Jumat, 17 Maret 2017

Penggalan Warisan PG Gembongan Kartasura


Kartasura, sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Meskipun kecil, kota ini sangat strategis karena berada di petigaan jalan menuju Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Menurut sejarah, Kartasura bediri pada masa Kerajaan Mataram Islam. Peninggalan yang tersisa dari masa ini kini hanyalah tinggal sepenggal tembok bekas keraton Kartasura. Tidak hanya itu saja, di Kartasura kita juga dapat melihat peninggalan sejarah lain, berupa pabrik gula tua peninggalan masa kolonial. Bangunan pabrik gula tadi dikenal sebagai PG Kartasura atau kadang disebut juga sebagai PG Gembongan. Kejayaan apa saja yang masih tersisa dari PG Gembongan ? Mari kita telusuri bersama-sama.

PG Gembongan Dalam Lintasan Sejarah
PG Gembongan ketika baru saja dibuka. Terlihat para pegawai berdarah Eropa ( kanan ) dan pribumi ( kiri ) yang sedang berpose. Ketika PG Gembongan baru dibangun, bentuk dan ukuran bangunan lebih sederhana daripada sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Kapan PG Gembongan berdiri ? Jawaban pertanyaan tersebut tidak saya temukan pada literatur sejarah dan justru saya temukan pada sebuah foto hitam-putih. Pada foto tersebut, terlihat bangunan cerobong PG Gembongan. Jika diamati dengan teliti, pada bagian atas cerobong tersebut yang terlihat samar pada foto, tampak tulisan “Kartasura 1899”. Angka “ 1899 “ tersebut bisa dipastikan sebagai tahun berdirinya PG Gembongan. Sayangnya angka tahun tadi kini sudah tidak tampak sehingga generasi di masa sekarang tentu sudah tidak mengetahui kapan bangunan pabrik gula ini dibangun. Dalam buku Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie yang berisikan daftar perkebunan di Hindia-Belanda, kepemilikan PG Gembongan dipegang oleh Kartasoera Cultuur Maatschappij yang dikuasai oleh W.G.Wolbers ( Anonim, 1914 ; 206 ).


Bangunan penimbang tebu. Tebu yang akan diproses terlebih dahulu ditimbang di sini. Di kejauhan tampak cerobong PG Gembongan dengan angka tahun 1899 yang terlihat samar ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Selama PG Gembongan ini berdiri, tentu banyak cerita sejarah yang terjadi di dalamnya. Salah satu yang terdokumentasikan adalah cerita perampokan yang menimpa salah satu rumah milik pegawai PG Gembongan yang tercatat dalam koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indische edisi 8 November 1909. Menurut koran tadi, pada malam tanggal 2 November, sekitar jam setengah satu malam, sebuah rumah milik pegawai pa brik gula berdarah Tionghoa bernama Ang Ing Gwan disatroni oleh perampok berjumlah 5 orang. Kelima perampok ini semuanya berdarah Jawa. Dengan membawa senjata berupa pistol revolver dan golok, perampok ini berhasil menyandera tuan rumah untuk menunjukan dimana dia menyimpan harta bendanya. Mengetahui telah terjadi perampokan, istri si tuan rumah berusaha keluar untuk mencari bantuan, namun dicegah oleh perampok dengan memukul golok ke lengan istri tuan rumah yang malang tadi. Lalu muncul anak perempuan si tuan rumah yang berusia 10 tahun yang membawa celengan berisi 40 f  untuk diberikan kepada perampok dengan harapan ayahnya dapat dibebaskan. Setelah dibebaskan, si tuan rumah bergegas ke kamar tidurnya untuk mengambil pistol revolver miliknya. Menyadari hal tersebut, perampok tadi melepaskan tembakan tapi beruntung tembakan tadi meleset. Setelah si tuan rumah berhasil mengambil pistol, terjadi tembak-menembak yang melukai beberapa perampok. Suara tembakan pistol yang terdengar keras membuat para pegawai pabrik lain yang mayoritas berdarah Eropa terbangun dan mereka segera menghampiri asal suara tadi. Menyadari massa semakin banyak, gerombolan perampok tadi kemudian melarikan diri.
Emplasemen lori PG Gembongan. Tampak lokomotif diesel yang berada di tengah emplasemen
( sumber : troppenmuseum.nl ).
Sebuah lori milik PG Gembongan yang sedang menarik rangkaian gerbong berisi tebu. Agar tidak bertubrukan dengan kereta penumpang, dibuat sebuah underpass untuk jalur lori di bawah jalur kereta.
PG Gembongan pada masa lalu dapat dikatakan sebagai pabrik gula yang istimewa karena pabrik gula ini sudah menggunakan  lori bermesin diesel seperti yang terlihat pada foto di atas. Pada masa kejayaan PG Gembongan, teknologi lori bermesin diesel masih jarang dipakai. Kebanyakan pabrik gula pada waktu itu masih menggunakan teknologi lori bermesin uap. Sayangnya, tidak diketahui bagaimana nasib dari lori diesel tersebut di masa sekarang.


