Senin, 15 Agustus 2016

Gua Jepang Pundong, Artefak Perang Dunia Kedua di Pantai Selatan Yogya

Terbentang di utara pesisir selatan Yogyakarta, gemulai lekuk perbukitan Pundong terlihat jelas tenar itu. Di perbukitan yang gersang itu, gua-gua beton tinggalan Jepang itu terdiam bisu memandang birunya laut selatan. Gua-gua itu hanyalah satu dari sekian banyaknya artifak dari suatu bagian perjanan sejarah umat manusia yang bernama Perang Dunia Kedua. Puluhan tahun silam, gua-gua itu dirancang sebagai pos pertahanan milik Jepang yang sebentar saja menguasai Nusantara pada Perang Dunia Kedua. Kini, saya mencoba meraba sejarah daripada artifak-artifak itu.
Akses jalan menuju Gua Jepang.
Setelah menempuh perjalanan dari kota Yogyakarta ke Parangtritis, sesampainya di Jembatan Kretek yang membentang di atas Sungai Opak, saya berbelok ke kiri menyusuri jalan aspal yang sejajar dengan sungai. Tak lama kemudian, saya melihat plang bertuliskan “ Situs Gua Jepang “ yang mengarah ke sebuah tanjakan. Jalan yang saya tempuh memiliki tanjakan yang cukup miring. Untunglah kendaraan saya dalam kondisi prima. Kendaraan saya kemudikan dengan hati-hati karena dalamnya jurang sudah siap menyambut saya jika gegabah. Setelah melalui jalan yang berliku dan menanjak, sampailah saya di situs yang terpampang pada plang tadi.
Panorama pesisir selatan dilihat dari Situs Gua Jepang. Di sinilah Jepang memperkirakan sekutu akan mendarat.
Situs Gua Jepang terletak di perbatasan desa Seloharjo kecamatan Pundong, Bantul dengan kecamatan Panggang, Gunungkidul. Terdapat sekitar 18 gua yang harus saya lihat di situs itu, membuat saya bingung harus memulai dari gua nomor berapa. Saat berdiri di atas gua nomor 10, di hadapan saya sekarang, tersuguh pemandangan laut selatan dengan garis pantai yang tampak begitu lurus nyaris tiada putusnya. Garis pantai selatan ini mengingatkan saya dengan garis pantai Normandia, Perancis, tempat dimana tentara Sekutu melakukan pendaratan akbar untuk menggulingkan kuasa Nazi Jerman di Eropa pada 6 Juni 1944. Ingatan saya akhirnya melayang pada perisitiwa Perang Dunia Kedua, perang paling kelam yang masih tertanam di ingatan umat manusia sampai hari ini.
Peta ekspansi Jepang ke Hindia-Belanda (sumbber : common.wikipedia.org).
Kalender menunjukan tahun 1941, Perang Dunia Kedua mulai berkecamuk di atas gelombang Samudera Pasifik. Jepang sebagai kekuatan baru di Asia mulai menampilkan supremasinya di belahan Asia Timur. Rampung memporak-porandakan Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, Jepang menguasai Asia Tenggara dalam waktu yang singkat saja. Asia Tenggara yang kaya SDA menjadi sasaran mereka setelah Amerika mengembargo perdagangan Jepang yang di negerinya sendiri tidak kaya SDA. Hanya berselang tak lebih dari dua bulan, Jepang mendaratkan pasukannya di Hindia-Belanda untuk pertama kalinya di Tarakan pada 11 Januari 1942. Armada gabungan Belanda, Australia, Inggris, dan Amerika dibuat tak berdaya oleh Jepang di Laut Jawa. Pemerintah kolonial Belanda akhirnya bertekuk lutut di hadapan Jepang di sebuah rumah sederhana di Kalijati pada 8 Maret 1942. Belanda yang sudah bercokol di Hindia-Belanda selama lebih dari dua abad, akhirnya harus hengkang dari tanah jajahan mereka. Kuasa Hindia-Belanda pun jatuh ke pangkuan Jepang dalam waktu tak lebih dari setahun.

