Sabtu, 26 Maret 2016

Yang Tidak Baru di Kotabaru

Sekalipun namanya Kotabaru, namun kawasan itu sejatinya telah hadir semenjak zaman Belanda. Kawasan sarat nilai sejarah itu menyimpan segudang bangunan-bangunan lama yang terdiam bisu menyaksikan wajah kawasan yang terus berubah mengikuti geliat zaman. Inilah cerita saya mengenai jejak kota taman idaman orang Belanda di Yogyakarta tempo dulu….
Pemandangan Kotabaru tempo doeloe dilihat dari udara. Foto menghadap ke timur (sumber : Djocja Solo Beeld van Vorstenlanden halaman 146).
Jalan M.Faridan Noto yang melintang di Kotabaru siang itu ramai lancar seperti biasa. Panasnya matahari di atas kepala tak begitu terasa berkat rimbunnya daun-daun pohon peneduh yang tumbuh di tengah jalan. Siang itu saya sedang menjajal menelusuri berbagai jejak sejarah di kawasan yang secara administratif menjadi sebuah kelurahan tersendiri dibawah kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Kawasan Kotabaru di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Terban, dengan jalan Jenderal Sudirman sebagai batasnya. Di sebelah timur, ia berbatasan dengan kelurahan Klitren yang dipisahkan oleh jalan Wahidin Sudirohusodo, kemudian Kali Code di sebelah barat menjadi perbatasan alami Kotabaru dengan Kelurahan Gowongan. Sementara itu, jalur kereta di sebelah selatan menjadi batas Kotabaru dengan Kelurahan Tegalpanggung yang sudah masuk kecamatan lain. Menjelajahi kawasan Kotabaru merupakan petualangan tersendiri bagi saya karena bukanlah perkara mudah menjelajahi sebuah kawasan urban yang ramai oleh lalu lalang kendaraan dengan fasilitas pedestrian yang sekenanya. 
Kawasan Kotabaru dilihat dari jembatan Gondolayu. Rumah besar di kejauhan kini menjadi Museum Sandi.
Baru memulai perjalanan, saya segera bersua dengan sebuah rumah tua berlantai dua yang kini lestari menjadi Museum Sandi. Setelah puas melihat-lihat koleksi yang tersaji di dalam, saya berdiri sejenak di balkon Museum Sandi yang menghadap ke utara. Dari sini, tersuguh panorama Gunung Merapi yang terlihat begitu indah. Sayang, keindahan itu mulai tertutup oleh gedung-gedung baru yang kian menjulang di langit Yogyakarta. Lekukan Sungai Code yang membelah kota Yogyakarta juga terlihat dari sini. Sungguh betapa beruntungnya orang yang dulu bisa menempati rumah besar nan cantik dengan suguhan pemandangan indah ini. Ya, Kotabaru sejatinya ialah kawasan hunian elit untuk orang-orang Belanda yang beruntung saja dan akhirnya di balkon itu saya tercenung….
Perempatan Gramedia Sudirman sekitar tahun 1930 (sumber : Djocja Solo halaman 148).
Mari kembali ke masa silam, ketika kawasan ini masih bernama Nieuwe Wijk yang dalam bahasa Belanda secara harfiah berarti “kota baru” ; nama yang masih dipakai hingga sekarang. Mengapa ia dinamakan demikian ? Alkisah di penghujung abad ke 20, industri gula di Yogyakarta sedang bermekaran bak cendawan di musim hujan. Pertumbuhan ini berdampak dengan semakin banyaknya orang barat yang hadir ke sini. Mereka tak hanya terjun di sektor industri gula saja, namun juga di sektor lain seperti kesehatan, pendidikan, dan jasa. Seturut dengan meningkatnya pertumbuhan populasi orang barat, kebutuhan akan hunian yang nyaman pun semakin mendesak. Oleh sebab itulah, Cornelis Canne selaku residen Yogyakarta pada waktu itu meminta izin kepada Sultan Hamengkubuwono VII agar diperkenankan membuka sebuah kawasan permukiman orang yang baru. Sebuah lahan sepi yang terletak di pinggir timur Kali Code segera menjadi pilihan sehingga sewaktu-waktu dapat dimekarkan serta suasananya masih tenang. Lahan itu juga berdekatan dengan fasilitas transportasi umum yang sudah ada seperti Stasiun Lempuyangan sehingga kebutuhan akan moda transportasi menjadi terjamin. Di lahan itu, selain hendak dibangun tempat tinggal juga dibangun sarana lain untuk memanjakan penghuninya seperti sekolah, rumah sakit, gereja, dan rekreasi. Dengan demikian, Kotabaru atau Nieuwe Wijk tidaklah sekedar nama belaka karena ia dibangun di lahan yang baru dibuka dan fasilitas yang ada membuat tempat itu menjelma seperti sebuah kota baru....
Denah kawasan Kotabaru. 
Keterangan. 27 : Militair Hospital (RS DKT).32 : Normaalschool voor Inlandsche onderwijzers (SMP N 5 Yogyakarta). 33 : A.M.S (SMAN 3 Yogakarta).34 : Europesche Lagere School (SD N Ungaran).35 : Kolese Santo Ignatius.36 : Gereformerdee Kerk (Gereja HKBP).
Untuk memenuhi rencana ambisius tersebut, pada tahun 1916, dibentuklah Departement van Sultanaat Werken (dinas pekerjaan umum kesultanan) dan Comisie van Grounbedrijf  (Komisi Penggunaan Tanah ). Pembangunan kawasan Kotabaru dimatangkan rencananya dengan mengeluarkan Rijksblaad van Sultanaat Djogjakarta 1917 No. 12. Biro perumahan Sitsen en Louzada kemudian digandeng untuk segera memulai urusan pembebasan dan pengaplingan lahan. Desain tata ruang kawasan itu dirancang oleh arsitek Belanda terkenal pada waktu itu, Ir. Thomas Karsten (Fakih. Farabi, 2006; 161) dengan mengadopsi konsep kota kebun atau garden city yang dicetuskan oleh arsitek Ebenezer Howard dari Inggris.  Sebelum Kotabaru, konsep tersebut sukses diterapkan di Hindia-Belanda pada kawasan Menteng di Jakarta (Adolf Heuken.2001). Konsep garden city pada dasarnya adalah menanam tanaman hijau di kawasan urban untuk menghidupkan romansa nuansa rural dan memadukannya dengan penataan tata kota modern.
Jln.Suroto yang membelah kawasan Kotabaru. Di tengah jalan terdapat Boulevard yang selain menambah keindahan juga sebagai peneduh jalan.
Pertigaan Mataram Bouelvaard ( Jalan Suroto) dengan Sindoro Laan ( sekarang Jalan Supadi) (sumber : Djocja Solo halaman 147).
Raungan kendaraan yang melintas segera menyadarkan saya dari lamunan tadi. Dari Museum Sandi, saya berjalan mengikuti jalan Prau. Dari jalan Prau, perjalanan saya teruskan ke Jalan I Dewa Nyoman Oka yang tampak sedikit berbelok. Bukannya kenapa-kenapa. Jalan-jalan yang membelah kawasan Kotabaru sengaja dibuat tidak dalam pola tegak lurus atau rectangular, namun dibuat sedikit menyerupai kurva yang melengkung, menghasilkan pola radial yang melingkari sebuah taman yang menjadi titik pusat kawasan ( taman ini sekarang menjadi stadion Kridosono). Dengan pola jalan seperti ini, maka sembari orang berjalan, mereka dapat menikmati indahnya rumah tanpa perlu berhenti. Berdasarkan jenisnya, jalan di Kotabaru dibagi menjadi dua jenis, yakni laan dan boulevardLaan adalah jalan yang pinggirannya ditanami dengan barisan pohon peneduh. Sementara boulevard adalah jalan yang ditengahnya memiliki taman yang memanjang. Kotabaru sendiri memiliki tiga buah Boulevard, yakni Sultan Boulevard, Mataram Bouelvard dan Boulevard Jonquiere atau kadang disebut Kerkweg. Selain itu masih ada satu lagi jenis jalan, yaitu weg atau jalan biasa.

Di jalan itu, terlihat sebuah masjid besar yang dibangun sekitar tahun 1950an. Masjid yang bernama Masjid Syuhada itu didirikan sebagai untuk mengenang para pemuda yang gugur pada peristiwa penyerbuan Kotabaru yang terjadi pada tanggal 6-7 Oktober 1945. Tragedi itu bermula ketika para pemuda berusaha menyerbu markas tentara Jepang di Kotabaru yang belum kembali ke tanah airnya. Tatkala mereka hendak menyerbu salah satu markas untuk melucuti senjata, tiba-tiba saja senapan mesin memberondongkan pelurunya secara membabi buta ke gerombolan pemuda tadi sehingga banyak pemuda yang gugur pada peristiwa serbuan itu. Selain dibangunkan sebuah masjid, peristiwa tadi juga diabadikan dengan menjadikan nama-nama pemuda yang gugur sebagai nama-nama jalan yang ada di Kotabaru.

Gereformerdee Kerk (kini Gereja HKBP). Terlihat bagian depan gereja belum ada tambahan menara seperti yang ada sekarang (Sumber : Colonialarchitecture.eu).
Di jalan itu, tampak sebuah bangunan gereja tua HKBP yang menempati bekas gereja Belanda tua, Gereeformerde Kerk. Karena para penghuni Kotabaru merupakan masyarakat Eropa yang mayoritas beragama Nasrani, maka ditengah-tengah kawasan Kotabaru, didirikan dua gereja untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka, yakni Gereeformerde Kerk untuk umat Kristen dan Gereja Santo Antonius untuk umat Katolik. Gereja Katolik Santo Antonius memiliki cerita sejarah tersendiri. Sebelum gereja itu dibangun, sudah ada Kolese santo Ignatius dan seminari tinggi yang dirintis oleh Romo F.Strater sejak tahun 1924. Bangunan gedung kolese itu masih ada sekalipun kini telah tersembunyi di balik gedung baru dan pohon-pohon besar. Sebelum gereja itu dibangun, umat Katolik di Kotabaru beribadah di rumah tuan Perquin (di depan Masjid Syuhada sekarang). Gereja Santo Antonius sendiri baru dibangun pada tahun 1926 dengan desain dari biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuyper. Langgam Art Deco cukup kentara pada gereja itu dengan lubang angin berbentuk kotak kaku. Sementara itu, menara lonceng gereja itu dipermanis dengan hiasan windwijzers (penunjuk arah angin) berbentuk ayam jago yang bertengger di kemucaknya. Pada masa pendudukan Jepang, kolese yang lokasinya di belakang gereja dijadikan interniran wanita dan suster-suster Belanda, sementara gedung gereja dialihkan sebagai gudang. Pada masa itu juga, patung-patung orang suci dan perabotan lainnya yang dahulu menghiasi bagian dalam gereja raib. Sesudah kemerdekaan, gereja ini sekali lagi dipergunakan sebagai tempat ibadah (DR. Jan Weitjens SJ.dkk, 1995;37-38).
Gereja Santo Antonius Kotabaru yang terlihat tinggi berkat menara lonceng di bagian depan.
Desain awal Gereja Santo Antonius Kotabaru oleh biro arsitek Hukswit, Fermont, en Cuypers (sumber :  Het Nederlandsche en Nederlandsch-Indische huis, oud en nieuw tahun 1928, volume 017, halaman 70 )
Kolese Santo Ignatius.
Dari perempatan yang ada di dekat kolese, saya berbelok ke Jalan Ungaran. Nama jalan di Kotabaru dulunya diambil dari nama gunung-gunung yang terdapat di pulau Jawa seperti Soembing-laan, Merapi-laan, Wilis-laan, Oengaran-laan, Merbaboe-laan, Lawoe-laan,Praoe-laan, dan Telomojolaan. Tujuannya untuk memberi kesan romantis. Setelah kemerdekaan, banyak nama-nama jalan itu yang digantikan dengan nama pahlawan nasional. Jalan-jalan di Kotabaru yang namanya masih bertahan antara lain Jalan Lawu, Jalan Prau, Jalan Merbabu, dan Jalan Ungaran. 
Ragam rumah kuno di Kotabaru.
Di sepanjang Jalan Ungaran, masih terdapat beberapa rumah-rumah tua dari era ketika Kotabaru masih bernama Nieuwe Wijk. Rumah-rumah itu berdiri di lahan-lahan yang telah disediakan oleh pengembang. Luas lahan rumah-rumah di Kotabaru lebih kecil dibanding luas lahan rumah di era sebelumnya. Sebabnya adalah kian mahalnya harga material dan tanah. Pergeseran selera juga menjadi salah satu faktor, dimana orang yang semula menyukai hal-hal berbau megah dan besar, kini lebih menggemari hal-hal yang praktis dan sesuai kebutuhan. Setelah setelah kawasan Kotabaru selesai ditata, kapling-kapling tanah yang tidak terlalu luas itu dijual kepada perseorangan untuk dibangun rumah atau kepada pengusaha properti untuk disewakan. Djoko Soekiman dalam bukunya berjudul “Kebudayaan Indis” menceritakan bahwa mulanya pengusaha properti tidak yakin jika tanah yang disewakan sebesar f 125 perbulan itu akan laku. Namun khalayak menanggap baik dan rumah-rumah ini akhirnya laris ( Soekiman, 2014; 179 ). Secara kasat mata, hunian-hunian di Kotabaru terlihat lebih lugas dan ukurannya lebih menciut dibandingkan dengan rumah-rumah Belanda dari era sebelumnya yang biasanya terlihat megah dengan pilar-pilar besar di beranda depannya. Perubahan bentuk ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Antara lain mulai berdatangnya perempuan-perempuan dari Eropa yang lebih suka tinggal di rumah bergaya barat modern. Kedatangan perempuan kulit putih di Hindia-Belanda secara perlahan merombak susunan keluarga Eropa. Jika dulu seorang pria Eropa dapat mengawini lebih dari dua istri orang pribumi sehingga kamar yang disediakan harus banyak, kini dengan adanya perempuan Eropa mereka lebih memilih untuk memiliki satu istri sehingga kebutuhan kamar tak perlu banyak-banyak (Soekiman, 2014;179). Kehadiran tenaga arsitek yang mendapat pendidikan arsitektur dari Eropa juga turut mempengaruhi bentuk rumah di Kotabaru. Mereka, para arsitek terdidik itu, memperkenalkan gaya arsitektur modern dengan penyesuaian iklim tropis, sehingga ruang di dalam rumah bisa dibagi dengan praktis. Luas lahan yang dipakai dapat dikurangi sehingga dapat menghemat pengeluaran untuk membeli lahan karena harga lahan pada waktu itu semakin mahal. Selanjutnya adalah konsep Kotabaru sendiri yang sudah ditata sebagai sebagai sebuah kawasan garden city modern, sehingga menjadi sebuah keniscayaan jika bangunan-bangunan di dalamnya juga harus merepresentasikan kemodernan.
Rumah kembar.
Secara kasat mata, hunian-hunian di Kotabaru terlihat lebih lugas dan ukurannya lebih menciut dibandingkan dengan rumah-rumah Belanda dari era sebelumnya yang biasanya terlihat megah dengan pilar-pilar besar di beranda depannya. Perubahan bentuk ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Antara lain mulai berdatangnya perempuan-perempuan dari Eropa yang lebih suka tinggal di rumah bergaya barat modern. Kedatangan perempuan kulit putih di Hindia-Belanda secara perlahan merombak susunan keluarga Eropa. Jika dulu seorang pria Eropa dapat mengawini lebih dari dua istri orang pribumi sehingga kamar yang disediakan harus banyak, kini dengan adanya perempuan Eropa mereka lebih memilih untuk memiliki satu istri sehingga kebutuhan kamar tak perlu banyak-banyak (Soekiman, 2014;179). Kehadiran tenaga arsitek yang mendapat pendidikan arsitektur dari Eropa juga turut mempengaruhi bentuk rumah di Kotabaru. Mereka, para arsitek terdidik itu, memperkenalkan gaya arsitektur modern dengan penyesuaian iklim tropis, sehingga ruang di dalam rumah bisa dibagi dengan praktis. Luas lahan yang dipakai dapat dikurangi sehingga dapat menghemat pengeluaran untuk membeli lahan karena harga lahan pada waktu itu semakin mahal. Selanjutnya adalah konsep Kotabaru sendiri yang sudah ditata sebagai sebagai sebuah kawasan garden city modern, sehingga menjadi sebuah keniscayaan jika bangunan-bangunan di dalamnya juga harus merepresentasikan kemodernan.
Sebuah rumah di Tjode Weg. Rumah ini masih ada hingga sekarang. Lokasi sekarang ada di jalan Ahmad Jazuli (Sumber : Colonialarchitecture.eu).


Foto lama sebuah rumah bertingkat dua yang sekarang menjadi Bank BTN  Rumah ini sebelum dipakai bank dikenal sebagai rumah kentang karena di puncak atap ada hiasan yang berbentuk seperti kentang (sumber : colonialarchitecture.eu).


Rumah insinyur Vinvcen Rogers van Romondt, arkeolog di Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) di Karreweg (sekarang jalan Krasak). Rogers van Romondt adalah arkeolog yang memugar Kraton Ratu Boko pada tahun 1938. Saat ini digunakan sebagai asrama mahasiswa asal Kalimantan Selatan. Terlihat ada penambahan kuncungan pada fasad (sumber : colonialarchitecture.eu)
Selama puluhan tahun lamanya, Kotabaru menjadi hunia bagi warga kelas atas di Yogyakarta. Mereka dimanjakan dengan segala sarana dan prasarana yang tersedia serta akses jalan yang mudah. Namun mereka tak lama tinggal di situ karena Hindia-Belanda ditundukan oleh Jepang pada 1942. Pada masa penjajahan Jepang, beberapa bangunan di Kotabaru dijadikan gudang senjata, kamp internir, dan markas petinggi militer Jepang. Ketika Jepang hengkang, beberapa bangunan berpindah tangan ke orang Indonesia, terutama mereka yang dari kalangan priyayi. Lalu saat ibukota Republik Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta, beberapa bangunan di kawasan Kotabaru dijadikan sebagai kantor kementerian seperti Museum Sandi yangd dulu sempat menjadi kantot kementerian luar negeri.
Sebuah rumah di jalan Abu Bakar Ali. Rumah ini dibangun pada tahun 1918 untuk anggota keluarga Sultan HB VIII dan masih ditinggali oleh keturunannya. Selain orang-orang Eropa, kawasan Kotabaru juga dihuni oleh keluarga bangsawan pribumi dan orang-orang Tionghoa kaya (Leushuis ,2014; 199).
Bangunan berbentuk villa tunggal yang megah ini sekarang menjadi Museum Sandi. Rumah megah ini berada di percabangan jalan Faridan dan jalan Sunaryo. Rumah bertingkat dua ini dapat terlihat jelas dari jembatan Gondolayu. Dari balkon lantai dua kita bisa melihat pemandangan Gunung Merapi. Di awal kemerdekaan, rumah ini menjadi kantor kementrian luar negeri.
Sesuai dengan konsep Kotabaru sebagai sebuah Garden City, maka halaman depan rumah di kawasan ini ditanami dengan berbagai jenis pohon, terutama pohon-pohon penghasil buah seperti rambutan, belimbing manis dan nangka serta pohon dengan bunga yang baunya harum seperti pohon tanjung. Sehingga halaman depan rumah yang ada di Kotabaru menjelma menjadi kebun hijau kecil nan rindang.
Biara susteran Amal Kasih Darah Mulia yang dulunya merupakan villa milik Liem Han Tjioe di jalan Abu Bakar Ali. Bangunan yang dibangun pada tahun 1920 ini terlihat megah dengan keberadaan dua menara kecil di bagian depan. Di atas pintu dan jendela,terdapat hiasan kaca patri. Interior rumah ini, termasuk furniturnya masih dipertahankan dengan baik meski beberpa bagian harus dihilangkan seperti pelapis kayu yang digunakan untuk menutu tembok ruangan karena dianggap terlalu mewah untuk ukuran suster.
Di sekitar Kotabaru, terdapat perkampungan tempat tinggal orang pribumi seperti Pengok. Penduduk di perkampungan ini banyak yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, supir, tukang kebun atau pengantar pesan untuk orang-orang barat yang tinggal di Kotabaru. Karena para pembantu diambil dari kampung-kampung yang berada di dekat Kotabaru, maka bangunan tambahan di samping atau belakang rumah untuk kamar pembantu tidak diperlukan lagi (Passhier. Cor, 2002; 124). Dalam buku Cars, Conduit and Kampong, dijabarkan bahwa banyak orang-orang pribumi yang merasa was-was ketika berjalan melintasi kawasan ini. Sebabnya beragam, dari takut terhadap anak-anak Belanda yang kadang berbuat jahil terhadap penduduk pribumi yang sedang melintas hingga takut dengan anjing galak peliharaan orang-orang Belanda. Sekalipun demikian, masih ada juga anak-anak pribumi yang cukup berani bermain dengan anak-anak orang barat yan tinggal di sini (Fakih. Farabi, 2006; 162-163).
Europesche Lagere School yang kini menjadi SDN Ungaran.
Di jalan Ungaran, terdapat SD Ungaran yang menempati bekas gedung sekolah Europesche Lagere School. Selain SD Ungaran, di seputaran Kotabaru, juga ditemukan berbagai gedung-gedung sekolah tua. Sekolah-sekolah itu didirikan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan para penghuni di kawasan ini. Selain Europesche Lagere School yang kini menjadi SD N Ungaran, ada pula Normaalschool voor Inlandsche onderwijzers yang kini menjadi SMP N 5, Christelijke M.U.L.O yang kini menjadi SMA Bopkri, dan Algemenee Midlebaar School yang kini menjadi SMA N 3.
Normaalschool voor Inlandsche onderwijzers yang kini menjadi SMP N 5.
Algemenee Midlebaar School yang kini menjadi SMA N 3.
Christelijke M.U.L.O yang kini menjadi SMA Bopkri. Dahulu sempat menjadi Akademi Militer.
Sarana kesehatan yang ada di Kotabaru terbilang lengkap. Yang terbesar adalah Petronella Hospital yang didirikan oleh Dr. Jan Gerrit Schuerer, dokter dari lembaga zending  ( penyebar agama Kristen ) Hollandsch Gereformerde Zendingvereeniging pada 1897. Pada mulanya, rumah saikit ini berada di kawasan Bintaran. Namun karena dirasa kecil sementara jumlah pasien terus bertambah, maka pada tahun 1901 rumah sakit itu dipindah ke lokasinya yang sekarang. Pada tahun 1925, gedung rumah sakit diperbesar oleh direktur Dr. Offringa seperti sekarang dan saat itu menjadi rumah sakit zending terbesar di Jawa ( Elout, 1936; 51 ). Petronella Hospitaal kini berubah nama menjadi RS Bethesda. Sementara di sebelah selatan Petronella Hospitaal, terdapat rumah sakit milik militer (kini menjadi  RS Dr. Sutarto). Bagi mereka yang memiliki gangguan di organ matanya, mereka bisa mengobatinya di Prinses Julian Ooglijdersgatshuis atau kini menjadi RS. Dr Yap yang berada seratus meter ke utara. Rumah Sakit Dr.Yap didirikan pada tahun 21 November 1922 atas restu Sultan HB VIII. Bangunan ini terlihat menonjol dengan adanya menara kecil di bagian puncak. Di pintu masuk kita bisa melihat prasasti peresmian rumah yang dana pembangunannya diperoleh dari CVO (Centrale Veereniging tot Bevordering der Oogheelkunde in Nederlandsch Indie)Dengan dekatnya berbagai sarana kesehatan dan pendidikan, masyarakat Kotabaru mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang jauh lebih bagus dibandingkan mereka yang tinggal di kawasan lain.
RS. DKT Dr. Soetarto. Di bagian fasad depan terdapat tulisan "ANNO MCMXIII" yang menandakan bahwa rumah sakit ini dibuka pada tahun 1913.


Petronella Hospital yang kini menjadi Rumah Sakit Bethesda. Rumah sakit ini didirikan oleh para zending pada 1928. Petronella Hospitaal adalah rumah sakit tertua dan terbesar di Yogyakarta saat itu.
Rumah Sakit Mata Dr.Yap.
Berdiri di tengah-tengah pertigaan Jalan Ungaran dengan Jalan M. Faridan Noto, gardu listrik tinggalan A.N.I.E.M terlihat merana dengan coretan vandal yang menempel di dindingnya. Listrik itu merupakan satu dari sekian sarana yang memanjakan penghuni Kotabaru seperti pipa gas, telepon, air bersih dan selokan pembuangan atau drainage untuk pembuangan limbah rumah tangga dan air hujan juga sudah disediakan. Selokan yang menembus tanah di bawah jalan-jalan di Kotabaru telah dirancang sedemikian rupa, dimana selokan-selokan kecil akan mengalirkan limbah ke selokan yang lebih besar dan kemudian selokan itu berakhir di Sungai Code. Dahulu, selokan itu secara rutin dibersihkan secara gotong royong oleh warga Kotabaru sehingga banjir jarang menggenangi kawasan itu.
Bekas gardu listrik di pertigaan jalan Faridan M. Noto dan jalan Ungaran. 
Rumah yang nyaman, lingkungan yang tenang, dan fasilitas yang lengkap membuat orang betah tinggal di sini. Tentu saja hanya orang mampu yang sanggup untuk membeli tanah dan membangun rumah saja yang dapat berhuni di sini. Tidak heran jika sebagian besar penghuni di sini adalah para pegawai profesional, pengusaha, hingga bangsawan kraton Yogyakarta. Bahkan saking nyamannya, konon para administrateur atau kepala pabrik gula di daerah Yogyakarta lebih memilih tinggal di Kotabaru daripada tinggal di dekat lokasi pabrik. Agar akses penghuni Kotabaru dengan pusat pertokoan Malioboro menjadi mudah, maka pada tahun 1923 dibangun sebuah jembatan baru yang kini dikenal sebagai Jembatan Kewek (Leushuis. Emile, 2014; 199).
Sebuah rumah di jln. Sajiono. Hal yang menarik dari rumah ini adalah adanya tulisan "Huize Beran" di bagian depan. Apakah ada hubungannya dengan PG Beran di Sleman ? Apakah rumah ini dulunya dihuni oleh pemilik PG Beran mengingat dulu banyak pemilik PG di Yogyakarta yang tinggal di Kotabaru ?
Saya kini berada di Stadiun Kridosono, stadiun yang terletak di ujung selatan kawasan Kotabaru. Sebelum Stadiun Kridosono dibangun, tempat itu merupakan taman publikyang dilengkapi dengan sarana rekreasi dan olahraga seperti lapangan sepakbola, lapangan tenis, dan kolam renang. Lapangan ini seolah menjadi alun-alun sekunder Yogyakarta karena di sini dihelat berbagai acara-acara penting seperti peringatan ulang tahun ratu Belanda.
Peringatan 40 tahun naik tahtanya Ratu Wilhelmina pada bulan September 1938 di Bijleveld-Stadion atau sekarang Stadion Kridosono (sumber : Djocja Solo halaman 147).
Sepanjang menempuh jalan di Kotabaru, saya membayangkan bagaimanakah suasana Kotabaru dahulu di kala senja, tatkala si tuan rumah duduk begitu santainya di beranda depan rumah, menikmati suasana tenangnya sore hari Kotabaru. Anak-anak pribumi hendak pulang setelah seharian bermain dengan anak-anak kulit putih. Terlihat pula para pembantu yang pulang ke rumah setelah merampungkan pekerjaan membersihkan rumah dan memasak. Seorang tukang kebun sedang memotong rumput dan ranting pohon yang tumbuh subur. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara kereta api yang baru saja tiba di Stasiun Lempuyangan. Kicauan burung yang pulang ke sarangnya juga turut mewarnai senja Kotabaru. Di penghujung hari, lampu listrik yang ada di setiap rumah mulai dinyalakan. Di bawah langit malam, Kotabaru tampak berpijar dengan suasana jalan yang tenang.

Nun tak jauh dari Stadion Kridosono, terdapat sebuah kafe yang menempati sebuah rumah tua, dimana di halam depannya terlihat para pemuda yang sedang asik nongkrong. Seturut dengan pergerakan zaman, Kotabaru yang semula berada di pinggiran, dewasa ini telah menjadi bagian dari pusat kota Yogyakarta. Kotabaru pun segera dilirik menjadi lokasi usaha, apalagi letaknya strategis walaupun pajak bumi bangunan di sini amatlah tinggi. Atas nama pertumbuhan ekonomi, banyak bangunan tua yang akhirnya pasrah tergilas, berganti rupa menjadi gedung-gedung komersil.
Sebuah rumah di jln. Atmosukarto yang diadaptasi menjadi kantor salah satu perusahaan telekomunikasi.
Tak sekedar itu, hilangnya rumah-rumah lama juga diakibatkan oleh pergesaran selera pemiliknya, yang memilih merombak rumahnya dengan gaya yang dianggap lebih “modern”. Hal itu dikritik begitu keras oleh Adolf Heuken dalam bukunya, Menteng ; 'Kota Taman Pertama di Indonesia'. Kawasan Menteng sendiri baik dari segi karakter maupun nasibnya sekarang memiliki persamaaan dengan Kotabaru. Menurut Heuken, para pemilik rumah itu dianggap miskin budaya. Mereka kurang mampu merasakan keindahan, seni dan keselarasan. Rumah lama dibongkar “ hanya karena dianggap ketinggalan zaman “ dan digantikan dengan rumah baru “ yang dari segi bentuk memang lebih modern, namun norak dan mewah tanpa selera “. Rumah-rumah itu pada akhirnya hanya merusak citra kawasan saja (Heuken, Adolf. 2001; 40).
Rumah-rumah tua yang diadaptasi untuk restoran, cafe, factory outlet, dan tempat kursus.
Untungnya, masih ada beberapa pemilik bangunan tua di Kotabaru yang sadar akan pentingnya pelestarian. Beberapa bangunan ada yang masih dipertahankan utuh oleh pemiliknya. Sementara beberapa bangunan diadaptasi menjadi ruang usaha dengan sedikit penyesuaian.

Persoalan lain yang kini dihadapi oleh Kotabaru ialah mulai pudarnya karakter Garden City pada Kotabaru. Banyak kebun-kebun di depan rumah yang mulai hilang. Pohon-pohon peneduh di depan rumah dihilangkan. Pagar depan yang dulunya dibuat rendah supaya pemilik rumah dapat menikmati suasana lingkungan di sekitarnya, kini ditinggikan dengan alasan keamanan. Hal-hal semacam itulah yang membuat karakter Kotabaru sebagai Garden City perlahan hilang. Jika hal itu dibiarkan terus menerus, maka selaras dengan namanya, Kotabaru akan sungguh-sungguh menjadi baru, namun kali ini bukan baru yang istimewa...

Begitulah ulasan saya mengenai Kotabaru, sebuah kawasan yang memiliki karakter unik dan mengandung nilai sejarah tinggi. Walau Kotabaru dan kawasan sejenisnya seperti Candibaru dan Menteng adalah tinggalan penjajah, setidaknya ada nilai yang bisa dipetik dalam penataan wilayah di masa sekarang. Untuk menghindari penumpukan kegiatan dalam satu tempat, pemerintah kolonial membuat kebijakan pemekaran wilayah baru sehingga keramaian kota dapat disebar dan tidak menumpuk dalam satu wilayah. Bandingkan dengan kebijakan penataan kota masa sekarang yang seringkali memampatkan kegiatan dalam satu tempat sehingga muncul kemacetan dan kesemrawutan karena ketidakjelasan penataan wilayah. Sudah semestinya Kotabaru menjadi kawasan bersejarah yang patut dilindungi kendati kenyataan di lapangan berkata lain. Oleh karena itu,  pemegang kebijakan diharapkan dapat menciptakan regulasi dan rencana pengelolaan yang berkelanjutan dan tepat, sehingga kawasan bersejarah ini tak sekedar menjadi catatan tertulisa saja, namun juga dapat dilihat dan dirasakan oleh anak cucu suatu hari nanti…..

Referensi
Andrisjantiromli, Inajati dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta : Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Cor, Passchier. 2002. " Kota Taman dan Bungalo Pinggir Kota " dalam Indonesia Heritage ; Arsitektur. Jakarta : Penerbit Widyadara.

DR.Jan Wietjens SJ.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.

Elout, C. K.  1936. Indisch Dagbook. Den Haag W.P. Van Stockum & Zoon N.V.


Fakih, Farabih. 2006. " Kotabaru and the Housing Estate as Bulwark against the
Indigenization of Colonial Java " dalam  Colembijn, Freek dan  Cote, Joost. 2006, Cars, Conduit, and Kampongs. Leiden : Brill

Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu. 

Heuken S.J, Adolf. 2001. Menteng. 'Kota Taman Pertama di Indonesia'. Jakarta : Yayasan Loka Cipta Caraka.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

5 komentar:

  1. Halo mas.. postingan dan pembahasan yang menarik
    kalau boleh tau, peta lama daerah Kotabaru dpat darimana ya kak?
    soalnya sedang mencari peta lama Kotabaru buat tugas
    Terimakasih

    BalasHapus
  2. Saya dapat dari maps.leiden.edu. mangga cari. di sana ada banyak peta2 lama

    BalasHapus
  3. Izin share di FB saya ya mas...

    BalasHapus
  4. Artikel yang menarik.... Saya ingin berbagi article tentang Duomo di Milan di http://stenote-berkata.blogspot.hk/2018/03/milan-di-piazza-del-duomo.html
    Lihat juga video di youtube https://youtu.be/GkJmdx6yrAo

    BalasHapus