Tampilkan postingan dengan label Kawasan Pemukiman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawasan Pemukiman. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2023

Sudut Sejarah Kebumen yang Belum Terhapus Zaman

Kendati Kebumen terhitung kota yang tidak memiliki kawasan kota tua yang memukau atau bangunan lama yang arsitekturnya menonjol, namun bukan berarti Kebumen adalah kota tanpa sejarah sama sekali karena di beberapa sudutnya masih dapat dijumpai tinggalan sejarah yang menyimpan cerita sejarah yang cukup menarik untuk diikuti. Pada tulisan Jejak Kolonial kalini, penulis akan mengangkat beberapa tinggalan sejarah di kota yang dibelah oleh Sungai Luk Ulo ini.

Eks rumah tinggal asisten-residen Kebumen, pejabat tertinggi Belanda di Kebumen.
Rumah asisten residen Kebumen pada tahun 1910an
(Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Pada masa kolonial tepatnya setelah Perang Jawa, Kebumen yang sebelumnya dikenal dengan nama Panjer dijadikan oleh pemerintah kolonial sebagai pusat kedudukan asisten residen yang membawahi dua Kabupaten, yakni Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Karanganyar. Asisten Residen Kebumen bertanggung jawab kepada Residen Bagelen yang berkedudukan di Purworejo. Kabupaten Kebumen sendiri membawahi district Kebumen, Alihan, Kutowinangun, dan Prembun. Sementara Kabupaten Karanganyar membawahi district Karanganyar, Gombong, Rowokele, Pejagoan, dan Puring. Menurut keterangan Veth, Kebumen ditata dengan jalan yang bagus dan dihiasi pepohonan yang rindang. Pusat kota Kebumen memiliki alun-alun yang dikelilingi dengan bangunan penting seperti tempat tinggal asisten residen, kediaman bupati, masjid, gudang, dan penjara. Keseluruhan bangunan tersebut tidak ada yang layak untuk diperhatikan, perkecualian kediaman bupati yang di depannya berdiri pendapa indah yang dibalut dengan ukiran warna merah keemasan. Biarpun tidak ada bangunan yang istimewa, suasana lingkungan Kebumen relatif menyenangkan (Veth, 1882: 436). 

Peta Kebumen pada tahun 1905.
 (Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Penataan pusat kota Kebumen juga tidak jauh berbeda dengan kota-kota di Jawa pada umumnya, yakni alun-alun sebagai pusat, masjid di sebelah barat alun-alun, dan rumah bupati di sebelah utara alun-alun. Sementara rumah tinggal asisten residen berada di sebelah timur. Bagian selatan alun-alun Kebumen juga terdapat beberapa bangunan penting lain seperti kantor pos dan penjara. Menjelang Agresi Militer Belanda Kedua, bangunan-bangunan di pusat kota Kebumen dibumihanguskan oleh pasukan gerilya seperti pendopo, jembatan, gedung pemerintahan, rumah gadai, sekolah, dan pertokoan (Harnoko & Poliman, 1987: 43). Kini di sekitar alun-alun Kebumen tidak banyak bangunan lama yang masih utuh kecuali eks rumah tinggal asisten residen yang saat ini menjadi bagian kompleks Sekretariat Daerah. Bangunan tersebut belum dapat diketahui tarikh pembangunannya namun diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1845 karena dalam Javasche Courant 8 Februari 1845 disebutkan pemerintah akan melakukan renovasi dan perbaikan pada rumah asisten residen di Kebumen. Asisten residen Kebumen terakhir sebelum pendudukan Jepang adalah J. A. Ochtman.

Sisa-sisa kejayaan pabrik bata Aboengamar.

Hampir setiap hari kepulan asap keputihan menyelimuti langit Kebumen. Kepulan asap tersebut berasal dari tungku-tungku pembakaran genteng dan bata yang tersebar di sekitar Kebumen terutama dari daerah Sokka. Dengan menyebut nama Sokka, orang pasti akan teringat dengan genteng karena industri genteng mudah dijumpai di sana. Sejarah perkembangan industri genteng di Sokka tidak dapat dilewatkan begitu saja karena industri tersebut telah melambungkan nama Kebumen sebagai sentra pembuatan genteng dan bata sejak masa Hindia-Belanda. Menurut koran De Preanger Bode 28 Juni 1919, pembuatan bata dan genteng di Sokka dimulai saat perusahaan kereta api Staatspoorwegen meninjau calon jalur kereta api Yogyakarta-Bandung. Ketika melakukan uji sampel tanah di Sokka, Kebumen, insinyur Staaspoorwegen menemukan bahwa tanah tersebut layak untuk dibuat bata dan genteng. Para penduduk sekitar lantas membuat tungku pembakaran. Pembuatannya masih sederhana namun mutu bata dan genteng yang dihasilkan sudah sangat bagus. Jembatan Tembana, jembatan terkenal di Kebumen yang menghubungkan Kebumen dengan Pejagoan, tersusun dari bata-bata buah tangan pengrajin Sokka. 

Struktur cerobong di pabrik bata Aboengamar yang masih berdiri tegap meski mulai rapuh dimakan usia.

Sokka tumbuh berkembang menjadi pusat pembuatan batu-bata sejalan dengan tingginya permintaan bata dari Staatspoorwegen untuk material bangunan. Setelah jalur kereta selesai dibuat pada tahun 1880an, permintaan bata sempat merosot karena saat itu orang-orang Eropa cenderung membuat bata di dekat lokasi pembangunan daripada memesan dari tempat yang jauh karena biaya pengangkutan saat itu cukup tinggi (De Preanger Bode 28 Juni 1919). Merebaknya wabah pes pada tahun 1910an justru menjadi tanda kebangkitan industri genteng Sokka. Permintaan genteng meningkat pesat karena tikus-tikus pembawa penyakit pes diketahui bersarang di atap rumah yang terbuat dari rumbia sehingga salah satu kebijakan yang diambil pemerintah kolonial dalam rangka pemberantasan wabah pes adalah mewajibkan penduduk untuk mengganti material atap rumah dari rumbia ke genteng. (De Locomotief 8 Februari 1917). Tercatat ada sekitar 200 tungku pembakaran di Sokka pada tahun 1916. Penduduk pribumi yang sebagian besar adalah petani menjadi pengrajin genteng dan bata untuk menambah pemasukan. Industri genteng dan bata Sokka begitu bagusnya sehingga sering dijadikan percontohan industri sejenis di tempat lain.

Iklan pabrik bata Aboengamar pada koran De Locomotief 13 Juni 1918

Dari sekian banyak pelaku industri genteng dan bata Sokka, salah satu yang menjadi legenda adalah Abungamar. Haji Abungamar meneruskan usaha dari ayahnya yang merintis usaha pembuatan genteng dan bata pada tahun 1890an. Pada awal tahun 1900an, Abungamar mewarisi usaha ayahnya dan ia melakukan perluasan besar-besaran. Berbeda dengan usaha ayahnya yang baru dipasarkan pada lingkungan lokal, usaha Abungamar mampu merambah dan menguasai pasar nasional dan internasional di masa kolonial. Pembeli utama bata dan genteng Abungamar berasal dari pabrik gula dan perusahaan kereta seperti Staatspoorwegen dan Nederlandsch Indisch Spoorweg Mij. Pabrik bata milik Abungamar mempekerjakan 1600 tenaga kerja dan setiap tahun mampu menghasilkan 12.000.000 genteng dan 6.000.000 bata yang dipasarkan hingga China dan Jepang. Boleh dikatakan jika Abungamar adalah pengusaha pribumi pertama di Kebumen yang mampu menembus pasar ekspor. Untuk mendukung pemasaran, dibuat jalur kereta yang mengarah pabrik bata Abungamar yang ada di selatan stasiun Sokka (De Locomotief 11 Februari 1920). Industri genteng Abungamar mengalami masa sulit saat Perang Revolusi Kemerdekaan karena permintaan menurun dan sebagian bangunan pabrik rusak. Pertengahan masa Orde Baru, industri genteng Sokka mengalami masa keemasan karena pemerintah saat itu sedang menggalakan banyak proyek pembangunan sehingga permintaan meningkat tajam. Industri genteng kembali menjamur di Sokka dan terus bertahan sampai saat ini.

Tampak depan GKJ Kebumen.

GKJ Kebumen pada tahun 1925 (sumber :Schetsen en Herinneringen).

Jalan Pemuda Kebumen adalah salah satu ruas jalan di Kebumen yang ramai dengan arus kendaraan yang nyaris tanpa henti. Di salah satu bagian jalan tersebut, terdapat sebuah bangunan gereja tua yang sekarang menjadi GKJ Kebumen. Pada fasad depan gereja yang berbentuk Dutch Gable, tergurat begitu jelas tulisan berbahasa Jawa “Mratobata lan pratjaja marang Indjil” yang berarti “Bertobatlah dan Percaya Kepada Injil”. Tulisan tersebut seakan menjadi pesan tersendiri untuk penganut Kristen. Arsitektur gereja tersebut terbilang sederhana dan tidak ada hiasan yang begitu istimewa dari bangunan gereja tersebut. Meskipun demikian, gereja tersebut memiliki nilai penting tersendiri khususnya dalam sejarah penyebaran agama Kristen di kalangan orang-orang Jawa.


Gedung Prabasanti yang ada di sebelah GKJ Kebumen.

Gedung Prabasanti ketika masih digunakan sebagai rumah tinggal pendeta K. van Dijk
(sumber  : Verslag van den zendingsarbeid op 't zendingsterrein van Friesland).

Untuk menghindari persaingan sesama zending dalam mendapatkan jemaat pribumi, maka pemerintah kolonial mengatur pembagian wilayah penyebaran agama Kristen untuk setiap lembaga zending. Jawa Tengah bagian selatan yang melingkupi Karesidenan Surakarta, Yogyakarta, Kedu, dan Banyumas menjadi ladang pekabaran Injil untuk Gereformeerde Kerk in Nederland. Beberapa wilayah tersebut masih mengalami kekosongan kegiatan zending sehingga salah satu gereja yang berada di bawah naungan Gerefomeerde Kerk, Frisian Kerk atau Gereja Frisian mengutus pendeta Bakker pada tahun 1900 untuk membantu pekabaran Injil Gereformeerde Kerk. Dengan medan yang terentang luas, pdt. Bakker awalnya menemui kesulitan untuk memilih lokasi yang akan dirintisnya sebagai pos zending. Pilihan Bakker jatuh kepada Kebumen yang dinilai cocok untuknya. Pdt. Bakker beserta keluarganya tiba di Kebumen pada 11 September 1900 dan tanggal tersebut diperingati sebagai hari dimulainya zending Kebumen. Keluarga pdt. Bakker menetap di sebuah rumah kontrakan yang saat ini menjadi Griya Prabasanti. Karena pdt. Bakker belum memahami bahasa dan istiadat lokal, maka ia dibantu oleh dua helper atau penolong pribumi yakni Iskak dan Yakub (Bakker, 1925: 33).

Keluarga Pdt. Bakker di rumah kontrakan mereka (Sumber : Schetsen en Herinneringen).

Pendeta Bakker dan jemaat Kristen Kebumen (Sumber : Schetsen en Herinneringen)

Sebelum kedatangan pdt. Bakker, di Kebumen sudah ada jemaat Kristen yang merupakan pengikut Kyai Sadrach. Meskipun sama-sama Kristen, para pengikut Kyai Sadrach menjaga jarak dengan para pengutus Belanda seperti pendeta Bakker. Akhirnya hanya tercatat tiga orang Jawa yang menjadi anggota Gereformeerde Kerk yang tidak lain adalah hulper atau penolong pdt. Bakker, yakni Iskak, Yakub, dan istri Yakub. Secara perlahan, pendeta Bakker berhasil menarik pengikut meski jumlahnya masih sedikit. Salah satu pengikut baru merupakan keluarga lurah yang kemudian membantu pendeta Bakker mendirikan sekolah. Selain sekolah, pendeta Bakker juga mendirikan klinik di dekat pemandian air hangat Krakal yang dipercayai mengandung khasiat penyembuhan. Pendeta Bakker selanjutnya meninggalkan Kebumen pada 4 Juni 1906 karena dia mendapat tugas baru sebagai guru sekolah pendeta di Yogyakarta (Pol, 1939 : 330-332). 

Sinode pertama jemaat Kristen Jawa yang diadakan di Gereja Zending Kebumen pada 17-18 Februari 1931 (Sumber : Onze Zending Velden Midden Java ten Zuiden).

Meskipun berkarya hanya enam tahun, namun usaha pendeta Bakker telah mengukuhkan pondasi zending Kristen di Kebumen. Karya pendeta Bakker di Kebumen selanjutnya diteruskan oleh pendeta K. Van Dijk yang tiba di Kebumen pada 15 Februari 1906. Oleh Van Dijk, rumah yang dulu disewa oleh pendeta Bakker kemudian dibeli pada tahun 1908 dan sejak saat itu digunakan sebagai rumah tinggal pendeta. Bangunan tersebut kemudian dialih fungsikan sebagai gedung pertemuan Griya Prabasanti GKJ Kebumen pada tahun 2001. Jemaat-jemaat baru tidak hanya tumbuh di pusat kota Kebumen saja, melainkan juga di tempat lain seperti Karanganyar, Prembun, Pamriyan, Glonggong, Banjur, dan Krakal. Pada 17-18 Februari 1931, utusan kelompok jemaat dari klasis Kebumen, Purbalingga, Purworejo, Yogyakarta, dan Surakarta untuk pertama kalinya mengadakan sidang sinode dengan tujuan untuk merumuskan tatanan dan dasar dari Gereja Jawa yang lebih berdaya dan mandiri. Bangunan GKJ Kebumen yang saat itu masih bernama zendingskerk menjadi tempat dilangsungkannya sinode tersebut sehingga boleh dikatakan jika bangunan GKJ Kebumen menjadi saksi sejarah jemaat Kristen Jawa yang mulai memasuki tahap pendewasaan (Pol, 1939 : 237-238).

Tampak depan rumah sakit zending Pandjoeroeng (sumber :Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland).

Asrama untuk perawat rumah sakit (sumber :Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland).

Rumah tinggal direktur rumah sakit (sumber  :Schetsen en Herinneringen).

Sebagai pusat kegiatan zending Gereja Frisian yang berada di bawah naungan Gereformeerde Kerk, maka sudah sepantasnya Kebumen memiliki sebuah rumah sakit zending sendiri. Wacana pendirian rumah sakit tersebut mulai mengemuka sejak tahun 1911. Fasilitas kesehatan di Kebumen saat itu baru berupa sebuah klinik milik pemerintah yang dijalankan oleh seorang dokter Jawa saja dengan fasilitas dan pengetahuan yang masih terbatas. Tentu saja zending tidak sanggup membiayai sendiri pembangunan rumah sakit sehingga keinginan tersebut baru dapat terwujud setelah pemerintah kolonial menjamin akan menanggung sebagian besar biaya pembangunan rumah sakit tersebut (Vonk, 1925 : 79). Pendeta Van Dijk kemudian mendapatkan sebidang tanah yang terletak di sebelah barat stasiun Kebumen untuk lokasi rumah sakit. Tanah tersebut merupakan bekas dari pabrik pembantu milik PG Prembun. Pada bulan Mei 1915, Dokter Oosterhuis tiba di Kebumen sebagai direktur pertama yang akan mengurus rumah sakit zending yang sedang dipersiapkan. Arsitek bernama Polman dilimpahkan pekerjaan untuk merancang rumah sakit tersebut (Dijk, 1918 : 54).

Denah rumah sakit zending Pandjoeroeng Kebumen (sumber : Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland).

Rumah sakit zending Kebumen dibuat mengikuti standar rumah sakit pada masa itu yang terdiri dari poliklinik rawat jalan, bangsal rawat inap yang terpisah untuk pasien pria dan wanita, apotek, ruang operasi, rumah direktur rumah sakit, dan rumah tinggal perawat. Pasokan air bersih diperoleh dari sumur bor yang kemudian ditampung di bak tandon. Sementara penerangan rumah sakit menggunakan lampu gas yang dihasilkan dari mesin pengolah yang ditempatkan di bagian rumah sakit. Dalam Het Zendingsiblad Gereformeerde Kerken April 1918, bangunan rumah sakit zending Kebumen diuraikan “seperti semua bangunan rumah sakit (di Hindia-Belanda), seluruhnya dibangun dari batu, rangka dari kayu jati, (beratap) genteng, dan lantainya dari semen Portland. Kusen pintu dan jendela dicat warna abu-abu; dinding dilabur kapur dan dicat warna abu-abu". Semua bangunan di dalam tembok keliling dihubungkan oleh galeri tertutup dengan lantai plesteran, sehingga untuk berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya tidak harus terkena hujan tropis (Dijk, 1918 : 54-57).


Eks rumah dinas dokter rumah sakit zending Pandjoeroeng.

Zendingziekenhuis Kebumen memulai kiprahnya pada 1 Januari 1916 dan diberi nama “Pandjoeroeng” yang dalam bahasa Jawa berarti dorongan. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pdt. Van Dijk karena pembangunan rumah sakit tersebut didorong oleh keinginan agar Kebumen dapat memiliki rumah sakit yang dapat melayani pasien dari berbagai latar belakang sekalipun rumah sakit tersebut dikelola oleh zending Kristen (Vonk, 1939 : 80). Setelah kemerdekaan, Rumah Sakit Zending Pandjoeroeng dan rumah sakit zending lainnya di Jawa Tengah mengalami kesulitan keuangan. Pemerintah RI melalui Kementerian Kesehatan RI memberi tawaran kepada rumah-rumah sakit zending milik Gereformeerde Kerk untuk dinasionalisasi. Tawaran tersebut sangat penting karena biaya pengelolaan rumah sakit akan ditanggung oleh pemerintah. Di sisi lain keberadaan rumah sakit zending tersebut menjadi aset yang berarti bagi pemerintah RI yang pada masa awal belum memiliki banyak anggaran untuk membangun rumah sakit di tingkat daerah sedangkan layanan kesehatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Singkat cerita, rumah sakit zending di Jawa Tengah termasuk Kebumen bersedia untuk dinasionalisasi dan Rumah Sakit Pandjoeroeng sejak tahun 1953 resmi menjadi RSUD milik pemerintah Kabupaten Kebumen. Kompleks rumah sakit yang ada dirasa tidak memadai lagi untuk kegiatan rumah sakit yang terus berkembang sehingga RSUD Kebumen pindah ke Jalan Lingkar Selatan pada tahun 2015. Saat ini bekas Zendingziekenhuis Pandjoeroeng atau RSUD Kebumen saat ini dalam keadaan terlantar dan sejauh ini belum diketahui nasib selanjutnya dari rumah sakit bersejarah tersebut.

Pabrik "Oliefabriek Insulinde" dilihat dari sisi selatan (sumber : https://data.collectienederland.nl/)
Area pengeringan kopra (sumber : https://data.collectienederland.nl/)

Mesin pemeras minyak kopra (sumber : https://data.collectienederland.nl/).

Sudut sejarah Kebumen lainnya yang tidak bisa dilewatkan begitu saja adalah eks pabrik minyak Mexolie atau lebih dikenal dengan pabrik minyak Sari Nabati. Minyak yang dimaksud bukanlah minyak bumi, melainkan minyak dari pohon kelapa yang mudah dijumpai di Kebumen. Jika dibandingkan dengan teh, kopi, gula, dan tembakau, kelapa tidak menjadi komoditas unggulan kendati tumbuh subur di Kebumen karena harga jualnya terlalu rendah. Pamor kelapa mulai terangkat pada tahun 1850 seiring dengan meningkatnya penggunaan minyak kelapa untuk penerangan rumah-rumah penduduk. Memasuki tahun 1870an, penjualan kelapa kembali surut karena penduduk beralih dari minyak kelapa ke minyak tanah untuk bahan bakar penerangan. Kendati demikian kelapa masih diperlukan untuk bahan kopra. Kopra dihasilkan dengan cara mencungkil daging buah kelapa dan dikeringkan dengan cara dijemur atau diasap. Untuk mendapatkan minyak kopra, kopra diperas dengan tenaga manual atau mekanis. Di Hindia-Belanda, pemerasan minyak kopra secara mekanis dirintis oleh A.L.C. van Heel yang mendirikan pabrik kopra di Blitar dan Kediri pada tahun 1904. Kendali kedua pabrik tersebut beralih ke "Maatschappij tot Continuation der Zaken" pada tahun 1907. Kedua pabrik tersebut kemudian berpindah tangan ke perusahaan baru bernama "N.V. Oliefabriken Insulinde" pada 1 Januari 1913 (Muller, 1932 : 6). Untuk menekan ongkos produksi, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membangun pabrik sedekat mungkin dengan pemasok bahan bakunya. Oleh karena itu, Insulinde memutuskan untuk mendirikan pabrik baru di Kebumen pada tahun 1915. Proses pendiriannya dibimbing oleh W. Swets, kepala pabrik Kediri. Pabrik Insulinde di Kebumen dibuka pada 1 Januari 1916 (De Nieuwe Courant 7 Januari 1916).


Kompleks rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde yang pernah ditempati oleh Kodim Kebumen
(sumber : https://data.collectienederland.nl/).


Rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde dulu dan kini(sumber : https://data.collectienederland.nl/). 


Kompleks rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde yang saat ini digunakan untuk Hotel Mexolie (sumber : https://data.collectienederland.nl/)

Eks rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde yang sekarang digunakan untuk Hotel Mexolie.

Meletusnya Perang Dunia I di Eropa membuat pasokan lemak hewani tersendat sehingga produsen margarin dan sabun beralih ke minyak kopra sebagai bahan pengganti lemak hewani. Pabrik minyak Insulinde kebanjiran pesanan dan menerima keuntungan yang sangat besar. Sayangnya keberuntungan tersebut tidak bertahan lama karena setelah perang berakhir produsen margarin dan sabun kembali memakai lemak hewani. Harga kopra yang sempat naik selama perang akhirnya merosot tajam. Awal tahun 1920an menjadi masa suram pabrik minyak Insulinde di berbagai tempat termasuk Kebumen karena pendapatan yang diterima menurun sehingga tidak mampu menutup ongkos produksi. Pada tahun 1921, Olie Fabriek Insulinde tidak mampu lagi mempertahankan usahanya sehingga aset pabrik di Kebumen disewakan kepada pihak luar. Pada tahun 1923, salah satu anak perusahaan Nederlandsch Indische Handelsbank bernama N.V. Maatschappij tot Expliotatie van Oliefabriken atau disingkat Mexolie menyewa pabrik minyak Insulinde di Kebumen (De Sumatra Post 10 Juli 1923). Aset Insulinde di berbagai kota termasuk di Kebumen kemudian dijual kepada Mexolie pada Desember 1926. Di bawah pengelolaan Mexolie, pabrik minyak di Kebumen mengalami peningkatan pendapatan yang besar. Pada masa pendudukan Jepang, pabrik minyak Mexolie juga menghasilkan minyak kemiri dan minyak karet.


Bekas-bekas bangunan cungkup di area pemakaman Tionghoa Pejagoan.

Membicarakan sejarah perkembangan suatu kota di Jawa tentu akan bersinggungan dengan kawasan permukiman orang Tionghoa yang disebut Pecinan. Pada tahun 1905, jumlah penduduk Tionghoa di pusat kota Kebumen mencapai 860 jiwa. Menurut harian De Locomotief 4 Februari 1930, Chineesche Kamp atau Pecinan Kebumen cukup luas. Selain di Pecinan, orang Tionghoa Kebumen juga tinggal di Stationweg (kini Jalan Pemuda) Mengingat banyak penduduk Tionghoa adalah pedagang, maka mereka mendirikan rumahnya di dekat pasar. Pasar yang dimaksud bukanlah Pasar Tumenggungan yang sekarang, melainkan pasar lama yang berada di barat daya Pasar Tumenggungan.Sewaktu pemerintah kolonial hendak mendirikan Pasar Tumenggungan pada pengujung 1920an, beberapa orang Tiongha berbondong-bondong membeli lahan di Pasar Tumenggungan untuk dibangun toko. Sementara pedagang Tionghoa di dekat pasar yang lama mengeluh akan kehilangan pembeli setelah pasar yang baru mulai beroperasi. Kehidupan niaga yang semarak bermunculan di pasar yang baru. Selain pedagang Tionghoa, rupanya ada pedagang Jepang yang baru muncul belakangan di sana dan mereka menjadi pesaing bisnis yang serius. (De Locomotief 24 Februari 1930). Selain ruko dan klenteng, tinggalan fisik yang identik dengan komunitas Tionhoa di suatu tempat adalah makam. Kompleks permakaman Tionghoa di Kebumen berada di Pejagoan. Beberapa makam Tionghoa di sana rupanya diberi struktur semacam cungkup. Sayangnya karena pengaruh usia, atap cungkup tersebut sudah hilang dan menyisakan struktur penopang di kedua sisi makam.


Demikian tulisan Jejak Kolonial mengenai sebagian sudut sejarah kota Kebumen yang belum terhapus oleh perkembangan zaman dan barangkali ada sudut lainnya yang belum sempat terkuak sejarahnya. Sudut sejarah tersebut akan menjadi pengingat orang bahwa Kebumen pada masa kolonial merupakan kota yang berarti, mulai dari sebagai pusat pembuatan bata dan genteng Hindia-Belanda yang mendunia, saksi sejarah pendewasaan jemaat Kristen Jawa, hingga perkembangan industri minyak kopra yang pernah berjaya pada masanya. Pada akhirnya kota kecil seperti Kebumen bukanlah kota tanpa sejarah samasekali. 

Referensi

Bakker, D. 1925. "De Eerste Jaren" dalam Schetsen en Herinneringen. Sneek : N.V. Drukkerij De Motor. Halaman 31-38.

Bleeker, P. 1850. "Fragementen eener Reis over Java ; Van Poerworedjo Naar Banjoemas" dalam Tijdschirft voor Nederlandsch Indie. Groningen : C. M. Van Bolhuis Hoitsema. Halaman 94-99.

Dijk, K. 1918. "Het Zendingshospitaal te Keboemen" dalam Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland. Halaman 54-58.

Harnoko, Darto & Poliman, B.A. Perang Kemerdekaan Kebumen Tahun 1942-1950. Yogyakarta : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Muller, J.H. 1932. De industrie van plantaardige oliën in Nederlandsch-lndië. Polytechnisch Weekblad.

Pol, D. 1939. Onze Zendingsvelden Midden Java ten Zuiden. Honderloo : De Drukkerij van De Stichting Hoenderloo.

Veth, P.J. 1882. Java, Geographisch, Ethnologisch, Historich. Haarlem : De Erven F. Bohn.

Vonk, A.H. 1925. "Onze Medische Dienst" dalam Schetsen en Herinneringen. Sneek : N.V. Drukkerij De Motor. Halaman 76-95

De Nieuwe Courant 7 Januari 1916

De Sumatra Post 10 Juli 1923

Sabtu, 30 Mei 2020

Sebongkah Masa Lalu Tambang Batubara yang Tersimpan di Sawahlunto

Menapaki abad ke-19, eksploitasi pemerintah kolonial terhadap bumi nusantara tidak hanya menyasar pada segala yang tumbuh di atas permukaan tanah saja, namun juga menyasar kandungan mineral yang terpendam di bawahnya. Di antara mineral yang ditemukan, batubara memainkan peran penting sebagai penggerak roda revolusi industri dan penemuan teknologi. Salah satu pusat penghasil batubara di nusantara adalah Sawahlunto, kota kecil di pelosok Sumatera Barat yang terkepung oleh lembah. Tidak pernah terbayangkan bila kota yang pada mulanya hanyalah sebuah terra incognita; tanah tak dikenal, akhirnya menjadi kota tambang batubara nan makmur yang namanya mahsyur dalam sejarah penambangan batubara di Indonesia dengan jejak kebesaran masa lalunya  yang sampai hari ini tetap kokoh walau berusia puluhan tahun. Melalui tinggalan sejarah tersebut, Jejak Kolonial akan mengisahkan seperti apa upaya Belanda dalam menyerap sumber daya yang ada di tanah jajahannya dengan mengerahkan segenap pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya demi meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Persebaran bangunan lama di Sawahlunto. Keterangan : (A) Kantor tambang ; (B) Gedung Pusat Kebudayaan (Societeit Gluck Auf) ; (C) Rumah pegawai tambang ; (D) Stasiun Sawahlunto ; (E) Gedung Saringan ; (F) Terowongan Mbah Suro ; (G) Musem Gudang Ransum (eks dapur umum) ; (H) RSUD Sawahlunto ; (I) Permukiman buruh kontrak ; (J) Eks pembangkit listrik ; (K) Pecinan ; (L) Gereja Santa Barbara ; (M) Permakaman Belanda.
Setiap orang yang menuju ke Sawahlunto akan mengarungi keindahan alam bumi Minang yang fantastis. Setelah melalui jalan yang berkelak-kelok, orang akan disambut dengan pemandangan yang tidak biasa setibanya di Sawahlunto. Di sana, akan dijumpai suatu pemandangan langka dimana ada sebuah kota berisikan bangunan gaya Eropa yang tersembunyi di liarnya alam Sumatera. Sebelum memasuki kota, orang akan memandang sebuah cerobong asap yang tinggi menjulang di tengah lembah. Tidak jauh dari sana, tampak sebuah menara jam yang mengingatkan orang-orang pada bangunan Eropa. Melihat letaknya yang terkurung oleh dinding perbukitan curam di sekelilingnya dan jauh dari jangkauan jalan utama, siapapun yang pernah berkunjung ke sini mungkin akan berpikir mustahil seumpama akan ada kota yang tumbuh di sini. Pemikiran tersebut akan semakin kuat bilamana kita berkunjung ke Sawahlunto sebelum tahun 1890an. Jika kita bisa kembali ke masa itu, pemandangan yang akan dijumpai hanyalah sebuah ladang persawahan terpencil yang terkurung oleh perbukitan. Jauh dari kata gemerlap. Namun di balik itu semua, tanah di dalamnya ternyata berkelimpahan endapan organik dari 45 juta tahun silam yang dengan kondisi tertentu membentuk suatu jenis batu yang tidak terlalu indah untuk dilihat namun menjadi sumber penggerak utama revolusi industri, yakni batubara. Sebelum potensi batubara di Sawahlunto terendus oleh Belanda, Van Lier dalam laporannya menyebutkan bahwa masyarakat lokal telah mengenal dan memanfaatkan lidah arang, julukan orang lokal terhadap batubara yang ditemukan di permukaan, untuk bahan bakar memasak. Beberapa batubara yang diperdagangkan ke daerah selatan Sawahlunto dan diangkut menggunakan perahu menyusuri aliran sungai Ombilin.
Lembah Sawahlunto sebelum dimulainya proses pembukaan tambang batubara. (sumber : media-kitlv.nl)
Lembah Sawahlunto pada tahun 1890an saat penambangan batubara mulai dirintis. Terlihat pada saat itu belum ada bangunan PLTU dan kawasan Pecinan. (sumber : media-kitlv.nl)
Suasana kota Sawahlunto pada tahun 1920an. (sumber : media-kitlv.nl)
Barbara Freese dalam bukunya berjudul “Coal, A Human History”, mengungkapkan bahwa batubara bukan hanya bahan bakar dan komoditas dagang belaka. Ia adalah simbol kemenangan umat manusia atas alam dimana mansuia akhirnya mampu mengubah alam yang kejam menjadi alam yang lebih nyaman untuk ditempati.  Dengan batubara, manusia memiliki cahaya, kekuatan, kekuasaan, kekayaan, dan peradaban (Freese, 2003;10).  Di kala masyarakat Sawahlunto masih menambang batubara secara tradisional dan digunakan sebatas keperluan rumah tangga, batubara telah memainkan peran penting bagi negeri-negeri yang telah menjadi kekuatan dunia seperti Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat. Bagi imperium tersebut, batubara lebih dari sekedar bahan bakar untuk memasak, melainkan juga menjadi bahan penggerak industri raksasa dan pendorong penemuan teknologi penting seperti kereta api, kapal uap, dan mesin-mesin canggih lain yang telah membuka jalan untuk globalisasi. Selebihnya, sumberdaya berjuluk ‘emas hitam’ tersebut berperan untuk menyalakan mesin-mesin transportasi pengangkut hasil eksploitasi alam dari tanah jajahan ke Eropa. Pada mulanya batubara masih didatangkan dari Eropa. Dibukanya terusan Suez dan kehadiran teknologi kereta api mendorong peningkatan konsumsi batubara di Hindia-Belanda. Supaya tidak bergantung terus menerus dengan pasokan dari Eropa, maka pemerintah kolonial menjajaki potensi batubara di Hindia-Belanda. Upaya penyelidikan batubara di Hindia Belanda dilakukan pertama kali oleh Koninklijke Natuurkundige Vereeniging dan mereka menguak adanya kandungan batubara di Martapura, Kalimantan. Pada tahun 1846, pemerintah kolonial merintis pertambangan batubara di sana, namun karena tidak digarap secara serius maka tambang batubara pertama di Hindia Belanda tersebut berakhir dengan kegagalan (Van Lier, 1917; 10-13).
Wilem Hendrik de Greve, penemu potensi batubara di Sawahlunto.
Syahdan, ahli penambangan bernama C. De Groot mulai menyelidiki potensi batu bara di Sumatra barat (di sekitar Padang Sibusuk wilayah Sijunjung) pada tahun 1858. Untuk memastikan temuan De Groot tersebut, sekitar tahun 1867, pemerintah kolonial menugaskan ahli geologi, Willem Hendrik de Greeve, untuk mengungkap potensi kandungan batubara di perbukitan di sepanjang Sungai Ombilin. Berbekal laporan De Groot, W.H de Greeve yang dipandu oleh masyarakat lokal menempuh perjalanan yang berat. Perjalanan berat tersebut terbayar ketika ia berhasil memastikan adanya kandungan batubara dalam jumlah besar yang tersebar menjadi lima ladang, yakni Parambahan, Sigalut, Lurah, Sugar, dan Sungai Durian. Dari kelima ladang endapan tersebut, ladang Sungai Durian memiliki kandungan batubaranya paling melimpah yakni mencapai 93 juta ton. Pada 1872, de Greeve melanjutkan penjajakan batubara di Sumatera Barat. Malangnya, penjajakan kedua tersebut sekaligus menjadi penjajakan terakhir yang dilakukan de Greeve karena ia tewas terhanyut arus sungai Batang Kuantan pada 22 Oktober 1872. Kematian De Greeve ternyata tidak menyurutkan upaya penjajakan potensi batubara di sana. Pada tahun 1875, insinyur tambang D.M. Verbeek berhasil memetakan potensi batubara di ladang yang ditemukan oleh de Greeve. Hasrat untuk membuka tambang semakin kuat tatkala dr. Vlanderen, kepala laboratorium mineralogi, menyimpulkan bahwa mutu batu-bara Ombilin cukup tinggi karena mampu menghasilkan nyala api yang lebih lama dan meninggalkan sedikit jelaga sehingga layak untuk dijual ke pasaran dengan harga yang tinggi (Greve, 1907;10).
Kota Sawahlunto pada tahun 1930an, saat kegiatan penambangan mulai berkembang. (sumber : media-kitlv.nl)
Menindaklanjuti penelitian dari berbagai ahli tersebut, pemerintah kolonial akhirnya memutuskan untuk membuka ladang batu bara Ombilin. Bagi pemerintah kolonial, ladang batu bara di Ombilin memiliki nilai lebih dibanding ladang batu bara lain di Hindia Belanda. Selain karena memiliki kandungan batubara bermutu baik dalam jumlah besar, letaknya yang strategis juga menjadi pertimbangan tersendiri. Berada di Sumatera bagian tengah, keberadaan ladang batu bara Ombilin diharapkan mampu merangsang pembangunan di Sumatera bagian tengah yang saat itu masih sedikit tersentuh oleh pembangunan. Dalam konteks global, tidak ada tempat di antara terusan Suez dan Samudera Pasifik yang mampu menghasilkan batu bara sebaik dan sebanyak Ombilin sehingga pangsa pasar batubara Ombilin terbuka cukup lebar ditambah letaknya yangdi persimpangan rute perdagangan dunia akan memudahkan dalam pemasaran. Namun semua potensi besar tersebut akan terbuang sia-sia jika tidak ditopang oleh sistem transportasi yang memadai. Lantaran hal itu, sebelum upaya pembukaan tambang batubara di Ombilin dimulai, pemerintah terlebih dahulu menyiapkan jalur kereta yang menghubungkan lokasi tambang dengan pelabuhan pada 1887. Setelah jalur transportasi siap, pemerintah kolonial mulai melakukan penambangan batubara di Ombilin dimulai dari ladang Sungai Durian yang paling banyak kandungan batubaranya. Selagi ladang batubara di Sungai Durian mulai ditambang, perlahan mulai tumbuh sebuah kota kecil yang terletak di area persawahan dekat tambang Sungai Durian. Persawahan tersebut dilalui oleh Sungai Lunto dan dari situlah kota kecil tersebut mendapatkan namanya, Sawahlunto. Berkat emas hitam bernama batubara, peradaban mulai menjamah tempat tersebut.
Lubang tambang Sungai Durian pada tahun 1920an. (sumber : media-kitlv.nl)
Terowongan tambang Lunto.

Terowongan tambang Sungai Durian.
Terowongan tambang Mbah Suro.
Penambangan batubara di sekitar Sungai Ombilin memiliki tiga area tambang yang penting, yakni Perambahan, Sigalut, dan Sungai Durian. Dengan jumlah kandungan batubara terbesar di antara yang lainnya, maka lokasi penambangan dipilih di area Sungai Durian yang memiliki deposit sebesar 93 juta ton. Batubara yang terdapat di Sungai Durian terbagi menjadi tiga lapisan yang dinamai nama lapisan A, B, dan C. Lapisan A memiliki ketebalan dua hingga tiga meter, kemudian lapisan B memiliki ketebalan 60 cm hingga satu meter, sementara lapisan C memiliki ketebalan enam sampai dua belas meter. Kandungan batubara terbaik di Ombilin terpendam di dalam tanah sehingga kegiatan penambangan dilakukan dengan menerapkan metode tambang terowongan. Salah satu terowongan yang selama ini dikenal di Sawahlunto adalah terowongan Lubang Mbah Suro, namun sejatinya masih ada terowongan tambang lainnya yang tersebar di Sawahlunto seperti terowongan tambang Lunto, Sungai Durian, Panjang dan Waringin. Hanya saja terowongan-yang sudah disebutkan tadi tidak memungkinkan untuk ditelusuri pengunjung umum karena keadaanya sudah tertimbun tanah atau tergenang air. Sejak tahun 2007, lubang tambang Mbah Suro dibuka untuk umum namun tidak semua bagian terowongan bisa dijelajahi. Untuk batubara yang berkedudukan di lapisan A dan B, dibuat terowongan yang akan membagi ladang tambang menjadi blok-blok persegi seperti papan catur. Secara bertahap, batubara diambil mulai dari blok 1. Sesudah batubara di blok 1 habis, penambangan berlanjut ke blok 2 dan kemudian diteruskan ke blok berikutnya. Pada tempat yang batubaranya sudah diambil, bagian atapnya ditopang oleh kayu yang bertujuan untuk mencegah runtuhnya atap terowongan yang akan mengakibatkan lapisan tanah di atasnya longsor ke bawah. 
Kamar mesin pompa Rantih.
Sementara pada lapisan C yang letaknya paling bawah dan memiliki lapisan paling tebal, metode penambangan yang serupa dengan lapisan sebelumnya tidak bisa digunakan karena kondisi atap lapisan C yang lebih mudah runtuh. Oleh karena penggaliannya dilakukan secara berjenjang dengan membaginya menjadi 3 jenjang. Penggalian dimulai dari jenjang paling bawah. Sesudah mencapai kedalaman sekitar 20-30 meter, jenjang yang deposit batubaranya sudah kosong tersebut lalu diisikan dengan pasir. Setelah terisi, maka penambangan diteruskan di jenjang yang ada di atasnya. Lalu bagaimana caranya mengisi pasir ke dalam terowongan ? Sekitar delapan km dari tambang, tepatnya di Desa Rantih, terdapat sebuah stasiun pompa bertenaga listrik. Pompa akan menyedot air dari Sungai Ombilin dan membawanya ke bak penampungan di daerah Kayu Gadang, sekitar satu kilometer dari Sungai Durian. Air yang ada di bak tersebut kemudian disemburkan mengarah ke dinding bukit sehingga pasir akan terbawa air dan masuk ke dalam tambang melalui pipa.
Suasana di dalam tambang. (sumber : media-kitlv.nl)
Batubara digali pada bagian dinding bawahnya dengan bantuan alat manual seperti blencong atau menggunakan mesin Jack Hammer (dandang) yang digerakan oleh tekanan udara. Karena bagian bawahnya sudah digali, maka bagian atasnya akan meluruh ke bawah dengan sendirinya. Jika terlalu sulit digali, maka dibuat lubang sepanjang 1 meter yang akan diisi dengan mesiu untuk kemudian diledakkan. Jumlah mesiu yang dibutuhkan sudah diperhitungkan secara cermat supaya ledakan yang yang dihasilkan tidak terlalu lemah untuk menghancurkan lapisan namun juga tidak terlalu kuat untuk mencelakakan pekerja. Batubara yang sudah lepas dari tempat semula lali dipindahkan dengan sekop ke dalam saluran besi yang disebut Talangan Goyang (Shaking Conveyor). Talangan Goyang ini tergantung sejajar dengan muka pengambilan hasil dan diguncangkan oleh mesin listrik atau tekanan angin sehingga deposit batubara yang ada di dalam saluran meluncur ke terowongan miring dimana di sana sudah menunggu gerbong yang akan membawa keluar batubara dari dalam tanah. 
Gedung kompresor udara Barangin.
Sehari-harinya, para penambang berjibaku dengan kondisi terowongan yang sempit, panas, pengap, dan gelap. Pekerjaan mereka adalah salah satu pekerjaan paling rentan karena selain merasakan ketidaknyamanan, para penambang masih harus siap menghadapi maut. Beberapa ancaman di dalam tambang yang melibatkan empat unsur ; tanah, udara, api, dan air, menghantui pekerja selama berada di dalam perut bumi. Dinding tambang sewaktu-waktu bisa runtuh yang mengubur tubuh mereka hidup-hidup. Saat hujan deras, terowongan tiba-tiba berisi penuh air yang menenggelamkan pekerja. Masih ada pula ancaman gas metan yang bisa meledak bila terkena percikan api dan gas CO (karbonmonoksida) yang tidak berbau namun sangat mematikan bagi orang yang menghirupnya. Segala upaya pencegahan ditempuh untuk menghindari kecelakaan kerja yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Kebutuhan vital untuk penambang seperti udara dan penerangan juga dibuat dengan memperhitungkan keselamatan pekerja. Udara dihembuskan dari gedung kompresor lewat terowongan ventilasi dan kemudian udara disedot keluar melalui terowongan ventilasi lainnya untuk menjaga sirkulasi. Selain memasok oksigen pekerja, hembusan udara tersebut juga membantu dalam mengurangi kepekatan gas methan. Untuk sumber penerangannya maka digunakan lampu khusus yang dikenal sebagai Davy Lamp. Lampu tersebut tidak semata sebagai alat penerang di tengah gelapnya tambang, namun juga sebagai indikator keberadaan gas-gas berbahaya yang akan mencelakakan pekerja. Jika terdeteksi ada campuran gas yang mudah terbakar, maka lampu akan menyala lebih terang dengan warna kebiruan. Jika ada indikasi kandungan oksigen di dalam tambang berkurang, maka lampu akan padam sehingga para penambang bisa bergegas keluar sebelum mereka meregang nyawa karena sesak nafas.
Hewan kerbau yang digunakan untu menghela gerbong batubara. (sumber ; media-kitlv.nl)
Transportasi lori listrik yang digunakan untuk mengeluarkan gerbong dari dalam tambang (sumber ; media-kitlv.nl)
Rel lori pengangkut batubara dari tambang ke gedung saringan. (sumber : media-kitlv.nl)
Batubara yang ditambang dari dalam perut bumi tersebut tentu saja perlu dibawa keluar terlebih dahulu sebelum dijual ke pasaran. Deretan gerbong nyaris tiada putusnya ditelan oleh gelapnya terowongan nan sempit dan kemudian dimuntahkan keluar membawa muatan batubara yang berharga. Mengatur sistem pengangkutan tambang sekelas Ombilin bukanlah perkara yang mudah sebab tersendatnya arus pengangkutan akan mengacaukan jalannya kegiatan penambangan dan tentu akan berpengaruh terhadap perolehan yang didapat. Maka dari itu, sistem pengangkutan direncanakan secara cermat supaya arus pengangkutan menjadi lancar dan terhindar dari kekacauan. Jumlah gerbong yang beroperasi setiap harinya tidaklah menentu, tergantung pada jumlah batubara yang sanggup ditambang hari itu. Rangkaian gerbong tersebut meluncur perlahan menuruni terowongan untuk mengambil bongkahan batubara yang sudah ditambang. Setelah terisi penuh, maka hewan kuda, keledai, atau kerbau akan menghela gerbong tersebut keluar dari terowongan. Hewan tersebut diberi pakan berupa jagung yang sengaja ditanam di sekitar tambang. Lokomotif uap sendiri tidak dapat digunakan untuk penambangan bawah tanah karena beresiko memicu kebakaran serta uap panas yang dihasilkan memperburuk kondisi udara di dalam tambang yang sudah begitu pengap. Tenaga hewan lalu berganti dengan lokomotif bertenaga listrik. Di sepanjang dinding terowongan, terentang kabel-kabel yang akan mengalirkan lokomotif listrik tersebut. Ukurannya yang kecil menjadikan lokomotif listrik tersebut mampu melalui terowongan yang sempit dengan mudah. Sesudah dikeluarkan dari tambang, masih ada tantangan lain yang perlu dihadapi. Antara lokasi tambang di Sungai Durian dengan tempat pengolahan, terhampar lereng curam yang menjadikan kereta biasa tidak sanggup melewatinya. Tantangan itu diatasi dengan penggunaan sistem pengangkutan berbasi kereta kabel yang memang dikhususkan untuk menghadapi medan semacam itu. Dua lajur rel ditempatkan pada suatu medan yang relatif landai. Pada satu sisi rel digunakan untuk barisan gerbong yang berisi muatan batubara sementara sisi yang lain untuk gerbong kosong menuju tambang. Barisan gerbong tersebut ditambatkan seutas kabel yang tertambat pada mesin penarik kabel yang ada di bagian atas supaya pergerakannya terkendali. Saat gerbong berisi muatan batubara diturunkan ke bawah, maka pada saat yang bersamaan barisan gerbong kosong dikerek ke atas menuju lokasi penambangan (Van Lier, 1917; 34-30).
Gedung Oudzeefhuis (Saringan lama).
Proses pencucian batubara yang melibatkan tenaga kerja perempuan (sumber : 100 Tahun Tambang Batubara Ombilin)
Sederhana namun efisien. Begitulah gambaran dari kegiatan pengolahan batubara di Sawahlunto sesudah diangkut keluar dari tambang. Kegiatan penyetoran batubara, pemilahan, pemurnian, penampungan, dan penyaluran batubara ke gerbong, semuanya terpadu dalam satu bangunan yang disebut bangunan saringan. Sarana tersebut pertama kali dibangun pada tahun 1896 dengan konstruksi dari besi. Memanfaatkan keadaan medannya yang berbukit, bangunan saringan dibuat bertingkat dimana tingkat paling atas adalah tempat masuknya gerbong berisi muatan batubara dari tambang Sungai Durian. Di bagian ini, gerbong dimiringkan ke samping untuk menumpahkan muatan batubara ke dalam mesin yang berada di bawahnya. Setelah muatannya tertumpah habis, lori tersebut kemudian dibawa kembali menuju tambang. Mesin tersebut akan meremuk dan memilah batubara menjadi tiga jenis berdasarkan ukurannya yakni ;

(1) batubara kasar (stukkolen) yang memiliki diameter bulir lebih dari 30 mm. Sebagian besar batubara jenis ini dikirim ke luar negeri dan sisanya menjadi bahan bakar untuk kereta api Staatspoorwegen yang beroperasi di dataran tinggi. 
(2) batubara halus (gruiskolen) bulirnya berdiameter antara 30 milimeter hingga 12 mm. Kegunaan batubara ini adalah sebagai bahan bakar kereta api Staatspoorwegen yang beroperasi di dataran rendah dan industri semen di Padang menjadikannya sebagai salah satu bahan pembuatan semen. 
(3) batubara debu (fijnkolen) yang diameter bulirnya di bawah 12 m. Batubara abu jenis ini dikonsumsi sendiri untuk bahan bakar pembangkit listrik tambang. 

