Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kolonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kolonial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2021

Perjalanan Hidup Rumah Indische Woonhuizen

“Arsitektur merupakan salah satu bentuk materialisasi budaya, sebab itulah sering dikatakan bila arsitektur adalah cermin dari suatu kebudayaan“. Itulah yang diterangkan Handinoto dalam tulisannya yang mengulas gaya arsitektur Indisch Woonhuizen, suatu gaya arsitektur rumah tinggal yang sempat mewarnai khazanah arsitektur di Nusantara. Gaya bangunan termaksud adalah salah satu wujud dari kebudayaan campur yang dikenal sebagai kebudayaan Indis, kebudayaan hasil dari persentuhan orang Eropa dengan masyarakat lokal dan alam tropis Nusantara. Seperti apa wujud rumah Indisch Woonhuizen itu dan bagaimana perjalanan hidupnya dari awal terbentuk, perkembangan, hingga lenyap dari wajah kota akan menjadi bahasan utama dalam tulisan Jejak Kolonial kali ini.
Museum Sasmita Loka Jenderal Sudirman. Dahulu adalah rumah keluarga Weijnschenk sebelum ditempati oleh Jenderal Sudirman.
Patung Panglima Besar Sudirman yang sedang menunggang kuda terlihat gagah dan berwibawa di halaman depan Museum Sasmita Loka, tempat dimana panglima besar tersebut dulu pernah tinggal kala bertugas di Yogyakarta. Setelah melapor kepada petugas jaga, saya beranjak ke beranda depan bangunan yang tinggi nan luas tersebut. Di hadapan saya, bangunan Museum Sasmita Loka terlihat seperti rumah seorang pembesar Belanda. Sejarah bangunan itu sendiri memang dapat ditarik lebih mundur sebelum Panglima Sudirman bertempat tinggal di situ. Lama sebelum menjadi kediaman Panglima Sudirman, bangunan itu dibangun oleh keluarga suikerplaanter atau pemilik pabrik gula kaya raya di masanya. Keluarga Weijnschenk namanya. Garis keluarga Weijnschenk di Hindia-Belanda dimulai dari Leopold Weijnschenk, seorang letnan kavaleri asal Wurtemberg yang bekerja kepada Kasunanan Surakarta. Leopold menikah dengan Maria Christina Franke dan dikaruniai enam anak. Salah satunya bernama George Lodewijk yang lahir di Solo pada 9 Juni 1814. George merintis karir sebagai komisaris di kantor Karesidenan Yogyakarta. Pekerjaan sebagai seorang pejabat kolonial membuka peluang untuk menjalin hubungan dekat dengan Kraton Yogyakarta. Kedekatan itu berbalas dengan pemberian hak sewa tanah kepada George. Pada saat itu, orang-orang asing tidak diperbolehkan memiliki tanah di Yogyakarta dan sebagai gantinya Sultan mengizinkan mereka untuk menyewa tanahnya. Para penyewa Eropa tersebut kemudian dikenal sebagai bekel putih.
Rumah keluarga Weijnschenk (dalam kotak biru) di Bintaran, Yogyakarta (sumber : Jogjakarta en Omstreken Kaart).
Pabrik gula Padokan tahun 1880an (sumber : rijksmuseum.nl)
Rumah keluarga Weijnschenk di Bintaran pada abad ke-19. Foto ini diambil oleh fotografer Kassian Cephas (Sumber : rijksmuseum.nl)
George diberi hak sewa tanah di Sanasewu, Kratil, Tendeng, Kwinie, dan Ngoto. Tanah tersebut oleh George diolah menjadi perkebunan aneka jenis tanaman seperti nila, kopi, gula, dan tembakau. George juga menjadi seorang bankir sebelum Javasche Bank membuka kantor agen di Yogyakarta. Bersama Soesman, Van Gorkom, dan Sayers, George sempat mendirikan usaha pabrik sabun Van Gorkom namun usaha itu berakhir dengan kegagalan. George membangun sebuah pesanggrahan yang dilengkapi dengan kolam renang di Ambarwinangun dan pesanggrahan itu kemudian dihadiahkan kepada Sultan Hamengkubuwono VII sebagai tanda persahabatan antara keluarga Weijsnchenk dengan Kraton (Het Nieuws van den dag voor Ned.Indie, 31 Desember 1938). Sepanjang hidupnya, George menikah beberapa kali. Pertama dengan Maria Dorothea Baumgarten, putri keluarga Baumgarten yang saat dinikahi pada 1836 masih berusia 17 tahun. Keluarga Baumgarten sendiri termasuk dalam lingkaran keluarga bekel putih Yogyakarta. Keluarga bekel putih lainnya antara lain keluarga Enger, Dom, Klaring, dan tentunya keluarga Weijnschenk. Pernikahan George dengan Maria berumur singkat karena Maria meninggal setahun berikutnya. George menikah lagi pada 1850 dengan seorang perempuan Jawa bernama Raimah dan dari pernikahan itu George memiliki dua belas anak. Raimah meninggal pada 1861 dan menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan Wilhelimna Frederika Kramer. Pada tahun 1868, George beserta dua putranya yang kelak akan meneruskan usaha George, yakni George Jr. dan Cherrie, pergi ke Eropa untuk mendampingi George Jr. belajar di kota Koln. Dalam pelayarannya, George bermimpi mendapati pabriknya di Padokan hancur lebur. Mimpi buruk itu rupanya betul-betul terjadi karena saat George mengalami mimpi buruk itu, pada hari yang sama Yogyakarta diguncang gempa dahsyat yang menghancurkan pabrik di Padokan. Pelannya arus komunikasi di masa itu membuat kabar itu baru diterimanya setelah tiba di Eropa. George segera kembali untuk membangun kembali pabrik gula yang hancur.
Beranda depan dengan tiang-tiang penyangga berbahan besi.
Bagian kanopi, tempat kendaraan berhenti.
Sayangnya setelah pabrik dibangun masalah lain mendera berupa krisis gula tahun 1880an yang membuat bangkrut banyak pabrik gula partikelir. George Sr meninggal pada tahun 1878 dalam keadaan usaha yang sedang berada pada masa sulit. Aset-aset perkebunan terpaksa digadaikan dan baru terlunasi pada tahun 1908. Usaha perkebunan Padokan dan Barongan sebagian besar sahamnya dipegang oleh anggota keluarga Weijnschenk sehingga boleh dikatakan jika perkebunan tersebut adalah bisnis yang dijalankan secara kekeluargaan. George Jr meninggal pada tahun 1931. Sementara Cherry Weijnschenk meninggal pada 1935. Kematiannya menjadi akhir periode dari generasi keluarga bekel putih di Yogyakarta karena saat Cherry meninggal, pengelolaan tanah-tanah perkebunan di Yogyakarta sudah dikuasai oleh perusahaan sindikat perkebunan. Pundi-pundi keuntungan yang diperoleh keluarga Weijnschenk dari hasil perkebunan dipakai untuk mendirikan sebuah rumah mewah yang hari ini menjadi salah satu contoh terbaik rumah Indisch Woonhuizen di Yogyakarta.
Beranda belakang.
Penggalan kisah keluarga Wiejnschenk di atas membuka gambaran rumah Indische Woonhuizen yang lekat dengan kehidupan keluarga Belanda di masa lalu. Indische Woonhuizen adalah tipe bangunan rumah tinggal yang jamak digunakan pada abad ke-19. P.H. van der Kemp dalam tulisannya berjudul "Over Kunst in Indische Woningbouw" mendefinisikan bangunan Indisch Woonhuizen sebagai bangunan tempat tinggal bertingkat satu, memiliki tiga pintu depan yang tinggi dan terdapat barisan kolom yang menopang bagian beranda depan yang terbuka. Kolom tersebut terbuat dari bata yang disusun membentuk kolom bergaya Yunani atau tiang besi berukir (Kemp, 1915: 54). Sebenarnya bagaimana arsitektur rumah Indisch Woonhuizen yang menjadi gaya rumah keluarga Weijnschenk ini dihasilkan ?
Contoh rumah Indische Woonhuizen (sumber : Nederlandsch Indische Huis Oud en Nieuw Deel II, Afdeeling I 1915)
