Minggu, 28 Agustus 2016

Serpihan Kejayaan Stasiun Gundih yang Kini Terlewatkan

Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan mengajak anda untuk melihat dan mengulik sejarah dari Stasiun Gundih, sebuah stasiun kereta api tua yang berada di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Stasiun yang sekarang bisa dikatakan sepi karena sedikit sekali kereta yang singgah di sini, rupanya kondisi di masa lalu tidaklah sesepi sekarang. Bagaimana cerita kejayaan stasiun ini di masa lalu ? 

Sejarah
Stasiun Gundih pada tahun 1900-an awal. Foto ini diambil menghadap ke arah utara. Terlihat kereta api yang sedang bersiap berangkat menuju Surakarta. Rumah-rumah di sisi kiri gambar merupakan rumah dinas untuk pegawai stasiun (sumber : colonialarchitecture.eu).
Sejarah stasiun Gundih bermula dari pembangunan jalur rel Semarang - Vorstenlanden tahap ketiga, antara Kedungjati – Surakarta pada tahun 1870 oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Stasiun Gundih sendiri dahulunya cukup unik karena memiliki dua jenis rel, yakni rel lebar 1435 mm dari arah Brumbung dan lebar 1067 mm dari arah Gambringan. Pada tahun 1900, bangunan stasiun Gundih yang lama direnovasi dengan bentuk yang bisa kita lihat seperti sekarang. Di tahun yang sama, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij membuka jalur Gundih – Kradenan. Tiga tahun kemudian, jalur Gundih – Kradenan terhubung dengan Surabaya melalui lintasan Babat – Tuban – Merakurak  dan Sumari – Gresik – Kandangan dengan menggunakan rel lebar 1067 mm. Dapat kita bayangkan betapa sibuknya stasiun ini di masa lalu karena penumpang dan barang dari Semarang yang hendak ke Surabaya turun di stasiun ini terlebih dahulu dan kemudian berganti kereta. Baru setelah jalur kereta Gambringan - Surabaya selesai dibangun pada tahun 1914, penumpang kereta jurusan Semarang - Surabaya tidak perlu berganti kereta lagi di Gundih (Het nieuws van den dag voor Nederlansch-Indie 8 Februari 1922).
Harian De Locomotief yang memberitakan semakin banyaknya warga Eropa yang datang ke Gundih.
Sejak Stasiun Gundih dibangun, terjadi perkembangan sosial masyarakat di Gundih. Menurut harian De Locomotief tanggal 22 Februari 1899, semenjak Stasiun Gundih dibangun, semakin banyak warga Eropa yang berkunjung ke Gundih. Rupanya pemerintah kolonial memandang Gundih sebagai tempat yang strategis, salah satu dampaknya selain pembangunan stasiun juga terdapat pembangunan fasilitas pendidikan dasar yang ada di sekitar stasiun (Tim Penyusun, 23; 2015). Selain digunakan untuk melayani penumpang, stasiun Gundih juga digunakan untuk mengangkut hasil hutan berupa kayu jati yang tumbuh di sekitar Gundih. Tujuan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij membangun jalur kereta memang berorientasi pada bisnis pengangkutan hasil bumi. Selain hasil bumi berupa kopi, karet, gula dan kapas yang sudah laris sejak dahulu, hasil bumi lain yang dapat dieksploitasi, terutama di wilayah Grobogan yang tanahnya sebagian besar berupa tanah kapur adalah kayu jati. Di masa kolonial (dan hingga sekarang), kayu jati adalah material yang sangat dibutuhkan untuk bahan bangunan, furniture, dan bahan bakar mesin uap.

Jelajah Stasiun Gundih
Peta lokasi Stasiun Gundih pada tahun 1905. Garis hitam-putih merupakan rel lebar 1435 mm dari arah Brumbung. Sementara garis hitam-putih yang lebih kecil merupakan jalur rel lebar 1067 mm dari arah Gambringan. Jalur yang berbelok ke kanan merupakan jalur rel milik S. J. S menuju arah Purwodadi.
Jelajah Stasiun Gundih


Saya sendiri pertama kali mengunjungi stasiun ini bersama teman dekat saya di Komuntias Roemah Toea. Siapa lagi kalau bukan mas Aga Y.P. Nah, untuk menuju ke stasiun ini, kami berangkat dari Yogyakarta dari pukul setengah empat pagi. Hal ini sengaja dilakukan untuk menghindari kemacetan pada jam-jam berangkat kerja. Setelah menempuh perjalanan kira-kira dua jam setengah dan sempat terperangkap macet di Jalan raya Purwodadi-Solo yang sedang diperbaiki, sampailah kami di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, tempat dimana Stasiun Gundih berada. Posisi stasiun Gundih tidak berada di tepi jalan raya dan agak tersembunyi di perkampungan. Jika dari jalan raya, dari Solo menuju Purwodadi, nanti ada pertigaan di sebelah utara SMP N 1 Geyer, lalu beloklah ke kiri dan susuri jalan desa. Di ujung jalan ini inilah Stasiun Gundih berada.

Bagian depan stasiun Gundih. Terlihat dua overkapping atau kanopi stasiun di sisi barat dan timur.
Kita mungkin akan membayangkan tentang sebuah stasiun yang sibuk akan hiruk pikuk penumpang. Namun semua bayangan kita tadi akan sirna begitu memasuki area stasiun. Stasiun ini benar-benar sepi seolah tidak ada kehidupan. Selain para pegawai stasiun yang sedang bertugas, kehidupan yang terlihat di sini hanyalah seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya di peron stasiun. Adapun kereta yang berhenti di stasiun ini hanyalah Kereta Mataratmaja dan Kalijaga.
Tiang-tiang besi penyangga overkapping atau kanopi.
Lantai stasiun yang masih asli dari tegel lama.
Bangunan Stasiun Gundih memiliki gaya arsitektur yang unik jika kita pernah melihat stasiun – stasiun pulau lain yang dimiliki oleh N.I.S.M seperti Ambarawa, Purwosari dan Kedungjati yang dibangun belakangan. Rupanya gaya arsitektur stasiun Gundih lebih mirip dengan stasiun – stasiun paralel / tepi milik N.I.S.M seperti Tuntang, Telawa dan Bringin yang ukurannya lebih kecil. Gaya ini semakin terlihat jelas pada bagian depan stasiun Gundih yang menghadap ke utara, terutama pada bagian kanopi berbentuk pelana yang menaungi pintu masuk utama dengan hiasan facial board atau gigi talang. Selain itu, jika stasiun-stasiun pulau N.I.S.M lain seperti Ambarawa, Purworsari atau Kedungjati konsepnya yakni bangunan kecil yang dinaungi atap baja yang besar, maka konsep stasiun Gundih yakni sebuah bangunan tunggal yang memiliki dua buah atap peron kembar di bagian sayap. Konsep ini justru lebih mirip dengan konsep Stasiun Tugu milik Staatspoorwegen, perusahaan yang juga bergerak di bisnis transportasi kereta api.
Denah Stasiun Gundih.
Keterangan : 1; Ruang tunggu. 2; Loket. 3; Ruang kepala stasiun. 4; Loket. 5;Ruang PDB. 6;Gudang. 7; WC.
Bangunan Stasiun Gundih memiliki gaya arsitektur yang unik jika kita pernah melihat stasiun – stasiun pulau lain yang dimiliki oleh N.I.S.M seperti Ambarawa, Purwosari dan Kedungjati yang dibangun belakangan. Rupanya gaya arsitektur stasiun Gundih lebih mirip dengan stasiun – stasiun paralel / tepi milik N.I.S.M seperti Tuntang, Telawa dan Bringin yang ukurannya lebih kecil. Gaya ini semakin terlihat jelas pada bagian depan stasiun Gundih yang menghadap ke utara, terutama pada bagian kanopi berbentuk pelana yang menaungi pintu masuk utama dengan hiasan facial board atau gigi talang. Selain itu, jika stasiun-stasiun pulau N.I.S.M lain seperti Ambarawa, Purworsari atau Kedungjati konsepnya yakni bangunan kecil yang dinaungi atap baja yang besar, maka konsep stasiun Gundih yakni sebuah bangunan tunggal yang memiliki dua buah atap peron kembar di bagian sayap. Konsep ini justru lebih mirip dengan konsep Stasiun Tugu milik Staatspoorwegen, perusahaan yang juga bergerak di bisnis transportasi kereta api.
