Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2018

Membangun Ingatan Pa van Der Steur, Sahabat Anak Yatim Piatu dari Magelang

Aliran air saluran Kali Manggis mengalir dengan tenang membelah jalan Ikhlas. Di tepi saluran tersebut, menjulang sebuah gerbang berwajah Neo-Klassik yang masih terpelihara baik. Di masa lampau, gerbang itu menyambut pengunjung yang berziarah ke Kerkhof Magelang. Ya, persis di balik gerbang itu, pernah ada lahan kerkhof yang kini telah beralih wujud menjadi deretan pertokoan. Puluhan tahun silam, ratusan pusara di kerkhof tersebut digusur oleh pemerintah kota demi pembangunan kota. Namun tak semuanya serta merta digusur. Persis di belakang sebuah kios pedagang pakan burung, masih terdapat secuil lahan yang disisakan untuk Pa van Der Steur, sosok yang telah menjadi kepingan dari semesta sejarah Magelang yang panjang. Melalui pusaranya yang masih tersisa di sini, Jejak Kolonial akan mengajak anda untuk membangun ingatan sosok Pa van der Steur….
Bekas gerbang kerkhof Magelang.
“ Hier Rust Een Vriend van God, De Grote Kindervriend, Papa Johannes Van der Steur “.
Beberapa penggal kata itu menjadi penanda tempat pembaringan terakhir dari Johannes van Der Steur atau akrab disapa Pa van Der Steur. Tengara lainnya ialah sebuah foto yang memperlihatkan sosok Pa van Der Steur sewaktu masih hidup. Kendati foto tersebut sedikit rusak, namun ciri khas yang melekat pada Pa van Der Steur yakni janggut putih panjang menjuntai dan dua medali penghargaan yang disemat di dadanya masih dapat dikenali. Pria kelahiran Haarlem 10 Juli 1856 ini pada masa mudanya memiliki kepribadian yang mulia walau ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang berada. Menginjak usia dewasa, dengan keputusan bulat ia memilih menjadi seorang Penginjil sebagai jalan untuk mengabdikan diri kepada sesama. Suatu hari di kota Hardwijk, ia bersua dengan prajurit yang baru saja kembali dari koloni Hindia Timur. Melalui penuturan prajurit itu, Pa van Der Steur mendengar sendiri bagaimana kesukaran hidup mereka selama di sana dan dari situlah ketertarikannya pada Hindia-Belanda bermula. Pada 1892, hijrahlah Pa van Der Steur ke Hindia-Belanda, dimana jemari takdir tampaknya mengacungkan Magelang sebagai tempat Pa van Der Steur berkarya. 
Pa van der Steur semasa muda.
(sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).

Pa van der Steur beserta orkes Steurtjes 
(sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Magelang, tempat Pa van Der Stueur mengabdikan sebagian besar hidupnya, merupakan salah satu garnisun militer utama di Jawa tengah, tempat bermarkasnya para prajurit KNIL yang terdiri dari orang Eropa dan Indonesia timur. Di sini, Pa van Der Steur secara sukarela ditugaskan untuk mengurus balai serdadu tersebut sembari memberi pelayanan rohani di tengah bobroknya moral kehidupan barak. Mereka yang tinggal di dalam garnisun tersebut tak hanya prajurit yang hidup membujang saja. Beserta dengan mereka, ada yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Sebagai prajurit yang setia dengan kesatuannya, sudah menjadi keharusan jika mereka siap diterjunkan ke palagan perang sekalipun itu akan merenggut nyawa mereka. Tentu saja yang merasa paling kehilangan mereka adalah para istri atau anak-anak prajurit tersebut. Benar saja, pada tahun 1890an, ketika kaki Pa van Der Steur mulai menapaki tanah Hindia-Belanda, para prajurit KNIL dari seantero Hindia-Belanda dipanggil untuk terjun ke palagan perang di Aceh dan Lombok. Dahsyatnya perlawanan dari para pejuang Aceh mengakibatkan gugurnya 37.500 serdadu KNIL, meninggalkan putra-putri yang masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah. Hilangnya tulang punggung ekonomi keluarga membuat nasib anak-anak yang sebagian besar merupakan hasil perkawinan campuran tersebut terlantar.

Makam Pa van der Steur beserta makam-makam lainnya yang masih tersisa.
Suatu hari, seorang prajurit Belanda yang tampak sempoyongan sehabis mabuk mendatangi Pa van der Steur. Di hadapan Pa van Der Steur, ia menceritakan keberadaan seorang perempuan pribumi dan empat anaknya yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya, seorang prajurit berdarah Italia. “Tunjukanlah bukti padaku jika tuan memang adalah orang yang taat pada agama”, tutur mulut si serdadu mabuk itu yang  ternyata menggugah hati kecil Pa van Der Steur. Keempat anak yatim yang dimaksud tadi lantas dijemput Pa van der Steur. Hanya bermodalkan rasa kasih pada sesama, keempat anak tersebut ia rawat dengan penuh rasa kasih sayang. Kendati masih bujang, Pa van der Steur mampu berperan sebagai seorang ayah yang baik untuk keempat anak asuhnya. Rumah bambu yang ia namakan “Oranje-Nassau” dijadikan sebagai rumah asuh. Bagai bola salju, lambat laun banyak anak yatim-piatu yang diasuh oleh Pa van der Steur. Mereka selain ditinggal mati oleh ayahnya di medan perang, beberapa di antaranya juga merupakan korban praktik pergundikan, dimana para serdadu kesepian menikah secara tidak resmi dengan perempuan pribumi  lalu setelah masa dinas habis, mereka meninggalkan begitu saja istri dan anak-anaknya.

Makam-makam berbentuk tugu untuk anak-anak asuh Pa van der Steur yang meninggal di usia muda.
Makam bersama yang dibuatkan Pa van der Steur untuk para Steurtjes
(sumber :  Zoo Leuk Zeg ! Alles van Huis ).
Makam-makam lainnya.

Di sisi pusara Pa van Der Steur, beberapa steutjes terbaring damai dalam sebuah pusara khusus berbentuk rumah-rumahan. Beberapa yang lain dibuatkan tugu kecil berbentuk obelisk. Melalui tulisan yang tertera, Pa van Der Steur menyebut para anak asuhnya sebagai “domba-domba Tuhan”. Dari nama-nama steurtjes yang ada di sini, dapat ditemukan beberapa nama anak-anak Indo dan Ambon. Para Steurtjes, entah itu anak Belanda totok, Indo, Jawa, Ambon atau Minahasa, diperlakukan secara adil. Mereka oleh Pa van der Steur diberi sepatu dan pakaian, serta diajarkan baca tulis untuk memberi rasa percaya diri. Tidak ketinggalan, beberapa serdadu baik hati membantu pekerjaan Pa van der Steur seperti mencuci, menjahit, dan bermain dengan anak-anak. Suatu hari, salah satu Steurtjes, sebutan untuk anak asuhnya, menanyakan nama apa yang akan dipakai untuk menyapa ayah angkat mereka. “ Kalian boleh sapa aku Pa seakan aku adalah ayah kandung kalian “, mungkin seperti itulah jawaban dari Pa van der Steur dan sapaan “Pa” melekat pada diri Johannes van der Steur hingga akhir hayatnya.
Pa van der Steur beserta saudarinya, Marie (memegang topi) (sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Atas permintaan Pa van der Steur, salah satu saudarinya yang bernama Marie, tiba di Magelang pada 1893 untuk membantu kerja Pa van der Steur. Saat itu, Pa van der Steur masih berjuang keras untuk membesarkan rumah asuh “Oranje Nasau” yang kian bertambah jumlah anak asuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang para Steurtjes, Pa van der Steur rela menjual harta bendanya sebelum akhirnya pemerintah kolonial memberi hibah sebesar 100 gulden setiap bulan. Supaya lebih teratur pengelolaanya, dibentuk yayasan Vereeniging tot bevordering van Christelijk leven en onderling hulpbetoon gevestigd te Magelang pada 1896. Yayasan tersebut lebih mahsyur dengan nama “Oranje-Nassau Stichting”, merujuk pada nama rumah asuh pertama yang dipakai Pa van der Steur.
Istri van der Steur ( kedua dari kiri ) di ruang makan untuk Steurtjes perempuan ( sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09 ).
Bengkel tempat para Steurtjes melatih keterampilan membuat barang ( sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09 ).
Karya mulia Pa van der Steur terus berlanjut meski hambatan masih menemui seperti ketika Marie van der Steur kembali ke Belanda dan di saat yang sama, Pa van der Steur didera penyakit yang memaksanya untuk kembali ke kampung halamannya. Selagi berobat di Belanda, kesempatan tersebut ia pakai untuk menggalang bantuan dari masyarakat luas termasuk keluarga kerajaan Belanda seperti ibu suri Ratu Emma. Tidak sia-sia, jumlah yang berhasil dihimpun sebesar 20.000 gulden dan uang itu dipakai untuk membeli bekas barak polisi di kampung Meteseh, di utara Karesidenan Kedu. Di kompleks panti asuhan yang baru ini, para Steurtjes diberi pendidikan sebagai bekal ketika mereka sudah beranjak dewasa dan keluar dari panti asuhan. Selain diberi pendidikan teori, mereka juga diberi keterampilan seperti pandai besi, tukang kayu, pelukis, dan tukang batu sehingga mereka bisa bekerja di perusahaan swasta atau zeni militer. Untuk membentuk karakter anak didik, disiplin militer dipakai, “terutama untuk menghadapi anak Indo yang enggan untuk melakukan kerja kasar”. Panti asuhan “Oranje-Nassau” dibagi menjadi tiga jenis, yakni untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun (kleintjehuis), remaja putra (jongenshuis), dan remaja putri (meisjehuis). Beban Pa van der Steur sedikit teringankan dengan kehadiran Anna Maria Zwagger, yang ia nikahi pada tahun 1907. Pasangan suami-istri tersebut sepakat untuk tidak memiliki keturunan dan mencurahkan hidupnya untuk senantiasa merawat ratusan steurtjes bagaikan anak mereka sendiri. Pusara istrinya dapat ditemukan tak jauh dari pusara Pa van der Steur.
Para steurtjes kecil dan perawat (sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Para steurtjes perempuan di halaman panti asuhan "Oranje-Nassau" (sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Panti asuhan “Oranye-Nassau” memasuki masa berat ketika Jepang menduduki Hindia-Belanda. Beberapa orang Eropa ditawan termasuk turut di dalamnya adalah Pa van der Steur yang ditawan berpindah-pindah tempat. Perpisahan dengan ratusan anak asuhnya menekan batin Pa van der Steur yang saat itu berusia 78 tahun, apalagi kondisi jasmaninya mulai melemah karena faktor umur. Selang satu bulan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya 16 September 1945, Pa van der Steur beristirahat dalam damai untuk selamanya. Walau telah tiada, namun jiwa welas asihnya memberi ilham bagi beberapa mantan Steurtjes untuk melanjutkan karya Pa van der Steur dengan mendirikan yayasan panti asuhan di Jakarta pada 1949. Bersama istri dan para steurtjes tercintanya, Pa van der Steur terbaring damai di kerkhof Magelang yang kini tinggal sekelumit  saja. Walau panti asuhannya sudah tidak berbekas lagi, namun segala karya yang dicurahkan Pa van der Steur akan selalu membekas di benak setiap orang. Pusara Pa van der Steur yang ada di kerkhof Magelang seakan menjadi monumen yang tak sekedar mengingatkan orang pada nama Pa van der Steur belaka, namun juga karya dari seorang pria bersahaja dengan hati nan kaya.

Referensi :

Aritonang, Jan Sihar dan Steerbink, Karel ( ed ). 2008. A History of Christiantit in Indonesia. Leiden : Brill.

De Braconier, A. 1916. “ Pa van Der Steur en De Stichting Oranje Nassau Te Magelang ” dalam Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1, Issue 09. Halaman 409 - 422.

Ming, Hanneke. 1983. “Barrack-Concubinage in the Indies, 1887-1920” dalam Indonesia , No.35 ( April 1983 ), halaman 65-94. Cornell University : Southeast Asian Program Publications.

Minggu, 12 Agustus 2018

Bayang-Bayang Masa Lalu Magelang, Bergstad van Midden Java


Ada sebuah puncak bukit yang menyembul di tengah sebuah kota. Bukit itu adalah Bukit Tidar yang tersohor sebagai pakunya Pulau Jawa. Sementara di kakinya ada kota Magelang, kota yang tumbuh dari garnisun militer menjadi kota pegunungan terindah di Jawa Tengah. Bergstad van Midden Java adalah julukan yang diberikan orang Belanda pada Magelang Magelang karena letaknya di tengah lingkar pegunungan. Kendati tak sebesar kota-kota lain di Jawa, Magelang mengkoleksi banyak sekali bangunan kuno yang menarik. Inilah ikhtiar saya dalam melihat bayang-bayang masa lalu kota Magelang.
Pemandanan udara kota Magelang dilihat dari sebelah barat. Rumah besar di kiri foto adalah kediaman residen Kedu.
Di tengah lingkaran kaki gunung berapi Sumbing, Merbabu, Sindoro, Menoreh, dan Merapi, terhampar sebuah dataran luas yang dikenal sebagai dataran Kedu. Berbagai monumen peradaban kuno karya besar leluhur terserak di dataran yang terhampar bagai permadani hijau itu. Letaknya yang berada di ketinggian 400 mdpl menjadikan iklim dataran Kedu cukup ramah untuk ukuran orang Eropa yang tak tahan iklim tropis. Tidak terlalu panas di siang hari, namun tidak terlalu dingin pula di malam hari. Iklimnya setara dengan iklim Italia Selatan. Dengan segala keindahan dan kenyamanan yang melekat padanya, tak heran jika dataran ini menyandang gelar sebagai Tuin van Java, tamannya Pulau Jawa. Di Jawa, hanya dataran bumi Priangan saja yang dapat mengalahkan keindahan dataran Kedu. Persis di tengah dataran subur itu, menyembul sebuah bukit kecil. Bukit Tidar namanya yang menurut legenda adalah pakunya Pulau Jawa dan di kaki bukit itulah kota Magelang berada (Anonim, 1936; 10).
Peta kota Magelang pada awal 1900an.
Ada banyak kisah tentang asal-usul nama Magelang. Salah satunya berdasarkan tafsir dari M.M. Soekarto yang menyebutkan asalnya dari nama Desa Glang-glang sebagaimana disebutkan pada prasasti Poh yang dikeluarkan atas titah Dyah Balitung. Magelang memang telah ada sejak masa peradaban Mataram kuno, walau saat itu masih berupa desa kecil yang terdiri dari beberapa kampung yaitu Dukuh, Tulung, Boton Kopen, Boton Bolong dan Meteseh. Gaung Magelang kemudian sempat tenggelam selama beberapa abad. Pada abad ke-15, Magelang berada dalam wilayah Kedu yang silih berganti penguasa selama beberapa abad. Sekitar awal abad ke-17, Kedu dimasukan dalam Kerajaan Mataram. Sesudah Perang Suksesi Jawa 1746-1755, wilayah Kedu dipotong untuk Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Wilayah Kedu baik yang dimiliki oleh Surakarta maupun Yogyakarta akhirnya disatukan kembali ke dalam pangkuan pemerintah kolonial Inggris pada 1 Agustus 1812. Secara administratif, wilayah Kedu saat itu dimasukan ke dalam Karesidenan Pekalongan. Barulah pada tahun 1817, Kedu menjadi karesidenan tersendiri yang terdiri dari dua kabupaten, yakni Magelang dan Menoreh. Pengaruh kolonial sejak saat itu mulai begitu dominan dalam perkembangan dan pembangunan kota Magelang hingga pendudukan Jepang (Nessel van Lissa dalam De Locomotief, 31 Januari 1936).
Pemandangan kota Magelang yang memperlihatkan kawasan sekitar alun-alun.
Tanah vulkanis nan subur terhampar di dataran Kedu yang dikelilingi gunung-gunung berapi. Komisaris Inggris, John Crawford, dalam laporannya tentang Distrik Kedu menyebutkan bahwa tembakau dari dataran Kedu sangat diminati oleh pasaran luar. Arus perdagangan cukup ramai di sana dan ada banyak pasar yang ramai di daerah ini. Saat masih berada di bawah Kasunanan Surakarta dan Kasulatanan Yogyakarta, Kedu menjadi lumbung uang dua keraton itu. Sumber pendapatan berasal dari pajak yang dipungut dari gerbang-gerbang tol yang tersebar di Kedu. Sebelum Perang Jawa pecah, Magelang masih menjadi kota kecil yang tenang dan makmur. Kemakmuran dan kedamaian itu memang sempat terusik saat Perang Jawa mulai bergemuruh pada 1825.  Kala itu, kota Magelang terkepung oleh pasukan pengikut Diponegoro dan rakyat yang bersimpati kepadanya. Jenderal De Kock lantas memindahkan markas besarnya dari Surakarta ke Magelang pada tahun 1828. Meskipun perang sedang berkecamuk di luar, Kota Magelang justru menangguk untung selama periode tersebut. Residen Valck dalam laporannya pada tahun 1827 menyebutkan bahwa “pasar tetap dihadiri banyak orang dan perdagangan di dalamnya menjadi sangat menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Perang. Pasar Magelang menjual banyak produk sangat luar biasa dalam hal ini". Perlawanan Diponegoro melawan Belanda berangsur-angsur dipatahkan dan berakhir sesudah Pangeran Diponegoro ditangkap di kediaman Residen Kedu. Perang Jawa pun usai, namun riwayat kota Magelang tak berhenti sampai di sini. Perang Jawa mengubah Magelang dari sekedar kota administrasi menjadi pusat militer yang penting di Jawa Tengah.
Jalan raya utama kota Magelang yang berdampingan dengan rel NIS di sebelah kanan (sumber : media-kitlv.nl)
Perdamaian pulih kembali sesudah Perang Jawa berakhir dan sejak saat itu Magelang memasuki era perdamaian yang cukup panjang. Pemerintah kolonial lambat laun berupaya memelihara kota koloninya. Pembangunan infrastruktur mulai digalakan secara bertahap, terutama jalan raya yang menghubungkan Magelang dengan tempat lain. Prasarana jalan raya menjadi prioritas pemerintah kolonial karena kondisi jalan saat itu masih buruk sehingga menghambat arus perdagangan yang perlahan mulai ramai. Saat itu, perjalanan dari Magelang ke Semarang masih melewati Grabak-Salatiga. Pemerintah kolonial kemudian membuat jalan baru ke Pringsurat pada 1833. Kemudian pada 1842, jalan tersebut diperpanjang ke Ambarawa sehingga terhubunglah Magelang dan Semarang via Ambarawa. Masih di tahun yang sama, pemerintah kolonial juga membukan jalan Magelang-Salaman dan kemudian diikuti dengan pembangunan jalan raya Salaman-Purworejo pada 1851. Kota Magelang akhirnya berhasil tersambung dengan tempat-tempat penting liannya. Jaringan jalan raya tersebut dilengkapi pos-pos pemberhentian tempat kurir pemerintah dapat beristirahat atau mengganti kuda. Sementara di dalam kota Magelang sendiri, jalan yang melintasi tengah kota Magelang mulai ditata. Sepanjang jalan dalam kota, ditanami pohon-pohon perindang yang memberi kesejukan udara pada siapapun yang berjalan di bawahnya. Pada penghujung abad ke-19, kedudukan strategis Magelang diperkuat dengan pembangunan jalur rel Yogyakarta - Magelang - Ambarawa dan Setjang - Parakan oleh maskapai kereta Nederlandsch Indisch Spoorweg. (Anonim, 1936 ; 22).
Alun-alun Magelang saat menjadi tempat pameran hasil bumi dan ternak pada tahun 1924. (sumber : media-kitlv.nl).

Pendapa rumah bupati Magelang (sumber : media-kitlv.nl).
Inggris memiliki peran penting dalam sejarah kota Magelang karena pada tahun yang sama saat wilayah Kedu dikuasai Inggris, pemerintah Inggris memilih kota Magelang sebagai ibukota kabupaten Magelang karena letaknya yang strategis. Inggris lalu mengangkat Mas Ngabei Danoekromo sebagai bupati pertama Magelang. Saat kekuasaan pulau Jawa kembali diserahkan ke Belanda, bupati Magelang yang diangkat oleh Inggris tetap berada di kursi bupati dan mendapat gelar baru Raden Tumenggung Danoeningrat pada tahun 1813. Selama kurun waktu yang cukup lama, Magelang memiliki bupati yang berasal dari trah Danoeningrat. Bupati Danoeningrat I membentuk wajah awal kota Magelang dengan pendirian alun-alun, masjid, dan tempat tinggal bupati sebagai syarat legitimasi kekuasaan dan simbol kewibawaan pemimpin Jawa. Alun-alun Magelang sebagaimana kota-kota masa kolonial dikerumuni oleh gedung-gedung penting. Di sebelah barat alun-alun, terdapat masjid yang dalam lanskap tata kota Jawa umumnya terletak di sebelah barat alun-alun. Kemudian di sebelah utara alun-alun, terdapat kediaman bupati dan keluarganya. Rumah bupati Magelang dahulu berdiri di tempat gereja Protestan sekarang berdiri sebelum kemudian digeser agak ke barat. Rumah bupati sudah lama hancur pada persitiwa bumihangus Magelang saat perang revolusi kemerdekaan. Seiring kemajuan kota Magelang, bangunan lainnya pun berdiri di sekitar alun-alun seperti gereja, kantor Pos dan Telepon, kantor perusahaan dagang Escompto, sekolah MOSVIA, sosieteit, hingga hotel. Alun-alun Magelang juga menjadi lokasi perhelatan berbagai acara yang digelar oleh pemerintah kolonial.(Algemeen Handelsblad 7 Desember 1938).
Masjid Agung Magelang pada abad ke-19 (sumber : media-kitlv.nl)

Masjid Agung Magelang hasil pemugaran R.T. Danoesoegondo dan tampak sekarang (sumber : media-kitlv.nl).
Berada di sebelah barat alun-alun adalah Masjid Agung Magelang yang dibangun pada tahun 1810, bertepatan dengan pemerintahan bupati pertama Magelang, RA Danoediningrat I. Masjid ini berulangkali beralih rupa. Pada tahun 1836 direnovasi oleh R.A.A Danoeningrat II dan pada tahun 1871 oleh R.T. Danoeningrat III. Selanjutnya pada masa R.A. Danoekoesomo (bupati ke-4 Magelang), ditambahkan serambi pada bagian depan masjid. Penambahan selanjutnya dilakukan oleh R.A.A. Danoesoegondo (bupati ke-5 Magelang) dengan menambahkan ruang samping kanan dan kiri masjid karena masjid tidak mampu menampung jemaat saat ibadah shalat Jum’at. Rupa masjid yang sekarang adalah hasil perombakan bupati Magelang ke 5, R.T. Danoesoegondo pada tahun 1934. Saat itu, kebutuhan ruang terhadap Masjid Agung Magelang semakin mendesak sehingga dilakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjid Agung Magelang. Sejumlah bahan seperti batu kali, kerikil, pasir, bata, dan kapur disumbakan dari warga Magelang untuk merenovasi masjid tersebut. Selain bahan bangunan, mereka juga menyumbang sejumlah besar uang yang dikumpulkan dari kotak amal yang diletakan dekat masjid. Pekerjaan renovasi masjid Magelang dilimpahkan kepada kantor konstruksi H. Pluyter dengan arahan dari bupati R.A.A. Danoesoegondo (De Locomotief, 15 April 1935). Oleh Pluyter, serambi depan yang yang sudah diperluas diberi sentuhan gaya arsitektur Indo-Mughal. Pemilihan gaya tersebut dikritik oleh arsitek Soesilo yang menurutnya tidak serasi dengan lingkungan sekitarnya (Soesilo, 1937; 154). Bangunan Masjid Agung Magelang memiliki tata ruang yang masih umum dijumpai pada masjid-masjid kama di Jawa, yakni terdiri dari ruang salat utama dan serambi. Pada bagian ruang salat utama, terdapat empat tiang saka guru yang menopang konstruksi atap masjid. Di bagian ini dapat dijumpai maksurah, yakni bilik kecil yang diperuntukan sebagai ruang salat khusus bupati. Sementara itu, bagian serambi dapat dijumpai pada sisi utara, timur, dan selatan masjid. Serambi-serambi tersebut ditopang oleh tiang-tiang dari beton.
GPIB Magelang.
GPIB Magelang pada awal abad 20 (sumber : media-kitlv.nl)
Masih di dekat alun-alun, terdapat gereja tua berlanggam Neogotik yang dahulu digunakan sebagai Indische Kerk. Pembentukan Indische Kerk pada tahun 1835 berlatar dari upaya Raja Belanda saat itu, Willem I, untuk menyatukan berbagai aliran Kristen yang ada di Hindia-Belanda sehingga mereka bisa lebih bersatu memusatkan kegiatan mereka daripada bergerak sendiri. Dari awal kehadirannya ke Nusantara, Belanda tidak berminat untuk menyiarkan agama mereka dan lebih berfokus pada perdagangan semata. Keberadaan Indische Kerk akhirnya terbatas pada pelayanan rohani untuk komunitas Eropa yang kecil. Itulah sebabnya bangunan Indische Kerk meskipun kedudukannya ada di kota-kota penting seperti Magelang, namun karena kecilnya jumlah jemaat maka ukurannya tidak lebih besar daripada gereja di pedesaan Eropa. Gereja Indische Kerk lebih disebut sebagai "Gereja Negara" atau "Gereja Militer" karena para pendetanya digaji oleh negara layaknya pegawai negeri dan pemerintah berwenang untuk mengangkat, memindahkan, atau memberhentikannya.
Kelenteng Magelang awal tahun 1900an ( sumber : media-kitlv.nl ).
Bergeser ke selatan alun-alun yang menjadi gerbang masuk ke kawasan Pecinan, terdapat bangunan keagamaan orang Tionghoa yang disebut kelenteng. Sayang bangunan asli kelenteng Magelang sudah terlalap api pada tahun 2014 dan kini diganti dengan bangunan baru yang tidak mencermikan bangunan lamanya. 
Gereja St. Ignatius Magelang sebelum dirombak tahun 1960an. Gedung gereja dibangun dalam gaya Neo-Romanesque (sumber : media-kitlv.nl).
Pastoran Gereja St. Ignatius Magelang.
Berjalan sedkit ke barat dari alun-alun, terdapat kompleks gereja Katolik St.Ignatius. Kota Magelang adalah kota garnisun yang dihuni oleh tentara dari berbagai latar belakang yang berbeda. Selain beragama Kristen Protestan, beberapa tentara ada yang merupakan pemeluk agama Katolik. Sejak tahun 1880an, Pastor Franciscus Voogel, S.J, ditempatkan di sana untuk memberikan pelayan kepada tentara-tentara tersebut. Kegiatan ibadah dilangsungkan di beranda belakang rumah pastor Voogel. Seiring dengan perkembangan jemaat, maka muncul rencana untuk membangun bangunan gereja yang lebih besar. Namun rencana tersebut tertunda seiring dengan penugasan Pastor Voogel untuk mendampingi tentara dalam ekspedisi Lombok. Selepas Pastor Voogel kembali ke Magelang, rencana tersebut lagi-lagi tertunda karena Pastor Voogel pergi ke Belanda untuk berobat. Pembangunan gereja baru dilaksanakan setelah W. van den Heuvel tiba di Magelang pada 29 Juni 1898. Rancangan gereja dibuat oleh pengawas bangunan dari Waterstaat (kantor pengairan), W. Ziesel. Penggalian pondasi dimulai pada Mei 1899 sesudah berlalunya musim hujan. Sementara upacara peletakan batu pertama dilangsungkan pada 31 Juli 1899 bertepatan dengan perayaan St. Ignatius. Karena bahan bangunan di Magelang saat itu masih jarang, maka pembangunan gereja berlangsung pelan. Saat bagian atap bangunan gereja hampir tuntas, W. Ziesel dipindahkan ke tempat lain sehingga pembangunan gereja diawasi oleh A. van Bebber. Sesudah melalui banyak rintangan, bangunan gereja akhirnya ditasbihkan pada 30 September 1900. Sayangnya, bangunan gereja tersebut tidak dapat berumur lama karena terbakar habis saat Perang Kemerdekaan. Keberadaan berbagai tempat ibadah di sekitar alun-alun merupakan cermin kemajemukan komunitas masyarakat yang tinggal di Magelang, yakni Tionghoa, Belanda dan, pribumi.
Bangunan Gereformeerde Kerk yang kini menjadi Gereja Kristen Jawa.
Foto bangunan gereja Gereformeerde Kerk Magelan pada tahun 1930an.
(Sumber : collectie.wereldculturen.nl)
Selain sebagai pusat kegiatan militer di Kedu, Magelang dalam sejarahnya juga menjadi pusat zending atau penyebaran agama Kristen yang dijalankan oleh Gereformeerde Kerken. Pada masa itu, untuk mencegah persaingan dan perebutan jemaat antar badan zending, maka masing-masing badan zending hanya berwenang untuk menyebar agama di wilayah yang sudah ditentukan untuk mereka. Gereformeerde Kerken sebagai salah satu denominasi gereja Kalvinis terbesar di Belanda kebagian jatah di Jawa bagian selatan. Wilayah tersebut oleh Gereformeerde Kerken dipecah lagi berdasarkan provinsi di Belanda. Gereformeerde Kerk provinsi Zeeland, Noord-Brabant dan Limburg mendapatkan bagian wilayah Temanggung dan Magelang. Penginjil Gereformeerde Kerken yang pertama tiba di Magelang adalah Pdt. Merkelijn yang datang ke Magelang pada September 1912. Awalnya jemaat yang diasuh oleh Pdt. Merkelijn beribadah di rumah sederhana. Setelah jemaat bertambah besar, maka dibangunlah gedung gereja yang mulai digunakan untuk ibadah pada 17 Maret 1921. Pada tahun 1928, jemaat Jawa di Magelang menangkat seorang pendeta dari kalangan mereka sendiri. Pendeta tersebut bernama Idris Siswawasana yang sebelumnya adalah seorang guru. Gedung gereja tersebut masih berdiri dan sekarang digunakan oleh GKJ (Van Nes, 1937:32-34). 
Di dekat gereja dahulu terdapat rumah tinggal pendeta Merkelijn yang menjadi korban bumihangus saat Perang Revolusi Kemerdekaan.
Sisa dari rumah sakit zending Magelang yang saat ini menjadi bagian dari RSUD Tidar.

Rumah sakit zending Magelang pada tahun 1937
(sumber : Gedenkboek Zending Der Gereformeerdekerken van Zeeland, Noord Brabant en Limburg in Magelang en Temanggoeng.)
Pada peralihan ke 20, muncul gagasan bahwa gerakan zending Kristen tidak hanya berkutat pada layanan rohani dan penyebaran Kristen semata, namun juga turut aktif dalam memperbaiki nasib penduduk bumiputra. Maka dari itu, karya zending di Magelang tidaklah lengkap tanpa kehadiran rumah sakit yang dikelola oleh zending. Sejumlah permohonan telah disampaikan kepada pemerintah kolonial agar zending diizinkan membuka rumah sakit di Magelang namun permohonan tersebut tidak dikabulkan dengan alasan di Magelang sudah memiliki rumah sakit militer sehingga tidak diperlukan fasilitas kesehatan yang lain. Kendati rumah sakit militer atau Militarie Hospitaal Magelang dapat menerima pasien sipil, namun penduduk desa tidak ada yang berani untuk berobat ke sana. Kendati belum memiliki rumah sakit, zending Magelang membuka poliklinik yang dijalankan oleh dokter Abarbanel pada tahun 1924. Karena pemerintah tidak akan memberi subsidi pembangunannya, zending Magelang harus memperoleh dana secara mandiri. Oleh karena itu, Pdt. Merkelijn kembali ke Belanda pada tahun 1928 untuk menggalang sumbangan dan ia berhasil melakukannya di tengah perekonomian yang sedang sulit akibat gejolak krisis malaise. Setelah melewati jalan yang berliku dan panjang, zending di Magelang akhirnya memperoleh sebidang tanah dan bangunan rumah milik seorang mayor Tionghoa di dekat Tidar pada tahun 1929 sebagai lokasi rumah sakit. Kegiatan rawat jalan mulai dapat dilakukan pada bulan Maret 1932. Setelah menanti sekian lama, akhirnya rumah sakit zending Magelang diresmikan pada 2 Mei 1932 bertepatan dengan ulang tahun pernikahan pdt. Merkelijn. "Kami tidak dapat menerima hadiah yang lebih baik selain ini (rumah sakit)", ucap pdt. Merkelijn dalam pembukaan rumah sakit. Dokter Dreckmeier diangkat sebagai direktur pertama rumah sakit (Dreckmeier, 1937: 78).
Gereja Kerasulan Baru.
Selain zending Gerefomeerde Kerken, Magelang juga menjadi tempat penyebaran agama Kristen oleh kelompok Kristen Hersteld Apostilische atau Kerasulan Baru. Kelompok tersebut didrikan di Inggris pada 1831 oleh Edward Irving, seorang pastor asal Skotlandia. Gereja Kerasulan Baru diperkenalkan di Hindia-Belanda oleh mantan pejabat pengadilan tinggi di Batavia bernama Frederik Lodewijk Anthing pada tahun 1881. Tidak lama kemudian Anthing meninggal pada tahun 1883 karena kecelakaan dan kegiatan Gereja Kerasulan Baru di Hindia-Belanda diteruskan oleh murid Anthing, Rasul Liem Tjoe Kiem. Kegiatan penyebaran Kristen oleh Rasul Liem Tjoe Kiem ini mendapatkan banyak pengikut dari seputaran desa di Magelang. Keberadaan Gereja Kerasulan Baru di Magelang tersebut rupanya memikat seorang tokoh Kristen kharimastik dari Purworejo sekaligus mantan murid Anthing lainnya, Kyai Sadrach yang memutuskan bergabung dengan Gereja Kerasulan Baru pada tahun 1899 dan kemudian ia diangkat sebagai Rasul untuk kalangan Jawa. Perkembangan Gereja Kerasulan Baru di Magelang akhirnya mendorong jemaat di sana untuk membangun gedung gereja permanen di Bayeman tahun 1927 dengan dana pembangunan dari sumbangan sukarela jemaat (De Locomotief, 1 Desember 1927).
Menara air Magelang, salah satu tengara kota Magelang.
Bangunan menara air atau watertoren di salah satu sudut alun-alun masih terlihat perkasa. Ukurannya yang besar, bentuknya yang unik seperti kompor raksasa, serta letaknya di tempat keramaian adalah alasan bangunan ini menjadi bangunan paling ikonik di kota ini. Air dimanapun berada dan kapanpun masanya merupakan kebutuhan penting bagi sebuah permukiman. Segala upaya dilakukan oleh pemegang kebijakan pasokan air terjamin untuk warganya. Di Magelang, upaya untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga mulai dilakukan oleh Gemeente Magelang sejak tahun 1916. Awalnya pasokan air diutamakan untuk keperluan garnisun militer terlebih dahulu. Kemudian pasokan air diperluas untuk penduduk sipil (De Locomotief, 24 Mei 1917). Air bersih untuk kota Magelang diperoleh dari mata air Wulung dan Kalegen. Sarana air bersih tersebut membutuhkan bangunan bak penampungan air untuk menyimpan cadangan air. Bak penampungan air yang saat ini berdiri di sudut alun-alun Magelang adalah rancangan dari insinyur zeni militer bernama Mayor L. Swaab. Dalam proses perencanaan, Swaab bersaing dengan insinyur zeni lainnya bernama Mayor van Tongeren. Berbeda dengan Swaab, rancangan van Tongeren menempatkan menara air di dekat Sungai Progo. Singkat cerita, gemeente memilih rancangan Swaab. Persoalan muncul saat dimanakah menara air itu akan diletakan di dalam kota. Dinas zeni militer menganjurkan agar bangunan besar itu ditempatkan di alun-alun tapi ada keberatan dari bupati. Sementara saat hendak ditempatkan di belakang gereja Protestan, pihak dewan gereja juga keberatan. Pilihan lainnya adalah menempatkan menara air di belakang kantor Burgerlijke Openbare Werken (Dinas Pekerjaan Umum) atau di kampung sebelah masjid agung. Tidak jelas bagaimana ceritanya, akhirnya menara air tersebut tetap dibangun di alun-alun mengikuti anjuran zeni  (De Locomotief 27 November 1920). Menara air tersebut memiliki cara kerja sebagai berikut ; air diisi ke bak penampungan yang ada di ketinggian dengan mesin pompa. Lalu dengan bantuan gravitasi, air di bak penampungan dialirkan ke rumah tangga. Menara air berperan untuk menjaga pasokan air selama masa puncak penggunaan yang biasanya terjadi di pagi dan siang hari. Pada malam hari saat penggunaan air menurun, air akan diisi kembali ke bak penampungan. Selama pemadaman listrik,  saat mesin pompa tidak bisa bekerja, menara air menggantikan peran mesin pompa dalam memasok air karena air disalurkan ke rumah-rumah penduduk dengan bantuan gravitasi. Tentunya dengan catatan pemadaman listrik tidak berlangsung lama karena cadangan air di bak penampungan menara air akan menipis jika digunakan terlalu lama dan perlu diisi ulang dengan mesin pompa.
Salah satu plengkung Kali Manggis.
Selain itu, pemerintah kolonial juga membuat akuaduk atau saluran air yang airnya berasal dari Kali Manggis. Masyarakat Magelang masa kini mengenalnya dengan nama Saluran Kali Manggis. Saluran itu mulai digali pada 1857 dan kemudian disempurnakan beberapa tahun berikutnya (Anonim, 1936; 22). Hingga sekarang, air masih senantiasa mengalir lewat saluran yang membelah kota Magelang itu. Begitu banyak fungsi saluran air ini, dari sebagai saluran irigasi, sarana air minum, hingga untuk menanggulangi bencana kebakaran yang kerap melanda Magelang di masa lampau karena saat itu masih banyak bangunan dari bambu. Karena saluran itu melintang di tengah kota, maka dibuatlah tiga buah pelengkung (https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/30/saluran-air-kali-manggis/). 
Kantor dewan kotapraja Magelang. Bangunan sudah hilang
(Sumber : collectie.wereldculturen.nl).
Kota itu kian menonjol setelah Karesidenan Bagelen dilebur bersama Karesdienan Kedu. Magelang akhirnya memainkan peran penting sebagai ibukota karesidenan dan pangkalan militer Belanda di Kedu. Puncaknya adalah tahun 1906, lewat UU Decentralitatiewet, Magelang disahkan sebagai kotamadya sejak 21 Februari 1906 (Anonim, 1836; 7). Dengan adanya kebijakan ini, kota Magelang memiliki pemerintahan otonom yang dikelola secara profesional layaknya kota-kota di dunia barat . Sebagai kepala wilayah, ditunjuk seorang walikota atau kepala daerah. Gementee Magelang sempat memiliki sebuah kantor atau raadhuis yang sayangnya sudah hancur sewaktu perang kemerdekaan.
Kawasan kampung Kwarasan dewasa ini.
Miniatur Kampung Kwarasan (sumber : Locale Techniek 1937).
Bekerja sama dengan arsitek Thomas Karsten, gementee Magelang melakukan pemekaran wilayah dengan membuat sebuah kampung yang sekarang dikenal dengan nama Kwarasan pada 1937. Sesuai artinya dalam bahasa Jawa yang berarti “sehat”, perancangan kampung itu memperhatikan betul kualitas hidup sehat masyarakat seperti yang dianjurkan oleh H.F. Tillema pada bukunya, Kromoblondo. Antar rumah diberi sedikit ruang dengaan jarak yang tidak terlalu renggang agar udara dan cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah. Di kampung itu disediakan pula tanah lapang agar warga bisa berolahraga. Jalan diaspal dan di kanan kirinya diberi pohon perindang. Selain menata perkampungan, tugas utama Gementee lainnya mencakup memperindah taman-taman umum, membersihkan jalan raya, memperkeras jalan dan membersihkan saluran pembuangan.
Bekas markas polisi militer zaman Belanda (sumber : media-kitlv.nl).
Hingga hari ini, Magelang dikenal sebagai kota militer. Selain keberadaan Akademi Militer yang ada di selatan kota, keberadaan garnisun di tepi utara kota yang dibangun sejak zaman Belanda menjadi alasan kuat gelar kota militer disematkan pada kota ini. Garnisun atau militaire encampment di Magelang sudah ada jauh sebelum Perang Jawa pecah, tepatnya pada tahun 1817. Gill berpendapat bahwa alasan garnisun ditempatkan di pinggir utara kota ialah adanya niatan pemerintah kolonial untuk melanjutkan pembangunan berdasarkan karakter bentuk kota Magelang (Gill, 1995; 220). Memang pada akhirnya Magelang sengaja dibesarkan oleh pemerintah kolonial sebagai garnisun militer utama Belanda di Jawa bersama Cimahi, Bandung, dan Malang. Besarnya tentara yang berkedudukan di Magelang membuat militer Belanda membentuk kesatuan polisi militer untuk mendisiplinkan mereka. Kesatuan itu bermarkas di sebuah gedung di ujung lapangan latihan (kini lapangan RINDAM). 


Perumahan-perumahan tentara. Ukuran dan bentuk rumah tergantung pangkatnya. Sebagian besar masih dalam kondisi baik. ( sumber : media-kitlv.nl )

Perumahan tentara pada masa kini.
Akomodasi yang baik dan sehat juga penting dalam ketentaraan. Pada masa awal militer Belanda bermarkas di Magelang, barak-barak tempat tinggal serdadu masih terbuat dari bambu yang notabene menjadi sarang tikus pembawa penyakit pes. Banyak tentara yang meninggal di barak karena terjangkit penyakit ketimbang mati di medan tempur. Oleh karena itu zeni militer mulai membenahi barak tentara di dalam kompleks garnisun pada akhir abad ke-19 (Anonim, 1936; 20). Di dalam garnisun itu, para serdadu menempati barak yang di dalamnya terdapat tempat tidur sesuai kompi pasukan yang dilengkapi kelambu dan mebel sederhana. Mengingat keterbatasan ruangan, maka anak-anak serdadu tinggal di bawah kolong tempat tidur (yang dari situlah lahir istilah anak kolong). Setiap tangsi diberi batas berupa pagar kawat dan terdapat penjagaan 24 jam untuk menjaga ketertiban. Di dalam tangsi, ada kantor, gudang senjata, barak tempat tinggal, dapur, istal, kantin, dan ruang olahraga. Serdadu mandi di sebuah ruangan besar dengan bak mandi panjang. Sementara di luar kompleks, terdapat lapangan tembak dan baris berbaris serta lapangan untuk apel prajurit (Rocher & Iwan Santosa, 2016; 208). 
Military ziekenhuis dulu dan sekarang ( sumber : (Sumber : collectie.wereldculturen.nl). ).
Berikutnya militer Belanda melalui Military Geneeskundige Dienst mendirikan sebuah rumah sakit militer pada 1867 (https://historicalhospitals.com/hospitals-2/military-hospitals/garrison-hospital-magelang/). Rumah sakit ini dahulu dikenal memiliki peralatan kesehatan yang lengkap dan dokter spesialis yang ahli di bidangnya.
Bekas sekolah Kweekschool voor Inlandsch Ambtenaaren (sumber : media-kitlv.nl).
Selain bangunan militer, Magelang juga memiliki banyak bangunan sekolah yang dapat dijumpai di setiap penjuru kota, tanda bahwa pendidikan di Magelang sudah menjadi perhatian utama semenjak dulu kala. Pemerintah kolonial memang berusaha menunjukan kepada penduduk koloni bahwa Hindia-Belanda adalah tempat yang baik untuk membesarkan anak. Sekolah-sekolah bernuansa Eropa dengan sistem pendidikan yang sama di Belanda dibuka. Total ada 39 sekolah dari berbagai jenjang untuk setiap kelompok masyarakat yang dibuka. Sekolah-sekolah itu ada yang milik pemerintah ada pula yang milik swasta. Pendidikan mula-mula hanya menyasar untuk anak-anak keturunan Eropa, namun seiring waktu orang pribumi juga mendapat jatah kursi di sekolah milik Belanda walau hanya dididik sekedar untuk menjadi pamong pemerintah tanpa mengembangkan keilmuan mereka. Kompleks sekolah terbesar di Magelang adalah sekolah Kweekschool voor Inlandsch Ambtenaren yang kini menjadi kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Dibangun tahun 1899, sekolah di Jalan Yos Sudarso No.31 itu dibuka dengan maksud mencetak tenaga guru dari kalangan bumiputera. Guru-guru ini nantinya akan mengajar pada sekolah-sekolah kader pamong praja kolonial.

Societeit "De Eendracht" dan ruang bilyar di dalamnya. Gedung societeit hancur sewaktu perang kemerdekaan (sumber : media-kitlv.nl).
Mengenai hiburan, ada banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh orang Eropa untuk mencari kegembiraan di waktu senggang. Buku Magelang de Middlepunt van Den Tuin van Java menyebutkan beberapa sarana hiburan di masa kolonial seperti Societeit  “De Endracht” di dekat alun-alun, societeit militer, tiga buah kedai teh, dan dua bioskop modern yang memutar 6 film per minggunya (Anonim, 1936; 56). Sarana hiburan paling elit adalah Soceiteit “ De Endracht”, dimana hanya orang kulit putih saja yang boleh masuk ke sana. Di sana mereka dapat bermain bilyard, minum-minum, berdansa-dansi, atau menonton pertunjukan musik tonil.
Stasiun Magelang Pasar di kanan gambar ( sumber : media-kitlv.nl ).
Bekas rumah dinas pegawai Stasiun Magelang Kota.
Bekas depo Stasiun Magelang Kota.
Sebuah bangunan tua tampak teronggok bisu di salah satu sudut sub terminal angkutan kota Kebonpolo. Sebelum menjadi tempat pemberhentian angkutan kota, tempat itu pernah menjadi satu dari dua stasiun kereta api di kota Magelang. Bangunan tua tadi adalah bekas depo kereta stasiun ini. Jalur kereta mulai melewati Magelang pada tahun 1898. Jalur itu menghubungkan Magelang dengan Yogyakarta dan pada tahun 1905 dibuka jalur kereta ke arah Secang. Selain Stasiun Magelang Kota ada pula Stasiun Magelang Pasar dan sebuah halte di tengah alun-alun Magelang. Ada alasan mengapa kota ini bisa memiliki dua stasiun. Saat itu, Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij perusahaan kereta swasta masa kolonial, diminta pemerintah untuk membangun jalur kereta melewati Magelang. Pertimbangannya, Magelang adalah kota militer terbesar di Jawa Tengah. Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij menyanggupi permintaan ini. Namun timbul tarik ulur mengenai dimanakah stasiun kereta akan ditempatkan. Pemerintah kolonial meminta untuk ditempatkan di utara kota, dekat dengan garnisun sehingga pergerakan militer menjadi mudah. Namun insting bisnis Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij, melihat bahwa stasiun itu akan jauh lebih menguntungkan jika ditempatkan di dekat Pasar Rejowinangun, urat perdagangan kota Magelang. Maka jadilah kota ini memiliki dua buah stasiun. Kejayaan kereta di Magelang telah lama berlalu, kira-kira pada tahun 1970an, yakni saat moda angkutan kereta mulai dikalahkan oleh angkutan lain.
Bekas pabrik cerutu milik Ko Kwat Ie.
Rumah tinggal Ko Kwat Ie.
Dari sektor industri, terdapat beberapa industri seperti es, tegel, dan cerutu. Di antara industri tersebut, industri paling menonjol di Magelang adalah cerutu mengingat wilayah sekitar Magelang merupakan penghasil tembakau utama. Kira-kira ada delapan industri rokok yang pernah berjaya di Magelang. Tujuh di antaranya dipegang oleh orang Tionghoa dan yang paling mahsyur adalah “Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabriek” yang dirintis oleh Ko Kwat Ie. Pabrik tersebut awalnya dibuka di Batavia pada tahun 1900 dengan modal awal sebesar 200 gulden dan baru memiliki dua belas karyawan. Dari Batavia, Ko Kwat Ie memindahkan pabrik cerutunya ke Magelang pada tahun 1908 supaya lebih mudah mendapatkan tembakau untuk bahan baku. Sebenarnya saat pabrik cerutu Ko Kwat Ie didirikan di Magelang, sudah ada industri pengolahan tembakau di sana namun masih sebatas industri rumahan dan pemasarannya hanya mencakup wilayah setempat. Pabrik cerutu Ko Kwat Ie yang pertama di Magelang terletak di kawasan Pecinan. Pabrik itu menghasilkan cerutu dengan nama dagang Panama Steer, Deli Havana, Missigit Deli, Carnaval, dan Armada menyasar pangsa pasar orang Eropa dan priyayi pribumi. Pecahnya Perang Dunia I membuat permintaan cerutu dari Eropa meningkat pesat. Ko Kwat Ie memanfaatkan momentum tersebut untuk menembus pasar di Eropa, Afrika, Australia, hingga Asia. Sementara pasar di dalam negeri diperluas dari Sabang hingga Merauke. Selama bertahun-tahun, perusahaan cerutu Ko Kwat Ie tumbuh dengan mantap. Pada tahun 1920, Ko Kwat Ie mendatangkan mesin produksi baru dan pabrik yang lebih besar di lokasi sekarang (Jalan Tarumanegara) yang tidak jauh dari rumah Ko Kwat Ie. Pabrik tersebut produksi harian rata-rata mencapai tiga ratus ribu cerutu dan mempekerjakan lebih dari 1.600 pekerja, laki-laki dan perempuan, yang sebagian besar berasal dari Magelang dan sekitarnya (De Locomotief, 15 Mei 1928). Pesatnya industri cerutu Ko Kwat Ie menarik perhatian sejumlah pembesar negeri. Jika Gubernur Jenderal sedang melawat ke Magelang, mereka akan menyempatkan berkunjung ke pabrik cerutu Ko Kwat Ie. Supaya menghasilkan cerutu berkualitas tinggi, pabrik tersebut senantiasa dijaga kebersihanya. Menukil dari buku “Tabakscultuur en Tabaksproducten”, pabrik cerutu Ko Kwat Ie merupakan saingan berat pabrik cerutu Mac Gillvary yang dijalankan oleh orang Eropa (Vlemming, 1925: 190). Saat ini, bekas pabrik cerutu Ko Kwat Ie digunakan sebagai sekolahan.
Rumah Sakit Jiwa Kramat.
Rumah dinas RSJ Kramat.
Kala pinggiran kota Magelang masih lapang, beberapa prasarana umum yang memerlukan lahan luas dibangun di sana. Salah satunya adalah Rumah Sakit Jiwa Dr. Soerojo atau dulu dikenal dengan nama Krankzinnigengesticht Kramat. Tanah sekitar saat itu masih kosong dan belum banyak penduduk sehingga masih memungkinkan untuk dilakukan perluasan dan lingkungannya yang jauh dari keramaian kota sangat membantu dalam pemulihan kesehatan jiwa. Rencana pembangunan RSJ tersebut oleh pemerintah kolonial sebenarnya sudah tercetus sejak tahun 1916. Semula pemerintah hanya berniat untuk membuat rumah singgah untuk pasien gangguan jiwa di Magelang sebelum dibawa ke RSJ utama di Buitenzorg dan Lawang. Namun dengan kondisi RSJ di Buitenzorg dan Lawang sudah hampir penuhserta di Jawa Tengah sendiri belum ada fasilitas sejenis, maka diputuskanlah untuk membangun RSJ besar yang berlokasi di Magelang. Pemerintah telah menganggarkan dana awal sebesar 700.000 gulden untuk pembangunan RSJ Kramat dan juga menunjuk arsitek Beraud sebagai perancangnya (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 27 Desember 1916). Sebagai permulaan, tanah yang akan menjadi cikal RSJ mulai diratakan pada tahun 1917. Pembangunan RSJ sendiri sedianya ditargetkan tuntas pada tahun 1918. Namun entah suatu hal yang belum diketahui, pembangunan rumah sakit sama sekali belum dimulai pada tahun itu. Barulah pada tahun 1919 tahap pertama pembangunan RSJ mulai dikerjakan. Tahap tersebut meliputi pembangunan 24 paviliun, dapur, binatu, penataan lanskap, dan pemasangan saluran listrik. Ketika paviliun selesai dibangun, kompleks RSJ Kramat ternyata belum dapat beroperasi karena belum adanya fasilitas rumah tinggal pegawai. Fasilitas tersebut baru dibangun pada tahap kedua pembangunan pada setelah 1920 dan termasuk di antaranya adalah bangunan depan RSJ. Pada bulan September 1923, RSJ Kramat mulai menerima sebagian kecil pasien dari Klinik Jiwa Porong dan RSJ Buitenzorg. Kemudian disusul dengan pasien RSJ dari Solo sebanyak 700 pasien. RSJ Kramat akhirnya diresmikan pada 20 Oktober 1923 dan daya tampung awalnya mencapai 1000 pasien (De Indische Courant 1 Oktober 1923). Kompleks RSJ Kramat selanjutnya ditambahkan bangsal baru pada tahun 1925 sehingga pasien ada tambahan ruang untuk 300 pasien. Secara keseluruhan, pembangunan RSJ Kramat memakan total biaya sebesar 1.233.922 gulden.

Rumah residen Kedu.
Saat kota Magelang tumbuh menjadi pusat pemerintahan kolonial, baik bangunan milik orang Eropa ataupun orang Tionghoa banyak yang masih terbuat dari bambu. Hanya sedikit saja bangunan yang menggunakan batu, yakni rumah residen, rumah kontrolir dan rumah perwira. Pada masa awal kolonial di Magelang, rumah terindah adalah rumah residen Kedu yang kini menjadi Kantor Bakorwil Kedu. Sebagai hoofdnegorij atau ibukota pemerintahan kolonial di Kedu, keberadaan rumah residen adalah hal mutlak. Tahun 1819, rumah ini didirkan dengan rancangan dari kolonel J.C. Schultze dan biaya sebesar 10.000 gulden digelontorkan untuk pembangunannya (Anonim, 1936; 20). Rumah ini menjadi tersohor dalam sejarah nasional setelah Belanda menjadikan rumah ini sebagai tempat melaksanakan tipu daya untuk menjebak Pangeran Diponegoro. Setelah Perang Jawa usai, rumah ini beberapa kali berubah bentuk. Semburat Gunung Sumbing terlihat elok dari beranda belakang gedung ini, tempat residen menjamu tamu. Di belakang rumah ini, ada sebuah taman indah yang dilengkapi gazebo, rusa-rusa jinak, dan pajangan patung-patung kuno yang diambil di sekitar Magelang. Beberapa langkah ke utara dari bekas rumah residen, terdapat kantor residen kedu. Di sinilah roda adminstrasi pemerintahan Karesidenan Kedu dijalankan. Dalam birokrasi pemerintah kolonial, pangkat residen adalah yang paling tinggi di tingkat karesidenan, di bawahnya ada asisstent residen yang ditempatkan di daerah dan di bawahnya lagi ada controleur. Tidak seperti para pendahulunya, pegawai VOC yang dikenal melakukan korupsi secara menggila, aparat pemerintah kolonial abad ke-19 lebih bersih dan efisien. Hal ini merupakan buah dari reformasi birokrasi yang dijalankan oleh Daendels. Pertengahan abad ke-19, reformasi birokrasi disempurnakan dengan peningkatan upah, pendidikan, serta pembagian tugas yang tegas dan jelas. Para pegawai ini bukan lagi para petualang yang hendak mencari keuntungan, melainkan para pegawai terdidik berintegritas tinggi. Sayangnya reformasi birokrasi pada tubuh pemerintah kolonial tidak sampai menyentuh ranah pemerintah lokal dimana urusan administrasi dengan kepentingan pribadi masih berkelindan dan berlanjut hingga hari ini.
Kantor residen Kedu yang kini menjadi Museum BPK.
Sebagaimana pembagian tata permukiman di Jawa pada abad ke-19, kawasan permukiman di kota Magelang dibagi tiga jenis. Pertama adalah permukiman orang Eropa dan elite pribumi berupa kompleks rumah tembok berhalaman luas. Kedua adalah kawasan pecinan yang berupa dereta rapat rumah toko. Ketiga adalah permukiman golongan pribumi berupa rumah kampung beratap ijuk dan berdinding bambu. Mulanya orang Eropa biasanya akan kembali ke negeri asalnya setelah masa bekerjanya di sini sudah habis. Namun pada akhirnya, mereka kemudian memutuskan untuk tinggal di sini sepanjang hidupnya. Dari situlah muncul rumah-rumah gaya Indis, sebuah gaya yang memadukan unsur Eropa dengan lokal. Gaya inipun rupanya ditiru pula oleh orang Tionghoa kaya. Magelang, seperti halnya kota-kota di pedalaman yang fungsi perdagangan kurang menonjol, bentuk kotanya kabupaten tidak teralu berbeda dengan lingkungan pedesaan dimana setiap rumah memiliki halaman depan yang sangat luas. Dengan iklim yang boleh dikatakan sejuk dan sarana yang lengkap, banyak warga Eropa yang betah tinggal di sini. Tersimpan harapan di hati ereka agar masih dapat tinggal tenang di sini dalam waktu yang lebih lama. Namun apa daya, harapan mereka pupus, sirna ditelan kenyataan setelah Hindia-Belanda ditaklukan Jepang pada 1942 dan mereka terusir dari Magelang. Walau orang Belanda telah lama pergi, cukup banyak rumah kuno peninggalan mereka yang masih dapat disaksikan.
Aneka rupa rumah Indis Empire di Magelang.
Rumah-rumah kuno yang dibangun sekitar tahun 1890-1910an.
Seperti itulah kiranya kisah beberapa bangunan kuno yang telah menemani hari tua kota Magelang,kota yang begitu dibanggakan oleh gementee Magelang, kota pegunungan yang kenyamanannya disetarakan dengan Bandung dan Malang. Sudah sepatutnya warga Magelang bangga dengan kota yang masih menyimoan segudang bangunan sarat kisah yang menjadikan sejarah Magelang terasa lebih hidup. Kebanggan itu dapat diwujudkan dengan bersama-sama menjaga bangunan berserajah itu, agar kebanggan yang dirasakan oleh generasi masa kini dapat dirasakan oleh generasi berikutnya. Sekianlah tulisan singkat Jejak Kolonial kali ini mengenai bayang-bayang masa lalu Magelang, . permata berharga yang dimiliki oleh ibu alam Kedu.

Referensi
Anonim, 1936. Magelang, Middlepunt van den Tuin van Java. Magelang ; Bestuur der Stadsgementee Magelang.

Dreckmeier, G.J. 1937. "De Medische Zending" dalam Gedenkboek Zending Der Gereformeerdekerken van Zeeland, Noord Brabant en Limburg in Magelang en Temanggoeng. hlmn. 77-85.

Gill, Ronald G. 1995. De Indische Stad op Java en Madoera. Delft ; Publikatieburo, Faculteit der Bouwkunde, Techinse Universiteit Delft.

Nessel van Lissa, R.C.A.F.J. "Uit Het Verleden van Magelang" dalam De Locomotief 31 Januari 1936.

Soesilo. 1937. "Inhemeesche Missigitgebouw" dalam Locale Techniek No.6 November-Desember 1937.

Van Nes, C. 1937. "Van overvloedigen Arbeid en Nog Overvloediger Zegen" dalam Gedenkboek Zending Der Gereformeerdekerken van Zeeland, Noord Brabant en Limburg in Magelang en Temanggoeng. hlmn. 32-48

Vlemming, J.L. 1925. Tabakscultuur en Tabaksproducten. Weltevreden : Landsdrukkerij.

De Locomotief, 15 Mei 1928

https://historicalhospitals.com/hospitals-2/military-hospitals/garrison-hospital-magelang/

https://historicalhospitals.com/specialized-hospitals/psychiatry/psychiatry-hospital-magelang/

https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/04/gereja-st-ignatius/

https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/30/saluran-air-kali-manggis/

https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/01/30/sejarah-perkeretaapian-di-magelang-temanggung/