Tampilkan postingan dengan label Pecinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pecinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2020

Klenteng Hwie Wie Kiong dan See Hoo Kiong ; Dua Mutiara Tersembunyi di Pecinan Semarang

Bagi pelancong yang pertama kali menjelajah Pecinan Semarang, mencari dua klenteng ini ibarat menyelam ke bagian terdalam samudera untuk mendapatkan mutiara. Dua tempat ibadah orang Tionghoa ini letaknya memang tersembunyi di tengah padatnya Kampung Sebandaran yang berada di bantaran Kali Semarang,dan jauh dari kata tersohor seperti halnya klenteng Sam Poo Kong. Kendati demikan, siapapun yang berhasil menemukan klenteng ini akan dibuat terkesima dengan kekunoan dan keindahannya laksana mutiara. Inilah cerita dari Klenteng Hwie Wie Kiong dan See Hoo Kiong...
Letak klenteng Hwie Wie Kiong (1) dan See Hoo Kiong (2).
Klenteng Hwie Wie Kiong.
Tampak luar dari klenteng Hwie Wie Kiong terlihat lengang Hanya ada dua kendaraan yang terparkir di halamannya yang tak begitu luas. Karakter Tiongkok selatannya langsung terlihat dari bentuk bubungan atapnya yang menyerupai jurai ekor walet. Patung shi zi atau singa jantan dan betina sebagai simbol keharmonisan, menyambut setiap pengunjung klenteng. Dinding depannya dihiasi dengan ukiran detail, menampakan kepiawaian para pengrajin kayu Tionghoa yang mencurahkan seluruh keahliannya di dindingnya. Dari rangka konstruksi atap terbuka hingga ukiran jendela depan yang menampilkan ukiran naga yang tampak natural. Ukiran naga tersebut bisa dikatakan adalah ukiran yang paling menawan dari klenteng ini. Pada dasarnya, hiasan pada klenteng bukan sekedar pemanis saja. Di dalamnya, terkandung  pesan moral dan “doa bisu”. Semisal adalah ukiran naga tadi. Dibalik tampangnya yang gahar nan seram, naga dalam mitologi Tiongkok sesungguhnya adalah makhluk pembawa berkah dan pemberi perlindungan. Jika diamati seksama, naga ini hanya memiliki empat kuku, jumlah kuku tertinggi yang diperbolehkan untuk rakyat biasa. Naga berkuku lima dikhususkan untuk bangunan kekaisaran.
Dinding luar klenteng Hwie Wie Kiong.
Ukiran naga.
Secara garis besar, tata ruang klenteng ini dibagi menjadi tiga, yakni ruang suci utama, balai leluhur, dan ruang paling belakang yang belum diketahui fengshuinya. Tidak ada bangunan samping seperti lazimnya klenteng-klenteng besar. Klenteng Hwie Wie Kiong memiliki tiga pintu masuk ke dalam ruang suci utama, namun pintu masuk yang sering dilalui oleh pengunjung adalah pintu masuk yang paling kanan. Hal tersebut rupanya juga ada maknanya. Pintu paling kanan disebut Pintu Naga Hijau (Qinglong) sementara pintu kiri klenteng disebut Pintu Macan Putih (Baihu). Masuk melalui pintu kanan merupakan lambang kemakmuran sementara keluar dari mulut macan merupakan lambang lolos dari bahaya. Sehingga diharapkan setiap orang yang masuk keluar klenteng diberi kemakmuran dan lolos dari bahaya. Sementara itu, pintu tengah klenteng senantiasa dibiarkan. Pintu ini biasanya dibuka pada perayaan Cap Go Meh dan patung dewa utama klenteng akan dibawa keluar melalui pintu ini. Dua daun pintu dihiasi lukisan malaikat pintu yang disebut Qie-Lan Pu-Sa dan Wei-tuo-Pu-Sa. Keduanya adalah Bodhisattva pelindung agama Buddha dan dilukis di pintu sebagai simbol pelindung klenteng dari roh jahat. Pada setiap pintu, terdapat ambang balok yang disebut di fu ban yang dapat dilepas.
Bagian dalam klenteng Hwie Wie Kiong.
Melangkah ke dalam, semerbak asap menyeruak dari batang dupa yang tertancap di depan altar, dibarengi aroma khasnya yang memenuhi setiap sudut ruang klenteng. Sebagai sumber pencahayaan alami dan sirkulasi udara, terdapat tiga ruang terbuka di klenteng ini. Dua ruang terbuka kembar berada di belakang serambi, dan satu ruang terbuka lainnya terletak di balai belakang. Keberadaan tiga ruang terbuka tersebut menghasilkan iklim sejuk di dalam ruang, tidak sesak oleh asap dupa karena udara senantiasa bergerak mengalir. Sementara sinar mentari juga bebas masuk tanpa menimbulkan panas. Orang akan merasa nyaman tatkala berada di dalam. Ketika siang hari, bagian dalam klenteng menjadi terang benderang.
Ruang terbuka sebagai sumber cahaya dan udara.
Suasana sepi adalah pemandangan sehari-hari dari klenteng Hwie Wie Kiong. Wajar karena klenteng ini bukan termasuk klenteng yang cukup terkenal di Semarang seperti klenteng Sam Poo Kong. Dinding klenteng dilabur dengan warna hitam, kuning dan merah yang berpadu indah, menghamburkan keindahaan arsitektur Tiongkok yang masih terjaga keasliannya. Atap bangunan dipikul oleh rangka konstruksi atap terbuka tanpa penutup plafond, sehingga memperlihatkan keseluruhan rangka yang dihias begitu meriah. Melihat permainya ornamen dan megahnya ukuran klenteng ini seakan menunjukan kemakmuran Tan Thiang Tjhing, sang pendiri klenteng indah ini. Membahas klenteng ini memang perlu menyinggung tentang sosok Tan Thiang Tjhing karena klenteng ini adalah bagian dari sejarah kehidupan sang “mayor” pemimpin orang Tionghoa di Semarang yang pernah hidup di masa kolonial.
Rangka-rangka penopang atap.
Menukil dari buku “Riwayat Semarang” karya dari Liem Thian Joe, dijelaskan bahwa Tan Thiang Tjhing adalah putra dari juragan Bing, pemilik penggilingan gula di Semarang. Tidak diketahui dengan pasti kapan ia lahir, hal yang diketahui dari masa kecilnya adalah bahwa walau lahir di Semarang, namun masa kecilnya dihabiskan di negeri Tiongkok. Ketika beranjak dewasa, ayahnya memanggil Tan Thiang Tjhing untuk kembali ke Semarang karena ayahnya dipekerjakan oleh pemerintah kolonial untuk mengurus pacht kehutanan sehingga dibutuhkan tenaga untuk mengelola penggilingan gula. Penggilingan gula tersebut kemudian diwariskan kepadanya sesudah ayahnya meninggal. Tahun 1809, berdasarkan pai yang masih ada hingga hari ini, Tan Thiang Tjhing diangkat sebagai Letnan oleh pemerintah kolonial. Walau menyandang gelar militer, bukan berarti Tan Thiang Tjhing memiliki kuasa atas sekelompok serdadu. Gelar tersebut sesungguhnya diberikan pemerintah kolonial sebagai tanda bahwa Tan Thiang Tjhing adalah kepala masyarakat sekaligus penyambung lidah penduduk Tionghoa di Semarang dengan pemerintah kolonial (Liem, 1931 ; 90).
Pai yang menandai pengangkatan Tan Thiang Tjhing sebagai Letnan pada 1809 dan Mayor pada 1829.
Pada tahun 1814, Tan Thiang Tjhing ingin menunjukan baktinya kepada leluhurnya dengan mendirikan sebuah klenteng yang juga merangkap sebagai balai leluhur bagi marganya. Leluhur yang dimaksud ialah Tan Goan Kong. Siapakah gerangan sosok Tan Goang Kong ini sehingga sebuah sebuah klenteng dipersembahkan untuknya oleh salah satu keturunannya ? Alkisah di era Dinasti Tang, ada suatu tempat di dataran Tiongkok Selatan bernama Tjiang-Tjioe (Zhangzhou). Kala itu, wilayah tersebut masih belum tersentuh oleh pengaruh pemerintahan kaisar Tiongkok sehingga hampir segala kejahatan terjadi di situ. Jenderal Tan Goan Kong atau dalam ejaan Pinyin bernama Chen Yuanguang, diutus oleh Kaisar Tiongkok, Ruizong, untuk mengamankan wilayah tersebut. Setelah keamanan terjamin, Tan Goan Kong mengubah daerah tersebut dari sarang bandit menjadi daerah yang makmur. Walau sudah menjadi wilayah makmur, namun nyatanya masih ada pemberontakan di sekitar Tjiang-Tjioe. Tan Goan Kong bersama pasukannya berusaha menumpasan pemberontakan tersebut dan nahasnya, Tan Goan Kong tewas dalam pertempuran itu. Atas jasa-jasanya, kaisar Xuanzong yang menggantikan kaisar Riuzong, menganugerahkan gelar anumerta kepadanya dan memberi titah untuk mendirikan kuil penghormatan kepada Tan Goan Kong. Hari ini, kuil atau klenteng yang dipersembahkan kepada sang jenderal agung tersebar di berbagai penjuru, termasuk klenteng yang diangun Tan Thiang Tjhing. Lantaran klenteng ini didirikan oleh salah satu anggota marga Tan, maka nama klenteng ini dulunya dikenal dengan nama klenteng Tan Seng Ong.
Rumah tinggal mayor Tan di Sebandaran (sumber : colonialarchitecture.eu).
Tampaknya semesta memberkati kehidupan Tan Thiang Tjhing sesudah ia mendirikan klenteng sebagai tanda bakti terhadap leluhurnya. Pemerintah kolonial menaikan pangkat Tan Thiang Tjhing menjadi Kapten, menggantikan Kapitan Tan Thiang Khong yang mengundurkan diri karena alasan usia. Pada 1829, pangkat Tan Thiang Tjing sekali lagi ditinggikan. Kali ini ditinggikan dengan pangkat Mayor, menjadikannya sebagai orang Tionghoa pertama di Semarang yang mengemban pangkat tertinggi itu. Pangkat tersebut memang pantas disematkan kepada Tan Thiang Tjing karena ia berjasa dalam melindungi nyawa penduduk Tionghoa di Semarang selama terjadinya Perang Jawa. Pai dari Tan Thiang Tjhing yang menandai pengangkatannya sebagai Letnan dan Mayor masih dilestarikan dan dipajang berjejer di depan balai leluhur. Sepanjang hidupnya, Tan Thiang Tjhing dikenal memiliki sifat royal. Ia tidak segan memberi hadiah mahal kepada koleganya sebagai upaya memelihara ikatan persahabatan. Hal inilah yang membuat nama Tan Thiang Tjhing tak hanya kondang di Semarang, namun di tempat lainnya. Tan Thiang Tjhing semasa hidupnya menempati rumah mewah di sisi selatan Sungai Semarang yang dijuluki Gedong Gula karena dibangun di bekas gudang gula yang juga masih kepunyaanya. Wilayah tempat tinggalnya berangsur-angsur berubah nama menjadi Sebandaran, berasal dari kata bandar karena Tan Thiang Tjhing dikenal sebagai bandar yang memegang banyak pacht atau konsensi. Bermodal pacht yang ia pegang itulah ia mampu meraih kemakmuran yang tercermin lewat rumah dan klenteng yang didirikannya ini. Tan Thiang Tjhing meninggal pada tahun 1833 sesudah memangku jabatan mayor selama empat tahun (Liem, 1931; 116-117). Sayangnya, bangunan rumah indah sang mayor telah lama musnah dan boleh dibilang bila klenteng Hwie Wie Kiong tinggal satu-satunya warisan yang masih bisa dijumpai. Lambat laun, semua orang di luar marga Tan dapat bersembahyang di klenteng tinggalan Tan Thiang Tjhing ini.
Balai leluhur marga Tan.
Beranjak ke belakang, terdapat bangunan yang dikhususkan sebagai balai leluhur untuk marga Tan. Balai leluhur atau istilah lainnya disebut sebagai rumah abu, tempat disimpannya  papan arwah atau sin ci. Keberadaan balai leluhur bertalian erat dengan kepercayaan tradisional Tiongkok, dimana orang Tionghoa menjunjung rasa hormat yang tinggi kepada orang yang sudah meningal dunia karena mereka percaya orang yang sudah meninggal masih memiliki kehidupan yang berkelanjutan dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keberuntungan untuk mereka yang masih hidup di dunia. 

