Sabtu, 26 Maret 2016

Yang Tidak Baru di Kotabaru

Sekalipun namanya Kotabaru, namun kawasan itu sejatinya telah hadir semenjak zaman Belanda dengan bangunan-bangunan lama yang terdiam bisu menyaksikan wajah kawasan sarat nilai sejarah itu yang terus berubah mengikuti geliat zaman. Inilah cerita saya mengenai jejak kota taman idaman orang Belanda di Yogyakarta tempo dulu….

Jalan M.Faridan Noto yang melintang di Kotabaru siang itu ramai lancar seperti biasa. Berkat lebatnya daun-daun pohon peneduh yang tumbuh di tengah jalan, panasnya matahari menjadi tak begitu terasa. Ya, siang itu saya sedang menjajal menelusuri berbagai jejak sejarah di kawasan yang secara administratif menjadi sebuah kelurahan tersendiri dibawah kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Kawasan itu di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Terban, dibatasi dengan jalan Jenderal Sudirman. Di sebelah timur, ia berbatasan dengan kelurahan Klitren yang dibatasi dengan jalan Wahidin Sudirohusodo, kemudian Kali Code di sebelah barat menjadi perbatasan alami Kotabaru dengan Kelurahan Gowongan. Sementara itu, jalur kereta di sebelah selatan menjadi batas Kotabaru dengan Kelurahan Tegalpanggung yang sudah masuk kecamatan lain. Menjelajahi kawasan Kotabaru merupakan petualangan tersendiri bagi saya karena bukanlah perkara mudah menjelajahi sebuah kawasan urban yang ramai oleh lalu lalang kendaraan dengan fasilitas pedestrian yang sekenanya. 
Kawasan Kotabaru dilihat dari jembatan Gondolayu. Rumah besar di kejauhan kini menjadi Museum Sandi.
Baru memulai perjalanan, saya segera bersua dengan sebuah rumah tua berlantai dua yang kini lestari menjadi Museum Sandi. Setelah puas melihat-lihat koleksi yang tersaji di dalam, saya berdiri sejenak di balkonnya yang mencuat. Dari sini, Gunung Merapi terlihat malu-malu menunjukan kecantikannya yang sayangnya mulai tertutup oleh gedung-gedung baru. Lekukan Sungai Code yang membelah kota Yogyakarta juga terlihat dari sini. Sungguh betapa beruntungnya orang yang dulu bisa menempati rumah besar nan cantik dengan suguhan pemandangan indah ini. Ya, Kotabaru sejatinya ialah kawasan hunian elit untuk orang-orang Belanda yang beruntung saja dan akhirnya di balkon itu saya tercenung….
Gereja Abu Bakar Ali pada tahun 1937. Pada masa penjajahan Jepang, gereja ini diubah menjadi gudang. Sementara itu para rohaniawan yang melayani di sini diinternir oleh Jepang (sumber : Djocja Solo halaman 140).
Perempatan Gramedia Sudirman sekitar tahun 1930 (sumber : Djocja Solo halaman 148).
Mari kembali ke masa silam, ketika kawasan ini masih bernama Nieuwe Wijk yang dalam bahasa Belanda secara harfiah berarti “kota baru” ; nama yang masih dipakai hingga sekarang. Mengapa ia dinamakan demikian ? Alkisah di penghujung abad ke 20, industri gula di Yogyakarta sedang bermekaran bak cendawan di musim hujan. Pertumbuhan ini berdampak dengan semakin banyaknya orang barat yang hadir ke sini. Mereka tak hanya terjun di sektor industri gula saja, namun juga di sektor lain seperti kesehatan, pendidikan, dan jasa. Seturut dengan meningkatnya pertumbuhan populasi orang barat, kebutuhan akan hunian yang nyaman pun semakin mendesak. Oleh sebab itulah, Cornelis Canne selaku residen Yogyakarta pada waktu itu meminta izin kepada Sultan Hamengkubuwono VII agar diperkenankan membuka sebuah kawasan permukiman orang yang baru. Sebuah lahan sepi yang terletak di pinggir timur Kali Code segera menjadi pilihan sehingga sewaktu-waktu dapat dimekarkan serta suasananya masih tenang. Lahan itu juga berdekatan dengan fasilitas transportasi umum yang sudah ada seperti Stasiun Lempuyangan sehingga kebutuhan akan moda transportasi menjadi terjamin. Di lahan itu, selain hendak dibangun tempat tinggal juga dibangun sarana lain untuk memanjakan penghuninya seperti sekolah, rumah sakit, gereja, dan rekreasi. Karena ia dibangun di lahan yang baru dibuka dan fasilitas yang ada membuat tempat itu seperti sebuah kota kecil, maka tempat itu dinamakan Nieuwe Wijk, Kotabaru…
Denah kawasan Kotabaru. 
Keterangan. 27 : Militair Hospital (RS DKT).32 : Normaalschool voor Inlandsche onderwijzers (SMP N 5 Yogyakarta). 33 : A.M.S (SMAN 3 Yogakarta).34 : Europesche Lagere School (SD N Ungaran).35 : Kolese Santo Ignatius.36 : Gereformerdee Kerk (Gereja HKBP).
Untuk memenuhi rencana ambisius tersebut, pada tahun 1916, dibentuklah Departement van Sultanaat Werken (dinas pekerjaan umum kesultanan) dan Comisie van Grounbedrijf  (Komisi Penggunaan Tanah ). Mereka kemudian bekerja sama dengan biro perumahan Sitsen en Louzada untuk segera memulai pembebasan dan pengaplingan lahan. Desain tata ruang kawasan itu dirancang oleh arsitek Belanda terkenal pada waktu itu, Ir. Thomas Karsten (Fakih. Farabi, 2006; 161) dengan mengadopsi konsep kota kebun atau garden city yang dicetuskan oleh arsitek Ebenezer Howard dari Inggris. Sebelum Kotabaru, konsep tersebut sukses diterapkan di Hindia-Belanda pada kawasan Menteng di Jakarta (Adolf Heuken.2001). Perbedaan konsep garden city dengan konsep permukiman sebelumnya terletak pada bagaimana menciptakan sebuah kawasan hunian yang membuat penghuninya merasa tinggal di dalam kebun yang penuh dengan tanaman hijau. Selain itu, pembangunan kawasan Kotabaru direncanakan dengan matang yang secara secara rinci dijelaskan dalam Rijksblaad van Sultanaat Djogjakarta 1917 No. 12. Ketika ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, beberapa bangunan dijadikan kantor kementerian atau tempat tinggal pejabat tinggi. Contohnya saja adalah Museum Sandi ini yang dulu dipakai sebagai Kantor Kementerian Luar Negeri.
Jln.Suroto yang membelah kawasan Kotabaru. Di tengah jalan terdapat Boulevard yang selain menambah keindahan juga sebagai peneduh jalan.
Pertigaan Mataram Bouelvaard ( Jalan Suroto) dengan Sindoro Laan ( sekarang Jalan Supadi) (sumber : Djocja Solo halaman 147).
Raungan kendaraan yang melintas segera menyadarkan saya dari lamunan tadi. Dari Museum Sandi, saya berjalan mengikuti jalan Prau. Dari jalan Prau, perjalanan saya teruskan ke Jalan I Dewa Nyoman Oka yang tampak sedikit berbelok. Bukannya kenapa-kenapa. Jalan-jalan yang membelah kawasan Kotabaru sengaja dibuat tidak dalam pola tegak lurus atau rectangular, namun dibuat sedikit menyerupai kurva yang melengkung, menghasilkan pola radial yang melingkari sebuah taman yang menjadi titik pusat kawasan ( taman ini sekarang menjadi stadion Kridosono). Dengan pola jalan seperti ini, maka sembari orang berjalan, mereka dapat menikmati indahnya rumah tanpa perlu berhenti. Berdasarkan jenisnya, jalan di Kotabaru dibagi menjadi dua jenis, yakni laan dan boulevardLaan adalah jalan yang pinggirannya ditanami dengan barisan pohon peneduh. Sementara boulevard adalah jalan yang ditengahnya memiliki taman yang memanjang. Kotabaru sendiri memiliki tiga buah Boulevard, yakni Sultan Boulevard, Mataram Bouelvard dan Boulevard Jonquiere atau kadang disebut Kerkweg. Selain itu masih ada satu lagi jenis jalan, yaitu weg atau jalan biasa.

