Sabtu, 01 April 2017

Melacak Jejak-Jejak Kolonial di Kota Temanggung

Kabupaten Temanggung termasuk salah satu kabupaten yang banyak memiliki situs dan bangunan bersejarah, contohnya yang sudah terkenal misalnya Situs Liyangan, situs arkeologi dari masa klasik yang merupakan peninggalan masa klasik paling lengkap sejauh ini atau Parakan, kota tua yang menyimpan banyak bangunan berarsitektur Tionghoa. Di pusat kota Temanggung, kita juga dapat menemukan berbagai peninggalan sejarah, terutama yang berasal dari masa kolonial. Nah, pada edisi Jejak Kolonial kali ini, saya akan mengajak anda untuk mengulik jejak-jejak kolonial yang tertinggal di Temanggung. Apa saja itu dan seperti apa sejarahnya ?

Selintas Sejarah Temanggung

Secara geografis, kota Temanggung terletak di dataran Kedu yang merupakan dataran tinggi dan sangat subur, maka tidak heran jika kota ini memiliki corak agraris. Sejarah Temanggung sendiri dapat dilacak jauh sampai masa Hindu-Budha yang dibuktikan dengan keberadaan prasasti-prasasti kuno yang banyak ditemukan di sekitar Temanggu, misalnya Prasasti Wanua Tengah III, Gondosuli. Mantyasih, Tlahap, dan lain-lain. Pada masa kekuasaan Sultan Agung, Temanggung merupakan sentral penghasil beras yang menghidup para pejabat kerajaan dan kerabat raja serta menjadi pemasok makanan untuk pasukan perang ( Muhammad, 2013; 24-26 ).
Para pejabat Belanda dan Jawa yang sedang berpose di depan bangunan yang saat ini menjadi SMK Dr. Soetomo ( foto sekarang ada di bawah ). Duduk paling belakang, tampak C.J. Biynen, Raden Tumenggung Holland Soemodirdjo, G.L.H. Kruijsboom, G.G.L. Freiburg. Foto diambil tahun 1888 ( sumber : media-kitlv.nl ).
Catatan sejarah menunjukan, pada masa kolonial Temanggung secara administratif berada di bawah Karesdienan Kedu. Pada waktu itu, Kabupaten Temanggung masih bernama Kabupaten Menoreh dengan ibukota di Parakan. Bupati pertama Temanggung adalah Raden Tumenggung Ario Soemodilogo, putra seorang patih dari Semarang. Bersama dengan bupati Magelang, Raden Danuningrat, ia diperintahkan oleh Belanda untuk menghadapi  perlawanan pasukan Diponegoro. Raden Tumenggung Ario Soemodilogo akhirnya tewas saat diserang sehingga posisinya digantikan oleh Raden Djojonegoro. Di masa Raden Djojonegoro inilah, ibukota Kabupaten Menoreh yang semula berada di Parakan dipindah ke kota Temanggung yang sekarang. Mengapa dipindah ? Menurut masyarakat Jawa, ibukota Parakan dianggap tidak “suci” lagi karena pernah diserang musuh dan mereka percaya sebuah kota yang pernah diserang musuh tidak layak menjadi ibukota. Selain alasan kepercayaan, pemindahan ini juga dikarenakan ada suatu distrik di wilayah Kabupaten Magelang yang bernama distrik Menoreh, sehingga nama Kabupaten Menoreh sudah tidak relevan lagi. Akhirnya, berdasarkan besluit yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 10 November 1834, Kabupaten Menoreh resmi berubah nama menjadi Kabupaten Temanggung dengan kedudukan di kota Temanggung (Muhammad 2013; 30 ).
Raden Adipati Arya Holland Soemodilogo, bupati ketiga Temanggung. Gelar adipati biasanya diberikan oleh pemerintah kolonial, tujuannya agar kekuasaan pemeritnah kolonial di tingkat daerah masih mendapat kepercayaan dari masyarakat. Gelar-gelar seperti adipati, pangeran, atau arya pada masa kolonial hanyalah gelar kosong belaka karena wewenang dan kekuasaan  telah dibatasi oleh pemerintah kolonial.
Setelah Perang Jawa ( 1825-1830 ), kota Temanggung menjadi kota agraris yang terkenal akan hasil buminya berupa tembakau. Selain tembakau, Temanggung juga terkenal akan hasil bumi lainnya berupa kopi dan the. Untuk tembakau, pemerintah kolonial menyerahkan sebagian usaha tanamnya kepada pengusaha partikelir karena tembakau butuh pemeliharaan rumit dan harganya tidak begitu menguntungkan bagi pemerintah kolonial Temanggung ( Muhammad 2013; 39 ).
Peta kawasan alun-alun Temanggung pada masa kolonial. Di sekitar Aloon-aloon ( alun-alun ), tampak bangunan penting seperti Mesigit ( Masjid Agung Temanggung ), Gevanngenis ( Penjara ), Regent ( Rumah tinggal bupati ), dan Assistent Residen ( saat ini menjadi Kantor DPRD Temanggung ).  ( Sumber : maps.library.leiden.edu )
Kota Temanggung secara struktur memiliki tata kota Indis, yakni tata kota yang memadukan tata kota tradisional dan Belanda ( Eropa ). Hal ini dapat dibuktikan dari keberadaan alun-alun sebagai pusat kota tradisional ( Soekiman, 2014;155 ). Di sekeliling alun-alun, terdapat bangunan-bangunan penting. Misalnya masjid yang di struktur kota tradisional posisinya pasti berada di sebelah barat alun-alun, kediaman bupati di sebelah utara alun-alun dengan orientasi menghadap ke alun-alun, dan kediaman asisten residen. Selain itu di sebelah barat alun-alun juga terdapat bangunan penting lainnya berupa gevangenis atau penjara. Dari keempat bangunan penting yang berdiri di sekitar alun-alun Temanggung tadi, sudah tidak ada yang asli lagi karena banyak yang dibumihanguskan pada masa perang Kemerdekaan. Karena kota Temanggung lebih berfungsi sebagai kota administrasi yang berada di bawah Karesidenan Kedu, maka tidak terlalu banyak bangunan penting yang ditemukan di sini selain bangunan yang ada di alun-alun. Bangunan-bangunan penting lain yang dahulu pernah berdiri misalnya bank, sekolah, kantor pos, dan hotel yang terletak di sepanjang jalan utama Temanggung-Magelang atau Stasiun Temanggung yang diletakan agak ke pinggir kota supaya tidak terlalu banyak persimpangan di tengah kota.