Di saat Nazi Jerman membangun garis pertahanannya di sepanjang pantai Barat Eropa untuk mempertahankan kekuasaannya, Jepang tak ketinggalan pula mendirikan garis pertahanan di tempat yang mereka kuasai. Dalam Kitab Penoentoen Pembelaan Tanah Air untuk Oemoem, Boelan 12, tahoen 19 shoowa osamu 1602 Butai, dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis pengawasan, salah satunya yakni pengawasan pantai (Kaigan kanshi) (Priadi Anggoro, 2008;30). Pantai selatan menjadi perhatian Jepang karena secara geografis dekat dengan Australia, salah satu musuh Jepang. Jepang menyangka Sekutu akan mendarat di sana. Andaikata Sekutu berhasil mendarat di sana, maka habislah Jepang.
Berpangkal dari permasalahan tersebut Jepang, beberapa titik di pantai selatan Jawa diperkuat dengan rangkaian pos pertahanan. Salah satu titik yang dibangun adalah Perbukitan Pundong yang berkapur. Dengan ketinggian sekitar 384 mdpl, perbukitan tandus itu menjadi tempat yang ideal bagi Jepang untuk meninjau pergerakan musuh di pesisir. Dari segi strategi, letak gua yang berada di puncak perbukitan sangat menguntungkan Jepang karena keberadaan musuh dapat dipantau dengan jelas dan sukar dijangkau musuh. Sayangnya, tidakkah Jepang paham bahwa sepanjang sejarah, tak ada satupun musuh yang menyerbu dari pantai selatan ? Itu dikarenakan perairan Samudera Hindia yang bergelombang tinggi bukanlah tempat yang tepat untuk kapal-kapal besar berlabuh. Mustahil mereka mendaratkan pasukan di sini. Pembuatan rangkaian pertahanan di pesisir selatan Jawa oleh Jepang akhirnya menjadi sia-sia karena Sekutu justru melancarkan serangan dari arah Pasifik
Peta persebaran gua-gua di situs Gua Jepang.
Sedikit sekali cerita mengenai pembangunan gua ini yang bisa digali karena banyak saksi mata yang sudah meninggal. Tak ada pula arsip atau catatan tertulis mengenai pembangunan. Menurut warga yang sudah lama tinggal di sana, gua-gua ini dibangun dengan tenaga dari penduduk desa sekitar. Dijelaskan pula bahwa gua-gua itu walau telah selesai dibangun, ternyata sama sekali tidak pernah dipakai. Mengapa demikian ? Rupanya gua - gua ini dibangun menjelang perang berakhir, dimana kedudukan Jepang semakin terdesak dan ketika selesai dibangun, Jepang sudah menyerah.

Saya memasuki bagian dalam gua No. 10 yang sempit. Gua ini, sebagaimana gua lain di situs Gua Jepang Pundong dibuat dengan menggali bukit dan diperkuat dengan konstruksi beton kokoh setebal 60 cm. Selain menggunakan semen, sirtu, besi, dan kayu pohon kelapa, penggunaan batu kapur menunjukan bahwa selama pembangunan diusahakan menggunakan material yang mudah ditemukan di sekitar lokasi. Untuk mengecoh musuh serta memberi unsur kejutan, maka gua-gua tadi disamarkan dengan cara menimbunnya dengan tanah.

Gua-gua di situs ini tersebar di beberapa tempat dengan kondisi medan yang bearagam. Ada yang berada di puncak bukit, lereng terjal, atau di tanah datar. Butuh fisik prima untuk menjejalahi semua gua satu persatu karena letaknya berjauhan. Beberapa harus dicapai dengan berjalan kaki. Secara garis besar, gua di sini dibagi menjadi dua jenis, yakni pillbox dan bunker yang memiliki fungsi tertentu. Setiap gua diletakan dengan seksama sesuai fungsinya untuk mendukung upaya pertahanan secara menyeluruh.
Berbagai jenis pillbox yang ada di situs gua Jepang.Perhatikan bahwa semuanya memiliki sebuah lubang intai/tembak di bagian samping dengan cerobong kecil di bagian atasnya.
Gua bernomor 2, 4, 5, 7, 10, 11, 13 dan 18 merupakan gua jenis pillbox, yakni pos jaga tertutup yang dilengkapi dengan lubang pengintai atau lubang tembak (Oktaviadi Abrianto, 2011; 115). Celah sebuah pillbox memiliki ukuran yang disesuaikan dengan jenis senjata yang dipakai. Melalui lubang itulah tentara yang berada di dalam pillbox membidik dan menembak sasaran. Gua-gua pillbox yang saya temukan di situs ini memiliki ukuran yang kecil, sehingga saya berasumsi jika senjata yang dipakai adalah senjata ringan seperti senapan mesin type 92 kaliber 7,7 mm. Senjata itu baru ditembakan jika musuh sudah berada 1.500 meter dari titik tembak. Letak gua-gua pillbox di sini berada di lereng bukit agar memudahkan pengintaian dan menyerang musuh. Ada pula pillbox yang dibangun di puncak bukit. Pada pillbox di puncak bukit seperti gua no 2, 7 dan 11., menyembul semacam kubah yang memiliki empat lubang pengintai di keempat sisi.
Berbagai gua pengintai yang ada di gua Jepang. Perhatikan kubah segi delapan di bagian atas yang berfungsi sebagai tempat pengintaian.
Menyerang sebuah pillbox bukanlah perkara gampang. Dengan tebalnya tembok beton, setidaknya butuh bantuan senjata berat seperti bom atau senjata khusus seperti penyembur api. Letaknya yang berada di lereng terjal menaikan tingkat kesulitan bagi musuh yang hendak menjangkaunya. Walau sudah dilindungi dengan tembok beton yang kuat, serdadu yang berada di dalam pillbox belum tentu aman dari serangan. Pillbox-pillbox ini akan menjadi peti mati beton untuk mereka yang di dalam pillbox andai musuh membawa senjata penyembur api. Hampir dipastikan mereka yang berada di dalam tak dapat keluar hidup-hidup jika senjata maut tadi memuntahkan api ke dalam pillbox.
Bunker-bunker yang dibangun untuk keperluan tertentu.
Gua no. 1, 3, 6, 8, 9, 12, 14, 15, dan 16 adalah gua-gua jenis bunker yang tidak dilengkapi dengan lubang pengintai. Perannya lebih ditekankan pada kepentingan penyimpanan logisitik, amunisi, pusat komando, ruang komunikasi, dapur umum, dan tempat tinggal serdadu. Letak-letak bunker itu sudah diatur untuk memudahkan gerak pasukan. Bunker penyimpanan logistik berada di dekat dapur umum. Sementara bunker amunisi dan serdadu diletakkan di dekat pillbox. Antar kubu gua dihubungkan dengan jaringan parit kecil agar pasukan dapat bergegas mengisi sektor pertahanan yang terancam. Parit-parit ini menurut warga sekitar dulu ditutup dengan ijuk agar tidak terlihat dari udara. 

Bagian dalam Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Perhatikan bahwa terdapat empat tungku masak di dalam sini. Pastinya tidak nyaman memasak di dalam sini karena asap terkadang masih bisa memenuhi ruangan meski ada saluran pembuangan asap.
Bagian luar Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Gua ini dibangun di dekat sebuah saluran air berukuran kecil untuk lebih mudah mendapatkan air mengingat situs Gua Jepang berada di atas perbukitan yang air nya sedikit. 
Jalan parit yang menghubungkan Gua 17 dengan Gua 18. Dahulu setiap gua yang ada di situs Gua Jepang Pundong dihubungkan dengan sebuah parit.
Lingkungan di sekitar gua sangat tandus karena letaknya berada di puncak bukit kapur yang tidak dapat menampung air. Sulit rasanya bagi warga sekitar jika hanya hidup sebagai petani. Sebab itulah mereka mencari rejeki tambahan dengan membuka warung di sekitar gua. Saat ini Situs Gua Jepang sudah dikembangkan sebagai tempat wisata. Suguhan pemandangan menjadi daya tarik tambahan selain gua-gua tadi.

Saat ini, lingkungan sekitar gua sudah menjadi tegalan dengan kondisi tanah tidak subur karena lokasinya berada di atas perbukitan dan sifat tanahnya yang tidak bisa menyimpan  air. Situs Gua Jepang Pundong terpelihara cukup baik. Di sini terdapat juru pelihara situs yang diangkat oleh BPCB Yogyakarta. Walau usaha yang mereka lakukan terbilang kecil, namun setidaknya hasil jerih payah mereka bisa mereka rasakan sendiri, ketimbang mengundang investor yang mungkin hasilnya lebih besar namun warga hanya menjadi penonton saja. Gua-gua ini mungkin gagal menjalankan perannya, namun secara tidak langsung mereka berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar…

Referensi
Abrianto, Oktaviadi . 2011. " Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Sesudah Abad ke-20 M di Indonesia " dalam Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Sumedang : Penerbit Alqaprint.

Anggoro, Priadi. 2008. " Strategi Pengelolaan Gua Jepang di Seloharjo Pundong,Bantul sebagai Objek Wisata ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitass Gajah Mada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar