Tampilkan postingan dengan label Benteng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benteng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2018

Sejarah Perang Dunia Kedua yang Terpendam di Benteng Pendem Bagelen

30 menit adalah waktu yang saya butuhkan untuk menempuh perjalanan dari Purworejo kota ke situs Benteng Pendem yang tersebar di Desa Bapangsari, Desa Tlogokates, dan Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Dari jalan raya Purworejo-Yogyakarta, saya masih harus melalui jalan kecil yang kira-kira hanya bisa dilalui satu mobil saja.
Pergerakan Jepang di Hindia-Belanda.
Sejarah dari Benteng Pendem Kalimaro tak bisa dilepaskan sejarah Perang Dunia Kedua, dimana saat itu Jepang yang sedang diembargo oleh Amerika Serikat berusaha memenuhi kebutuhan perangnya sendiri dengan merambah koloni-koloni Eropa di Asia Tenggara yang kaya SDA. Salah satu koloni Eropa yang diincar adalah Hindia-Belanda. KNIL ( Koninklijke Nederlands Indische Leger ) yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan koloni Hindia-Belanda dianggap kurang mumpuni karena mereka hanya kuat menghadapi musuh dari dalam tapi tidak dari luar( Roccher dan Santosa, 2016;176 ). Karenanya,pertahanan  Hindia-Belanda bergantung kepada kerja sama militer dengan AS, Inggris, dan Australia dalam satu komando dibawah pimpinan Jend. Archibald Wavell, ABDACOM ( Australia, British, Dutch, Command ). 
Kapal penjelajah Jepang, IJN Haguro, kapal inilah yang menenggelamkan HNMLS De Ruyter.
HNMLS De Ruyter, kapal dimana Laksamana Karel Doorman menemui ajalnya.
Setelah Filipina dan Singapura dikuasai, maka terbukalah jalan bagi Jepang untuk menguasai Hindia-Belanda. Genderang perang Hindia-Belanda versus Jepang  segera ditabuh. Dalam rancangan operasinya, Jepang membagi tiga jalur serangan. Jalur pertama dari timur, dengan Maluku dan Timor sebagai sasaran. Jalur kedua dari tengah dengan mengincar Kalimantan dan Sulawesi. Jalur ketiga dari barat dengan Sumatera sebagai incaran. Bila ketiga wilayah tadi berhasil dikuasai, Jepang lantas akan bergerak ke Jawa yang menjadi pusat pemerintahan dan komando ABDACOM.
Laksamana Karel Doorman, pemimpin armada sekutu yang gugur di Lau Jawa.



Laksamana Takeo Takagi, pemimpin armada Jepang yang berhasil mengalahkan armada Sekutu di Laut Jawa. Sempat memimpin armada Jepang dalam pertempuran Laut Coral sebelum hilang dalam pertempuran Saipan.
Pertempuran Laut Jawa menjadi kesempatan terakhir Sekutu untuk mempertahankan Pulau Jawa. Keunggulan kekuatan udara armada Jepang pimpinan Laksamana Takeo Takagi menjadi kunci kemenangan Jepang dalam pertempuran itu. Armada Sekutu pimpinan Karel Doorman berhasil dibinasakan dan terbuklah jalan bagi Jepang untuk menaklukan Jawa( Cribb & Cahin, 2012;206 ). Segera saja pada 1 Maret 1942, secara serentak Jepang mendaratkan pasukannya di Jawa pada tiga tempat berbeda, yakni di Merak, Eretan Wetan dan Kragan untuk menjepit markas ABDACOM di Bandung. Setelah mendarat, Jepang mulai merangsek ke beberapa kota di Jawa melalui tiga titik. Salah satu titik ialah Kragan, dimana di sana mendarat detasemen Sakaguchi yang kemudian memecah beberapa unit untuk menduduki kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Salah satu unit ialah unit Yamamoto yang bergerak ke selatan untuk menduduki beberapa kota penting speerti Yogyakarta, Purworejo, Gombong, dan Cilacap. Pada 6 Maret 1942 pagi pukul 04.30, dari Yogyakarta dilancarkan serangan ke Purworejo untuk membuka jalan ke Cilacap. Sebelum sampai Purworejo, unit Yamamoto sempat mendapat perlawanan sengit dari pasukan KNIL dari Batalyon Infanteri Ke 2 yang berjaga di tenggara kota Purworejo. Jepang pun berhasil melumpuhkan Pasukan KNIL. Alhasil, pada pukul 11.00, seluruh Purworejo berhasil dikuasai Jepang dan mereka melanjutkan serangan ke barat ( Angkasa Edisi Koleksi XLIX 2006;90 ).
Peta pergerakan tentara Jepang dalam penaklukan Jawa 1942.

Jenderal Hitoshi Imamura, komandan Angkatan Darat Jepang di Jawa yang sedang mengkoordinir pendudukan Jawa.
Setelah lini pertahanan Belanda di Jawa ditundukan Jepang, Belanda akhirnya harus mengakui kedigdadayaan Jepang di Kalijati. Pada masa awal pendudukan Jepang di Jawa, militer Jepang tidak terlalu peduli dengan pendirian sarana pertahanan karena doktrin militer Jepang yang lebih menekankan pada aksi menyerang. Setelah situasi perang mulai tidak menguntungkan bagi Jepang, maka militer Jepang mulai beralih ke doktrin pertahanan aktif, dimana tentara Sekutu sebisa mungkin dihalau saat mendarat di pantai, sehingga kekuatan musuh melemah dan pihak bertahan dapat melancarkan serangan balik (Rotmann, 2003;5). Berkaitan dengan doktrin tersebut, maka dibuatlah sarana pertahanan berupa bungker berlapis beton yang didirkan di tempat strategis, terutama di dekat garis pantai. Salah satu tempat yang dibangun bunker adalah Kalimaro, Bagelen yang berada di selatan gugus perbukitan Menoreh dan masih dekat dengan pantai selatan itu. Tempat tersebut dipilih karena letaknya yang berada di pucuk bukit memberi kelelusasan pandang bagi pihak bertahan dan sebaliknya musuh akan kesulitan menyerang pihak bertahan yang ada di atasnya (Rotmann, 2003;9). Selain untuk mengantisipasi pendaratan musuh di pantai selatan, Jepang juga menjadikan Benteng Pendem Kalimaro sebagai tempat untuk mengintai jalur perhubungan darat Cilacap-Yogyakarta yang melintasi Bagelen.
Persebaran bunker di Situs Benteng Pendem. Peta dibuat oleh Wiyan Ari Tanjun ( 2008 ).
Pemandangan laut selatan Jawa, tempat dimana Jepang memperkirakan pendaratan Sekutu.
Jarak yang jauh antara Jepang dengan wilayah yang didudukinya serta gangguan rantai logistik yang dilakukan Sekutu terhadap kapal-kapal Jepang menimbulkan masalah pada logistik dan tenaga untuk membangun pertahanan. Maka dari itu, bahan material diperoleh dari lingkungan sekitar seperti batu karang, kapur, atau pohon kelapa. Sementara itu, penduduk Kalimaro dan sekitarnya, baik yang muda atau tua, dipekerjakan untuk membangun pillbox.  Selain itu, mereka juga ditugaskan melapisi jalan menuju kubu dengan batang pohon kelapa karena jalan menuju Kalimaro menjadi becek di kala musim hujan tiba. Penduduk yang ikut bekerja membangun benteng mendapatkan upah tergantung usia dan jenis pekerjaan (Angkasa XLIX, 2008;91). Sebelum membangun, penduduk yang tinggal di sekitar diharuskan untuk pindah karena lahannya akan dipakai sebagai sarana pertahanan. Dengan kubu pertahanan yang sudah dibangun di sini, Jepang sudah siap menanti kedatangan musuh. Seandainya pun pertahanan tersebut tidak berhasil, maka Jepang akan menjalankan perang atrisi dibantu oleh milisi lokal seperti prajurit PETA.  Namun apa daya, musuh yang ditunggu ternyata tak kunjung mendarat di pantai selatan. Berbalik dengan pandangan Jepang, Sekutu sadar bahwa walau letaknya lebih dekat dengan Australia, pantai selatan sebenarnya bukanlah tempat yang tepat untuk mendaratkan pasukan karena gelombangnya yang tinggi. Jadi sia-sialah  kubu pertahanan yang dibangun Jepang ini.
Casemate di situs benteng pendem. Tampak kubah pemantau di atas kubu.
Ruangan di dalam casemate. Keterangan 1 : Ruangan amunisi. 2 : Ruangan komunikasi.

Bekas dudukan meriam.
Akhirnya tibalah saya di situs Benteng Pendem Kalimaro. Di situs ini, terdapat dua buah casemate, yakni kubu meriam yang diberi struktur perlindungan. Pada masa awal perang, meriam-meriam Jepang ditempatkan dalam posisi terbuka sehingga menjadi incaran empuk pesawat-pesawat sekutu. Oleh karena itu, meriam-meriam pertahanan ditempatkan di dalam casemate. Saya pun mencoba masuk ke dalam salah satu casemate itu. Sayang, di dindingnya tertoreh coret-coretan hasil dari ulah orang tak bertanggungjawab. Sampah dedaunan berserakan di lantai yang sudah tertimbun tanah. Setiap casemate memiliki empat ruang di bagian dalam. Ruangan terbesar dipakai sebagai tempat meriam, lalu ada ruang kecil yang dipakai sebagai ruang radio untuk komunikasi, dan di sebelahnya terdapat ruangan tempat menyimpan proyektil. Casemate itu dilengkapi dengan semacam kubah kecil sebagai ruang pemantau.
Lubang intai pada casemate. Dari sinilah pergerakan musuh dipantau.


Pintu masuk salah satu casemate. Tampak bekas pintu masuk yang dibongkar.

Lalu darimana asal sebutan Benteng Pendem ? Disebut Benteng Pendem karena gua-gua itu seperti terpendam tanah. Benteng-benteng beton itu memang sengaja dibuat terpendam dan disamarkan dengan lingkungan sekitar untuk menyembunyikannya dari mata pilot pesawat sekutu. Timbunan tanah tadi juga mampu menahan ledakan peluru meriam kapal atau bom pesawat musuh. Antar kubu dihubungkan dengan jaringan parit untuk memudahkan tentara mengisi sektor pertahanan yang terancam (Angkasa, 86; 2010). Selain untuk pergerakan, parit-parit tadi juga dapat digunakan sebagai tempat menembak yang aman. Namun karena tergerus erosi dan sudah diubah menjadi lahan pertanian, maka parit-parit Benteng Pendem kini sudah tidak tampak lagi wujudnya. Di Pasifik, bunker-bunker seperti yang dijumpai di situs Benteng Pendem cukup ampuh menahan laju serangan sekutu walau pada akhirnya Jepang kalah perang.
Meriam tipe '3' kaliber 140 mm yang dipakai luas oleh Jepang untuk mempertahankan pantai.
Melihat lubang tembaknya yang lumayan besar, saya memperkirakan jika meriam yang dipakai adalah meriam tipe '3' kaliber 140 mm, meriam yang diperkenalkan tahun 1914 dan merupakan meriam andalan Kaigun atau angkatan laut Jepang. Dari casemate ini, moncong meriam diarahkan ke pantai untuk menyapu musuh yang sedang mendarat. Dengan jarak tembak maksimum hampir 20 km, peluru yang dimuntahkan meriam itu dapat mencapai pantai selatan Purworejo. Meriam-meriam tersebut dirakit di tempat karena ukurannya yang besar sulit di bawa apalagi jika melalui medan perbukitan.
Beberapa pillbox.

Pintu masuk salah satu pillbox yang sudah terpendam tanah.
Senapan mesin tipe 92 atau Juki, senapan mesin yang digunakan untuk mempertahankan pillbox. Sekutu menjulukinya " Burung Pelatuk" karena suaranya. ( Koleksi Museum Sasmita Loka Bintaran ).
Selain casemate, di beberapa pucuk bukit atau lereng juga terdapat beberapa pillbox, yakni kubu pemantauan yang ukurannya lebih kecil. Karena letaknya yang ada di lereng atau di pucuk bukit yang curam, untuk menuju ke sana saya harus bersusah payah mendaki dan menuruni bukit. Kendala lainnya adalah banyak pillbox yang sudah diselimuti tanaman liar sehingga semakin mempersulit usaha pencarian. Untuk pertahanan, pillbox-pillbox itu dilengkapi dengan persenjataan senapan mesin tipe 92 kaliber 7,7 mm. Senapan mesin itu baru memuntahkan peluru jika musuh sudah masuk dalam jarak 1.500 m dari titik tembak. Kadang mereka menggunakan senapan Arisaka manakala peluru senapan mesin sudah habis. Penempatan pillbox-pillbox itu sudah direncanakan dengan matang, dimana mereka ditempatkan di titik-titik yang diperkirakan akan menjadi jalan prajurit Sekutu bergerak menyerbu posisi mereka, sehingga lawan yang hendak menduduki casemate di puncak bukit dapat dihadang (Tanjung, 2008: 67).
Bunker-bunker yang sengaja dipendam tanah untuk perlindungan.
Bagian dalam salah satu bunker.
Tentara Jepang tinggal di dalam bunker-bunker yang berada di lereng bukit tidak jauh dari casemate untuk mempercepat pergerakan jika terjadi serangan darurat. Bunker itu juga sekaligus menjadi ruang komando operasi dan tempat penyimpanan segala keperluan yang diperlukan tentara seperti senjata, amunisi, obat, dan makanan. Logistik didatangkan dari markas di Purworejo yang menempati bekas tangsi KNIL.
( Ilustrasi pendaratan sekutu dari film Letters from Iwo Jima dan Flags of Our Father ) 

Walau hal ini tidak mungkin terjadi, namun saya mencoba membayangkan seandainya Sekutu melakukan pendaratan besar-besaran di pesisir selatan Purworejo. Bayangan saya mungkin sama dengan adegan film Letters from Iwo Jima. Di film itu, digambarkan pasukan Marinir Amerika mulai mendarat di pantai Iwo Jima dengan kendaraan amfibi. Sementara tentara Jepang sudah membuat persiapan terbaik mereka dengan membuat bunker-bunker bawah tanah dan pillbox yang disamarkan. Ketika jumlah pasukan Amerika yang mendarat semakin banyak dan perlahan bergerak maju ke garis depan, tiba-tiba mereka diberi sambutan mengejutkan oleh tentara Jepang berupa rentetan tembakan senapan mesin dan hujan artileri yang ditembakan dari pillbox yang disamarkan. Perlawanan sengit terjadi hingga akhirnya pulau itu jatuh setelah dibombardir dengan pesawat bomber.

Dari 11 bunker yang disebutkan Tanjung dalam penelitiannya, saya hanya menemukan 9 bunker saja. Sementara sisanya gagal saya temukan karena sudah tertutup tanaman liar. Mungkin akan lebih baik lagi bila di situs ini diberi papan petunjuk arah ke setiap bunker agar pengunjung umum tidak tersesat manakala menelusuri bunker-bunker di situs ini. Semoga situs yang menjadi saksi sejarah Perang Dunia Kedua dan pendudukan Jepang di Indonesia ini dapat digarap dengan lebih baik lagi.

Referensi
Angkasa. 2010. Marine at The Pacific, Pertempuran Terdahsyat Marinir Sepanjang Sejarah. Jakarta;Penerbit Gramedia.

Angkasa Edisi Koleksi XLIX. 2008. Perang Asia Timur Raya, Kedigdayaan Dai Nippon. Jakarta; Gramedia Majalah.

Crib, Audrey dan Kahin, Audrey.2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok ; Komunitas Bambu.

Rotmann. Gordon. L. 2003. Japanese Pacific Island Defense. Oxford : Osprey Publishing.

Wiyan Ari Tanjung. 2008. Latar Belakang Penempatan dan Fungsi Benteng Pendem Kalimaro Purworejo. Skripsi. Yogyakarta; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada

Rabu, 18 April 2018

Benteng Pendem Cilacap, Benteng Terkuat di Hindia-Belanda

Sebuah kapal besar melintas di atas gelombang laut Cilacap, satu-satunya pelabuhan di pantai selatan Jawa. Di sanalah ia hendak bersauh sebentar sebelum kembali berlayar ke bandar lain. Di ujung selatan kota bandar itu, terdapat sebuah benteng kuno peninggalan Belanda yang dengan tenang menyaksikan pergantian hari demi hari. Di masa kolonial, ia menyambut kapal-kapal yang hendak bertandang di Cilacap, di masa Perang Dunia Kedua, ia tak bisa berbuat apa-apa ketika bom-bom pesawat Jepang menghujam Cilacap, hari ini, ia menjadi salah satu daya tarik wisata di Cilacap. Benteng itu kini dikenal dengan nama Benteng Pendem Cilacap…
Gambar rancang Benteng Pendem Cilacap yang dibuat tahun 1874
(Sumber : nationaalarchief.nl)
Membicarakan sejarah Benteng Pendem Cilacap tidak akan lepas dari mulai pentingnya Cilacap sebagai pelabuhan sejak zaman kolonial. Secara geografis, Cilacap dibatasi oleh laut lepas Samudera Hindia di sisi timur dan di sebelah barat terdapat muara Sungai Donan yang lebar. Sementara di seberang selatannya terdapat Pulau Nusakambangan yang meredam gelombang besar Samudera Hindia sehingga menawarkan tempat berlabuh yang aman. Perairannya cukup dalam sehingga kapal dengan sarat air 7 meter dapat memasukinya. Dengan keunggulan tersebut, Cilacap menjadi pelabuhan alami terbaik di seluruh Pulau Jawa. Sayangnya Cilacap berada di luar jalur perniagan karena kebanyakan kapal memilih berlayar lewat laut utara Jawa yang perairannya relatif lebih tenang dibandingkan laut selatan Jawa (Departement of Public Work. 1920 : 33). Dalam kurun waktu yang cukup panjang, Cilacap menjadi daerah pinggiran yang karena tidak memiliki nilai strategis.
Peta Cilacap pada tahun 1800an. Letak Benteng Pendem Cilacap ditandai dalam huruf "a"
(sumber : nationaalarchief.nl)
Setelah Perang Jawa usai, wilayah Bagelen dan Banyumas berada dalam kendali langsung pemerintah kolonial. Pada saat yang sama, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan tanam paksa yang mengharuskan penduduk untuk menanam tanaman yang sudah ditentukan. Bagelen dan Banyumas keduanya jauh dari pelabuhan dagang yang ada di pesisir utara sehingga ada hambatan untuk menyalurkan hasil bumi seperti gula, minyak kelapa, tapioka, dan kopra keluar negeri. Satu-satunya tempat yang memungkinkan di pesisir selatan sebagai pelabuhan adalah Cilacap dan akhirnya Belanda melirik Cilacap meskipun belum ada upaya serius untuk mempersiapkannya. Setelah perlawanan dari dalam Pulau Jawa dapat diredam paska Perang Jawa, pemerintah Hindia-Belanda mulai memperhitungkan ancaman serangan dari luar negeri karena tidak menutup kemungkinan adanya serangan dari bangsa asing lain seperti yang terjadi pada invasi Inggris ke Jawa tahun 1811. Kolonel Van der Wijck kemudian menerima tugas untuk menyusun strategi pertahanan Pulau Jawa. Salah satunya dengan memperkuat titik-titik yang sekiranya rawan diserang dari luar dengan benteng-benteng baru seperti Fort Prins Frederik di Batavia, Fort Prins Oranje di Semarang, dan Fort Prins Hendrik di Surabaya. Belakangan Van der Wijck turut menyadari pentingnya sebuah pelabuhan darurat untuk jalur keluar terakhir yang akan menjadi penghubung antara Jawa dengan dunia luar seandainya pantai utara Jawa sudah ditaklukan musuh. Awalnya, pelabuhan Merak di Banten dipilih untuk menjalankan peran tersebut. Namun dengan pengamatan lebih matang, Van der Wicjk menyadari jika Cilacap lebih sesuai sebagai pelabuhan darurat karena musuh akan memanfaatkan Cilacap sebagai tempat pendaratan pasukan jika perairan Cilacap dibiarkan terbuka. Cilacap yang dilindungi oleh Pulau Nusakambangan dan berada di mulut Sungai Donan yang lebar dan tenang memang sangat ideal untuk tempat pendaratan (Kielstra, 1879: 26). 

Blockhouse, tempat tentara dapat menembakan senanpannya dengan aman.
Pada tahun 1844, militer Belanda mengundang ahli strategi Mayjend. F. B. Von Gagern untuk meninjau pertahanan pulau Jawa yang sudah dibuat. Kedatangan Von Gagern semakin memperkuat keyakinan jika Cilacap perlu memiliki benteng. Menurut Von Gagern, satu-satunya tempat di pantai selatan Jawa yang memungkinkan untuk pendaratan musuh hanyalah Cilacap karena letaknya berada di garis belakang. Seluruh rangkaian pertahanan Pulau Jawa yang sudah dibuat akan berakhir sia-sia karena musuh justru akan melancarkan serangan dari garis belakang yang tidak terjaga dengan baik. Selain itu, kondisi perairan sekitar Cilacap tidak memungkinkan untuk dilakukan penghadangan sehingga Cilacap dapat digunakan sebagai pelabuhan pelarian dan penghubung komunikasi antara Jawa dengan dunia luar. Von Gagern juga melihat potensi Cilacap untuk dijadikan sebagai pelabuhan armada angkatan laut Belanda karena pelabuhan Batavia dan Surabaya sudah mulai mengalami pendangkalan dan pada saat yang sama Belanda juga belum menyiapkan pelabuhan baru yang lebih dalam. Begitu berartinya Cilacap dalam strategi militer Belanda sehingga pemerintah kolonial bertekad untuk mempertahankan pintu belakangnya yang penting ini. Menuruti himbauan Von Gagern, maka Belanda terlebih dahulu menyiapkan sarana pertahanan di gerbang masuk Cilacap antara tahun 1846 dan 1852 sebelum infrastruktur pelabuhan dibangun (Kielstra 1879: 34).
Pintu masuk benteng. Benteng Pendem dahulu dilengkapi dengan jembatan angkat.

Awalnya kapal-kapal musuh diperkirakan akan datang dari dua arah, yakni lewat Segara Anakan atau menyusuri perairan di selatan Pulau Nusakambangan. Pada perkembangan berikutnya, perairan Segara Anakan rupanya memiliki endapan lumpur yang besar sehingga musuh diperkirakan akan menghindari jalur dari barat. Belanda akhirnya lebih condong untuk menempatkan benteng di sisi timur Cilacap. Dua benteng untuk pos pengamatan dibangun di Nusakambangan; Karangbolong dan Banyunyapa. Jika armada musuh terdeteksi mendekati perairan, pasukan yang berjaga di benteng tersebut dapat memperingatkan pasukan di Cilacap untuk segera bersiaga. Armada musuh yang berusaha memasuki Cilacap akan dihadang dengan tembakan meriam yang berada di kedua benteng tersebut. Dua benteng di Nusakambangan tersebut juga memiliki peran untuk mencegah musuh yang dapat memanfaatkan pantai Nusakambangan yang ada di seberang Cilacap sebagai tempat melancarkan tembakan meriam (Van Brakell, 1863 : 271-275). Meriam-meriam saat itu sudah memiliki daya jangkau tembakan hingga 3 kilometer sementara jarak terjauh antara pantai Cilacap dengan Pantai Nusakambangan hanya 2,5 kilometer. 

Gambar potongan Benteng Pendem. Terlihat sebagian struktur dipendam di dalam tanah.

Parit dan dinding Benteng Pendem. Di bagian dinding tampak celah yang dipakai sebagai lubang  tembak.

Jika armada musuh berhasil menerobos tembakan meriam dari dua benteng di Nusakambangan, armada musuh akan berhadapan dengan baterai artileri pantai yang ditempatkan di ujung selatan Cilacap. Baterai artileri adalah kumpulan banyak satuan meriam yang disatukan menjadi satu unit untuk mempermudah komando. Baterai artileri pantai yang ditempatkan di ujung selatan Cilacap tersebut terancam lebih mudah direbut jika tidak dilindungi dan artileri yang sudah direbut dapat digunakan oleh musuh untuk menyerang. Oleh karena itu “Kustbaterij op de Landtong” atau “Baterai Pantai di Tanjung”, nama asli dari Benteng Pendem Cilacap. Tidak seperti benteng-benteng lain di Jawa yang dinamakan secara resmi menurut tokoh kerajaan atau militer Belanda, benteng-benteng di Cilacap tidak mengalami perlakuan serupa. Rencana pembangunan Benteng Pendem Cilacap sejatinya sudah dipersiapkan pada tahun 1848 namun karena biaya pembangunannya yang mahal maka pembangunannya tertunda dan berjalan lambat. Benteng tersebut baru selesai dibangun sekitar tahun 1878 (Veth, 1882 : 415). 


Parit pelindung benteng
Benteng Pendem Cilacap adalah puncak teknologi pertahanan yang pernah dibangun Belanda di Indonesia. Sebagai sebuah baterai pantai, moncong-moncong meriam benteng diarahkan ke laut dan dengan meriam berkaliber 25 cm, benteng ini siap meladeni musuh yang hendak mencoba mendarat di Cilacap. Satu meriam pantai setara kekuatannya dengan tiga meriam kapal perang. Kuatnya pertahanan ini tentu bertalian dengan pentingnya Cilacap sebagai satu-satunya penghubung Pulau jawa dengan dunia luar jika suatu saat terjadi hal buruk di Jawa. Benteng Pendem Cilacap dirancang sedemikian rupa untuk membendung gempuran meriam karena armada musuh pasti akan menghancurkan baterai pantai terlebih dahulu sebelum mendaratkan pasukan dengan aman. Letak Benteng Pendem menjadi keuntungan bagi pihak bertahan karena ketiga sisinya merupakan laut dan tidak dapat dijangkau kapal besar karena perairannya dangkal. Pertahanan Benteng Pendem diutamakan pada sisi darat di sebelah utara dan dijaga oleh 1000 personel (Van Brakell, 1863: 273).
Barak prajurit yang dibangun tahun 1871.
Di kala Benteng Pendem Cilacap masih utuh, benteng ini tampak memiliki bentuk segilima apabila dipandang dari udara. Sisi utara benteng ini sekarang disisihkan untuk menjadi area tangki minyak Pertamina. Bagian tengah Benteng Pendem Cilacap merupakan lapangan terbuka dan dikelilingi oleh ruang-ruang yang meliputi ruang penjara, ruang akomodasi, gudang senjata, gudang amunisi, dan klinik. Saat pembangunan Benteng Pendem, teknologi artileri terbaru bernama explosive shells sedang dikembangkan. Explosive shells adalah semacam proyektil meriam yang meledak begitu proyektil mengenai target sehingga dinding bata tebal langsung roboh akibat ledakan. Sebagai tanggapan dari teknologi explosive shells, para insinyur zeni menyempurnakan benteng pertahanan dengan menutupi ruang-ruang benteng dengan timbunan tanah tebal yang lebih efektif meredam tembakan explosive shells. Parit diperdalam dan sisi-sisinya tidak lagi landai tapi tegak lurus. Benteng Pendem diperkuat lagi dengan blockhouse atau rumah tembak prajurit.  
Lapangan di tengah benteng.

Untuk kebutuhan air, benteng pendem dilengkapi sumur yang berada di dalam tembok benteng, sehingga kebutuhan air bersih tetap ada walau benteng pendem dikepung.
Benteng Pendem Cilacap diperkuat oleh 1000 personel serdadu yang dibekali dengan senapan standar infanteri buatan Belgia-Belanda karya Edouard de Beaumont tahun 1871. Para prajurit benteng tinggal di barak berupa 14 kamar tidur yang berderet memanjang. Pada salah satu kamar, tertoreh sengkalan “1871”, tahun barak itu dibangun. Para prajurit KNIL yang dulu bermarkas di sini mendapat fasilitas yang berbeda. Untuk prajurit Eropa, mereka mendapat selimut katun tebal. Sementara prajurit bumiputra diberi sarung yang diberi cap khusus agar tidak tertukar (Rocher dan Santosa, 2016;14). Agar tidak terjadi pemberontakan dari tentara bumiputra, kamar kompi serdadu Eropa dibuat terpisah namun dalam jarak yang dekat.  
Ruang akomodasi perwira.
Menara pengintaian.
Ruang penjara.
Gudang amunisi.
Ruang klinik.
Setelah Cilacap terhubung dengan jalur kereta pada tahun 1888, adanya kereta api memungkinkan tentara beserta artileri dapat dibawa dari tempat lain dalam waktu yang singkat sehingga tidak diperlukan lagi kedudukan permanen di Cilacap. Benteng Pendem Cilacap diakui bukan tempat yang sehat karena letak benteng yang berada di pesisir yang lembab menjadi kerajaan nyamuk-nyamuk Anopheles. Wabah malaria akhirnya merebak dan menjangkiti prajurit di dalam benteng. “Bukankah lebih baik kita menjadikan wabah tersebut sebagai sekutu kita ? Lebih baik biarkan benteng tersebut jatuh ke tangan musuh dan biarkan mereka tinggal di sana selama mungkin”, demikian tulisan dalam De Locomotief 18 Desember 1884. Siapa sangka jika pada akhirnya benteng tersebut ditaklukan bukan oleh armada musuh berkekuatan besar melainkan oleh serangga kecil bernama nyamuk. Militer Belanda lantas mengosongkan benteng maut tersebut dan memindahkan para tentara ke garnisun lain yang lebih sehat. 
Bekas tempat meriam.
Ilustrasi bentuk meriam yang dahulu dipakai di Benteng Pendem Cilacap. Meriam yang dipakai adalah jenis fixed gun yang berat untuk dipakai dalam pertempuran mobile namun memiliki daya hantam yang kuat dan jarak tembak yang lebih jauh.
 (sumber : Osprey's American Civil War Fort ).
Pada tahun 1892, militer Belanda mengeluarkan strategi pertahanan terbaru dengan meningkatkan kekuatan dan mobilitas tentara dan armada angkatan laut. Bangunan benteng tidak lagi menjadi tumpuan utama pertahanan karena biaya pemeliharaan dan pembangunannya sangat tinggi. Militer Belanda lebih mengutamakan untuk mengembangkan garnisun dan pangkalan angkatan laut (Mantel, 1930: 9). Meskipun demikian Cilacap masih memiliki kedudukan yang penting sebagai pangkalan angkatan laut di Jawa Tengah karena pelabuhan Cilacap lebih terlindung sehingga kapal dapat bersandar lebih aman dibandingkan Semarang yang terlalu terbuka dan ditambah Cilacap juga memiliki jalur kereta yang tersambung dengan jalur kereta Staatspoorwegen yang sudah menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Timur sehingga untuk memastikan hubungan perkeretapian tidak terganggu maka Cilacap tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Kendati tidak menjadi pangkalan armada yang utama, Cilacap tetap menjadi pangkalan armada yang berharga. Oleh karena itu, sarana pertahanan yang sudah ada di Cilacap seperti Benteng Pendem diperbarui pada tahun 1913 dengan teknologi pertahanan mutakhir berupa meriam turret yang dilindungi oleh beton yang lebih kuat ketimbang bata (Van Gijn, 1913: 76-77).
Bekas tempat meriam yang ditambahkan pada tahun 1913.
Saat terjadi Perang Dunia Kedua, Cilacap menjadi pangkalan armada yang sangat penting letaknya berada di pantai selatan yang jauh dari jangkauan armada Jepang dan Cilacap dilengkapi sarana pengisian bahan bakar minyak dan batubara. Pada Desember 1941, Belanda memindahkan sarana galangan kering mengapung ke Cilacap. Sejumlah kapal perang Sekutu singgah di Cilacap untuk mengisi bahan bakar dan memperbaiki kapal yang rusak. Benteng Pendem sempat berjumpa dengan kapal perang berbendera Amerika Serikat, USS Langley, kapal induk pertama yang dioperasikan oleh Amerika Serikat. Perjumpaan tersebut adalah perjumpaan terakhir karena kapal tersebut tenggelam di laut selatan Cilacap pada 27 Februari 1942. Perang semakin sengit sehingga Batalion Pantai dan Pertahanan Udara 6 di bawah komando brigade Cilacap ditempatkan di Benteng Pendem untuk mempertahankan Cilacap. Militer Belanda yang bergabung dengan Sekutu saat itu sudah begitu lemah. Cilacap yang digadang-gadang sebagai pelabuhan darurat tidak pernah menerima bala bantuan dari luar karena negeri Belanda sudah dikuasai Jerman. Cilacap akhirnya menunggu takdir untuk jatuh. Pada 5 Maret 1942, Jepang melancarkan serangan udara ke Cilacap. Bom-bom yang dijatuhkan dari udara oleh pesawat Mitsubishi G3M jelas tidak bisa dilawan oleh benteng yang sarana pertahanan udaranya kurang memadai. Sejumlah kapal yang bersandar behasil dirusak. Walau sudah diperkuat kembali, pada akhirnya benteng itu gagal melindungi kota Cilacap dari serangan Jepang yang lebih mutakhir persenjataanya. Akhirnya pada 8 Maret 1942, Detasemen Sakaguchi yang bergerak dari Jawa Timur berhasil menguasai Cilacap dengan mudah (Remmelink, 2018: 401)

Referensi
Departement of Public Works. 1920. Netherland East India Harbours. Singapore: C.A. Riberio & Co.

Junearto, Wendy Fansiya. 2014. Fungsi Benteng Peninggalan Belanda di Kabupaten Cilacap : Pendekatan Lokasional, Yogyakarta; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Skripsi.

Kielstra, E. B. 1879. De Grondslagen der Verdediging van Java.

Mantel, P. G. 1930. De Verdediging van Nederlandsch Indie. Breda : De Koninklijke Militaire Academie.

Van Gijn.1913.Rapport van de Staatscommisie voor de Verdediging van Nederlandsch Indie. 'S-Gravenghage : Js. Bootsma Electrische Drukkerij.

Rocher, Jean dan Iwan Santosa. 2016. KNIL ; Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Perancis. Jakarta; Penerbit Kompas.

Remmelink, Willem (ed). 2018. The Operations of the Navy in the Dutch East Indies and the Bay of Bengal. Leiden : Leiden University Press.

Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Van Brakell, Vaynes. 1863. De Verdediging van Nederlandsch Indie. Amsterdam : P.N. Van Kampen.

Veth, P. J. 1882. Java, geographisch, ethnologisch, en Historich. Haarlem : De Erven F. Boh.

De Locomotief 18 Desember 1884