Kamis, 27 April 2017

Benteng Willem I Ambarawa, Hikayat Benteng Tua di Tepi Rawa

Benteng Willem I, sebuah benteng tua yang terletak di tepi sebuah rawa besar yang dikenal sebagai Rawa Pening, Ambarawa.  Benteng yang namanya diambil dari nama seorang raja yang pernah memerintah kerajaan Belanda ini menyimpan banyak kisah. Seperti apa kisah lengkapnya ?

Hikayat Sebuah Benteng
Foto udara Benteng Willem I pada tahun 1930an. Terlihat bangunan-bangunan pertahanan di sekitar benteng ( sumber : Forts in Indonesia ).
Untuk memahami sejarah berdirinya benteng Willem Ambarawa, kita harus kembali ke Eropa abad ke-16. Pada waktu itu, Eropa sedang terpecah belah akibat munculnya gerakan Reformasi yang dicetuskan oleh Martin Luther pada tahun 1517 melawan kekuasaan Gereja Roma yang dianggap Luther sudah terlalu materialis. Beberapa negeri di Eropa ada yang mengikuti paham Luther, ada pula yang masih setia dengan Roma. Salah satu negeri yang kemudian menjadi pengikut Luther adalah Belanda. Pada waktu itu, Belanda merupakan wilayah jajahan Spanyol yang masih setia dengan Roma. Akhirnya di bawah pimpinan Pangeran Maurice dari Dinasti Orange, Belanda memberontak terhadap kekuasaan Spanyol dan akhirnya pada tahun 1581, Belanda merdeka dari Spanyol. Pada awal kemerdekaannya, wilayah Belanda mencakup wilayah Belanda yang sekarang, Belgia, dan Luxembourg. Sebagian rakyat di wilayah Belgia dan Luxembourg masih menjadi penganut Katolik sehingga wilayah ini menjadi rebutan antara Perancis, Austria, dan Belanda ( Simon, 1983 ; 83-86 ).
Raja Willem I ( 1772-1843 ). Pada masa pemerintahannya, Belgia lepas dari pangkuan Kerajaan Belanda. Namanya kemudian diabadikan menjadi sebuah benteng di Ambarawa ( sumber : commons.wikimedia.com ).
Nah, pada tahun 1830, Belgia berusaha melepaskan diri dari Kerajaan Belanda sehingga timbulah apa yang dikenal sejarah sebagai Revolusi Belgia. Negara-negara asing seperti Perancis membantu Belgia melawan Belanda. Imbas konflik inipun ternyata sampai di Hindia-Belanda yang baru saja pulih dari Perang Jawa. Van den Bosch, gubernur baru Hindia-Belanda khawatir jika sewaktu-waktu kekuasaan asing seperti Inggris dan Perancis menyerbu Jawa kembali seperti yang pernah terjadi pada tahun 1811 dengan memanfaatkan situasi politik di Belanda yang sedang kacau. Oleh karena itulah Van den Bosch memberi instruksi kepada komandan zeni militer, Colonel Van Der Wijk, untuk sesegera mungkin mendirikan benteng di titik-titik strategis Pulau Jawa ( Kemendikbud, 2012; 133-134 ) .
Lukisan Ambarawa pada tahun 1850an. Di kejauhan tampak benteng Willem I dengan pemandangan Gunung Telomoyo yang samar-samar ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Strategi pertahanan pulau Jawa yang didesain oleh Van den Bosch meliputi  pendirian benteng atau citadel baru di kota-kota pesisir seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya, dimana musuh diperkirakan akan mendaratkan pasukannya di sana. Belajar dari kekalahan Belanda ketika perang melawan Inggirs pada tahun 1811 yang disebabkan tiadanya benteng pertahanan di wilayah pedalaman, Van den Bosch mendirikan benteng baru di tiga titik pedalaman Pulau Jawa, yakni Gombong di Barat, Ngawi di timur, dan Ambarawa di tengah. Pembangunan benteng baru tersebut biayanya ditanggung oleh kerajaan Belanda. Dari ketiga benteng baru di wilayah pedalaman tadi, benteng di Ambarawa adalah yang paling penting karena akan menjadi titik kumpul pasukan apabila seluruh wilayah pesisir sudah dikuasai musuh  ( Kemendikbud, 2012; 134 ).
Peta Ambarawa tahun 1905. terlihat letak benteng yang berada di tepi selatan kota. Untuk menuju benteng harus jalan memutar ke utara. Di sebelah barat terdapat garnisun yang didirikan puluhan tahun setelah benteng dibangun ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Untuk membangun benteng baru di Ambarawa  tadi, terlebih dahulu dibuat sebuah perkampungan pekerja, kamp militer, dan bengkel kerja yang dapat menampun 4.500 pekerja. Dapat dibayangkan betapa besarnya proyek pembangunan benteng ini. Di antara para pekerja tadi, terdapat 3.000 kuli pribumi dan sisanya terdiri dari pengawal, insinyur, dan tahanan. Pembangunan benteng membutuhkan material yang sangat banyak. Kecuali kayu dan batu kapur, material benteng seperti bata dan genting dibuat di dekat benteng untuk mengurangi biaya transport. Tidak ada halangan besar dalam pembangunan benteng selain material yang terlambat datang dan kebakaran kecil. Pada 1844, benteng baru ini mulai ditempati dan setelah pembangunannya rampung pada 1850, sebagai bentuk penghormatan terhadap raja Willem I, benteng ini diberi nama benteng Willem I.
Bagian benteng yang diubah menjadi penjara pada tahun 1850. Hingga sekarang penjara tersebut masih dipakai ( sumber : media-kitlv.nl )
Selanjutnya pada tahun 1865 dan 1872, terjadi gempa bumi yang merusak sebagian benteng. Meski tidak menelan korban jiwa, namun komandan tentara memutuskan untuk mengosongkan separo benteng. Tentara yang dahulu tinggal di bagian yang dikosongkan tadi dipindah ke barak tentara di luar benteng. Bagian benteng yang dikosongkan kemudian diubah menjadi penjara militer. Untuk memudahkan mobilitas pasukan dan suplai kebutuhan, maka pemerintah kolonial meminta perusahaan kereta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij untuk membangun jalur kereta dari Kedungjati ke Ambarawa. Jalur ini selesai pada tahun 1873 dan di sebelah utara benteng, terdapat stasiun yang diberi nama serupa dengan benteng.
Benteng Willem I pada tahun 1947. Foto ini menghadap ke selatan. Terlihat kondisi benteng yang mulai rusak.
Selanjutnya pada masa pendudukan Jepang, benteng ini digunakan untuk kamp internir warga Eropa dari Ambarawa dan sekitarnya serta digunakan untuk para tahanan politik dan orang yang dicurigai akan melawan pemerintah militer Jepang. Diperkirakan ada seribu orang yang diinternir di dalam benteng Willem I. Setelah Indonesia merdeka, Benteng Willem I dikuasai oleh gerilyawan republik dan digunakan kamp untuk menawan orang Eropa yang seluruhnya pria dewasa dan tentara Jepang. Pada waktu itu diperkirakan ada 500 orang yang ditawan di dalam benteng. Ransum di dalam kamp sangat sedikit. Pada pagi dan siang hari, para tawanan memasak jagung yang kadang tidak matang ketika memasak. Di malam hari, para tawanan harus puas makan dengan nasi dan sayur yang sedikit. Meskipun ada air untuk minum, namun tak ada air untuk mencuci. Pada tanggal 23 Oktober, Tentara sekutu tiba di Ambarawa di bawah komando Brigadir Bathell dengan maksud untuk membebaskan para tawanan yang ditahan di dalam benteng.
Barisan polisi militer bentukan militer Belanda yang sedang berparade di dalam benteng. Benteng ini sempat diduduki oleh militer Belanda. Foto ini menghadap ke timur. Hal ini didasarkan pada menara jam di latar belakang yang sekarang sudah hilang.
Benteng Willem I menjadi saksi bisu perjuangan anak bangsa mempertahankan negerinya dalam peristiwa Palagan Ambarawa yang mencapai puncaknya pada 12 Oktober 1945. Pertempuran ini pecah akibat ulah pemerintah Belanda yang berusaha mendirikan kembali kekuasaanya di Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu yang berniat mengevakuasi para tawanan. Pada puncak-puncaknya pertempuran Palagan Ambarawa, para tentara republik Indonesia ( pada waktu itu masih bernama TKR ) mengepung benteng. Ketika pengepungan oleh TKR dilakukan, segala serangan balik dilancarkan oleh Sekutu dengan menggunakan artileri berat dan serangan udara dari skuadron pesawat Thunderbolt. Dentuman tembakan artileri dan raungan suara pesawat Thunderbolt menggema di udara sekitar benteng. Namun serangan balik sekutu tersebut gagal mematahkan perlawanan rakyat Indonesia, sehingga pada bulan Desember sekutu memutuskan mempercepat evakuasi rombongan tawanan ke Semarang dan oleh Brigadir Bathell, semua pasukan sekutu di Ambarawa dan sekitarnya ditarik mundur ke Semarang.

Mengintip Benteng
Rekonstruksi tanggul tanah ( garis hijau ), parit ( garis biru ) dan jalan utama yang sudah hilang ( kuning ).
Dari segi teknologi pertahanan, benteng Willem I masih menerapkan teknologi rancang bangun benteng yang diperkenalkan oleh insinyur zeni dari Perancis, Le Preste de Vauban. Pada dasarnya, sistem benteng yang dibuat Vauban ini menekankan pada sistem pertahanan luar yang berdiri sendiri. Di benteng Willem I, sistem Vauban dapat kita lihat dari keberadaan bangunan-bangunan di sekitar bangunan utama benteng Willem. Misalnya bangunan yang disebut hornworks yang terdapat di keempat sudut benteng dan raveline. Bangunan-bangunan tersebut memiliki dua lantai, dimana lantai pertama digunakan untuk gudang atau penjara dan lantai kedua untuk tempat tinggal prajurit. Dinding bangunan ini memiliki celah untuk mengintip dan menembak. Dahulu benteng Willem I dikelilingi oleh parit dan tanggul tanah berukuran masif, sehingga benteng ini kadang disebut Benteng Pendem karena dari luar seperti terpendam oleh tanah.  Meskipun terlihat sederhana, namun tanggul tanah sebenarnya lebih efektif meredam peluru. Sistem karya Vauban ini menyebabkan serangan langsung ke bagian benteng utama lebih sulit karrena harus menghadapi pertahanan luar terlebih dahulu. Meskipun sistem Vauban ini sudah dikenal di Eropa sejak abad ke-17, namun di Indonesia sistem ini baru dikenal pada tahun 1800.
Letak bangunan hornworks pada benteng.
Tampak luar bangunan hornworks.
Letak bangunan raveline pada benteng.
Tampak luar bangunan raveline.
Lokasi benteng Willem I terletak di tepi Rawa Pening dan dikelilingi oleh gunung. Ketika benteng Willem I mulai dibangun, jangkauan tembakan artileri dari perbukitan belum sampai ke benteng. Namun pada tahun 1860an, muncul penemuan laras meriam beralur sehingga peluru meriam dapat meluncur ke sasaran dengan akurat dam stabil, kecepatan lebih tinggi, dan jangkauannya lebih jauh. Oleh karena itu tanggul tanah dan parit yang dahulu mengelilingi benteng ini diratakan.
Pemandangan gunung Telomoyo dan Andong dilihat dari benteng.
Bangunan utama benteng Willem I terdiri dari lima buah bangunan kantor dan sebuah barak di tengah dan dikelilingi oleh empat bangunan tangsi berlantai dua. Pada tahun 1850, separo benteng yang ada di sisi selatan diubah menjadi penjara militer yang masih dipakai hingga sekarang. Untuk pengunjung umum, pintu masuk benteng dapat diakses lewat sebuah jalan setapak di dekar RSUD Ambarawa yang akan membawa ke pintu masuk sebelah utara. Aslinya, pintu masuk utama benteng terletak di sebelah timur, menghadap ke jalan lingkar Ambarawa. Dahulu untuk menuju pintu masuk utama orang harus berjalan memutar ke utara, tujuannya untuk memperlambat pergerakan musuh. Jalan utama benteng sekarang sudah hilang menjadi timur, dahulu terdapat sebuah menara jam yang kini sudah hilang.
Bangunan tangsi/barak.
Jembatan penghubung.
Sebagian besar bangunan benteng dahulu digunakan untuk tangsi. Ada cerita menarik bahwa rupanya benteng ada kesalahan dalam perancangannya. Si perancang tidak menyadari bahwa lingkungan di sekitar benteng merupakan iklim tropis. Lantai dua tangsi ruangannya terlalu rendah sehingga sirkulasi udara tidak terlalu lancar dan temperatur udara di dalam ruangan sangat panas.
Pintu masuk sisi utara.

Bekas pintu masuk sisi selatan.
Pintu masuk sisi barat.
Bekas pintu gerbang luar yang juga merangkap sebagai istal.
Apabila kita amati, benteng ini terlihat memiliki lengkungan yang sangat banyak sekali. Mengapa demikian ? Pada masa benteng Willem I dibangun, teknologi konstruksi masih belum mengenal beton bertulang dimana beban bangunan bertumpu pada beton yang diisi batangan besi. Teknologi konstruksi pada waktu itu masih menggunakan teknologi bearing wall , dimana beban bangunan bertumpu pada dinding bangunan itu sendiri. Oleh karena itu banyak bangunan-bangunan tua yang dindingnya tebal-tebal seperti benteng Willem I. Untuk menyangga beban di atasnya, digunakanlah teknik warisan bangsa Romawi yang dikenal sebagai teknik lengkung, dimana batu-bata dibuat agak mirip baji sehingga ketika ditata bisa menghasilkan bentuk setengah lingkaran. Dengan teknik lengkung ini, beban bangunan di atas dapat disangga tanpa tulangan besi ( Hadas, 1965; 162 ). Oleh karena itulah kita akan menjumpai banyak lengkungan pada benteng ini.
Bekas dapur umum.
Bagaimana kehidupan di dalam barak atau tangsi ini di masa lalu ? Menurut Philibert Dabry De Thiersant, seorang diplomat Perancis, prajurit militer Hindia-Belanda atau KNIL diizinkan membawa istri dan anak keluarga, kecuali di saat perang. Di dalam barak, mereka makan bersama, menyiapkan makanan, dan membersihkan barak. Di dalam tangsi, mereka tunduk di bawah hukum militer. Pada tiap tangsi, terdapat tempat tidur sesuai kompi pasukan yang ada. Masing-masing prajurit memiliki tempat tidur yang tinggi dilengkapi kelambu, mebel sederhana dan kelengkapan lain ( untuk personel Eropa disediakan selimut katun tebal dan personel bumiputra disediakan sarung yang dicap khusus agar tidak tertukar ). Karena tidak cukup ruang di dalam tangsi, maka anak-anak prajurit tinggal di kolong tempat tidur ( oleh karena itulah muncul istilah anak kolong bagi anak prajurit di Indonesia ). Untuk makan, para prajurit dijatah dengan daging segar roti, beras, garam, dan merica. Tidak ada perbedaan jatah pangan prajurit Eropa dengan Bumiputera kecuali bagi personel muslim tidak disediakan daging babi. Untuk senjata para prajurit diberi senapan Beaumont dengan bayonet dan kelewang. Untuk mengawasi gerak-gerik prajurit Bumiputera, maka sejumlah bintara Eropa di kompi Bumiputera tinggaal di dalam barak buimputera sehingga mereka dapat diawasi. Kompi serdadu Eropa terpisah dari kompi Bumiputera, terap selalu dalam jarak yang dekat ( Santosa, 2016; 141-142 ).
Salah satu bagian benteng yang lapisan luarnya sudah hilang. Di sini kita dapat melihat batu bata yang disusun secara melengkung untuk menopang beban konstruksi di atasnya.
Bekas beranda dan balkon kayu yang sudah hancur.
Tangga naik ke lantai dua. Bagian lantai dua masih dihuni sehingga pengunjung disarankan untuk tidak naik ke atas.
Sayangnya, kondisi bangunan tangsi sekarang sebagian besar sudah rusak. Beberapa ada yang ditutup untuk dijadikan sarang walet. Sementara itu separo bagian masih digunakan sebagai penjara sehingga terdapat beberapa penambahan. Kemudian setengahnya masih dihuni oleh keluarga tentara.
Letnan. Infantri S.W. Alberda bersama istrinya yang sedang berpose di beranda depan rumah mereka di dalam benteng Willem I. Bagian depan rumah terlihat banyak pot tanaman hias yang menambah kesan sejuk rumah ( sumber : media-kitlv.nl ).
Bangunan bergaya Indisch Empire yang sudah tinggal dinding saja.
Bangunan Indisch Empire yang masih dipakai. Bangunan inilah yang terlihat pada foto lama di atas.
Di tengah-tengah benteng, terdapat lims bangunan bergaya arsitektur Indisch Empire Style yang ditandai dengan pilar-pilar yang terdapat bagian beranda depan. Gaya arsitektur Indisch Empire Style memang banyak ditemukan pada bangunan yang dibangun semasa dengan benteng Willem I. Dari kelima bangunan yang ada, tiga buah bangunan kondisinya masih baik, sementara sisanya sudah tinggal reruntuhan dindingnya saja. Dahulu bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal komandan benteng.

Begitulah hikayat dari sebuah benteng tua di tepi sebuah rawa. Sebuah benteng yang menjadi saksi perjalanan sejarah sebuah bangsa. Mulai dari masa puncak kolonial, dimana pemerintah kolonial rupanya merasa terancam dari bangsa lain yang ingin merebut Nusantara, kemudian ke masa Jepang, dimana orang-orang barat diperlakukan sebagai tawanan oleh orang timur yang dulu dianggap rendah, hingga di masa awal kemerdekaan, dimana anak bangsa mati-matian mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Ya, dahsyatnya cerita sejarah dari benteng ini ternyata tidak sebanding dengan perlakuan yang diterimanya. Entah karena tidak ada biaya atau benteng ini dianggap sebagai peninggalan bangsa penjajah sehingga wajar jika benteng ini dibiarkan rusak termakan usia atau tidak ada bi. Namun yang jelas, jika benteng ini lenyap, lenyap pula penggalan sejarah perjalanan bangsa kita…

Referensi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012. Forts in Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Santosa, Iwan. 2016. KNIL, Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Perancis. Jakarta. Kompas.

Simon, Edith. 1983. Abad Reformasi. Jakarta. Tira Pustaka.

https://www.indischekamparchieven.nl/

1 komentar:

  1. sudah pernah kesini setelah dari Museum Kereta Api Ambarawa, tapi ga tau benteng apa.
    terima kasih atas penjelasannya...

    BalasHapus