun 1915 akibat Perang Dunia I sedang berkecamuk di Eropa yang menyebabkan tersendanya pasokan barang dari luar. Setelah tertunda beberapa waktu, pembangunan stasiun baru Demak kembali dilanjutkan pada bulan November 1919. Insinyur yang bertanggung jawab atas pembangunan stasiun adalah insinyur Sehonevegel dan rancangannya bangunan stasiun dibuat oleh arsitek Van Leeuwen. Sementara proses pembangunannya diawasi oleh seorang pribumi bernama Widagdi. (De Locomotief, 26 April 1921).


Tampak luar Stasiun Demak.

Pada malam tanggal 25 April 1921 pukul tujuh kurang seperempat, sebuah rangkaian trem uap berangkat meninggalkan Stasiun Jurnatan Semarang menuju ke arah Demak. Trem tersebut mengangkut rombongan tamu undangan yang pada malam itu berkesempatan untuk menyaksikan seremoni peresmian stasiun baru Demak. Di dalam rombongan itu, tampak wakil direktur SJS, van Alphen. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, sampailah mereka di Stasiun Demak yang telah dihiasi dengan aneka dekorasi. Pesta peresmian tersebut berlangsung hingga pukul sebelas malam. Keesokan harinya, Stasiun Demak baru mulai dibuka untuk umum dan operasional Stasiun Demak lama dipindahkan ke stasiun baru. Saat baru pertama kali dibuka, sempat ada keluhan dari masyarakat  karena jarak stasiun yang baru terlampau jauh dari pusat kota Demak. Hal tersebut terjadi karena adanya perubahan konsep pembangunan stasiun yang dibuat oleh SJS. Jika awalnya SJS sengaja membangun stasiun sedekat mungkin dengan permukiman atau pusat perekonomian, maka belakangan SJS memutuskan untuk membangun stasiun baru yang letaknya lebih ke pinggiran. Lingkungan sekitar tempat dimana Stasiun Demak yang baru itu berdiri saat itu masih berupa lahan kosong yang belum berpenghuni. Dengan keadaan seperti itu, maka SJS dapat membangun gedung stasiun baru yang lebih besar dan disertai dengan sarana penunjang lainnya. Meskipun lokasinya sudah berpindah, perletakan stasiun baru Demak tidak memiliki perbedaan dari perletakan sebelumnya. Dari segi tata ruang, baik stasiun lama maupun stasiun baru berorientasi pada Jalan Raya Pos yang membelah kota Demak. Bedanya hanyalah stasiun yang baru diberikan jarak beberapa meter dari jalan raya, tidak sebagaimana stasiun sebelumnya yang berhimpitan langsung dengan jalan raya.


Bagian ruang depan.
Sisa lantai lama pada Stasiun Demak.

Ciri khas dari bangunan Stasiun Demak adalah adanya atap bentuknya meniru atap Masjid Agung Demak. Untuk menghasilkan kesan monumental dan keindahannya dapat terpancar keseluruh penjuru kota, maka bangunan stasiun baru Demak dibuatkan jalan penghubung ke jalan raya utama dan di ujung jalan penghubung yang tegak lurus itu ditempatkan bangunan stasiun. Sesudah Stasiun Demak kedua beroperasi, jalur trem dalam kota Demak ditutup dan dialihkan agak ke pinggir. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah perlintasan rel dengan jalan utama kota yang seringkali menjadi penghambat arus lalu lintas. Bangunan Stasiun Demak dibuat berbeda dari pendahulunya. Bangunan stasiun Demak yang pertama bentuknya berupa peron terbuka tempat penumpang menunggu trem dan di ujung perong ada bangunan kecil untuk kantor. Kedua bangunan tersebut tiang dan dindingnya masih terbuat dari kayu. Sementara bangunan Stasiun Demak kedua bangunannya sudah berdinding bata dan tiang-tiang penyangga atap peronnya terbuat dari besi. Melangkah ke dalam Stasiun Demak, pengunjung akan melalui ruang depan yang langit-langitnya terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan deretan jendela kaca sebagai sumber pencahayaan. Ruang depan ini dahlu adalah tempat penumpang trem membeli tiket. Di sebelah kanan-kiri ruang depan merupakan ruang kantor pegawai stasiun. Di belakang bangunan stasiun, terdapat bekas peron stasiun yang masih dapat dijumpai tegel-tegel lama yang kondisinya sudah rusak. Bagian ini aslinya dipayungi dengan atap overkapping yang memanjang. Di bawah bentang atap tersebut berjajar empat lajur rel. Dua lajur untuk jalur Semarang-Kudus, satu lajur untuk jalur Demak-Purwodadi, dan satu lajur lainnya untuk angkutan barang. Atap overkapping tersebut masih berdiri di tempatnya hingga tahun 1990an sebelum akhirnya hilang tak berbekas. Bagian lain yang sudah hilang jejaknya adalah depo lokomotif yang dahulu ada di sebelah barat. Meskipun sudah ada beberapa bangunan penunjang yang lenyap, untungnya ada bangunan penunjang lain yang masih tersisa seperti menara air, gudang, dan rumah dinas pegawai.

Menara air Stasiun Demak.

Bekas gudang stasiun Demak.

Situasi angkutan trem di Demak mulai memasuki masa sulit sesudah tahun 1930. Hal tersebut dikarenakan adanya persaingan dengan moda angkutan truk dan bus yang saat itu mulai bertambah banyak. Saldo SJS terus menujukan angka rugi meskipun jumlah personelnya sudah dikurangi dan gaji pegawai dipangkas. Kondisi kian bertambah berat pada masa pendudukan Jepang. Satu persatu pejabat SJS diinternir dan pengelolaan angkutan kereta dan trem diambilalih oleh militer Jepang. Sejumlah jalur ditutup dan Jepang mencopoti relnya untuk dipindahkan ke tempat lain. Salah satu jalur yang hampir ditutup Jepang adalah jalur Demak-Blora dengan alasan sudah ada jalur kereta Semarang-Cepu. Untungnya jalur tersebut urung ditutup setelah insinyur SJS, Ir. M.Ph. Broekhuijsen berhasil meyakinkan kepada kepala perkeretapian Jepang saat itu, Mayor Asaya, bahwa rel jalur Demak-Blora beratnya terlalu ringan dan usianya sudah tua. Setelah kemerdekaan, situasi politik yang masih tidak menentu membuat pengelolaan jalur trem SJS belum dapat pulih. Alih-alih SJS disatukan dengan maskapai kereta lain menjadi satu badan perkeretapian milik Belanda bernama Vereenigde Spoorweg sebelum akhirnya dilebur ke Djawatan Kereta Api (Broekhuisjen, 1947; 414). Stasiun Demak akhirnya purna tugas seiring ditutupnya jalur kereta Semarang-Rembang pada tahun 1986 karena prasarana yang sudah uzur, banyaknya penumpang gelap, serta kalah bersaing dengan kendaraan pribadi dan angkutan bis. Tiada lagi terdengar deru mesin trem uap tidak lagi bergema di peronnya. Setelah 65 tahun pengabdiannya dalam melayani penumpang trem, Stasiun Demak kini sedang tertidur dalam mimpinya. Hanya waktu yang dapat menjawab kapan stasiun itu bakal terbangun dari tidur panjangnya. 

Referensi :

Broekhuijsen, M. Ph.1947. "De Samarang Joana  Stoomtram-maatscliappij 1882-1947” dalam Spoor en Tramwegen No. 26, 10 Desember 1947 hlm. 411-416.

Rietsma, S. A. 1916. Indische Spoorweg Politiek Deel I. Batavia : Landsdrukkerij.

Semarang Joana Stoomtram Maatschappij. 1907. De Tramwegen op Java. 'S-Gravenhage : Kon. Ned. Boek - en Kunsthandel van M. M. Couvee

Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 19 Agustus 1880

De Nieuwe Vorstenlanden, 25 April 1884

De Locomotief, 4 September 1897

De Locomotief, 26 April 1921.