Sabtu, 20 Februari 2016

Telusur Sisa Pabrik Gula Sewugalur

Apakah anda pernah mendengar nama Pabrik Gula Sewugalur ? Jika belum tidak mengapa karena pabrik gula ini sendiri memang sudah lama sekali menghilang. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk menelusuri sisa dari satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulon Progo ini. Bagaimana sejarahnya serta apa saja yang masih tersisa ?
Sejarah
Foto pabrik gula sewugalur pada tahun 1917 (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Berdasarkan catatan sejarah yang pernah saya baca, Pabrik Gula Sewugalur didirikan pada tahun 1889 bersamaan dengan pembangunan jembatan Srandakan melintasi Sungai Progo. Pabrik ini didirikan di atas lahan milik Pakualaman yang pada waktu itu membawahi seluruh wilayah Kulonprogo. Dengan demikian, Pabrik Gula Sewugalur merupakan satu-satunya pabrik gula yang berdiri di wilayah Pakualaman (Dhani, 2010; 2010). Saham pabrik ini dipegang oleh perusahaan N.V Cultuur Matschapij der Vorstenlanden yang berpusat di Semarang. Selain di Sewugalur, perusahaan ini juga memiliki pabrik gula di Padokan, Demakijo, Wonocatur, Beran, Kedaton Plered, Sedayu, Barongan dan Rewulu (Dingemas.L.F, 122 ; 1920).
Lokasi pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1921.
Ketersediaan lahan dan kondisi geografis di sekitar pabrik sangat memungkinkan untuk dibuka sebuah perkebunan tebu beserta pabrik penghasil gula. Hal ini juga didukung ketersediaan tenaga kerja yang berasal dari lingkungan sekitar pabrik dan mayoritas bekerja di sektor agraris. Sejak tahun 1915, arus transportasi dari PG Sewgalur ke Yogyakarta semakin lancar dengan dibangunnya jalur kereta oleh NIS dari Stasiun Tugu hingga Halte Sewugalur. Pembangunan jalur ini selain bertujuan untuk memperlancar arus transportasi dari Sewugalur ke Yogyakarta, juga bertujuan untuk memperlancar perekonomian di Sewugalur yang pada waktu itu lumayan jauh dari pusat kota. Oleh karena itulah mengapa lokasi halte Sewugalur dibangun di dekat pasar Sewugalur (Dhani, 2010; 73-79).
Gambaran kompleks pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1934 (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Berdasarkan data dari peta topografi lama, terlihat rumah-rumah pegawai pabrik dibuat dengan konsep mengelilingi pabrik dan orientasinya dibangun menghadap ke arah pabrik sebagai strategi pengawasan terhadap aktivitas pabrik gula. Konsep ini dikenal sebagai konsep panopticon. Dengan adanya konsep ini,buruh-buruh pribumi yang ada di pabrik akan selalu merasa diawasi tanpa kehadiran para staff pabrik yang mayoritas adalah orang Belanda (Inagurasi, 123; 2010). Langgam arsitektur rumah ini dibangun dengan gaya arsitektur Indis untuk menegaskan bahwa kedudukan mereka sebagai pegawai pabrik berbeda dengan kedudukan buruh-buruh pribumi yang secara strata sosial pada waktu itu berada di kelas yang lebih rendah dari bangsa Eropa (Soekiman, 1997; 5).
Foto jajaran pegawai pabrik gula Sewugalur pada tahun 1912. Nampak administratur pabrik gula Sewugalur pada waktu itu,Cosmus van Bornemann yang kemudian dipindah ke pabrik gula Gelaren pada tahun 1930an. Pengganti Cosmus van Bornemann ialah Albert Kuipers (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Kompleks Pabrik Gula Sewugalur kemudian berkembang hampir menyerupai kota kolonial kecil di daerah pedalaman dengan berbagai fasilitas seperti pemukiman Eropa, pasar, halte, sosieteit dan lahan pemakaman Eropa. Bahkan pada waktu itu berkembang wacana pembangunan pelabuhan di pantai selatan untuk mempersingkat jarak distribusi gula di wilayah Yogyakarta yang masih bergantung dengan pelabuhan di Semarang.
Di PG Sewugalur pernah ada kejadian perkelahian antar sesama kuli. Perkelahian ini rupanya tak seimbang. Salah satu kuli membawa pistol revlover dan akhirnya kuli lainnya tertembak. Sumber Het Nieuws van den Dag Nederlandsch Indie, 16 Mei 1922
Rumah dinas pegawai  pabrik gula Sewugalur (sumber : geheugenvannederland.nl).
Sayangnya, kejayaan pabrik gula ini harus berhenti dengan terjadinya krisis ekonomi atau malaise yang memporak-porandakan perekonomian dunia  pada tahun 1930an. Krisis ini menyebabkan harga gula di pasaran jatuh dan banyak pabrik gula ditutup untuk menekan kerugian dan salah satu parbik gula yang terkena dampak penutupan adalah PG Sewugalur (Dhani, 2010; 3-4). Pada tahun 1942, setelah Jepang masuk ke Hindia-Belanda, bangunan pabrik gula Sewugalur diratakan oleh Jepang. Jalur-jalur kereta api dari Sewugalur ke Palbapang dicopot oleh Jepang dan diangkut ke Burma (Myanmar) untuk bahan material jalur yang sedang dibangun di sana. Kemudian pada tahun 1946, kompleks rumah dinas Sewugalur digunakan oleh para tentara Republik Indonesia untuk menginternir ibu-ibu dan anak-anak Eropa yang masih tinggal di Yogyakarta (Bruggen, 1998; 75)..

Perjalanan
Perjalanan saya dari kota Yogyakarta ke lokasi situs pabrik gula Sewugalur memakan waktu sekitar 40 menit. Cukup lama karena lokasi situs  pabrik gula yang secara administratif  berada di Dusun Sewugalur, Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo ini berada di tengah pedesaan yang jauh dari keramaian kota. Lokasi pabrik gula ini juga sangat dekat dengan pantai selatan, yakni hanya berjarak 4 kilometer dari bibir pantai sehingga pabrik gula ini menjadi pabrik gula paling selatan di Yogyakarta. Sebelum saya sampai di Sewugalur, saya melintasi jembatan Sungai Progo yang lumayan panjang. Jembatan ini sendiri sebenarnya adalah pengganti jembatan lama yang ada di sebelah utara nya dan diganti karena konstruksi jembatan lama sudah ambles ke dasar sungai akibat erosi dan diperparah lagi dengan aktivitas penambangan pasir di sekitar jembatan. Oh ya perlu kita ketahui juga, lokasi jembatan lama ini sendiri berdiri persis di bekas jembatan kereta api milik NIS yang dahulu menghubungkan Sewugalur dengan Yogyakarta.

Sisa-sisa Pabrik Gula Sewugalur
Kondisi pabrik gula Sewugalur saat ini.Keterangan. Kotak kuning : bekas lokasi pabrik. Titik kuning : Lokasi struktur pondasi cerobong. Kotak merah : lokasi rumah dinas. Garis putus-putus : jalur kereta NIS. 1 : Rumah ibu Jamal. 2 : Rumah bapak Karwono. 3 : Kantor.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa bangunan pabrik gula Sewugalur sudah dihancurkan sejak zaman penjajahan Jepang sehingga kita tidak terlalu berharap banyak untuk menemukan sebuah bangunan pabrik yang besar lengkap dengan cerobongnya yang menjulang tinggi. Satu-satunya yang tersisa dari bangunan PG Sewugalur hanyalah sebuah struktur bekas cerobong asap yang terbuat dari beton. Struktur ini dapat kita temukan di belakang rumah warga. Kondisi sekitar bekas cerobong ini cukup kotor, di sekelilingnya terlihat banyak tumpukan sampah seolah-olah cerobong ini bukanlah sebuah peninggalan sejarah yang berharga. Saya sendiri tidak berlama-lama untuk melihat cerobong. Selain tidak kuat dengan bau tumpukan sampah, juga karena tidak tega melihat kondisi cerobong yang dulu menjadi saksi dari kejayaan Pabrik Gula Sewugalur. Selain struktur cerobong, kita juga masih bisa menemukan sisa saluran pembuangan limbah. Limbah-limbah pabrik ini dibuang ke Kali Progo. Selain struktur cerobong dan saluran pembuangan limbah,  sisa-sisa bangunan pabrik yang lain tidak ada yang saya temukan lagi. Seluruh bangunan pabrik benar-benar lenyap dan kini sudah menjadi pemukiman warga dan sebidang tanah lapang yang luas.
Sisa cerobong PG Sewugalur.
Di lapangan inilah Pabrik Gula Sewugalur pernah berdiri.
Bangunan bekas kantor PG Sewugalur.
Meskipun demikian, kekecewaan kita mungkin akan sedikit terobati jika kita sudah melihat bangunan bekas rumah dinas pegawai Sewugalur yang masih kokoh berdiri. Yah, meski tidak semua bangunan rumah dinas bisa kita lihat. Lokasi rumah dinas pegawai PG Sewugalur berada di timur dan selatan pabrik. 
Rumah Ibu Jamal.
Di sebelah timur PG Sewugalur, terdapat empat buah eks rumah dinas PG Sewugalur. Salah satu rumah dinas yang cukup menarik perhatian saya yakni rumah dinas yang sekarang ditempati oleh keluarga Ibu Jamal. Memasuki halaman rumah, kita akan merasakan suasana yang asri dan tenang, suasana yang sepertinya tidak pernah berubah semenjak rumah ini dibangun. Halaman terlihat bersih, pot bunga ditata dengan begitu rapinya, pohon-pohon hijau dan ditambah dengan alam pedesaan yang masih alami, membuat kitaa ingin terus kembali ke sini. Saya sendiri sejak kunjungan pertama ke rumah ini pada tahun 2014 bersama Komuntias Roemah Toea sudah berulang kali mengunjungi rumah ini. Keramahan dari Ibu Jamal semakin membuat saya ingin kembali terus ke rumah ini.
 
Bagian dalam rumah ibu Jamal.
Palfon yang masih terbuat dari anyaman bambu.
Rumah Ibu Jamal seperti lazimnya rumah dari masa kolonial memiliki sebuah serambi depan yang tinggi. Serambi ini memiliki pintu masuk berbentuk melengkung. Pada tahun 2006, serambi depan ini rusak parah akibat gempa sehingga bagian ini dibangun ulang dengan bentuk yang hampir serupa dengan bentuk sebelum hancur. Di bagian depan, terdapat tiga pintu masuk yang bentuknya sama dengan pintu serambi. Meski ada tiga pintu masuk, kita tidak perlu bingung akan masuk lewat mana karena hanya pintu tengah saja yang dibuka. Suasana terasa sejuk sekali begitu saya melangkah masuk ke bagian dalam ruang tamu rumah Ibu Jamal. Jendela besar di samping ditambah tembok rumah yang tinggi menjadikan suasana di dalam ruangan terasa sejuk meski tanpa AC dan mungkin kesejukan seperti ini jauh lebih baik karena sifatnya alami. Di bagian atas, kita dapat melihat anyaman bambu yang masih menjadi plafon rumah tua ini. Anyaman bambu memang banyak dipakai pada rumah-rumah kolonial di wilayah pedesaan. Di ruang tamu ini, Ibu Jamal bercerita, meski Jepang menghancurkan hampir seluruh bangunan pabrik, tapi bangunan rumah dinas pegawai luput dari penghancuran tadi dan kemudian rumah ini dijual ke seorang Tionghoa. Lalu rumah ini dijual ke Bapak Tjokrodirdjo, mertua Ibu Jamal.
Denah rumah ibu Jamal.Keterangan 1 : Teras Depan. 2 : Ruang Depan. 3 : Ruang Makan. 4 : Ruang tidur. 5 : Paviliun. 6 : Bangunan servis (dapur,gudang, kamar mandi, kamar pembantu).
Selanjutnya, saya ditunjukan Ibu Jamal ke sebuah pintu besar yang masih terkunci, di samping ruang tamu. Begitu Ibu Jamal membuka gagang pintu yang masih asli itu, pintu besar itupun terbuka, dan di dalamnya, saya hanya melihat sebuah ruangan gelap yang nyaris kosong. Di sini, saya hanya melihat sebuah lemari tua, ranjang tanpa kasur, dan sebuah cermin besar yang tergantung miring di dinding. Meski gelap dan tampak tertutup, suasana di dalam ruang masih sama sejuknya dengan ruang tamu tadi. Hal ini berkat adanya kisi-kisi yang terdapat pada jendela krepyak. Kisi-kisi ini memungkinkan udara tetap masuk ke dalam ruangan meski jendela sudah ditutup. Suasana di dalam ruangan akhirnya menjadi terang begitu Ibu Jamal membuka jendela. Sinar matahari langsung masuk ke bagian dalam ruangan. Jendela yang tinggi selain untuk memaksimalkan udara yang masuk juga berguna untuk memaksikmalkan sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan sehingga ruangan mendapat pencahaayaan alami dan mengurangi penggunaan lampu. Ruangan ini barangkali dulunya menjadi ruang tidur anak si pegawai pabrik yang tinggal di rumah ini. Dari jendela ruangan ini, mungkin kita bisa membayangkan si anak pegawai pabrik tadi bisa melihat ayahnya yang sedang bekerja di pabrik. Rumah ini sendiri menghadap ke barat, persis menghadap ke pabrik sehingga segala aktivitas pabrik dapat dilihat dari sini. Nuansa bangunan kolonial rumah ini benar-benar masih terasa sehingga tidak heran jika rumah ini kerap dipakai untuk syuting film….
Ruang keluarga. Terlihat cermin besar dan hiasan kaca patri di atas pintu dan jendela.
Dari ruangan ini, kita akan berpindah untuk melihat ruang keluarga yang berada di belakang ruang tamu. Di sini bisa kita lihat sebuah lemari buffet tua dan sebuah cermin besar yang tergantung miring. Kemudian di samping ruangan ini, terdapat sebuah ruang tidur yang sebenarnya terhubung oleh ruangan kosong yang ada di depan tadi. Ibu Jamal sendiri tidur di ruangan ini. Hiasan kaca patri berwarna hijau dan merah yang menambah estetika terlihat di atas jendela dan pintu yang menghadap ke halaman belakang rumah. Di sini, waktu seolah terhenti. Saya merasa dilempar kembali pada waktu rumah ini masih ditempati oleh si keluarga pegawai pabrik tadi.  Saya membayangkan di ruang inilah dahulu keluarga pegawai pabrik yang tinggal di sini mengadakan makan malam bersama setelah seharian beraktivitas di pabrik. Sambil menyantap hidangan yang disiapkan oleh pembantu yang tinggal di kamar belakang, mereka membicarakan mengenai aktivitas apa saja yang dilakukan seharian di pabrik. Di masa ketika hiburan masih jarang apalagi di Sewugalur yang masih daerah pelosok, kegiatan makan malam seperti ini benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi setiap anggota keluarga. Dari sinilah interaksi antar anggota keluarga terbangun.
Bagian belakang rumah.
Paviliun tamu.
Nah di belakang rumah, kita masih bisa menjumpai bangunan tambahan yang dahulu menjadi kamar pembantu, sumur, dapur, gudang, kamar mandi dan sebuah wastafel tempat cuci piring. Bagian-bagian ini dibuat mengelilingi sebuah halaman terbuka di bagian tengah ruma. Di masa lalu, halaman seperti ini merupakan area privat si pemilik rumah. Sekarang, beberapa bagian ini menjadi ruang tinggal keluarga Ibu Jamal. Di samping rumah Ibu Jamal, terdapat sebuah bangunan kecil yang dahulu menjadi paviliun tamu yang juga dapat digunakan sebagai tempat tidur tamu jika tamu hendak bermalam.
Bekas rumah dinas pegawai pabrik gula Sewugalur yang saat ini ditempati oleh Bapak Karwono. Terlihat fasad depan yang berbentuk seperti gunungan. Bangunan ini pernah mendapat piagam pelestarian dari BPCB Yogyakarta.
Di sebelah utara rumah Ibu Jamal, kita juga dapat melihat sebuah bangunan tua bekas rumah dinas pegawai PG Sewugalur yang tidak kalah cantik dengan rumah milik Ibu Jamal. Rumah ini sekarang ditempati oleh Bapak Karwono. Rumah ini terlihat menonjol berkat fasadnya yang berbentuk seperti gunungan. Di bagian samping, terlihat semacam banguan untuk garasi kendaraan. Dahulu, sepertinya si pegawai pabrik yang tinggal di rumah ini memiliki kendaraan mobil yang masih jarang dimiliki oleh orang pada waktu itu. Kendaraan mobil sangat berguna untuk digunakan mengelilingi area perkebunan tebu yang sangat luas.
Bangunan bekas kamar bola atau sosieteit. Sempat dipakai sebagai kantor bank BRI cabang Galur sebelum menjadi rumah tinggal.
Di sebelah utara rumah Bapak Karwono tadi, masih terdapat sebuah bangunan lama yang menurut warga sekitar dahulunya merupakan kamar bola atau sosieteit. Di wilayah Sewugalur yang lumayan jauh dari pusat kota, keberadaan sosieteit menjadi oase tersendiri bagi para pegawai pabrik gula yang mayoritas adalah orang Belanda. Mereka tentu menganut kebiasaan barat yang berbeda dengan kebiasaan orang pribumi. Di sini, setelah seharian bekerja di pabrik, mereka bisa bersenang-senang dengan melakukan aktivitas seperti bermain bilyard, minum-minuman alkohol, atau berdansa. Dengan adanya sosieteit ini, mereka tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk menyalurkan kebiasaan mereka. Di depan sosieteit ini dahulu terdapat sebuah lapangan tenis. Tenis merupakan salah satu olah raga yang digemari oleh orang Barat. Kegiatan ini biasanya dilakukan di pagi atau sore hari.
Bangunan ujung utara.
Di ujung utara, kita juga masih bisa melihat sebuah bangunan lama dengan fasad berbentuk seperti gunungan. Sayangnya, dinding rumah terlihat kusam dan sedikit tidak terawat. Tidak diketahui apa fungsi bangunan ini di masa silam.
Bangunan bekas rumah dinas yang ada di selatan rumah Ibu Jamal.
Masih di deretan rumah Ibu Jamal tepatnya di sebelah selatannya, terdapat dua buah rumah yang bagian atap sebenarnya masih menjadi satu. Sayangnya kondisi rumah ini tidak sebaik rumah Ibu Jamal atau Bapak Karwono. Bagian rumah sisi utara sudah runtuh sementara bagian rumah sisi selatan meski masih terlihat baik dan dihuni oleh pemilikinyan namun fasadnya sudah terlihat mengalami perubahan bentuk.
Bangunan rumah dinas yang saat ini dalam kondisi rusak. Beberapa tahun lalu, kusen, daun pintu dan jendela, dan rangka atap masih ada.
Bangunan rumah dinas yang cukup terawat.
Bekas rumah dinas PG Sewugalur juga dapat kita temukan di bagian selatan, yang kini tinggal tiga saja yang masih tersisa. Salah satu rumah yang sudah menjadi puing. Bagian-bagian lain seperti pintu dan jendela sudah hilang entah kemana. Rangka atap juga ikut lenyap. Bagian dinding fasad depan terlihat retak dan nyaris runtuh. Padahal dahulu rumah ini merupakan rumah dinas paling besar yang ada di kompleks PG Sewugalur. Tapi lewat puing-puing rumah ini, kita sudah bisa membayangkan seperti apa kemegahan rumah ini ketika PG Sewugalur masih berjaya.
Kerkhof Sewugalur.
Batu nisan pada makam Maria Arabella Junman.
Oh ya, di sekitar PG Sewugalur, kita dapat menjumpai bekas area kerkhof atau pemakaman Belanda. Ketika saya pertama kali datang ke kerkhof Sewugalur, seluruh makam-makam yang ada terhalang oleh rimbunnya rumput-rumput liar dan tanaman-tanaman lain. Kerkhof ini dulunya dikelilingi oleh tembok pembatas yang kini tinggal sebagian saja yang masih berdiri. Di sini kita hanya bisa menemukan satu makam Belanda yang prasastinya masih tersisa dan itupun sudah hilang separo sehingga isi prasasti tidak dapat dibaca secara utuh. Makam yang kita temukan ini merupakan makam miliki Maria Arabella Junman. Sepertinya beliau adalah anak perempuan atau mungkin istri dari pegawai pabrik gula Sewugalur. Mengapa di dekat kompleks PG Sewugalur terdapat kompleks kerkhof ? Jawabannya mudah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lokasi PG Sewugalur berada lumayan jauh dari perkotaan, sehingga ketika ada orang meninggal, tentu akan menghabiskan perjalanan cukup lama untuk membawa jenazah kerkhof di kota Yogyakarta. Sehingga untuk menghemat waktu perjalanan maka dibukalah area kerkhof di dekat lokasi pabrik. Selain itu, terkadang ada keluarga pegawai pabrik gula yang memiliki permintaan untuk dimakamkan di dekat pabrik. Hal ini menunjukan adanya ikatan emosional antara si keluarga pegawai pabrik gula dengan tempat mereka bekerja.
Bekas halte Sewugalur.
Setelah melihat situs pabrik gula, sisa-sisa rumah dinas yang masih berdiri dan kerkhof, kita kemudian akan mencoba menelusuri sisa Halte Sewugalur, tempat dimana gula-gula produksi PG Sewugalur didistribusikan ke tempat lain. Berdasarkan pencocokan data dari peta lama dan citra satelit sekarang, lokasi Halte Sewugalur berada di depan SMP N 1 Galur. Saya kemudian melihat di tengah-tengah sawah, terdapa sebuah gundukan tanah yang memanjang dan setelah dicocokan dengan data peta lama dan citra satelit sekarang, tidak salah lagi kalau gundukan tanah itu merupakan bekas railbed atau gundukan jalur kereta Sewugalur-Yogyakarta.

Begitulah hasil penelusuran kita pada sisa-sisa PG Sewugalur. Meski PG Sewugalur tinggal menyisakan sebagian kecil bangunan rumah dinas yang terawat dengan baik, kerkhof yang kondisinya menyedihkan dan struktur bangunan pabrik yang nyaris sulit dikenali bentuknya, namun sisa-sisa tadi merupakan saksi bisu dari kejayaan PG Sewugalur, sebuah pabrik gula yang satu-satunya pernah berdiri di Kulonprogo…

Referensi

Dhani, Rizal. 2010. " Situs Pabrik Gula Sewugalur (1889-1930) (Tinjauan terhadap Latar Belakang Pemilihan Lokasi dan Pengaruh Keberadaanya terhadap Pemukiman Kolonial di Sekitarnya) ". Skripsi. Depok : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Dingemans, L.F. 1920. Gegevens Over Djokjakarta. 

Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Soekiman, Djoko. 1997. " Seni Bangun Gaya Indis, Penelitian, Pelestarian, dan Pemanfaatanya " dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi VIII, Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis. Yogyakarta 9 Agustus 1997.

van Bruggen, M. P dan Wassing, R.P . 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam : Asia Maior.

1 komentar: