Sabtu, 01 September 2018

Mengenal Mojowarno, Pusat Siar Kristen di Jawa Timur

Beberapa kilometer dari pondok pesantren Tebuireng, pesantren terbesar di Jombang, terdapat sebuah desa yang pada masanya pernah menjadi pusat siar Kristen di Jawa Timur di masa kolonial. Desa itu bernama Mojowarno. Bagaimanakah Mojowarno dapat tumbuh menjadi sebuah desa Kristen di tengah kabupaten yang pondok pesanternya berjibun itu ?
Letak Mojowarno pada peta Jawa Timur. Di masa kolonial, Mojowarno masuk ke dalam Karesidenan Suabaya.
Beserta kawan saya, Samuel Heru P, kami berangkat dari Mojokerto menuju Mojowarno. Selama di perjalanan, saya tak habis pikir, bagaimana sebuah tempat yang dulunya hutan lebat tak bertuan bisa disulap menjadi desa Kristen paling berpengaruh di Jawa Timur. Sesampainya di Mojowarno, saya mendapati sebuah desa yang sekilas terlihat seperti desa-desa di Jawa Timur pada umumnya, rumah-rumah petak dengan halaman lumayan luas berdiri di sepanjang jalan. Sebagian besar penduduknya mengais rezeki dengan menjadi petani, mata pencaharian yang sama dengan penduduk yang dulu membuka Desa Mojowarno.
Karolus Wiryoguno, pembuka hutan Kracil ( sumber : id.wikipedia.org ).
Sebelum mengenal Mojowarno lebih lanjut, kisah akan dimulai dulu dari Ngoro, suatu desa di selatan Jombang yang menjadi titik awal penyebaran agama Kristen di Jawa Timur. Di sana, tersebutlah seorang mantan zinder hutan jati bernama Coenraad Laurens Coolen yang akhirnya menjadi tuan tanah di sana. Coolen sendiri hanyalah orang Kristen awam, bukan pendeta ataupun penyebar agama. Namun pria keturunan Rusia-Jawa itu mencoba untuk mengajarkan agama Kristen kepada para pekerjanya. Apa yang dilakukan Coolen terbilang nekad karena pemerintah kolonial secara tegas melarang penyebaran Kristen di tengah pemeluk Islam karena dapat menimbulkan perselisihan. Selama mengajarkan agama Kristen, Coolen menerjemahkan pengakuan iman rasuli, hukum sepuluh perintah tuhan, dan doa bapa kami ke dalam bahasa Jawa. Maka dari itulah ajaran Kristen ala Coolen seringkali bercampur dengan kepercayaan lokal. Kemudian ada pengikut Coolen yang bernama Wiryoguno, seorang dalang berdarah Madura yang tersohor namanya di Sidoarjo dan Surabaya. Wiryoguno memiliki ketertarikan kuat akan ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan sehingga tatkala ia mendapat wangsit untuk mendalami ilmu Musqab Gaib ia pun melakakun sebuah pencarian yang akhirnya mempertemukan Wiryoguno dengan Coolen di Ngoro. Setelah bertemu dengan Coolen, ia melanjutkan pertemuan dengan Emde di Surabaya. Di sana ia dibaptis dan setelah itu nama Karolus kemudian dibubuhkan padanya. Wiryoguno bercita-cita untuk bisa membangun sebuah desa bersama keluarganya.
Pendeta Jelle Eeltjes Jellesma.
Hutan Kracil di dekat Ngoro menarik perhatian Wiryoguno. Setelah menerima izin membuka hutan dari residen Surabaya dan mengurus birokrasi di Mojokerto, Wiryoguno beranjak ke Dukuh Dagangan yang berada di dekat Hutan Kracil. Di dukuh itu, Wiryoguno bersua dengan rekan lamanya di Ngoro, Ditotaruno yang diusir oleh Coolen dari Ngoro. Hutan Kracil yang luas itupun dibuka secara perlahan dan menjadi padukuhan baru. Oleh Wiryoguno, padukuhan itu diberi nama  “Mojowarno”, diambil dari kata Mojo karena berada di dekat pusat kerajaan Majapahit dan “warno” karena penghuninya berasal dari beragam daerah dan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Singkat cerita, pada 1850, Hutan Kracil yang angker itupun akhirnya berganti menjadi tiga desa makmur, yakni Mojowarno, Mojowangi dan Mojoroto. Tiga desa itu tumbuh sebagai desa agraris dengan membuat proyek seperti irigasi, bendung, dan jalan penghubung antar desa. Setelah berita pembukaan Hutan Kracil terdengar di telinga pemerintah kolonial, maka tiga desa tersebut diresmikan dengan Wiryoguno sebagai Bau Aris atau koordinator kepala desa.  Tiga desa yang didirikan oleh orang Jawa Kristen itu menarik orang Kristen Jawa di tempat lain seperti Paulus Tosari, Yakobus Singotruno, Simon Suryo, dan lain-lain yang ada di Sidokare, Sidoarjo. Pendatang baru ini diterima dengan baik oleh Wiryoguno dan mereka dipersilahkan untuk membuka hutan. Hutan-hutan itupun akhirnya menjadi tiga desa baru, yakni Mojodukuh, Mojokembang, dan Mojojejer. Enam desa ini kemudian membentuk kesatuan jemaat yang bernama jemaat Mojowarno.
Rumah Jellesma di Mojowarno
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java).
Tahun 1851, tibalah di Mojowarno, seorang pengabar Injil kelahiran Frieslan, Belanda. Namanya Jelle Eeltje Jellesma, pendeta yang diutus oleh kelompok pekabar Injil Nederlands Zending Genootschap (NZG) ke Jawa Timur. Saat Jelessma tiba di Mojowarno, desa itu dipimpin oleh Kyai Abisai Ditotaruno. Jumlah jemaatnya sudah mencapai 244 orang, angka yang besar untuk sebuah desa pelosok. Selain mengajarkan Kristen, Jellesma juga membuka sekolah. Sayangnya tugas Jellesma di Mojowarno berlangsung singkat karena ia keburu meninggal pada 1858. Walau saat itu sudah banyak orang Jawa yang memeluk Kristen, hal tersebut tidak berarti menjauhkan mereka dari perilaku buruk seperti menghisap madat, mabuk, dan berjudi. Buruknya moral orang Jawa Kristen menimbulkan kekecewaan di kalangan penginjil Belanda seperti Pdt. Harthoorn yang menganggap zending di Jawa adalah sebuah kegagalan. Namun anggapan Harthoorn tidak berlaku pada Paulus Tosari, Pdt. Hoezoo, dan Pdt. Kruyt senior. Mereka adalah pengganti Jellesma di Mojowarno yang dengan sabar mengajarkan Kristen di kalangan orang Jawa. Disemai sepenuh hati secara perlahan oleh penginjil Belanda dan Jawa, tunas Kekristenan di Jawa Timur itu mulai tumbuh ( Nortier, 1939; 70 ).
Pendeta J.Kruyt (1835-1918), pendeta Belanda terlama di Mojowarno.
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java).
Ary Kruyt, putra pendeta J. Kruyt yang membantu ayahnya di Mojowarno
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java ).
Pendeta J. Kruyt tiba di Mojowarno pada 1864. Saat itu ia masih berusia 29 tahun. Cukup lama ia menjadi pendeta di Mojowarno, yakni dari tahun 1864 hingga ia meninggal pada tahun 1918. Oleh penduduk desa, J. Kruyt diangkat sebagai pemimpin desa. Wibawa dan sikap tegasnya membuat nasihat dari J. Kruyt selalu didengar dan dipatuhi oleh penduduk desa.  J. Kruyt membuat peraturan desa berlandaskan ajaran Kristen, semisal penduduk desa yang beragama Kristen tidak diperkenankan bekerja di sawah pada hari Minggu dan harus menghadiri kebaktian. Hiburan pertunjukan semacam tayub dilarang sebagai hiburan penyerta upacara perkawinan. Lalu anak laki-laki dan perempuan diwajibkannya untuk bersekolah. Upaya yang dilakukan oleh Kruyt ini bertujuan untuk mematahkan pandangan negatif dari para zending Belanda seperti Harthoorn, yang memandang bahwa orang Jawa tidak mampu menjadi penganut Kristen yang saleh. Tahun 1882, putra pendeta J. Kruyt, Ary Kruyt menyusul ayahnya di Mojowarno setelah menyelesaikan studi di Belanda. Laksana buah yang tak jatuh jauh dari pohonnya, Ary Kruyt juga seorang pendeta yang cakap mengurus jemaat. Keberhasilan  di Mojowarno membuat mereka berdua diberi amanat yang lebih besar lagi, yakni mengasuh semua orang Kristen di Karesidenan Surabaya.
Tampak luar gedung GKJW Mojowarno.


Bagian dalam gereja.
Bagian mimbar gereja.
Saya kini berdiri termenung di hadapan bangunan GKJW Mojowarno yang terlihat sangat anggun dengan gaya neogotiknya. Umat gereja ini memang terdiri dari orang-orang Jawa, namun tampilan bangunan gereja itu justru terlihat sangat Eropa. Di bagian fronton, tertera tulisan aksara Jawa yang berbunyi “Duh Gusti ingkang kawula sinten malih ? Paduka kagungan Pangandikanipun gesang tanggeng” dan “Margane slamer rahe pamenthangan”. Jika diterjemahkan, pesan dari tulisan tersebut adalah kepasrahan jemaat gereja pada Tuhan. Hingga sekarang gereja ini masih menjadi tempat diajarkannya ajaran Kristen yang dibawakan oleh Isa Almasih dua ribu tahun silam. Melangkah kaki ke dalam, aura kekunoaan gereja masih belum lekang sama sekali.
Lukisan gedung gereja setelah selesai dibangun ( sumber : troppenmuseum.nl ).

Bangunan GKJW Mojowarno pada 1894.
Bagian dalam gereja Mojowarno pada tahun 1894
(sumber : datacollectie.nederland.nl)
Gedung gereja GKJW Mojowarno adalah warisan kemandirian jemaat Mojowarno di masa lampau. Untuk mengatur jemaat yang semakin banyak, maka pada 1873 dibentuk majelis gereja. Sungguhpun jemaat Mojowarno adalah penganut Kristen yang taat, nyatanya mereka juga mahir dalam mengatur keuangan dan mengelola harta benda. Keadaan semakin menguntungkan karena tidak seperti di tempat lain, tanah pertanian sepenuhnya dikuasai oleh jemaat Mojowarno. Sejak tahun 1871, jemaat menghimpun tabungan untuk pembangunan gereja dengan membentuk lumbung persekutuan. Para jemaat secara sukarela akan menyerahkan sebagian hasil panenan kepada lumbung persekutuan, lalu hasil panenan yang terkumpul dijual dan pendapatannya disimpan di De Javaasche Bank cabang Surabaya. Dana yang berhasil  terkumpul sebesar 25.000 gulden. Dengan uang yang terhimpun tersebut, pada 1879 mereka mendirikan gedung gereja Mojowarno yang tampilannya tak kalah megah dengan gedung gereja bikinan pemerintah kolonial yang ada di kota-kota besar. Pembangunan gereja ini ditandai dengan upacara peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Christina Catarina Kruyt  pada 24 Februari 1879 dan upacara tersebut diabadikan pada sebuah prasasti yang masih menempel di dinding gereja. Gereja yang selesai dibangun tahun 1881 ini tak sekedar wujud ketaatan jemaat Mojowarno pada agama Kristen. Lebih dari itu, ia juga simbol kemakmuran Mojowarno berkat kemandirian jemaatnya ( Nortier, 1939; 76 ).
Suasana sidang pertama Madjelis Agoeng pada 12 Desember 1931.
(Sumber : datacollectie.nederland.nl).
Majelis Agung GKJW di Mojowarno pada 1931
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java).
Pada tahun 1900, jemaat Kristen di Mojowarno sudah menyentuh hingga angka 3555 orang, jumlah yang terbilang banyak dan menjadikan Mojowarno sebagai desa dengan jemaat Kristen terbesar di Jawa Timur (Wolterbeek, 1995;104). Sebagai tanda kematangan jemaat, para jemaat Mojowarno pada hari Pantekosta tahun 1923 telah mengangkat pendeta dari bangsa mereka sendiri, yakni Pdt. M. Driya Mestaka. Baru merekalah yang melakukan hal tersebut di Jawa Timur dan dengan demikian mereka sudah tidak diatur lagi oleh lembaga zending Belanda. 
NZG akhirnya memutuskan untuk menjadikan jemaat jawa menjadi persekutuan gerejawi Pasamuwan-pasamuwan Kristen ing Tanah Djawi Wetan atau Oost Javaansche Kerk yang direncanakan akan dideklarasikan pada 11 Desember 1931. Hari yang ditunggu pun tiba dan gedung gereja Mojowarno mendapat kehormatan sebagai tempat dilangsungkannya acara bersejarah tersebut. Kendati ruang gereja penuh sesak, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat jemaat dari berbagai tempat yang menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut. Dari pertemuan tersebut terbentuklah Madjelis Agoeng sebagai wadah sinodial Oost-Javaansche Kerk. Keesokan harinya di tempat yang sama, Madjelis Agoeng mengadakan sidang perdananya untuk memilih pengurus (Wolterbeek, 1995; 129-130). Dari sebuah hutan angker, Mojowarno akhirnya tumbuh menjadi pusat siar agama Kristen di Jawa Timur dan saksi jemaat pribumi di Jawa Timur membuka lembaran baru.
Saya kemudian beranjak naik ke menara lonceng. Di sana saya menjempui sebuah lonceng besar yang sudah tak tergantung lagi di tempatnya dan hanya tergeletak di dalam menara. Sebuah lambang cakra dibubuhkan pada lonceng perunggu tersebut dan mengingatkan saya pada keraton Cakraningrat yang ada di Madura. Karolus dan keluarganya memang masih ada pertalian darah dengan keraton Cakraningrat. Ia adalah putra ke 3 Pangeran Cokrokusumo dan cucu dari Sultan Cakradiningrat II.
Sekolah zending Mojowarno.
Dari menara lonceng tersebut, saya dapat memandang lebih jelas lingkungan sekitar gereja. Di sebelah utara gereja ada sebuah kompleks sekolah sementara persis di seberang timur jalan, terdapat rumah sakit yang cukup ramai. Mencontoh pendeta Jellesma, bapak-anak Kryut mendirikan sekolah yang berada tak jauh dari rumah pendeta. Tidak seperti sekolah zaman sekarang, jam belajar dimulai agak siang, yakni pukul 10.00 dan berakhir pukul 14.00, sehingga masih ada kesempatan untuk anak-anak membantu orang tuanya. Anak laki-laki bisa membantu ayahnya mencari rumput dan menggembalakan ternak, sementara anak perempuan bisa membantu ibunya memasak di rumah. Ada pula sekolah calon guru yang mengajarkan pengetahuan Injil, sejarah perkembangan gereja, dan teologi. Di sekitar Mojowarno dahulu banyak pabrik gula, maka agar para pemuda Mojowarno dapat bekerja di sana maka dibukalah sekolah pertukangan (Wolterbeek, 1995;110).

Rumah Sakit Kristen Mojowarno kini dan dulu.
Para pasien zendinghospitaal Mojowarno yang sedang mendapat perawatan.
Berbekal ilmu kedokteran yang mereka miliki, bapak anak Kruyt membuka pelayanan kesehatan. 3000 orang yang berobat sudah berobat kepada Kruyt sejak tahun 1867. Karena kewalahan, Kruyt meminta bantuan NZG untuk mengirimkan tenaga kesehatan dan mendirikan rumah sakit. Permintaan Kruyt terwujud pada 1894 dengan dibangunnya Zendinghospitaal Mojowarno.  Pelayanan rumah sakit ini terbilang prima sehingga orang rela datang jauh-jauh hanya demi berobat ke rumah sakit ini. Selain ada dokter Belanda seperti Bervoets, Duymer, dan A.Pijzel, ada pula seorang dokter Jawa yang bernama dokter Ismael. Adalah hal yang luar biasa ketika ada seorang dokter Jawa di sana karena orang Jawa saat itu dianggap bodoh perihal kebersihan. Karena hal itu Dr. Bervoets sempat dicemooh ketika mendidik orang Jawa sebagai juru rawat (Nortier, 1939; 259).
Makam orang Jawa Kristen.
Slaah satu makam dengan batu nisan berbahasa Jawa.
Sesudah melihat-lihat bangunan di sekitar gereja, saya bersama Samuel mencari dimana orang-orang Kristen Mojowarno dulu dimakamkan. Dengan menerabas jalan pematang sawah, kamipun berhasil menemukan makam yang sebagian besar sudah tertutup semak belukar. Di sana, kami menziarahi makam Karolus Wiryoguno, pemimpin babad Hutan Kracil. Karolus Wiryoguno meninggal pada 1899 dan sepeninggalnya, usaha merawat jemaat dan desa Mojowarno diteruskan oleh anak-anaknya. 
Makam Karolus Wiryoguno dan istrinya yang kedua.
Sebagaimana makam Belanda, makam orang Jawa Kristen ini memakai batu marmer putih walau hiasannya jauh lebih sederhana dibanding makam Belanda. Sebagai tanda bahwa walau mereka sudah menganut agama Kristen bukan berarti menghilangkan jatidiri mereka sebagai orang Jawa, nama pada batu nisan menyandingkan nama baptis dengan nama Jawa. Ditinjau dari segi bahasa yang dipakai, ada dua jenis makam, yakni yang memakai bahasa Belanda dan Jawa. Selain makam orang Belanda, bahasa Belanda rupanya dipakai pula untuk orang Jawa, tanda bahwa sudah banyak penduduk di Mojowarno yang sudah melek huruf.
Makam J. Kruyt dan Ary Kruyt.
Di saat saya melihat makam sembari membaca isi batu nisan, secara lekat mata saya menangkap sebuah nama yang tampaknya cukup familiar. “Johannes Kruyt”. Sayapun akhirnya sejenak termenung di hadapan makam tua itu. Inilah makam dari pendeta berwajah tenang yang berjasa membesarkan jemaat Mojowarno bersama Karolus Wiryoguno. Kontras sekali perbedaan makam keduanya. Makam Karolus terlihat berkilau setelah dipugar. Sementara makam J. Kruyt terlihat jangkankan terawat, ditengok pun tampaknya jarang. Batu nisannya tampak sudah pecah dan semak-semak tumbuh liar di sekitarnya. Keadaan makam anaknya, Ary Kruyt, juga sama-sama tidak terawat. Walau demikian setidaknya patut disyukuri jika batu nisan makam mereka masih utuh di tempatnya sehingga siapapun masih dapat mencari jejak zending Belanda yang berperan penting dalam penyebaran Kristen di Jawa Timur. Selain makam J.Kruyt dan Ary Kruyt, ada pula makam Adriaan Nortier, salah satu dokter yang pernah bekerja di RS Mojowarno. Termasuk di sana, ada makam Ismael, si dokter Jawa dan istrinya. Keberadaan makam-makam tersebut memperlihatkan bahwa para dokter tersebut rela meninggalkan zona nyaman dan mencurahkan hidupnya untuk memberi pelayanan yang terbaik sekalipun itu berada jauh dari tempat asal mereka.

Warisan budaya di Mojowarno selain bangunan-bangunan kunonya yang masih terpelihara, adalah tradisi riyaya unduh-unduh. Dengan latar belakang agraris, penduduk Mojowarno merupakan para petani yang masih menghormati tradisi Jawa, dimana sebagai bentuk Rasa syukur atas panen melimpah biasanya akan digelar upacara tertentu. Agar tradisi leluhur dapat selaras dengan keyakinan mereka sekarang sebagai umat Kristen, maka digelarlah tradisi riyaya unduh-unduh sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat berupa hasil panen yang melimpah. Setiap musim panen padi tiba, Mojowarno akan riuh dengan tradisi rutin tahunan tersebut, dimana berbagai penduduk dari berbagai latar belakang ras dan agama dapat menyaksikan tradisi riyaya unduh-unduh ini. Saat upacara digelar, halaman gereja akan dipadati dengan gerobak hias yang mengangkut hasil bumi, makanan, dan hewan ternak yang nantinya akan didoakan. Setelah didoakan, barang-barang tersebut dilelang dan hasilnya digunakan untuk keperluan gereja. Tradisi ini selintas persis dengan tradisi slametan di berbagai tempat di Jawa yang mulanya menggunakan mantra-mantra berbahasa Jawa Kuno, berganti dengan doa berbahasa Arab ketika agama Islam masuk, dan di Mojowarno yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, dipakai doa-doa cara Kristen.

Masa lalu memang belum habis di Mojowarno. Bahana lonceng gereja yang dibangun lebih dari seabad silam masih bergema setiap minggu. Murid-murid masih ceria belajar di sekolah yang dulu dibesarkan para zending dan para pasien masih mendatangi rumah sakit yang sudah ada sejak paruh pertama abad 20. Tradisi riyaya unduh-unduh, pasar rakyat khas Mojowarno juga masih diselenggarakan setiap musim panen. Dengan saling menghargai perbedaan, jemaat Kristen Mojowarno hidup rukun bersama lingkungan masyarakat Islam yang kental seperti Jombang, yang dikenal sebagai tempat kelahoran ulama-ulama kondang seperti K.H. Hasyim Asyari, K.H, Wachid Hasyim, hingga Abdurahman Wahid yang membesarkan organiasi Islam paling berpengaruh di Indonesia, Nahdalatul Ulama. Ya itulah Mojowarno, pusat siar Kristen di Jawa Timur yang masa lalunya belum habis.

Referensi
Crommelin, D. 1909. Modjowarno, Een Zendingpost. Rotterdam ; Eletriche Drukkerij M.Wyt & Zonen.


Hadi Wahjono, Bau Aris R. Karolus Wiryoguno : Pemimpin Babad Hutan Kracil (Cikal Bakal Berdirinya Desa-Desa di Mojowarno), Taman Pustaka Kristen Indonesia (TPK), Yogyakarta.

Nortier, C.W . 1939. Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java. Zendingstudie-raad
.
Wolterbeek, J.D . 1995. Babad Zending di Pulau Jawa. Yogyakarta ; Taman Pustaka Kristen.

Sabtu, 25 Agustus 2018

Makam Tionghoa yang Tersentuh Budaya Eropa

Salah satu hasil kebudayaan material manusia yang tertua sekaligus paling banyak ditemukan di segala tempat adalah makam. Ketika setiap kebudayaan memiliki corak hidup yang berbeda, begitu pula dalam urusan kematian, sehingga masing-masing kebudayaan menghasilkan bentuk makam yang berbeda pula. Melalui proses migrasi atau diaspora, beberapa bentuk makam dapat ditemukan di tempat yang memiliki kebudayaan berbeda, contohnya adalah makam-makam peninggalan orang Tionghoa di Indonesia atau lebih dikenal sebagai bong. Pada saat bersamaan, kehadiran orang Belanda di masa kolonial juga meninggalkan makam-makam khas Eropa. Kendati tradisi Tionghoa telah memberi aturan dalam pembuatan makam, namun adanya persentuhan dengan kebudayaan lain seperti kebudayaan Eropa menciptakan bentuk makam yang sangat menarik.  Jejak Kolonial kali ini akan mengulas tentang beberapa makam Tionghoa yang telah mendapat sedikit sentuhan dari budaya Eropa.
Gerbang masuk ke makam Tan Gee Tjhiang.
“Familie Begraafplaats van Tan Gee Tjhiang en Tan Hing Gie Salatiga Anno : 1915 “, begitulah bunyi sebuah prasasti yang menempel di dinding sebuah bangunan kuno dekat makam orang yang namanya sudah disebutkan di prasasti tersebut. Makam ini berada di Ngebong, Salatiga, tempat yang selama ini dikenal sebagai tempat permakaman orang Tionghoa di Salatiga. Letak makam ini cukup tinggi dibanding makam sekitar. Semburat puncak Gunung Merbabu terlihat mempesona dari tempat ini, sebuah tempat yang indah untuk tempat peristirahatan terakhir. Selain tempatnya yang indah, bentuk makamnya pun juga tidak kalah istimewa.
Makam Tan Gee Tjhiang.
Unsur Tionghoa pada makam Tan Gee Tjhiang masih terasa kental. Dilihat dari atas, bentuk makam masih mempertahankan dalam bentuk tradisional, yakni dalam seperti punggung kura-kura (ku-khak-bong). Bentuk punggung kura-kura ditiru karena hewan tersebut memiliki umur panjang keturunan almarhum akan dijanjikan umur panjang. Sementara menurut penafsiran J.J.M. de Groot, alasan utama mengapa makam Tionghoa memiliki bentuk demikian adalah sebagai pengganti jajaran punggung bukit yang menurut prinsip feng shui diyakini akan melindungi kuburan dari "angin berbahaya" yang berasal dari tiga sisi. Bentuk makam punggung kura-kura dikenal dalam tradisi Vietnam, Kepulauan Ryuku, dan Tiongkok Selatan. Tradisi tersebut kemudian dibawa oleh perantauan dari Tiongkok Selatan ke negeri rantau. Menempel pada makam, adalah meja altar dengan ukiran gaya Tiongkok yang dibuat begitu halus dan sedap dipandang. Meja altar itu adalah tempat peziarah meletakan sesaji dan dupa. Tradisi Tionghoa mengenal makam lebih dari sekedar tempat menguburkan insan yang telah tiada. Ia adalah salah satu sarana penghubung antara anak cucu yang masih hidup dengan leluhur. Pada bulan tertentu, sebagai tanda bakti kepada leluhur mereka menggelar tradisi ziarah makam atau dikenal sebagai cengbeng. Di makam yang mereka ziarahi, mereka membawa berbagai makanan, buah-buahan, minuman sebagai sesaji. Sesaji itu lalu diletakan di atas meja altar tadi sebagai hadiah kepada leluhur yang kemudian diikuti sembahyang penghormatan leluhur. 
Hiasan keramik.
Bongpay atau batu nisan makam masih tampak melekat di makam berusia lebih dari seabad tersebut. Pada sebuah bongpay, selain nama si meninggal, juga terkandung nama-nama sanak saudara yang ditinggalkan sebagai penghargaan atas nilai persaudaran yang senantiasa dipelihara meski sudah berpisah alam. Bongpay-bongpay itu juga bisa menjadi data genealogi yang membantu anak cucu untuk menelusuri jejak leluhurnya. Di belakang bongpay tersebut, ada gundukan tanah tempat jenazah dikuburkan sehingga makam tersebut seperti tempurung kura-kura. Sementara di samping kanan dan kiri bongpay, terdapat tembok yang mengelilingi latar depan makam.
Altar Dewa Bumi.
Unsur makam Tionghoa lain yang terdapat pada makam Tan Gee Tjhiang adalah altar Tu Di Gong atau Dewa Bumi. Pada makam-makam Tionghoa, biasanya terdapat sebuah altar kecil di sebelah kiri dari makam yang digunakan untuk altar Tu Di Gong. Fungsi altar Tu Ti Gong pada makam adalah sebagai pelindung untuk mencegah agar roh-roh jahat tidak mengganggu leluhur yang dimakamkan di tempat tersebut. Oleh karena itu, setiap orang yang akan menziarahi makam harus berdoa terlebih dahulu di altar Tu Di Gong sebagai penghormatan dan memohon izin, sebelum membakar dupa untuk leluhur. Dibanding dengan makam-makam Tionghoa lain, altar Tu Di Gong pada makam Tan Gee Tjhiang diberi rumah-rumahan kecil sehingga menjadikan altar itu seperti sebuah kelenteng mini. Namun tak hanya itu saja pernak-pernik yang ada di makam Tan Gee Tjhiang.  Jika menengok ke bagian lantai yang terhampar di depan makam, di sana a kan terjumpai hiasan keramik Eropa. Buah Pala, pedang simbol kota Batavia, singa lambang Kerajaan Belanda, hingga monogram VOC, semua hiasan ini nyata sekali adalah milik Eropa. Inilah yang menjadikan makam Tan Gee Tjhiang lain daripada makam Tionghoa lain di Ngebong, Salatiga.
Monumen di belakang makam Tan Gee Tjhiang.
Beranjak ke belakang makam, akan terjumpai dua monumen yang secara kasat mata seperti monumen buatan orang Eropa. Sepasang patung singa jantan gaya Eropa menjaga setiap monumen ini. Monumen ini sekilas berbentuk seperti plengkung kemenangan yang dibuat oleh bangsa Romawi dengan plengkung pada keempat sisinya. Sementara di atas plengkungan terpampang dua sengkalan, 1915 untuk tahun Masehi dan 2466 untuk tahun Cina. Sengkalan itu menjadi penanda tahun makam itu dibangun. Sementara itu, sebaris tulisan Mandarin yang ditulis dari atas ke bawah juga menghiasi kedua monument itu. Nyaris terlihat identik, namun terdapat perbedaan dalam rincinya. Kedua monument ini tampaknya bertalian dengan konsep dualisme dalam filosofi Tionghoa, dimana Alam Semesta seisinya ini diciptakan secara berpasang-pasangan.
Bekas bangunan paseban.
Hal lain yang membuat makam Tan Gee Tjhiang ini tampak berbeda dari yang lain adalah keberadaan bangunan kuno yang masih berdiri di dekat makam ini walau keadaanya sudah tampak lusuh. Menurut keterangan penjaga makam yang kini tinggal di bangunan itu, bangunan yang ia tempati sekarang di masa silamnya adalah paseban tempat keluarga beritirahat jika mereka sedang berziarah ke makam ini. Rasanya cukup masuk akal mengingat letak makam ini berada di tempat yang tertinggi sehingga cukup menguras tenaga bagi mereka yang berziarah ke sini. Dilihat sekilas, bangunan ini seperti paviliun yang sering ada di samping kiri atau kanan rumah orang Eropa.

Makam Tan Gee Tjhiang adalah salah satu contoh awal hasil silang budaya Tionghoa dengan Eropa. Walau orang Tionghoa secara kukuh berusaha menjaga tradisinya, namun persentuhan dengan orang-orang Eropa di masa kolonial membuat beberapa kebudayaan Eropa merasuk ke dalam sendi orang Tionghoa. Dalam struktur sosial kolonial, orang Tionghoa berada di derajad kedua, setingkat di bawah orang Eropa dan setingkat di atas orang pribumi. Jika pemerintah kolonial dalam urusan politik menjadikan bupati sebagai perantara dengan orang pribumi, maka dalam urusan ekonomi, mereka memilih orang Tionghoa sebagai perantara mereka. Dari situ terbentuk hubungan antara importir Eropa dengan konsumen pribumi (Stroomberg, 2018; 61). Dengan sifat giat dan hemat, orang Tionghoa mampu menggapai kemakmuran dengan jumlah kekayaanya mampu mengungguli milik orang Eropa. Seperti halnya orang-orang kaya masa kini, beberapa di antara mereka menjadikan gaya hidup Eropa sebagai patokan gengsi. Selain itu, dengan meniru gaya hidup mereka, setidaknya meraka akan dianggap setara dengan orang Eropa yang saat itu berada di lapisan paling atas dalam sistem sosial kolonial. Salah satu upaya awal dilakukan oleh taipan gula asal Semarang, Oei Tiong Ham yang mengajukan izin kepada Gubernur Jenderal pada 1889 agar diperkenankan mengenakan busana ala barat karena saat itu orang Tionghoa masih dilarang memakai busana ala barat. Baru pada tahun 1905 orang Tionghoa diberikan kebebasan untuk memakai pakaian gaya barat (Liem, 1931; 184). Sesudah itu, semakin banyak orang Tionghoa yang mengadopsi gaya hidup kebarat-baratan, apalagi setelah mereka mengenyam pendidikan Belanda di HCS (Hollandsch Chinesee School). Thauw-chang atau rambut kucir ditanggalkan oleh generasi muda Tionghoa yang sudah mendapat pendidikan barat. Sementara pengantin Tionghoa mulai mengenakan busana pengantin Eropa meski mereka masih menjalankan upacara pernikahan sesuai adat tradisional (Liem, 1931; 239). Selain dalam bentuk busana, pengaruh Eropa dalam gaya hidup orang Tionghoa juga terlihat pada bentuk rumah dan makam.
Mausoleum Thio Sing Liong.
Makam berikutnya yang merupakan hasil silang budaya Tionghoa-Eropa adalah mausoleum yang terletak di Jalan Sriwijaya, Peterongan, Semarang. Dengan gunungan atap yang tebal dan tinggi, mausoleum yang menyerupai bangunan klenteng itu menaungi makam dari Thio Sing Liong beserta istrinya yang kedua. Dahulu, lingkungan sekitar mausoleum itu masih merupakan lahan permakaman Tionghoa di Semarang. Desakan pembangunan membuat banyak makam lainnya tersingkir dan akhirnya tinggal menyisakan mausoleum Thio Sing Liong yang kini terkepung di antara bangunan komersil dan perkampungan padat. Bagian depan mausoeleum itu dilindungi oleh pintu besi dengan jerujinya yang dibuat dalam bentuk yang cantik. Walau terlihat terkunci rapat dari luar, namun masih ada pintu lain untuk masuk ke dalamnya. Pintu tersebut berada di belakang mausoleum, dimana terdapat makam Tionghoa lain milik kerabat Thio Sing Liong. Untuk masuk ke dalam bisa memberitahu penjaga makam yang membuka bengkel di dekat mausoleum tersebut.
Bagian dalam makam Thio Sing Liong.
Arsitektur Tionghoa memang tampak kentara sekali dari luar makam, namun siapa sangka jika bagian dalam makam justru nuansa Eropa yang lebih terasa. Tidak ada gundukan tanah lazimnya makam Tionghoa dan sebagai gantinya adalah dua sarkofagus besar dari batu pualam hitam. Di dalam sarkofagus itulah jenazah Thio Sing Liong dan istrinya yang kedua dibaringkan. Pada sisi depan setiap sarkofagus, dipahatkan inkripsi yang jamak tertulis pada sebuah bongpay. Thio Sing Liong semasa hidupnya dikenal sebagai pebisnis terkemuka di Semarang dan pendiri dari N.V. Handel Maatschappij Thio Sing Liong yang bergerak di bidang perdagangan gula (De Indische Courant 16 Desember 1940). Pada tahun 1940, Thio Sing Liong meninggal dan berbagai kelompok masyarakat Tionghoa memberi karangan bunga duka cita yang masih tersimpan di dalam makamnya. Sementara itu, istri kedua Thio Sing Liong sudah meninggal terlebih dahulu. Dalam tradisi Tionghoa, makam sepasang suami istri hampir selalu dibuat berdampingan atau dimakamkan dalam satu lubang yang sama sebagai penghormatan atas nilai ikatan perkawinan. 
Patung pada tutup peti makam.
Foto Thio Sing Liong.

Tutup sarkofagus kedua makam terlihat menakjubkan. Pada tutup yang terbuat dari pualam putih asal Italia tersebut, diimbuhkan patung yang dipahat menyerupai figur Thio Sing Liong dan istrinya yang kedua. Kedua patung tersebut ditampilkan mendekati aslinya dengan sorot mata yang terlihat nyata. Pandangan keduanya menghadap ke utara, dimana di sana terdapat kawasan pecinan, tempat tinggal mereka sewaktu masih hidup di dunia. Figur Thio Sing Liong terlihat necis dengan kemeja dan jas, serta potongan rambut rapi, persis seperti foto dirinya yang dipajang di samping makamnya. 
Insrkipsi makam.
Bentuk makam seperti yang terlihat di dalam mausoleum Thio Sing Liong sejatinya adalah tradisi dari bangsa Etruska, sebuah bangsa yang pernah mendiami semenanjung Italia sebelum masa Romawi. Pada tutup makam bangsa Etruska, kadang dipahatkan figur dari jenazah yang dimakamkan di dalamnya (Kerrigan, 2017; 65). Kedua patung itu sendiri memperlihatkan figur Thio Sing Liong dan istrinya dalam posisi separo badan, seakan mereka berdua terbangun dari tidur panjangnya dengan selimut yang belum sempat disingkirkan. “ Dalam beberapa kebudayaan”, terang Kerrigan, “kematian hanyalah tahapan peralihan ke kehidupan berikutnya karena kehidupan sendiri dipandang sebagai siklus”.
Mausoleum O.G. Khouw.
Dibanding dua makam pada tulisan di atas, mausoleum yang terletak di TPU Petamburan, Jakarta ini begitu kentara nuansa Eropa dengan bentuk kubah dan pilar tuscan. Ya, inilah mausoleum dari Oen Giok Khouw, seorang tuan tanah kaya nan dermawan yang pernah hidup di masa kolonial. Bukanlah suatu hal yang mengherankan bilamana makam O.G. Khow ini tampak ke-Eropaan karena O.G. Khouw sendiri menyandang status sebagai warga negara Belanda. Hal tersebut sontak mengejutkan kalangan Eropa dan Tionghoa di Hindia-Belanda yang masih terjebak dalam pusaran diskriminasi ras. Berkat status yang disandangnya sejak tahun 1908, ia secara leluasa beranjangsana ke berbagai negeri di Eropa, dari Belanda, Perancis, hingga di negeri terakhir yang ia sambangi dalam hidupnya, Swiss. Di kota Ragaz, Swiss, O.G. Khouw mengehembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1927. Lokasi makamnya dipilih di Begraafplaats Petamburan yang saat itu adalah permakaman paling modern di Batavia.
Makam O.G. Khouw dilihat dari dekat
(sumber : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)
Makam O.G. Khouw dilihat dari luar pagar.
(Sumber : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)
Pada tahun 1929, istri O.G. Khouw, Lim Sha Nio membangunkan sebuah mausoleum megah untuk suaminya. Dengan harta yang bergelimang, tentu tak menjadi masalah untuk mengeluarkan biaya sebesar 500.000 gulden atau sekitar 3 milyar rupiah untuk pembangunan makam tersebut (De Sumatra Post, 9 September 1932). Uang sebesar itu digunakan untuk mendatangkan bongkahan batu granit dan pualam dari Italia serta membayar seniman dan arsitek yang merancang makam tersebut. Mengikuti gaya hidup suaminya, makam itupun dibuat dalam langgam Eropa. Makam tersebut memiliki atap berbentuk kubah dari perunggu yang ditopang oleh pilar-pilar klasik berbahan granit yang digosok sampai mengkilap. Kubah tersebut menaungi pusara O.G Khouw dan istrinya. Di atas pusara tersebut, menjulan sesosok patung malaikat perempuan bergaya Eropa yang dengan setia mendampingi pusara O.G. Khouw dan istrinya. Di belakang makam tersebut, terdapat tangga melingkar yang mengarah ke sebuah relung bawah tanah tempat abu O.G. Khouw dan istrinya di simpan. Pada relung tersebut, akan didapati ukiran wajah dari O.G. Khouw dan Lim Sha Nio. Dahulu, relung tersebut diterangi dengan lampu listrik. Makam O.G. Khow yang selesai dibuat pada tahun 1931 ini memang sungguh mewah bahkan menurut berbagai surat kabar saat itu, makam taipan kelas kakap asal Amerika Serikat, John D. Rockefeller, tak mampu menyamainya. Kemewahan makam ini sampai tersiar ke negeri Belanda, dimana media massa Belanda menyebut makam ini sebagai Mausoleum van Een Half Milioen "Makam Setengah Juta Gulden". Makam ini sendiri tidak semata sebagai tempat peristirahatan terakhir, namun juga sebagai suatu karya seni yang patut untuk dikagumi. Saat diresmikan, banyak orang yang mendatangi makam tersebut mulai dari para anggota Volksraad hingga konsulat Italia. Algemeen Handelslbad voor Ned. Indie 29 September 1932 mencatat ada 19.167 pengunjung yang mendatangi makam tersebut setahun sejak makam tersebut dibuat.
Prasasti yang menunjukan pembuat makam O.G. Khow.
Di halaman makam yang sempat menjadi latar salah satu adegan film komedi “Manusia 6 Juta Dollar” ini, empat patung  pemuda dan anak kecil dalam gaya Eropa menyambut pengunjung yang hendak melihat makam ini. Keempat patung tersebut terbuat dari batu marmer Italia. Lalu persis di pinggir pintu masuk, terdapat prasasti yang menyatakan bahwa makam ini dirancang oleh G. Racina, seniman dan pemilik perusahaan AI Marmi Italiani dari Surabaya yang termahsyur sebagai pembuat batu nisan terbaik di seantero Hindia-Belanda. Kisah dari AI Marmi Italiani, perusahaan yang bergelut di bidang kerajinan batu marmer ini sendiri cukup menarik untuk diikuti. Pada tahun 1897, datang dua warga negara Italia bernama G.G. Aleazzi dan A.G. Racina di Surabaya. Kedua orang tersebut memiliki pengetahuan yang baik mengenai seni pahat batu gaya Eropa. Melihat saat itu masih sedikit usaha yang bergelut di penjualan batu alam untuk batu nisan dan dekorasi rumah di Hindia-Belanda, maka mereka mendirikan perusahaan AI Marmi Italiani pada tahun 1910 dengan modal 50.000 gulden. Perusahaan tersebut mendatangkan batu pualam Italia yang dikenal bermutu tinggi dan kemudian diolah untuk dijadikan dekorasi makam maupun rumah. Usaha mereka terus tumbuh sehingga pada tahun 1925, mereka membuka galeri di Pasar Besar No. 34 Surabaya dan menjadi galeri marmer Italia pertama di Hindia-Belanda. Etalase galeri dibuat semenarik mungkin dan diisi dengan kerajinan berbahan marmer sehingga orang tertarik untuk membeli karya mereka. Proses pembuatan kerajinan dibuat di studio yang ada di Lemah Putro. Di studio AI Marmi Italiani, terdapat 14 orang pekerja yang seluruhnya adalah orang Jawa dan masing-masing dari mereka memiliki tugas khusus seperti membuat batu nisan, dekorasi, dan memotong balok. 
Patung di halaman mausoleum O.G. Khouw buata A.I. Marmi Italiani.
Meskipun makam O.G. Khouw menggunakan bahan dari luar, namun pengrajin yang membantu Racina dipilih dari orang-orang lokal. Racina sengaja mempekerjakan orang lokal karena selain upah mereka lebih murah, Racina ingin mewariskan pengetahuan seni pahat Eropa kepada orang lokal. Para pekerja lokal saat itu belum memiliki keterampilan dalam membuat patung gaya Eropa. Maka dari itu, Racina yang memahami dengan baik karakter orang Jawa memberi pelatihan kepada mereka selama lebih dari 20 tahun. Lambat laun orang-orang Jawa yang telah dilatih Racina dapat meniru karya-karya pematung Eropa. Racina berpandangan bahwa akan lebih baik bila Hindia-Belanda dapat membuat sendiri patung pualam bergaya Eropa yang dibuat sendiri oleh tangan-tangan pemahat lokal sehingga Racina tidak pernah memesan patung dalam bentuk jadi dari Eropa. Racina juga tidak ingin karyanya dibawa keluar negeri sehingga bila ada pemesan dari luar, Racina memilih untuk mengirim pekerjanya ke tempat pemesan. Sebagai orang Italia, Racina bangga dapat membagikan pengetahuan bangsanya kepada orang-orang pribumi dan secara tidak langsung membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Perusahaan AI Marmi Italiani segera dikenal luas atas hasil kepiawaianya yang bermutu tinggi dan menjadi gengsi tersendiri bila mampu membeli karyanya meskipun harganya amat mahal (De Indische Courant ; Oost Java Editie, 1925). 
Batu nisan O.G. Khouw.
Bentuk makam tradisional Tionghoa berupa gundukan tanah sudah sepenuhnya ditinggalkan pada makam O.G. Khouw, tergantikan dengan bentuk peti mati ala Eropa. Batu nisan yang dipakai  bukan lagi berupa batu andesit, tergantikan oleh kilau batu granit hitam. Tertera di atas batu nisan, nama O.G. Khouw, tempat tanggal lahir dan tempat tanggal meninggalnya dalam bahasa Belanda, tidak lagi memakai huruf Mandarin. Nama sanak keluarga yang masih hidup atau yang sudah meninggal tak lagi disertakan dalam batu nisan O.G. Khouw. Selain itu, nama marga Khouw tidak lagi ditaruh di depan seperti nama orang Tionghoa pada umumnya, namun ditaruh di belakang mengikuti kebiasaan penamaan orang Eropa.
Patung malaikat. Dalam konsep seni makam Barat, malaikat merupakan perlambang dari duka.
Demikianlah ulasan Jejak Kolonial mengenai sebagian contoh kecil makam Tionghoa bergaya Eropa. Tidak menutup kemungkinan jika  di luar sana tentu masih banyak lagi beberapa makam Tionghoa bergaya Eropa. Menariknya, sejauh ini makam-makam tersebut baru ditemukan di Indonesia. Keberadaan makam-makam yang kelewat mewah untuk sebuah makam Tionghoa ini menjadi penanda adanya persentuhan budaya Tionghoa dengan budaya Eropa di Indonesia. 

Referensi

Kerrigan, Michael. 2017. Sejarah Kematian ; Tradisi Penguburan dan Ritus-ritus Pemakaman dari Zaman Kuno sampai Zaman Modern. Jakarta : Elex Media Computindo.

Jiang, Rinto. 2011. Tata cara Penulisan Nisan Tradisional Tionghoa dalam http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/404-tata-cara-penulisan-nisan-bongpay-tradisional-tionghoa

King Hian. 2012. Penjelasan tentan Bongpay dalam http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1908-penjelasan-tentang-bongpai-1

Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij

Liu Weilin. 2013. Pandangan Orang Tionghoa Terhadap Kematian dalam http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3675-pandangan-orang-tionghoa-terhadap-kematian

Stroomberg, J. 2018. Hindia-Belanda 1930. Yogyakarta : IRCiSoD.

De Indische Courant ; Oost Java Editie, 1925.

Algemeen Handelslbad voor Ned. Indie 29 September 1932

De Sumatra Post, 9 September 1932