Tampilkan postingan dengan label Jombang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jombang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2021

Perjalanan Hidup Rumah Indische Woonhuizen

“Arsitektur merupakan salah satu bentuk materialisasi budaya, sebab itulah sering dikatakan bila arsitektur adalah cermin dari suatu kebudayaan“. Itulah yang diterangkan Handinoto dalam tulisannya yang mengulas gaya arsitektur Indisch Woonhuizen, suatu gaya arsitektur rumah tinggal yang sempat mewarnai khazanah arsitektur di Nusantara. Gaya bangunan termaksud adalah salah satu wujud dari kebudayaan campur yang dikenal sebagai kebudayaan Indis, kebudayaan hasil dari persentuhan orang Eropa dengan masyarakat lokal dan alam tropis Nusantara. Seperti apa wujud rumah Indisch Woonhuizen itu dan bagaimana perjalanan hidupnya dari awal terbentuk, perkembangan, hingga lenyap dari wajah kota akan menjadi bahasan utama dalam tulisan Jejak Kolonial kali ini.
Museum Sasmita Loka Jenderal Sudirman. Dahulu adalah rumah keluarga Weijnschenk sebelum ditempati oleh Jenderal Sudirman.
Patung Panglima Besar Sudirman yang sedang menunggang kuda terlihat gagah dan berwibawa di halaman depan Museum Sasmita Loka, tempat dimana panglima besar tersebut dulu pernah tinggal kala bertugas di Yogyakarta. Setelah melapor kepada petugas jaga, saya beranjak ke beranda depan bangunan yang tinggi nan luas tersebut. Di hadapan saya, bangunan Museum Sasmita Loka terlihat seperti rumah seorang pembesar Belanda. Sejarah bangunan itu sendiri memang dapat ditarik lebih mundur sebelum Panglima Sudirman bertempat tinggal di situ. Lama sebelum menjadi kediaman Panglima Sudirman, bangunan itu dibangun oleh keluarga suikerplaanter atau pemilik pabrik gula kaya raya di masanya. Keluarga Weijnschenk namanya. Garis keluarga Weijnschenk di Hindia-Belanda dimulai dari Leopold Weijnschenk, seorang letnan kavaleri asal Wurtemberg yang bekerja kepada Kasunanan Surakarta. Leopold menikah dengan Maria Christina Franke dan dikaruniai enam anak. Salah satunya bernama George Lodewijk yang lahir di Solo pada 9 Juni 1814. George merintis karir sebagai komisaris di kantor Karesidenan Yogyakarta. Pekerjaan sebagai seorang pejabat kolonial membuka peluang untuk menjalin hubungan dekat dengan Kraton Yogyakarta. Kedekatan itu berbalas dengan pemberian hak sewa tanah kepada George. Pada saat itu, orang-orang asing tidak diperbolehkan memiliki tanah di Yogyakarta dan sebagai gantinya Sultan mengizinkan mereka untuk menyewa tanahnya. Para penyewa Eropa tersebut kemudian dikenal sebagai bekel putih.
Rumah keluarga Weijnschenk (dalam kotak biru) di Bintaran, Yogyakarta (sumber : Jogjakarta en Omstreken Kaart).
Pabrik gula Padokan tahun 1880an (sumber : rijksmuseum.nl)
Rumah keluarga Weijnschenk di Bintaran pada abad ke-19. Foto ini diambil oleh fotografer Kassian Cephas (Sumber : rijksmuseum.nl)
George diberi hak sewa tanah di Sanasewu, Kratil, Tendeng, Kwinie, dan Ngoto. Tanah tersebut oleh George diolah menjadi perkebunan aneka jenis tanaman seperti nila, kopi, gula, dan tembakau. George juga menjadi seorang bankir sebelum Javasche Bank membuka kantor agen di Yogyakarta. Bersama Soesman, Van Gorkom, dan Sayers, George sempat mendirikan usaha pabrik sabun Van Gorkom namun usaha itu berakhir dengan kegagalan. George membangun sebuah pesanggrahan yang dilengkapi dengan kolam renang di Ambarwinangun dan pesanggrahan itu kemudian dihadiahkan kepada Sultan Hamengkubuwono VII sebagai tanda persahabatan antara keluarga Weijsnchenk dengan Kraton (Het Nieuws van den dag voor Ned.Indie, 31 Desember 1938). Sepanjang hidupnya, George menikah beberapa kali. Pertama dengan Maria Dorothea Baumgarten, putri keluarga Baumgarten yang saat dinikahi pada 1836 masih berusia 17 tahun. Keluarga Baumgarten sendiri termasuk dalam lingkaran keluarga bekel putih Yogyakarta. Keluarga bekel putih lainnya antara lain keluarga Enger, Dom, Klaring, dan tentunya keluarga Weijnschenk. Pernikahan George dengan Maria berumur singkat karena Maria meninggal setahun berikutnya. George menikah lagi pada 1850 dengan seorang perempuan Jawa bernama Raimah dan dari pernikahan itu George memiliki dua belas anak. Raimah meninggal pada 1861 dan menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan Wilhelimna Frederika Kramer. Pada tahun 1868, George beserta dua putranya yang kelak akan meneruskan usaha George, yakni George Jr. dan Cherrie, pergi ke Eropa untuk mendampingi George Jr. belajar di kota Koln. Dalam pelayarannya, George bermimpi mendapati pabriknya di Padokan hancur lebur. Mimpi buruk itu rupanya betul-betul terjadi karena saat George mengalami mimpi buruk itu, pada hari yang sama Yogyakarta diguncang gempa dahsyat yang menghancurkan pabrik di Padokan. Pelannya arus komunikasi di masa itu membuat kabar itu baru diterimanya setelah tiba di Eropa. George segera kembali untuk membangun kembali pabrik gula yang hancur.
Beranda depan dengan tiang-tiang penyangga berbahan besi.
Bagian kanopi, tempat kendaraan berhenti.
Sayangnya setelah pabrik dibangun masalah lain mendera berupa krisis gula tahun 1880an yang membuat bangkrut banyak pabrik gula partikelir. George Sr meninggal pada tahun 1878 dalam keadaan usaha yang sedang berada pada masa sulit. Aset-aset perkebunan terpaksa digadaikan dan baru terlunasi pada tahun 1908. Usaha perkebunan Padokan dan Barongan sebagian besar sahamnya dipegang oleh anggota keluarga Weijnschenk sehingga boleh dikatakan jika perkebunan tersebut adalah bisnis yang dijalankan secara kekeluargaan. George Jr meninggal pada tahun 1931. Sementara Cherry Weijnschenk meninggal pada 1935. Kematiannya menjadi akhir periode dari generasi keluarga bekel putih di Yogyakarta karena saat Cherry meninggal, pengelolaan tanah-tanah perkebunan di Yogyakarta sudah dikuasai oleh perusahaan sindikat perkebunan. Pundi-pundi keuntungan yang diperoleh keluarga Weijnschenk dari hasil perkebunan dipakai untuk mendirikan sebuah rumah mewah yang hari ini menjadi salah satu contoh terbaik rumah Indisch Woonhuizen di Yogyakarta.
Beranda belakang.
Penggalan kisah keluarga Wiejnschenk di atas membuka gambaran rumah Indische Woonhuizen yang lekat dengan kehidupan keluarga Belanda di masa lalu. Indische Woonhuizen adalah tipe bangunan rumah tinggal yang jamak digunakan pada abad ke-19. P.H. van der Kemp dalam tulisannya berjudul "Over Kunst in Indische Woningbouw" mendefinisikan bangunan Indisch Woonhuizen sebagai bangunan tempat tinggal bertingkat satu, memiliki tiga pintu depan yang tinggi dan terdapat barisan kolom yang menopang bagian beranda depan yang terbuka. Kolom tersebut terbuat dari bata yang disusun membentuk kolom bergaya Yunani atau tiang besi berukir (Kemp, 1915: 54). Sebenarnya bagaimana arsitektur rumah Indisch Woonhuizen yang menjadi gaya rumah keluarga Weijnschenk ini dihasilkan ?
Contoh rumah Indische Woonhuizen (sumber : Nederlandsch Indische Huis Oud en Nieuw Deel II, Afdeeling I 1915)
Arsitektur rumah Indische Woonhuizen tidak tercipta dalam waktu semalam. Susunan dan bentuk rumah Indische Woonhuizen menunjukan upaya akulturas dan penyesuaian bertahap dari gaya Belanda terhadap lingkungan setempat. Cikal rumah Indische Woonhuizen adalah landhuizen petinggi VOC di luar kota. Seiring dengan kian makmurnya perniagaan di Batavia pada abad ke-18, para pedagang atau pejabat VOC yang kaya raya mendirikan Landhuizen yakni rumah dengan kebun luas di pinggiran kota. Kondisi lingkungan di dalam kota sendiri selain berisik juga tidak terlalu sehat untuk ditinggali. Barulah saat wilayah pinggiran kota berhasil diamankan, mereka memberanikan diri untuk membangun landhuizen. Pergumulan orang-orang Eropa dengan iklim tropis menjadikan landhuizen tersebut perlu disesuaikan dengan lingkungan tropis (GIll, 2002: 112). Seperti yang diketahui, orang-orang Eropa sudah terbiasa tinggal di daerah beriklim dingin sehingga rumah tinggal mereka akhirnya dibuat tertutup supaya ruangan di dalam terasa hangat. Namun tatkala mereka tinggal di sini, ternyata iklimnya berbeda jauh dengan di Eropa sana. Rumah model tertutup ala Eropa tentu tidak cocok dibangun di sini karena rumah model seperti itu akan membuat mereka gerah. Untuk bertahan hidup di iklim tropis, maka dilakukan sejumlah penyesuaian misalnya dengan menambahkan beranda keliling serta teritisan yang lebar sehingga tidak terlalu banyak panas matahari yang masuk ke ruang dalam. Kadang di bagian beranda dilengkapi dengan kerai bambu supaya intensitas cahaya matahari dapat dikurangi namun udara masih bisa masuk. Penyesuaian lainnya adalah memperbesar pintu dan jendela untuk memperlancar aliran udara sehingga bagian dalam terasa sejuk dan nyaman. Boleh dikatakan bila keberadaan rumah Indis adalah strategi orang Eropa untuk beradaptasi terhadap iklim tropis Nusantara sehingga mereka nyaman tinggal di sini (Lombard, 2018: 220).
Kegiatan makan bersama yang berlangsung di beranda belakang
(sumber : collectie.troppenmuseum.nl)
Bagian beranda depan rumah Indische Woonhuizen yang digunakan sebagai tempat menerima tamu (sumber : collectie.troppenmuseum.nl).
Memasuki abad ke-19, rumah Indisch Woonhuizen mulai menampilkan salah satu ciri khasnya, yakni kolom-kolom besar bergaya Yunani di muka rumah. Kemunculan kolom-kolom tersebut tak bisa dipisahkan dari pengaruh Herman Wilhelm Daendels, gubernur jenderal yang terkenal dengan mahakarya Jalan Raya Anyer Panarukan. Terlepas dari gaya pemerintahannya yang keras, Daendels memberi warna baru dalam perkembangan arsitektur rumah Indis. Daendels yang menguasai Hindia-Belanda memiliki selera seni tersendiri, utamanya dalam seni bangun. Kala masih berkuasa, Daendels merupakan bawahan sekaligus pengagum Napoleon Bonaparte. Untuk mengangkat citra kekaisaran Perancis yang sedang dibangunnya, maka Napoleon memperkenalkan gaya Empire yang menekankan pada kemegahan bangunan. Sebagai pengagumnya, Daendels mengimpor arsitektur tersebut ke Hindia-Belanda (Handinoto, 2008; 51). Empire style sesungguhnya adalah salah satu turunan langgam Neo-Klasik yang berupaya memasukan kembali pilar-pilar yang biasanya tersua pada kuil Yunani-Romawi kuno ke bagian wajah rumah. Pada akhir abad ke-19, kolom-kolom besar dari batu di beranda muka digantikan dengan tiang-tiang baja atau kayu. Tiang besi atau kayu tersebut kadang dipercantik dengan ornamen sesuluran yang membalutinya (Handinoto, 2012; 55). Dari situlah kiranya ciri arsitektur Indische Woonhuizen abad ke-19 terbentuk.
Tipikal denah rumah Indische Woonhuizen. Keterangan Voorgalery : Beranda depan. Doorgang : Lorong. Slaapkamer : Ruang tidur. Achtergalery : Beranda belakang. Provisie : Gudang makanan. Keuken : Dapur. (sumber : Nederlandsch Indische Huis Oud en Nieuw 4e Jaargang, Afd. 4, 1919).
Salah satu ciri lain dari rumah Indische Woonhuizen adalah bangunannya yang terdiri dari bangunan induk dan bangunan pendukung. Bangunan induk atau hoofdgebouw denah dasarnya sederhana. Selalu mencakup dua beranda yakni beranda depan sebagai tempat menerima tamu dan beranda belakang sebagai tempat makan bersama. Di dalamnya terdapat dua kamar yang saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah koridor yang menghubungkan beranda belakang dan beranda depan. Bangunan induk merupakan tempat keluarga tuan rumah melangsungkan kegiatan sehari-hari seperti tidur dan makan bersama. Sedangkan bangunan pendukung atau Bijgebouwen ditempatkan terpisah di samping atau belakang rumah dan ruangannya terdiri dari kamar mandi, WC, dapur, gudang, dan kendang kuda. 
Salah satu paviliun rumah keluarga Weijnschenk. Di belakang bangunan tersebut dahulu terdapat bangunan bijgebouwen.
Di setiap rumah Indische Woonhuizen, kegiatan memasak dilangsungkan di dapur yang berada di bagian bijgebouwen atau bangunan penyerta. Kegiatan memasak masih menggunakan kayu bakar. Dapur digunakan untuk menyimpan peralatan makan. Sementara bahan makanan disimpan di gudang yang ada di samping dapur. Ilustrasi oleh J.C. Rappard (sumber : collectie.troppenmuseum.nl)
Setiap rumah Indische Woonhuizen dilengkapi dengan kamar tinggal untuk pembantu rumah tangga dan keluarganya. Pada ilustrasi buatan J.C. Rappard ini terlihat sang istri sedang menyiapkan meniup tungku masak untuk suami dan anaknya (sumber : collectie.troppenmuseum.nl).
Bijgebouwen dimaksudkan sebagai ruang pendukung kegiatan harian orang yang tinggal di bangunan induk seperti mandi, mencuci, dan memasak. Bagian ini juga memiliki kamar pembantu. Jumlah kamar pembantu bervariasi tergantung dari jumlah pembantu yang dipekerjakan. Masing-masing pembantu memiliki keahlian sendiri sehingga ada pembantu yang ditugaskan khusus mencuci, memasak, membersihkan rumah, atau merawat kebun. Pada bangunan Museum Sasmita Loka, bagian bijgebouwen nya dahulu ada di sebelah kanan-kiri rumah dan kemudian menyambung ke belakang sehingga dari atas tampak membentu letter “U”. Sayangnya bangunan bijgebouwen tersebut sudah hilang seiring dengan penyesuaian fungsi baru sebagai museum. Bagian yang tersisa kini adalah bekas paviliun tamu.
Bagian ruang tidur keluarga.
Bangunan rumah keluarga Weijnschenk adalah satu dari sekian contoh model rumah Indische Woonhuizen yang lekat dengan gambaran kehidupan orang Eropa di tanah koloni pada masa lalu. Menurut pandangan orang-orang Belanda pada awal abad-20, rumah Indische Woonhuis secara seni memang tidak bermutu tinggi namun rumah tersebut memberi rasa kebanggaan dan kesejukan bagi yang menghuninya. Rumah Indische woonhuizen tidak hanya semata perkara kebutuhan papan saja. Djoko Soekiman dalam karyanya yang bertajuk Kebudayaan Indis menyebutkan alasan orang Eropa mendirikan bangunan Indisch Woonhuizen juga berkaitan dengan perkara gengsi, wibawa, harta, dan kuasa. Pada masa kolonial, terbentuk strata sosial menempatkan bangsa Eropa di lapisan teratas. Untuk mengukuhkan kedudukanya di hadapan bangsa Pribumi yang dianggapnya lebih rendah, maka bangsa Eropa membangun bangunan tempat tinggalnya dalam bentuk khusus yang megah (Djoko Soekiman, 2014; 5). 
Bagian lorong tengah dengan kamar di samping kanan dan kiri.
Rumah Indisch Woonhuizen yang menjadi ikon arsitektur kolonial abad ke-19 menjadi sarana unjuk kekuasaan dan kekayaan. Baik oleh ahli bangunan yang bekerja di bawah naungan birokrasi pemerintah atau pemborong bangunan partikelir, mereka menjadikan gaya Indische Woonhuizen sebagai patokan ketika mendirikan bangunan rumah tinggal. Rumah-rumah ini menyebar luas ke setiap kota-kota besar di Hindia Belanda. Rumah-rumah tersebut biasanya berdiri di sepanjang jalan utama atau pusat pemerintahan. Keberadaan rumah-rumah Indische Woonhuizen yang berdiri di tengah pekarangan luas dan terlingkupi oleh pepohonan rimbun akhirnya membentuk kantong permukiman elit Eropa yang menghiasi wajah kota kolonial. Banyaknya pembagian fungsi ruang tersebut membuat rumah berlanggam Indische Empire Style atau Indische Woonhuis membutuhkan tanah yang luas. Bagi keluarga Weijnschenk yang berkelimpahan harta, ini bukanlah masalah. Mereka bisa memperoleh tanah di Bintaran yang tanahnya masih terhampar luas dan jarang penduduknya pada abad ke-19.

Lantai tegel bermotif.
Nasib keluarga Weijnschenk tidak diketahui sesudah kemerdekaan. Tampaknya keluarga Weijnschenk meninggalkan rumah itu pada zaman Jepang, dimana orang-orang keturunan Eropa ditawan. Sesudah ditinggalkan, pemerintah Republik Indonesia yang ibukotanya pindah ke Yogyakarta pada tahun 1948 menjadikan rumah tersebut sebagai rumah tinggal Panglima Sudirman. Namun Panglima Sudirman hanya sebentar tinggal di sana karena beliau harus memimpin gerilya dari medan tempur. Memorabilia keluarga Jenderal Sudirman mulai dari ranjang Jenderal Sudirman tidur bersama istrinya, meja kerja tempat dimana Jenderal Sudirman menuliskan surat-surat penting, pedang samurai yang pernah dipakai Jenderal Sudirman ketika masih menjadi perwira militer pada zaman Jepang dan lain sebagainya masih dijumpai di dalam kamar-kamar tersebut. Setelah Jenderal Sudirman tidak tinggal di rumah ini, bangunan ini digunakan sebagai markas militer. Selanjutnya pada tahun 1982, bangunan ini diresmikan sebagai museum.

Rumah Indis Empire di Mojoduwur, Jombang.
Arsitektur Indisch Woomhuizen umumnya identik dengan rumah atau bangunan milik orang Eropa. Tidak salah memang karena model rumah seni bangun campuran tersebut menyebar luas di kalangan orang Eropa. Namun berlawanan dengan pandangan umum, keberadaan dua rumah yang masih luput dari perhatian banyak orang ini akan memberi wawasan baru bahwa rumah model Indische Woonhuizen juga diminati oleh kalangan non-Eropa saja. Untuk contoh pertama, saya akan mengajak anda di Desa Mojoduwur, Jombang, tempat bangunan yang saya jadikan contoh ini berdiri puluhan tahun lamanya menghadap Gunung Penanggungan yang sarat dengan bangunan suci yang usianya lebih tua darinnya. Rumah ini masih dilindungi oleh pagar yang sama rentanya. Bagian muka rumah itu memperlihatkan tiang-tiang kokoh yang menjadi pengingat dari gaya arsitektur Indisch Woonhuizen.
Tampak depan rumah dengan keempat pilarnya.
Kolom besar, ciri dari arsitektur rumah Indis Empire.
Apabila diterka, boleh jadi rumah ini tidak dibangun oleh orang Belanda, melainkan oleh golongan priyayi bumiputera yang lumayan berada. Rumah memang tak sekedar sebagai tempat berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan, namun juga sebagai cermin kemapanan seseorang. Golongan priyayi adalah para aristokrat bumiputera baru yang meraih kedudukannya bukan melalui keturunan darah, melainkan dari pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial. Pendidikan memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Manakala taraf hidup mereka meningkat, mereka cenderung akan membikin rumah yang tampilannya lebih mewah dari sebelumnya. Arsitektur yang ada saat itu, yakni Indisch Woonhuis yang banyak dipakai oleh orang Eropa dipandang sebagai ukuran kemewahan. Pada saat orang Eropa mulai meninggalkan model rumah Indisch Woonhuis, kaum priyayi Jawa mulai menunjukan ketertarikannya terhadap arsitektur Indis seperti yang tampak pada sebuah tulisan yang bertajuk Layang Balewarna karya oleh Mas Sasra Sudiraja, seorang guru sekolah dasar. Dalam tulisannya, ia menuangkan gagasan agar orang-orang bumiputera mencoba untuk meniru gaya rumah para pembesar kolonial yang dianggapnya “asri, bersih, dan pantas” (Kusno, 2012; 29). Pada mulanya trend tersebut berkembang di perkotaan, namun siapa sangka jika trend itu kemudian menyebar hingga ke pedesaan. Pada desa-desa di Jawa Timur, masih banyak dijumpai model rumah Indich Woonhuizen meskipun dalam skala ukurannya lebih kecil.
Bagian dapur yang tersambung dengan bangunan induk lewat selasar.
Pintu halaman belakang.
Menapak masuk ke dalam, saya serasa dilontarkan ke masa lampau dengan aura kunonya yang masih otentik. Menurut pengakuan Abah, nyaris tiada pembaruan pada rumah ini. Atap limasan, lantai tegel, jendela lama, semua masih melekat di tempatnya. Tentang strutkur tata ruangnya, rumah ini sudah menanggalkan tata ruang Jawa yang terdiri dari pendhapa, peringgitan, dan dalem, digantikan dengan tata ruang rumah Indis yang terdiri dari beranda depan dan sepasang kamar yang dipisahkan oleh koridor untuk menghasilkan penghawaan silang. Dugaan bahwa rumah ini dibangun oleh golongan priyayi bumiputera diperkuat dari ukuran rumah ini yang cenderung kecil meski memiliki pekarangan yang lebar. Tentu saja rumah ini masih dapat memiliki pekarangan yang lebar karena letaknya berada di desa yang kepadatan penduduknya kecil.
Ruang tamu. Untuk ukuran orang Belanda, rumah ini terbilang kecil.
Lantai tegel motif yang menambah semarak rumah.
Dipercantik dengan bovenlicht besi di atas ambang pintu.
Trend rumah Indische Woonhuizen di luar kalangan Belanda juga menjamur di kalangan borjuis Tionghoa. Seperti orang bumiputera, status sosial orang Tionghoa masih berada di bawah orang Eropa walau setingkat di atas orang bumiputera. Karena itulah mereka yang makmur memiliki hasrat untuk memberi sentuhan wajah baru pada tempat tinggal mereka dalam langgam Indis supaya merasa sejajar dengan orang Eropa. Beberapa upaya pertama dilakukan oleh para hartawan Tionghoa di Semarang seperti Hoo Jam Loo, seorang pedagang candu yang mendirikan rumah bergaya Indisch Woonhuizen di Gergaji pada tahun 1876. Rumah tersebut kelak dijual kepada keluarga Oei Tiong Ham (Liem, 2004; 179). Kaidah seni bangun Tionghoa tradisonal yang sudah diwariskan secara turun temurun sudah mulai ditinggalkan. Karena dibangun tanpa bantuan arsitek yang jelas asalnya, di mata orang Eropa rumah-rumah tersebut meninggalkan kesan norak dan berlebihan (Kusno, 2012; 16).
Rumah Indische Woonhuizen di Kranggan, Semaran.
Letak rumah (kotak biru) pada peta tahun 1911 (Sumber : Plattegrond van een deel der stad Semarang).
Salah satu contoh dari kasus di atas adalah sebuah rumah kuno di kawasan Kranggan, Semarang yang letaknya masih berdekatan dengan Pecinan Semarang. Wajah cantik rumah kuno ini masih sintas meski ia sudah lama ditinggalkan penghuni terakhirnya, Ong Ing Lip. Beliau dahulunya adalah pemilik dari pabrik sandal ternama di Semarang, yakni sandal "Orie". Saya pun akhirnya menjuluki rumah ini sebagai Si Jelita dari Kranggan. Si jelita berlantai dua ini berdiri menyendiri di tengah halaman luas. Deretan bangunan komersil menyembunyikan pesonanya dari khalayak yang mondar-mandir di sepanjang jalan. Walau temboknya mulai pudar, namun pesona rumah ini masih berkilau dengan segala pernak-perniknya. Di beranda muka, akan terlihat tiang-tiang besi berlanggam korintian. 
Tiang kayu dengan kapital Korintian.
Tiga pintu depan. Selain memperlancar sirkulasi, tiga pintu pada rumah Indis Empire juga dimaksudkan untuk memberi kesan angkuh.
Sungguh sejuk rasanya ketika saya memasuki bagian beranda depan bangunan ini. Kesejukan ini tercipta dari dinding yang tebal dan tinggi dan besarnya bukaan yang ada seperti pintu dan jendela. Di bawah naungan langit-langit yang terbuat dari kayu jati, terhampar marmer berwarna putih susu yang menutupi lantai rumah ini. Saya sendiri mencoba mencopot alas kaki saya untuk merasakan lantai marmer ini. Dingin dan halus, itulah yang saya rasakan. Kualitas marmer ini tak perlu ditanyakan lagi. Ia diimpor jauh-jauh dari Italia. Dari dulu hingga sekarang, harga marmer Italia masih sama mahalnya. Hanya orang yang mampu saja yang lantai rumahnya dilapisi oleh marmer ini. Lantai marmer yang saya injak ini seolah menunjukan betapa kayanya orang yang dulu tinggal di sini. Sementara di samping kanan bangunan ini, terdapat sebuah bangunan tambahan berupa paviliun berlantai dua. Untuk naik ke lantai dua dapat dilalui dengan tangga kayu yang kini sudah hilang. Paviliun ini diperuntukan sebagai tempat tamu tuan rumah menginap serta menjadi tempat tinggal keluarga anaknya yang belum memiliki tempat tinggal. Di antara bangunan induk dan bangunan tambahan, terdapat sebuah pintu gerbang yang memisahkan area umum.
Gerbang menuju bagian belakang rumah.
Pada awal abad 20, Hindia-Belanda kedatangan kelompok arsitek dari Belanda yang telah mengenyam pendidikan ilmu arsitektur. Berbekal ilmu yang diperoleh, mereka mencoba untuk menghadirkan arsitektur yang lebih luwes, rasional dan aktual. Mereka mulai menentang wajah bangunan gaya Indis Empire yang dianggap mereka hanya menampilkan tradisi lama Eropa yang baku, kaku, kolot lagi angkuh. Pembaharuan arsitektur tersebut juga terbukti mampu menyesuaikan dirinya dengan alam tropis sehingga secara cepat arsitektur tersebut dapat diterima banyak kalangan (Kusno, 2012; 15-16). Lambat laun, pamor rumah Indische Woonhuizen mulai pudar, terlebih ketika harga tanah semakin melambung akibat kota-kota semakin padat imbas dari kenaikan jumlah penduduk. Saat tanah yang tersedia ukurannya semakin sempit, maka semakin lama rumah juga ikut mengecil. Akhirnya rumah Indische Woonhuizen perlahan tersisih dari saujana kota. Pada saat model rumah Indisch Woonhuizen mulai hilang dari muka bangunan umum, model tersebut mulai digemari oleh orang Tionghoa dan priyayi bumiputera. Semaraknya pemakaian pilar Yunani di kampung kota atau desa menunjukan keinginan penduduk untuk memberi wajah baru bangunan mereka agar bisa dianggap setara dengan orang Eropa.
Paviliun di samping kanan rumah.
Di masa kini, jumlah rumah Indische Woonhuizen yang tersisa di setiap kota hanya berjumlah hitungan jari. Selain karena ketidakpedulian, faktor lain yang mempengaruhi musnahnya rumah-rumah Indische Woonhuizen adalah pajak. Rumah-rumah Indische Woonhuizen itu dibangun di pinggir jalan raya yang ramai dan memiliki lahan yang luas sehingga pajak bumi bangunan yang harus ditanggung oleh pemilik rumah Indisch Woonhuizen juga lebih tinggi dibanding pemilik rumah biasa. Sedikit sekali pemilik bangunan yang memiliki kesadaran tinggi sekaligus mampu secara finansial untuk menjaga rumah Indisch Woonhuizen. Kadang untuk mengurangi beban pajak, tanah di depan rumah dijual dan di atasnya dibangun gedung baru yang menutupi wajah rumah lama. Hal tersebut setidaknya masih agak mendingan karena lebih banyak yang kemudian dirubuhkan total.


Referensi :
Gill. Ronald. 2002. "Perumahan Kota Gaya Belanda" dalam Indonesian Heritage : Arsitektur. Jakarta : Widyadara.

Handinoto. 2008. “Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia-Belanda Abad 19”. Dalam Jurnal Dimensi Arsitektur vol. 36, No.1, Juli 2008. Halaman 43-53.

-----------. 2012. Arsitektur  dan kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Hoogervost, Tom dan Nodhlot, Henk Schulte. 2017. "Urban Middle Class in Colonial Java (1900 - 1942) Images and Language. Dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, Vol. 173. No. 4 Special Issue : New Urban Middle Class in Colonial Java. Halaman 442-474.

Kusno, Abidin. 2012. Zaman Baru Generasi Modernis ; Sebuah Catatan Arsitektur. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Liem Thian Joe. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta : Hasta Wahana.

Lombard, Denys. 2018. Nusa Jawa Silang Budaya Bagian 1 : Batas-Batas Pembaratan. Jakarta : Penerbit Gramedia.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis ; Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Van der Kemp. P.H. 1915. "Over Kunst in Indischen Woningbouw" dalam Nederlandsch Indiche Huis Oud en Nieuw. Batavia : Architecten Bureau Ed. Cuypers en Hulswit.

Het Nieuws van den dag voor Ned.-Indie. 31 Desember 1938. "Oude Vorstenlandsche Familie in het Jogjasche : De Namen Weijsnchenk en Dezetnje komen in de Vorstenlanden Veel Voor".

Sabtu, 01 September 2018

Mengenal Mojowarno, Pusat Siar Kristen di Jawa Timur

Beberapa kilometer dari pondok pesantren Tebuireng, pesantren terbesar di Jombang, terdapat sebuah desa yang pada masanya pernah menjadi pusat siar Kristen di Jawa Timur di masa kolonial. Desa itu bernama Mojowarno. Bagaimanakah Mojowarno dapat tumbuh menjadi sebuah desa Kristen di tengah kabupaten yang pondok pesanternya berjibun itu ?
Letak Mojowarno pada peta Jawa Timur. Di masa kolonial, Mojowarno masuk ke dalam Karesidenan Suabaya.
Beserta kawan saya, Samuel Heru P, kami berangkat dari Mojokerto menuju Mojowarno. Selama di perjalanan, saya tak habis pikir, bagaimana sebuah tempat yang dulunya hutan lebat tak bertuan bisa disulap menjadi desa Kristen paling berpengaruh di Jawa Timur. Sesampainya di Mojowarno, saya mendapati sebuah desa yang sekilas terlihat seperti desa-desa di Jawa Timur pada umumnya, rumah-rumah petak dengan halaman lumayan luas berdiri di sepanjang jalan. Sebagian besar penduduknya mengais rezeki dengan menjadi petani, mata pencaharian yang sama dengan penduduk yang dulu membuka Desa Mojowarno.
Karolus Wiryoguno, pembuka hutan Kracil ( sumber : id.wikipedia.org ).
Sebelum mengenal Mojowarno lebih lanjut, kisah akan dimulai dulu dari Ngoro, suatu desa di selatan Jombang yang menjadi titik awal penyebaran agama Kristen di Jawa Timur. Di sana, tersebutlah seorang mantan zinder hutan jati bernama Coenraad Laurens Coolen yang akhirnya menjadi tuan tanah di sana. Coolen sendiri hanyalah orang Kristen awam, bukan pendeta ataupun penyebar agama. Namun pria keturunan Rusia-Jawa itu mencoba untuk mengajarkan agama Kristen kepada para pekerjanya. Apa yang dilakukan Coolen terbilang nekad karena pemerintah kolonial secara tegas melarang penyebaran Kristen di tengah pemeluk Islam karena dapat menimbulkan perselisihan. Selama mengajarkan agama Kristen, Coolen menerjemahkan pengakuan iman rasuli, hukum sepuluh perintah tuhan, dan doa bapa kami ke dalam bahasa Jawa. Maka dari itulah ajaran Kristen ala Coolen seringkali bercampur dengan kepercayaan lokal. Kemudian ada pengikut Coolen yang bernama Wiryoguno, seorang dalang berdarah Madura yang tersohor namanya di Sidoarjo dan Surabaya. Wiryoguno memiliki ketertarikan kuat akan ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan sehingga tatkala ia mendapat wangsit untuk mendalami ilmu Musqab Gaib ia pun melakakun sebuah pencarian yang akhirnya mempertemukan Wiryoguno dengan Coolen di Ngoro. Setelah bertemu dengan Coolen, ia melanjutkan pertemuan dengan Emde di Surabaya. Di sana ia dibaptis dan setelah itu nama Karolus kemudian dibubuhkan padanya. Wiryoguno bercita-cita untuk bisa membangun sebuah desa bersama keluarganya.
Pendeta Jelle Eeltjes Jellesma.
Hutan Kracil di dekat Ngoro menarik perhatian Wiryoguno. Setelah menerima izin membuka hutan dari residen Surabaya dan mengurus birokrasi di Mojokerto, Wiryoguno beranjak ke Dukuh Dagangan yang berada di dekat Hutan Kracil. Di dukuh itu, Wiryoguno bersua dengan rekan lamanya di Ngoro, Ditotaruno yang diusir oleh Coolen dari Ngoro. Hutan Kracil yang luas itupun dibuka secara perlahan dan menjadi padukuhan baru. Oleh Wiryoguno, padukuhan itu diberi nama  “Mojowarno”, diambil dari kata Mojo karena berada di dekat pusat kerajaan Majapahit dan “warno” karena penghuninya berasal dari beragam daerah dan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Singkat cerita, pada 1850, Hutan Kracil yang angker itupun akhirnya berganti menjadi tiga desa makmur, yakni Mojowarno, Mojowangi dan Mojoroto. Tiga desa itu tumbuh sebagai desa agraris dengan membuat proyek seperti irigasi, bendung, dan jalan penghubung antar desa. Setelah berita pembukaan Hutan Kracil terdengar di telinga pemerintah kolonial, maka tiga desa tersebut diresmikan dengan Wiryoguno sebagai Bau Aris atau koordinator kepala desa.  Tiga desa yang didirikan oleh orang Jawa Kristen itu menarik orang Kristen Jawa di tempat lain seperti Paulus Tosari, Yakobus Singotruno, Simon Suryo, dan lain-lain yang ada di Sidokare, Sidoarjo. Pendatang baru ini diterima dengan baik oleh Wiryoguno dan mereka dipersilahkan untuk membuka hutan. Hutan-hutan itupun akhirnya menjadi tiga desa baru, yakni Mojodukuh, Mojokembang, dan Mojojejer. Enam desa ini kemudian membentuk kesatuan jemaat yang bernama jemaat Mojowarno.
Rumah Jellesma di Mojowarno
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java).
Tahun 1851, tibalah di Mojowarno, seorang pengabar Injil kelahiran Frieslan, Belanda. Namanya Jelle Eeltje Jellesma, pendeta yang diutus oleh kelompok pekabar Injil Nederlands Zending Genootschap (NZG) ke Jawa Timur. Saat Jelessma tiba di Mojowarno, desa itu dipimpin oleh Kyai Abisai Ditotaruno. Jumlah jemaatnya sudah mencapai 244 orang, angka yang besar untuk sebuah desa pelosok. Selain mengajarkan Kristen, Jellesma juga membuka sekolah. Sayangnya tugas Jellesma di Mojowarno berlangsung singkat karena ia keburu meninggal pada 1858. Walau saat itu sudah banyak orang Jawa yang memeluk Kristen, hal tersebut tidak berarti menjauhkan mereka dari perilaku buruk seperti menghisap madat, mabuk, dan berjudi. Buruknya moral orang Jawa Kristen menimbulkan kekecewaan di kalangan penginjil Belanda seperti Pdt. Harthoorn yang menganggap zending di Jawa adalah sebuah kegagalan. Namun anggapan Harthoorn tidak berlaku pada Paulus Tosari, Pdt. Hoezoo, dan Pdt. Kruyt senior. Mereka adalah pengganti Jellesma di Mojowarno yang dengan sabar mengajarkan Kristen di kalangan orang Jawa. Disemai sepenuh hati secara perlahan oleh penginjil Belanda dan Jawa, tunas Kekristenan di Jawa Timur itu mulai tumbuh ( Nortier, 1939; 70 ).
Pendeta J.Kruyt (1835-1918), pendeta Belanda terlama di Mojowarno.
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java).
Ary Kruyt, putra pendeta J. Kruyt yang membantu ayahnya di Mojowarno
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java ).
Pendeta J. Kruyt tiba di Mojowarno pada 1864. Saat itu ia masih berusia 29 tahun. Cukup lama ia menjadi pendeta di Mojowarno, yakni dari tahun 1864 hingga ia meninggal pada tahun 1918. Oleh penduduk desa, J. Kruyt diangkat sebagai pemimpin desa. Wibawa dan sikap tegasnya membuat nasihat dari J. Kruyt selalu didengar dan dipatuhi oleh penduduk desa.  J. Kruyt membuat peraturan desa berlandaskan ajaran Kristen, semisal penduduk desa yang beragama Kristen tidak diperkenankan bekerja di sawah pada hari Minggu dan harus menghadiri kebaktian. Hiburan pertunjukan semacam tayub dilarang sebagai hiburan penyerta upacara perkawinan. Lalu anak laki-laki dan perempuan diwajibkannya untuk bersekolah. Upaya yang dilakukan oleh Kruyt ini bertujuan untuk mematahkan pandangan negatif dari para zending Belanda seperti Harthoorn, yang memandang bahwa orang Jawa tidak mampu menjadi penganut Kristen yang saleh. Tahun 1882, putra pendeta J. Kruyt, Ary Kruyt menyusul ayahnya di Mojowarno setelah menyelesaikan studi di Belanda. Laksana buah yang tak jatuh jauh dari pohonnya, Ary Kruyt juga seorang pendeta yang cakap mengurus jemaat. Keberhasilan  di Mojowarno membuat mereka berdua diberi amanat yang lebih besar lagi, yakni mengasuh semua orang Kristen di Karesidenan Surabaya.
Tampak luar gedung GKJW Mojowarno.


Bagian dalam gereja.
Bagian mimbar gereja.
Saya kini berdiri termenung di hadapan bangunan GKJW Mojowarno yang terlihat sangat anggun dengan gaya neogotiknya. Umat gereja ini memang terdiri dari orang-orang Jawa, namun tampilan bangunan gereja itu justru terlihat sangat Eropa. Di bagian fronton, tertera tulisan aksara Jawa yang berbunyi “Duh Gusti ingkang kawula sinten malih ? Paduka kagungan Pangandikanipun gesang tanggeng” dan “Margane slamer rahe pamenthangan”. Jika diterjemahkan, pesan dari tulisan tersebut adalah kepasrahan jemaat gereja pada Tuhan. Hingga sekarang gereja ini masih menjadi tempat diajarkannya ajaran Kristen yang dibawakan oleh Isa Almasih dua ribu tahun silam. Melangkah kaki ke dalam, aura kekunoaan gereja masih belum lekang sama sekali.
Lukisan gedung gereja setelah selesai dibangun ( sumber : troppenmuseum.nl ).

Bangunan GKJW Mojowarno pada 1894.
Bagian dalam gereja Mojowarno pada tahun 1894
(sumber : datacollectie.nederland.nl)
Gedung gereja GKJW Mojowarno adalah warisan kemandirian jemaat Mojowarno di masa lampau. Untuk mengatur jemaat yang semakin banyak, maka pada 1873 dibentuk majelis gereja. Sungguhpun jemaat Mojowarno adalah penganut Kristen yang taat, nyatanya mereka juga mahir dalam mengatur keuangan dan mengelola harta benda. Keadaan semakin menguntungkan karena tidak seperti di tempat lain, tanah pertanian sepenuhnya dikuasai oleh jemaat Mojowarno. Sejak tahun 1871, jemaat menghimpun tabungan untuk pembangunan gereja dengan membentuk lumbung persekutuan. Para jemaat secara sukarela akan menyerahkan sebagian hasil panenan kepada lumbung persekutuan, lalu hasil panenan yang terkumpul dijual dan pendapatannya disimpan di De Javaasche Bank cabang Surabaya. Dana yang berhasil  terkumpul sebesar 25.000 gulden. Dengan uang yang terhimpun tersebut, pada 1879 mereka mendirikan gedung gereja Mojowarno yang tampilannya tak kalah megah dengan gedung gereja bikinan pemerintah kolonial yang ada di kota-kota besar. Pembangunan gereja ini ditandai dengan upacara peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Christina Catarina Kruyt  pada 24 Februari 1879 dan upacara tersebut diabadikan pada sebuah prasasti yang masih menempel di dinding gereja. Gereja yang selesai dibangun tahun 1881 ini tak sekedar wujud ketaatan jemaat Mojowarno pada agama Kristen. Lebih dari itu, ia juga simbol kemakmuran Mojowarno berkat kemandirian jemaatnya ( Nortier, 1939; 76 ).
Suasana sidang pertama Madjelis Agoeng pada 12 Desember 1931.
(Sumber : datacollectie.nederland.nl).
Majelis Agung GKJW di Mojowarno pada 1931
(sumber : Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java).
Pada tahun 1900, jemaat Kristen di Mojowarno sudah menyentuh hingga angka 3555 orang, jumlah yang terbilang banyak dan menjadikan Mojowarno sebagai desa dengan jemaat Kristen terbesar di Jawa Timur (Wolterbeek, 1995;104). Sebagai tanda kematangan jemaat, para jemaat Mojowarno pada hari Pantekosta tahun 1923 telah mengangkat pendeta dari bangsa mereka sendiri, yakni Pdt. M. Driya Mestaka. Baru merekalah yang melakukan hal tersebut di Jawa Timur dan dengan demikian mereka sudah tidak diatur lagi oleh lembaga zending Belanda. 
NZG akhirnya memutuskan untuk menjadikan jemaat jawa menjadi persekutuan gerejawi Pasamuwan-pasamuwan Kristen ing Tanah Djawi Wetan atau Oost Javaansche Kerk yang direncanakan akan dideklarasikan pada 11 Desember 1931. Hari yang ditunggu pun tiba dan gedung gereja Mojowarno mendapat kehormatan sebagai tempat dilangsungkannya acara bersejarah tersebut. Kendati ruang gereja penuh sesak, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat jemaat dari berbagai tempat yang menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut. Dari pertemuan tersebut terbentuklah Madjelis Agoeng sebagai wadah sinodial Oost-Javaansche Kerk. Keesokan harinya di tempat yang sama, Madjelis Agoeng mengadakan sidang perdananya untuk memilih pengurus (Wolterbeek, 1995; 129-130). Dari sebuah hutan angker, Mojowarno akhirnya tumbuh menjadi pusat siar agama Kristen di Jawa Timur dan saksi jemaat pribumi di Jawa Timur membuka lembaran baru.
Saya kemudian beranjak naik ke menara lonceng. Di sana saya menjempui sebuah lonceng besar yang sudah tak tergantung lagi di tempatnya dan hanya tergeletak di dalam menara. Sebuah lambang cakra dibubuhkan pada lonceng perunggu tersebut dan mengingatkan saya pada keraton Cakraningrat yang ada di Madura. Karolus dan keluarganya memang masih ada pertalian darah dengan keraton Cakraningrat. Ia adalah putra ke 3 Pangeran Cokrokusumo dan cucu dari Sultan Cakradiningrat II.
Sekolah zending Mojowarno.
Dari menara lonceng tersebut, saya dapat memandang lebih jelas lingkungan sekitar gereja. Di sebelah utara gereja ada sebuah kompleks sekolah sementara persis di seberang timur jalan, terdapat rumah sakit yang cukup ramai. Mencontoh pendeta Jellesma, bapak-anak Kryut mendirikan sekolah yang berada tak jauh dari rumah pendeta. Tidak seperti sekolah zaman sekarang, jam belajar dimulai agak siang, yakni pukul 10.00 dan berakhir pukul 14.00, sehingga masih ada kesempatan untuk anak-anak membantu orang tuanya. Anak laki-laki bisa membantu ayahnya mencari rumput dan menggembalakan ternak, sementara anak perempuan bisa membantu ibunya memasak di rumah. Ada pula sekolah calon guru yang mengajarkan pengetahuan Injil, sejarah perkembangan gereja, dan teologi. Di sekitar Mojowarno dahulu banyak pabrik gula, maka agar para pemuda Mojowarno dapat bekerja di sana maka dibukalah sekolah pertukangan (Wolterbeek, 1995;110).

Rumah Sakit Kristen Mojowarno kini dan dulu.
Para pasien zendinghospitaal Mojowarno yang sedang mendapat perawatan.
Berbekal ilmu kedokteran yang mereka miliki, bapak anak Kruyt membuka pelayanan kesehatan. 3000 orang yang berobat sudah berobat kepada Kruyt sejak tahun 1867. Karena kewalahan, Kruyt meminta bantuan NZG untuk mengirimkan tenaga kesehatan dan mendirikan rumah sakit. Permintaan Kruyt terwujud pada 1894 dengan dibangunnya Zendinghospitaal Mojowarno.  Pelayanan rumah sakit ini terbilang prima sehingga orang rela datang jauh-jauh hanya demi berobat ke rumah sakit ini. Selain ada dokter Belanda seperti Bervoets, Duymer, dan A.Pijzel, ada pula seorang dokter Jawa yang bernama dokter Ismael. Adalah hal yang luar biasa ketika ada seorang dokter Jawa di sana karena orang Jawa saat itu dianggap bodoh perihal kebersihan. Karena hal itu Dr. Bervoets sempat dicemooh ketika mendidik orang Jawa sebagai juru rawat (Nortier, 1939; 259).
Makam orang Jawa Kristen.
Slaah satu makam dengan batu nisan berbahasa Jawa.
Sesudah melihat-lihat bangunan di sekitar gereja, saya bersama Samuel mencari dimana orang-orang Kristen Mojowarno dulu dimakamkan. Dengan menerabas jalan pematang sawah, kamipun berhasil menemukan makam yang sebagian besar sudah tertutup semak belukar. Di sana, kami menziarahi makam Karolus Wiryoguno, pemimpin babad Hutan Kracil. Karolus Wiryoguno meninggal pada 1899 dan sepeninggalnya, usaha merawat jemaat dan desa Mojowarno diteruskan oleh anak-anaknya. 
Makam Karolus Wiryoguno dan istrinya yang kedua.
Sebagaimana makam Belanda, makam orang Jawa Kristen ini memakai batu marmer putih walau hiasannya jauh lebih sederhana dibanding makam Belanda. Sebagai tanda bahwa walau mereka sudah menganut agama Kristen bukan berarti menghilangkan jatidiri mereka sebagai orang Jawa, nama pada batu nisan menyandingkan nama baptis dengan nama Jawa. Ditinjau dari segi bahasa yang dipakai, ada dua jenis makam, yakni yang memakai bahasa Belanda dan Jawa. Selain makam orang Belanda, bahasa Belanda rupanya dipakai pula untuk orang Jawa, tanda bahwa sudah banyak penduduk di Mojowarno yang sudah melek huruf.
Makam J. Kruyt dan Ary Kruyt.
Di saat saya melihat makam sembari membaca isi batu nisan, secara lekat mata saya menangkap sebuah nama yang tampaknya cukup familiar. “Johannes Kruyt”. Sayapun akhirnya sejenak termenung di hadapan makam tua itu. Inilah makam dari pendeta berwajah tenang yang berjasa membesarkan jemaat Mojowarno bersama Karolus Wiryoguno. Kontras sekali perbedaan makam keduanya. Makam Karolus terlihat berkilau setelah dipugar. Sementara makam J. Kruyt terlihat jangkankan terawat, ditengok pun tampaknya jarang. Batu nisannya tampak sudah pecah dan semak-semak tumbuh liar di sekitarnya. Keadaan makam anaknya, Ary Kruyt, juga sama-sama tidak terawat. Walau demikian setidaknya patut disyukuri jika batu nisan makam mereka masih utuh di tempatnya sehingga siapapun masih dapat mencari jejak zending Belanda yang berperan penting dalam penyebaran Kristen di Jawa Timur. Selain makam J.Kruyt dan Ary Kruyt, ada pula makam Adriaan Nortier, salah satu dokter yang pernah bekerja di RS Mojowarno. Termasuk di sana, ada makam Ismael, si dokter Jawa dan istrinya. Keberadaan makam-makam tersebut memperlihatkan bahwa para dokter tersebut rela meninggalkan zona nyaman dan mencurahkan hidupnya untuk memberi pelayanan yang terbaik sekalipun itu berada jauh dari tempat asal mereka.

Warisan budaya di Mojowarno selain bangunan-bangunan kunonya yang masih terpelihara, adalah tradisi riyaya unduh-unduh. Dengan latar belakang agraris, penduduk Mojowarno merupakan para petani yang masih menghormati tradisi Jawa, dimana sebagai bentuk Rasa syukur atas panen melimpah biasanya akan digelar upacara tertentu. Agar tradisi leluhur dapat selaras dengan keyakinan mereka sekarang sebagai umat Kristen, maka digelarlah tradisi riyaya unduh-unduh sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat berupa hasil panen yang melimpah. Setiap musim panen padi tiba, Mojowarno akan riuh dengan tradisi rutin tahunan tersebut, dimana berbagai penduduk dari berbagai latar belakang ras dan agama dapat menyaksikan tradisi riyaya unduh-unduh ini. Saat upacara digelar, halaman gereja akan dipadati dengan gerobak hias yang mengangkut hasil bumi, makanan, dan hewan ternak yang nantinya akan didoakan. Setelah didoakan, barang-barang tersebut dilelang dan hasilnya digunakan untuk keperluan gereja. Tradisi ini selintas persis dengan tradisi slametan di berbagai tempat di Jawa yang mulanya menggunakan mantra-mantra berbahasa Jawa Kuno, berganti dengan doa berbahasa Arab ketika agama Islam masuk, dan di Mojowarno yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, dipakai doa-doa cara Kristen.

Masa lalu memang belum habis di Mojowarno. Bahana lonceng gereja yang dibangun lebih dari seabad silam masih bergema setiap minggu. Murid-murid masih ceria belajar di sekolah yang dulu dibesarkan para zending dan para pasien masih mendatangi rumah sakit yang sudah ada sejak paruh pertama abad 20. Tradisi riyaya unduh-unduh, pasar rakyat khas Mojowarno juga masih diselenggarakan setiap musim panen. Dengan saling menghargai perbedaan, jemaat Kristen Mojowarno hidup rukun bersama lingkungan masyarakat Islam yang kental seperti Jombang, yang dikenal sebagai tempat kelahoran ulama-ulama kondang seperti K.H. Hasyim Asyari, K.H, Wachid Hasyim, hingga Abdurahman Wahid yang membesarkan organiasi Islam paling berpengaruh di Indonesia, Nahdalatul Ulama. Ya itulah Mojowarno, pusat siar Kristen di Jawa Timur yang masa lalunya belum habis.

Referensi
Crommelin, D. 1909. Modjowarno, Een Zendingpost. Rotterdam ; Eletriche Drukkerij M.Wyt & Zonen.


Hadi Wahjono, Bau Aris R. Karolus Wiryoguno : Pemimpin Babad Hutan Kracil (Cikal Bakal Berdirinya Desa-Desa di Mojowarno), Taman Pustaka Kristen Indonesia (TPK), Yogyakarta.

Nortier, C.W . 1939. Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java. Zendingstudie-raad
.
Wolterbeek, J.D . 1995. Babad Zending di Pulau Jawa. Yogyakarta ; Taman Pustaka Kristen.