Beberapa kilometer dari pondok pesantren Tebuireng, pesantren terbesar di Jombang, terdapat sebuah desa yang pada masanya pernah menjadi pusat siar Kristen di Jawa Timur di masa kolonial. Desa itu bernama Mojowarno. Bagaimanakah Mojowarno dapat tumbuh menjadi sebuah desa Kristen di tengah kabupaten yang pondok pesanternya berjibun itu ?
| Letak Mojowarno pada peta Jawa Timur. Di masa kolonial, Mojowarno masuk ke dalam Karesidenan Suabaya. |
Beserta kawan saya,
Samuel Heru P, kami berangkat dari Mojokerto menuju Mojowarno. Selama di
perjalanan, saya tak habis pikir, bagaimana sebuah tempat yang dulunya hutan
lebat tak bertuan bisa disulap menjadi desa Kristen paling berpengaruh di Jawa
Timur. Sesampainya di Mojowarno, saya mendapati sebuah desa yang sekilas
terlihat seperti desa-desa di Jawa Timur pada umumnya, rumah-rumah petak dengan
halaman lumayan luas berdiri di sepanjang jalan. Sebagian besar penduduknya
mengais rezeki dengan menjadi petani, mata pencaharian yang sama dengan
penduduk yang dulu membuka Desa Mojowarno.
Sebelum mengenal
Mojowarno lebih lanjut, kisah akan dimulai dulu dari Ngoro, suatu desa di selatan Jombang yang
menjadi titik awal penyebaran agama Kristen di Jawa Timur. Di sana, tersebutlah
seorang mantan zinder hutan jati
bernama Coenraad Laurens Coolen yang akhirnya menjadi tuan tanah di sana.
Coolen sendiri hanyalah orang Kristen awam, bukan pendeta ataupun penyebar
agama. Namun pria keturunan Rusia-Jawa itu mencoba untuk mengajarkan agama
Kristen kepada para pekerjanya. Apa yang dilakukan Coolen terbilang nekad
karena pemerintah kolonial secara tegas melarang penyebaran Kristen di tengah
pemeluk Islam karena dapat menimbulkan perselisihan. Selama mengajarkan agama
Kristen, Coolen menerjemahkan pengakuan iman rasuli, hukum sepuluh perintah
tuhan, dan doa bapa kami ke dalam bahasa Jawa. Maka dari itulah ajaran Kristen
ala Coolen seringkali bercampur dengan kepercayaan lokal. Kemudian ada pengikut
Coolen yang bernama Wiryoguno, seorang dalang berdarah Madura yang tersohor
namanya di Sidoarjo dan Surabaya. Wiryoguno memiliki ketertarikan kuat akan
ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan sehingga tatkala ia mendapat wangsit untuk
mendalami ilmu Musqab Gaib ia pun
melakakun sebuah pencarian yang akhirnya mempertemukan Wiryoguno dengan Coolen
di Ngoro. Setelah bertemu dengan Coolen, ia melanjutkan pertemuan dengan Emde di Surabaya. Di sana ia dibaptis dan setelah itu nama Karolus kemudian dibubuhkan padanya. Wiryoguno bercita-cita untuk bisa membangun sebuah desa bersama keluarganya.
Hutan Kracil di dekat
Ngoro menarik perhatian Wiryoguno. Setelah menerima izin membuka hutan dari
residen Surabaya dan mengurus birokrasi di Mojokerto, Wiryoguno beranjak ke
Dukuh Dagangan yang berada di dekat Hutan Kracil. Di dukuh itu, Wiryoguno bersua
dengan rekan lamanya di Ngoro, Ditotaruno yang diusir oleh Coolen dari Ngoro. Hutan Kracil
yang luas itupun dibuka secara perlahan dan menjadi padukuhan baru. Oleh
Wiryoguno, padukuhan itu diberi nama
“Mojowarno”, diambil dari kata Mojo karena berada di dekat pusat
kerajaan Majapahit dan “warno” karena penghuninya berasal dari beragam daerah
dan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Singkat cerita, pada 1850, Hutan
Kracil yang angker itupun akhirnya berganti menjadi tiga desa makmur, yakni Mojowarno, Mojowangi dan Mojoroto. Tiga desa itu
tumbuh sebagai desa agraris dengan membuat proyek seperti irigasi, bendung, dan
jalan penghubung antar desa. Setelah berita pembukaan Hutan Kracil terdengar di
telinga pemerintah kolonial, maka tiga desa tersebut diresmikan dengan
Wiryoguno sebagai Bau Aris atau koordinator kepala desa. Tiga desa yang didirikan oleh orang Jawa
Kristen itu menarik orang Kristen Jawa di tempat lain seperti Paulus Tosari,
Yakobus Singotruno, Simon Suryo, dan lain-lain yang ada di Sidokare, Sidoarjo. Pendatang
baru ini diterima dengan baik oleh Wiryoguno dan mereka dipersilahkan untuk
membuka hutan. Hutan-hutan itupun akhirnya menjadi tiga desa baru, yakni
Mojodukuh, Mojokembang, dan Mojojejer. Enam desa ini kemudian membentuk kesatuan jemaat
yang bernama jemaat Mojowarno.
Tahun 1851, tibalah di Mojowarno, seorang pengabar Injil kelahiran Frieslan, Belanda. Namanya Jelle Eeltje Jellesma, pendeta yang diutus oleh kelompok pekabar Injil Nederlands Zending Genootschap (NZG) ke Jawa Timur. Saat Jelessma tiba di Mojowarno, desa itu dipimpin
oleh Kyai Abisai Ditotaruno. Jumlah jemaatnya sudah mencapai 244 orang, angka
yang besar untuk sebuah desa pelosok. Selain mengajarkan Kristen, Jellesma juga
membuka sekolah. Sayangnya tugas Jellesma di Mojowarno berlangsung singkat
karena ia keburu meninggal pada 1858. Walau saat itu sudah banyak orang Jawa
yang memeluk Kristen, hal tersebut tidak berarti menjauhkan mereka dari
perilaku buruk seperti menghisap madat, mabuk, dan berjudi. Buruknya moral orang
Jawa Kristen menimbulkan kekecewaan di kalangan penginjil Belanda seperti Pdt. Harthoorn yang menganggap zending di Jawa adalah sebuah kegagalan.
Namun anggapan Harthoorn tidak berlaku pada Paulus Tosari, Pdt. Hoezoo, dan
Pdt. Kruyt senior. Mereka adalah pengganti Jellesma di Mojowarno yang dengan
sabar mengajarkan Kristen di kalangan orang Jawa. Disemai
sepenuh hati secara perlahan oleh penginjil Belanda dan Jawa, tunas Kekristenan di Jawa Timur
itu mulai tumbuh ( Nortier, 1939; 70 ).
| Pendeta J.Kruyt (1835-1918), pendeta Belanda terlama di Mojowarno. (sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java). |
| Ary Kruyt, putra pendeta J. Kruyt yang membantu ayahnya di Mojowarno (sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java ). |
Saya kini berdiri termenung di hadapan bangunan GKJW
Mojowarno yang terlihat sangat anggun dengan gaya neogotiknya. Umat gereja ini
memang terdiri dari orang-orang Jawa, namun tampilan bangunan gereja itu justru
terlihat sangat Eropa. Di bagian fronton, tertera tulisan aksara Jawa yang
berbunyi “Duh Gusti ingkang kawula sinten malih ? Paduka kagungan
Pangandikanipun gesang tanggeng” dan “Margane slamer rahe pamenthangan”. Jika
diterjemahkan, pesan dari tulisan tersebut adalah kepasrahan jemaat gereja pada
Tuhan. Hingga sekarang gereja ini masih menjadi tempat diajarkannya ajaran
Kristen yang dibawakan oleh Isa Almasih dua ribu tahun silam. Melangkah kaki ke
dalam, aura kekunoaan gereja masih belum lekang sama sekali.
![]() |
| Lukisan gedung gereja setelah selesai dibangun ( sumber : troppenmuseum.nl ). |
Gedung gereja GKJW
Mojowarno adalah warisan kemandirian jemaat Mojowarno di masa lampau. Untuk
mengatur jemaat yang semakin banyak, maka pada 1873 dibentuk majelis gereja.
Sungguhpun jemaat Mojowarno adalah penganut Kristen yang taat, nyatanya mereka
juga mahir dalam mengatur keuangan dan mengelola harta benda. Keadaan semakin
menguntungkan karena tidak seperti di tempat lain, tanah pertanian sepenuhnya
dikuasai oleh jemaat Mojowarno. Sejak tahun 1871, jemaat menghimpun tabungan
untuk pembangunan gereja dengan membentuk lumbung persekutuan. Para jemaat
secara sukarela akan menyerahkan sebagian hasil panenan kepada lumbung
persekutuan, lalu hasil panenan yang terkumpul dijual dan pendapatannya
disimpan di De Javaasche Bank cabang
Surabaya. Dana yang berhasil
terkumpul sebesar 25.000 gulden. Dengan uang yang terhimpun tersebut,
pada 1879 mereka mendirikan gedung gereja Mojowarno yang tampilannya tak kalah
megah dengan gedung gereja bikinan pemerintah kolonial yang ada di kota-kota
besar. Pembangunan gereja ini ditandai dengan upacara peletakan batu pertama
yang dilakukan oleh Christina Catarina Kruyt
pada 24 Februari 1879 dan upacara tersebut diabadikan pada sebuah prasasti
yang masih menempel di dinding gereja. Gereja yang selesai dibangun tahun 1881
ini tak sekedar wujud ketaatan jemaat Mojowarno pada agama Kristen. Lebih dari
itu, ia juga simbol kemakmuran Mojowarno berkat kemandirian jemaatnya (
Nortier, 1939; 76 ).
![]() |
| Suasana sidang pertama Madjelis Agoeng pada 12 Desember 1931. (Sumber : datacollectie.nederland.nl). |
| Majelis Agung GKJW di Mojowarno pada 1931 (sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java). |
Saya kemudian beranjak
naik ke menara lonceng. Di sana saya menjempui sebuah lonceng besar yang sudah
tak tergantung lagi di tempatnya dan hanya tergeletak di dalam menara. Sebuah
lambang cakra dibubuhkan pada lonceng perunggu tersebut dan mengingatkan saya
pada keraton Cakraningrat yang ada di Madura. Karolus dan keluarganya memang
masih ada pertalian darah dengan keraton Cakraningrat. Ia adalah putra ke 3
Pangeran Cokrokusumo dan cucu dari Sultan Cakradiningrat II.
![]() |
| Sekolah zending Mojowarno. |
![]() ![]() |
| Rumah Sakit Kristen Mojowarno kini dan dulu. |
![]() |
| Para pasien zendinghospitaal Mojowarno yang sedang mendapat perawatan. |
![]() |
| Makam orang Jawa Kristen. |
![]() |
| Slaah satu makam dengan batu nisan berbahasa Jawa. |
![]() |
| Makam Karolus Wiryoguno dan istrinya yang kedua. |
![]() |
| Makam J. Kruyt dan Ary Kruyt. |
Di saat saya melihat makam sembari membaca isi batu nisan, secara lekat
mata saya menangkap sebuah nama yang tampaknya cukup familiar. “Johannes Kruyt”.
Sayapun akhirnya sejenak termenung di hadapan makam tua itu. Inilah makam dari
pendeta berwajah tenang yang berjasa membesarkan jemaat Mojowarno bersama
Karolus Wiryoguno. Kontras sekali perbedaan makam keduanya. Makam Karolus
terlihat berkilau setelah dipugar. Sementara makam J. Kruyt terlihat jangkankan
terawat, ditengok pun tampaknya jarang. Batu nisannya tampak sudah pecah dan semak-semak tumbuh liar di
sekitarnya. Keadaan makam anaknya, Ary Kruyt, juga sama-sama tidak terawat. Walau demikian
setidaknya patut disyukuri jika batu nisan makam mereka masih utuh di tempatnya
sehingga siapapun masih dapat mencari jejak zending
Belanda yang berperan penting dalam penyebaran Kristen di Jawa Timur. Selain
makam J.Kruyt dan Ary Kruyt, ada pula makam Adriaan Nortier, salah satu dokter
yang pernah bekerja di RS Mojowarno. Termasuk di sana, ada makam Ismael, si
dokter Jawa dan istrinya. Keberadaan makam-makam tersebut memperlihatkan bahwa
para dokter tersebut rela meninggalkan zona nyaman dan mencurahkan hidupnya
untuk memberi pelayanan yang terbaik sekalipun itu berada jauh dari tempat asal
mereka.
Warisan budaya di Mojowarno selain bangunan-bangunan
kunonya yang masih terpelihara, adalah tradisi riyaya unduh-unduh. Dengan latar
belakang agraris, penduduk Mojowarno merupakan para petani yang masih
menghormati tradisi Jawa, dimana sebagai bentuk Rasa syukur atas panen melimpah
biasanya akan digelar upacara tertentu. Agar tradisi leluhur dapat selaras
dengan keyakinan mereka sekarang sebagai umat Kristen, maka digelarlah tradisi
riyaya unduh-unduh sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat berupa hasil
panen yang melimpah. Setiap musim panen padi tiba, Mojowarno akan riuh dengan
tradisi rutin tahunan tersebut, dimana berbagai penduduk dari berbagai latar
belakang ras dan agama dapat menyaksikan tradisi riyaya unduh-unduh ini. Saat
upacara digelar, halaman gereja akan dipadati dengan gerobak hias yang
mengangkut hasil bumi, makanan, dan hewan ternak yang nantinya akan didoakan.
Setelah didoakan, barang-barang tersebut dilelang dan hasilnya digunakan untuk keperluan gereja. Tradisi ini
selintas persis dengan tradisi slametan di berbagai tempat di Jawa yang mulanya
menggunakan mantra-mantra berbahasa Jawa Kuno, berganti dengan doa
berbahasa Arab ketika agama Islam masuk, dan di Mojowarno yang sebagian besar penduduknya beragama
Kristen, dipakai doa-doa cara Kristen.
Masa lalu memang belum habis di Mojowarno.
Bahana lonceng gereja yang dibangun lebih dari seabad silam masih bergema
setiap minggu. Murid-murid masih ceria belajar di sekolah yang dulu dibesarkan
para zending dan para pasien masih
mendatangi rumah sakit yang sudah ada sejak paruh pertama abad 20. Tradisi
riyaya unduh-unduh, pasar rakyat khas Mojowarno juga masih diselenggarakan
setiap musim panen. Dengan saling menghargai perbedaan, jemaat Kristen Mojowarno
hidup rukun bersama lingkungan masyarakat Islam yang kental seperti Jombang,
yang dikenal sebagai tempat kelahoran ulama-ulama kondang seperti K.H. Hasyim
Asyari, K.H, Wachid Hasyim, hingga Abdurahman Wahid yang membesarkan organiasi
Islam paling berpengaruh di Indonesia, Nahdalatul Ulama. Ya itulah Mojowarno,
pusat siar Kristen di Jawa Timur yang masa lalunya belum habis.
Referensi
Crommelin, D. 1909. Modjowarno, Een Zendingpost. Rotterdam ; Eletriche Drukkerij M.Wyt &
Zonen.
Hadi Wahjono,
Bau Aris R. Karolus Wiryoguno : Pemimpin Babad Hutan Kracil (Cikal Bakal
Berdirinya Desa-Desa di Mojowarno), Taman Pustaka Kristen Indonesia (TPK),
Yogyakarta.
Nortier, C.W . 1939. Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java. Zendingstudie-raad
.
Wolterbeek, J.D . 1995. Babad Zending di Pulau Jawa. Yogyakarta ; Taman Pustaka Kristen.
.jpg)

.jpg)






%20te%20Mojowarno,%20Oost-Java..jpg)































