Rabu, 05 Juli 2017

Menyusuri Kembali Sisa Kejayaan PG Jenar, Pabrik Gula Pertama dan Terakhir di Purworejo

Mungkin tidak banyak masyarkat Purworejo, terutama generasi sekarang yang tahu bahwa Purworejo dahulu pernah memiliki sebuah pabrik gula besar yang dibangun oleh industrialis Belanda. Namanya PG Jenar. Minimnya literatur dan saksi-saksi sejarah yang mulai berkurang menjadikan sejarah PG ini nyaris terkubur oleh zaman. Jejak Kolonial kali ini akan mencoba untuk menyusur kembali sisa-sisa dari pabrik gula tersebut. Apa saja sisa-sisanya dan bagaimana latar belakang dibalik berdirinya PG Jenar ?

Rekam Sejarah PG Jenar
Depo lori PG Jenar yang terletak di ujung utara kompleks pabrik. Di sinilah tebu-tebu yang berasal dari berbagai penjuru Purworejo dikumpulkan untuk selanjutnya diolah. Sumber : troppenmuseum.nl
Tahun 1900an merupakan “era ke-emasan” pemerintahan kolonial di Nusantara. Satu persatu wilayah di Nusantara yang belum tunduk pada kekuasaan Belanda mulai dikuasai. Bidang perekonomian di Hindia-Belanda juga sedang mengalami gairah puncaknya. Jalur-jalur kereta mulai dibangun di seantero pulau Jawa, transportasi dari Eropa ke Hindia-Belanda dan sebaliknya semakin mudah berkat dibukanya Terusan Suez, diterapkannya liberalisasi ekonomi Hindia-Belanda memberikan kesempatan besar bagi para kapitalis untuk menanam modalnya di Hindia-Belanda. Waktu itu, usaha yang menjadi primadona ialah usaha perkebunan tebu.
Proses pembangunan depo lokomotif. Tampak emplasemen yang sudah terpasang rel. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses instalasi mesin sentrifugal. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses pendirian rangka bangunan pabrik. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin penggiling yang baru saja tiba. Sumber : troppenmuseum.nl
Jalan di kompleks perumahan pegawai pabrik yang sedang diperkeras. Sumber : troppenmuseum.nl
Dibandingkan dengan wilayah lain, keberadaan pabrik gula di Purworejo termasuk terlambat. PG Jenar baru mulai berdiri pada tahun 1910an. Bandingkan dengan PG Tasikmadu di Karanganyar yang dibangun tahun 1871 atau lebih tua lagi, PG Gondangwinangun di Klaten yang sudah berdiri sejak tahun 1860. Selain itu, PG Jenar juga merupakan satu-satunya pabrik gula yang pernah dibangun di Purworejo. Meskipun jumlahnya hanya satu tapi pabrik gula ini memiliki ladang tebu yang terhitung luas sekali.
Maket PG Jenar. Sumber : Indie.
Proses penggilingan tebu di PG Jenar. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin yang ada di dalam pabrik. Sumber : troppenmuseum.nl
Menurut arsip, PG Jenar dibangun oleh perusahaan “N.V. Suikeronderneming Poerworedjo” pada tahun 1909. Perusahaan tersebut dibentuk di Amsterdam pada tahun 1908 dengan modal sebesar 5 juta gulden. Lokasi PG dibangun di tempat yang cukup strategi, yakni berada di tidak jauh dari jalan raya Yogyakarta-Purworejo. Lokasi pabrik gula yang aslinya bernama “Suikerfabriek Poerworedjo” berada di Desa Plandi, Purwodadi. Namun karena berada di dekat Desa Jenar yang cukup populer pada waktu itu, maka orang-orang lebih mengenalnya sebagai PG Jenar.
Lokasi PG Jenar pada peta tahun 1920 ( simbol bangunan pabrik ). Sumber : maps.library.leiden.edu
Dikutip dari tulisan Pak Slamet Wijadi di http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/, disebutkan bahwa di setiap pabrik akan memulai menggiling tebu, diadakan sebuah tradisi yang dikenal sebagai cengbengan. Hampir semuah pabrik gula di Jawa memiliki tradisi seperti ini. Tujuannya supaya hasil gilingan melimpah dan tidak ada kecelakaan dan halangan selama proses penggilingan.
Bangunan kantor administrasi PG Jenar. Sumber : colonialarchitecture.eu.
Laboratorium PG Jenar. Tampak para pegawai laboratorium berasal dari kalangan bumiputera. Sumber : troppenmuseum.nl
Sekalipun PG Jenar memiliki keuntungan yang melimpah ruah, namun sebuah studi menunjukan bahwa dari sisi sosial dan ekonomi, PG Jenar tidak memberikan dampak positif di daerah Purworejo. Keuntungan hanya dinikmati oleh segelintir orang seperti orang Belanda sebagai pemilik modal dan orang Tionghoa sebagai pedagang perantara. Sementara itu penduduk sekitar hanya sebagai penonton dan paling banter hanya bisa menjadi petani tebu biasa. Dari segi sosial, PG Jenar juga tidak memberikan sumbangan konkrit untuk masyarkat sekitar. Berbeda sekali dengan PG Gondanglipuro yang dikelola oleh Schmutzer bersaudara, dimana mereka membuka banyak belasan sekolah, sebuah klinik, dan sebuah gereja untuk penduduk sekitar. Maka wajar saja jika PG Jenar mendapat karma yang akan menimpanya tidak lama lagi.
Kompleks perumahan pegawai PG Jenar dengan taman yang tertata rapi. Sumber : troppenmuseum.nl
Kompleks PG Jenar dilihat dari barat laut. Terlihat bangunan pabrik dan kompleks rumah pegawai. Di kejauhan, Perbukitan Menoreh terlihat samat. Sumber : troppenmuseum.nl
Berbagai macam bentuk rumah dinas pegawai PG Jenar yang dirancang dalam bentuk arsitektur Indis. Sumber : troppenmuseum.nl
Tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa salah satu Pahlawan Revolusi kebanggan orang Purworejo, Jenderal A.Yani lahir di lingkungan PG Jenar. Jenderal Achmad Yani yang lahir pada tanggal 19 Juni 1922 merupakan putra dari seorang supir untuk pemilik PG Jenar. Namun tidak lama kemudian, beliau pindah ke Desa Rendeng di Gebang dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di sana. Ya, satu lagi fakta sejarah dari PG Jenar yang mulai terkuak. Sayangnya, rumah kelahiran sang Jenderal sudah tidak ada lagi tapaknya.
Bangunan PG Jenar dilihat dari sebelah timur. Sumber : troppenmuseum.nl
Bangunan pabrik dilihat dari sebelah barat. Sumber : troppenmuseum.nl
Ketika industri gula di Jawa sedang berada di masa-masa puncaknya, tiba-tiba terjadi sebuah guncangan hebat yang menjadikan hampir semua PG di Jawa nasibnya berada di ujung tanduk. Guncangan itu asalnya bukan dari Jawa, melainkan dari ribuan kilometer jauhnya dari PG Jenar, tepatnya di Gedung Bursa Wallstreet New York. Oktober 1929, Bursa saham Wallstreet ambruk. Arus globalisasi yang sudah terasa pada waktu itu menjadikan krisis ini menjalar ke penjuru dunia. Sejalan dengan krisis itu, permintaan gula anjlog padahal suplai gula dari Jawa bisa dikatakan lebih dari cukup. Kenyataan pahit ini memaksa diadakanya perjanjian Charbourne tahun 1931, dimana Jawa harus menurunkan produksi gulanya. Produksi turun, maka banyak pabrik gula yang tentu harus ditutup atau dilikudiasi dan salah satunya adalah PG Jenar. Tahun 1932, PG Jenar mulai menunjukan tanda-tanda kematiannya dan setahun kemudian, PG Jenar akhrinya benar-benar mati. Berakhirlah sudah episode PG Jenar. PG yang meninggal di usia yang masih muda. Sementara itu, beberapa PG lain yang usianya jauh lebih tua dari PG Jenar malah ada yang masih bisa bertahan sampai sekarang.

Lalu bagaimana nasib PG Jenar setelah ditutup ? Semua bangunan PG diratakan dan nyaris tiada yang tersisa. Lahan parbrik dan rumah dinas dibeli oleh Johannes Cornelis Suzenaar, kemudian separo lahan PG dijual kepada Van Mook untuk lahan peternakan. Sebagian lahan PG kemudian dibangun menjadi penggilingan beras pada zaman Jepang.

Sisa-sisa
Di kebun-kebun tengah sawah itulah, pernah berdiri PG Jenar yang legendaris.
Butuh sedikit perjuangan untuk mengetahui dimana tepatnya lokasi PG Jenar berada karena peta topografi lama Purworejo yang saya temukan di internet kebanyakan berasal dari tahun 1905 kebawah. Sementara itu PG Jenar belum dibangun pada tahun itu dan alhasil, pada peta topografi Belanda PG Jenar belum tercantumkan. Padahal peta-peta topografi Belanda biasanya memetakan kompleks sebuah pabrik gula secara detail sehingga kita dapat mengetahui dimana persisnya lokasi pabrik gula serta pola tata ruangnya. Oleh karena itulah ketika pertama kali mengeksplorasi PG Jenar, saya sempat mengira jika bangunan pabrik tua di tengah sawah adalah lokasi PG Jenar berdiri. Untungnya, warga sekitar kemudian menunjukan kepada saya lokasi PG Jenar yang sebenarnya yang ternyata berada agak ke barat.
Peta PG Jenar saat ini. Keterangan; A. Lokasi bangunan pabrik gula ; B. Kompleks perumahan pegawai pabrik.
Lokasi dimana bangunan pabrik gula Jenar pernah bediri sekarang menjadi area kebun warga dengan beraneka ragam tanaman. Karena banyak pepohonan, kebun ini terasa gelap, lembab dan suasana cukup sepi. Kontras sekali dengan suasana ketika PG Jenar masih berdiri dimana kita mungkin bisa membayangkan dengungan suara-suara mesin pabrik yang berisik. Menurut warga lokal yang saya temui, bangunan pabrik ini sudah lama dibongkar, kira-kira sebelum penjajah Jepang masuk.
Sisa struktur beton di tengah rimbunnya kebun.
Bekas pondasi yang diduga merupakan kolam pembuangan limbah.
Struktur pondasi beton di tengah sawah.
Struktur pondasi dari sebuah platform dari baja.
Bekas pondasi yang cukup besar.
Bekas pondasi dari sebuah dinding yang sekarang menjadi pematang sawah.
Bagian yang diperkirakan menjadi lokasi cerobong pabrik.
Meskipun bangunan pabrik gula sudah tidak bisa dikenali, tapi jika telaten mengeksplorasi, kita dapat menemukan sebagian struktur bangunan dinding. Misalnya terdapat sebuah pondasi di tengah-tengah kebun, lalu tembok kolam air berbentuk persegi yang diperkirakan sebagai kolam pembuangan. Kemudian di tengah pematang sawah yang berlumpur juga terdapat beberapa pondasi dari beton seperti bekas pondasi stasiun gilingan. Ada pula pondasi dinding yang sudah menjadi jalan pematang sawah. Karena sebagian besar sisa-sisa pondasi PG Jenar berada di tengah persawahan, maka disarankan untuk mengeksplorasi PG Jenar setelah musim panen sehingga tidak perlu berlumpur-lumpur ria dan pondasi terlihat lebih jelas karena tidak tertutup oleh tanaman padi.
Bekas jalan lori menuju emplasemen lori.
Sungguh sulit dipahami bagaimana bangunan pabrik gula yang dahulu berdiri megah, kini sudah melebur bersama tanah, menjadi pekarangan dan persawahan warga sekitar. Tapi itulah kenyataanya. Imajinasi liar dari memori foto lama dan puing-puing yang tersisa tinggal menjadi satu-satunya cara untuk mengenang era keemasan PG ini, yang asapnya dahulu pernah mengepul di langit Purworejo.
Satu-satunya bangunan rumah dinas PG Jenar yang masih tersisa.
Namun apakah hanya itu saja yang tersisa dari PG Jenar ? Tentu saja tidak. Di sekitar PG Jenar, tepatnya di pinggir jalan masuk pabrik dari arah Jalan Jogja, terdapat sebuah rumah tua yang dari bentuk dan ukurannya jelas tidak dibangun pada masa sekarang. Halaman depannya cukup luas dengan pepohonan yang cukup rindang. Di puncak atap terdapat hiasan pion yang menjadi ciri khas rumah peninggalan Belanda. Saya beruntung bisa berkenalan dengan keluarga pemilik rumah yang ramah meski sudah memasuki usia senja. Rumah ini sendiri dibeli oleh Raden Tjokropawiro, kakek pemilik rumah pada tahun 1941 dari seorang Johannes Cornelis Suzenaar yang namanya sudah disebutkan di atas. Sebelum membeli rumah ini, Raden Tjokropawiro merupakan pegawai tambang emas di Redjang-Lebong, Bengkulu. Karena rumah ini sudah dibeli oleh orang, maka nasib rumah ini setidaknya bisa diselamatkan. Bandingkan dengan rumah-rumah dinas PG Jenar lainnya yang sudah terlanjru dibongkar dan nyaris tak berbekas selain pondasi-pondasi bata dan beton di tengah sawah.
Hiasan kaca patri di ruang tamu,
Rekonstruksi rumah kopel.
Arsitektur rumah ini sendiri tidak begitu mencolok, tapi masih terlihat sedap dipandang. Oleh karena itulah remaja sekitar biasanya sering berfoto ria di depan rumah ini. Bagian beranda depan sudah ditutup untuk tambahan ruang tamu. Dari ruang tamu terdapat ruang tengah dan ruang tidur yang memiliki langit-langit yang tinggi layaknya rumah dari zaman Belanda. Di samping rumah terdapat bangunan tambahan untuk garasi dan kamar tambahan. Aslinya rumah ini memiliki rumah kembaran di sebelahnya, yang dindingnya masih saling menempel. Namun kembaran rumah ini terlanjur dibongkar warga. Ya, semoga saja ruma tadi bisa dilestarikan karena hanya inilah satu-satunya warisan sejarah PG Jenar yang dapat kita nikmati saat ini.
Bekas railbed kereta besar dari arah Stasiun Jenar.
Pondasi jembatan di railbed.
Kemudian masih adakah sisa-sisa PG Jenar lainnya ? Ada. Tapi kita harus menyusurinya satu persatu. Sisa yang pertama ialah bekas railbed atau gundukan tanah untuk jalur kereta masuk ke pabrik yang terlihat jelas dari jalur kereta Kutoarjo-Yogyakarta. Adanya railbed ini menunjukan bahwa transportasi pengangkutan gula PG Jenar sudah terintegrasi dengan baik. Kereta yang hendak mengangkut gula tinggal mengikuti jalur yang sudah ada. Di gundukan tanah yang terlihat melengkung jika dilihat dari atas, kita bisa menemukan sisa pondasi jembatan kereta.
Jembatan tua di desa Pulutan, Ngombol.
Prasasti pada pagar jembatan.
Selanjutnya di Desa Pulutan, Ngombol terdapat sebuah jembatan tua kecil. Pada salah satu sisi jembatan, terdapat prasasti berbahasa Belanda yang berbunyi “ K.W. POELOETAN UITGEVORD DOOR DE SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925“. Jika diartikan, jembatan tersebut didirikan oleh perusahaan perkebunan gula Purworejo pada tahun 1925.
Bekas jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai jembatan bolong telu ( lubang tiga ) karena jembatan ini memiliki tiga plengkungan ( yang hanya nampak satu saja di foto ).
Bekas jembatan lori di tepi Kali Kedungputri yang tinggal satu sisi saja.
Ketika masih aktif, PG Jenar memiliki jaringan lori tebu yang sangat luas. Panjang jaringan mencapai 184 kilometer. Untuk mendukung jaringan lori yang sangat luas itu, PG Jenar memiliki armada lokomotif uap sebanyak 17 buah dan 1216 lori tebu.  Cukup sulit untuk menelusuri sejauh mana jaringan lori tersebut tersebar mengingat tiadanya data berupa peta jaringan lori. Namun diperkirakan jaringan lori PG Jenar mencapai hampir setengah wilayah kabupaten Purworejo. Untungnya, sebagian bukti-bukti fisik jalur lori tersebut dapat dilihat di beberapa desa di Purworejo. Misalnya jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip dan jembatan lori di tepi Kali Kedungputri, di area persawahan Kelurahan Pangen.

Demikianlah penelusuran mengenai sisa-sisa dari PG Jenar. Meskipun awalnya terlihat sedikit, namun apabila kita telusuri kembali satu persatu, ternyata masih banyak juga peninggalan yang tersisa dari PG Jenar, satu-satunya PG yang pernah berdiri di Purworejo dan PG terbesar di Karesidenan Kedu. Semoga penanda yang masih terlihat bisa dilestarikan sehingga generasi Purworejo sekaran dan di masa depan nanti dapat mengetahui bahwa di wilayahnya pernah berdiri sebuah pabrik gula… 

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Batavia : Landsdrukkerij

http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/

3 komentar:

  1. Terima kasih mas info nya,, saya pernah jalan2 ke Pemalang, di sana ada PAbrik Gula Sumberharjo,, bangunan nya masih lengkap berdiri megah,, cerobong asap nya besar,, masih ada stasiun dan rel untuk lori2 kereta,, mess karyawan nya juga masih ada dan masih di tinggali,, di sana juga ada monumen bekas bom yg konon masih aktif,, klo kapan2 ke pemalang, mohon kira nya bisa meliput PG tersebut, terima kasih

    BalasHapus
  2. Bagus semua artikelnya, Mas..
    Sering sedih liat bangunan tua yang gak terurus..

    BalasHapus
  3. Bagus semua artikelnya, Mas..
    Sering sedih liat bangunan tua yang gak terurus..

    BalasHapus