Cirebon, kota yang berjuluk "kota udang", adalah salah satu kota di pesisir utara Jawa yang menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu pelabuhan penting di Jawa Barat. Selain sebagai pelabuhan, Cirebon yang terletak di antara Jawa Barat dan Jawa Tengah akhirnya menjadi jembatan dua budaya yang berbeda dan melahirkan budaya Cirebon yang unik. Di tempat yang sama pula, tumbuh salah satu kerajaan penting di Pantai Utara Jawa yang akhirnya harus terpecah akibat intrik politik dan membuka jalan pemerintah kolonial Belanda untuk menempatkan Cirebon sebagai salah satu tempat yang penting untuk dikuasai. Pada kesempatan ini, saya akan mengajak anda untuk berjumpa dengan jejak-jejak masa kolonial yang masih berdiri di kota Cirebon.
![]() |
| Foto udara pelabuhan Cirebon. |
Cirebon adalah kota yang diberi karunia berupa letaknya yang strategis, yakni berada di pesisir pantai utara Jawa yang terlindungi dari terjangan ombak besar sehingga memungkinkan kapal-kapal untuk bersandar. Hal tersebut menjadikan Cirebon sebagai salah satu titik utama dalam jalur perdagangan sutra dan rempah yang sudah eksis berabad-abad silam. Keunggulan lain Cirebon adalah wilayah pedalamannya yang subur dan memiliki ketinggian yang beragam sehingga hampir beraneka jenis tanaman dapat dibudidayakan di sana. Cirebon selain menjadi tempat yang sentral untuk perniagaan, juga menjadi tempat yang penting dalam penyebarluasan agama Islam di Jawa Barat. Meskipun menjadi tempat yang penting, nama Cirebon baru disebutkan dalam catatan yang dibuat oleh Tome Pires pada tahun 1513. Cirebon sebagai kota bandar mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Panembahan Ratu I yang memerintah pada tahun 1570-1649. Akan tetapi, sepeninggal Panembahan Ratu I, Cirebon menjadi incaran dua kerajaan di Jawa yang saat itu mulai menguat, yakni Banten dan Mataram (Ambary, 1997 : 39).
![]() |
| Pemandangan Cirebon dilihat dari laut pada abad ke-18. |
Alkisah antara kurun waktu tahun 1670-an hingga 1680-an, Pulau Jawa sedang dilanda sebuah pemberontakan berskala besar yang dipimpin oleh Pangeran Trunajaya dari Madura. VOC mendapati kekacauan tersebut sebagai momen untuk “mengamankan” Cirebon karena letaknya strategis, yakni berada di tengah-tengah Pulau Jawa. Cirebon saat itu sedang menjadi incaran tiga kekuatan besar di Jawa, yakni Kerajaan Mataram, Kesultanan Banten, dan VOC. Akibatnya situasi keamanan di sekitar Cirebon menjadi tidak aman. VOC meyakini ganguan keamanan tersebut berasal dari kelompok gerilyawan yang dipimpin oleh Pangeran Kidul, seorang Pangeran Banten, yang diutus untuk membuat kekacauan di wilayah kekuasaan Mataram di Jawa bagian barat. Ketika itu, Kerajaan Mataram merasa tidak sanggup untuk menghadapi gerilyawan tersebut karena kekuatan mereka sudah dihabiskan untuk menumpas pemberontakan Trunajaya. Oleh karena itu Mataram meminta VOC untuk mengamankan wilayah milik Mataram di sekitar Cirebon, yakni Karawang dan Indramayu (Dwicahyo, 2020 : 84-87).
