Tampilkan postingan dengan label Purworejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purworejo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2023

Gema Sejarah Gereja Santa Perawan Maria Purworejo

Jalan Prof. Dr. N. Driyarkara, Purworejo merupakan sepenggal ruas jalan di Purworejo yang namanya diambil dari seorang putra daerah Purworejo yang menjadi filsuf Katolik terkemuka di Indonesia. Jalan Prof. Dr. N. Driyarkara sendiri sarat dengan bangunan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan Katolik mulai dari gereja, susteran, bruderan, dan sekolah Katolik. Di antara bangunan-bangunan tersebut, Gereja Santa Perawan Maria menyimpan sejarah yang menarik dan arsitektur yang mewakili kondisi pada zaman ketika bangunan tersebut dibangun. Lewat tulisan ini, Jejak Kolonial akan menuntun anda untuk mengenal lebih jauh tentang riwayat dan arsitektur gereja ini.

Foto yang diambil oleh Pastor Thien pada artikel...Keterangan foto "Pastoran di Purworejo, tampak begitu indah dan 'cukup lapang' dari luar, tetapi di dalamnya...." 
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928)

Tiga pastor pertama MSC di Jawa Tengah setibanya di Purworejo. Dari kiri ke kanan ; Pastor P. J. Thien, Pastor B.J. Visser, dan Pastor M. de Lange
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928).

Sekitar bulan September 1927, sebuah kapal bernama “Indrapoera” berlayar meninggalkan daratan Eropa dari pelabuhan Marseille dalam suasana tenang. Kapal tersebut dengan membawa banyak penumpang bergerak dengan tenang ke arah timur. Tiga penumpang kapal tersebut adalah pastor, yakni Pastor Bernardus Johannes Visser M.S.C selaku pengawas, Bernardus P. J Thien M.S.C dan Marteen de Lange M.S.C. Ketiganya merupakan anggota tarekat “Missionarii bacratissimi Cordis Jesu" atau disingkat MSC yang dalam sumber-sumber Belanda disebut Missionarisen H. Hart dan jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Misionaris Hati Kudus. (Visser, 1928; 39-40). Tarekat MSC didirikan oleh pastor dari Perancis bernama Jean Jules Chevalier pada 8 Desember 1854 bersamaan dengan tanggal diakuinya dogma Maria Dikandung Tanpa Noda oleh Paus Pius IX. Pada tahun 1881, Tahta Suci memberikan restu kepada MSC untuk mengutus anggotanya untuk menyiarkan agama Katolik ke berbagai penjuru dunia. Sejak saat itu, MSC memberangkatkan banyak misionaris termasuk misionaris dari Belanda yang berkedudukan di Tillburg. Mereka diutus ke Hindia-Belanda dan menjadikan Papua barat sebagai daerah tujuan pertamanya (Van Woesik. 1938 : 27-29).

Sekolah Hollandsch Inlandsche School yang dibuka oleh Serikat Jesuit pada 1 September 1922. Sebelum dibangun gedung baru, kegiatan belajar mengajar diadakan di beranda depan pastoran. (Sumber foto : Sint Claverbond 1923)

Gedung baru Hollandsche Inlandsche School yang berada di belakang pastoran. Gedung sekolah tersebut masih ada dan sekarang menjadi bagian dari kompleks SMP Bruderan
(Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Menoleh beberapa tahun ke belakang sebelum kedatangan ketiga pastor tersebut, Purworejo bersama beberapa daerah lain di Pulau Jawa menjadi ladang misi dari tarekat Serikat Jesuit yang memulai kembali kegiatannya pada 1859 setelah sekian lama tiarap karena kerajaan Belanda yang Protestan sempat tidak mengizinkan adanya penyebaran agama Katolik di Hindia-Belanda. Untuk kegiatan di Purworejo, Serikat Jesuit membeli sebuah rumah besar berhalaman luas dari kantor Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) pada tahun 1888 dan mereka mengadakan misa di aula kecil belakang rumah tersebut. Kehadiran Serikat Jesuit di Purworejo tidak banyak menarik banyak pengikut karena mereka bersaing dengan Kyai Sadrach yang karismatik atau dengan para zending Kristen utusan Gereformeerde Kerken. Meskipun demikian, ada sejumlah keluarga keturunan serdadu Afrika yang menjadi pengikut Gereja Katolik yang taat. Serikat Jesuit kemudian membuka sekolah dasar Hollandsche-Inlandsche School pada tahun 1922. Sebelum resmi dibuka pada 1 September 1922, Serikat Jesuit telah mengirim surat edaran kepada para kepala desa bahwa di Purworejo telah dibuka HIS “Canisius Vereeniging”. Banyak orang tua yang antusias mendaftarkan anaknya ke sana karena HIS masih jarang di Purworejo sehingga pendaftar sekolah tersebut hampir mencapai seribu anak sementara sekolah hanya menerima 160 anak. Akhirnya diadakan seleksi masuk secara mendadak karena sambutan dari masyarakat di luar bayangan misi. Mengingat sekolah tersebut adalah sekolah berbasis agama, maka sebelum mendaftar orang tua murid diberitahu bahwa murid yang bersekolah di sana akan diajarkan agama Katolik. Jika orang tua sepakat, baru sekolah dapat menerima murid tersebut (Van Baal, 1923 : 33-37)

Peta misi MSC di Jawa Tengah dari. Keterangan : "Area Misi Kami di Jawa Tengah. Garis silang adalah batasnya. Garis normal dengan garis putus-putus di sebelahnya merupakan batas ketiga Karesidenan. Garis putus-putus yang lebih tebal adalah jalur trem uap, garis balok adalah jalur kereta. Ada gereja di Tegal dan Tjilatjap, dan Sekolah Katolik di Purworejo. Di Pekalongan, Misa Kudus dirayakan di gudang pemerintah."

Mgr. Van Velsen, Vicaris Apostolik Batavia, dalam kunjungannya di Purworejo.
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928)

Setelah menempuh perjalanan panjang di atas lautan, ketiga pastor tadi ketika menginjakkan kaki di Batavia pada 22 Oktober 1927. Tiga hari kemudian mereka berangkat ke Purworejo menggunakan kereta api. Kedatangan mereka ke Purworejo tidak lepas dari beralihnya kegiatan misi di sebagian wilayah Jawa Tengah dari Serikat Jesuit ke MSC. Latar belakang peralihan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan umat Katolik di Jawa Tengah berkat pendekatan Serikat Jesuit yang cukup baik sehingga mampu untuk menarik banyak penganut baru, terutama di sekitar Semarang, Magelang, dan Yogyakarta. Tenaga manusia Serikat Jesuit di Jawa rupanya cukup terbatas sehingga mereka kesulitan untuk menjangkau umat yang berada di luar wilayah-wilayah tersebut. Untuk mengurangi beban Serikat Jesuit, maka tugas untuk membina dan menuntun umat di wilayah yang melingkupi Karesidenan Banyumas, Pekalongan, dan sebagian Karesidenan Kedu selanjutnya akan dipercayakan kepada MSC. Tidak banyak aset yang ditinggalkan oleh Serikat Jesuit di tempat-tempat tersebut sehingga dari berbagai tempat tersebut, Purworejo dipilih sebagai pijakan pertama karena di sana sudah ada gereja dan tempat tinggal tetap untuk pastor. Pada 25 Oktober 1927, tiga gembala utusan MSC tiba di Purworejo untuk memulai tugas mulianya (Visser, 1928: 39-40). Menurut buku "De missionarissen van het H. Hart Tilburg en hun missiewerk in Nederlandsch Oost-IndiĆ«", disebutkan bahwa Purworejo adalah stasi pertama MSC di Jawa Tengah. 

Foto tampak samping gereja di Purworejo yang diambil oleh Schutz. 
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1933)
Bagian dalam gereja di Purworejo. Di tempat inilah misa diadakan sebelum dibangunnya Gereja Santa Perawan Maria Purworejo
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1933).

“Gereja sudah sangat kusam”, terang Pastor Visser dalam Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart 1 Februari 1928 ”dan foto yang kami sertakan ini tidak dapat menyembunyikan adanya lubang menganga di langit-langit, tempat burung terbang ke sarang mereka dan air merembes dengan deras saat hujan”. Tulisan Pastor Visser tersebut menggambar kondisi tempat ibadah umat di stasi Purworejo yang menempati bagian belakang pastoran. Kendati stasi pertama MSC ada di Purworejo, namun MSC memilih Purwokerto sebagai pusat administrasinya di Jawa Tengah. Tanggal 25 April 1932 menjadi tanggal bersejarah bagi MSC karena wilayah asuhan mereka yang semula berada di bawah naungan Vikariat Apostolik Batavia, kini dipisahkan menjadi Prefektur Apostolik Purwokerto. Vatikan kemudian mengangkat Pastor Visser sebagai Prefek Apostolik Purwokerto pada 2 Agustus 1932 ; sumber lainnya menyebut 18 Mei 1932 (Anonim. 1933 : 17).

Upacara peletakan batu pertama Gereja Santa Perawan Maria Purworejo.
(Sumber : 
Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Desember 1933)

Nama biro arsitek yang masih terbaca di dinding tenggara gereja.

Niatan untuk mendirikan bangunan baru gereja mengemuka pada tahun 1932 seiring dengan pesatnya pertumbuhan jemaat di Purworejo sehingga ruang gereja yang kecil mulai tidak sanggup menampung jemaat saat misa. Lokasi bangunan baru gereja dipilih di halaman depan bangunan pastoran yang lama karena halamannya masih cukup luas. Pada 5 Maret 1933, biro arsitek Fermont en Cuypers dari Batavia dilimpahkan tanggung jawab untuk merancang gedung gereja. Nama biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuypers sudah sangat tenar dalam jagat arsitektur Hindia-Belanda dan telah lama berkiprah dalam menyusun rancangan gedung gereja Katolik. Selain di Purworejo, hasil karya biro tersebut di wilayah Prefektur Apostolik Purwokerto antara lain gereja di Purwokerto dan Pekalongan; kedua gereja tersebut saat ini sudah berubah bentuk aslinya. Penunjukan biro arsitek sekelas Hulswit, Fermoent en Cuypers boleh dibilang adalah suatu yang langka di Purworejo mengingat kebanyakan bangunan yang ada di Purworejo dirancang oleh arsitek amatiran dari zeni militer, pemborong Tionghoa, atau dari instansi pemerintah Burgerlijke Openbare Werken.

Sketsa Gereja Santa Perawan Maria Purworejo yang dibuat oleh Fermont-Cupyers
(sumber : 
Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Juli 1933)

Foto Gereja Santa Perawan Maria beberapa waktu setelah diresmikan
(sumber : De Koerier 27 Agustus 1933)

Untuk menandai awal pembangunan gereja, maka diadakan upacara peletakkan batu pertama gereja oleh Pastor Lange pada tanggal 12 Maret 1933. Pada saat gereja dibangun, dunia sedang didera krisis ekonomi Great Depression. Masyarakat lokal mengenalnya sebagai malaise. Krisis tersebut dampaknya cukup terasa sampai Purworejo dan salah satu dampaknya adalah ditutupnya Pabrik Gula Purworejo di Jenar pada tahun yang sama dengan pembangunan Gereja Santa Perawan Maria. Masa itu memang menjadi masa yang sulit untuk semua orang. Ada yang usahanya bangkrut atau kehilangan pekerjaannya hingga akhirnya mereka jatuh miskin. Meskipun perekonomian sedang suram, namun hal tersebut tidak menyurutkan niat dan semangat umat Katolik dari golongan masyarakat Eropa dan Pribumi untuk mendirikan Rumah Tuhan di Purworejo meski dalam bentuk yang relatif sederhana. Berselang lima bulan dari upacara peletakan batu pertama, bangunan gereja yang didambakan dapat dituntaskan dalam waktu yang terhitung singkat. Pentahbisan gereja dilakukan Prefek Apostolik Purwokerto, Mgr. B. J. J. Visser MSC pada 13 Agustus 1933 dalam upacara yang sederhana namun khidmat (De Koerier 24 Agustus 1933). Ketika memandang gereja tersebut untuk pertama kali, orang akan mendapati paras gereja yang dipoles begitu sederhana dan sedikit hiasan. Hal tersebut menjadi pesan bahwa tidak pantas bagi Gereja untuk bermewah-mewahan di saat banyak orang sedang dilanda kesusahan. Meskipun arsitektur gereja terkesan polos, kewibawaan dan pesona sebagai sebuah bangunan sakral masih terpancar jelas. 

Tampak depan Gereja Santa Perawan Maria.

"Matris Filio dicata". Sepenggal kalimat bahasa Latin yang berarti “Didedikasikan untuk Putra Sang Bunda” tergurat di atas pintu masuk, menyambut setiap pengunjung yang datang. Pintu utama Gereja Santa Perawan Maria Purworejo menghadap ke arah timur, arah yang sama sebagaimana gereja-gereja kuno di Roma dahulu dibangun. Bagian depan gereja dahulu memiliki dua tiang bendera, tiang yang satu untuk mengibarkan bendera Belanda dan tiang yang kedua untuk mengibarkan bendera Tahta Suci Vatikan. Tengara yang menonjol di gereja ini adalah menara kecil yang menyembul dari atap limas gereja dan di dalamnya terdapat lonceng terukir sepenggal kalimat Latin "Non recuso laborem in Dei summi honorem". Alkisah, setelah gereja memesan lonceng dari pabrik Petit en Fritsen dari Aarle-Rixtel, rupanya uang untuk membayar lonceng tersebut masih kurang sehingga Pastor Visser lantas membuat tulisan di buletin Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Juli 1933 dan berharap agar pembaca yang terketuk hatinya dapat memberikan sumbangan seihklasnya untuk membantu pembelian lonceng. Lonceng itu akhirnya berhasil didatangkan dan kumandang dentangnya dapat terdengar oleh seluruh umat di hari pentahbisan gereja.

Bagian nave Gereja Santa Perawan Maria Purworejo.

Bagian yang dahulu digunakan sebagai tempat paduan suara.

Melangkah masuk ke dalam gereja, pengunjung dapat menjumpai dua kota sumbangan yang sudah ada sejak gereja dibangun. Uang yang masuk ke dalam kotak “Voor de Kerk” digunakan untuk pengelolaan gereja sedangkan uang yang masuk ke dalam kotak “Voor de Armen” digunakan untuk menolong orang-orang miskin. Bagian dalam gereja terkesan polos dan nyaris tidak menampakan hiasan berlebih yang mencolok. “Saat memasuki gereja ini, seseorang dapat membayangkan dirinya berada di dalam Basilika Roma” terang harian De Koerier tanggal 24 Agustus 1933 yang memuat deskripsi gereja sesaat setelah dibuka. Tata ruang Gereja Santa Perawan Maria Purworejo mengacu pada bangunan basilika masa Romawi yang dianggap sesuai untuk persekutuan umat Kristiani yang membutuhkan ruang luas. Denahnya berbentuk persegi panjang dibagi menjadi tiga bagian memanjang. Ruang utama di tengah adalah tempat berkumpulnya umat yang disebut nave. Kemudian nave diapit oleh lorong memanjang yang di sebut aisle. Ujung dari nave adalah tempat posisi altar memimpin ibadah. Pada awal dibuka, gereja direncanakan memiliki daya tampung mencapai 700 orang. Seiring dengan bertambahnya jemaat, maka diadakan penambah bangunan baru di sisi selatan pada akhir tahun 2022. Perubahan lainnya menyangkut pada perubahan tata cara ibadah paska Konsili Vatikan II (1962-1965). Sebelum Konsili Vatikan II, Tata Perayaan dan Ritus Perayaan dilakukan secara Ad Orientem, yakni Umat dan Imam sama-sama menghadap ke arah Altar. Setelah Konsili Vatikan II, Perayaan Ekaristi, yang semula berkonsep Ad Orientem berganti menjadi Versus Populum, dimana Imam tidak membelakangi Umat sehingga saling berhadapan sehingga posisi altar dimajukan ke depan (Abbas. 2021 : 44).

Kotak sumbangan untuk Gereja.
Kotak sumbangan untuk orang miskin.
Bejana baptis yang masih asli.

Aisle sisi utara memiliki tiga ruang pengakuan dosa. Sementara bagian barat merupakan panti imam. Kemudian aisle sisi selatan dapat dijumpai satu fitur langka yang jarang ditemukan di gereja manapun, yakni bejana untuk baptisan anak yang masih asli. Pada bejana dari batu jenis terazzo itu, tertera kalimat berbahasa Latin “In sanguini agni laverunt stolas suas” yang bila diartikan adalah “Dibasuh dalam darah Anak Domba”. Kalimat tersebut merujuk pada Kitab Wahyu 7:14 yang menyebut tentang orang-orang yang keluar dari kesengsaraan besar yang telah membasuh jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Ujung dari aisle sisi selatan Gereja Santa Perawan Maria adalah kapel kecil yang didedikasikan untuk Bunda Maria. Di dalam kapel tersebut, “di atas alas kayu sono berwarna gelap, berdiri patung Bunda Maria berwarna putih, persembahan dari umat Katolik Jawa dan menjadi permata yang indah untuk gereja ini” urai koran De Koerier. Patung tersebut saat ini sudah diberi tambahan warna. Keanggunan dari patung tersebut dilengkapi dengan tujuh jendela kaca patri di belakangnya. Jendela kaca patri berbentuk segitiga yang ujungnya mengarah ke patung tersebut menampilkan motif bunga matahari, bakung, mawar, dan melati.

Kapel Maria.

Jendela bundar di samping kapel memancarkan kilau cahaya warna-warni dari kaca patri karya Albert Verschuuren, seorang seniman dari kota Oosterhout, provinsi Nord Barabant, Belanda. Kaca patri tersebut memperlihatkan sebuah biduk atau perahu yang berlayar di atas ombak dengan berlatar belakang pelangi. Hiasan tersebut mengandung pesan bahwa Gereja yang dilambangkan dengan perahu akan mampu bertahan menghadapi ketidakpastian zaman laksana ombak di lautan dan menuntun umatnya menuju pelabuhan keselamatan. Sementara pelangi di latar melambangkan perlindungan Tuhan terhadap Gereja. Selain di kapel, Gereja Santa Perawan Maria Purworejo juga memiliki kaca patri di bagian depan namun kaca patri tersebut dirusak massa saat kerusuhan sipil Purworejo yang terjadi tahun 1990an.

Jendela kaca patri karya Albert Verschuuren.

Gereja Santa Perawan Maria saat ini tinggal menjadi satu-satunya karya biro arsitek Cupyers-Fermont yang masih utuh di wilayah Keuskupan Purwokerto. Gereja ini menjadi salah satu tengara bahwa di Purworejo, umat Katolik setidaknya dapat menjalankan ibadahnya dengan damai dan hidup berdampingan dengan umat lain. Kisah perjuangan umat untuk berupaya mendirikan gereja di tengah krisis ekonomi mengandung pesan bahwa nilai sebuah gereja tidak terletak pada ukuran atau kemegahannya, namun bagaimana umat yang beribadah di dalamnya tetap teguh dengan imannya sekalipun didera banyak cobaan. Semoga bangunan yang menjadi bagian dari khazanah warisan budaya di Purworejo ini senantiasa lestari...

Referensi

Abbas, Novida. Soleiman, Yusak. Suryaningsih, Febriyanti. Hutagalung, Sylvania. 2021. Gema Genta : 400 Tahun Gereja Warisan Budaya di Indonesia. Jakarta : Direktorat Pelindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Anonim. 1933. De Missionarisen Van Het H. Hart Tilburg en Hun Missiewerk in Nederl. Oost Indie. Limburg Dagblad.

De Koerier 24 Agustus 1933

Van Baal, Jos. 1923. "Opening Der H.I.S. Te Poerwaredja op 1 September 1922". dalam Sint Claverbon halaman 33-37.

Van Woesik. 1938. De Missioneerende Orden. 't Gravenhage ; Nederlandsch Medisch Missie Comite

Visser MSC. Bern J.J. 1928. "Onze Java Missie" dalam Annalen van O.L. Vrouw V. H. H Hart, 1 Februari 1928. Tillburg : Missionarisen H. Hart 39-40

Minggu, 13 Mei 2018

Sejarah Perang Dunia Kedua yang Terpendam di Benteng Pendem Bagelen

30 menit adalah waktu yang saya butuhkan untuk menempuh perjalanan dari Purworejo kota ke situs Benteng Pendem yang tersebar di Desa Bapangsari, Desa Tlogokates, dan Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Dari jalan raya Purworejo-Yogyakarta, saya masih harus melalui jalan kecil yang kira-kira hanya bisa dilalui satu mobil saja.
Pergerakan Jepang di Hindia-Belanda.
Sejarah dari Benteng Pendem Kalimaro tak bisa dilepaskan sejarah Perang Dunia Kedua, dimana saat itu Jepang yang sedang diembargo oleh Amerika Serikat berusaha memenuhi kebutuhan perangnya sendiri dengan merambah koloni-koloni Eropa di Asia Tenggara yang kaya SDA. Salah satu koloni Eropa yang diincar adalah Hindia-Belanda. KNIL ( Koninklijke Nederlands Indische Leger ) yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan koloni Hindia-Belanda dianggap kurang mumpuni karena mereka hanya kuat menghadapi musuh dari dalam tapi tidak dari luar( Roccher dan Santosa, 2016;176 ). Karenanya,pertahanan  Hindia-Belanda bergantung kepada kerja sama militer dengan AS, Inggris, dan Australia dalam satu komando dibawah pimpinan Jend. Archibald Wavell, ABDACOM ( Australia, British, Dutch, Command ). 
Kapal penjelajah Jepang, IJN Haguro, kapal inilah yang menenggelamkan HNMLS De Ruyter.
HNMLS De Ruyter, kapal dimana Laksamana Karel Doorman menemui ajalnya.
Setelah Filipina dan Singapura dikuasai, maka terbukalah jalan bagi Jepang untuk menguasai Hindia-Belanda. Genderang perang Hindia-Belanda versus Jepang  segera ditabuh. Dalam rancangan operasinya, Jepang membagi tiga jalur serangan. Jalur pertama dari timur, dengan Maluku dan Timor sebagai sasaran. Jalur kedua dari tengah dengan mengincar Kalimantan dan Sulawesi. Jalur ketiga dari barat dengan Sumatera sebagai incaran. Bila ketiga wilayah tadi berhasil dikuasai, Jepang lantas akan bergerak ke Jawa yang menjadi pusat pemerintahan dan komando ABDACOM.
Laksamana Karel Doorman, pemimpin armada sekutu yang gugur di Lau Jawa.



Laksamana Takeo Takagi, pemimpin armada Jepang yang berhasil mengalahkan armada Sekutu di Laut Jawa. Sempat memimpin armada Jepang dalam pertempuran Laut Coral sebelum hilang dalam pertempuran Saipan.
Pertempuran Laut Jawa menjadi kesempatan terakhir Sekutu untuk mempertahankan Pulau Jawa. Keunggulan kekuatan udara armada Jepang pimpinan Laksamana Takeo Takagi menjadi kunci kemenangan Jepang dalam pertempuran itu. Armada Sekutu pimpinan Karel Doorman berhasil dibinasakan dan terbuklah jalan bagi Jepang untuk menaklukan Jawa( Cribb & Cahin, 2012;206 ). Segera saja pada 1 Maret 1942, secara serentak Jepang mendaratkan pasukannya di Jawa pada tiga tempat berbeda, yakni di Merak, Eretan Wetan dan Kragan untuk menjepit markas ABDACOM di Bandung. Setelah mendarat, Jepang mulai merangsek ke beberapa kota di Jawa melalui tiga titik. Salah satu titik ialah Kragan, dimana di sana mendarat detasemen Sakaguchi yang kemudian memecah beberapa unit untuk menduduki kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Salah satu unit ialah unit Yamamoto yang bergerak ke selatan untuk menduduki beberapa kota penting speerti Yogyakarta, Purworejo, Gombong, dan Cilacap. Pada 6 Maret 1942 pagi pukul 04.30, dari Yogyakarta dilancarkan serangan ke Purworejo untuk membuka jalan ke Cilacap. Sebelum sampai Purworejo, unit Yamamoto sempat mendapat perlawanan sengit dari pasukan KNIL dari Batalyon Infanteri Ke 2 yang berjaga di tenggara kota Purworejo. Jepang pun berhasil melumpuhkan Pasukan KNIL. Alhasil, pada pukul 11.00, seluruh Purworejo berhasil dikuasai Jepang dan mereka melanjutkan serangan ke barat ( Angkasa Edisi Koleksi XLIX 2006;90 ).
Peta pergerakan tentara Jepang dalam penaklukan Jawa 1942.

Jenderal Hitoshi Imamura, komandan Angkatan Darat Jepang di Jawa yang sedang mengkoordinir pendudukan Jawa.
Setelah lini pertahanan Belanda di Jawa ditundukan Jepang, Belanda akhirnya harus mengakui kedigdadayaan Jepang di Kalijati. Pada masa awal pendudukan Jepang di Jawa, militer Jepang tidak terlalu peduli dengan pendirian sarana pertahanan karena doktrin militer Jepang yang lebih menekankan pada aksi menyerang. Setelah situasi perang mulai tidak menguntungkan bagi Jepang, maka militer Jepang mulai beralih ke doktrin pertahanan aktif, dimana tentara Sekutu sebisa mungkin dihalau saat mendarat di pantai, sehingga kekuatan musuh melemah dan pihak bertahan dapat melancarkan serangan balik (Rotmann, 2003;5). Berkaitan dengan doktrin tersebut, maka dibuatlah sarana pertahanan berupa bungker berlapis beton yang didirkan di tempat strategis, terutama di dekat garis pantai. Salah satu tempat yang dibangun bunker adalah Kalimaro, Bagelen yang berada di selatan gugus perbukitan Menoreh dan masih dekat dengan pantai selatan itu. Tempat tersebut dipilih karena letaknya yang berada di pucuk bukit memberi kelelusasan pandang bagi pihak bertahan dan sebaliknya musuh akan kesulitan menyerang pihak bertahan yang ada di atasnya (Rotmann, 2003;9). Selain untuk mengantisipasi pendaratan musuh di pantai selatan, Jepang juga menjadikan Benteng Pendem Kalimaro sebagai tempat untuk mengintai jalur perhubungan darat Cilacap-Yogyakarta yang melintasi Bagelen.
Persebaran bunker di Situs Benteng Pendem. Peta dibuat oleh Wiyan Ari Tanjun ( 2008 ).
Pemandangan laut selatan Jawa, tempat dimana Jepang memperkirakan pendaratan Sekutu.
Jarak yang jauh antara Jepang dengan wilayah yang didudukinya serta gangguan rantai logistik yang dilakukan Sekutu terhadap kapal-kapal Jepang menimbulkan masalah pada logistik dan tenaga untuk membangun pertahanan. Maka dari itu, bahan material diperoleh dari lingkungan sekitar seperti batu karang, kapur, atau pohon kelapa. Sementara itu, penduduk Kalimaro dan sekitarnya, baik yang muda atau tua, dipekerjakan untuk membangun pillbox.  Selain itu, mereka juga ditugaskan melapisi jalan menuju kubu dengan batang pohon kelapa karena jalan menuju Kalimaro menjadi becek di kala musim hujan tiba. Penduduk yang ikut bekerja membangun benteng mendapatkan upah tergantung usia dan jenis pekerjaan (Angkasa XLIX, 2008;91). Sebelum membangun, penduduk yang tinggal di sekitar diharuskan untuk pindah karena lahannya akan dipakai sebagai sarana pertahanan. Dengan kubu pertahanan yang sudah dibangun di sini, Jepang sudah siap menanti kedatangan musuh. Seandainya pun pertahanan tersebut tidak berhasil, maka Jepang akan menjalankan perang atrisi dibantu oleh milisi lokal seperti prajurit PETA.  Namun apa daya, musuh yang ditunggu ternyata tak kunjung mendarat di pantai selatan. Berbalik dengan pandangan Jepang, Sekutu sadar bahwa walau letaknya lebih dekat dengan Australia, pantai selatan sebenarnya bukanlah tempat yang tepat untuk mendaratkan pasukan karena gelombangnya yang tinggi. Jadi sia-sialah  kubu pertahanan yang dibangun Jepang ini.
Casemate di situs benteng pendem. Tampak kubah pemantau di atas kubu.
Ruangan di dalam casemate. Keterangan 1 : Ruangan amunisi. 2 : Ruangan komunikasi.

Bekas dudukan meriam.
Akhirnya tibalah saya di situs Benteng Pendem Kalimaro. Di situs ini, terdapat dua buah casemate, yakni kubu meriam yang diberi struktur perlindungan. Pada masa awal perang, meriam-meriam Jepang ditempatkan dalam posisi terbuka sehingga menjadi incaran empuk pesawat-pesawat sekutu. Oleh karena itu, meriam-meriam pertahanan ditempatkan di dalam casemate. Saya pun mencoba masuk ke dalam salah satu casemate itu. Sayang, di dindingnya tertoreh coret-coretan hasil dari ulah orang tak bertanggungjawab. Sampah dedaunan berserakan di lantai yang sudah tertimbun tanah. Setiap casemate memiliki empat ruang di bagian dalam. Ruangan terbesar dipakai sebagai tempat meriam, lalu ada ruang kecil yang dipakai sebagai ruang radio untuk komunikasi, dan di sebelahnya terdapat ruangan tempat menyimpan proyektil. Casemate itu dilengkapi dengan semacam kubah kecil sebagai ruang pemantau.
Lubang intai pada casemate. Dari sinilah pergerakan musuh dipantau.


Pintu masuk salah satu casemate. Tampak bekas pintu masuk yang dibongkar.

Lalu darimana asal sebutan Benteng Pendem ? Disebut Benteng Pendem karena gua-gua itu seperti terpendam tanah. Benteng-benteng beton itu memang sengaja dibuat terpendam dan disamarkan dengan lingkungan sekitar untuk menyembunyikannya dari mata pilot pesawat sekutu. Timbunan tanah tadi juga mampu menahan ledakan peluru meriam kapal atau bom pesawat musuh. Antar kubu dihubungkan dengan jaringan parit untuk memudahkan tentara mengisi sektor pertahanan yang terancam (Angkasa, 86; 2010). Selain untuk pergerakan, parit-parit tadi juga dapat digunakan sebagai tempat menembak yang aman. Namun karena tergerus erosi dan sudah diubah menjadi lahan pertanian, maka parit-parit Benteng Pendem kini sudah tidak tampak lagi wujudnya. Di Pasifik, bunker-bunker seperti yang dijumpai di situs Benteng Pendem cukup ampuh menahan laju serangan sekutu walau pada akhirnya Jepang kalah perang.
Meriam tipe '3' kaliber 140 mm yang dipakai luas oleh Jepang untuk mempertahankan pantai.
Melihat lubang tembaknya yang lumayan besar, saya memperkirakan jika meriam yang dipakai adalah meriam tipe '3' kaliber 140 mm, meriam yang diperkenalkan tahun 1914 dan merupakan meriam andalan Kaigun atau angkatan laut Jepang. Dari casemate ini, moncong meriam diarahkan ke pantai untuk menyapu musuh yang sedang mendarat. Dengan jarak tembak maksimum hampir 20 km, peluru yang dimuntahkan meriam itu dapat mencapai pantai selatan Purworejo. Meriam-meriam tersebut dirakit di tempat karena ukurannya yang besar sulit di bawa apalagi jika melalui medan perbukitan.
Beberapa pillbox.

Pintu masuk salah satu pillbox yang sudah terpendam tanah.
Senapan mesin tipe 92 atau Juki, senapan mesin yang digunakan untuk mempertahankan pillbox. Sekutu menjulukinya " Burung Pelatuk" karena suaranya. ( Koleksi Museum Sasmita Loka Bintaran ).
Selain casemate, di beberapa pucuk bukit atau lereng juga terdapat beberapa pillbox, yakni kubu pemantauan yang ukurannya lebih kecil. Karena letaknya yang ada di lereng atau di pucuk bukit yang curam, untuk menuju ke sana saya harus bersusah payah mendaki dan menuruni bukit. Kendala lainnya adalah banyak pillbox yang sudah diselimuti tanaman liar sehingga semakin mempersulit usaha pencarian. Untuk pertahanan, pillbox-pillbox itu dilengkapi dengan persenjataan senapan mesin tipe 92 kaliber 7,7 mm. Senapan mesin itu baru memuntahkan peluru jika musuh sudah masuk dalam jarak 1.500 m dari titik tembak. Kadang mereka menggunakan senapan Arisaka manakala peluru senapan mesin sudah habis. Penempatan pillbox-pillbox itu sudah direncanakan dengan matang, dimana mereka ditempatkan di titik-titik yang diperkirakan akan menjadi jalan prajurit Sekutu bergerak menyerbu posisi mereka, sehingga lawan yang hendak menduduki casemate di puncak bukit dapat dihadang (Tanjung, 2008: 67).
Bunker-bunker yang sengaja dipendam tanah untuk perlindungan.
Bagian dalam salah satu bunker.
Tentara Jepang tinggal di dalam bunker-bunker yang berada di lereng bukit tidak jauh dari casemate untuk mempercepat pergerakan jika terjadi serangan darurat. Bunker itu juga sekaligus menjadi ruang komando operasi dan tempat penyimpanan segala keperluan yang diperlukan tentara seperti senjata, amunisi, obat, dan makanan. Logistik didatangkan dari markas di Purworejo yang menempati bekas tangsi KNIL.
( Ilustrasi pendaratan sekutu dari film Letters from Iwo Jima dan Flags of Our Father ) 

Walau hal ini tidak mungkin terjadi, namun saya mencoba membayangkan seandainya Sekutu melakukan pendaratan besar-besaran di pesisir selatan Purworejo. Bayangan saya mungkin sama dengan adegan film Letters from Iwo Jima. Di film itu, digambarkan pasukan Marinir Amerika mulai mendarat di pantai Iwo Jima dengan kendaraan amfibi. Sementara tentara Jepang sudah membuat persiapan terbaik mereka dengan membuat bunker-bunker bawah tanah dan pillbox yang disamarkan. Ketika jumlah pasukan Amerika yang mendarat semakin banyak dan perlahan bergerak maju ke garis depan, tiba-tiba mereka diberi sambutan mengejutkan oleh tentara Jepang berupa rentetan tembakan senapan mesin dan hujan artileri yang ditembakan dari pillbox yang disamarkan. Perlawanan sengit terjadi hingga akhirnya pulau itu jatuh setelah dibombardir dengan pesawat bomber.

Dari 11 bunker yang disebutkan Tanjung dalam penelitiannya, saya hanya menemukan 9 bunker saja. Sementara sisanya gagal saya temukan karena sudah tertutup tanaman liar. Mungkin akan lebih baik lagi bila di situs ini diberi papan petunjuk arah ke setiap bunker agar pengunjung umum tidak tersesat manakala menelusuri bunker-bunker di situs ini. Semoga situs yang menjadi saksi sejarah Perang Dunia Kedua dan pendudukan Jepang di Indonesia ini dapat digarap dengan lebih baik lagi.

Referensi
Angkasa. 2010. Marine at The Pacific, Pertempuran Terdahsyat Marinir Sepanjang Sejarah. Jakarta;Penerbit Gramedia.

Angkasa Edisi Koleksi XLIX. 2008. Perang Asia Timur Raya, Kedigdayaan Dai Nippon. Jakarta; Gramedia Majalah.

Crib, Audrey dan Kahin, Audrey.2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok ; Komunitas Bambu.

Rotmann. Gordon. L. 2003. Japanese Pacific Island Defense. Oxford : Osprey Publishing.

Wiyan Ari Tanjung. 2008. Latar Belakang Penempatan dan Fungsi Benteng Pendem Kalimaro Purworejo. Skripsi. Yogyakarta; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada