Kamis, 26 Mei 2016

Bayangan Kejayaan Pabrik Gula Kalasan

Kalasan, sebuah wilayah di sebelah timur kota Yogyakarta yang terkenal akan peninggalan sejarahnya berupa Candi Kalasan yang berasal dari masa Dinasti Syailendra. Selain memiliki peninggalan sejarah dari masa klasik, Kalasan ternyata juga memiliki peninggalan masa kolonial berupa situs pabrik gula Kalasan yang sebagian bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang. Bekas-bekas apa saja yang kira-kira masih bisa ditemui dan seperti apa sejarah PG Kalasan akan saya bahas pada tulisan Jejak Kolonial bahas pada tulisan kali ini.

Sekilas Sejarah Kejayaan PG Kalasan
Emplasemen pabrik gula Kalasan di masa jayanya. Kepulan asap terlihat keluar dari cerobong. Sementara itu lori-lori berisi tebu sedang menunggu. Nampaknya foto ini diambil pada masa giling tebu (sumber : troppenmuseum.nl).

Berdirinya PG Kalasan atau Tanjungtirto tidak bisa dilepaskan dari semakin berkembangnya perkebunan tebu di Vorstenlanden (Daerah Yogyakarta dan sekitarnya) yang dibuka oleh para bekel putih atau orang-orang Eropa yang menyewa tanah ke Sultan. Selain membuka perkebunan tebu, mereka juga mendirikan pabrik gula di tengah-tengah area perkebunan tebu.
Pemandangan ladang tebu di sekitar PG Kalasan. Foto ini menghadap ke arah timur. Di kejauhan tampak cerobong PG Kalasan yang sedang mengeluarkan asap. Di belakang, tampak perbukitan Boko (sumber : media-kitlv.nl).
Pada masa kejayaan industri gula di Pulau Jawa pada tahun 1900an, terdapat 17 pabrik gula yang berdiri di wilayah Yogyakarta. Di dekat PG Kalasan sendiri terdapat sebuah pabrik gula yang jaraknya cukup dari PG ini, yakni PG Wonocatur yang sekarang menjadi Museum Dirgantara. Bahkan saking dekatnya, konon jika kita memanjat naik ke atas puncak cerobong PG Kalasan, maka cerobong asap miliki PG Wonocatur bisa terlihat dari sini.
Salah satu mesin pabrik gula Kalasan. Mesin ini dibuat oleh industri Machinefabrieken Hengelo dan diimpor oleh perusahaan Stork & Co (sumber : geheugenvannederland.nl). 
PG Kalasan sendiri didirikan dengan bantuan modal dari perusahaan keuangan Internatio pada tahun 1874 yang berkantor di Surabaya. Di samping mendirikan pabrik gula, juga didirikan bangunan penunjang seperti rumah sakit pembantu (hulpziekenhuizen) yang dibuka tahun 1922 dan sekolah pertukangan (Ambachtschool) yang dibuka pada tanggal 15 Mei 1928. Pembukaan sekolah ini ditandai dengan penanaman sebuah pohon beringin oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang disaksikan oleh Paku Alam VII dan Residen Yogyakarta, P. W. Jonquiere. Dalam perkembangannya, sebagian keuntungan dari penjualan gula selain mengalir ke kas pihak Belanda juga mengalir ke Sultan HB VII selaku pemiliki tanah.
Peta topografi dari tahun 1925. Peta ini dengan jelas menggambarkan kompleks Pabrik Gula Kalasan ketika masih aktif. Di utara pabrik gula,terdapat Stasiun Kalasan (tidak terlihat di sini karena gambar terpotong) yang menjadi tempat pengedropan gula dari Pabrik Gula Kalasan sebelum diangkut dengan kereta api (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pada tahun 1930an, terjadi krisis keuangan yang mengguncang perekonomian dunia atau dikenal sebagai malaise. Hal ini berdampak pada hancurnya harga gula di pasaran. Untuk menutup kerugian, dibuatlah kebijakan Charbourne Agreement yang mengharuskan adanya pengurangan produksi gula dan memaksa banyak pabrik gula untuk ditutup. Beruntung, PG Kalasan termasuk salah satu PG yang tidak ditutup. Berdasarkan berita dari Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 7 November 1933, pengelolaan PG Tanjungtirto digabung dengan PG Bantul. Adminsitrateur PG waktu itu, Ir. O. Jansen van Raay diberhentikan oleh dewan direksi Internatio sejak tanggal 1 November. Sebagai ganti kepala pabrik, diangkatlah F. Moormaan yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai kepala PG Bantul. namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama karena pada masa penjajahan Jepang, pabrik gula ini ditutup oleh Jepang. Pada tahun 1950, ketika PG ini akan dibuka kembali oleh perusahaan yang dahulu memilikina, ternyata seluruh PG sudah dijarah oleh penduduk. Nasib yang sama juga menimpa PG Beran, Padokan, dan Cebongan. Kerugian yang ditaksir sebesar jutaan gulden (Java-bode: nieuws, handels-en advertentiblad voor Nederlandsch Indie, 10 Febuari 1950). Begitulah kira-kira riwayat dari pabrik gula Kalasan yang sekarang tinggal bayangannya saja.

Bayangan Kejayaan yang Masih Tersisa 
Lokasi PG Kalasan/Tanjungtirto pada peta Yogyakarta tahun 1926 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Informasi pabrik gula Kalasan saya dapatkan dari teman satu komunitas saya, mas Aga Y. P. Mas Aga menceritakan bahwa di Yogyakarta ada sebuah pabrik gula di daerah Kalasan yang bangunan rumah dinas pegawainya masih utuh. Sepengetahuan  saya, pabrik gula di Yogyakarta yang bangunan rumah dinas pegawai pabrik yang masih utuh hanya PG Sewugalur di Kulonprogo saja. Namun setelah mendapatkan informasi  dari teman saya tadi, saya menjadi penasaran untuk mengetahui apa saja yang masih tersisa dari pabrik gula ini. Oleh karena itulah pada suatu sore, saya bersama mas Aga yang sudah mengetahui tempatnya meninjau lokasi pabrik gula Kalasan.
Peta situs Pabrik Gula Kalasan.Keterangan : Kotak putih : Bekas rumah dinas yang masih berdiri. Kotak merah : Bekas lokasi berdirinya Pabrik Gula Kalasan. Kotak Hitam : Emplasemen Lori. Garis kuning : Bekas jalur lori. 

Meski bernama Pabrik Gula Kalasan, ternyata lokasi situs pabrik gula ini bukan berada di Kecamatan Kalasan, melainkan di Kecamatan Berbah, tepatnya di desa Tanjuntirto. Oleh karena itulah pabrik gula ini terkadang juga disebut sebagai Pabrik Gula Tanjung Tirto. Untuk menuju ke sini dari arah Yogyakarta, telusuri Jalan Yogyakarta-Solo hingga ada pertigaan yang menuju ke arah Berbah, belok ke kanan dan telusuri jalan lurus terus hingga pertigaan yang ada pohon besar di tengah pertigaan ,lalu belok ke kanan. Kemudian lurus terus menuju ke arah SMP N 1 Berbah. Di sekitar sekolah inilah saya menjumpai banyak rumah-rumah lama yan dahulu menjadi rumah dinas pegawai pabrik gula Kalasan.
Di lapangan inilah dahulu PG Kalasan berdiri.
Seperti nasib pabrik gula milik Belanda lain yang ada di Yogyakarta, bangunan pabrik gula Kalasan sudah tidak meninggalkan bekas apapun. Jadi kita tidak akan melihat sebuah bangunan pabrik berukuran besar di sini. Saat ini bangunan pabrik gula menjadi gudang tembakau dan sebagian lainnya menjadi tanah lapang di belakang gudang tadi. Pada awalnya saya sempat mengira kalau bangunan gudang tembakau tadi masih asli sejak zaman PG Kalasan berdiri, namun setelah saya bertanya ke warga, ternyata gudang tembakau tadi merupakan bangunan baru. Kini, tidak terlihat lagi para kuli pabrik yang sedang bekerja dengan peluh keringat yang mentes di kepala dan juga wajah seram para meneer Belanda yang mengawasi kuli-kuli tadi. Tidak terlihat lagi cerobong yang menjulang tinggi dengan asap pekatnya. Tidak terlihat juga barisan lori yang berjejer rapi dengan muatan tebu. Ya, PG Kalasan kini tinggal bayangannya saja.
Tipikal rumah dinas di kompleks PG Kalasan.
Yah, meskipun bangunan pabrik gula ini tinggal menjadi bayangan sejarah saja, namun setidaknya kita masih bisa menjumpai sebagian warisan PG Kalasan berupa rumah-rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas karyawan PG Kalasan yang sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat. Keberadaan rumah dinas dengan pabrik gula ibarat dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan karena di sinilah parkaryawan pabrik gula dengan jabatan tinggi  seperti administrateurzinder, machinist dan chemist tinggal. Untuk meningkatkan produktivitas karyawan, maka rumah tinggal mereka dibangun di dekat pabrik. Rata-rata rumah-rumah pegawai PG Kalasan menghadap ke selatan, ke arah lokasi kerja. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengawasan terhadap segala kegiatan yang ada di pabrik gula. Konsep ini dikenal sebagai konsep panopticon (Inagurasi, 2010; 123). Saya sendiri membayangkan para meneer mengawasi para kuli-kuli pabrik yang sedang bekerja lewat beranda depan rumah mereka. Rumah-rumah ini dapat kita jumpai di sepanjang jalan yang menjadi akses keluar masuk area pabrik, sehingga siapapun yang keluar masuk di area pabrik dapat diketahui.
Sebuah bekas rumah dinas yang kondisinya masih cukup baik. Rumah dinas ini bertipe kopel (dua rumah dalam satu atap).
Bekas rumah dinas bercat hijau ini kondisinya sangat baik sekali. Halaman di depan rumah terlihat bersih dan rimbun. Penghuni rumah ini merupakan anak dari pegawai Pabrik Gula Kalasan. Warga sekitar biasanya memanggilnya Mami Uti.


Bekas rumah dinas berwarna oranye ini berada di sebelah SMP N 1 Berbah. Rumah ini kerap digunakan untuk syuting film.
Saat ini, terdapat tujuh buah bangunan rumah dinas yang masih tersisa. Sebagian digunakan untuk kantor institusi pemerintahan seperti Kantor Polsek Berbah, Koramil Berbah dan SMP N 1 Berbah. Sementara sisa nya menjadi rumah tinggal milik warga.
Bekas rumah administrateur Pabrik Gula Kalasan yang sekarang menjadi SMP N 1 Berbah.Bangunan ini ditempati sebagai sekolah sejak tahun 1951.Rumah seorang administrateur biasanya memiliki bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan bentuk rumah pegawai pabrik gula yang ada di bawahnya.
 

Bekas rumah dinas pabrik gula Kalasan yang sekarang menjadi kantor Polsek Berbah. sejak tahun 1957.
Sebuaah bekas rumah dinas di samping Koramil Berbah.
Jika dilihat dari sisi arsitektural, rumah dinas PG Kalasan memiliki ciri arsitektur yang serupa, yakni memiliki bentuk atap pelana dan fasad berupa gable dari kayu yang menghadap ke depan. Di bagian bawah gable terdapat dekorasi seperti gigi runcing yang mengarah ke bawah. Atap gable tadi menanungi bagian beranda depan rumah. Beranda depan ini pada bagian depan ditutup dengan lapisan dinding kayu jati dan kaca, sehingga untuk masuk ke bagian beranda depan depan lewat undakan kecil di samping. Beranda depan ini selain digunakan untuk tempat menerima tamu, juga dapat digunakan sebagai tempat untuk mengawasi para pekerja pabrik. Di belakang rumah, terdapat bangunan tambahan yang digunakan untuk kamar pembantu, dapur, dan kamar mandi.

Demikianlah tulisan Jejak Kolonial mengenai sisa-sisa Pabrik Gula Kalasan yang kini tinggal menjadi bayangan sejarah saja dan tinggal menyisakan bangunan rumah dinas yang masih berdiri kokoh. Semoga keberadaan bangunan bersejarah yang tersisa ini dapat dijaga karena kehilangan sebuah bangunan bersejarah dampaknya mungkin belum terasa bagi generasi di masa sekarang, tapi akan sangat terasa untuk generasi di masa mendatang.

Referensi
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/07/25/smpn-i-berbah-sleman/

Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sabtu, 14 Mei 2016

Menyelami Kejayaan Purworejo, Kota Kecil dengan Segudang Peninggalan Sejarah.

Apa yang menjadikan kota Purworejo dijuluki sebagai kota pensiun ? Entahlah. Saya yang lahir dan tumbuh di kota itu sampai sekarang tidak tahu asal muasal julukan tadi. Namun ketika berjalan mengelilingi kota kecil ini, julukan kota pensiun ada benarnya juga. Jalanan yang lengang dengan pohon-pohon asam besar di kanan-kirinya dan segudang bangunan tua peninggalan masa Belanda yang masih utuh tampaknya menjadi sebuah perpaduan yang bagus untuk para pensiunan yang ingin menghabiskan masa tuanya. Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan memandu anda untuk berkeliling kota Purworejo, menggali sekilas kejayaan masa lampau di Purworejo lewat peninggalan-peninggalan yang masih tegak berdiri. Tulisan saya kali ini akan saya dedikasikan untuk kota Purworejo tercinta……
Persebaran bangunan kolonial yang ada di Purworejo.
Saya kini berdiri di tengah alun-alun Purworejo, jantung dari kota Purworejo. Alun-alun itu dikepung dengan bangunan-bangunan penting seperti kediaman bupati dan residen, masjid, gereja, kantor pos, kantor pengadilan, dan penjara. Dengan ukuran sebesar 250 m x 250 m, ia menjadi alun-alun kota tradisional terluas di Jawa yang pernah dibangun. Dalam konsep tatanan kota tradisional Jawa, alun-alun merupakan salah satu bagian terpenting karena di sinilah rakyat dari berbagai penjuru berkumpul dan tempat dihelatnya perayaan-perayaaan penting (Oteng Suherman, 2013; 45). Sepasang pohon beringin berdiri di tengah alun-alun, simbol bahwa bupati selain sebagai seorang penguasa adminstratif, juga merupakan wakil Tuhan di muka bumi. Di sisi utara alun-alun, dapat dijumpai dua buah paseban, tempat para tamu bupati dulu singgah sebelum diperkenankan menghadap ke bupati. Di kejauhan, saya dapat melihat sedikit puncak dari perbukitan Menoreh. Lembah-lembahnya dulu merupakan palagan utama Perang Jawa yang dahsyat dan Kota Purworejo modern yang dikenal saat ini, sesungguhnya lahir di atas abu perang itu…
Suasana alun-alun Purworejo, tepatnya di perempatan BRI, pada tahun 1930an. Orang yang di tengah foto merupakan petusas polisi lalu lintas. Cukup aneh karena suasana jalan Purworejo pada waktu itu tidak begitu ramai. Gardu yang berdiri di situ masih ada hingga sekarang. 
Suasana alun-alun Purworejo tempo dulu. Di kejauhan tampak rumah Residen yang kini menjadi kantor bupati Purworejo.
Waktu sejenak mundur kembali ke belakang, ke era berkecamuknya Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825 hingga 1830. Perang yang banyak menelan biaya itu merupakan titik puncak kekecewaan Pangeran Diponegoro terhadap kekuasaan pemerintah kolonial Belanda yang semakin ikut mencampuri urusan internal Kraton Yogyakarta. Palagan pertempuran Pangeran Diponegoro dengan Belanda berada di antara Sungai Progo dengan Sungai Bogowonto. Guna mempersempit ruang gerak pengikut Pangeran Diponegoro, Belanda menyusun strategi benteng stelsel, dimana militer Belanda membangun beberapa benteng dan garnisun di titik-titik yang dianggap dapat mempersempit ruang gerak pengikut Pangeran Diponegoro. Salah satu titik itu adalah Kedungkebo, cikal bakal kota Purworejo modern saat ini (Musadad, 2002; 6 )

Foto tangsi Kedungkebo pada tahun 1870an. Foto ini menghadap ke arah timur dan diambil dari lapangan latihan atau excertieplein yang sekarang menjadi kompleks SMA N 7 Purworejo (sumber : troppenmuseum.nl).

Lukisan  yang kemungkinan dilukis oleh R. R. Toelaer yang menggambarkan panorama kota Purworejo pada tahun 1845. Di belakang tampak panorama pegunungan Menoreh (sumber : troppenmuseum.nl).
Tertangkapnya Pangeran Diponegoro di Magelang pada tahun 1830 menjadi tanda berahkirnya Perang Jawa. Sebagai pampasan perang, wilayah Bagelen yang semula dikuasai oleh Kasunanan Surakarta, diambil alih oleh pihak kolonial Belanda. Pada tahun 1831, dibentuklah Karesidenan Bagelen yang beribukota di Purworejo dengan area yang mencakup wilayah seperti Tanggung (Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Remo Jatinegara (Karanganyar), Kutowinangun (Kebumen), Ledok (Wonosobo), dan Ambal (Radix Penadi, 2000;68).
Kios bensin yang menjual bensin produksi Shell yang dulu berada di sebelah timur alun-alun, tepatnya di depan SD Maria. Keberadaan kios bensin ini menunjukan di masa itu sudah ada beberapa orang Purworejo yang memiliki kendaraan mesin. Terlihat di foto seorang priyayi yang sedang mengisi bensin sepeda montornya. Dengan pakaian seperti itu, tidak diketahui bagaimana dia bisa naik sepeda montornya.
Bangkitnya Purworejo paska Perang Jawa tidak bisa dilepaskan dari jasa bupati pertama Purworejo, Cokronegoro I, mantan abdi dalem Kasunanan Surakarta yang di masa muda pernah satu seperguruan dengan Pangeran Diponegoro. Karena dia berada di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta yang pada waktu itu tunduk dengan Belanda, sebagai bentuk bakti kepada Kasunanan Surakarta, maka dengan berat hati dia bergabung dengan pihak kolonial melawan Diponegoro. Meskipun dia berada di pihak kolonial, beliau tidak pernah berhadapan secara langsung dengan Pangeran Diponegoro dan lebih memilih untuk menghindar karena dia merasa masih satu saudara seperguruan dengan Pangeran Diponegoro. Setelah Perang Jawa usai, sebagai balas jasa, pemerintah kolonial mengangkat Cokronegoro sebagai bupati pertama Purworejo pada tanggal 9 Juni 1830. Setelah diangkat menjadi bupati, langkah pertama yang Cokronegoro lakukan adalah menggabungkan dua kota kuno, yakni Brengkelan dan Kedungkebo dan selanjutnya diberi nama Purworejo, yang berarti awal dari kemakmuran (Oteng Suherman, 2013; 38-39).
Peta tata kota Purworejo pada tahun 1905 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Dalam perjalanannya, tak banyak yang tahu bahwa kota Purworejo rupanya sempat dicalonkan sebagai ibukota Hindia-Belanda yang baru menggantikan Batavia. Dalam literatur “De Indische Stad op Java en Madoera”, Ronald R. Gill menyebutkan bahwa pada 1846, von Gogem sempat mengusulkan pemindahan ibukota pemerintahan kolonial dari Batavia ke Purworejo. Gagasan Von Gogern ini didasarkan dengan berbagai pertimbangan, antara lain iklimnya yang cukup sehat, terdapat garnisun militer yang dapat dikembangkan sebagai sarana pertahanan, lokasinya yang strategis serta posisinya yang berada di pesisir selatan sehingga kecil kemungkinan musuh menjangkau sampai sini (Gill. R. Ronald, 1990; 151). Sayangnya, wacana Von Gogern itu akhirnya harus dikubur dalam - dalam setelah pemerintah kolonial lebih memilih Bandung sebagai calon ibukota baru Hindia-Belanda.
Masjid Agung Purworejo pada tahun 1930an.
Masjid Agung Purworejo.
Berbagai bangunan peninggalan Bupati Cokronegoro I dapat ditemukan di sekitar alun-alun. Yang pertama ialah masjid Agung Purworejo yang berdiri di sebelah barat alun-alun. Berdasarkan prasasti yang terpampang di atas pintu masuk ruang shalat, masjid ini didirikan tahun 1834. Layaknya masjid-masjid tua di Jawa, masjid itu memilliki atap tajug tumpang tiga dengan hiasan mustaka yang bertengger di puncak. Konstruksi masjid ditopang oleh empat tiang sokoguru atau tiang utama dengan umpak yang diambil dari bekas Yoni peninggalan masa klasik. 12 tiang soko rowo membantu konstruksi di dalamnya. Arsitektur masjid tradisional seperti masjid ini sudah semakin jarang ditemukan pada alun-alun di Jawa. Rata-rata bangunan masjid lain sudah dirombak menjadi modern dengan atap berbentuk kubah ala Timur Tengah. Sementara itu, di bagian serambi depan terdapat sebuah bedhug berukuran raksaksa yang dikenal sebagai Bedug Agung Pendhowo. Pembuatan bedhug ini bersamaan dengan pembangunan masjid ini. Menariknya, bedhug ini dibuat dengan kayu jati utuh tanpa sambungan…
Pendhopo Kabupaten Purworejo dulu (1930an) dan kini (2016). Tidak ada yang berubah selain bendera yang berkibar di depan pendhopo. Jika dulu bendera triwarna Belanda, kini bendera Merah Putih yang berkibar di depan pendhopo.
Di sebelah utara alun-alun, terdapat bekas tempat kediaman sang bupati Cokronegoro I yang seterusnya dipakai sebagai kediaman resmi bupati Purworejo. Ia sengaja dibangun menghadap ke arah selatan karena dalam konsep kosmologi Jawa, di selatan terdapat samudera Hindia yang dipercaya menjadi kediaman Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk tidak membelakangi Keraton Surakarta yang dihormati oleh Cokronegoro. Bangunan Pendopo Agung ini dibedakan menjadi dua bagian, yakni bagian pendopo beratap joglo di bagian depan yang merupakan tempat menerima tamu serta penyelenggaran seremoni penting dan bangunan kediaman utama bupati Purworejo di belakangnya yang berarsitektur Indis.
Kediaman residen tempo doeloe, pusat kuasa pemerintah kolonial di Purworejo.
Kediaman Residen yang kini beralih menjadi kantor bupati. Masih tetap menjadi pusat kuasa pemerintahan Purworejo.
Sebagai upaya pemerintah kolonial untuk menundukan kuasa pemerintah pribumi, di sekitar alun-alun terdapat bangunan-bangunan penting milik pemerintah kolonial. Yang terpenting tentu saja kediaman sang residen Bagelen yang kini menjadi kantor bupati Purworejo. Bangunan berlanggam Indisch Empire Style ini memiliki kolom-kolom besar di beranda depannya yang dimaksudkan sebagai bentuk kekuasaan mereka dihadapan orang-orang pribumi. Kendati wajah bagian depannya telah mengalami sedikit perombakan, namun pilar-pilar besar di bagian serambi depan tetap dipertahankan. Bangunan yang didirikan sekitar pertengahan abad ke 19 ini dibuat menghadap ke arah utara, tempat tinggal bupati, sebagai perlambang pengawasan pemerintah kolonial terhadap segala aktivitas di kediaman bupati, sehingga dapat dikatakan ada nuansa politis pada pemilihan lokasi kediaman residen. Namun pada tahun 1901, setelah kota Purworejo kehilangan statusnya sebagai ibukota akibat Karesidenan Bagelen  dilebur dengan Karesidenan Kedu, maka bangunan tadi “turun status “ menjadi kediaman asisten residen. Walaupun Purworejo tak lagi menjadi kota penting namun pembangunan berbagai fasilitas masih terus dilanjutkan oleh pemerintah kolonial…
GPIB Purworejo pada tahun 1900an ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
GPIB Purworejo (Indische Kerk).
Berdiri di sebelah timur alun-alun, tampak sebuah gereja tua dengan sentuhan gaya neo-gotik yang begitu kentara dengan jendela-jendela berbentuk jarumnya. Itulah GPIB Purworejo, gereja yang dulu dikenal sebagai Indische Kerk, tempat dimana orang-orang Belanda yang mayoritas menganut agama Kristen Protestan dulu beribadah. Gereja yang diresimkan pada tanggal 12 November 1879 itu aslinya memiliki menara lonceng beratap tajug, namun kemudian atap menara itu diubah menjadi kubah.
Beginilah foto udara kota Purworejo pada tahun 1920an yang memperlihatkan tangsi militer Kedungkebo atau sekarang menjadi kompleks Yonif 412. Dahulu, tangsi militer ini menjadi markas Batalyon Infanteri ke 18 dengan jumlah personel sebesar 600 orang.
Dari alun-alun, saya kemudian berjalan menyusuri jalan Urip Sumoharjo. Nama jalan itu diambil dari nama jenderal pendiri organisasi cikal bakal TNI, BKR, yang lahir di kota ini. Kota ini memang banyak melahirkan para petinggi di jajaran militer, mulai dari Jend. Urip Sumoharjo, Ahmad Yani, hingga Sarwo Eddhie Wibowo. Banyaknya orang Purworejo yang terjun ke dunia militer barangkali dilatarbelakangi oleh peran kota ini sebagai kota garnisun di masa lampau, yang ditandai dengan berbagai bangunan tua yang dulu menjadi penunjang kegiatan militer seperti tangsi militer, rumah dinas untuk perwira militer, rumah sakit militer, kantin militer dan lapangan tembak (dahulu berada di persawahan di sebelah selatan kelurahan Paduroso).
Rumah milik seorang opsir militer. Karena Purworejo dahulunya adalah kota garnizun, maka tidak heran jika banyak ditemukan rumah-rumah yang dahulu ditempati oleh pejabat militer.
Rumah-rumah tua di sepanjang jalan Urip Sumoharjo, Purworejo (depan gedung DPRD). Rumah-rumah ini dahulu ditempati oleh para opsir militer berpangkat kapten. Sayangnya banyak bangunan rumah yang terlantar. Bangunan-bangunan ini sebisa mungkin segera diselamatkan karena lokasinya yang strategis membuatnya rawan dibongkar untuk bangunan baru.
Selama saya menyusuri jalan ini, terlihat rumah-rumah tua yang dulu dipakai untuk para perwira militer Belanda. Sayang, rumah-rumah tersebut banyak yang sudah rusak, menjadikan wajah pusat kota Purworejo kurang sedap dipandang. Seandainya rumah-rumah tersebut masih lestari dengan baik, mungkin wajah pusat kota ini akan terlihat cantik.
Rumah sakit DKT Purworejo.
Salah satu rumah tua di jalan Sapta Marga, tepatnya di depan kompleks RS. DKT. Di sepanjang jalan ini, terdapat 8 rumah dengan bentuk yang serupa dengan rumah ini. Rumah yang tergolong dalam tipe kopel (dua rumah dalam satu atap) ini dahulu menjadi rumah dinas opsir militer berpangkat letnan
Saya berbelok ke Jalan Panca Marga. Di seberang deretan bangunan kopel tua, terdapat sebuah rumah sakit militer yang kini menjadi RS DKT. Sebagaimana kota garnisun, di kota Purworejo dapat ditemukan rumah sakit yang sejatinya dikhususkan untuk kepentingan militer. Kendati ia diperuntukan untuk kalangan militer, namun di masa kolonial, rumah sakit yang didirikan tahun 1915 ini menjadi jujugan orang Eropa dan pribumi papan atas karena pelayanannya dianggap memuaskan. Oleh karena itulah pada tahun 1919 rumah sakit ini tidak diperkenankan menerima pasien di luar kalangan militer kecuali rumah sakit zending sudah penuh. Beberapa saat sesudah kemerdekaan, rumah sakit ini sempat menjadi kamp internir untuk orang-orang Eropa.
Bekas kantin militer yang kondisinya rusak parah.
Dari Jalan Panca Marga, saya menyeberang ke Jalan Ksatrian. Jalan ini merupakan akses utama ke kompleks Yonif 412, sebuah kompleks militer yang menempati bekas tangsi militer Belanda. Di depan kompleks itu, terdapat sebuah gerbang besar dengan sengkalan 1918 yang terpampang di atas pintu masuk. Tentara dengan seragam hijau loreng berjaga di depan pintu masuk tadi, tanda bahwa kompleks itu tak sembarang dimasuki orang. Di ujung Jalan Ksatrian, terdapat sebuah bangunan tua dengan kondisi yang memprihatinkan. Di tempat itulah, para serdadu Belanda mencari kesenangan di tengah jemunya jadwal latihan dan tugas. Di sana, mereka dapat menonton pertunjukan sandiwara, film, atau memesan minuman keras yang telah diatur porsinya. Di sini masih bisa ditemukan bekas sebuah ruang proyektor, lalu ruang penonton dengan lantai berundak agar penonton di belakang tidak terhalang oleh penonton di depannya, dan panggung untuk memutar film atau untuk menampilkan pertunjukan sandiwara.  Sebelum rusak, bangunan ini digunakan sebagai Balai Prajurit dan warga sekitar sering menggunakan bangunan ini untuk kegiatan masyarakat.
SMA N 7 Purworejo,dulu Hoogere Kweekschool Poerworedjo.
Saya kemudian kembali ke Jalan Urip Sumoharjo. Persis di seberang barat kompleks militer, terdapat sebuah kompleks sekolah peninggalan Belanda yang kini ditempati SMA N 7 Purworejo. Sekolah yang dulu bernama Hoogere Kweekschool Poerworedjo itu hanya satu dari sekian sekolah yang dibuka oleh Belanda di beberapa sudut kota Purworejo ( ulasan lebih lengkap tentang HKS Purworejo dapat dibaca di " HKS Purworejo, Tetenger Pendidikan Guru di Indonesia " ). Di sekolah-sekolah itulah orang Belanda atau pribumi yang mampu menyekolahkan putra-putri mereka. Keberadaan institusi pendidikan di Purworejo sudah hadir bahkan sejak kota itu dibangun. Kala itu, sebuah sekolah dibuka di kompleks tangsi Kedungkebo untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak dari keluarga serdadu Belanda yang masih aktif atau yang sudah pensiun. Perkembangan pendidikan di Purworejo kian pesat setelah politik etis diterapkan di Hindia-Belanda pada awal abad ke-20, ditandai dengan semakin banyak sekolah yang dibuka di Purworejo, baik yang dibuka oleh pemerintah maupun dari lembaga zending dan misi. Sekolah-sekolah itu antara lain Inlandsche School (SD N 1 Purworejo), Chr. Hollandsch. Javaansche School (SMP N 4 Purworejo), Hollandsch Inlandsche School (SMP N 1 Purworejo), Hollandsch Chineese School (SMP Widhodo), dan Lageree Europesche School (SMP N 2 Purworejo).
SMP N 2 Purworejo, dulu Lageree Europesche School.
SMP N 1 Purworejo, dulu Hollandsch Inlandschool, sekolah dasar yang diperuntukan untuk orang Eropa dan pribumi yang mampu.
Hollandsch Chineese School, kini SMP Widhodo.
SD N 1 Purworejo, dulu Inlandsche School. Di dalam SD ini terdapat sebuah ruang kelas yang bangku-bangkunya masih asli dari zaman dahulu.
SMP N 4 Purworejo, dulu Chr. Hollandsch Javaansche School.
Dari kompleks SMA N 7 Purworejo, saya menyusuri Jalan Mayjend. Sutoyo yang diaungi oleh rindangnya pohon-pohon asam tua yang sudah menjulang sejak zaman Belanda, menjadikan jalanan kota Purworejo terasa sejuk dan teduh. Para pengelana Eropa memuji Purworejo sebagai tempat terbersih di selatan pulau Jawa. Salah satu pengelana, Van Gelder, yang mengunjungi Purworejo di tahun 1893, menulis :

Tempat yang memiliki jumlah penduduk sekitar 12.000 jiwa ini merupakan salah satu tempat terbersih di Jawa. Sisi kanan dan kiri jalan ditanam dengan pohon asam. Rumah bupati dan residen merupakan sebuah bangunan yang indah ” (Gill. G. Ronald, 1990; 216).

Suasana  jalan di Purworejo pada tahun 1905. Suasana jalan seperti ini memikat hati para pengelana dari Eropa seperti Van Gelder dan Van Veth. Hingga saat ini, beberapa ruas jalan di Purworejo masih dapat ditemukan pohon-pohon asam yang menjadi peneduh jalan (sumber : media-kitv.nl).

Pohon asam tua yang masih berdiri tegak di tengah kota Purworejo. Pohon-pohon inilah yang membuat para pengelana Eropa memuji Purworejo sebagai tempat terbersih di Jawa.
Di sepanjang jalan itu, berdiri beberapa bangunan bergaya kolonial yang dahulu digunakan sebagai kantor-kantor pemerintah kolonial seperti Waterstaat Kantoor (Kantor BKSDA), Irrigatie Kantor (Dinas Pengairan), Landraadgebouw (Museum Tosan Aji) dan Djaksaakantoor (Satlantas Purworejo,eks Polres Purworejo). Beruntung, beberapa bangunan ini wujud aslinya masih terlihat sampai sekarang. Apabila berbelok ke Jalan Makam Kerkhof, di ujung jalan itu terdapat permakaman yang menjadi tempat peristirahatan terakhir orang-orang Belanda. Di permakaman itu masih dapat dilihat makam-makam Belanda yang sayangnya banyak yang kondisinya rusak ( ulasan lebih lengkap tentang kerkhof Purworejo dapat dibaca di " Pusara Tua nan Renta di Kerkhof Purworejo " ).
Museum Tosan Aji, dulu Landraadgebouw atau pengadilan. Di sinilah dahulu orang-orang dijatuhi hukuman untuk selanjutnya dimasukan ke penjara yang berada di depan gedung ini.
Satlantas Purworejo, dulu Djaksakantoor atau kantor jaksa. Lokasi gedung ini berada persis di samping gedung pengadilan yang sekarang Museum Tosan Aji.
Kantor Dinas Pengarian, dulu kantor dinas Irragatie. Fungsi bangunan ini tidak berubah dari waktu ke waktu, yakni sebagai kantor dinas irigasi.
Rumah yang cukup besar di jalan Mayjen. Sutoyo yang kini menjadi kantor Badan Kepegawaian Daerah. Rumah ini dahulu dihuni oleh insinyur pengairan Belanda.
Kantor BKSDA, dulu Waterstaat Kantoor.
Gapura Kerkhof Purworejo.
Sesungguhnya, masih ada banyak bangunan bersejarah lain di kota ini. Misalnya Gereja Santa Perawan Maria yang terletak di Jalan Wahid Hasyim. Dibandingkan dengan GPIB, ia memang lebih muda. Ia baru didirkan pada tahun 1933, menempati bekas lahan kantor B.O.W (DPU-nya zaman Belanda) sebelum dibeli oleh pastor ordo Serikat Jesuit dan kemudian diserahkan kepada pastor ordo MSC (Tarekat Hati Kudus). Ia merupakan satu-satunya bangunan kolonial di Purworejo yang dibikin oleh arsitek professional dari biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuypers. Selain gereja ini, rata-rata bangunan yang ada di Purworejo dirancang oleh arsitek amatiran dari zeni militer, pemborong Tionghoa, atau dari B.O.W. Gereja ini diresmikan dan diberkati pada tanggal 13 Agustus 1933 oleh Mgr. B. J. J Visser M. S. C. Di sebelah utara gereja ini terdapat kompleks pastoran, bruderan, susteran dan sekolah.
Gereja Katolik Santa Perawan Maria.
Sebuah prasasti yang terpahat sudut luar gereja. Prasasti ini menunjukan arsitek yang merancang gereja ini, yakni biro arsitek Fermont en Cuypers.
Di tengah kota Purworejo, tengara bangunan kolonial lain berupa stasiun masih ada meski sekarang tidak dipakai lagi. (ulasan lebih lengkap mengenai stasiun ini dapat dibaca di sini "Stasiun Purworejo, Sekelumit Kejayaan Kereta Api di Purworejo").
Stasiun Purworejo.

Zending Hospitaal yang didirkan oleh lembaga zending. Saat ini menjadi RSU  Dr. Tjitrowardojo. Sebagian besar bangunan sudah berubah kecuali rumah dinas dokter yang ada di sebelah barat rumah sakit.
Selain rumah sakit milik militer, di Purworejo masih ada satu rumah sakit lagi yang dikelola oleh lembaga zending dan diperuntukan untuk masyarakat umum. Rumah sakit itu sekarang menjadi RSU Dr. Tjitrowardojo. Bagian depan rumah sakit ini memang sudah banyak yang berubah, namun beberapa bangsal masih menggunakan bangunan lama. Di samping rumah sakit ini juga terdapat sebuah rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas untuk dokter.
Pasar Baledono tempo doeloe.
Jantung perekenomian Purworejo di masa lalu hingga sekarang terletak di pasar Baledono. Pertengahan tahun 2013, si jago merah melalap habis pasar itu. Tahun ini (2017) bangunan pasar akan dibangun kembali dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya. Di sekitar pasar, dapat dijumpai deretan bangunan ruko bergaya Tionghoa (ulasan lebih lengkap mengenai Pecinan Purworejo dapat dibaca di sini " Menyusuri Warisan Budaya Tionghoa di Purworejo" 

Pejagalan hewan yang terletak di ujung jalan Jagalan, Baledono, Purworejo. Sampai sekarang masih difungsikan sebagai rumah potong hewan.
Pabrik Es Purworejo yang sudah berdiri sejak tahun 1886.
Guna memenuhi permintaan daging masyarakat Purworejo di zaman dahulu, sebuah abbatoir atau pejagalan hewan resmi milik pemerintah kolonial dibangun di daerah Jagalan, Baledono. Lokasi pejagalan dibangun di dekat kali Kedungputri untuk memudahkan pembuangan bagian hewan yang tidak dikonsumsi seperti darah.

Gedung bioskop pada tahun 1930an. Bioskop ini sekarang menjadi Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo, di perempatan jalan Pemuda dan Jalan Urip Sumaharjo. Meski bioskop ini sudah beralih rupa, namun pohon di depan bioskop masih ada hingga sekarang.
Sarana hiburan di Purworejo di masa kolonial ternyata jauh lebih bervariasi ketimbang Purworejo zaman sekarang. Dahulu, di tempat yang kini menjelma menjadi gedung DPRD Purworejo, terdapat sebuah societet, yakni tempat orang-orang Eropa menghabiskan waktu senggangnya dengan bermain bilyar, minum-minum, berdansa, bersosialisasi dengan orang Eropa lain. Selanjutnya di selatan alun-alun Purworejo, tepatnya di timur Kantor Bupati, terdapat Tenisbahn atau lapangan tenis. Tenis merupakan jenis olahraga yang digemari oleh kalangan elit Belanda. Di Purworejo dulu juga pernah ada sebuah bioskop yang dahulu oleh seorang Tionghoa. Di kemudian hari bioskop itu menjadi bioskop Bagelen sebelum akhirnya dibongkar menjadi Gedung Kesenian Sarwo Edhi Wibowo. Selain bioskop tadi, masih ada satu bioskop lagi di kota ini, yakni bioskop Pusaka yang kini menjadi pasar swalayan Jodo.
Kamar mesin pompa air di Tuksongo. Di bagian atas pintu masuk terdapat inskripsi "1925" yang menunjukan tahun pembangunan bangunan tersebut.
Salah satu gardu listrik di jalan Jenderal Sudirman tinggalan N. V Poerworedjo Electricitbedrijf. Gardu listrik ini berfungsi sebagai transformator penurun tegangan listrik dari tingkat tinggi ke tingkat yang aman bagi keperluan rumah tangga.
Untuk mendukung kehidupan masyarakat Belanda di Purworejo, maka dibangunlah berbagai sarana pendukung yang tersebar di penjuru kota, seperti gardu listrik lama tinggalan A.N.I.E.M yang masuk kota Purworejo pada tahun 1925. Gardu-gardu itu terletak di dekat kantong-kantong permukiman Eropa. Dengan jaringan listrik itu, maka orang-orang Belanda di Purworejo dapat menikmati gemerlapnya cahaya lampu listrik di malam hari. Pasokan listrik diambil dari sebuah PLTA di Baledono yang memanfaatkan saluran Kedungputri. Selain listrik, sambungan telepon dan telegraf juga sudah masuk di Purworejo. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Belanda di Purworejo, maka pada tahun 1925 dibangunlah sebuah sumur pompa air di daerah Tuksongo. 
Rumah-rumah dinas untuk guru HKS yang ada di sepanjang jalan Ki Mangun Sarkoro. Deretan rumah tua di sini dapat dikatakan merupakan yang paling terawat di kota Purworejo.
Rumah-rumah tua yang ada di Purworejo. Dari kiri atas, searah jarum jam. Rumah tua di Jln. Sarwo Edhi Wibowo. Rumah tua di depan Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo. Rumah tua di jln. Mayjend. Sutoyo. Rumah tua di kompleks Bruderan.
Beberapa rumah-rumah tua yang ada di Purworejo. Dari kiri atas, searah jarum jam. Rumah tua di Jln. Sarwo Edhi Wibowo. Rumah tua di depan Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo. Rumah tua di jln. Mayjend. Sutoyo (dekat kantor Dinas Peternakan). Rumah tua di kompleks Bruderan.
Tersebar di setiap sudut kota, dapat ditemukan berbagai rumah-rumah tua dengan bentuk yang beragam. Nasibnyapun juga beragam. Ada yang masih terawat baik dan ada juga yang nyaris rubuh ditelan usia.
Bekas rumah dinas kepala HKS Purworejo yang masih terawat dengan baik.
Sebuah rumah lama di jalan Jenderal Sudriman, dekat perempatan Koplak. Rumah bergaya Indis ini dahulu dihuni oleh Van Frassen, seorang direktur perkebunan. Tidak ada perubahan sama sekali pada bangunan ini selain teras depan yang ditutup untuk menambah ruangan. Bangunan ini sekarang menjadi kantor GKJ klasis Purworejo. Sebelumnya rumah in menjadi SMK Widhodo.
Salah satu rumah lama yang berada di kawasan Gang Afrikan (8). Rumah ini dahulu dihuni oleh Londo Ireng atau orang-orang kulit hitam dari Afrika yang didatangkan pemerintah Belanda ke Purworejo untuk bekerja sebagai serdadu. Orang-orang Afrika ini direkrut dari Kerajaan Ashanti (sekarang Guinea). Mereka direkrut karena dikenal kuat dan mudah beradaptasi dengan iklim tropis meski mereka dimata para perwira dianggap sebagai pemalas (Kessel,1995; 49). Itulah asal-usul mengapa tempat ini dinamakan Gang African. Keberadaan rumah-rumah ini menjadi bukti bahwa kota Purworejo dahulu merupakan sebuah kota yang multietnis dan semakin mempertegas keistimewaan kota Purworejo di masa lalu karena kehadiran masyarakat kulit hitam jarang sekali dijumpai pada sebuah kota di Indonesia.

Dari berbagai peninggalan masa kolonial di kota Purworejo, dapat disimpulkan bahwa ternyata kota Purworejo di masa lalu termasuk sebuah kota yang luar biasa penting, hingga pemerintah kolonial nyaris menjadikan Purworejo sebagai ibukota Hindia-Belanda. Daya tarik kota ini juga mendapat pujian oleh para pengelana Eropa yang pernah singgah di sini. Kejayaan kota Purworejo di masa lampau kini telah pensiun. Namun apakah pensiun bukan berarti harus berkarya ? Kota ini memiliki banyak peninggalan bangunan bersejarah yang perlu digarap secara maksimal. Apabila peninggalan itu dapat dilestarikan dengan baik, barangkali kota Purworejo bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi sejarah yang tidak kalah dengan Kota Tua Jakarta atau Kota Lama Semarang. Bukannya tidak mungkin jika  suatu hari nanti Purworejo bisa menjadi bagian dari Kota Warisan Dunia. Oleh karena itulah saya berharap, selagi peninggalan sejarah itu belum terlanjur hilang, mari bersama-sama mengenali dan menjaganya karena bagaimanapun juga peninggalan-peninggalan ini adalah milik kita dan generasi selanjutnya....

Referensi
Gill, Ronal. G. 1990. De Indische Stad op Java en Madoera. Delft : TU Delft.

Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Kessel, Ineke van. 2005. " West African Soldiers in The Dutch Indies ; From Donkos to Black Dutchmen" dalam Jurnal Transactions in Historical Society of Ghana, No. 9 tahun 2005.

Musadad. 2001. " Dari Pemukiman Benteng Ke Kota Administrasi ( Tataruang Kota Purworejo Tahun 1831-1930 ) ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

---------, 2002, " Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930 ". Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. 

Radix Penadi. 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya

Suherman, Oteng dan Supriyo. 2013. Kiprah RAA Cokronegoro I Membangun Kabupaten Purworejo. Purworejo : Pustara Srirono