Jumat, 31 Januari 2020

Klenteng Hwie Wie Kiong dan See Hoo Kiong ; Dua Mutiara Tersembunyi di Pecinan Semarang

Bagi pelancong yang pertama kali menjelajah Pecinan Semarang, mencari dua klenteng ini ibarat menyelam ke bagian terdalam samudera untuk mendapatkan mutiara. Dua tempat ibadah orang Tionghoa ini letaknya memang tersembunyi di tengah padatnya Kampung Sebandaran yang berada di bantaran Kali Semarang,dan jauh dari kata tersohor seperti halnya klenteng Sam Poo Kong. Kendati demikan, siapapun yang berhasil menemukan klenteng ini akan dibuat terkesima dengan kekunoan dan keindahannya laksana mutiara. Inilah cerita dari Klenteng Hwie Wie Kiong dan See Hoo Kiong...
Letak klenteng Hwie Wie Kiong (1) dan See Hoo Kiong (2).
Klenteng Hwie Wie Kiong.
Tampak luar dari klenteng Hwie Wie Kiong terlihat lengang Hanya ada dua kendaraan yang terparkir di halamannya yang tak begitu luas. Karakter Tiongkok selatannya langsung terlihat dari bentuk bubungan atapnya yang menyerupai jurai ekor walet. Patung shi zi atau singa jantan dan betina sebagai simbol keharmonisan, menyambut setiap pengunjung klenteng. Dinding depannya dihiasi dengan ukiran detail, menampakan kepiawaian para pengrajin kayu Tionghoa yang mencurahkan seluruh keahliannya di dindingnya. Dari rangka konstruksi atap terbuka hingga ukiran jendela depan yang menampilkan ukiran naga yang tampak natural. Ukiran naga tersebut bisa dikatakan adalah ukiran yang paling menawan dari klenteng ini. Pada dasarnya, hiasan pada klenteng bukan sekedar pemanis saja. Di dalamnya, terkandung  pesan moral dan “doa bisu”. Semisal adalah ukiran naga tadi. Dibalik tampangnya yang gahar nan seram, naga dalam mitologi Tiongkok sesungguhnya adalah makhluk pembawa berkah dan pemberi perlindungan. Jika diamati seksama, naga ini hanya memiliki empat kuku, jumlah kuku tertinggi yang diperbolehkan untuk rakyat biasa. Naga berkuku lima dikhususkan untuk bangunan kekaisaran.
Dinding luar klenteng Hwie Wie Kiong.
Ukiran naga.
Secara garis besar, tata ruang klenteng ini dibagi menjadi tiga, yakni ruang suci utama, balai leluhur, dan ruang paling belakang yang belum diketahui fengshuinya. Tidak ada bangunan samping seperti lazimnya klenteng-klenteng besar. Klenteng Hwie Wie Kiong memiliki tiga pintu masuk ke dalam ruang suci utama, namun pintu masuk yang sering dilalui oleh pengunjung adalah pintu masuk yang paling kanan. Hal tersebut rupanya juga ada maknanya. Pintu paling kanan disebut Pintu Naga Hijau (Qinglong) sementara pintu kiri klenteng disebut Pintu Macan Putih (Baihu). Masuk melalui pintu kanan merupakan lambang kemakmuran sementara keluar dari mulut macan merupakan lambang lolos dari bahaya. Sehingga diharapkan setiap orang yang masuk keluar klenteng diberi kemakmuran dan lolos dari bahaya. Sementara itu, pintu tengah klenteng senantiasa dibiarkan. Pintu ini biasanya dibuka pada perayaan Cap Go Meh dan patung dewa utama klenteng akan dibawa keluar melalui pintu ini. Dua daun pintu dihiasi lukisan malaikat pintu yang disebut Qie-Lan Pu-Sa dan Wei-tuo-Pu-Sa. Keduanya adalah Bodhisattva pelindung agama Buddha dan dilukis di pintu sebagai simbol pelindung klenteng dari roh jahat. Pada setiap pintu, terdapat ambang balok yang disebut di fu ban yang dapat dilepas.
Bagian dalam klenteng Hwie Wie Kiong.
Melangkah ke dalam, semerbak asap menyeruak dari batang dupa yang tertancap di depan altar, dibarengi aroma khasnya yang memenuhi setiap sudut ruang klenteng. Sebagai sumber pencahayaan alami dan sirkulasi udara, terdapat tiga ruang terbuka di klenteng ini. Dua ruang terbuka kembar berada di belakang serambi, dan satu ruang terbuka lainnya terletak di balai belakang. Keberadaan tiga ruang terbuka tersebut menghasilkan iklim sejuk di dalam ruang, tidak sesak oleh asap dupa karena udara senantiasa bergerak mengalir. Sementara sinar mentari juga bebas masuk tanpa menimbulkan panas. Orang akan merasa nyaman tatkala berada di dalam. Ketika siang hari, bagian dalam klenteng menjadi terang benderang.
Ruang terbuka sebagai sumber cahaya dan udara.
Suasana sepi adalah pemandangan sehari-hari dari klenteng Hwie Wie Kiong. Wajar karena klenteng ini bukan termasuk klenteng yang cukup terkenal di Semarang seperti klenteng Sam Poo Kong. Dinding klenteng dilabur dengan warna hitam, kuning dan merah yang berpadu indah, menghamburkan keindahaan arsitektur Tiongkok yang masih terjaga keasliannya. Atap bangunan dipikul oleh rangka konstruksi atap terbuka tanpa penutup plafond, sehingga memperlihatkan keseluruhan rangka yang dihias begitu meriah. Melihat permainya ornamen dan megahnya ukuran klenteng ini seakan menunjukan kemakmuran Tan Thiang Tjhing, sang pendiri klenteng indah ini. Membahas klenteng ini memang perlu menyinggung tentang sosok Tan Thiang Tjhing karena klenteng ini adalah bagian dari sejarah kehidupan sang “mayor” pemimpin orang Tionghoa di Semarang yang pernah hidup di masa kolonial.
Rangka-rangka penopang atap.
Menukil dari buku “Riwayat Semarang” karya dari Liem Thian Joe, dijelaskan bahwa Tan Thiang Tjhing adalah putra dari juragan Bing, pemilik penggilingan gula di Semarang. Tidak diketahui dengan pasti kapan ia lahir, hal yang diketahui dari masa kecilnya adalah bahwa walau lahir di Semarang, namun masa kecilnya dihabiskan di negeri Tiongkok. Ketika beranjak dewasa, ayahnya memanggil Tan Thiang Tjhing untuk kembali ke Semarang karena ayahnya dipekerjakan oleh pemerintah kolonial untuk mengurus pacht kehutanan sehingga dibutuhkan tenaga untuk mengelola penggilingan gula. Penggilingan gula tersebut kemudian diwariskan kepadanya sesudah ayahnya meninggal. Tahun 1809, berdasarkan pai yang masih ada hingga hari ini, Tan Thiang Tjhing diangkat sebagai Letnan oleh pemerintah kolonial. Walau menyandang gelar militer, bukan berarti Tan Thiang Tjhing memiliki kuasa atas sekelompok serdadu. Gelar tersebut sesungguhnya diberikan pemerintah kolonial sebagai tanda bahwa Tan Thiang Tjhing adalah kepala masyarakat sekaligus penyambung lidah penduduk Tionghoa di Semarang dengan pemerintah kolonial (Liem, 1931 ; 90).
Pai yang menandai pengangkatan Tan Thiang Tjhing sebagai Letnan pada 1809 dan Mayor pada 1829.
Pada tahun 1814, Tan Thiang Tjhing ingin menunjukan baktinya kepada leluhurnya dengan mendirikan sebuah klenteng yang juga merangkap sebagai balai leluhur bagi marganya. Leluhur yang dimaksud ialah Tan Goan Kong. Siapakah gerangan sosok Tan Goang Kong ini sehingga sebuah sebuah klenteng dipersembahkan untuknya oleh salah satu keturunannya ? Alkisah di era Dinasti Tang, ada suatu tempat di dataran Tiongkok Selatan bernama Tjiang-Tjioe (Zhangzhou). Kala itu, wilayah tersebut masih belum tersentuh oleh pengaruh pemerintahan kaisar Tiongkok sehingga hampir segala kejahatan terjadi di situ. Jenderal Tan Goan Kong atau dalam ejaan Pinyin bernama Chen Yuanguang, diutus oleh Kaisar Tiongkok, Ruizong, untuk mengamankan wilayah tersebut. Setelah keamanan terjamin, Tan Goan Kong mengubah daerah tersebut dari sarang bandit menjadi daerah yang makmur. Walau sudah menjadi wilayah makmur, namun nyatanya masih ada pemberontakan di sekitar Tjiang-Tjioe. Tan Goan Kong bersama pasukannya berusaha menumpasan pemberontakan tersebut dan nahasnya, Tan Goan Kong tewas dalam pertempuran itu. Atas jasa-jasanya, kaisar Xuanzong yang menggantikan kaisar Riuzong, menganugerahkan gelar anumerta kepadanya dan memberi titah untuk mendirikan kuil penghormatan kepada Tan Goan Kong. Hari ini, kuil atau klenteng yang dipersembahkan kepada sang jenderal agung tersebar di berbagai penjuru, termasuk klenteng yang diangun Tan Thiang Tjhing. Lantaran klenteng ini didirikan oleh salah satu anggota marga Tan, maka nama klenteng ini dulunya dikenal dengan nama klenteng Tan Seng Ong.
Rumah tinggal mayor Tan di Sebandaran (sumber : colonialarchitecture.eu).
Tampaknya semesta memberkati kehidupan Tan Thiang Tjhing sesudah ia mendirikan klenteng sebagai tanda bakti terhadap leluhurnya. Pemerintah kolonial menaikan pangkat Tan Thiang Tjhing menjadi Kapten, menggantikan Kapitan Tan Thiang Khong yang mengundurkan diri karena alasan usia. Pada 1829, pangkat Tan Thiang Tjing sekali lagi ditinggikan. Kali ini ditinggikan dengan pangkat Mayor, menjadikannya sebagai orang Tionghoa pertama di Semarang yang mengemban pangkat tertinggi itu. Pangkat tersebut memang pantas disematkan kepada Tan Thiang Tjing karena ia berjasa dalam melindungi nyawa penduduk Tionghoa di Semarang selama terjadinya Perang Jawa. Pai dari Tan Thiang Tjhing yang menandai pengangkatannya sebagai Letnan dan Mayor masih dilestarikan dan dipajang berjejer di depan balai leluhur. Sepanjang hidupnya, Tan Thiang Tjhing dikenal memiliki sifat royal. Ia tidak segan memberi hadiah mahal kepada koleganya sebagai upaya memelihara ikatan persahabatan. Hal inilah yang membuat nama Tan Thiang Tjhing tak hanya kondang di Semarang, namun di tempat lainnya. Tan Thiang Tjhing semasa hidupnya menempati rumah mewah di sisi selatan Sungai Semarang yang dijuluki Gedong Gula karena dibangun di bekas gudang gula yang juga masih kepunyaanya. Wilayah tempat tinggalnya berangsur-angsur berubah nama menjadi Sebandaran, berasal dari kata bandar karena Tan Thiang Tjhing dikenal sebagai bandar yang memegang banyak pacht atau konsensi. Bermodal pacht yang ia pegang itulah ia mampu meraih kemakmuran yang tercermin lewat rumah dan klenteng yang didirikannya ini. Tan Thiang Tjhing meninggal pada tahun 1833 sesudah memangku jabatan mayor selama empat tahun (Liem, 1931; 116-117). Sayangnya, bangunan rumah indah sang mayor telah lama musnah dan boleh dibilang bila klenteng Hwie Wie Kiong tinggal satu-satunya warisan yang masih bisa dijumpai. Lambat laun, semua orang di luar marga Tan dapat bersembahyang di klenteng tinggalan Tan Thiang Tjhing ini.
Balai leluhur marga Tan.
Beranjak ke belakang, terdapat bangunan yang dikhususkan sebagai balai leluhur untuk marga Tan. Balai leluhur atau istilah lainnya disebut sebagai rumah abu, tempat disimpannya  papan arwah atau sin ci. Keberadaan balai leluhur bertalian erat dengan kepercayaan tradisional Tiongkok, dimana orang Tionghoa menjunjung rasa hormat yang tinggi kepada orang yang sudah meningal dunia karena mereka percaya orang yang sudah meninggal masih memiliki kehidupan yang berkelanjutan dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keberuntungan untuk mereka yang masih hidup di dunia. 

Bagian dalam balai leluhur marga Tan.

Fitur utama dari balai leluhur adalah meja altar dan lemari yang berisi sin ci. Selain budaya Tionghoa, sin ci atau papan arwah jamak dijumpai pada kebudayaan masyarakat Asia Timur lain seperti di Korea (shinwi) dan Jepang (ihai). Papan ruh tersebut memuat nama-nama orang-orang yang sudah meninggal. Penyusunan letak papan arwah biasanya disusun bertingkat sesuai silsilah keluarga dan tingkat yang tertinggi diperuntukan bagi leluhur paling atas. Di depan lemari, terdapat meja altar dan deretan kursi. Pada hari-hari khusus, beragam buah-buahan, minuman, dan makanan akan disajikan di atas meja tersebut sebagai persembahan terhadap arwah leluhur. Deretan kursi tetap dibiarkan kosong karena dipercayai bahwa arwah leluhur sedang duduk di kursi-kursi tersebut untuk menikmati persembahan.
Klenteng See Hoo Kiong.
Beringsut dari klenteng Hwie Wie Kiong, hanya berjalan beberapa langkah ke barat akan dijumpai bangunan klenteng lain yang juga tak kalah megahnya dengan klenteng Hwie Wie Kiong. Klenteng itu adalah klenteng See Hoo Kiong. Dari luar, klenteng See Hoo Kiong juga sama sepinya.  Dari luar, terlihat hanya ada tiga orang yang sedang duduk-duduk di serambi klenteng, mencari keteduhan di tengah panasnya udara kota Semarang. Dibanding klenteng klenteng Hwie Wie Kiong, pekarangan depan klenteng ini jauh lebih luas. Pekarangan suatu klenteng umumnya bersifat profan, dimana segala kegiatan masyarakat dilangsungkan di sini. Oleh karena itu, pekarangan depan klenteng harus bebas dari struktur permanen seperti pohon dan tiang. Hal lain yang patut diperhatikan dari klenteng ini adalah jumlah undakannya lebih banyak sehingga klenteng ini tampak lebih tinggi dibandingkan klenteng klenteng Hwie Wie Kiong. Hal tersebut menandakan bahwa klenteng tersebut memiliki status yang lebih tinggi di antara klenteng-klenteng di Semarang.
Satu dari dua pasang patung shi zi, sepasang singa jantan dan betina sebagai simbol keharmonisan.
Di antara seluruh klenteng di Pecinan Semarang, klenteng ini adalah yang paling bungsu. Dibangun tahun 1881, pembangunan klenteng ini diprakarasi oleh Liem Siong Djian dan Liem Kiem Ling. Seperti tak mau ketinggalan dengan marga Tan, mereka berdua ingin mendirikan klenteng untuk marga mereka. Untuk mewujudkan pembangunan klenteng tersebut, anggota marga Liem mendermakan uangnya. Klenteng marga Liem itupun akhirnya dibangun di lahan yang masih bersebelahan dengan klenteng milik marga Tan (Liem; 1931; 174). Setelah klenteng dibangun, tampaknya kemakmuran menyertai kehidupan marga Liem. Beberapa keturunan mereka sukses menjadi taipan. Di samping klenteng ini, sisa kejayaan marga Liem yang masih dapat ditemui adalah bangunan villa Puri Gede di Candibaru, Semarang (kini Rumah Dinas Wakil Gubernur Jateng) dan villa yang kini menjadi bagian dari Hotel Semesta.
Pai klenteng See Hoo Kiong dengan lukisan mural pada ambang pintu.
Dilihat tata ruang dan komponen bangunannya, klenteng See Hoo Kiong bisa dikatakan sebelas-dua belas dengan klenteng Hwie Wie Kiong. Perbedaan yang terlihat hanyalah pada hiasan nan indah yang tergurat pada kayu-kayu serta ukuran bangunannnya saja. Nuansa Tiongkok masih melekat erat pada  pada tampak luar klenteng See Hoo Kiong seperti halnya klenteng Tan Seng Ong yang bersanding di sebelahnya. Atap klenteng memiliki bubungan atap berbentuk seperti jurai ekor walet atai yanwei yang menjadi ciri arsitektur Minnan. Di pucuk atap ekor waletnya, bertengger dua pasang naga yang saling berhadapan menghadap sebuah bola api. Pinggiran genting pada titisan serambi diberi penutup tabung bergelasir yang disebut liuliwa. Genting semacam ini hanya diperuntukan untuk istana kekaisaran atau bangunan suci. Salah satu hiasan pembeda klenteng ini adalah mural pada ambang bagian atas pintu yang menggambarkan kisah-kisah rakyat Tiongkok yang sarat dengan hikmah dan pesan. 
Ruang utama klenteng. Tampak bagian lantai yang masih dilapisi tegel lama.
Hal yang membuat bangunan klenteng tampak terlihat seragam adalah karena adanya semacam kaidah yang harus dipatuhi dalam pembangunan klenteng. Hal tersebut bertujuan sebagai upaya menyelaraskan diri dengan energi yang terkandung di alam sehingga kehidupan di dunia berlangsung lancar dan tidak terganggu oleh suatu halangan. Karenanya, dibalik fisik klenteng yang indah, tersimpan makna-makna yang terkait dengan kosmologi maupun falsafah orang Tionghoa yang mengutamakan keselarasan dengan alam dan pengaturan kosmologi dalam kepercayaan mereka, dengan demikian klenteng memiliki dimensi yang tampak dan yang tidak tampak (Cangianto, 2013).
Toapekong Thian Siang Seng Boo.
Klenteng See Hok Kiong adalah klenteng yang dipersembahkan kepada dewi lautan, Thian Siang Seng Boo atau Dewi Laut. Sebutan lainnya lainnya adalah Maktjouw Poo atau Mazu. Perihal asal-usul Thian Siang Seng Boo patut juga diceritakan di sini. Syahdan, pada abad ke-10 di wilayah Hokkian, hiduplah seorang perempuan Liem Bik Nio yang masih merupakan leluhur marga Liem. Sewaktu bayi, Liem Bik Nio samasekali tidak pernah menangis seperti bayi pada umumnya. Sesudah usia 8 tahun, Liem Bik Nio disekolahkan dan ternyata ia termasuk murid yang sangat cerdas. Suatu hari, ayah Liem Bik Nio didatangi oleh seorang pendeta Tao. Rupanya maksud kedatangan pendeta Tao itu adalah untuk menyampaikan kepada ayahnya bahwa Liem Bik Nio menunjukan tanda-tanda seorang calon dewa. Pada saat berusia 16 tahun, Liem Bik Nio secara tidak sengaja menemukan sebuah kitab yang berisi ajaran kesaktian di sumur rumahnya. Dengan cepat, Liem Bik Nio menguasai isi ajaran kitab tersebut dan dari situlah Liem Bik Nio mulai memperlihatkan mukjizatnya. Sepanjang hidupnya, Liem Bik Nio sering menolong para pelaut yang tertimpa musibah di tengah ganasnya lautan. Liem Bik Nio akhirnya menjadi bagian dari pantheon Tiongkok dengan diberi gelar Thian Siang Seng Boo atau Permaisuri Surga. Pemujaan terhadap Dewa Laut amatlah penting bagi mereka yang berpergian lewat jalur laut seperti para pedagang dan perantau Tionghoa. Pada masa lalu, para nelayan akan mendatangi kuil Maktjouw Poo pada saat musim menagkap ikan tiba. Patung atau gambar dari Maktjouw Poo kemudian dipasang di buritan kapal dengan harapan agar mereka dilindungi keselamatannya dan diberkahi dengan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Bila ada perjalanan laut yang akan menghabiskan waktu lebih lama, maka akan diadakan arak-arakan Maktjouw Poo. Pemujaanya menyebar luas tidak hanya di daratan Tiongkok, namun juga di wilayah perantauan orang Tionghoa seperti Semarang. Para perantau mendirikan kuil atau klenteng sebagai rasa syukur kepada Thian Siang Seng Boo atau Maktjouw Poo yang telah memberi keselamatan perjalanan selama di lautan (Roberts, 2010;104-105).
Balai leluhur marga Liem.
Seperti halnya klenteng Tan Seng Ong, klenteng See Hoo Kiong juga merupakan klenteng yang merangkap fungsi sebagai balai leluhur. Di balai leluhur tersebut, terdapat fitur yang sama seperti balai leluhur marga Tan seperti lemari tempat menaruh papan sin ci dari marga Liem dan altar persembahan. Pada dasarnya, balai leluhur merupakan bangunan untuk peringatan, penghormatan leluhur serta tempat menyelenggarakan upacara  keluarga. Sepanjang sejarah, balai leluhur dibuat dalam ukuran yang beragam dan pada periode dinasti Qing, balai leluhur dibuat lebih besar karena sifat balai leluhur tidak hanya sebagai tempat sembahyang untuk mengenang leluhur semata, namun juga tempat berkumpulnya sanak saudara semarga. Balai leluhur umunya dibuat mencerminkan kekayaan dan status sosial dari suatu marga. Oleh karena itu, balai leluhur biasanya dibangun ketika kemampuan finansial sudah mencukupi (Knapp, 2010; 204-205).
Lemari sin ci klenteng See Hoo Kiong. 
Kumpulan sin ci.
Klenteng sebagai tempat ibadah sarat dengan nilai agama mulai dari fungsinya, peletaknya, tata ruang, hingga ragam hias di dalamnya menyimpan makna yang diyakini oleh orang Tionghoa. Klenteng selain memiliki fungsi religious, juga melingkupi fungsi sosial dan budaya. Dengan demikian, klenteng adalah inti dari masyarakat Tionghoa baik di perdesaan atau perkotaan. Ketika banyak orang Tionghoa yang merantau ke wilayah luar Tiongkok seperti ke Indonesia, mereka akan mendirikan klenteng sebagai ungkapan rasa syukur kepada dewa-dewi atas kemakmuran dan keselamatan yang telah dilimpahkan. Dalam klenteng pula, dapat diamati suatu kesatuan seni yang tertuang dalam dekorasi yang mengandung simbol pengharapan dan berbagai kisah-kisah penuh hikmah. Demikian halnya dengan keberadaan balai leluhur marga yang menyatu dengan klenteng-klenteng itu. Boleh dikatakan bila balai leluhur yang menyatu pada kedua klenteng tersebut menunjukan nilai semangat memelihara tali persaudaraan keluarga. Di balai leluhur itulah, satu keluarga akan beribadah bersama untuk mengenang leluhur mereka dan dari sin ci yang tersimpan mereka dapat mengenal silsilah keluarganya. Sekian tulisan Jejak Kolonial. Layaknya mutiara yang bernilai tinggi, dua klenteng ini sudah sepatutnya untuk dijaga kelestariannya.


Referensi
Cangianto, Ardian. 2013. "Menghayati Klenteng sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa" dalam web.budaya-tionghoa.net.
Heuken, Adolf. 2003. Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka.
Knap, Ronald G. 2010. Chinese House of Southeast Asia. Tuttle : Singapore.
Liem Thian Joe. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta; Hasta Wahana.
Liu Weilin. 2013. Bagian-bagian dari Arsitekur Tionhoa dalam http://web.budaya-tionghoa.net/
Xuan Tong. 2013. " Asal Muasal Klenteng – Makna, Fungsi, dan Perkembangannya "dalam web.budaya-tionghoa.net.
Qing-hua Guo. 2002. Visual dictionary of Chinese Architecture. Image publishing. Mulgrave, Australia.
Roberts, Jeremy. 2010. Chinese Mythology A to Z. New York : Chelsea House.