Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2021

Perjalanan Hidup Rumah Indische Woonhuizen

“Arsitektur merupakan salah satu bentuk materialisasi budaya, sebab itulah sering dikatakan bila arsitektur adalah cermin dari suatu kebudayaan“. Itulah yang diterangkan Handinoto dalam tulisannya yang mengulas gaya arsitektur Indisch Woonhuizen, suatu gaya arsitektur rumah tinggal yang sempat mewarnai khazanah arsitektur di Nusantara. Gaya bangunan termaksud adalah salah satu wujud dari kebudayaan campur yang dikenal sebagai kebudayaan Indis, kebudayaan hasil dari persentuhan orang Eropa dengan masyarakat lokal dan alam tropis Nusantara. Seperti apa wujud rumah Indisch Woonhuizen itu dan bagaimana perjalanan hidupnya dari awal terbentuk, perkembangan, hingga lenyap dari wajah kota akan menjadi bahasan utama dalam tulisan Jejak Kolonial kali ini.
Museum Sasmita Loka Jenderal Sudirman. Dahulu adalah rumah keluarga Weijnschenk sebelum ditempati oleh Jenderal Sudirman.
Patung Panglima Besar Sudirman yang sedang menunggang kuda terlihat gagah dan berwibawa di halaman depan Museum Sasmita Loka, tempat dimana panglima besar tersebut dulu pernah tinggal kala bertugas di Yogyakarta. Setelah melapor kepada petugas jaga, saya beranjak ke beranda depan bangunan yang tinggi nan luas tersebut. Di hadapan saya, bangunan Museum Sasmita Loka terlihat seperti rumah seorang pembesar Belanda. Sejarah bangunan itu sendiri memang dapat ditarik lebih mundur sebelum Panglima Sudirman bertempat tinggal di situ. Lama sebelum menjadi kediaman Panglima Sudirman, bangunan itu dibangun oleh keluarga suikerplaanter atau pemilik pabrik gula kaya raya di masanya. Keluarga Weijnschenk namanya. Garis keluarga Weijnschenk di Hindia-Belanda dimulai dari Leopold Weijnschenk, seorang letnan kavaleri asal Wurtemberg yang bekerja kepada Kasunanan Surakarta. Leopold menikah dengan Maria Christina Franke dan dikaruniai enam anak. Salah satunya bernama George Lodewijk yang lahir di Solo pada 9 Juni 1814. George merintis karir sebagai komisaris di kantor Karesidenan Yogyakarta. Pekerjaan sebagai seorang pejabat kolonial membuka peluang untuk menjalin hubungan dekat dengan Kraton Yogyakarta. Kedekatan itu berbalas dengan pemberian hak sewa tanah kepada George. Pada saat itu, orang-orang asing tidak diperbolehkan memiliki tanah di Yogyakarta dan sebagai gantinya Sultan mengizinkan mereka untuk menyewa tanahnya. Para penyewa Eropa tersebut kemudian dikenal sebagai bekel putih.
Rumah keluarga Weijnschenk (dalam kotak biru) di Bintaran, Yogyakarta (sumber : Jogjakarta en Omstreken Kaart).
Pabrik gula Padokan tahun 1880an (sumber : rijksmuseum.nl)
Rumah keluarga Weijnschenk di Bintaran pada abad ke-19. Foto ini diambil oleh fotografer Kassian Cephas (Sumber : rijksmuseum.nl)
George diberi hak sewa tanah di Sanasewu, Kratil, Tendeng, Kwinie, dan Ngoto. Tanah tersebut oleh George diolah menjadi perkebunan aneka jenis tanaman seperti nila, kopi, gula, dan tembakau. George juga menjadi seorang bankir sebelum Javasche Bank membuka kantor agen di Yogyakarta. Bersama Soesman, Van Gorkom, dan Sayers, George sempat mendirikan usaha pabrik sabun Van Gorkom namun usaha itu berakhir dengan kegagalan. George membangun sebuah pesanggrahan yang dilengkapi dengan kolam renang di Ambarwinangun dan pesanggrahan itu kemudian dihadiahkan kepada Sultan Hamengkubuwono VII sebagai tanda persahabatan antara keluarga Weijsnchenk dengan Kraton (Het Nieuws van den dag voor Ned.Indie, 31 Desember 1938). Sepanjang hidupnya, George menikah beberapa kali. Pertama dengan Maria Dorothea Baumgarten, putri keluarga Baumgarten yang saat dinikahi pada 1836 masih berusia 17 tahun. Keluarga Baumgarten sendiri termasuk dalam lingkaran keluarga bekel putih Yogyakarta. Keluarga bekel putih lainnya antara lain keluarga Enger, Dom, Klaring, dan tentunya keluarga Weijnschenk. Pernikahan George dengan Maria berumur singkat karena Maria meninggal setahun berikutnya. George menikah lagi pada 1850 dengan seorang perempuan Jawa bernama Raimah dan dari pernikahan itu George memiliki dua belas anak. Raimah meninggal pada 1861 dan menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan Wilhelimna Frederika Kramer. Pada tahun 1868, George beserta dua putranya yang kelak akan meneruskan usaha George, yakni George Jr. dan Cherrie, pergi ke Eropa untuk mendampingi George Jr. belajar di kota Koln. Dalam pelayarannya, George bermimpi mendapati pabriknya di Padokan hancur lebur. Mimpi buruk itu rupanya betul-betul terjadi karena saat George mengalami mimpi buruk itu, pada hari yang sama Yogyakarta diguncang gempa dahsyat yang menghancurkan pabrik di Padokan. Pelannya arus komunikasi di masa itu membuat kabar itu baru diterimanya setelah tiba di Eropa. George segera kembali untuk membangun kembali pabrik gula yang hancur.
Beranda depan dengan tiang-tiang penyangga berbahan besi.
Bagian kanopi, tempat kendaraan berhenti.
Sayangnya setelah pabrik dibangun masalah lain mendera berupa krisis gula tahun 1880an yang membuat bangkrut banyak pabrik gula partikelir. George Sr meninggal pada tahun 1878 dalam keadaan usaha yang sedang berada pada masa sulit. Aset-aset perkebunan terpaksa digadaikan dan baru terlunasi pada tahun 1908. Usaha perkebunan Padokan dan Barongan sebagian besar sahamnya dipegang oleh anggota keluarga Weijnschenk sehingga boleh dikatakan jika perkebunan tersebut adalah bisnis yang dijalankan secara kekeluargaan. George Jr meninggal pada tahun 1931. Sementara Cherry Weijnschenk meninggal pada 1935. Kematiannya menjadi akhir periode dari generasi keluarga bekel putih di Yogyakarta karena saat Cherry meninggal, pengelolaan tanah-tanah perkebunan di Yogyakarta sudah dikuasai oleh perusahaan sindikat perkebunan. Pundi-pundi keuntungan yang diperoleh keluarga Weijnschenk dari hasil perkebunan dipakai untuk mendirikan sebuah rumah mewah yang hari ini menjadi salah satu contoh terbaik rumah Indisch Woonhuizen di Yogyakarta.
Beranda belakang.
Penggalan kisah keluarga Wiejnschenk di atas membuka gambaran rumah Indische Woonhuizen yang lekat dengan kehidupan keluarga Belanda di masa lalu. Indische Woonhuizen adalah tipe bangunan rumah tinggal yang jamak digunakan pada abad ke-19. P.H. van der Kemp dalam tulisannya berjudul "Over Kunst in Indische Woningbouw" mendefinisikan bangunan Indisch Woonhuizen sebagai bangunan tempat tinggal bertingkat satu, memiliki tiga pintu depan yang tinggi dan terdapat barisan kolom yang menopang bagian beranda depan yang terbuka. Kolom tersebut terbuat dari bata yang disusun membentuk kolom bergaya Yunani atau tiang besi berukir (Kemp, 1915: 54). Sebenarnya bagaimana arsitektur rumah Indisch Woonhuizen yang menjadi gaya rumah keluarga Weijnschenk ini dihasilkan ?
Contoh rumah Indische Woonhuizen (sumber : Nederlandsch Indische Huis Oud en Nieuw Deel II, Afdeeling I 1915)
Arsitektur rumah Indische Woonhuizen tidak tercipta dalam waktu semalam. Susunan dan bentuk rumah Indische Woonhuizen menunjukan upaya akulturas dan penyesuaian bertahap dari gaya Belanda terhadap lingkungan setempat. Cikal rumah Indische Woonhuizen adalah landhuizen petinggi VOC di luar kota. Seiring dengan kian makmurnya perniagaan di Batavia pada abad ke-18, para pedagang atau pejabat VOC yang kaya raya mendirikan Landhuizen yakni rumah dengan kebun luas di pinggiran kota. Kondisi lingkungan di dalam kota sendiri selain berisik juga tidak terlalu sehat untuk ditinggali. Barulah saat wilayah pinggiran kota berhasil diamankan, mereka memberanikan diri untuk membangun landhuizen. Pergumulan orang-orang Eropa dengan iklim tropis menjadikan landhuizen tersebut perlu disesuaikan dengan lingkungan tropis (GIll, 2002: 112). Seperti yang diketahui, orang-orang Eropa sudah terbiasa tinggal di daerah beriklim dingin sehingga rumah tinggal mereka akhirnya dibuat tertutup supaya ruangan di dalam terasa hangat. Namun tatkala mereka tinggal di sini, ternyata iklimnya berbeda jauh dengan di Eropa sana. Rumah model tertutup ala Eropa tentu tidak cocok dibangun di sini karena rumah model seperti itu akan membuat mereka gerah. Untuk bertahan hidup di iklim tropis, maka dilakukan sejumlah penyesuaian misalnya dengan menambahkan beranda keliling serta teritisan yang lebar sehingga tidak terlalu banyak panas matahari yang masuk ke ruang dalam. Kadang di bagian beranda dilengkapi dengan kerai bambu supaya intensitas cahaya matahari dapat dikurangi namun udara masih bisa masuk. Penyesuaian lainnya adalah memperbesar pintu dan jendela untuk memperlancar aliran udara sehingga bagian dalam terasa sejuk dan nyaman. Boleh dikatakan bila keberadaan rumah Indis adalah strategi orang Eropa untuk beradaptasi terhadap iklim tropis Nusantara sehingga mereka nyaman tinggal di sini (Lombard, 2018: 220).
Kegiatan makan bersama yang berlangsung di beranda belakang
(sumber : collectie.troppenmuseum.nl)
Bagian beranda depan rumah Indische Woonhuizen yang digunakan sebagai tempat menerima tamu (sumber : collectie.troppenmuseum.nl).
Memasuki abad ke-19, rumah Indisch Woonhuizen mulai menampilkan salah satu ciri khasnya, yakni kolom-kolom besar bergaya Yunani di muka rumah. Kemunculan kolom-kolom tersebut tak bisa dipisahkan dari pengaruh Herman Wilhelm Daendels, gubernur jenderal yang terkenal dengan mahakarya Jalan Raya Anyer Panarukan. Terlepas dari gaya pemerintahannya yang keras, Daendels memberi warna baru dalam perkembangan arsitektur rumah Indis. Daendels yang menguasai Hindia-Belanda memiliki selera seni tersendiri, utamanya dalam seni bangun. Kala masih berkuasa, Daendels merupakan bawahan sekaligus pengagum Napoleon Bonaparte. Untuk mengangkat citra kekaisaran Perancis yang sedang dibangunnya, maka Napoleon memperkenalkan gaya Empire yang menekankan pada kemegahan bangunan. Sebagai pengagumnya, Daendels mengimpor arsitektur tersebut ke Hindia-Belanda (Handinoto, 2008; 51). Empire style sesungguhnya adalah salah satu turunan langgam Neo-Klasik yang berupaya memasukan kembali pilar-pilar yang biasanya tersua pada kuil Yunani-Romawi kuno ke bagian wajah rumah. Pada akhir abad ke-19, kolom-kolom besar dari batu di beranda muka digantikan dengan tiang-tiang baja atau kayu. Tiang besi atau kayu tersebut kadang dipercantik dengan ornamen sesuluran yang membalutinya (Handinoto, 2012; 55). Dari situlah kiranya ciri arsitektur Indische Woonhuizen abad ke-19 terbentuk.
Tipikal denah rumah Indische Woonhuizen. Keterangan Voorgalery : Beranda depan. Doorgang : Lorong. Slaapkamer : Ruang tidur. Achtergalery : Beranda belakang. Provisie : Gudang makanan. Keuken : Dapur. (sumber : Nederlandsch Indische Huis Oud en Nieuw 4e Jaargang, Afd. 4, 1919).
Salah satu ciri lain dari rumah Indische Woonhuizen adalah bangunannya yang terdiri dari bangunan induk dan bangunan pendukung. Bangunan induk atau hoofdgebouw denah dasarnya sederhana. Selalu mencakup dua beranda yakni beranda depan sebagai tempat menerima tamu dan beranda belakang sebagai tempat makan bersama. Di dalamnya terdapat dua kamar yang saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah koridor yang menghubungkan beranda belakang dan beranda depan. Bangunan induk merupakan tempat keluarga tuan rumah melangsungkan kegiatan sehari-hari seperti tidur dan makan bersama. Sedangkan bangunan pendukung atau Bijgebouwen ditempatkan terpisah di samping atau belakang rumah dan ruangannya terdiri dari kamar mandi, WC, dapur, gudang, dan kendang kuda. 
Salah satu paviliun rumah keluarga Weijnschenk. Di belakang bangunan tersebut dahulu terdapat bangunan bijgebouwen.
Di setiap rumah Indische Woonhuizen, kegiatan memasak dilangsungkan di dapur yang berada di bagian bijgebouwen atau bangunan penyerta. Kegiatan memasak masih menggunakan kayu bakar. Dapur digunakan untuk menyimpan peralatan makan. Sementara bahan makanan disimpan di gudang yang ada di samping dapur. Ilustrasi oleh J.C. Rappard (sumber : collectie.troppenmuseum.nl)
Setiap rumah Indische Woonhuizen dilengkapi dengan kamar tinggal untuk pembantu rumah tangga dan keluarganya. Pada ilustrasi buatan J.C. Rappard ini terlihat sang istri sedang menyiapkan meniup tungku masak untuk suami dan anaknya (sumber : collectie.troppenmuseum.nl).
Bijgebouwen dimaksudkan sebagai ruang pendukung kegiatan harian orang yang tinggal di bangunan induk seperti mandi, mencuci, dan memasak. Bagian ini juga memiliki kamar pembantu. Jumlah kamar pembantu bervariasi tergantung dari jumlah pembantu yang dipekerjakan. Masing-masing pembantu memiliki keahlian sendiri sehingga ada pembantu yang ditugaskan khusus mencuci, memasak, membersihkan rumah, atau merawat kebun. Pada bangunan Museum Sasmita Loka, bagian bijgebouwen nya dahulu ada di sebelah kanan-kiri rumah dan kemudian menyambung ke belakang sehingga dari atas tampak membentu letter “U”. Sayangnya bangunan bijgebouwen tersebut sudah hilang seiring dengan penyesuaian fungsi baru sebagai museum. Bagian yang tersisa kini adalah bekas paviliun tamu.
Bagian ruang tidur keluarga.
Bangunan rumah keluarga Weijnschenk adalah satu dari sekian contoh model rumah Indische Woonhuizen yang lekat dengan gambaran kehidupan orang Eropa di tanah koloni pada masa lalu. Menurut pandangan orang-orang Belanda pada awal abad-20, rumah Indische Woonhuis secara seni memang tidak bermutu tinggi namun rumah tersebut memberi rasa kebanggaan dan kesejukan bagi yang menghuninya. Rumah Indische woonhuizen tidak hanya semata perkara kebutuhan papan saja. Djoko Soekiman dalam karyanya yang bertajuk Kebudayaan Indis menyebutkan alasan orang Eropa mendirikan bangunan Indisch Woonhuizen juga berkaitan dengan perkara gengsi, wibawa, harta, dan kuasa. Pada masa kolonial, terbentuk strata sosial menempatkan bangsa Eropa di lapisan teratas. Untuk mengukuhkan kedudukanya di hadapan bangsa Pribumi yang dianggapnya lebih rendah, maka bangsa Eropa membangun bangunan tempat tinggalnya dalam bentuk khusus yang megah (Djoko Soekiman, 2014; 5). 
Bagian lorong tengah dengan kamar di samping kanan dan kiri.
Rumah Indisch Woonhuizen yang menjadi ikon arsitektur kolonial abad ke-19 menjadi sarana unjuk kekuasaan dan kekayaan. Baik oleh ahli bangunan yang bekerja di bawah naungan birokrasi pemerintah atau pemborong bangunan partikelir, mereka menjadikan gaya Indische Woonhuizen sebagai patokan ketika mendirikan bangunan rumah tinggal. Rumah-rumah ini menyebar luas ke setiap kota-kota besar di Hindia Belanda. Rumah-rumah tersebut biasanya berdiri di sepanjang jalan utama atau pusat pemerintahan. Keberadaan rumah-rumah Indische Woonhuizen yang berdiri di tengah pekarangan luas dan terlingkupi oleh pepohonan rimbun akhirnya membentuk kantong permukiman elit Eropa yang menghiasi wajah kota kolonial. Banyaknya pembagian fungsi ruang tersebut membuat rumah berlanggam Indische Empire Style atau Indische Woonhuis membutuhkan tanah yang luas. Bagi keluarga Weijnschenk yang berkelimpahan harta, ini bukanlah masalah. Mereka bisa memperoleh tanah di Bintaran yang tanahnya masih terhampar luas dan jarang penduduknya pada abad ke-19.

Lantai tegel bermotif.
Nasib keluarga Weijnschenk tidak diketahui sesudah kemerdekaan. Tampaknya keluarga Weijnschenk meninggalkan rumah itu pada zaman Jepang, dimana orang-orang keturunan Eropa ditawan. Sesudah ditinggalkan, pemerintah Republik Indonesia yang ibukotanya pindah ke Yogyakarta pada tahun 1948 menjadikan rumah tersebut sebagai rumah tinggal Panglima Sudirman. Namun Panglima Sudirman hanya sebentar tinggal di sana karena beliau harus memimpin gerilya dari medan tempur. Memorabilia keluarga Jenderal Sudirman mulai dari ranjang Jenderal Sudirman tidur bersama istrinya, meja kerja tempat dimana Jenderal Sudirman menuliskan surat-surat penting, pedang samurai yang pernah dipakai Jenderal Sudirman ketika masih menjadi perwira militer pada zaman Jepang dan lain sebagainya masih dijumpai di dalam kamar-kamar tersebut. Setelah Jenderal Sudirman tidak tinggal di rumah ini, bangunan ini digunakan sebagai markas militer. Selanjutnya pada tahun 1982, bangunan ini diresmikan sebagai museum.

Rumah Indis Empire di Mojoduwur, Jombang.
Arsitektur Indisch Woomhuizen umumnya identik dengan rumah atau bangunan milik orang Eropa. Tidak salah memang karena model rumah seni bangun campuran tersebut menyebar luas di kalangan orang Eropa. Namun berlawanan dengan pandangan umum, keberadaan dua rumah yang masih luput dari perhatian banyak orang ini akan memberi wawasan baru bahwa rumah model Indische Woonhuizen juga diminati oleh kalangan non-Eropa saja. Untuk contoh pertama, saya akan mengajak anda di Desa Mojoduwur, Jombang, tempat bangunan yang saya jadikan contoh ini berdiri puluhan tahun lamanya menghadap Gunung Penanggungan yang sarat dengan bangunan suci yang usianya lebih tua darinnya. Rumah ini masih dilindungi oleh pagar yang sama rentanya. Bagian muka rumah itu memperlihatkan tiang-tiang kokoh yang menjadi pengingat dari gaya arsitektur Indisch Woonhuizen.
Tampak depan rumah dengan keempat pilarnya.
Kolom besar, ciri dari arsitektur rumah Indis Empire.
Apabila diterka, boleh jadi rumah ini tidak dibangun oleh orang Belanda, melainkan oleh golongan priyayi bumiputera yang lumayan berada. Rumah memang tak sekedar sebagai tempat berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan, namun juga sebagai cermin kemapanan seseorang. Golongan priyayi adalah para aristokrat bumiputera baru yang meraih kedudukannya bukan melalui keturunan darah, melainkan dari pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial. Pendidikan memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Manakala taraf hidup mereka meningkat, mereka cenderung akan membikin rumah yang tampilannya lebih mewah dari sebelumnya. Arsitektur yang ada saat itu, yakni Indisch Woonhuis yang banyak dipakai oleh orang Eropa dipandang sebagai ukuran kemewahan. Pada saat orang Eropa mulai meninggalkan model rumah Indisch Woonhuis, kaum priyayi Jawa mulai menunjukan ketertarikannya terhadap arsitektur Indis seperti yang tampak pada sebuah tulisan yang bertajuk Layang Balewarna karya oleh Mas Sasra Sudiraja, seorang guru sekolah dasar. Dalam tulisannya, ia menuangkan gagasan agar orang-orang bumiputera mencoba untuk meniru gaya rumah para pembesar kolonial yang dianggapnya “asri, bersih, dan pantas” (Kusno, 2012; 29). Pada mulanya trend tersebut berkembang di perkotaan, namun siapa sangka jika trend itu kemudian menyebar hingga ke pedesaan. Pada desa-desa di Jawa Timur, masih banyak dijumpai model rumah Indich Woonhuizen meskipun dalam skala ukurannya lebih kecil.
Bagian dapur yang tersambung dengan bangunan induk lewat selasar.
Pintu halaman belakang.
Menapak masuk ke dalam, saya serasa dilontarkan ke masa lampau dengan aura kunonya yang masih otentik. Menurut pengakuan Abah, nyaris tiada pembaruan pada rumah ini. Atap limasan, lantai tegel, jendela lama, semua masih melekat di tempatnya. Tentang strutkur tata ruangnya, rumah ini sudah menanggalkan tata ruang Jawa yang terdiri dari pendhapa, peringgitan, dan dalem, digantikan dengan tata ruang rumah Indis yang terdiri dari beranda depan dan sepasang kamar yang dipisahkan oleh koridor untuk menghasilkan penghawaan silang. Dugaan bahwa rumah ini dibangun oleh golongan priyayi bumiputera diperkuat dari ukuran rumah ini yang cenderung kecil meski memiliki pekarangan yang lebar. Tentu saja rumah ini masih dapat memiliki pekarangan yang lebar karena letaknya berada di desa yang kepadatan penduduknya kecil.
Ruang tamu. Untuk ukuran orang Belanda, rumah ini terbilang kecil.
Lantai tegel motif yang menambah semarak rumah.
Dipercantik dengan bovenlicht besi di atas ambang pintu.
Trend rumah Indische Woonhuizen di luar kalangan Belanda juga menjamur di kalangan borjuis Tionghoa. Seperti orang bumiputera, status sosial orang Tionghoa masih berada di bawah orang Eropa walau setingkat di atas orang bumiputera. Karena itulah mereka yang makmur memiliki hasrat untuk memberi sentuhan wajah baru pada tempat tinggal mereka dalam langgam Indis supaya merasa sejajar dengan orang Eropa. Beberapa upaya pertama dilakukan oleh para hartawan Tionghoa di Semarang seperti Hoo Jam Loo, seorang pedagang candu yang mendirikan rumah bergaya Indisch Woonhuizen di Gergaji pada tahun 1876. Rumah tersebut kelak dijual kepada keluarga Oei Tiong Ham (Liem, 2004; 179). Kaidah seni bangun Tionghoa tradisonal yang sudah diwariskan secara turun temurun sudah mulai ditinggalkan. Karena dibangun tanpa bantuan arsitek yang jelas asalnya, di mata orang Eropa rumah-rumah tersebut meninggalkan kesan norak dan berlebihan (Kusno, 2012; 16).
Rumah Indische Woonhuizen di Kranggan, Semaran.
Letak rumah (kotak biru) pada peta tahun 1911 (Sumber : Plattegrond van een deel der stad Semarang).
Salah satu contoh dari kasus di atas adalah sebuah rumah kuno di kawasan Kranggan, Semarang yang letaknya masih berdekatan dengan Pecinan Semarang. Wajah cantik rumah kuno ini masih sintas meski ia sudah lama ditinggalkan penghuni terakhirnya, Ong Ing Lip. Beliau dahulunya adalah pemilik dari pabrik sandal ternama di Semarang, yakni sandal "Orie". Saya pun akhirnya menjuluki rumah ini sebagai Si Jelita dari Kranggan. Si jelita berlantai dua ini berdiri menyendiri di tengah halaman luas. Deretan bangunan komersil menyembunyikan pesonanya dari khalayak yang mondar-mandir di sepanjang jalan. Walau temboknya mulai pudar, namun pesona rumah ini masih berkilau dengan segala pernak-perniknya. Di beranda muka, akan terlihat tiang-tiang besi berlanggam korintian. 
Tiang kayu dengan kapital Korintian.
Tiga pintu depan. Selain memperlancar sirkulasi, tiga pintu pada rumah Indis Empire juga dimaksudkan untuk memberi kesan angkuh.
Sungguh sejuk rasanya ketika saya memasuki bagian beranda depan bangunan ini. Kesejukan ini tercipta dari dinding yang tebal dan tinggi dan besarnya bukaan yang ada seperti pintu dan jendela. Di bawah naungan langit-langit yang terbuat dari kayu jati, terhampar marmer berwarna putih susu yang menutupi lantai rumah ini. Saya sendiri mencoba mencopot alas kaki saya untuk merasakan lantai marmer ini. Dingin dan halus, itulah yang saya rasakan. Kualitas marmer ini tak perlu ditanyakan lagi. Ia diimpor jauh-jauh dari Italia. Dari dulu hingga sekarang, harga marmer Italia masih sama mahalnya. Hanya orang yang mampu saja yang lantai rumahnya dilapisi oleh marmer ini. Lantai marmer yang saya injak ini seolah menunjukan betapa kayanya orang yang dulu tinggal di sini. Sementara di samping kanan bangunan ini, terdapat sebuah bangunan tambahan berupa paviliun berlantai dua. Untuk naik ke lantai dua dapat dilalui dengan tangga kayu yang kini sudah hilang. Paviliun ini diperuntukan sebagai tempat tamu tuan rumah menginap serta menjadi tempat tinggal keluarga anaknya yang belum memiliki tempat tinggal. Di antara bangunan induk dan bangunan tambahan, terdapat sebuah pintu gerbang yang memisahkan area umum.
Gerbang menuju bagian belakang rumah.
Pada awal abad 20, Hindia-Belanda kedatangan kelompok arsitek dari Belanda yang telah mengenyam pendidikan ilmu arsitektur. Berbekal ilmu yang diperoleh, mereka mencoba untuk menghadirkan arsitektur yang lebih luwes, rasional dan aktual. Mereka mulai menentang wajah bangunan gaya Indis Empire yang dianggap mereka hanya menampilkan tradisi lama Eropa yang baku, kaku, kolot lagi angkuh. Pembaharuan arsitektur tersebut juga terbukti mampu menyesuaikan dirinya dengan alam tropis sehingga secara cepat arsitektur tersebut dapat diterima banyak kalangan (Kusno, 2012; 15-16). Lambat laun, pamor rumah Indische Woonhuizen mulai pudar, terlebih ketika harga tanah semakin melambung akibat kota-kota semakin padat imbas dari kenaikan jumlah penduduk. Saat tanah yang tersedia ukurannya semakin sempit, maka semakin lama rumah juga ikut mengecil. Akhirnya rumah Indische Woonhuizen perlahan tersisih dari saujana kota. Pada saat model rumah Indisch Woonhuizen mulai hilang dari muka bangunan umum, model tersebut mulai digemari oleh orang Tionghoa dan priyayi bumiputera. Semaraknya pemakaian pilar Yunani di kampung kota atau desa menunjukan keinginan penduduk untuk memberi wajah baru bangunan mereka agar bisa dianggap setara dengan orang Eropa.
Paviliun di samping kanan rumah.
Di masa kini, jumlah rumah Indische Woonhuizen yang tersisa di setiap kota hanya berjumlah hitungan jari. Selain karena ketidakpedulian, faktor lain yang mempengaruhi musnahnya rumah-rumah Indische Woonhuizen adalah pajak. Rumah-rumah Indische Woonhuizen itu dibangun di pinggir jalan raya yang ramai dan memiliki lahan yang luas sehingga pajak bumi bangunan yang harus ditanggung oleh pemilik rumah Indisch Woonhuizen juga lebih tinggi dibanding pemilik rumah biasa. Sedikit sekali pemilik bangunan yang memiliki kesadaran tinggi sekaligus mampu secara finansial untuk menjaga rumah Indisch Woonhuizen. Kadang untuk mengurangi beban pajak, tanah di depan rumah dijual dan di atasnya dibangun gedung baru yang menutupi wajah rumah lama. Hal tersebut setidaknya masih agak mendingan karena lebih banyak yang kemudian dirubuhkan total.


Referensi :
Gill. Ronald. 2002. "Perumahan Kota Gaya Belanda" dalam Indonesian Heritage : Arsitektur. Jakarta : Widyadara.

Handinoto. 2008. “Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia-Belanda Abad 19”. Dalam Jurnal Dimensi Arsitektur vol. 36, No.1, Juli 2008. Halaman 43-53.

-----------. 2012. Arsitektur  dan kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Hoogervost, Tom dan Nodhlot, Henk Schulte. 2017. "Urban Middle Class in Colonial Java (1900 - 1942) Images and Language. Dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, Vol. 173. No. 4 Special Issue : New Urban Middle Class in Colonial Java. Halaman 442-474.

Kusno, Abidin. 2012. Zaman Baru Generasi Modernis ; Sebuah Catatan Arsitektur. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Liem Thian Joe. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta : Hasta Wahana.

Lombard, Denys. 2018. Nusa Jawa Silang Budaya Bagian 1 : Batas-Batas Pembaratan. Jakarta : Penerbit Gramedia.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis ; Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Van der Kemp. P.H. 1915. "Over Kunst in Indischen Woningbouw" dalam Nederlandsch Indiche Huis Oud en Nieuw. Batavia : Architecten Bureau Ed. Cuypers en Hulswit.

Het Nieuws van den dag voor Ned.-Indie. 31 Desember 1938. "Oude Vorstenlandsche Familie in het Jogjasche : De Namen Weijsnchenk en Dezetnje komen in de Vorstenlanden Veel Voor".

