Selasa, 27 Oktober 2015

HKS Purworejo, Tetenger Pendidikan Guru di Indonesia

Di suatu hari Minggu yang cerah, saya menyusuri eks kompleks HKS Purworejo, sebuah tetenger pendidikan guru masa kolonial di tengah kota militer yang kini lestari menjadi SMA N 7 Purworejo. Sekolah itu merupakan buah dari praktik poitik etis yang diterapkan pemerintah kolonial di permulaan abad ke-20. Bagaimanakah kisah lengkap dari kompleks sekolah yang sarat nilai sejarah ini ? 
Gerbang masuk ke kompleks HKS.
Sisi luar dan dalam ruang guru yang dahulu merupakan sebuah ruang lobi.
Kini, saya sedang berdiri di hadapan bangunan utama HKS Purworejo yang elok. Pada bagian tengahnya, terdapat ruang lobi utama HKS Purworejo yang kini menjadi ruang guru, dan di samping kanan dan kirinya, terdapat beberapa ruangan tambahan.  Tampak hiasan pion yang bertengger manis di puncak bangunan. Taman kecil yang terhampar rapi di halaman depannya membuat suasana terasa sejuk dan hijau. Di sana, saya masih bisa menjumpai tiang lampu taman & bangku duduk yang sudah ada semenjak sekolah ini dibangun. Mungkin di taman itulah para siswa HKS Purworejo rehat sejenak, melepas penat setelah seharian belajar. Mata saya kemudian menatap sebuah sengkalan yang tertoreh jelas di muka bangunan itu, “ 1915”. Ya, itulah tahun tuntasnya gedung ini dibuat. Sayapun lantas menerawang kembali ke masam lampau, tepatnya di kala gedung sekolah itu hendak didirikan.
Gedung H.K.S sisi timur dan tamannya yang masih tertata rapi.

Gedung H.K.S sisi barat. Di bagian ini sekarang sudah tertutup oleh bangunan baru ( sumber : Indie, 21 Februari 1923 )
Sekolah ini, sesungguhnya hanyalah buah dari sebuah pohon besar. Pohon besar itu bernama Politik Etis, yang memiliki lima cabang besar, yakni pendidikan, kesehatan, komunikasi, irigasi, dan transmigrasi. Namun dari kelima cabang tadi, yang paling terasa pengaruhnya di kemudian hari ialah pendidikan. Lewat pendidikan, lahirlah golongan bumiputera terpelajar yang akan melakukan perlawanan gaya baru terhadap penindasan pemerintah kolonial, yakni dengan tulisan, gagasan, dan perserikatan.
Sang direktur pertama H.K.S, J.D. Winnen dan keluarganya di depan kediamannya. Bangunan ini sekarang masih utuh dan menjadi kantor Kesbangpol. (Sumber : Troppenmuseum.nl).
Ketidaktegaan masyarakat Belanda melihat bangsa yang dijajahnya begitu menderita nasibnya merupakan pemantik dari politik etis. Sumber daya alam dikuras habis-habisan, sementara kaum bumiputera dibiarkan melarat, bodoh dan penyakitan. Kritikan paling keras datang dari Eduard Douwes Dekker, asisten Residen Lebak, yang tertuang lewat karya kontroversialnya, Max Havelaar. Singkat cerita, Ratu Wilhelmina akhirnya memberi dukungan Politik Etis lewat pidato kenegaraanya di bulan September tahun 1901 (Cribb & Kahin 2012;431).
Dibutuhkan dana sebesar f 43.000 untuk mendirikan gedung baru H.K.S Purworejo. Artikel dari harian Sumatera Post, tanggal 22 Mei 1916.
Sejak Politik Etis direstui oleh sang ratu, sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial segera dibuka di berbagai tempat. Salah satunya ialah H.I.S. ( Hollandsch Indlandsch School ), jenjang sekolah dasar paling bergengsi dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Seiring dengan makin banyaknya H.I.S yang dibuka, maka semakin besar pula kebutuhan akan tenaga pendidik. Mendatangkan guru-guru dari Eropa jelas menghabiskan banyak biaya, apalagi standar upah mereka lebih tinggi. Enggan mendatangkan guru dari Eropa, akhirnya pemerintah kolonial menemukan jalan keluar untuk mendapatkan guru dengan cara mudah dan murah ; mendidik kaum bumiputera menjadi guru. 
Lokasi HKS pada peta tahun 1905, 10 tahun sebelum Kompleks HKS belum dibangun. Pada waktu itu, lahan HKS masih berupa Exercitie plein atau lapangan latihan militer (Sumber : maps.library.leiden.edu).