Tidak diketahui apakah PG Gembongan selamat dari badai krisis malaise yang mengakibatkan merosotnya jumlah PG di Jawa. Tapi tampaknya PG ini masih sanggup bertahan hingga masa sesudah kemerdekaan. Sesudah kemerdekaan, sebagian lahan PG Gembongan dikuasai oleh PTPN dan sebagian lainnya dikuasai oleh ABRI. Tak berapa lama kemudian, bangunan pabrik ini kemudian dibeli oleh PT Karep Bojonegoro pada 1968. Pada 1985, bangunan PG dijual lagi kepada PT Pandusata Utama, dan setelah itu bangunan PG ini beberapa kali berpindah tangan. Terakhir bangunan PG Gembongan dimiliki oleh PT Sinar Grafindo. Meski sudah beberapa kali berpindah tangan, namun pemilik yang baru tampaknya tidak tertarik untuk melestarikannya…

Menapak Penggalan PG Gembongan
Kondisi PG Gembongan pada masa sekarang dilihat dari citra satelit. Keteangan : 1. Kompleks pabrik ; 2. Rumah dinas yang masih tersisa ; 3. Bekas emplasemen lori.
Kedatangan saya ke eks PG Gembongan kali ini ditemani oleh teman saya dari Boyolali yang juga penikmat bangunan kolonial, Mas Benu. Dengan bantuan dari Mas Benu, saya bisa masuk lebih dalam ke area eks PG Gembongan. Sebelum itu, saya hanya bisa puas melihat kemegahan PG Gembongan dari luar saja. Begitu kami berdua masuk ke pabrik, kami disambut dengan ramah sekali oleh Pak Widodo, penjaga  eks PG Gembongan yang rumahnya masih satu kampung dengan lokas eks PG Gembongan berdiri. Setelah ramah tamah dengan Pak Widodo, kami meneruskan agenda semula, mengeksplorasi jengkal demi jengkal dari eks PG Gembongan.
Bangunan PG Gembongan dilihat dari luar.

Detail fasad art deco pada bangunan PG Gembongan.
Bangunan pabrik yang kita lihat sekarang bukanlah bangunan yang asli dibangun pada tahun 1899. Berdasarkan insripsi yang terdapat pada fasad pabrik, bangunan pabrik, terutama bagian fasad, direnovasi pada tahun 1920 dengan gaya arsitektur art deco yang sedang banyak dipakai pada waktu itu. Ciri art deco dapat dilihat dari permainan garis vertikal tegak lurus dan profil bangunan yang lugas. Fasad art deco dengan ukuran monumental ini memancarkan aura modern dan megah pada bangunan PG Gembongan ini.
Bangunan gudang.
Bagian dalam bangunan gudang yang ditopang oleh pilar-pilar berbentuk kotak.
Sebelum kami masuk ke bangunan utama pabrik, kami terlebih dahulu melihat bangunan gudang PG Gembongan yang terletak di sebelah barat bangunan utama pabrik. PG Gembongan memiliki dua bangunan gudang yang masih asli. Kamipun masuk ke salah satu bagian gudang untuk melihat kondisi bagian dalamnya. Bagian dalam gudang ini benar-benar kosong. Nyaris tak ada yang tersisa selain sampah dan debu yang mengotori lantai gudang. Kami selanjutnya memasuki bangunan lain yang terletak di ujung barat area PG. Bangunan ini dahulu merupakan remise atau depo lokomotif pengangkut tebu. Barisan-barisan lokomotif yang dahulu memenuhi bagian dalam, kini digantikan dengan  tumpukan gulungan kertas yang entah sampai kapan mengisi gudang ini.
Tampak luar bangunan bekas remise atau depo lori PG Gembongan. Terlihat angka tahun 1918 di bagian atas.
Kondisi bagian dalam bekas remise.
Di antara bangunan gudang lama dan bangunan utama pabrik, terdapat bangunan gudang baru. PG ini memang sudah berulangkali berpindah kepemilikan. Ketika sudah berpindah tangan, tentu saja akan ada penambahan atau pengurangan, tergantung dari kebutuhan si empunya. Beruntung, bangunan utama pabrik tidak dijamah samasekali. Di lahan antara gudan baru dan bangunan lama PG, dahulu pernah terdapat jalur kereta lebar 1067 mm yang nanti akan menyambung dengan jalur kereta jurusan Boyolali – Purwosari yang kini tinggal sejarah saja. Jalur kereta ini tentu mempermudah bagi kereta besar yang akan mengangkut gula sehingga pengangkutan gula menjadi lebih efisien.

Bagian yang dahulu menjadi akses masuk utama PG Gembongan
Relief berwujud gilingan tebu yang terdapat di atas pintu masuk PG Gembongan.
Dari gudang, kamipun selanjutnya masuk ke bagian dalam bangunan utama pabrik, tempat dahulu dimana tebu digiling dan diproses menjadi gula. Bangunan ini sangat tinggi sehingga udara di dalam pabrik tidak begitu panas. Sinar matahari menembus ke dalam ruangan lewat jendela kaca yang sangat tinggi. Di dalam pabrik ini, kita jangan berharap dapat menemukan mesin-mesin tua berukuran raksaksa seperti halnya pabrik gula peninggalan Belanda lainnya. Sejak PG Gembongan ditutup, mesin-mesin yang dahulu suaranya bisa menggetarkan bangunan pabrik sudah tidak diketahui rimbanya. Barangkali mesin-mesin tadi sudah berakhir di peleburan besi rongsok. Bagian dalam pabrik kini diisi dengan berbagai mesin-mesin pengepras dan pembungkus tembakau yang sudah berdebu.
Bagian dalam PG Gembongan. Tampak dudukan cerobong PG.
Plakat di bagian dudukan cerobong.
Di dalam pabrik yang suasananya sangat lengang ini, kita dapat melihat dudukan cerobong yang dari luar terlihat menjulang tinggi sekali. Dari luar, cerobong yang dahulu berwarna putih ini terlihat kusam. Di dudukan cerobong, kita dapat menemukan sebuah sebuah papan tulisan yang berbunyi :
Tempat pembikinan bahan bakaran
Haroes didjaga
Dengan Kebersihan
Dibawah tulisan itu, terdapat tulisan lain dalam aksara Jawa. Dari ejaanya, tampaknya plakat ini berasal dari tahun 1950an, periode dimana PG Gembongan masih aktif beroperasi.
Bagian dalam PG Gembongan. Tampak langit-langit dari anyaman bambu yang mulai ambrol. Meski terlantar, tapi aura kejayaan PG ini masih bisa dirasakan hingga sekarang.
Lantai tegel lama yang sudah ditimbun.
Jika kita mendongak ke atas, kita bisa melihat langit-langit bangunan yang masih terbuat dari anyaman bambu dan beberapa di antaranya sudah lapuk karena sudah termakan oleh usia. Sebaliknya, jika kita mendongak ke bawah, kita dapat melihat lantai pabrik yang aslinya terbuat dari tegel kotak-kotak berwarna kuning impor dari Belanda dan permukaan tegel tadi kemudian ditutup dengan tegel lokal yang warnanya abu-abu gelap. Dua lapis tegel tadi menunjukan bahwa perjalanan PG Gembongan sudah melewati dua masa, yakni masa kolonial dan masa kemerdekaan. Dari salah satu potongan tegel, tegel ini diproduksi oleh pabrik tegel “ Alfred Regout & Co.” yang pabriknya ada di kota Maastricht, Belanda. Tegel buatan pabrik tersebut dikenal akan kualitasnya yang bagus sehingga banyak bangunan dari masa kolonial mulai dari stasiun, kantor, hingga pabrik gula menggunakan tegel ini.
Sumuran kecil di bagian sisi timur pabrik.
Kami kemudian menjelajah bangunan yang terdapat di sisi timur pabrik. Butuh perjuangan untuk menuju ke sini karena kami harus menembu rumput-rumput liat yang lebat nan tinggi. Perjuangan belum selesai karena untuk masuk ke dalam bangunan, kami harus memanjat undak-undakan yang sudah tertutup tanaman. Kondisi bangunan ini kosong melompong dan sangat lembab. Sinar matahari dengan mudahnya masuk ke dalam karena sebagian atap bangunan ini sudah hilang. Tampak kuda-kuda kayu yang sudah mulai lapuk dan sewaktu-waktu bisa ambruk. Beberapa tanaman paku liar tumbuh subur pada salah satu ruangan dan seolah membawa kami ke dimensi lain. Di bangunan ini, kami menemukan sebuah sumuran kecil berbentuk kotak. Sumuran ini begitu kecil sehingga saya yang tubuhnya kecil pun tidak dapat masuk ke dalam. Di bawah sumuran ini, terdapat sebuah terowongan kecil yang tampaknya untuk saluran irigasi.
Tampak luar bangunan kantor.
Bagian dalam kantor.
Dari bangunan tadi, kami menuju bekas bangunan kantor yang terdapat di selatan pabrik. Kondisi di bagian dalam begitu kotor dan gelap. Di sini tampak beberapa bekas dinding tripleks untuk tambahan ruangan baru. Kami tak menemukan apapun di sini selain kegelapan dan kesunyian.

Setelah berjelajah ria mengelilingi eks PG Gembongan, kami beristirahat di tempat dimana Pak Widodo biasa bersitirahat. Di sini, kami mengobrol tentang berbagai hal, termasuk ketika bangunan eks PG Gembongan diguncang gempa tahun 2006. “Waktu gempa 2006 dulu mas, bangunan baru di sekitar PG banyak yang ambruk mas. Tapi bangunan PG ini cuma goyang aja mas, gak ambruk. Padahal usianya sudah tua mas. Gimana ya mas kok bisa kaya gitu ? “. Pertanyaan yang masih belum bisa saya jawab. Kondisi bangunan PG ini sebenarnya masih bagus tapi sayangnya bangunan PG sebagus ini hanya disia-siakan menjadi sebuah gudang saja. Saya sendiri memiliki gagasan jika seandainya bangunan ini dapat diadaptasi untuk gedung serbaguna yang dapat disewakan untuk berbagai acara seperti resepsi pernikahan, pameran, pertunjukan seni, atau lapangan olahraga indoor. Dengan demikian, bangunan PG ini dapat dilestarikan lebih baik serta memberi banyak manfaat bagi masyarakat dan juga menambah pemasukan bagi si pemiliknya. Yah, semoga saja gagasan saya ini dapat terwujud dan tidak sekedar mengendap di pikiran saya saja.
PG Gembongan dilihat dari sebelah timur.
“ Oh ya, masnya sudah lihat bekas bunker di dalam PG ini ?”  tanya pak Widodo. “ Hah, bunker ? belum pak. Memangnya di mana itu pak ?” tanya saya dengan perasaan kaget. “ Ayo mas tak tunjukin”. Kami pun bergegas menuju bekas lokasi bunker yang ada di dalam pabrik. “ Dulu di sini ada bunker. Saya pernah masuk ke dalamnya. Cukup gede mas di dalam. Setelah tahu kalau di sini ada bunker, pemilik yang baru minta ditutup biar ndak dieksploitasi”. Bekas bunker memang masih ada, tapi bagian pintu masuknya sudah ditutup dengan rapi sehingga sudah sulit dikenali. Namun jangan bayangkan bunker-bunker tadi dipakai untuk menyimpan barang berharga atau untuk penjara. Tidak demikian. Bunker-bunker tadi sebenarnya merupakan rongga yang berfungsi untuk menyerap panas dari bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terlalu panas. Yah, di mana detail lokasi bunker tadi berada tidak akan saya tunjukan pada tulisan ini. Biarlah bunker itu bersemayam dengan tenang bersama pabrik ini.




Bekas rumah dinas PG Gembongan yang masih tersisa.
Keberadaan sebuah pabrik gula tentu tidak akan terlepas dari rumah dinas pegawai pabrik. Dahulu, PG Gembongan memiliki kompleks rumah dinas yang berdiri di sepanjang jalan masuk pabrik dan di sebelah barat pabrik. Di sepanjang jalan masuk pabrik, dahulu pernah terdapat tiga buah rumah kopel, yakni dua rumah yang menempati satu bangunan, sehingga di sini total ada enam buah rumah. Dari keenam rumah tadi, kini hanya tinggal dua saja yang masih tersisa. Sementara itu, di sebelah barat pabrik dahulu pernah terdapat rumah dinas administrateur yang sayangnya kini sudah tidak ada bekasnya lagi dan masih ada satu bangunan rumah dinas yang dalam kondisi terlantar.

Begitulah hasil penyusuran saya pada penggalan-penggalan kejayaan PG Gembongan yang kini nasibnya tidak sejaya dahulu lagi. Kejayaan PG Gembongan kini tereduksi menjadi tembok tua yang berdiri menatap wilayah sekitarnya yang sudah mulai berubah mengikuti zaman. Akankah bangunan PG Gembongan tinggal cerita saja seperti cerita perampokan tadi ? Jawaban ini tergantung dari kepedulian kita…

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Landsdrukkerij. Batavia

4 komentar:

  1. Artikelnya keren banget!
    Nama komunitasnya apa Mas? Saya juga sangat tertarik sama bangunan bangunan peninggalan zaman Kolonial.
    Oiya, ulas gedung2 di kota lama Semarang juga dong.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya. Nama komunitas saya komunitas Roemah Toea. Untuk gedung2 di kota lama Semarang bahan sudah ada,tinggal saya susun. terima kasih atas masukannya

      Hapus
  2. Sedikit meralat mas, Foto no.5 itu sepertinya bukan melewati terowongan di bawah jalur rel purwosari - boyolali, tetapi terowongan di bawah jalur rel purwosari - gatak. Terowongan tersebut saat ini masih ada berada di perbatasan Jetis, Makamhaji dan masih digunakan sampai sekarang untuk jalan kendaraan kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksinya. Saya sendiri baru tahu karena dari sumbernya tidak mencantumkan detail lokasi dan kebetulan di peta Belanda, dekat PG Gembongan ada perlintasan jalur kereta dengan jalur lori.

      Hapus