Minggu, 28 Agustus 2016

Serpihan Kejayaan Stasiun Gundih yang Kini Terlewatkan

Mentari baru saja menampakan dirinya di ufuk timur ketika saya menjejakan kaki ke Gundih, ibukota kecamatan Geyer yang terletak 17 kilometer ke selatan dari Purwodadi, Grobogan. Tujuan lawatan saya ke sini tak lain ialah untuk menengok Stasiun Gundih, serpihan pusaka perkeretaapian yang pernah bergairah di masa penjajahan Belanda.
Kendati letak stasiun itu berada sedikit jauh dari jalan raya Surakarta-Purwodadi, namun amatlah mudah untuk menjangkaunya. Stasiun Gundih diapit oleh jalur kereta di kedua sisinya, menjadikan stasiun itu bak sebuah pulau yang tergeletak di tengah-tengah rel baja. Mendekati area stasiun, saya disuguhi dengan keindahan wajah depan stasiun yang menghadap ke utara itu. Pernik berupa papan teritisan bergerigi yang menjadi ciri arsitektur Chalet terlihat serasi di bagian atap pelananya, membuat stasiun tampak jelita. Sungguh harta karun luar biasa untuk ukuran wilayah yang masih sedikit tersentuh oleh kemajuan.
Bagian depan stasiun Gundih beserta dua overkapping atau kanopi stasiun di sisi barat dan timur.
Stasiun itu disusun dengan bahan-bahan bermutu prima sehingga ia masih kokoh berdiri meski usianya sudah memasuki seabad. Misalnya saja tegel kotak-kotak yang masih utuh mengalasi lantai stasiun itu sejak zaman Belanda. Tegel kekuningan itu asalnya dari pabrikan Alfred Ragout yang pabriknya berada di kota Maastricht, Belanda. Tegel bikinan Alfred Ragout memang banyak dipakai pada bangunan stasiun karena sifatnya kedap air, sehingga penumpang tak perlu takut tergelincir ketika berjalan di atasnya.
Lantai stasiun yang masih asli dari tegel lama.
Lengang, itulah kesan pertama saya ketika berjalan di peron stasiun yang dinaungi atap baja itu. Sekalipun masih terlihat pegawai stasiun yang sedari tadi mondar-mandir di peron stasiun, namun tak terlihat satupun penumpang yang menunggu kereta di situ. Saking lengangnya, saya menyaksikan seorang balita berlarian begitu leluasa di atas lantai peron stasiun sembari ibunya mengawasi dari bangku penumpang yang kosong. Suasana ini sungguh berbanding terbalik dengan yang terjadi di masa kolonial, ketika moda transportasi kereta sedang mencapai masa keemasannya.
Stasiun Gundih pada tahun 1900-an awal. Foto ini diambil menghadap ke arah utara. Terlihat kereta api yang sedang bersiap berangkat menuju Surakarta. Rumah-rumah di sisi kiri gambar merupakan rumah dinas untuk pegawai stasiun (sumber : colonialarchitecture.eu).
Peta lokasi Stasiun Gundih pada tahun 1905. Garis hitam-putih merupakan rel lebar 1435 mm dari arah Brumbung. Sementara garis hitam-putih yang lebih kecil merupakan jalur rel lebar 1067 mm dari arah Gambringan. Jalur yang berbelok ke kanan merupakan jalur rel milik S. J. S menuju arah Purwodadi.
Tahun 1870an, pemerintah kolonial sedang giat-giatnya membangun jalur kereta dari Semarang ke Vorstenlanden. Setelah sukses membuat jalur kereta Semarang – Tanggung dan kemudian diteruskan dari Tanggung ke Kedungjati, mereka berancang-ancang untuk meneruskan pembangunan jalur kereta Kedungjati- Vorstenlanden. Salah satu titik yang dilalui oleh rangkaian jalur kereta tersebut adalah Gundih, di mana kala itu Gundih dikenal sebagai penghasil kayu jati. Sebelum ada kereta, satu-satunya akses transportasi ke Gundih ialah dengan jalan yang menghubungkan Surakarta dengan Purwodadi yang tentu saja tidak sebagus sekarang. Jalur kereta tersebut dibangun oleh perusahaan kereta partikelir, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij yang mendapat konsensi membangun jalur kereta dari Semarang ke Vorstenlanden.
Harian De Locomotief yang memberitakan semakin banyaknya warga Eropa yang datang ke Gundih.
Sesudah Stasiun Gundih dibangun, kehidupan di Gundih lebih bergeliat daripada sebelumnya. Gundih yang semula hanyalah wilayah anta berantah yang jarang dikenal orang, berkembang menjadi simpul jalur kereta yang ramai. Itu karena Gundih tak hanya menjadi jalur perlintasan Semarang-Vorstenlanden, melainkan juga Semarang-Surabaya yang mulai tersambun pada awal abad ke-20. Sebelum jalur Gambringan-Brumbung purna dibangun pada tahun 1924, penumpang dan barang dari Semarang tujuan Surabaya atau sebaliknya harus berganti kereta di Stasiun Gundih dulu. Dapat dibayangkan betapa sibuknya stasiun kecil ini di masa lampau. Dilansir dari harian De Locomotief tanggal 22 Februari 1899, semenjak Stasiun Gundih dibangun, semakin banyak warga Eropa yang berkunjung ke Gundih. Pemerintah kolonial rupanya memandang Gundih sebagai tempat yang strategis. Selain pembangunan stasiun, di Gundih juga dibangun sekolah yang letaknya masih di sekitar stasiun (BPCB Jateng, 23; 2014). Barulah sesudah jalur kereta Gambringan - Surabaya selesai dibangun pada tahun 1914, penumpang kereta jurusan Semarang - Surabaya tidak perlu berganti kereta lagi di Gundih (Het nieuws van den dag voor Nederlansch-Indie 8 Februari 1922).
Peron barat Stasiun Gundih.
Jam dinding tua dari Strassburg, Perancis.
Di peron itu, saya menjumpai sebuah jam dinding tua yang dibuat di kota Strassburg, Perancis. Sudah ribuan putaran jarum jam itu lalui dan ia senantiasa berputar, memberitahukan waktu pada setiap orang. Ya, dalam setiap perjalanan kereta, waktu adalah suatu hal yang berharga. Tak boleh ada waktu yang disia-siakan karena keterlambatan sedikit saja dapat mengacaukan perjalanan kereta. Menatap jam itu, sayapun teringat dengan lagu Time milik band legendaris Pink Floyd, “ Every year is getting shorter, never seem to find the time. The time is gone, the song is over, thought I’d something more to say…”
Ruang loket.
Stasiun itu mempunyai 7 buah ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada yang dipakai untuk ruang Kepala Stasiun, ruang untuk pengatur perjalanan kereta api, dan ternyata ia memiliki dua buah loket, yakni di pintu masuk utara dan di bagian tengah stasiun, namun sekarang hanya loket bagian tengah saja yang masih dipakai. Stasiun Gundih nampaknya benar-benar merupakan sebuah stasiun yang sibuk di masa lalu sampai –sampai memiliki dua buah loket. Di stasiun itu juga masih bisa dijumpai bekas alat pengatur sinyal yang dioperasikan secara manual.
Tiang-tiang besi penyangga overkapping atau kanopi.
Alat pengatur sinyal Alkmaar.
Hatta, setelah melihat bangunan utama stasiun, saya berjalan mengelilingi kedua sisi emplasmennya. Seperti yang dijelaskan di awal, model stasiun seperti ini disebut stasiun pulau karena ia diapit oleh jalur kereta karena perannya sebagai jalur percabangan. Dahulu, emplasemen barat digunakan untuk rel 1435 mm jurusan Semarang –Vorstenlanden. Sementara emplasemen timur digunakan untuk rel 1067 mm jurusan Surabaya. Sejatinya, di emplasemen timur stasiun Gundih, terdapat sebuah stasiun kecil milik maskapai kereta Semarang Joana Stoomtram Maatschapij (SJS) jurusan Purwodadi dan Demak, namun kini, stasiun itu sudah tiada lagi termasuk jalur kereta apinya.
Emplasemen selatan Gundih sisi timur.
Menara air atau watertoren.
Sumur sumber air Stasiun Gundih.
Bagian yang diduga bekas pipa corong pengisi air lokomotif.
Depo Stasiun Gundih yang kini sudah tidak digunakan lagi.
Salah satu rumah dinas Stasiun Gundih yang masih asli. Rumah ini berupa rumah kopel dengan atap berbentuk limas.
Gudang Stasiun Gundih.
Di emplasemen itu, saya membayangkan lokomotif-lokomotif uap yang sedang mengisi air lewat corong yang kini telah hilang. Air tersebut berasal dari menara air atau watertoren di sebelah barat stasiun yang airnya dipasok dari sumur yang ada di bawahnya. Air merupakan sumber daya penting yang harus ada di beberapa stasiun karena pada zaman dahulu, mesin lokomotif masih digerakkan dengan tenaga uap yang mana membutuhkan air untuk menghasilkan uap. Sementara itu, terlihat para kuli dengan otot kekarnya sedang sibuk memindahkan muatan gerbong ke gudang yang hingga sekarang masih ada di selatan stasiun. Di ujung utara emplasemen stasiun, sebuah lokomotif terlihat sedang diperbaiki di dalam depo yang sampai sekarang masih berdiri. Semua pemandangan itu disaksikan setiap harinya oleh para keluarga pamong stasiun yang menempati deretan rumah dinas yang berdiri rapi menghadap stasiun. Deru mesin dan peluit lokomotif yang khas tentu mereka dengar tiap harinya. Ah, sungguh menjadi sebuah romansa tersendiri ketika mengingat pemandangan itu.

Rumah tua yang diduga merupakan rumah kepala Stasiun gundih.
Bagian beranda depan rumah, dimana dulu aktivitas Stasiun Gundih dapat terlihat jelas dari sini.


Pintu depan.
Dari Stasiun Gundih, saya menjajal untuk mencari berbagai tinggalan kuno lain di sekitar Stasiun Gundih. Tinggalan yang pertama ialah sebuah rumah kuno kosong yang bentuknya mengingatkan saya pada rumah kuno di dekat Stasiun Kedungjati. Lokasinya lebih tinggi dibandingkan rumah dinas di sebelah barat stasiun tadi. Sebelum banyak permukiman warga yang dibangun di depannya, pemandangan emplasemen stasiun dapat terlihat jelas dari beranda depannya. Sayangnya, keindahan rumah tersebut dirusak dengan graffiti liar di dinding depannya…
Gedung Papak Gundih.
Gedung Papak, itulah julukan masyarakat sekitar pada gedung tua yang saya temukan di sebelah utara rumah tua kosong tadi. Ia dijuluki demikian karena atapnya yang datar atau papak. Tak diketahui apa fungsi bangunan tua ini dulunya, namun kuat dugaan jika ia merupakan bekas tempat tinggal kepala Dienst van het Boswezen cabang Gundih yang mengatur segala eksploitasi kayu di Geyer. Sayang, dibalik kemegahannya, bangunan bertingkat dua itu juga menyimpan kisah kelam. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu sempat dijadikan tempat penampungan para jugun ianfu, para perempuan yang dipaksa menjadi budak nafsu untuk serdadu Jepang.

Beranjak siang, panasnya udara Gundih segera terasa. Sayapun memutuskan mengakhiri petualangan saya mencari serpihan kejayaan Stasiun Gundih. Sebelum meninggalkan Gundih, sayup-sayup terdengar gemuruh suara kereta yang akan melintas. Namun dari gemuruhnya yang hanya terdengar sekilas saja, kereta itu tampaknya melewatkan stasiun ini. Ya, kejayaan stasiun ini sudah lama lewat, tapi saya percaya, selama Stasiun Gundih masih berdiri, serpihan kejayaannya tak akan terlupakan….

Referensi

Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Senin, 15 Agustus 2016

Gua Jepang Pundong, Artefak Perang Dunia Kedua di Pantai Selatan Yogya

Di perbukitan Pundong yang tandus, gua-gua beton itu terdiam bisu memandang birunya laut selatan. Gua-gua itu hanyalah satu dari sekian banyaknya artifak dari suatu bagian perjanan sejarah umat manusia yang bernama Perang Dunia Kedua. Puluhan tahun silam, gua-gua itu dirancang sebagai pos pertahanan milik Jepang yang sebentar saja menguasai Nusantara pada Perang Dunia Kedua. Kini, saya mencoba meraba sejarah daripada artifak-artifak itu.

Akses jalan menuju Gua Jepang.
Setelah menempuh perjalanan dari kota Yogyakarta ke Parangtritis, sesampainya di Jembatan Kretek yang membentang di atas Sungai Opak, saya berbelok ke kiri menyusuri jalan aspal yang sejajar dengan sungai. Tak lama kemudian, saya melihat plang bertuliskan “ Situs Gua Jepang “ yang mengarah ke sebuah tanjakan. Jalan yang saya tempuh memiliki tanjakan yang cukup miring. Untunglah kendaraan saya dalam kondisi prima. Kendaraan saya kemudikan dengan hati-hati karena dalamnya jurang sudah siap menyambut saya jika gegabah. Setelah melalui jalan yang berliku dan menanjak, sampailah saya di situs yang terpampang pada plang tadi.
Panorama pesisir selatan dilihat dari Situs Gua Jepang. Di sinilah Jepang memperkirakan sekutu akan mendarat.
Situs Gua Jepang terletak di perbatasan desa Seloharjo kecamatan Pundong, Bantul dengan kecamatan Panggang, Gunungkidul. Terdapat sekitar 18 gua yang harus saya lihat di situs itu, membuat saya bingung harus memulai dari gua nomor berapa. Saat berdiri di atas gua nomor 10, di hadapan saya sekarang, tersuguh pemandangan laut selatan dengan garis pantai yang tampak begitu lurus nyaris tiada putusnya. Garis pantai selatan ini mengingatkan saya dengan garis pantai Normandia, Perancis, tempat dimana tentara Sekutu melakukan pendaratan akbar untuk menggulingkan kuasa Nazi Jerman di Eropa pada 6 Juni 1944. Ingatan saya akhirnya melayang pada perisitiwa Perang Dunia Kedua, perang paling kelam yang masih tertanam di ingatan umat manusia sampai hari ini.
Peta ekspansi Jepang ke Hindia-Belanda (sumbber : common.wikipedia.org).
Kalender menunjukan tahun 1941, Perang Dunia Kedua mulai berkecamuk di atas gelombang Samudera Pasifik. Jepang sebagai kekuatan baru di Asia mulai menampilkan supremasinya di belahan Asia Timur. Rampung memporak-porandakan Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, Jepang menguasai Asia Tenggara dalam waktu yang singkat saja. Asia Tenggara yang kaya SDA menjadi sasaran mereka setelah Amerika mengembargo perdagangan Jepang yang di negerinya sendiri tidak kaya SDA. Hanya berselang tak lebih dari dua bulan, Jepang mendaratkan pasukannya di Hindia-Belanda untuk pertama kalinya di Tarakan pada 11 Januari 1942. Armada gabungan Belanda, Australia, Inggris, dan Amerika dibuat tak berdaya oleh Jepang di Laut Jawa. Pemerintah kolonial Belanda akhirnya bertekuk lutut di hadapan Jepang di sebuah rumah sederhana di Kalijati pada 8 Maret 1942. Belanda yang sudah bercokol di Hindia-Belanda selama lebih dari dua abad, akhirnya harus hengkang dari tanah jajahan mereka. Kuasa Hindia-Belanda pun jatuh ke pangkuan Jepang dalam waktu tak lebih dari setahun.

Di saat Nazi Jerman membangun garis pertahanannya di sepanjang pantai Barat Eropa untuk mempertahankan kekuasaannya, Jepang tak ketinggalan pula mendirikan garis pertahanan di tempat yang mereka kuasai. Dalam Kitab Penoentoen Pembelaan Tanah Air untuk Oemoem, Boelan 12, tahoen 19 shoowa osamu 1602 Butai, dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis pengawasan, salah satunya yakni pengawasan pantai (Kaigan kanshi) (Priadi Anggoro, 2008;30). Pantai selatan menjadi perhatian Jepang karena secara geografis dekat dengan Australia, salah satu musuh Jepang. Jepang menyangka Sekutu akan mendarat di sana. Andaikata Sekutu berhasil mendarat di sana, maka habislah Jepang.
Berpangkal dari permasalahan tersebut Jepang, beberapa titik di pantai selatan Jawa diperkuat dengan rangkaian pos pertahanan. Salah satu titik yang dibangun adalah Perbukitan Pundong yang berkapur. Dengan ketinggian sekitar 384 mdpl, perbukitan tandus itu menjadi tempat yang ideal bagi Jepang untuk meninjau pergerakan musuh di pesisir. Dari segi strategi, letak gua yang berada di puncak perbukitan sangat menguntungkan Jepang karena keberadaan musuh dapat dipantau dengan jelas dan sukar dijangkau musuh. Sayangnya, tidakkah Jepang paham bahwa sepanjang sejarah, tak ada satupun musuh yang menyerbu dari pantai selatan ? Itu dikarenakan perairan Samudera Hindia yang bergelombang tinggi bukanlah tempat yang tepat untuk kapal-kapal besar berlabuh. Mustahil mereka mendaratkan pasukan di sini. Pembuatan rangkaian pertahanan di pesisir selatan Jawa oleh Jepang akhirnya menjadi sia-sia karena Sekutu justru melancarkan serangan dari arah Pasifik
Peta persebaran gua-gua di situs Gua Jepang.
Sedikit sekali cerita mengenai pembangunan gua ini yang bisa digali karena banyak saksi mata yang sudah meninggal. Tak ada pula arsip atau catatan tertulis mengenai pembangunan. Menurut warga yang sudah lama tinggal di sana, gua-gua ini dibangun dengan tenaga dari penduduk desa sekitar. Dijelaskan pula bahwa gua-gua itu walau telah selesai dibangun, ternyata sama sekali tidak pernah dipakai. Mengapa demikian ? Rupanya gua - gua ini dibangun menjelang perang berakhir, dimana kedudukan Jepang semakin terdesak dan ketika selesai dibangun, Jepang sudah menyerah.

Saya memasuki bagian dalam gua No. 10 yang sempit. Gua ini, sebagaimana gua lain di situs Gua Jepang Pundong dibuat dengan menggali bukit dan diperkuat dengan konstruksi beton kokoh setebal 60 cm. Selain menggunakan semen, sirtu, besi, dan kayu pohon kelapa, penggunaan batu kapur menunjukan bahwa selama pembangunan diusahakan menggunakan material yang mudah ditemukan di sekitar lokasi. Untuk mengecoh musuh serta memberi unsur kejutan, maka gua-gua tadi disamarkan dengan cara menimbunnya dengan tanah.

Gua-gua di situs ini tersebar di beberapa tempat dengan kondisi medan yang bearagam. Ada yang berada di puncak bukit, lereng terjal, atau di tanah datar. Butuh fisik prima untuk menjejalahi semua gua satu persatu karena letaknya berjauhan. Beberapa harus dicapai dengan berjalan kaki. Secara garis besar, gua di sini dibagi menjadi dua jenis, yakni pillbox dan bunker yang memiliki fungsi tertentu. Setiap gua diletakan dengan seksama sesuai fungsinya untuk mendukung upaya pertahanan secara menyeluruh.
Berbagai jenis pillbox yang ada di situs gua Jepang.Perhatikan bahwa semuanya memiliki sebuah lubang intai/tembak di bagian samping dengan cerobong kecil di bagian atasnya.
Gua bernomor 2, 4, 5, 7, 10, 11, 13 dan 18 merupakan gua jenis pillbox, yakni pos jaga tertutup yang dilengkapi dengan lubang pengintai atau lubang tembak (Oktaviadi Abrianto, 2011; 115). Celah sebuah pillbox memiliki ukuran yang disesuaikan dengan jenis senjata yang dipakai. Melalui lubang itulah tentara yang berada di dalam pillbox membidik dan menembak sasaran. Gua-gua pillbox yang saya temukan di situs ini memiliki ukuran yang kecil, sehingga saya berasumsi jika senjata yang dipakai adalah senjata ringan seperti senapan mesin type 92 kaliber 7,7 mm. Senjata itu baru ditembakan jika musuh sudah berada 1.500 meter dari titik tembak. Letak gua-gua pillbox di sini berada di lereng bukit agar memudahkan pengintaian dan menyerang musuh. Ada pula pillbox yang dibangun di puncak bukit. Pada pillbox di puncak bukit seperti gua no 2, 7 dan 11., menyembul semacam kubah yang memiliki empat lubang pengintai di keempat sisi.
Berbagai gua pengintai yang ada di gua Jepang. Perhatikan kubah segi delapan di bagian atas yang berfungsi sebagai tempat pengintaian.
Menyerang sebuah pillbox bukanlah perkara gampang. Dengan tebalnya tembok beton, setidaknya butuh bantuan senjata berat seperti bom atau senjata khusus seperti penyembur api. Letaknya yang berada di lereng terjal menaikan tingkat kesulitan bagi musuh yang hendak menjangkaunya. Walau sudah dilindungi dengan tembok beton yang kuat, serdadu yang berada di dalam pillbox belum tentu aman dari serangan. Pillbox-pillbox ini akan menjadi peti mati beton untuk mereka yang di dalam pillbox andai musuh membawa senjata penyembur api. Hampir dipastikan mereka yang berada di dalam tak dapat keluar hidup-hidup jika senjata maut tadi memuntahkan api ke dalam pillbox.
Bunker-bunker yang dibangun untuk keperluan tertentu.
Gua no. 1, 3, 6, 8, 9, 12, 14, 15, dan 16 adalah gua-gua jenis bunker yang tidak dilengkapi dengan lubang pengintai. Perannya lebih ditekankan pada kepentingan penyimpanan logisitik, amunisi, pusat komando, ruang komunikasi, dapur umum, dan tempat tinggal serdadu. Letak-letak bunker itu sudah diatur untuk memudahkan gerak pasukan. Bunker penyimpanan logistik berada di dekat dapur umum. Sementara bunker amunisi dan serdadu diletakkan di dekat pillbox. Antar kubu gua dihubungkan dengan jaringan parit kecil agar pasukan dapat bergegas mengisi sektor pertahanan yang terancam. Parit-parit ini menurut warga sekitar dulu ditutup dengan ijuk agar tidak terlihat dari udara. 

Bagian dalam Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Perhatikan bahwa terdapat empat tungku masak di dalam sini. Pastinya tidak nyaman memasak di dalam sini karena asap terkadang masih bisa memenuhi ruangan meski ada saluran pembuangan asap.
Bagian luar Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Gua ini dibangun di dekat sebuah saluran air berukuran kecil untuk lebih mudah mendapatkan air mengingat situs Gua Jepang berada di atas perbukitan yang air nya sedikit. 
Jalan parit yang menghubungkan Gua 17 dengan Gua 18. Dahulu setiap gua yang ada di situs Gua Jepang Pundong dihubungkan dengan sebuah parit.
Lingkungan di sekitar gua sangat tandus karena letaknya berada di puncak bukit kapur yang tidak dapat menampung air. Sulit rasanya bagi warga sekitar jika hanya hidup sebagai petani. Sebab itulah mereka mencari rejeki tambahan dengan membuka warung di sekitar gua. Saat ini Situs Gua Jepang sudah dikembangkan sebagai tempat wisata. Suguhan pemandangan menjadi daya tarik tambahan selain gua-gua tadi.

Saat ini, lingkungan sekitar gua sudah menjadi tegalan dengan kondisi tanah tidak subur karena lokasinya berada di atas perbukitan dan sifat tanahnya yang tidak bisa menyimpan  air. Situs Gua Jepang Pundong terpelihara cukup baik. Di sini terdapat juru pelihara situs yang diangkat oleh BPCB Yogyakarta. Walau usaha yang mereka lakukan terbilang kecil, namun setidaknya hasil jerih payah mereka bisa mereka rasakan sendiri, ketimbang mengundang investor yang mungkin hasilnya lebih besar namun warga hanya menjadi penonton saja. Gua-gua ini mungkin gagal menjalankan perannya, namun secara tidak langsung mereka berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar…

Referensi
Abrianto, Oktaviadi . 2011. " Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Sesudah Abad ke-20 M di Indonesia " dalam Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Sumedang : Penerbit Alqaprint.

Anggoro, Priadi. 2008. " Strategi Pengelolaan Gua Jepang di Seloharjo Pundong,Bantul sebagai Objek Wisata ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitass Gajah Mada.