Sabtu, 20 April 2019

Mosaik Warisan Sejarah Keluarga Schmutzer

Suasana khusyuk menyertai kunjungan saya ke kompleks gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, sebuah kompleks gereja yang berada di Ganjuran, Bantul. Selain sebagai tempat ibadah, gereja ini juga merupakan tujuan wisata religi yang cukup kondang bagi umat Katolik. Setiap harinya, selalu saja ada peziarah yang datang dan berdoa menghadap bangunan berbentuk candi yang berada di samping timur bangunan gereja utama. Kehadiran bangunan yang berasal dari kebudayaan Hindu-Buddha di tengah tempat ibadah umat Katolik ini mungkin akan membuat bingung pengunjung yang pertama kali datang ke sini. Semakin bingung lagi bila mereka mengetahui jika candi tersebut ternyata adalah warisan dari keluarga pemilik pabrik gula berdarah Belanda, keluarga Schmutzer. Jejak Kolonial kali ini akan mengangkat jejak-jejak yang ditinggalkan dari keluarga Schmutzer.
Foto udara PG Gondanglipura. Bangunan besar berona putih adalah gedung pabrik yang sekarang sudah tidak ada lagi (sumber : beeldbankwo2.nl).
Sebagian dari sisa PG Gondanglipura.
Landhuis Gandjoeran, tempat tinggal keluarga Schmutzer yang dirancang oleh N.J.Kruizinga pada 1925.
Pada masa lampau, kompleks gereja Hati Kudus Tuhan Yesus bersanding dengan kompleks pabrik gula Gondanglipuro. Letaknya berada di sebelah timur kompleks gereja. Sejarah dari pabrik gula itu sendiri lebih lama dari gereja ini. Sekitar pertengahan abad 19, sepasang suami-istri dari Belanda tiba Ganjuran. Mereka adalah Stefanus Barends dan Elise Fransisca Wilhelmina Kathaus. Seperti kebanyakan pendatang Belanda kaya pada saat itu, mereka merintis usaha pabrik gula pada 1 September 1862. Pabrik gula tersebut dinamakan Gondanglipuro yang merupakan gabungan dari dua nama dusun tempat pabrik gula tersebut berdiri, Dusun Kaligondang dan Dusun Lipuro. Pada saat pabrik baru didirikan, luas tanamnya baru mencapai 435 bouw dengan hasil panen sekitar 65.000 per musim tanam. Tahun 1876, Barends meninggal dan ia mewariskan pabrik gulanya kepada istrinya. Walau sudah tujuh tahun berdiri, belum terlihat tanda-tanda kemajuan yang berarti. Bahkan pada tahun 1882, pabrik gula Gondanglipuro terancam bangkrut akibat kegagalan panen (Kalken, 1930; 147)186. Setelah menjanda selama empat tahun, Elise Kathaus kemudian menikah lagi dengan Gottfried Schmutzer. Dari pernikahan keduanya, ia dikaruniai empat anak. Mereka adalah Elise Anna Maria Antonia Schmutzer (lahir 1881), Josef Ignatius Julius Maria Schmutzer (lahir 1882), Julius Robert Anton Maria Schmutzer (lahir 1884) dan Eduard Milhelm Maria Schmutzer (lahir 1887).
Julius Schmutzer dengan medali yang diberi oleh Tahta Suci Vatikan.
Paus Leo XII, mengeluarkan ensiklik Rerum Novarum pada 1891 untuk mengurangi beban penderitaan kaum pekerja (sumber : common.wikimedia.org)

