Sabtu, 05 Maret 2016

Anjangsana ke Benteng Van der Wijck Gombong

Gombong adalah sebuah kota kecamatan kecil yang terletak di wilayah Kabupaten Kebumen. Satu kilometer ke utara dari pusat keramaian, berdiri begitu kokoh sebuah benteng peninggalan Belanda yang namanya sudah cukup dikenal banyak orang, Benteng Van der Wijck. Tapi tiada yang menyadari bahwa benteng berbentuk segi delapan itu memainkan peranan penting selama Perang Jawa ( 1826-1830 ). Inilah ulasan saya di Jejak Kolonial mengenai kisah benteng yang kini sintas sebagai taman wisata keluarga.
Pintu masuk Benteng Van der Wijck.
Bekas barak militer yang saat ini digunakan sebagai penginapan.
Sesudah membayar karcis di gerbang masuk sebesar 25.000 rupiah, saya menyusuri sebuah jalan yang menjurus ke Benteng Van der Wijck. Jalan itu lumayan lebar dan teduh. Di samping kiri jalan, terdapat sebuah penginapan yang memakai bekas barak tentara. Sementara itu, di samping kanan jalan, terdapat sebuah kolam renang yang tampak ramai hari itu. Suasana itu mungkin terbilang kontras ketika benteng itu lama terabaikan usai kemerdekaan, ketika wilayah sekitar benteng masih menjadi wilayah yang terlarang untuk dikunjungi khalayak umum. Pada tahun 2000, setelah sekian lama terlunta menjadi sarang walet, Benteng Van der Wijck oleh PT.Indo Power MS diperbaiki. Area sekitar benteng kemudian dikembangkan sebagai taman wisata keluarga yang dilengkapi dengan aneka wahana permainan seperti kolam renang dan kereta keliling. Sementara itu, di luar area wisata benteng, masih terdapat sarana-sarana milik militer seperti Sekolah Calon Tamtama yang ada di utara Benteng Van der Wijck. Tidak heran jika aura militer masih kentara di sekitar benteng.

Bekas rumah dinas perwira militer untuk berpangkat kapten yang berada di jalan ke arah SECATA.

Fasilitas militer yang ada di sekitar benteng.
Keterangan.Lingkaran merah : Benteng. 1 : Barak. 2 : Rumah perwira (kapten). 3 : Rumah perwira (letnan). 4 : Rumah sakit tentara. 5 : Kompleks makam Belanda.
Dengan berbagai fasilitas militer yang ada seperti perumahan perwira, rumah sakit dan sekolah tentara, Gombong layak disebut sebagai “Kota Hijau”. Kehadiran militer di kota kecil itu sudah ada semenjak Perang Jawa bergemuruh dari tahun 1826 sampai 1830. Perang sengit yang mempertemukan Pangeran Diponegoro dan pemerintah kolonial Belanda itu berlarut cukup lama karena Pangeran Diponegoro dan pengikutnya menjalankan perang gerilya yang berhasil membuat militer Belanda kelimpungan. Menghadapi gaya perlawanan seperti itu, Jenderal Frans David Cochius menerapkan siasat benteng stelsel, dimana benteng tak hanya berfungsi sebagai tempat perlindungan belaka, namun juga sebagai pangkalan militer, tempat serangan disusun.
Tampak luar dan dalam benteng Van der Wijk pada tahun 1930an (sumber : media-kitlv.nl).
Salah satu tempat yang dijadikan militer Belanda sebagai pangkalan militer ialah Gombong, Kebumen. Selepas Perang Jawa, Gombong menjadi pusat kekuatan militer Belanda yang penting di Bagelen mendampingi Purworejo. Hal itu dibuktikan dengan dibangunnya sebuah benteng baru pada akhir tahun 1840an atas perintah Gubernur Jenderal Van Den Bosch. Setelah tuntas dibangun, benteng baru itu diberi nama Fort Cochius berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Hindai Belanda 10 Juni 1839. Benteng itu diberi nama demikian sebagai bentuk penghormatan militer Belanda kepada Jenderal veteran yang memainkan peran penting selama Perang Jawa, Frans David Cochius (Jaavasche Courant ; 1839). Kehadiran benteng itu kian memperkuat kuasa militer Belanda di Jawa, baik dari ancaman pemberontakan lokal maupun invasi bangsa asing lain. (Kemendikbud, 2012; 134).
Frans David Cochius, perwira militer Belanda yang mengusulkan siasat benteng stelsel. Namanya diabadikan sebaga nama benteng meski tidak bertahan lama (sumber : http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/04/generaal-cochius.jpg).
Para kadet sekolah militer Gombong yang sedang berlatih menembak. Dari warna kulit, mereka bisa jadi adalah orang pribumi atau dari keturunan campuran  (sumber : media-kitlv.nl).
Saya kini berhadapan dengan benteng Cochius atau kini lebih dikenal sebagai Benteng Van der Wijck. Tidak diketahui apa yang melatarbelakangi perubahan nama benteng ini. Dalam literatur Belanda sendiri, benteng ini acap disebut sebagai benteng Cochius sesuai dengan nama resminya. Adapun nama Van der Wicjk besar kemungkinan didapatkan dari tulisan " C. VAN DER WIJCK " yang terpampang pada batu kunci di atas lengkung pintu masuk utama benteng. Karena sudah ditimbun dengan cat hitam pada zaman Jepang, maka tulisan itu tak bisa terbaca jelas lagi. Siapakah ia ? Carel van der Wijck ( 1797 -1852 ), merupakan kepala divisi zeni militer Hindia-Belanda. Benteng yang pernah ia buat antara lain Benteng Willem I Ambarawa dan Benteng Van den Bosch Ngawi serta benteng-benteng di kota pesisir yang kini telah sirna seperti Benteng Prins Frederik di Batavia, Prins Hendrik di Surabaya, dan Prins van Oranje di Semarang.
Gombong pada peta tahun 1905. Lokasi benteng ditandai dengan lingkaran merah (sumber : maps.library.leiden.edu).
Sedikit maju ke depan, tepatnya di masa penjajahan Jepang, benteng ini digunakan sebagai tempat pelatihan prajurit PETA. Salah satu kadet PETA yang pernah menimba ilmu di situ di kemudian hari akan menjadi orang nomor satu di Indonesia. Dia adalah Suharto. Para kadet PETA tinggal di barak yang ada di luar benteng dan benteng ini sendiri dipakai sebagai akomodasi perwira Jepang dan penyimpanan ransum makanan. Selepas kemerdekaan, barak di dekat benteng Van der Wijck dipakai oleh Badan Kemanana Rakyat untuk akomodasi staff BKR, sedangkan benteng dibiarkan tak dihuni. Di masa Agresi Militer Belanda I, ketika Belanda berusaha menguasai kembali jajahannya yang baru saja merdeka, benteng Van der Wijck dimanfaatkan militer Belanda sebagai pos pertahanan mereka, berhadapan dengan wilayah yang dikuasai oleh kamu Repbulikan di seberang timur Kali Kemit.
Warna merah yang menyelimuti dinding benteng Van der Wijck.
Warna merah darah menyelebungi dinding luar Benteng Van der Wijck. Benteng berlantai dua itu sejatinya berwarna putih seperti yang terlihat pada dokumentasi foto lama. Entah apa maksud dibalik perubahan warna itu. Namun ada selentingan bahwa benteng itu sengaja diwarnai demikian untuk menyesuaikan kondisi politik Kebumen yang selama ini didominasi oleh partai politik tertentu. Benar atau tidak selentingan itu, namun yang jelas warna itu menjadikan aura Benteng Van der Wijck terlihat antik.
Lapangan di tengah benteng. Lapangan ini acap menjadi latar film layar lebar karena kesannya seperti sebuah  penjara kuno. Paling terakhir adalah film " The Raid 2 : Berandal ".
Di benteng Van der Wijck, saya tak menemukan jejak parit keliling layaknya benteng-benteng peninggalan Belanda lain. Tiada pula sarana pertahanan lain seperti bastion atau kubu pertahanan berbentuk belah ketupat. Benteng itu memang tidak dimaksudkan sebagai benteng pertahanan. Novida Abbas ( 1996 ) menyebutkan bahwa kegunaan benteng ini di kemudian hari lebih ditekankan sebagai akademi militer, tempat para kadet menimba ilmu kemiliteran ketimbang sebagai sebuah benteng. Menilik catatan sejarah, pada tahun 1856, Benteng Van der Wijck menampung para kadet dari sekolah militer Kedungkebo, Purworejo yang terpaksa pindah karena gedung sekolah mereka runtuh akibat badai (Musadad, 2001; 83-84).
Koridor benteng yang dibangun dengan sistem rib-vault.
Pintu-pintu melengkung yang menghubungkan setiap ruangan.
Berikutnya, saya melangkah masuk ke dalam benteng melalui salah satu dari empat pintu masuk benteng. Pada lorong temaramnya, saya mendapati para pengunjung yang berlalu lalang di bawah langit-langit berbentuk rib vault. Masih tampak jelas di situ, susunan batu-bata yang dulu dibuat di dekat benteng. Berbagai bahan bangunan benteng memang didatangkan dari sekitar benteng. Kayu dan batu diambil di seputaran Karesidenan Bagelen sementara batu-batanya dibuat di dekat benteng. Tujuannya tentu untuk menghemat biaya.
Salah satu ruangan yang terdapat pada lantai satu. Perhatikan bentuk langit-langitnya yang melengkung dengan gancu yang masih tertancap di tempat.

Salah satu ruangan di lantai dua benteng.
Lantai ruangan yang dilapisi dengan ubin/tegel hias.
Benteng Van der Wicjk memiliki 16 ruangan pada setiap lantainya. Antara lantai satu dan lantai dua dihubungkan oleh tangga. Setiap tangga menuju lantai dua memiliki sebuah ceruk kecil untuk tempat penjaga. Suasana di dalam ruang begitu terang dan sejuk karena setiap ruang memiliki jendela besar. Jendela-jendela itu dulu dilengkapi dengan jeruji besi dan daun jendela krepyak yang kini hilang entah kemana. Untuk penerangan di malam hari, dahulu ruangan ini diberi penerangan berupa lampu minyak, dimana gancu tempat menggantung lampu tadi masih tertancap di tempatnya. Hal menarik dari ruangan di benteng ini ialah rancang bangun ruang itu yang dibuat melengkung, menghasilkan langit-langit ruangan berbentuk semi lingkar seperti jembatan. Mengapa demikian ? Di masa teknologi besi bertulang belum ditemukan, rancang bangun yang diciptakan oleh bangsa Romawi itu terbukti mampu menyangga beban bangunan. Inilah kunci mengapa benteng ini masih kokoh sampai sekarang. Di balik kekokohan Benteng Van der Wijck, jangan lupakan jasa 1.400 tenaga orang pribumi yang dibayar 15 sen setiap harinya. 1.200 kuli itu diambil dari Karesidenan Bagelen sementara sisanya diambil dari Karesidenan Banyumas. Selama pembangunan, para kuli itu diawasi oleh demang yang mendapat bayaran sebesar 1 gulden sehari.
Atap benteng beserta cerobong-cerobong semunya.
Tangga naik menuju atap benteng.
Satu per satu ruang saya amati, dari ruangan pada lantai satu hingga yang terdapat di lantai dua. Salah satu ruang yang cukup menarik perhatian saya adalah ruangan komandan benteng yang berada di lantai dua. Berbeda dengan ruangan lain yang permukaan lantainya polos, ruangan ini terlihat menarik berkat lantai tegel bercorak bunga-bungaan. Melalui jendela ruangan itu, saya dapat mengintip sepetak tanah lapang yang terkurung di tengah benteng. Dari lantai dua, saya beranjak naik ke bagian atap yang mana terdapat wahana kereta mini yang mengelilingi atap benteng itu. Dari atap benteng berbentuk seperti gundukan bukit-bukit kecil dengan cerobong semu yang menyembul di atasnya, saya dapat menikmati keindahan perbukitan Gombong yang terhampar di sebelah utara.

Referensi
Abbas, Novida. 1996. " Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad ke XVII – XIX M di Jawa Tengah " dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No. 04 Th.II. 

-----------------.2001. " Sarana Pertahanan Kolonial Di Jawa Tengah dan Jawa Timur " dalam Berita Penelitian Arkeologi.

Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Musadad. 2002. " Dari Pemukiman Benteng ke Kota Administrasi (Tata Ruang Kota Purworejo Tahun 1831-1930) ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Kompas, 12 Juni 2010.

1 komentar:

  1. Mantap sayang gombong tidak masuk dalam wilayah banjoemas ... salam lestari

    BalasHapus