Senin, 01 Februari 2016

Stasiun Bedono, Kisah Stasiun Tua di Puncak Bukit

Semilir angin pegunungan nan sejuk menyambut kehadiran saya ketika tiba di stasiun mungil yang terletak di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Untuk saya pribadi, itu adalah ketiga kalinya saya bertandang ke stasiun ini. Kali pertama ialah pada saat mengikuti kuliah lapangan Arkeologi Kolonial tahun 2014 silam, pada saat saya masih menjadi seorang mahasiswa. Sementara untuk yang kedua dan ketiga, saya datang ke stasiun itu bersama rombongan Komunitas Kota Toea dalam rangka acara napak tilas jalur kereta yang diadakan oleh komunitas tersebut.
Papan teritisan di samping atap peron.
Peron stasiun Bedono.
Ruang tunggu dan tiket.
Secara kasat mata, bangunan stasiun itu amat sederhana. Ia hanya terdiri dari ruang tunggu penumpang dan sebuah ruangan yang merangkap sebagai ruang kepala stasiun dan ruang penjualan tiket. Bentuknya tidak kelewat besar untuk wilayah sekecil Bedono, namun tidak terlalu keciil juga. Rancangan stasiunnya benar-benar tampak selaras dengan lingkungan sekitar. Kendati mungil, atmosfir kekunoan stasiun itu masih kentara seakan ia melawan arus waktu yang siap menghanyutkannya. Lantai ubin tegel kotak-kotak khas stasiun tua masih dapat ditemukan di stasiun ini. Ubin tegel itu didatangkan dari pabrik tegel terkenal di Belanda karena mutunya yang baik. Berkat tegel itu, lantai stasiun tak akan basah apabila terkena air sehingga orang tidak akan tergelincir saat berjalan di atasnya. Sebuah gagasan yang sedikit terpikirkan oleh orang-orang zaman sekarang. Di dalam salah satu ruang Stasiun Bedono, terdapat brangkas kecil yang melekat pada tembok ruangan sehingga sulit baginya untuk dibawa. Brangkas itu setidaknya menunjukan bahwa sekitar stasiun merupakan wilayah yang rawan dengan aksi perampokan, apalagi letak stasiun agak terpencil yang membuatnya jauh dari jangkauan petugas keamanan.
Jalur rel bergerigi yang masih utuh.
Rel-rel baja yang dahulu pernah dilintasi oleh lokomotif uap masih terbentang di emplasemen Stasiun. Lebar rel yang dipilih adalah 1067 mm, menyesuaikan dengan kondisi medan jalur kereta Ambarawa-Secang berupa wilayah perbukitan sehingga jalur kereta harus dibuat berkelak-kelok laksana ular yang sedang mendaki bukit. Supaya laju kereta mudah mengikuti jalur yang berkelak-kelok, maka ukuran rel diperkecil. Secara geografis, Stasiun Bedono berada di titik tertinggi jalur Ambarawa-Secang, yakni di ketinggian 711 meter dpl. Jalur tersebut melalui punggungan bukit dan terdapat lereng yang kemiringannya lumayan curam di Pingit sehingga cukup berbahaya bagi kereta biasa melintasi jalur itu karena salah-salah kereta bisa tak terkendali dan terguling keluar jalur. Suatu teroboson akhirnya dibuat dengan melengkapi  jalur gerigi pada jalur yang menuju ke arah Bedono. Jalur tersebut hanya dapat dilintasi oleh lokomotif khusus buatan pabrik Esselingen, Jerman yang memiliki roda gigi untuk mencengkeram gerigi yang ada di tengah rel. Jalur kereta Jambu-Bedono-Gemawang adalah jalur bergerigi pertama di Jawa seperti yang disebutkan dalam De Locomotief tanggal 27 September 1904.
Alat pengatur sinyal.

