Selasa, 19 Agustus 2025

Menyinggahi Eks Rumah Pompa Gambarsari dan Pesanggrahan ; Monumen Irigasi Belanda di Sungai Serayu


"Indah murni alam semesta, tepi Sungai Serayu, Sungai pujaan bapak tani". Begitulah penggal lirik lagu Di Tepinya Sungai Serayu karangan Soetedja Poerwodibroto yang menggambarkan keindahan Sungai Serayu yang memberi berkah kesuburan untuk dataran di tepi kanan-kirinya. Sayangnya karena kondisi medan dan teknologi, pemanfaatan sumber daya air Sungai Serayu dalam jangka waktu yang cukup lama, dilakukan secara terbatas. Oleh karena itulah para insinyur Belanda pada penghujung masa penjajahan menghadirkan sebuah teknologi khusus agar sumber daya air Sungai Serayu dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Teknologi macam apa yang dihadirkan oleh para insinyur Belanda tersebut akan diulas pada Jejak Kolonial kali ini.

Pemandangan udara Sungai Serayu (Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Sungai Serayu walaupun termasuk sungai yang memiliki debit air yang melimpah, namun penduduk setempat belum dapat memanfaatkan sungai tersebut untuk irigasi secara langsung. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan ketinggian yang cukup besar antara tinggi permukaan air dengan daratan yang ada di kanan-kirinya. Sungai Serayu baru bisa dimanfaatkan untuk irigasi setelah pemerintah kolonial Belanda meresmikan saluran irigasi Banjar-Cahyana pada tahun 1914. Sayangnya, saluran irigasi tersebut tidak dapat mencakup wilayah DAS Serayu secara keseluruhan. Wilayah yang belum merasakan manfaat dari Sungai Serayu adalah Dataran Banyumas Selatan atau Dataran Kroya yang dipisahkan dengan Dataran Banyumas Utara oleh perbukitan Serayu Selatan. Dataran tersebut pada mulanya adalah genangan rawa yang sangat luas yang airnya berasal dari sungai-sungai kecil yang hulunya terletak di perbukitan Serayu Selatan. Rawa tersebut perlahan terisi dengan endapan lumpur yang dibawa oleh sungai-sungai tersebut sehingga rawa tersebut perlahan menjelma sebagai dataran. (De Indische verlofganger, 1937).

Peta daerah irigasi Kroja-Werken (Sumber : De Locomotief 8 Februari 1939)

Dataran Banyumas Selatan tidak dapat disambung dengan irigasi Banjar-Cahyana karena terhalang oleh perbukitan Serayu Selatan. Untuk irigasi, penduduk hanya mengandalkan air dari sungai-sungai yang lebih kecil dan debit airnya sering menyusut selama periode musim kemarau. Akibat kurangnya pasokan air, maka panen yang dihasilkan masih terhitung rendah padahal tanahnya termasuk jenis yang subur (De Indische verlofganger, 1937). Pemerintah kolonial sebenarnya sudah menyadari keadaan tersebut sejak jauh hari. Pada tahun 1896, muncul sebuah wacana untuk membuat saluran irigasi di dataran Banyumas Selatan. Walaupun kajian teknisnya sudah dibuat, wacana tersebut tidak jadi diwujudkan karena terhalang oleh biaya dan teknis. Berikutnya pada tahun 1905, dibuat rencana lain dengan skala yang lebih kecil. Seperti pendahulunya, rencana tersebut tidak jadi terlaksana. 

Suasana rumah pompa Gambarsari saat peresmian.
(Sumber : Soerabaijasch handelsblad 17 Maret 1939)

Rencana yang sama kembali muncul di permukaan pada tahun 1920 namun sekali lagi rencana tersebut batal dibuat. Kendala utama dalam rencana tersebut adalah bahwa diperlukan kanal yang dalam untuk dapat mengalirkan air karena adanya perbedaan ketinggian yang cukup besar antara tinggi permukaan air dengan daratan yang ada di kanan-kirinya. Sementara di sisi lain, hasil survey geologi menujukan kondisi formasi tanah di dataran tersebut tidak mendukung untuk penggalian kanal yang dalam. Wacana lainnya muncul pada tahun 1929 dan kali ini idenya adalah membangun bendung gerak Serayu. Wacana tersebut, seperti halnya wacana sebelumnya, berakhir dengan penolakan karena biaya yang ada masih kurang untuk dapat membuat bendung gerak, terlebih teknologi semacam itu belum ada yang pernah membuatnya di Hindia-Belanda. Akhirnya pabrik-pabrik gula di daratan Banyumas Selatan; seperti PG Kalirejo, memutuskan untuk membuat saluran irigasi mandiri dalam skala kecil. Airnya diambil dari sungai-sungai kecil dan tentu saja karena debit airnya yang kecil, hasilnya tidak memuaskan (De Indische verlofganger, 1937).

Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenborough yang sedang meninjau saluran Gambarsari (Sumber : Zaans Volksblad Sociaal-democratisch Dagblad  23 Maret 1939).

Kebutuhan akan saluran irigasi untuk pertanian semakin mendesak setelah terjadi krisis ekonomi tahun 1930-an. Saat itu banyak pabrik gula yang berhenti beroperasi dan tidak menanam tebu lagi. Akibatnya petani yang selama ini mengandalkan upah sebagai buruh kontrak kehilangan pendapatannya. Irigasi akhirnya menjadi kebutuhan yang mendesak agar tanah-tanah tersebut dapat diolah lagi oleh penduduk (De Indische verlofganger, 1937). Harapan untuk dapat membuat saluran irigasi yang layak di dataran Kroya mulai terwujud pada tahun 1936 dengan dibuatnya proyek irigasi Kroja-Werken oleh Provincialen Waterstaatsdienst, satuan kerja pemerintah kolonial untuk mengelola sumber daya air di wilayah provinsi Jawa Tengah. Dana hibah dari Belanda sebesar 2,5 juta gulden dikucurkan untuk mendanai proyek tersebut. Keberadaan proyek tersebut rupanya membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal yang saat itu banyak kehilangan mata pencaharian akibat krisis malaise yang membuat banyak pabrik gula di sekitar Banyumas ditutup. 

Pembangunan rumah pompa Gambarsari (Sumber : De Locomotief 8 Februari 1939)

Saluran-saluran air segera digali di tempat yang sudah ditentukan. Selagi bagian pertama saluran sedang dibangun, para insinyur di Provincialen Waterstaatsdienst yang saat itu dipimpin oleh Ir. P.J.A Wijn berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk dapat membawa air Sungai Serayu masuk ke dalam saluran. Pilihan pertama masih sama dengan wacana dari tahun 1929, yakni membuat bendung gerak di Sungai Serayu yang dapat membuat permukaan air sungai akan naik dan setelah mencapai ketinggian yang diinginkan, air akan mengalir ke dalam saluran. Sayangnya pembuatan bendung gerak dinilai memiliki resiko tinggi dan biaya yang lebih besar untuk dibangun. Pilihan lainnya adalah dengan menyedot air Sungai Serayu dengan mesin pompa. 

Rumah pompa Gambarsari setelah selesai dibangun.
(Sumber : De Locomotief 20 Maret 1939)

Para insinyur Belanda sudah familiar dengan teknologi mesin pompa air karena teknologi tersebut sejak lama sudah digunakan di Belanda untuk memompa genangan air ke tempat yang lebih tinggi sehingga terbentuk daratan baru yang dapat diolah menjadi lahan-lahan pertanian. Penggunaan pompa untuk irigasi juga sudah digunakan oleh perusahaan-peruhaan perkebunan tebu meski dalam skala yang kecil. Di antara pilihan membuat bendung gerak atau rumah pompa, akhirnya pilihan kedua yang dipilih karena biaya pembangunannya dinilai lebih murah dan resikonya lebih sedikit. Dengan demikian, proyek irigasi Kroya-werken diklaim sebagai proyek irigasi skala besar pertama di Hindia-Belanda yang menerapkan teknologi pompa air (De Indische mercuur30 Desember 1936).

Saluran dan inlet Gambarsai. (Sumber : De Locomotief 20 Maret 1939)

Jejak pertama dari proyek Kroya Werken yang masih dapat dilihat adalah eks bangunan rumah pompa Gambarsari. Jika diperhatikan, rumah pompa Gambarsari tidak dibangun berdekatan langsung Sungai Serayu. Air Sungai Serayu rupanya tidak langsung disedot begitu saja karena Sungai Serayu membawa sedimen lumpur yang cukup besar sehingga sedimen tersebut dapat menjadi tumpukan endapan yang menyumbat saluran. Struktur lumpur halus juga yang dapat menyebabkan tanah menjadi keras. Oleh karena itu sebelum disedot, air dialirkan lewat sebuah saluran yang nantinya endapan lumpur perlahan akan mengendap dan tertampung dalam saluran tersebut. Pada saat tertentu, endapan tersebut akan dibuang lagi ke Sungai Serayu. Air dari Sungai Serayu mengalir masuk ke dalam saluran lewat pintu air yang titiknya dipilihkan di kedung atau bagian terdalam sungai (De Indische verlofganger 1937).

Sisa irigasi Kroja-Werken. Keterangan : A. Rumah pompa Gambarsari, B. Rumah pompa Pesanggrahan, Garis biru : Kroja-leiding, Garis hijau : Doplang-leiding, Garis merah : Soempioeh-leiding.


Bangunan rumah pompa Gambarsari yang saat ini sudah tidak berfungsi.

Proses pembangunan gedung mesin pompa Gambarsari dikerjakan oleh Perusahaan Hollandsche Beton Maatschappij. Bangunan rumah pompa Gambarsari dilengkapi dengan empat mesin pompa yang dapat menyedot air sekitar satu setengah juta meter kubik air per hari. Sementara itu satu mesin pompa difungsikan sebagai mesin Cadangan yang baru dinyalakan jika salah satu mesin pompa utama mengalami kerusakan atau sedang dalam perawatan. Mesin pompa tersebut dipasok dan dirakit oleh Perusahaan Stork dari Hengelo. Pekerjaan Kroya-werken melibatkan sejumlah insinyur, pengawas, juru gambar, surveyor, mandor, dan buruh. Meskipun sudah mengerahkan banyak pekerja, ada beberapa bagian proyek yang kemajuan pekerjaannya berjalan cukup pelan. Misalnya bagian saluran antara pintu air dan rumah pompa. Bagian tersebut awalnya digarap oleh kontraktor swasta namun kemudian diambil sendiri oleh pemerintah karena lambat. Meskipun sudah mengerahkan banyak pekerjan, bangunan rumah pompa Gambarsari ternyata juga masih belum selesai sehingga pembangunannya dikerjakan dengan tempo yang lebih cepat (De locomotief 14 Maret 1939).

Gubernur Jenderal Tjarda Van Stakenborough yang sedang menekan tuas sebagai tanda diresmikannya rumah pompa Gambarsari.
(Sumber : Soerabaijasch handelsblad 17 Maret 1939)

Ketika tanggal peresmian tiba, yakni 14 Maret 1939, bangunan rumah pompa ternyata masih belum sepenuhnya tuntas. Namun hal tersebut tidak menghalangi seremoni peresmian yang sudah dijadwalkan. Terlebih orang yang meresmikannya adalah orang nomor satu di Hindia-Belanda, gubernur jenderal Tjarda van Starkenborg. Sambutan penduduk pada acara tersebut begitu antusias seperti yang dicatat dalam De Indische courant 15 Maret 1939, dimana “penduduk telah berkumpul di berbagai titik di sepanjang jalan Purwokerto-Gambarsari agar dapat melihat rombongan Gubernur Jenderal yang akan melewati jalan tersebut. Bendera merah-putih-biru, berkibar di depan rumah-rumah sepanjang jalan”. Gubernur Jenderal mengangkat tuas mesin di dekat mimbar dan deru suara mesin segera mengisi rumah pompa sebagai tanda bahwa rumah pompa Gambarsari sudah mulai beroperasi. (De Indische courant 15 Maret 1939).

Bangunan yang dahulu digunakan untuk kantor administrasi.
Bangunan yang dahulu digunakan untuk tempat tinggal pengawas rumah pompa Gambarsari.
Tampak bangunan gardu induk, kantor, dan rumah penjaga dari seberang saluran.

Dari Gambarsari, air selanjutnya dialirkan melewati sebuah saluran panjang. Sesampainya di Sampang, air tersebut didistribusikan ke tiga saluran lain, yakni saluran Induk Maos, Saluran Induk Sumpiuh, dan Saluran Sekunder Doplang. Pembuatan saluran tersebut dibangun oleh kontraktor yang berbeda. Misalnya saluran dari rumah pompa Gambarsari hingga pintu distribusi Sampang dibuat oleh Kuhbauch, pintu distribusi Sampang dibuat oleh Hangelbroek, saluran sekunder doplang dibuat oleh M. J. Reksomidjojo, dan saluran induk Maos dibuat oleh T.H. The. Biaya pekerjaan Kroya-werken; baik pembangunan rumah pompa dan salurannya, diperkirakan menghabiskan biaya hingga 1.600.000 gulden dan perawatan tahunan akan menelan biaya sebesar 121.000 gulden per tahun. Kendati biaya Pembangunan dan pemeliharaanya cukup besar, namun keberadaan Kroja-werken memberi manfaat ekonomi yang jauh lebih besar. Diperkirakan keberadaan Kroja-Werken dapat meningkatkan jumlah nilai panenan dari yang semula 2.017.000 gulden menjadi 2.838.000 per tahun (Algemeen Handelsblad 25 Maret 1939).



Kondisi bangunan rumah pompa Pesanggrahan saat ini.

Selain di Gambarsari, rumah pompa kedua dibangun di arah hilir di sisi barat Sungai Serayu. Letaknya berada di Desa Pesanggrahan yang masuk wilayah Kabupaten Cilacap. Tujuan dibangunnya rumah pompa pesanggrahan adalah agar wilayah yang berada di sisi barat Sungai Serayu juga dapat memanfaatkan keberadaan Sungai Serayu. Awalnya, irigasi di wilayah tersebut akan disambung dari Gambarsari dengan menggunakan sebuah akuaduk atau jembatan air yang ada di atas Sungai Serayu. Namun setelah dilakukan perhitungan kembali, ternyata jauh lebih menguntungkan untuk membangun rumah pompa kedua dibandingkan hanya mengandalkan rumah pompa Gambarsari dan membangun akuaduk. Begitulah alasannya mengapa rumah pompa Pesanggarhan dibangun (De Indische verlofganger, 1937). Rumah pompa dilengkapi dengan tiga mesin pompa, dimana salah satu mesin pompa difungsikan sebagai pompa cadangan jika sewaktu-waktu mesin utama mengalami kerusakan.

Pintu air rumah pompa Pesanggrahan.
Kondisi saat ini saluran buang air irigasi.

Rumah pompa Pesanggrahan dapat menyedot air sebanyak 4060 liter per detik. Mesin pompa Pasanggrahan disediakan oleh penyedia yang sama dengan rumah pompa Gambarsari, yakni dari Perusahaan Stork. Sebagaimana rumah pompa Gambarsari, air dari Sungai Serayu dimasukan ke rumah pompa Pasanggrahan lewat pintu air dan sebelum disedot, air ditampung dalam sebuah saluran untuk mengendapkan sedimen yang terbawa air sehingga sedimen tersebut tidak ikut tersedot ke dalam. Pembangunan rumah pompa pesanggrahan dan salurannya dikerjakan oleh kontraktor Pluyter. Satu-satunya bagian yang tidak dikerjakan lewat kontraktor adalah bagian pintu air guna mempercepat pembangunan rumah pompa Pasanggrahan karena tenggat waktu pekerjaanya hampir berakhir.

Tampak gardu listrik Gambarsari pada tahun 1940.
Gardu listrik Gambarsari.
Gardu listrik Pesanggarahan.

Di dekat rumah pompa Gambarsari maupun Pesanggrahan, dapat ditemukan keberadaan bangunan gardu listrik mengingat kedua pompa tersebut menggunakan mesin pompa bertenaga listrik. Awalnya, air untuk rumah pompa akan dipasok dari PLTA yang airnya disadap dari Sungai Serayu dan dialirkan menuju Kali Bengawan yang lebih rendah. Namun rencana tersebut tidak jadi dibuat karena ada kendala teknis. Bagaimanapun juga, keberadaan rumah pompa tersebut tidak akan berfungsi jika tidak ada pasokan listrik untuk menggerakan pompa. Masalah kelistrikaan untuk pompa akhirnya terjawab setelah perusahaan listrik negara, ANIEM, bersedia untuk memasok listrik ke rumah pompa. Mereka menyelesaikan sebuah PLTA di Ketenger, Baturaden yang mulai beroperasi pada 1 Februari 1939. Gardu listrik tersebut selain memasok listrik ke rumah pompa juga berfungsi sebagai transformator. Listrik dari gardu ini diteruskan menuju gardu listrik Pesanggrahan yang kemudian diteruskan ke Maos dan Cilacap. Dari gardu listrik Gambarsari juga, listrik selanjutnya didistribusikan juga ke Kroja, Sumpiuh, dan Karanganyar. Sistem kelistrikan internal rumah pompa disediakan dan dipasang oleh Perusahaan Van Swaay (Goemans, 1940 ; 156)


Seiring dengan kemajuan zaman, keberadaan mesin pompa di Gambarsari dan Pesanggrahan dinilai memiliki kekurangan karena operasionalnya bergantung pada pasokan listrik sebagai sumber tenaga penggerak dan kondisi mesin. Alhasil saat listrik sedang mengalami gangguan atau mesin pompa tidak dapat digunakan karena sedang diperbaiki, irigasi menjadi terganggu. Oleh sebab itulah para insinyur Belanda berkeinginan untuk dapat membuat bendung gerak di Sungai Serayu walau karena suatu alasan keinginan tersebut belum terlaksana. Keinginan tersebut baru terlaksana beberapa dekade dengan dibangunnya Bendung Gerak Serayu pada tahun 1993 dan diresmikan pada tahun 1996 oleh Presiden Suharto. Semenjak saat itu, bangunan pompa Gambarsari maupun Pesanggrahan tidak lagi digunakan dan menjadi semacam monumen sejarah irigasi. Kendati kedua bangunan pompa sudah tidak digunakan, namun jaringan irigasi yang sudah dirintis oleh para insinyur Belanda masih memberikan manfaat hingga hari ini. Pada akhirnya, nilai utama keberhasilan suatu proyek tidak diukur dari seberapa meriah seremoninya, namun apakah proyek tersebut masih berguna hingga kemudian hari.

Referensi

De Indische verlofganger; blad gewijd aan de belangen van den Indischen verlofganger in Holland, jrg 16, 1937

1936. De Indische mercuur; orgaan gewijd aan den uitvoerhandel, jrg 59, 1936, no. 53

De Indische courant 15 Maret 1939

Algemeen Handelsblad 25 Maret 1939

De Locomotief 14 Maret 1939

Goemans, G.S. 1940. "Het waterkrachtwerk „Ketenger" der N. V. Algemeene Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij in de residentie Banjoemas (Java)" dalam Ingenieur in Ned. Indie No.9 1940. Bandung : Groep Ned.-IndiĆ« van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. hlmn 143-156.


Selasa, 01 Juli 2025

Dari Markas Kompeni Kecil ke Museum Bank Mandiri

Jalanan di depan Stasiun Jakarta Kota siang begitu ramai dengan hilir mudik aneka kendaraan. Persis di seberangnya, menjulang sebuah gedung yang tampak begitu modern. Tulisan Museum Bank Mandiri di atas gedung tersebut menunjukan fungsi gedung tersebut pada masa sekarang. Sementara tulisan "NEDERLANDSCHE HANDEL MAATSCHAPPIJ" yang terpampang di bawahnya menunjukkan empunya bangunan tersebut di masa sebelumnya. Marilah kita melangkah masuk ke dalam museum sekaligus memutar waktu mundur ke belakang, ketika para pegawai NHM sedang berkantor di gedung tersebut.

Hiasan kaca patri di atas pintu masuk, memperlihatkan lambang NHM (tengah), Kota Batavia (kiri), dan Amsterdam (kanan).

Logo perusahaan NHM (Sumber : Gedenkboek NHM).

Dibandingkan VOC, nama NHM mungkin kurang dikenal dalam sejarah Indonesia. Padahal NHM pada masa awal berdirinya memegang kendali yang cukup besar dalam jaringan niaga Belanda dengan koloninya. Latar belakang berdirinya NHM dapat ditarik pada abad ke-18. Saat itu, kondisi perekonomi Belanda secara umum mulai meredup setelah mencapai puncak keemasannya pada abad ke-16. Situasi memburuk ketika penguasa dari Perancis, Napoleon, mulai melebarkan kekuasaa dan pengaruhnya ke penjuru Benua Eropa. Negeri Belanda juga tidak luput dari pengaruh Napoleon dimana ia menempatkan saudaranya, Louis sebagai raja di sana. Sebagai langkah perlawanan, Inggris melakukan blokade pesisir Perancis dan Napoleon membalasnya dengan embargo perdagangan dengan Britania. Embargo tersebut menyebabkan jaringan perdagangan Belanda yang sudah dirintis sejak masa VOC terancam hancur. Selepas rezim Napoleon di Belanda berakhir, perekonomian Belanda mengalami titik terendah padahal di masa sebelumnya Belanda menyandang status sebagai raksasa ekonomi Eropa. Bersamaan dengan surutnya ekonomi Belanda, Inggris mulai merangkak naik sebagai raksasa baru yang akan mendominasi perekonomian dunia selama abad ke-19 (Nederlandsche Handel Maatschappij, 1924: 4).

Lukisan potret Raja Willem I, tokoh utama di balik pendirian NHM. 
(Sumber : Gedenkboek NHM)

Eksistensi Belanda dalam jaringan perdagangan dunia nyaris terkikis. Oleh sebab itu, diperlukan suatu tindakan agar perekonomian Belanda bisa kembali terangkat walau tidak akan sejaya seperti pada masa keemasaanya. Salah satu tindakan tersebut adalah mendirikan kembali sebuah perusahaan seperti VOC. Raja Belanda, Willem I, mendukung tindakan tersebut dan ia lantas mengeluarkan dikrit pada 29 Maret 1824 sebagai dasar pendirian Nederlandsch Handel Maatschappij. Meskipun NHM didirikan atas perintah raja Belanda, NHM berstatus sebagai perusahaan swasta dimana setiap individu dapat menanam sahamnya di situ. Raja Belanda ternyata juga ikut memegang saham NHM dan dengan demikian NHM memiliki hubungan dekat dengan kerajaan Belanda. Dewan Direksi NHM berkedudukan di Den Hag, sementara kantor-kantor perwakilan dibuka di Amsterdam, Rotterdam, Antwerp, dan Batavia. Tugas utama NHM adala membiayai perdagangan Belanda dan pengiriman barang-barang antara negeri Belanda dengan koloninya. Keberadaanya diharapkan dapat memperkuat kembali bekas-bekas jaringan dagang lama yang sempat terputus sekaligus merintis simpul-simpul perdagangan baru di seluruh dunia (Nederlandsche Handel Maatschappij, 1924: 7-8). 

Sebuah trem melintas di depan bangunan NHM pada tahun 1938. 
(Sumber : data.collectienederland.nl)

Perwakilan NHM di Batavia memiliki keistimewaan dibanding kantor perwakilan lainnya karena mereka lebih independen dan mereka memiliki nama Factorij der Nederlandche Handel-Maatschappij. Oleh karena itulah NHM Batavia dahulu lebih kondang dengan nama Factorij. Factorij Batavia membuka perwakilan di Semarang, Surabaya, Padang. Tugas utama Factorij adalah mengurus kegiatan pengiriman dan penjualan barang di Jawa (Nederlandsche Handel Maatschappij, 1924 : 9). Kendati Jawa sudah menjadi basis VOC di Nusantara sejak lama, namun nilai ekspor barang dari Jawa masih terhitung sangat rendah. Komoditas ekspor yang paling banyak dihasilkan sebatas kopi yang harganya tidak menentu di pasaran dunia. Sementara itu, total nilai impor barang cenderung naik sehingga neraca perdagangan Hindia-Belanda menunjukan angka defisit. 

Gedung Kantor lama NHM di Kali Besar. (Sumber : Gedenkboek NHM)

Keuangan pemerintah kolonial semakin tertekan untuk membiayai militer mereka dalam Perang Jawa pada tahun 1825-1830. Untuk menambah kas pemerintah kolonial, Gubernur Jenderal Belanda mewajibkan penduduk pribumi untuk menanam jenis tanaman yang sudah ditentukan oleh pemerintah kolonial. Tanaman komoditas baru diperkenalkan dan ditanam dalam skala luas seperti nila dan tebu yang kemudian diikuti dengan tanaman lainnya seperti tembakau, teh, kina, dan karet. Nilai ekspor dari Jawa akhirnya meningkat drastis. Hasil bumi dari berbagai penjuru disetor kepada pemerintah dan NHM selanjutnya bertindak selaku agen tunggal yang akan memasarkan hasil bumi dari Nusantara ke Belanda. Dari penjualannya, NHM menerima komisi sebesar 11 %  walau akhirnya turun hingga 1,5 %. Julukan “Klein Compagnie” atau kompeni kecil akhirnya disematkan kepada NHM karena perannya yang memang mirip dengan VOC, yakni memonopoli penjualan produk-produk dari Hindia-Belanda meski dalam skala yang lebih kecil (Stuart, 1934: 94).

Suasana jalanan di depan kantor NHM pada tahun 1870-an. Tampak kantor NHM yang berada di seberang pohon (Sumber : data.collectienederland.nl).

Kebijakan tanam paksa menerima kritik tajam dari kalangan liberal di Belanda sehingga pemerintah kolonial secara bertahap mengurangi jenis tanaman yang wajib ditanam penduduk. Sebagai gantinya, berbagai komoditas tanaman akan diusahakan oleh perusahaan swasta sehingga investor-investor mulai mendirikan perusahaan perkebunan dan mereka memasarkan sendiri hasil perkebunannya tanpa perantara NHM. Kendati NHM sudah tidak menjadi perantara utama, peran NHM masih memegang peran penting dalam perkembangan ekonomi di Hindia-Belanda, terutama di sektor agribisnis. Dengan kapital yang dimilikinya, Factorij memberi pinjaman kredit kepada pengusaha perkebunan yang membutuhkan modal uang untuk membuka perkebunan pada tahun 1882. Sayap bisnis Factorij kemudian diperluas dengan membuka layanan deposito dan giro untuk pihak ketiga pada 1 September 1883. Factorij yang semula adalah agen perdagangan yang melayani pemerintah, akhirnya berubah menjadi perusahaan finansial yang melayani ratusan nasabah swasta (Gedenkboek NHM 84-85). Pergeseran arah bisnis ke perbankan membuat Factorij harus bekerja lebih keras lagi karena persaingan dunia keuangan di Hindia-Belanda cukup ketat dengan keberadaan perusahaan keuangan lain seperti Nederlandsch Indische Handels Bank dan Escompto.

Gedung kantor dan pabrik Carl Shlipper. Di atas bangunan ini kemudian didirikan gedung kantor baru NHM. (Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Kantor Factorij di Batavia awalnya menempati sebuah gedung di tepi Kali Besar yang dibeli pada tahun 1842 dari firma Smit & Co yang saat itu sudah bangkrut dengan harga 50.000 gulden. Kantor Factorij sempat diperbesar pada tahun 1854-1855 dan walaupun sudah diperbesar, gedung Factorij bukanlah gedung yang termasuk menonjol arsitekturnya pada masa itu. Pada awal tahun 1910-an, Factorij berencana untuk memindahkan kantornya ke lokasi lain seiring dengan bertambah banyaknya kegiatan Factorij yang mengharuskan mereka untuk memiliki gedung kantor yang lebih besar. Mereka sudah mengincar area di sekitar lapangan Gambir sebagai lokasi kantor namun akhirnya dibatalkan. Pada tahun 1913, gedung perusahaan otomotif Carl Schlieper di selatan De Javasche Bank terbakar. Bekasnya kemudian dibeli oleh Factorij dan mereka memutuskan untuk mendirikan kantor baru di sana. Namun Factorij tidak segera membangun karena saat itu harga material bangunan sedang  melonjak akibat di Eropa terjadi Perang Dunia Pertama. Sesudah Perang berakhir, Factorij juga belum bisa langsung mendirikan gedung kantor baru karena keuangan Factorij sedang tidak menentu (De Sumatra Post, 10 September 1929).

Rancangan denah gedung kantor baru Factorij (Sumber : data.collectienederland.nl).

Setelah menunggu sekian lama, Factorij akhirnya memulai pembangunan gedung baru yang ditandai dengan upacara pemancangan tiang beton pertama pada tanggal 3 Oktober 1929. Tiang beton tersebut dipasang oleh istri dari presiden Factorij, Martine Lagaay. Pembangunan gedung Factorij sebenarnya sudah dimulai dua bulan sebelumnya namun para pekerja terlebih dahulu harus menyingkirkan sisa pondasi gedung Carl Schlieper dan mereka juga sempat menemukan sisa tembok kota Batavia dari era VOC. Kendati tembok tersebut cukup tebal dan sulit dibongkar oleh pekerja, namun pekerjaan tersebut harus dilakukan karena tanah dimana gedung akan dibangun akan ditanam tiang-tiang pancang beton sebagai perkuatan pondasi. Selama pekerjaan berlangsung, karyawan Factorij bekerja di kantor Nederlandsch Indische Handelsbank. Dalam pembangunan tersebut, rute trem kota juga ikut digeser (De Sumatra post 10 September 1929).

A. P Smits, salah satu arsitek gedung Factorij.
(Sumber : Bataviaasch Nieuwsblad 9 Januari 1933)

C. van Linde, salah satu arsitek gedung Factorij
(Sumber : Bataviaasch Nieuwsblad 9 Januari 1933).

Suasana pembukaan gedung baru Factorij (Sumber :  De Locomotief 20 Januari 1933).

Sebagai perusahaan besar, NHM tentu tak ingin memiliki gedung semenjana, apalagi letak gedung tersebut dipilih dekat jantung kota lama Batavia. Gedung tersebut dirancang oleh arsitek dari biro arsitek B.N.A, A.P. Smits, dan C. Van der Linde berdasarkan arahan dari J.J.J. de Bruyn, penasihat teknis NHM. Untuk mengawasi agar karyanya dibangun dengan benar, C. Van Der Linde mengawasi langsung proyek tersebut setiap hari. Proses Pembangunan dilakukan oleh pemborong N.V. De Hollandsche Beton Maatschappij dan NEDAM. Setelah melewati proses pembangunan yang cukup panjang, gedung kantor baru Factorij diresmikan pada 14 Januari 1933. Upacara peresmiannya dilakukan cukup meriah dan Factorij menerima banyak karangan bunga sebagai bentuk ucapan selamat atas peresmian gedung baru Factorij. Esok harinya, Factorij memberi kesempatan pada Masyarakat umum untuk melihat-lihat bagian dalam Gedung dengan membayar sebesar 50 sen. Hasil pendapatan tersebut akan disumbangkan untuk para pengangguran yang saat itu adalah korban dari dampak krisis malaise (Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indiƫ, 17 Januari 1933).

Tampak depan gedung NHM dilihat dari utara. Lokasi tempat pengambilan foto ini kemudian menjadi gedung kantor Nederlandsch Indsiche Handelsbank
(Sumber : data.collectienederland.nl).

Gedung Factorij dilihat dari udara (Sumber : data.collectienederland.nl).

Smits dan Van der Linde sebagaimana banyak arsitek yang berorientasi Barat, membangun gedung Factorij dengan pendekatan yang disebut ‘klasik modern’. Suatu gaya arsitektur yang diilhami gaya arsitektur Amsterdamse School  namun dalam versi yang disederhanakan dan menampilkan kekokohan karya arsitek Amerika F. L. Wright. Peniruan tersebut selanjutnya diikuti dengan penyesuaian pada iklim tropis. Beberapa ciri khas arsitektur dari gaya ini yang terlihat pada gedung kantor Factorij seperti atap besar yang melebar, arsitektur yang menghadirkan wajah gedung dengan garis-garis datar dan tegak lurus, tampilan sengaja dibuat simetris, tiang bendera, dinding yang dipasangi ubin, dan adanya jendela kaca patri. Arsitek yang sama kemudian menduplikasi bentuk gedung Factorij dalam ukuran yang lebih kecil pada gedung NHM Medan.

Tampak depan gedung saat ini.

Gedung Factorij berdiri di atas lahan seluas 100 m x 100 m. Fasad depan bangunan memiliki panjang 97 m dan lebar ke belakang sebesar 94 m. Di bagian tengah gedung, terdapat sbeuah halaman terbuka berukuran 35 m x 54 m. Untuk menstabilkan tanah, maka pondasi gedung diperkuat dengan 1750 tiang pancang beton bertulang berbentuk segi delapan dengan panjang 17-18 m dan diameter kepala 35 cm. Konstruksi gedung menggunakan teknologi beton bertulang buatan Hollandsch Beton Maatschappij yang membuat gedung ini masih kokoh hingga hari ini. Untuk menambah kekokohan bangunan, dinding tidak memakai bata buatan lokal, melainkan batu-bata dari Belanda yang lebih kuat (Anonim, 1934 : 1-2). Material impor lainnya adalah ubin kaca Venesia yang berkilau dan kaya warna untuk memperindah ruang pelayanan utama, ruang rapat, dan kantor manajer. Meskipun Gedung ini cukup banyak menggunakan material impor, namun sejumlah material local juga digunakan pada Gedung ini. Misalnya adalah batu andesit dari Padalarang yang digunakan untuk melapisi dinding bagian bawah.

Kondisi bagian belakang gedung pada tahun 1935. (Sumber : Kantoorgebouw Nederlandsche Handel Maatschappij, N.V. Factorij Batavia).

Tampak belakang gedung saat ini.

Beranda gedung.

Sebagai adaptasi terhadap lingkungan sekitar yang merupakan iklim tropis, maka arsitektur gedung dibuat sedemikian cermat agar bagian dalam gedung, terutama ruang kerja yang ditempatkan di dua sayap samping, tetap sejuk dan tidak terlalu panas pada siang hari. Salah satu upaya tersebut adalah dengan memberi beranda keliling selebar 3 m yang melindungi bagian dalam ruangan dari terpaan panas matahari dan hujan. Pintu dan jendela dibuat dalam jumlah banyak dan sengaja dibiarkan tetap terbuka di siang hari untuk sirkulasi udara. Selain dari bukaan, sumber ventilasi lain untuk menyegarkan udara ruangan berasal dari empat ventilasi yang dipasang di menara atap. 

Tampak bagian ruang pelayanan publik pada tahun 1934. (Sumber Kantoorgebouw Nederlandsche Handel Maatschappij, N.V. Factorij Batavia).


Area ruang pelayanan publik pada massa sekarang.


Area ruang kerja karyawan.

Pengunjung gedung Factorij memasuki gedung lewat pintu tengah. Pada bagian atas pintu masuk, kita akan menjumpai tiga jendela kaca patri; kiri melambangkan kota Batavia, tengah adalah lambang NHM, dan kanan adalah lambang kota Amsterdam. Dari pintu masuk selanjutnya kita menaiki tangga utama yang terbuat dari batu granit Webemer. Dinding kanan kirinya juga dilapisi dengan material yang sama. Di dekat, terdapat dua tangga lain dari material batu granit Fezlberger yang khusus digunakan untuk pegawai. Tangga utama mengarahkan kita ke ruang pelayanan nasabah Factorij. Ruang tersebut berupa aula besar yang diberi sekat berupa meja yang alasnya terbuat dari marmer Bois-Jourdan dan jeruji perunggu. Dari ruangan ini kita bisa membayangkan suasana transaksi dan kesibukan pegawai Factorij di masa lalu. Jika sudah suntuk dengan pekerjaan, pegawai dapat bersantai di ruang kopi. Mereka tidak memesan kopi dari luar, melainkan dipersiapkan dari dapur di belakang. Di dekat dapur, terdapat kamar untuk tempat tinggal penjaga gedung yang bertugas untuk menjaga gedung setelah seluruh pegawai pulang dan membersihkan gedung pagi hari sebelum aktivitas kantor dimulai.

Akses masuk ke ruang khazanah.


Pintu masuk ke dalam ruang khazanah. (Sumber : Kantoorgebouw Nederlandsche Handel Maatschappij, N.V. Factorij Batavia)

Dari ruang nasabah, selanjutnya kita akan menuruni tangga menuju ruang kluis atau ruang khazanah yang ada di bawah tanah. Ruang kluis yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bank vault yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan uang tunai dan barang-barang berharga yang dijaminkan oleh para kreditor. Mengingat keberadaan barang-barang berharga yang ada di dalamnya, maka keamanannya harus dibuat ekstra agar tidak mudah dibobol dari luar. Pada zaman dahulu, tidak semua orang bebas keluar masuk ke ruang kluis ini sehingga keberadaan ruangan ini memberikan kesempatan kepada kita tentang teknologi pengamanan pada sebuah bank. Sebelum memasuki ruang kluis, kita akan disambut dengan sebuah pintu besar nan tebal yang dilengkapi dengan metode penguncian ganda. Pertama dengan kombinasi angka rahasia dan kedua dengan sistem timelock atau kunci waktu. Dalam sistem timelock, pintu brankas hanya dapat terbuka pada waktu yang sudah ditentukan. Dengan demikian sekalipun penjahat berhasil mengetahui sandinya, mereka tetap tidak akan bisa membuka pintu sluis. Pintu seberat 5-6 ton tersebut tentu juga akan menyulitkan para penjahat yang mendobrak paksa pintu tersebut. Supaya keamanan ruang kluis semakin terjamin, dinding ruang kluis dibuat setebal satu meter. Tembok tebal tersebut selain untuk melindungi barang-barang berharga di dalamnya juga berfungsi sebagai penopang lantai di atasnya. Dinding ruang kluis diberi lorong sehingga dinding ruang kluis tidak dapat dijebol langsung dari luar.

Ruang privat untuk nasabah prioritas.


Tampak bagian dalam ruang Safe Deposit Box.

Memasuki area bagian dalam sluis, kita akan diperlihatkan dengan aneka brankas kuno berbagai pabrikan yang dapat memberikan gambaran kepada kita tentang perkembangan teknologi pengamanan barang berharga pada saat gedung dibangun. Area penyimpanan ruang kluis terbagi menjadi tiga bagian, yakni penyimpanan uang, surat berharga dan safe deposit box atau SDB untuk menyimpan barang-barang berharga dengan kapasitas 2000 loker. NHM menyediakan layanan SDB yang dapat disewakan oleh nasabah. Layanan SDB biasanya digunakan oleh nasabah yang merasa tidak aman menyimpan barang berharganya di rumah. Kunci SDB dipegang oleh dua pihak, yakni Bank dan nasabah penyewa SDB. Untuk nasabah prioritas, NHM menyediakan ruang privat sebanyak 12 kamar sehingga privasi nasabah saat membuka kota SDB lebih terjamin. Barang berharga yang biasanya disimpan dalam SDB meliputi emas, berlian, perak dan surat-surat berharga. Bank-bank pada masa sekarang masih banyak yang menyediakan fasilitas SDB. Hanya saja seiring transaksi sudah serba elektronik, maka nasabah bank pada masa sekarang sudah tidak perlu ke ruang kluis untuk menyimpan atau mengambil lembaran saham untuk dijual. 

