Tampilkan postingan dengan label Kerkhof/Makam Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerkhof/Makam Belanda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Maret 2019

Kerkhof Peneleh, Nekropolis di Tengah Metropolis Surabaya

Kala bertandang ke pemakaman Belanda atau kerkhof yang berada di tengah padatnya kampung Peneleh, Surabaya itu, tiada sambutan dari gerbang megah nan mencolok seperti lumrahnya beber. Namun bila melangkah ke dalam, siapapun yang masuk ke sini akan terpukau dengan pesona hamparan makam bergaya Eropanya yang masih berdiri di tempatnya.

Seperti kerkhof di kota lain, Kerkhof Peneleh dahulu memiliki pintu gerbang bergaya klasik. Namun gerbang ini hancur sewaktu perang dan tidak pernah dibangun lagi (sumber : media-kitlv.nl).

Berisikan 3.821 makam, kerkhof yang terletak di tengah sesaknya perkampungan Peneleh ini boleh jadi adalah salah satu pemakaman Eropa terluas di Indonesia yang masih tersisa. Banyaknya jumlah makam di dalamnya membuat kerkhof ini tampak seperti sebuah nekropolis, kota kematian. Sulit dibayangkan bagaimana nekropolis seluas 4,5 ha ini mampu sintas di tengah ramainya metropolitan Surabaya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kerkhof di kota-kota besar di Indonesia semakin ke sini makin tergerus oleh pesatnya perkembangan ruang, tersisihkan hingga hanya menyisakan sebagian kecil makam atau bahkan lenyap sama sekali. Andaipun masih utuh, banyak makam-makam di dalamnya sudah sulit dikenali lagi. Namun tampaknya kerkhof Peneleh terhindar dari takdir getir tersebut. 

Peta kota Surabaya tahun 1866. Tampak permukiman Eropa (1)  dan letak kerkhof Peneleh (2).

Hari ini, pemakaman tersebut hampir menapaki usia dua abad. Kisah dari kerkhof Peneleh bermula pada tahun 1830an, saat pemakaman Eropa yang ada di Krembangan hampir terisi penuh. Sementara tanah sekitar yang berupa rawa membuat pemakaman tersebut sukar diperluas. Dewan gereja selaku pihak pengurus pemakaman meminta kepada pemerintah kolonial untuk disediakan lahan pemakaman baru di tempat lain. Pada mulanya, pemerintah kolonial menawarkan daerah Kupang sebagai lahan pemakaman pengganti di Krembangan. Setelah itu, ketua dewan Gereja dan insinyur Tromp menjajaki calon lokasi yang ditawarkan. Mereka mendapati jika jarak tempat tersebut terlampau jauh dengan permukiman. Akibat pembatalan tersebut, pemakaman Krembangan yang sudah kelebihan daya tampung akhirnya tidak menerima penguburan baru. Selagi pemakaman untuk golongan masyarakat Eropa belum tersedia, maka jenazah mereka dimakamkan pada suatu pemakaman pribumi yang ada di Semarung  (Von Faber,1932; 314-315).

Berbagai sudut kerkhof Peneleh.

Batalnya pemilihan daerah Kupang sebagai lokasi pemakaman Eropa membuat pemerintah berpaling ke tempat lain. Belajar dari pengalaman sebelumnya, pemerintah kolonial kali ini lebih perhitungan dalam memilih lahan yang akan dijadikan sebagai pemakaman golongan Eropa. Beberapa pertimbangan yang telah ditentukan antara lain tanahnya tidak boleh tanah rawa, tidak mudah tergenang air dan tanahnya mudah digali. Letaknya sedapat mungkin tidak menghalangi perluasan kota dan hendaknya lingkungan sekitarnya masih belum berpenghuni sehingga pemakaman dapat diperluas bila dibutuhkan. Tempatnya juga harus mudah dijangkau supaya rombongan pengantar jenazah tidak menempuh perjalanan terlalu lama. Berdasarkan pertimbangan di atas, pilihan tempat pemakaman Eropa baru akhirnya jatuh pada sebidang lahan di pinggiran kampung Peneleh yang saat itu masih berupa hutan bambu. Pembersihan, pengurugan tanah, dan pembuatan saluran drainase beserta jalan menuju pemakaman dimulai pada 24 Februari 1846. Untuk proyek tersebut, pemerintah kolonial menganggarkan dana sebesar 10.000 gulden. Insinyur Geil dari kesatuan zeni militer menjadi pengawas untuk proyek yang dituntaskan sampai bulan Agustus 1847 itu. Pemakaman Peneleh dibuka untuk umum terhitung sejak 1 Desember 1847 (Von Faber,1932; 314-315).

Ketika seseorang meninggal, mereka umumnya akan cenderung membuat makam yang lebih besar dari lainnya dan kadang menciptakan kesan sombong.

Menapaki bagian dalam pemakaman, pengunjung akan disuguhkan dengan tatanan kerkhof Peneleh yang tampak begitu rapi. Setiap makam diberi jarak teratur dan letaknya ditata sedemikian rupa hingga jika dilihat dari atas pemakaman tersebut memiliki pola yang kotak-kotak yang rapi. Keteraturan tatanan tersebut menunjukan sejarah panjang seni tata lahan pemakaman ala Eropa yang sampai ke Nusantara melalui kolonisasi. Pada tahun 1910, pemerintah kota Surabaya menyusun “De Verordening op het beheer der Europeesche begraafplaatsen” sebagai peraturan hukum dalam pengelolaan pemakaman Eropa di Surabaya. Dalam peraturan tersebut, penduduk asing yang disetarakan dengan golongan Eropa seperti orang Jepang atau orang Tionghoa dan pribumi yang beragama Kristen, diperbolehkan untuk dimakamkan di pemakaman Belanda Peneleh (Faber G. v., 1931: 190).

Makam-makam bercungkup.

Penguburan di sini dilakukan dalam dua cara, yakni penguburan Grafkelders, dan Aarden Graven. Pada penguburan Grafkelders, sudah disediakan suatu relung berdinding. Peti mati ditaruh ke dalamnya dan setelah itu relung tersebut ditutup. Sementara untuk jenis Aarden Graven, jenazah dimasukan ke liang lahat dan dipendam dengan tanah. Beberapa makam terbuat dari besi untuk mencegah penjarah mengambil benda berharga yang turut dikubur atau lebih gila lagi, mencuri jenazah untuk dijadikan obyek penelitian anatomi atau mencari kesaktian. Sulit diterima rasanya bila ada orang lain yang mengusik ketenangan dari jasad sanak keluarga mereka.



Batu nisan berbahasa Inggris, Armenian, dan Perancis.
Selain bahasa Belanda, beberapa makam juga menggunakan bahasa Inggris, Jerman, Perancis. Armenia, Ibrani, dan Jepang. Perbedaan jenis bahasa tersebut seakan menjadi bukti metropolitannya Surabaya di masa lalu. Dari awal keberadaanya, Surabaya yang terletak di pesisir dan dilalui jalur pelayaran menjadi kota persinggahan pedagang asing dari berbagai tempat seperti pedagang Tionghoa, Arab, dan Eropa. Lambat laun, Surabaya tumbuh menjadi kota pusat aktivitas dan menjadi tujuan banyak orang dari berbagai wilayah dan beragam latar budaya. Perjumpaan lintas budaya ini kemudian membangun karakter masyarakat Surabaya sebagai masyarakat yang terbuka dan mampu menerima hal-hal baru sehingga terbentuklah citra Surabaya sebagai kota majemuk dan harmonis. Majemuknya kehidupan di Surabaya akhirnya mendorong terjadinya persentuhan antar dua budaya yang berbeda seperti kebudayaan Belanda dengan Jawa yang melahirkan budaya Indisch. Karya dari budaya Indisch yang terjumpai di pemakaman Belanda Peneleh adalah cungkup-cungkup yang menudungi sejumlah makam. Tradisi pembuatan cungkup makam dilakukan oleh orang-orang Jawa untuk melindungi makam supaya tidak rusak tergerus oleh cuaca. Tradisi itu lalu ditiru oleh orang Eropa untuk makam-makam mereka.
Orang-orang Barat kadang menyertakan simbol-simbol yang terkait dengan kematian, misalnya guci berselimut seperti yang tampak pada makam paling kanan yang merupakan simbol dari jiwa yang sudah beristirahat.
Kadangkala sebauah batu nisan memiliki lebih dari satu simbol seperti makam Amalie van Hassen ini. Jam pasir bersayap (bagian atas), menunjukan bahwa waktu yang sudah dilaluinya sudah pergi. Obor dalam posisi biasa dan terbalik menunjukan bahwa ada kehidupan, ada pula kematian.
Pilar patah menjadi simbol putusnya kehidupan seseorang.
Makam keluarga Ch. M. Haccoue. Di bagian bawah tampak simbol jangkar yang mnyimbolkan harapan atau petunjuk bahwa dulunya ia adalah seorang pelaut.
Simbol ular yang menggigit ekor atau ouroboros yang berarti hidup selalu ada awal dan akhir.
Beginilah keadaan kerkhof Peneleh sekarang. Makam-makam mulai ambruk, atap cungkup sudah koyak, batu nisan mulai aus dan pecah. Sedikit pohon perindang yang tumbuh di pemakaman yang sangat luas ini. Hal itu tampaknya disengaja supaya pohon tidak menandingi kesan monumental sebuah makam.  Makam memang tidak sekedar pengabar bahwa di sana ada kuburan seseorang. Ia adalah penanda kenangan, perkabungan, rasa kehilangan dan sekaligus media pengingat kematian. Kenangan itu diukir dalam wujud nama insan yang telah meninggalkan rasa kehilangan bagi setiap orang yang mencintainya. Kematian itu tak hanya sekedar dalam nama yang dipahat pada kerasnya batu. Oleh sang pembuat makam, kematian diperingatkan dalam wujud monumen estetik, ukir-ukiran penyerta yang sarat dengan pesan akan kematian, dan patung-patung yang menambah rasa hormat kepada jiwa-jiwa yang kini terbaring dalam ketenangan dan kedamaian abadi di kota kematian ini. Sebagai contoh adalah ukiran jam pasir yang memiliki pesan tersirat bahwa segala yang hidup akan kembali mati dan segala yang telah mati akan dihidupkan kembali. Simbol lain adalah ukiran obor yang dibuat terbalik sebagai lambang dari kehidupan yang telah padam. Suatu simbol terkadang bisa bermakna ganda. Misalnya adalah simbol jangkar yang selain menunjukan bahwa yang dimakamkan di sana adalah pelaut, kadang bisa juga menjadi simbol harapan agar arwah dapat berlabuh dengan selamat  di dermaga akhirat.
Gubernur Jenderal Pieter Hendrik Merkus (sumber : common.wikimedia).
Makam Gubernur Jenderal Pieter Hendrik Merkus, satu-satunya gubernur jenderal Hindia-Belanda yang dimakamkan di luar Batavia.
Nisan sesungguhnya merupakan media perantara manusia dengan mereka yang telah meninggalkan dunia ini. Dari nisan lah seseorang yang telah tiada dapat menunjukan jatidirinya sewaktu masih hidup. Di salah satu sudut pemakaman, terdapat sebuah makam yang tidak terlalu megah, namun dari kata-kata yang terukir pada batu nisan yang kusam, kita dapat mengetahui bahwa ia dulunya adalah seorang yang berkuasa di masanya. Batu nisan tersebut tak lain adalah batu nisan dari Pieter Hendrik Merkus, gubernur jenderal Hindia-Belanda ke 47. Tentang Merkus, tidak banyak yang diketahui dari pria kelahiran Naarden 18 Maret 1787 ini. Disebutkan dalam Encyclopedia Nederlandsch Indie, sesudah merampungkan belajarnya di Leiden, Merkus diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 1815 dan setahun kemudian ditugaskan ke Hindia-Belanda. Karir Merkus di sini boleh dikatakan cemerlang. Pada tahun 1817, Merkus naik jabatan menjadi wakil sekretaris jenderal. Lalu pada tahun 1822 ditunjuk menjadi Gubernur Maluku. Saat duduk di kursi Dewan Hindia, Merkus membuat suatu keputusan bersejarah bahwa kekuasaan wilayah Banyumas, Bagelen, Madiun, dan Kediri harus diserahkan kepada pemerintah kolonial sebagai pampasan Perang Jawa. Merkus menentang rencana Sistem Tanam Paksa yang digulirkan oleh Johannes van den Bosch sehingga Merkus dicopot dari dari kursi Dewan Hindia pada 1836. Merkus kembali menduduki kursi Dewan Hindia tiga tahun setelahnya untuk menangani Perang Paderi. Merkus diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada tahun 1842. Itulah karir tertinggi Merkus sekaligus karir terakhirnya. Baru dua tahun lamanya menjabat, Merkus meninggal dunia di Huize Simpang (kini menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur) pada 2 Agustus 1844 (Graaff & Stibbe, 1918; 713-714). Ketika Merkus meninggal, pemakaman Belanda Peneleh belum dibuka sehingga jasad Merkus dikebumikan di area Benteng Prins Hendrik. Pada akhir abad ke-19, benteng tersebut dibongkar untuk keperluan pembangunan trem dan makam-makam di sana dipindahkan ke Peneleh termasuk makam Merkus ini. 
Frans Jacob Huber Bayer (sumber : Oud Soerabaia)
Simbol jangka dan siku seperti yang terlihat pada makam F.J.H Bayer ini umumnya merujuk bahwa yang dimakamkan di sini dahulunya adalah anggota Freemason. F.J.H Bayer sendiri dikenal sebagai industriawan yang memrakarsai industri baja di Surabaya.
Bentuk sebuah makam seringkali mengikuti keadaan ekonomi seseorang saat dia hidup. Untuk orang kaya, mereka berlomba mendirikan makam megah dengan hiasan menonjol di kaveling yang dibeli untuk dirinya. Sementara untuk orang yang kurang kaya, mereka cenderung membangun makam yang kecil atau kadang menyewa pada kaveling orang lain. Namun tidak semuanya  demikian. Sebagai contoh adalah makam Frans Jacob Hubert Bayer, raja baja Surabaya tempo dulu. Untuk orang sekelas Bayer, makamnya tampak berlainan dengan makam orang kaya pada umumnya. Makamnya hanya berupa lempengan baja mendatar. Kesederhanaan makamnya seakan berbanding terbalik dengan perannya yang luar biasa sebagai industriawan pembuka jalan industri baja di Hindia-Belanda. Kisah Bayer di Surabaya dimulai sebagai mekanik di pabrik Lands-Contructie Winkel, bengkel baja milik pemerintah. Bayer kemudian keluar dan dengan pengetahuannya ia mendirikan pabrik baja sendiri bernama Stoomfabriek van F.J.H Bayer yang kemudian berubah nama menjadi De Phoenix. Pada tahun 1844, pabriknya diterpa krisis keuangan sehingga Bayer menjual pabriknya kepada pemerintah dengan harga 100.000 gulden. Tidak patah semangat, Bayer mendirikan pabrik baja lagi dengan nama "Volharding". Untuk memperdalam pengetahuan soal industri baja, pada 1863 Bayer menyambangi negara-negara industri Eropa seperti Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, dan Belgia. Safari Bayer tersebut tidak sia-sia. Pabrik baja "Volhrading" menuai kesuksesan dan semakin maju setelah bea masuk untuk bijih besi mentah dipangkas. Kehadiran pabrik baja "Volharding" dapat mengurangi ketergantungan pasokan baja dari Eropa sehingga mendorong pertumbuhan industri-industri lain, terutama industri gula yang selama ini bergantung dari pabrikan Eropa (Knight, 2014; 52-55). Pabrik baja tersebut juga dilirik oleh para pelaku industri dari Jepang yang saat itu sedang menapaki Revolusi Industri. Atas jasanya yang mendorong kemajuan industri baja di Hindia-Belanda, Bayer dianugerahi medali Ridder den Orde van Nederland Leeuw. Karena alasan kesehatan, Bayer mengundurkan diri dari kegiatan pabrik dan meninggal pada tahun 1879.
Makam Pastor Martinus van den Elsen. Batu nisan sang pastor dibuat oleh pematung Kuyper dan dibawa langsung dari kota Maastricht, Belanda. Pastor Elsen memainkan peran penting dalam penyebaran agama Katolik di kota Surabaya.
Makam suster Mere Lousie, suster dari ordo Ursulin yang pertama tiba di Surabaya. Ia dimakamkan dengan suster-suster Ursulin yang lain.
Makam Wakil Presiden Raad Van Indie, Pierre Jan Baptiste Perez. Meninggal 16 Maret 1859 saat perjalanan ke Bajo. Tubuhnya dimakamkan pada tanggal 29 Maret 1859. Dalam prosesi kematiannya, 6 kuda berkulit hitam menarik kereta jenazahnya dan diiringi dengan dua batalyon infanteri, satu divisi kavaleri, dan satuan artileri.
Makam D.F.W. Pietermaat, Residen Surabaya dari tahun 1839 hingga 1848.
Makam Johannes Emde, salah satu tokoh penyebar agama Kristen di Jawa Timur.

Sebenarnya masih ada beberapa tokoh penting yang dimakamkan di sini. Misalnya adalah makam tokoh penyebar agama seperti makam pastor Martinus van den Elsen, tokoh yang membawa Ordo Jesuit ke Surabaya dan makam Johannes Emde, penyebar agama Kristen di Karesidenan Surabaya. Kemudian ada tokoh pengusaha seperti Frans Jacob Hubert Bayer, raja besi Surabaya yang memperkenalkan industri besi ke Jawa sehingga harga besi menjadi murah. Lalu ada makam tokoh emansipasi perempuan sebelum Kartini, Rosalia Josepha. Berikutnya fotografer kondang Ouhannes Kurkdijan yang berkat fotonya orang-orang di masa kini dapat mengetahui suasana Surabaya tempo dulu. Sungguh masih tersimpan beribu kisah dari nekropolis ini namun semuanya tidak bisa diceritakan satu persatu di tulisan kecil ini. 
Osuarium kerkhof Peneleh yang oleh masyarakat setempat dinamai omah balung.
Di kerkhof ini, terdapat sebuah reruntuh bangunan yang kini hanya menyisakan dinding dan sebuah kolom. Masyarakat setempat menjuluki banguan tersebut dengan nama omah balung, merujuk pada banyaknya tulang-tulang yang ditaruh di rongga bawah bangunan tersebut. Keberadaan bangunan tersebut menunjukan masalah ketersediaan lahan pemakaman yang terjadi di Surabaya pada akhir abad ke 19. Di luar bayangan pemerintah kolonial, meningkatnya arus urbanisasi Surabaya rupanya telah mengubah lahan di sekitar kerkhof yang semula masih berupa kebun bambu menjadi perkampungan padat. Upaya perluasan pemakaman pun terhalang oleh perkampungan yang mengepung pemakaman. Sementara itu, dengan bertambahnya makam baru, maka lahan kosong yang tersedia mulai berkurang dan belum ada pemakaman Belanda lainnya di Surabaya selain di Peneleh saat itu (Soerabiasch Handelsblad, 13 Mei 1899). Ketika kebutuhan pemakaman kian mendesak, beberapa kuburan lama dibongkar dan sisa kerangkanya diambil untuk kuburan baru. Kerangka manusia kemudian ditempatkan di dalam ossuarium yang kemudian disebut omab balung. Masalah keterbatasan lahan makam juga diatasi dengan menerapkan sistem kubur huurkelder, dimana ruang kubur milik seseorang dapat disewakan untuk makam orang lain sehingga dalam satu kubur ada lebih dari satu jenazah. Meskipun demikian, upaya tersebut dirasakan belum mampu mengurai akar masalah yang ada ada sehingga pemerintah kolonial membuka pemakaman baru di Kembang Kuning pada tahun 1916 (Von Faber, 1934 ; 186-187). Pemakaman Belanda Peneleh tidak menerima jenazah lagi pada tahun 1960an.

Sekian kisah dari kerkhof Peneleh, sebuah nekropolis yang sedang berjuang untuk bertahan di tengah pesatnya pertumbuhan metropolis Surabaya. Keheningan kerkhof Peneleh kontras dengan hingar-bingar kehidupan metropolitan Surabaya di luar tembok makam. Pada setiap makam yang terpancang, terkandung kisah lika-liku kehidupan manusia masa silam, petuah bijak tentang kematian, cita-rasa seni, latar belakang sosial-budaya, serta perasaan terhadap keabadian yang diungkapkan dalam tulisan dan karya pahatan. Sudah semestinya bila kerkhof ini untuk dilestarikan sebagai pembelajaran untuk manusia masa kini yang tampaknya sudah tidak terlalu peduli dengan kematian. Namun yang terjadi justru adalah aksi vandalisme oleh orang tak bertanggung jawab. Beberapa makam yang masih utuhpun setiap harinya semakin rusak.  Jalan untuk melestarikan nekropolis ini memang masih berliku. 

Referensi
Knight, G. R. (2014). Sugar, Steam, and Steel ; The Industrial Project in Colonial Java 1830-1885. Adelaide: University of Adelaide Press.

Mahendrani, Cahya Ratna. 2013. “Nisan Makam Belanda Peneleh Surabaya (Kajian Bentuk dan Ragam Hias)”. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Muller, Stephen. 2915. “ Colonial experiences of death, burial and memorialisation in West Terrace Cemetery,Adelaide: applying a phenomenological approach to cultural landscapes in historical archaeology ” dalam Australasian Historical Archaeology, Vol. 33 (2015), hlm 15-26

Graaff, S. D., & Stibbe, D. 1918. Encyclopaedie van Nederlandsch Indie. 'S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Von Faber, G.H. 1932. Oud Soerabia ; De Geschiedenis van Indies Eerste Koopstad van de Oudste Tijden tot de Instelling van Den Gemeenteraad. Surabaya : Gementee Soerabaia.
Von Faber, G.H. 1932. Nieuw Soerabia ; De Geschiedenis van Indies Voornaamste Koopstad in De Eerste Kwareeuw Sedert Hare Instelling 1906-1931. Surabaya ; N.V. Boekhandel en Drukkerij H.van Ingen.

Worpole, K. (2003). Last Landscape ; The Architecture of The Cemetery in The West. Reaktion Books: London.

Soerabiasch Handelsblad, 13 Mei 1899.

Kamis, 27 September 2018

Membangun Ingatan Pa van Der Steur, Sahabat Anak Yatim Piatu dari Magelang

Aliran air saluran Kali Manggis mengalir dengan tenang membelah jalan Ikhlas. Di tepi saluran tersebut, menjulang sebuah gerbang berwajah Neo-Klassik yang masih terpelihara baik. Di masa lampau, gerbang itu menyambut pengunjung yang berziarah ke Kerkhof Magelang. Ya, persis di balik gerbang itu, pernah ada lahan kerkhof yang kini telah beralih wujud menjadi deretan pertokoan. Puluhan tahun silam, ratusan pusara di kerkhof tersebut digusur oleh pemerintah kota demi pembangunan kota. Namun tak semuanya serta merta digusur. Persis di belakang sebuah kios pedagang pakan burung, masih terdapat secuil lahan yang disisakan untuk Pa van Der Steur, sosok yang telah menjadi kepingan dari semesta sejarah Magelang yang panjang. Melalui pusaranya yang masih tersisa di sini, Jejak Kolonial akan mengajak anda untuk membangun ingatan sosok Pa van der Steur….
Bekas gerbang kerkhof Magelang.
“ Hier Rust Een Vriend van God, De Grote Kindervriend, Papa Johannes Van der Steur “.
Beberapa penggal kata itu menjadi penanda tempat pembaringan terakhir dari Johannes van Der Steur atau akrab disapa Pa van Der Steur. Tengara lainnya ialah sebuah foto yang memperlihatkan sosok Pa van Der Steur sewaktu masih hidup. Kendati foto tersebut sedikit rusak, namun ciri khas yang melekat pada Pa van Der Steur yakni janggut putih panjang menjuntai dan dua medali penghargaan yang disemat di dadanya masih dapat dikenali. Pria kelahiran Haarlem 10 Juli 1856 ini pada masa mudanya memiliki kepribadian yang mulia walau ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang berada. Menginjak usia dewasa, dengan keputusan bulat ia memilih menjadi seorang Penginjil sebagai jalan untuk mengabdikan diri kepada sesama. Suatu hari di kota Hardwijk, ia bersua dengan prajurit yang baru saja kembali dari koloni Hindia Timur. Melalui penuturan prajurit itu, Pa van Der Steur mendengar sendiri bagaimana kesukaran hidup mereka selama di sana dan dari situlah ketertarikannya pada Hindia-Belanda bermula. Pada 1892, hijrahlah Pa van Der Steur ke Hindia-Belanda, dimana jemari takdir tampaknya mengacungkan Magelang sebagai tempat Pa van Der Steur berkarya. 
Pa van der Steur semasa muda.
(sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).

Pa van der Steur beserta orkes Steurtjes 
(sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Magelang, tempat Pa van Der Stueur mengabdikan sebagian besar hidupnya, merupakan salah satu garnisun militer utama di Jawa tengah, tempat bermarkasnya para prajurit KNIL yang terdiri dari orang Eropa dan Indonesia timur. Di sini, Pa van Der Steur secara sukarela ditugaskan untuk mengurus balai serdadu tersebut sembari memberi pelayanan rohani di tengah bobroknya moral kehidupan barak. Mereka yang tinggal di dalam garnisun tersebut tak hanya prajurit yang hidup membujang saja. Beserta dengan mereka, ada yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Sebagai prajurit yang setia dengan kesatuannya, sudah menjadi keharusan jika mereka siap diterjunkan ke palagan perang sekalipun itu akan merenggut nyawa mereka. Tentu saja yang merasa paling kehilangan mereka adalah para istri atau anak-anak prajurit tersebut. Benar saja, pada tahun 1890an, ketika kaki Pa van Der Steur mulai menapaki tanah Hindia-Belanda, para prajurit KNIL dari seantero Hindia-Belanda dipanggil untuk terjun ke palagan perang di Aceh dan Lombok. Dahsyatnya perlawanan dari para pejuang Aceh mengakibatkan gugurnya 37.500 serdadu KNIL, meninggalkan putra-putri yang masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah. Hilangnya tulang punggung ekonomi keluarga membuat nasib anak-anak yang sebagian besar merupakan hasil perkawinan campuran tersebut terlantar.

Makam Pa van der Steur beserta makam-makam lainnya yang masih tersisa.
Suatu hari, seorang prajurit Belanda yang tampak sempoyongan sehabis mabuk mendatangi Pa van der Steur. Di hadapan Pa van Der Steur, ia menceritakan keberadaan seorang perempuan pribumi dan empat anaknya yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya, seorang prajurit berdarah Italia. “Tunjukanlah bukti padaku jika tuan memang adalah orang yang taat pada agama”, tutur mulut si serdadu mabuk itu yang  ternyata menggugah hati kecil Pa van Der Steur. Keempat anak yatim yang dimaksud tadi lantas dijemput Pa van der Steur. Hanya bermodalkan rasa kasih pada sesama, keempat anak tersebut ia rawat dengan penuh rasa kasih sayang. Kendati masih bujang, Pa van der Steur mampu berperan sebagai seorang ayah yang baik untuk keempat anak asuhnya. Rumah bambu yang ia namakan “Oranje-Nassau” dijadikan sebagai rumah asuh. Bagai bola salju, lambat laun banyak anak yatim-piatu yang diasuh oleh Pa van der Steur. Mereka selain ditinggal mati oleh ayahnya di medan perang, beberapa di antaranya juga merupakan korban praktik pergundikan, dimana para serdadu kesepian menikah secara tidak resmi dengan perempuan pribumi  lalu setelah masa dinas habis, mereka meninggalkan begitu saja istri dan anak-anaknya.

Makam-makam berbentuk tugu untuk anak-anak asuh Pa van der Steur yang meninggal di usia muda.
Makam bersama yang dibuatkan Pa van der Steur untuk para Steurtjes
(sumber :  Zoo Leuk Zeg ! Alles van Huis ).
Makam-makam lainnya.

Di sisi pusara Pa van Der Steur, beberapa steutjes terbaring damai dalam sebuah pusara khusus berbentuk rumah-rumahan. Beberapa yang lain dibuatkan tugu kecil berbentuk obelisk. Melalui tulisan yang tertera, Pa van Der Steur menyebut para anak asuhnya sebagai “domba-domba Tuhan”. Dari nama-nama steurtjes yang ada di sini, dapat ditemukan beberapa nama anak-anak Indo dan Ambon. Para Steurtjes, entah itu anak Belanda totok, Indo, Jawa, Ambon atau Minahasa, diperlakukan secara adil. Mereka oleh Pa van der Steur diberi sepatu dan pakaian, serta diajarkan baca tulis untuk memberi rasa percaya diri. Tidak ketinggalan, beberapa serdadu baik hati membantu pekerjaan Pa van der Steur seperti mencuci, menjahit, dan bermain dengan anak-anak. Suatu hari, salah satu Steurtjes, sebutan untuk anak asuhnya, menanyakan nama apa yang akan dipakai untuk menyapa ayah angkat mereka. “ Kalian boleh sapa aku Pa seakan aku adalah ayah kandung kalian “, mungkin seperti itulah jawaban dari Pa van der Steur dan sapaan “Pa” melekat pada diri Johannes van der Steur hingga akhir hayatnya.
Pa van der Steur beserta saudarinya, Marie (memegang topi) (sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Atas permintaan Pa van der Steur, salah satu saudarinya yang bernama Marie, tiba di Magelang pada 1893 untuk membantu kerja Pa van der Steur. Saat itu, Pa van der Steur masih berjuang keras untuk membesarkan rumah asuh “Oranje Nasau” yang kian bertambah jumlah anak asuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang para Steurtjes, Pa van der Steur rela menjual harta bendanya sebelum akhirnya pemerintah kolonial memberi hibah sebesar 100 gulden setiap bulan. Supaya lebih teratur pengelolaanya, dibentuk yayasan Vereeniging tot bevordering van Christelijk leven en onderling hulpbetoon gevestigd te Magelang pada 1896. Yayasan tersebut lebih mahsyur dengan nama “Oranje-Nassau Stichting”, merujuk pada nama rumah asuh pertama yang dipakai Pa van der Steur.
Istri van der Steur ( kedua dari kiri ) di ruang makan untuk Steurtjes perempuan ( sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09 ).
Bengkel tempat para Steurtjes melatih keterampilan membuat barang ( sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09 ).
Karya mulia Pa van der Steur terus berlanjut meski hambatan masih menemui seperti ketika Marie van der Steur kembali ke Belanda dan di saat yang sama, Pa van der Steur didera penyakit yang memaksanya untuk kembali ke kampung halamannya. Selagi berobat di Belanda, kesempatan tersebut ia pakai untuk menggalang bantuan dari masyarakat luas termasuk keluarga kerajaan Belanda seperti ibu suri Ratu Emma. Tidak sia-sia, jumlah yang berhasil dihimpun sebesar 20.000 gulden dan uang itu dipakai untuk membeli bekas barak polisi di kampung Meteseh, di utara Karesidenan Kedu. Di kompleks panti asuhan yang baru ini, para Steurtjes diberi pendidikan sebagai bekal ketika mereka sudah beranjak dewasa dan keluar dari panti asuhan. Selain diberi pendidikan teori, mereka juga diberi keterampilan seperti pandai besi, tukang kayu, pelukis, dan tukang batu sehingga mereka bisa bekerja di perusahaan swasta atau zeni militer. Untuk membentuk karakter anak didik, disiplin militer dipakai, “terutama untuk menghadapi anak Indo yang enggan untuk melakukan kerja kasar”. Panti asuhan “Oranje-Nassau” dibagi menjadi tiga jenis, yakni untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun (kleintjehuis), remaja putra (jongenshuis), dan remaja putri (meisjehuis). Beban Pa van der Steur sedikit teringankan dengan kehadiran Anna Maria Zwagger, yang ia nikahi pada tahun 1907. Pasangan suami-istri tersebut sepakat untuk tidak memiliki keturunan dan mencurahkan hidupnya untuk senantiasa merawat ratusan steurtjes bagaikan anak mereka sendiri. Pusara istrinya dapat ditemukan tak jauh dari pusara Pa van der Steur.
Para steurtjes kecil dan perawat (sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Para steurtjes perempuan di halaman panti asuhan "Oranje-Nassau" (sumber : Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09).
Panti asuhan “Oranye-Nassau” memasuki masa berat ketika Jepang menduduki Hindia-Belanda. Beberapa orang Eropa ditawan termasuk turut di dalamnya adalah Pa van der Steur yang ditawan berpindah-pindah tempat. Perpisahan dengan ratusan anak asuhnya menekan batin Pa van der Steur yang saat itu berusia 78 tahun, apalagi kondisi jasmaninya mulai melemah karena faktor umur. Selang satu bulan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya 16 September 1945, Pa van der Steur beristirahat dalam damai untuk selamanya. Walau telah tiada, namun jiwa welas asihnya memberi ilham bagi beberapa mantan Steurtjes untuk melanjutkan karya Pa van der Steur dengan mendirikan yayasan panti asuhan di Jakarta pada 1949. Bersama istri dan para steurtjes tercintanya, Pa van der Steur terbaring damai di kerkhof Magelang yang kini tinggal sekelumit  saja. Walau panti asuhannya sudah tidak berbekas lagi, namun segala karya yang dicurahkan Pa van der Steur akan selalu membekas di benak setiap orang. Pusara Pa van der Steur yang ada di kerkhof Magelang seakan menjadi monumen yang tak sekedar mengingatkan orang pada nama Pa van der Steur belaka, namun juga karya dari seorang pria bersahaja dengan hati nan kaya.

Referensi :

Aritonang, Jan Sihar dan Steerbink, Karel ( ed ). 2008. A History of Christiantit in Indonesia. Leiden : Brill.

De Braconier, A. 1916. “ Pa van Der Steur en De Stichting Oranje Nassau Te Magelang ” dalam Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1, Issue 09. Halaman 409 - 422.

Ming, Hanneke. 1983. “Barrack-Concubinage in the Indies, 1887-1920” dalam Indonesia , No.35 ( April 1983 ), halaman 65-94. Cornell University : Southeast Asian Program Publications.