Peron barat Stasiun Gundih.
Jam dinding tua dari Strassburg, Perancis.
Stasiun Gundih mempunyai 7 buah ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada yang dipakai untuk ruang Kepala Stasiun, ada ruang PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api), ada ruang tunggu, ruang tiket, dan gudang. Stasiun ini rupanya memiliki dua buah loket, yakni di pintu masuk utara dan di bagian tengah stasiun tengah namun sekarang hanya loket bagian tengah saja yang masih dipakai. Stasiun Gundih nampaknya benar-benar merupakan sebuah stasiun yang sibuk di masa lalu sampai –sampai memiliki dua buah loket. Sementara itu, untuk ruang toilet dan gudang berada di ujung selatan stasiun, terpisah dari bangunan utama stasiun dengan alasan higenitas.
Ruang loket.
Alat pengatur sinyal.
Masih di peron ini, kita juga masih bisa menjumpai bekas alat pengatur sinyal yang dahulu dioperasikan secara manual. Lewat peron ini, setidaknya kita dapat berimajinasi seperti apa kesibukan kereta ini di masa lalu, ketika para penumpang dari Semarang turun dari kereta untuk berganti kereta menuju Surabaya dan bagaimana sibuknya petugas loket melayani penumpang yang hendak berganti kereta. Lalu bagaimana sibuknya para kuli-kuli pengangkut barang dan bagasi penumpang yang membongkar muat barang. Sayangnya, kesibukan itu kini tinggal kenangan saja.
Emplasemen selatan Gundih sisi timur.
Stasiun Gundih diapit oleh jalur kereta di kedua sisi emplasemennya. Model stasiun seperti ini disebut stasiun pulau. Dahulu,emplasemen barat digunakan untuk rel 1435 mm jurusan Semarang –Vorstenlanden. Sementara emplasemen timur digunakan untuk rel 1067 mm jurusan Surabaya. Sebenarnya di emplasemen timur stasiun Gundih, terdapat sebuah stasiun milik Semarang Joana Stoomtram Maatschapij (SJS) jurusan Purwodadi dan Demak, namun kini, stasiun ini sudah tidak ada lagi termasuk jalur kereta apinya.
Menara air atau watertoren.
Sumur sumber air Stasiun Gundih.
Bagian yang diduga bekas pipa corong pengisi air lokomotif.
Puas melihat-lihat Stasiun Gundih, mari kita coba untuk mencari obyek-obyek lain yang masih ada hubungannya dengan stasiun Gundih. Tidak jauh dari Stasiun Gundih, tepatnya di sebelah barat, kita bisa menemukan sebuah bangunan besar berbentuk persegi yang dahulu digunakan sebagai menara penampung air atau watertoren. Pada zaman dahulu, lokomotif yang dipakai untuk menarik gerbong masih menggunakan mesin uap yang membutuhkan air agar bisa menghasilkan uap. Jika air di dalam lokomotif habis, kereta tidak bisa berjalan lagi. Oleh karena itulah, di masa lalu, keberadaan menara air wajib hukumnya untuk sebuah stasiun. Sumber air ini diambil dari sumur yang berada di dekatnya. Dari menara air ini, air selanjutnya dialirkan ke lokomotif melalui sebuah corong air yang kini sudah tidak ada lagi.
 Gudang Stasiun Gundih.
Berjalan ke selatan stasiun Gundih, kita juga akan menemukan sebuah bangunan tua berukuran besar yang dahulu digunakan sebagai gudang. Gudang ini masih berdiri kokoh meski kondisinya agak terlantar. Model pintu geser yang kerap ada di gudang-gudang masa kolonial masih terlihat di gudan stasiun ini. Tinggi pondasi gudang sudah disesuaikan dengan tinggi boggie kereta sehingga bongkar muat barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya menjadi lebih mudah.
Depo Stasiun Gundih yang kini sudah tidak digunakan lagi.
Kita jalan balik ke arah bagian utara stasiun. Di ujung utara stasiun Gundih, kita akan melihat sebuah bangunan besar yang dahulu tidak lain adalah depo kereta. Depo kereta berfungsi sebagai tempat perawatan rutin kereta dan juga sebagai tempat peristirahatan kereta jika sedang tidak dipakai. Dari Semarang hingga Surakarta, hanya terdapat dua stasiun yang memiliki depo, yakni Stasiun Kedungjati dan Stasiun Gundih. Tidak semua stasiun memiliki depo. Hanya stasiun-stasiun yang dianggap cukup penting saja yang memiliki depo, sehingga keberadaan depo ini menunjukan pentingnya peran stasiun Gundih bagi perjalanan kereta api di masa lalu padahal Gundih sendiri lokasinya cukup terpencil di masa lalu. Depo Stasiun Gundih adalah satu-satunya depo yang tersisa di lintas Semarang-Surakarta setelah bangunan depo Stasiun Kedungjati rata dengan tanah pada tahun.
Salah satu rumah dinas Stasiun Gundih yang masih asli. Rumah ini berupa rumah kopel dengan atap berbentuk limas.
Di seberang barat stasiun Gundih, dipisahkan oleh rel, berdiri deretan rumah tua yang dahulu adalah rumah dinas untuk pegawai stasiun Gundih. Bentuk-bentuk rumah dinas ini kebanyakan sudah merupakan hasil rombakan dari tahun 1950an. Hal ini terlihat dari bentuk rumah yang tampak kaku dan minim ornamen. Berbeda sekali dengan bangunan-bangunan rumah dinas stasiun milik N.I.S yang biasanya penuh ornamen. Jendela yang dipakaipun tidak lagi menggunakan jendela krepyak yang tinggi, melainkan jendela kaca yang ukurang lebih kecil. Posisi rumah-rumah dinas ini sangat dekat sekali dengan rel sehingga dapat dibayangkan setiap hari penghuni rumah ini pasti melihat kereta api lewat dan tentunya tinggal di sini agak kurang nyaman karena terganggu oleh deru kereta yang lewat. 
Rumah tua yang kemungkinan dahulunya dihuni oleh kepala stasiun. Rumah ini memiliki atap tipe jerkinhead.
Bagian beranda depan. Dahulu, ketika pemukiman warga tidak sebanyak sekarang, aktivitas stasiun Gundih dapat dilihat dari sini.
Ruang bagian dalam yang sudah lama tidak dihuni.
Pintu depan.
Lalu di sebelah timur Stasiun Gundih, di tengah-tengah pemukiman warga, bisa kita temukan sebuah bangunan tua yang tampaknya merupakan rumah dinas Stasiun Gundih. Bentuk rumah dinas ini masih terlihat asli dengan gaya arsitektur “NIS Chalet”  yang menjadi ciri khas bangunan rumah dinas stasiun milik N.I.S. Tampaknya dahulu rumah ini dihuni oleh kepala stasiun. Hal ini terlihat dari posisi rumah ini yang agak menjauh dari rel dan posisinya berada di tanah yang lebih tinggi daripada rumah dinas lainnya. Orientasi rumah ini menghadap ke arah barat, ke arah stasiun. Mari kita masuk ke bagian dalam rumah ini. Di dalam, kondisinya terlihat gelap, kosong dan lembab karena sudah lama tidak dihuni. Coretan vandalisme terlihat di ruas-ruas dinding. Dahulu, ketika pemukimannya tidak sebanyak sekarang, dari sini segala aktivitas di stasiun bisa terlihat dengan jelas.  Saya sendiri jadi membayangkan kepala stasiun Gundih duduk santai di serambi depan, menikmati langit Gundih waktu senja dengan suara-suara mesin kereta dari kejauha yang memecah kesunyian Gundih.

Gedung Papak Gundih.
Di sebelah utara rumah tadi, kita akan melihat sebuah bangunan besar bertingkat dua yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Gedung Papak Gundih. Disebut papak karena bangunan ini terlihat memiliki atap yang datar. Dahulu, gedung ini merupakan tempat tinggal dan kantor administrasi dari perusahaan kayu jati di sekitar Gundih. Gedung ini rupanya menyimpan cerita cukup menyedihkan karena pada masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah digunakan untuk menampung Jugun Ianfu.

Demikian ulasan Jejak Kolonial mengenai bangunan dan sejarah Stasiun Gundih di Kabupaten Grobogan. Sungguh betapa jayanya Stasiun Gundih di masa lalu, sebuah stasiun di tengah-tengah hutan jati yang dahulu ramai akan penumpang, stasiun yang dahulu ramai akan kegiatan bongkar muat barang, stasiun yang dahulu udaranya dipenuhi dengan asap kereta yang tebal dan pekikan peluit kereta yang yang nyaring. Ya, semua cerita tadi kini hanya terlewatkan oleh sejarah begitu saja seperti kereta-kereta yang hanya numpang lewat di stasiun ini.

Referensi
Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Senin, 15 Agustus 2016

Gua Jepang Pundong, Artefak Perang Dunia Kedua di Pantai Selatan Yogya

Perang Dunia Kedua adalah peristiwa paling kelam yang pernah dialami oleh umat manusia selama tinggal di bumi. Dengan jutaan nyawa yang menjadi korban, Perang Dunia Kedua menjadi konflik paling berdarah yang pernah terjadi dalam  sejarah peradaban manusi. Kini, puluhan tahun sudah Perang Dunia Kedua berakhir, berbagai artefak atau peninggalan yang menjadi saksi bisu dari peristiwa ini masih bisa dilihat sampai sekarang. Artefak-artefak ini sebagian besar berwujud bangunan pertahanan. Misalnya Atlantic Wall atau Tembok Atlantik yang dibangun secara sistematis oleh pemrintah Nazi Jerman di sepanjang pantai barat daratan Eropa untuk menangkis serangan Sekutu.

Sekutu Jerman di Asia, Jepang rupanya juga tidak mau ketinggalan. Mereka juga membangun beberapa pos pertahan di sepanjang pantai yang mereka kuasai meski tidak semassif dan setenar Atlantic Wall. Salah satunya berada di perbukitan Pundong, Bantul. Tulisan saya di Jejak Kolonial kali ini akan mengupas salah satu artefak Perang Dunia Kedua yang masih ada ini. Bagaimana sejarah dan bentuknya akan dibahas lebih lanjut di bawah ini.

Di Puncak Perbukitan Pantai Selatan
Akses jalan menuju Gua Jepang.
Gua Jepang Pundong secara adminstratif berada di perbatasan desa Seloharjo kecamatan Pundong, Bantul dengan kecamatan Panggang, Gunungkidul. Posisi gua terletak di atas perbukitan kapur dengan ketinggian sekitar 384 mdpl. Saya sendiri datang pertama kali ke sini pada pertengahan tahun 2014, ketika mencoba survey untuk kegiatan jurusan. Untuk menuju ke sini, dari kota Yogyakarta, telusuri terus jalan Parangtritis. Setelah menyeberang Jembatan Kretek yang dibawahnya mengalir Sungai Opak, belok ke kiri, menelusuri jalan di sepanjang tepian sungai. Sampai di kanan jalan, ada jalan menanjak menuju Gua Surocolo dan Gua Jepang. Telusuri terus jalan menanjak ini. Pakailah kendaraan yang kondisinya prima agar kuat menanjak karena tanjakan di sini cukup curam. Jalan yang akan dilalui cukup berkelok dan terdapat jurang di sisinya sehingga berhati-hatilah ketika berkendara.


Jika dikaji dari aspek strategi militer, pemilihan lokasi gua ini sangat ideal sekali karena dari sini, pemandangan pesisir selatan dapat dilihat secara jelas sehingga pergerakan musuh di sepanjang pantai dapat diamati dengan baik tanpa posisinya diketahui oleh musuh. Lokasinya yang berada di atas perbukitan juga menjadikannya sulit dijangkau oleh musuh.

Sejarah Dibangunnya Gua Jepang Pundong
Peta ekspansi Jepang ke Hindia-Belanda (sumbber : common.wikipedia.org).
Jepang sebagai kekuatan baru di Asia berusaha memperlebar pengaruh imperialismenya di Asia Timur. Setelah menyerang Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941, mereka mulai berekspansi ke wilayah Asia Tenggara untuk mencari SDA setelah Amerika mengembargo perdagangan Jepang yang di negerinya sendiri tidak kaya SDA. Jepang masuk ke Hindia-Belanda pertama kali di Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mendarat di Pulau Jawa pertama kali di Eretan, Indramayu. Setelah posisinya terdesak, pemerintah Hindia-Belanda berunding kepada Jepang dan akhirnya menyerah tanpa syarat di sebuah rumah sederhana di Kaljati pada tanggal 8 Maret 1942.
Dari kiri ke kanan, Mangkunegara VII, Hamengkubuwono IX, dan Pakualam VIII menghadap ke Letnan Jenderal Imamura. Ketiga raja lokal ini ditunjuk sebagai Ko atau kepala wilayah (sumber : Djocja Solo halaman 69). 
Sementara itu, dua hari sebelum perundingan di Kalijati, bala Tentara pendudukan Jepang mulai masuk ke Yogyakarta. Setelah pemerintahan sipil Hindia-Belanda di Yogyakarta pergi, maka kekuasaan diambil alih oleh pemerintah militer Jepang. Untuk mempertahankan kekuasaanya dari serbuan tentara sekutu yang bisa menyerang kapan saja, maka pemerintahan militer Jepang membangun pos-pos pertahanan di titik-titik yang diperkirakan akan menjadi landasan serangan sekutu.

Sebagai upaya pertahanan di wilayah Yogyakarta, pemerintah militer Jepang mendirikan gua-gua perlindungan dan pertahanan yang strategis meliputi Kaliurang di utara, Maguwo di bagian tengah dan Pundong di selatan. Dalam Kitab Penoentoen Pembelaan Tanah Air untu Oemoem, Boelan 12, tahoen 19 shoowa osamu 1602 Butai, dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis pengawasan, salah satunya yakni pengawasan pantai (Kaigan kanshi)( Anggoro, 2008;30). Oleh karena itulah, di Yogyakarta, selain membangun sistem pertahanan di Kaliurang dan Maguwo, Jepang juga mendirikan sistem pertahanan di perbukitan Pundong, menghadap ke arah pantai selatan karena Jepang memperkirakan bahwa tentara sekutu dari Australia akan mendaratkan pasukannya di sini.  Sistem pertahan pantai ini tentu jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan sistem pertahanan Atlantic Wall nya Jerman di Eropa mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh Jepang. Jika di Atlantic Wall kita bisa melihat kubah beton berukuran besar dengan meriam raksaksanya, maka pos-pos pertahanan Jepang di sepanjang pantai selatan hanyalah pos pengintaian berukuran sedang dengan fasilitas seadanya.

Bagaimana cara kerja sistem pertahan ini ? Caranya adalah jika kedatangan musuh sudah terlihat di kejauhan dan posisi mereka masih belum mencapai garis pantai, maka para petugas yang berada di pos pengintaian akan menghubungi kantor komando pusat. Sehingga sebelum musuh menginjakan kakinya di darat. tentara yang bertahan sudah siap mengantisipasinya.
Panorama pesisir selatan dilihat dari Situs Gua Jepang. Di sinilah Jepang memperkirakan sekutu akan mendarat dari Australia. Sebuah perkiraan yang salah !!
Sayangnya, Jepang sendiri sepertinya tidak paham mengenai kondisi perairan Samudera Hindia yang sebenarnya tidak cocok untuk mendaratkan pasukan dalam jumlah besar karena gelombangnya yang terlalu tinggi. Jadi dapat dikatakan pembangunan sistem pertahanan gua ini sia-sia karena alih-alih menyerang dari selatan, Sekutu justru menyerang dari arah Pasifik.

Sayangnya sangat sedikit sekali cerita tentang pembangunan gua jepang ini karena banyak warga yang menjadi saksi mata sudah meninggal dan tidak ada catatan tertulis mengenai pembangunan sehingga tidak begitu banyak informasi yang digali tentang pembangunan Gua Jepang ini. Menurut penuturan saksi mata yang masih hidup, gua-gua ini dibangun oleh para penduduk desa sekitar dan ada satu hal yang cukup mengejutkan yakni bahwa gua-gua tadi ternyata tidak pernah dipakai !! Mengapa demikian ? Ternyata gua - gua ini dibangun pada masa akhir perang, dimana situasi semakin tidak menguntungkan di pihak Jepang. Setelah tahu bahwa posisinya semakin terdesak, Jepang akhirnya memutuskan untuk tidak memakai gua-gua ini. Oleh karena itulah di sekitar benteng ini tidak dijumpai adanya bekas-bekas persenjataan yang lazim ditemukan pada situs dari masa PD II. Setelah perang usai, gua-gua ini ditinggalkan begitu saja oleh Jepang dan selama beberapa waktu nyaris terlupakan.

Dari Gua ke Gua
Peta persebaran gua-gua di situs Gua Jepang.
Di situs gua Jepang ini, kita bisa melihat 18 gua buatan yang tersebar di beberapa tempat seperti puncak bukit, lereng bukit yang menghadap lembah atau di tempat lapang. Masing-masing gua sudah diberi nomor. Butuh fisik yang prima untuk menjelajah setiap gua karena jarak setiap gua lumayan jauh dan beberapa di antaranya tidak bisa dicapai dengan kendaraan, sehingga untuk mendekatinya harus berjalan naik atau turun bukit terlebih dahulu.

Gua-gua ini dibangun dengan cara menggali tanah di sekitar gua, lalu lubang galian itu diperkuat dengan konstruksi beton yang terdiri dari campuran semen, pasir dan batu. Adapun konstruksi beton di Gua Jepang Pundong memanfaatkan batu kapur yang mudah ditemukan di sekitar gua. Masing-masing gua memiliki ketebalan tembok beton antara 30 cm - 60 cm. Konstruksi beton adalah perkembangan teknologi pertahanan yang muncul di awal abad ke-20. Teknologi ini muncul untuk mengikuti teknologi persenjataan yang semakin meningkat. Untuk mengelabui musuh serta untuk memberi unsur kejutan, gua-gua tadi lalu ditimbun tanah.

Beberapa gua, masih bisa dilihat bekas sisa gawang pintu dan engsel yang menjadi bekas pintu masuk gua. Kemungkinan besar pintu yang dipakai merupakan pintu besi tebal melihat tebalnya ambang pintu.

Dilihat dari bentuk dan persebarannya dalam satu kawasan, masing-masing gua memiliki fungsi tertentu yang mendukung upaya pertahanan secara menyeluruh. Berdasarkan fungsinya, Gua Jepang yang ada di Pundong dibagi menjadi dua tipe gua, yakni veilboks atau pillbox dan bunker.

Veilboks merupakan pos jaga tertutup yang diperlengkapi dengan lubang kecil untuk mengintai dan menembak. Kata veilboks berasal dari bahasa Belanda, Veiligheids Boks yang berarti tempat penembakan. Dalam bahasa Inggris, veilboks  disebut juga pillbox ( Abrianto, 2011; 115). Setiap pillbox memiliki ukuran lubang tembak yang berbeda-beda tergantung dengan jenis senjata apa yang dipakai. Melihat ukuran lubang tembak pillbox pada setiap gua yang ukurannya kecil-kecil, sepertinya pillbox  yang ada di Gua Jepang Pundong menggunakan jenis persenjataan ringan. Lubang-lubang pillbox ini bisa menjadi titik lemah pillbox apabila musuh menyerang pillbpx dengan senjata jenis flamethrower atau penyembur api. Jenis senjata ini adalah senjata yang ditakuti oleh tentara yang ada di dalam pillox karena semburan api dari flamethrower dapat membakar seisi pillbox dengan mudahnya.
Berbagai jenis pillbox yang ada di situs gua Jepang.Perhatikan bahwa semuanya memiliki sebuah lubang intai/tembak di bagian samping dengan cerobong kecil di bagian atasnya.
Meskipun demikian, untuk menyerang sebuah pillbox tidaklah mudah jika hanya mengandalkan persenjataa biasa. Setidaknya butuh bantuan dari artileri,senjata anti tank atau granat. Lokasi gua-gua ini berada di lereng bukit dengan lubang tembak yang menghadap ke lembah untuk memudahkan pengintaian dan penembakan musuh. Di bagian atas gua terdapat sebuah cerobong kecil untuk saluran udara. Cerobong ini dibuat dengan ukuran kecil supaya tidak terlihat mencolok. Sayangnya, cerobong ini juga menjadi salah satu titik lemah pada sebuah pillbox karena granat musuh bisa dimasukan lewat bagian ini dan ketika meledak dapat membunuh siapa saja yang berada di dalam pillbox. Gua-gua jenis ini dapat ditemukan pada gua nomor 4, 5, 10, 13 dan 18.
Berbagai gua pengintai yang ada di gua Jepang. Perhatikan kubah segi delapan di bagian atas yang berfungsi sebagai tempat pengintaian.
Gambar potongan gua pengintai.
Selain berada di lereng bukit, pillbox juga dapat kita temukan pada bagian puncak bukit. Dari permukaan tanah, pillbox ini memiliki bentuk kubah segi delapan dengan lubang pengintai pada keempat sisinya. Dibawah kubah pengintai, terdapat dua buah ruangan dengan fungsi yang belum diketahui. Gua-gua jenis ini dapat ditemukan pada gua no 2, 7 dan 11.
Gua-gua yang digunakan sebagai bunker untuk berbagai macam keperluan.
Bagian dalam Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Perhatikan bahwa terdapat empat tungku masak di dalam sini. Pastinya tidak nyaman memasak di dalam sini karena asap terkadang masih bisa memenuhi ruangan meski ada saluran pembuangan asap.
Bagian luar Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Gua ini dibangun di dekat sebuah saluran air berukuran kecil untuk lebih mudah mendapatkan air mengingat situs Gua Jepang berada di atas perbukitan yang air nya sedikit. 
Jenis gua selanjutnya yang bisa kita temui di sini adalah gua tipe bunker. Tipe gua ini tidak memiliki lubang untuk menembak atau mengintai karena fungsinya lebih ditekankan pada kepentingan untuk tempat penyimpanan logistic dan amunisi, pusat komando, akomodasi pasukan dan dapur umum. Bunker untuk menyimpan logistik berada di tempat yang datar dan lapang, sementara bunker untuk menyimpan amunisi dan pasukan berada di bukit-bukit dekat dengan pillbox untuk memudahkan mobilisasi tentara dan amunisi. Bunker-bunker ini memiliki satu pintu masuk dan ada juga yang memiliki dua pintu masuk. Gua no. 1, 3, 6, 8, 9, 12, 14, 15, dan 16 adalah gua-gua dengan  tipe bunker.
 

Jalan parit yang menghubungkan Gua 17 dengan Gua 18. Dahulu setiap gua yang ada di situs Gua Jepang Pundong dihubungkan dengan sebuah parit.
Masing-masing gua dihubungkan dengan parit kecil atau warga sekitar menyebutnya jalan tikus. Parit-parit ini menurut warga sekitar dahulu ditutup dengan ijuk agar tidak terlihat dari udara. Beberapa parit masih bisa kita lihat hingga sekarang

Saat ini, lingkungan sekitar gua sudah menjadi tegalan dengan kondisi tanah tidak subur karena lokasinya berada di atas perbukitan dan sifat tanahnya yang tidak bisa menyimpan  air. Situs Gua Jepang Pundong terpelihara cukup baik. Di sini terdapat juru pelihara situs yang diangkat oleh BPCB Yogyakarta. Beberapa kegiatan outbond sering diadakan di tempat ini karena medannya yang cukup menantang untuk dijelajahi dan juga memiliki pesona pemandangan alam yang cukup indah. Oleh karena itulah keberadaan Gua Jepang ini kemudian dimanfaatkan penduduk sekitar sebagai sumber rejeki tambahan, apalagi mengingat kondisi tanah di sekitar Gua Jepang yang tidak subur sehingga sulit rasanya jika hanya bergantung pada hasil pertanian saja. Mereka biasanya berjualan makanan dan minuman untuk para pengunjung yang kebetulan tidak membawa bekal atau menyediakan tempat parkir kendaraan. Usaha ini kemudian dikembangkan dan dikelola oleh warga sekitar dengan membentuk POKDARWIS atau Kelompok Sadar Wisata. Menurut Ketua POKDARWIS, meski usaha-usaha yang dilakukan warga ini dapat dibilang masih kecil dan perkembangannya lambat, namun setidaknya hasilnya bisa dirasakan oleh warga sendiri daripada mengundang investor dari luar yang mungkin dapat mengembangkan potensi Gua Jepang secara lebih besar dan cepat, tapi hasilnya hanya dirasakan oleh investor tersebut dan warga hanya jadi penonton saja. Ya, inilah bukti bahwa warga sekitar Gua Jepang mulai sadar akan potensi desanya dan mulai berdaya untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Referensi
Abrianto, Oktaviadi . 2011. " Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Sesudah Abad ke-20 M di Indonesia " dalam Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Sumedang : Penerbit Alqaprint.

Anggoro, Priadi. 2008. " Strategi Pengelolaan Gua Jepang di Seloharjo Pundong,Bantul sebagai Objek Wisata ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitass Gajah Mada.