Lift barang yang ada di sudut gedung. Lift ini digunakan untuk memindahkan buku-buku catatan ke ruang arsip di lantai paling atas.

Selain bentuk arsitekturnya, teknologi yang digunakan dalam Gedung Factorij juga sudah sangat modern pada masanya. Gedung ini menggunakan dua jenis lift, lift orang untuk kapasitas 4 dan 12 orang dan lift kecil barang untuk memindahkan barang menuju ruang arsip di lantai paling atas gedung. Lift tersebut digerakan oleh listrik, dimana ruang trafo dan pusat pengendali listrik gedung ditempatkan di bawah tanah. Selain untuk menggerakan lift, jaringan listrik di gedung digunakan untuk menyalakan lampu dan kipas angin. Pada ruangan penting seperti ruang brankas, digunakan lampu darurat yang akan otomatis menyala jika terjadi pemadaman listrik tiba-tiba. Aspek keamanan juga sudah diperhitungkan dengan matang, dimana sebuah hidran ditempatkan tidak jauh dari gedung.


Kaca patri di gedung Factorij. (Sumber : Kantoorgebouw Nederlandsche Handel Maatschappij, N.V. Factorij Batavia)

C.J.K van Aalst, Presiden NHM yang menyumbangkan kaca patri pada gedung NHM Batavia. (Sumber : Gedenkboek NHM)

Cahaya matahari menembus jendela kaca patri kaya warna dan sarat hiasan simbolis. Keindahannya menyambut setiap orang saat mendaki tangga menuju ke ruang direksi. Jendela kaca patri tersebut adalah persembahan dari Presiden NHM pusat, C.J.K van Aalst, yang pernah berkarir di Facotrij Batavia pada tahun 1889. Kaca patri tersebut didesain oleh F. H. Abbing Jr, putra salah satu direksi NHM pusat di Batavia (Anonim, 1934 : 7). Setelah dirancang, panel-panel kaca yang terpisah-pisah disambung dengan cara dibakar. Proses penyambungannya dilakukan oleh W. Boogtman. Kaca patri tersebut terbagi menjadi lima bilah. Empat bilah menggambarkan suasana kehidupan empat musim di Eropa dengan satu bilah di tengah melambangkan keindahan alam tropis Nusantara. Bagian atas kaca patri tersebut juga terdapat kaca patri dalam ukuran yang lebih kecil dan terbagi menjadi lima bilah. Bilah paling kiri memperlihatkan sosok pelaut Belanda dari abad ke-16 dan bilah paling kanan menunjukan sosok orang Jawa. Selanjutnya di tengah-tengah terdapat potrait dari Cornelis de Houtman, pelaut Belanda pertama yang tiba di Nusantara.

Bekas ruangan rapat direksi Factorij.

Pada bagian lantai dua, terdapat ruang yang dahulu digunakan untuk ruang pertemuan direksi Factorij. Di sini, terpajang foto-foto direktur Bank Mandiri dari masa ke masa. Bank Mandiri yang dikenal orang saat ini adalah keturunan tidak langsung dari NHM dan perjalanan NHM menjadi Bank Mandiri cukup panjang. Sesudah kemerdekaan, NHM masih menjalankan operasinya di Indonesia meskipun pemerintah RI saat itu memiliki keinginan kuat untuk dapat menasionalisasi perwakilan NHM di Indonesia. Meerenggangnya hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Belanda akibat masalah Irian Barat menjadi momentum nasionalisasi NHM. Seluruh perwakilan NHM di Indonesia dinasionalisasi pada tahun 1960 dan dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan yang dilebur lagi ke dalam Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi BNI Unit II. Divisi ekspor impor dipisah dari BNI Unit II pada tahun 1968 untuk membentuk Bank Ekspor-Impor Indonesia atau dikenal sebagai Bank Exim. 

Bekas bangunan kantor pusat NHM di Amsterdam. Gedung ini sekarang menjadi kantor arsip kota Amsterdam. (Sumber : wikimedia.org).

Seluruh aset-aset NHM menjadi milik Bank Exim termasuk gedung Factorij di Batavia yang masih digunakan kantor Bank Exim hingga Bank Exim beserta bank-bank lainnya diintegrasikan ke Bank Mandiri pada tahun 1999 sebagai upaya restruktuirsasi paska Krisis Moneter 1998. Setelah peleburan Bank Exim ke Bank Mandiri, bekas gedung Bank Exim yang tidak terpakai akhirnya dimanfaatkan menjadi Museum Bank Mandiri. Lalu bagaimana nasib NHM induk di Belanda ? NHM di Belanda juga mengalami nasib yang sama, dimana NHM dilebur dengan Twentsche Bank menjadi Algemene Bank Nederland pada tahun 1964. Bekas gedung kantornya juga sama-sama masih dilestarikan dengan baik, dimana saat ini digunakan sebagai kantor arsip kota Amsterdam.

Sumber : 

Nederlandsche Handel Maatschappij. 1924. Gedenkboek  Der Nederlandsche Handel-Maatschappij  1824-1924. 'S Gravenhage : Drukkerij Mouton.

Nederlandsche Handel Maatschappij. 1924. A Brief History of Netherlands Trading Society. 'S Gravenhage : Drukkerij Mouton.

Anonim. 1934. Kantoorgebouw Nederlandsche Handel Maatschappij, N.V. Factorij Batavia. Batavia : G.Kolff & Co.

Stuart, Dr. G. M. Verrijn. 1934. Het Bankwezen in De Nederlandsche Kolonien. Wassenaar ; N.V. Uitgevers-Mij. v/h H.G Delwel.

De Sumatra Post, 10 September 1929.

Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indiƫ, 17 Januari 1933