Sabtu, 01 September 2018

Mengenal Mojowarno, Pusat Siar Kristen di Jawa Timur

Beberapa kilometer dari pondok pesantren Tebuireng, pesantren terbesar di Jombang, terdapat sebuah desa yang pada masanya pernah menjadi pusat siar Kristen di Jawa Timur di masa kolonial. Desa itu bernama Mojowarno. Bagaimanakah Mojowarno dapat tumbuh menjadi sebuah desa Kristen di tengah kabupaten yang pondok pesanternya berjibun itu ?
Letak Mojowarno pada peta Jawa Timur. Di masa kolonial, Mojowarno masuk ke dalam Karesidenan Suabaya.
Beserta kawan saya, Samuel Heru P, kami berangkat dari Mojokerto menuju Mojowarno. Selama di perjalanan, saya tak habis pikir, bagaimana sebuah tempat yang dulunya hutan lebat tak bertuan bisa disulap menjadi desa Kristen paling berpengaruh di Jawa Timur. Sesampainya di Mojowarno, saya mendapati sebuah desa yang sekilas terlihat seperti desa-desa di Jawa Timur pada umumnya, rumah-rumah petak dengan halaman lumayan luas berdiri di sepanjang jalan. Sebagian besar penduduknya mengais rezeki dengan menjadi petani, mata pencaharian yang sama dengan penduduk yang dulu membuka Desa Mojowarno.
Umat Kristen Mojowarno yang sedang mengiktuo kebaktian.
Sebelum mengenal Mojowarno lebih lanjut, kisah akan dimulai dulu dari Ngoro, suatu desa di selatan Jombang yang menjadi titik awal penyebaran agama Kristen di Jawa Timur. Di sana, tersebutlah seorang mantan zinder hutan jati bernama Coenraad Laurens Coolen yang akhirnya menjadi tuan tanah di sana. Coolen sendiri hanyalah orang Kristen awam, bukan pendeta ataupun penyebar agama. Namun pria keturunan Rusia-Jawa itu mencoba untuk mengajarkan agama Kristen kepada para pekerjanya. Apa yang dilakukan Coolen terbilang nekad karena pemerintah kolonial secara tegas melarang penyebaran Kristen di tengah pemeluk Islam karena dapat menimbulkan perselisihan. Selama mengajarkan agama Kristen, Coolen menerjemahkan pengakuan iman rasuli, hukum sepuluh perintah tuhan, dan doa bapa kami ke dalam bahasa Jawa. Maka dari itulah ajaran Kristen ala Coolen seringkali bercampur dengan kepercayaan lokal. Kemudian ada pengikut Coolen yang bernama Wiryoguno, seorang dalang berdarah Madura yang tersohor namanya di Sidoarjo dan Surabaya. Wiryoguno memiliki ketertarikan kuat akan ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan sehingga tatkala ia mendapat wangsit untuk mendalami ilmu Musqab Gaib ia pun melakakun sebuah pencarian yang akhirnya mempertemukan Wiryoguno dengan Coolen di Ngoro. Setelah bertemu dengan Coolen, ia melanjutkan pertemuan dengan Emde di Surabaya. Di sana ia dibaptis dan setelah itu nama Karolus kemudian dibubuhkan padanya. Wiryoguno bercita-cita untuk bisa membangun sebuah desa bersama keluarganya.
Karolus Wiryoguno, pembuka hutan Kracil ( sumber : id.wikipedia.org ).
Hutan Kracil di dekat Ngoro menarik perhatian Wiryoguno. Setelah menerima izin membuka hutan dari residen Surabaya dan mengurus birokrasi di Mojokerto, Wiryoguno beranjak ke Dukuh Dagangan yang berada di dekat Hutan Kracil. Di dukuh itu, Wiryoguno bersua dengan rekan lamanya di Ngoro, Ditotaruno yang diusir oleh Coolen dari Ngoro. Hutan Kracil yang luas itupun dibuka secara perlahan dan menjadi padukuhan baru. Oleh Wiryoguno, padukuhan itu diberi nama  “Mojowarno”, diambil dari kata Mojo karena berada di dekat pusat kerajaan Majapahit dan “warno” karena penghuninya berasal dari beragam daerah dan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Singkat cerita, pada 1850, Hutan Kracil yang angker itupun akhirnya berganti menjadi tiga desa makmur, yakni Mojowarno, Mojowangi dan Mojoroto. Tiga desa itu tumbuh sebagai desa agraris dengan membuat proyek seperti irigasi, bendung, dan jalan penghubung antar desa. Setelah berita pembukaan Hutan Kracil terdengar di telinga pemerintah kolonial, maka tiga desa tersebut diresmikan dengan Wiryoguno sebagai Bau Aris atau koordinator kepala desa.  Tiga desa yang didirikan oleh orang Jawa Kristen itu menarik orang Kristen Jawa di tempat lain seperti Paulus Tosari, Yakobus Singotruno, Simon Suryo, dan lain-lain yang ada di Sidokare, Sidoarjo. Pendatang baru ini diterima dengan baik oleh Wiryoguno dan mereka dipersilahkan untuk membuka hutan. Hutan-hutan itupun akhirnya menjadi tiga desa baru, yakni Mojodukuh, Mojokembang, dan Mojojejer. Enam desa ini kemudian membentuk kesatuan jemaat yang bernama jemaat Mojowarno.
Pendeta Jelle Eeltjes Jellesma.
Rumah Jellesma di Mojowarno ( sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java ).
Tahun 1851, tibalah di Mojowarno, seorang pengabar Injil kelahiran Frieslan, Belanda. Namanya Jelle Eeltje Jellesma, pendeta yang oleh Nederlands Zending Genootschap ( NZG ) ditugaskan ke Jawa Timur. Saat Jelessma tiba di Mojowarno, desa itu dipimpin oleh Kyai Abisai Ditotaruno. Jumlah jemaatnya sudah mencapai 244 orang, angka yang besar untuk sebuah desa pelosok. Selain mengajarkan Kristen, Jellesma juga membuka sekolah. Sayangnya tugas Jellesma di Mojowarno berlangsung singkat karena ia keburu meninggal pada 1858. Walau saat itu sudah banyak orang Jawa yang memeluk Kristen, hal tersebut tidak berarti menjauhkan mereka dari perilaku buruk seperti menghisap madat, mabuk, dan berjudi. Buruknya moral orang Jawa Kristen menimbulkan kekecewaan di kalangan penginjil Belanda seperti Pdt. Harthoorn yang menganggap zending di Jawa adalah sebuah kegagalan. Namun anggapan Harthoorn tidak berlaku pada Paulus Tosari, Pdt. Hoezoo, dan Pdt. Kruyt senior. Mereka adalah pengganti Jellesma di Mojowarno yang dengan sabar mengajarkan Kristen di kalangan orang Jawa. Disemai sepenuh hati secara perlahan oleh penginjil Belanda dan Jawa, tunas Kekristenan di Jawa Timur itu mulai tumbuh ( Nortier, 1939; 70 ).
Pendeta J.Kruyt (1835-1918), pendeta Belanda terlama di Mojowarno.(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java).
Ary Kruyt, putra pendeta J. Kruyt yang membantu ayahnya di Mojowarno (sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java ).
Pendeta J. Kruyt tiba di Mojowarno pada 1864. Saat itu ia masih berusia 29 tahun. Cukup lama ia menjadi pendeta di Mojowarno, yakni dari tahun 1864 hingga ia meninggal pada tahun 1918. Oleh penduduk desa, J. Kruyt diangkat sebagai pemimpin desa. Wibawa dan sikap tegasnya membuat nasihat dari J. Kruyt selalu didengar dan dipatuhi oleh penduduk desa.  J. Kruyt membuat peraturan desa berlandaskan ajaran Kristen, semisal penduduk desa yang beragama Kristen tidak diperkenankan bekerja di sawah pada hari Minggu dan harus menghadiri kebaktian. Hiburan pertunjukan semacam tayub dilarang sebagai hiburan penyerta upacara perkawinan. Lalu anak laki-laki dan perempuan diwajibkannya untuk bersekolah. Upaya yang dilakukan oleh Kruyt ini bertujuan untuk mematahkan pandangan negatif dari para zending Belanda seperti Harthoorn, yang memandang bahwa orang Jawa tidak mampu menjadi penganut Kristen yang saleh. Tahun 1882, putra pendeta J. Kruyt, Ary Kruyt menyusul ayahnya di Mojowarno setelah menyelesaikan studi di Belanda. Laksana buah yang tak jatuh jauh dari pohonnya, Ary Kruyt juga seorang pendeta yang cakap mengurus jemaat. Keberhasilan  di Mojowarno membuat mereka berdua diberi amanat yang lebih besar lagi, yakni mengasuh semua orang Kristen di Karesidenan Surabaya.
Tampak luar gedung GKJW Mojowarno.


Bagian dalam gereja.

Saya kini berdiri termenung di hadapan bangunan GKJW Mojowarno yang terlihat sangat anggun dengan gaya neogotiknya. Umat gereja ini memang terdiri dari orang-orang Jawa, namun tampilan bangunan gereja itu justru terlihat sangat Eropa. Di bagian fronton, tertera tulisan aksara Jawa yang berbunyi “ Duh Gusti ingkang kawula sinten malih ? Paduka kagungan Pangandikanipun gesang tanggeng” dan “ Margane slamer rahe pamenthangan”. Jika diterjemahkan, pesan dari tulisan tersebut adalah kepasrahan jemaat gereja pada Tuhan. Hingga sekarang gereja ini masih menjadi tempat diajarkannya ajaran Kristen yang dibawakan oleh Isa Almasih dua ribu tahun silam. Melangkah kaki ke dalam, aura kekunoaan gereja masih belum lekang sama sekali.
Lukisan gedung gereja setelah selesai dibangun ( sumber : troppenmuseum.nl ).

Bangunan GKJW Mojowarno pada 1894.
Gedung gereja GKJW Mojowarno adalah warisan kemandirian jemaat Mojowarno di masa lampau. Untuk mengatur jemaat yang semakin banyak, maka pada 1873 dibentuk majelis gereja. Sungguhpun jemaat Mojowarno adalah penganut Kristen yang taat, nyatanya mereka juga mahir dalam mengatur keuangan dan mengelola harta benda. Keadaan semakin menguntungkan karena tidak seperti di tempat lain, tanah pertanian sepenuhnya dikuasai oleh jemaat Mojowarno. Sejak tahun 1871, jemaat menghimpun tabungan untuk pembangunan gereja dengan membentuk lumbung persekutuan. Para jemaat secara sukarela akan menyerahkan sebagian hasil panenan kepada lumbung persekutuan, lalu hasil panenan yang terkumpul dijual dan pendapatannya disimpan di De Javaasche Bank cabang Surabaya. Dana yang berhasil  terkumpul sebesar 25.000 gulden. Dengan uang yang terhimpun tersebut, pada 1879 mereka mendirikan gedung gereja Mojowarno yang tampilannya tak kalah megah dengan gedung gereja bikinan pemerintah kolonial yang ada di kota-kota besar. Pembangunan gereja ini ditandai dengan upacara peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Christina Catarina Kruyt  pada 24 Februari 1879 dan upacara tersebut diabadikan pada sebuah prasasti yang masih menempel di dinding gereja. Gereja yang selesai dibangun tahun 1881 ini tak sekedar wujud ketaatan jemaat Mojowarno pada agama Kristen. Lebih dari itu, ia juga simbol kemakmuran Mojowarno berkat kemandirian jemaatnya ( Nortier, 1939; 76 ).
Lonceng gereja yang tak terpakai lagi.
Saya kemudian beranjak naik ke menara lonceng. Di sana saya menjempui sebuah lonceng besar yang sudah tak tergantung lagi di tempantnya dan hanya tergeletak di dalam menara. Sebuah lambang cakra dibubuhkan pada lonceng perunggu tersebut dan mengingatkan saya pada keraton Cakraningrat yang ada di Madura. Karolus dan keluarganya memang masih ada pertalian darah dengan keraton Cakraningrat. Ia adalah putra ke 3 Pangeran Cokrokusumo dan cucu dari Sultan Cakradiningrat II.

Bekas kantor pos pembantu Mojowarno.
Sekolah zending Mojowarno.

Dari menara lonceng tersebut, saya dapat memandang lebih jelas lingkungan sekitar gereja. Di sebelah utara gereja ada sebuah kompleks sekolah sementara persis di seberang timur jalan, terdapat rumah sakit yang cukup ramai. Mencontoh pendeta Jellesma, bapak-anak Kryut mendirikan sekolah yang berada tak jauh dari rumah pendeta. Tidak seperti sekolah zaman sekarang, jam belajar dimulai agak siang, yakni pukul 10.00 dan berakhir pukul 14.00, sehingga masih ada kesempatan untuk anak-anak membantu orang tuanya. Anak laki-laki bisa membantu ayahnya mencari rumput dan menggembalakan ternak, sementara anak perempuan bisa membantu ibunya memasak di rumah. Ada pula sekolah calon guru yang mengajarkan pengetahuan Injil, sejarah perkembangan gereja, dan teologi. Di sekitar Mojowarno dahulu banyak pabrik gula, maka agar para pemuda Mojowarno dapat bekerja di sana maka dibukalah sekolah pertukangan ( Wolterbeek, 1995;110 ).

Rumah Sakit Kristen Mojowarno kini dan dulu.
Para pasien zendinghospitaal Mojowarno yang sedang mendapat perawatan.
Berbekal ilmu kedokteran yang mereka miliki, bapak anak Kruyt membuka pelayanan kesehatan. 3000 orang yang berobat sudah berobat kepada Kruyt sejak tahun 1867. Karena kewalahan, Kruyt meminta bantuan NZG untuk mengirimkan tenaga kesehatan dan mendirikan rumah sakit. Permintaan Kruyt terwujud pada 1894 dengan dibangunnya Zendinghospitaal Mojowarno.  Pelayanan rumah sakit ini terbilang prima sehingga orang rela datang jauh-jauh hanya demi berobat ke rumah sakit ini. Selain ada dokter Belanda seperti Bervoets, Duymer, dan A.Pijzel, ada pula seorang dokter Jawa yang bernama dokter Ismael. Adalah hal yang luar biasa ketika ada seorang dokter Jawa di sana karena orang Jawa dianggap bodoh perihal kebersihan. Karena hal itu Dr. Bervoets sempat dicemooh ketika mendidik orang Jawa sebagai juru rawat ( Nortier, 1939; 259 ).
Majelis Agung GKJW di Mojowarno pada 1931 ( sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java ).
Pada tahun 1900, jemaat Kristen di Mojowarno sudah menyentuh hingga angka 3555 orang, jumlah yang terbilang banyak dan menjadikan Mojowarno sebagai desa dengan jemaat Kristen terbesar di Jawa Timur ( Wolterbeek, 1995;104 ). Sebagai tanda kematangan jemaat, pada hari Pantekosta tahun 1923, para jemaat Mojowarno mengangkat pendeta dari bangsa mereka sendiri, yakni Pdt. M. Driya Mestaka. Baru merekalah yang melakukan hal tersebut di Jawa Timur dan dengan demikian mereka sudah tidak diatur lagi oleh lembaga zending Belanda. Agama Kristen di Jawa Timur mulai memasuki babak baru ketika semakin banyak pasamuwan ( jemaat ). Pasamuwan itu kemudian membentuk persekutan yang dikenal dengan Gereja Kristen Jawi Wetan pada 1931 dan Mojowarno mendapat kehormatan sebagai tempat dilangsungkannya sidang pertama GKJW pada 11 Desember 1931  ( 1995; 129-130 ). Dari sebuah hutan angker, Mojowarno akhirnya tumbuh menjadi pusat siar agama Kristen di Jawa Timur.
Makam orang Jawa Kristen.
Slaah satu makam dengan batu nisan berbahasa Jawa.

Sesudah melihat-lihat bangunan di sekitar gereja, saya bersama Samuel mencari dimana orang-orang Kristen Mojowarno dulu dimakamkan. Dengan menerabas jalan pematang sawah, kamipun berhasil menemukan makam yang sebagian besar sudah tertutup semak belukar. Di sana, kami menziarahi makam Karolus Wiryoguno, pemimpin babad Hutan Kracil. Karolus Wiryoguno meninggal pada 1899 dan sepeninggalnya, usaha merawat jemaat dan desa Mojowarno diteruskan oleh anak-anaknya. 
Makam Karolus Wiryoguno dan istrinya yang kedua.
Sebagaimana makam Belanda, makam orang Jawa Kristen ini memakai batu marmer putih walau hiasannya jauh lebih sederhana dibanding makam Belanda. Sebagai tanda bahwa walau mereka sudah menganut agama Kristen bukan berarti menghilangkan jatidiri mereka sebagai orang Jawa, nama pada batu nisan menyandingkan nama baptis dengan nama Jawa. Ditinjau dari segi bahasa yang dipakai, ada dua jenis makam, yakni yang memakai bahasa Belanda dan Jawa. Selain makam orang Belanda, bahasa Belanda rupanya dipakai pula untuk orang Jawa, tanda bahwa sudah banyak penduduk di Mojowarno yang sudah melek huruf.
Makam J. Kruyt dan Ary Kruyt.
Batu nisan pendeta Johannes Kruyt.
Di saat saya melihat makam sembari membaca isi batu nisan, secara lekat mata saya menangkap sebuah nama yang tampaknya cukup familiar. “ Johannes Kruyt”. Sayapun akhirnya sejenak termenung di hadapan makam tua itu. Inilah makam dari pendeta berwajah tenang yang berjasa membesarkan jemaat Mojowarno bersama Karolus Wiryoguno. Kontras sekali perbedaan makam keduanya. Makam Karolus terlihat berkilau setelah dipugar. Sementara makam J. Kruyt terlihat jangkankan terawat, ditengok pun tampaknya jarang. Batu nisannya tampak sudah pecah dan semak-semak tumbuh liar di sekitarnya. Keadaan makam anaknya, Ary Kruyt, juga sama-sama tidak terawat. Walau demikian setidaknya patut disyukuri jika batu nisan makam mereka masih utuh di tempatnya sehingga siapapun masih dapat mencari jejak zending Belanda yang berperan penting dalam penyebaran Kristen di Jawa Timur. Selain makam J.Kruyt dan Ary Kruyt, ada pula makam Adriaan Nortier, salah satu dokter yang pernah bekerja di RS Mojowarno. Termasuk di sana, ada makam Ismael, si dokter Jawa dan istrinya. Keberadaan makam-makam tersebut memperlihatkan bahwa para dokter tersebut rela meninggalkan zona nyaman dan mencurahkan hidupnya untuk memberi pelayanan yang terbaik sekalipun itu berada jauh dari tempat asal mereka.
Sebuah rumah kuno di Mojowarno, cermin kemakmuran penduduk Mojowarno di masa lalu.
Warisan budaya di Mojowarno selain bangunan-bangunan kunonya yang masih terpelihara, adalah tradisi riyaya unduh-unduh. Dengan latar belakang agraris, penduduk Mojowarno merupakan para petani yang masih menghormati tradisi Jawa, dimana sebagai bentuk Rasa syukur atas panen melimpah biasanya akan digelar upacara tertentu. Agar tradisi leluhur dapat selaras dengan keyakinan mereka sekarang sebagai umat Kristen, maka digelarlah tradisi riyaya unduh-unduh sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat berupa hasil panen yang melimpah. Setiap musim panen padi tiba, Mojowarno akan riuh dengan tradisi rutin tahunan tersebut, dimana berbagai penduduk dari berbagai latar belakang ras dan agama dapat menyaksikan tradisi riyaya unduh-unduh ini. Saat upacara digelar, halaman gereja akan dipadati dengan gerobak hias yang mengangkut hasil bumi, makanan, dan hewan ternak yang nantinya akan didoakan. Setelah didoakan, barang-barang tersebut dilelang dan hasilnya digunakan untuk keperluan gereja. Tradisi ini selintas persis dengan tradisi slametan di berbagai tempat di Jawa yang mulanya menggunakan mantra-mantra berbahasa Jawa Kuno, berganti dengan doa berbahasa Arab ketika agama Islam masuk, dan di Mojowarno yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, dipakai doa-doa cara Kristen.

Masa lalu memang belum habis di Mojowarno. Bahana lonceng gereja yang dibangun lebih dari seabad silam masih bergema setiap minggu. Murid-murid masih ceria belajar di sekolah yang dulu dibesarkan para zending dan para pasien masih mendatangi rumah sakit yang sudah ada sejak paruh pertama abad 20. Tradisi riyaya unduh-unduh, pasar rakyat khas Mojowarno juga masih diselenggarakan setiap musim panen. Dengan saling menghargai perbedaan, jemaat Kristen Mojowarno hidup rukun bersama lingkungan masyarakat Islam yang kental seperti Jombang, yang dikenal sebagai tempat kelahoran ulama-ulama kondang seperti K.H. Hasyim Asyari, K.H, Wachid Hasyim, hingga Abdurahman Wahid yang membesarkan organiasi Islam paling berpengaruh di Indonesia, Nahdalatul Ulama. Ya itulah Mojowarno, pusat siar Kristen di Jawa Timur yang masa lalunya belum habis.

Referensi
Crommelin, D. 1909. Modjowarno, Een Zendingpost. Rotterdam ; Eletriche Drukkerij M.Wyt & Zonen.


Hadi Wahjono, Bau Aris R. Karolus Wiryoguno : Pemimpin Babad Hutan Kracil (Cikal Bakal Berdirinya Desa-Desa di Mojowarno), Taman Pustaka Kristen Indonesia (TPK), Yogyakarta.

Nortier, C.W . 1939. Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java. Zendingstudie-raad
.
Wolterbeek, J.D . 1995. Babad Zending di Pulau Jawa. Yogyakarta ; Taman Pustaka Kristen.

48 komentar:

  1. Saya sgt terkesan membaca tulisan mengenai sejarah di blog ini, sangat informatif dan padat akan nostalgia masa lalu. Tulisan anda sgtlah bagus dan sgt profesional. Jujur, sebelumnya saya sgt tidak suka dengan tulisan-tulisan di buku maupun dimedia elektronik yg membahas ttg sejarah, saya mengganggap membaca catatan sejarah itu hanya membuang-buang waktu dan membuat kepala pusing karena deretan hurufnya yg panjang menjuntai. bahkan saat saya mengenyam pendidikan lanjutan dalam Ilmu teknik, Buku / Catatan Sejarah hampir tidak pernah saya lirik.
    Tetapi setelah tdk sengaja menemukan blog ini dan membaca artikel ttg Stasiun Gundih, entah kenapa saya merasa sgt senang dan tertarik dengan sejarah. Tulisan yg informatif, tidak monoton dan sangat profesional. Semoga blog ini selalu menjaga hal-hal tsb.
    Saya harap http://jejakkolonial.blogspot.com/ ini terus menuliskan catatan sejarah Indonesia lebih luas lagi.. agar org yg buta akan sejarah seperti saya ini, dapat merasakan kejayaan masa lalu yg luar biasa dan mengenal lebih dalam lagi nilai sejarah Indonesia.


    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas sanjungan yang sudah anda berikan.

      Hapus
  2. Jauh dari purworejo menuju mojowarno jombang..Sangat bersemangat mengumpulkan kembali ingatan masa lalu melalui tinggalan budaya materinya.
    Kalau boleh nambahi, ada tertulis riwayat Gereja di dahului cerita tentang Coolen yang "Awam, bukan pendeta ataupun zending". Nah, di daerah Ngoro ada GKJW Ngoro, Jombang. Dengar-dengar itulah cikal bakal yang dahulunya sebatas Komunitas Kristen Jawa lalu menjadi berlembaga. Artinya komunitas itu tak mampu mempertahankan eksistensi sebagai komunitas dan akhirnya ikut arus Belanda. Monggo diinterpretasikan sendiri maksudnya. Bahkan di Ngoro ada makam yang tak terurus di sanalah Coolen RIP.
    Saya juga pernah degar juga kalau Kyai Sadrach ada hubungan juga dengan pemikiran coolen. Semoga ini bisa jadi ide baru untuk menelusuri jejak Sadrach dan pemikirannya terhadap arus zending pada masa itu. Tetap menulis untuk melawan lupa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, sejatinya cikal bakal komunitas Kristen di Jawa Timur ada di Ngoro, tapi di Mojowarno lah komunitas Kristen mendewasakan diri dan menjadi suatu lembaga yang diakui.

      Hapus
    2. saya cucu eang abe saiditoruno.saya bangga pada leluhur saya .makam eang ada di sebelah makam rumah nenek saya.

      Hapus
  3. Terima kasih atas ulasan sejarah cikal bakal penyebaran agama kristen di jawa timur. Soalnya menurut cerita nenek saya berasal dari Mojowarno, dan hijrah ke desa Tulungrejo.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Sedangkan saya sendiri sekarang sudah pindah dan menetap di kota Manado... jadi ingin berkunjung ke Mojowarno.

    BalasHapus
  6. Senang mengetahui sejarah kekristenan di mojowarno. Semoga umat Kristen di sana ttp setia imannya meski banyak tjd kawin campur.

    BalasHapus
  7. Nama saya,Yama Dayaka Radimin. Kmi.bersaudara adalah cucu dri eyang R.A.Manirah Murtopo,yang berada di desa Bongsorejo, dekat Mojowarno. Kmi keturunan dri mbah buyut Raden Anas Wardiman dn canggah Raden Klas Waridin Wirosastro. Semua keturunan eyang R.A.Manirah Murtopo sebagian besar masih di desa Bongsorejo. Saya dan keluarga saya, sekarang berada di Canberra, Australi. Puji Tuhan bahwa sampai sekarang masih memiliki buku Sejarah Keluarga Raden Paing Wiryoguno Alias Karulus. Tuhan mmberkati. Canberra 2 Oktober 2019. Adik kami alm dr.Agung Sudharmanto pernah bekerja di RS Mojowarno, jga alm dr. Sudjatmoko, mantan Kepala RS Mojowarno.

    BalasHapus
  8. Maaf pembetulan, eyang R.A.Manirah Murtopo Abenar. Canberra 1 Oktober 2019. Puji Tuhan.

    BalasHapus
  9. Sekali lgi pembetulan , eyang R.A. Manirah Mustoko Abenar

    BalasHapus
  10. Terimakasih sdh menuangkan tulisan ini. Salam kenal dari saya. Sy, Evita Anggraeni Mestoko, adalah keturunan canggah Karolus Wiryoguno. Buyut sy bernama Simsim Mestoko (Putra ke-3 canggah Karolus Wiryoguno), yg ikut membangun GKJW Ngoro. Kakek sy, Drijo Mestoko, adalah pendeta pertama GKJW Mojowarno yg asli pribumi.

    BalasHapus
  11. Saya pribadi keturunan dari keluarga Eres , mbah kakung mustopo dan mbah putri kasruci buyut saya ,

    BalasHapus
  12. saya sewaktu kecil pernah berkunjung ke mojowarno sempat diadakan arisan keluarga untuk mempertemukan saudara saudara yang terpisah, namun sekarang sudah tidak ada lagi acara arisan keluarga yang secara rutin diadakan, hanya sesekali bertandang dan bersilahturahmi dengan keluarga di mojowarno. sepertinya rumah kuno yang ada di blok ini adalah rumah eyang buyut saya yang bernama R. Soemantri Suryo. mohon tanggapannnya perkenalkan nama saya dwidjo andrijanto anak dari R. Soerjanto cucu dari R. Soermarto dan buyut eyang R. soemantri Suryo

    BalasHapus
    Balasan
    1. R.Soemarto adalah putra ke dua dari R.Soemantri Suryo dengan éyang buyut Simon Suryo. Éyang buyut saya juga R. Soemantri Suryo Cucu dari Éyang Sumilih putri ke 5 dari eyang R. Soemantri Suryo. Rupanya Mas Dwidjo, sampean kakak tertua saya.. Hehee Informasi yg saya terima kita semua sedang mengumpulkan data untuk mengumpulkan semua keluarga dari R. Paing Wiyoguno dan itu sdh dimulai pada akhir Desember 2019

      Hapus
    2. Silsilah dari cucu R. Soemantri kemarin saya lihat terputus sampai di putra putri eyang saja. Sementara cucu dan cicitnya belum ada update

      Hapus
  13. Mas Hari matur nuwun atas informasinya ini akan menjadi awal dari pertemuan keluarga yang lama tidak bersua. Mohon info alamat Sampean Mas Hari kalau berkenan spy saya bis main main ke rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya di jakarta selatan.berbatasan dengan Tangerang

      Hapus
    2. Kemarin saya sempat bicara dengan kakak saya soal rumah itu, rupanya tidak banyak yg tahu. Mungkin ibu atau pak Lek saya yg tahu, karena mereka ada di Mojowarno (mojojejer). Kemarin aku sempat motret anak anak R.Soemantri kl tidak salah ada 9 orang

      Hapus
    3. Ayuk biar kita bisa mengawali, mumpung ibu saya masih sehat dan juga putra putri dari eyang Susianah (putri bungsu buyut R. Soemantri) masih komplit

      Hapus
    4. Kirim no. Hp di blog ini aman nggak... Hehee

      Hapus
    5. Saya selaku penulis blog ini turut bahagia karena melalui blog ini bisa menyambung kembali tali persaudaraan.

      Hapus
  14. Baik terima kasih Mas Hari...he...he...ya yang lebih pas memang saya bertandangnya ke mojowarno ( mojojejer ) kalau ke jakarta malah kejauhan. Terima kasih Mas Hari sampai ketemu kalau kebetulan sedang mudik ke mojowaro ( mojojejer ).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampean tinggal dimana.. Kalau mau ke Mojowarno ibu saya (anak tunggal eyang sumilih) masih ada. Namanya Suharni (di Mojowangi)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  15. Saya harus panggil apa.....Ibu atau Mbak..terima kasih Sdri Lengkong Sanggar Ginaris anda sudah sempatkan waktu dan tenaga untuk menulis blok ini tentang asal usul mojowarno dan desa sekitarnya yang bisa jadi pengetahuan buat anak cucu generasi mendatang terutama buat kami yang adalah anak cucu dari tokoh tokoh sejarah yang pernah ada di mojowarno. Terima kasih.

    BalasHapus
  16. Trm kasih bnyk data dokumen ilmiah sejarah mojowarno ngoro cikal bakal syiar kristen.

    BalasHapus
  17. Leluhur sy pun dr mojowangi dr ismail pny ank dua kembar ella suratna di tebel bareng gkjw ngoro dan ely suratni di sby,dan eyan sy adalah ella suratna yg menikah dg kakek sy rusman harjotenoyo guru kpl sekolah saat itu di tebel bareng, trm kasih snua nya

    BalasHapus
  18. Puji Tuhan.Tuhan Yesus baik.amanat agungNya yaitu kabarkan keselamatan/kabar baik mulai dari Yerusalem hingga penjuru dunia.dan tanah jawa boleh tersentuh Kabar baik itu lewat para hamba hambaNya seperti eyang Tunggul wulung ,eyang Sadrach dll.kita berdoa semoga tanah jawa penduduknya banyak yg diselamatkan dan menjadi pengikut kristus.Amin

    BalasHapus
  19. Jawa ( barat ,tengah ,timur) untuk Kristus

    BalasHapus
  20. dulu saya lahir dan besar di GKJ dan menikah di GITJ

    BalasHapus
  21. Saya mau ke Monowarno utk meneliti lagi ni. Boleh minta kontaknya mas? Spy bisa saya tanya2 hehe..

    BalasHapus
  22. Yuk Coba Keberuntunganmu Setiap Hari... Join Disini Sekarang Kumpulan Berbagai Macam Permainan Taruhan Online Terbaik di Indonesia, Kunjungi Website Kami Di Klik Disini dan Dapatkan Bonus Terbaru 8X 9X 10X win klik disini untuk mendapatkan akun Sabung Ayam anda dan Bonus Berlimpah.

    BalasHapus
  23. kalau boleh tau foto rumah tua itu alamatnya di mana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di desa Mojoroto. Pinggir jalan raya

      Hapus
    2. Rumah tua tsb ada ditepi jln raya, jl Merdeka no.14 desa Mojoroto.
      Kondisi saat ini sudah sy rehab.tapi bentuk dan warna rumah tetap asli.

      Hapus
  24. permisi kak makam dari J.Kruyt itu ada dimana ya? apakah jadi satu dengan makam J. E. Jellesma?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau melihat tempatnya di foto, itu pemakaman di desa Mojowangi, disana banyak sekali makam para leluhur dan tokoh tokoh pendiri Mojowarno

      Hapus
    2. Termasuk J.E Jellesma apakah dimakamkan di mojowangi mas?

      Hapus
    3. Kalau mau menelusuri, sepertinya aku harus pulang kampung dulu... Hehee.. Aku nggak hafal...
      Kemungkinan besar ada disana karena hampir semua dimakamkan di Ds Mojowangi.

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. Lokasi makam tersebut dari GKJW kemana mas, mungkin ada ancer-ancernya? trimakasih sebelumnya

      Hapus
    6. Kalau dari RSKM atau Gereja, arah ke utara sekitar 50 - 100 m ( Gereja, RSKM,Kantor Kecamatan Mojowarno depannya lapangan,pertigaan) sampai pertigaan maju sedikit belok ke kanan, masuk Jl Kamboja ( Toko Keluarga ) , ikuti jalan itu terus sampai ujung jalan . Nah... Ujung jalan itulah tempat pemakaman Ds. Mojowangi, mungkin sekitar 3 km. oya, nanti kalau sudah dipertigaan, tanya saja arah ke Makam Ds Mojowangi. Jalannya sawah semua Oya Mbak Linda dari mana

      Hapus
    7. Bukan ujung jalan desa ya. Kalau ssmpai ujung jalan desa , langsung saja kekanan... Ikuti jalan itu, ujungnya adalah pemakaman

      Hapus
  25. saya dari kecamatan mojowarno juga, dari desa Menganto tapi nggak tau lokasi makam tersebut, hehe. Makasih banyak mas informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dari Nganto, pertigaan sebelum lapangan belok ke kiri. Sama sama bu Linda

      Hapus