Pemandangan Kotabaru tempo doeloe dilihat dari udara. Nampak jembatan Kewek yang membelah sungai Code dan Kolese Santo Ignatius (sumber : Djocja Solo halaman 146).
Di jalan itu, terlihat sebuah masjid besar yang dibangun sekitar tahun 1950an. Masjid yang bernama Masjid Syuhada itu didirikan sebagai tanda para pemuda yang gugur pada peristiwa penyerbuan Kotabaru yang terjadi pada tanggal 6-7 Oktober 1945. Tragedi itu bermula ketika para pemuda berusaha menyerbu markas tentara Jepang di Kotabaru yang belum kembali ke tanah airnya. Pada masa penjajahan Jepang, beberapa bangunan di Kotabaru dijadikan gudang senjata, kamp internir, dan markas petinggi militer Jepang. Tatkala mereka hendak menyerbu salah satu markas untuk melucuti senjata, tiba-tiba saja senapan mesin memberondongkan pelurunya secara membabi buta ke gerombolan pemuda tadi sehingga banyak pemuda yang gugur pada peristiwa serbuan itu. Selain dibangunkan sebuah masjid,  peristiwa tadi juga diabadikan dengan menjadikan nama-nama pemuda yang gugur sebagai nama-nama jalan yang ada di Kotabaru.

Gereformerdee Kerk (kini Gereja HKBP). Terlihat bagian depan gereja belum ada tambahan menara seperti yang ada sekarang (Sumber : Colonialarchitecture.eu).
Di jalan itu, tampak sebuah bangunan gereja tua HKBP yang menempati bekas gereja Belanda tua, Gereeformerde Kerk. Karena para penghuni Kotabaru merupakan masyarakat Eropa yang mayoritas beragama Nasrani, maka ditengah-tengah kawasan Kotabaru, didirikan dua gereja untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka, yakni Gereeformerde Kerk untuk umat Kristen dan Gereja Santo Antonius untuk umat Katolik. Gereja Katolik Santo Antonius memiliki cerita sejarah tersendiri. Sebelum gereja itu dibangun, sudah ada Kolese santo Ignatius dan seminari tinggi yang dirintis oleh Romo F.Strater sejak tahun 1924. Bangunan gedung kolese itu masih ada sekalipun kini telah tersembunyi di balik gedung baru dan pohon-pohon besar. Sebelum gereja itu dibangun, umat Katolik di Kotabaru mengadakan ibadah di rumah tuan Perquin (di depan Masjid Syuhada sekarang). Gereja Santo Antonius sendiri baru dibangun pada tahun 1926 dengan desain dari biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuyper. Langgam Art Deco cukup kentara pada gereja itu. Sementara itu, menara lonceng gereja itu dipermanis dengan hiasan windwijzers (penunjuk arah angin) berbentuk ayam jago. Pada masa pendudukan Jepang, kolese yang lokasinya di belakang gereja dijadikan interniran wanita dan suster-suster Belanda, sementara gedung gereja dialihkan sebagai gudang. Banyak patung-patung orang suci, serta perabotan lainnya yang dahulu menghiasi interior gereja raib. Setelah kemerdekaan, gereja ini dipakai kembali sebagai tempat ibadah (DR. Jan Weitjens SJ.dkk, 1995;37-38).
