Minggu, 06 Maret 2016

Nasib Lunta Kerkhof Gombong

Penjelajahan saya di Gombong tidak berhenti di benteng Van der Wijk saja. Tak jauh dari benteng tadi, saya mendapati sekelompok makam-makam tua peninggalan Belanda yang kini berbaur bersama makam-makam baru. Ada apa sajakah di sana ?
Lokasi kerkhof Gombong pada peta lama (sumber : maps.library.leiden.edu).
Tiada gerbang antik nan megah di depan kerkhof yang terletak di Desa Semanding, Kecamatan Gombong, Kebumen. Tak ayal, saya pun sempat mengira jika kerkhof itu sudah hilang dan menjelma menjadi permakaman umum. Namun begitu mendekat dan mengamatinya dengan seksama, beberapa monumen kecil dengan bentuk yang tak biasa terlihat masih berdiri di sela-sela makam baru. Ya, monumen kecil itu sejatinya merupakan tempat dimana jasad orang-orang Belanda dikebumikan dan itu artinya jejak kerkhof Gombong masih ada !
Makam berbentuk peti milik Floris.K. 
Makam  Maria Anna Elizabeth Coke.
Dalam catatan P.C. Bloys van Treslong Prins, orang yang dimakamkan pertama di kerkhof Gombong adalah makam seorang perwira detasemen kesehatan bernama Marcus Octavianus Robinow. Ia dimakamkan di sana pada 22 November 1849. Dengan kata lain, kerkhof Gombong sudah ada sejak tahun 1849, setahun sejak benteng Fort Cochius atau benteng Van der Wijck dibangun. Saat Treslong Prins mengunjungi kerkhof Gombong pada warsa 1930an, setidaknya ada 97 makam Belanda yang teridentifikasi kala itu (Prins, 1932; 211). Sayangnya, makam lama yang kini bisa teridentifikasi jumlahnya merosot karena kebanyakan batu nisan tersebut dijarah sesudah kemerdekaan. Beberapa yang masih tersisa mulai memudar sehingga tidak semuanya dapat saya baca. Salah satunya adalah makam Floris K yang berada di dekat pintu masuk kerkhof.  Kendati telah diberi cungkup, namun tulisan makam ini hampir tidak bisa dibaca dengan jelas lagi karena pahatannya tidak terlalu dalam. Menurut penuturan juru kunci, makam ini masih diziarahi oleh keturunanya. Makam lain yang masih tersisa batu nisannya adalah makam Maria Anna Elizabeth Coke (1882-1884).
Makam berbentuk seperti sebuah gerbang milik salah satu anggota keluarga Burm. Di bagian bawah makam terdapat rongga cukup besar yang dapat menampung peti mati lebih dari satu orang. Sayangnya kondisi di dalam sini sudah banyak timbunan sampah.
Daftar anggota keluarga Van Burm yang termuat pada sebuah obituari yang dimuat oleh harian De Locomotief tahun 1879.
Di bawah pohon kamboja berbunga putih, tampak sebuah makam tua yang bentuknya terlihat lain dari yang lain. Makam itu dari segi bentuk dan ornamennya merupakan makam paling mewah di antara makam-makam kerkhof ini. Ia dirancang sedemikian rupa seperti sebuah gerbang, lambang dari pintu masuk ke alam baka. Di atas ambang ceruk makam, tertera sebuah kalimat berbahasa Belanda yang berbunyi “Rustplaats van de familie van Burm“. “Tempat peristirahatan keluarga van Burm“, demikianlah bunyinya jika kalimat tersebut diartikan ke bahasa Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa di bawah makam itu, dibaringkan lebih dari satu orang jasad di dalamnya. Kesimpulan tersebut diperkuat ketika saya menemukan sebuah rongga besar di bawah yang kini penuh dengan tumpukan sampah. Dari kemewahan makamnya, keluarga van Brumm jelas merupakan keluarga yang terpandang di masanya. Namun siapakah gerangan keluarga van Burm ini ? Dari hasil penelusuran saya dari berbagai sumber, garis keluarga Burm di Gombong dimulai dari Charles Louis Burm yang meninggal di Gombong pada tahun 1879. Charles Louis Burm memiliki seorang istri C. W. Boomhoff dan memiliki empat anak, yakni K. Burm, L. Burm, M. Burm, dan J. Burm. Satu-satunya anak laki-laki Charles Burm, K. Burm, adalah seorang arsitek di Burgerlijke Openbare Werken (Dinas Pekerjaan Umum) yang ditugaskan di Karesidenan Pantai Timur Sumatera. Sementara putri Charles Burm, L. Burm, menikah dengan Pieter Peelen, pemilik Hotel Gombong. Lalu anak perempuan lainnya bernama M. Burm menikah dengan W. Lantermans, kepala Pupillen School Gombong. Makam keluarga itu sendiri berisi tiga jenasah keluarga Charles Louis Burm, yakni jenasah putrinya Maria Burm (meninggal 1889), istrinya, C.W. Boomhoff (meninggal 1893), dan menantunya, Pieter Peelen (meninggal 1910).
Makam dan potrait C.F.H.Campen (1853-1886)
Saya sekarang berdiri di hadapan sebuah makam tua yang masih terlihat gagah, segagah orang yang dikebumikan di bawahnya. Makam itu tak lain dan tak bukan adalah makam seorang perwira berpangkat Letnan Infanteri bernama C.F.H Campen. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Campen memiliki jasa besar terhadap Pupillenschool Gombong, sekolah yang berada di bawah naungan militer Belanda untuk anak-anak serdadu yang terlantar. Saat Pupillens School dipindah dari Purworejo ke Gombong pada 1856, peminat Pupillenschool masihlah sedikit karena tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan sekolah tersebut. Maka dari itu, Campen sebagai salah satu pengajar di Pupillenschool Gombong menulis buku mengenai gambaran Pupillenschool Gombong supaya lebih banyak orang yang mengenal tentang sekolah Campen mengajar. Sayangnya, belum sempat Campen menuntaskan karyanya, ia terbunuh dengan cara ditusuk belati oleh seorang pribumi yang masih belum diketahui motifnya. Letnan Campen saat itu berusia 33 tahun dan meninggalkan seorang istri dan anak laki-laki. Permakamannya pada 24 Januari 1886 dihadiri oleh asisten residen, bupati, kepala distrik, penduduk pribumi dan Tionghoa serta seluruh murid-murid Pupillenschool Gombong. Karya yang tak sempat dituliskan Campen lalu dilanjutkan oleh istrinya. Sebanyak seratus salinan karya Campen selanjutnya dibagikan kepada keluarga Indo-Eropa miskin sementara pemerintah kolonial membeli seribu salinan lainnya untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat (Java Bode 29 November 1886).
Makam berbentuk peti.
Makam-makam bentuk seperti tugu kecil
Sebagaimana dengan makam-makam di kerkhof lain yang nasibnya terlunta-lunta, hal yang sama juga menimpa pada makam-makam ini. Sesudah kemerdekaan, banyak orang-orang Belanda yang meninggalkan Indonesia. Perlahan, makam-makam tadi banyak yang tak terurus. Batu nisan di makam segera saja menjadi incaran para penyamun makam. Berlusin-lusin batu nisan dilucuti dari tempatnya, dibawa pergi entah kemana. Kini, sebagian besar makam di kompleks kerkhof Gombong merupakan makam tanpa nama. Letak kerkhof itu berada di kelokan Sungai Gombong yang tidak besar lebarnya. Arusnya terlihat tenang, tapi tanpa disadari, arus sungai itu secara perlahan menggerus kerkhof ini. Sebuah makam yang sudah posisinya sudah merosot ke dasar sungai merupakan salah satu korban arus sungai itu. Apabila hal ini dibiarkan, pelan tapi pasi, akan lebih banyak makam yang menyusul makam yang malang tadi..

Tuntaslah hasil penyusuran singkat saya di kerkhof Gombong, sebuah kompleks kerkhof yang berisi makam-makam tua yang tak berdaya digulung oleh zaman. Semoga ada kepedulian dari pemerintah dan masyarakat untuk menyelamatkannya..

Referensi
Prins, P.C Bloys van Treslong. 1934. Genealogische en Heraldische Gedenkwaardigen ; Betreffende Europanen op Java Deel I. Batavia : Drukkerij Albrecht.

Sabtu, 05 Maret 2016

Anjangsana ke Benteng Van der Wijck Gombong

Gombong adalah sebuah kota kecamatan kecil yang terletak di wilayah Kabupaten Kebumen. Satu kilometer ke utara dari pusat keramaian, berdiri begitu kokoh sebuah benteng peninggalan Belanda yang namanya sudah cukup dikenal banyak orang, Benteng Van der Wijck.  Inilah ulasan saya di Jejak Kolonial mengenai kisah benteng yang kini sintas sebagai taman wisata keluarga.
Pintu masuk Benteng Van der Wijck.
Bekas barak militer yang saat ini digunakan sebagai penginapan.
Sesudah membayar karcis di gerbang masuk sebesar 25.000 rupiah, saya menyusuri sebuah jalan yang menjurus ke Benteng Van der Wijck. Jalan itu lumayan lebar dan teduh. Di samping kiri jalan, terdapat sebuah penginapan yang memakai bekas barak tentara. Sementara itu, di samping kanan jalan, terdapat sebuah kolam renang yang tampak ramai hari itu. Suasana itu mungkin terbilang kontras ketika benteng itu lama terabaikan usai kemerdekaan, ketika wilayah sekitar benteng masih menjadi wilayah yang terlarang untuk dikunjungi khalayak umum. Pada tahun 2000, setelah sekian lama terlunta menjadi sarang walet, bangunan benteng dipugar oleh PT. Indo Power Gombong dan diresmikan pada 5 Oktober 2000 oleh kepala staf TNI AD saat itu, Jenderal Tyasno Sudarto. Area sekitar benteng kemudian dikembangkan sebagai taman wisata keluarga yang dilengkapi dengan aneka wahana permainan seperti kolam renang dan kereta keliling. Sementara itu, di luar area wisata benteng, masih terdapat sarana-sarana milik militer seperti Sekolah Calon Tamtama yang ada di utara Benteng Van der Wijck. Tidak heran jika aura militer masih kentara di sekitar benteng.
Bekas rumah dinas perwira militer untuk berpangkat kapten dan letnan yang berada di sekitar benteng.
Keadaan lingkungan sekitar benteng. Keterangan  : A. Benteng Van Der Wijck ; B. Rumah dinas serdadu ; C dan D. Rumah dinas perwira ; E. Rumah sakit tentara ; F. Kuburan Belanda.
Dengan berbagai fasilitas militer yang ada seperti perumahan perwira, rumah sakit dan sekolah tentara, Gombong layak disebut sebagai “Kota Hijau”. Kehadiran militer di kota kecil itu sudah ada semenjak militer Belanda menjadikan Gombong sebagai pangkalan militer pada tahun 1830an. Penetapan Gombong sebagai pangkalan militer berlatar dari kegusaran pemerintah kolonial jika suatu saat nanti pulau Jawa akan jatuh ke tangan Inggris seperti yang pernah terjadi pada tahun 1811. Militer Belanda telah membuat strategi, dimana untuk mengantisipasi jika wilayah pesisir utara telah dikuasai musuh, maka mereka akan berusaha memberi perlawanan balik dari daerah pedalaman. Jika upaya tersebut gagal dan posisi mereka semakin terdesak, maka pemerintah kolonial Belanda akan diungsikan keluar lewat pelabuhan Cilacap. Untuk itu, diperlukan suatu sarana pertahanan yang setidaknya dapat menghambat pergerakan musuh di wilayah ini namun sarana militer di Jawa bagian selatan masih minim. Maka dari itu, pemerintah kolonial memutuskan untuk mendirikan pangkalan militer di Gombong yang saat masih berupa desa kecil yang berada di bawah Kabupaten Karanganyar. Selain dilindungi oleh Sungai Kemit, pangkalan tersebut juga akan dilindungi dengan sebuah benteng. Berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda 10 Juni 1839, benteng di Gombong itu diberi nama Fort Cochius. Nama itu dipilih sebagai bentuk penghormatan militer Belanda kepada, Frans David Cochius, jenderal yang memainkan peran penting selama Perang Jawa sebagai penggagas strategi benteng stelsel (Jaavasche Courant ; 1839).
Frans David Cochius, perwira militer Belanda yang mengusulkan siasat benteng stelsel. Namanya diabadikan sebaga nama benteng meski tidak bertahan lama
(sumber : Wapenfeiten van het Nederlandsch Indisch Leger).
Peta Gombong tahun 1837. Terlihat Benteng Fort Cochius belum dibangun pada masa tersebut
(sumber : nationaalarchief.nl)

Peta Gombong tahun 1843 yang memperlihatkan rencana lokasi benteng di Semanding.
(sumber : nationaalarchief.nl)
Desain bangunan benteng dipersiapkan sejak tahun 1839 di bawah arahan Mayor Dibbetz. Dalam rancangan itu, benteng yang berdiri sekarang sedianya dilindungi dengan lapisan pertahanan berupa gundukan tanah. Gundukan tanah itu akan dibentuk membentuk segi empat dan pada bagian sudutnya terdapat kubu yang dipersenjatai dengan baterai meriam. Material tanah dipilih karena bahannya lebih murah dan sanggup menahan tembakan peluru meriam. Gundukan tanah itu memiliki ketinggian yang sejajar dengan benteng yang sekarang berdiri. Adapun bangunan benteng yang ada sekarang ini dahulunya akan diperuntukan sebagai tempat tinggal prajurit dan markas komando. Sementara itu di antara benteng dan gundukan tanah, akan ada gudang mesiu dan rumah sakit (Van Brakell,1863; 290-293). 
Rancangan Benteng Van Der Wijck yang dibuat oleh Mayor Dibbetz dengan gundukan tanah. Dari rancangan tersebut, hanya bagian tengah benteng yang dapat diselesaikan (sumber : nationaalarchief.nl)
Pembangunan fisik benteng kemudian dimulai pada tahun 1841. Gubernur Jenderal J.J. Rochussen sempat meninjau pembangunan benteng Fort Cochius pada 30 Juli 1847. Menurut kesaksian Dr. P. Bleeker yang mengunjungi Gombong pada tahun 1850, bagian gundukan tanah keliling tidak pernah dikerjakan seperti rancangan semula (Bleeker, 1850; 84-85). Alasan mengapa bagian tersebut tidak dikerjakan berkaitan dengan usulan dari seorang ahli strategi militer bernama Baron Friederich Balduin von Gagern yang diundang ke Hindia-Belanda pada tahun 1844 untuk memberi masukan tentang sarana pertahanan yang sedang dibuat. Dari hasil pengamatan Von Gagern, ia meragukan nilai strategis Gombong sehingga ia mengusulkan supaya bagian gundukan tanah tidak perlu dibuat untuk menghemat biaya. Maka dari itu, hanya bagian benteng segi delapan saja yang dibuat. Bagian itu tuntas dibangun pada tahun 1848.  Benteng Cochius adalah satu-satunya benteng yang memiliki konstruksi berbentuk oktagonal atau segi delapan di Hindia-Belanda dan bahkan konstruksi sejenis tidak ditemukan di Belanda.
Tampak luar dan dalam benteng Van der Wijk pada tahun 1930an. Perhatikan pada bagian luar benteng, terdapat bangunan tambahan yang dahulu digunakan sebagai kamar mandi dan toilet (sumber : media-kitlv.nl).
Pembangunan benteng Fort Cochius mungkin boleh dikatakan berakhir sia-sia. Supaya bagian benteng dalam yang terlanjur berdiri tersebut tidak mubazir, maka bagian benteng dalam dimanfaatkan sebagai Pupillenschool, tempat para kadet menimba ilmu kemiliteran, ketimbang sebagai sebuah benteng pertahanan. Menilik catatan sejarah, Pupillenschool dibuka pada tahun 1848 berdasarkan usulan Mayor Jenderal Baron van Gagern yang didukung oleh gubernur jenderal J.J. Rochussen. Awalnya, Pupillencshool bertempat di tangsi Kedungkebo, Purworejo. Kemudian gedung sekolah di Kedungkebo tersebut runtuh akibat diterjang banjir sehingga Pupillenschool dipindahkan ke Gombong pada tahun 1856 dan menempati bekas benteng Cochius yang saat itu digunakan sebagai asrama kompi infantri dan zeni (Rees, 1901; 42). Kadet Pupillenschool sebagian besar adalah anak-anak hasil perkawinan campuran antara prajurit Eropa dengan perempuan bumiputera yang sebenarnya dilarang dalam hukum kolonial. Setelah ayah mereka kembali ke Belanda atau meninggal, mereka menjadi anak-anak terlantar. Supaya tidak menimbulkan masalah sosial, anak-anak berusia rentang 7-14 tahun tersebut lalu ditampung di Pupillenschool. Diharapkan mereka dapat menjadi orang yang beradab dan hidup berbaur dengan masyarakat. Selain menerima pelajaran sekolah reguler, kadet Pupillenschool juga menerima pelajaran gambar topografi, musik, tari, dan renang. Namanya juga sekolah militer dengan disipilin yang ketat, tunjangan sebesar 25 gulden sebulan tampaknya tidak membuat sebagian kadet kerasan bersekolah di Pupillenschool. Dalam lima tahun sudah ada 85 kadet yang membolos selamanya alias kabur dari sekolah ini. Bagi yang mampu bertahan pada usia 19 tahun, mereka dapat dimasukan ke dinas militer KNIL (Rocher dan Santosa, 2016; 139). Perjalanan pupillenschool berakhir setelah pemerintah kolonial menghapuskan lembaga tersebut pada tahun 1912.
Para kadet sekolah militer Gombong yang sedang berlatih menembak. Dari warna kulit, mereka bisa jadi adalah orang pribumi atau dari keturunan campuran  (sumber : media-kitlv.nl).
Tulisan C. Van Der Wijck yang samar tertutup oleh cat hitam.
Nama-nama jenderal Belanda yang terdapat pada empat sisi pintu masuk benteng.
Saya kini berhadapan dengan benteng Cochius atau kini lebih dikenal sebagai Benteng Van der Wijck. Dalam literatur Belanda sendiri, benteng ini acap disebut sebagai benteng Cochius sesuai dengan nama resminya. Nama Van der Wijck sendiri sedianya akan dipakai Belanda untuk benteng sejenis yang akan dibangun di Bandung namun akhirnya tidak jadi dibangun (De Locomotief, 24 Desember 1880). Tidak diketahui apa yang melatarbelakangi perubahan nama benteng di Gombong ini. Besar kemungkinan nama Van der Wicjk merujuk dari tulisan " C. VAN DER WIJCK " yang terpampang pada batu kunci di atas lengkung pintu masuk utama benteng. Karena sudah ditimbun dengan cat hitam pada zaman Jepang, maka tulisan itu tak bisa terbaca jelas lagi. Siapakah sosok yang menjadi nama benteng di Gombong ini ? Carel van der Wijck (1797 -1852), merupakan kepala divisi zeni militer Hindia-Belanda. Dialah yang bertanggung jawab dalam proyek pembangunan benteng Cochius yang akhirnya berubah nama dengan nama yang sama dengannya. Buah tangan lain dari C. van der Wijck adalah Benteng Willem I Ambarawa dan Benteng Van den Bosch Ngawi serta benteng-benteng di kota pesisir yang kini telah sirna seperti Benteng Prins Frederik di Batavia, Prins Hendrik di Surabaya, dan Prins van Oranje di Semarang.
Peta situasi sekitar benteng Fort Cochius saat digunakan sebagai Pupillen School
(Sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia).
Denah benteng Fort Cochius
(sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia)
Sedikit maju ke depan, tepatnya di masa penjajahan Jepang, benteng ini digunakan sebagai tempat pelatihan prajurit PETA. Salah satu kadet PETA yang pernah menimba ilmu di sini di kemudian hari akan menjadi orang nomor satu di Indonesia. Dia tidak lain adalah Suharto. Para kadet PETA tinggal di barak yang ada di luar benteng dan benteng ini sendiri dipakai sebagai akomodasi perwira Jepang dan penyimpanan ransum makanan. Selepas kemerdekaan, barak di dekat benteng Van der Wijck dipakai oleh Badan Keamanan Rakyat untuk akomodasi staff BKR, sedangkan benteng dibiarkan tak dihuni. Di masa Agresi Militer Belanda I, ketika Belanda berusaha menguasai kembali jajahannya yang baru saja merdeka, benteng Van der Wijck dimanfaatkan militer Belanda sebagai pos pertahanan mereka, berhadapan dengan wilayah yang dikuasai oleh kamu Republikan di seberang timur Kali Kemit.
Warna merah yang menyelimuti dinding benteng Van der Wijck. Aslinya, dinding benteng ini berwarna putih.
Warna merah darah menyelebungi dinding luar Benteng Van der Wijck. Benteng berlantai dua itu sejatinya berwarna putih seperti yang terlihat pada dokumentasi foto lama. Entah apa maksud dibalik perubahan warna itu. Namun ada selentingan bahwa benteng itu sengaja diwarnai demikian untuk menyesuaikan kondisi politik Kebumen yang selama ini didominasi oleh partai politik tertentu. Benar atau tidak selentingan itu, namun yang jelas warna itu menjadikan aura Benteng Van der Wijck terlihat antik. Setelah kemerdekaan, benteng ini digunakan sebagai asrama anggota Secata. 
Lapangan di tengah benteng. Lapangan ini acap menjadi latar film layar lebar karena kesannya seperti sebuah  penjara kuno. Paling terakhir adalah film " The Raid 2 : Berandal ".
Koridor benteng yang dibangun dengan sistem rib-vault.
Pintu-pintu melengkung yang menghubungkan setiap ruangan.
Berikutnya, saya melangkah masuk ke dalam benteng melalui salah satu dari empat pintu masuk benteng. Pada lorong temaramnya, saya mendapati para pengunjung yang berlalu lalang di bawah langit-langit berbentuk rib vault. Masih tampak jelas di situ, susunan batu-bata yang dulu dibuat di dekat benteng. Untuk menghemat biaya, berbagai bahan bangunan benteng diperoleh dari wilayah sekitar seperti kayu dan batu diambil di seputaran Karesidenan Bagelen. Pembuatan batu-batanya dilakukan di dekat benteng. Berdasarkan gambar "Reduit Generaal Cochius te Gombong", bagian lantai pertama benteng terdiri dari tiga ruang tamu, satu ruang dansa, ruang perpustakaan, tiga ruang gudang persediaan dan seragam, empat ruang makan, gudang senjata, kamar bintara ajudan, bengkel pekerjaan kayu, ruang instrumen, gudang kompi, ruang sumur untuk air minum, lima bangsal asrama, ruang jaga perwira, dua ruang kantor, dan penjara. Kemudian bagian lantai dua terdiri dari 16 bangsal asrama untuk siswa pupillenschool, 12 bangsal asrama kader, kantor, gudang mesiu, dan dua ruang buang air kecil.
Salah satu ruangan yang terdapat pada lantai satu. Perhatikan bentuk langit-langitnya yang melengkung dengan gancu yang masih tertancap di tempat. Gancu tersebut digunakan sebagai tempat menggantungkan lampu minyak.
Salah satu ruangan di lantai dua benteng.
Lantai ruangan yang dilapisi dengan ubin/tegel hias.
Ragam hias tegel yang dapat ditemukan di benteng Van der Wijck.
Benteng Van der Wicjk memiliki 16 ruangan pada setiap lantainya. Antara lantai satu dan lantai dua dihubungkan oleh tangga. Setiap tangga menuju lantai dua memiliki sebuah ceruk kecil untuk tempat penjaga. Suasana di dalam ruang begitu terang dan sejuk karena setiap ruang memiliki jendela besar. Jendela-jendela itu dulu dilengkapi dengan jeruji besi dan daun jendela krepyak yang kini hilang entah kemana. Untuk penerangan di malam hari, dahulu ruangan ini diberi penerangan berupa lampu minyak, dimana gancu tempat menggantung lampu tadi masih tertancap di tempatnya. Hal menarik dari ruangan di benteng ini ialah rancang bangun ruang itu yang dibuat melengkung, menghasilkan langit-langit ruangan berbentuk semi lingkar seperti jembatan. Mengapa demikian ? Di masa teknologi besi bertulang belum ditemukan, rancang bangun yang diciptakan oleh bangsa Romawi itu terbukti mampu menyangga beban bangunan. Inilah kunci mengapa benteng ini masih kokoh sampai sekarang. Di balik kekokohan Benteng Van der Wijck, jangan lupakan jasa 1400 tenaga orang pribumi dengan upah 15 sen per hari. 1200 tenaga dikerahkan dari Karesidenan Bagelen sementara sisanya diambil dari Karesidenan Banyumas. Selama pembangunan, para kuli itu diawasi oleh demang yang mendapat bayaran sebesar 1 gulden sehari. Benteng tersebut juga berdiri dari tangan-tangan 161 narapidana yang mendapatkan hukuman kerja paksa.
Tangga naik menuju atap benteng.
Satu per satu ruang saya amati, dari ruangan pada lantai satu hingga yang terdapat di lantai dua. Salah satu ruang yang cukup menarik perhatian saya adalah ruangan komandan benteng yang berada di lantai dua. Berbeda dengan ruangan lain yang permukaan lantainya polos, ruangan ini terlihat menarik berkat lantai tegel bercorak tetumbuhan. Melalui jendela ruangan itu, saya dapat mengintip sepetak tanah lapang yang terkurung di tengah benteng. Dari lantai dua, saya beranjak naik ke bagian atap yang mana terdapat wahana kereta mini yang mengelilingi atap benteng itu. Dari atap benteng berbentuk seperti gundukan bukit-bukit kecil dengan cerobong semu yang menyembul di atasnya, saya dapat menikmati keindahan perbukitan Gombong yang terhampar di sebelah utara.
Atap benteng beserta cerobong-cerobong semunya.
Pungkaslah anjangssana saya di Benteng Van der Wijck Gombong, sebuah benteng yang ternyata tidak pernah dirampungkan sesuai rencana semula. Sulit dibayangkan pula di saat keuangan pemerintah kolonial terkuras habis akibat Perang Jawa sampai mereka menerapkan kebijakan Tanam Pakssa, di saat yang sama mereka justru mengadakan proyek pembangunan benteng-benteng berbiaya tinggi untuk menghadapi ancaman invasi yang ternyata tidak pernah terjadi. Namun demikian, keberadaan Benteng Van der Wijck ini telah membuat nama Gombong lebih dikenal dan mengubah Gombong yang semula hanyalah desa kecil menjadi pusat kegiatan yang ramai di Kebumen bagian barat.

Referensi
Bleeker, P. 1850. "Fragementen eener Reis over Java. Hoofdstuk VIII ; Van Poerworedjo naar Banjoemas" dalam Tijschrift voor Nederlandsch Indie. Groningen : C. M. Van Bolhuis Hoitsema.

Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Rees, D.F.W Van. 1901. Het Pauperisme Onder Europeanen in Ned. Indie. Batavia : Landsdrukkerij.

Van Brakell, R.G.B de Vaynes. 1863. De Verdediging van Nederlandsch Indie. Amsterdam : P.N. Van Kampen.

Kompas, 12 Juni 2010.

De Locomotief, 24 Desember 1880

Sabtu, 20 Februari 2016

Telusur Sisa Pabrik Gula Sewugalur

Pada suatu masa, Yogyakarta pernah memiliki lebih dari selusin pabrik gula yang bertebaran di segala penjuru, salah satunya berdiri di Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, sebuah desa di belahan selatan Kabupaten Kulonprogo. Jejak Kolonial kali ini merupakan hasil penelusuran pada satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulonprogo itu.
Rumah Ibu Jamal.
Sekalipun terletak di tengah pedesaan, rumah itu tidak terlihat seperti rumah orang desa pada umumnya. Rumah itu malahan terlihat seperti bekas rumah seorang pembesar Belanda. Jendela krepyak yang tinggi meneguhkan tuanya usia bangunan tersebut. Saya mengetuk pintu depan rumah yang masih terlihat asli. Ketukan saya segera terjawab. Dari dalam, muncul sesosok perempuan tua yang tak lain ialah Ibu Jamal, tuan rumah ini. Sesudah membukakan pintu, Ibu Jamal mempersilahkan saya masuk ke ruang tamunya dengan dindingnya yang amat tinggi itu. 
Bagian ruang tamu.
Dengan perabotan tuanya, ruang tamu rumah Ibu Jamal membuat saya serasa terdampar ke masa lalu. Di ruang tamu itu, saya berbincang dengan Ibu Jamal sembari menikmati suasana ruang tamu yang sejuk. Kesejukan itu berkat adanya jendela besar di samping ruang tamu dan ditambah pua dengan tembok rumah yang tinggi, membuat hawa di dalam ruangan itu terasa sejuk meski tanpa AC, dimana kesejukan seperti ini jauh lebih baik karena sifatnya alami. Mendongak ke atas, saya meihat jalinan anyaman bambu yang masih menjadi plafon rumah tua ini. Anyaman bambu memang jamak dipakai untuk rumah-rumah kolonial di wilayah pinggiran. “Pada masa penjajahan Jepang, rumah ini terhindar dari penghancuran oleh Jepang “, tutur Ibu Jamal membuka cerita. Dari cerita Ibu Jamal, diketahui bahwa setelah Jepang menduduki PG Sewugalur, pabrik ini disita dan diratakan dengan tanah. Rumah-rumah pegawainya satu persatu dijual kepada orang Tionghoa atau orang pribumi. “ Dari orang Tionghoa, rumah ini dibeli oleh Pak Tjokrodirdjo, mertua saya “, tuturnya.
Ruang kamar depan yang tak dipakai lagi.
Sesudah berbincang-bincang, Ibu Jamal selanjutnya mengajak saya ke sebuah ruangan di sebelah ruang tamu. Pintu besar yang semula tertutup kemudian ia buka. Di balik pintu itu, saya hanya melihat sebuah ruangan gelap yang nyaris kosong. Tak banyak perabotan di ruang itu. Hanya ada dua buah almari, sebuah ranjang besi tua, dan sebuah cermin besar. Mungkin si noni penghuni rumah ini dulu bersolek di depan cermin itu. Kendati sedikit gelap, namun hawa di dalam ruang itu terasa sejuk, tidak pengap walau sedikit tercium bau jamur. Kesejukannya itu berkat adanya jendela berjalusi yang tinggi. Walaupun ditutup, namun udara tetap dapat masuk ke dalam ruangan lewat celah jalusinya. Ibu Jamal kemudian membukakan jendela, sinar matahari segera saja menyeruak masuk ke dalam dan ruangan itu menjadi terang benderang. Jendela yang tinggi selain memperbanyak udara yang masuk juga berguna untuk memperbanyak sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan sehingga ruangan mendapat pencahaayaan alami dan mengurangi penggunaan lampu. Ruangan ini barangkali dulunya menjadi ruang tidur anak si pegawai pabrik yang tinggal di rumah ini. Dari jendela ruangan itu, pandangan saya lempar ke arah keluar. Dulu bangunan utama pabrik dapat dilihat dari sini. Benak sayapun kemudian melayang ke masa lampau, masa ketika rumah itu masih bersua dengan bangunan pabrik…
Foto pabrik gula sewugalur pada tahun 1917 (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Foto udara area PG Sewugalur. Foto ini menghadap ke arah timur.
Tahun 1867 menjadi tahun malapetaka untuk penduduk Jawa bagian selatan karena pada tahun itu terjadi gempa bumi besar yang memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kulonprogo yang saat itu di bawah administrasi Kadipaten Pakualaman. Ketika Pakualaman sedang berupaya membangun kembali wilayahnya yang hancur akibat gempa, pemerintah kolonial Belanda melancarkan ekspedisi Aceh Kedua pada tahun 1873. Korps militer Legiun Pakualman yang dimiliki oleh Pakualaman lalu dilibatkan Belanda untuk dikirim ke Aceh. Sialnya, Pakualaman ternyata harus menanggung sendiri biaya untuk korps militer sehingga masalah keuangan bagi Pakualaman (De Locomotief, 23 Desember 1931). Sehubungan dengan masalah tersebut, maka Pakualaman menyewakan tanah di daerah Galur kepada Rudolf Martinus Evertt Raaf, Otto Arends Oscar Van den Bergh, dan Egbert Johannes Hoen pada tahun 1878 dengan nilai sebesar 4.200 gulden perbulan untuk jangka waktu 20 tahun (De Locomotief, 10 September 1903). Tanah perkebunan yang selanjutnya dikenal dengan nama Sewoogaloer mulanya menanam jenis tanaman nila. Bisnis Perkebunan nila tersebut rupanya tidak berjalan mulus karena manajemennya buruk dan beban hutangnya besar. Oleh karena itu, pada awal tahun 1880 perkebunan tersebut akhirnya beralih ke budidaya tanaman tebu dan sebuah pabrik gula didirikan di sana. Malangnya, perkebunan tebu tersebut didirikan di saat yang tidak tepat karena industri gula di Jawa sedang didera krisis gula karena anjloknya harga gula di pasaran yang disebabkan oleh membanjirnya jenis gula beet di Eropa (Soerbaiasch Handelsblad 12 November 1900). Untungnya perkebunan tebu tersebut berhasil terhindar dari kebangkrutan. Pabrik gula Sewugalur lalu dikelola oleh "Cultuur Maatschappij Sewoe Galoor" yang dibentuk pada tahun 1891 dan sebagian besar sahamnya dikuasai oleh N.V Cultuur Matschapij der Vorstenlanden (Nederlandsche Staatscourant, 29 Oktober 1891). Selain di Sewugalur, perusahaan yang berkantor di Semarang ini juga memiliki beberapa pabrik gula yang tersebar di seantero Yogyakarta seperi Padokan, Demakijo, Wonocatur, Beran, Kedaton Plered, Sedayu, Barongan dan Rewulu (Dingemas.L.F, 122 ; 1920). 
Lokasi pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1921. Hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari pesisir selatan menjadikannya sebagai PG paling selatan di Jawa.
Ketersediaan lahan dan kondisi geografis di sekitar PG Sewugalur, sangat memungkinkan untuk dibuka sebuah perkebunan tebu beserta pabrik pembuat gula. Hal ini juga didukung dengan tersedianya tenaga kuli yang diambil dari lingkungan sekitar pabrik dan mayoritas bekerja di sektor agraris. Untuk mendukung distribusi gula PG Sewugalur dan pabrik gula lain di wilayah selatan Yogyakarta, maka tahun 1914, dibukalah jalur kereta oleh NIS dari Stasiun Tugu hingga Halte Sewugalur. Pembangunan jalur ini selain bertujuan untuk memperlancar arus distribusi gula PG Sewugalur, juga bertujuan untuk mendukung perekonomian di Sewugalur yang pada waktu itu lumayan jauh dari pusat kota. Inilah mengapa lokasi halte Sewugalur dibangun di dekat pasar Sewugalur (Rizal Dhani, 2010; 73-79).
Foto jajaran pegawai pabrik gula Sewugalur pada tahun 1912. Nampak administratur pabrik gula Sewugalur pada waktu itu,Cosmus van Bornemann yang kemudian dipindah ke pabrik gula Gelaren pada tahun 1930an. Pengganti Cosmus van Bornemann ialah Albert Kuipers (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Dilansir dari  Het Nieuws van den Dag Nederlandsch Indie, 16 Mei 1922, sehari sebelum berita itu turun, telah terjadi perkelahian antar sesama kuli PG Sewugalur. Seorang mandor sudah melepaskan tembakan peringatan ke udara. Alih-alih mereda, perkelahian kian parah karena diduga ada provokator di dalamnya. Para kuli saling memukul dengan cangkul. Akibatnya banyak kuli yang terluka.
Rumah dinas pegawai  pabrik gula Sewugalur (sumber : geheugenvannederland.nl).

Karung-karung gula yang siap dijual ke pasaran. (sumber ; geheugenvannederland.nl)
Cerobong pabrik yang sedang dibangun (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Rumah sakit pembantu di dekat PG Sewugalur. Dibangun tahun 1922 setelah merebak wabah malaria di sekitar pabrik.
Takdir pabrik gula ini mencapai titik nadirnya tatkala badai krisis ekonomi atau malaise memporak-porandakan perekonomian dunia pada tahun 1930an. Krisis ini mengakibatkan kandasnya harga gula di pasaran dan berimbas dengan ditutupnya banyak pabrik gula untuk mengembalikan harga gula. PG Sewugalur termasuk pabrik gula yang terdampak dari kebijakan tersebut. Sekitar tahun, PG Sewugalur mematikan mesin untuk selamanya. Mesin-mesin operasional pabrik gula yang malang itu dijual ke PG Sragi di Jawa Timur yang hingga sekarang masih beroperasi. Selain mesin, sebagian besar rumah dinas pegawai juga ikut dijual. Ditutupnya PG Sewugalur rupanya membuat keuangan Kadipaten Pakulaman cukup terpukul karena setengah pendapatannya bersumber dari pabrik gula tersebut (Algemeen Handelsblad 10 Mei 1938). Pada tahun 1942, setelah Jepang masuk ke Hindia-Belanda, bangunan pabrik gula Sewugalur diratakan oleh Jepang. Jalur-jalur kereta api dari Sewugalur ke Palbapang dicopot oleh Jepang dan diangkut ke Burma (Myanmar) dan Sumatera untuk material jalur yang sedang dibangun Jepang di sana. Dilansir dari laman www.indischekamparchieven.nl, bekas kompleks rumah dinas pegawai Sewugalur pada tahun 1946 dimanfaatkan oleh para tentara Republik Indonesia untuk menginternir sebagian ibu-ibu dan anak-anak Eropa dari Yogyakarta. Tiap harinya, mereka dijatah beras 200 gram perorangnya dan mereka diijinkan belanja di pasar untuk mencari bahan pangan lainnya. Walaupun kamp internir yang dipimpin oleh Nyonya Ch. E. Bos itu memiliki dapur umum, sebagian besar keluarga memilih memasak sendiri. Tikar digelar di lantai sebagai tempat tidur mereka. Kendati demikian, perlakukan yang mereka terima lebih manusiawi dibandingkan ketika mereka diinternir oleh Jepang.
Langit-langit rumah dari anyaman bambu.
Bagian ruang belakang rumah ibu Jamal.
Saya segera tersadar dari lamunan saya begitu Ibu Jamal mengajak saya melihat bagian belakang rumahnya. Di belakang ruang tamu, terdapat sebuah ruang keluarga, dimana saya masih bisa melihat sebuah lemari buffet tua dan sebuah cermin besar yang tergantung miring. Hiasan kaca patri berwarna hijau dan merah semakin menambah kesan antik ruangan itu. Saya membayangkan di ruang inilah dahulu keluarga pegawai pabrik yang tinggal di sini mengadakan makan malam bersama setelah seharian beraktivitas di pabrik. Sambil menyantap hidangan yang disiapkan oleh pembantu yang tinggal di kamar belakang, mereka membicarakan mengenai hal apa saja yang sudah dilakukan seharian. Di masa ketika hiburan masih jarang, kegiatan makan malam seperti ini benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi setiap anggota keluarga. Dari sinilah interaksi antar anggota keluarga terbangun.
Bangunan di belakang rumah yang dulu digunakan untuk kamar pembantu dan kamar mandi.
Paviliun samping.
Di belakang rumah, dapat dijumpai bangunan tambahan yang berisikan kamar pembantu, dapur, gudang, dan kamar mandi. Di situ juag terdapat sumur dan sebuah wastafel tempat cuci piring yang sudah ada semenjak rumah itu dibangun. Bagian-bagian ini dibuat mengelilingi sebuah halaman terbuka di bagian tengah rumah. Beberapa bagian ini sekarang menjadi ruang tinggal keluarga Ibu Jamal. Di samping rumah Ibu Jamal, terdapat sebuah bangunan kecil yang dahulu menjadi paviliun tamu yang juga dapat digunakan sebagai tempat tidur tamu jika tamu hendak bermalam.
Bangunan ujung utara.
Bangunan rumah dinas yang saat ini dalam kondisi rusak karena gempa yang mengguncang tahun 2006 silam.
Bangunan rumah dinas yang cukup terawat.
Bangunan bekas kamar bola atau sosieteit.
Berada di sebelah utara rumah Bapak Karwono, terdapat sebuah bangunan lama yang dahulu menurut warga sekitar merupakan kamar bola atau sosieteit. Di wilayah Sewugalur yang lumayan jauh dari pusat kota, keberadaan sosieteit menjadi oase kesenangan bagi para pegawai pabrik gula yang mayoritas adalah orang Belanda. Mereka tentu menganut kebiasaan barat yang berbeda dengan kebiasaan orang pribumi. Di sini, setelah seharian bekerja di pabrik, mereka menghibur diri dengan bermain bilyard, minum-minuman alkohol, atau berdansa. Dengan adanya sosieteit ini, mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke kota untuk mencari hiburan. Di depan sosieteit ini dahulu terdapat sebuah lapangan tenis, salah satu olah raga yang digemari oleh orang Barat. Kegiatan ini biasanya dilakukan di pagi atau sore hari. Sempat dipakai sebagai kantor bank BRI cabang Galur sebelum menjadi rumah tinggal.
Bekas rumah dinas pegawai pabrik gula Sewugalur dengan fasad depan yang berbentuk seperti gunungan.
Dari rumah Ibu Jamal, saya mencoba menelusuri berbagai jejak PG Sewugalur lain yang masih tertinggal. Kondisinya bermacam-macam. Ada yang masih utuh seperti rumah Ibu Jamal tadi dan rumah Bapak Karwono yang ada di sebelah utara rumah Ibu Jamal. Ada yang fasad depannya sudah dirombak. Ada pula yang tinggal reruntuh dindingnya saja. Banyak tinggalan rumah-rumah pegawai PG Sewugalur yang rusak setelah terjadi gempa yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006 silam. Beberapa ada yang diperbaiki seperti rumah Ibu Jamal, namun lebih banyak yang kemudian ditinggalkan dan dibiarkan runtuh dengan sendirinya.
Gambaran kompleks pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1934 (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Apabila melihat peta topografi lama, maka terlihat bangunan rumah tinggal para pegawai pabrik disusun mengelilingi pabrik. Konsep susunan tersebut dikenal sebagai konsep panopticon sebagai strategi pengawasan terhadap aktivitas pabrik gula. Dengan adanya konsep ini,buruh-buruh pribumi yang ada di pabrik akan selalu merasa diawasi tanpa kehadiran para staff pabrik yang mayoritas adalah orang Belanda (Hari Libra Inagurasi, 123;2010). Langgam arsitektur rumah ini dibangun dengan gaya arsitektur Indis sebagai penegasan bahwa kedudukan mereka sebagai pegawai pabrik berbeda dengan kedudukan buruh-buruh pribumi yang secara strata sosial pada waktu itu berada di kelas yang lebih rendah dari bangsa Eropa (Djoko Soekiman, 1997; 5).


Struktur-struktur sisa dari PG Sewugalue.

Sisa cerobong PG Sewugalur.
Lapangan ini dulu merupakan emplasemen lori PG Sewugalur.
Bekas bangunan kantor PG Sewugalur.
Lalu bagaimana dengan nasib bangunan pabrik gula Sewugalur itu sendiri ? Satu-satunya yang tersisa dari bangunan PG Sewugalur hanyalah sebuah struktur pondasi bekas cerobong asap yang terletak di belakang salah satu rumah warga. Kondisi sekitar bekas cerobong yang terbuat dari beton itu cukup kotor, di sekelilingnya terlihat banyak tumpukan sampah seolah-olah cerobong ini bukanlah sebuah peninggalan sejarah yang berharga. Saya sendiri tidak berlama-lama untuk melihat cerobong. Selain tidak kuat dengan bau tumpukan sampah, juga karena tidak tega melihat kondisi cerobong yang dulu menjadi saksi dari kejayaan Pabrik Gula Sewugalur. Selain struktur cerobong, masih bisa ditemukan pula sisa saluran pembuangan limbah yang mengalirkan limbah pabrik ke Kali Progo. Sulit dibayangkan bahwa Pabrik Gula Sewugalur yang sedemikian besarnya dapat begitu saja lenyap dan hanya menyisakan beberapa puing yang nyaris tanpa arti...
Kerkhof Sewugalur.
Makam Maria Arabella Junman.
Tak jauh dari lokasi PG Sewugalur, saya menjumpai bekas area kerkhof atau pemakaman Belanda, tempat dimana raga keluarga pegawai pabrik yang telah tiada dimakamkan. Kerkhof ini dulunya dikelilingi oleh tembok pembatas yang kini tinggal sebagian saja yang masih berdiri. Di makam itu, hanya tinggal satu makam saja yang prasastinya masih tersisa, itupun sudah hilang separo sehingga isinya tidak dapat dibaca secara utuh. Dari tulisan yang masih bisa terbaca, diketahu bahwa makam itu merupakan makam dari Maria Arabella Junman. Sepertinya beliau adalah anak perempuan atau mungkin istri dari pegawai pabrik gula Sewugalur. Mengapa di dekat kompleks PG Sewugalur terdapat kompleks kerkhof ? Jawabannya mudah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lokasi PG Sewugalur berada lumayan jauh dari perkotaan, sehingga ketika ada orang meninggal, tentu akan menghabiskan perjalanan cukup lama untuk membawa jenazah kerkhof di kota Yogyakarta. Sehingga untuk menghemat waktu perjalanan maka dibukalah area kerkhof di dekat lokasi pabrik. Selain itu, terkadang ada keluarga pegawai pabrik gula yang memiliki permintaan untuk dimakamkan di dekat pabrik. Hal ini menunjukan adanya ikatan emosional antara si keluarga pegawai pabrik gula dengan tempat mereka bekerja. 

Penelusuran saya di Sewugalur berujung di Halte Sewugalur yang kini lokasinya menjadi halaman depan SMP N 1 Galur. Halte itu merupakan tempat dimana kereta berhenti untuk menaik-turunkan penumpang di Sewugalur. Namun bukan penumpang yang menjadi muatan utama kereta itu, melainkan karung-karung gula dari PG Sewugalur. Mata saya kemudian menangkap sebuah gundukan tanah memanjang yang ada tengah-tengah sawah. Setelah dicocokan dengan data peta lama dan citra satelit sekarang, tidak salah lagi kalau gundukan tanah itu merupakan bekas railbed atau gundukan jalur kereta Sewugalur-Yogyakarta.
Kondisi pabrik gula Sewugalur saat ini.Keterangan. Kotak kuning : bekas lokasi pabrik. Titik kuning : Lokasi struktur pondasi cerobong. Kotak merah : lokasi rumah dinas. Garis putus-putus : jalur kereta NIS. 1 : Rumah ibu Jamal. 2 : Rumah bapak Karwono. 3 : Kantor.
Dengan berbagai fasilitas seperti perumahan orang Eropa, pasar, halte, sosieteit dan lahan pemakaman Eropa, lama kelamaan kompleks Pabrik Gula Sewugalur berkembang hampir menyerupai sebuah kota koloni kecil di daerah pedalaman. Bahkan pada waktu itu berkembang wacana pembangunan pelabuhan di pantai selatan untuk mempersingkat jarak distribusi gula di wilayah Yogyakarta yang masih bergantung dengan pelabuhan di Semarang.


Begitulah hasil penelusuran saya pada sisa-sisa PG Sewugalur. Kednati PG Sewugalur kini tinggal nama saja, namun ia masih menyisakan sebagian kecil tinggalan bangunan rumah dinas yang terawat dengan baik hingga kerkhof dengan kondisinya menyedihkan. Semua peninggalan itu merupakan saksi bisu dari kejayaan PG Sewugalur, sebuah satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulonprogo yang hilang tergilas oleh zaman…

Referensi
Dhani, Rizal. 2010. "Situs Pabrik Gula Sewugalur (1889-1930) (Tinjauan terhadap Latar Belakang Pemilihan Lokasi dan Pengaruh Keberadaanya terhadap Pemukiman Kolonial di Sekitarnya)". Skripsi. Depok : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.
Dingemans, L.F. 1920. Gegevens Over Djokjakarta. 
Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Soekiman, Djoko. 1997. " Seni Bangun Gaya Indis, Penelitian, Pelestarian, dan Pemanfaatanya " dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi VIII, Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis. Yogyakarta 9 Agustus 1997.
van Bruggen, M. P dan Wassing, R.P . 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam : Asia Maior.
Algemeen Handelsblad, 10 Mei 1938
De Locomotief, 10 September 1903
De Locomotief, 23 Desember 1931