Selasa, 03 Mei 2016

Mengingat Karya Van Lith di Kompleks Misi Muntilan

Kompleks misi itu adalah kompleks misi paling tersohor di Jawa. Nama-nama besar dalam sejarah penyebaran agama Katolik di Jawa seperti Mgr. A. Soegijapranata atau Soegija, pernah digembleng di tempat itu oleh seorang romo berwibawa tinggi, Romo Van Lith namanya. Ia membidani lahirnya sebuah kompleks misi yang paling berperan penting dalam sejarah penyebaran keyakinan Katolik di Jawa. Bagaimanakah perjuangan Van Lith membesarkan kompleks misi yang mengalami pasang surut itu dan seperti apakah karyanya yang tersisa sekarang ?  
Denah Kompleks Misi Muntilan. 
Keterangan : 1 : Gereja Santo Antonius. 2  : Museum Misi Muntilan. 3 : Pastoran. 4 : SMP Kanisius. 5 : Susteran OSF. 6 : SMA Pangudi Luhur Van Lith. 7 : Kerkhof Muntilan. 8 : Bruderan FIC. 9 : Kompleks SMK Van Lith. 10 : SD Materdei. 11 : SMP Marganinigsih.
Di suatu Sabtu pagi yang cerah, saya mengendari sepeda montor menyusuri Jalan Kartini, Muntilan yang tampak ramai oleh anak-anak yang baru saja pulang sekolah. Dari kejauhan, bayang-bayang gereja itu mulai terlihat jelas dengan salib yang berdiri anggun di puncaknya. Itulah Gereja St.Antonius Muntilan, jantung dari kompleks misi ini. Sayapun lantas berbelok masuk ke halaman gereja yang asri dan tenang itu untuk segera memulai napak tilas.
Gereja Santo Antonius Muntilan. Gereja ini dikeliling oleh selasar dengan plengkung-plengkungnya. Di bagian fasad depan terdapat elemen rose window atau Jendela Mawar yang lazim ditemui pada bangunan gereja,terutama Gereja Katolik. Jendela Mawar merupakan simbolisasi dari Maria.
Saya kira, halaman gereja itu akan terasa lengang tapi perkiraan saya ternyata salah. Terdengar teriakan anak-anak yang sedang berlatih olah raga di situ. Rupanya halaman gereja itu berbagi dengan sebuah sekolah menengah pertama, SMP Kanisius nama sekolah itu. Meskipun halaman cukup ramai, namun gereja itu tetaplah sepi. Pintu gereja masih terkunci. Tak ada ibadah umum di hari itu.
Tampak Gereja St. Antonius Padua Muntilan setelah selesai dibangun 
(sumber : Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 52 )
Interior gereja di masa lalu
(sumber : Muntilan Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 53).
Arsitektur gereja yang terlihat sederhana namun anggun itu merupakan buah tangan dari arsitek handal bernama, M.J. Hulswit, arsitek yang juga merancang banyak bangunan gereja di Jawa. Gereja yang mengambil nama seorang suci dari Padua, Italia itu selesai dibangun pada tanggal 25 Maret 1915 (Akihary, Huib. 1990; 100). Pada saat gereja itu selesai dibangun, kompleks kolese yang dirintis oleh Van Lith mulai mapan. Namun sebelumnya, butuh usaha keras darinya untuk mendirikan kompleks misi ini. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke masa silam, masa ketika Van Lith baru saja menjejakan kakinya di Muntilan pada tahun 1897, 18 tahun sebelum gereja itu dibangun.
Pastor F.van Lith (1863-1926), seorang Jesuit yang yang mendirikan Misi Muntilan. Van Lith sendiri termasuk sosok yang berseberangan dengan pemerintah kolonial. Ia kembali ke Belanda pada tahun 1920, namun sewaktu kembali lagi ke Indonesia, dia dihalang-halangi oleh pemerintah kolonial. Perlu kita ketahui, Van Lith memiliki teman dekat yang juga tokoh dari Sarekat Islam, yakni Haji Agus Salim.
Muntilan, 1897. Pria berjubah hitam itu sedang menyusuri sepenggal jalan nan ramai dengan deretan ruko-ruko bergaya Tionghoa yang berdiri di sepanjang kanan-kirinya. Dengan jubah hitamnya, pria pengikut ordo Serikat Jesuit itu sedang mencari rumah rekannya sesama Pastor bernama Pastor Stiphout. Pria itu bernama Pastor Fransiscus van Lith, S.J. Di rumah rekannya itulah ia akan tinggal dan memulai penyebaran ajaran Katolik di wilayah pedalaman Jawa.
Kompleks Misi Muntilan tahun 1935. Gambar diambil dari lantai tiga gedung Pastoran. (De Tijd  godsdienstig staatkundig dagblad tanggal 8 Agustus 1935).
Jawa sebelum masa kedatangan Van Lith bukanlah tempat yang baik untuk seorang pengikut Katolik. Selama masa VOC, para pengikut Katolik dipersekusi dan ditindas. Pasalnya VOC sendiri memiliki sentimen terhadap Spanyol, kerajaan Katolik yang dulu pernah menjajah Belanda. Praktis selama lebih dari dua abad, kegiatan penyebaran ajaran Katolik di Jawa tiarap. Para misionaris Eropapun rupanya juga tak begitu tertarik dengan Jawa. Mereka lebih tertarik menyebarkan iman Katolik di Vietnam atau Cina. Akhirnya, tatkala Daendels menjadi Gubernur Jenderal, aktivitas misionaris Katolik diizinkan olehnya.
Dua bruder yang sedang berdiri di depan kolam teratai. Di belakang terlihat bangunan gereja Santo Antonius Muntilan (sumber : media-kitlv.nl).
Sekalipun kegiatan pelayanan dan penyebaran ajaran Katolik sudah diizinkan oleh pemerintah kolonial, namun para misionaris masih menemui kendala. Kendala utama mereka ialah masih sulitnya mereka berbaur dengan masyarakat dan budaya Jawa. Van Lith menyadari hal tersebut dan iapun segera mempelajari kondisi sosial, adat dan bahasa Jawa. Menurut Djoko Soekiman dalam karyanya, Kebudayaan Indis ; Dari zaman Kompeni sampai Revolusi¸apa yang dilakukan oleh Van Lith ini ialah sebuah terobosan untuk mengalami kuatnya pengaruh Jawa dalam kebudayaan dan keagamaan.
Foto udara kota Muntilan pada tahun 1931. Nampak deretan ruko Pecinan di sepanjang jalan Magelang dan kompleks misi (kotak kuning) yang letaknya sedikit menjauh dari jalan raya. Merasa tak betah dengan keramaian Pecinan, Van Lith akhirnya pindah ke Desa Semampir yang letaknya masih dekat dengan pusat pemerintahan Muntilan (Sumber : media-kitlv.nl). 

Van Lith rupanya tak betah dengan hingar bingar kota Muntilan. Ia merasa jauh dari masyarakat Jawa. Oleh karena itulah ia menyingkir ke sebuah rumah sederhana di Desa Semampir yang letaknya masih dekat dengan pusat pemerintahan Muntilan. Tak ada yang tahu, bahwa di rumah sederhana itulah nantinya akan berkembang sebuah kompleks misi paling tersohor di Jawa.
Kegiatan belajar di kolese. Foto ini berasal dari kartu pos terbitan sekitar tahun 1910. Kadang sumber dana untuk kegiatan misi berasal dari penjualan kartu pos menggambarkan kegiatan misi seperti kegiatan belajar ini (Sumber :media.kitlv.nl).
20 Desember 1898, Pastor Van Lith, bersama Pastor Houvenars, Hebrans, dan Engebers mengadakan suatu perundingan yang membahas nasib kegiatan misi Katolik di Jawa ke depannya nanti. Dari perundingan itu, akhirnya diputuskan bahwa Kedu bakal menjadi titik awal penyebaran misi Katolik di Jawa bagian tengah. Pertimbangannya ialah bahwa posisi Kedu dekat dengan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa, tempat dimana para misionaris akan mempelajari kebudayaan Jawa. Kedu juga dekat dengan Semarang, tempat misi Katolik sudah berjalan cukup mapan sehingga diharapkan dari Semarang dapat memberi secercah harapan untuk misi di Kedu ini ( Wietjens, 1995;8).
Salah satu alumnus kolese Xaverius, Romo F. X Satiman ketika sedang bertugas di Banjarmasin pada tahun 1952 (sumber : media-kitlv.nl).
Pendidikan adalah media yang dipilih oleh Van Lith. Dengan pendidikan, Van Lith berharap bisa memberikan suatu sumbangsih nyata untuk masyakarat Jawa yang menderita dibawah tekanan pemerintah kolonial. Tak sekedar menyebarkan ajaran Katolik saja, Van Lith rupanya juga berupaya untuk membantu masyarakat Jawa keluar dari kubangan lumpur kebodohan. Sebagai langkah awal, Pastor Van Lith membuka sebuah sekolah dasar. Lambat laun, murid yang belajar di sekolah itu semakin banyak, bangunan sekolah yang masih sederhana itu mulai dirasa kurang memadai. Jumlah guru yang tersedia pun rupanya juga tidak sebanding dengan murid yang ada. Sehingga Pastor Van Lith membuka sebuah sekolah tersendiri untuk menyediakan tenaga pengajar. Perjuangan Van Lith ini akhirnya sedikit tertolong di tahun 1911, ketika pemerintah kolonial memberi hibah dana kepada misi ini sehingga Van Lith dapat membangun kompleks sekolah yang lebih besar dan kondusif untuk belajar. Xaverius College adalah nama yang dipilihnya ketika kompleks sekolah ini selesai dibangun pada tanggl 18 Juni 1911. Nama itu diambil dari nama Fransiscus Xaverius, pendiri ordo Serikat Jesuit, ordo dimana Van Lith bernaung bersamanya
Denah Kolese Xaverius. Tampak kompleks misi yang ditata rapi mengikuti alur Kali Lamat di selatannya. 
(sumber : Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 48).
Kini, saya duduk termangu di tepi sebuah kolam teratai. Di tengah kolam itu, patung Van Lith berdiri dengan anggunya, seolah ia masih ada di sini. Persis di belakang kolam itu, berdiri sebuah museum yang berisi memorabilia dan relikui yang mengisahkan perkembangan umat Katolik di Jawa Tengah. Saya kemudian memasuki museum tersebut dan disambut dengan hangat oleh penjaga museum. Museum itu cukup bersih dan terang. Koleksinya pun juga lumayan terawat dan setiap koleksi diberi penjelasan yang informatif. Salah satu koleksi yang menarik perhatian saya adalah sebuah bangku besar dari bambu. Sekalipun bangku tersebut terlihat sederhana, namun sosok yang pernah duduk di bangku itu bukanlah sekedar sosok biasa. Sosok tersebut ialah pemimpin umat Katolik seluruh dunia, Paus Yohanes Paulus II, Paus pertama yang mengunjungi Indonesia tahun 1989 silam. Ah, andai saja Van Lith waktu itu masih hidup. Pasti gembira sekali hatinya ketika kompleks misinya kedatangan tamu istimewa dari Vatikan tersebut…
Bagian depan Museum Misi Muntilan. Tampak patung Romo Van Lith yang berdiri dengan anggun di tengah kolam.
Beberapa koleksi yang ada di dalam Museum Misi Muntilan.
Dari museum, saya tiba-tiba diajak oleh penjaga museum untuk melihat lebih dekat gedung Pastoran yang letaknya masih dekat dengan museum tadi. Lokasinya yang berada di dekat gereja memudahkan pelaksanaan ibadah gereja karena biasanya yang menjadi imam gereja adalah pastor Paroki yang tinggal di dalam pastoran. Saya berdecak kagum ketika melihat gedung Pastoran yang masih tampak megah dan lestari. Di bangunan berlantai tiga itulah dulu Van Lith tinggal bersama para bruder dan pastor. Sebuah beranda tampak mencuat di bagian lantai tiga. Sayapun membayangkan sosok Van Lith sedang berdiri di beranda itu, sambil memandang kompleks misi dengan Gunung Sumbing yang terlihat samar-samar di barat.
Gedung Pastoran pada tahun 1937 (sumber : media-kitlv.nl).
Gedung Pastoran pada masa sekarang.
Lalu dari bagian depan Pastoran, saya diajak melihat bagian belakang Pastoran. Di situ terlihat deretan kamar-kamar tempat para bruder tinggal. Dari deretan kamar tadi, ada sebuah pintu yang tak terlalu besar. Dari pintu itu, jalan kemudian menurun dan samar-samar, terdengar gemericik aliran air. “ Itu Kali Lamat mas”, jelas bapak itu, menunjuk sebuah sungai yang alirannya tak begitu deras. “ Di situlah dulu anak-anak Kolese Xaverius mandi, mencuci, dan bermain air. Seringkali Opa Van Lith bermain air bersama mereka di situ. Beliau tak pernah malu berbaur dengan muridnya “, ujarnya. Tak hanya sebagai tempat mandi dan mencuci. Sungai itu juga kerap dipakai sebagai sarana baptis sehingga kadang sungai kecil itu disebut sebagai “Sungai Jordan dari Jawa“.

Napak tilas saya teruskan lagi, melihat bangunan lain di sekitar kompleks misi. Jenis bangunan yang paling mudah dijumpai di sini ialah gedung-gedung sekolah tua yang kini menjadi TK-SD Pangudi Luhur, SMA Pangudi Luhur van Lith, SMK Pangudi Luhur, TK Siswa Siwi, TK St. Theresia, SMP Marganingsih, SD Materdei, SD St.Yoseph, dan SMP Kanisius. Sepeninggal Van Lith, nasib Kolese Xaverius mengalami pasang surut. Awalnya, jumlah sekolah yang dibuka di lingkungan Kolese Xaverius kian bertambah dengan dibukanya sekolah seperti H.I.S, Normaalschool, Holland Chinesche School, Standaarschool, dan Schalkeschool. Krisis ekonomi yang menerpa di tahun 1930an tidak mengurangi aktivitas belajar di kolese itu. Dalam menerima murid, mereka tak memandang latar belakang dan dalam pengajaran tak ada paksaan untuk menjadi Katolik. Para lulusan Kolese Xaverius nantinya akan menjadi tokoh-tokoh Katolik terpandang seperti F.X Satiman, S.J, pastor bumiputera, Mgr.Albertus Soegijapranta, uskup pertama dari bangsa pribumi, I.J. Kasimo, politikus Katolik tiga zaman, dan Y.B Mangunwijaya, rohaniawan yang merangkap budayawan, arsitek dan aktivis. Maka, tidak heran jika Muntilan mendapat julukan sebagai Bethlehem van Java
Kegiatan makan bersama murid kolese (sumber : media-kitlv.nl).
Suasana bagian dalam kompleks Misi Muntilan yang terlihat asri (sumber : media-kitlv.nl).
Selain sebagai pusat pendidikan, kompleks misi ini juga menjadi jujugan warga pribumi yang ingin mendalami ajaran Katolik. Tak sedikit warga pribumi yang rela berjalan kaki dari pelosok desa di kaki perbukitan Menoreh ke Muntilan hanya sekedar untuk mengenal ajaran Katolik. Salah satu dari sekian warga tersebut ialah seorang guru agama Kristen bernama Dawud dari Kalibawang, Kulonprogo. Bersama empat kepala dusun, ia bertemu dengan Van Lith dan ingin belajar darinya. Tahun 1904, mereka membantu Van Lith menyebarkan ajaran Katolik di lereng Menoreh. Hasilnya, di akhir tahun yang sama, 172 orang telah dibaptis di mata air Sendangsono (idem, 1995;10).
SD Materdei.
Bagian luar SMP Kanisius.
Bagian dalam SMA Pangudi Luhur van Lith.
Sayangya, riwayat Kolese Xaverius terpaksa berakhir di bulan Oktober 1943, ketika pemerintah pendudukan Jepang secara paksa menutup kompleks misi ini dan mengubahnya sebagai kamp interniran untuk orang-orang barat. Habis jatuh tertimpa tangga, belum pulih dari pendudukan Jepang, kira-kira lima hari menjelang Natal tahun 1948, kompleks misi ini sama sekali tak berdaya ketika ia dibumihanguskan oleh para milisi republik yang khawatir manakala bangunan ini dipakai sebagai markas militer serta adanya sentimen terhadap misi yang dianggap pro-Belanda. Padahal kompleks misi ini sudah mendapat surat resmi perlindungan dari pemerintah. Dua tahun kemudian, tepatnya 20 Juli 1950, kegiatan di Kompleks Misi Muntilan dapat dipulihkan kembali setelah ordo FIC masuk ke Muntilan. Bangunan kolese yang sebagian besar rusak diperbaiki dan sekolah-sekolah yang dahulu sempat ditutup di masa pendidikan Jepang dibuka kembali (Sulistyowati.Tri, 2004;13-31). Kompleks misi inipun akhirnya kembali bergeliat sampai hari ini.
Bagian luar kapel Susteran OSF.
Kompleks Bruderan pada tahun 1937 (sumber : media-kitlv.nl).
Kompleks bruderan.
Tak hanya sekolah, kompleks inipun juga memiliki bruderan milik ordo FIC. Bangunan kompleks bruderan yang diresmikan pada tanggal 8 September 1931 itu berdiri di balik rindangnya pohon dengan sebuah menara kecil cukup menonjol di atasnya. Di belakang kompleks itu terdapat novisiat yang menjadi tempat pendidikan bagi para calon bruder tingkat lanjut. Selain bruderan, ada pula kompleks susteran milik ordo OSF. Kompleks susteran ini sendiri dibangun pada tahun 1926, bersamaan dengan pembangunan rumah sakit yang ada di sebelahnya. Jika para bruder melayani dalam bentuk kegiatan pendidikan, maka para suster di Muntilan melayani dalam bentuk pelayanan kesehatan. Lantaran itulah agar pelayanan menjadi mudah, maka lokasi rumah sakit dibangun di dekat kompleks susteran. Sekarang rumah sakit itu dikelola oleh pemerintah dan menjadi RSUD Muntilan.
Kompleks kerkhof Muntilan. Nampak cungkup dari makam Van Lith.
Van Lith menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 1926 dan beliau dikebumikan di kompleks makam yang terletak di ujung timur jalan Kartini, tak jauh dari gereja. Selain Van Lith, di sini juga dikebumikan beberapa tokoh penting dalam sejarah perkembangan Katolik di Indonesia seperti P.J Hoovenar, pelopor misi di Jawa dan Kardinal Justinus Darmojuwono, Kardinal pertama dari Indonesia. Disini ada pula makam para bruder yang dahulu pernah berkarya di Muntilan dengan nisan salibnya yang sederhana serta orang-orang pribumi yang beragama Katolik. Menariknya beberapa nisan makam milik Pastor Belanda ada yang ditulis dalam bahasa Jawa seperti nisan milik Pastor J. A. A. M. Mertens. Bentuk cungkup Van Lith juga menunjukan pengaruh gaya seni lokal. Hal ini seakan menunjukan bahwa sudah ada sebuah ikatan antara para rohaniwan Katolik ini dengan budaya Jawa.


Di permakaman itu, para peziarah tampak berlalu-lalang di depan saya. Sementara itu, saya duduk di samping pusara Van Lith, sembari berusaha mengingat kembali karya terbesar apakah yang pernah dihasilkan oleh Van Lith ? Akhirnya, saya kembali teringat, bahwa karya terbesar yang dihasilkan oleh seorang Van Lith ialah cita-cita luhur kemerdekaan di benak setiap insan Katolik yang ia bimbing. Ia juga mengajarkan bahwa setiap insan harus tetap memegang teguh budaya asalnya sekalipun insan tersebut sudah menjadi seorang Katolik. Maka, darinya lahir insan-insan Katolik berjiwa nasionalis dan humanis, seperti Mgr. Albertus Soegijapranta, I.J Kasimo hingga Romo Mangun. Itulah karya terbesar dari Van Lith, melampaui besarnya kompleks misi ini. Akhir kata, sayapun kemudian bergegas meninggalkan kompleks misi ini, melambaikan tangan ke arah gereja, mengucapkan beberapa patah kata perpisahan untuk kompleks misi ini, “Sampai jumpa kembali kawan, semoga engkau selalu diberkati oleh Tuhan….”. Dan perlahan saya meninggalkan Muntilan, Betlehem van Java…

Referensi
Akihary, Huib. 1990. Architectuur & Stedebouw in Indoensie 1870-1970. Zutphen : De Walburg Pers.

DR. Jan Wietjens S.J.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.


Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis ; Dari Masa Kompeni hingga Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Sulistyowati, Tri. 2004. " Tata Ruang Kompleks Misi Katolik Muntilan ". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

5 komentar:

  1. Terima kasih, akan saya share...salam . berkah dalem

    BalasHapus
  2. Terima kadih infonya. Sungguh memperluas wawasan pribadi saya akan misi katolik di Jawa.

    BalasHapus
  3. Terima kasih ulasannya.. sbg warga setempat, membaca artikel ini memberikan kebanggaan tersendiri dalam hati..
    Hanya saja saya sdkit meralat, gambar bagian luar SMA Van Lith itu bukannya gambar bagian luar SMP Kanisius yak..
    Terima kasih. Berkah Dalem..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksniya.Ini sudah saya koreksi.

      Hapus
  4. Terima kasih atas nama artikel trsbt van Lith dan Muntilan
    http://www.imexbo.nl/moentilan.html

    BalasHapus