Gereja Santo Antonius Kotabaru yang terlihat tinggi berkat menara lonceng di bagian depan.
Desain awal Gereja Santo Antonius Kotabaru oleh biro arsitek Hukswit, Fermont, en Cuypers (sumber :  Het Nederlandsche en Nederlandsch-Indische huis, oud en nieuw tahun 1928, volume 017, halaman 70 )
Kolese Santo Ignatius.
Dari perempatan yang ada di dekat kolese, saya berbelok ke Jalan Ungaran. Nama jalan di Kotabaru aslinya diambil dari nama gunung-gunung yang ada di pulau Jawa seperti Soembing-laan, Merapi-laan, Wilis-laan, Oengaran-laan, Merbaboe-laan, Lawoe-laan,Praoe-laan, dan Telomojolaan untuk memberi kesan romantis. Setelah kemerdekaan, banyak nama-nama jalan itu yang digantikan dengan nama pahlawan nasional. Jalan-jalan di Kotabaru yang namanya masih bertahan antara lain Jalan Lawu, Jalan Prau, Jalan Merbabu, dan Jalan Ungaran.
Ragam rumah kuno di Kotabaru.
Di sepanjang Ungaran, masih terdapat beberapa rumah-rumah tua dari era ketika Kotabaru masih bernama Nieuwe Wijk. Rumah-rumah itu berdiri di kapling-kaping yang sudah disediakan oleh pengembang. Kapling-kapling itu dijual kepada perseorangan atau pengembang lain setelah jalan-jalan di Kotabaru selesai dibuat.
Rumah kembar.
Apabila diamati, hunian-hunian di Kotabaru terlihat lebih lugas dibandingkan dengan rumah-rumah Belanda dari era sebelumnya yang biasanya terlihat megah dengan pilar-pilar besar di beranda depannya. Perubahan bentuk ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama ialah mulai berdatangnya perempuan-perempuan dari Eropa yang lebih suka tinggal di rumah bergaya barat modern. Kedua ialah kedatangan tenaga arsitek professional dari Eropa yang memperkenalkan arsitektur modern dengan penyesuaian iklim tropis, sehingga ruang di dalam rumah bisa dibagi dengan praktis agar bisa menghemat lahan karena harga lahan pada waktu itu semakin mahal. Ketiga ialah karena Kotabaru sendiri sudah dikonsepkan sebagai sebagai sebuah kawasan garden city modern, sehingga menjadi sebuah keniscayaan jika bangunan-bangunan di dalamnya juga harus merepresentasikan kemodernan.
Sebuah rumah di Tjode Weg. Rumah ini masih ada hingga sekarang. Lokasi sekarang ada di jalan Ahmad Jazuli (Sumber : Colonialarchitecture.eu).

Foto lama sebuah rumah bertingkat dua yang sekarang menjadi Bank BTN  Rumah ini sebelum dipakai bank dikenal sebagai rumah kentang karena di puncak atap ada hiasan yang berbentuk seperti kentang (sumber : colonialarchitecture.eu).

Rumah insinyur Vinvcen Rogers van Romondt, arkeolog di Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) di Karreweg (sekarang jalan Krasak). Rogers van Romondt adalah arkeolog yang memugar Kraton Ratu Boko pada tahun 1938. Saat ini digunakan sebagai asrama mahasiswa asal Kalimantan Selatan. Terlihat ada penambahan kuncungan pada fasad (sumber : colonialarchitecture.eu)
Rumah-rumah di Kotabaru dibagi menjadi dua jenis, yakni rumah bertingkat satu dan rumah bertingkat dua. Rumah bertingkat dua umumnya ditinggali oleh warga kelas atas. Setiap rumah di Kotabaru dibuat dengan karakter tersendiri kendati di jalan yang sama juga dapat ditemukan dua rumah atau lebih yang bentuknya serupa.
Sebuah rumah di jalan Abu Bakar Ali. Rumah ini dibangun pada tahun 1918 untuk anggota keluarga Sultan HB VIII dan masih ditinggali oleh keturunannya. Selain orang-orang Eropa, kawasan Kotabaru juga dihuni oleh keluarga bangsawan pribumi dan orang-orang Tionghoa kaya (Leushuis ,2014; 199).
Bangunan berbentuk villa tunggal yang megah ini sekarang menjadi Museum Sandi. Rumah megah ini berada di percabangan jalan Faridan dan jalan Sunaryo. Rumah bertingkat dua ini dapat terlihat jelas dari jembatan Gondolayu. Dari balkon lantai dua kita bisa melihat pemandangan Gunung Merapi. Di awal kemerdekaan, rumah ini menjadi kantor kementrian luar negeri.
Sesuai dengan konsep Kotabaru sebagai sebuah Garden City, maka halaman depan rumah di kawasan ini ditanami dengan berbagai jenis pohon, terutama pohon-pohon penghasil buah seperti rambutan, belimbing manis dan nangka serta pohon dengan bunga yang baunya harum seperti pohon tanjung. Sehingga halaman depan rumah yang ada di Kotabaru menjelma menjadi kebun hijau kecil nan rindang.
Biara susteran Amal Kasih Darah Mulia yang dulunya merupakan villa milik Liem Han Tjioe di jalan Abu Bakar Ali. Bangunan yang dibangun pada tahun 1920 ini terlihat megah dengan keberadaan dua menara kecil di bagian depan. Di atas pintu dan jendela,terdapat hiasan kaca patri. Interior rumah ini, termasuk furniturnya masih dipertahankan dengan baik meski beberpa bagian harus dihilangkan seperti pelapis kayu yang digunakan untuk menutu tembok ruangan karena dianggap terlalu mewah untuk ukuran suster.
Di sekitar Kotabaru, terdapat perkampungan tempat tinggal orang pribumi seperti Pengok. Penduduk di perkampungan ini banyak yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, supir, tukang kebun atau pengantar pesan untuk orang-orang barat yang tinggal di Kotabaru. Karena para pembantu diambil dari kampung-kampung yang berada di dekat Kotabaru, maka bangunan tambahan di samping atau belakang rumah untuk kamar pembantu tidak diperlukan lagi (Passhier. Cor, 2002; 124). Dalam buku Cars, Conduit and Kampong, dijabarkan bahwa banyak orang-orang pribumi yang ternyata merasa was-was ketika mereka berjalan melintasi kawasan ini. Sebabnya beragam, dari takut terhadap anak-anak Belanda yang kadang berbuat jahil terhadap penduduk pribumi yang sedang melintas hingga takut dengan anjing galak peliharaan orang-orang Belanda. Sekalipun demikian, masih ada juga anak-anak pribumi yang cukup berani bermain dengan anak-anak orang barat yan tinggal di sini (Fakih. Farabi, 2006; 162-163).
Europesche Lagere School yang kini menjadi SDN Ungaran.
Di jalan Ungaran, terdapat SD Ungaran yang menempati bekas gedung sekolah Europesche Lagere School. Selain SD Ungaran, di seputaran Kotabaru, juga ditemukan berbagai gedung-gedung sekolah tua. Sekolah-sekolah itu didirikan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan para penghuni di kawasan ini. Selain Europesche Lagere School yang kini menjadi SD N Ungaran, ada pula Normaalschool voor Inlandsche onderwijzers yang kini menjadi SMP N 5, Christelijke M.U.L.O yang kini menjadi SMA Bopkri, dan Algemenee Midlebaar School yang kini menjadi SMA N 3.
Normaalschool voor Inlandsche onderwijzers yang kini menjadi SMP N 5.
Algemenee Midlebaar School yang kini menjadi SMA N 3.
Christelijke M.U.L.O yang kini menjadi SMA Bopkri. Dahulu sempat menjadi Akademi Militer.
Selain itu, sarana pendidikan, di Kotabaru juga dibangun sarana kesehatan yang lokasinya sedikit agak ke pinggir seperti Petronella Hospital yang kini menjadi RS Bethesda dan rumah sakit militer (kini menjadi  RS Dr. Sutarto). Bagi mereka yang di bagian organ matanya memiliki gangguan, mereka bisa mengobatinya di Prinses Julian Ooglijdersgatshuis atau kini menjadi RS. Dr Yap yang berada seratus meter ke utara. Dengan dekatnya berbagai sarana kesehatan dan pendidikan, masyarakat Kotabaru mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang jauh lebih bagus dibandingkan mereka yang tinggal di kawasan lain.
RS. DKT Dr. Soetarto. Di bagian fasad depan terdapat tulisan "ANNO MCMXIII" yang menandakan bahwa rumah sakit ini dibuka pada tahun 1913.

Petronella Hospital yang kini menjadi Rumah Sakit Bethesda. Rumah sakit ini didirikan oleh para zending.
RS.Mataa Dr Yap (dulu Prinses Julian Ooglijdersgatshuis ). Rumah sakit mata yang didirikan pada tahun 21 November 1922 oleh Sultan HB VIII ini terlihat menonjol dengan adanya menara kecil di bagian puncak. Di pintu masuk kita bisa melihat prasasti peresmian rumah sakit ini. Dana pembangunan rumah sakit ini diperoleh dari CVO (Centrale Veereniging tot Bevordering der Oogheelkunde in Nederlandsch Indie).
Sketsa kompleks Rumah Sakit dr. Yap oleh biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuypers pada tahun 1923 ( sumber : Moderne Bouwwerken in Indie).
Berdiri di tengah-tengah pertigaan Jalan Ungaran dengan Jalan M. Faridan Noto, gardu listrik tinggalan A.N.I.E.M terlihat merana dengan coretan vandal yang menempel di dindingnya. Listrik itu merupakan satu dari sekian sarana yang memanjakan penghuni Kotabaru seperti pipa gas, telepon, air bersih dan selokan pembuangan atau drainage untuk pembuangan limbah rumah tangga dan air hujan juga sudah disediakan. Selokan yang menembus tanah di bawah jalan-jalan di Kotabaru telah dirancang sedemikian rupa, dimana selokan-selokan kecil akan mengalir air atau limbah ke selokan yang lebih besar yang kemudian berakhir di Sungai Code. Dahulu, selokan itu secara rutin dibersihkan secara gotong royong oleh warga Kotabaru sehingga banjir jarang menggenangi kawasan itu.
Bekas gardu listrik di pertigaan jalan Faridan M. Noto dan jalan Ungaran. 
Dengan lengkapnya sarana dan prasarana, Kotabaru akhirnya menjadi hunian idaman nan nyaman untuk masyarakat barat. Tentunya hanya yang mampu untuk membeli tanah dan membangun rumah saja yang dapat berhuni di sini. Tidak heran jika sebagian besar penghuni di sini adalah para pegawai professional, pengusaha, hingga bangsawan kraton Yogyakarta. Bahkan saking nyamannya, konon para administrateur atau kepala pabrik gula di daerah Yogyakarta lebih memilih tinggal di Kotabaru daripada tinggal di dekat lokasi pabrik. Agar akses penghuni Kotabaru dengan pusat pertokoan Malioboro menjadi mudah, maka pada tahun 1923 dibangun sebuah jembatan baru yang kini dikenal sebagai Jembatan Kewek (Leushuis. Emile, 2014; 199).
Sebuah rumah di jln. Sajiono. Hal yang menarik dari rumah ini adalah adanya tulisan "Huize Beran" di bagian depan. Apakah ada hubungannya dengan PG Beran di Sleman ? Apakah rumah ini dulunya dihuni oleh pemilik PG Beran mengingat dulu banyak pemilik PG di Yogyakarta yang tinggal di Kotabaru ?
Saya kini berada di Stadiun Kridosono, jantung  kawasan Kotabaru. Sebelum Stadiun Kridosono ada, di sini masih berupa taman dan lapangan terbuka yang dilengkapi dengan sarana rekreasi dan olahraga seperti lapangan sepakbola, lapangan tenis, dan kolam renang. Lapangan ini seolah menjadi alun-alun sekunder Yogyakarta karena di sini dihelat berbagai acara-acara penting seperti peringatan ulang tahun ratu Belanda.
Peringatan 40 tahun naik tahtanya Ratu Wilhelmina pada bulan September 1938 di Bijleveld-Stadion atau sekarang Stadion Kridosono (sumber : Djocja Solo halaman 147).

Kkolam renang yang saat ini menjadi kolam renan Umbang Tirto, sarana rekreasi lain di Kotabaru (sumber : Djocja Solo halaman 147). 
Sepanjang menempuh jalan di Kotabaru, saya membayangkan bagaimanakah suasana Kotabaru dahulu di kala senja, tatkala si tuan rumah duduk begitu santainya di beranda depan rumah, menikmati suasana tenangnya sore hari Kotabaru. Anak-anak pribumi hendak pulang setelah seharian bermain dengan anak-anak kulit putih. Terlihat pula para pembantu yang pulang ke rumah setelah merampungkan pekerjaan membersihkan rumah dan memasak. Seorang tukang kebun sedang memotong rumput dan ranting pohon yang tumbuh subur. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara kereta api yang baru saja tiba di Stasiun Lempuyangan. Kicauan burung yang pulang ke sarangnya juga turut mewarnai senja Kotabaru. Di penghujung senja, pijar lampu listrik yang ada di setiap rumah mulai dinyalakan. Kotabarupun sedikit gemerlap di bawah langit malam. Ya, Kotabaru di masa lalu benar-benar penuh dengan romantisme.

Nun tak jauh dari Stadion Kridosono, terdapat sebuah kafe yang menempati sebuah rumah tua, dimana di halam depannya terlihat para pemuda yang sedang asik nongkrong. Seturut dengan pergerakan zaman, Kotabaru yang semula berada di pinggiran, dewasa ini telah menjadi bagian dari pusat kota Yogyakarta. Kotabaru pun segera dilirik menjadi lokasi usaha, apalagi letaknya strategis walaupun pajak bumi bangunan di sini amatlah tinggi. Atas nama pertumbuhan ekonomi, banyak bangunan tua yang akhirnya pasrah tergilas, berganti rupa menjadi gedung-gedung komersil.
Sebuah rumah di jln. Atmosukarto yang diadaptasi menjadi kantor salah satu perusahaan telekomunikasi.
Tak sekedar itu, hilangnya rumah-rumah lama juga diakibatkan oleh pergesearan selera pemiliknya, yang memilih merombak rumahnya dengan gaya yang dianggap lebih “modern”. Hal itu dikritik begitu keras oleh Adolf Heuken dalam bukunya, Menteng ; 'Kota Taman Pertama di Indonesia'. Kawasan Menteng sendiri baik dari segi karakter maupun nasibnya sekarang memiliki persamaaan dengan Kotabaru. Menurut Heuken, para pemilik rumah itu dianggap miskin budaya. Mereka kurang mampu merasakan keindahan, seni dan keselarasan. Rumah lama dibongkar “ hanya karena dianggap ketinggalan zaman “ dan digantikan dengan rumah baru “ yang dari segi bentuk memang lebih modern, namun norak dan mewah tanpa selera “. Rumah-rumah itu pada akhirnya hanya merusak citra kawasan saja (Heuken, Adolf. 2001; 40).
Rumah-rumah tua yang diadaptasi untuk restoran, cafe, factory outlet, dan tempat kursus.
Untungnya, masih ada beberapa pemilik bangunan tua di Kotabaru yang sadar akan pentingnya pelestarian. Beberapa bangunan ada yang masih dipertahankan utuh oleh pemiliknya. Sementara beberapa bangunan diadaptasi menjadi ruang usaha dengan sedikit penyesuaian.

Permasalahan lain ialah mulai hilangnya kebun-kebun di depan rumah. Pohon-pohon peneduh di depan rumah dihilangkan. Pagar depan yang dulunya dibuat rendah supaya pemilik rumah dapat menikmati suasana lingkungan di sekitarnya, kini ditinggikan dengan alasan keamanan. Hal-hal semacam itulah yang membuat karakter Kotabaru sebagai Garden City perlahan hilang. Jika hal itu dibiarkan terus menerus, maka selaras dengan namanya, Kotabaru akan sungguh-sungguh menjadi baru, namun kali ini bukan baru yang istimewa...

Begitulah ulasan saya mengenai Kotabaru, sebuah kawasan yang memiliki karakter unik dan mengandung nilai sejarah tinggi. Sudah selayaknya Kotabaru menjadi kawasan bersejarah yang patut dilindungi kendati kenyataan di lapangan berkata lain. Oleh karena itu,  pemegang kebijakan diharapkan dapat menciptakan regulasi dan rencana pengelolaan yang berkelanjutan dan tepat, sehingga kawasan bersejarah ini tak sekedar menjadi catatan tertulisa saja, namun juga dapat dilihat dan dirasakan oleh anak cucu suatu hari nanti…..

Referensi
Andrisjantiromli, Inajati dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta : Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Cor, Passchier. 2002. " Kota Taman dan Bungalo Pinggir Kota " dalam Indonesia Heritage ; Arsitektur. Jakarta : Penerbit Widyadara.

DR.Jan Wietjens SJ.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.

Fakih, Farabih. 2006. " Kotabaru and the Housing Estate as Bulwark against the
Indigenization of Colonial Java " dalam  Colembijn, Freek dan  Cote, Joost. 2006, Cars, Conduit, and Kampongs. Leiden : Brill

Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu. 

Heuken S.J, Adolf. 2001. Menteng. 'Kota Taman Pertama di Indonesia'. Jakarta : Yayasan Loka Cipta Caraka.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

4 komentar:

  1. Halo mas.. postingan dan pembahasan yang menarik
    kalau boleh tau, peta lama daerah Kotabaru dpat darimana ya kak?
    soalnya sedang mencari peta lama Kotabaru buat tugas
    Terimakasih

    BalasHapus
  2. Saya dapat dari maps.leiden.edu. mangga cari. di sana ada banyak peta2 lama

    BalasHapus
  3. Izin share di FB saya ya mas...

    BalasHapus