Schmutzer sewaktu meninjau panen tebu. Sebagai pemilik, Schmutzer tidak segan untuk turun langsung ke lapangan. Dari sinilah Schmutzer tahu seperti apa kerja keras para buruh tani.
Josef dan Julius Schmutzer sama-sama memiliki ketertarikan dengan bidang teknik. Selepas mereka tamat dari HBS Surabaya, mereka melanjutkan pendidikan di Politeknik Delft, Belanda. Selama mereka kuliah di Belanda, kedua Schmutzer bersaudara melibatkan diri ke dalam gerakan Mahasiswa Katolik. Kala itu, revolusi industri yang berjalan mesra dengan kapitalisme sedang berada di masa puncaknya. Di sisi lain, revolusi industri tak hanya membuahkan aneka mesin-mesin ajaib, namun juga menciptakan beragam masalah sosial yang mengusik nurani. Sayangnya, para pemilik modal hanya berkutat mengejar kemajuan materi semata, sementara hak-hak sebagian buruh seringnya diabaikan. Buruh dilarang untuk berserikat dan kalaupun bisa biasanya dikekang. Kecilnya pendapatan membuat mereka hanya bisa tinggal di rumah yang sebenarnya kurang pantas untuk ditinggali. Hal yang hampir sama juga terjadi di Jawa, dimana kecilnya upah buruh membuat mereka tidak mampu mengenyangkan isi perut seluruh anggota keluarganya. Seringkali didapati anak-anak buruh dalam keadaan kurang gizi. Singkat cerita, baik buruh di Jawa maupun di Eropa, adalah kaum yang paling disengsarakan selama revolusi industri. Gereja Katolik sebagai otoritas keagamaan terbesar di Barat rupanya menaruh simpati pada penderitaan kaum buruh. Paus Leo XIII lantas menerbitkan ensiklik Rerum Novarum, Ajaran Sosial Gereja pada 1891. Perlu diketahui pula selain sebagai bentuk perhatian gereja terhadap hak-hak buruh, Rerum Novarum juga merupakan upaya gereja untuk menangkal pengaruh ajaran Marxsisme di lingkungan pekerja Katolik (Burchell, 1984; 80-81). Anjuran dari Rerum Novarum meliputi tidak menganggap buruh sebagai komoditi, pembagian keuntungan yang merata, perhatian kepada tuntutan buruh, dan yang paling penting adalah kesucian keluarga harus dijaga dengan cara pemberian upah yang layak dan mengurangi jam kerja untuk pekerja anak dan wanita. Sayangnya, anjuran mulia dari gereja tadi lebih banyak menuai cercaan dengan alasan akan menghambat kemajuan. Para pemilik modal, sekalipun setiap Minggunya pergi ke gereja, juga enggan menuruti anjuran ini karena itu artinya keuntungan yang masuk ke kantung mereka menjadi berkurang. Sebagai umat Katolik yang taat, Schmutzer bersaudara berusaha mendalami Ajaran Sosial Gereja. Mereka bertekad untuk menerapkannya bukan di Eropa, melainkan di Jawa (Aritonang dan Steenbrink, 2008; 702).
Keluarga sewaktu masih bersama di Ganjuran. Pria yang sedang menggendong seorang anak adalah Julius Schmutzer sementara pria di kirinya adalah saudaranya, Josef Schmutzer. Sementara dua perempuan Belanda di depan adalah Lucie Cornelle Amelie Hendriksz, istri Josef dan Caroline van Rijckevorsel, istri Julius (sumber : geheugenvannederland.nl).
Shmutzer bersaudara di masa tua.
Makam orang tua Schmutzer bersaudara, Gotfried dan Elisa Schmutzer di permakaman Belanda Peneleh Surabaya.
Meninggalnya suami kedua dan anak bungsunya dalam waktu yang berdekatan tampaknya membuat Nyonya Elise Kathaus terpukul. Bersama putrinya, ia menyusul kedua putranya ke Belanda pada tahun 1905 dan meninggal di Surabaya pada 1912. Keluarga Schmutzer sonder si sulung Elis kembali lagi ke Ganjuran pada 1910. Sepeninggal Kathaus pada 1912, pengelolaan pabrik gula Gondanglipuro dilanjutkan oleh Josef dan Julius Schmutzer. Ketika satu persatu pabrik gula di Vorstenlanden yang dirintis oleh keluarga Indo-Eropa jatuh ke tangan perusahaan besar, PG Gondanglipuro masih dimiliki oleh keluarga Schmutzer selama lebih dari lima puluh tahun. Untuk meningkatkan produksi pabrik, maka pabrik memperluas area ladang dengan pembelian tanah perkebunan Kebonongan pada tahun 1926. Selain itu, PG Gondanglipuro mulai untuk membuat jenis gula putih setelah bertahun-tahun memproduksi jenis gula merah (Soerabaiasch Handelsblad 1 September 1937). Sebagai pengusaha sekaligus umat Katolik yang taat, posisi mereka sebagai pemilik pabrik membuka kesempatan mereka untuk menerapkan Ajaran Sosial Gereja yang dulu mereka pelajari selama di Belanda. Perbedaan warna kulit Schmutzer bersaudara dengan buruhnya tidak menjadi halangan untuk mereka. Bagi Schmutzer bersaudara, buruh bukanlah barang komoditi yang dapat diperlakukan sesukanya sebagaimana pandangan kebanyakan pemangku pabrik gula saat itu, melainkan sebagai mitra kerja. Schmutzer bersaudara memberi hak kepada buruh mereka untuk membentuk serikat buruh pabrik Gondang Lipuro, Tjipto Utomo (Kalken, 1930; 144). Dari kesepakatan kontrak dengan serikat buruh tersebut, Schmutzer bersaudara memutuskan untuk mengurangi jam kerja, menaikan upah buruh sebesar 5% per tahun, memberi tunjangan pensiun dan asuransi kesehatan, menyediakan perumahan yang layak, dan memberi jatah hari libur. Di samping itu, anggota serikat buruh diperkenankan untuk mengetahui keadaan keuangan pabrik (Aritonang dan Steenbrink, 2008; 703).
Poliklinik PG Ganjuran yang dikelola oleh tarekat biarawati Carollus Borromeus.
(sumber : collectie.wereldculturen.nl)
Rumah sakit Santa Elizabeth Ganjuran, karya sosial di bidang kesehatan yang bermula dari garasi rumah keluarga Schmutzer. 
Pada 1919, Josef Schmutzer menikah dengan Lucie Cornelle Amelie Hendriksz dan setahun berikutnya, ia menerima tawaran sebagai anggota Volksraad. Karena hal itu ia pindah ke Bogor. Walau demikian ia masih menjalin kontak dengan saudaranya di Ganjuran. Sepeninggal saudaranya, Julius Schmutzer lalu menikah dengan Caroline van Rijckevorsel, saudari muda dari pastor Leopold van Rijkevorsel. Sebelum menikah, Caroline sempat bekerja sebagai perawat dan sebagaimana suaminya, ia memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Karena itu, pada 1921 garasi rumahnya disulap menjadi poliklinik. Dari hanya sekedar menumpang garasi rumah, poliklinik tersebut menempati gedung rumah sakit yang lebih besar pada 1 Juni 1934. Dalam pelayannya, Caroline Schmutzer dibantu oleh empat suster dari tarekat Carolus Boromeus. Mereka adalah Bunda Cunegundis, Suster Barbarine, Suster Iris, dan Suster Amonia (Kalken, 1930; 146). Pada awalnya mereka sempat kesulitan berkomunikasi dengan pasien karena kendala perbedaan bahasa. Namun beruntung ada seorang perempuan pribumi bernama Waginem yang bersedia membantu mereka dalam berkomunikasi sebagai penterjemah. Untuk meningkatkan pelayanan, rumah sakit tersebut dilengkapi sebuah mobil untuk menjemput pasien. Rumah sakit tersebut hari ini menjadi Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran. Karya sosial keluarga filantropi ini juga merambah ranah pendidikan. Mereka membuka 12 sekolah rakyat yang diperuntukan baik untuk anak laki-laki atau anak perempuan. Mereka sengaja memilih angka 12 sebagai lambang dari 12 rasul yang diutus Yesus. Guru-gurunya didatangkan dari kweekschool Muntilan. Untuk menghidupi karya sosial tersebut, Schmutzer menyisihkan sebagian keuntungan pabrik. Sepeninggal Schmutzer, sekolah-sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Kanisius. Atas karya sosialnya selama di Ganjuran, Tahta Suci Vatikan menganugerahkan Bintang Gregorius kepada Julius Schmutzer pada tahun 1930. Berikutnya pada tahun 1933, istrinya mendapat bintang Oranje Nassau dari Kerajaan Belanda disertai ucapan selamat dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Rumah sakit Panti Rapih, dulunya bernama Ziekenhuis Onder de Bogen.

Julius Schmutzer, Caroline Schmutzer-van Rijckvorsel, Mgr van Velsen, dan para suster Carolus Boromeus sewaktu upacara pemberkatan rumah sakit Onder de Bogen (sumber : Ir. F.J.L. Ghisels, Architect in Indonesia).
Selain di Ganjuran, warisan sejarah lain dari keluarga Schmutzer dapat dijumpai di lingkungan kota Yogyakarta. Warisan sejarah berupa kompleks rumah sakit tersebut boleh jadi sudah dikenal banyak orang namun sedikit yang mengetahui asal-usulnya. Warisan sejarah itu tak lain adalah Rumah Sakit Panti Rapih. Kisah bermula pada Februari 1920, ketika ketua badan sosial Katholieken Socialen Bond saat itu, J. van Roosendaal menyurati VLV (Vorstenlandsche Landhuurders Vereeniging) perihal rencana pembukaan rumah sakit di kota Yogyakarta. Julius Schmutzer yang juga anggota VLV saat mendengar rencana tersebut akhirnya berkenan untuk mendanai pembangunanya. Rencana tersebut sayangnya belum bisa diwujudkan secepatnya karena belum adanya SDM yang akan menjalankan rumah sakit itu. Pada tahun 1926, Kongregasi Biarawati Carolus Borromeus dari Maastricht bersedia untuk mendatangkan sejumlah suster dari kongregasi itu untuk mengelola rumah sakit yang akan dibangun di Yogyakarta itu. Sebagai langkah persiapan, dibentuklah Yayasan Onder de Bogen pada 22 Februari 1927 yang diketuai oleh Schmutzer. Selama dua bulan, yayasan tersebut mempersiapkan lahan yang akan dibangun rumah sakit dan akhirnya memperoleh sebidang lahan di pinggir utara kota Yogyakarta. Yayasan selanjutnya membuat kontrak kepada agensi arsitektur AIA (Algemenee Ingineurs en Architect) khususnya pada Ir. F.J.L Ghijsles untuk merancang kompleks rumah sakit tersebut (De Locomotief, 16 September 1929). Ghijsels secara khusus mendalami kelebihan dan kekurangan gedung-gedung rumah sakit di Jawa supaya dapat menghasilkan rancangan gedung rumah sakit bermutu tinggi.
Bagian bangsal Ziekenhuis "Onder de Bogen" (Sumber : Gedenkboek bij Het Honderd-Jarig, Bestaan Der Liefdezusters van de H. Carolus Borromeus)
Setelah rancangan gedung rumah sakit disepakati oleh keduabelah pihak, pada 15 September 1928 dilakukan upacara peletakan batu pertama yang dilakukan oleh istri Julius Schmutzer. Rumah sakit tersebut diberi nama Ziekenhuis Onder der Bogen yang dapat diartikan sebagai "Rumah Sakit di Bawah Plengkungan". Penamaan tersebut merujuk pada biara induk kongregasi Carolus Boromeus di Maastricht yang letaknya dekat dengan struktur lengkung kuno. Ketika rumah sakit mulai ditempati sekitar bulan April, sarana seperti air dan listrik belum tersedia di sana. Sesudah rumah sakit tersebut diberkati oleh Mgr van Velsen 24 Agustus 1929, barulah pembangunannya dikebut sampai pembukaanya pada 14 September 1929. Dalam kesempatan itu, hadir Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Para tamu undangan yang terdiri dari pejabat kolonial, petinggi gereja dan keluarga keraton dibuat terpana dengan arsitektur bangunan yang memasukan unsur arsitektur lokal (Onder de Bogen, 1937; 376-378).
Ziekenhuis Onder de Bogen dengan lengkungan dan atapnya yang meniru bentuk rumah tradisional Nusantara (sumber : Ir. F.J.L. Ghisels, Architect in Indonesia).
Rumah Sakit Onder de Bogen awalnya memiliki 4 bangsal rawat inap dengan kapasitas 61 pasien. Supaya bagian dalam ruangan tidak terasa panas akibat cahaya matahari, maka bangunan bangsal dibangun melintang timur-barat. Keempat bangsal tersebut dibagi berdasarkan kemampuan pasien. Bangsal A merupakan bangsal paling mewah di antara keempat bangsal lain dan memiliki beranda yang menghadap ke Gunung Merapi. Sementara bangsal D diperuntukan bagi pasien kurang mampu. Selain bangsal rawat inap, rumah sakit juga dilengkapi sejumlah sarana seperti ruang bedah, klinik bersalin, binatu, dapur, dan gudang penyimpanan yang dibuat mengikuti standar kebersihan tinggi. Rumah sakit tersebut juga sudah memiliki mesin rontgen meskipun baru didatangkan beberapa bulan setelah pembukaan karena belum ada ahli rontgen di Yogyakarta (Algemeen Handelsblad 16 Juli 1929). 
Gambar tampak burung Ziekenhuis Onder de Bogen (Sumber : Sint Claverbond 1929)
Tahun pertama rumah sakit Onder de Bogen tidak dilalui dengan mulus. Pasien yang datang masih sedikit karena rumah sakit tersebut masih belum menerima bantuan keuangan dari pihak lain sehingga pasien dari kalangan bawah belum bisa dirawat di sana. Baru sejak bulan Januari 1932 ketika bantuan keuangan dari pihak luar telah mengalir, secara berangsur-angsur banyak pasien yang berobat dan dirawat di rumah sakit Onder de Bogen (Onder de Bogen, 1937; 376-378). Kendati rumah sakit tersebut milik yayasan berlatar Katolik, namun sehari-harinya mereka menerima pasien dari segala latar belakang. Kalangan bangsawan Jawa di Yogyakarta menjadikan rumah sakit “Onder de Bogen” sebagai pilihan tempat perawatan karena lengkapnya fasilitas yang dimiliki rumah sakit tersebut. Ketika Sultan Hamengkubuwono VIII kesehatannya memburuk, beliau langsung dibawa ke sana walau akhirnya beliau wafat di rumah sakit tersebut pada 22 Oktober 1939.
Bangunan baru gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, menggantikan gereja lama yang hancur karena gempa 2006.

Bangunan lama gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (sumber : Sint Claverbond 1934).
Prasasti yang memperingati upacara peletakan batu pertama gedung gereja.
Sebagai umat Katolik yang baik, keluarga Schmutzer mendukung kegiatan keagamaan umat Katolik di Ganjuran yang saat itu diampu oleh Rm,Van Driessche, SJ. Keluarga Schmutzer bersedia memberi tumpangan ketika Romo tersebut datang ke Ganjuran untuk menggelar ibadah misa dan memberikan pelajaran agama. Sungguhpun keluarga Schmutzer adalah penganut agama Katolik yang taat, tidak ada paksaan bagi buruh yang bekerja pada mereka atau warga sekitar pabrik untuk mengikuti agama mereka. Di antara mereka memang ada yang akhirnya yang menjadi Katolik, namun itu karena atas kehendak mereka sendiri. Karena itulah jumlah umat Katolik di Ganjuran terbilang kecil. Sebelum Schmutzer memutuskan untuk mendirikan bangunan gereja pada 1924, kegiatan ibadah selama ini dilangsungkan di kediaman keluarga Schmutzer (Kalken, 1930; 144). Biarpun kecil dan sederhana, gereja tersebut cukup untuk menampung umat Katolik ketika beribadah. Sayangnya, rupa gereja Ganjuran yang sekarang tidaklah sama dengan gereja yang diresmikan Schmutzer. Sayangnya, gereja ini tidak mampu menahan kuatnya guncangan gempa bumi yang terjadi 2006 silam. Bagian depan bangunan gereja lama itupun runtuh dan karena hal itu, selama beberapa bulan jemaat beribadah di gereja darurat yang terbuat dari bambu. Kini, di atas gereja lama telah berdiri gereja baru yang bentuknya lebih tradisional dibanding gereja lama. Satu-satunya jejak dari gereja lama yang masih dapat dijumpai adalah batu prasasti yang menandai upacara peletakan batu pertama pada 1924.
Candi Hati Kudus Tuhan Yesus.
Monumen HKTY setelah diresmikan pada 11 Februari 1930 (sumber ; Sint Claverbond 1930)
Di samping timur gereja, berdiri sebuah monumen berwujud candi yang menjadi titik utama di kompleks gereja HKTY. Kendati tidak semonumental Candi Prambanan atau Candi Borobudur, namun candi ini amatlah unik dan mungkin tiada padanannya di dunia karena candi HKTY adalah candi yang bercorak agama Katolik. Sebagai bentuk rasa syukur atas berkah dan kasih yang telah dilimpahkan oleh Tuhan kepada usaha dan karyanya, Julius Schmutzer mendirikan monumen yang didevosikan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus. Namun monumen yang dirancang sendiri oleh Julius Schmutzer lain daripada yang lain karena dibangun dalam wujud seperti candi. Julius Schmutzer sengaja memilih bentuk candi karena baginya, kepercayaan dan kebudayaan tradisional Jawa telah menjadi anasir yang mendarah daging pada setiap orang Jawa dan sulit untuk ditinggalkan. Karena itulah untuk mempermudah pengenalan dan pemahaman orang Jawa terhadap ajaran Katolik, Schmutzer menyelipkan beberapa unsur budaya Jawa yang sekiranya tidak bertentangan dengan ajaran Katolik (Soekiman, 2014;87). Candi merupakan wujud kebudayaan Jawa yang monumental dan mudah dikenali orang. Candi yang pada masa silam adalah tempat suci umat agama Hindu-Buddha, oleh Schmutzer dijadikan sebagai sarana ibadah umat agama Katolik. 
Rancangan Candi HKTY yan dibuat oleh Julius Schmutzer.
(Sumber : Europanisme of Katholiksme)

Suasana pada upacara pemberkatan candi HKTY pada 26 Desember 1927 (sumber ; Sint Claverbond 1928).
Suasana pada upacara peresmian candi HKTY pada 10 Februari 1930
(sumber : Sint Claverbond 1930).
Pada 26 Desember 1927, diadakan upacara pemberkatan monumen yang dipimpin oleh Mgr. A. van Velsen. Bahan untuk pembangunan candi dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya untuk disusun menjadi landasan candi. Pengerjaanya tampak begitu halus dan tanpa cacat. Pada kesempatan tersebut, sebuah lempengan tembaga yang berbunyi “Bila candi ini hancur, Kristus Raja tetap selamanya di Ganjuran” ditanamkan di dalam sumur peripih. Bersamaan dengan lempengan tersebut, ditanamkan pula arca Yesus buatan pematung bernama Iko yang ditampilkan duduk di atas tahta dan berbusana layaknya raja Jawa di masa silam. Sebagai elemen penting dari ikonografi Hati Kudus Tuhan Yesus, terdapat atribut ikonografi hati menyala di dada arca (Van Rijckvorsel, 1928 ; 130-137). Setelah pembangunannya selesai, monumen candi tersebut kemudian diresmikan pada 11 Februari 1930. Di dalam relung candi, ditempatkan arca Yesus yang serupa dengan arca yang ditanamkan pada tahun 1927 namun dengan ukuran yang lebih besar. Secara tidak langsung, upaya yang dilakukan Schmutzer tersebut telah memberi nafas baru pada kebudayaan Jawa.
Patung Hati Kudus Tuhan Yesus, replika dari patung yang dibuat oleh pematung Iko.


Adegan penyaliban Yesus yang dibuat seperti relief candi dari masa Mataram Kuna.
Schmutzer bersaudara tidak selamanya hidup bersama di Ganjuran. Selepas menjadi anggota Volksraad, Josef Schmutzer kembali ke Belanda. Lantaran kesibukannya sebagai pengajar, Josef tidak sempat kembali ke Ganjuran hingga ia meninggal di Belanda pada 26 September 1946. Walau demikian, Josef selama di Belanda berusaha memberi dukungan pada saudaranya di Ganjuran. Sementara itu, Julius Schmutzer yang kesehatannya sedikit memburuk akhirnya menyusul kakaknya kembali ke Belanda pada 1934 guna mendapatkan perawatan lebih baik di sana. Kepergian keluarga Schmutzer menjadi kehilangan besar bagi para buruh, suster, guru, dan warga sekitar yang telah menganggap keluarga Schmutzer sebagai bagian dari mereka. Secara ajaib, pabrik gula Gondanglipuro lolos dari amukan krisis ekonomi pada tahun 1930an padahal krisis tersebut telah membuat banyak pabrik gula gulung tikar (Soerabaiasch Handelsblad, 1 September 1937). Meskipun mampu melalui masa-masa kemalangannya pada krisis ekonomi dan pendudukan Jepang, namun operasional pabrik sempat terhenti sewaktu Agresi Militer Belanda Kedua. Saat itu Pabrik Gula Gondanglipuro adalah satu-satunya pabrik gula di Yogyakarta yang utuh. Hari-hari terakhir Julius Schmutzer akhirnya dihabiskan untuk menghidupkan kembali pabriknya Beberapa kali ia berkunjung ke Indonesia untuk bertemu dengan beberapa tokoh politik dan pemerintah. Salah satunya adalah I.J. Kasimo yang juga sama-sama penganut Katolik. Sungguhpun sudah mengeluarkan segala daya upaya, situasi politik yang tidak menentu serta tidak tercapainya kesepakatan dengan petani sekitar membuat Schmutzer menanggalkan harapannya untuk memulihkan PG Gondanglipuro seperti sediakala (Kedaulatan Rakyat 3 Desember 1953).

Tidak bisa dipungkiri bila kehadiran pabrik gula di Jawa selama masa kolonial sudah memberikan jalan bagi industrialisasi Jawa. Namun di sisi lain, industrilaisasi tersebut memunculkan masalah sosial dari ketimpangan kesejahteraan hingga pertikaian kaum pekerja dengan majikan. Dari sekian cerita buruk yang ditinggalkan dari industri gula di Jawa, masih ada secercah cerita mulia seperti yang sudah ditunjukan oleh keluarga Schmutzer, tokoh kunci yang memainkan peran besar dalam penyebaran agama Katolik di Yogyakarta. Perbuatan-perbuatan mulia mereka terekam dalam kepingan sejarah yang telah mereka tinggalkan dan bila kepingan tersebut disatukan, maka hasilya adalah suatu mosaik yang akan melengkapi lembaran sejarah industri gula di Jawa.


Referensi
Aritonang, Jan Sihar & Steenbrink, Karel. 2008. A History of Christianity in Indonesia. Leiden : Brill.

Burchel, S.C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta : Tira Pustaka.

Kalken S.J, A Van. 1930. "Hunne Werken Immers Volgen Hen" dalam Sint Claverbond. Nijmegen ; N.V. Centrale Drukkerij.

Onder de Bogen. 1937. Gedenkboek bij Het Honderd-Jarig, Bestaan Der Liefdezusters van de H. Carolus Borromeus. Amsterdam : Drukkerij. H. J. Koersen.

Rijkevorsel S.J., L. Van. 1928. "Eerste Steenleggeing van Eeen H. Hart Monument op Java" dalam Sint Claverbond. Nijmegen ; N.V. Centrale Drukkerij.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis ; Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Soerabaiasch Handelsblad, 1 September 1937

Kedaulatan Rakyat, 3 Desember 1953

Sabtu, 09 Maret 2019

Kerkhof Peneleh, Nekropolis di Tengah Metropolis Surabaya

Kala bertandang ke pemakaman Belanda atau kerkhof yang berada di tengah padatnya kampung Peneleh, Surabaya itu, tiada sambutan dari gerbang megah nan mencolok seperti lumrahnya beber. Namun bila melangkah ke dalam, siapapun yang masuk ke sini akan terpukau dengan pesona hamparan makam bergaya Eropanya yang masih berdiri di tempatnya.

Seperti kerkhof di kota lain, Kerkhof Peneleh dahulu memiliki pintu gerbang bergaya klasik. Namun gerbang ini hancur sewaktu perang dan tidak pernah dibangun lagi (sumber : media-kitlv.nl).

Berisikan 3.821 makam, kerkhof yang terletak di tengah sesaknya perkampungan Peneleh ini boleh jadi adalah salah satu pemakaman Eropa terluas di Indonesia yang masih tersisa. Banyaknya jumlah makam di dalamnya membuat kerkhof ini tampak seperti sebuah nekropolis, kota kematian. Sulit dibayangkan bagaimana nekropolis seluas 4,5 ha ini mampu sintas di tengah ramainya metropolitan Surabaya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kerkhof di kota-kota besar di Indonesia semakin ke sini makin tergerus oleh pesatnya perkembangan ruang, tersisihkan hingga hanya menyisakan sebagian kecil makam atau bahkan lenyap sama sekali. Andaipun masih utuh, banyak makam-makam di dalamnya sudah sulit dikenali lagi. Namun tampaknya kerkhof Peneleh terhindar dari takdir getir tersebut. 

Peta kota Surabaya tahun 1866. Tampak permukiman Eropa (1)  dan letak kerkhof Peneleh (2).

Hari ini, pemakaman tersebut hampir menapaki usia dua abad. Kisah dari kerkhof Peneleh bermula pada tahun 1830an, saat pemakaman Eropa yang ada di Krembangan hampir terisi penuh. Sementara tanah sekitar yang berupa rawa membuat pemakaman tersebut sukar diperluasDewan gereja selaku pihak pengurus pemakaman meminta kepada pemerintah kolonial untuk disediakan lahan pemakaman baru di tempat lain. Pada mulanya, pemerintah kolonial menawarkan daerah Kupang sebagai lahan pemakaman pengganti di Krembangan. Setelah itu, ketua dewan Gereja dan insinyur Tromp menjajaki calon lokasi yang ditawarkan. Mereka mendapati jika jarak tempat tersebut terlampau jauh dengan permukiman. Akibat pembatalan tersebut, pemakaman Krembangan yang sudah kelebihan daya tampung akhirnya tidak menerima penguburan baru. Selagi pemakaman untuk golongan masyarakat Eropa belum tersedia, maka jenazah mereka dimakamkan pada suatu pemakaman pribumi yang ada di Semarung  (Von Faber,1932; 314-315).

Berbagai sudut kerkhof Peneleh.

Batalnya pemilihan daerah Kupang sebagai lokasi pemakaman Eropa membuat pemerintah berpaling ke tempat lain. Belajar dari pengalaman sebelumnya, pemerintah kolonial kali ini lebih perhitungan dalam memilih lahan yang akan dijadikan sebagai pemakaman golongan Eropa. Beberapa pertimbangan yang telah ditentukan antara lain tanahnya tidak boleh tanah rawa, tidak mudah tergenang air dan tanahnya mudah digali. Letaknya sedapat mungkin tidak menghalangi perluasan kota dan hendaknya lingkungan sekitarnya masih belum berpenghuni sehingga pemakaman dapat diperluas bila dibutuhkan. Tempatnya juga harus mudah dijangkau supaya rombongan pengantar jenazah tidak menempuh perjalanan terlalu lama. Berdasarkan pertimbangan di atas, pilihan tempat pemakaman Eropa baru akhirnya jatuh pada sebidang lahan di pinggiran kampung Peneleh yang saat itu masih berupa hutan bambu. Pembersihan, pengurugan tanah, dan pembuatan saluran drainase beserta jalan menuju pemakaman dimulai pada 24 Februari 1846. Untuk proyek tersebut, pemerintah kolonial menganggarkan dana sebesar 10.000 gulden. Insinyur Geil dari kesatuan zeni militer menjadi pengawas untuk proyek yang dituntaskan sampai bulan Agustus 1847 itu. Pemakaman Peneleh dibuka untuk umum terhitung sejak 1 Desember 1847 (Von Faber,1932; 314-315).

Ketika seseorang meninggal, mereka umumnya akan cenderung membuat makam yang lebih besar dari lainnya dan kadang menciptakan kesan sombong.

Menapaki bagian dalam pemakaman, pengunjung akan disuguhkan dengan tatanan kerkhof Peneleh yang tampak begitu rapi. Setiap makam diberi jarak teratur dan letaknya ditata sedemikian rupa hingga jika dilihat dari atas pemakaman tersebut memiliki pola yang kotak-kotak yang rapi. Keteraturan tatanan tersebut menunjukan sejarah panjang seni tata lahan pemakaman ala Eropa yang sampai ke Nusantara melalui kolonisasi. Pada tahun 1910, pemerintah kota Surabaya menyusun “De Verordening op het beheer der Europeesche begraafplaatsen” sebagai peraturan hukum dalam pengelolaan pemakaman Eropa di Surabaya. Dalam peraturan tersebut, penduduk asing yang disetarakan dengan golongan Eropa seperti orang Jepang atau orang Tionghoa dan pribumi yang beragama Kristen, diperbolehkan untuk dimakamkan di pemakaman Belanda Peneleh (Faber G. v., 1931: 190).

Makam-makam bercungkup.

Penguburan di sini dilakukan dalam dua cara, yakni penguburan Grafkelders, dan Aarden Graven. Pada penguburan Grafkelders, sudah disediakan suatu relung berdinding. Peti mati ditaruh ke dalamnya dan setelah itu relung tersebut ditutup. Sementara untuk jenis Aarden Graven, jenazah dimasukan ke liang lahat dan dipendam dengan tanah. Beberapa makam terbuat dari besi untuk mencegah penjarah mengambil benda berharga yang turut dikubur atau lebih gila lagi, mencuri jenazah untuk dijadikan obyek penelitian anatomi atau mencari kesaktian. Sulit diterima rasanya bila ada orang lain yang mengusik ketenangan dari jasad sanak keluarga mereka.



Batu nisan berbahasa Inggris, Armenian, dan Perancis.
Selain bahasa Belanda, beberapa makam juga menggunakan bahasa Inggris, Jerman, Perancis. Armenia, Ibrani, dan Jepang. Perbedaan jenis bahasa tersebut seakan menjadi bukti metropolitannya Surabaya di masa lalu. Dari awal keberadaanya, Surabaya yang terletak di pesisir dan dilalui jalur pelayaran menjadi kota persinggahan pedagang asing dari berbagai tempat seperti pedagang Tionghoa, Arab, dan Eropa. Lambat laun, Surabaya tumbuh menjadi kota pusat aktivitas dan menjadi tujuan banyak orang dari berbagai wilayah dan beragam latar budaya. Perjumpaan lintas budaya ini kemudian membangun karakter masyarakat Surabaya sebagai masyarakat yang terbuka dan mampu menerima hal-hal baru sehingga terbentuklah citra Surabaya sebagai kota majemuk dan harmonis. Majemuknya kehidupan di Surabaya akhirnya mendorong terjadinya persentuhan antar dua budaya yang berbeda seperti kebudayaan Belanda dengan Jawa yang melahirkan budaya Indisch. Karya dari budaya Indisch yang terjumpai di pemakaman Belanda Peneleh adalah cungkup-cungkup yang menudungi sejumlah makam. Tradisi pembuatan cungkup makam dilakukan oleh orang-orang Jawa untuk melindungi makam supaya tidak rusak tergerus oleh cuaca. Tradisi itu lalu ditiru oleh orang Eropa untuk makam-makam mereka.
Orang-orang Barat kadang menyertakan simbol-simbol yang terkait dengan kematian, misalnya guci berselimut seperti yang tampak pada makam paling kanan yang merupakan simbol dari jiwa yang sudah beristirahat.
Kadangkala sebauah batu nisan memiliki lebih dari satu simbol seperti makam Amalie van Hassen ini. Jam pasir bersayap (bagian atas), menunjukan bahwa waktu yang sudah dilaluinya sudah pergi. Obor dalam posisi biasa dan terbalik menunjukan bahwa ada kehidupan, ada pula kematian.
Pilar patah menjadi simbol putusnya kehidupan seseorang.
Makam keluarga Ch. M. Haccoue. Di bagian bawah tampak simbol jangkar yang mnyimbolkan harapan atau petunjuk bahwa dulunya ia adalah seorang pelaut.
Simbol ular yang menggigit ekor atau ouroboros yang berarti hidup selalu ada awal dan akhir.
Beginilah keadaan kerkhof Peneleh sekarang. Makam-makam mulai ambruk, atap cungkup sudah koyak, batu nisan mulai aus dan pecah. Sedikit pohon perindang yang tumbuh di pemakaman yang sangat luas ini. Hal itu tampaknya disengaja supaya pohon tidak menandingi kesan monumental sebuah makam.  Makam memang tidak sekedar pengabar bahwa di sana ada kuburan seseorang. Ia adalah penanda kenangan, perkabungan, rasa kehilangan dan sekaligus media pengingat kematian. Kenangan itu diukir dalam wujud nama insan yang telah meninggalkan rasa kehilangan bagi setiap orang yang mencintainya. Kematian itu tak hanya sekedar dalam nama yang dipahat pada kerasnya batu. Oleh sang pembuat makam, kematian diperingatkan dalam wujud monumen estetik, ukir-ukiran penyerta yang sarat dengan pesan akan kematian, dan patung-patung yang menambah rasa hormat kepada jiwa-jiwa yang kini terbaring dalam ketenangan dan kedamaian abadi di kota kematian ini. Sebagai contoh adalah ukiran jam pasir yang memiliki pesan tersirat bahwa segala yang hidup akan kembali mati dan segala yang telah mati akan dihidupkan kembali. Simbol lain adalah ukiran obor yang dibuat terbalik sebagai lambang dari kehidupan yang telah padam. Suatu simbol terkadang bisa bermakna ganda. Misalnya adalah simbol jangkar yang selain menunjukan bahwa yang dimakamkan di sana adalah pelaut, kadang bisa juga menjadi simbol harapan agar arwah dapat berlabuh dengan selamat  di dermaga akhirat.
Gubernur Jenderal Pieter Hendrik Merkus (sumber : common.wikimedia).
Makam Gubernur Jenderal Pieter Hendrik Merkus, satu-satunya gubernur jenderal Hindia-Belanda yang dimakamkan di luar Batavia.
Nisan sesungguhnya merupakan media perantara manusia dengan mereka yang telah meninggalkan dunia ini. Dari nisan lah seseorang yang telah tiada dapat menunjukan jatidirinya sewaktu masih hidup. Di salah satu sudut pemakaman, terdapat sebuah makam yang tidak terlalu megah, namun dari kata-kata yang terukir pada batu nisan yang kusam, kita dapat mengetahui bahwa ia dulunya adalah seorang yang berkuasa di masanya. Batu nisan tersebut tak lain adalah batu nisan dari Pieter Hendrik Merkus, gubernur jenderal Hindia-Belanda ke 47. Tentang Merkus, tidak banyak yang diketahui dari pria kelahiran Naarden 18 Maret 1787 ini. Disebutkan dalam Encyclopedia Nederlandsch Indie, sesudah merampungkan belajarnya di Leiden, Merkus diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 1815 dan setahun kemudian ditugaskan ke Hindia-Belanda. Karir Merkus di sini boleh dikatakan cemerlang. Pada tahun 1817, Merkus naik jabatan menjadi wakil sekretaris jenderal. Lalu pada tahun 1822 ditunjuk menjadi Gubernur Maluku. Saat duduk di kursi Dewan Hindia, Merkus membuat suatu keputusan bersejarah bahwa kekuasaan wilayah Banyumas, Bagelen, Madiun, dan Kediri harus diserahkan kepada pemerintah kolonial sebagai pampasan Perang Jawa. Merkus menentang rencana Sistem Tanam Paksa yang digulirkan oleh Johannes van den Bosch sehingga Merkus dicopot dari dari kursi Dewan Hindia pada 1836. Merkus kembali menduduki kursi Dewan Hindia tiga tahun setelahnya untuk menangani Perang Paderi. Merkus diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada tahun 1842. Itulah karir tertinggi Merkus sekaligus karir terakhirnya. Baru dua tahun lamanya menjabat, Merkus meninggal dunia di Huize Simpang (kini menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur) pada 2 Agustus 1844 (Graaff & Stibbe, 1918; 713-714)Ketika Merkus meninggal, pemakaman Belanda Peneleh belum dibuka sehingga jasad Merkus dikebumikan di area Benteng Prins Hendrik. Pada akhir abad ke-19, benteng tersebut dibongkar untuk keperluan pembangunan trem dan makam-makam di sana dipindahkan ke Peneleh termasuk makam Merkus ini. 
Frans Jacob Huber Bayer (sumber : Oud Soerabaia)
Simbol jangka dan siku seperti yang terlihat pada makam F.J.H Bayer ini umumnya merujuk bahwa yang dimakamkan di sini dahulunya adalah anggota Freemason. F.J.H Bayer sendiri dikenal sebagai industriawan yang memrakarsai industri baja di Surabaya.
Bentuk sebuah makam seringkali mengikuti keadaan ekonomi seseorang saat dia hidup. Untuk orang kaya, mereka berlomba mendirikan makam megah dengan hiasan menonjol di kaveling yang dibeli untuk dirinya. Sementara untuk orang yang kurang kaya, mereka cenderung membangun makam yang kecil atau kadang menyewa pada kaveling orang lain. Namun tidak semuanya  demikian. Sebagai contoh adalah makam Frans Jacob Hubert Bayer, raja baja Surabaya tempo dulu. Untuk orang sekelas Bayer, makamnya tampak berlainan dengan makam orang kaya pada umumnya. Makamnya hanya berupa lempengan baja mendatar. Kesederhanaan makamnya seakan berbanding terbalik dengan perannya yang luar biasa sebagai industriawan pembuka jalan industri baja di Hindia-Belanda. Kisah Bayer di Surabaya dimulai sebagai mekanik di pabrik Lands-Contructie Winkel, bengkel baja milik pemerintah. Bayer kemudian keluar dan dengan pengetahuannya ia mendirikan pabrik baja sendiri bernama Stoomfabriek van F.J.H Bayer yang kemudian berubah nama menjadi De Phoenix. Pada tahun 1844, pabriknya diterpa krisis keuangan sehingga Bayer menjual pabriknya kepada pemerintah dengan harga 100.000 gulden. Tidak patah semangat, Bayer mendirikan pabrik baja lagi dengan nama "Volharding". Untuk memperdalam pengetahuan soal industri baja, pada 1863 Bayer menyambangi negara-negara industri Eropa seperti Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, dan Belgia. Safari Bayer tersebut tidak sia-sia. Pabrik baja "Volhrading" menuai kesuksesan dan semakin maju setelah bea masuk untuk bijih besi mentah dipangkas. Kehadiran pabrik baja "Volharding" dapat mengurangi ketergantungan pasokan baja dari Eropa sehingga mendorong pertumbuhan industri-industri lain, terutama industri gula yang selama ini bergantung dari pabrikan Eropa (Knight, 2014; 52-55). Pabrik baja tersebut juga dilirik oleh para pelaku industri dari Jepang yang saat itu sedang menapaki Revolusi Industri. Atas jasanya yang mendorong kemajuan industri baja di Hindia-Belanda, Bayer dianugerahi medali Ridder den Orde van Nederland Leeuw. Karena alasan kesehatan, Bayer mengundurkan diri dari kegiatan pabrik dan meninggal pada tahun 1879.
Makam Pastor Martinus van den Elsen. Batu nisan sang pastor dibuat oleh pematung Kuyper dan dibawa langsung dari kota Maastricht, Belanda. Pastor Elsen memainkan peran penting dalam penyebaran agama Katolik di kota Surabaya.
Makam suster Mere Lousie, suster dari ordo Ursulin yang pertama tiba di Surabaya. Ia dimakamkan dengan suster-suster Ursulin yang lain.
Makam Wakil Presiden Raad Van Indie, Pierre Jan Baptiste Perez. Meninggal 16 Maret 1859 saat perjalanan ke Bajo. Tubuhnya dimakamkan pada tanggal 29 Maret 1859. Dalam prosesi kematiannya, 6 kuda berkulit hitam menarik kereta jenazahnya dan diiringi dengan dua batalyon infanteri, satu divisi kavaleri, dan satuan artileri.
Makam D.F.W. Pietermaat, Residen Surabaya dari tahun 1839 hingga 1848.
Makam Johannes Emde, salah satu tokoh penyebar agama Kristen di Jawa Timur.

Sebenarnya masih ada beberapa tokoh penting yang dimakamkan di sini. Misalnya adalah makam tokoh penyebar agama seperti makam pastor Martinus van den Elsen, tokoh yang membawa Ordo Jesuit ke Surabaya dan makam Johannes Emde, penyebar agama Kristen di Karesidenan Surabaya. Kemudian ada tokoh pengusaha seperti Frans Jacob Hubert Bayer, raja besi Surabaya yang memperkenalkan industri besi ke Jawa sehingga harga besi menjadi murah. Lalu ada makam tokoh emansipasi perempuan sebelum Kartini, Rosalia Josepha. Berikutnya fotografer kondang Ouhannes Kurkdijan yang berkat fotonya orang-orang di masa kini dapat mengetahui suasana Surabaya tempo dulu. Sungguh masih tersimpan beribu kisah dari nekropolis ini namun semuanya tidak bisa diceritakan satu persatu di tulisan kecil ini. 
Osuarium kerkhof Peneleh yang oleh masyarakat setempat dinamai omah balung.
Di kerkhof ini, terdapat sebuah reruntuh bangunan yang kini hanya menyisakan dinding dan sebuah kolom. Masyarakat setempat menjuluki banguan tersebut dengan nama omah balung, merujuk pada banyaknya tulang-tulang yang ditaruh di rongga bawah bangunan tersebut. Keberadaan bangunan tersebut menunjukan masalah ketersediaan lahan pemakaman yang terjadi di Surabaya pada akhir abad ke 19. Di luar bayangan pemerintah kolonial, meningkatnya arus urbanisasi Surabaya rupanya telah mengubah lahan di sekitar kerkhof yang semula masih berupa kebun bambu menjadi perkampungan padat. Upaya perluasan pemakaman pun terhalang oleh perkampungan yang mengepung pemakaman. Sementara itu, dengan bertambahnya makam baru, maka lahan kosong yang tersedia mulai berkurang dan belum ada pemakaman Belanda lainnya di Surabaya selain di Peneleh saat itu (Soerabiasch Handelsblad, 13 Mei 1899). Ketika kebutuhan pemakaman kian mendesak, beberapa kuburan lama dibongkar dan sisa kerangkanya diambil untuk kuburan baru. Kerangka manusia kemudian ditempatkan di dalam ossuarium yang kemudian disebut omab balung. Masalah keterbatasan lahan makam juga diatasi dengan menerapkan sistem kubur huurkelder, dimana ruang kubur milik seseorang dapat disewakan untuk makam orang lain sehingga dalam satu kubur ada lebih dari satu jenazah. Meskipun demikian, upaya tersebut dirasakan belum mampu mengurai akar masalah yang ada ada sehingga pemerintah kolonial membuka pemakaman baru di Kembang Kuning pada tahun 1916 (Von Faber, 1934 ; 186-187). Pemakaman Belanda Peneleh tidak menerima jenazah lagi pada tahun 1960an.

Sekian kisah dari kerkhof Peneleh, sebuah nekropolis yang sedang berjuang untuk bertahan di tengah pesatnya pertumbuhan metropolis Surabaya. Keheningan kerkhof Peneleh kontras dengan hingar-bingar kehidupan metropolitan Surabaya di luar tembok makam. Pada setiap makam yang terpancang, terkandung kisah lika-liku kehidupan manusia masa silam, petuah bijak tentang kematian, cita-rasa seni, latar belakang sosial-budaya, serta perasaan terhadap keabadian yang diungkapkan dalam tulisan dan karya pahatan. Sudah semestinya bila kerkhof ini untuk dilestarikan sebagai pembelajaran untuk manusia masa kini yang tampaknya sudah tidak terlalu peduli dengan kematian. Namun yang terjadi justru adalah aksi vandalisme oleh orang tak bertanggung jawab. Beberapa makam yang masih utuhpun setiap harinya semakin rusak.  Jalan untuk melestarikan nekropolis ini memang masih berliku. 

Referensi
Knight, G. R. (2014). Sugar, Steam, and Steel ; The Industrial Project in Colonial Java 1830-1885. Adelaide: University of Adelaide Press.

Mahendrani, Cahya Ratna. 2013. “Nisan Makam Belanda Peneleh Surabaya (Kajian Bentuk dan Ragam Hias)”. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Muller, Stephen. 2915. “ Colonial experiences of death, burial and memorialisation in West Terrace Cemetery,Adelaide: applying a phenomenological approach to cultural landscapes in historical archaeology ” dalam Australasian Historical Archaeology, Vol. 33 (2015), hlm 15-26

Graaff, S. D., & Stibbe, D. 1918. Encyclopaedie van Nederlandsch Indie. 'S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Von Faber, G.H. 1932. Oud Soerabia ; De Geschiedenis van Indies Eerste Koopstad van de Oudste Tijden tot de Instelling van Den Gemeenteraad. Surabaya : Gementee Soerabaia.
Von Faber, G.H. 1932. Nieuw Soerabia ; De Geschiedenis van Indies Voornaamste Koopstad in De Eerste Kwareeuw Sedert Hare Instelling 1906-1931. Surabaya ; N.V. Boekhandel en Drukkerij H.van Ingen.

Worpole, K. (2003). Last Landscape ; The Architecture of The Cemetery in The West. Reaktion Books: London.

Soerabiasch Handelsblad, 13 Mei 1899.