Setelah dipilah, rangkaian pengolahan batubara akan berlanjut pada proses pemurnian dari material seperti endapan pasir, batu, atau tanah liat yang sesekali masih ikut terbawa. Pemurnian dilakukan dengan penyemprotan air pada barubara yang bergerak di atas konveyor. Untuk memastikan batubara betul-betul bebas dari kotoran, maka batubara selanjutnya dibersihkan secara manual oleh tenaga perempuan. Kotoran yang tertinggal akan dipungut dan dibuang wadah yang akan membawanya menuju bak pengendapan. Pengendapan tersebut bertujuan untuk mendapatkan batubara ekstra kecil yang ikut terbuang sehingga dampak pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Batubara yang sudah dibersihkan selanjutnya disimpan ke wadah penampungan yang ada di tingkat lebih bawah. Masing-masing wadah diperuntukan sesuai jenis batubara yang telah dipilah. Di bawah wadah tersebut, terdapat katup yang bila dibuka akan memuntahkan batubara ke dalam gerbong-gerbong yang sudah menunggu di bawahnya. Setelah semua gerbong terisi penuh, barulah batubara diantar sampai ke pelabuhan (Van Lier, 1917; 49-50).
Gedung saringan lama (atap lengkung) dan gedung saringan baru (atap datar) pada tahun 1930an. (sumber : media-kitlv.nl)
Gedung Nieuwzeehuis (Saringan Baru) yang kini ditempati Pemadam Kebakaran dan Dinas Pariwisata Sawahlunto.
Mesin pemilah batubara.
Seiring dengan meningkatnya jumlah produksi tambang batubara, maka mulai dilakukan upaya peningkatan kapasitas pengolahan dengan pendirian gedung saringan baru yang letaknya bersebelahan dengan gedung saringan lama pada tahun 1924. Proses pembangunannya dimulai dari bulan Mei 1924 oleh Technisch Bureau van het Departement van Koloniën (Biro Teknik Departemen Koloni), biro pemerintahan di bidang keteknikan yang pernah mendirikan instalasi serupa di Bukit Asam. Sementara itu peralatan dan komponen yang dipesan baru sampai di Sawahlunto pada bulan September 1926. Peralatan dan komponen yang dipasang antara lain mesin konveyor buatan Electrotechnische Industrie v/ Willem Smit & Co, mesin pembersih buatan Gewerkschaft Eisenhütte Westfalia, elevator listrik buatan  N.V Gebr. Stork & Co's Fabriek van Hijschwerktuigen te Hengelo, serta peralatan mekanis dan kelistrikan lain dari Gewerkschaft Scliüchtermann & Kremer. Setibanya di Sawahlunto, satu persatu peralatan tersebut dirakit. Tahapan pembangunan gedung saringan baru tersebut selesai pada awal tahun 1927.
Stasiun Sawahlunto di masa lalu. (sumber : media-kitlv.nl)
Gerbong pertama dari Sawahlunto yang tiba di Padang
(sumber : collectie.wereldculturen.nl)
Tantangan berikutnya dalam kegiatan eksplotiasi batubara di Sawahlunto ialah bagaimana membawa batubara tersebut ke pelabuhan Emmahaven di Padang, pelabuhan terdekat dengan Sawahlunto serta bagaimana membawa mesin-mesin berat yang dibutuhkan ke lokasi penambangan. Potensi batubara di Sawahlunto akan berakhir sia-sia bila masih mengandalkan tenaga hewan untuk mengangkutnya. Hal ini terjadi karena saat musim hujan tiba, jalanan menjadi rusak sehingga sulit dilintasi pedati yang dihela hewan. Belum lagi dengan adanya ancaman penyakit pada hewan penarik yang akan menghambat kegiatan pengangkutan. Dengan kata lain, satu-satunya moda transportasi paling mendukung untuk pengangkutan batubara dalam skala besar adalah kereta api yang mampu menarik banyak gerbong dalam sekali jalan. Oleh karena itu, pemerintah kolonial mengutus sebuah tim yang dipimpin oleh insinyur J.L. Cluysenaer pada 1873 untuk mencari rute paling cocok. Bukan pekerjaan mudah untuk menemukan rute terbaik karena secara geografis, kota Sawahlunto dengan Padang dipisahkan oleh tingginya pegunungan Barisan. Cluysenaer merampungkan surveynya pada tahun 1875 dan mengusulkan rute dari Padang, menembus pegunungan Bukit Barisan, melalui Solok, dan berhenti di Sawahlunto. Namun usulan tersebut ditolak pemerintah dengan alasan biaya pembangunannya terlampau tinggi dan pemerintah tidak sanggup membiayainya. Akhirnya Cluysenaer meninjau kembali hasil survey sebelumnya dan mendapati rute yang memutar lebih jauh namun biaya pembangunannya relatif terjangkau, yakni dari Padang, ke Padang Panjang, menyusuri Danau Singkarak, melalui Sawahlawas, dan sampai di Sawahlunto. Rencana rute tersebut diterima oleh pemerintah pada tahun 1878 namun pembangunannya belum bisa dilakukan secepatnya karena selain dana belum tercukupi, juga ada perdebatan mengenai siapakah yang akan bertanggung jawab dalam pembangunan dan pengelolaanya, apakah akan diserahkan kepada swasta atau dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. 
Stasiun Sawahlunto.
Perdebatan selama hampir satu dekade tersebut berakhir pada tahun 1887, dimana pembangunan dan operasional jalur akan dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Tahun 1891, proses pembangunan dimulai dengan pengawasan dari insinyur J.W. Ijzerman dan pembangunannya tuntas pada tahun 1894. Kereta yang hilir mudik menyusuri rel akhirnya menjadi pemandangan baru. Pada perkembangannya, keberadaan jalur kereta api di tanah Minangkabau ini tidak hanya dimaksudkan untuk kepentingan pengangkutan batubara semata, namun juga meningkatkan kemakmuran pada kota-kota yang dilaluinya. Di kota-kota yang menjadi titik pemberhentian termasuk Sawahlunto, didirikan stasiun sebagai tempat menaik turunkan penumpang. Kendati bentuk stasiun Sawahlunto tidak terlihat mewah, namun dari sanalah pembukaan jalur kereta api di Sumatera Barat bermula (Anonim, 50-53).
PLTU Kubang Sirakuk dengan cerobong asap yang baru selesai dibangun. (sumber : media-kitlv.nl)
Cerobong sisa pembangkit listrik Mudik Air.
Pada masa-masa awal penambangan di Sawahlunto, listrik masih belum mengalir di Sawahlunto. Gerbong-gerbong masih dihela menggunakan tenaga hewan sementara sumber penerangan masih mengandalkan lentera minyak. Hal tersebut terjadi karena belum ada pembangkit listrik di Sumatera bagian tengah. Wacana untuk membangun pembangkit listrik di Sawahlunto mulai mengemuka sejak tahun 1902 dan baru dua tahun setelahnya wacana itu dapat terwujud. Proses pembangunan pembangkit listrik dimulai pada bulan Mei 1904 dan diawasi oleh insinyur Van der Valk beserta dua ahli kelistrikan, Wachter dan Hoeder. Mesin-mesin yang dipakai sebagian besar merupakan buatan Jerman dan dipasok oleh perusahaan Maintz & Co dari Batavia dengan harga yang tidak murah. Mengingat pentingnya keberadaan pembangkit listrik tersebut bagi operasional tambang, maka pembukaanya patut dirayakan secara meriah. 14 Agustus 1905 adalah hari saat pembangkit listrik tersebut mulai beroperasi. Dengan ritual yang dipimpin oleh seorang kaum, penduduk pribumi menyembelih 3 ekor kerbau di depan gedung pembangkit litrik. Ketiga kepala kerbau tersebut lalu ditaruh ditandu, ditutup dengan kain putih, dan diarak mengelilingi kota dengan iringan musik gamelan. Sesudah diarak, ketiga kepala kerbau tersebut dikubur di ketiga sisi bangunan pembangkit listrik. Ritual tersebut diadakan sekitar pukul 3 sore. Perayaan tidak berhenti sampai di sini. Pada pukul 6.30 sore, semua penduduk Eropa di Sawahlunto yang diundang oleh kepala insinyur tambang A. van Lessen menyaksikan mesin-mesin pembangkit tersebut menyala untuk pertama kalinya. Para undangan dihibur dengan penampilan orkes musik yang dimainkan oleh batalyon militer dari Padang Panjang. Kegembiraan dalam upacara tersebut sempat terhenti karena tamu undangan secara tidak terduga mendengar suara ledakan yang cukup keras disusul oleh lampu yang tiba-tiba padam. Setelah diselidiki ternyata ledakan tersebut bersumber dari salah satu kumparan dinamo yang mengalami kerusakan kecil. Kemeriahan masih berlanjut di esok hari dimana para pekerja dihibur oleh pertunjukan wayang wong, sulap, dan permainan panjat tiang. Lokasi pembangkit listrik dipilih di Kubang Sirakuk dekat Sungai Lunto karena dari sungai itulah air dipasok untuk menghasilkan uap panas yang dapat menggerakan turbin. Air dialirkan melalui pipa-pipa logam dan ditampung ke dalam tangki yang terletak di bawah tanah. Untuk menghasilkan uap, air dipanaskan dari hasil pembakaran batubara jenis fijnkoolen atau batubara abu. Uap lalu menggerakan turbin yang mampu menghasilkan listrik sebesar 6000 volt. Cukup mampu untuk menyediakan penerangan bagi seluruh perusahaan pertambangan yang membentang hingga ke Durian yang terletak di utara. Pada awalnya, PLTU tersebut memiliki mesin bertenaga sebesar 1.000 HP. PLTU tersebut kemudian melakukan beberapa kali pembaharuan mesin guna mendukung peningkatan kebutuhan listrik di Sawahlunto. Dari 1.000 HP, tenaga mesin ditingkatkan menjadi 1.500 HP dan akhirnya menjadi 3.000 HP. Dengan kehadiran pembangkit listrik tersebut, maka mesin-mesin tambang mutakhir yang membutuhkan listrik dapat didatangkan dan Sawahlunto menjadi kota yang terang benderang pada malam hari di tengah gelapnya lembah Ombilin.
PLTU Salak pada tahun 1924 (sumber; troppenmuseum.nl)
Sisa PLTU Salak.
Menurunnya debit air Sungai Lunto membuat kinerja PLTU merosot dan tidak sanggup lagi menopang penambangan batubara yang semakin bergeliat pada tahun 1920an. Oleh karena itu, dibangunlah PLTU baru di daerah Salak pada tahun 1924. Selain untuk operasional penambangan, PLTU tersebut juga memasok listrik untuk kebutuhan masyarakat. Keberadaan PLTU tersebut akhirnya menyulap lembah gelap Sawahlunto menjadi kota yang gemerlap di malam hari. Kini, bangunan PLTU Kubang Sirakuk telah rata dan di atasnya dibangun masjid pada 1952, menyisakan cerobong asap dari beton bertulang yang masih menjulang tinggi sebagai menara masjid. Sementara PLTU Salak masih terus beroperasi sampai tahun 1996 sebelum perannya digantikan oleh PLTU Ombilin dan bangunan PLTU Salak kini dalam kondisi terlantar.
Kantor tambang.
Gedung kantor tambang pada masa lalu. Terlihat pada bagian atap terdapat jendela dormer yang saat ini sudah tidak ada lagi (sumber : media-kitlv.nl)
Menara jam yang menjulang dari gedung PT. Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin mengingatkan siapapun pada bangunan-bangunan balaikota di Eropa. Tampilannya yang monumental menjadikan gedung ini sebagai salah satu tengara utama kota Sawahlunto. Bila diibaratkan sebagai tubuh manusia, gedung administrasi tersebut boleh dikatakan sebagai otak yang mengatur seluruh kegiatan penambangan. Dahulunya di gedung ini, tersimpan rapi catatan 5000 pekerja tambang dalam bentuk kartu untuk setiap kuli. Pada saat kuli tiba di lokasi penambangan, mereka akan dibuatkan kartu yang berisi durasi kontrak, catatan upah, dan absensi pekerja. Di gedung adminstrasi ini pula, keuangan perusahaan dihitung, termasuk besaran upah para kuli kontrak yang upahnya dibagikan setiap 14 hari. Gedung administrasi ini juga menyimpan arsip gambar yang berhubungan dengan mesin dan bangunan, serta peta topografi tambang yang dibuat secara akurat. Selain itu, gedung ini juga memiliki laboratorium penelitian batubara untuk menjamin mutu batubara yang akan dipasarkan (Van Lier, 1917;65-68). Kantor tersebut menjadi saksi atas pergantian pengelola tambang Sawahulunto. Pada zaman Jepang, gedung tersebut ditempati Hokkaido and Steamship.Co.Ltd, anak perusahaan Mitsui Company yang diberi izin pemerintah Jepang untuk mengelola tambang batubara yang ditinggalkan Belanda. Pada masa sekarang, gedung ini ditempati oleh PT. Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin.
Suasana di dalam barak kuli yang masih sederhana. (sumber : media-kitlv.nl)
Tambang batubara sebesar Sawahlunto tentu membutuhkan banyak tenaga manusia untuk menjalankannya, baik sebagai tenaga ahli maupun kuli kasar. Jajaran tenaga ahli yang sebagian besar diisi oleh orang Eropa terdiri dari insinyur, ahli mesin, staf administrasi, peneliti, dokter, dan lainnya. Pada awalnya, perusahaan sempat kesulitan untuk memperoleh tenaga ahli tersebut mengingat tambang bukanlah sektor perekonomian unggulan baik di Belanda maupun di Hindia-Belanda. Sementara itu, tenaga kasar secara etnis terdiri dari orang Melayu, Nias, Tionghoa dan Jawa. Sama halnya ketika memperoleh tenaga ahli, proses pencarian tenaga kasar juga menemui kendala karena masyarakat sekitar tidak berminat untuk bekerja di sana. Oleh karena itu, perusahaan tambang mendatangkan tenaga kasar dari daerah lainnya. Mereka diberi durasi kontrak kerja dimulai dari tanggal kedatangan mereka ke Sawahlunto dan berakhir tiga tahun berikutnya tepat pada tanggal yang sama dengan tanggal kedatangan mereka. Saat mereka tiba di Padang, mereka dikarantina terlebih dahulu selama beberapa hari di pelabuhan sebagai antisipasi jika mereka membawa penyakit menular. Setibanya di Sawahlunto, mereka sekali lagi diperiksa kondisi jasmaninya di rumah sakit (Van Lier, 1917 ; 60-61). Sebagai tambahan, perusahaan tambang batubara Ombilin juga mengambil pekerja dari narapidana buangan yang menjalani hukuman kerja paksa di sini. Mereka inilah yang dikenal sebagai ‘Orang Rantai’ karena selama bekerja, mereka dirantai satu sama lain supaya tidak kabur. Salah satu narapidana yang dijatuhi hukuman kerja paksa di Sawahlunto adalah Samin Sursentiko, pelopor ajaran Samin yang berkembang di daerah Blora, Jawa Tengah.


Rumah-rumah yang ditempati oleh pegawai tambang.

Bekas rumah dinas dokter rumah sakit tambang.


Kompleks perumahan untuk kuli tambang. (sumber : media-kitlv.nl)
Salah satu rumah yang dahulu ditempati oleh kuli tambang.
Pengerahan tenaga kerja dari berbagai tingkat keahlian yang dibutuhkan untuk kegiatan penambangan di Sawahlunto berimbas kepada munculnya permukiman untuk para tenaga kerja di dekat lokasi tambang. Seluruh tempat tinggal pekerja disediakan oleh perusahaan yang ditentukan berdasarkan hierarki sehingga permukiman pekerja di Sawahlunto secara jelas memperlihatkan perbedaan status sosial dalam lingkungan tambang. Pejabat berkedudukan tinggi menempati rumah yang dibikin sebagus mungkin mutunya beserta sarana yang lengkap, berbanding terbalik dengan para kuli yang tinggal bersama di dalam barak atau tangsi yang sederhana dengan fasilitas seadanya. Di dalam barak tersebut, mereka tidur berjejer di ruang memanjang tanpa sekat sehinga sama sekali tidak ada ruang privat untuk mereka. Untuk memudahkan pengawasan, mereka tinggal mengelompok di tempat yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Semenjak tahun 1915, perusahaan tambang mulai membenahi hunian para pekerja menjadi lebih layak tinggal dengan mengeluarkan anggaran sebesar 600.000 gulden. Guna menghemat biaya, material bangunan seperti batu-bata dibuat di dekat lokasi proyek. Sementara kayu dikirimkan dalam bentuk gelondongan mentah yang selanjutnya dipotong menjadi balok dan papan di lokasi proyek. Kuli kontrak yang membawa keluarganya ke Sawahlunto disediakan perumahan tersendiri dengan ukuran rumah yang lebih kecil dari rumah untuk pejabat tambang namun setidaknya lebih layak dibandingkan barak-barak semipermanen dari bambu. Rumah tersebut terdiri dari kamar tidur, dapur kecil, teras depan, pekarangan dan kendang ayam. Kegiatan mandi dan mencuci dilakukan di sumur komunal. Bagi kuli kontrak yang masih membujang mereka tinggal bersama di barak-barak. Sementara untuk kuli yang berstatus sebagai pekerja paksa atau 'Orang rantai' mereka diharuskan tinggal di kompleks barak yang diawasi ketat (Van Lier, 1917;58-59). Kendati memiliki perbedaan bentuk dan sarana, baik hunian untuk kuli maupun pejabat tambang merupakan rumah milik perusahaan sehingga tidak ada kebebasan pribadi untuk merombak rumah sesuai selera penghuninya.


Bekas rumah dinas untuk pegawai pemerintahan kolonial di Sawahlunto.
Selain rumah pegawai perusahaan, di Sawahlunto juga didirikan rumah tinggal untuk pegawai dinas pegawai pemerintahan kolonial. Semaraknya kegiatan penambangan di Sawahlunto telah mengundang banyak orang untuk menetap di Sawahlunto. Sejak tahun 1904, Sawahlunto telah menjadi suatu wilayah administrasi yang berstatus sebagai Onderafdeeling. Selain sudah memiliki lembaga pemerintahan, Sawahlunto juga memiliki lembaga Pengadilan Negeri yang dibentuk pada tahun 1917 dan setahun berikutnya dibentuk Gemeenteraad atau Dewan Kotapraja Sawahlunto. Namun Gemeenteraad Sawahlunto hanya bertahan sampai tahun 1924 (Lindayanti, dkk. 2017 ; 57-59).
Dapur umum yang  saat ini menjadi Museum Gudang Ransum.
Dandang besar yang digunakan untuk memasak nasi.
Dalam Ordonantie Colie, perusahaan tambang wajib memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan yang layak bagi kuli kontrak. Dalam pemikiran kapitalisme, kegiatan produksi tambang tidak akan berjalan lancar manakala para kuli dibiarkan bekerja dalam keadaan perut kosong atau tidak sehat badannya.  Museum Gudang Ransum yang menempati bekas dapur umum tambang dapat menggambarkan bagaimana perusahaan tambang mengenyangkan perut lebih dari 7000 pekerja pada zaman dahulu. Bukanlah suatu perkara mudah untuk memasak makanan dalam porsi besar dengan waktu sesingkat mungkin. Gudang penyimpan, pabrik es, penggilingan padi, dan rumah pemotongan hewan dibangun berdekatan dengan dapur supaya bahan pangan mudah diperoleh. Sekitar 100 pegawai dipekerjakan setiap harinya untuk memasak 3900 kilo beras, daging, telur, sayuran, dan lainnya. Untuk mendukung kegiatan masak besar, peralatan masakanya pun dibuat berukuran besar seperti periuk logam yang mampu menanak nasi hingga 60 wadah besar. Kendati sederhana, menu yang terdiri dari nasi, sayur mayur, dan ikan sekiranya cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi pekerja. Sebelum berangkat bekerja, mereka dijatah sebungkus ketan dan gula jawa sebagai camilan di dalam tambang. Pada hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun ratu Belanda, mereka mendapatkan tambahan makanan berupa semacam kue bolu (Van Lier, 1917;62).
Rumah sakit Sawahlunto.
Untuk menjaga kesehatan jasmani para kuli, didirikan rumah sakit yang mampu merawat 600 hingga 800 pasien. Pegawai rumah sakit terdiri dari seorang dokter Eropa sebagai kepala, 4 dokter Jawa, sejumlah ahli bedah dan perawat. Para kuli terus-menerus dipantau kesehatannya di sini untuk memastikan mereka tidak terinfeksi oleh cacing tambang. Dengan fasilitas yang lengkap dan tenaga yang terlatih, rumah sakit tersebut menjadi rumah sakit terbesar dan termaju di wilayah pedalaman Sumatera Barat sehingga rumah sakit tersebut menjadi rujukan bagi masyarakat lainnya. Keterbatasan lahan menyebabkan rumah sakit tersebut didirikan di lereng bukit yang tidak rata tanahnya (Van Lier, 1917;63).
Hotel Ombilin.

Sosieteit Gluck Auf yang sekarang menjadi Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Bekas koperasi Ons Belang.
Kerkhof Sawahlunto.
Dalam beberapa tahun, Sawahlunto yang semula hanyalah lembah persawahan nan sunyi, berubah menjadi kota tambang yang berkarakter unik jika dibandingkan kota kolonial lainnya. Salah satu ciri utama kota tambang adalah lokasinya yang ditentukan berdasarkan potensi sumberdayanya sehingga bukan hal aneh bila kota tersebut terletak di tempat yang terpencil dan sulit untuk dibangun (Bell,2002; 27-28). Berkat perencanaan yang cermat, kota Sawahlunto akhirnya sanggup berkembang menjadi kota yang memiliki beragam fasilitas umum seperti hotel, sosieteit, koperasi, dan permakaman meskipun terhalang oleh keadaan medan. Keberadaan Hotel Ombilin yang dibangun pada tahun 1918 menunjukan bahwa Sawahlunto sudah menjadi tujuan persinggahan orang-orang luar meskipun tamu hotel kebanyakan adalah pegawai pemerintah, insinyur tambang atau inspektur. Gedung Societeit Gluck Auf dibangun pada tahun 1910 sebagai oase hiburan di tengah kota yang terkungkung lembah. Selepas bekerja, pegawai dari kalangan Eropa bisa berkunjung ke gedung yang namanya diambil dari salam penambang Jerman tersebut untuk bersosialisasi dan berkumpul atau menghibur diri dengan berdansa, bernyanyi, dan menonton pertunjukan. Sementara itu, koperasi Ons Belang dibuka tahun 1920 oleh perusahaan tambang sebagai tempat menyediakan barang dengan harga wajar dan pasti. Koperasi ini menjadi penyelamat pekerja dari ulah pedagang pasar yang acap menaikan harga barang secara mendadak saat hari pembayaran upah pekerja tiba sehingga menyulitkan pekerja yang berniat untuk menabung. Keberadaan suatu permukiman tentu diikuti dengan tempat menguburkan orang yang sudah meninggal. Di Sawahlunto, orang-orang Eropa dimakamkan di permakaman khusus orang Eropa atau Kerkhof yang ada di punggung bukit. Sayangnya makam-makam di Kerkhof tersebut sudah banyak yang hilang prasastinya. Sementara itu, para kuli dikuburkan di sembarang tempat dan diberi penanda berupa patok yang hanya memuat nomor registrasinya.
Rumah Pek Sing Kek yang berada di pecinan Sawahlunto.
Gedung komidi yang saat ini menjadi pegadaian.
Suasana pecinan Sawahlunto di masa lalu. (sumber : media-kitlv.nl)
Semarak penambangan batubara di Sawahlunto telah mengundang orang dari berbagai tempat, suku, dan etnik, untuk tinggal kota ini. Mereka berbondong-bondong datang ke sini bukan sebagai penambang, melainkan sebagai pedagang yang menual kebutuhan untuk penduduk Sawahlunto. Berbagai tinggalannya masih ada seperti gedung komedi yang dibangun Sian Seng Wong A Lan pada 1917. Kemudian terdapar sebuah rumah keluarga Pek Sin Kek yang memiliki bentuk khas.
Gereja Santa Barbara Sawahlunto.
Susteran dan sekolah.
Sebagian besar pegawai Belanda di Sawahlunto berasal dari kota Limburg, kota di Belanda yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka, maka sejak tahun 1912 para pastor dari Padang diutus secara teratur ke Sawahlunto untuk memberi pelayanan rohani. Saat itu, para pastor belum menetap di Sawahlunto karena sedikitnya tenaga rohaniawan dan minimnya anggaran untuk biaya hidup para pastor tersebut di Sawahlunto. Pastor pertama yang melayani di Sawahlunto adalah Pastor Mattheus de Wolf, Pastor Dionisius Pesssers dan Pastor Rupertus Verbrugge. Para pastor tersebut datang setidaknya empat atau enam kali dalam setahun dan karena saat itu belum ada gedung gereja di Sawahlunto, maka ibadah dilakukan di gedung sosieteit dan kantor administrasi tambang. Perusahaan tambang lalu menyumbangkan dana pembangunan gereja Santa Barbara dan akhirnya gereja tersebut ditasbihkan pada 27 November 1920 oleh Mgr. Cluts. Di tengah profanitas hiruk pikuk penambangan batubara, gereja bergaya Neo-Gotik tersebut memberi kedamaian spiritual bagi umat Katolik di Sawahlunto yang pada tahun 1937 sudah memiliki 450 umat, terdiri dari 250 orang Eropa dan 200 orang Tionghoa. Selain gereja, dibangun pula pastoran sebagai tempat tinggal pastor sehingga pastor bisa tinggal lebih lama di Sawahlunto dan menjalankan karyanya lebih maksimal. Pastoran tersebut oleh Pastor L. Woestenberg digunakan pula sebagai sekolah untuk anak-anak Tionghoa yang dibuka olehnya pada tahun 1921. Berselang enam bulan kemudian delapan siswa sekolah tersebut dibaptis dan menjadi tonggak pertama misi Katolik di Sawahlunto. Supaya tidak terjadi gesekan dengan masyarakat pribumi, maka kegiatan penyebaran agama Katolik dibatasi untuk kalangan Tionghoa di Sawahlunto. Pada 1 Oktober 1925, para biarawati Fransiskan mulai menetap di Sawahlunto untuk membantu karya Pastor L. Woestenberg. Seturut dengan peningkatan jumlah murid, dibangun gedung sekolah baru yang berada di samping susteran. (Anonim, 1937; 16-17).

Contoh bangunan lama yang diadaptasi menjadi museum
Berkah batubara di lembah Ombilin telah mengubah suatu lembah antah berantah menjadi suatu kota dengan saujana yang tidak lazim di Minangkabau. Selepas kemerdekaan, kegiatan penambangan memasuki masa-masa sulit. Produksi tambang menurun karena rusaknya sarana transportasi selama perang. Negara Indonesia yang saat itu masih belia belum cukup mampu mengelola dan memulihkan tambang. Saat seluruh insinyur Belanda di Sawahlunto dievakuasi pada Desember 1949, 4 orang insinyur tetap diminta tinggal di sana (De Maas-bode, 17 Januari 1950). Proses penambangan selanjutnya dilanjutkan oleh perusahaan tambang yang dinasionalisasi oleh pemerintah RI pada tahun 1950 dan kini dikenal sebagai PT. Bukit Asam (Persero). Sayangnya, kemakmuran dari suatu kota tambang umumnya tidak dapat berumur lama. Dengan berlalunya waktu, cadangan batubara mulai menyusut dan jikapun masih ada cadangan besar, butuh eksplotiasi dengan biaya yang lebih besar. Belum lagi kegiatan eksploitasi tambang sangat bergantung pada permintaan pasar yang tidak menentu ditambah saat ini sudah ada sumber bahan bakar yang lebih bersih dibanding batubara. Kegiatan penambangan lambat laun mulai meredup sementara perekonomian juga ikut merosot. Ketika proses penambangan terhenti sama sekali, maka kota tersebut mulai berada di titik nadirnya. Kota mulai ditinggalkan penduduknya dan fasilitas yang telah lama berdiri dibiarkan terbengkalai. Kejayaan tambang batubara Sawahlunto memang telah berlalu namun bukan berarti riwayat kota tersebut usai. Kehidupan kota Sawahlunto terus berjalan dengan mengubah haluan perekonomian. Kini bukan batubara lagi yang menjadi andalan utama Sawahlunto, melainkan sektor pariwisata yang menawarkan kekayaan tinggalan sejarah tambang batubara. Untuk mendukung sektor tersebut, dilakukan sejumlah pemugaran terhadap sejumlah tinggalan sejarah di Sawahlunto sejak tahun 2005. Setelah redup sekian lama, kota yang lahir dalam semangat zaman uap tersebut kini kembali membara dengan statusnya sebagai Warisan Dunia yang resmi disandang sejak tahun 2019. Status yang disandang tersebut tentunya bukan sekedar untuk mengangkat kembali nama Sawahlunto belaka, namun juga merupakan tanggung jawab yang lebih besar terhadap pelestarian warisan budaya di Sawahlunto yang kini nilai pentingnya tidak hanya diakui oleh bangsa Indonesia saja namun juga oleh dunia.

Referensi
Anonim. 1937. Vijf en Twintigjaar Padang-Missie

Anonim. Nederlansch Indische Staatspoor en Tramwegen. Nederlands Welvaart.

Bell, Peter. 2002. "The fabric and structure of Australian mining settlements" dalam Knapp, Bernard. A, dkk (ed). Social Approaches to an Industrial Past. London : Routledge

Ir. A. Guyot van Der Ham. Het nieuwe zeefhuis der Ombilinsteenkolenmijnen te Sawah Loento dalam De Ingeneur 28 Agustus 1926  no. 35 halaman 724-729.

Ir. R.J. Van Lier. 1917. De Steenkolenindustrie. Haarlem : H.D. Tjeenk Willink & Zoon.

Freese, Barbara. 2003. Coal, A Human History. New York : Basic Book.

Greve, W.H. de. 1907. Het Ombilin-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatra Westkust. Batavia : Landsdrukkerij.

Lindayanti, dkk. 2017. Kota Sawahlunto, Jalur Kereta Api & Pelabuhan Teluk Bayur. Padang : Minangkabau Press.

De Maas-bode, 17 Januari 1950