Bagian dalam balai leluhur marga Tan.

Fitur utama dari balai leluhur adalah meja altar dan lemari yang berisi sin ci. Selain budaya Tionghoa, sin ci atau papan arwah jamak dijumpai pada kebudayaan masyarakat Asia Timur lain seperti di Korea (shinwi) dan Jepang (ihai). Papan ruh tersebut memuat nama-nama orang-orang yang sudah meninggal. Penyusunan letak papan arwah biasanya disusun bertingkat sesuai silsilah keluarga dan tingkat yang tertinggi diperuntukan bagi leluhur paling atas. Di depan lemari, terdapat meja altar dan deretan kursi. Pada hari-hari khusus, beragam buah-buahan, minuman, dan makanan akan disajikan di atas meja tersebut sebagai persembahan terhadap arwah leluhur. Deretan kursi tetap dibiarkan kosong karena dipercayai bahwa arwah leluhur sedang duduk di kursi-kursi tersebut untuk menikmati persembahan.
Klenteng See Hoo Kiong.
Beringsut dari klenteng Hwie Wie Kiong, hanya berjalan beberapa langkah ke barat akan dijumpai bangunan klenteng lain yang juga tak kalah megahnya dengan klenteng Hwie Wie Kiong. Klenteng itu adalah klenteng See Hoo Kiong. Dari luar, klenteng See Hoo Kiong juga sama sepinya.  Dari luar, terlihat hanya ada tiga orang yang sedang duduk-duduk di serambi klenteng, mencari keteduhan di tengah panasnya udara kota Semarang. Dibanding klenteng klenteng Hwie Wie Kiong, pekarangan depan klenteng ini jauh lebih luas. Pekarangan suatu klenteng umumnya bersifat profan, dimana segala kegiatan masyarakat dilangsungkan di sini. Oleh karena itu, pekarangan depan klenteng harus bebas dari struktur permanen seperti pohon dan tiang. Hal lain yang patut diperhatikan dari klenteng ini adalah jumlah undakannya lebih banyak sehingga klenteng ini tampak lebih tinggi dibandingkan klenteng klenteng Hwie Wie Kiong. Hal tersebut menandakan bahwa klenteng tersebut memiliki status yang lebih tinggi di antara klenteng-klenteng di Semarang.
Satu dari dua pasang patung shi zi, sepasang singa jantan dan betina sebagai simbol keharmonisan.
Di antara seluruh klenteng di Pecinan Semarang, klenteng ini adalah yang paling bungsu. Dibangun tahun 1881, pembangunan klenteng ini diprakarasi oleh Liem Siong Djian dan Liem Kiem Ling. Seperti tak mau ketinggalan dengan marga Tan, mereka berdua ingin mendirikan klenteng untuk marga mereka. Untuk mewujudkan pembangunan klenteng tersebut, anggota marga Liem mendermakan uangnya. Klenteng marga Liem itupun akhirnya dibangun di lahan yang masih bersebelahan dengan klenteng milik marga Tan (Liem; 1931; 174). Setelah klenteng dibangun, tampaknya kemakmuran menyertai kehidupan marga Liem. Beberapa keturunan mereka sukses menjadi taipan. Di samping klenteng ini, sisa kejayaan marga Liem yang masih dapat ditemui adalah bangunan villa Puri Gede di Candibaru, Semarang (kini Rumah Dinas Wakil Gubernur Jateng) dan villa yang kini menjadi bagian dari Hotel Semesta.
Pai klenteng See Hoo Kiong dengan lukisan mural pada ambang pintu.
Dilihat tata ruang dan komponen bangunannya, klenteng See Hoo Kiong bisa dikatakan sebelas-dua belas dengan klenteng Hwie Wie Kiong. Perbedaan yang terlihat hanyalah pada hiasan nan indah yang tergurat pada kayu-kayu serta ukuran bangunannnya saja. Nuansa Tiongkok masih melekat erat pada  pada tampak luar klenteng See Hoo Kiong seperti halnya klenteng Tan Seng Ong yang bersanding di sebelahnya. Atap klenteng memiliki bubungan atap berbentuk seperti jurai ekor walet atai yanwei yang menjadi ciri arsitektur Minnan. Di pucuk atap ekor waletnya, bertengger dua pasang naga yang saling berhadapan menghadap sebuah bola api. Pinggiran genting pada titisan serambi diberi penutup tabung bergelasir yang disebut liuliwa. Genting semacam ini hanya diperuntukan untuk istana kekaisaran atau bangunan suci. Salah satu hiasan pembeda klenteng ini adalah mural pada ambang bagian atas pintu yang menggambarkan kisah-kisah rakyat Tiongkok yang sarat dengan hikmah dan pesan. 
Ruang utama klenteng. Tampak bagian lantai yang masih dilapisi tegel lama.
Hal yang membuat bangunan klenteng tampak terlihat seragam adalah karena adanya semacam kaidah yang harus dipatuhi dalam pembangunan klenteng. Hal tersebut bertujuan sebagai upaya menyelaraskan diri dengan energi yang terkandung di alam sehingga kehidupan di dunia berlangsung lancar dan tidak terganggu oleh suatu halangan. Karenanya, dibalik fisik klenteng yang indah, tersimpan makna-makna yang terkait dengan kosmologi maupun falsafah orang Tionghoa yang mengutamakan keselarasan dengan alam dan pengaturan kosmologi dalam kepercayaan mereka, dengan demikian klenteng memiliki dimensi yang tampak dan yang tidak tampak (Cangianto, 2013).
Toapekong Thian Siang Seng Boo.
Klenteng See Hok Kiong adalah klenteng yang dipersembahkan kepada dewi lautan, Thian Siang Seng Boo atau Dewi Laut. Sebutan lainnya lainnya adalah Maktjouw Poo atau Mazu. Perihal asal-usul Thian Siang Seng Boo patut juga diceritakan di sini. Syahdan, pada abad ke-10 di wilayah Hokkian, hiduplah seorang perempuan Liem Bik Nio yang masih merupakan leluhur marga Liem. Sewaktu bayi, Liem Bik Nio samasekali tidak pernah menangis seperti bayi pada umumnya. Sesudah usia 8 tahun, Liem Bik Nio disekolahkan dan ternyata ia termasuk murid yang sangat cerdas. Suatu hari, ayah Liem Bik Nio didatangi oleh seorang pendeta Tao. Rupanya maksud kedatangan pendeta Tao itu adalah untuk menyampaikan kepada ayahnya bahwa Liem Bik Nio menunjukan tanda-tanda seorang calon dewa. Pada saat berusia 16 tahun, Liem Bik Nio secara tidak sengaja menemukan sebuah kitab yang berisi ajaran kesaktian di sumur rumahnya. Dengan cepat, Liem Bik Nio menguasai isi ajaran kitab tersebut dan dari situlah Liem Bik Nio mulai memperlihatkan mukjizatnya. Sepanjang hidupnya, Liem Bik Nio sering menolong para pelaut yang tertimpa musibah di tengah ganasnya lautan. Liem Bik Nio akhirnya menjadi bagian dari pantheon Tiongkok dengan diberi gelar Thian Siang Seng Boo atau Permaisuri Surga. Pemujaan terhadap Dewa Laut amatlah penting bagi mereka yang berpergian lewat jalur laut seperti para pedagang dan perantau Tionghoa. Pada masa lalu, para nelayan akan mendatangi kuil Maktjouw Poo pada saat musim menagkap ikan tiba. Patung atau gambar dari Maktjouw Poo kemudian dipasang di buritan kapal dengan harapan agar mereka dilindungi keselamatannya dan diberkahi dengan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Bila ada perjalanan laut yang akan menghabiskan waktu lebih lama, maka akan diadakan arak-arakan Maktjouw Poo. Pemujaanya menyebar luas tidak hanya di daratan Tiongkok, namun juga di wilayah perantauan orang Tionghoa seperti Semarang. Para perantau mendirikan kuil atau klenteng sebagai rasa syukur kepada Thian Siang Seng Boo atau Maktjouw Poo yang telah memberi keselamatan perjalanan selama di lautan (Roberts, 2010;104-105).
Balai leluhur marga Liem.
Seperti halnya klenteng Tan Seng Ong, klenteng See Hoo Kiong juga merupakan klenteng yang merangkap fungsi sebagai balai leluhur. Di balai leluhur tersebut, terdapat fitur yang sama seperti balai leluhur marga Tan seperti lemari tempat menaruh papan sin ci dari marga Liem dan altar persembahan. Pada dasarnya, balai leluhur merupakan bangunan untuk peringatan, penghormatan leluhur serta tempat menyelenggarakan upacara  keluarga. Sepanjang sejarah, balai leluhur dibuat dalam ukuran yang beragam dan pada periode dinasti Qing, balai leluhur dibuat lebih besar karena sifat balai leluhur tidak hanya sebagai tempat sembahyang untuk mengenang leluhur semata, namun juga tempat berkumpulnya sanak saudara semarga. Balai leluhur umunya dibuat mencerminkan kekayaan dan status sosial dari suatu marga. Oleh karena itu, balai leluhur biasanya dibangun ketika kemampuan finansial sudah mencukupi (Knapp, 2010; 204-205).
Lemari sin ci klenteng See Hoo Kiong. 
Kumpulan sin ci.
Klenteng sebagai tempat ibadah sarat dengan nilai agama mulai dari fungsinya, peletaknya, tata ruang, hingga ragam hias di dalamnya menyimpan makna yang diyakini oleh orang Tionghoa. Klenteng selain memiliki fungsi religious, juga melingkupi fungsi sosial dan budaya. Dengan demikian, klenteng adalah inti dari masyarakat Tionghoa baik di perdesaan atau perkotaan. Ketika banyak orang Tionghoa yang merantau ke wilayah luar Tiongkok seperti ke Indonesia, mereka akan mendirikan klenteng sebagai ungkapan rasa syukur kepada dewa-dewi atas kemakmuran dan keselamatan yang telah dilimpahkan. Dalam klenteng pula, dapat diamati suatu kesatuan seni yang tertuang dalam dekorasi yang mengandung simbol pengharapan dan berbagai kisah-kisah penuh hikmah. Demikian halnya dengan keberadaan balai leluhur marga yang menyatu dengan klenteng-klenteng itu. Boleh dikatakan bila balai leluhur yang menyatu pada kedua klenteng tersebut menunjukan nilai semangat memelihara tali persaudaraan keluarga. Di balai leluhur itulah, satu keluarga akan beribadah bersama untuk mengenang leluhur mereka dan dari sin ci yang tersimpan mereka dapat mengenal silsilah keluarganya. Sekian tulisan Jejak Kolonial. Layaknya mutiara yang bernilai tinggi, dua klenteng ini sudah sepatutnya untuk dijaga kelestariannya.


Referensi
Cangianto, Ardian. 2013. "Menghayati Klenteng sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa" dalam web.budaya-tionghoa.net.
Heuken, Adolf. 2003. Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka.
Knap, Ronald G. 2010. Chinese House of Southeast Asia. Tuttle : Singapore.
Liem Thian Joe. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta; Hasta Wahana.
Liu Weilin. 2013. Bagian-bagian dari Arsitekur Tionhoa dalam http://web.budaya-tionghoa.net/
Xuan Tong. 2013. " Asal Muasal Klenteng – Makna, Fungsi, dan Perkembangannya "dalam web.budaya-tionghoa.net.
Qing-hua Guo. 2002. Visual dictionary of Chinese Architecture. Image publishing. Mulgrave, Australia.
Roberts, Jeremy. 2010. Chinese Mythology A to Z. New York : Chelsea House.

Selasa, 24 Oktober 2017

Yang Tersisa dari Masa Lampau Pecinan Semarang

Ia adalah salah satu pecinan termakmur di Jawa, bertaburkan kelenteng –klenteng tua yang menawan. Seperti pasang surut rob yang kerap menggenanginya, demikian juga yang dia alami di masa lalu. Hari ini, ia berusaha tetap tegak berdiri menghadapi pembangunan kota yang bertubi-tubi menderanya. Inilah kisah saya di Jejak Kolonial, ikhtisar melawat kembali jejak Pecinan Semarang…
Ruko-ruko yang masih tampak asli.
Ruko-ruko di Jalan Petudungan yang masih tampak asli.
Bangunan ruko yang sudah tidak difungsikan.
Panas sengatan matahari dan semrawutnya jalanan kawasan Pecinan Semarang siang itu tidak menyurutkan langkah saya untuk menjelajahi kawasan padat yang sarat dengan bangunan komersil. Mereka berdiri berimpitan satu sama lain dan nyaris tak menyisakan ruang sedikitpun. Walau jejeran ruko itu sudah berganti topeng, namun di antaranya masih terlihat sisa tembok samping atap berbentuk seperti kipas atau shan yang dibuat melebihi tinggi atap bangunan, tujuannya untuk melindungi dari bahaya kebakaran. Di rumah-rumah toko itulah, dulu orang-orang Tionghoa berhuni sekaligus mencari rejeki. Dalam  literatur “Indonesia Heritage : Aristektur“, J.Widodo menyebutkan bahwa deretan ruko-ruko yang berdiri memanjang di sepanjang jalan sempit ini merupakan bentuk permukiman yang lazim di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Bukan tanpa sebab, karena sebagian besar pendatang Tionghoa di Semarang memang berasal dari sana. Wujud luarnya sekilas memang masih terlihat serupa dengan yang ada di kampung halaman mereka, namun tentunya ada sedikit perbedaan demi penyesuaian lingkungan. Sebut saja adanya penggunaan jendela krepyak atau penggunaan kanopi yang disokong oleh tiang-tiang besi.

Bangunan yang telah mendapat pengaruh arsitektur Indis.
Sekalipun banyak ruko-ruko itu yang wajah depannya telah bersalin rupa, namun bentuk atapnya yang khas tidak mampu menyembunyikan jati diri  sebenarnya. Perubahan wajah itu merupakan buah dari kebijakan pemerintah Orde Baru yang secara arogan berusaha menyeragamkan bangunan di kawasan ini. Berkembangnya kepentingan komersil juga menjadi penyebab lain rusaknya citra kawasan tersebut. Bayangkan saja, tepat di samping sebuah rumah tua bergaya Tionghoa yang hanya dibatasi oleh dinding saja, akan didapati sebuah gedung baru berjendela kaca besar nan silau dengan gaya arsitektur yang “pasaran”. Selain itu, atas nama pembangunan kota, banyak rumah yang harus bagian depannya dipotong karena terkena dampak pelebaran jalan, jika ada pelebaran sungai hal serupa jugaakan menimpa bagian belakang rumah. Rumah-rumah di Jalan Petudungan adalah korbannya. Di tahun 1980an, guna mengatasi masalah banjir, beberapa wilayah Pecinan yang harusnya dilindungi, akhirnya dikorbankan untuk  pelebaran sungai. Apabila ke sana, dapat kita jumpai beberapa bangunan yang telah terpenggal dan menyisakan lebar rumah yang sangat sempit. Sayangnya, pelebaran sungai yang akhirnya memakan beberapa badan bangunan di Jalan Petudungan itu berakhir sia-sia, karena ternyata banjir tetap terjadi. Jikapun masih utuh, kebanyakan rumah itu ditinggalkan dalam kondisi kosong dan terlantar. Lingkungan yang semakin buruk membuat semakin banyak yang enggan berhuni di sini dan memilih menetap jauh di pinggiran kota. Alhasil, Pecinan Semarang di siang hari ramai bak pasar, namun di malam hari ia akan berubah menjadi kota hantu yang senyap dan gelap. Saya akhirnya hanya bisa menatap nanar pada bangunan ruko-ruko tua malang dengan takdir yang suram itu.




Bagian belakang rumah-rumah di Pecinan Semarang yang berbatasan dengan Kali Semarang.

Suasana jalan Gang Warung pada awal tahun 1900an.
Peta Pecinan Semarang atau Chineshe Kamp pada peta Semarang tahun 1909. Terlihat Bale Kambang (kotak biru , di sebelah kiri Gang Belakang), masih belum ditimbun.
Sembari merunut ruwetnya gang-gang di dalam area pecinan, saya berusaha mengingat kembali sejarah asal usul pecinan ini. Nun jauh sebelum pecinan ini ada, pada mulanya orang Tionghoa di Semarang bermukim di sekitar lokasi yang sekarang dikenal sebagai Gedong Batu, lokasi berdirinya kelenteng Sam Poo Kong. Sekitar tahun 1400an awal, sebuah kapal jung berukuran besar membuang sauhnya di muara Sungai Garang. Kapal itu membawa seorang laksamana muslim sekaligus utusan wangsa Ming, Cheng Ho. Dari bandar ke bandar, ia berlayar membawa pesan diplomatik dari Kaisar Tiongkok yang membiayai pelayarannya. Pelayaran akbar itu harus berhenti sejenak di dekat Semarang lantaran salah seorang awaknya yang bernama Ong King Hong, tiba-tiba jatuh sakit. Dengan kapal kecil, beberapa awak kapal ini menyusuri sungai sampai di sebuah gua di Simongan dan tinggal sejenak untuk merawat rekan yang sakit. Setelah pulih, beberapa awak termasuk Ong King Hong memilih bermukim di sini, sementara Cheng Ho meneruskan pelayarannya. Di belakang hari, permukiman yang didirikan oleh para anak buah kapal Cheng Ho tadi semakin berkembang dengan kedatangan para perantau dari Tiongkok yang berusaha meraih asa di tanah rantau atau melarikan diri dari penguasa zalim. Merunut tulisan Liem dalam buku “Riwajat Semarang”, Semarang saat itu “masih berupa sebuah tegalan dengan beberapa rumah penduduk pribumi dan sangat tidak sehat karena letaknya berdampingan dengan rawa-rawa “. Permulaan abad ke-17, Semarang kedatangan pendatang baru lainnya, kali ini dari Belanda. Pendatang baru ini rupanya bukan pendatang yang baik sebab setiap kapal yang memasuki sungai ditarik bea oleh mereka. Merasa kesal atas tingkah pendatang baru tadi, orang-orang Tionghoa menyerang tangsi Belanda namun gagal. Agar mereka mudah diintai, kompeni memaksa mereka memindahkan pemukimannya dari Simongan ke Semarang  Liem Thian Joe, 1931 : 2-6). Semula mereka bertempat tinggal di sisi timur sungai. Berikutnya di tahun 1740, mereka lagi-lagi dipindahkan ke seberang barat sungai. Sejak saat itu, pecinan Semarang tidak berpindah lagi dan perlahan mulai tumbuh dalam wujud seperti yang dikenal sekarang.
Ruko-ruko Gang Pinggir yang telah berganti wajah. Walaupun sudah berganti, namun bentuk atap ruko-ruko kecil terlihat masih asli.
Jalan Gang Warung, salah satu jalan utama di Pecinan.
Di tempat barunya, orang-orang Tionghoa mendirikan rumah mereka dengan bahan yang juga dipakai oleh rumah orang pribumi seperti papan kayu atau anyaman bambu. Karena tidak ada perencanaan, maka bentangan jalan yang ada tidak lurus benar dan lebarnyapun tidak sama. Permukiman itu pertama kali dibangun di sepanjang Gang Beteng (Sin-kee), Gang Warung (A-Long-Kee), dan Gang Pinggir (Tang-Ke). Pemukiman ini mengelilingi dan menghadap ke sebuah tanah terbuka dengan sebuah kolam yang dikenal sebagai Bale Kambang. Bale Kambang ini dipercaya sebagai pusat energi terbesar di Semarang dan mereka percaya Bale Kambang ini dapat memberi kemakmuran bagi mereka. Sebab itulah bangunan-bangunan di kawasan Pecinan berpaling dari Sungai Semarang (Pratiwo, 2010;52). Seiring berjalannya waktu, semakin banyak perantau Tionghoa yang datang ke Semarang untuk mencari peluang atau memperbaiki nasib. Mereka mendirikan permukiman di tengah-tengah pecinan sehingga lama kelamaan, tanah terbuka di tengah pecinan semakin berkurang, dipenuhi oleh deretan rumah-rumah dan akhirnya menjadi perkampungan baru. Di tengah perkampungan itu, muncul gang-gang baru seperti Say-kee (Gang Blumbang/Gang Belakang), Ting-ouw-kee (Gang Gambiran), Pecinan Tengah (Gang Tengah), Pan-shia (Jalan Beteng), Moa-phay-kee (Gang Mangkok), Hoay-kee (Gang Cilik). Sementara itu, Bale Kambang kemudian diurug pada tahun 1966 karena menjadi sarang nyamuk malaria.
Situasi Pecinan Semarang puluhan tahun silam. 
(Sumber : colonialarchitecture.eu )
Dengan berdagang aneka barang seperti mangkok, sutera, piring, dan lain-lain, penghidupan mereka di sini semakin baik. Mereka akhirnya dapat mendirikan rumah dengan bahan lebih kuat seperti batu dan genting yang kala itu harganya termasuk dalam kategori mahal karena masih sukar diperoleh. Karena belum adanya tenaga untuk membangun rumah-rumah mereka, maka tenaga tukang bangunan dari Batavia didatangkan ke Semarang. Semakin majunya perdagangan menjadikan semakin banyaknya petak-petak rumah toko yang dibangun. Dengan bangunan yang dibuat dalam gaya seperti bangunan di negeri leluhur mereka, kawasan padat penduduk itu menjelma menjadi semacam kota Tiongkok kecil, sehingga ketika orang memasuki kawasan tersebut, mereka seolah-olah tidak di Semarang lagi, melainkan berada di sebuah kota dinegeri Tiongkok sana. Kawasan pecinan Semarang akhirnya menjadi pusat perekonomian yang ternyata jauh lebih ramai ketimbang kawasan Eropa. "Di jalan-jalan yang penuh dengan rumah berderet-deret yang membingungkan", tutur Liem Thian Joe, "ada banyak terdapat banyak toko-toko Tionghoa, di mana perdagangan ada sangat ramai, karena verkoper (penjual) dari berbagai firma dan makelar hilir mudik melakakukan pekerjaanya" (Liem, 1931; 254).
Gapura ke kompleks perkuburuan Tionghoa di Semarang ( sumber : media-kitlv.nl ).
Seorang pria tua terlihat sedang tekun memahat sebongkah batu yang datar di salah satu gang sempit. Bidang datar batu itu dipahat dengan sangat telaten , menghasilkan semaracam karakter tulisan yang pinggirannya diberi motif tumbuhan. Ya, pria tua itu sedang mengerjakan bong pai atau prasasti makam Tionghoa. Dimana ada tempat untuk orang hidup, tentu ada tempat untuk menguburkan orang yang telahmeninggal. Belum ada bukti fisik lokasi permakaman Tionghoa yang pertama di Semarang. Sejauh ini, wilayah di sekitar Kampung Pekojan dipercaya sebagai lokasi pertama orang Tionghoa dikebumikan. Ketika Belanda ingin mengembangkan kawasan tersebut, mereka hendak menyingkirkan makam-makam yang ada, namun hal itu ditentang masyarakat Tionghoa. Seusai Belanda berunding dengan kapiten, akhirnya diputuskan bahwa makam-makam tua tersebut akan dipindah di selatan kota. Seiring dengan pertumbuhan kota, lahan-lahan makam Tionghoa mulai tersisihkan dengan perumahan atau gedung komersil.
Kelenteng Siu Hok Bio. Di masa lalu bernama kelenteng Cap Kauw King.
Saya kemudian menelusuri Gang Baru. Di gang kecil itu, berjejal para pedagang yang menjual aneka barang dagangan. Kebanyakan adalah bahan-bahan makanan seperti bumbu dapur, daging, ikan, dan sayur mayur. Di ujung selatang gang baru, terdapat Kelenteng Siu Hok Bio atau Tjap Kauw King, kelenteng perdana di Pecinan Semarang yang didirikan tahun 1753 secara bergotong royong oleh penduduk Pecinan. Didirikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur penduduk pecinan kepada Dewa Bumi, Thouw Tee Kong/ Tu Di Gong atas berkah kemakmurannya. Pendirian kelenteng itu ditanggung bersama-sama oleh penduduk pecinan. Toapekong atau patung dewa didatangkan dari Tiongkok. Setelah patung itu tiba, diadakanlah pesta dan perjamuan yang meriah walaupun tanpa pentas wayang potehi karena dalang wayang itu belum ada di Semarang. Letaknya yang berada di depan pertigaan diyakini dapat melindungi pecinan ini dari energi jahat (Liem, 1933; 27).
Kelenteng Ling Hok Bio pada awal tahun 1900an.
Kelenteng Ling Hok Bio, dibangun tahun 1866 oleh penduduk Gang Besen.
Kelenteng Tek Hay Bio atau TITD Sinar Samudera. Kelenteng ini adalah klenteng kedua yang dibangun di Pecinan Semarang. Klenteng dibangun oleh penduduk Tionghoa untuk mengenang Kwee Lak Kwa. Pekarangan depan klenteng ditinggikan karena Kali Semarang dahulu kerap banjir. Di masa awal klenteng berdiri, klenteng ini memiliki bidang tanah di Gambiran dan Pekojan.
Kelenteng Tong Pek Bio. Dibangun pada 1782 oleh Tuan Khouw Ping.
Kelenteng Hoo Hok Bio yang dibangun pada tahun 1792.
Masyarakat Tionghoa kala itu sangat percaya bahwa dengan semakin banyak kelenteng, maka semakin banyak kebaikan yang akan dibawa. Selepas mendirikan kelenteng Tjap Kauw King, beberapa kelenteng barupun dibangun di dalam Pecinan Semarang seperti Kwee Lak Kwa (Tek Hay Bio), Tang Kee (Tong Pek Bio),May Phay Phee (Ho Hok Bio), dan Ling Hok Bio. Klenteng Kwee Lak Kwa dibangun oleh marga Kwee tiga tahun setelah pembangunan Klenteng Tjap Kauw King. Klenteng Tang Kee atau Tong Pek Bio dibangun tahun 1782 oleh Khouw Phing. Karena kebanyakan klenteng terletak di sebelah selatan pecinan, maka penduduk di utara pecinan mendirikan Klenteng Hoo Hok Bio pada 1792. Walau setiap kelenteng tersebut memiliki pernik yang berbeda, namun secara umum, kelenteng-kelenteng tersebut termasuk jenis kelenteng satu unit atau jian yang sederhana karena keterbatasan lahan. Jian adalah ruang persegi empat yang diberi dinding atau hanya dibatasi kolom. Kelenteng semacam ini memiliki dua jian, yakni serambi depan dan bangunan utama. Bangunan serambi depan terlihat seperti sebuah pendopo yang ditopang oleh empat kolom bujur sangkar yang sisi-sisi sudutnya ditumpulkan (mu jioa fu). Atap bangunan serambi depan memiliki struktur pemikul atap terbuka yang disebut che shang ming zao yang diukir. Bangunan utama memiliki denah bujur sangkar dengan pintu satu pintu masuk yang menghadap ke utara. Dindingnya terbuat dari batu bata. Sementara bagian atap berbentuk sepert jurai ekor walet atai yanwei yang menjadi ciri arsitektur Minnan. Bentuk atap seperti ini hanya diperuntukan untuk pejabat kekaisaran dan tempat ibadah. Bangunan utama memiliki jendela peninjauan yang disebut kan chuang. Di dalam bangunan utama, terdapat miniatur bangunan yang disebut ya jiao zhang sebagai tempat menaruh arca Dewa Bumi yang menjadi tuan rumah kelenteng.
Klenteng Tay Kak Sie.
Kelenteng Tay Kak Sie tempo doeloe.
Dari semua kelenteng di Pecinan Semarang, kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, kelenteng yang paling kondang dari semua kelenteng di pecinan Semarang. Berdiri persis menghadap Sungai Semarang, kelenteng Tay Kak Sie adalah kelenteng pertama di pecinan Semarang yang menggunakan pola siheyuan dimana ciri utamanya yakni adanya halaman terbuka di tengah bangunan atau sumur langit (tianjing) dan ukuran kelenteng ini lebih besar dibanding kelenteng-kelenteng di Gang Pinggir.  Atap bangunan utama berbentuk seperti jurai ekor walet atai yanwei, ciri arsitektur Minnan dan bentuk atap seperti ini hanya diperuntukan untuk  rumah pejabat kekaisaran atau tempat ibadah. Halaman depan kelenteng yang luas menjadi indikator bahwa kegiatan kelenteng ini sangat ramai di masa lalu. Pembangunan Klenteng Tay Kak Sie berhubungan dengan keberadaan toapekong atau arca dari Dewi Kwan Im yang didatangkan ke Semarang pada tahun 1740-an oleh penduduk di Pecinan Kulon dan Pecinan Lor. Toapekong tersebut awalnya diletakkan di dekat kolam Bale Kambang (di area Gang Tengah). Pada tahun 1770, keberadaan toapekong Dewi Kwan Im di Balekambang kurang bagus dan akhirnya para petinggi Tionghoa di Semarang sepakat untuk memindahkannya. Rumah baru untuk Sang Dewi Kwan Im tersebut berada di pinggir timur Kali Semarang, di area yang saat itu masih berupa kebun lombok yang kemudian menjadi Gang Lombok. Para penduduk Tionghoa mengumpulkan dana secara swadaya dalam jumlah besar untuk pembangunannya sedangkan tukang bangunannya khusus didatangkan dari Tiongkok. Pemindahan tersebut mendapat banyak dukungan dari kalangan atas Tionghoa di Semarang seperti kapitan Tan Eng. Belum sempat kelenteng baru tersebut dibangun, Kapitan Tan Eng meninggal dunia sehingga rencana pembangunan kelenteng baru tersebut diteruskan oleh letnan-letnan Tionghoa bawahannya seperti Khouw Ping, Liem Jam Kong, Tan Kong Hoey, Tan Tjeng, Tan Twat Gan, dan dibantu oleh beberapa hartawan lainnya. Klenteng baru tersebut selesai dibangun tahun 1771 dan diberi nama Tay Kak Sie. Toapekong Dewi Kwan Im kemudian dipindahkan ke Klenteng Tay Kak Sie dalam arak-arakan yang meriah. Sesudah klenteng Tay Kak Sie dibangun dan patung diarak ke tempat baru, diadakan sebuah perayaan besar-besaran dan diadakan pentas wayang potehi yang dalangnya dibawa dari Batavia (Liem Thian Joe, 1931 : 61 ). 
Klenteng Tay Kak Sie dan gedung Kong Tik Soe tempo dulu 
(Sumber : colonialarchitectute.eu).
Kelenteng Tay Kak Sie diperbaiki pada tahun 1814 oleh kapitan Tan Tian Tjhing karena kondisi kelenteng sudah menua. Saat terjadi Perang Jawa, penduduk Pecinan Semarang menjadikan kelenteng Tay Kak Sie sebagai tempat perlindungan. Kelenteng Tay Kak Sie diperbaiki lagi pada tahun 1845 karena bangunan kelenteng sudah menunjukan tanda kerusakan. Biaya perbaikannya diperoleh dari pungutan derma pada penduduk Tionghoa di Jawa Tengah. Nama-nama dermawan yang menyumbang dapat dilihat pada daftar nama yang tertera pada sebuah batu prasasti di pojok barat klenteng. Jumlah penderma seluruhnya ada 123 orang dengan jumlah sumbangan bervariasi. Penderma terbanyak adalah Mayor Soei Goan atau Tan Hong Yan yang menyumbang uang sebesar 12.000 gulden. Pada tahun 1851, Kelenteng Tay Kak Sie memiliki patung Poo Sing Tay Tee yang dipesan oleh Mayor Tan Tjong Hoay. Setiap tahun diadakan kirab patung Poo Sing Tay Tee yang diadakan pada tanggal 1 bulan kelima dalam kalender Tionghoa. Kirab tersebut kadang dikenal juga sebagai Sam Poo kecil karena kirab Poo Sing Tay Tee lebih sederhana dibandingkan kirab Sam Poo Kong. (De Locomotief 18 Juni 1928).
Bagian depan Kong Tik Soe, dulunya tempat para dewan kongkoan bertemu. 
Gedung Kong Tik Soe tempo dulu.
Orang akan menyangka, bangunan yang bersanding dengan kelenteng Tay Kak Sie itu merupakan sebuah kelenteng, padahal tidak demikian. Bangunan itu secara kasat mata memang sama persis  dengan bangunan kelenteng. Namun apabila melangkahkan kaki ke dalam, alih-alih altar dewa, kita justru menjumpai satu rak penuh bilah kayu yang bertuliskan nama leluhur yang disebut shen wei atau sin-ci. Bangunan yang dikenal dengan nama Kong Tik Soe itu dibangun pada tahun 1845, bersamaan dengan perbaikan kelenteng Tay Kak Sie oleh para dermawan Tionghoa di Jawa Tengah. Maksud bangunan itu dibangun ialah untuk tempat pertemuan kongkoan yang baru. Kongkoan merupakan semacam dewan yang mengatur segala perkara kehidupan masyarakat di lingkungan pecinan yang semula ditangani oleh seorang kapitan. Kongkoan di Semarang ini sebenarnya sudah ada tahun 1835, namun baru disahkan oleh pemerintah kolonial tahun 1885. Pemerintah kolonial menjadikan kongkoan sebagai kepanjangan tangan mereka untuk mengurus orang-orang Tionghoa sebagaimana mereka memanfaatkan bupati untuk mengatur orang pribumi. Perkara yang ditangani kongkoan meliputi pajak, undang-undang, perkawinan, kelahiran, dan sejenisnya. Di gedung Kong Tik Soe itulah, orang-orang Tionghoa yang sedang menghadapi suatu perkara dapat mengadu kepada kongkoan untuk diselesaikan dan Dewan Kongkoan bersidang (Liem, 1931 ; 124-132). Bangunan Kong Tik Soe terbakar pada tahun 2019 dan hanya menyisakan dinding.
Bekas Tiong Hoa Hwee Koan.
Di Gang Tengah, terdapat sebuah gedung yang sekarang menjadi klinik yayasan Tunas Harum Harapan Kita. Gedung itu dulunya adalah gedung bekas sekolah Tiong Hoa Hwee Koan yang mulai buka sejak tahun 1904. Sekolah itu didirikan atas prakarsa orang-orang Tionghoa sebagai upaya mengembangkan sekolah modern untuk kalangan Tionghoa. Tiong Hoa Hwee Koan ini dibentuk untuk menggantikan sekolah Tionghoa model lama yang disebut Gie Ook yang kolot karena anak-anak yang bersekolah di situ hanya libur lima hari dalam setahun dan bersekolah dari pagi sampai sore (Liem, 1933; 210). Kemunculan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan mendesak pemerintah kolonial untuk membuka sekolah Hollandsch Chinese School yang akhirnya menjadi saingan sekolah Tiong Hoa Hweee Koan.
Kediaman Be Biauw Tjoan. Beranda depan terlihat menggunakan kolom-kolom Yunani, pengaruh dari arsitektur Indis (sumber : colonialarchitecture.eu).
Dari kelenteng Siu Hok Bio, saya memutuskan berpindah ke kampung Sebandaran yang ada di seberang selatan sungai. Mengapa disebut Sebandaran ? Karena di sana pernah terdapat rumah milik seorang pemegang pachter atau bandar yang bernama Tan Tiang Tjhing. Maka disebutlah tempat itu sebagai Sebandaran. Di sana pernah berdiri dua rumah megah milik dua orang pemuka Tionghoa yang menjulang laksana istana, menjadikannya bangunan termegah dan terindah di pecinan Semarang. Rumah-rumah itu milik dua orang Tionghoa kaya di Semarang, yakni Tan Tiang Tjhing dan Be Ing Tjioe. Tan Tiang Tjhing yang berhasil mengembangkan usaha ayahnya membangun sebuah rumah indah bergaya Tionghoa di atas bekas gudang gula (Liem, 1933; 96). Bergeser ke timur, pernah terdapat rumah megah lain milik Kapitan Be Ing Tjioe yang sebelumnya pernah menjadi kapiten Tionghoa di Purworejo. Ia membantu bisnis amfiun milik Tan Tiang Tjhing di Bagelen dan sekembalinya ke Semarang, Be Ing Tjioe mendirikan rumahnya pada tahun 1838 dalam gaya yang mirip dengan rumah milik Tan Tiang Tjhing. Kesamaan dari kedua rumah tersebut adalah menggunakan atap berjurai seperti ekor walet atau yan-wei yang hanya boleh dipakai pada rumah pejabat kekaisaran atau tempat ibadah. Raja Siam, Chulalongkorn ketika melawat di Semarang pernah bertandang ke kediaman Be Ing Tjioe yang saat itu sudah dihuni oleh putranya, Be Biauw Tjoan. Rumah Be Biauw Tjoan itu dikelilingi dengan kebun yang indah dan dari situlah asal nama kampung Kebon Dalem  (Liem, 1933; 125). Rumah tersebut kemudian dimiliki Soei-Bie Stichting, yayasan milik Be Biauw Tjoan. Sejak tahun 1913, bangunan dengan 60 kamar tersebut digunakan sebagai sekolah Tiong Hoa Hwee Koan. Lahan dan bangunan rumah Be Biauw Tjoan kemudial dijual setelah Bank Be Biauw Tjoan mengalami kebangkrutan pada tahun 1927. Lembaga Katolik Maria-stichting kemudian membeli bangunan tersebut pada tahun 1936 karena saat itu kegiatan misi Katolik mulai menyasar penduduk Tionghoa di Semarang (De Locomotief, 3 Desember 1936). Kompleks Kebon Dalem kemudian menjadi sekolah dan gereja Katolik yang ditahbiskan pada 16 Desember 1937 oleh Mgr. Willekens dan kemudian menjadi cikal dari Paroki Kebon Dalem (De Locomotief 14 Desember 1937). Patut disayangkan jika bangunan tersebut akhirnya dibongkar dan diganti dengan sebuah bangunan gereja padahal seandainya masih dilestarikan dengan baik, bangunan tersebut dapat menjadi ikon Pecinan Semarang yang menawan.
Kali Semarang tahun 1900an. Kebanyakan ruko-ruko di Pecinan Semarang dibangun membelakangi sungai.
Saya menyeberangi jembatan yang membentang di atas Sungai Semarang yang dangkal dan berair keruh itu. Kondisinya sangat kontras  dengan dua ratus tahun silam. Kala itu, Sungai Semarang masih cukup dalam, sehingga masih dapat dilewati perahu. Sungai ini tak hanya dipakai untuk saran pengangkutan saja, namun juga sebagai tempat pesiar. Orang-orang yang mampu berpesiar dengan menumpang perahu yang telah dihias begitu elok. Sambil berlayar, mereka ditemani oleh penari dan diiringi dengan orkes musik  Tionghoa. Namun pemandangan itu sudah tak terlihat lagi semenjak dibangunnya Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Debit air jauhberkurang, sehingga sungai menjadi dangkal dan tak lagi dapat dilalui perahu. Kini, satu-satunya benda yang dapat berlayar di Sungai Semarang hanyalah sampah-sampah domestik saja.
Kelenteng See Hoo Kiong.
Kelenteng Hwie Wie Kiong atau Tan Seng Ong.
Masih di Sebandaran, di sana saya menjumpai dua kelenteng yang kemegahannya mungkin melampaui Kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng yang dimaksud  yakni Tan Seng Ong dan Kelenteng See Hoo Kiong. Kelenteng Tan Seng Ong dibangun tahun 1814 oleh Tan Tiang Tjhing dan diperuntukan bagi marga Tan. Kelenteng ini termasuk kelenteng terbesar di kawasan Pecinan Semarang karena tapak lahannya sangat luas. Tidak heran karena si pembangun kelenteng sendiri adalah orang terkaya di masanya. Beringsut ke barat, ada kelenteng See Hoo Kiong yang dibangun oleh marga Liem pada 1881 untuk didedikasikan kepada Ma Tjouw Kiong atau Dewi Laut. Alih-alih dicat warna merah emas seperti kelenteng lain, kelenteng itu justru masih mempertahankan keaslian warnanya yang coklat gelap. Kelenteng See Hoo Kiong tergolong kelenteng dengan status tinggi jika menilik jumlah undakan tangganya. Kendati demikian, dua kelenteng tadi tak seramai kelenteng Tay Kak Sie, apalagi Sam Poo Kong lantaran letaknya yang  tersembunyi di sebuah jalan kecil sehingga tak banyak orang yang mengetahuinya.

Bekas kediaman Kapiten Kwee Lian Tjong.

Bekas rumah lama keluarga Liem.
Eks Villa Keluarga Liem rancangan Schoemaker yang sempat digunakan untuk pondokan PHI.
Dari Sebandaran, langkah kaki saya ayunkan ke kawasan Kranggan. Dulunya kawasan Kranggan adalah tanah milik seorang rangga atau bangsawan Jawa. Lalu Kapiten Kwee Lian Tjong, kapiten cum pemborong bangunan mendirikan rumah di sana pada 1795. Rumah itu dikelilingi dengan kebun yang ditanami aneka sayuran dan bunga. Dari situlah muncul nama Kampung Kebon Lancung. Rumah Kapiten Kwee Lian Tjong masih ada sampai sekarang. Letaknya jauh berada di dalam gang, tepatnya di ujung jalan Kranggan Dalam dan sekarang menjadi rumah keluarga Hj.Wiwiek. Tak hanya rumah Kapiten Kwee Lian Tjong, di sekitar Kranggan masih dapat dijumpai rumah-rumah kuno lain. Beberap keluarga-keluarga Tionghoa kaya mendapat keistimewaan untuk membangun rumah tinggal di luar kawasan Pecinan yang berdesakan. Salah satunya adalah keluarga Liem yang mendirikan rumah di Kranggan pada kuartal akhir abad kesembilanbelas. Rumah keluarga Liem di Kranggan tersebut dibuat dalam tampilan ala Eropa dengan pilar bergaya korintian yang menopang beranda depannya yang akhirnya membuat rumah itu begitu berbeda dengan kebanyakan rumah di Pecinan Semarang. Selanjutnya pada tahun 1925, keluarga Liem mendirikan rumah baru di sebelah rumah lama yang rancangannya dibuat oleh arsitek terpandang saat itu, C.P. Wolff Schoemaker. Ubin coklat mengkilap buatan pabrik porselen di Delft begitu kentara menghiasi beranda depannya yang lebar.
Rumah Kopi Wotgandul. Masih berada di dalam lingkungan Pecinan, rumah ini terlihat unik karena menonjolkan arsitektur Indis ketimbang arsitektur Tionghoa yang banyak terlihat pada bangunan di Pecinan.
Lawatan saya di pecinan Semarang saya tuntaskan di hadapan sebuah rumah tua di Wotgandul yang masih terawat dengan baik. Dengan kolom-kolom art deco di beranda depannya dan kolom klasik di balkonnya, rumah itu amatlah unik karena langgam kolonial terlihat lebih menonjol ketimbang langgam Tionghoanya. Atap pelananya dipermanis dengan hiasan kemucak yang dikenal sebagai geveltoppen. Saya beruntung dapat berjumpa dengan Bapak Basuki Dharmowiyono, pemilik dan penghuni rumah itu. Sehari-hari, ia berdagang biji kopi mentah di samping rumahnya, mewarisi usaha leluhurnya yang sudah tiga generasi tinggal di rumah itu. Di belakang rumah ini, terdapat bekas pabrik pengolahan kopi yang dibangun oleh Tan Tiong Ie, kakek bapak Basuki, yang merintis usaha pengolahan biji kopi di Cimahi sebelum pindah ke Semarang pada tahun 1925. " Di masa jayanya, rumah ini kemudian direnovasi pada 1927. Beranda depan yang semula sejajar dimajukan dan tiangnya diganti gaya art deco. Untuk arsiteknya, kakek saya mempercayakan pada Liem Bwan Tjie. Selain itu, dia juga memesan altar leluhur baru dari arsitek J.Th. van Oyen ", terang bapak Basuki sembari menunjuk altar yang dimaksud. Dua nama yang disebutkan tadi merupakan arsitek terpandang di masanya. Liem Bwan Tjie adalah arsitek modern pertama yang berdarah Tionghoa. Sementara J.Th. van Oyen sudah membikin banyak bangunan gereja di Semarang dan Jakarta. Dengan bersemangat, beliau kemudian bertutur panjang lebar bagaimana ikhtiarnya untuk melestarikan bangunan peninggalan leluhurnya. “Dalam pelestarian, saya menggunakan konsep CIUM, C untuk Cinta, I untuk ilmu, U, untuk uang, dan M untuk Manajemen", tuturnya. " Pelestarian tumbuh dari rasa cinta atau rasa ikatan emosional pada tinggalan, kemudian kita harus tahu ilmunya agar tidak asal-asalan dalam prosesnya, selanjutnya jelas kita butuh uang sebagai modalnya, terakhir adalah manajemen. Percuma jika tiga hal tadi dijalankan namun tidak melalui manajemen yang baik ", jelas bapak Basuki lebih rinci tentang konsep yang beliau anut. Saya kagum dengan semangat Bapak Basuki ini, semangat yang sepantasnya tertanam di sanubari para pemilik bangunan cagar budaya. Saking asyiknya berbincang dengan Bapak Basuki, saya tak sadar kalau sore sudah berganti malam.

Usai berpamitan, saya berjalan menyusuri jalanan pecinan yang kini telah dipenuhi para pedagang kaki lima. Di bawah bayang-bayang langit malam yang gelap tanpa bintang, saya berandai-andai jika semua penduduk pecinan ini memiliki semangat seperti Bapak Basuki,  tentu Pecinan Semarang kilau pesonanya akan sepadan dengan pecinan Malaka yang kini telah menjadi Warisan Dunia. Sayang, keruhnya Sungai Semarang yang meliuk di tepiannya sepertinya menggambarkan nasib pecinan Semarang hari ini.


Referensi

Brommer dkk. 1995. Semarang, Beeld van een stad. Purmerend : Asia Maior.

Handinoto. 1999. " Lingkungan "Pecinan " dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial " dalam Dimensi Teknik Sipil Vol. 27, no.1 Juli 1999.


Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij.


Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.


Widodo. J. 2000. "Bangunan Toko dan Kelenteng" dalam Indonesian Heritage : Arsitektur. Jakarta : PT. Widyadara.