Bak penampungan air.
Corong air.
Berbagai artefak yang berkaitan dengan perkeretapian masih dapat dijumpai di emplasemen stasiun itu. Misalnya adalah corong air yang dahulu menjadi elemen penting di setiap stasiun karena lokomotif saat itu masih bertenaga uap. Corong air digunakan untuk menuangkan air dalam jumlah besar ke dalam ketel lokomotif. Letaknya ada di ujung peron sehingga air dapat diisi ulang saat kereta berhenti. Bentuknya seperti pipa tegak yang di ujungnya terdapat lengan yang dapat diputar sejajar dengan sumbu rel saat tidak digunakan sehingga lengan corong tidak merintang kereta yang akan melintas (Berckel, 1906: 104). Airnya dipasok dari sebuah sumber air alami yang ditampung pada tandon di tebing seberang stasiun. Dengan bantuan gaya tarik bumi, air akan mengalir ke corong itu dan selanjutnya akan mengisi ketel lokomotif yang tersisa sedikit setelah melalui perjalanan menanjak yang berat. 
Turntable atau meja putar.
Cap pabrik pembuat rel putar.
Stasiun Bedono dilengkapi rel putar, turntable, atau draaischijven. Pemutar rel berbentuk seperti balok besi panjang yang bagian tengahnya terdapat poros sehinga dapat diputar (Berckel, 1906: 55). Supaya tidak oleng saat lokomotif berada di atasnya, maka kedua ujungnya ditambahkan roda berjalan yang bertumpu di atas rel melingkar. Pemutar rel di Bedono digerakan secara manual dengan tenaga manusia. Fungsi awal dari rel putar adalah mengganti jalur kereta tanpa harus mengangkatnya. Namun di Stasiun Bedono, fungsi dari rel putar adalah untuk membalikan arah hadap kabin lokomotif. Terdapat perbedaan kekuatan lokomotif yang berjalan maju ataupun mundur. Hal ini kemudian menjadi pertimbangan dalam proses perjalanannya. Saat kereta bergerak mengarah ke Stasiun Bedono yang menanjak, maka rangkain gerbong didorong oleh lokomotif yang diletakan di ujung belakang rangkaian gerbong. Manakala kereta akan meninggalkan stasiun, maka lokomotif yang berjalan menuruni lereng curam harus dapat menahan kecepatan supaya tidak tergelincir. Maka dari itu lokomotif diposisikan di depan rangkaian gerbong dalam posisi berjalan mundur. Dengan demikian ketika ketika sampai Bedono, arah lokomotif yang mendorong kereta baik dari arah Jambu maupun dari Gemawang harus diubah arah hadapnya menyesuaiakan arah perjalanannya. Sejatinya, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan rel langsir. Sayangnya lahan emplasemen stasiun Bedono kurang panjang untuk dibuatkan halaman langsiran sehingga dibuatlah rel putar di stasiun tersebut.  
Bangunan toilet.
Menelisik sejarahnya, asal muasal stasiun itu masih bersangkut paut dengan kopi, tanaman yang bijinya kita seduh menjadi segelas minuman penuh kenikmatan. Ya, era stasiun itu dibangun beriringan dengan era bergairahnya bisnis perkebunan. Berbagai tanaman komoditas ekspor yang diperkenalkan oleh Belanda pada masa tanam paksa mulai ditanam secara meluas setelah diberlakukannya UU Liberal pada tahun 1870an yang membuka keran investasi swasta dengan tujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Hindia-Belanda. Perkebunan partikelir akhirnya muncul dimana-mana, salah satunya ialah Cultuur Maatschappij Banaran yang didirikan 17 April 1877 dan membuka perkebunan kopi di dekat Stasiun Bedono. Di sisi yang lain, perdagangan antara Eropa dan Hindia-Belanda yang melesat maju dengan dibukanya terusan Suez pada tahun 1869. Sayangnya, kemajuan tersebut tadi belum didukung dengan sarana angkut yang layak. Sebelum kehadiran kereta, berbagai hasil perkebunan masih diangkut dengan alat pengangkutan primitif seperti pedati atau hanya dipikul orang saja. Padahal jarak perkebunan dengan pelabuhan terbilang jauh apalagi medannya masih berupa jalan tanah yang seringkali tidak dapat dilalui ketika musim hujan. Karena membawanya memakan banyak waktu, hasil bumi itupun akhirnya membusuk setibanya di pelabuhan (Iskandar, 2011; 102). Bukan untung yang diraih, para pengusaha perkebunan itu kadang malah tertimpa rugi akibat perkara tadi. Dari permasalahan tersebut kemudian muncul kebutuhan terhadap sarana yang layak untuk mengangkut orang dan barang dengan cepat dan murah. Alhasil, setelah Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (N.I.S.M) sukses membuka jalur kereta Semarang-Vorstenlanden, pemerintah kolonial mendorong N.I.S.M untuk membuka jalur kereta baru yang menjurus ke arah dataran tinggi Kedu. Serangkaian pembangun jalur kemudian dilaksanakan secara bertahap. Salah satu ruas terpenting perannya sekaligus terberat pembangunannya adalah jalur Ambarawa-Secang yang menyambungkan jalur kereta Yogyakarta-Magelang (dibuka 1 Juli 1898) dengan jalur kereta api Ambarawa-Kedungjati (dibuka 21 Mei 1873). Kehadiran jalur tersebut dimaksudkan untuk menghubungkan wilayah dataran Kedu dengan kota pelabuhan Semarang. Desain konstruksi jalur dibuat oleh kepala bagian konstruksi Rosskopf. Sementara kontrak pengerjaannya diborong oleh seorang aanemer Tionghoa asal Parakan bernama Ho Tjong An. Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan jalur kereta di medan perbukitan itu jelas lebih besar dibandingkan di medan yang datar. Sekitar 3000 kuli yang hanya berbekal peralatan seadanya harus bergulat melawan lembah, perbukitan, dan jurang yang dalam. Dengan dana sebesar f 390.000, biaya yang dikeluarkan untuk membangun jalur itu terbilang cukup besar untuk ukuran pembangunan jalur kereta (Maulana, 2012; 79).
Suasana pembukaan jalur kereta Ambarawa-Secang pada 29 Januari 1905. (sumber : collectie.wereldculturen.nl)
Pada 29 Januari 1905, Stasiun Bedono menjadi saksi kemeriahan perayaan yang menandai pembukaan jalur kereta baru yang menghubungkan Secang dengan Ambarawa. Hampir semua tamu undangan tidak melewatkan kesempatan bersejarah itu. Rangkaian kereta berhias yang mengangkut pemangku kepentingan dari Magelang dan Semarang dipertemukan di Stasiun Bedono sesuai dengan jadwal yang ditentukan, yakni pada pukul 9.30 pagi. Perjalanan mereka ke tempat perayaan dilalui begitu mengasyikan dengan melintasi jalur berbukit yang menyuguhkan hamparan pemandangan mengagumkan. Mengiringi perjalanan, alunan merdu musik orkes dari salah satu gerbong berpadu harmonis dengan mulusnya suara kereta. Setibanya di Stasiun Bedono, mereka disuguhkan dengan hidangan lezat yang dibuatkan oleh restoran terkenal dari Semarang, “Maison Smeabers”. Sambutan-sambutan diberikan mulai dari Stenimetz (presiden dewan direksi N.I.S), Ter Meulen (Residen Kedu), Pieter Sijthoff (Residen Semarang), Van Huizen (perwakilan perusahaan Semarang-Joana Stoomtram) dan Kolonel Otken (perwakilan militer). Momen-momen bersejarah tersebut diabadikan oleh studio fotografi “O. Hisgaen & Co.” (De Locomotief, 30 Januari 1905). Sementara itu sehari sebelumnya, nuansa kearifan lokal tampak ketika penduduk pribumi mengadakan upacara selamatan yang diyakini dapat mendamaikan makhluk tak kasat mata yang wilayahnya sudah terganggu akibat pembangunan (De Locomotief, 21 Januari 1905). Teknologi kereta api sebagai salah satu puncak penemuan Revolusi Industri nyatanya masih belum mampu mencabut tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat yang sudah lama tertancap. Hal tersebut seakan menunjukan bahwa di Jawa, hasil kemajuan ilmu pengetahuan dari Barat masih berkelindan dengan tradisi dan kepercayaan lama masyarakat setempat.
Lokasi stasiun Bedono pada petaa lama tahun 1915 (sumber : Ambarawa en Salatiga en Omstreken). Nampak lokasi stasiun Bedono tidak begitu jauh dari perkebunan kopi Banaran.
Sebagaimana Stasiun Bedono yang berada di puncak bukit, jalur kereta Ambarawa-Magelang yang melintasi Bedono adalah puncak pembangunan jalur kereta yang dilakukan oleh N.I.S Di sinilah mereka berhasil menaklukan medan pegunungan yang sebelumnya sulit dijangkau. Kedudukan jalur tersebut amatlah penting ditinjau dari segi ekonomi, militer, dan pariwisata. Dari segi ekonomi, pertukaran barang antar wilayah pesisir dan pedalaman akan berajalan lebih lancar. Selain itu, jalur tersebut juga mempermudah perkebunan untuk mengirim hasil panen ke pelabuhan dalam jumlah besar dengan waktu yang lebih ringkas. Selanjutnya dari segi militer, moda transportasi kereta api sangat membantu untuk mengangkut pasukan militer dari garnisun Magelang dan Willem I ke pelabuhan Semarang. Sebelumnya, butuh dua hari perjalanan untuk menuju pelabuhan. Dengan kereta, maka perjalanan dapat ditempuh hanya dalam sehari saja. Sementara dari segi parwisata, jalur itu menjadi atraksi wisata tersendiri karena selama perjalanan para penumpang kereta akan disuguhkan dengan keindahan hamparan persawahan yang menenteramkan jiwa, damainya perkampungan dengan pohon nyiur yang melambai tertiup angin, dan barisan perbukitan yang menawan. Sebagai daya pikat wisata, tak mengherankan jika buku panduan wisata terbitan Koninklijke Paketvaart Mij. menganjurkan agar para penumpang kereta dari Semarang ke Yogyakarta untuk mengambil jalur ini. Begitu bernilainya jalur tersebut bagi banyak pihak sehingga jalur rel tersebut tidak hanya sekedar dianggap jalan baja namun juga jalan emas. 
Sebuah kereta dari arah Ambarawa menuju Bedono. (sumber : Les Chemins de Fer Ile de Java)
Sejalan dengan pertumbuhan kendaraan roda empat seperti truk dan mobil yang tumbuh pesat di tahun 1970an, Stasiun Bedono secara berangsur mulai ditinggalkan oleh penumpang yang beralih moda transportasi lain. Tahun 1978, Stasiun Bedono dinonaktifkan sebagai stasiun penumpang reguler dan pupus sudah kejayaan jalur kereta Ambarawa-Secang yang sarat kenangan. Untunglah bangunan stasiun itu masih dilestarikan dengan baik. Jalur kereta Ambarawa-Bedono yang sempat tertidur akhirnya dibangkitkan kembali sebagai jalur kereta wisata.

Referensi
Berckell. H. Van. 1906. Spoorwegbouw en -onderhoud. Zwolle : W.E.J. Tjeenk Willink.
Iskandar, Sri Chirullia. 2011. "Pendirian Stasiun Willem I di Kota Ambarawa" dalam Jurnal Papua TH.III No.1/Juni 2011.
Koninklijke Paketvaart Mij. 1911. Guide Through Netherlands India. Amsterdam : J. H. de-Bussy. 
Maulana, Caesar Bayu. 2012. "Latar Belakang pembangunan dan Perkembangan Jalur Kereta api NISM Yogyakarta-Ambarawa 1898-1942 (Kajian Ekonomi,Sosial dan Politik)". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
De Locomotief, 27 September 1904.
De Locomotief, 21 Januari 1905.
De Locomotief, 30 Januari 1905.

Minggu, 03 Januari 2016

Runut Sejarah Bisnis Gadai di Pegadaian Tempel

Nuansa kuno melekat begitu kuat pada rumah gadai yang terletak di tepi Jalan Magelang, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman itu. Sekalipun usianya sudah menginjak lebih dari sepuluh dasawarsa, rumah gadai itu masih bernafas. Dari nafasnya, dapat dirunut sejarah bisnis gadai di Indonesia yang sempat diwarnai aksi pemogokon buruh itu..
Rumah dinas beeheeder yang kini menjadi kantor Pegadaian Cabang Tempel.
“Selamat darang di Pegadaian Tempel, silahkan kalau mau melihat-lihat“, sambut satpam pegadaian itu dengan ramahnya. Aura kekunoan pegadaian itu masih terasa kentara, walaupun kaca di beranda depannya berusaha memberi kesan modern pada gedung pegadaian itu. Pegadaian cabang Tempel itu sebenarnya menempati bekas rumah beeheedeer atau kepala Pegadaian zaman Belanda. Guna menghemat biaya perjalanan dan juga agar barang gadaian nasabah bisa diamankan, maka rumah beeheeder dibangun di dekat Pegadaian. Untuk bangunan Pegadaian Tempel, rumah beeheedeer menempel di depan rumah gadai yang lama.
Bangunan lama kantor pegadaian Tempel.
Melangkahkan kaki mendekati bekas rumah gadai yang lama, benak saya mencoba merentangkan sejarah bisnis gadai di Indonesia. Tertuang dalam buku “Riwajat Semarang”, bisnis gadai di masa kolonial rupanya dibidani oleh kegiatan perjudian di kalangan rakyat. Dasar orang ketagihan, ketika uang mereka habis di meja judi, barang berharga yang mereka punya digadaikan kepada para bandar untuk ditukar dengan uang yang selanjutnya mereka pakai kembali untuk berjudi. Bisnis gadai kemudian berkembang dan dijalankan oleh orang Tionghoa dengan sistem pacht, dimana mereka harus menyetor pajak ke kantong pemerintah kolonial.

Lembaga pegadaian di Indonesia sudah muncul sejak masa Vereenigde Oost-Indie Compagnie (VOC) yang ditandai dengan berdirinya Bank van Leening pada 20 Agustus 1746 sebagai lembaga pemberi kredit dengan sistem gadai bagi masyarakat. Bank van Leening kemudian dibubarkan pada masa pemerintahan Inggris dan diganti dengan sistem kontrak pada 6 Mei 1814.  Dalam sistem tersebut, setiap orang berhak untuk mendirikan usaha gadai sepanjang mendapat kontrak resmi dari pemerintah. Sistem tersebut terus berlanjut setelah penyerahan kekuasaan dari Inggris ke Belanda 1816. Berdasarkan suatu penyelidikan pada tahun 1856, diketahui jika sistem tersebut membuat banyak penduduk yang terjerat utang karena tingginya bunga yang dipatok sementara keuntungan dari usaha gadai banyak yang tidak disetorkan ke pemerintah. Akibatnya sistem kontrak diubah sedikit menjadi sistem pacht  pada tahun 1871, dimana setiap orang dapat memiliki usaha pegadaian setelah mendapat pacht atau lisensi yang diberikan dengan cara lelang. Sayang, sistem pacht tersebut  sama buruknya dengan sistem sebelumnya. Banyak pemilik rumah gadai yang tiada bedanya dengan lintah darat. Para nasabah mereka peras dengan suku bunga tinggi agar bisa membayar pacht. Sejumlah kegagalan lainnya dari sistem pacht antara lain, ketentuan tarif yang tidak jelas, beberapa pegadaian menjadi sarang penjualan opium, kondisi bangunan yang tidak terpelihara baik, dan tidak ada kompensasi jika barang yang digadai rusak saat disimpan.
Suasana transaksi gadai di rumah gadai Kapasan, Surabaya, pada tahun 1920an. Tampak transaksi berlangsung di bagian beranda. Setidaknya seperti inilah gambaran transaksi gadai di Tempel pada masa lalu ( sumber ; troppenmuseum.nl ).
Keprihatinan terhadap kacaunya kondisi pegadaian di Jawa akhirnya menghasilkan gagasan untuk mengambil alih bisnis gadai di bawah naungan pemerintah kolonial. Gagasan tersebut sudah muncul pada tahun 1880 namun tidak dapat segera dilaksanakan begitu saja karena adanya sejumlah keraguan dari berbagai kalangan. Masalah tersebut kembali mencuat pada tahun 1894 namun sekali lagi masih ada keraguan dari beberapa pihak. Penyelewengan terus terjadi dan jika dibiarkan begitu saja, maka kondisi pegadaian di Hindia-Belanda akan semakin suram. Pada 17 April 1900, Menteri Koloni Cremer, akhirnyaa menyetujui rencana untuk mengubah sistem pegadaian dimana kali ini usaha gadai sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah dan tidak lagi melalui pihak ketiga. Asisten residen Purwokerto, W.P.D. de Wolff van Westerrode kemudian ditugaskan untuk membuat kajian tentang pendirian pegadaian pemerintah. Pemerintah Hindia-Belanda kemudian mengeluarkan Staatsblad no. 131 tanggal 12 Maret 1901 sebagai dasar hukum monopoli bisnis gadai. Bersama opium dan garam, rumah gadai menjadi usaha yang dimonopoli oleh pemerintah kolonial. Pada tanggal 1 April 1901, Pegadaian Pemerintah dibuka pertama kalinya di Sukabumi, Jawa Barat dan tanggal itu diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian. Pegadaian pemerintah di Sukabumi tersebut baru bersifat percobaan saja namun karena menuai keberhasilan maka pegadaian pemerintah mulai dibuka di tempat lain.
Foto lama salah satu rumah gadai milik pemerintah atau pandhuis yang berada di Ngupasan, Yogyakarta. (sumber : colonialarchitecture.eu).
Sejarah pegadaian di Vorstenlanden (wilayah yang mencakup Karesdienan Surakarta dan Yogyakarta) sedikit berbeda dari tempat lain sehubungan dengan masih adanya pemerintah kerajaan di tempat tersebut. Sejak dicabutnya sistem kontrak pada tahun 1835, belum ada ketentuan yang mengatur bisnis pegadaian di Vorstenlanden dan sistem pacht sendiri baru diperkenalkan di Vorstenlanden pada tahun 1872, setahun sesudah sistem tersebut resmi digunakan di tempat lain. Pendapatan dari pacht gadai masuk ke dalam kas kerajaan dan pacht tersebut hanya berlaku untuk orang Eropa atau Tionghoa sehingga orang pribumi yang akan membuka pegadaian tidak perlu membayar pacht gadai. Jumlah pegadaian pribumi meningkat sedemikian rupa sampai dilakukan pembatasan pada tahun 1891, terlebih minimnya pengawasan menjadikan pegadaian tersebut sebagai tempat menadah barang curian. Pemerintah kolonial akhirnya memberlakukan monopoli pegadaian di Yogyakarta sejak 1 Apri 1915. Kendati pegadaian sudah dimonopoli, namun ada sedikit perbedaan dengan di tempat lain karena pemerintah kolonial harus membayar sejumlah kompensasi kepada Sultan. Dalam kurun waktu tahun 1914 sampai 1917, berturut-turut didirikan kantor pegadaian (pandhuis) di seluruh wilayah Yogyakarta, yaitu pegadaian Gondomanan, Godean, Tempel, Sleman, Prambanan, Imogiri, Bantul, Jogoyudan, Sentolo, Brosot, dan Gunungkidul (Anonim, 1917; 165).
Peta wilayah Tempel pada tahun 1933. Letaknya yang berada di tepi jalan, dekat pasar dan pusat kawedanan menjadi pertimbangan pemerintah kolonial membuka rumah gadai di situ (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Lokasi pandhuis Tempel berada di dekat Pasar Tempel. Di daerah pelosok, pemerintah kolonial sengaja membuka pandhuis di dekat pusat pemerintahan atau perdagangan agar masyarakat di sana terjauhkan dari ulah lintah darat selain untuk menarik banyak nasabah. Kehadiran Pandhuis ini mendapat sambutan bagus dari masyarakat karena prosedurnya lebih sederhana, bunga yang rendah, dan memiliki senarai harga resmi sehingga para nasabah merasa lebih aman dalam bertransaksi (Febriani, 2007; 36). Pada masa pendudukan Jepang tanggal 1 Desember 1943, kantor-kantor pegadaian di wilayah Yogyakarta diserahkan pada swapraja, sehingga kantor pegadaian pusat tidak mempunyai hak terhadap urusan pegadaian daerah. Selanjutnya di masa revolusi kemerdekaan, bangunan rumah gadai Tempel dipakai untuk persembunyian para pejuang republik. Sesudahnya, ia dipergunakan sebagai Kantor Pegadaian Unit Tempel hingga sekarang meski sempat tutup selama lima tahun dari tahun 2002 – 2007.
Tipikal denah bangunan pegadaian negeri di Jawa.
Bangunan Pegadaian Tempel menunjukan perkembangan arsitektur bangunan pegadaian yang mengalami penyempurnaan setelah dimonopolinya bisnis pegadaian oleh pemerintah kolonial. Sebelumnya, kegiatan pegadaian dilakukan di tempat yang dianggap tidak memenuhi kriteria untuk kegiatan pegadaian karena ruangan, penerangan, dan keamanan yang ada masih belum memadai. Barang-barang jaminan sering diletakkan di sembarang tempat bahkan di luar ruangan karena keterbatasan ruangan. Barang gadai yang biasa disimpan di dalam ruangan hanyalah perhiasan atau barang berharga lain yang disimpan dalam brankas besi atau kotak kayu yang dilengkapi kunci. Sesuah pegadaian berada dalam monopoli pemerintah kolonial, maka arsitektur bangunan rumah gadai mulai disiapkan secara matang. Konsep dasar dari bangunan pegadaian pemerintah adalah menyatukan rumah beheeder atau kepala pegadaian, kantor, dan gudang pegadaian menjadi satu kesatuan bangunan. Rumah beheeder dan gudang pegadaian dibuat bersebelahan dan dilengkapi sebuah akses penghubung ruang tidur beheeder dengan gudang pegadaian sehingga jika terjadi sesuatu yang mencurigakan di pegadaian pada malam hari, maka kepala pegadaian dapat langsung segera bergegas memeriksa gudang. 
Deretan loket dengan lingkaran sebagai ventilasi tambahan. Jumlah loket yang banyak mengurangi jumlah antrian sehingga nasabah dapat terlayani dengan baik.
Salah satu loket. Di bagian bawah, terdapat dua buah lubang. Lubang yang sebelah untuk menggadaikan barang dan lubang satunya untuk menebus barang yang digadaikan.
Sesampainya di bagian belakang rumah gadai itu, saya membayangkan bagaimana orang-orang zaman dulu melakukan transaksi gadai lewat deretan jendela nan tinggi itu. Jangan bayangkan transaksinya berlangsung di dalam ruang tertutup seperti sekarang. Dahulu, nasabah yang kebanyakan adalah orang pribumi tidak melakukan transaksi gadai di dalam ruangan melainkan di bawah atap beranda tanpa dinding. Nasabah lain yang sedang menunggu giliran transaksi mengantri di ruang terbuka. Oleh karena itu supaya tidak terjadi antrian panjang dan berdesak-desakan, bangunan pegadaian memiliki banyak loket transaksi dimana satu pegadaian bisa memiliki lebih dari sepuluh loket dan supaya nasabah tidak kehujanan dan kepanasan saat bertransaksi, maka dibuatlah atap emperan yang lebar. Penyerahan barang dan uang dilakukan lewat jendela yang juga merangkap fungsi sebagai loket sehingga sirkulasi bagian dalam ruangan menjadi lancar dan transaksi menjadi mudah. Manakala barang yang digadaikan cukup besar, maka barang itu akan dimasukan lewat pintu besar yang berada di sebelah barat. Kala itu, barang yang umumnya digadaikan antara lain kain batik, benda-benda pusaka (seperti keris), perhiasan, benda dari kuningan dan perak, barang pecah belah, sepeda, dan kadang hewan ternak.
Kondisi gudang tempat penyimpanan. Tampak barang-barang dipisah dan diletakan menurut jenis dengan rapi.

Bagian dalam gudang penyimpanan barang jaminan. ( sumber : troppenmuseum.nl )
Ruangan yang dahulu digunakan sebagai gudang penyimpanan barang-barang yang digadai.
Pintu untuk memasukan barang gadai yang besar seperti sepeda.
Dari lubang loket yang ada terdapat di bawah jendela berjeruji itu, saya mendapati sebuah ruangan kosong. Ruangan yang saat ini dalam keadaan berdebut tersebut dahulunya merupakan ruang kerja pegawai pegadaian. Ruangan tersebut tidak memiliki dinding penyekat sehingga kepala pegadaian dapat mengawasi pegawainya. Di sebelah ruang kerja, terdapat gudang penyimpanan barang-barang jaminan yang diberi pembatas berupa jalinan kawat yang sangat kuat dan tidak mudah dipotong. Pembatas tersebut selain untuk keamanan juga untuk memudahkan pegawai mengawasi barang-barang jaminan. Di dalam ruangan penyimpanan, barang jaminan dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Untuk memenuhi kebutuhan buang air kecil, kantor dilengkapi dengan dua toilet. Selain kantor dan ruang penyimpanan terdapat ruang lelang barang-barang gadai yang gagal ditebus. Uang dan surat-surat berharga yang digadaikan nasabah disimpan di brankas besi yang ditembok sehingga tidak mudah diambil orang. Kosongnya ruangan itu sekejap mengingatkan saya ketika ruangan kosong akibat aksi mogok para pegawai pribumi yang terjadi sekitar tahun 1922 silam.

Gambaran suasana kerja pegawai pegadaian di dalam bangunan pegadaian.
Ruang bagian dalam rumah gadai, tempat dimana pegawai melayani nasabah dan mengurus adminsitrasi.
Berita pemogokan pegawai Pegadaian-se Yogyakarta yang diwartakan harian Het nieuws van den dag voor Nederlandsch   Indie  tanggal 14 Januari 1922.
Dibalik mujurnya bisnis gadai pemerintah kolonial, terselip kisah pemogokan para buruh pegadaian sebagai puncak perlawanan terhadap ketidakadilan dan kesewang-wenangan pemerintah kolonial yang menimpa mereka. Dahulu, ketika ruangan itu penuh meja-meja berisi dokumen dan barang gadai itu, terlihat raut getir para pegawai. Sebabnya tak lain ialah adanya kebijakan pemerintah kolonial yang mengurangi honor mereka guna menghemat anggaran belanja. Tapi kegetiran mereka belum meletup hingga mereka mendengar kabar bahwa kawan mereka di pegadaian Ngupasan dipecat gegara masalah sepele. Kejadian itu terjadi di suatu hari di tahun 1922, ketika seorang pegawai Eropa di Pegadaian Ngupasan menyuruh seorang pegawai pribumi untuk memindahkan barang gadai yang akan dilelang. Pegawai pribumi itu menolak karena ia sedang repot dan ia merasa barang yang dimaksud sebenarnya bisa dipindah oleh pegawai Eropa sendiri tanpa bantuannya. Tersinggung dengan penolakan itu, pegawai Eropa itu mengeluarkan nada sedikit menghina kepadanya dan karena tidak terima, pegawai pribumi itu menyerang si pegawai Eropa. Terjadilah sebuah pertikaian yang berujung pada pemecatan si pegawai pribumi itu. Sebagai aksi solidaritas untuk kawannya yang dipecat tidak adil itu, PPPB (Perserikatan Pegawai Pandhuis Bumiputera), wadah para pamong pegadaian bumiputera. menggelar aksi mogok kerja. Dari Pegadaian Ngupasan, aksi mogok kerja merembet ke Pegadaian di seantero Yogyakarta seperti Lempuyangan, Bantul, Godean, Brosot, Sentolo, Gunungkidul, Sleman, dan Tempel. Mengejutkannya, aksi mogok kerja kian meluas ke kota-kota lain di luar wilayah Yogyakarta seperti Kebumen, Tegal, Pekalongan, Semarang, Rembang, Surabaya, dan Pasuruan. Sayang, aksi mogok kerja itu belum dapat melunakan hati pemerintah kolonial. Namun kumandang nada-nada perlawanan itu masih bisa saya rasakan di dalam kantor pegadaian yang telah sunyi itu.


Referensi
Anonim. 1917. Verslag over de Burgerlijke Openbare Werken 1913. Weltevreden : N.V. Uitgever Mij. Papyrus.

Anonim. 1926. Gedenkschrift Uitgegeven ter Gelegenheid van Het 25 Jarig Bestaan van Den Gouvernements Pandhuisdienst. Weltevreden : Landsdrukkerij.

Febriani, Dian Windu. 2007. " Perkembangan Tata Ruang Kompleks Pegadaian Kantor Cabang Lempuyangan Yogyakarta 1913-2006 ". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada

Romawati, Sri Muryantini  dan Prasetyo, Himawan. 2015. "Tinjauan Sejarah : Kantor Pegadaian Tempel " dalam Buletin Narashima. Yogyakarta : Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta.

Sabtu, 12 Desember 2015

PG Prembun, Sepenggal Kolonial di Ujung Timur Kebumen

Terletak di ujung timur Kabupaten Kebumen, tak banyak yang tahu bahwa di pernah berdiri sebuah pabrik gula di Prembun. Pabriknya memang telah terkubur oleh sang kala, tapi jejak sejarahnya masih bisa ditemui. Inilah sebuah ikhtisar tentang sepenggal kolonial di ujung timur Kebumen.
Lokasi bekas PG Prembun.
“ Lain kali kalau mau foto-foto bilang ke sini dulu ya mas ! “, perintah bapak polisi itu. “ Siap pak !”, sahut saya. “ Kalau sudah izin kan nanti bisa lihat-lihat dalam “, sambungnya. Bermula dari kecerobohan saya yang lupa meminta izin pada penjaga, saya justru mendapat kesempatan emas untuk melihat lebih dekat bangunan tua yang kini menjadi kantor Polsek Prembun itu. “Ini dulu bangunan dari zaman kolonial Belanda mas“, terang polisi lain. Balutan kolonial memang masih begitu kentara di kantor yang berada di pinggir jalan raya Kebumen-Purworejo. Lihatlah jendela krepyak yang masih utuh terpasang di tempatnya. Beranda depan yang tinggi ditopang oleh tiang-tiang dari kayu jati. Halaman depannya juga amat luas sehingga belasan mobil dapat terparkir di situ.
Bangunan bekas tempat tinggal rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor Polsek Prembun.
Penampakan bangunan kantor Polsek Prembun tidak seperti kantor polisi pada umumnya. Bangunan ini lebih mirip seperti tempat tinggal yang diperuntukan bagi orang-orang Belanda. Beranda depannya berhias dengan lantai tegel bercorak puspa, yang sekilas gayanya mengingatkan saya pada seni hias art nouveau yang pernah digandrungi orang pada akhir abad ke-10. Dari ukuran bangunan yang megah, halamannya yang luas, dan hiasan tegelnya, jelas bukan sembarang orang yang dulu pernah menghuninya. “Dahulu yang tinggal di sini itu katanya pegawai pabrik gula, tapi saya tidak tahu pabrik gula mana “, terang polisi tadi.
Foto udara PG Prembun diambil dari sebelah tenggara. Tampak dengan jelas pemandangan kompleks pabrik dan perumahan pegawai (sumber : troppenmuseum.nl).
Foto udara PG Prembundi ambil dari sebelah utara (sumber : troppenmuseum.nl).
Suikerfabriek Remboen atau PG Prembun adalah pabrik gula yang dimaksud bapak polisi tadi. Wajar jika bapak polisi tadi tidak mengetahuinya karena keberadaan pabrik itu tampaknya sudah lekang dari ingatan orang-orang sekitar. Pabrik gula Prembun didirikan oleh perusahaan agrobisnis partikelir, Java-Suikercultuur Maatschappij, pada tahun 1891. Pada masa itu, Karesidenan Bagelen merupakan satu-satunya karesidenan di Jawa tengah yang tidak memiliki industri gula modern, padahal wilayah tersebut memiliki dataran rendah yang luas dan banyak sungai. Maka dari itu, didirikanlah badan usaha Java Suikercultuur Maatschappij untuk memajukan industri gula di sana. Perusahaan tersebut membutuhkan modal investasi sebesar 900.000 gulden. Untuk mendapatkan modal tersebut, dijualah saham dalam dua seri dengan masing-masing nilai sebesar 450.000 gulden. Java Suikercutuur Maatschappij diberi konsensi hingga 31 Desember 1940. Kursi direktur Java Suikercultuur Maatschappij diduduki pertama kali oleh J.W. Wilson. Sementara kursi Komisaris diisi oleh H. H. Borel, G. J. B. Bunge, C. W. Groskamp, ​​Mr. H. D. Levyssohn Norman dan J. J. P. Vom Rath. Atas masukan dari A.W. de Rijk, Java Suikercultuur Maatschappij harus mengurus hak kepemilikan, izin mendirikan bangunan, dan sewa tanah untuk pendirian pabrik gula di Prembun (Bataviasch Nieuwsblad, 9 April 1890). 
Foto hitam putih bangunan PG Prembun atau S. F Remboen. Di dinding muka bagian atas, terdapat angka tahun 1926 yang menunjukan tahun bangunan itu berdiri. Bangunan ini dahulu berdiri persis di pinggir jalan raya yang Purworejo - Kebumen. Bangunan ini sekarang sudah hilang (sumber : troppenmuseum.nl).
Sebagai persiapan, perusahaan mencari calon administrateur pertama PG Prembun yang sudah ahli dan sebelumnya sudah memiliki pengalaman sebagai administraetur pabrik gula. Orang inilah yang nantinya memastikan apakah pabrik gula dapat berkembang di tahun-tahun pertamanya. Setelah melakukan pencarian, perusahaan akhirnya mendapatkan G.W. Slothouwer, mantan administrateur PG Mayong, Jepara yang saat itu sudah kembali ke Eropa. Atas masukan dari Slothouwer, PG Prembun akan memakai mesin dari Duncan Stewart & Co., yang pabriknya ada di Glasgow, Inggris. Sebelum penempatan ke Jawa, Slothouwer pergi ke Glasgow untuk memastikan jenis mesin pesanannya sesuai dengan kriterianya. Pembangunan pabrik sudah dilaksanakan sejak bulan Januari tahun 1891, namun hambatan tak terduga di tengah jalan membuat pembangunannya tersendat. Hambatan juga muncul dalam pengangkutan mesin menuju ke lokasi pabrik. Hambatan ini berdampak terhadap mundurnya operasional pabrik yang sedianya akan dimulai pada 4 Juni 1891 (Java Bode, 22 Agustus 1891).
Mesin penggiling tebu PG Prembun ( sumber : troppenmuseum.nl ).

Pada saat awal berdiri, lahan yang berhasil pabrik digarap baru seluas 327 bouw (228 hektar) dengan hasil panen mencapai 10.000-25.000 pikul (617-1544 kilo) tebu. Untuk perluasan lahan, perusahaan membeli lahan baru di sekitar Kutoarjo. Selain itu, mereka juga sudah mendapatkan lahan di dekat pelabuhan Cilacap untuk lokasi gudang yang akan menampung gula dari PG Prembun sebelum diekspor ke luar (Java Bode, 22 Agustus 1891). Antara tahun 1891 hingga 1901, produksi gula PG Prembun sangat rendah dan tidak menguntungkan. Bahkan pada tahun 1900, mesin-mesin PG terpaksa dijual untuk menutupi kerugian. Kondisi itu berlangsung hingga PG Prembun dijual Java Suikercultuur Maatschappij kepada Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij pada tahun 1900. Perusahaan yang menjadi salah satu dari "Big Six" perusahaan keuangan di Hindia Belanda tersebut telah memiliki beberapa pabrik gula di tempat lain seperti Gudo, Balapulang, dan Pagongan. Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij lalu menunjuk J.H.W van den Bosch sebagai administrateur PG Prembun. Penunjukan ini rupanya memberi dampak siginifkan terhadap PG Prembun. Lambat laun, angka produksi PG Prembun meningkat secara bertahap dan pada tahun 1903, PG Prembun akhirnya meraih laba pertamanya. Pada tahun 1907, Van den Bosch kemudian dipindahkan ke PG Banjardawa dan kursi adminsitrateur PG Prembun diganti oleh G.L Cochius ; cucu dari Jenderal Cochius yang namanya pernah dijadikan untuk nama benteng di Gombong. Selama 11 tahun masa kepemimpinannya di PG Prembun, PG Prembun berkembang menjadi PG terbesar ketiga di Jawa dengan luas lahan mencapai 2713 bouw (1521 hektar) (Bataviasch Nieuwsblad, Desember 1917).

Beranda depan.
Lantai tegel bergaya art nouveau di bagian serambi depan polsek Prembun.
Bagian dalam bangunan utama Polsek Prembun.
Kantor Polsek Prembun yang sedang saya sambangi saat ini dahulunya adalah rumah besaran atau kediaman untuk adminsitrateur PG Prembun. Tidaklah heran apabila bangunan itu tampak megah laksana istana mengingat administrateur adalah jabatan tertinggi di lingkungan pabrik. Salah satu administrateur yang pernah berdiam di situ ialah J.G. Tjassens Keizer. Ia ditugaskan di PG Prembun sejak Januari 1928. Sebagai pegawai dari Nederlandsch-Indische Landbouw Maatschappij, ia merintis karirnya sebagai machinist tingkat dua dan dipekerjakan di PG Djatie. Pada 1 Mei 1930, di rumah besaran ini, diadakan perayaan untuk memperingati 25 tahun pengabdian J.G. Tjassens Keizer di Nederlandsch-Indische Landbouw Maatschappij, dimana pada kesempatan itu perwakilan perusahaan, Mr. F. H. Van Heukelom memberikan cinderamata pada Tjassens Keizer disaksikan oleh jajaran pegawai lainnya (De Locomotief, 2 Mei 1930).
Bangunan kolonial di dalam SMP N 1 Prembun dan lokasinya  pada foto lama.
Tersembunyi di balik gerbang SMP N 1 Prembun, saya menjumpai sebuah bangunan kolonial yang entah apa fungsinya. Apakah ia dulunya merupakan rumah wakil administrateur, kantor administrasi, atau societeit, tempat pegawai bersenang-senang ? Dari sana, saya kemudian melesat menyeberangi jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
Sisa-sisa PG Prembun saat ini. Keterangan : A. Rumah administrateur kini menjadi kantor Polsek Prembun ; B. Eks kantor PG Prembun ; C. Eks situs PG Prembun ; D. Sisa rumah dinas ; F. Stasiun Prembun.
Tatkala saya sudah berada di seberang jalan, benak saya membayangkan sebuah pabrik gula besar yang di bagian mukanya terpampang angka tahun 1926, tahun dimana PG Prembun diperbesar dan diperbauri mesin-mesinnya seiring dengan perluasan ladang tebu PG Prembun. Selama PG Prembun beroperasi, diadakan perayaan meriah setiap musim giling tiba. Acara perayaan dilangsungkan dari pagi hingga malam hari. Berbagai hiburan digelar seperti perlombaan balap sepeda, pemutaran layar tancap, pertunjukan drama dan kabaret, peragaan busana, dan jamuan makan malam. Selain itu diadakan pula upacara selamatan yang diadakan di dalam pabrik dengan harapan musim giling dapat berjalan tanpa menemui kendala (De Indishce Courant, 3 Mei 1930). Musim giling tahun 1932 menjadi musim giling terakhir PG Prembun karena setahun berikutnya pabrik ditutup (De Tijd, 12 Oktober 1939). Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat saat itu merupakan tahun-tahun tersulut untuk banyak pabrik gula di Jawa akibat depresi ekonomi yang menyebabkan banyak pabrik gula ditutup untuk memperbaiki harga gula yang sempat merosot di pasaran. Bekas rumah-rumah pegawai kemudian disewakan untuk perorangan dan pegawai negeri sipil pribumi. Pada tahun 1938, direksi Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij bernegosasi dengan pemerintah kolonial untuk menghidupkan kembali PG Prembun pada tahun berikutnya sebagai pabrik karung goni dengan tujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Selanjutnya pada masa agresi Militer Belanda II, bangunan PG Prembun digunakan sebagai markas pasukan Belanda (De Locomotief, 4 Januari 1949).
Kompleks rumah pegawai PG Prembun. Gambar diambil dari dekat jalur kereta api. ( troppenmuseum.nl ).
Para pegawai administrasi yang sedang bekerja ( sumber ; troppenmuseum.nl ).
Bangunan utama PG Prembun memang telah lama lenyap, tapi tak diketahui apa sebab ia akhirnya berhenti bergiling dan bangunan pabriknya hilang begitu saja. Tapi beruntung, pabrik gula itu masih meninggalkan rekam jejak berupa dokumentasi foto. Sekitar tahun 1920an, kompleks pabrik gula itu sempat direkam citra visualnya dari udara. Foto itu setidaknya memberikan gambaran kepada kita yang hidup di zaman sekarang seperti apa rupa PG Prembun di masa ketika ia masih berjaya.

Bangunan bekas rumah dinas yang berada di pinggir jalan raya.


Tiga rumah identik di pinggir jalur rel Kutoarjo-Kebumen.
Salah satu bekas rumah dinas pegawai PG Prembun yang masih lumayan terjaga.
Di sisi selatan jalan, saya banyak sekali menemukan rumah-rumah bergaya kolonial yang masih ada sangkut pautnya dengan PG Prembun. Rumah-rumah itu dahulu diperuntukan bagi karyawan menengah setingkat di bawah administrateur. Secara tugasnya, karyawan pabrik gula dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian kebun dan bagian pabrik. Pada zaman dahulu, pabrik gula tidak hanya berkutat pada tahap pengolahan gula semata namun juga sampai tahap penyiapan bahan mentah, yakni tanaman tebu. Pabrik harus memastikan ketersediaan tanah, air, dan tanaman tebu yang hendak diolah. Untuk perkara ini, pabrik mempekerjakan ahli pertanian dan irigasi yang akan mengawasi jalannya penanaman tebu di lapangan. Berikutnya untuk karyawan bagian pabrik, bagian ini dibagi menjadi tiga bidang, yakni mesin, kimia, dan administrasi. Bagian mesin bertanggung jawab pada urusan permesinan. Sementara bagian kimia atau chemist bertugas untuk memastikan mutu gula yang dihasilkan sesuai standar. Selanjutnya pada bagian administrasi memiliki tugas tata usaha dan pembukuan (Tichelaar, 1927: 48-50). Para pegawai menengah ini yang mayoritas adalah orang Eropa diberi fasilitas dari pabri berupa rumah tinggal tersebut berukuran sedang namun dibangun mengikuti standar kesehatan. Rumah tinggal yang saling berdekatan itu akhirnya membentuk semacam industrial village. Saat ini, karena lokasinya berada di pinggir jalan yang strategis, banyak yang akhirnya berubah wujud menjadi toko-toko.
Bangunan kamar bola yang hanya menyisakan struktur dinding saja.

Sebuah bangunan kolonial yang saat ini digunakan sebagai sarang walet.

Di sebelah bangunan tadi, terdapat bangunan dengan bentuk serupa yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.
Tersempil di tengah perkampungan, saya mendapati beberapa rumah kuno yang masih utuh dan lumayan terawat. Namun ada pula yang malang nasibnya. Contohnya adalah sebuah rumah kopel yang tak jauh dari rel yang kini hanya menyisakan puing-puing tembok saja. Ada juga yang saking lamanya tidak ditempati akhirnya menjadi sarang kelelawar.
Bangunan stasiun Prembun.
Bangunan rumah dinas pegawai stasiun Prembun.
Perjalanan saya di Prembun berakhir di Stasiun Prembun, sebuah stasiun kecil yang masih beroperasi, dimana di sana dulu karung-karung gula PG Prembun diangkut. Tak jauh darinya, masih berdiri kokoh sebuah rumah kuno yang dahulu ditempati oleh kepala Stasiun Prembun. Saya cukup terkesan dengan perjalanan kali ini karena akhirnya saya sadar bahwa tinggalan kolonial di Kabupaten Kebumen tak hanya terbatas pada Benteng Van der Wijk Gombong saja dan bangunan-bangunan kuno di Prembun itu seakan menjadi monumen dari PG Prembun yang jejak fisiknya kini lenyap dan mungkin sudah lekang dari ingatan banyak orang…

Referensi
Tichelaar, J.J. 1927. De Java Suikerindustrie en Hare Beteekenis voor Land en Volk. Surabaya :N.V. Boekhandel en Drukkerij H.van Ingen.
Bataviasch Nieuwsblad 9 April 1890.
Java Bode, 22 Agustus 1891
Bataviasch Nieuwsblad, Desember 1917
De Locomotief, 2 Mei 1930
De Indishce Courant, 3 Mei 1930
De Tijd, 12 Oktober 1939
De Locomotief, 4 Januari 1949