Jejak-Jejak Kolonial di Kota Temanggung
Persebaran bangunan kolonial di Temanggung. Keterangan :
1. Kawasan alun-alun.
2. Rumah controleur.
3. Rumah keluarga Lie.
4. Rumah beheeder.
5. Stasiun Temanggung.
6. Bekas Kerkhof Temanggung,
7.Klenteng Kong Ling Bio.
Meski Temanggung tidak begitu banyak memiliki bangunan penting dari masa kolonial dan itupun sudah tidak ada yang asli lagi, namun Temanggung masih menyimpan beberapa peninggalan masa kolonial yang cukup menarik untuk dieksplorasi.
Bangunan SDN 3 Temanggug yang bergaya kolonial. Pada masa kolonial bangunan ini merupakan rumah tinggal pejabat controleur atau kontrolir. Jabatan kontrolir setingkat dibawah asisten Residen dan bertugas sebagai pembantu asisten residen. Jabatan kontrolir mulai diperkenalkan sejak era tanam paksa dimana kekuasaan bupati mulai sengaja dibuat merosot oleh pemerintah kolonial.
Rumah keluarga Lie yang masih terawat dengan baik.
Salah satu bangunan peninggalan masa kolonial yang cukup menonjol di Temanggung adalah rumah yang dahulu dibangun oleh seorang pedagang tembakau kaya bernama Lie Tiauw Ing, yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro. Rumah yang dibangun pada tahun 1870 ini sekarang masih dihuni oleh generasi ketujuh dari tuan pembangun rumah ini. Menariknya, meski rumah ini dibangun oleh orang Tionghoa, tapi alih-alih seperti rumah-rumah orang Tionghoa pada umumnya yang berbentuk seperti ruko, rumah ini justru menyerupai rumah seorang pembesar Belanda dengan halaman yang luas, beranda depan yang besar dan kolom-kolom batu bergaya Yunani klasik di bagian depan yang menjadi ciri khas dari arsitektur Indisch Empire Style. Apa itu sebenarnya arsitektur Indisch Empire Style ?
Bagian beranda depan. Tampak tiga buah pintu berukuran besar yang menjadi salah satu ciri rumah bergaya Indisch Empire Stye. Meski memiliki tiga pintu, hanya satu yang menjadi pintu masuk utama. Pintu-pintu ini selain berguna untuk memperlancar sirkulasi udara di dalam ruangan juga menjadi simbol prestise bagi pemilik rumah,
Arsitekur Indisch Empire Style merupakan gaya arsitektur yang mulai dikenal pada masa Gubernur Jenderal yang terkenal dengan proyek jalur pos-nya yang membentang dari Anyer ke Panarukan, H.W. Daendels. Gaya pemerintahannya yang keras dan angkuh serta ditambah dengan kekagumannya pada kekaisaran Perancis yang didirikan oleh Napoleon Bonaparte menjadi sumber inspirasi Daendels untuk memperkenalkan gaya arsitektur Empire dari Perancis ke Hindia-Belanda. Dari namanya saja, arsitektur ini berusaha menunjukan keangkuhan kekaisaran Perancis dalam wujud bangunan yang besar dan ditambah unsur-unsur lama seperti pilar-pilar bergaya Romawi. Arsitektur impor ini kemudian diimprovisasi dengan iklim tropis misalnya membuat teras keliling, jendela dan pintu yang tinggi dan teritisan yang lebar, maka jadilah arsitektur gado-gado yang dikenal sebagai Indisch Empire Style. Sepanjang abad ke-19, banyak orang-orang Belanda yang membangun rumah dengan gaya seperti ini. Selain untuk tujuan kenyamanan, juga bertujuan untuk menunjukan keangkuhan mereka di hadapan orang-orang pribumi. Orang-orang Tionghoa kaya pun juga ikut-kutan membangun rumah dalam bentuk demikian, mengabaikan fengshui dan kaidah arsitektur tradisional Tionghoa yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Umumnya, tujuan mereka mendirikan rumah dengan gaya arsitektur Indis Empire Style yakni agar mereka dipandang setara dengan orang-orang Belanda karena di masa kolonial, orang-orang Tionghoa berada setingkat di bawah orang-orang Belanda. Arsitektur Indisch Empire Style akhirnya “punah” pada awal abad ke-20, ketika harga tanah semakin mahal dan semakin banyak arsitek profesional dari Belanda ke Hindia-Belanda yang mulai memperkenalkan gaya arsitektur yang lebih modern dan luwes….( Handinoto, 2010; 44-56 ).
