Sabtu, 20 Februari 2016

Telusur Sisa Pabrik Gula Sewugalur

Pada suatu masa, Yogyakarta pernah memiliki lebih dari selusin pabrik gula yang bertebaran di segala penjuru, salah satunya berdiri di Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, sebuah desa di belahan selatan Kabupaten Kulonprogo. Jejak Kolonial kali ini merupakan hasil penelusuran pada satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulonprogo itu.
Rumah Ibu Jamal.
Sekalipun terletak di tengah pedesaan, rumah itu tidak terlihat seperti rumah orang desa pada umumnya. Rumah itu malahan terlihat seperti bekas rumah seorang pembesar Belanda. Jendela krepyak yang tinggi meneguhkan tuanya usia bangunan tersebut. Saya mengetuk pintu depan rumah yang masih terlihat asli. Ketukan saya segera terjawab. Dari dalam, muncul sesosok perempuan tua yang tak lain ialah Ibu Jamal, tuan rumah ini. Sesudah membukakan pintu, Ibu Jamal mempersilahkan saya masuk ke ruang tamunya dengan dindingnya yang amat tinggi itu. 
Bagian ruang tamu.
Dengan perabotan tuanya, ruang tamu rumah Ibu Jamal membuat saya serasa terdampar ke masa lalu. Di ruang tamu itu, saya berbincang dengan Ibu Jamal sembari menikmati suasana ruang tamu yang sejuk. Kesejukan itu berkat adanya jendela besar di samping ruang tamu dan ditambah pua dengan tembok rumah yang tinggi, membuat hawa di dalam ruangan itu terasa sejuk meski tanpa AC, dimana kesejukan seperti ini jauh lebih baik karena sifatnya alami. Mendongak ke atas, saya meihat jalinan anyaman bambu yang masih menjadi plafon rumah tua ini. Anyaman bambu memang jamak dipakai untuk rumah-rumah kolonial di wilayah pinggiran. “Pada masa penjajahan Jepang, rumah ini terhindar dari penghancuran oleh Jepang “, tutur Ibu Jamal membuka cerita. Dari cerita Ibu Jamal, diketahui bahwa setelah Jepang menduduki PG Sewugalur, pabrik ini disita dan diratakan dengan tanah. Rumah-rumah pegawainya satu persatu dijual kepada orang Tionghoa atau orang pribumi. “ Dari orang Tionghoa, rumah ini dibeli oleh Pak Tjokrodirdjo, mertua saya “, tuturnya.
Ruang kamar depan yang tak dipakai lagi.
Sesudah berbincang-bincang, Ibu Jamal selanjutnya mengajak saya ke sebuah ruangan di sebelah ruang tamu. Pintu besar yang semula tertutup kemudian ia buka. Di balik pintu itu, saya hanya melihat sebuah ruangan gelap yang nyaris kosong. Tak banyak perabotan di ruang itu. Hanya ada dua buah almari, sebuah ranjang besi tua, dan sebuah cermin besar. Mungkin si noni penghuni rumah ini dulu bersolek di depan cermin itu. Kendati sedikit gelap, namun hawa di dalam ruang itu terasa sejuk, tidak pengap walau sedikit tercium bau jamur. Kesejukannya itu berkat adanya jendela berjalusi yang tinggi. Walaupun ditutup, namun udara tetap dapat masuk ke dalam ruangan lewat celah jalusinya. Ibu Jamal kemudian membukakan jendela, sinar matahari segera saja menyeruak masuk ke dalam dan ruangan itu menjadi terang benderang. Jendela yang tinggi selain memperbanyak udara yang masuk juga berguna untuk memperbanyak sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan sehingga ruangan mendapat pencahaayaan alami dan mengurangi penggunaan lampu. Ruangan ini barangkali dulunya menjadi ruang tidur anak si pegawai pabrik yang tinggal di rumah ini. Dari jendela ruangan itu, pandangan saya lempar ke arah keluar. Dulu bangunan utama pabrik dapat dilihat dari sini. Benak sayapun kemudian melayang ke masa lampau, masa ketika rumah itu masih bersua dengan bangunan pabrik…
Foto pabrik gula sewugalur pada tahun 1917 (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Foto udara area PG Sewugalur. Foto ini menghadap ke arah timur.
Tahun 1867 menjadi tahun malapetaka untuk penduduk Jawa bagian selatan karena pada tahun itu terjadi gempa bumi besar yang memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kulonprogo yang saat itu di bawah administrasi Kadipaten Pakualaman. Ketika Pakualaman sedang berupaya membangun kembali wilayahnya yang hancur akibat gempa, pemerintah kolonial Belanda melancarkan ekspedisi Aceh Kedua pada tahun 1873. Korps militer Legiun Pakualman yang dimiliki oleh Pakualaman lalu dilibatkan Belanda untuk dikirim ke Aceh. Sialnya, untuk ekspedisi tersebut Pakualaman ternyata harus menanggung sendiri biaya untuk korps militer dan hal ini menimbulkan masalah keuangan bagi Pakualaman (De Locomotief, 23 Desember 1931). Sehubungan dengan masalah tersebut, maka Pakualaman menyewakan tanah di Galur kepada Rudolf Martinus Evertt Raaf, Otto Arends Oscar Van den Bergh, dan Egbert Johannes Hoen pada tahun 1878 dengan nilai sebesar 4.200 gulden perbulan untuk jangka waktu 20 tahun (De Locomotief, 10 September 1903). Tanah perkebunan yang selanjutnya dikenal dengan nama Sewoogaloer mulanya menanam jenis tanaman nila. Bisnis Pperkebunan nila tersebut rupanya tidak berjalan mulus karena manajemennya buruk dan beban hutangnya besar. Oleh karena itu, pada awal tahun 1880 perkebunan tersebut akhirnya beralih ke budidaya tanaman tebu dan sebuah pabrik gula didirikan di sana. Malangnya, perkebunan tebu tersebut didirikan di saat yang tidak tepat karena industri gula di Jawa sedang didera krisis gula karena anjloknya harga gula di pasaran yang disebabkan oleh membanjirnya jenis gula beet di Eropa (Soerbaiasch Handelsblad 12 November 1900). Untungnya perkebunan tebu tersebut berhasil terhindar dari kebangkrutan. Pabrik gula Sewugalur lalu dikelola oleh "Cultuur Maatschappij Sewoe Galoor" yang dibentuk pada tahun 1891 dan sebagian besar sahamnya dikuasai oleh N.V Cultuur Matschapij der Vorstenlanden (Nederlandsche Staatscourant, 29 Oktober 1891). Selain di Sewugalur, perusahaan yang berkantor di Semarang ini juga memiliki beberapa pabrik gula yang tersebar di seantero Yogyakarta seperi Padokan, Demakijo, Wonocatur, Beran, Kedaton Plered, Sedayu, Barongan dan Rewulu (Dingemas.L.F, 122 ; 1920). 
Lokasi pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1921. Hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari pesisir selatan menjadikannya sebagai PG paling selatan di Jawa.
Ketersediaan lahan dan kondisi geografis di sekitar PG Sewugalur, sangat memungkinkan untuk dibuka sebuah perkebunan tebu beserta pabrik pembuat gula. Hal ini juga didukung dengan tersedianya tenaga kuli yang diambil dari lingkungan sekitar pabrik dan mayoritas bekerja di sektor agraris. Untuk mendukung distribusi gula PG Sewugalur dan pabrik gula lain di wilayah selatan Yogyakarta, maka tahun 1914, dibukalah jalur kereta oleh NIS dari Stasiun Tugu hingga Halte Sewugalur. Pembangunan jalur ini selain bertujuan untuk memperlancar arus distribusi gula PG Sewugalur, juga bertujuan untuk mendukung perekonomian di Sewugalur yang pada waktu itu lumayan jauh dari pusat kota. Inilah mengapa lokasi halte Sewugalur dibangun di dekat pasar Sewugalur (Rizal Dhani, 2010; 73-79).
Foto jajaran pegawai pabrik gula Sewugalur pada tahun 1912. Nampak administratur pabrik gula Sewugalur pada waktu itu,Cosmus van Bornemann yang kemudian dipindah ke pabrik gula Gelaren pada tahun 1930an. Pengganti Cosmus van Bornemann ialah Albert Kuipers (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Dilansir dari  Het Nieuws van den Dag Nederlandsch Indie, 16 Mei 1922, sehari sebelum berita itu turun, telah terjadi perkelahian antar sesama kuli PG Sewugalur. Seorang mandor sudah melepaskan tembakan peringatan ke udara. Alih-alih mereda, perkelahian kian parah karena diduga ada provokator di dalamnya. Para kuli saling memukul dengan cangkul. Akibatnya banyak kuli yang terluka.
Rumah dinas pegawai  pabrik gula Sewugalur (sumber : geheugenvannederland.nl).

Karung-karung gula yang siap dijual ke pasaran. (sumber ; geheugenvannederland.nl)
Cerobong pabrik yang sedang dibangun (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Rumah sakit pembantu di dekat PG Sewugalur. Dibangun tahun 1922 setelah merebak wabah malaria di sekitar pabrik.
Takdir pabrik gula ini mencapai titik nadirnya tatkala badai krisis ekonomi atau malaise memporak-porandakan perekonomian dunia pada tahun 1930an. Krisis ini mengakibatkan kandasnya harga gula di pasaran dan berimbas dengan ditutupnya banyak pabrik gula untuk mengembalikan harga gula. PG Sewugalur termasuk pabrik gula yang terdampak dari kebijakan tersebut. Sekitar tahun, PG Sewugalur mematikan mesin untuk selamanya. Mesin-mesin operasional pabrik gula yang malang itu dijual ke PG Sragi di Jawa Timur yang hingga sekarang masih beroperasi. Selain mesin, sebagian besar rumah dinas pegawai juga ikut dijual. Ditutupnya PG Sewugalur rupanya membuat keuangan Kadipaten Pakulaman cukup terpukul karena setengah pendapatannya bersumber dari pabrik gula tersebut (Algemeen Handelsblad 10 Mei 1938). Pada tahun 1942, setelah Jepang masuk ke Hindia-Belanda, bangunan pabrik gula Sewugalur diratakan oleh Jepang. Jalur-jalur kereta api dari Sewugalur ke Palbapang dicopot oleh Jepang dan diangkut ke Burma (Myanmar) dan Sumatera untuk material jalur yang sedang dibangun Jepang di sana. Dilansir dari laman www.indischekamparchieven.nl, bekas kompleks rumah dinas pegawai Sewugalur pada tahun 1946 dimanfaatkan oleh para tentara Republik Indonesia untuk menginternir sebagian ibu-ibu dan anak-anak Eropa dari Yogyakarta. Tiap harinya, mereka dijatah beras 200 gram perorangnya dan mereka diijinkan belanja di pasar untuk mencari bahan pangan lainnya. Walaupun kamp internir yang dipimpin oleh Nyonya Ch. E. Bos itu memiliki dapur umum, sebagian besar keluarga memilih memasak sendiri. Tikar digelar di lantai sebagai tempat tidur mereka. Kendati demikian, perlakukan yang mereka terima lebih manusiawi dibandingkan ketika mereka diinternir oleh Jepang.
Langit-langit rumah dari anyaman bambu.
Bagian ruang belakang rumah ibu Jamal.
Saya segera tersadar dari lamunan saya begitu Ibu Jamal mengajak saya melihat bagian belakang rumahnya. Di belakang ruang tamu, terdapat sebuah ruang keluarga, dimana saya masih bisa melihat sebuah lemari buffet tua dan sebuah cermin besar yang tergantung miring. Hiasan kaca patri berwarna hijau dan merah semakin menambah kesan antik ruangan itu. Saya membayangkan di ruang inilah dahulu keluarga pegawai pabrik yang tinggal di sini mengadakan makan malam bersama setelah seharian beraktivitas di pabrik. Sambil menyantap hidangan yang disiapkan oleh pembantu yang tinggal di kamar belakang, mereka membicarakan mengenai hal apa saja yang sudah dilakukan seharian. Di masa ketika hiburan masih jarang, kegiatan makan malam seperti ini benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi setiap anggota keluarga. Dari sinilah interaksi antar anggota keluarga terbangun.
Bangunan di belakang rumah yang dulu digunakan untuk kamar pembantu dan kamar mandi.
Paviliun samping.
Di belakang rumah, dapat dijumpai bangunan tambahan yang berisikan kamar pembantu, dapur, gudang, dan kamar mandi. Di situ juag terdapat sumur dan sebuah wastafel tempat cuci piring yang sudah ada semenjak rumah itu dibangun. Bagian-bagian ini dibuat mengelilingi sebuah halaman terbuka di bagian tengah rumah. Beberapa bagian ini sekarang menjadi ruang tinggal keluarga Ibu Jamal. Di samping rumah Ibu Jamal, terdapat sebuah bangunan kecil yang dahulu menjadi paviliun tamu yang juga dapat digunakan sebagai tempat tidur tamu jika tamu hendak bermalam.
Bangunan ujung utara.
Bangunan rumah dinas yang saat ini dalam kondisi rusak karena gempa yang mengguncang tahun 2006 silam.
Bangunan rumah dinas yang cukup terawat.
Bangunan bekas kamar bola atau sosieteit.
Berada di sebelah utara rumah Bapak Karwono, terdapat sebuah bangunan lama yang dahulu menurut warga sekitar merupakan kamar bola atau sosieteit. Di wilayah Sewugalur yang lumayan jauh dari pusat kota, keberadaan sosieteit menjadi oase kesenangan bagi para pegawai pabrik gula yang mayoritas adalah orang Belanda. Mereka tentu menganut kebiasaan barat yang berbeda dengan kebiasaan orang pribumi. Di sini, setelah seharian bekerja di pabrik, mereka menghibur diri dengan bermain bilyard, minum-minuman alkohol, atau berdansa. Dengan adanya sosieteit ini, mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke kota untuk mencari hiburan. Di depan sosieteit ini dahulu terdapat sebuah lapangan tenis, salah satu olah raga yang digemari oleh orang Barat. Kegiatan ini biasanya dilakukan di pagi atau sore hari. Sempat dipakai sebagai kantor bank BRI cabang Galur sebelum menjadi rumah tinggal.
Bekas rumah dinas pegawai pabrik gula Sewugalur dengan fasad depan yang berbentuk seperti gunungan.
Dari rumah Ibu Jamal, saya mencoba menelusuri berbagai jejak PG Sewugalur lain yang masih tertinggal. Kondisinya bermacam-macam. Ada yang masih utuh seperti rumah Ibu Jamal tadi dan rumah Bapak Karwono yang ada di sebelah utara rumah Ibu Jamal. Ada yang fasad depannya sudah dirombak. Ada pula yang tinggal reruntuh dindingnya saja. Banyak tinggalan rumah-rumah pegawai PG Sewugalur yang rusak setelah terjadi gempa yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006 silam. Beberapa ada yang diperbaiki seperti rumah Ibu Jamal, namun lebih banyak yang kemudian ditinggalkan dan dibiarkan runtuh dengan sendirinya.
Gambaran kompleks pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1934 (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Apabila melihat peta topografi lama, maka terlihat bangunan rumah tinggal para pegawai pabrik disusun mengelilingi pabrik. Konsep susunan tersebut dikenal sebagai konsep panopticon sebagai strategi pengawasan terhadap aktivitas pabrik gula. Dengan adanya konsep ini,buruh-buruh pribumi yang ada di pabrik akan selalu merasa diawasi tanpa kehadiran para staff pabrik yang mayoritas adalah orang Belanda (Hari Libra Inagurasi, 123;2010). Langgam arsitektur rumah ini dibangun dengan gaya arsitektur Indis sebagai penegasan bahwa kedudukan mereka sebagai pegawai pabrik berbeda dengan kedudukan buruh-buruh pribumi yang secara strata sosial pada waktu itu berada di kelas yang lebih rendah dari bangsa Eropa (Djoko Soekiman, 1997; 5).


Struktur-struktur sisa dari PG Sewugalue.

Sisa cerobong PG Sewugalur.
Lapangan ini dulu merupakan emplasemen lori PG Sewugalur.
Bekas bangunan kantor PG Sewugalur.
Lalu bagaimana dengan nasib bangunan pabrik gula Sewugalur itu sendiri ? Satu-satunya yang tersisa dari bangunan PG Sewugalur hanyalah sebuah struktur pondasi bekas cerobong asap yang terletak di belakang salah satu rumah warga. Kondisi sekitar bekas cerobong yang terbuat dari beton itu cukup kotor, di sekelilingnya terlihat banyak tumpukan sampah seolah-olah cerobong ini bukanlah sebuah peninggalan sejarah yang berharga. Saya sendiri tidak berlama-lama untuk melihat cerobong. Selain tidak kuat dengan bau tumpukan sampah, juga karena tidak tega melihat kondisi cerobong yang dulu menjadi saksi dari kejayaan Pabrik Gula Sewugalur. Selain struktur cerobong, masih bisa ditemukan pula sisa saluran pembuangan limbah yang mengalirkan limbah pabrik ke Kali Progo. Sulit dibayangkan bahwa Pabrik Gula Sewugalur yang sedemikian besarnya dapat begitu saja lenyap dan hanya menyisakan beberapa puing yang nyaris tanpa arti...
Kerkhof Sewugalur.
Makam Maria Arabella Junman.
Tak jauh dari lokasi PG Sewugalur, saya menjumpai bekas area kerkhof atau pemakaman Belanda, tempat dimana raga keluarga pegawai pabrik yang telah tiada dimakamkan. Kerkhof ini dulunya dikelilingi oleh tembok pembatas yang kini tinggal sebagian saja yang masih berdiri. Di makam itu, hanya tinggal satu makam saja yang prasastinya masih tersisa, itupun sudah hilang separo sehingga isinya tidak dapat dibaca secara utuh. Dari tulisan yang masih bisa terbaca, diketahu bahwa makam itu merupakan makam dari Maria Arabella Junman. Sepertinya beliau adalah anak perempuan atau mungkin istri dari pegawai pabrik gula Sewugalur. Mengapa di dekat kompleks PG Sewugalur terdapat kompleks kerkhof ? Jawabannya mudah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lokasi PG Sewugalur berada lumayan jauh dari perkotaan, sehingga ketika ada orang meninggal, tentu akan menghabiskan perjalanan cukup lama untuk membawa jenazah kerkhof di kota Yogyakarta. Sehingga untuk menghemat waktu perjalanan maka dibukalah area kerkhof di dekat lokasi pabrik. Selain itu, terkadang ada keluarga pegawai pabrik gula yang memiliki permintaan untuk dimakamkan di dekat pabrik. Hal ini menunjukan adanya ikatan emosional antara si keluarga pegawai pabrik gula dengan tempat mereka bekerja. 

Penelusuran saya di Sewugalur berujung di Halte Sewugalur yang kini lokasinya menjadi halaman depan SMP N 1 Galur. Halte itu merupakan tempat dimana kereta berhenti untuk menaik-turunkan penumpang di Sewugalur. Namun bukan penumpang yang menjadi muatan utama kereta itu, melainkan karung-karung gula dari PG Sewugalur. Mata saya kemudian menangkap sebuah gundukan tanah memanjang yang ada tengah-tengah sawah. Setelah dicocokan dengan data peta lama dan citra satelit sekarang, tidak salah lagi kalau gundukan tanah itu merupakan bekas railbed atau gundukan jalur kereta Sewugalur-Yogyakarta.
Kondisi pabrik gula Sewugalur saat ini.Keterangan. Kotak kuning : bekas lokasi pabrik. Titik kuning : Lokasi struktur pondasi cerobong. Kotak merah : lokasi rumah dinas. Garis putus-putus : jalur kereta NIS. 1 : Rumah ibu Jamal. 2 : Rumah bapak Karwono. 3 : Kantor.
Dengan berbagai fasilitas seperti perumahan orang Eropa, pasar, halte, sosieteit dan lahan pemakaman Eropa, lama kelamaan kompleks Pabrik Gula Sewugalur berkembang hampir menyerupai sebuah kota koloni kecil di daerah pedalaman. Bahkan pada waktu itu berkembang wacana pembangunan pelabuhan di pantai selatan untuk mempersingkat jarak distribusi gula di wilayah Yogyakarta yang masih bergantung dengan pelabuhan di Semarang.


Begitulah hasil penelusuran saya pada sisa-sisa PG Sewugalur. Kednati PG Sewugalur kini tinggal nama saja, namun ia masih menyisakan sebagian kecil tinggalan bangunan rumah dinas yang terawat dengan baik hingga kerkhof dengan kondisinya menyedihkan. Semua peninggalan itu merupakan saksi bisu dari kejayaan PG Sewugalur, sebuah satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulonprogo yang hilang tergilas oleh zaman…

Referensi
Dhani, Rizal. 2010. "Situs Pabrik Gula Sewugalur (1889-1930) (Tinjauan terhadap Latar Belakang Pemilihan Lokasi dan Pengaruh Keberadaanya terhadap Pemukiman Kolonial di Sekitarnya)". Skripsi. Depok : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Dingemans, L.F. 1920. Gegevens Over Djokjakarta. 

Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Soekiman, Djoko. 1997. " Seni Bangun Gaya Indis, Penelitian, Pelestarian, dan Pemanfaatanya " dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi VIII, Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis. Yogyakarta 9 Agustus 1997.

van Bruggen, M. P dan Wassing, R.P . 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam : Asia Maior.

Algemeen Handelsblad, 10 Mei 1938

De Locomotief, 10 September 1903

De Locomotief, 23 Desember 1931

10 komentar:

  1. request sejarah pabrik gula madukismo, coba mas. pabrik gula yg sama-sama dibangun saat masa pendudukan belanda, seperti sewoegalur

    BalasHapus
    Balasan
    1. PG Madukismo tiddak dibangun di masa pendudukan Belanda. Ia didirkan sekitar tahun 1950an oleh Sultan HB IX di atas lahan PG Padokan yang hancur sewaktu agresi militer Belanda.

      Hapus
    2. kalo PG madukismo dibangun diatas lahan PG padokan. trus PG padokan dibangun tahun berapa bang ?

      Hapus
    3. Wah, kurang tahu saya mas. Saya ndak ada datanya.

      Hapus
    4. Coba cari beberapa artikel nemunya masih soal info yg sama. Yaitu dibangun di atas bekas PG padokan. Tapi g ada info soal PG padokan. Jadi penasaran. Hehehe ..

      Hapus
  2. Nenek saya tinggal Di rumah dinas. .sampai sekarang masih terjaga 🙂

    BalasHapus