Jumat, 05 Agustus 2022

PG Gemuh yang Tak Lagi Bergemuruh

Bila tulisan Jejak Kolonial sebelumnya lebih banyak menyorot tentang pabrik gula di wilayah Jawa bagian selatan, maka Jejak Kolonial kali ini akan beranjak ke wilayah pantai utara Jawa, tepatnya di Kendal. Sejarah mencatat jika di Kendal dahulu ada tiga pabrik gula, yakni PG Cepiring, PG Kaliwungu, PG Puguh dan PG Gemuh. Pada kesempatan ini Jejak Kolonial akan mengulas tentang PG Gemuh yang namanya kurang tenar dibanding pabrik gula lain di Kendal.

Gambaran peta lingkungan sekitar PG Gemuh (kotak merah sebelah kiri tulisan "PEGANDON") (sumber : maps.library.leiden.edu)
Peta PG Gemuh tahun 1903 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang sejarah pendirian PG Gemuh ini. Hanya diketahui bahwa pabrik gula ini sudah eksis pada tahun 1845. Itu artinya PG Gemuh diperkirakan berdiri pada era tanam paksa atau sebelum diberlakukan kebijakan swastanisasi perekonomian Hindia-Belanda pada 1870. Keterangan tersebut diperoleh dari catatan perjalanan seorang dokter militer bernama P. Bleeker pada tahun 1840an. Ia menyebutkan bahwa dari seluruh tanah yang berada di bawah Karesidenan Semarang, hanya di wilayah Kendal sajalah budidaya tebu dapat ditemukan. Saat itu, kegiatan penanaman tebu dilakukan di empat distrik, yakni Kaliwungu, Perbuhan, Kendal, dan Truko. Tebu yang dihasilkan itu tentu saja tidak dijual langsung ke pasaran, melainkan diolah terlebih dahulu menjadi gula supaya nilai jualnya lebih tinggi. Maka dari itu, satu pabrik gula dibangun di setiap keempat distrik tersebut. Di distrik Truko, pabrik gula itu dibangun di Desa Gemuh (Bleeker, 1850: 5).

Foto udara PG Gemuh sekitar tahun 1930an (Sumber : data.collectienederland.nl)
Perlu diketahui bahwa PG Gemuh sebagaimana pabrik-pabrik gula yang didirikan pada era tanam paksa tidak didirikan bukan oleh suatu badan usaha swasta, melainkan perseorangan yang diberi kontrak dari pemerintah kolonial. Dalam kasus pabrik gula Gemuh, pabrik gula tersebut didirikan oleh P.H.A. van den Broek d’Obrenan. Ia selain pemilik PG Gemuh juga merupakan pemilik PG Puguh dan PG Cepiring. Saat itu, kemajuan teknologi mesin uap rupanya belum dikenal luas sehingga kegiatan pengolahan gula di ketiga PG tersebut masih mengandalkan teknologi yang tergolong primitif. Tebu digiling secara manual sementara kegiatan memasaknya masih dilakukan di wajan besar terbuka. Tanpa adanya teknologi mesin uap, angka produksi yang dihasilkan jelas kecil sekali. Teknologi mesin uap baru diterapkan tatkala ketiga PG milik Van den Broek tersebut dibeli oleh raksaksa dagang Hindia-Belanda Nederlands Handel Maatschappij atau NHM pada tahun 1863. NHM inilah yang berperan dalam pemasaran segala hasil sisten tanam paksa sehingga atas perannya ini NHM kondang dengan sebutan “VOC kecil”. Van den Broek bersedia untuk menjual ketiga pabriknya di Kendal asalkan NHM memperbolehkan Van den Broek untuk membelinya kembali (Mansvelt, 1924: 365).




Bagian dalam PG Gemuh (sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl).

Sebelum membeli ketiga pabrik tersebut, NHM memiliki PG Wonopringgo di Pekalongan yang jatuh ke tangan NHM pada tahun 1843 setelah pemilik sebelumnya mengalami kebangkrutan usaha. Langkah penting dari NHM yang kelak berpengaruh terhadap keberlangsungan industri gula di Jawa adalah mekanisasi pabrik gula itu dengan teknologi mesin uap. Segera saja PG Wonopringgo menuai kesuksesan dan keberhasilan otomatisasi PG Wonopringgo mendorong NHM untuk melakukan hal serupa pada ketiga pabriknya yang baru dikuasainya di Kendal. Tanggung jawab mekanisasi tersebut dipercayakan kepada insinyur NHM, Heyning yang telah berpengalaman dalam pekerjaan serupa di PG Wonopringgo. Sepeninggal Heyning yang meninggal dunia pada tahun 1867, pekerjaan pemasangan mesin uap pabrik gula di Kendal diteruskan oleh H.F. Morbotter. Mekanisasi PG Gemuh tuntas sekitar tahun 1869. Setelah mesin-mesin uap terpasang, jumlah gula yang dihasilkan dari ketiga pabrik tersebut meningkat pesat. Kualitasnya juga semakin bagus dengan menggunakan teknologi masakan tertutup. Selain dipasarkan ke dalam negeri Hindia-Belanda, berkarung-karung gula dari PG Gemuh diekspor ke Australia, Jepang, dan Singapura. Pabrik gula yang dimiliki Belanda saat itu menguasai rantai pasokan bahan baku untuk menekan harga dan mengendalikan mutu. Untuk kepentingan tersebut, PG Gemuh memiliki kebun pembibitan di Boja dan Selokaton yang memasok bibit tebu. PG Gemuh juga memiliki pemasok tersendiri yang menyediakan batu kapur untuk zat pemurni gula (Mansvelt, 1924: 365).

Gudang ampas tebu PG Gemuh (sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl).

Potongan artikel dari majalah De Ingenieur 17 November 1928 yang memuat obituari dari E.F.J. Tack, administratur PG Gemuh pada tahun 1918.

Di tangan NHM, keuntungan yang diperoleh dari pabrik-pabrik gula di Kendal itu kian pesat bertambah. Hal ini membuat pemilik lamanya tertarik untuk menguasainya kembali. Setelah mendapat dukungan modal dari Maclaine, Watson & Co dan Nederlandsch Indische Handels Bank, Van den Broek lantas membeli ketiga pabriknya terdahulu dengan harga sebesar 1.500.000 gulden pada tahun 1872 (Mansvelt, 1924: 366). Ketiga PG di Kendal itu kemudian dikelola dalam satu perseroan bernama “Maatschappij tot Exploitatie der Kendalsche Suikerfabrieken”. Perseroan itu mulai melantai di bursa saham pada tahun 1893 dengan menjual saham sebanyak 600 lembar dengan harga per lembarnya sebesar 2500 gulden. Saham “Kendalsche Suikerfabrieken” dikuasai oleh tiga pihak, yakni Van den Broek d’Obrenan, I.L.J. Baud dan Maclaine Watson & Co. (Het Vaderland 5 Juli 1893).


Tampak aktivitas di emplasemen lori PG Gemuh
(sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Tidak jauh di sebelah timur PG Gemuh, ada sungai bernama Kali Bodri. Sungai tersebut dulunya menjadi perbatasan alami antara Distrik Truko dan Distrik Perbuhan. Kali Bodri selain melewati PG Gemuh juga melewati dua pabrik gula lain yang dibangun oleh d’Obrenan, PG Cepiring dan PG Puguh. Penentuan titik lokasi pabrik biasanya diawali dengan pemetaan secara seksama. Dalam pemetaan itu diperhitungkan kondisi tanah sekitarnya apakah memungkinkan untuk ditanam tebu dan kuat menahan pondasi pabrik. Lokasi pabrik sedapat mungkin berada di dekat sungai karena keberadaan sungai memiliki banyak manfaat untuk pabrik gula. Pertama sebagai sumber irigasi perkebunan. Kedua sebagai sarana pembuangan limbah cair pabrik. Ketiga, yakni sebagai tulang punggung pengangkutan gula dari pabrik untuk dikirim keluar sebelum sarana transportasi kereta api dikenal di Jawa. Selain itu material dan mesin-mesin yang diperlukan oleh pabrik juga dibawa melalui sungai. 

PG Gemuh dilihat dari Sungai Bodri
(sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl).

Kedekatan jarak antara sungai dengan pabrik akhirnya turut berpengaruh dalam seberapa besar keuntungan yang didapat dari suatu pabrik. “Oleh karena itu, menentukan lokasi pabrik gula tidak sesederhana yang dibayangkan”, seperti yang dijelaskan Emmen (1926) dalam Rietsuikerfabrieken op Java en Hare Machinerieen. “Dan jika kondisi-kondisi di atas tidak diperhatikan dengan baik kelak dibalaskan dengan hilangnya keuntungan”, sambungnya. Sayangnya, hal yang tidak diperhitungkan dari pihak pembangun PG Gemuh adalah bahwa Kali Bodri rupanya sering terjadi banjir. Banjir besar Sungai Bodri yang tercatat selama masa kolonial terjadi pada tahun 1862, 1906, 1918, dan 1936. Penggunaan kereta api untuk pabrik gula di Kendal baru dilakukan belakangan saat Semarang-Cheribon Stoomtram-Maatschappij membuka jalur trem uap untuk ruas Semarang-Weleri pada tahun 1897. Jalur-jalur tersebut melewati sejumlah pabrik gula di Kendal termasuk pabrik gula Gemuh. SCS membuka jalur percabangan khusus ke Pabrik Gula Gemuh pada tahun 1897 dan keberadaanya membantu dalam proses pemasaran gula (Soerabaiasch Handelsblad 27 September 1897). Turut dibangun pula jaringan telepon sebagai sarana komunikasi antar ketiga pabrik gula “Kendalsche Suikerfabrieken” pada tahun 1895 (De Locomotief, 28 Oktober 1895).

Bekas rumah dinas yang saat ini digunakan untuk kantor Polsek Gemuh.

“Kendalsche Suikerfabrieken” menutup pabrik gula Puguh pada tahun 1898 dan sejauh ini alasan penutupan pabrik gula tersebut belum dapat diketahui (Algemeen Handelsbad 26 Januari 1898). Setelah melewati masa keemasannya, industri gula di Jawa yang begitu digdaya akhirnya memasuki masa gelapnya pada dekade 1930an. Gejala kejatuhannya mulai tampak pada tahun 1920 ketika terjadi reses ekonomi ringan. Walau tidak berlangsung lama dan dampaknya tidak begitu besar, namun profit yang diperoleh beberapa produsen gula mulai menunjukan trend penurunan. Jatuhnya harga saham di Bursa Wall Street New York pada tahun 1929 yang dampaknya menyebar ke segala penjuru dunia akhirnya menjadi tanda dimulainya kiamat untuk industri gula di Jawa. Harga gula di pasaran terjun ke bawah secara menggila padahal di saat yang sama produksi gula sedang melimpahnya. Hal ini tentu membuat produsen gula merugi. Untuk mendongkrak harga gula di pasaran, satu per satu pabrik gula berhenti beroperasi termasuk PG Gemuh. Pada musim tanam tahun 1932, PG Gemuh tidak menanam tebu. Meski berhenti beroperasi, namun PG Gemuh masih membayar setengah gaji pokok beberapa pegawainya baik pegawai Eropa maupun pribumi. PG Gemuh juga masih menanggung pengeluaran lain seperti dana pensiun, listrik, dan dokter. PG Gemuh masih memelihara kebun bibit karena sebagai persiapan seandainya pabrik gula kembali beroperasi, bibit tebu harus tersedia untuk musim tanam berikutnya. Untuk segala keperluan tersebut, PG Gemuh mengeluarakan total biaya sebesar 125.000 gulden. Angka kerugian itu belum separah jika PG Gemuh memaksakan diri untuk tetap menggiling karena PG Gemuh akan mendapat kerugian sebesar 348.000 gulden jika tetap menghasilkan gula di saat harga gula sedang begitu rendahnya di pasaran (Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 5 Januari 1932). PG Gemuh sedianya akan kembali dibuka jika harga gula berangsur pulih walau akhirnya  PG Gemuh tutup permanen karena nama PG Gemuh tidak tercantum dalam daftar pabrik gula keluaran tahun 1940. Dengan demikian, terputus sudah sejarah PG Gemuh.



Rumah dinas eks rumah dinas PG Gemuh yang tidak terawat.


Bangunan-bangunan bekas rumah dinas PG Gemuh yang saat ini menjadi hunian.

Kendati PG Gemuh sudah lama binasa, namun keberadaan rumah-rumah tua yang berjajar di sepanjang jalan setidaknya mewakili kehadiran PG Gemuh di masa sekarang. Rumah-rumah bergaya Indis tersebut dahulu diperuntukkan sebagai rumah dinas karyawan PG Gemuh. Sebagai sebuah industri, manajemen pabrik gula diisi oleh karyawan yang masing-masing sudah ditentukan bagiannya. Sebagai contoh adalah machinist atauk teknisi bidang permesinan. Tugasnya adalah merawat segala jenis mesin di pabrik agar dapat beroperasi dengan baik. Musim giling akan menjadi saat tersibuknya karena sepanjang hari ia harus memastikan mesin-mesin di pabrik tetap beroperasi dengan lancar tanpa gangguan sedikitpun. Sebuah gangguan kecil saja akan mengacaukan rangkaian produksi. Machinist juga mengurus armada lokomotif yang mengangkut tebu. 

Bangunna yang saat ini digunakan oleh SMP N 1 Gemuh.

Selanjutnya adalah karyawan di bagian chemist yang tugasnya memastikan mutu gula yang dihasilkan tetap baik dan seperti halnya mekanik ia akan berkutat sepanjang hari di pabrik jika musim giling tiba. Berikutnya adalah pengawas ladang atau zinder yang keahlian utamanya adalah bidang pertanian. Berbeda dengan karyawan lain, zinder sudah bekerja sebelum musim giling tiba karena ia  akan mengurus segala proses dari menanam hingga memanen tebu di ladang. Pekerjaan yang tak kalah pentingnya adalah pegawai pembukuan yang mengurus perkara birokrasi dan keuangan pabrik. Dengan kondisi pekerjaan yang menuntut para pegawai untuk senantiasa berada di dekat lingkungan pabrik setiap hari, maka menjadi hal yang lumrah jika rumah-rumah pegawai pabrik dibangun berdampingan dengan pabrik seperti yang dijumpai pada PG Gemuh. Keuntungan dari hal ini adalah waktu kerja karyawan tidak habis di perjalanan. Selain mempersingkat waktu, keberadaan rumah itu juga memangkas biaya yang dikeluarkan pabrik untuk menanggung ongkos perjalanan pulang-pergi pegawai.

Referensi :

Bleeker, P. 1850. "Fragmenten eener Reis over Java. Hoofdstuk III : Samarang" dalam Tijdschrift voor Ned. Indie. Groningen : D.W.R. van Hoevell. Halaman 1-24.

Emmen. 1926. Rietsuikerfabrieken op Java en Hare Machinerieen.

Mansvelt, W.M.F. 1930. Geschiedenis van de Nederlandsche Handel-Maatschappij. Haarlem : Druk Van Joh. Enschede en Zoon.

Het Vaderland 5 Juli 1893

Soerabaiasch Handelsblad 27 September 1897

De Locomotief, 28 Oktober 1895