Jumat, 17 Maret 2017

Penggalan Warisan PG Gembongan Kartasura

Kartasura, sebuah kota kecil yang masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sekalipun kecil, kota ini amatlah ramai karena ia berada di titik strategis yakni di pertemuaan jalan raya Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Dalam literatur sejarah, Kartasura bediri semenjak era Kerajaan Mataram Islam dengan sisa peninggalan berupa sepenggal tembok bekas keraton Kartasura. Tak hanya itu saja, di Kartasura masih ada peninggalan sejarah lain dari era yang berbeda, yaitu PG Gembongan atau kadang disebut pula PG Kartasura. Inilah kisah dari sebuah pabrik gula yang kini terlupakan….
Bangunan PG Gembongan terlihat dari luar.
Pabrik itu berdiri di bawah bayang-bayang cerobong asap yang sudah lama tak mengepulkan asap. Dari jalan raya Kartasura-Surakarta,  cerobong itu masih tampak menjulang tinggi kendati ketinggianya telah dilampaui oleh sebuah apartemen baru di sebelah selatannya. Selama ini, saya hanya dapat mengagumi kemegahan pabrik yang terselubung oleh pagar tinggi dari luar. Namun siang itu, saya dan Mas Benu, kawan saya dari Boyolali, akan mencoba untuk menguak isi dari bekas pabrik gula yang sekian lama ditinggalkan itu…
Gerbang depan pabrik itu masih terkunci rapat dari luar, tanda tak ada seorangpun di dalamnya. Mas Benu pun lekas mengeluarkan telepon genggamnya, menghubungi seseorang. “ Segera ke sini ya pak, sudah kami tunggu di depan pagar”, pintanya lewat telepon genggam. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu pun tiba. “ Silahkan masuk mas, montornya parkir di dalam saja”, sambut Pak Widodo, juru jaga dari pabrik tua nan kosong itu. “ Saya tunggu di sini ya. Silahkan kalau mau keliling “, ujar Pak Widodo tanpa banyak kata. Dan akhirnya kamipun segera mengeksplorasi jengkal demi jengkal dari PG Gembongan…
Detail fasad art deco pada bangunan PG Gembongan.
Sekalipun temboknya terlihat mulai menua, pancaran keindahan gedung PG Gembongan masih begitu terasa. Sentuhan langgam arsitektur Art Deco benar-benar terwujudkan begitu baik dalam rupa fasad bangunan pabrik yang memainkan garis vertikal tegak lurus nan lugas. Sebuah sengkalan berbunyi “1920” terpampang di dinding luarnya. Namun, sengkalan itu bukanlah penanda tahun berdirinya pabrik ini, melainkan penanda tahun pabrik itu bermetamorfosis menjadi gaya Art Deco. Tujuannya untuk memberi citra modern pada PG Gembongana.  Lalu kapankah sebenarnya PG Gembongan ini berdiri ? 
Kondisi PG Gembongan pada masa sekarang dilihat dari citra satelit. Keteangan : 1. Kompleks pabrik ; 2. Rumah dinas yang masih tersisa ; 3. Bekas emplasemen lori.
Sejauh ini, saya belum menemukan literatur yang menyebutkan dengan pasti kapan PG Gembongan berdiri. Namun sebuah foto hitam-putih nampaknya bisa memberikan secercah titik terang dari sejarah pabrik gula yang masih gelap ini. Pada foto tersebut, terlihat para pegawai pabrik yang sedang berpose begitu kikuknya di depan sebuah pos penimbang tebu. Di kejauhan, menjulang tinggi cerobong PG Gembongan. Tepat di puncak cerobong, secara sama-samar terlihat sebuah tulisan  “ Kartasoera 1899 “. Dari sengkalan yang terpampang pada cerobong itulah, dapat dipastikan bahwa PG tersebut telah berdiri di tahun 1899. Sayangnya, sengkalan tersebut sudah tak nampak lagi wujudnya. Menurut Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie , PG Gembongan dikuasai oleh sebuah maskapai perkebunan bernama Kartasoera Cultuur Maatschappij ( Anonim, 1914 ; 206 ).
PG Gembongan ketika baru saja dibuka. Terlihat para pegawai berdarah Eropa ( kanan ) dan pribumi ( kiri ) yang sedang berpose. Ketika PG Gembongan baru dibangun, bentuk dan ukuran bangunan lebih sederhana daripada sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Bangunan penimbang tebu. Tebu yang akan diproses terlebih dahulu ditimbang di sini. Di kejauhan menjulang cerobong PG Gembongan dengan angka tahun 1899 yang terlihat samar ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Sebelum kami menyambangi bangunan utama pabrik itu, kami terlebih dahulu berjalan menuju ke bagian barat pabrik, tempat dimana gudang-gudang PG Gembongan berada. Gudang-gudang panjang itu masih terlihat asli dengan tembok tebalnya. Di bawah tiang-tiang penopang yang masih kokoh itulah, dulu ditimbun berkarung-karung gula sebelum diedarkan ke penjuru negeri. Namun di sana, yang kami jumpai hanyalah lantai berdebu dan sampah yang berserakan di lantai.
Bekas bangunan gudang.
Bagian dalam bangunan gudang yang ditopang oleh pilar-pilar berbentuk kotak.
Ia berdiri memanjang di ujung barat kompleks pabrik ini dengan sengkalan berbunyi “1928” di bagian tembok luarnya yang menegaskan betapa tuanya gedung itu. Itulah bekas bangunan depo lokomotif yang sedang kami sambangi. Depo itu dulunya merupakan tempat untuk menyimpan dan merawat lokomotif kecil yang dipakai menarik rangkaian gerbong berisi tebu. Menariknya, salah satu lokomotif PG Gembongan sudah ada yang memakai mesin diesel, teknologi yang terbilang canggih di kala itu. Sayang, lokomotif-lokomotif itu kini tak diketahui lagi rimbanya. Lokomotif-lokomotif kecil yang dulu pernah mengisi bagian dalam bangunan ini, saat ini telah tergantikan dengan  tumpukan gulungan kertas..
Emplasemen lori PG Gembongan. Tampak lokomotif diesel yang berada di tengah emplasemen
( sumber : troppenmuseum.nl ).
Tampak luar bangunan bekas remise atau depo lori PG Gembongan. Terlihat angka tahun 1918 di bagian atas.
Kondisi bagian dalam bekas remise.
Di antara eks depo dan bangunan utama, tersempil sebuah bangunan baru. Pabrik ini memang telah beberapa kali berpindah kepemilikan. Setelah kemerdekaan, pabrik yang semula dikuasai oleh perusahaan Belanda, dinasionalisasi oleh pemerintah dan asetnya menjadi milik PTPN. Kompleks pabrik ini kemudian dipecah menjadi dua, yakni sebagian milik PTPN dan sebagian diserahkan ke ABRI. Tahun 1968, PTPN menjual pabrik ini kepada PT Karep Bojonegoro. Singkat cerita, setelah berulangkali berpindah tangan, bangunan tersebut kini menjadi milik PT. Sinar Grafindo. Namun kabar terakhir menyebutkan kalau bangunan ini telah memiliki pemilik baru. Walaupun telah beberapa kali berganti kepemilikan, nasib pabrik gula ini tetap tak berubah. Ia tetap tak mampu bangkit kembali meraih kejayaanya seperti dulu…
Bagian yang dahulu menjadi akses masuk utama PG Gembongan
Relief berwujud gilingan tebu yang terdapat di atas pintu masuk PG Gembongan.
Sinar matahari menerobos ke dalam lewat jendela kaca yang tinggi, memberi seberkas pencahayaan untuk ruangan pabrik yang agak gelap itu. Saya kira, di dalam pabrik ini masih bisa dijumpai berbagai mesin uap kuno yang dulu digunakan untuk menggiling tebu dan mengolahnya menjadi gula. Tapi ternyata tidak. Di dalam sini, apa yang kami temukan hanyalah mesin-mesin pengemas tembakau yang sudah berdebu dan teronggok di sembarang tempat begitu saja. Seketika itu pula, kami berdua pun hanya bisa tertegun menatap kosongnya ruangan pabrik yang langit-langitnya amat tinggi ini. Mesin-mesin pabrik gula Gembongan telah lama hilang, pasalnya di tahun 1968, pabrik ini berpindah tangan dari PTPN ke PT Krebet Baru, dimana pemilik baru menganggap mesin-mesin itu sudah tiada gunanya lagi karena bangunan pabrik akan dialihkan menjadi gudang penyimpanan tembakau.
Bagian dalam PG Gembongan. Tampak dudukan cerobong PG.
Suara seng yang nyaris lepas seperti suara petir sesekali terdengar di dalam pabrik yang sunyi itu. Dinding pabrik amatlah tinggi, sehingga udara di dalam pabrik ini tak begitu panas. Memang demikian harusnya karena jika tidak, orang bisa pingsan kepanasan akibat tak tahan dengan panasnya hawa dalam pabrik yang ditimbulkan oleh mesin-mesin uap. Ketika saya mendongak, saya melihat langit-langit yang masih terbuat dari anyaman bambu yang telah lapuk. Banyak anyaman bambu tersebut yang sudah jatuh dan menimpa mesin-mesin di bawahnya.
Bagian dalam PG Gembongan. Terlihat langit-langit dari anyaman bambu yang mulai ambrol. Meski terlantar, tapi aura kejayaan PG ini masih sedikit terasa hingga sekarang.
Lantai tegel lama yang sudah ditimbun.
Lantai pabrik ini rupanya terdiri dari dua lapis, lapis pertama terbuat dari tegel abu-abu yang polos, tegel dari tahun 1950an. Di bawah lapisan tadi, terdapat tegel kuning yang diimpor dari Belanda. Ketika saya membalikan tegel kuning itu, saya melihat merk tegel “ Alfred Regout & Co.” yang pabriknya ada di kota Maastricht, Belanda. Dua lapis tegel tadi seolah memberi pesan bahwa perjalanan PG Gembongan telah melalui dua masa, yakni masa kolonial dan masa kemerdekaan.
Sumuran kecil di bagian sisi timur pabrik.
Kami selanjutnya menjajaki bangunan yang terdapat di sisi timur pabrik. Butuh usaha keras untuk menuju ke sana karena kami harus menerobos lebatnya tanaman liar yang telah tumbuh di mana-mana. Usaha kami masih belum selesai karena untuk masuk ke dalam bangunan, kami harus menggapai undak-undakan yang tinggi. Sampai di sini, apa yang kami temukan hanyalah sebuah ruangan yang kosong melompong. Atap bangunan ini sudah hilang. Kuda-kuda kayu yang sudah mulai lapuk dan atap bangunan ini sewaktu-waktu bisa ambruk. Beberapa tanaman paku liar tumbuh subur pada salah satu ruangan sehingga merubah ruangan itu seperti sebuah hutan purba. Di sini, kami menemukan semacam kotak sumuran kecil. Sumuran ini begitu kecil sehingga saya yang tubuhnya kecil pun tidak dapat masuk ke dalam. Di bawah sumuran ini, terdapat semacam terowongan kecil yang bisa jadi digunakan untuk saluran irigasi.
Tampak luar bangunan kantor.
Bagian dalam kantor.
Dari bangunan tadi, kami menuju bekas bangunan kantor yang terdapat di selatan pabrik. Kondisi di situ ternyata jauh lebih kotor dan gelap daripada bangunan pabrik yang kami sambangi tadi. Tak diketahui sejak kapan kantor ini sudah ditinggalkan. Beberapa bekas dinding tripleks untuk tambahan ruangan baru masih terlihat di sini. Tak ada hal lain yang kami temukan di sini selain kekosongan.
Cerobong PG Gembongan dilihat dari sebelah timur.
Setelah berjelajah ria mengelilingi eks PG Gembongan, kami sejenak menghilangkan letih di tempat dimana Pak Widodo biasa beristirahat. Dengannya, kami berbincang tentang banyak hal, termasuk ketika bangunan eks PG Gembongan diguncang gempa tahun 2006 silam. “Tahun 2006, seluruh bangunan baru di sekitar pabrik luluh lantak akibat gempa “, tutur Pak Widodo. “ Namun herannya saya, pabrik ini cuma bergoyang saja ketika gempa, nyaris tak ada satupun yang rusak selain seng yang jatuh berguguran ke bawah”, jelas Pak Widodo dengan perasaan takjub ketika ia mengingat kembali pengalaman itu.

Sembari mengobrol, saya berandai-andai jika seandainya bangunan ini dapat dipakai untuk keperluan lain, misalnya menjadi gedung serbaguna yang dapat disewakan untuk berbagai acara seperti resepsi pernikahan, pameran, pertunjukan seni, atau menjadi lapangan olahraga indoor. Dengan demikian, bangunan PG ini dapat dilestarikan lebih baik serta bermanfaat banyak untuk masyarakat sekitar dan juga memberi keuntungan bagi pemiliknya. Fisik bangunan PG ini sebenarnya masih bagus, namun sayangnya bangunan PG sebagus ini hanya disia-siakan menjadi sekedar sebuah gudang.

“ Oh ya, apakah mas berdua sudah lihat bekas bungker di dalam PG ini ?”,  tanya pak Widodo. “ Hah, bungker ? belum pak. Memangnya ada di mana itu pak ? ”, saya malah bertanya balik dengan perasaan kaget. “ Ayo mas, saya tunjukan”, ajaknya. Kami pun lantas mengikutinya, menuju bekas lokasi bunker yang dimaksud. “ Dulu di sini ada bungker atau semacam ruang bawah tanah. Lumayan besar mas ukurannya, saya saja bisa masuk ke dalam” jabar Pak Widodo sembari menunjuk perkiraan lokasi bungker yang pernah ia masuki. “ Namun setelah tahu kalau di sini ada bungker, pemilik yang baru minta ditutup biar tidak dieksploitasi oleh orang luar”, sambungnya. Bekas bungker itu memang masih ada, tapi pintu masuknya telah ditutup dengan begitu rapi sehingga sukar untuk mengenalinya kembali. Namun jangan bayangkan bila bungker-bungker tadi dipakai untuk menyimpan barang berharga atau sebagai ruang tahanan. Tidak demikian. Bungker-bungker tadi sesungguhnya merupakan rongga yang berfungsi untuk menyerap panas dari perut bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terlalu panas. Yah, di mana detail lokasi bungker tadi berada tidak akan saya tunjukan di tulisan ini. Biarlah bungker itu bersemayam dengan tenang bersama pabrik ini.


Bekas rumah dinas PG Gembongan yang masih tersisa.
Setelah berpamitan dengan Pak Widodo, kami melangkah keluar, menyusuri sebuah jalan yang dulu sejajar dengan sebuah jalur kereta besar dari arah Surakarta yang kemudian mengarah ke pabrik. Di masa lalu, hampir setiap pabrik gula sudah terintegrasi dengan jalur kereta di dekatnya, sehingga gula yang sudah dikarungkan dapat langsung dibawa ke pasaran luar.

Di dekat PG Gembongan, dulu terdapat beberapa rumah bergaya Indis yang berdiri di sepanjang jalan masuk pabrik dan di sebelah barat pabrik. Rumah itu ditempati oleh para pegawai beserta keluarganya. Ia ditempatkan dekat dengan pabrik guna mengurangi waktu perjalanan para pegawai dari tempat tinggal ke tempat kerja sehingga produktivitas dapat ditingkatkan.

Pada zaman Belanda, sebuah kejadian dramatis pernah menimpa salah satu pegawai PG Gembongan dan kejadian itu dimuat dalam warta Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indische tanggal 8 November 1909. Kejadian bermula di malam tanggal 2 November 1909, sekitar jam setengah satu malam. Ssebuah rumah yang ditempati pegawai pabrik berdarah Tionghoa bernama Ang Ing Gwan, disatroni oleh perampok berjumlah 5 orang. Kelima perampok ini semuanya berdarah Jawa. Dengan membawa senjata berupa pistol revolver dan golok, perampok ini berhasil menyandera tuan rumah dan memaksa dia untuk menunjukan tempat barang berharganya disimpan. Mengetahui telah terjadi perampokan, istri si tuan rumah bergegas keluar untuk mencari bantuan. Nahas, lengan si istri tuan rumah yang malang tadi dipukul dengan golok. Agar ayahnya dapat dibebaskan, anak perempuan si tuan rumah yang masih berusia 10 tahun menyerahkan celengan berisi 40 kepada perampok. Setelah dibebaskan, si tuan rumah bergegas ke kamar tidurnya untuk mengambil pistol revolver miliknya. Menyadari hal tersebut, perampok tadi melepaskan beberapa tembakan. Dor !! Tembakan pertama meletus dari pistol salah satu perampok, namun tembakan tersebut tapi tak mengenai sasarannya. Bagaikan drama, terjadilah aksi tembak-menembak yang melukai beberapa perampok. Kesunyian malam itu pun segera terpecahkan oleh suara adu tembak tadi. Para pegawai pabrik lain yang berdarah Eropa terbangun dari tidurnya dan mereka segera menghampiri asal suara tadi. Menyadari massa semakin banyak, gerombolan perampok tadi akhirnya lari tunggang langgang meninggalkan korbannya. Istri tuan rumah yang terluka segera dibawa ke Surakarta untuk mendapat pertolongan. Sayang, rumah tempat dimana drama adu tembak tadi terjadi sepertinya sudah tak ada lagi. Hampir semua bangunan rumah pegawai PG Gembongan sudah rata dengan tanah, menjelma menjadi bangunan baru. Hanya tiga rumah saja yang masih terlihat utuh.

Di penghujung penjelajahan, kami kembali lagi ke pabrik, menatap sekali lagi penggalan warisan PG Gembongan yang nyaris termakan oleh zaman itu. Pabrik tua dengan tembok usangnya itu, sesungguhnya merupakan cerminan dari ironi industri gula di Indonesia dewasa ini. Kemegahan bangunan tua pabrik ini seolah memperlihatkan betapa digdayanya industri gula di masa lalu. Namun melihat kondisi pabrik saat ini yang telah kosong, ia seolah menunjukan realita nasib industri gula dalam negeri yang kini terpuruk.

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Batavia : Landsdrukkerij

11 komentar:

  1. Artikelnya keren banget!
    Nama komunitasnya apa Mas? Saya juga sangat tertarik sama bangunan bangunan peninggalan zaman Kolonial.
    Oiya, ulas gedung2 di kota lama Semarang juga dong.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya. Nama komunitas saya komunitas Roemah Toea. Untuk gedung2 di kota lama Semarang bahan sudah ada,tinggal saya susun. terima kasih atas masukannya

      Hapus
  2. Sedikit meralat mas, Foto no.5 itu sepertinya bukan melewati terowongan di bawah jalur rel purwosari - boyolali, tetapi terowongan di bawah jalur rel purwosari - gatak. Terowongan tersebut saat ini masih ada berada di perbatasan Jetis, Makamhaji dan masih digunakan sampai sekarang untuk jalan kendaraan kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksinya. Saya sendiri baru tahu karena dari sumbernya tidak mencantumkan detail lokasi dan kebetulan di peta Belanda, dekat PG Gembongan ada perlintasan jalur kereta dengan jalur lori.

      Hapus
  3. Mas memang nya boleh disewa ? Kira2 siapa yg bisa dihubungi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau buat foto prewed di luar bisa. Tapi untuk acara gede kurang tahu.

      Hapus
  4. Mas, Pemalang juga ada Pabrik Gula Sumberharjo,, Pabrik nya msh berproduksi, mess karyawan nya masih ditinggali,,Ad stasiun kereta nya juga dan lokomtif tua nya juga masih exist mengangkut tebu,, yg paling menarik di sini juga ada bom yg masih aktif tertanam di tanah karena tidak meledak sewaktu di bom dr udara,, Klo sempat mohon diliput. Terima kasih mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas infonya, tapi sayang, PG aktif biasanya agak susah untuk dimasuki Karena harus melewati prosedur yg panjang.

      Hapus
  5. Mas mau dong gabung komunitas e sampeyan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dicari di FB : Komuntias Roemah Toea. Silahkan hubungi adminya. Terima kasih.

      Hapus