Arsitektur rumah Indische Woonhuizen tidak tercipta dalam waktu semalam. Susunan dan bentuk rumah Indische Woonhuizen menunjukan upaya akulturas dan penyesuaian bertahap dari gaya Belanda terhadap lingkungan setempat. Cikal rumah Indische Woonhuizen adalah landhuizen petinggi VOC di luar kota. Seiring dengan kian makmurnya perniagaan di Batavia pada abad ke-18, para pedagang atau pejabat VOC yang kaya raya mendirikan Landhuizen yakni rumah dengan kebun luas di pinggiran kota. Kondisi lingkungan di dalam kota sendiri selain berisik juga tidak terlalu sehat untuk ditinggali. Barulah saat wilayah pinggiran kota berhasil diamankan, mereka memberanikan diri untuk membangun landhuizen. Pergumulan orang-orang Eropa dengan iklim tropis menjadikan landhuizen tersebut perlu disesuaikan dengan lingkungan tropis (GIll, 2002: 112). Seperti yang diketahui, orang-orang Eropa sudah terbiasa tinggal di daerah beriklim dingin sehingga rumah tinggal mereka akhirnya dibuat tertutup supaya ruangan di dalam terasa hangat. Namun tatkala mereka tinggal di sini, ternyata iklimnya berbeda jauh dengan di Eropa sana. Rumah model tertutup ala Eropa tentu tidak cocok dibangun di sini karena rumah model seperti itu akan membuat mereka gerah. Untuk bertahan hidup di iklim tropis, maka dilakukan sejumlah penyesuaian misalnya dengan menambahkan beranda keliling serta teritisan yang lebar sehingga tidak terlalu banyak panas matahari yang masuk ke ruang dalam. Kadang di bagian beranda dilengkapi dengan kerai bambu supaya intensitas cahaya matahari dapat dikurangi namun udara masih bisa masuk. Penyesuaian lainnya adalah memperbesar pintu dan jendela untuk memperlancar aliran udara sehingga bagian dalam terasa sejuk dan nyaman. Boleh dikatakan bila keberadaan rumah Indis adalah strategi orang Eropa untuk beradaptasi terhadap iklim tropis Nusantara sehingga mereka nyaman tinggal di sini (Lombard, 2018: 220).
Kegiatan makan bersama yang berlangsung di beranda belakang
(sumber : collectie.troppenmuseum.nl)
Bagian beranda depan rumah Indische Woonhuizen yang digunakan sebagai tempat menerima tamu (sumber : collectie.troppenmuseum.nl).
Memasuki abad ke-19, rumah Indisch Woonhuizen mulai menampilkan salah satu ciri khasnya, yakni kolom-kolom besar bergaya Yunani di muka rumah. Kemunculan kolom-kolom tersebut tak bisa dipisahkan dari pengaruh Herman Wilhelm Daendels, gubernur jenderal yang terkenal dengan mahakarya Jalan Raya Anyer Panarukan. Terlepas dari gaya pemerintahannya yang keras, Daendels memberi warna baru dalam perkembangan arsitektur rumah Indis. Daendels yang menguasai Hindia-Belanda memiliki selera seni tersendiri, utamanya dalam seni bangun. Kala masih berkuasa, Daendels merupakan bawahan sekaligus pengagum Napoleon Bonaparte. Untuk mengangkat citra kekaisaran Perancis yang sedang dibangunnya, maka Napoleon memperkenalkan gaya Empire yang menekankan pada kemegahan bangunan. Sebagai pengagumnya, Daendels mengimpor arsitektur tersebut ke Hindia-Belanda (Handinoto, 2008; 51). Empire style sesungguhnya adalah salah satu turunan langgam Neo-Klasik yang berupaya memasukan kembali pilar-pilar yang biasanya tersua pada kuil Yunani-Romawi kuno ke bagian wajah rumah. Pada akhir abad ke-19, kolom-kolom besar dari batu di beranda muka digantikan dengan tiang-tiang baja atau kayu. Tiang besi atau kayu tersebut kadang dipercantik dengan ornamen sesuluran yang membalutinya (Handinoto, 2012; 55). Dari situlah kiranya ciri arsitektur Indische Woonhuizen abad ke-19 terbentuk.
Tipikal denah rumah Indische Woonhuizen. Keterangan Voorgalery : Beranda depan. Doorgang : Lorong. Slaapkamer : Ruang tidur. Achtergalery : Beranda belakang. Provisie : Gudang makanan. Keuken : Dapur. (sumber : Nederlandsch Indische Huis Oud en Nieuw 4e Jaargang, Afd. 4, 1919).
Salah satu ciri lain dari rumah Indische Woonhuizen adalah bangunannya yang terdiri dari bangunan induk dan bangunan pendukung. Bangunan induk atau hoofdgebouw denah dasarnya sederhana. Selalu mencakup dua beranda yakni beranda depan sebagai tempat menerima tamu dan beranda belakang sebagai tempat makan bersama. Di dalamnya terdapat dua kamar yang saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah koridor yang menghubungkan beranda belakang dan beranda depan. Bangunan induk merupakan tempat keluarga tuan rumah melangsungkan kegiatan sehari-hari seperti tidur dan makan bersama. Sedangkan bangunan pendukung atau Bijgebouwen ditempatkan terpisah di samping atau belakang rumah dan ruangannya terdiri dari kamar mandi, WC, dapur, gudang, dan kendang kuda. 
Salah satu paviliun rumah keluarga Weijnschenk. Di belakang bangunan tersebut dahulu terdapat bangunan bijgebouwen.
Di setiap rumah Indische Woonhuizen, kegiatan memasak dilangsungkan di dapur yang berada di bagian bijgebouwen atau bangunan penyerta. Kegiatan memasak masih menggunakan kayu bakar. Dapur digunakan untuk menyimpan peralatan makan. Sementara bahan makanan disimpan di gudang yang ada di samping dapur. Ilustrasi oleh J.C. Rappard (sumber : collectie.troppenmuseum.nl)
Setiap rumah Indische Woonhuizen dilengkapi dengan kamar tinggal untuk pembantu rumah tangga dan keluarganya. Pada ilustrasi buatan J.C. Rappard ini terlihat sang istri sedang menyiapkan meniup tungku masak untuk suami dan anaknya (sumber : collectie.troppenmuseum.nl).
Bijgebouwen dimaksudkan sebagai ruang pendukung kegiatan harian orang yang tinggal di bangunan induk seperti mandi, mencuci, dan memasak. Bagian ini juga memiliki kamar pembantu. Jumlah kamar pembantu bervariasi tergantung dari jumlah pembantu yang dipekerjakan. Masing-masing pembantu memiliki keahlian sendiri sehingga ada pembantu yang ditugaskan khusus mencuci, memasak, membersihkan rumah, atau merawat kebun. Pada bangunan Museum Sasmita Loka, bagian bijgebouwen nya dahulu ada di sebelah kanan-kiri rumah dan kemudian menyambung ke belakang sehingga dari atas tampak membentu letter “U”. Sayangnya bangunan bijgebouwen tersebut sudah hilang seiring dengan penyesuaian fungsi baru sebagai museum. Bagian yang tersisa kini adalah bekas paviliun tamu.
Bagian ruang tidur keluarga.
Bangunan rumah keluarga Weijnschenk adalah satu dari sekian contoh model rumah Indische Woonhuizen yang lekat dengan gambaran kehidupan orang Eropa di tanah koloni pada masa lalu. Menurut pandangan orang-orang Belanda pada awal abad-20, rumah Indische Woonhuis secara seni memang tidak bermutu tinggi namun rumah tersebut memberi rasa kebanggaan dan kesejukan bagi yang menghuninya. Rumah Indische woonhuizen tidak hanya semata perkara kebutuhan papan saja. Djoko Soekiman dalam karyanya yang bertajuk Kebudayaan Indis menyebutkan alasan orang Eropa mendirikan bangunan Indisch Woonhuizen juga berkaitan dengan perkara gengsi, wibawa, harta, dan kuasa. Pada masa kolonial, terbentuk strata sosial menempatkan bangsa Eropa di lapisan teratas. Untuk mengukuhkan kedudukanya di hadapan bangsa Pribumi yang dianggapnya lebih rendah, maka bangsa Eropa membangun bangunan tempat tinggalnya dalam bentuk khusus yang megah (Djoko Soekiman, 2014; 5). 
Bagian lorong tengah dengan kamar di samping kanan dan kiri.
Rumah Indisch Woonhuizen yang menjadi ikon arsitektur kolonial abad ke-19 menjadi sarana unjuk kekuasaan dan kekayaan. Baik oleh ahli bangunan yang bekerja di bawah naungan birokrasi pemerintah atau pemborong bangunan partikelir, mereka menjadikan gaya Indische Woonhuizen sebagai patokan ketika mendirikan bangunan rumah tinggal. Rumah-rumah ini menyebar luas ke setiap kota-kota besar di Hindia Belanda. Rumah-rumah tersebut biasanya berdiri di sepanjang jalan utama atau pusat pemerintahan. Keberadaan rumah-rumah Indische Woonhuizen yang berdiri di tengah pekarangan luas dan terlingkupi oleh pepohonan rimbun akhirnya membentuk kantong permukiman elit Eropa yang menghiasi wajah kota kolonial. Banyaknya pembagian fungsi ruang tersebut membuat rumah berlanggam Indische Empire Style atau Indische Woonhuis membutuhkan tanah yang luas. Bagi keluarga Weijnschenk yang berkelimpahan harta, ini bukanlah masalah. Mereka bisa memperoleh tanah di Bintaran yang tanahnya masih terhampar luas dan jarang penduduknya pada abad ke-19.

Lantai tegel bermotif.
Nasib keluarga Weijnschenk tidak diketahui sesudah kemerdekaan. Tampaknya keluarga Weijnschenk meninggalkan rumah itu pada zaman Jepang, dimana orang-orang keturunan Eropa ditawan. Sesudah ditinggalkan, pemerintah Republik Indonesia yang ibukotanya pindah ke Yogyakarta pada tahun 1948 menjadikan rumah tersebut sebagai rumah tinggal Panglima Sudirman. Namun Panglima Sudirman hanya sebentar tinggal di sana karena beliau harus memimpin gerilya dari medan tempur. Memorabilia keluarga Jenderal Sudirman mulai dari ranjang Jenderal Sudirman tidur bersama istrinya, meja kerja tempat dimana Jenderal Sudirman menuliskan surat-surat penting, pedang samurai yang pernah dipakai Jenderal Sudirman ketika masih menjadi perwira militer pada zaman Jepang dan lain sebagainya masih dijumpai di dalam kamar-kamar tersebut. Setelah Jenderal Sudirman tidak tinggal di rumah ini, bangunan ini digunakan sebagai markas militer. Selanjutnya pada tahun 1982, bangunan ini diresmikan sebagai museum.

Rumah Indis Empire di Mojoduwur, Jombang.
Arsitektur Indisch Woomhuizen umumnya identik dengan rumah atau bangunan milik orang Eropa. Tidak salah memang karena model rumah seni bangun campuran tersebut menyebar luas di kalangan orang Eropa. Namun berlawanan dengan pandangan umum, keberadaan dua rumah yang masih luput dari perhatian banyak orang ini akan memberi wawasan baru bahwa rumah model Indische Woonhuizen juga diminati oleh kalangan non-Eropa saja. Untuk contoh pertama, saya akan mengajak anda di Desa Mojoduwur, Jombang, tempat bangunan yang saya jadikan contoh ini berdiri puluhan tahun lamanya menghadap Gunung Penanggungan yang sarat dengan bangunan suci yang usianya lebih tua darinnya. Rumah ini masih dilindungi oleh pagar yang sama rentanya. Bagian muka rumah itu memperlihatkan tiang-tiang kokoh yang menjadi pengingat dari gaya arsitektur Indisch Woonhuizen.
Tampak depan rumah dengan keempat pilarnya.
Kolom besar, ciri dari arsitektur rumah Indis Empire.
Apabila diterka, boleh jadi rumah ini tidak dibangun oleh orang Belanda, melainkan oleh golongan priyayi bumiputera yang lumayan berada. Rumah memang tak sekedar sebagai tempat berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan, namun juga sebagai cermin kemapanan seseorang. Golongan priyayi adalah para aristokrat bumiputera baru yang meraih kedudukannya bukan melalui keturunan darah, melainkan dari pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial. Pendidikan memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Manakala taraf hidup mereka meningkat, mereka cenderung akan membikin rumah yang tampilannya lebih mewah dari sebelumnya. Arsitektur yang ada saat itu, yakni Indisch Woonhuis yang banyak dipakai oleh orang Eropa dipandang sebagai ukuran kemewahan. Pada saat orang Eropa mulai meninggalkan model rumah Indisch Woonhuis, kaum priyayi Jawa mulai menunjukan ketertarikannya terhadap arsitektur Indis seperti yang tampak pada sebuah tulisan yang bertajuk Layang Balewarna karya oleh Mas Sasra Sudiraja, seorang guru sekolah dasar. Dalam tulisannya, ia menuangkan gagasan agar orang-orang bumiputera mencoba untuk meniru gaya rumah para pembesar kolonial yang dianggapnya “asri, bersih, dan pantas” (Kusno, 2012; 29). Pada mulanya trend tersebut berkembang di perkotaan, namun siapa sangka jika trend itu kemudian menyebar hingga ke pedesaan. Pada desa-desa di Jawa Timur, masih banyak dijumpai model rumah Indich Woonhuizen meskipun dalam skala ukurannya lebih kecil.
Bagian dapur yang tersambung dengan bangunan induk lewat selasar.
Pintu halaman belakang.
Menapak masuk ke dalam, saya serasa dilontarkan ke masa lampau dengan aura kunonya yang masih otentik. Menurut pengakuan Abah, nyaris tiada pembaruan pada rumah ini. Atap limasan, lantai tegel, jendela lama, semua masih melekat di tempatnya. Tentang strutkur tata ruangnya, rumah ini sudah menanggalkan tata ruang Jawa yang terdiri dari pendhapa, peringgitan, dan dalem, digantikan dengan tata ruang rumah Indis yang terdiri dari beranda depan dan sepasang kamar yang dipisahkan oleh koridor untuk menghasilkan penghawaan silang. Dugaan bahwa rumah ini dibangun oleh golongan priyayi bumiputera diperkuat dari ukuran rumah ini yang cenderung kecil meski memiliki pekarangan yang lebar. Tentu saja rumah ini masih dapat memiliki pekarangan yang lebar karena letaknya berada di desa yang kepadatan penduduknya kecil.
Ruang tamu. Untuk ukuran orang Belanda, rumah ini terbilang kecil.
Lantai tegel motif yang menambah semarak rumah.
Dipercantik dengan bovenlicht besi di atas ambang pintu.
Trend rumah Indische Woonhuizen di luar kalangan Belanda juga menjamur di kalangan borjuis Tionghoa. Seperti orang bumiputera, status sosial orang Tionghoa masih berada di bawah orang Eropa walau setingkat di atas orang bumiputera. Karena itulah mereka yang makmur memiliki hasrat untuk memberi sentuhan wajah baru pada tempat tinggal mereka dalam langgam Indis supaya merasa sejajar dengan orang Eropa. Beberapa upaya pertama dilakukan oleh para hartawan Tionghoa di Semarang seperti Hoo Jam Loo, seorang pedagang candu yang mendirikan rumah bergaya Indisch Woonhuizen di Gergaji pada tahun 1876. Rumah tersebut kelak dijual kepada keluarga Oei Tiong Ham (Liem, 2004; 179). Kaidah seni bangun Tionghoa tradisonal yang sudah diwariskan secara turun temurun sudah mulai ditinggalkan. Karena dibangun tanpa bantuan arsitek yang jelas asalnya, di mata orang Eropa rumah-rumah tersebut meninggalkan kesan norak dan berlebihan (Kusno, 2012; 16).
Rumah Indische Woonhuizen di Kranggan, Semaran.
Letak rumah (kotak biru) pada peta tahun 1911 (Sumber : Plattegrond van een deel der stad Semarang).
Salah satu contoh dari kasus di atas adalah sebuah rumah kuno di kawasan Kranggan, Semarang yang letaknya masih berdekatan dengan Pecinan Semarang. Wajah cantik rumah kuno ini masih sintas meski ia sudah lama ditinggalkan penghuni terakhirnya, Ong Ing Lip. Beliau dahulunya adalah pemilik dari pabrik sandal ternama di Semarang, yakni sandal "Orie". Saya pun akhirnya menjuluki rumah ini sebagai Si Jelita dari Kranggan. Si jelita berlantai dua ini berdiri menyendiri di tengah halaman luas. Deretan bangunan komersil menyembunyikan pesonanya dari khalayak yang mondar-mandir di sepanjang jalan. Walau temboknya mulai pudar, namun pesona rumah ini masih berkilau dengan segala pernak-perniknya. Di beranda muka, akan terlihat tiang-tiang besi berlanggam korintian. 
Tiang kayu dengan kapital Korintian.
Tiga pintu depan. Selain memperlancar sirkulasi, tiga pintu pada rumah Indis Empire juga dimaksudkan untuk memberi kesan angkuh.
Sungguh sejuk rasanya ketika saya memasuki bagian beranda depan bangunan ini. Kesejukan ini tercipta dari dinding yang tebal dan tinggi dan besarnya bukaan yang ada seperti pintu dan jendela. Di bawah naungan langit-langit yang terbuat dari kayu jati, terhampar marmer berwarna putih susu yang menutupi lantai rumah ini. Saya sendiri mencoba mencopot alas kaki saya untuk merasakan lantai marmer ini. Dingin dan halus, itulah yang saya rasakan. Kualitas marmer ini tak perlu ditanyakan lagi. Ia diimpor jauh-jauh dari Italia. Dari dulu hingga sekarang, harga marmer Italia masih sama mahalnya. Hanya orang yang mampu saja yang lantai rumahnya dilapisi oleh marmer ini. Lantai marmer yang saya injak ini seolah menunjukan betapa kayanya orang yang dulu tinggal di sini. Sementara di samping kanan bangunan ini, terdapat sebuah bangunan tambahan berupa paviliun berlantai dua. Untuk naik ke lantai dua dapat dilalui dengan tangga kayu yang kini sudah hilang. Paviliun ini diperuntukan sebagai tempat tamu tuan rumah menginap serta menjadi tempat tinggal keluarga anaknya yang belum memiliki tempat tinggal. Di antara bangunan induk dan bangunan tambahan, terdapat sebuah pintu gerbang yang memisahkan area umum.
Gerbang menuju bagian belakang rumah.
Pada awal abad 20, Hindia-Belanda kedatangan kelompok arsitek dari Belanda yang telah mengenyam pendidikan ilmu arsitektur. Berbekal ilmu yang diperoleh, mereka mencoba untuk menghadirkan arsitektur yang lebih luwes, rasional dan aktual. Mereka mulai menentang wajah bangunan gaya Indis Empire yang dianggap mereka hanya menampilkan tradisi lama Eropa yang baku, kaku, kolot lagi angkuh. Pembaharuan arsitektur tersebut juga terbukti mampu menyesuaikan dirinya dengan alam tropis sehingga secara cepat arsitektur tersebut dapat diterima banyak kalangan (Kusno, 2012; 15-16). Lambat laun, pamor rumah Indische Woonhuizen mulai pudar, terlebih ketika harga tanah semakin melambung akibat kota-kota semakin padat imbas dari kenaikan jumlah penduduk. Saat tanah yang tersedia ukurannya semakin sempit, maka semakin lama rumah juga ikut mengecil. Akhirnya rumah Indische Woonhuizen perlahan tersisih dari saujana kota. Pada saat model rumah Indisch Woonhuizen mulai hilang dari muka bangunan umum, model tersebut mulai digemari oleh orang Tionghoa dan priyayi bumiputera. Semaraknya pemakaian pilar Yunani di kampung kota atau desa menunjukan keinginan penduduk untuk memberi wajah baru bangunan mereka agar bisa dianggap setara dengan orang Eropa.
Paviliun di samping kanan rumah.
Di masa kini, jumlah rumah Indische Woonhuizen yang tersisa di setiap kota hanya berjumlah hitungan jari. Selain karena ketidakpedulian, faktor lain yang mempengaruhi musnahnya rumah-rumah Indische Woonhuizen adalah pajak. Rumah-rumah Indische Woonhuizen itu dibangun di pinggir jalan raya yang ramai dan memiliki lahan yang luas sehingga pajak bumi bangunan yang harus ditanggung oleh pemilik rumah Indisch Woonhuizen juga lebih tinggi dibanding pemilik rumah biasa. Sedikit sekali pemilik bangunan yang memiliki kesadaran tinggi sekaligus mampu secara finansial untuk menjaga rumah Indisch Woonhuizen. Kadang untuk mengurangi beban pajak, tanah di depan rumah dijual dan di atasnya dibangun gedung baru yang menutupi wajah rumah lama. Hal tersebut setidaknya masih agak mendingan karena lebih banyak yang kemudian dirubuhkan total.


Referensi :
Gill. Ronald. 2002. "Perumahan Kota Gaya Belanda" dalam Indonesian Heritage : Arsitektur. Jakarta : Widyadara.

Handinoto. 2008. “Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia-Belanda Abad 19”. Dalam Jurnal Dimensi Arsitektur vol. 36, No.1, Juli 2008. Halaman 43-53.

-----------. 2012. Arsitektur  dan kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Hoogervost, Tom dan Nodhlot, Henk Schulte. 2017. "Urban Middle Class in Colonial Java (1900 - 1942) Images and Language. Dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, Vol. 173. No. 4 Special Issue : New Urban Middle Class in Colonial Java. Halaman 442-474.

Kusno, Abidin. 2012. Zaman Baru Generasi Modernis ; Sebuah Catatan Arsitektur. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Liem Thian Joe. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta : Hasta Wahana.

Lombard, Denys. 2018. Nusa Jawa Silang Budaya Bagian 1 : Batas-Batas Pembaratan. Jakarta : Penerbit Gramedia.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis ; Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Van der Kemp. P.H. 1915. "Over Kunst in Indischen Woningbouw" dalam Nederlandsch Indiche Huis Oud en Nieuw. Batavia : Architecten Bureau Ed. Cuypers en Hulswit.

Het Nieuws van den dag voor Ned.-Indie. 31 Desember 1938. "Oude Vorstenlandsche Familie in het Jogjasche : De Namen Weijsnchenk en Dezetnje komen in de Vorstenlanden Veel Voor".

Senin, 01 Juli 2019

OSVIA Madiun ; Menyingkap Sejarah Sekolah Calon Birokrat Masa Kolonial

Terjaminnya pendapatan tiap bulan dan jabatan yang disegani oleh banyak orang menjadikan PNS sebagai salah satu pekerjaan idaman di Indonesia. Sepanjang ketersediaan kas negara masih baik, sepanjang itu pula pendapatan terjamin. Tidak mengherankan bila tiap lowongan pegawai negeri dibuka, jutaan orang akan mendaftar dan bersaing demi meraih titel sebagai birokrat negara. Anggapan bahwa pegawai negeri adalah pekerjaan bergengsi sejatinya telah terpupuk sejak Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Bagaimanakah hal tersebut bermula ? Jejak Kolonial edisi kali ini membahas sejarah gedung Bosbow Madiun atau dahulu adalah OSVIA Madiun, satu dari sekian banyak jejak pendidikan calon pegawai negeri dari masa kolonial.
Kompleks sekolah OSVIA Madiun sesaat setelah dibangun (Sumber : media-kitlv.nl).
Pada suatu hari Minggu yang cerah di bulan September, saya bertandang ke kota Madiun untuk melihat potensi-potensi bangunan bersejarah yang terdapat di sana. Selama di kota yang mahsyur akan pecelnya ini, saya didampingi oleh sejawat dari komunitas Historia van Madioen (HVM), Andrik. Tujuan pertama adalah kompeks Bosbow yang berada di jalan Diponegoro. “Masyarakat Madiun lebih mengenal kompleks ini sebagai Bosbow. Pasalnya kompleks ini sempat dipakai untuk sekolah kehutanan, Middlebare Boschbouwschool te Madioen”, jelas Andrik setibanya di sana. “Pada faktanya, tujuan dibangun kompleks ini oleh pemerintah kolonial ialah untuk sekolah calon pamong praja di masa kolonial, OSVIA”, sambung Andri. OSVIA adalah kependekan dari Opleiding School voor Inlandsch Ambtenaren, kawah candradimukanya pegawai negeri Hindia-Belanda. Maka dari itu, menyingkap sejarah OSVIA Madiun itu artinya juga menyingkap perjalanan sejarah pendidikan calon pamong praja di era kolonial.


Gedung OSVIA Madiun saat ini.
Bangkrutnya VOC akibat birokrasi berbelit yang dibuat oleh mereka sendiri tampaknya menyadarkan pemerintah kolonial untuk melakukan reformasi birokrasi. Dari era Gubernur Jenderal Daendels, birokrasi lama kompeni perlahan dikikis dan digantikan oleh birokrasi baru yang lebih tertata. Guna memudahkan komunikasi birokrasi kolonial dengan masyarakat bumiputera, maka pegawai Eropa yang berada di dalam pamong pemerintahan dituntut untuk bisa menguasai bahasa Melayu (Brugmans, 1938: 75-77). Kebutuhan pegawai Eropa yang mahir berbahasa Melayu ternyata sulit dipenuhi, terutama setelah perekonomian Hindia-Belanda mulai dibuka kepada perusahaan swasta pada tahun 1870 sehingga terjadi lonjakan kebutuhan tenaga profesional yang terlatih. Untuk menjawab permintaan tersebut, pemerintah kolonial akhirnya menyelenggarakan Hoofdenschoolen, yakni sekolah persiapan untuk orang-orang pribumi yang kelak ditempatkan pada jabatan-jabatan resmi (Meer, 2020: 44). Pemerintah kolonial membuka Hoofdenschoolen pertamanya di Bandung pada tahun 1879. Setahun berikutnya, sekolah sejenis dibuka di Magelang dan Probolinggo (Brugmans, 1938; 183). Dalam Staatsblad No.121 Tahun 1878, secara tegas disebutkan bahwa Hoofdenschoolen adalah sekolah “untuk putra-putra bupati dan orang pribumi terkemuka lainnya”. Dengan kata lain menjadi suatu hal mustahil untuk anak dari kaum jelata, golongan Tionghoa, atau anak perempuan dapat diterima bersekolah di Hoofdenschoolen. 
Direktur OSVIA Madiun, J.C. Hietnik bersama pengajar dan siswa-sisa OSVIA sedang berfoto bersama dengan latar gedung OSVIA. Foto diambil pada tahun 1916 (Sumber : media-kitlv.nl).a
Diterapkannya kebijakan politik etis pada awal abad 20 merubah arah tujuan pendidikan kolonial yang semula untuk mencetak tenaga terampil yang murah, menjadi bentuk “balas budi” kepada tanah jajahan. Menanggapi kebutuhan tersebut pemerintah kolonial akhirnya mengubah Hoofdenschool yang ada menjadi Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) pada 29 Agustus 1900. Karakter dan budaya penduduk Pulau Jawa yang berlainan satu sama lain dari ujung barat hingga timur menjadi pertimbangan pemerintah kolonial membuka OSVIA di tempat berbeda. Kondisi sosial dan budaya masyarakat menjadi pertimbangan mengingat selama menimba ilmu di OSVIA, para siswa selain belajar di kelas juga diharuskan untuk menjalin hubungan sosial dengan masyarakat sekitar sekolah. Hal tersebut dimaksudkan sebagai sarana melatih kemampuan dalam mengenal karakter dan menyesuaikan diri dengan masyarakat di sekitarnya. Kemampuan tersebut adalah bekal penting bagi calon pegawai negeri itu yang kelak menjadi penghubung masyarakat pribumi dengan pemerintah kolonial (PPBB, 1937; 34-35).
Siswa-siswa OSVIA yang sedang mengikuti pelajaran olahraga. Foto tahun 1917 (Sumber : media-kitlv.nl).
Bekas gym.
OSVIA sebagaimana sekolah kedinasan pada zaman penjajahan memiliki syarat masuk yang ketat. Calon pelajar OSVIA disyaratkan harus menguasai bahasa Melayu dan bahasa Belanda dengan baik serta telah menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School atau Hollandsch Inlandsch School (Brugmans, 1938; 293). Ini artinya, hanya anak-anak kalangan ningrat saja yang dapat bersekolah di OSVIA mengingat kebanyakan lulusan ELS dan HIS berasal dari kalangan ningrat yang cenderung lebih mudah diajak bekerja sama oleh pemerintah kolonial. Maka dari situ, OSVIA mendapat sebutan sekolah raja sebab hanya anak raja atau bangsawan yang diterima di sekolah tersebut. Sebelum bersekolah di OSVIA, calon siswa mengikuti pendidikan persiapan (Voorberediende Afdeeling) terlebih dahulu. Pendidikan tersebut meliputi bahasa (Belanda dan Melayu), geografi Hindia Belanda, prinsip-prinsip pengetahuan alam, aritmatika, morfologi dan geometri, menggambar tangan dan menulis halus. Hanya anak di bawah usia lima belas tahun dan sudah menyelesaikan pendidikan di HIS atau ELS yang berhak mengikuti pendidikan persiapan OSVIA. Anak yang tidak sempat mengikuti pendidikan persiapan juga diperbolehkan bersekolah di OSVIA asalkan berusia di bawah 17 tahun. Biaya sekolah dipungut menurut siapa yang lahir terlebih dahulu. Untuk anak pertama dipungut biaya 10 gulden per bulan, anak kedua 6 gulden, dan 4 gulden untuk setiap anak berikutnya dari keluarga yang sama. Beberapa siswa juga dapat mengikuti pendidikan di OSVIA secara gratis dengan pertimbangan tertentu (Kats, 1915; 72).
Para pengajar OSVIA Madiun (Sumber : media-kitlv.nl).
Lama waktu belajar di OSVIA adalah lima tahun. Tiga tahun pertama siswa OSVIA dikhususkan untuk mempelajari bahasa, aritmatika, geometri, prinsip aljabar, geografi, sejarah, pengetahuan alam dan menggambar tangan. Kemudian pada dua tahun menjelang kelulusan digunakan untuk mempelajari prinsip ilmu hukum, hukum tata negara, administrasi, ekonomi, politik, pemetaan dan pertanian. Semua pengajaran diberikan oleh guru Eropa dalam bahasa Belanda mengingat bagaimanapun juga bahasa Belanda tetaplah menjadi bahasa resmi dalam birokrasi kolonial. Sementara pada mata pelajaran bahasa Melayu  pengajarannya diberikan oleh pengajar pribumi (Colijn, 1913: 272). Pengajaran diberikan dari pagi hari dan berlangsung selama 5 jam sehari. Di sela-sela pergantian pelajara ada jeda istirahat selama 30 menit. Sekolah libur pada hari Minggu serta di hari-hari besar agama Islam, Kristen, dan sipil. Setiap tahun, ada musim liburan siswa OSVIA selama enam minggu yang dimulai dari awal bulan Ramadhan (Kats, 1915; 78).
Denah OSVIA pada peta Madiun tahun 1920an (sumber : maps.libary.leiden.edu).
Sejalan dengan diperkenalkannya kebijakan desentralisasi dan bertambah luasnya wilayah yang diatur pemerintah kolonial, maka lapangan pekerjaan birokrasi semakin mekar. Lantaran hal itulah pemerintah kolonial menambah jumlah murid OSVIA menjadi 140 murid per sekolah pada tahun 1910. Kebijakan tersebut selanjutnya disusul dengan pembukaan tiga sekolah OSVIA baru, yakni di Serang, Blitar, dan yang menjadi pokok bahasan tulisan ini Madiun. Ketiga gedung OSVIA tersebut dibangun oleh departemen Burgerlijke Openbare Werken atau Departemen Pekerjaan Umum yang bertanggung jawab dalam pembangunan gedung-gedung untuk instansi pemerintahan kolonial (BOW, 1912; 176). Oleh karena itu tidak mengherankan jika bentuk ketiga gedung tersebut tidak berbeda jauh. Angka tahun 1912 yang terlihat samar di wajah depan bangunan secara jujur mengungkapkan kapan bangunan itu OSVIA Madiun diselesaikan. Kompleks OSVIA Madiun sendiri meliputi kantor administrasi, dua ruang kelas yang masing-masing kelas dapat menampung 25 siswa serta sarana penunjang seperti dapur dan gymnasium. Kesemua bangunan tadi disambung dengan selasar terbuka. OSVIA Madiun juga dilengkapi asrama untuk 50 siswa. Pembangunan keseluruhan kompleks tersebut menelan biaya sebesar 416.232 gulden dimana biaya paling besar dikeluarkan untuk pembebasan lahan. Menurut Bataviaasch Nieuwsblad 8 Agustus 1910, kemewahan dari gedung OSVIA Madiun dapat disejajarkan dengan hotel termewah di Madiun saat itu. Beberapa orang Belanda bahkan menganggap upaya pemerintah kolonial itu berlebihan mengingat masih banyak gedung sekolah untuk anak Eropa yang dalam keadaan tidak layak dan butuh perbaikan. Setelah dilakukan reogranisasi, OSVIA Madiun bersama dengan OSVIA di tempat lain berubah menjadi MOSVIA (Middelbaar Opleiden Schoolen voor Indische Ambtenaren) pada 1927. MOSVIA menerima lulusan bumiputera dari sekolah lanjutan khusus Bumiputera, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) – setingkat sekolah menengah pertama – untuk menghimpun lebih banyak calon birokrat bumiputera.
Rumah dinas guru dan pegawai OSVIA Madiun (Sumber : media-kitlv.nl).
Bekas rumah dinas direktur OSVIA Madiun.

Bekas rumah dinas pengajar OSVIA.
Setiap sekolah OSVIA memiliki oleh lima atau enam tenaga pengajar, termasuk kepala sekolah. Kepala sekolah OSVIA harus seorang doktor di bidang hukum. Gajinya perbulan sebesar 550 gulden dan mendapat kenaikan gaji sebanyak tiga kali dalam jangka waktu tiga tahun. Kemudian ada guru pertama yang digaji 350 gulden perbulan. Sementara untuk tenaga pengajar lainnya menerima gaji sebesar 225 gulden dengan kenaikan gaji sebanyak empat kali dalam jangka waktu tiga tahun. OSVIA juga mempekerjakan pengajar dari kalangan pribumi dan menerima gaji yang kurang lebih setara dengan pengajar Eropa. Kesemua pengajar OSVIA tadi menerima fasilitas berupa rumah dinas yang saat ini masih berdiri di sekitar gedung OSVIA Madiun (Kats, 1915; 74).
Bagian ruang kelas yang kini digunakan sebagai masjid.
Tampak luar bekas ruang kelas.
Tampilan gedung OSVIA Madiun terhitung mentereng untuk sebuah gedung sekolah pada masa kolonial. Perpaduan atap limasan dan menara kayu di bagian tengah membuat rupa gedung ini hampir mirip dengan gedung Stadhuis Batavia atau kini menjadi Museum Fatahillah. Sementara itu, bagian atap pelana diberi aksen kayu. Pada bagian ini dahulunya ada tulisan “Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren”. Sayangnya tulisan tersebut sudah tidak terlihat lagi. Bagian ini dahulu digunakan untuk menyambut tamu, salah satunya adalah Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Andries Cornelis Dirk de Graeff yang mengunjungi OSVIA Madiun pada tahun 1929. Ketika tiba di OSVIA Madiun, ia disambut dengan iringan musik gamelan. Dari situ ia melanjutkan tur keliling kompleks sekolah. Perhatian yang begitu besar terhadap penyediaan prasarana pendidikan untuk orang pribumi sejatinya adalah bentuk investasi yang sedang ditanam pemerintah karena setelah siswa-siswa OSVIA lulus, pemerintah kolonial dapat memanen pegawai pemerintahan yang dapat dibayar dengan upah murah, lebih murah dibanding mendatangkan dan menggaji pegawai dari Eropa. Namun siapa sangka upaya tersebut menjadi senjata makan tuan.
Tampak luar bekas dapur.
Bagian dalam gedung OSVIA.
Tampak belakang gedung utama.

Selasar yang menghubungkan antar gedung.
Selepas menempuh masa pendidikan, lulusan MOSVIA diangkat sebagai birokrat pemerintah dan ditempatkan ke berbagai posisi kedinasan. Di samping mendapat penghasilan tetap, menyandang status sebagai birokrat yang masuk dalam lingkaran birokrasi kolonial membuat derajat sosial mereka terangkat dan disegani oleh banyak orang. Mereka inilah yang dikenal sebagai golongan priyai baru. Hal yang membedakan antara priyayi lama dengan priyai baru adalah priyayi lama dihormati karena garis silsilahnya, sementara priyayi baru mendapat penghormatan setelah berhasil menempuh jalur pendidikan. Kehadiran MOSVIA akhirnya mengundang minat orang-orang tua dari kalangan priyayi rendahan untuk menyekolahkan putra mereka di sana. Bagi priyayi tersebut, pendidikan adalah jalan keluar mereka lepas dari penghambaan kepada priyayi yang lebih tinggi. Akhirnya banyak orang bumiputra yang berlomba untuk membina karir sebagai birkorat kolonial. Kendati banyak yang berharap kedudukan sosialnya dapat sejajar dengan orang Eropa setelah menjadi pegawai negeri, namun kenyataanya tidak jaminan mereka dapat menerobos sekat rasial yang sudah berlaku sejak lama. Beberapa pegawai bumiputra tersebut masih menerima sejumlah perlakuan kurang menyenangkan dari atasan kulit putih mereka. Bagi sebagian kalangan kulit putih konservatif dan tidak ingin kehilangan kekuatannya, mereka yang terjajah selamanya tidak akan pernah mencapai kedudukan yang sejajar sekalipun sudah menerima pendidikan model barat (Meer, 2020: 10).
Berita insiden "Wilhelmus" pada koran De Soematra Post tanggal 17 Maret 1930. Insiden tersebut menjadi pertimbangan pemerintah kolonial untuk menutup OSVIA Madiun.
Tidak semua lulusan OSVIA betul-betul setia mengabdi kepada pemerintah kolonial. Beberapa di antaranya ada yang dalam sudut pandang pemerintah kolonial adalah pembangkang karena mereka adalah yang paling lantang menentang sistem pemerintah kolonial. Bibit-bibit pembangkangan tersebut bahkan sudah muncul sedari proses pendidikan. Dalam surat kabar Het Nieuws van Den Dag voor Nederlandsch-Indie terbitan 3 Juli 1930 diberitkan pernah terjadi suatu insiden ketika siswa-siswa MOSVIA Madiun menolak untuk memainkan lagu “Wilhelmus”, lagu kebangsaan Belanda yang biasanya dimainkan pada upacara resmi. Kejadian bermula ketika serikat siswa MOSVIA Madiun, “Mardi Oetomo”, hendak menggelar perayaan ulang tahun pada pertengahan bulan Maret. Perayaan tersebut sedianya akan dihadiri oleh pejabat-pejabat penting di Madiun seperti residen dan karenanya lagu “Wilhelmus” wajib untuk dikumandangkan. Jiwa-jiwa nasionalis tampaknya sudah merasuki pada setiap insan siswa MOSVIA Madiun sehingga mereka menolak untuk memainkan lagu kebangsaan bangsa yang menjajah mereka. Mendengar kabar tersebut, para pejabat kolonial mengancam untuk tidak hadir di perayaan ulang tahun “Mardi Oetomo”. Walau sudah diberi pemahaman dari pihak kepala asrama bahwa memainkan lagu tersebut hanyalah bentuk penghormatan kepada otoritas, namun siswa-siswa MOSVIA Madiun bersikeras untuk tidak membawakan lagu “Wilhelmus”. Perayaan pada akhirnya tetap berlangsung meriah seperti biasa meski lagu “Wilhelmus” tidak berkumandang pada saat penyambutan residen. Residen Madiun yang tetap berkenan untuk menghadiri perayaan mendapat permintaan maaf dari direktur MOSVIA. Kabar kegaduhan tersebut rupanya tersiar sampai di telinga petinggi di Batavia dan membuat mereka gusar. Dari pandangan mereka, menolak memainkan lagu “Wilhelmus” sama saja dengan melawan otoritas kolonial, apalagi itu terjadi di sekolah untuk calon abdi otoritas kolonial (Soerabaiasch Handelsblad 11 Desember 1930).
Berita peleburan OSVIA Madiun dengan OSVIA Magelang pada koran Soerabaiasch Handelsblad 11 Desember 1930.
Berita pembukaan Boschbouwschool pada koran De Indische Courant 30 Mei 1939.
Gegara perkara lagu kebangsaan, pemerintah kolonial mulai menyadari jika sekolah bentukan mereka yang sedianya menjadi tempat memperoleh pegawai negeri ternyata sudah mulai menjadi tempat bersamainya bibit-bibit kaum pergerakan nasional. Baru tiga tahun dibentuk, perjalanan sekolah bergengsi di Madiun itu akhirnya harus berakhir pada tahun 1930. Di samping unsur politik, penghapusan tersebut juga dipicu oleh krisis keuangan global atau Great Depression yang merundung keuangan pemerintah kolonial. Sesudah MOSVIA Madiun dihapuskan, kegiatan belajar mengajar MOSVIA Madiun dipindahkan dan digabungkan ke MOSVIA Magelang, satu-satunya MOSVIA yang masih dibiarkan beroperasi. Bekas gedung sekolahnya lalu ditempati oleh sekolah kehutanan, Middlebare Boschbouwschool te Madioen (MBS), yang dibuka oleh J.H. Becking pada 26 Agustus 1939. Sebagaimana MOSVIA, Boschbouwschool juga sekolah kedinasan, bedanya Boschbouwschool merupakan sekolah yang dikhususkan untuk ilmu kehutanan dan pengelolaan kayu. Madiun adalah pilihan yang tepat untuk lokasi sekolah kehutanan ini mengingat wilayah Madiun dikelilingi oleh hutan dan merupakan pusat pengolahan kayu. Siswa-siswa Boschbouwschool tidak hanya berasal dari Madiun saja, melainkan juga ada yang dari Bogor, Malang, dan Sukabumi. Mereka akan belajar dan tinggal di asrama selama 3 tahun (De Indische Courant, 29 Agustus 1939).
Halaman tengah OSVIA. Halaman ini dahulu digunakan untuk lapangan olahraga dan latihan tari.

Bagian OSVIA yang dulu digunakan sebagai asrama.
Setelah lama tidak diperhatikan, gedung OSVIA MAdiun akhirnya dipugar dan dimanfaatkan sebagai galeri dan restoran pada tahun 2019. Hari ini gedung OSVIA Madiun masih berdiri kokoh sebagai bukti kepada generasi mendatang tentang bagaimana perjuangan anak negeri untuk meraih cita-citanya sebagai pegawai negeri. Entah apakah mereka nantinya akan menunjukan kesetianya kepada pemerintah kolonial atau justru malah sebaliknya, turut ambil bagian dalam pergerakan nasional melawan kolonialisme. Namun yang jelas, cita-cita mereka ketika masuk OSVIA adalah satu, yakni menjadi pegawai negeri yang terpandang di mata masyarakat. Belanda boleh saja hengkang, namun anggapan bahwa pegawai negeri adalah pekerjaan bergengsi tampaknya sulit untuk lekang bila melihat kenyataan saat ini.

Referensi

Brugmans, I.J. 1938. Geschiedenis van het Onderwijs in Nederlandsch-Indie. Batavia : J.B. Wolter Uitgeving Maatschappij.

Burgerlijke Openbare Werken. 1915. Verslag Over de Burgerlijke Openbare Werken 1912. Batavia : Landsdrukkerij.

Colijn, H. 1913. Neerlands Indie Land en Volk Geschiedenis en Bestuur Bedrijf en Samenleving. Amsterdam : Elsevier.

Perhimpunan Pegawai Bestuur Boemipoetra. 1937. De Bezuiniginen op Het Indonesischbestuur. Batavia : Drukkerij Lux.

Kats,J. 1915. Overzicht van Het Onderwijs in Nederlandsch-Indie. Batavia : Landsdrukkerij.

Bataviaasch Nieuwsblad 8 Agustus 1910

De Indische Courant, 30  Mei 1938.

Het Nieuws van Den Dag voor Nederlandsch-Indie, 3 Juli 1930.

Soerabaijasch handelsblad, 11 Desember 1930.