| Peta kawasan Eropa Kota Cirebon. |
| Pemandangan perairan Cirebon pada tahun 1881 yang dilukis oleh O.G.H. Heldring (Sumber : Leiden University Libraries). |
Ketika operasi penumpasan tengah berlangsung, kesultanan Cirebon sudah terpecah menjadi tiga ; Kasepuhan, Kanoman, dan Kaceribonan. Dari ketiga raja yang ada di Cirebon, hanya Sultan Sepuh I saja yang menjalin hubungan erat dengan VOC dengan harapan dapat mengembalikan marwahnya sebagai pewaris tunggal dari raja sebelumnya, Panembahan Girilaya. VOC kemudian mengutus Jacob van Dijk ke Cirebon pada 1678 untuk berunding dengan penguasa Cirebon dan pada perkembangan selanjutnya, tiga raja Cirebon akhirnya bersedia menjadikan Cirebon sebagai protektorat VOC. Pada saat yang sama, otoritas tinggi VOC di Batavia telah mempersiapkan dokumen perjanjian yang akan ditandatangani oleh penguasa Cirebon agar mereka mendapat perlindungan dari VOC. Dokumen tersebut ditandatangani pada 7 Januari 1681 dan disaksikan oleh Jacob van Dyck dan Jochem Michielse yang mewakili Gubernur Jenderal Rijklof van Goens (Stadsgemeente Cheribon, 1931: 3). Perlindungan yang diberikan oleh VOC tersebut harus dibayar sangat mahal karena Cirebon pada akhirnya terikat kontrak yang lebih banyak menyulitkan para sultan dan menguntungkan VOC. Ekspor-impor barang di Cirebon akan dimonopoli oleh VOC, bea impor barang yang biasanya dikenakan pada VOC sudah tidak berlaku, dan Sultan-Sultan Cirebon dilarang mendirikan bangunan baik di darat maupun di perairan Cirebon tanpa seizin kompeni. Sebaliknya, VOC dapat mendirikan bangunan apapun baik di darat maupun di perairan Cirebon tanpa harus menunggu persetujuan dari Sultan-Sultan Cirebon. Niat untuk mempertahankan legitimasi kerajaan justru membuat sirna kekuasaan para Sultan, baik Kasepuhan dan Kanoman, maupun Kacirebonan. Ketiganya menjadi kerajaan seremonial semata dan hanya bertindak sebagai perantara VOC dengan masyarakat pribumi di pedalaman. Walaupun posisi VOC di Cirebon sudah lebih leluasa, akan tetapi perseteruan antar raja di Cirebon masih terjadi yang malah membuat VOC kesulitan mendapatkan kendali penuh atas Cirebon (Dwicahyo, 2020 : 90).
![]() |
| Gambar denah Fort Beschermer Cirebon (Sumber : Nationaalarchief.nl). |
Penjelajahan dimulai dari area di depan pintu masuk pelabuhan Cirebon. Bukan tanpa alasan titik pertama penjelajahan saya dimulai dari tempat tersebut karena di tempat tersebut kurang lebihnya pernah berdiri sebuah benteng bernama Benteng Beschermer yang menjadi penanda utama kekuasaan Belanda di Cirebon. Benteng Beschermer atau yang berarti Benteng Perlindungan, awalnya adalah kubu pertahanan dari pagar-pagar bambu yang didirikan oleh Sultan Sepuh I dan diambilalih oleh VOC setelah tahun 1681. Benteng Beschermingh yang masih sederhana kemudian diperbarui menurut rencana yang dibuat Francois Tack pada tahun 1685. Akan tetapi, Tack tidak sempat menyaksikan bentengnya tuntas dibangun karena ia terbunuh oleh pasukan Untung Surapati pada tahun 1686. Di dalam Benteng Beschermer, terdapat rumah tinggal dan kantor residen yang diutus sebagai perantara antara VOC dengan Sultan-sultan Cirebon (Stadsgemeente Cheribon, 1931 : 7-8). Walaupun disebut benteng, pada kenyataanya Benteng Beschermer lebih berfungsi sebagai Kedutaan Besar VOC di Cirebon dan kegiatannya lebih banyak bersifat seremonial seperti mengibarkan bendera Belanda melepaskan tembakan salvo untuk menghormati kapal yang sedang lewat. Senjata yang dimiliki hanyalah empat meriam dengan kualitas yang buruk. Pada tahun 1810, Pangeran Natakusuma yang kelak menjadi Paku Alam I pernah ditawan di Fort Berschemer. Pada 31 Oktober 1835, sebuah ledakan keras dari gudang mesiu mengakhiri riwayat dari Benteng Beschermingh karena selanjutnya benteng tersebut tidak pernah dibangun lagi oleh Belanda. Parit-parit kelilingnya ditimbun pada tahun 1855 dan bekas lokasinya didirikan dengan berbagai bangunan (Stadsgemeente Cheribon, 1931 : 15). Oleh karena itu seperti halnya Francois Tack yang tidak sempat melihat benteng buatannya, kita yang hidup di masa sekarang juga tidak akan lagi menjumpai benteng ini.
![]() |
| Kantor Escompto Cirebon. |
![]() |
| Gedung Bank Mandiri yang menempati bekas Escompto Bank. |
Berjalan menyusuri kawasan di sekitar bekas Benteng Beschermer menghadirkan pengalaman yang menarik. Benteng yang dahulu menjadi simbol pertahanan kolonial itu kini telah lama hilang berkalang tanah. Namun, justru di luar jejak benteng itulah kehidupan kota terus berkembang dan hingga hari ini masih berdenyut sebagai jantung perekonomian Cirebon. Di sepanjang jalan ini, deretan bangunan tua masih menyajikan keanggunannya, seakan menjadi saksi bisu perjalanan kota pelabuhan yang ramai oleh aktivitas perdagangan. Salah satu bangunan yang menarik untuk dilihat adalah gedung Bank Mandiri. Sekilas bangunan ini tampak seperti gedung perbankan pada umumnya, tetapi di balik dinding-dinding kokohnya tersimpan kisah panjang sebagai bekas kantor Escompto Bank. Pada masa Hindia Belanda, Escompto memainkan peran penting dalam menggerakkan roda ekonomi dengan menyediakan kredit bagi para pelaku perdagangan dan industri. Lembaga keuangan ini pertama kali didirikan di Batavia pada tahun 1857 oleh Tiedeman Jr. dan C.F.W. Wiggers van Kerchem, sebelum kemudian memperluas jaringan usahanya ke berbagai kota. Menariknya, ketika Escompto memutuskan berekspansi keluar Batavia pada tahun 1902, Cirebon dipilih sebagai kota pertama untuk membuka kantor cabang (Djie Ting Ham,1926 : 67). Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Sebagai kota pelabuhan yang sibuk dan pusat distribusi hasil bumi dari wilayah pedalaman Jawa Barat dan Jawa Tengah, Cirebon menawarkan peluang ekonomi yang sangat besar. Keberadaan kantor Escompto menjadi salah satu penanda penting berkembangnya aktivitas bisnis dan perdagangan di kota ini. Gedung yang dibangun sekitar tahun 1917 berdasarkan rancangan biro arsitek Job & Sprey itu menampilkan karakter arsitektur Eropa yang begitu kuat. Di atas pintu masuk tampak sebuah gable yang memberi kesan megah, sementara dormer berbentuk setengah lingkaran menghiasi bidang atap sebagai elemen pencahayaan sekaligus estetika. Di puncak bubungan atap berdiri kubah ventilasi yang dahulu berfungsi menjaga sirkulasi udara di dalam bangunan tropis. Setiap detail tersebut bukan sekadar ornamen, melainkan bukti bagaimana arsitektur kolonial berusaha memadukan gaya Eropa dengan kebutuhan iklim Nusantara.
Selain bangunan kolonial, dapat dijumpai pula bangunan Vihara Dewi Welas Asih atau Klenteng Dewi Kwan Im yang memiliki corak arsitektur Tionghoa yang khas, menjadikanya kontras dengan bangunan berlanggam Eropa di sekitarnya. Jumlah penduduk Tionghoa di Cirebon cukup signifikan. Mereka sudah lama ada di Cirebon sejak abad ke-15 dan memainkan peran penting dalam sektor perekonomian di sana seperti perdagangan ecerean, transportasi, impor-ekspor, kredit, produksi gula serta perdagangan perantara beberapa produk seperti ikan, udang, beras, dan batik. Orang-orang Tionghoa yang bermukim di suatu tempat biasanya mendirikan klenteng sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan masyarakat. Sayangnya sejauh belum dapat dipastikan sejak kapan bangunan ini berdiri. Pai atau prasasti tertua yang ditemukan pada klenteng dari tahun 1658 hanya menyebutkan adanya sumbangan untuk klenteng dari Liem Tsiok Tiong dan dengan demikian klenteng tersebut tentu sudah ada sebelumnya. Klenteng tersebut setidaknya pernah diperbaiki sebanyak tiga kali pada masa kolonial, yakni pada tahun 1791, 1829, dan 1889, seperti yang dicatat dalam prasasti di dalam klenteng. Prasasti tersebut memuat daftar nama-nama donatur serta bagian mana saja yang diperbaiki. Pada gerbang masuk klenteng, terdapat tulisan Cina yang menyebutkan nama asli dari Vihara Dewi Welas Asih, yakni Tiao Kak Sie yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “klenteng dengan pandangan bertumbuh”.
![]() |
| Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen. |
Arsitektur bangunan Vihara Welas Asih tidak berbeda dengan bangunan klenteng sebagaimana pada umumnya. Bangunan utama klenteng berada di balik halaman yang dibatasi oleh rumah gerbang yang memperlihatkan bunga-bunga simbol empat musim dan daun pintunya diberi lukisan prajurit penjaga tempat suci. Atap bangunan utama mengikuti karakter arsitektur Tiongkok Selatan dengan bentuk atap ekor walet dan dilengkapi binatang seperti naga, ikan, burung phoenix, dan qilin. Memasuki bagian dalam klenteng, akan dijumpai berbagai perabotan yang biasa dibawa untuk kirab seperti tandu, payung, dan papan bertuliskan nama-nama dewa. Ruang utama klenteng berisi patung dari Dewi Kwan Im yang menurut kepercayaan Buddha adalah Dewi Welas Asih. Dinding-dinding klenteng dihiasi oleh lukisan mural yang menggambarkan hukuman di neraka menurut ajaran Buddha.
Masih di Jalan Pasuketan, kita akan dibuat terkesima dengan keindahan bangunan eks pabrik BAT yang tampak elegan dengan arsitektur art deco khas tahun 1920-an sehingga menjadikannya ikon kota lama Cirebon. BAT atau British American Tobacco adalah raksasa tembakau dunia yang dibentuk dari hasil antara American Tobacco Componay dari Amerika Serikat dan Imperial Tobacco Company dari Inggris pada tahun 1902. Walau BAT sudah masuk ke Hindia-Belanda sejak tahun 1909, namun baru tahun 1923 BAT mendirikan pabrik di Cirebon sesudah mereka membeli pabrik rokok lokal yang didirikan oleh S.S Michael sebelum Perang Dunia I. Bangunan pabrik rokok lama seluruhnya dibongkar dan diganti bangunan baru yang dirancang oleh biro arsitek Hulswit-Fermont-Cuypers. Pembangunannya dimulai pada 9 Februari 1924 menggunakan konstruksi beton bertulang yang dibuat oleh NEDAM. Bangunan pabrik BAT Cirebon diresmikan pada 31 Juli 1925 dan saat itu menjadi bangunan paling menonjol di Cirebon. Gedung pabrik BAT terbagi menjadi dua bagian, yakni sisi barat untuk kantor dan sisi timur untuk pabrik yang di dalamnya terdapat 80 mesin produksi rokok bertenaga listrik. Perancangan gedung tidak hanya mendesain gedung yang sedap dipandang mata saja namun juga memenuhi aspek keselamatan untuk orang-orang di dalamnya. Misalnya bagian dalam gedung diberi penyekat kedap api supaya ketika kebakaran terjadi api tidak menyebar, adanya akses untuk pemadam kebakaran, dan ruang medis untuk pekerja yang mengalami kecelakaan kerja (Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 3 Agustus 1925). Pabrik BAT Cirebon berhenti produksi setelah BAT memindahkan kegiatan produksinya ke Malang pada tahun 2010. Keberadaan pabrik BAT menunjukan bahwa Cirebon sejak dahulu kala sudah masuk dalam radar investor kelas kakap dari mancanegara seperti BAT. Kini, meskipun fungsi bangunannya telah berubah, jejak kejayaan ekonomi kolonial masih dapat dibaca melalui fasadnya.
Dari kantor BAT, penjelajahan diteruskan melewati Jalan Talang. Di jalan ini terdapat bangunan klenteng yang masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan Klenteng Talang. Arsitektur klenteng tersebut tidak sepenuhnya murni mengusung gaya Tionghoa karena klenteng ini memiliki jendela kaca yang sebenarnya berasal dari arsitektur kolonial. Klenteng Talang awalnya berfungsi sebagai rumah abu yang dibangun pada tahun 1848 oleh Kapitan Tan Phan Long dan merupakan pindahan dari rumah abu yang berada di Klenteng Tiao Kak Sie atau Vihara Dewi Welas Asih. Dari Jalan Talang, penjelajahan dilanjutkan menuju Lapangan Kebumen.
![]() |
| Gereja Kristen Pasundan pada tahun 1930-an (Sumber :Nationaal Museum van Wereldculturen). |
![]() |
| Gereja Kristen Pasundan pada masa sekarang. |
Lapangan Kebumen menjadi lokasi Belanda menempatkan bangunan-bangunan pentingnya. Bangunan pertama yang perlu kita sambangi adalah Gereja Kristen Pasundan yang menjadi bangunan tertua di Lapangan Kebumen. Sebelum bangunan tersebut dibangun, orang-orang Belanda di Cirebon yang beragama Kristen Protestan melakukan ibadah di gereja yang berada di dalam benteng Bescherming. Gereja tersebut dibangun pada tahun 1770-an tetapi dibongkar pada tahun 1808 atas perintah Daendels. Saat itu belum ada kebutuhan untuk mendirikan gereja lagi karena populasi penduduk Eropa di Cirebon masih sedikit dan belum ada pendeta tetap. Sesudah diterapkannya Cultuurstelsel pada tahun 1830-an, terjadi peningkatan jumlah penduduk Eropa sehingga mereka menyumbangkan uang secara sukarela untuk mendirikan gedung gereja di Cirebon. Pada tanggal 14 Juli 1841, diadakan upacara peletakan batu pertama oleh Residen Cirebon, Smissaert, yang diikuti dengan pemberkatan oleh pendeta R. Van Hoet dari Batavia (Javasche courant, 14 Juli 1841). Gereja tersebut dirancang oleh insinyur zeni J. Tromp dengan hiasan yang sederhana dan ukuran yang tidak terlalu besar karena uang pembangunan yang diperoleh tidak cukup banyak. Hingga tahun 1880, gedung gereja tersebut digunakan secara bergantian antara jemaat Protestan dengan jemaat Katolik.
Di dinding depan gereja, terdapat sebuah prasasti yang kadang disangka orang sebagai batu peresmian gereja. Padahal prasasti tersebut aslinya adalah sebuah batu nisan yang berasal dari periode yang lebih tua dari gereja tersebut. Batu nisan tersebut berasal dari makam putri Residen Cirebon, Godfried Carel Cocking, yang meninggal pada 8 Oktober 1778 dan ia meninggal sehari setelah dilahirkan. Batu nisan dari ibu bayi perempuan tersebut, Johanna Maria Alting, dapat kita jumpai di halaman gereja. Johanna Maria Alting meninggal pada tahun 1789 saat ia berusia 21 tahun. Di atas batu nisannya, terdapat sebuah lambang heraldi yang menunjukan bahwa ia berasal dari keluarga yang terhormat. Jika membandingkan antara batu nisan Alting dengan batu nisan bayi yang dilahirkannya, maka ada petunjuk bahwa Alting melahirkan bayinya saat ia berusia 11 tahun. Hal tersebut menunjukan bahwa pada masa lalu, pernikahan dini di kalangan orang Eropa masih menjadi suatu hal yang lumrah dilakukan. Di sebelah batu nisan Alting, terdapat batu nisan dari makam Residen Cirebon, Joachim Wicherts yang lahir di Wageningen pada 17 Juni 1742 dan meninggal di Cirebon pada 28 November 1778. Wicherts diangkat sebagai Residen pada 10 April 1778. Akan tetapi, Wichert hanya sebentar menjabat sebagai residen karena beberapa bulan kemudian, Wichert meninggal pada usia 36 tahun. Selanjutnya ada batu nisan milik Geertruida Margaretha Mom dan tiga putranya. Ketiga putranya meninggal hanya dalam waktu lima bulan saja (30 Desember 1733, 25 Januari 1774 dan 3 April 1774). Putranya yang tertua meninggal saat usia 20 tahun. Sementara dua putra lainnya meninggal saat berusia 3 tahun dan 3 bulan. Sejauh ini belum diketahui lokasi asli dari seluruh batu nisan tersebut namun yang jelas batu nisan tersebut menjadi salah satu petunjuk berharga dalam menelusuri jejak VOC di Cirebon setelah hancurnya Benteng Beschermingh. Batu nisan tersebut juga menjadi gambaran kondisi kesehatan di Cirebon yang masih buruk pada masa itu dan akibatnya banyak penduduknya yang meninggal di usia yang masih belia seperti yang tercatat dalam nisan.
![]() |
| Bangunan gedung Internatio pada tahun 1910-an (Sumber : Neerlands Welvaart) |
Melanjutkan langkah dari Gereja Kristen Pasundan, di sebelah bangunan gereja terdapat bangunan kuno yang kini digunakan sebagai kantor Perusahaan Perdagangan Indonesia. Dahulunya, gedung tersebut merupakan kantor Internationale Crediet en Handelsvereeniging Rotterdam, atau yang lebih dikenal sebagai Internatio, sebuah perusahaan dagang besar asal Belanda yang turut mewarnai perkembangan ekonomi kota pelabuhan ini. Sebuah menara menjulang di bagian tengah fasadnya menjadi penanda yang paling mencolok, yang membuat bangunan tersebut lebih dibandingkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Meskipun tampilannya telah mengalami beberapa perubahan seiring perjalanan waktu, siluet menara itu masih menyisakan kesan megah, mengingatkan kita pada era ketika perusahaan-perusahaan dagang Eropa berlomba menampilkan citra kemakmuran melalui arsitektur kantor mereka. Berhenti sejenak di depan bangunan ini, imajinasi seolah diajak kembali ke pertengahan abad ke-19. Internatio didirikan pada tahun 1863 dan berkembang menjadi salah satu perusahaan perdagangan terbesar di Hindia Belanda. Jaringan usahanya tersebar melalui tiga kantor utama di Batavia, Semarang, dan Surabaya, sebelum akhirnya merambah Cirebon pada tahun 1901. Keputusan membuka cabang di kota ini menunjukkan sekali lagi betapa strategisnya Cirebon sebagai simpul perdagangan yang menghubungkan hasil bumi dari wilayah pedalaman dengan jalur pelayaran internasional. Sepuluh tahun setelah membuka cabangnya, tepatnya pada tahun 1911, Internatio mendirikan gedung kantor yang kini masih dapat kita saksikan. Namun, bangunan ini bukan hanya menjadi pusat aktivitas perusahaan dagang tersebut. Di dalamnya juga berkantor dua perusahaan pelayaran ternama, Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Rotterdamsche Lloyd. Kehadiran ketiga perusahaan dalam satu bangunan memperlihatkan pertalian yang erat antara perdagangan dan transportasi laut. Dari sinilah berbagai komoditas ekspor diatur pengirimannya, sementara kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Cirebon menjadi penghubung antara kota ini dengan pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara maupun Eropa. Sekalipun demikian, perjalanan sejarah sebuah bangunan tidak selalu dipenuhi kisah kejayaan. Pada tahun 1935, kantor Internatio cabang Cirebon pernah menjadi sorotan akibat skandal keuangan yang melibatkan seorang akuntan berkebangsaan Belanda. Peristiwa tersebut bahkan diberitakan oleh surat kabar De Locomotief edisi 19 Desember 1935, menjadi pengingat bahwa di balik megahnya kantor-kantor dagang kolonial juga tersimpan dinamika dan persoalan yang mewarnai dunia bisnis pada masanya.
![]() |
| Bangunan kantor pos pada tahun 1930-an (Sumber : Nationaal Museum van Wereldculturen ). |
Di
sekitar Lapangan Kebumen, kita juga masih dapat menjumpai gedung-gedung tua lainnya.
Misalnya di sebelah timur terdapat gedung Kantor Pos Besar Cirebon yang dari dibangun tahun 1906 oleh Burgerlijke Openbare Werken hingga sekarang melewati waktunya sebagai kantor pos. Pada masa ketika
komunikasi jarak jauh masih dilakukan lewat surat-menyurat, bangunan tersebut
menjadi tempat yang penting karena di tempat inilah masyarakat Cirebon bertukar kabar melalui surat-surat yang dikirim dan diterima di tempat ini.
Jauh hari sebelum kantor pos tersebut dibangun, layanan pengiriman surat di
Cirebon sudah ada sejak tahun 1754, dimana ada sebuah kapal khusus yang sekali
dalam dua minggu akan singgah di Cirebon untuk membawa surat. Tujuan kapal
pengangkut surat tersebut adalah Batavia, Tegal, Pekalongan, dan Semarang.
Mengingat pentingnya barang yang dibawa kapal tersebut, maka beberapa tentara
ditugaskan untuk mengawalnya. Surat-surat selanjutnya diangkut lewat jalur
darat sesudah dibukanya Jalan Raya Anyer-Panarukan pada tahun 1810. Sebelum didirkan di lokasi yang sekarang, letak
kantor pos Cirebon berada di dalam kompleks kantor residen yang dahulu berada di
Lapangan Kebumen dan sempat rusak akibat gempa bumi 18 November 1847.
![]() |
| Gedung De Javasche Bank Cirebon. (Sumber : Nationaal Museum van Wereldculturen) |
Bergeser ke sebelah utara Kantor Pos Cirebon, kita dapat menemukan gedung kantor Bank Indonesia Cirebon yang tampak khas dengan menara di sudutnya. Gedung tersebut dulunya adalah kantor cabang De Javasche Bank di Cirebon. De Javasche Bank merupakan bank sentral Hindia-Belanda yang memiliki wewenang dalam mengedarkan uang di Hindia-Belanda. Rencana pembentukan kantor cabang di Cirebon sudah muncul dalam rapat dewan bank tanggal 22 Juni 1866 (Gedenkboek der Javasche Bank) Cabang De Javasche Bank di Cirebon mulai beroperasi pada 6 Agustus 1866 dengan notaris P.J. Janssens sebagai agen De Javasche Bank cabang Cirebon (Java Bode 4 Agustus 1866). Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Heutsz (1904-1909), ekonomi Hindia-Belanda mengalami perkembangan yang pesat terutama pada sektor agribisnis. Hal tersebut juga dirasakan di Cirebon yang menjadi kota pelabuhan utama bagian timur Jawa Barat. Terlebih Cirebon memiliki industri gula di sekitarnya dan memiliki sambungan jalur kereta Cikampek-Cirebon dan Cirebon-Kroya. Kegiatan perbankan De Javasche Bank akhirnya juga ikut meluas sehingga muncul desakan kebutuhan akan kantor baru yang lebih besar. Rencana pengembangan gedung De Javasche Bank Cheribon baru terlaksana setelah berakhirnya Perang Dunia I. Pada 22 September 1919, diadakan peletakan batu pertama oleh Jan Gerritsen, putra tertua direktur De Javasche Bank Cirebon, Theo Gerritsen. Saat proses pembangunan berlangsung, kegiatan De Javasche Bank Cirebon dipindahkan sementara di gedung Residen Cirebon. Bangunan tersebut dirancang oleh arsitek Hulswit dari biro arstek Hulswit, Fermont, en Cuypers yang telah merancang sejumlah gedung De Javasche Bank di berbagai tempat di Hindia-Belanda. Bangunan dirancang dalam tiga lantai, dimana lantai pertama yang ada di bawah tanah berfungsi sebagai ruang penyimpanan uang dan surat berharga. Sementara lantai kedua digunakan untuk kantor dan lantai ketiga dipakai untuk rumah direktur (De Locomotief, 22-23 September 1919).
![]() |
| Gereja Santo Yusuf Cirebon. |
Berjalan beberapa langkah ke selatan dari Gereja Pasundan, terdapat bangunan Gereja Santo Yusuf yang menjadi penghujung dari penjelajahan di Cirebon. Gereja tersebut memiliki fasad berbentuk seperti lonceng dan terdapat hiasan-hiasan pilaster sederhana. Sebelum gereja dibangun, umat Katolik di Cirebon mengadakan misa di gedung gereja milik jemaat Protestan karena saat itu umat Katolik yang masih sedikit belum memiliki gedung gereja sendiri. Menyadari kondisi tersebut, seorang dermawan bernama Louis Theodore Gonsalves menyumbangkan sebidang tanah untuk didirikan gereja. Lahir di Batavia pada tahun 1828, Gonsalves sendiri saat itu termasuk tokoh terkemuka di Cirebon karena dia merintis sejumlah pabrik gula di sekitar Cirebon. Peletakan batu pertama gereja dilakukan pada 20 Oktober 1878 dan ditahbiskan pada 10 November 1880. Atas jasanya, Gonsalves dianugerahi gelar “Graaf van Rome” atau bangsawan Roma dari Paus Leo XIII pada 1886 dan diabadikan dalam prasasti yang ada di tembok depan gereja (De Koerier 23 Februari 1929). Meskipun bangunannya tidak begitu besar, gedung gereja tersebut menjadi titik awal persebaran agama Katolik di Jawa Barat, dimana saat itu Cirebon merupakan stasi baru yang didrikan pada 21 Februari 1878 dengan wilayah meliputi Karesidenan Cirebon, Tegal, dan Priangan. Meskipun sudah banyak terdapat penyesuaian seperti penambahan serambi di depan dan perluasan ruangan di belakang gereja, secara umum gereja tersebut masih asli.
Penelusuran kota kolonial Cirebon yang mungkin belum terlalu ramai oleh wisatawan luar seperti membuka lembar demi lembar sejarah, ketika setiap bangunan bukan hanya menjadi penanda ruang, tetapi juga menyimpan cerita tentang perkembangan Cirebon sebagai salah satu kota perdagangan terpenting di pesisir utara Jawa. Bangunan-bangunan kolonial tersebut tentunya juga bukan pajangan kota yang untuk dilihat semata karena setiap bangunan yang berdiri menyimpan kisah dan nilai yang menanti untuk diungkap. Sebagaimana kota-kota berkembang lainnya, pembangunan di Cirebon berpotensi menekan kelestarian bangunan-bangunan kuno yang masih tersisa. Maka dari itu, perlulah suatu kebijakan agar pembangunan yang ada dapat mewadahi upaya pelestarian warisan budaya yang ada di Cirebon.
Referensi
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 3 Agustus 1925
De Koerier 23 Februari 1929
De Locomotief 22-23 September 1919
De locomotief 19 Desember 1935
Java Bode 4 Agustus 1866
Gedenkboek der Javasche Bank
Djie Ting Ham. 1926. De Algemeene Banken in Nederlandsch Indie. Den Haag : W. P. van Stockum & Zoon.
Ezerman, J.L.J.F. 1919. Beschrijving van den Koan Iem-tempel "Tiao-Kak-Sie" te Cheribon. Batavia : Bataviaasch Genootschap van kunsten en wetenschappen
Stadsgemeente Cheribon. 1931. Gedenkboek der gemeente Cheribon, 1906 - 1931. Bandung : N.V. A.C. Nix.
Dwicahyo, Satro. 2022. "Benteng Bescherming di Cirebon: Konteks Politik, Fitur Fisik, dan Fungsinya Pada Akhir Abad Ke-17" dalam Patrawidya, Vol. 22, No. 1, April 2021 halaman 81-99.
Ambary, Hasan Muarif. 1997. "Peranan Cirebon sebagai Pusat Perkembangan dan Penyebaran Islam" dalam Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.









%20Ltd.jpg)


.jpg)




.jpg)


.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar