Sabtu, 06 Januari 2018

Kerkhof Cilacap ; Monumen Kematian di Tepi Pantai

Awan kelabu bergelayut di langit Cilacap, membuat langit hari itu tampak muram, semuram makam-makam tua yang terserak di Kerkhof Cilacap. Walau langit kurang bersahabat, namun hal itu tidak memupus semangat rombongan Banjoemas Heritage yang hari itu hendak menjelajahi Cilacap; dan diantaranya adalah saya. Bersama dengan Milo Jatmiko, koordinator komunitas Banjoemas Heritage, Kerkhof Cilacap adalah tambatan pertama mereka pada penjelajahan di Cilacap.
Letak Kerkhof Cilacap ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Kerkhof Cilacap merupakan sebuah kerkhof yang terletak tak begitu jauh dari bibir pantai Teluk Penyu, Cilacap. Letaknya yang tak jauh dari laut membuat saya dapat merasakan semilir angin laut yang lembut. Kerkhof ini merupakan tempat berkumpulnya jasad orang-orang Belanda yang wafat di Cilacap tanpa memandang jabatan, usia, dan gendernya.








Saya tak dapat memastikan sejak kapan kerkhof Cilapa mulai ada. Namun merunut makam tertua yang saya temukan, kerkhof ini telah ada sejak tahun 1857. Makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir dari seorang kolonel infanteri bernama Toontje Poland. Siapakah gerangan Toontje Poland ? 
Makam Toontje Poland.
Dorus "Toonte" Poland. Nama "Toontje" diperolehnya selama Perang Jawa, ketika Jenderal F.D. Cochius melihatnya dan berseru " Toontje ! ".
Roman karya Johan Fabricus yang menceritakan petualan Toontje Poland selama di Hindia-Belanda. Ini adalah buku kedua tentang Toontje Polan yang ditulis Fabricus. Buku pertama menceritakan Toontje Poland ketika di Eropa.
Namanya mungkin tak setenar Jan Pieterzoon Coen, Van der Capellen atau Van Heutz dalam buku-buku sejarah, namun sebagai perwira militer, ia memiliki karir yang cukup cemerlang. Kolonel kelahiran Alkmaar, Belanda, 20 Januari 1795 itu mengawali karirnya sebagai seorang kopral muda dan ia sempat bertempur melawan pasukan Napoleon di pertempuran Quatre-Bras. Petualangannya di Hindia-Belanda dimulai pada 1817, ketika ia tiba di Batavia. Berbagai kampanye dan ekspedisi militer ia ikuti, dari Cirebon, Banten, Riau, Celebes ( Sulawesi ), Borneo ( Kalimantan ), Perang Diponegoro hingga Perang Diponegoro. Ia pun diangkat menjadi ajudan pribadi Sultan Madura setelah perang usai. Ekspedisi Bali adalah petualangan terakhirnya di Hindia-Belanda sebelum ia pensiun dan meninggal dengan tenang di Cilacap pada 19 Desember 1857. Perjalanan hidupnya dikenang lewat sebuah roman karangan Johan Fabricius dalam Toontje Poland ( 1977 ) dan Toontje Poland onder de tropenzon ( 1978 ).



Pusara dengan ornamen guci di kemuncak. Guci merupakan lambang dari jiwa.
Makam-makam dengan dekorasi pilar patah, lambang dari putusnya tali kehidupan.
Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa pusara-pusara tua di sini menyiratkan lambang atau pesan yang bertalian dengan kematian. Inilah yang disebut seni permakaman, sebuah seni tentang mengabadikan jiwa yang telah tiada. Seni ini diwujudkan entah dalam bentuk pusara, hiasan atau puisi yang diukir pada prasasti. Dari bentuk pusara misalnya, pada pusara berbentuk tugu, terdapat semacam kolom yang tidak diselesaikan sampai puncaknya, perlambang dari berhentinya kehidupan di dunia. Selain kolom, puncak pada pusara lain ada yang berbentuk seperti guci, lambang dari ruh.

Makam-makam yang memiliki simbol tengkorak.
Selain diwujudkan dalam bentuk pusara, pesan kematian juga dibentuk dalam wujud ukiran pada prasasti. Contohnya adalah makam Toontje Poland tadi, dimana di situ terdapat ukiran berbentuk daun palm dan untaian bunga sebagai simbol kemenangan atas kematian. Berikutnya adalah ukiran tengkorak dan tulang bersilang pada pusara Juliana Elizabeth Sarnie ( lahir Vincent ). Bagi orang yang belum paham, mungkin ukiran tersebut akan ditafsirkan sebagai simbol bajak laut dan secara praktis akan membuat kesimpulan bahwa makam tersebut milik seorang bajak laut. Sejatinya, simbol tengkorak dengan tulang bersilang merupakan simbol dari kematian. Selain itu, terkadang terdapat lubang-lubang bundar di pusara, lambang dari kehidupan abadi. Lubang-lubang itu terkadang diisi foto orang yang dibaringkan di bawah pusara itu atau patung-patung kecil.
Makam lama yang berdampingan dengan makam baru.
Kondisi kerkhof Cilacap boleh saya katakan lumayan baik, walau makam-makam baru yang tersempil membuat tampilan Kerkhof Cilacap tampak acak-acakan. Selain makam yang telah rusak atau hilang prasastinya, di sini saya menjumpai jejak vandalisme yang mendera makam-makam itu. Tangan-tangan iseng meninggalkan jejak berupa semprotan piloks. 
Jejak vandalisme...





Makam Asisten Residen yang terbengkalai.
" Sewaktu saya muda, saya masih menjumpai dua patung marmer di makam ini ", terang seorang warga yang kerap mencari rumput di sana. Di masa lampau, patung-patung marmer dengan beragam ukuran bertebaran di kerkhof ini. " Patungnya bagus-bagus mas, tapi semakin kesini banyak yang hilang ", tuturnya dengan logat Banyumasan. " Dua tahun silam, masih ada satu patung di sini. Tapi patungnya hancur gara-gara diseruduk kerbau ", sambungnya.
Kondisi makam yang cukup membuat hati saya miris adalah makam asisten residen Cilacap bernama M. Herz yang kini telah dipenuhi tumpukan sampah. Betapa ironis, sang tuan residen Cilacap yang sewaktu hidupnya begitu dihormati kini makamnya justru terlupakan oleh zaman. Ya begitulah, tak ada yang mengetahui nasib orang setelah mengalami kematian yang senantiasa membayangi kehidupan. Kematian terkadang dapat menghapus ingatan akan seseorang hingga perlu didirikan semacam monumen untuk mengingat mereka. Namun tak jarang monumen-monumen itu malah ikut terlupakan seiring perjalanan zaman…

Referensi
http://www.graveaddiction.com/symbol.html

Van Rees, W.A. 1867. Toontje Poland Voorafgegaan door enige Indische typen. Arnhem ; D.A. Thiemen.

1 komentar:

  1. Mantapp.. jd membayangkan masa kolonial yg alamnya masih bagus..

    BalasHapus