Sabtu, 25 Agustus 2018

Makam Tionghoa yang Tersentuh Budaya Eropa

Salah satu hasil kebudayaan material manusia yang tertua sekaligus paling banyak ditemukan di segala tempat adalah makam. Ketika setiap kebudayaan memiliki corak hidup yang berbeda, begitu pula dalam urusan kematian, sehingga masing-masing kebudayaan menghasilkan bentuk makam yang berbeda pula. Melalui proses migrasi atau diaspora, beberapa bentuk makam dapat ditemukan di tempat yang memiliki kebudayaan berbeda, contohnya adalah makam-makam peninggalan orang Tionghoa di Indonesia atau lebih dikenal sebagai bong. Pada saat bersamaan, kehadiran orang Belanda di masa kolonial juga meninggalkan makam-makam khas Eropa. Kendati tradisi Tionghoa telah memberi aturan dalam pembuatan makam, namun adanya persentuhan dengan kebudayaan lain seperti kebudayaan Eropa menciptakan bentuk makam yang sangat menarik.  Jejak Kolonial kali ini akan mengulas tentang beberapa makam Tionghoa yang telah mendapat sedikit sentuhan dari budaya Eropa.
Gerbang masuk ke makam Tan Gee Tjhiang.
“Familie Begraafplaats van Tan Gee Tjhiang en Tan Hing Gie Salatiga Anno : 1915 “, begitulah bunyi sebuah prasasti yang menempel di dinding sebuah bangunan kuno dekat makam orang yang namanya sudah disebutkan di prasasti tersebut. Makam ini berada di Ngebong, Salatiga, tempat yang selama ini dikenal sebagai tempat permakaman orang Tionghoa di Salatiga. Letak makam ini cukup tinggi dibanding makam sekitar. Semburat puncak Gunung Merbabu terlihat mempesona dari tempat ini, sebuah tempat yang indah untuk tempat peristirahatan terakhir. Selain tempatnya yang indah, bentuk makamnya pun juga tidak kalah istimewa.
Makam Tan Gee Tjhiang.
Unsur Tionghoa pada makam Tan Gee Tjhiang masih terasa kental. Dilihat dari atas, bentuk makam masih mempertahankan dalam bentuk tradisional, yakni dalam seperti punggung kura-kura (ku-khak-bong). Bentuk punggung kura-kura ditiru karena hewan tersebut memiliki umur panjang keturunan almarhum akan dijanjikan umur panjang. Sementara menurut penafsiran J.J.M. de Groot, alasan utama mengapa makam Tionghoa memiliki bentuk demikian adalah sebagai pengganti jajaran punggung bukit yang menurut prinsip feng shui diyakini akan melindungi kuburan dari "angin berbahaya" yang berasal dari tiga sisi. Bentuk makam punggung kura-kura dikenal dalam tradisi Vietnam, Kepulauan Ryuku, dan Tiongkok Selatan. Tradisi tersebut kemudian dibawa oleh perantauan dari Tiongkok Selatan ke negeri rantau. Menempel pada makam, adalah meja altar dengan ukiran gaya Tiongkok yang dibuat begitu halus dan sedap dipandang. Meja altar itu adalah tempat peziarah meletakan sesaji dan dupa. Tradisi Tionghoa mengenal makam lebih dari sekedar tempat menguburkan insan yang telah tiada. Ia adalah salah satu sarana penghubung antara anak cucu yang masih hidup dengan leluhur. Pada bulan tertentu, sebagai tanda bakti kepada leluhur mereka menggelar tradisi ziarah makam atau dikenal sebagai cengbeng. Di makam yang mereka ziarahi, mereka membawa berbagai makanan, buah-buahan, minuman sebagai sesaji. Sesaji itu lalu diletakan di atas meja altar tadi sebagai hadiah kepada leluhur yang kemudian diikuti sembahyang penghormatan leluhur. 
Hiasan keramik.
Bongpay atau batu nisan makam masih tampak melekat di makam berusia lebih dari seabad tersebut. Pada sebuah bongpay, selain nama si meninggal, juga terkandung nama-nama sanak saudara yang ditinggalkan sebagai penghargaan atas nilai persaudaran yang senantiasa dipelihara meski sudah berpisah alam. Bongpay-bongpay itu juga bisa menjadi data genealogi yang membantu anak cucu untuk menelusuri jejak leluhurnya. Di belakang bongpay tersebut, ada gundukan tanah tempat jenazah dikuburkan sehingga makam tersebut seperti tempurung kura-kura. Sementara di samping kanan dan kiri bongpay, terdapat tembok yang mengelilingi latar depan makam.
Altar Dewa Bumi.
Unsur makam Tionghoa lain yang terdapat pada makam Tan Gee Tjhiang adalah altar Tu Di Gong atau Dewa Bumi. Pada makam-makam Tionghoa, biasanya terdapat sebuah altar kecil di sebelah kiri dari makam yang digunakan untuk altar Tu Di Gong. Fungsi altar Tu Ti Gong pada makam adalah sebagai pelindung untuk mencegah agar roh-roh jahat tidak mengganggu leluhur yang dimakamkan di tempat tersebut. Oleh karena itu, setiap orang yang akan menziarahi makam harus berdoa terlebih dahulu di altar Tu Di Gong sebagai penghormatan dan memohon izin, sebelum membakar dupa untuk leluhur. Dibanding dengan makam-makam Tionghoa lain, altar Tu Di Gong pada makam Tan Gee Tjhiang diberi rumah-rumahan kecil sehingga menjadikan altar itu seperti sebuah kelenteng mini. Namun tak hanya itu saja pernak-pernik yang ada di makam Tan Gee Tjhiang.  Jika menengok ke bagian lantai yang terhampar di depan makam, di sana a kan terjumpai hiasan keramik Eropa. Buah Pala, pedang simbol kota Batavia, singa lambang Kerajaan Belanda, hingga monogram VOC, semua hiasan ini nyata sekali adalah milik Eropa. Inilah yang menjadikan makam Tan Gee Tjhiang lain daripada makam Tionghoa lain di Ngebong, Salatiga.
Monumen di belakang makam Tan Gee Tjhiang.
Beranjak ke belakang makam, akan terjumpai dua monumen yang secara kasat mata seperti monumen buatan orang Eropa. Sepasang patung singa jantan gaya Eropa menjaga setiap monumen ini. Monumen ini sekilas berbentuk seperti plengkung kemenangan yang dibuat oleh bangsa Romawi dengan plengkung pada keempat sisinya. Sementara di atas plengkungan terpampang dua sengkalan, 1915 untuk tahun Masehi dan 2466 untuk tahun Cina. Sengkalan itu menjadi penanda tahun makam itu dibangun. Sementara itu, sebaris tulisan Mandarin yang ditulis dari atas ke bawah juga menghiasi kedua monument itu. Nyaris terlihat identik, namun terdapat perbedaan dalam rincinya. Kedua monument ini tampaknya bertalian dengan konsep dualisme dalam filosofi Tionghoa, dimana Alam Semesta seisinya ini diciptakan secara berpasang-pasangan.
Bekas bangunan paseban.
Hal lain yang membuat makam Tan Gee Tjhiang ini tampak berbeda dari yang lain adalah keberadaan bangunan kuno yang masih berdiri di dekat makam ini walau keadaanya sudah tampak lusuh. Menurut keterangan penjaga makam yang kini tinggal di bangunan itu, bangunan yang ia tempati sekarang di masa silamnya adalah paseban tempat keluarga beritirahat jika mereka sedang berziarah ke makam ini. Rasanya cukup masuk akal mengingat letak makam ini berada di tempat yang tertinggi sehingga cukup menguras tenaga bagi mereka yang berziarah ke sini. Dilihat sekilas, bangunan ini seperti paviliun yang sering ada di samping kiri atau kanan rumah orang Eropa.

Makam Tan Gee Tjhiang adalah salah satu contoh awal hasil silang budaya Tionghoa dengan Eropa. Walau orang Tionghoa secara kukuh berusaha menjaga tradisinya, namun persentuhan dengan orang-orang Eropa di masa kolonial membuat beberapa kebudayaan Eropa merasuk ke dalam sendi orang Tionghoa. Dalam struktur sosial kolonial, orang Tionghoa berada di derajad kedua, setingkat di bawah orang Eropa dan setingkat di atas orang pribumi. Jika pemerintah kolonial dalam urusan politik menjadikan bupati sebagai perantara dengan orang pribumi, maka dalam urusan ekonomi, mereka memilih orang Tionghoa sebagai perantara mereka. Dari situ terbentuk hubungan antara importir Eropa dengan konsumen pribumi (Stroomberg, 2018; 61). Dengan sifat giat dan hemat, orang Tionghoa mampu menggapai kemakmuran dengan jumlah kekayaanya mampu mengungguli milik orang Eropa. Seperti halnya orang-orang kaya masa kini, beberapa di antara mereka menjadikan gaya hidup Eropa sebagai patokan gengsi. Selain itu, dengan meniru gaya hidup mereka, setidaknya meraka akan dianggap setara dengan orang Eropa yang saat itu berada di lapisan paling atas dalam sistem sosial kolonial. Salah satu upaya awal dilakukan oleh taipan gula asal Semarang, Oei Tiong Ham yang mengajukan izin kepada Gubernur Jenderal pada 1889 agar diperkenankan mengenakan busana ala barat karena saat itu orang Tionghoa masih dilarang memakai busana ala barat. Baru pada tahun 1905 orang Tionghoa diberikan kebebasan untuk memakai pakaian gaya barat (Liem, 1931; 184). Sesudah itu, semakin banyak orang Tionghoa yang mengadopsi gaya hidup kebarat-baratan, apalagi setelah mereka mengenyam pendidikan Belanda di HCS (Hollandsch Chinesee School). Thauw-chang atau rambut kucir ditanggalkan oleh generasi muda Tionghoa yang sudah mendapat pendidikan barat. Sementara pengantin Tionghoa mulai mengenakan busana pengantin Eropa meski mereka masih menjalankan upacara pernikahan sesuai adat tradisional (Liem, 1931; 239). Selain dalam bentuk busana, pengaruh Eropa dalam gaya hidup orang Tionghoa juga terlihat pada bentuk rumah dan makam.
Mausoleum Thio Sing Liong.
Makam berikutnya yang merupakan hasil silang budaya Tionghoa-Eropa adalah mausoleum yang terletak di Jalan Sriwijaya, Peterongan, Semarang. Dengan gunungan atap yang tebal dan tinggi, mausoleum yang menyerupai bangunan klenteng itu menaungi makam dari Thio Sing Liong beserta istrinya yang kedua. Dahulu, lingkungan sekitar mausoleum itu masih merupakan lahan permakaman Tionghoa di Semarang. Desakan pembangunan membuat banyak makam lainnya tersingkir dan akhirnya tinggal menyisakan mausoleum Thio Sing Liong yang kini terkepung di antara bangunan komersil dan perkampungan padat. Bagian depan mausoeleum itu dilindungi oleh pintu besi dengan jerujinya yang dibuat dalam bentuk yang cantik. Walau terlihat terkunci rapat dari luar, namun masih ada pintu lain untuk masuk ke dalamnya. Pintu tersebut berada di belakang mausoleum, dimana terdapat makam Tionghoa lain milik kerabat Thio Sing Liong. Untuk masuk ke dalam bisa memberitahu penjaga makam yang membuka bengkel di dekat mausoleum tersebut.
Bagian dalam makam Thio Sing Liong.
Arsitektur Tionghoa memang tampak kentara sekali dari luar makam, namun siapa sangka jika bagian dalam makam justru nuansa Eropa yang lebih terasa. Tidak ada gundukan tanah lazimnya makam Tionghoa dan sebagai gantinya adalah dua sarkofagus besar dari batu pualam hitam. Di dalam sarkofagus itulah jenazah Thio Sing Liong dan istrinya yang kedua dibaringkan. Pada sisi depan setiap sarkofagus, dipahatkan inkripsi yang jamak tertulis pada sebuah bongpay. Thio Sing Liong semasa hidupnya dikenal sebagai pebisnis terkemuka di Semarang dan pendiri dari N.V. Handel Maatschappij Thio Sing Liong yang bergerak di bidang perdagangan gula (De Indische Courant 16 Desember 1940). Pada tahun 1940, Thio Sing Liong meninggal dan berbagai kelompok masyarakat Tionghoa memberi karangan bunga duka cita yang masih tersimpan di dalam makamnya. Sementara itu, istri kedua Thio Sing Liong sudah meninggal terlebih dahulu. Dalam tradisi Tionghoa, makam sepasang suami istri hampir selalu dibuat berdampingan atau dimakamkan dalam satu lubang yang sama sebagai penghormatan atas nilai ikatan perkawinan. 
Patung pada tutup peti makam.
Foto Thio Sing Liong.

Tutup sarkofagus kedua makam terlihat menakjubkan. Pada tutup yang terbuat dari pualam putih asal Italia tersebut, diimbuhkan patung yang dipahat menyerupai figur Thio Sing Liong dan istrinya yang kedua. Kedua patung tersebut ditampilkan mendekati aslinya dengan sorot mata yang terlihat nyata. Pandangan keduanya menghadap ke utara, dimana di sana terdapat kawasan pecinan, tempat tinggal mereka sewaktu masih hidup di dunia. Figur Thio Sing Liong terlihat necis dengan kemeja dan jas, serta potongan rambut rapi, persis seperti foto dirinya yang dipajang di samping makamnya. 
Insrkipsi makam.
Bentuk makam seperti yang terlihat di dalam mausoleum Thio Sing Liong sejatinya adalah tradisi dari bangsa Etruska, sebuah bangsa yang pernah mendiami semenanjung Italia sebelum masa Romawi. Pada tutup makam bangsa Etruska, kadang dipahatkan figur dari jenazah yang dimakamkan di dalamnya (Kerrigan, 2017; 65). Kedua patung itu sendiri memperlihatkan figur Thio Sing Liong dan istrinya dalam posisi separo badan, seakan mereka berdua terbangun dari tidur panjangnya dengan selimut yang belum sempat disingkirkan. “ Dalam beberapa kebudayaan”, terang Kerrigan, “kematian hanyalah tahapan peralihan ke kehidupan berikutnya karena kehidupan sendiri dipandang sebagai siklus”.
Mausoleum O.G. Khouw.
Dibanding dua makam pada tulisan di atas, mausoleum yang terletak di TPU Petamburan, Jakarta ini begitu kentara nuansa Eropa dengan bentuk kubah dan pilar tuscan. Ya, inilah mausoleum dari Oen Giok Khouw, seorang tuan tanah kaya nan dermawan yang pernah hidup di masa kolonial. Bukanlah suatu hal yang mengherankan bilamana makam O.G. Khow ini tampak ke-Eropaan karena O.G. Khouw sendiri menyandang status sebagai warga negara Belanda. Hal tersebut sontak mengejutkan kalangan Eropa dan Tionghoa di Hindia-Belanda yang masih terjebak dalam pusaran diskriminasi ras. Berkat status yang disandangnya sejak tahun 1908, ia secara leluasa beranjangsana ke berbagai negeri di Eropa, dari Belanda, Perancis, hingga di negeri terakhir yang ia sambangi dalam hidupnya, Swiss. Di kota Ragaz, Swiss, O.G. Khouw mengehembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1927. Lokasi makamnya dipilih di Begraafplaats Petamburan yang saat itu adalah permakaman paling modern di Batavia.
Makam O.G. Khouw dilihat dari dekat
(sumber : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)
Makam O.G. Khouw dilihat dari luar pagar.
(Sumber : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)
Pada tahun 1929, istri O.G. Khouw, Lim Sha Nio membangunkan sebuah mausoleum megah untuk suaminya. Dengan harta yang bergelimang, tentu tak menjadi masalah untuk mengeluarkan biaya sebesar 500.000 gulden atau sekitar 3 milyar rupiah untuk pembangunan makam tersebut (De Sumatra Post, 9 September 1932). Uang sebesar itu digunakan untuk mendatangkan bongkahan batu granit dan pualam dari Italia serta membayar seniman dan arsitek yang merancang makam tersebut. Mengikuti gaya hidup suaminya, makam itupun dibuat dalam langgam Eropa. Makam tersebut memiliki atap berbentuk kubah dari perunggu yang ditopang oleh pilar-pilar klasik berbahan granit yang digosok sampai mengkilap. Kubah tersebut menaungi pusara O.G Khouw dan istrinya. Di atas pusara tersebut, menjulan sesosok patung malaikat perempuan bergaya Eropa yang dengan setia mendampingi pusara O.G. Khouw dan istrinya. Di belakang makam tersebut, terdapat tangga melingkar yang mengarah ke sebuah relung bawah tanah tempat abu O.G. Khouw dan istrinya di simpan. Pada relung tersebut, akan didapati ukiran wajah dari O.G. Khouw dan Lim Sha Nio. Dahulu, relung tersebut diterangi dengan lampu listrik. Makam O.G. Khow yang selesai dibuat pada tahun 1931 ini memang sungguh mewah bahkan menurut berbagai surat kabar saat itu, makam taipan kelas kakap asal Amerika Serikat, John D. Rockefeller, tak mampu menyamainya. Kemewahan makam ini sampai tersiar ke negeri Belanda, dimana media massa Belanda menyebut makam ini sebagai Mausoleum van Een Half Milioen "Makam Setengah Juta Gulden". Makam ini sendiri tidak semata sebagai tempat peristirahatan terakhir, namun juga sebagai suatu karya seni yang patut untuk dikagumi. Saat diresmikan, banyak orang yang mendatangi makam tersebut mulai dari para anggota Volksraad hingga konsulat Italia. Algemeen Handelslbad voor Ned. Indie 29 September 1932 mencatat ada 19.167 pengunjung yang mendatangi makam tersebut setahun sejak makam tersebut dibuat.
Prasasti yang menunjukan pembuat makam O.G. Khow.
Di halaman makam yang sempat menjadi latar salah satu adegan film komedi “Manusia 6 Juta Dollar” ini, empat patung  pemuda dan anak kecil dalam gaya Eropa menyambut pengunjung yang hendak melihat makam ini. Keempat patung tersebut terbuat dari batu marmer Italia. Lalu persis di pinggir pintu masuk, terdapat prasasti yang menyatakan bahwa makam ini dirancang oleh G. Racina, seniman dan pemilik perusahaan AI Marmi Italiani dari Surabaya yang termahsyur sebagai pembuat batu nisan terbaik di seantero Hindia-Belanda. Kisah dari AI Marmi Italiani, perusahaan yang bergelut di bidang kerajinan batu marmer ini sendiri cukup menarik untuk diikuti. Pada tahun 1897, datang dua warga negara Italia bernama G.G. Aleazzi dan A.G. Racina di Surabaya. Kedua orang tersebut memiliki pengetahuan yang baik mengenai seni pahat batu gaya Eropa. Melihat saat itu masih sedikit usaha yang bergelut di penjualan batu alam untuk batu nisan dan dekorasi rumah di Hindia-Belanda, maka mereka mendirikan perusahaan AI Marmi Italiani pada tahun 1910 dengan modal 50.000 gulden. Perusahaan tersebut mendatangkan batu pualam Italia yang dikenal bermutu tinggi dan kemudian diolah untuk dijadikan dekorasi makam maupun rumah. Usaha mereka terus tumbuh sehingga pada tahun 1925, mereka membuka galeri di Pasar Besar No. 34 Surabaya dan menjadi galeri marmer Italia pertama di Hindia-Belanda. Etalase galeri dibuat semenarik mungkin dan diisi dengan kerajinan berbahan marmer sehingga orang tertarik untuk membeli karya mereka. Proses pembuatan kerajinan dibuat di studio yang ada di Lemah Putro. Di studio AI Marmi Italiani, terdapat 14 orang pekerja yang seluruhnya adalah orang Jawa dan masing-masing dari mereka memiliki tugas khusus seperti membuat batu nisan, dekorasi, dan memotong balok. 
Patung di halaman mausoleum O.G. Khouw buata A.I. Marmi Italiani.
Meskipun makam O.G. Khouw menggunakan bahan dari luar, namun pengrajin yang membantu Racina dipilih dari orang-orang lokal. Racina sengaja mempekerjakan orang lokal karena selain upah mereka lebih murah, Racina ingin mewariskan pengetahuan seni pahat Eropa kepada orang lokal. Para pekerja lokal saat itu belum memiliki keterampilan dalam membuat patung gaya Eropa. Maka dari itu, Racina yang memahami dengan baik karakter orang Jawa memberi pelatihan kepada mereka selama lebih dari 20 tahun. Lambat laun orang-orang Jawa yang telah dilatih Racina dapat meniru karya-karya pematung Eropa. Racina berpandangan bahwa akan lebih baik bila Hindia-Belanda dapat membuat sendiri patung pualam bergaya Eropa yang dibuat sendiri oleh tangan-tangan pemahat lokal sehingga Racina tidak pernah memesan patung dalam bentuk jadi dari Eropa. Racina juga tidak ingin karyanya dibawa keluar negeri sehingga bila ada pemesan dari luar, Racina memilih untuk mengirim pekerjanya ke tempat pemesan. Sebagai orang Italia, Racina bangga dapat membagikan pengetahuan bangsanya kepada orang-orang pribumi dan secara tidak langsung membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Perusahaan AI Marmi Italiani segera dikenal luas atas hasil kepiawaianya yang bermutu tinggi dan menjadi gengsi tersendiri bila mampu membeli karyanya meskipun harganya amat mahal (De Indische Courant ; Oost Java Editie, 1925). 
Batu nisan O.G. Khouw.
Bentuk makam tradisional Tionghoa berupa gundukan tanah sudah sepenuhnya ditinggalkan pada makam O.G. Khouw, tergantikan dengan bentuk peti mati ala Eropa. Batu nisan yang dipakai  bukan lagi berupa batu andesit, tergantikan oleh kilau batu granit hitam. Tertera di atas batu nisan, nama O.G. Khouw, tempat tanggal lahir dan tempat tanggal meninggalnya dalam bahasa Belanda, tidak lagi memakai huruf Mandarin. Nama sanak keluarga yang masih hidup atau yang sudah meninggal tak lagi disertakan dalam batu nisan O.G. Khouw. Selain itu, nama marga Khouw tidak lagi ditaruh di depan seperti nama orang Tionghoa pada umumnya, namun ditaruh di belakang mengikuti kebiasaan penamaan orang Eropa.
Patung malaikat. Dalam konsep seni makam Barat, malaikat merupakan perlambang dari duka.
Demikianlah ulasan Jejak Kolonial mengenai sebagian contoh kecil makam Tionghoa bergaya Eropa. Tidak menutup kemungkinan jika  di luar sana tentu masih banyak lagi beberapa makam Tionghoa bergaya Eropa. Menariknya, sejauh ini makam-makam tersebut baru ditemukan di Indonesia. Keberadaan makam-makam yang kelewat mewah untuk sebuah makam Tionghoa ini menjadi penanda adanya persentuhan budaya Tionghoa dengan budaya Eropa di Indonesia. 

Referensi

Kerrigan, Michael. 2017. Sejarah Kematian ; Tradisi Penguburan dan Ritus-ritus Pemakaman dari Zaman Kuno sampai Zaman Modern. Jakarta : Elex Media Computindo.

Jiang, Rinto. 2011. Tata cara Penulisan Nisan Tradisional Tionghoa dalam http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/404-tata-cara-penulisan-nisan-bongpay-tradisional-tionghoa

King Hian. 2012. Penjelasan tentan Bongpay dalam http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1908-penjelasan-tentang-bongpai-1

Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij

Liu Weilin. 2013. Pandangan Orang Tionghoa Terhadap Kematian dalam http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3675-pandangan-orang-tionghoa-terhadap-kematian

Stroomberg, J. 2018. Hindia-Belanda 1930. Yogyakarta : IRCiSoD.

De Indische Courant ; Oost Java Editie, 1925.

Algemeen Handelslbad voor Ned. Indie 29 September 1932

De Sumatra Post, 9 September 1932