Minggu, 12 Agustus 2018

Bayang-Bayang Masa Lalu Magelang, Bergstad van Midden Java


Ada sebuah puncak bukit yang menyembul di tengah sebuah kota. Bukit itu adalah Bukit Tidar yang tersohor sebagai pakunya Pulau Jawa. Sementara di kakinya ada kota Magelang, kota yang tumbuh dari garnisun militer menjadi kota pegunungan terindah di Jawa Tengah. Bergstad van Midden Java adalah julukan yang diberikan orang Belanda pada Magelang Magelang karena letaknya di tengah lingkar pegunungan. Kendati tak sebesar kota-kota lain di Jawa, Magelang mengkoleksi banyak sekali bangunan kuno yang menarik. Inilah ikhtiar saya dalam melihat bayang-bayang masa lalu kota Magelang.
Pemandanan udara kota Magelang dilihat dari sebelah barat. Rumah besar di kiri foto adalah kediaman residen Kedu.
Di tengah lingkaran kaki gunung berapi Sumbing, Merbabu, Sindoro, Menoreh, dan Merapi, terhampar sebuah dataran luas yang dikenal sebagai dataran Kedu. Berbagai monumen peradaban kuno karya besar leluhur terserak di dataran yang terhampar bagai permadani hijau itu. Letaknya yang berada di ketinggian 400 mdpl menjadikan iklim dataran Kedu cukup ramah untuk ukuran orang Eropa yang tak tahan iklim tropis. Tidak terlalu panas di siang hari, namun tidak terlalu dingin pula di malam hari. Iklimnya setara dengan iklim Italia Selatan. Dengan segala keindahan dan kenyamanan yang melekat padanya, tak heran jika dataran ini menyandang gelar sebagai Tuin van Java, tamannya Pulau Jawa. Di Jawa, hanya dataran bumi Priangan saja yang dapat mengalahkan keindahan dataran Kedu. Persis di tengah dataran subur itu, menyembul sebuah bukit kecil. Bukit Tidar namanya yang menurut legenda adalah pakunya Pulau Jawa dan di kaki bukit itulah kota Magelang berada (Anonim, 1936; 10).
Peta kota Magelang pada awal 1900an.
Ada banyak kisah tentang asal-usul nama Magelang. Salah satunya berdasarkan tafsir dari M.M. Soekarto yang menyebutkan asalnya dari nama Desa Glang-glang sebagaimana disebutkan pada prasasti Poh yang dikeluarkan atas titah Dyah Balitung. Magelang memang telah ada sejak masa peradaban Mataram kuno, walau saat itu masih berupa desa kecil yang terdiri dari beberapa kampung yaitu Dukuh, Tulung, Boton Kopen, Boton Bolong dan Meteseh. Gaung Magelang kemudian sempat tenggelam selama beberapa abad. Pada abad ke-15, Magelang berada dalam wilayah Kedu yang silih berganti penguasa selama beberapa abad. Sekitar awal abad ke-17, Kedu dimasukan dalam Kerajaan Mataram. Sesudah Perang Suksesi Jawa 1746-1755, wilayah Kedu dipotong untuk Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Wilayah Kedu baik yang dimiliki oleh Surakarta maupun Yogyakarta akhirnya disatukan kembali ke dalam pangkuan pemerintah kolonial Inggris pada 1 Agustus 1812. Secara administratif, wilayah Kedu saat itu dimasukan ke dalam Karesidenan Pekalongan. Barulah pada tahun 1817, Kedu menjadi karesidenan tersendiri yang terdiri dari dua kabupaten, yakni Magelang dan Menoreh. Pengaruh kolonial sejak saat itu mulai begitu dominan dalam perkembangan dan pembangunan kota Magelang hingga pendudukan Jepang (Nessel van Lissa dalam De Locomotief, 31 Januari 1936).
Pemandangan kota Magelang yang memperlihatkan kawasan sekitar alun-alun.
Tanah vulkanis nan subur terhampar di dataran Kedu yang dikelilingi gunung-gunung berapi. Komisaris Inggris, John Crawford, dalam laporannya tentang Distrik Kedu menyebutkan bahwa tembakau dari dataran Kedu sangat diminati oleh pasaran luar. Arus perdagangan cukup ramai di sana dan ada banyak pasar yang ramai di daerah ini. Saat masih berada di bawah Kasunanan Surakarta dan Kasulatanan Yogyakarta, Kedu menjadi lumbung uang dua keraton itu. Sumber pendapatan berasal dari pajak yang dipungut dari gerbang-gerbang tol yang tersebar di Kedu. Sebelum Perang Jawa pecah, Magelang masih menjadi kota kecil yang tenang dan makmur. Kemakmuran dan kedamaian itu memang sempat terusik saat Perang Jawa mulai bergemuruh pada 1825.  Kala itu, kota Magelang terkepung oleh pasukan pengikut Diponegoro dan rakyat yang bersimpati kepadanya. Jenderal De Kock lantas memindahkan markas besarnya dari Surakarta ke Magelang pada tahun 1828. Meskipun perang sedang berkecamuk di luar, Kota Magelang justru menangguk untung selama periode tersebut. Residen Valck dalam laporannya pada tahun 1827 menyebutkan bahwa “pasar tetap dihadiri banyak orang dan perdagangan di dalamnya menjadi sangat menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Perang. Pasar Magelang menjual banyak produk sangat luar biasa dalam hal ini". Perlawanan Diponegoro melawan Belanda berangsur-angsur dipatahkan dan berakhir sesudah Pangeran Diponegoro ditangkap di kediaman Residen Kedu. Perang Jawa pun usai, namun riwayat kota Magelang tak berhenti sampai di sini. Perang Jawa mengubah Magelang dari sekedar kota administrasi menjadi pusat militer yang penting di Jawa Tengah.
Jalan raya utama kota Magelang yang berdampingan dengan rel NIS di sebelah kanan (sumber : media-kitlv.nl)
Perdamaian pulih kembali sesudah Perang Jawa berakhir dan sejak saat itu Magelang memasuki era perdamaian yang cukup panjang. Pemerintah kolonial lambat laun berupaya memelihara kota koloninya. Pembangunan infrastruktur mulai digalakan secara bertahap, terutama jalan raya yang menghubungkan Magelang dengan tempat lain. Prasarana jalan raya menjadi prioritas pemerintah kolonial karena kondisi jalan saat itu masih buruk sehingga menghambat arus perdagangan yang perlahan mulai ramai. Saat itu, perjalanan dari Magelang ke Semarang masih melewati Grabak-Salatiga. Pemerintah kolonial kemudian membuat jalan baru ke Pringsurat pada 1833. Kemudian pada 1842, jalan tersebut diperpanjang ke Ambarawa sehingga terhubunglah Magelang dan Semarang via Ambarawa. Masih di tahun yang sama, pemerintah kolonial juga membukan jalan Magelang-Salaman dan kemudian diikuti dengan pembangunan jalan raya Salaman-Purworejo pada 1851. Kota Magelang akhirnya berhasil tersambung dengan tempat-tempat penting liannya. Jaringan jalan raya tersebut dilengkapi pos-pos pemberhentian tempat kurir pemerintah dapat beristirahat atau mengganti kuda. Sementara di dalam kota Magelang sendiri, jalan yang melintasi tengah kota Magelang mulai ditata. Sepanjang jalan dalam kota, ditanami pohon-pohon perindang yang memberi kesejukan udara pada siapapun yang berjalan di bawahnya. Pada penghujung abad ke-19, kedudukan strategis Magelang diperkuat dengan pembangunan jalur rel Yogyakarta - Magelang - Ambarawa dan Setjang - Parakan oleh maskapai kereta Nederlandsch Indisch Spoorweg. (Anonim, 1936 ; 22).
Alun-alun Magelang saat menjadi tempat pameran hasil bumi dan ternak pada tahun 1924. (sumber : media-kitlv.nl).

Pendapa rumah bupati Magelang (sumber : media-kitlv.nl).
Inggris memiliki peran penting dalam sejarah kota Magelang karena pada tahun yang sama saat wilayah Kedu dikuasai Inggris, pemerintah Inggris memilih kota Magelang sebagai ibukota kabupaten Magelang karena letaknya yang strategis. Inggris lalu mengangkat Mas Ngabei Danoekromo sebagai bupati pertama Magelang. Saat kekuasaan pulau Jawa kembali diserahkan ke Belanda, bupati Magelang yang diangkat oleh Inggris tetap berada di kursi bupati dan mendapat gelar baru Raden Tumenggung Danoeningrat pada tahun 1813. Selama kurun waktu yang cukup lama, Magelang memiliki bupati yang berasal dari trah Danoeningrat. Bupati Danoeningrat I membentuk wajah awal kota Magelang dengan pendirian alun-alun, masjid, dan tempat tinggal bupati sebagai syarat legitimasi kekuasaan dan simbol kewibawaan pemimpin Jawa. Alun-alun Magelang sebagaimana kota-kota masa kolonial dikerumuni oleh gedung-gedung penting. Di sebelah barat alun-alun, terdapat masjid yang dalam lanskap tata kota Jawa umumnya terletak di sebelah barat alun-alun. Kemudian di sebelah utara alun-alun, terdapat kediaman bupati dan keluarganya. Rumah bupati Magelang dahulu berdiri di tempat gereja Protestan sekarang berdiri sebelum kemudian digeser agak ke barat. Rumah bupati sudah lama hancur pada persitiwa bumihangus Magelang saat perang revolusi kemerdekaan. Seiring kemajuan kota Magelang, bangunan lainnya pun berdiri di sekitar alun-alun seperti gereja, kantor Pos dan Telepon, kantor perusahaan dagang Escompto, sekolah MOSVIA, sosieteit, hingga hotel. Alun-alun Magelang juga menjadi lokasi perhelatan berbagai acara yang digelar oleh pemerintah kolonial.(Algemeen Handelsblad 7 Desember 1938).
Masjid Agung Magelang pada abad ke-19 (sumber : media-kitlv.nl)

Masjid Agung Magelang hasil pemugaran R.T. Danoesoegondo dan tampak sekarang (sumber : media-kitlv.nl).
Berada di sebelah barat alun-alun adalah Masjid Agung Magelang yang dibangun pada tahun 1810, bertepatan dengan pemerintahan bupati pertama Magelang, RA Danoediningrat I. Masjid ini berulangkali beralih rupa. Pada tahun 1836 direnovasi oleh R.A.A Danoeningrat II dan pada tahun 1871 oleh R.T. Danoeningrat III. Selanjutnya pada masa R.A. Danoekoesomo (bupati ke-4 Magelang), ditambahkan serambi pada bagian depan masjid. Penambahan selanjutnya dilakukan oleh R.A.A. Danoesoegondo (bupati ke-5 Magelang) dengan menambahkan ruang samping kanan dan kiri masjid karena masjid tidak mampu menampung jemaat saat ibadah shalat Jum’at. Rupa masjid yang sekarang adalah hasil perombakan bupati Magelang ke 5, R.T. Danoesoegondo pada tahun 1934. Saat itu, kebutuhan ruang terhadap Masjid Agung Magelang semakin mendesak sehingga dilakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjid Agung Magelang. Sejumlah bahan seperti batu kali, kerikil, pasir, bata, dan kapur disumbakan dari warga Magelang untuk merenovasi masjid tersebut. Selain bahan bangunan, mereka juga menyumbang sejumlah besar uang yang dikumpulkan dari kotak amal yang diletakan dekat masjid. Pekerjaan renovasi masjid Magelang dilimpahkan kepada kantor konstruksi H. Pluyter dengan arahan dari bupati R.A.A. Danoesoegondo (De Locomotief, 15 April 1935). Oleh Pluyter, serambi depan yang yang sudah diperluas diberi sentuhan gaya arsitektur Indo-Mughal. Pemilihan gaya tersebut dikritik oleh arsitek Soesilo yang menurutnya tidak serasi dengan lingkungan sekitarnya (Soesilo, 1937; 154). Bangunan Masjid Agung Magelang memiliki tata ruang yang masih umum dijumpai pada masjid-masjid kama di Jawa, yakni terdiri dari ruang salat utama dan serambi. Pada bagian ruang salat utama, terdapat empat tiang saka guru yang menopang konstruksi atap masjid. Di bagian ini dapat dijumpai maksurah, yakni bilik kecil yang diperuntukan sebagai ruang salat khusus bupati. Sementara itu, bagian serambi dapat dijumpai pada sisi utara, timur, dan selatan masjid. Serambi-serambi tersebut ditopang oleh tiang-tiang dari beton.
GPIB Magelang.
GPIB Magelang pada awal abad 20 (sumber : media-kitlv.nl)
Masih di dekat alun-alun, terdapat gereja tua berlanggam Neogotik yang dahulu digunakan sebagai Indische Kerk. Pembentukan Indische Kerk pada tahun 1835 berlatar dari upaya Raja Belanda saat itu, Willem I, untuk menyatukan berbagai aliran Kristen yang ada di Hindia-Belanda sehingga mereka bisa lebih bersatu memusatkan kegiatan mereka daripada bergerak sendiri. Dari awal kehadirannya ke Nusantara, Belanda tidak berminat untuk menyiarkan agama mereka dan lebih berfokus pada perdagangan semata. Keberadaan Indische Kerk akhirnya terbatas pada pelayanan rohani untuk komunitas Eropa yang kecil. Itulah sebabnya bangunan Indische Kerk meskipun kedudukannya ada di kota-kota penting seperti Magelang, namun karena kecilnya jumlah jemaat maka ukurannya tidak lebih besar daripada gereja di pedesaan Eropa. Gereja Indische Kerk lebih disebut sebagai "Gereja Negara" atau "Gereja Militer" karena para pendetanya digaji oleh negara layaknya pegawai negeri dan pemerintah berwenang untuk mengangkat, memindahkan, atau memberhentikannya.
Kelenteng Magelang awal tahun 1900an ( sumber : media-kitlv.nl ).
Bergeser ke selatan alun-alun yang menjadi gerbang masuk ke kawasan Pecinan, terdapat bangunan keagamaan orang Tionghoa yang disebut kelenteng. Sayang bangunan asli kelenteng Magelang sudah terlalap api pada tahun 2014 dan kini diganti dengan bangunan baru yang tidak mencermikan bangunan lamanya. 
Gereja St. Ignatius Magelang sebelum dirombak tahun 1960an. Gedung gereja dibangun dalam gaya Neo-Romanesque (sumber : media-kitlv.nl).
Pastoran Gereja St. Ignatius Magelang.
Berjalan sedkit ke barat dari alun-alun, terdapat kompleks gereja Katolik St.Ignatius. Kota Magelang adalah kota garnisun yang dihuni oleh tentara dari berbagai latar belakang yang berbeda. Selain beragama Kristen Protestan, beberapa tentara ada yang merupakan pemeluk agama Katolik. Sejak tahun 1880an, Pastor Franciscus Voogel, S.J, ditempatkan di sana untuk memberikan pelayan kepada tentara-tentara tersebut. Kegiatan ibadah dilangsungkan di beranda belakang rumah pastor Voogel. Seiring dengan perkembangan jemaat, maka muncul rencana untuk membangun bangunan gereja yang lebih besar. Namun rencana tersebut tertunda seiring dengan penugasan Pastor Voogel untuk mendampingi tentara dalam ekspedisi Lombok. Selepas Pastor Voogel kembali ke Magelang, rencana tersebut lagi-lagi tertunda karena Pastor Voogel pergi ke Belanda untuk berobat. Pembangunan gereja baru dilaksanakan setelah W. van den Heuvel tiba di Magelang pada 29 Juni 1898. Rancangan gereja dibuat oleh pengawas bangunan dari Waterstaat (kantor pengairan), W. Ziesel. Penggalian pondasi dimulai pada Mei 1899 sesudah berlalunya musim hujan. Sementara upacara peletakan batu pertama dilangsungkan pada 31 Juli 1899 bertepatan dengan perayaan St. Ignatius. Karena bahan bangunan di Magelang saat itu masih jarang, maka pembangunan gereja berlangsung pelan. Saat bagian atap bangunan gereja hampir tuntas, W. Ziesel dipindahkan ke tempat lain sehingga pembangunan gereja diawasi oleh A. van Bebber. Sesudah melalui banyak rintangan, bangunan gereja akhirnya ditasbihkan pada 30 September 1900. Sayangnya, bangunan gereja tersebut tidak dapat berumur lama karena terbakar habis saat Perang Kemerdekaan. Keberadaan berbagai tempat ibadah di sekitar alun-alun merupakan cermin kemajemukan komunitas masyarakat yang tinggal di Magelang, yakni Tionghoa, Belanda dan, pribumi.
Bangunan Gereformeerde Kerk yang kini menjadi Gereja Kristen Jawa.
Foto bangunan gereja Gereformeerde Kerk Magelan pada tahun 1930an.
(Sumber : collectie.wereldculturen.nl)
Selain sebagai pusat kegiatan militer di Kedu, Magelang dalam sejarahnya juga menjadi pusat zending atau penyebaran agama Kristen yang dijalankan oleh Gereformeerde Kerken. Pada masa itu, untuk mencegah persaingan dan perebutan jemaat antar badan zending, maka masing-masing badan zending hanya berwenang untuk menyebar agama di wilayah yang sudah ditentukan untuk mereka. Gereformeerde Kerken sebagai salah satu denominasi gereja Kalvinis terbesar di Belanda kebagian jatah di Jawa bagian selatan. Wilayah tersebut oleh Gereformeerde Kerken dipecah lagi berdasarkan provinsi di Belanda. Gereformeerde Kerk provinsi Zeeland, Noord-Brabant dan Limburg mendapatkan bagian wilayah Temanggung dan Magelang. Penginjil Gereformeerde Kerken yang pertama tiba di Magelang adalah Pdt. Merkelijn yang datang ke Magelang pada September 1912. Awalnya jemaat yang diasuh oleh Pdt. Merkelijn beribadah di rumah sederhana. Setelah jemaat bertambah besar, maka dibangunlah gedung gereja yang mulai digunakan untuk ibadah pada 17 Maret 1921. Pada tahun 1928, jemaat Jawa di Magelang menangkat seorang pendeta dari kalangan mereka sendiri. Pendeta tersebut bernama Idris Siswawasana yang sebelumnya adalah seorang guru. Gedung gereja tersebut masih berdiri dan sekarang digunakan oleh GKJ (Van Nes, 1937:32-34). 
Di dekat gereja dahulu terdapat rumah tinggal pendeta Merkelijn yang menjadi korban bumihangus saat Perang Revolusi Kemerdekaan.
Sisa dari rumah sakit zending Magelang yang saat ini menjadi bagian dari RSUD Tidar.

Rumah sakit zending Magelang pada tahun 1937
(sumber : Gedenkboek Zending Der Gereformeerdekerken van Zeeland, Noord Brabant en Limburg in Magelang en Temanggoeng.)
Pada peralihan ke 20, muncul gagasan bahwa gerakan zending Kristen tidak hanya berkutat pada layanan rohani dan penyebaran Kristen semata, namun juga turut aktif dalam memperbaiki nasib penduduk bumiputra. Maka dari itu, karya zending di Magelang tidaklah lengkap tanpa kehadiran rumah sakit yang dikelola oleh zending. Sejumlah permohonan telah disampaikan kepada pemerintah kolonial agar zending diizinkan membuka rumah sakit di Magelang namun permohonan tersebut tidak dikabulkan dengan alasan di Magelang sudah memiliki rumah sakit militer sehingga tidak diperlukan fasilitas kesehatan yang lain. Kendati rumah sakit militer atau Militarie Hospitaal Magelang dapat menerima pasien sipil, namun penduduk desa tidak ada yang berani untuk berobat ke sana. Kendati belum memiliki rumah sakit, zending Magelang membuka poliklinik yang dijalankan oleh dokter Abarbanel pada tahun 1924. Karena pemerintah tidak akan memberi subsidi pembangunannya, zending Magelang harus memperoleh dana secara mandiri. Oleh karena itu, Pdt. Merkelijn kembali ke Belanda pada tahun 1928 untuk menggalang sumbangan dan ia berhasil melakukannya di tengah perekonomian yang sedang sulit akibat gejolak krisis malaise. Setelah melewati jalan yang berliku dan panjang, zending di Magelang akhirnya memperoleh sebidang tanah dan bangunan rumah milik seorang mayor Tionghoa di dekat Tidar pada tahun 1929 sebagai lokasi rumah sakit. Kegiatan rawat jalan mulai dapat dilakukan pada bulan Maret 1932. Setelah menanti sekian lama, akhirnya rumah sakit zending Magelang diresmikan pada 2 Mei 1932 bertepatan dengan ulang tahun pernikahan pdt. Merkelijn. "Kami tidak dapat menerima hadiah yang lebih baik selain ini (rumah sakit)", ucap pdt. Merkelijn dalam pembukaan rumah sakit. Dokter Dreckmeier diangkat sebagai direktur pertama rumah sakit (Dreckmeier, 1937: 78).
Gereja Kerasulan Baru.
Selain zending Gerefomeerde Kerken, Magelang juga menjadi tempat penyebaran agama Kristen oleh kelompok Kristen Hersteld Apostilische atau Kerasulan Baru. Kelompok tersebut didrikan di Inggris pada 1831 oleh Edward Irving, seorang pastor asal Skotlandia. Gereja Kerasulan Baru diperkenalkan di Hindia-Belanda oleh mantan pejabat pengadilan tinggi di Batavia bernama Frederik Lodewijk Anthing pada tahun 1881. Tidak lama kemudian Anthing meninggal pada tahun 1883 karena kecelakaan dan kegiatan Gereja Kerasulan Baru di Hindia-Belanda diteruskan oleh murid Anthing, Rasul Liem Tjoe Kiem. Kegiatan penyebaran Kristen oleh Rasul Liem Tjoe Kiem ini mendapatkan banyak pengikut dari seputaran desa di Magelang. Keberadaan Gereja Kerasulan Baru di Magelang tersebut rupanya memikat seorang tokoh Kristen kharimastik dari Purworejo sekaligus mantan murid Anthing lainnya, Kyai Sadrach yang memutuskan bergabung dengan Gereja Kerasulan Baru pada tahun 1899 dan kemudian ia diangkat sebagai Rasul untuk kalangan Jawa. Perkembangan Gereja Kerasulan Baru di Magelang akhirnya mendorong jemaat di sana untuk membangun gedung gereja permanen di Bayeman tahun 1927 dengan dana pembangunan dari sumbangan sukarela jemaat (De Locomotief, 1 Desember 1927).
Menara air Magelang, salah satu tengara kota Magelang.
Bangunan menara air atau watertoren di salah satu sudut alun-alun masih terlihat perkasa. Ukurannya yang besar, bentuknya yang unik seperti kompor raksasa, serta letaknya di tempat keramaian adalah alasan bangunan ini menjadi bangunan paling ikonik di kota ini. Air dimanapun berada dan kapanpun masanya merupakan kebutuhan penting bagi sebuah permukiman. Segala upaya dilakukan oleh pemegang kebijakan pasokan air terjamin untuk warganya. Di Magelang, upaya untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga mulai dilakukan oleh Gemeente Magelang sejak tahun 1916. Awalnya pasokan air diutamakan untuk keperluan garnisun militer terlebih dahulu. Kemudian pasokan air diperluas untuk penduduk sipil (De Locomotief, 24 Mei 1917). Air bersih untuk kota Magelang diperoleh dari mata air Wulung dan Kalegen. Sarana air bersih tersebut membutuhkan bangunan bak penampungan air untuk menyimpan cadangan air. Bak penampungan air yang saat ini berdiri di sudut alun-alun Magelang adalah rancangan dari insinyur zeni militer bernama Mayor L. Swaab. Dalam proses perencanaan, Swaab bersaing dengan insinyur zeni lainnya bernama Mayor van Tongeren. Berbeda dengan Swaab, rancangan van Tongeren menempatkan menara air di dekat Sungai Progo. Singkat cerita, gemeente memilih rancangan Swaab. Persoalan muncul saat dimanakah menara air itu akan diletakan di dalam kota. Dinas zeni militer menganjurkan agar bangunan besar itu ditempatkan di alun-alun tapi ada keberatan dari bupati. Sementara saat hendak ditempatkan di belakang gereja Protestan, pihak dewan gereja juga keberatan. Pilihan lainnya adalah menempatkan menara air di belakang kantor Burgerlijke Openbare Werken (Dinas Pekerjaan Umum) atau di kampung sebelah masjid agung. Tidak jelas bagaimana ceritanya, akhirnya menara air tersebut tetap dibangun di alun-alun mengikuti anjuran zeni  (De Locomotief 27 November 1920). Menara air tersebut memiliki cara kerja sebagai berikut ; air diisi ke bak penampungan yang ada di ketinggian dengan mesin pompa. Lalu dengan bantuan gravitasi, air di bak penampungan dialirkan ke rumah tangga. Menara air berperan untuk menjaga pasokan air selama masa puncak penggunaan yang biasanya terjadi di pagi dan siang hari. Pada malam hari saat penggunaan air menurun, air akan diisi kembali ke bak penampungan. Selama pemadaman listrik,  saat mesin pompa tidak bisa bekerja, menara air menggantikan peran mesin pompa dalam memasok air karena air disalurkan ke rumah-rumah penduduk dengan bantuan gravitasi. Tentunya dengan catatan pemadaman listrik tidak berlangsung lama karena cadangan air di bak penampungan menara air akan menipis jika digunakan terlalu lama dan perlu diisi ulang dengan mesin pompa.
Salah satu plengkung Kali Manggis.
Selain itu, pemerintah kolonial juga membuat akuaduk atau saluran air yang airnya berasal dari Kali Manggis. Masyarakat Magelang masa kini mengenalnya dengan nama Saluran Kali Manggis. Saluran itu mulai digali pada 1857 dan kemudian disempurnakan beberapa tahun berikutnya (Anonim, 1936; 22). Hingga sekarang, air masih senantiasa mengalir lewat saluran yang membelah kota Magelang itu. Begitu banyak fungsi saluran air ini, dari sebagai saluran irigasi, sarana air minum, hingga untuk menanggulangi bencana kebakaran yang kerap melanda Magelang di masa lampau karena saat itu masih banyak bangunan dari bambu. Karena saluran itu melintang di tengah kota, maka dibuatlah tiga buah pelengkung (https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/30/saluran-air-kali-manggis/). 
Kantor dewan kotapraja Magelang. Bangunan sudah hilang
(Sumber : collectie.wereldculturen.nl).
Kota itu kian menonjol setelah Karesidenan Bagelen dilebur bersama Karesdienan Kedu. Magelang akhirnya memainkan peran penting sebagai ibukota karesidenan dan pangkalan militer Belanda di Kedu. Puncaknya adalah tahun 1906, lewat UU Decentralitatiewet, Magelang disahkan sebagai kotamadya sejak 21 Februari 1906 (Anonim, 1836; 7). Dengan adanya kebijakan ini, kota Magelang memiliki pemerintahan otonom yang dikelola secara profesional layaknya kota-kota di dunia barat . Sebagai kepala wilayah, ditunjuk seorang walikota atau kepala daerah. Gementee Magelang sempat memiliki sebuah kantor atau raadhuis yang sayangnya sudah hancur sewaktu perang kemerdekaan.
Kawasan kampung Kwarasan dewasa ini.
Miniatur Kampung Kwarasan (sumber : Locale Techniek 1937).
Bekerja sama dengan arsitek Thomas Karsten, gementee Magelang melakukan pemekaran wilayah dengan membuat sebuah kampung yang sekarang dikenal dengan nama Kwarasan pada 1937. Sesuai artinya dalam bahasa Jawa yang berarti “sehat”, perancangan kampung itu memperhatikan betul kualitas hidup sehat masyarakat seperti yang dianjurkan oleh H.F. Tillema pada bukunya, Kromoblondo. Antar rumah diberi sedikit ruang dengaan jarak yang tidak terlalu renggang agar udara dan cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah. Di kampung itu disediakan pula tanah lapang agar warga bisa berolahraga. Jalan diaspal dan di kanan kirinya diberi pohon perindang. Selain menata perkampungan, tugas utama Gementee lainnya mencakup memperindah taman-taman umum, membersihkan jalan raya, memperkeras jalan dan membersihkan saluran pembuangan.
Bekas markas polisi militer zaman Belanda (sumber : media-kitlv.nl).
Hingga hari ini, Magelang dikenal sebagai kota militer. Selain keberadaan Akademi Militer yang ada di selatan kota, keberadaan garnisun di tepi utara kota yang dibangun sejak zaman Belanda menjadi alasan kuat gelar kota militer disematkan pada kota ini. Garnisun atau militaire encampment di Magelang sudah ada jauh sebelum Perang Jawa pecah, tepatnya pada tahun 1817. Gill berpendapat bahwa alasan garnisun ditempatkan di pinggir utara kota ialah adanya niatan pemerintah kolonial untuk melanjutkan pembangunan berdasarkan karakter bentuk kota Magelang (Gill, 1995; 220). Memang pada akhirnya Magelang sengaja dibesarkan oleh pemerintah kolonial sebagai garnisun militer utama Belanda di Jawa bersama Cimahi, Bandung, dan Malang. Besarnya tentara yang berkedudukan di Magelang membuat militer Belanda membentuk kesatuan polisi militer untuk mendisiplinkan mereka. Kesatuan itu bermarkas di sebuah gedung di ujung lapangan latihan (kini lapangan RINDAM). 


Perumahan-perumahan tentara. Ukuran dan bentuk rumah tergantung pangkatnya. Sebagian besar masih dalam kondisi baik. ( sumber : media-kitlv.nl )

Perumahan tentara pada masa kini.
Akomodasi yang baik dan sehat juga penting dalam ketentaraan. Pada masa awal militer Belanda bermarkas di Magelang, barak-barak tempat tinggal serdadu masih terbuat dari bambu yang notabene menjadi sarang tikus pembawa penyakit pes. Banyak tentara yang meninggal di barak karena terjangkit penyakit ketimbang mati di medan tempur. Oleh karena itu zeni militer mulai membenahi barak tentara di dalam kompleks garnisun pada akhir abad ke-19 (Anonim, 1936; 20). Di dalam garnisun itu, para serdadu menempati barak yang di dalamnya terdapat tempat tidur sesuai kompi pasukan yang dilengkapi kelambu dan mebel sederhana. Mengingat keterbatasan ruangan, maka anak-anak serdadu tinggal di bawah kolong tempat tidur (yang dari situlah lahir istilah anak kolong). Setiap tangsi diberi batas berupa pagar kawat dan terdapat penjagaan 24 jam untuk menjaga ketertiban. Di dalam tangsi, ada kantor, gudang senjata, barak tempat tinggal, dapur, istal, kantin, dan ruang olahraga. Serdadu mandi di sebuah ruangan besar dengan bak mandi panjang. Sementara di luar kompleks, terdapat lapangan tembak dan baris berbaris serta lapangan untuk apel prajurit (Rocher & Iwan Santosa, 2016; 208). 
Military ziekenhuis dulu dan sekarang ( sumber : (Sumber : collectie.wereldculturen.nl). ).
Berikutnya militer Belanda melalui Military Geneeskundige Dienst mendirikan sebuah rumah sakit militer pada 1867 (https://historicalhospitals.com/hospitals-2/military-hospitals/garrison-hospital-magelang/). Rumah sakit ini dahulu dikenal memiliki peralatan kesehatan yang lengkap dan dokter spesialis yang ahli di bidangnya.
Bekas sekolah Kweekschool voor Inlandsch Ambtenaaren (sumber : media-kitlv.nl).
Selain bangunan militer, Magelang juga memiliki banyak bangunan sekolah yang dapat dijumpai di setiap penjuru kota, tanda bahwa pendidikan di Magelang sudah menjadi perhatian utama semenjak dulu kala. Pemerintah kolonial memang berusaha menunjukan kepada penduduk koloni bahwa Hindia-Belanda adalah tempat yang baik untuk membesarkan anak. Sekolah-sekolah bernuansa Eropa dengan sistem pendidikan yang sama di Belanda dibuka. Total ada 39 sekolah dari berbagai jenjang untuk setiap kelompok masyarakat yang dibuka. Sekolah-sekolah itu ada yang milik pemerintah ada pula yang milik swasta. Pendidikan mula-mula hanya menyasar untuk anak-anak keturunan Eropa, namun seiring waktu orang pribumi juga mendapat jatah kursi di sekolah milik Belanda walau hanya dididik sekedar untuk menjadi pamong pemerintah tanpa mengembangkan keilmuan mereka. Kompleks sekolah terbesar di Magelang adalah sekolah Kweekschool voor Inlandsch Ambtenaren yang kini menjadi kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Dibangun tahun 1899, sekolah di Jalan Yos Sudarso No.31 itu dibuka dengan maksud mencetak tenaga guru dari kalangan bumiputera. Guru-guru ini nantinya akan mengajar pada sekolah-sekolah kader pamong praja kolonial.

Societeit "De Eendracht" dan ruang bilyar di dalamnya. Gedung societeit hancur sewaktu perang kemerdekaan (sumber : media-kitlv.nl).
Mengenai hiburan, ada banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh orang Eropa untuk mencari kegembiraan di waktu senggang. Buku Magelang de Middlepunt van Den Tuin van Java menyebutkan beberapa sarana hiburan di masa kolonial seperti Societeit  “De Endracht” di dekat alun-alun, societeit militer, tiga buah kedai teh, dan dua bioskop modern yang memutar 6 film per minggunya (Anonim, 1936; 56). Sarana hiburan paling elit adalah Soceiteit “ De Endracht”, dimana hanya orang kulit putih saja yang boleh masuk ke sana. Di sana mereka dapat bermain bilyard, minum-minum, berdansa-dansi, atau menonton pertunjukan musik tonil.
Stasiun Magelang Pasar di kanan gambar ( sumber : media-kitlv.nl ).
Bekas rumah dinas pegawai Stasiun Magelang Kota.
Bekas depo Stasiun Magelang Kota.
Sebuah bangunan tua tampak teronggok bisu di salah satu sudut sub terminal angkutan kota Kebonpolo. Sebelum menjadi tempat pemberhentian angkutan kota, tempat itu pernah menjadi satu dari dua stasiun kereta api di kota Magelang. Bangunan tua tadi adalah bekas depo kereta stasiun ini. Jalur kereta mulai melewati Magelang pada tahun 1898. Jalur itu menghubungkan Magelang dengan Yogyakarta dan pada tahun 1905 dibuka jalur kereta ke arah Secang. Selain Stasiun Magelang Kota ada pula Stasiun Magelang Pasar dan sebuah halte di tengah alun-alun Magelang. Ada alasan mengapa kota ini bisa memiliki dua stasiun. Saat itu, Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij perusahaan kereta swasta masa kolonial, diminta pemerintah untuk membangun jalur kereta melewati Magelang. Pertimbangannya, Magelang adalah kota militer terbesar di Jawa Tengah. Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij menyanggupi permintaan ini. Namun timbul tarik ulur mengenai dimanakah stasiun kereta akan ditempatkan. Pemerintah kolonial meminta untuk ditempatkan di utara kota, dekat dengan garnisun sehingga pergerakan militer menjadi mudah. Namun insting bisnis Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij, melihat bahwa stasiun itu akan jauh lebih menguntungkan jika ditempatkan di dekat Pasar Rejowinangun, urat perdagangan kota Magelang. Maka jadilah kota ini memiliki dua buah stasiun. Kejayaan kereta di Magelang telah lama berlalu, kira-kira pada tahun 1970an, yakni saat moda angkutan kereta mulai dikalahkan oleh angkutan lain.
Bekas pabrik cerutu milik Ko Kwat Ie.
Rumah tinggal Ko Kwat Ie.
Dari sektor industri, terdapat beberapa industri seperti es, tegel, dan cerutu. Di antara industri tersebut, industri paling menonjol di Magelang adalah cerutu mengingat wilayah sekitar Magelang merupakan penghasil tembakau utama. Kira-kira ada delapan industri rokok yang pernah berjaya di Magelang. Tujuh di antaranya dipegang oleh orang Tionghoa dan yang paling mahsyur adalah “Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabriek” yang dirintis oleh Ko Kwat Ie. Pabrik tersebut awalnya dibuka di Batavia pada tahun 1900 dengan modal awal sebesar 200 gulden dan baru memiliki dua belas karyawan. Dari Batavia, Ko Kwat Ie memindahkan pabrik cerutunya ke Magelang pada tahun 1908 supaya lebih mudah mendapatkan tembakau untuk bahan baku. Sebenarnya saat pabrik cerutu Ko Kwat Ie didirikan di Magelang, sudah ada industri pengolahan tembakau di sana namun masih sebatas industri rumahan dan pemasarannya hanya mencakup wilayah setempat. Pabrik cerutu Ko Kwat Ie yang pertama di Magelang terletak di kawasan Pecinan. Pabrik itu menghasilkan cerutu dengan nama dagang Panama Steer, Deli Havana, Missigit Deli, Carnaval, dan Armada menyasar pangsa pasar orang Eropa dan priyayi pribumi. Pecahnya Perang Dunia I membuat permintaan cerutu dari Eropa meningkat pesat. Ko Kwat Ie memanfaatkan momentum tersebut untuk menembus pasar di Eropa, Afrika, Australia, hingga Asia. Sementara pasar di dalam negeri diperluas dari Sabang hingga Merauke. Selama bertahun-tahun, perusahaan cerutu Ko Kwat Ie tumbuh dengan mantap. Pada tahun 1920, Ko Kwat Ie mendatangkan mesin produksi baru dan pabrik yang lebih besar di lokasi sekarang (Jalan Tarumanegara) yang tidak jauh dari rumah Ko Kwat Ie. Pabrik tersebut produksi harian rata-rata mencapai tiga ratus ribu cerutu dan mempekerjakan lebih dari 1.600 pekerja, laki-laki dan perempuan, yang sebagian besar berasal dari Magelang dan sekitarnya (De Locomotief, 15 Mei 1928). Pesatnya industri cerutu Ko Kwat Ie menarik perhatian sejumlah pembesar negeri. Jika Gubernur Jenderal sedang melawat ke Magelang, mereka akan menyempatkan berkunjung ke pabrik cerutu Ko Kwat Ie. Supaya menghasilkan cerutu berkualitas tinggi, pabrik tersebut senantiasa dijaga kebersihanya. Menukil dari buku “Tabakscultuur en Tabaksproducten”, pabrik cerutu Ko Kwat Ie merupakan saingan berat pabrik cerutu Mac Gillvary yang dijalankan oleh orang Eropa (Vlemming, 1925: 190). Saat ini, bekas pabrik cerutu Ko Kwat Ie digunakan sebagai sekolahan.
Rumah Sakit Jiwa Kramat.
Rumah dinas RSJ Kramat.
Kala pinggiran kota Magelang masih lapang, beberapa prasarana umum yang memerlukan lahan luas dibangun di sana. Salah satunya adalah Rumah Sakit Jiwa Dr. Soerojo atau dulu dikenal dengan nama Krankzinnigengesticht Kramat. Tanah sekitar saat itu masih kosong dan belum banyak penduduk sehingga masih memungkinkan untuk dilakukan perluasan dan lingkungannya yang jauh dari keramaian kota sangat membantu dalam pemulihan kesehatan jiwa. Rencana pembangunan RSJ tersebut oleh pemerintah kolonial sebenarnya sudah tercetus sejak tahun 1916. Semula pemerintah hanya berniat untuk membuat rumah singgah untuk pasien gangguan jiwa di Magelang sebelum dibawa ke RSJ utama di Buitenzorg dan Lawang. Namun dengan kondisi RSJ di Buitenzorg dan Lawang sudah hampir penuhserta di Jawa Tengah sendiri belum ada fasilitas sejenis, maka diputuskanlah untuk membangun RSJ besar yang berlokasi di Magelang. Pemerintah telah menganggarkan dana awal sebesar 700.000 gulden untuk pembangunan RSJ Kramat dan juga menunjuk arsitek Beraud sebagai perancangnya (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 27 Desember 1916). Sebagai permulaan, tanah yang akan menjadi cikal RSJ mulai diratakan pada tahun 1917. Pembangunan RSJ sendiri sedianya ditargetkan tuntas pada tahun 1918. Namun entah suatu hal yang belum diketahui, pembangunan rumah sakit sama sekali belum dimulai pada tahun itu. Barulah pada tahun 1919 tahap pertama pembangunan RSJ mulai dikerjakan. Tahap tersebut meliputi pembangunan 24 paviliun, dapur, binatu, penataan lanskap, dan pemasangan saluran listrik. Ketika paviliun selesai dibangun, kompleks RSJ Kramat ternyata belum dapat beroperasi karena belum adanya fasilitas rumah tinggal pegawai. Fasilitas tersebut baru dibangun pada tahap kedua pembangunan pada setelah 1920 dan termasuk di antaranya adalah bangunan depan RSJ. Pada bulan September 1923, RSJ Kramat mulai menerima sebagian kecil pasien dari Klinik Jiwa Porong dan RSJ Buitenzorg. Kemudian disusul dengan pasien RSJ dari Solo sebanyak 700 pasien. RSJ Kramat akhirnya diresmikan pada 20 Oktober 1923 dan daya tampung awalnya mencapai 1000 pasien (De Indische Courant 1 Oktober 1923). Kompleks RSJ Kramat selanjutnya ditambahkan bangsal baru pada tahun 1925 sehingga pasien ada tambahan ruang untuk 300 pasien. Secara keseluruhan, pembangunan RSJ Kramat memakan total biaya sebesar 1.233.922 gulden.

Rumah residen Kedu.
Saat kota Magelang tumbuh menjadi pusat pemerintahan kolonial, baik bangunan milik orang Eropa ataupun orang Tionghoa banyak yang masih terbuat dari bambu. Hanya sedikit saja bangunan yang menggunakan batu, yakni rumah residen, rumah kontrolir dan rumah perwira. Pada masa awal kolonial di Magelang, rumah terindah adalah rumah residen Kedu yang kini menjadi Kantor Bakorwil Kedu. Sebagai hoofdnegorij atau ibukota pemerintahan kolonial di Kedu, keberadaan rumah residen adalah hal mutlak. Tahun 1819, rumah ini didirkan dengan rancangan dari kolonel J.C. Schultze dan biaya sebesar 10.000 gulden digelontorkan untuk pembangunannya (Anonim, 1936; 20). Rumah ini menjadi tersohor dalam sejarah nasional setelah Belanda menjadikan rumah ini sebagai tempat melaksanakan tipu daya untuk menjebak Pangeran Diponegoro. Setelah Perang Jawa usai, rumah ini beberapa kali berubah bentuk. Semburat Gunung Sumbing terlihat elok dari beranda belakang gedung ini, tempat residen menjamu tamu. Di belakang rumah ini, ada sebuah taman indah yang dilengkapi gazebo, rusa-rusa jinak, dan pajangan patung-patung kuno yang diambil di sekitar Magelang. Beberapa langkah ke utara dari bekas rumah residen, terdapat kantor residen kedu. Di sinilah roda adminstrasi pemerintahan Karesidenan Kedu dijalankan. Dalam birokrasi pemerintah kolonial, pangkat residen adalah yang paling tinggi di tingkat karesidenan, di bawahnya ada asisstent residen yang ditempatkan di daerah dan di bawahnya lagi ada controleur. Tidak seperti para pendahulunya, pegawai VOC yang dikenal melakukan korupsi secara menggila, aparat pemerintah kolonial abad ke-19 lebih bersih dan efisien. Hal ini merupakan buah dari reformasi birokrasi yang dijalankan oleh Daendels. Pertengahan abad ke-19, reformasi birokrasi disempurnakan dengan peningkatan upah, pendidikan, serta pembagian tugas yang tegas dan jelas. Para pegawai ini bukan lagi para petualang yang hendak mencari keuntungan, melainkan para pegawai terdidik berintegritas tinggi. Sayangnya reformasi birokrasi pada tubuh pemerintah kolonial tidak sampai menyentuh ranah pemerintah lokal dimana urusan administrasi dengan kepentingan pribadi masih berkelindan dan berlanjut hingga hari ini.
Kantor residen Kedu yang kini menjadi Museum BPK.
Sebagaimana pembagian tata permukiman di Jawa pada abad ke-19, kawasan permukiman di kota Magelang dibagi tiga jenis. Pertama adalah permukiman orang Eropa dan elite pribumi berupa kompleks rumah tembok berhalaman luas. Kedua adalah kawasan pecinan yang berupa dereta rapat rumah toko. Ketiga adalah permukiman golongan pribumi berupa rumah kampung beratap ijuk dan berdinding bambu. Mulanya orang Eropa biasanya akan kembali ke negeri asalnya setelah masa bekerjanya di sini sudah habis. Namun pada akhirnya, mereka kemudian memutuskan untuk tinggal di sini sepanjang hidupnya. Dari situlah muncul rumah-rumah gaya Indis, sebuah gaya yang memadukan unsur Eropa dengan lokal. Gaya inipun rupanya ditiru pula oleh orang Tionghoa kaya. Magelang, seperti halnya kota-kota di pedalaman yang fungsi perdagangan kurang menonjol, bentuk kotanya kabupaten tidak teralu berbeda dengan lingkungan pedesaan dimana setiap rumah memiliki halaman depan yang sangat luas. Dengan iklim yang boleh dikatakan sejuk dan sarana yang lengkap, banyak warga Eropa yang betah tinggal di sini. Tersimpan harapan di hati ereka agar masih dapat tinggal tenang di sini dalam waktu yang lebih lama. Namun apa daya, harapan mereka pupus, sirna ditelan kenyataan setelah Hindia-Belanda ditaklukan Jepang pada 1942 dan mereka terusir dari Magelang. Walau orang Belanda telah lama pergi, cukup banyak rumah kuno peninggalan mereka yang masih dapat disaksikan.
Aneka rupa rumah Indis Empire di Magelang.
Rumah-rumah kuno yang dibangun sekitar tahun 1890-1910an.
Seperti itulah kiranya kisah beberapa bangunan kuno yang telah menemani hari tua kota Magelang,kota yang begitu dibanggakan oleh gementee Magelang, kota pegunungan yang kenyamanannya disetarakan dengan Bandung dan Malang. Sudah sepatutnya warga Magelang bangga dengan kota yang masih menyimoan segudang bangunan sarat kisah yang menjadikan sejarah Magelang terasa lebih hidup. Kebanggan itu dapat diwujudkan dengan bersama-sama menjaga bangunan berserajah itu, agar kebanggan yang dirasakan oleh generasi masa kini dapat dirasakan oleh generasi berikutnya. Sekianlah tulisan singkat Jejak Kolonial kali ini mengenai bayang-bayang masa lalu Magelang, . permata berharga yang dimiliki oleh ibu alam Kedu.

Referensi
Anonim, 1936. Magelang, Middlepunt van den Tuin van Java. Magelang ; Bestuur der Stadsgementee Magelang.

Dreckmeier, G.J. 1937. "De Medische Zending" dalam Gedenkboek Zending Der Gereformeerdekerken van Zeeland, Noord Brabant en Limburg in Magelang en Temanggoeng. hlmn. 77-85.

Gill, Ronald G. 1995. De Indische Stad op Java en Madoera. Delft ; Publikatieburo, Faculteit der Bouwkunde, Techinse Universiteit Delft.

Nessel van Lissa, R.C.A.F.J. "Uit Het Verleden van Magelang" dalam De Locomotief 31 Januari 1936.

Soesilo. 1937. "Inhemeesche Missigitgebouw" dalam Locale Techniek No.6 November-Desember 1937.

Van Nes, C. 1937. "Van overvloedigen Arbeid en Nog Overvloediger Zegen" dalam Gedenkboek Zending Der Gereformeerdekerken van Zeeland, Noord Brabant en Limburg in Magelang en Temanggoeng. hlmn. 32-48

Vlemming, J.L. 1925. Tabakscultuur en Tabaksproducten. Weltevreden : Landsdrukkerij.

De Locomotief, 15 Mei 1928

https://historicalhospitals.com/hospitals-2/military-hospitals/garrison-hospital-magelang/

https://historicalhospitals.com/specialized-hospitals/psychiatry/psychiatry-hospital-magelang/

https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/04/gereja-st-ignatius/

https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/30/saluran-air-kali-manggis/

https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/01/30/sejarah-perkeretaapian-di-magelang-temanggung/

Sabtu, 07 Juli 2018

Kelam Kerkhof Purbalingga

Sore itu, derau suara kendaraan yang berseliweran di jalan sedikit mengurangi suasana senyap kerkhof Purbalingga, tempat dikuburkannya jenasah orang-orang Belanda yang tutup usia di Purbalingga. Walau suasana kerkhof mulai gelap, namun hal tersebut lantas tak mengurangi rasa penasaran saya dan kawan-kawan dari Banjoemas Heritage menegnai salah satu jejak kolonial di Purbalingga ini.
Keadaan kerkhof Purbalingga saat ini.
Berbicara tentang sebutan kerkhof, sebutan yang merujuk pada makam-makam Belanda di Indonesia, sebutan ini asalnya dari gabungan dua kata Belanda, yakni Kerk yang berarti gereja dan hof(f) yang berarti halaman. Oleh karena itu kerkhof dapat diartikan sebagai halaman gereja. Hal ini merujuk pada kebiasaan masyarakat pedesaan di Eropa Barat yang menguburkan sanak saudara mereka di halaman gereja. Gereja menjadi pilihan tempat penguburan karena selain dipandang sebagai tempat suci, gereja merupakan titik fokus yang penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan Eropa, dimana upacara pembaptisan bayi, pernikahan, dan misa arwah dilakukan di gereja. Dengan demikian, daur hidup manusia dari lahir hingga meninggal tidak akan lepas dari gereja. Di samping itu, gereja adalah tempat umum yang dikunjungi banyak orang sehingga dengan menguburkan jasad keluarga yang telah tiada di halaman gereja, keluarga dapat menunjukan keberlangsungan suksesi kepada khalayak (Kerrigan, 2017; 141). 
Letak kerkhof Purbalingga.
Kebiasaan memakamkan jenasah di halaman gereja mulai pudar setelah populasi penduduk kian meningkat pada abad ke-18 Kota menjadi semakin padat dan halaman gereja mulai kehabisan lahan untuk menerima jasad baru. Untuk mengakalinya, seringkali jasad dari orang yang baru meninggal dikubur di atas jasad yang lama sehingga jarak antara permukaan tanah dengan jasad kian dangkal. Jasad yang membusuk akhirnya menjadi biang keladi penyakit dan penularannya semakin meluas melalui perantara jemaat yang menghadiri ibadah di gereja. Atas desakan para ahli kesehatan, gereja memtuskan untuk melarang praktik penguburan yang pertama kali dimulai di Perancis pada 1776 (Kerrigan, 2017; 145). Pada akhirnya, orang-orang Eropa kembali mengulang kebiasaan lama dari zaman Romawi, yakni membuat permakaman di di sebelah jalan utama di luar kota dan kerkhof Purbalingga adalah wujud dari gagasan ini.
Bentuk-bentuk pusara di kerkhof ini nyaris seragam dan tiada yang tampak istimewa. Bentuknya cenderung kaku dan minim pernak-pernik seperti patung atau ukiran ornamen. Ukurannya pun juga tak besar-besar amat. Walau demikian, besar kecilnya sebuah pusara tak mengurangi peran pusara itu sebagai sebuah monumen, monumen untuk keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Lapisan luarnya tampak baru saja diperbaiki, tanda bahwa pemerintah di sini masih cukup peduli dengan keberadaan kerkhof Purbalingga.
Makam Wilhelmine Hoff.
Kusam pada makam-makam ini menciptakan nuansa kelam pada Kerkhof Purbalingga. Dimanapun itu, yang namanya permakaman pasti lekat dengan nuansa kelam, muram, dan duka. Hal itu tak lepas dari fungsi permakaman sebagai tempat menguburkan jasad yang sudah meninggal. Karena itulah seni yang terlihat pada makam tak jauh-jauh dari urusan maut seperti makam milik Wilhelmine Hoff. Bentuknya sekilas seperti sebuah tiang patah, yang dalam seni permakaman (funerary art) merupakan makna dari putusnya kehidupan di dunia dan simbol duka.
Makam-makam yang dibubuhi nomor.
Di kerkhof ini, saya mendapati makam-makam yang diberi nomor, tanda bahwa kerkhof Purbalingga di masa lalu sudah diatur dengan baik. Pengaturan kaveling makam dirintis oleh pemakaman Kensal Green di Inggris sejak era Victoria (1830an hingga 1900an). Selain mengatur kaveling makam, pengelola Kensal Green juga menyediakan jalan ke arah pemakaman yang dapat dilalui oleh kereta jenazah. Model pemakaman Kensal Green kemudian ditiru oleh penyedia jasa pemakaman baik yang dikelola swasta, pemerintah, ataupun gereja. Selain menyediakan kaveling makam, pengelola makam juga menyediakan kereta jenazah, peti mati, dan jasa perawatan makam ( Kerrigan, 2017; 147-148 ).
Bangunan yang tampaknya dipakai sebagai knekelhuis tempat persemayaman jenasah sebelum dikubur.
Kerkhof Purbalingga memiliki sebuah bangunan kecil yang mungkin saja dulunya adalah knekelhuis, yakni tempat jenazah disemayamkan sebelum dimasukan ke liang lahat. Hampir mirip fungsinya dengan rumah duka. Membincangkan kerkhof tentu tak lepas dari tata upacara kematian. Dalam Java Courant 1 Juli 1846, diatur bahwa upacara pemakaman dapat dilakukan sesudah pukul enam malam. Bagi orang Belanda, merupakan suatu keagungan bila penguburan diadakan di kala matahari sudah terbenam. Aura duka pada upacara pemakaman begitu terasa dengan pancaran cahaya lilin dan obor yang seringkali dibawa dalam jumlah banyak, tidak peduli dengan harga lilin dan minyak yang saat itu cukup mahal. Pidato belasungkawa ditiadakan dengan alasan orang yang hadir di pemakaman sejak pukul 6 sore sudah kelelahan dan ada kecemasan pada kehadiran roh jahat penghuni kuburan (Soekiman, 2014; 129).
Salah satu nisan di kerkhof Purbalingga.
Karena faktor usia dan cuaca, beberapa batu nisan sudah tak bisa terbaca. Batu nisan dar marmer yang semula putih bersih berubah menjadi sedikit kehitaman akibat kerak jamur yang menempel. Pada permulaan masa kolonial, batu-batu nisan didatangkan dari Coromandel, dari jenis batuan arduin biru atau kunsteen biru. Hiasan sesuluran dipahatkan pada tepi batu nisan, sementara di atas nama si mati dipahatkan hiasan lambang keluarga yang dibingkai karangan bunga. Memasuki abad ke-19, batu nisan yang dipakai pada kerkhof mengalami perubahan. Pahatan hiasan pada batu nisan menjadi jarang. Batu yang dipakai merupakan batu marmer putih yang ditambang dari Gunung Carrara, Italia.


Berdasarkan makam tertua di kerkhof ini, yakni makam A.J. Vincent dan Claudien van Haak, kerkhof Purbalingga sudah ada sejak tahun 1865. Pada abad ke-19, abad saat, pemerintah kolonial di tingkat lokal mulai getol membuka lahan makam di wilayah pinggiran yang tanahnya masih luas. Lahan makam ini tentunya diperuntukan bagi warga Belanda atau campuran. Yang menarik adalah keberadaan makam perempuan di kerkhof ini. Di masa itu, jumlah perempuan Eropa masih terbatas di Hindia-Belanda. Para penguasa masa kolonial pada mulanya terdiri dari orang militer, pedagang, dan aparat pemerintah. Mereka datang tanpa anak atau isteri dikarenakan perjalanan laut waktu itu dari Belanda sampai Nusantara sangat lama dan berbahaya. Setelah ada jaminan keamanan pada perjalanan laut, apalagi setelah dibuknya terusan Suez yang mempersingkat waktu tempuh pelayaran, maka perempuan-perempuan kulit putih mulai berdatangan ke Hindia-Belanda (Soekiman, 2012;24-25).



Referensi

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis, dari zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Kerrigan. Michael, 2017, Sejarah Kematian ; Tradisi Penguburan dan Ritus-ritus Pemakaman dari Zaman Kuno sampai Zaman Modern. Jakarta : Elex Media Computindo.

Jatmiko. W. 3 April 2011. Kuburan Belanda Purbalingga dalam https://www.banjoemas.com/2011/04/kuburan-belanda-purbalingga.html

Selasa, 26 Juni 2018

Memandang Stasiun Tawang, Stasiun Terelok di Hindia-Belanda.

Suatu hari di Semarang, saya memandang sebuah bangunan kuno yang begitu cantik dengan atap kubahnya, bangunan yang sama dengan yang dipandang oleh seorang wartawan dari warta harian Bataviaasch Nieuwsblad pada hari bangunan itu diresmikan 100 tahun silam. Keesokan harinya, wartawan tadi menyanjung bangunan yang kemarin ia pandang sebagai stasiun terelok di Hindia-Belanda. Ya, bangunan jelita yang saya sedang saya pandang saat ini tidak lain adalah Stasiun Tawang.
Bangunan Stasiun Semarang milik NISM yang pertama di Desa Kemijen.
(Sumber : media-kitlv.nl)
Stasiun Tawang, nama yang sudah tidak asing di telinga warga Semarang, terutama untuk mereka yang sering berpergian menggunakan kereta. Sudah lebih dari seabad Stasiun Tawang senantiasa melayani penumpang setiap hari sepanjang tahun. Ia hanya libur ketika lantai stasiunnya tergenang banjir rob, fenomena alam yang menjadi permasalahan wilayah Semarang bawah. Memandang dari sisi sejarahnya, Stasiun Tawang dahulunya adalah stasiun kepunyaan Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM), maskapai kereta api swasta pada masa kolonial. Sebelum Stasiun Tawang dibangun, NISM sudah memiliki stasiun kereta yang dibangun pada tahun 1867 di Desa Kemijen. Tempat tersebut dipilih sebagai lokasi dari stasiun kereta pertama di Hindia-Belanda karena dekat dengan pelabuhan sehingga memudahkan dalam proses kegiatan bongkar muat barang. Hal tersebut dimaklumi mengingat tujuan awal dari pembangunan kereta api di Hindia-Belanda adalah melayani angkutan barang. Pada perkembangan berikutnya, kereta api tidak hanya menjadi moda angkutan barang semata namun juga mulai digunakan secara luas sebagai angkutan penumpang. Letak Stasiun Semarang yang ada di Desa Kemijen mulai dirasakan tidak nyaman untuk keperluan tersebut karena jaraknya terlampau jauh dari permukiman. Orang yang pergi ke stasiun mesti melewati jalanan panjang yang berdebu di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan. Tidak jarang air menggenangi jalan hingga pinggang orang dewasa sehingga membuat orang kesulitan menuju ke stasiun. Permasalah tersebut menjadi dasar keputusan NISM untuk membangun sebuah stasiun kereta khusus penumpang di Semarang (De Locomotef 18 Maret 1909).
Gambar rancangan Stasiun Tawang karya Hildering.
Berdasarkan pertimbangan bahwa stasiun baru NISM tersebut akan diutamakan sebagai stasiun penumpang, maka stasiun tersebut akan diletakkan sedekat mungkin dengan permukiman. NISM kemudian memilih untuk membangun stasiun di Tawang yang berada di sebelah utara kawasan Kota Lama Semarang yang menjadi jantung niaga Semarang. Di tempat tersebut sudah ada beberapa perkampungan orang pribumi yang berbatasan dengan rawa-rawa. Setelah NISM melakukan pembebasan lahan di kampung tersebut, tuan Hildring didapuk oleh NISM untuk merancang bangunan stasiun tersebut. Hildring sebelumnya pernah merancang bangunan-bangunan penting di Semarang seperti kantin militer Jurnatan dan Societeit Semarang. Pada proyek pembangunan Stasiun tersebut, Hildring hanya diizinkan untuk merancang tampilan fisik bangunan. Direksi NISM memberi pesan kepada Hildring supaya merancang sebuah bangunan stasiun yang tak perlu terlampau megah ukurannya namun tidak boleh terlihat hambar. Sementara biro teknis NISM sudah menyusun letak dan pembagian ruangan stasiun yang mengedepankan aspek kenyamanan penumpang. Untuk pembagian ruangan tersebut, Hildring tidak diperkenankan untuk mengubahnya (De Locomotef 18 Maret 1909).
Cinderamata untuk undangan upacara peletakan batu pertama Stasiun Tawang
(sumber : media-kitlv.nl)
Proses pembangunan Stasiun Tawang cukup istimewa karena secara simbolis diawali dengan upacara peletakan batu pertama dan hal tersebut jarang sekali dilakukan untuk pembangunan stasiun. Acara penting tersebut berlangsung pada tanggal 29 April 1911. Dewan direksi NISM mengundang segenap aparat pemerintah Semarang mulai dari Residen, asisten residen, dan bupati. Anna Wilhelmina van Lennep, salah satu kerabat dari petinggi NISM, diberi kesempatan untuk meletakan batu pertama dari Stasiun Tawang. Kesempatan tersebut juga digunakan untuk memperkenalkan Sloth-Blauwbower sebagai arsitek baru yang menggantikan Hildring. Di lain tempat, pegawai pribumi NISM menggelar slametan dan hiburan tayub. Para tamu yang hadir lalu diberi cinderamata berupa sertifikat (Het Nieuws van den dag 2 Mei 1911).
Stasiun Tawang beberapa bulan setelah diresmikan (sumber : colonialarchitecture.eu).
Gambar irisan tampak samping Stasiun Tawang. Tampak bagian pondasi stasiun yang dibuat dalam untuk mencegah bangunan melesak akibat kondisi tanahnya yang merupakan rawa (sumber : De Ingenieur 17 September 1927)
Stasiun Tawang berlokasi di tanah rawa yang labil. Para insinyur yang dilibatkan dalam pembangunan Stasiun Tawang akhirnya mengakali permasalahan tersebut dengan cara membuat suatu landasan dari beton dan selama beberapa bulan landasan tersebut diberi beban dua kali massa bangunan. Setelah landasan pondasi dirasa cukup kuat, barulah di atasnya didirikan bangunan beton bertulang dengan empat kolom yang memikul atap kubah. Kendati demikian, agar seluruh bangunan tak turut ambles ke bawah, maka struktur bangunan sayap stasiun dipisahkan dari struktur bangunan utama di tengah. Setelah melewati proses pembangunan yang panjang, bangunan Stasiun Tawang diresmikan dalam suatu perayaan yang digelar pada malam hari tanggal 30 Mei 1914. Sekitar 150 tamu diundang untuk menghadiri pesta perayaan tersebut. Tatkala matahari mulai menapaki langit pada hari pertama bulan Juni 1914, cahaya paginya menyingkap sebuah bangunan stasiun yang akan memulai kiprah perdananya pada hari tersebut. Dengan penuh antusias, khalayak menyambut baik keberadaan stasiun tersebut. Hasil penyelesaian bangunan sangat memuaskan sampai para wartawan yang hadir menyanjung keindahan stasiun baru itu dalam surat warta mereka Grootste en moosite, termegah dan terelok (Bataviaasch Nieuwsblad 2 Juni 1914).
Stasiun Tawang pada tahun 1920 (sumber : colonialarchitecture.eu).
Panorama Kota Lama dari udara, tampak bangunan Stasiun Tawang di sebelah utara
(sumber : media-kitvlv.nl).
Sewaktu Stasiun Tawang diresmikan, pemerintah kolonial sedang mengerahkan segala daya upaya untuk menggelar pameran akbar Koloniaale Tentoostelling di Semarang dalam rangka menyongsong seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis; sebuah ironi karena pameran untuk memperingati kemerdekaan dari penjajah justru digelar di tanah jajahan. Pameran tersebut ditaksir akan dibanjiri pengunjung dari berbagai penjuru mengingat pameran itu baru kali pertama digelar di Hindia-Belanda. Sebab itulah dibukanya Stasiun Tawang disambut dengan antusias oleh pemerintah kolonial karena hal itu sangat membantu kelancaran perhelatan penting mereka. Sayangnya, Koloniale Tentoostelling berakhir dengan kerugian karena jumlah pengunjung yang datang ternyata tidak memenuhi harapan karena pada saat yang sama Perang Dunia Pertama mulai berkecamuk di Eropa. Walau gelaran Koloniaale Tentoostelling telah usai namun bukan berarti stasiun ini kembali sepi. Sebaliknya Stasiun Tawang justru lekas menjadi stasiun kereta teramai di Semarang. Hal ini karena Stasiun Tawang merupakan batu pijakan pertama untuk memasuki wilayah Vorstenlanden dan pedalaman Jawa Tengah yang kaya dengan perkebunan dan sarana militer.
Bangunan utama Stasiun Tawang.
Rangka atap. Bagian ini dahulu diperuntukan sebahai tempat parkir kendaraan.
Bagi sebagian orang di masa itu, keindahan Stasiun Tawang terlihat sepadan dengan gedung Lawangsewu, kantor dari perusahaan NISM yang menjalankan stasiun ini. Boleh dikatakan jika kedua bangunan ini menjadi simbol kejayaan NISM sebagai sebuah maskapai kereta di zamannya. Stasiun Tawang dimahkotai oleh sebuah kubah yang bertengger di puncaknya. Sementara fasad depannya terlihat menawan dengan tiga kaca jendela besar yang diberi dekorasi yang menampilkan roda kereta bersayap, simbol perusahaan NISM. Penumpang yang turun atau naik ke mobil disediakan kanopi lebar di depan stasiun yang akan melindungi mereka dari terik sinar matahari dan hujan. Halaman depan Stasiun Tawang yang luas dahulu memiliki jalan selebar 50 meter yang sudah diaspal sehingga tidak menimbulkan kemacetan di depan stasiun. Jalanan juga menjadi tidak berdebu atau becek pada musim hujan. Selanjutnya di samping kanan dan kiri bangunan, terdapat atap memanjang yang cukup lebar dan masih menyisakan ruang untuk tempat parkir yang dapat menaungi 38 kendaraan (De Locomotef 18 Maret 1909).
Relief roda bersayap.
Eksterior Stasiun Tawang.
Masuk ke dalam bangunan utama, kumandang lagu Gambang Semarang mengalir merdu di dalam aula ruang tunggu penumpang itu. Ruang tunggu setinggi 20 meter ini begitu memikat mata ketika cahaya matahari menembus kaca cupola yang berada di atas atap. Dengan disokong oleh empat tiang penopang, bangunan ruang tunggu ini tampak begitu kokoh. Relief perunggu karya Willem Brouwer turut andil dalam memperelok interiornya. Relief tersebut menampilkan lokomotif uap yang sedang menempuh perjalanan. Dahulu tulisan, “NIS” pernah terpampang pada salah satu relief namun tulisan tersebut kini sudah terhapus. Awalnya Stasiun Tawang memiliki empat lajur pemberhentian kereta dan dua atap peron tambahan. Walau sudah terjadi beberapa perubahan demi mengikuti tuntutan zaman, namun kekunoan Stasiun Tawang belum hilang. Pada malam hari, Stasiun Tawang awalnya diterangi dengan lampu gas sebelum diganti menggunakan lampu listrik.
Bekas ruang tunggu penumpang kelas 1 dan 2 Stasiun Tawang.
Interior ruang tunggu penumpang kelas 1 Stasiun Tawang
(sumber : colonialarchitecture.eu).
Kenyamanan pengguna jasa kereta menjadi aspek terdepan dalam perancangan Stasiun Tawang. Memasuki abad ke-20, NISM memang terbilang loyal dalam memberi pelayanan ekstra bagi pengguna jasa mereka. Supaya antrian tidak menimbulkan kerumunan besar, maka Stasiun Tawang menyiapkan enam konter penjualan karcis. Pembagian ruang tunggu Stasiun Tawang dibuat mengikuti bangunan baru Stasiun Kedungjati dan Ambarawa. Stasiun Tawang memiliki ruang tunggu khusus untuk penumpang kelas 1 dan 2 yang ada di sayap kiri. Jika diamati dari foto lama, bentuk ruang tunggu tersebut mirip dengan bar Eropa. Sembari menunggu kedatangan kereta, para penumpang kelas 1 dapat menikmati hidangan yang disajikan oleh restoran kelas satu di Semarang, Restaurant Smabers. Menariknya Stasiun Tawang menjadi stasiun pertama Hindia-Belanda yang menyediakan ruang tunggu dan toilet terpisah yang diperuntukan bagi penumpang wanita. Slogan “pembeli adalah raja” secara sungguh-sungguh diterapkan oleh NISM pada Stasiun Tawang. Sementara itu penumpang kelas 3 yang biasanya adalah orang-orang pribumi haram hukumnya menunggu di ruang tunggu kelas 1. Mereka disediakan tempat tunggu terbuka yang ada di sayap kanan. Hal ini menunjukan bahwa pembagian ruang tunggu di Stasiun NISM masih kuat dengan unsur segregasi ras. Sayangnya bagian ruang tunggu penumpang kelas 3 tersebut sudah hilang (Het Nieuws van den dag voor N.I 30 Mei 1914).
Cupola stasiun Tawang.
Tiang penopang.
Aula Stasiun Tawang pada tahun 1920
(Sumber : collectie.wereldculturen.nl)
Semenjak dibuka, Stasiun Tawang menjadi ujung dari jaringan jalur kereta NISM dan selama beberapa tahun jalur kereta antara Stasiun Tawang dengan Stasiun Poncol masih terputus. Hal ini kemudian merepotkan penumpang kereta dari kedua stasiun karena untuk melanjutkan perjalanan mereka harus berganti moda transportasi lain. Hambatan tersebut mulai disingkirkan manakala perusahaan kereta swasta lain di Semarang, Zustermaatschappij, memulai pembangunan jalur sambungan Poncol - Tawang pada 1 Mei 1940 dan mulai beroperasi sepenuhnya pada 6 Januari 1941. Jalur tersebut memiliki peran penting terutama untuk angkutan barang karena barang yang dibawa dari arah barat dapat dibawa langsung ke pelabuhan tanpa menggunakan trem kota terlebih dahulu. Sementara dari sisi angkutan penumpang, jalur tersebut belum memiliki peran penting karena perbedaan lebar jalur antara jalur SCS dan NIS belum memungkinkan untuk adanya perjalanan kereta langsung dari Pantura ke Vorstenlanden. Barulah setelah lebar jalur kereta di Pulau Jawa diseragamkan menjadi 1067 mm, keberadaan sambungan jalur mulai dirasakan faedahnya untuk angkutan penumpang.
Peron Stasiun Tawang.
Hari itu, rutinitas Stasiun Tawang berlangsung seperti biasa. Berbagai kereta dari berbagai arah datang dan pergi, mengisi dan meninggalkan stasiun. Stasiun ini dapat dikatakan stasiun yang super sibuk karena hampir semua kereta penumpang yang melintasi jalur utara singgah di sini. Dalam sehari, stasiun ini bisa disinggahi lebih dari selusin kereta seperti kereta Majapahit, Kertajaya, Sembrani, Matarmaja, Argo Bromo Anggrek, Menoreh, Ambarawa Ekspress, Kalijaga, Kamandaka, dan lain sebagainya. Deru suara mesin lokomotif yang singgah di antara keenam jalur aktifnya masih setia menggetarkan dinding stasiun. Bedanya jika dulu kala suara mesin uap yang mengisi udara stasiun, kini suara itu sudah tergantikan dengan gemetar suara mesin diesel.

Referensi

Ir M. PH. Broekhuijsen,1947, “De verbindingslijn te Semarang” dalam Spoor- en Tramwegen, Nr 23, 6 November 1947 hlmn 369-373.

Bataviaasch Nieuwsblad 2 Juni 1914

Het Nieuws van den dag voor N.I 30 Mei 1914

De Locomotef 18 Maret 1909