Senin, 09 April 2018

Memuliakan Sejarah Gombong di Roemah Martha Tilaar


Saat berada di Gombong, sesudah mampir ke Benteng Van der Wijck, saya mencoba singgah di Roemah Martha Tilaar Gombong yang terletak di jalan Sempor Lama. Sengkalan berangka tahun 1920 terpampang jelas di fasad rumah bergaya Eropa itu, menandakan bahwa rumah itu hampir menginjak usia seabad.
Roemah Martha Tilaar dulunya merupakan kediaman seorang Tionghoa kaya bernama Liem Siauw Lam. Karena kekayaanya, Liem Siauw Lam dijuluki Rijkman van Gombong, Orang Kaya dari Gombong.
Beranda depan dengan hiasan kaca patri.

Kaki ini kemudian menjejak ke bagian beranda depannya yang sedap dipandang mata. Dari sini, terlihatlah keanggunan kaca patri yang penuh warna, mempercantik beranda depan yang sudah dihiasi dengan tegel kaya motif dan perabot antik. Keindahan rumah ini merupakan cerminan kemakmuran dari seorang Tionghoa kaya bernama Liem Siauw Lam. Liem Siauw Lam terjun dalam bisnis perternakan sapi dan perdagangan hasil bumi. Moyangnya berasal wilayah Xian Men, Tiongkok. Pada 1830, Liem Seng, kakek Liem Siauw Lam berlayar meninggalkan kampung halamannya menuju Batavia, kemudian berpindah ke Tegal, dan akhirnya bermukim di Gombong. Mengapa Gombong ? Alasannya adalah kondisi keamanan di Gombong relatif stabil karena di sana terdapat kamp militer Belanda. Sebagai seorang usahawan di Gombong, Liem Siauw Lam atau acap dipanggil Liem Solan memiliki lahan tanah yang lumayan luas. Dari tanah itulah Liem Siauw Lam mendirikan usaha peternakan yang menghasilkan daging dan susu untuk garnisun Belanda di benteng Van der Wijck. Selain itu, ia juga berbisnis kopra dan sarang walet.
Bagian ruang depan. Terlihat altar leluhur di samping kiri koridor.
Bagian kordior tengah.

Saya kemudian beringsut ke bagian dalam rumah. Sebagiamana rumah orang Belanda, rumah ini memiliki beranda depan, tempat menerima tamu dan beranda belakang, tempat anggota keluarga berkumpul dan makan bersama. Di bagian dalam, terdapat empat ruang kamar yang saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah koridor tengah. Walau rumah ini memiliki tata ruang dan bentuk seperti rumah orang Belanda, ada beberapa fitur yang sama sekali tidak terdapat di rumah orang Belanda seperti altar leluhur dan pintu partisi di mulut koridor. Altar leluhur adalah perabot wajib yang dimiliki oleh setiap keluarga Tionghoa sebagai bentuk penghormatan leluhur. Sementara pintu partisi dipasang di mulut koridor karena dalam kepercayaan orang Tionghoa, tidak baik pintu masuk berhadapan langsung dengan pintu belakang sehingga perlu ada penghalang.
Jendela.

Salah satu ruang tidur.
Barangkali karena sering bersentuhan dengan orang Eropa yang tinggal di Gombong, maka Liem Siauw Lam membangun rumah tinggalnya dalam gaya Eropa. Pada saat itu, sudah menjadi hal biasa di kalangan Tionghoa kaya membangun rumah dalam gaya Eropa agar tidak dikatakan ketinggalan gengsi. Selain membangun rumah mewah, dari kekayaannya Liem Siauw Lam membeli mobil Ford Model T yang tersohor. Sekalipun bergaya hidup flamboyan, namun keluarga Liem Siauw Lam memiliki jiwa sosial. Istri Liem Siauw Lam menyediakan peralatan batik untuk pembatik perempuan di Gombong. Di masa perjuangan, rumah ini pernah dipakai sebagai dapur umum dan tempat perawatan tentara Indonesia yang terluka kala melawan tentara NICA.
Beranda belakang, tempat keluarga dulu bercengkrama.
Saat melintas di koridor tengah, saya melihat keterangan pohon silsilah dari keluarga Liem. Dari sekian nama yang ada di pohon silsilah itu, ada satu nama yang semua perempuan di negeri ini pasti tahu sosoknya, Martha Tilaar. Hingga usia sebelas tahun, Martha Tilaar kecil tinggal di rumah kakeknya. Kamarnya dulu terletak di bangunan samping kiri rumah. Setelah itu, ia pergi dari Gombong untuk meneruskan pendidikannya. Singkat cerita, Martha Tilaar akhirnya sukses di bisnis kosmetik. Semangat jiwa sosial Liem Siauw Lam menurun pada Martha Tilaar. Kesuksesan yang diraih oleh Martha Tilaar tidak membuatnya serta merta melupakan tanah kelahirannya. Di situlah Martha Tilaar bercita-cita ingin memberi sumbangsih nyata untuk tanah kelahirannya. 
Beranda bangunan samping rumah utama.
Bersama putrinya, Wulan Tilaar, Martha Tilaar mewujudkan bakti pada kampung halamannya dengan membuka “ Roemah Martha Tilaar “ pada Desember 2014. Roemah Martha Tilaar menempati bekas rumah kakeknya yang sempat terlantar selama puluhan tahun. Tahun 2014, rumah itu dipoles oleh Martha Tilaar dan keontetikan bangunan dijaga sebaik mungkin. “ Rumah ini bukan hanya bersejarah tapi merupakan bakti kami kepada Gombong, Kebumen, dan kota sekitar. Dengan dukungan pemangku kepentingan kota Gombong, semoga rumah ini berguna siapa tahu akan lahir bibit muda bangsa asal Gombong “, pesan Martha Tilaar dilansir dari laman roemahmarthatilaar.org. Setelah bersolek kembali, rumah kuno kakeknya yang menjadi salah satu warisan sejarah Gombong dimanfaatkan untuk beragam kegiatan dari diskusi, lokalatih, festival, pertunjunkan dan pameran seni, sehingga keberadaan warisan sejarah ini dapat memberi faedah untuk masyarakat sekitar, tak sekedar menjadi barang mati saja yang hanya bisa dilihat. Ya, Roemah Martha Tilaar Gombong kini menjelma laksana seorang gadis cantik berbudi mulia.

Begitulah cara Martha Tilaar memuliakan sejarah Gombong, tanah kelahirannya. Apa yang dilakukan oleh Martha Tilaar memang patut diacungi jempol di tengah carut marutnya pelestarian warisan sejarah di Indonesia. Di negara maju, para filantropis dan dermawan biasanya akan membeli gedung-gedung tua bersejarah untuk dipakai kegiatan masyarakat, dengan demikian keberadaanya tak hanya lestari namun juga memberi faedah untuk masyarakat. Andai saja di negeri ini ada banyak sosok Martha Tilaar yang peduli dengan warisan sejarah – dan tentunya memiliki banyak modal, saya percaya akan sedikit cerita suram nasib Cagar Budaya yang terdengar di telinga…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar