Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2023

Gema Sejarah Gereja Santa Perawan Maria Purworejo

Jalan Prof. Dr. N. Driyarkara, Purworejo merupakan sepenggal ruas jalan di Purworejo yang namanya diambil dari seorang putra daerah Purworejo yang menjadi filsuf Katolik terkemuka di Indonesia. Jalan Prof. Dr. N. Driyarkara sendiri sarat dengan bangunan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan Katolik mulai dari gereja, susteran, bruderan, dan sekolah Katolik. Di antara bangunan-bangunan tersebut, Gereja Santa Perawan Maria menyimpan sejarah yang menarik dan arsitektur yang mewakili kondisi pada zaman ketika bangunan tersebut dibangun. Lewat tulisan ini, Jejak Kolonial akan menuntun anda untuk mengenal lebih jauh tentang riwayat dan arsitektur gereja ini.

Foto yang diambil oleh Pastor Thien pada artikel...Keterangan foto "Pastoran di Purworejo, tampak begitu indah dan 'cukup lapang' dari luar, tetapi di dalamnya...." 
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928)

Tiga pastor pertama MSC di Jawa Tengah setibanya di Purworejo. Dari kiri ke kanan ; Pastor P. J. Thien, Pastor B.J. Visser, dan Pastor M. de Lange
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928).

Sekitar bulan September 1927, sebuah kapal bernama “Indrapoera” berlayar meninggalkan daratan Eropa dari pelabuhan Marseille dalam suasana tenang. Kapal tersebut dengan membawa banyak penumpang bergerak dengan tenang ke arah timur. Tiga penumpang kapal tersebut adalah pastor, yakni Pastor Bernardus Johannes Visser M.S.C selaku pengawas, Bernardus P. J Thien M.S.C dan Marteen de Lange M.S.C. Ketiganya merupakan anggota tarekat “Missionarii bacratissimi Cordis Jesu" atau disingkat MSC yang dalam sumber-sumber Belanda disebut Missionarisen H. Hart dan jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Misionaris Hati Kudus. (Visser, 1928; 39-40). Tarekat MSC didirikan oleh pastor dari Perancis bernama Jean Jules Chevalier pada 8 Desember 1854 bersamaan dengan tanggal diakuinya dogma Maria Dikandung Tanpa Noda oleh Paus Pius IX. Pada tahun 1881, Tahta Suci memberikan restu kepada MSC untuk mengutus anggotanya untuk menyiarkan agama Katolik ke berbagai penjuru dunia. Sejak saat itu, MSC memberangkatkan banyak misionaris termasuk misionaris dari Belanda yang berkedudukan di Tillburg. Mereka diutus ke Hindia-Belanda dan menjadikan Papua barat sebagai daerah tujuan pertamanya (Van Woesik. 1938 : 27-29).

Sekolah Hollandsch Inlandsche School yang dibuka oleh Serikat Jesuit pada 1 September 1922. Sebelum dibangun gedung baru, kegiatan belajar mengajar diadakan di beranda depan pastoran. (Sumber foto : Sint Claverbond 1923)

Gedung baru Hollandsche Inlandsche School yang berada di belakang pastoran. Gedung sekolah tersebut masih ada dan sekarang menjadi bagian dari kompleks SMP Bruderan
(Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Menoleh beberapa tahun ke belakang sebelum kedatangan ketiga pastor tersebut, Purworejo bersama beberapa daerah lain di Pulau Jawa menjadi ladang misi dari tarekat Serikat Jesuit yang memulai kembali kegiatannya pada 1859 setelah sekian lama tiarap karena kerajaan Belanda yang Protestan sempat tidak mengizinkan adanya penyebaran agama Katolik di Hindia-Belanda. Untuk kegiatan di Purworejo, Serikat Jesuit membeli sebuah rumah besar berhalaman luas dari kantor Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) pada tahun 1888 dan mereka mengadakan misa di aula kecil belakang rumah tersebut. Kehadiran Serikat Jesuit di Purworejo tidak banyak menarik banyak pengikut karena mereka bersaing dengan Kyai Sadrach yang karismatik atau dengan para zending Kristen utusan Gereformeerde Kerken. Meskipun demikian, ada sejumlah keluarga keturunan serdadu Afrika yang menjadi pengikut Gereja Katolik yang taat. Serikat Jesuit kemudian membuka sekolah dasar Hollandsche-Inlandsche School pada tahun 1922. Sebelum resmi dibuka pada 1 September 1922, Serikat Jesuit telah mengirim surat edaran kepada para kepala desa bahwa di Purworejo telah dibuka HIS “Canisius Vereeniging”. Banyak orang tua yang antusias mendaftarkan anaknya ke sana karena HIS masih jarang di Purworejo sehingga pendaftar sekolah tersebut hampir mencapai seribu anak sementara sekolah hanya menerima 160 anak. Akhirnya diadakan seleksi masuk secara mendadak karena sambutan dari masyarakat di luar bayangan misi. Mengingat sekolah tersebut adalah sekolah berbasis agama, maka sebelum mendaftar orang tua murid diberitahu bahwa murid yang bersekolah di sana akan diajarkan agama Katolik. Jika orang tua sepakat, baru sekolah dapat menerima murid tersebut (Van Baal, 1923 : 33-37)

Peta misi MSC di Jawa Tengah dari. Keterangan : "Area Misi Kami di Jawa Tengah. Garis silang adalah batasnya. Garis normal dengan garis putus-putus di sebelahnya merupakan batas ketiga Karesidenan. Garis putus-putus yang lebih tebal adalah jalur trem uap, garis balok adalah jalur kereta. Ada gereja di Tegal dan Tjilatjap, dan Sekolah Katolik di Purworejo. Di Pekalongan, Misa Kudus dirayakan di gudang pemerintah."

Mgr. Van Velsen, Vicaris Apostolik Batavia, dalam kunjungannya di Purworejo.
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928)

Setelah menempuh perjalanan panjang di atas lautan, ketiga pastor tadi ketika menginjakkan kaki di Batavia pada 22 Oktober 1927. Tiga hari kemudian mereka berangkat ke Purworejo menggunakan kereta api. Kedatangan mereka ke Purworejo tidak lepas dari beralihnya kegiatan misi di sebagian wilayah Jawa Tengah dari Serikat Jesuit ke MSC. Latar belakang peralihan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan umat Katolik di Jawa Tengah berkat pendekatan Serikat Jesuit yang cukup baik sehingga mampu untuk menarik banyak penganut baru, terutama di sekitar Semarang, Magelang, dan Yogyakarta. Tenaga manusia Serikat Jesuit di Jawa rupanya cukup terbatas sehingga mereka kesulitan untuk menjangkau umat yang berada di luar wilayah-wilayah tersebut. Untuk mengurangi beban Serikat Jesuit, maka tugas untuk membina dan menuntun umat di wilayah yang melingkupi Karesidenan Banyumas, Pekalongan, dan sebagian Karesidenan Kedu selanjutnya akan dipercayakan kepada MSC. Tidak banyak aset yang ditinggalkan oleh Serikat Jesuit di tempat-tempat tersebut sehingga dari berbagai tempat tersebut, Purworejo dipilih sebagai pijakan pertama karena di sana sudah ada gereja dan tempat tinggal tetap untuk pastor. Pada 25 Oktober 1927, tiga gembala utusan MSC tiba di Purworejo untuk memulai tugas mulianya (Visser, 1928: 39-40). Menurut buku "De missionarissen van het H. Hart Tilburg en hun missiewerk in Nederlandsch Oost-IndiĆ«", disebutkan bahwa Purworejo adalah stasi pertama MSC di Jawa Tengah. 

Foto tampak samping gereja di Purworejo yang diambil oleh Schutz. 
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1933)
Bagian dalam gereja di Purworejo. Di tempat inilah misa diadakan sebelum dibangunnya Gereja Santa Perawan Maria Purworejo
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1933).

“Gereja sudah sangat kusam”, terang Pastor Visser dalam Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart 1 Februari 1928 ”dan foto yang kami sertakan ini tidak dapat menyembunyikan adanya lubang menganga di langit-langit, tempat burung terbang ke sarang mereka dan air merembes dengan deras saat hujan”. Tulisan Pastor Visser tersebut menggambar kondisi tempat ibadah umat di stasi Purworejo yang menempati bagian belakang pastoran. Kendati stasi pertama MSC ada di Purworejo, namun MSC memilih Purwokerto sebagai pusat administrasinya di Jawa Tengah. Tanggal 25 April 1932 menjadi tanggal bersejarah bagi MSC karena wilayah asuhan mereka yang semula berada di bawah naungan Vikariat Apostolik Batavia, kini dipisahkan menjadi Prefektur Apostolik Purwokerto. Vatikan kemudian mengangkat Pastor Visser sebagai Prefek Apostolik Purwokerto pada 2 Agustus 1932 ; sumber lainnya menyebut 18 Mei 1932 (Anonim. 1933 : 17).

Upacara peletakan batu pertama Gereja Santa Perawan Maria Purworejo.
(Sumber : 
Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Desember 1933)

Nama biro arsitek yang masih terbaca di dinding tenggara gereja.

Niatan untuk mendirikan bangunan baru gereja mengemuka pada tahun 1932 seiring dengan pesatnya pertumbuhan jemaat di Purworejo sehingga ruang gereja yang kecil mulai tidak sanggup menampung jemaat saat misa. Lokasi bangunan baru gereja dipilih di halaman depan bangunan pastoran yang lama karena halamannya masih cukup luas. Pada 5 Maret 1933, biro arsitek Fermont en Cuypers dari Batavia dilimpahkan tanggung jawab untuk merancang gedung gereja. Nama biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuypers sudah sangat tenar dalam jagat arsitektur Hindia-Belanda dan telah lama berkiprah dalam menyusun rancangan gedung gereja Katolik. Selain di Purworejo, hasil karya biro tersebut di wilayah Prefektur Apostolik Purwokerto antara lain gereja di Purwokerto dan Pekalongan; kedua gereja tersebut saat ini sudah berubah bentuk aslinya. Penunjukan biro arsitek sekelas Hulswit, Fermoent en Cuypers boleh dibilang adalah suatu yang langka di Purworejo mengingat kebanyakan bangunan yang ada di Purworejo dirancang oleh arsitek amatiran dari zeni militer, pemborong Tionghoa, atau dari instansi pemerintah Burgerlijke Openbare Werken.

Sketsa Gereja Santa Perawan Maria Purworejo yang dibuat oleh Fermont-Cupyers
(sumber : 
Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Juli 1933)

Foto Gereja Santa Perawan Maria beberapa waktu setelah diresmikan
(sumber : De Koerier 27 Agustus 1933)

Untuk menandai awal pembangunan gereja, maka diadakan upacara peletakkan batu pertama gereja oleh Pastor Lange pada tanggal 12 Maret 1933. Pada saat gereja dibangun, dunia sedang didera krisis ekonomi Great Depression. Masyarakat lokal mengenalnya sebagai malaise. Krisis tersebut dampaknya cukup terasa sampai Purworejo dan salah satu dampaknya adalah ditutupnya Pabrik Gula Purworejo di Jenar pada tahun yang sama dengan pembangunan Gereja Santa Perawan Maria. Masa itu memang menjadi masa yang sulit untuk semua orang. Ada yang usahanya bangkrut atau kehilangan pekerjaannya hingga akhirnya mereka jatuh miskin. Meskipun perekonomian sedang suram, namun hal tersebut tidak menyurutkan niat dan semangat umat Katolik dari golongan masyarakat Eropa dan Pribumi untuk mendirikan Rumah Tuhan di Purworejo meski dalam bentuk yang relatif sederhana. Berselang lima bulan dari upacara peletakan batu pertama, bangunan gereja yang didambakan dapat dituntaskan dalam waktu yang terhitung singkat. Pentahbisan gereja dilakukan Prefek Apostolik Purwokerto, Mgr. B. J. J. Visser MSC pada 13 Agustus 1933 dalam upacara yang sederhana namun khidmat (De Koerier 24 Agustus 1933). Ketika memandang gereja tersebut untuk pertama kali, orang akan mendapati paras gereja yang dipoles begitu sederhana dan sedikit hiasan. Hal tersebut menjadi pesan bahwa tidak pantas bagi Gereja untuk bermewah-mewahan di saat banyak orang sedang dilanda kesusahan. Meskipun arsitektur gereja terkesan polos, kewibawaan dan pesona sebagai sebuah bangunan sakral masih terpancar jelas. 

Tampak depan Gereja Santa Perawan Maria.

"Matris Filio dicata". Sepenggal kalimat bahasa Latin yang berarti “Didedikasikan untuk Putra Sang Bunda” tergurat di atas pintu masuk, menyambut setiap pengunjung yang datang. Pintu utama Gereja Santa Perawan Maria Purworejo menghadap ke arah timur, arah yang sama sebagaimana gereja-gereja kuno di Roma dahulu dibangun. Bagian depan gereja dahulu memiliki dua tiang bendera, tiang yang satu untuk mengibarkan bendera Belanda dan tiang yang kedua untuk mengibarkan bendera Tahta Suci Vatikan. Tengara yang menonjol di gereja ini adalah menara kecil yang menyembul dari atap limas gereja dan di dalamnya terdapat lonceng terukir sepenggal kalimat Latin "Non recuso laborem in Dei summi honorem". Alkisah, setelah gereja memesan lonceng dari pabrik Petit en Fritsen dari Aarle-Rixtel, rupanya uang untuk membayar lonceng tersebut masih kurang sehingga Pastor Visser lantas membuat tulisan di buletin Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Juli 1933 dan berharap agar pembaca yang terketuk hatinya dapat memberikan sumbangan seihklasnya untuk membantu pembelian lonceng. Lonceng itu akhirnya berhasil didatangkan dan kumandang dentangnya dapat terdengar oleh seluruh umat di hari pentahbisan gereja.

Bagian nave Gereja Santa Perawan Maria Purworejo.

Bagian yang dahulu digunakan sebagai tempat paduan suara.

Melangkah masuk ke dalam gereja, pengunjung dapat menjumpai dua kota sumbangan yang sudah ada sejak gereja dibangun. Uang yang masuk ke dalam kotak “Voor de Kerk” digunakan untuk pengelolaan gereja sedangkan uang yang masuk ke dalam kotak “Voor de Armen” digunakan untuk menolong orang-orang miskin. Bagian dalam gereja terkesan polos dan nyaris tidak menampakan hiasan berlebih yang mencolok. “Saat memasuki gereja ini, seseorang dapat membayangkan dirinya berada di dalam Basilika Roma” terang harian De Koerier tanggal 24 Agustus 1933 yang memuat deskripsi gereja sesaat setelah dibuka. Tata ruang Gereja Santa Perawan Maria Purworejo mengacu pada bangunan basilika masa Romawi yang dianggap sesuai untuk persekutuan umat Kristiani yang membutuhkan ruang luas. Denahnya berbentuk persegi panjang dibagi menjadi tiga bagian memanjang. Ruang utama di tengah adalah tempat berkumpulnya umat yang disebut nave. Kemudian nave diapit oleh lorong memanjang yang di sebut aisle. Ujung dari nave adalah tempat posisi altar memimpin ibadah. Pada awal dibuka, gereja direncanakan memiliki daya tampung mencapai 700 orang. Seiring dengan bertambahnya jemaat, maka diadakan penambah bangunan baru di sisi selatan pada akhir tahun 2022. Perubahan lainnya menyangkut pada perubahan tata cara ibadah paska Konsili Vatikan II (1962-1965). Sebelum Konsili Vatikan II, Tata Perayaan dan Ritus Perayaan dilakukan secara Ad Orientem, yakni Umat dan Imam sama-sama menghadap ke arah Altar. Setelah Konsili Vatikan II, Perayaan Ekaristi, yang semula berkonsep Ad Orientem berganti menjadi Versus Populum, dimana Imam tidak membelakangi Umat sehingga saling berhadapan sehingga posisi altar dimajukan ke depan (Abbas. 2021 : 44).

Kotak sumbangan untuk Gereja.
Kotak sumbangan untuk orang miskin.
Bejana baptis yang masih asli.

Aisle sisi utara memiliki tiga ruang pengakuan dosa. Sementara bagian barat merupakan panti imam. Kemudian aisle sisi selatan dapat dijumpai satu fitur langka yang jarang ditemukan di gereja manapun, yakni bejana untuk baptisan anak yang masih asli. Pada bejana dari batu jenis terazzo itu, tertera kalimat berbahasa Latin “In sanguini agni laverunt stolas suas” yang bila diartikan adalah “Dibasuh dalam darah Anak Domba”. Kalimat tersebut merujuk pada Kitab Wahyu 7:14 yang menyebut tentang orang-orang yang keluar dari kesengsaraan besar yang telah membasuh jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Ujung dari aisle sisi selatan Gereja Santa Perawan Maria adalah kapel kecil yang didedikasikan untuk Bunda Maria. Di dalam kapel tersebut, “di atas alas kayu sono berwarna gelap, berdiri patung Bunda Maria berwarna putih, persembahan dari umat Katolik Jawa dan menjadi permata yang indah untuk gereja ini” urai koran De Koerier. Patung tersebut saat ini sudah diberi tambahan warna. Keanggunan dari patung tersebut dilengkapi dengan tujuh jendela kaca patri di belakangnya. Jendela kaca patri berbentuk segitiga yang ujungnya mengarah ke patung tersebut menampilkan motif bunga matahari, bakung, mawar, dan melati.

Kapel Maria.

Jendela bundar di samping kapel memancarkan kilau cahaya warna-warni dari kaca patri karya Albert Verschuuren, seorang seniman dari kota Oosterhout, provinsi Nord Barabant, Belanda. Kaca patri tersebut memperlihatkan sebuah biduk atau perahu yang berlayar di atas ombak dengan berlatar belakang pelangi. Hiasan tersebut mengandung pesan bahwa Gereja yang dilambangkan dengan perahu akan mampu bertahan menghadapi ketidakpastian zaman laksana ombak di lautan dan menuntun umatnya menuju pelabuhan keselamatan. Sementara pelangi di latar melambangkan perlindungan Tuhan terhadap Gereja. Selain di kapel, Gereja Santa Perawan Maria Purworejo juga memiliki kaca patri di bagian depan namun kaca patri tersebut dirusak massa saat kerusuhan sipil Purworejo yang terjadi tahun 1990an.

Jendela kaca patri karya Albert Verschuuren.

Gereja Santa Perawan Maria saat ini tinggal menjadi satu-satunya karya biro arsitek Cupyers-Fermont yang masih utuh di wilayah Keuskupan Purwokerto. Gereja ini menjadi salah satu tengara bahwa di Purworejo, umat Katolik setidaknya dapat menjalankan ibadahnya dengan damai dan hidup berdampingan dengan umat lain. Kisah perjuangan umat untuk berupaya mendirikan gereja di tengah krisis ekonomi mengandung pesan bahwa nilai sebuah gereja tidak terletak pada ukuran atau kemegahannya, namun bagaimana umat yang beribadah di dalamnya tetap teguh dengan imannya sekalipun didera banyak cobaan. Semoga bangunan yang menjadi bagian dari khazanah warisan budaya di Purworejo ini senantiasa lestari...

Referensi

Abbas, Novida. Soleiman, Yusak. Suryaningsih, Febriyanti. Hutagalung, Sylvania. 2021. Gema Genta : 400 Tahun Gereja Warisan Budaya di Indonesia. Jakarta : Direktorat Pelindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Anonim. 1933. De Missionarisen Van Het H. Hart Tilburg en Hun Missiewerk in Nederl. Oost Indie. Limburg Dagblad.

De Koerier 24 Agustus 1933

Van Baal, Jos. 1923. "Opening Der H.I.S. Te Poerwaredja op 1 September 1922". dalam Sint Claverbon halaman 33-37.

Van Woesik. 1938. De Missioneerende Orden. 't Gravenhage ; Nederlandsch Medisch Missie Comite

Visser MSC. Bern J.J. 1928. "Onze Java Missie" dalam Annalen van O.L. Vrouw V. H. H Hart, 1 Februari 1928. Tillburg : Missionarisen H. Hart 39-40

Sabtu, 12 Februari 2022

Gereja Sion, Meretas Masa Lalu Gereja Tertua di Jakarta

Jejak Kolonial kali ini akan menuturkan kisah tentang Gereja Sion atau di masa lalunya dikenal dengan Gereja Portugis Luar Kota. Di usianya yang sudah terbilang renta, gereja yang terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat ini masih tampak bugar seakan baru dibangun pada hari kemarin. Diresmikan pada tahun 1695, bangunan ini adalah bangunan kolonial tertua di Jakarta yang masih utuh dan menjalankan fungsinya sebagaimana peruntukannya saat diresmikan. Selain usia tuanya, apa yang membuat gereja ini istimewa ?

Tampak luar Gereja Sion dilihat dari jembatan penyeberangan.

Gereja Portugis Luar Kota sebagaimana yang dilukis oleh J.W. Heyd pada tahun 1739.

Mengapa gereja ini menyandang nama Gereja Portugis sementara kuasa bangsa Portugis sendiri tidak bertahan lama di sini ? Beberapa saat sebelum kapal-kapal bangsa Belanda mengarungi lautan Nusantara, bangsa Portugis telah melakukan penjelajahan yang diikuti dengan serangkaian penaklukan untuk menguasai rantai perdagangan rempah yang terbentang antara Kepulauan Maluku hingga Eropa. Mereka selanjutnya menyebarkan agama Katolik dan menjalin hubungan dengan perempuan lokal. Kondisi perdagangan rempah yang dikuasai Portugis mulai memasuki masa sulit ketika Raja Spanyol Phillip II mengambil alih tahta Kerajaan Portugis. Alhasil Portugis menjadi musuh beberapa bangsa Eropa yang sudah bermusuhan dengan Spanyol seperti Belanda. Kuasa Portugis atas perniagaan rempah perlahan jatuh ke tangan Belanda. Sewaktu merebut pos dagang Portugis, Belanda menawan sejumlah orang Portugis. Orang Portugis ini tidak hanya melingkupi orang Portugis tulen saja, namun juga kaum peranakan Portugis dari Pantai Malabar India. Kaum peranakan yang kemudian disebut Portugis Hitam ini dijadikan budak oleh Belanda dan dicerabut identitas Portugis yang sudah melekat pada diri mereka. Salah satunya adalah dengan menawarkan kebebasan kepada budak Portugis Hitam asalkan bersedia pindah agama dari Katolik ke Kalvinisme. Meskipun sudah berpindah agama, kelompok ini rupanya enggan meninggalkan bahasa yang sudah terlanjur digunakan dalam keseharian sehingga bahasa Portugis diizinkan untuk sebagai bahasa pengantar di gereja pada tahun 1664. Dari sinilah gereja yang sampai sekarang masih berdiri kokoh sebagai Gereja Sion tersebut memperoleh sebutan Gereja Portugis dan untuk membedakannya dengan Gereja Portugis yang ada di dalam tembok kota Batavia maka Gereja Sion disebut juga sebagai Gereja Luar atau Buitenkerk (de Castro 2019 : 232).

Gereja Sion (Portugeefche Buiten Kerk atau Gereja Portugis Luar) dalam peta Batavia tahun 1780.
Gambar Gereja Portugis Luar dari tahun 1775 oleh J.C. Rappard.

Komunitas penutur bahasa Portugis di Batavia mulai bermukim di bagian timur kota sekitar tahun 1663. Pada tahun 1667, sebuah gardu didirikan di seberang bastion Gelderland yang ada di sudut tenggara kota Batavia dan di dekat gardu itu sebuah pemakaman dibuka pada tahun 1669. Pemakaman tersebut memiliki sebuah pondok sederhana yang kemudian menjadi gereja darurat. Pondok itu dilengkapi lonceng yang dibunyikan untuk memanggil orang untuk menghadiri pelajaran katekimus yang diberikan setiap Jum’at malam. Lonceng yang dibuat tahun 1675 itu masih ada dan kini tergantung di depan gereja Sion. Daya tampung pondok tersebut semakin tidak memadai seiring dengan bertambahnya orang yang mengikuti pelajaran dan kebaktian. Pada tahun 1692, pemerintah menyetujui rencana pembangunan gereja baru dari batu untuk menggantikan pondok kecil yang masih terbuat dari anyaman bambu. Upacara peletakan batu pertama gereja dilangsungkan pada 19 Oktober 1693 oleh Pieter Hoorn (Haan, 1935; 234-235). Mengingat jemaat Portugis itu bukan kumpulan orang kaya, maka dana untuk pembangunan gereja baru tersebut diambil dari sisa kas diakonia Formosa (Taiwan) yang ditinggalkan Belanda setelah diusir dari Formosa oleh Koxinga. Karena berdiri di atas tanah rawa, maka pondasi gereja baru tersebut diperkuat dengan 10.000 tiang pancang kayu. Rancangan gereja dibuat oleh Ewout Verhagen dengan arahan dari ketua Dewan Gereja Joan Van Hoorn.

Gambar tampak luar Gereja Portugis Luar pada abad tahun 1888 oleh J.C. Rappard (sumber : https://collectie.wereldculturen.nl/).

Gambar bagian dalam Gereja Portugis Luar pada abad ke-19 oleh J.C. Rach (sumber : https://collectie.wereldculturen.nl/).

Minggu 23 Oktober 1695, pagi pada hari itu terasa begitu hangat. Cahaya mentari menerpa ubin kemerahaan dan dinding putih dari gereja baru yang akan diberkati di hari itu. Secuil kegembiraan tampak dari penduduk sekitar gereja karena sebentar lagi mereka akan memiliki gedung gereja megah yang sudah diidamkan sekian lama. Sejumlah orang berbondong-bondong mendatangi gereja untuk menyaksikan acara pembukaan resminya. Di antara keriuhan itu, tampak majikan dan budaknya yang membawakan kotak sirih dan pinang. Sesekali pejalan kaki melambat untuk memberikan jalan bagi kereta berlapis emas yang mengangkut kaum elit Batavia. Kerumunan yang menghadiri acara peresmian tersebut, datang dengan memamerkan busana terbaik dan perhiasan terindahnya. Tidak perlu menunggu lama, arak-arakan pasukan yang mengiringi Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn dan istrinya tiba di halaman gereja. Saat pasangan tersebut memasuki rumah Tuhan, semua tamu yang ada di dalam berdiri memberi hormat dan disambut dengan sorak sorai. Setelah suasana kembali tenang barulah Pendeta Theodorus Zas mulai menyampaikan khotbah pertama di gereja itu dalam bahasa Jerman Rendah dan Zas memilih kutipan dari Kitab I Raja-raja Bab 8, ayat 29-30. Sementara khotbah dalam bahasa Portugis dibawakan oleh Jacobus Op den Acker (Wall, 1921 : 125-128).

Makam Henric Zwaadecroon.

Lukiasn Henrik Zwaadecroon.

Gereja Portugis layaknya gereja-gereja yang dibangun sebelum abad ke-19 memiliki pemakaman umum pada bagian halamannya. Pemakaman tersebut usianya lebih tua lagi dari Gereja Portugis karena sudah ada sejak tahun 1669. Aslinya lahan Gereja Portugis ini sendiri dahulu sangat luas dan tercatat ada 2.381 orang yang dahulu pernah dimakamkan di tempat ini. Kegiatan pemakaman di Gereja Portugis ini lalu dihentikan oleh pemerintahan Daendels. Jejak-jejak dari pemakaman di halaman gereja tersebut masih dapat diperlihatkan dengan keberadaan dua makam dari abad ke 18 yang bersanding di muka pintu gereja. Salah satu batu nisan tertera nama dari Henric (Hendrick) Zwaardecroon. Meskipun dahulu pemakaman di Gereja Portugis ditujukan untuk orang biasa, namun sosok tersebut semasa hidupnya bukanlah orang biasa karena Zwaardecroon adalah Gubernur Jenderal VOC ke-20 yang memerintah dari tahun 1718 hingga 1725. Henric Zwaardecroon lahir di Rotterdam pada 26 Januari 1667 dan memulai karirnya di perusahaan dagang terkuat dan terbesar sepanjang sejarah tersebut pada 1684. Zwaardecroon ditempatkan di Batavia lima tahun setelahnya. Dalam sejarah perkopian nusantara, Zwaadecroon berhasil mengembangkan usaha pembibitan kopi yang bijinya didatangkan dari Malabar kendati usahanya sempat dihambat oleh saingannya, Christoffel van Swoll. Singkat cerita, karir Zwaadecroon terus menanjak hingga ia diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada 1718 menggantikan Christoffel van Swoll. Sebagai tokoh yang memegang kekuasaan besar, Zwaadecroon kadang berlaku kejam juga. Pada tahun 1722, seorang Indo bernama Erbeveld hendak menghabisi seluruh penduduk Belanda di Batavia saat malam Tahun Baru. Sebelum melancarkan aksinya, Zwaardecroon mengendus rencana tersebut dan menangkap Erbeveld beserta pengikutnya. Atas tindakannya, Erbeveld dijatuhi hukuman mati pada 22 April 1722. Aksi ”pengkhianatan” Erebevld diabadikan dalam sebuah prasasti yang dipajang tidak jauh dari Gereja Portugis. Zwaadecroon mengakhiri masa jabatannya dengan mengundurkan diri pada 8 Juli 1725. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa masa kekuasaan Zwaadecroon merupakan masa puncak kejaayan VOC di Hindia-Timur. Keberadaan Gereja Portugis rupanya masih bertalian dengan sosok Zwaardecroon karena dialah yang menyumbangkan sepetak tanah luas di belakang gereja untuk umat Portugis. Zwaardecroon tutup usia pada 12 Agustus 1728 dan pemakamannya dilaksanakan begitu megah. Sekalipun dirinya berhak mendapatkan tempat makam di dalam gereja, dalam permintaan terakhirnya Zwaadcroon memilih untuk dikebumikan di luar gereja layaknya orang biasa. Makam Zwaadecroon merupakan satu-satunya makam Gubernur Jenderal VOC yang masih bertahan di tempat semula (Algemeene Handelsblad 11 Oktober 1933).

Tampak dalam Gereja Sion.


Orgel bergaya barok di Gereja Sion.

Keindahan di dalam kesederhanaan. Begitulah ungkapan untuk menggambarkan bangunan ini. Dari luar, Gereja Sion tampak begitu bersahaja. Hiasan yang cukup menonjol hanyalah dua tiang gaya neo-klasik di pintu masuk yang menopang tonjolan segi tiga (fronton). Meskipun tampilan luarnya terkesan tak ada yang istimewa, namun bagian dalamnya menyimpan banyak daya tarik luar biasa. Melangkah masuk ke dalam, kita dibuat terpana dengan aura kekunoan gereja yang akan membuat kita terdampar ke masa lampau. Bagian dalamnya memiliki enam tiang bundar besar yang menyokong konstruksi atap. Mulanya tiang itu terbuat dari kayu saja dan “baru” dipertebal dengan batu bata pada tahun 1725. Sejumlah perabotan antik masih dapat dijumpai di dalamnya meski beberapa ada yang hilang seperti peralatan ibadat yang terbuat dari perak.

Mimbar dan kanopi.

Empat tiang penyangga.

Sulit dipercaya, di saat gedung seusianya habis termangsa oleh pembangunan ibukota, gereja mampu sintas dengan mempertahankan fungsi yang tak berubah sama sekali. Sebagai gereja Protestan, titik utama peribadatannya adalah mimbar tempat pendeta menyampaikan khotbah. Mimbar yang sudah ada sejak gereja berdiri itu merupakan rancangan dari H. Bruijn. Mimbar tersebut memiliki hiasan yang meriah dan dinaungi oleh kanopi besar yang kemungkinan berasal dari gereja lain dan baru ditambahkan di sini pada tahun 1838. Sumber penerangan bagian dalam gereja berasal dari empat kandelar besar dari tembaga kuning yang berasal dari akhir abad ke-17. Kandelar tersebut dilengkapi pemantul cahaya yang berhias lambang Batavia. Sementara dinding bagian dalam gereja terdapat perisai atau wapenboorde yang lazim dipasang dalam gereja-gereja lama di Belanda. Gereja ini juga memiliki bangku yang dikhususkan untuk Gubernur Jenderal. Tiga deret bangku itu dibuat antara tahun 1660 dan 1664. Di atas bangku itu, terdapat organ bergaya barok yang merupakan hadiah dari puteri Pendeta Johann Maurits Mohr. Organ yang digunakan untuk mengiringi kebaktian tersebut pernah direparasi pada tahun 1860 oleh ahli organ di Batavia E.F. Dijkmans (Heuken, 2016 : 144-145).

Batu nisan Carel Reyniersz.

Lukisan Carel Reyniersz.

Di dalam gereja juga dapat dijumpai batu nisan Gubernur Jenderal VOC Carel Reyniersz serta istrinya. Ia diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada 26 April 1650 untuk menggantikan Cornelis Van der Lijn yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Tidak seperti Gubernur Jenderal sebelumnya, Reyniersz memiliki hasrat besar untuk menyebarkan agama Kristen di Batavia. Bahkan dia pernah memutuskan untuk menutup semua tempat ibadah non-Kristen di Batavia walau keputusan tersebut tidak jadi dilaksanakan karena tindakan tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan gejolak dan orang-orang non-Belanda menyingkir dari Batavia. Reyniersz pula yang mengusulkan pemusnahan pohon-pohon cengkeh produktif di Maluku untuk mengurangi kuota produksi. Tindakan tersebut akhirnya memicu perlawanan rakyat di Maluku yang baru bisa diredam setelah Reyniersz meninggal. Segala tindakannya yang ceroboh membuat Reyniersz dicap sebagai “Gubernur Jenderal Paling Tidak Cakap”. Ketidakbecusan Reyniersz akhirnya terdengar sampai ke telinga Heeren XVII. Selaku dewan tertinggi di tubuh VOC, Heeren XVII memutuskan untuk memberhentikan Reyniersz dari jabatannya. Rupanya Reyniersz juga hendak mengundurkan diri karena alasan kesehatan dan Heeren XVII langsung mengabulkan permintaannya. Namun sebelum kabar pemberhentian Reyniersz sebagai Gubernur Jenderal sampai di Batavia, Reyniersz meninggal pada 18 Mei 1653 dan dimakamkan di Hollandsche Kerk (Algemeene Handelsblad 15 November 1933). Entah bagaimana kisahnya, batu nisan Reyneirsz yang aslinya ada di Batavia tiba-tiba sampai di Surabaya. Pada tahun 1918, Gubernur Jenderal J.P. van Limburg Stirum meminta supaya batu nisan Reyniersz yang saat itu diamankan di Pemakaman Kembang Kuning untuk dipindahkan kembali ke Batavia (De Preanger Bode 6 Oktober 1920). Mengingat Reyniers tidak memiliki hubungan sejarah dengan kota Surabaya, maka pemerintah kota Surabaya bersedia untuk mengembalikan batu nisan tersebut ke tempat asalnya dan batu nisan Reyniersz akhirnya dipulangkan ke Batavia pada tahun 1922. Karena gedung Hollandsche Kerk sudah lama lenyap, maka batu nisan Reyniersz diletakan di dalam gereja Portugis (Oudheidkundige Verslag 1922).

Bangku gubernur jenderal.
Bangku jemaat.

Jemaat gereja duduk di bangku-bangku tua dari kayu hitam dan kayu eboni. Barangkali dua abad silam, bangku yang sama itu diduduki oleh kaum Mardijker saat kebaktian. Siapakah sesungguhnya kaum Mardijker ini ? Membicarakan sejarah Gereja Sion ini tentu tidak akan pernah lepas dari sejarah komunitas Mardijker. Seperti yang sudah disinggung di awal, VOC membawa sejumlah tawanan dan budak orang-orang Asia yang memakai nama Portugis dan dikenal dengan Portugis Hitam. Panasnya hubungan antara golongan Protestan dan Katolik di Eropa rupanya merembet sampai Batavia. Budak Portugis Hitam yang menganut agama Katolik diimingi kebebasan asalkan bersedia pindah keyakinan ke Protestan. Para budak yang dibebaskan karena pindah keyakinan itu selanjutnya dikenal sebagai Mardijker. Berbagai cara untuk dilakukan untuk memperkenalkan bahasa Belanda kepada kaum Mardijker walau berujung dengan kegagalan. Kuasa bahasa Portugis rupanya sangat besar di Batavia karena bahasa Portugis sudah terlanjur menjadi lingua franca di Asia dan diserap ke dalam beberapa bahasa lokal. Kelompok penutur bahasa Portugis ini akhirnya dibiarkan saja oleh VOC. Malahan VOC membentuk enam kompi yang anggotanya adalah sukarelawan orang-orang Mardijkers untuk menjaga keamanan kota (Algemeen Handelsblad 12 Desember 1932).

Lukisan karya F.X. Habberman yang memperlihatkan suasana lingkungan sekitar Gereja Portugis Luar pada tahun 1750 (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/).

Gambaran kaum Mardijkers di Batavia (sumber : https://collectie.wereldculturen.nl/).

Senjakala kelompok Mardijkers dimulai sekitar pertengahan abad ke-18. Merebaknya wabah di sekitar pemukiman kaum Mardijkers yang tidak sehat membuat banyak penduduknya yang meninggal. Pemakaman di sekitar akhirnya Gereja Portugis terisi penuh dan sebagai gantinya mereka dimakamkan di pemakaman yang aslinya untuk budak. Situasi itu diperparah dengan bertambahnya angka kemiskinan di kalangan Mardijkes. Orang-orang Mardijkers yang hanya berpenghasilan 6 atau 8 rijksdaaler per bulannya tidak mampu membayar ongkos sewa dan biaya hidup. Sejak tahun 1798, banyak rumah-rumah kaum Mardijkers yang dibongkar oleh mereka sendiri untuk dijual batu-batunya karena saat itu sedang terjadi kelangkaan bahan bangunan di Batavia. Kaum mardijkers lalu menyingkir ke perkampungan pribumi dan meleburkan diri dengan penduduk pribumi. Banyak dari mereka yang memeluk agama Islam dan untuk keseharian mereka memilih menggunakan bahasa Melayu daripada bahasa Portugis. Akhirnya hilang sudah identitas Portugis dari kaum Mardijkers. Sebagian keturunan kaum Mardijkers yang masih tersisa mencoba untuk bertahan di pinggiran kota seperti di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Merosotnya jumlah penutur Portugis di Batavia ternyata cukup berpengaruh terhadap kegiatan Gereja Portugis. Sejak tahun 1740, kehadiran jemaat Portugis di gereja mengalami penurunan. Pembacaan kitab suci dalam bahasa Portugis yang biasanya diadakan di gereja pada Kamis malam ditiadakan pada 1770 karena sudah tidak ada orang yang mendatanginya (Haan, 1935 : 626-627). Saudara tua dari Gereja Portugis Luar Kota, yakni Gereja Portugis Dalam Kota habis terlalap api ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1808 akibat kecerobohan tukang. Sementara itu pada tahun yang sama, Gereja Kubah yang digunakan oleh umat berbahasa Belanda dijual dan dibongkar oleh Daendels. Alhasil menjelang pergantian kekuasaan dari Inggris ke Belanda pada tahun 1816, Gereja Portugis Luar Kota masih memainkan peran pentingnya sebagai tempat ibadah sekalipun bahasa pengantarnya sudah digantikan dengan bahasa Melayu.