Sebuah foto udara yang memperlihatkan kompleks infantri Kedungkebo (sekarang Yonif 412 ). Foto ini menghadap ke arah utara. Terlihat sebagian sisi timur kompleks HKS (sumber : media-kitlv.nl).
Pada mulanya, dibukalah sekolah kweekschool untuk mendidik kaum bumiputera menjadi guru. Namun jenjangnya tidak terlalu tinggi. Ia hanya setara dengan SPG di tahun 1980an. Padahal untuk jenjan H.I.S sendiri setidaknya membutuhkan tenaga pengajar dengan mutu lebih tinggi daripada kweekschool biasa. Berkenan dengan masalah tersebut, pada tahun 1914 pemerintah kolonial membuka sekolah pendidikan guru yang jenjangnya lebih tinggi daripada kweekschool, Hoogere Kweekschool ( H.K.S ). Pemerintah kolonial hanya membuka HKS di dua kota saja di Jawa, satu di Bandung, menempati gedung kweekschool pertama di Hindia-Belanda, dan satunya lagi dibangun di Purworejo, di atas lahan latihan tentara. Dana sebesar f 40.000 dikucurkan oleh pemerintah kolonial untuk mendirikan kompleks sekolah itu. Namun, perlu diketahui bahwa H.K.S Purworejo sebenarnya telah dibuka sejak bulan Oktober 1914, setahun sebelum gedung sekolah purna dibangun. Jelas begitu penting sekolah itu bagi dunia pendidikan Hindia-Belanda, maka wajarlah pembukaan resminya dihadiri oleh direktur Onderwijzens en Eredienst, DR. J. Hazeu. Sementara itu, J.D. Winnen mengemban amanat sebagai direktur pertama H.K.S Purworejo. Sekalipun sekolah ini didirikan oleh Belanda, namun siswa-siswa yang menimba ilmu di situ justru semuanya berasal dari kalangan bumiputera.
Ujian akhir harus ditempuh semua siswa H.K.S untuk mendapat ijazah yang dapat mereka pakai untuk mengajar di H.I.S. Artikel dari Bataviasch Nieuwsblad, tanggal 13 Februari 1918.
Sayang, berselang lima belas tahun setelah dibuka, riwayat H.K.S Purworejo akhirnya tamat. Gegaranya ialah dana dari pemerintah kolonial tak mampu menalangi biaya pengelolaan H.K.S. Aktivitas H.K.S. Purworejo kemudian dialihkan ke H.K.S Bandung. Namun setahun kemudian, H.K.S. Bandung pun menyusul ditutup. Betapa singkatnya usia H.K.S. Purworejo. Namun di usia yang singkat tersebut, H.K.S. Purworejo berhasil meluluskan ratusan siswanya yang berasal dari berbagai penjuru negeri, menjadi guru-guru H.I.S yang tersebar di seantero Hindia-Belanda. Tak sedikit pula guru-guru lulusan H.K.S. Purworejo yang terjun ke pergerakan nasional. Salah satunya yang paling mahsyur ialah Otto Iskandar di Nata, Si Jalak Harupat dari bumi priangan yang lulus dari H.K.S Purworejo tahun 1924.
Para pamong H.K.S Purworejo ( sumber : budayapurworejo.blogspot.com ).
H.K.S Purworejo memang sudah tamat ceritanya tapi tidak pada gedungnya. Sesudah H.K.S Purworejo ditutup, gedungnya masih tetap dipakai menjadi sekolah di bawah naungan M.U.L.O ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijzer ) hingga zaman Jepang. Pada zaman Jepang, ia menjadi Sekolah Menengah Pertama. Paska kemerdekaan, ia kembali lagi menjadi sekolah guru. SPG ( Sekolah Pendidikan Guru ) namanya. Oleh sebab itu, generasi tua masyarakat Purworejo lazim menyebut gedung ini sebagai SPG. Setelah berdiri sejak tahun 1968, SPG akhirnya dihapuskan tahun 1991. Namun ia masih tetap digunakan sebagai sekolah. Kali ini sebagai SMA Negeri dan hari iini, eks kompleks H.K.S. Purworejo lestari sebagai SMA N 7 Purworejo ( Pranoto, 2015 ). Saya sungguh mengapresiasi usaha dari pihak sekolah untuk mengupayakan agar kompleks sekolah ini tetap terawat dengan baik di tengah tuntutan sarana dan prasanara pendidikan yang kian banyak.
Lampu taman yang masih asli.
Bangku taman dari semen.
Arsitektur gedung HKS Purworejo begitu ringkas, jelas, dan praktis. Penataan bangunan-bangunan yang ada di dalamnya sudah diperhitungkan dengan seksama. Lihatlah, bagaimana mewadahi berbagai bangunan yang berbeda fungsi seperti lobi, kantor guru, ruang kelas, gymnasium, dapur, ruang makan, ruang kesehatan, dan asrama dalam sebuah kompleks besar. Masing-masing bangunan tadi aksesnya disatukan oleh sebuah doorlop. Si perancang gedung juga membuat setiap bangunan tidak berdiri terlalu berhimpitan, sehingga terciptalah keleluasaan ruang yang memberi rasa nyaman dalam kegiatan belajar mengajar.
Lapangan dan pohon trembesi besar.
Kaki inipun mulai berayun menyusuri setiap jengkal kompleks sekolah yang telah berdiri lebih dari seabad lamanya itu. Suasana sekolah hari itu terasa sepi lantaran hari itu sekolah sedang libur. Tak terlihat kegiatan belajar mengajar seperti hari biasa. Kegiatan yang tampak di hari itu hanyalah beberapa siswa yang sedang berlatih olahraga di lapangan luas. Di ujung lapangan, tampak pohon trembesi tua yang menjulang tinggi dengan dahannya yang lebat, memberi keteduhan kepada siapapun yang ada di bawahnya. Pohon itu sekilas mungkin tak berbeda dengan pohon besar pada umumnya, tapi bagi siapapun yang pernah bersekolah di sini, pohon itu adalah pohon yang sarat akan kenangan dan romansa.
Doorstop yang berfungsi untuk mencegah daun jendela atau pintu tertutup kembali akibat tertiup oleh angin.
Beranda gedung utama.
Doorlop panjang yang menghubungkan setiap bangunan di dalam kompleks H.K.S.
Seperti halnya bangunan kolonial di tempat lain, gedung itu memakai jendela krepyak. Tapi yang membedakannya adalah adanya tonjolan di luar daun jendela. Saya awalnya tak paham apa fungsi tonjolan itu. Tapi begitu saya melihat ada semacam pengait di dinding dan posisinya pas dengan tonjolan itu ketika jendela dibuka, saya akhirnya paham. Tonjolan itu namanya doorstop, biasanya dipakai untuk mencegah daun jendela atau pintu tertutup kembali akibat tertiup angin. Baru di gedung inilah saya menjumpai keberadaan doorstop pada bangunan kolonial.
Ruang makan.
Tungku dapur yang sama yang dipakai oleh juru masak dari era HKS hingga SMA N 7 Purworejo.
Kamar mandi siswa.

Bekas ruang pelayanan kesehatan H.K.S. Sempat kosong dan menjadi sarang kelelawar selama bertahun-tahun, saat ini ia dipergunakan sebagai ruang kelas.
Doorlop yang sedang saya susuri ini luar biasa panjang. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, doorlop ini merupakan penghubung antar bangunan yang ada di dalam kompleks. Salah satu bangunan itu ialah ruang makan yang berada tepat di tengah kompleks. Gedung ruang makan ini berhadapan dengan bangunan gymnasium yang kini telah berubah wujud. Di belakang ruang makan, terdapat dapur yang juru masaknya masih menggunakan kompor yang sama dengan juru masak ketika sekolah ini masih bernama H.K.S. Terlihat asap yang mengepul tipis dari cerobong yang mencuat di atap.
Tampak luar bangunan ruang kelas dengan puncak berbentuk menara kecil.
Suasana ruang kelas dengan lantai tegel yang masih asli.
Saya akhirnya tiba di area barat kompleks HKS Purworejo, dimana di sana terdapat sebuah gedung yang menjadi ruang belajar mengajar. Dari kaca jendela, saya mengintip seperti apa suasananya. Ah, sungguh ruang kelas yang sarat kenangan untuk siapapun yang pernah belajar di kelas itu. Dari sini, saya amati pencahayaan di dalamnya sangat baik lewat jendela kaca yang ada di kedua sisi kelas. Udara di dalamnya pun terasa sejuk sekalipun tanpa pendingin udara karena sirkulasi udara di dalam ruang diatur oleh angin-angin yang ada di atas dan di bawah ambang jendela. Dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang sudah tertata baik, siapakah yang tak betah belajar di kelas ini ? Di ruangan itu, saya dapat membayangkan kembali, manakala siswa-siswa H.K.S sedang diberi materi pelajaran berupa ilmu pedagogic dan pengetahuan umum dalam bahasa Belanda. Saya juga bisa membayangkan bagaimana raut tegang para siswa-siswa H.K.S mengikuti ujian akhir sebagai syarat lulus dari H.K.S.
Asrama.
Di belakang sekolah ini, terdapat dua buah bangunan kecil memanjang dengan beberapa deret kamar. Itulah bekas asrama siswa H.K.S yang kini tetap menjadi asrama meskipun sudah sedikit berkurang jumlahnya. Di asrama itulah para siswa-siswa H.K.S harus tinggal dengan pengawasan ketat layaknya sekolah kedinasan pada zaman sekarang. Walau demikian, mereka diberi beragam fasilitas secara cuma-cuma oleh pemerintah seperti makanan dan layanan kesehatan. Setiap bulan mereka mendapat tunjangan sebesar f 20 ( Kays, 1922; 233 ). Para siswa-siswa H.K.S yang berasal dari berbagai daerah lalu berhimpun dalam suatu perhimpunan bernama De Broederschap. Kadang perhimpunan ini mengadakan pertandingan olahraga sesama H.K.S.
Rumah dinas dengan model atap perisai.
Rumah dinas dengan model atap tajug.
Rumah dinas dengan model atap Dutch-Hip.
Rumah dinas kepala HKS Purworejo. Foto lama dapat anda lihat di atas.
Setelah puas melihat-lihat kompleks sekolah yang masih terawat dengan baik, saya pun beringsut ke Jalan Ki Mangun Sarkoro, sebuah jalan teduh yang dipayungi oleh pohon-pohon asam dimana di sepanjang jalan itu berdiri bekas kediaman para pamong H.K.S Purworejo. Dua buah tugu sebagai penanda masuk kompleks H.K.S Purworejo terpancang di mulut jalan itu. Di tugu itulah saya menjumpai monogram H.K.S Purworejo yang masih tampak jelas. Semua rumah disini bentuknya masih asli dan kompleks ini masih terlihat indah sekalipun sebuah bangunan baru menjulang begitu anehnya di tengah-tengah kompleks. Rumah-rumah ini memiliki tiga model yang berbeda dan kesemuanya ditata dalam pola yang unik, yakni pola a-b-c-c-b-a seperti cermin. Rumah dinas staf H.K.S Purworejo tak hanya di Jalan Mangun Sarkoro saja. Ada tiga buah rumah berdiri di tepi jalan raya yang ramai. Satu di Jalan Mayjend.Sutoyo, dan dua di jalan Urip Sumoharjo. Salah satu rumah tersebut merupakan rumah paling besar di kompleks H.K.S Purworejo dan rumah itu merupakan tempat tinggal direktur H.K.S Purworejo dan kepala sekolah sesudahnya hingga beberapa saat lalu secara tiba-tiba menjadi kantor instansi pemerintah. 
Monogram H.K.S yang berada di mulut jalan Ki Mangun Sarkoro.
Dengan berat hati sayapun meninggalkan kompleks sekolah itu. Namun tersimpan sebuah rasa bangga dan bahagia di hati kecil saya. Bangga karena di kota tempat saya lahir dan tumbuh, tersimpan sebuah jejak pendidikan guru yang menyimpan nilai sejarah perjuangan bangsa. Bahagia karena ia masih lestari dengan baik sampai sekarang, menjadi tetenger yang memberi wajah tersendiri untuk kota Purworejo. Sayapun hanya bisa berharap, mulai dari warga sekolah hingga semua masyarakat Purworejo, untuk bisa selalu merawat warisan sejarah yang dimilikinya. Sebuah warisan berharga yang hendak kita wariskan untuk generasi selanjutnya….

Referensi
Pranoto, Agung.2015 .Dalam  http://budayapurworejo.blogspot.co.id/2015/03/sejarah-hks-hoogere-kweekschool.html.

Cribb, Robert & Kahin, Audrey. 2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok : Komunitas Bambu.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18 September 1914

Kays, J. 1922. Warna Sari Melajoe. Weltevreden : Boekhandel Visser & Co.


Vidi S, Albertus Agung. 2009. " Dinamika Pola Tata Ruang HKS Sampai SMAN 7 Purworejo". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada.

7 komentar:

  1. Cool.....
    saya bangga sebagai salah satu alumni SMA 7... :P

    BalasHapus
  2. Sangatlah beruntung pernah menuntut ilmu selama 3 tahun di SMA ini..
    Sungguh bangga menjadi alumni Smansev :D

    BalasHapus
  3. Luar biasa... Saya bangga menjadi alumni

    BalasHapus
  4. Saya pun alumni SMA ini. Waktu saya disana namanya SMA N 2 atau SMUNDA.

    BalasHapus
  5. Mantab gan..!!!
    #explore_purworejo

    BalasHapus
  6. Tulisannya bagus, riset bahan dan pengumpulan datanya juara!

    BalasHapus