Rabu, 05 Juli 2017

Menyusuri Kembali Sisa Kejayaan PG Jenar, Pabrik Gula Pertama dan Terakhir di Purworejo

Dalam sejarah lokal Purworejo, nama PG Jenar barangkali telah lama terkubur oleh waktu. Sedikitnya literatur dan saksi sejarah yang masih hidup membuat OG Jenar semakin tenggelam. Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya mencoba untuk mengusut jejak-jejak satu-satunya pabrik gula yang dibangun di Purworejo.

Lokasi PG Jenar pada peta tahun 1920 ( simbol bangunan pabrik ). Sumber : maps.library.leiden.edu
Desa Plandi yang berada di bawah Kecamatan Purwodadi sebagaimana desa-desa Purworejo selatan memiliki bentang lahan berupa hamparan sawah hijau nan luas. Namun siapa sangka di desa tersebut pernah berdiri sebuah pabrik gula yang orang-orang dulu menyebutnya sebagai PG Jenar.

Di kebun-kebun tengah sawah itulah, pernah berdiri PG Jenar yang legendaris.
Dibutuhkan usaha lebih untuk menemukan letak PG Jenar. Tidak seperti bekas pabrik gula yang pernah saya temukan, PG Jenar rupanya belum tercantum pada peta topografi yang dibuat pemerintah kolonial. Sebab itulah ketika awal menelusuri letak PG Jenar, saya sempat salah lokasi. Beruntung, warga sekitar yang tampaknya sudah lama tinggal di sana memberitahukan lokasi PG Jenar yang benar kepada saya.
Sisa struktur beton di tengah rimbunnya kebun.
Bekas pondasi yang diduga merupakan kolam pembuangan limbah.
Struktur pondasi beton di tengah sawah.
Struktur pondasi dari sebuah platform dari baja.
Bekas pondasi yang cukup besar.
Bekas pondasi dari sebuah dinding yang sekarang menjadi pematang sawah.

Bagian yang diperkirakan menjadi lokasi cerobong pabrik.
Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh warga, saya menemukan tanah pekarangan yang cukup luas di tengah-tengah sawah. Suasana pekarangan terasa sedikit gelap dan lembab. Di sini nyaris tiada tembok yang tersisa yang dapat menguatkan imajinasi bahwa pernah berdiri sebuah pabrik gula besar di sini, dengan cerobongnya yang menjulang tinggi menantang langit. Tembok yang tersisa tinggal beberapa pondasi di tengah kebun gelap atau sawah berlumpur yang mungkin kelihatan tak berarti untuk orang awam. Sungguh sulit dipahami bagaimana bangunan pabrik gula yang dahulu berdiri megah, kini melebur bersama tanah.

Peta PG Jenar saat ini. Keterangan; A. Lokasi bangunan pabrik gula ; B. Kompleks perumahan pegawai pabrik.
Untuk membayangkan seperti apa rupa PG Jenar di masa lampau, saya mencoba untuk mencari foto-foto lama PG Jenar di dunia maya. Beruntung, foto-foto lama PG Jenar yang terdapat di dunia maya cukup lengkap. Jika dirangkai, foto-foto tersebut dapat menceritakan perjalanan PG Jenar dari proses pembangunannya hingga ketika PG tersebut selesai dibangun.
Proses pembangunan depo lokomotif. Tampak emplasemen yang sudah terpasang rel. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses instalasi mesin sentrifugal. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses pendirian rangka bangunan pabrik. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin penggiling yang baru saja tiba. Sumber : troppenmuseum.nl

Jalan di kompleks perumahan pegawai pabrik yang sedang diperkeras. Sumber : troppenmuseum.nl
Lalu bagaimana gerangan cerita sejarah PG Jenar ? Tahun 1900an adalah “era ke-emasan” pemerintahan kolonial di Nusantara. Satu persatu wilayah di Nusantara mulai ditundukan oleh pemerintah kolonial. Dunia perekonomian di Hindia-Belanda juga sedang mengalami gairah puncaknya. Jalur-jalur kereta mulai membentang di seantero pulau Jawa. Transportasi dari Eropa ke Hindia-Belanda dan sebaliknya semakin mudah berkat dibukanya Terusan Suez. Diterapkannya liberalisasi ekonomi Hindia-Belanda memberikan kesempatan besar bagi para kapitalis untuk menanam modalnya di Hindia-Belanda. Bagai cendawan di musim hujan, berbagai industri dan perkebunan segera saja bermunculan seperti teh, kopi, karet, dan tebu. Nama yang terakhir merupakan primadona di kalangan investor Belanda.
PG Jenar tampak dari udara. Keterangan 1 ; Bangunan Pabrik. 2 ; Emplasemen lori. 3 : Perumahan pegawai Belanda. 4 ; Rumah kepala pabrik. 5 ; Kantor. 6 ; Taman. 7 ; Rumah pegawai pribumi. ( Sumber : beeldbankwo2 ).
Dibanding dengan tempat lain, pendirian PG di wilayah Purworejo terbilang telat. PG Jenar baru mulai berdiri pada tahun 1910an. Bandingkan dengan PG Tasikmadu di Karanganyar yang dibangun tahun 1871 atau lebih tua lagi, PG Gondangwinangun di Klaten yang telah ada semenjak tahun 1860. Menurut arsip, PG Jenar dirintis oleh kongsi partikelir “ N.V. Suikeronderneming Poerworedjo “ pada tahun 1909. Perusahaan tersebut dibentuk di Amsterdam pada tahun 1908 dengan modal sebesar 5 juta gulden. Mereka kemudian memilih sebuah lahan di dekat Desa Jenar. Pilihan yang tepat karena letaknya berada antara jalan raya Yogyakarta-Purworejo dan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap. Walau nama asli pabrik gula tadi ialah Suikerfabriek Poerworedjo, namun karena berada dekat dengan Desa Jenar yang dikenal banyak orang, maka orang lebih sering menyebutnya sebagai PG Jenar.
Maket PG Jenar. Sumber : Indie.
Proses penggilingan tebu di PG Jenar. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin yang ada di dalam pabrik ( Sumber : troppenmuseum.nl )
Dikutip dari tulisan Pak Slamet Wijadi di bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/, ketika PG Jenar akan memulai musim giling tebu, digelar sebuah upacara semarak yang dikenal sebagai cengbengan. Hampir semuah pabrik gula di Jawa memiliki tradisi seperti ini. Tujuannya supaya hasil gilingan melimpah dan tidak ada kecelakaan dan halangan selama proses penggilingan.
Letak jalur railbed PG Jenar ( garis merah )
Bekas railbed kereta besar dari arah Stasiun Jenar.

Pondasi jembatan di railbed.
PG Jenar terintegrasi dengan jalur kereta jurusan Yogyakarta-Cilacap. Hal itu dibuktikan dengan bekas railbed atau gundukan tanah untuk jalur kereta masuk ke pabrik. Jika dilihat dari udara, jalur tersebut membentuk sebuah lengkungan. Di gundukan jalur tanah tadi masih ada ada sisa pondasi jembatan kereta. Di masa lampau, hampir semua pabrik gula berada di dekat jalur kereta, tujuannya agar hasil olahan dapat langsung diangkut kereta tanpa perlu menyewa angkutan lain untuk membawa hasil olahan ke stasiun.
Kompleks perumahan pegawai PG Jenar dengan taman yang tertata rapi. Sumber : troppenmuseum.nl
Kompleks PG Jenar dilihat dari barat laut. Terlihat bangunan pabrik dan kompleks rumah pegawai. Di kejauhan, Perbukitan Menoreh terlihat samat. Sumber : troppenmuseum.nl
Berbagai macam bentuk rumah dinas pegawai PG Jenar yang dirancang dalam bentuk arsitektur Indis. Sumber : troppenmuseum.nl
Sebuah foto yang tampaknya berasal dari 1920an merekam rupa PG Jenar dari udara. Dari situlah saya tahu bahwa tata letak pabrik ini telah direncanakan sedemikian rupa. Pabrik penggilingan diletakan di barat, dekat rel kereta sehingga hasil produksi langsung bisa diangkut dengan kereta api. Sementara rumah dinas pegawai yang berada di sebelah timur pabrik ditata begitu rapi, lengkap dengan taman. Di kompleks rumah dinas pegawai PG Jenar itulah, lahir salah satu Pahlawan Revolusi kebanggan orang Purworejo, Jenderal A.Yani. Jenderal Achmad Yani yang lahir pada tanggal 19 Juni 1922 merupakan putra seorang supir yang bekerja pada pemilik PG Jenar. Namun tidak lama kemudian, beliau pindah ke Desa Rendeng di Gebang dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di sana. Sayangnya, rumah kelahiran sang Jenderal sudah tidak ada lagi tapaknya.
Bangunan kantor administrasi PG Jenar. Sumber : colonialarchitecture.eu.
Laboratorium PG Jenar. Tampak para pegawai laboratorium berasal dari kalangan bumiputera. Sumber : troppenmuseum.nl
Jembatan tua di desa Pulutan, Ngombol.

Prasasti pada pagar jembatan.
PG Jenar memang menghasilkan keuntungan yang melimpah ruah, namun tentunya hanya segelintir orang yang menikmati keuntungan tadi. PG Jenar tak memberi dampak positif untuk masyarakat sekitar pabrik yang hanya menjadi penonton atau paling banter menjadi petani tebu atau kuli pabrik. PG Jenar juga tidak memberi banyak sumbangan konkrit untuk masyarakat sekitar. Satu-satunya sumbangan konkrit yang mungkin masih ada ialah sebuah jembatan kecil di Desa Pulutan, Ngombol. Pada salah satu sisi jembatan, terdapat prasasti berbahasa Belanda yang berbunyi “K.W. POELOETAN UITGEVORD DOOR DE SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925“Jika diartikan, jembatan tersebut didirikan oleh perusahaan perkebunan gula Purworejo pada tahun 1925.

Depo lori PG Jenar yang terletak di ujung utara kompleks pabrik. Di sinilah tebu-tebu yang berasal dari berbagai penjuru Purworejo dikumpulkan untuk selanjutnya diolah. Sumber : troppenmuseum.nl
Bekas jalan lori menuju emplasemen lori.
Bekas jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai jembatan bolong telu ( lubang tiga ) karena jembatan ini memiliki tiga plengkungan ( yang hanya nampak satu saja di foto ).
Bekas jembatan lori di tepi Kali Kedungputri yang tinggal satu sisi saja.
Jika dibandingkan dengan Karesidenan lain, Karesidenan Kedu tempat PG Jenar berdiri memiliki jumlah pabrik gula paling sedikit. Tercatat hanya ada dua pabrik gula di Kedu, yakni PG Prembun di Kebumen dan PG Jenar yang menjadi satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Purworejo. Walau demikian, PG Jenar memiliki ladang tebu yang terhitung luas sekali. Panjang jaringan yang dimiliki PG Jenar kira-kira mencapai 184 kilometer. Untuk mendukung jaringan lori yang sangat luas itu, PG Jenar memiliki armada lokomotif uap sebanyak 17 buah dan 1216 lori tebu.  Cukup sulit untuk mengetahui sejauh mana persebaran jaringan lori tersebut tiadanya data berupa peta. Walau tak ada peta, setidanknya saya menemukan beberapa tinggalan jalur lori PG Jenar seperti jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip atau jembatan lori di tengah persawahan Kelurahan Pangen.
Bangunan PG Jenar dilihat dari sebelah timur. Sumber : troppenmuseum.nl
Bangunan pabrik dilihat dari sebelah barat. Sumber : troppenmuseum.nl
Daya tahan PG Jenar rupanya tak begitu besar. Bangunan pabrik yang tampaknya begitu megah dan tangguh nyatanya tak mampu menahan goncangan krisis keuangan. Saat PG Jenar sedang berada di masa puncaknya, tiba-tiba terjadi sebuah guncangan hebat yang menjadikan semua PG di Jawa nasibnya berada di ujung tanduk. Asal guncangan itu bukan dari Jawa, melainkan dari ribuan kilometer jauhnya dari PG Jenar, tepatnya di Gedung Bursa Wallstreet New York. Oktober 1929, Bursa Saham Wallstreet ambruk. Arus globalisasi yang sudah terasa pada waktu itu menjadikan krisis ini menjalar ke penjuru dunia. Sejalan dengan krisis itu, permintaan gula pun anjlog, padahal produksi gula dari Jawa bisa dikatakan lebih dari cukup. Kenyataan pahit ini memaksa ditandatanganinya perjanjian Charbourne tahun 1931, dimana Jawa harus menurunkan produksi gulanya yang berujung dengan banyaknya pabrik gula yang ditutup atau dilikudiasi. Salah satu pabrik gula yang tutup adalah PG Jenar. Berakhir sudahlah episode PG Jenar yang menghembuskan asap terakhirnya pada tahun 1933. Setelah ditutup, bangunan-bangunan bekas PG Jenar diratakan. Lahan pabrik dan rumah dinas kemudian dibeli oleh seorang Belanda bernama Johannes Cornelis Suzenaar. Separo lahan PG dijual lagi kepada Van Mook untuk lahan peternakan.
Satu-satunya bangunan rumah dinas PG Jenar yang masih tersisa.
Rekonstruksi rumah kopel.
Walau sudah berkalang tanah, namun bukan berarti jejak fisik PG Jenar benar-benar hilang. Sedikit berjalan ke timur dari situs PG Jenar, terdapat sebuah rumah kuno berhalaman luas dengan pepohonan yang rindang. Bapak Bambang, pemilik rumah kuno tersebut mengisahkan bahwa rumah itu dibeli pada tahun 1941 oleh Raden Tjokropawiro, kakek pemilik rumah pada tahun 1941. Sebelumnya, rumah ini milik Johannes Cornelis Suzenaar yang namanya sudah disebutkan. Karena rumah ini sudah dibeli, setidaknya nasib rumah jauh lebih beruntung daripada rumah-rumah dinas pegawai PG Jenar yang hanya menyisakan pondasi di tengah sawah.
Hiasan kaca patri di ruang tamu,
Arsitektur rumah ini sendiri tidak begitu mencolok, tapi masih terlihat sedap dipandang. Oleh karena itulah remaja sekitar biasanya sering berfoto ria di depan rumah ini. Beranda depan yang terbuka sekarang sudah ditutup untuk ruang tamu. Layaknya rumah dari zaman Belanda, langit-langit rumah terlihat tinggi, sengaja agar bagian dalam rumah terasa sejuk. Di samping rumah terdapat bangunan tambahan untuk garasi dan kamar tambahan. Rumah ini sebenarnya memiliki kembaran di sebelahnya. Namun kembaran rumah ini terlanjur dibongkar warga. Akhirnya, rumah inipun menjadi satu-satunya tinggalan sejarah PG Jenar yang masih dapat dinikmati sampai sekarang.

Begitulah kenyataanya. Imajinasi liar dari memori foto lama dan puing-puing yang tersisa tinggal menjadi satu-satunya cara untuk mengenang era keemasan PG ini, yang asapnya dahulu pernah mengepul di langit Purworejo. PG Jenar, pabrik gula pertama dan terakhir di Purworejo, kini sedang menunggu untuk digali sejarahnya lebih dalam….

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Batavia : Landsdrukkerij

http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/

6 komentar:

  1. Terima kasih mas info nya,, saya pernah jalan2 ke Pemalang, di sana ada PAbrik Gula Sumberharjo,, bangunan nya masih lengkap berdiri megah,, cerobong asap nya besar,, masih ada stasiun dan rel untuk lori2 kereta,, mess karyawan nya juga masih ada dan masih di tinggali,, di sana juga ada monumen bekas bom yg konon masih aktif,, klo kapan2 ke pemalang, mohon kira nya bisa meliput PG tersebut, terima kasih

    BalasHapus
  2. Bagus semua artikelnya, Mas..
    Sering sedih liat bangunan tua yang gak terurus..

    BalasHapus
  3. Bagus semua artikelnya, Mas..
    Sering sedih liat bangunan tua yang gak terurus..

    BalasHapus
  4. Salut dengan anda....
    Sangat bermanfaat web imi... Salam sejahtera

    BalasHapus
  5. seandainya dirawat akan jadi aset wisata

    BalasHapus
  6. mantab penelusurannya...
    dulu juga saya pernah curiga dimana sebenarnya letak PG Djenar, soalnya setiap naik kereta kebarat setelah stasiun Jenar selalu lihat areal lahan yang bentuknya berbelok mirip langsiran jalur kereta. di google map juga terlihat jelas struktur belokannya identik dengan jalur kereta.
    tapi baru sekarang ini dan dari artikel ini benar2 tau dimana lokasi persisnya PG Djenar

    di daerah banyuurip memang banyak sekali bekas fondasi jembatan lori seperti di tepi jalan desa Tanjunganom, ke selatan lagi di tengah sawah dekat sebelum pertigaan stasiun Montelan, kemudian di arah jalan Desa Sawit ke utara menuju Desa Golok agak timur jalan.

    berkali -kali saya coba telusuri tentang peta jalur lori PG Djenar, tapi memang ndak pernah ketemu. Kesimpulannya persebaran jalur lori PG Djenar ini masih menjadi misteri bagi saya sampai sekarang.

    BalasHapus