Foto dari awal tahun 1900an yang memperlihatkan kondisi Gereja Portugis sebelum pemugaran tahun 1921. (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/).

Peringatan pernikahan Putri Julianna dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937.

Seiring bergulirnya waktu, Gereja Portugis Luar Kota mulai menua sehingga harus menjalani perbaikan besar-besaran pada tahun 1825. Sejumlah kalangan yang peduli berupaya untuk menyelamatkan gereja warisan bersejarah tersebut. Misalnya pada tahun 1898, Dr. De Haan menulis buku tentang Gereja Portugis Luar Kota dan hasil penjualannya disumbangkan untuk kepentingan pelestarian gereja tua itu meskipun pemasukan yang diperoleh tidak begitu besar. Pemugaran besar-besar Gereja Portugis akhirnya dapat terlaksana setelah Oudkundige Dienst (Dinas Kepurbakalaan) memberi bantuan untuk pemugaran yang mulai dilakukan pada 15 Juni 1920 dengan arahan dari A.W. Jansz. Sejumlah kendala menyertai pemugaran tersebut seperti ketika pihak pemugar kesulitan mendapatkan balok kayu. Pasokan balok kayu akhirnya didapatkan dari Landberg & Zoon yang harganya lebih murah ketimbang membeli dari pemerintah (Oudheidkundige Dienst, 154 : 1921). Pemugaran itu juga melingkup perbaikan kandelar, kaca jendela, dan khusus bagian orgel ditangani oleh Riphagen, ahli orgel dari Jerman. Seluruh tahap pemugaran selesai dikerjakan pada tahun 1922. Sayangnya sebagian besar anggota jemaat Gereja Portugis rupanya bukan orang berada sehingga biaya perawatan rutin gereja tersebut sebesar 900 gulden per tahun dirasa memberatkan Gereja. Pada tahun 1936, sempat ada kajian untuk menjadikan gereja tersebut sebagai tempat wisata. Sayangnya menurut hasil kajian, jumlah pengunjung gereja tidak terlalu tinggi dan donasi yang diterima juga rendah. Sejumlah rombongan turis anak sekolah juga kedapatan mencuri kotak kolekte. Penyerahan gereja tersebut kepada pemerintah lewat Dinas Kepurbakalaan juga bukan jalan keluar yang tepat karena mereka sedang tidak memiliki anggaran besar akibat krisis ekonomi. Hal yang bisa mereka lakukan hanya menetapkannya sebagai monumen yang dilindungi undang-undang. Satu-satunya harapan adalah bahwa pelestarian Gereja Portugis tersebut dapat ditanggung bersama antara pemerintah pusat, kotamadya, dan LSM Vereeniging Oud Batavia  (Het Nieuws van den dag voor N.I, 2 Desember 1937).

Gereja Portugis Luar setelah dipugar tahun 1922 dengan bentuk atap yang berbeda dari sebelumnya (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Bagian dalam Gereja Portugis Luar saat pemugaran (sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/) 

Sepeninggal penjajahan Belanda, gereja ini beberapa kali terancam. Ketika pendudukan Jepang, bangunan dialihfungsikan sebagai tempat penyimpanan abu tentara. Kemudian pada tahun 1946 gedung gereja digunakan oleh jemaat Tionghoa berbahasa Hakka. Gereja ini nyaris terjual dan dibongkar untuk pabrik pada tahun 1953. Namun berkat campur tangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Muhammad Yamin, tindakan kurang bijak dapat dicegah dan kini Gereja Portugis digunakan oleh umat GPIB. Setelah berdiri selama lebih tiga abad dan melalui banyak cobaan, sanggupkah gereja ini sintas di tengah pembangukan metroplotian Jakarta ?

Referensi :

de Castro, Joaquim Magalhaes. 2019. Lautan Rempah Peninggalan Portugis di Nusantara. Jakarta ; Elex Media Komputindo.

Heuken, Adolf. 2016. Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta : Yayasan Loka Cipta Caraka.

Haan, F. De. 1935. Oud Batavia. Bandung : A.C. Nix & Co.

Wall, V.I. van De . 1921. De Inwijding Der Portugeesche Buitenkerk in 1695 dalam Nederlandsch-Indie, oud en nieuw, volume 006, issue 004 hal 125-128

Oudheidkundige Dienst. 1921. Oudheidkundige Verslag 1921. Weltevreden : Albrecht & Co.

Algemeen Handelsblad 12 Desember 1932

Algemeene Handelsblad, 11 Oktober 1933

Algemeene Handelsblad, 15 November 1933

De Preanger Bode, 6 Oktober 1920

Het Nieuws van den Dag Voor N.I, 2 Desember 1937