Bagian ruang tamu. Tampak meja altar leluhur yang terdapat di setiap rumah keluarga Tionghoa. Perabotan ini merupakan perabot paling utama pada setiap rumah tangga Tionghoa karena merupakan simbol keluarga. Ada kepercayaan bahwa perabot ini pantang untuk dijual sekalipun sudah tidak dipakai lagi.
Masuk ke beranda depan rumah ini, kita akan dibuat kagum dengan kondisi bangunan yang masih terpelihara dengan baik. Seperti halnya rumah Indisch Empire Style lain pada umumnya, rumah ini memiliki tiga pintu besar di bagian depan. Masuk ke dalam ruang depan yang berfungsi sebagai ruang tamu, kita akan menjumpai satu perabot yang membedakan rumah ini dengan rumah Indis Empire Style milik orang Belanda, altar leluhur. Perabot satu ini merupakan perabot paling berharga bagi keluarga Tionghoa. Letak altar leluhur biasanya diletakan di bagian tengah, menghadap pintu utama.
Rumah tua di dekat perempatan Kodim 0706 Temanggung. Bangunan ini mulai terpengaruh oleh aristektur yang lebih modern.
Bangunan tua di Jalan P. Diponegoro yang juga bergaya Indisch Empire Stye. Tidak seperti rumah keluarga Lie yang pilarnya terbuat dari batu, pilar pada rumah ini menggunakan tiang besi, improvisasi dari masa yang lebih muda. Tampak beranda depan yang  dipasangi kerai. Pada masa kolonial, banyak rumah seperti ini yang bagian beranda depan dipasangi kerai. Tujuannya untuk mengurangi sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan.
Rumah tua di Jalan P. Diponegoro. Rumah ini mulai menunjukan pengaruh aristektur transisi yang berkembang dari akhir abad ke-19 hingga abad ke-20.
Di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro, Temanggung, kita dapat menjumpai rumah-rumah yang tergolong mewah pada masa kolonial. Tampaknya jalan ini menjadi lokasi favorit di masa lalu untuk membangun rumah. Salah satunya adalah di di dekat perempatan Kodim 0706 Temanggung.
Bangunan SMK Dr. Sutomo dengan pilar-pilarnya yang menjadi ciri khas dari arsitektur Indisch Empire Style.
Rekam jejak arsitektur Indis Empire Style di Temanggung, selain rumah milik keluarga Lie, juga dapat kita lihat pada bangunan kolonial di jalan Dr. Sutomo yang saat ini digunakan sebagai SMK Dr.Sutomo. Gaya arsitektur Indisch Empire Style terlihat jelas pada bangunan ini dengan keberadaan kolom-kolom batu bergaya Yunani yang ada di bagian beranda depan bangunan.
Bangunan rumah beheeder atau kepala pandhuis ( pegadaian ). Transaksi gadai sendiri berjalan di sebuah bangunan yang terdapat di belakang banguann rumah beheeder.
Bangunan kolonial lain yang dapat kita lihat adalah bangunan yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Temanggung. Bangunan ini dahulu merupakan rumah beheeder atau kepala kantor pegadaian. Di masa kolonial, pegadaian dikenal sebagai pandhuis. Kantor-kantor pandhuis tersebut dikelola oleh pemerintah kolonial dan banyak masyarakat yang memilih menggadaikan barang ke pandhuis ini ketimbang ke rumah gadai milik perorangan karena prosedurnya lebih sederhana, bunga yang rendah, serta taksirannya jelas.
Stasiun Temanggung.
Foto lama dari stasiun Temanggung. Foto ini diambil di sebelah barat stasiun. Tampak bagian overkapping atau atap emplasemen yang saat ini tidak ditemukan lagi keberadaannya ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Jembatan kereta Kali Kuwas. Artefak sejarah kereta api Temanggung...
Foto lama jembatan Kali Kuwas ( sumber : media-kitlv.nl ).
Jejak kolonial lain yang dapat kita eksplorasi di Temanggung adalah jejak bekas bangunan Stasiun Temanggung, yang saat ini menjadi Gedung Juang 45. Bangunan stasiun ini menjad bukti kehadiran transportasi kereta api di Temanggung di masa lalu yang mungkin orang Temanggung sendiri belum mengetahuinya. Bangunan stasiun ini dibuka bersamaan dengan diresmikannya operasional jalur kereta Secang-Temanggung oleh perusahaan kereta api swasata Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij ( NIS ) pada 3 Januari 1907. Pemborong jalur ini dilaksanakan oleh seorang pemborong Tionghoa asal Parakan bernama Ho Tjong An. Secara arsitektural, bangunan stasiun Temanggung bergaya “NIS Chalet” dengan dinding bata yang dibiarkan terbuka tanpa plester. Dahulu stasiun Temanggung memiliki overkapping atau atap emplasemen yang terbuat dari kayu, tapi semenjak dinonaktifkan, overkapping tadi tidak ditemukan lagi ( Kemendikbud, 2014; 82-83 ).
Gapura kerkhof Temanggung.
Satu lagi jejak kolonial di Temanggung yang mungkin sedikit orang yang masih tahu adalah kekhof Temanggung. Di manakah letaknya ? Letak kerkhof Temanggung berada di tempat yang sekarang dikenal sebagai Terminal Kerkhof. Di sini, jangan berharap kita dapat melihat batu nisan dan makam-makam Belanda yang antik karena pada tahun 1980an, seluruh makam di kerkhof ini direlokasi untuk dijadikan terminal. Saat ini yang tersisa dari Kekrhof Temanggung tinggal pintu gerbangnya saja.
Klenteng Kong Ling Bio.
Peninggalan lain yang masih ada di Temanggung adalah klenteng Kong Ling Bio Temanggung. Klenteng ini didirikan pada tahun 1890 oleh Lieutnant Lie Ban Seng, pemimpin komunitas Tionghoa di Temanggung. Dana pembangunan klenteng berasal dari sumbangan dermawan dari berbagai kota seperti Kranggan, Secang, Muntilan, Magelang, Parakan, dan lain-lain. Setelah berhasil mengumpulkan sumbagan dari 240 donatur, klenteng ini kemudian dibangun di tanah hibah dari seorang dermawan bernama Oei Loo. Pada tahun 1906, klenteng ini dipugar oleh Lie Tiauw Ing ( Kota Tua Magelang, 28 Februari 2016 ). Secara arsitektur, bangunan klenteng ini serupa dengan klenteng Parakan, yakni terdiri dari pendopo depan yang dibelakangnya terdapat ruang utama untuk dewa utama klenteng ini, Hok Tek Cing Sin atau Dewa Bumi, dewa yang banyak dipuja oleh masyarakat agraris seperti masyarakat Temanggung. Menariknya, masyarakat yang bersembahyang di klenteng ini tidak hanya orang Tionghoa saja, tapi juga oleh orang non-Tionghoa. Keberadaan klenteng ini menunjukan hadirnya komuntias Tionghoa di Temanggung sejak masa kolonial.
Bangunan tua di sebelah timur Pasar Temanggung. Saat ini digunakan sebagai toko obat.

Referensi

Handinoto. 2010.  Arsitektur dan kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis & Militer Belanda. Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Manisrenggo.

Muhammad, Fariz Rizqi. 2013. Tata Kota Temanggung dan Faktor-Faktor Pendukungnya Tahun 1834-1942. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada. Skripsi.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis, dari zaman Kompeni sampai Revolusi. Komunitas Bambu. Depok.

Kota Tua Magelang, Pamflet "Djeladjah Petjinan #4 : Temanggoeng", 28 Februari 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar