Sabtu, 25 Februari 2017

Kedungjati dan Kaliceret, Tapak Kolonial di Tengah Hutan Jati

Kedungjati dan Kaliceret adalah dua wilayah yang masuk dalam Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sekalipun jauh dari pusat Kabupaten Grobogan, siapa yang mengira bahwa di wilayah yang dikelilingi belantara hutan jati itu, tersimpan tapak-tapak kolonial yang penting. Tulisan saya di Jejak Kolonial kali ini akan menguak tapak-tapak tersebut…
Lokasi Kedungjati yang terletak di Kecamatan Kedungjati dan Kaliceret yang terletak di Kecamatan Tanggungharjo. Kedua wilayah ini terletak di sebelah barat Kabupaten Grobogan.
Hembusan angin menerpa pohon-pohon jati, membuat daun-daun kering berguguran dan berserakan di atas jalan. Suasana itulah yang saya rasakan selama perjalanan ke Kedungjati. Di sepanjang kanan-kiri jalan, pemandangan yang terlihat hanyalah pohon-pohon jati berbatang tinggi dan nyaris tak terlihat tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Kondisi jalanan yang saya lalui setidaknya lebih baik ketimbang dua tahun silam, ketika jalanan ini masih berupa jalan tanah yang remuk.
Peta Kedungjati pada tahun 1905. Perhatikan terdapat 2 jalur kereta yang terlihat pada peta ini. Jalur di sebelah utara merupakan jalur Semarang - Surakarta. Sementara jalur yang mengarah ke selatan merupakan jalur Kedungjati-Ambarawa (sumber : maps.library.leiden.edu).
Setibanya di Kedungjati, segera saya menuju ke satu tapak kolonial paling menonjol di sana yang tak lain ialah Stasiun Kedungjati. Saya dibuat terpana ketika melihat kemegahan stasiun itu. Bagi saya, stasiun itu terlampau besar untuk ukuran Kedungjati yang jumlah penduduknya relatif sedikit. Dengan atap baja selebar 14,65 meter, bangunan itu terlihat kontras di tengah pepohonan  jati. Di bawah naungan atap baja itu, berdiri bangunan-bangunan kecil untuk kantor dan ruang tunggu penumpang yang diapit oleh jalur kereta. Tatanannya hampir mirip dengan Stasiun Ambarawa dan Stasiun Purwosari.
Tampak luar Stasiun Kedungjati. Jika diamati mirip dengan Stasiun Ambarawa.
Sunyi, begitulah suasana yang saya rasakan ketika kaki ini menjejak masuk ke dalam stasiun. Tak terlihat hiruk pikuk penumpang layaknya stasiun pada umumnya. Namun kesunyian itulah yang makin memperkental nuansa kejadulannya. Lihatlah ekspose bata merah yang mempercantik setiap sudut stasiun. Saya jumpai pula tegel tua berwarna kekuningan yang masih asli, impor dari negeri kincir angin.

Bagian dalam Stasiun Kedungjati dulu dan sekarang. Pada foto yang lama, terlihat poster-poster iklan yang menempel di dinding dan lampu-lampu kuno yang menggantung di atap peron.
Kesunyian stasiun itu mulai pecah ketika sayup-sayup terdengar deru kereta yang akan melintas. Suara itu bertambah keras hingga akhirnya kereta itu melintas sekelebat saja dan deru suara kereta itu mulai menghilang. Stasiun ini kembali sunyi. Tiada waktu lagi baginya untuk singgah barang sebentar di stasiun ini. Dalam sehari, setidaknya hanya dua kereta saja yang berhenti di stasiun ini, yakni kereta Kalijaga dan Majapahit. Di peron selatan stasiun yang kini tak dilalui kereta lagi, sayapun duduk sebentar, menikmati angin sepoi sembari memandang sebuah jam tua yang bertengger di dinding stasiun. Sayapun membayangkan jarum jam itu terus berputar ke belakang, membawa saya ke waktu ketika stasiun itu masih akan dibangun..
Stasiun Kedungjati sebelum dirombak. Bangunan masih terlihat sederhana (sumber : troppenmuseum.nl).
Bangunan Stasiun Kedungjati setelah dirombak. Foto ini tampaknya diambil sebelum tahun 1925 karena pada foto ini, peron selatan terihat belum ada (sumber : media-kitlv.nl).
Stasiun Kedungjati pada tahun 1930an. Tampak sebuah kereta yang siap berangkat ke Ambarawa dengan membawa muatan gelondongan kayu jati (sumber : colonialarchitecture.eu).
Kedungjati kala itu merupakan wilayah penghasil kayu jati, sumberdaya yang jelas diperlukan sekali oleh perusahaan kereta api Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappiji, untuk membuat bantalan rel dan bahan bakar mesin uap. Tiga tahun seusai membangun jalur kereta mereka yang pertama dari Semarang ke Tanggung pada 1867, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappiji melanjutkan pembangunan jalur kereta hingga ke Kedungjati. Tahun 1873, stasiun itupun dibuka. Kedungjati yang semula terpencil, kini bangkit menjadi titik keramaian jalur kereta karena stasiun itu merupakan stasiun persimpangan jalur kereta dari Semarang ke Surabaya, Vorstenlanden, dan Ambarawa. Sayapun membayangkan, andai stasiun ini tak pernah dibangun, Kedungjati selamanya akan menjadi wilayah yang terisolir.
Ruang tunggu kelas tiga.
Ruang kantor Stasiun Kedungjati. Terlihat sebuah jam kuno yang masih ada di tempatnya
Bagian peron selatan yang atap kanopinya baru dibangun pada tahun 1925. Di sinilah penumpang yang hendak ke Ambarawa menunggu kereta. 
Peron selatan stasiun, dimana saya duduk sekarang merupakan peron untuk jalur kereta ke Ambarawa yang akhirnya ditutup tahun 1970an. Atap baja yang menaungi peron selatan baru didirikan tahun 1915. Bangunan stasiun yang saya lihat sekarang pun bukan bangunan “asli” lagi. Ia merupakan hasil perombakan oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappiji pada awal abad ke 20, menggantikan bangunan lama yang sederhana.
Gudang stasiun.
Di bawah terik sinar matahari dan udara Kedungjati yang panas, saya lakukan penyusuran di sekitar stasiun. Stasiun Kedungjati dilengkapi dengan bangunan pendukung seperti gudang dan depo kereta  yang hancur dijarah tahun 1997. Karena para pegawai stasiun harus berurusan dengan kereta setiap harinya, maka tempat tinggal mereka didirikan tidak jauh dari stasiun. Rumah-rumah pegawai kereta itu didirikan dengan gaya arsitektur ala villa-villa di lembah Alpen, sehingga walaupun ukurannya kecil namun bangunan itu terlihat cantik. Menariknya, baik stasiun, gudang dan rumah pegawai, materialnya terbuat dari batu-bata. Padahal Kedungjati sendiri bukanlah wilayah penghasil batu-bata karena tanahnya berkapur. Sehingga saya mengasumsikan bahwa batu-bata itu didatangkan dari tempat lain menggunakan kereta.
Rumah pegawai stasiun di sebelah utara stasiun. Terlihat lisplang bergerigi di beranda depan.
Bangunan rumah dinas stasiun Kedungjati yang tampaknya sudah tidak ditempati lagi.
Rumah dinas stasiun Kedungjati dengan atap tipe jerkinhead roof. Seperti halnya stasiun Kedungjati, dekorasi ekspose bata terlihat menonjol di setiap sudut dinding.
Selain tapak sejarah perkeretaapian, Kedungjati juga menyimpan tapak sejarah kegiatan perambahan kayu jati di masa lampau. Cerita bermula ketika permintaan kayu jati semakin meningkat dengan diberlakukannya Tanam Paksa di Hindia-Belanda dari tahun 1830. Pemberlakuan sistem tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan kayu jati karena kayu jati menjadi bahan baku utama untuk konstruksi pabrik gula, gudang kopi, tempat pengeringan tembakau dan rumah-rumah pegawai kolonial. Masuknya mesin uap kian meningkatkan permintaan kayu jati, sehingga untuk mengendalikan perambahan hutan jati, maka pemerintah kolonial membuat undang-undang kehutanan tahun 1865. Agar pengelolaan hutan jati lebih maksimal, maka pemerintah kolonial mendatangkan dua ahli hutan dari Jerman pada tahun 1849. Pada tahun 1873, W.Buurman memperkenalkan sistem taungnya, dimana penduduk yang tinggal di tengah hutan jati diperbolehkan menanam tanaman lain seperti padi, jagung atau tembakau dengan hasil panen menjadi hak milik mereka. Sistem ini rupanya memiliki persamaan dengan sistem yang diterapkan oleh Inggris di Burma dan India. Sejak tahun 1897, seluruh industri kayu jati di Pulau Jawa berada di bawah pengelolaan Dienst van het Boswezen atau Dinas Kehutanan (Peluso, 1991; 72).
Rumah kayu yang cukup besar yang kini menjadi kantor polisi hutan BKPH Padas.
Rumah kayu yang sekarang menjadi kantor Komando Pengendalian Kebakaran Hutan BKPH Padas.
Rumah kayu lainnya.
Untuk mendukung kegiatan eksplotiasi kayu jati, dibangunlah jaringan jalan untuk memperlancar pemindahan gelondongan kayu jati dari tempat dia ditebang ke tempat penggegrajian kayu. Berbagai rumah kayu juga dibangun untuk tempat tinggal kepala pengelola hutan jati dan pejabat lainnya seperti beberapa rumah panggung kayu yang saya jumpai di Kedungjati. Para pejabat kehutanan Belanda pada zaman dahulu memiliki banyak tugas yang berkaitan dengan kehutanan, misalnya menentukan pohon mana yang pantas ditebang, menanam kembali dan merawat pohon yang sudah ditebang, mengontrol para blandhong (tukang penebang pohon) dan juga memerangi praktik pencurian kayu.
Kantor Polsek Kedungjati, tapak kolonial lain di Kedungjati ( sumber foto : polresgrobogan.com).
Dari Kedungjati, saya bertandang ke Kaliceret yang terletak 4,5 kilometer ke utara dari Kedungjati. Secara administratif, Kaliceret berada di Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan. Bentang lahan Kaliceret sebagaimana Kedungjati dikelilingi oleh hutan jati ditambah dengan sawah tegalan.
Bangunan GKJTU Kaliceret yang terletak di Jalan Salatiga-Gubug.
GKJTU Kaliceret dilihat lebih dekat. Hampir semua konstruksi bangunan ini terbuat dari kayu.
Tapak kolonial paling kentara di Kaliceret ialah bangunan Gereja GKJTU (Gereja Kristen Jawa Tengah Utara) Kaliceret yang terletak di pinggir Jalan Salatiga-Gubung. Ia diperkirakan dibangun antara tahun 1904-1927. Apabila dibandingkan dengan gereja-gereja di kota besar, gereja itu amatlah bersahaja. Lihatlah seluruh material bangunan gereja yang terbuat dari kayu membuatnya tampak menyatu dengan alam sekitar. Gereja itu peninggalan dari sebuah pos zending yang dirintis tahun 1885 oleh penginjil Jerman bernama Horstman. Ia diutus oleh Salatiga zending untuk menyebarkan agama Kristen di sana. Sebelum ia membuka pos zending di Kaliceret, Horstman telah lebih dulu membuka tempat serupa di Wonorejo. Dalam rentang waktu sepuluh tahun, beberapa penginjil tiba di sini lain antara lain Zimmerbeutel, Camp dan Kuhnen. Pos zending Kaliceret ini terdiri dari sekolah untuk anak-anak perempuan dan sebuah balai pengobatan yang menumpang pada rumah sederhana milik salah satu penginjil tadi.
Pendeta Bansemer ( baju hitam ) dan Heintze ( baju putih ) bersama anak-anak sekolah Kaliceret.
Murid-murid dna guru sekolah Kaliceret. Di belakang tampak beranda depan rumah pendeta yang kini menjadi SD Kristen Kaliceret.
Waktu terus berjalan. Pos zending tadi kian besar. Rumah sederhana yang dahulu hanya difungsikan sebagai balai pengobatan menjelma menjadi rumah sakit, satu-satunya rumah sakit di Grobogan kala itu. Masyarakat luar Grobogan yang semula datang ke sini untuk berobat, menjadi penganut agama Kristen dan bermukim di sana. Dengan jumlah umat yang semakin banyak, maka tahun 1892, Pdt. C.R. Kuhnen diangkat menjadi pendeta di Kaliceret hingga tahun 1927. Posisi pendeta selanjutnya diteruskan oleh Pdt. Kabelitz. ( Balai Pelestarian Cagar Budaya, 2013; 155 ). Pada tahun 1935, lembaga zending Kaliceret secara resmi memisahkan diri dengan Salatiga zending. Perpisahan ini ditandai dengan sebuah misa yang dipimpin secara langsung oleh direktur zending ( Bredasche Courant, 11 Desember 1935). Dari sini, dapat dilihat betapa pentingnya Kaliceret sebagai pusat penyebaran agama Kristen  di Grobogan dan sekitarnya.
Peta Kaliceret pada tahun 1905. Lokasi pos zending ditandai dengan keterangan zendingstation pada peta ini.
Persis di sebelah utara gereja itu, saya menyaksikan sebuah bangunan tua yang bentuknya menyerupai rumah panggung. Ketika saya hendak melihat lebih dekat bangunan yang kini menjadi SD Kristen Kaliceret itu, di beranda depan saya disambut oleh seorang pria yang saya kira sebagai kepala sekolah. “Rumah ini dahulu ditempati oleh pendeta dari Jerman”, jawab pria tadi yang ternyata bekerja sebagai penjaga sekolah itu. Pendeta dari Jerman yang dimaksud bapak tadi tak lain ialah Pendeta Kuhnen atau Kabelitz. “Dari dibangun sampai sekarang kayunya gak pernah diganti mas karena yang dipakai kayu jati kualitas bagus” sambungnya.
Bekas rumah pendeta yang saat ini menjadi SD Kristen Kaliceret.
Bagian beranda samping.
Ruang kelas yang dulu sempat dijadikan tempat tinggal serdadu Jepang.
Detail angin-angin di atas ambang pintu.
Detail jendela krepyak yang krepyaknya dapat dibuka tutup.
Setelah berbincang riang dengan penjaga sekolah tadi, saya berkeliling untuk melihat-lihat bangunan. Murid-murid baru saja pulang sekolah sehingga suasana sekolah itu menjadi sepi. Beberapa anak yang penasaran mengikuti saya tatkala saya sedang mendokumentasikan detail setiap bangunan. Bangunan rumah ini dikelilingi oleh beranda yang cukup lapang. Daun pintu dan jendela krepyak khas rumah Belanda masih tampak di sini. Saya pun melongok ke dalam jendela untuk melihat bagian ruang dalam yang kini diubah menjadi ruang kelas. Tak banyak yang tahu bahwa bangunan ini beserta gereja di sebelahnya merupakan saksi penderitaan 250 pemuda yang ditawan oleh Jepang. Antara 14 Juni 1945 hingga 23 Agustus 1945, pemuda-pemuda tadi dibawa ke sini dari kamp internir Bangkong, dekat Ambarawa. Ruang kelas yang sedang saya lihat ini dulunya merupakan tempat tinggal para serdadu Jepang yang menjaga kamp. Sementara para pemuda malang tadi tinggal berdesak-desakan di dalam gereja. Setiap harinya, di bawah teriknya matahari, mereka harus menebang berpuluh-puluh pohon-pohon jati. Kehidupan mereka di dalam kamp pun tak kalah parah. Kekurangan gizi dan air sudah menjadi lalapan sehari-hari. Setelah Jepang menyerah, para tawanan tadi dikembalikan ke Bangkong.

Demikianlah hasil penelusuran saya pada tapak-tapak kolonial di Kedungjati dan Kaliceret. Setidaknya saya dapat menyimpulkan, bahwa keberadaan peninggalan kolonial tak hanya terpusat di pusat-pusat kota saja. Nyatanya di wilayah yang terpencil seperti Kedungjati dan Kaliceret, dapat dijumpai peninggalan kolonial yang menyimpan sejarah dan tidak kalah menarik. Semoga keberadaan bangunan ini dapat dilestarikan dengan baik…

Referensi
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. 2013. Laporan Inventarisasi Cagar Budaya Tak Bergerak Kabupaten Grobogan. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis & Militer Belanda, Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Hajer,F.W. 1908. Overzicht van het ontstaan en de ontwikkeling der Salatiga-Zending. Utrecht : Firma J.  Bokma HZN.

Peluso, Nancy Lee. 1991. The History of State Fores Management in Colonial Java dalam jurnal Forest & Conservation History. Vol 35. No. 2 April 1991. Oxford University Press.

https://www.indischekamparchieven.nl/en/search mivast=963&mizig=276&miadt=968&miaet=14&micode=kampen&minr=1397413&milang=en&misort=unittitle%7Casc&mizk_alle=Kaliceret&miview=ika2

1 komentar: