Selasa, 03 Mei 2016

Mengingat Karya Van Lith di Kompleks Misi Muntilan

Kelahiran kompleks misi di tepi Kali Lamat, Muntilan itu dibidani oleh seorang romo berhati mulia, Romo Van Lith namanya. Darinya, kompleks misi itu memainkan peran penting dalam sejarah misi Katolik di Jawa, melahirkan sosok-sosok Katolik nasionalis seperti Albertus Soegijapranata, I.J. Kasimo, dan Y.B Mangunwidjaja. Bagaimanakah perjuangan Van Lith membesarkan kompleks misi yang menjadi kawah candradimuka tokoh-tokoh Katolik di Indonesia itu dan seperti apakah karyanya yang tersisa sekarang ?  
Denah kompleks misi Muntilan. Keterangan ; A. Gereja Santo Antonius ; B. Pastoran ; C. SMA Pangudi Luhur Van Lith ; D. SMP Kanisius Muntilan ; E. Susteran ; F. Kerkhof ; G. Bruderan ; H. SD Marsudirini.

Pemandangan udara kompleks Xaverius Muntilan (Sint Claverbond Januari 1931).
Di suatu Sabtu pagi yang cerah, saya mengendari sepeda montor menyusuri Jalan Kartini, Muntilan yang tampak ramai oleh anak-anak yang baru saja pulang sekolah. Dari kejauhan, bayang-bayang gereja itu mulai terlihat jelas dengan salib yang bertengger anggun di puncaknya. Itulah Gereja St.Antonius Muntilan, tengara utama dari kompleks misi ini. Sayapun lantas berbelok masuk ke halaman gereja yang asri dan tenang itu untuk segera memulai napak tilas. Saya mengira bila saya akan mendapati suasana halaman gereja yang lengang, namun perkiraan saya ternyata salah. Dari halamannya, terdengar riuh teriakan anak-anak yang sedang berlatih olah raga di situ. Rupanya halaman gereja itu berbagi dengan sebuah sekolah menengah pertama. SMP Kanisius nama sekolah itu. Meskipun cukup ramai, namun gereja itu tetaplah senyap. Pintu gereja masih terkunci rapat. Tak ada jadwal ibadah di hari itu. 
Gereja Santo Antonius Muntilan. 

Tampak Gereja St. Antonius Padua Muntilan setelah selesai dibangun 
(sumber : Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 52 )
Gedung gereja tersebut merupakan buah tangan dari biro arsitek handal Hulswit, Fermont, en Cuypers yang telah merancang banyak bangunan gereja di Jawa (Akihary,Huib. 1990;100). Sebelum gereja itu dibangun pada tahun 1914, para umat Katolik di Muntilan beribadah di sebuah bangunan yang sederhana. Dindingnya masih dari anyaman bambu dan atapnya masih ditutup dengan seng. Saat musim hujan tiba, gereja sering terendam banjir sehingga perabotan harus dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Belum lagi suara keras dari terpaan air hujan yang mengenai seng sehingga suara homili tidak terdengar. Saat orang melihat gedung gereja tersebut untuk pertama kalinya, mereka akan mengira jika bangunan gereja tersebut adalah bangunan kandang kuda. Meskipun beribadah di tempat seadanya, semangat beribadah jemaat Muntilan tetaplah tinggi. 
Gedung gereja Muntilan dalam tahap pembuatan rangka besi.
Pada tahun 1909, gedung gereja dibongkar untuk perluasan sekolah. Proses ibadah selanjutnya dipindahkan ke salah satu ruang dari sekolah tersebut. Sempitnya ruangan membuat jemaat kesulitan saat keluar dari ruangan setelah mengikuti misa. Untungnya para dermawan dari Belanda dengan baik hati memberi sumbangan untuk pendirian gereja baru, dimana proses pendiriannya dimulai pada tahun 1913. Sedianya, gedung gereja diharapkan sudah dapat dipakai pada bula Oktober 1914, namun pembangunan gereja berjalan lambat. Baru pada 25 Maret 1915 gedung gereja tersebut dapat diresmikan oleh Mgr. Luypen. Secara fisik, tampilan luar gereja terkesan tidak terlalu mencolok. Tampilannya yang sederhana seakan merupakan bentuk penghormatan atau tepa selira Gereja terhadap gaya hidup bersahaja orang-orang Jawa yang tinggal di sekitarnya. Bagian fasad gereja memperlihatkan elemen rose window atau Jendela Mawar yang lazim ditemui pada bangunan gereja sebagai simbolisasi Maria. 
Interior gereja, dimana tidak disediakan bangku karena sebagian besar jemaat adalah orang pribumi yang terbiasa mengikuti misa dengan bersila di lantai.
(sumber : Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 53).
Kendati tampilannya sederhana, namun konstruksi gereja tersebut sudah diperkuat dengan kerangka besi yang termasuk teknologi langka pada saat itu. Pada zaman dahulu, sebagian besar jemaat yang merupakan orang pribumi mengikuti misa dengan duduk bersila atas tikar karena mereka tidak terbiasa untuk duduk di bangku. Oleh karena itu hanya separo bagian dalam gereja saja yang terisi oleh bangku. Dikelilingi dengan lengkungan beranda, gereja tersebut menyatu dengan selasar yang menghubungkan gereja dengan kompleks sekolah sehingga siswa sekolah dari asrama dapat mengunjungi gereja saat musim hujan tanpa basah kuyup. Gedung gereja yang mengambil nama seorang suci dari Padua, Italia itu itu memang masih berada dalam lingkungan sekolah. Gereja beserta sekolah tersebut adalah saksi bisu sebuah lakon perkembangan agama Katolik di Jawa yang telah dirintis lama sebelum gedung gereja itu sendiri berdiri dan Pastor Fransiscus Van Lith adalah tokoh utama dalam lakon tersebut.
Pastor Fransiscus van Lith S.J. (1863-1926).
Muntilan, suatu hari di tahun 1896. Seorang pria berjubah hitam sedang menyusuri jalanan Muntilan nan ramai oleh geliat para pedagang. Di pinggirannya, berjejer ruko-ruko bergaya Tionghoa. Dengan jubah hitamnya, pria pengikut ordo Serikat Jesuit itu sedang mencari rumah rekannya sesama pastor, pastor Stiphout. Pria berjubah hitam itu tak lain ialah Pastor Fransiscus van Lith, S.J. Beliau menginjakan kakinya di bumi Hindia-Belanda pada 4 Oktober 1896, dimana ia mengemban amanat suci dari Roma sebagai pelayan pastor di Jawa. Sebelum kedatangan Van Lith ke Muntilan, sudah ada 16 orang pribumi dari Muntilan yang dibaptis oleh pastor Hebrans dan pastor van Hout pada 9 Desember 1895 (Vriens, 140;1934). Kegiatan pelayanan rohani mereka diampu oleh pastor Stiphout, dimana ia sudah berada di Muntilan sejak 5 Agustus 1896. Di Muntilan, Van Lith ditugaskan untuk membantu pelayanan pastor Stiphout. Selanjutnya, Muntilan menjadi sebuah stasi pada tahun 1897.
Gedung gereja Katolik Muntilan sebelum dipemegah pada tahun 1914.
Lama sebelum kedatangannya, Jawa bukanlah tempat yang mudah untuk seorang umat Katolik. Selama masa VOC, orang-orang Katolik dipersekusi dan ditindas. Pasalnya VOC sendiri menyimpan sentimen terhadap Spanyol, kerajaan Katolik yang dulu sempat menduduki negeri Belanda. Praktis selama lebih dari dua abad, kegiatan penyebaran ajaran Katolik di Jawa tiarap. Di samping itu, para misionaris rupanya juga tak begitu tertarik dengan Jawa dan lebih tertarik menyebarkan iman Katolik di Vietnam atau Cina. Situasi sulit mendera orang-orang Katolik itu sampai VOC bubar tahun 1799. Kegiatan misi Katolik di Hindia-Belanda baru diizinkan pada masa Daendels. Sekalipun kegiatan pelayanan dan penyebaran ajaran Katolik sudah diizinkan, namun para misionaris masih menghadapi kendala. Kendala utama mereka ialah masih sulitnya mereka berbaur dengan masyarakat dan budaya Jawa. Van Lith, pastor yang memiliki hobi berkebun itu, menyadari hal tersebut dan iapun segera mempelajari kondisi sosial, adat dan bahasa Jawa. Menurut Djoko Soekiman dalam karyanya, Kebudayaan Indis ; Dari zaman Kompeni sampai Revolusi, apa yang dilakukan oleh Van Lith ini ialah sebuah terobosan untuk mendalami kuatnya pengaruh Jawa dalam kebudayaan dan keagamaan.
Halaman dalam Xaverius College.
Awalnya Van Lith masih tinggal bersama dengan pastor Stiphout di rumah sewa yang berada di pinggir jalan raya Muntilan. Van Lith menyadari bahwa ia harus tinggal lebih dekat dan berbaur dengan masyarakat Jawa sehingga ia pindah agak ke pinggir, yakni ke Desa Semampir yang meskipun sedikit agak pinggiran namun letaknya masih berdekatan dengan pusat pemerintahan Muntilan. Rumahnya sendiri berada di antara sisi jalan Muntilan-Dukun dan Sungai Lamat. Di halaman depan rumah yang sederhana itu, ada sebuah bangunan bekas lumbung padi besar yang kemudian dimanfaatkan sebagai gereja. Dalam menjalankan misi sucinya, para pastor seperti Van Lith tidak hanya memberikan layanan ibadah semata. Saat itu, banyak anak-anak pribumi yang tidak memperoleh akses pendidikan karena pendidikan saat itu terbatas untuk kalangan pribumi ningat. Untuk itulah Van Lith membuka sekolah di Muntilan yang dapat diakses oleh anak pribumi dari seluruh lapisan. Rumah sederhana tempat tinggal Van Lith akhirnya merangkap fungsi sebagai sekolah dan bagian belakangnya dipakai untuk asrama. Untuk mendapatkan murid, Van Lith  tak segan mendatangi satu persatu rumah keluarga petani di Muntilan. Dalam buku Soegija, Si Anak Bethelehem van Java karya Budi Sujanar, SJ. digambarkan jika kala itu bangunan sekolah masih dari terbuat anyaman bambu, banyak perabot yang rusak, dan mereka masih belajar beralaskan tikar. Namun demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat belajar mengajar Van Lith dan murid-muridnya (Sujarnar, 2003; 32).
Tokoh-tokoh pendiri Xaverius College Muntilan.
Pada 20 Desember 1898, Pastor Van Lith, bersama Pastor Houvenars, Hebrans, dan Engebers mengadakan suatu perundingan yang membahas nasib kegiatan misi Katolik di Jawa ke depannya nanti. Dari perundingan itu, dihasilkan keputusan untuk menjadikan Kedu sebagai titik awal penyebaran misi Katolik di Jawa bagian tengah. Pertimbangannya ialah bahwa posisi Kedu dekat dengan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa, tempat dimana para misionaris akan mempelajari kebudayaan Jawa. Kedu juga dekat dengan Semarang, tempat misi Katolik sudah berjalan cukup mapan sehingga diharapkan dari Semarang dapat memberi secercah asa untuk keberlangsungan misi di Kedu ini. Dari situlah Van Lith percaya dengan cerahnya masa depan misi di Muntilan (Wietjens, 1995;8). 
Denah Kolese Xaverius yang ditata rapi mengikuti alur Kali Lamat di selatannya. (sumber : Berichten uit Ned. Indie 1919).
Pendidikan yang sudah dirintisnya menjadi pilihan karena Van Lith berharap bisa memberikan suatu sumbangsih nyata untuk masyakarat Jawa yang menderita dibawah tekanan pemerintah kolonial. Tak sekedar menyebarkan ajaran Katolik saja, Van Lith rupanya juga berupaya untuk membantu masyarakat Jawa keluar dari kubangan lumpur kebodohan yang sengaja dipelihara oleh sistem kolonial, dimana hanya anak orang Belanda atau priyayi pribumi saja yang bisa mengenyam pendidikan. Van Lith sendiri termasuk sosok yang berseberangan dengan pemerintah kolonial meski memiliki kebangsaan yang sama. Hal inilah yang menjadikan Van Lith dekat dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional meski memiliki latas agama yang berbeda seperti tokoh Sarekat Islam, Haji Agus Salim. Untuk memantapkan sekolah yang dirintisnya, maka Van Lith pada 19 November 1899 mengajukan izin kepada residen Magelang karena saat itu sekolah untuk anak-anak pribumi di luar milik pemerintah harus memperoleh izin kegiatan belajar mengajar (Vriens, 1934; 203).
Pastor J. Mertens, rektor pertama Xaverius College.
Lambat laun, murid yang belajar di sekolah itu mulai bertambah. Jumlah guru yang tersedia pun rupanya juga tidak sebanding dengan murid yang ada dan Van Lith sendiri juga mulai kewalahan mengajar karena ia juga bertugas memberikan pelayanan rohani bagi masyarakat. Maka dari itu, Van Lith akhirnya membuka kweekschool atau sekolah untuk calon tenaga pengajar pada tahun 1904. Bangunan sekolah kemudian direnovasi pada tahun 1906 dengan bantuan dari pemerintah. Bantuan datang lagi dari negeri Belanda pada tahun 1909 sehingga kompleks sekolah yang lebih besar dan kondusif untuk belajar dapat dibangun pada tahun 1910. Xaverius College adalah nama yang dipilih ketika kompleks sekolah tersebut selesai dibangun pada tanggal 18 Juli 1911. Nama itu diambil dari nama Fransiscus Xaverius, pendiri Serikat Jesuit, tarekat dimana Van Lith bernaung bersamanya. Pastor Mertens SJ ditunjuk sebagai rektor pertama Xaverius College. Meskipun keberadaanya disambut begitu antusias, namun Xaverius College baru mendapat persamaan sebagai sekolah negeri pada tahun 1912. Persamaan tersebut diperlukan sebagai syarat lulusan Xaverius College dapat melanjutkan belajarnya di sekolah milik pemerintah. Pada tahun yang sama dengan pembukaan Xaverius College, empat murid kweekschool telah menyelesaikan belajarnya. Dua di antaranya melanjutkan pendidikan sebagai pastor sehingga menjadikan mereka sebagai Pastor Jawa pertama. Dalam menerima murid, mereka tak memandang latar belakangnya dan dalam pengajarannya juga tak ada paksaan untuk menjadi Katolik (Diderich, 1919; 182-190).
Suasana bagian dalam kompleks Misi Muntilan yang terlihat asri (sumber : media-kitlv.nl).
Kegiatan makan bersama murid kolese (sumber : media-kitlv.nl).
Kegiatan belajar di kolese. Foto ini berasal dari kartu pos terbitan sekitar tahun 1910. Kadang sumber dana untuk kegiatan misi berasal dari penjualan kartu pos menggambarkan kegiatan misi seperti kegiatan belajar ini (Sumber :media.kitlv.nl).
Xaverius College menerapkan sistem sekolah asrama, dengan tujuan untuk membangun karakter siswa menjadi anggota masyarakat yang berguna serta membangun hubungan antara pendidik dan siswa lebih mendalam. Materi yang diajarkan antara lain bahasa Belanda, ilmu bumi, dan pertanian. Kehidupan di kolese memang tak melulu diisi kegiatan belajar. Di sana disediakan beragam permainan seperti lapangan untuk bermain sepak bola dan seperangkat alat musik barat dan gamelan untuk menyalurkan bakat seni. Kadang murid-murid bercengkerama dengan Romo Van Lith sembari ia bercerita sesuatu kisah sejarah dari Eropa yang mungkin belum banyak diketahui murid-murid Jawa. Mereka juga bertanggung jawab pada kebersihan asrama. Ibadat dilaksanakan bersama sehingga terciptalah suasana kekeluaragaan antar guru dan murid yang begitu akrab. Kadang para pengajar mengajak murid-murid kolese yang seluruhnya laki-laki itu ke sekolah asrama putri di Mendut yang didirikan pada tahun 1908 untuk anak-anak perempuan. Diharapkan pertemuan tersebut dapat menciptakan benih-benih yang akan membangun pasangan keluarga Katolik (Subanar, 2003; 42).
Gedung Pastoran.
Rumah Pastor van Lith sebelum dirombak tahun 1916.
Berada di selatan gedung gereja, terdapat bangunan yang tak kalah megah dengan gedung gereja. Letaknya yang berada di dekat gereja memudahkan pelaksanaan ibadah gereja karena biasanya yang menjadi imam gereja adalah pastor Paroki yang tinggal di dalam pastoran. Saya berdecak kagum ketika melihat gedung Pastoran yang meskipun hiasannya sederhana namun masih tampak megah dan lestari. Pada tahun 1916, rumah sederhana Van Lith yang kemudian menjadi cikal dari Xaverius College direnovasi menjadi gedung pastoran yang terlihat seperti sekarang. Rancangannya dibuat oleh biro aristek yang sama dengan yang merancang gedung gereja Muntilan yakni Hulswit, Fermont, en Cuypers. Sementara pembangunannya diborong oleh seorang Letnan Tionghoa di Muntilan. Sebuah beranda tampak mencuat di bagian lantai tiga. Saya segera membayangkan sosok Van Lith sedang berdiri di beranda itu, seraya memandang kompleks misi dengan latar Gunung Sumbing yang terlihat samar-samar di barat.
Bagian depan Museum Misi Muntilan. Tampak patung Romo Van Lith yang berdiri dengan anggun di tengah kolam.
Beberapa koleksi yang ada di dalam Museum Misi Muntilan.
Kini saya duduk termangu di tepi sebuah kolam teratai. Di tengah kolam itu, patung Van Lith berdiri begitu gagahnya, seolah ia masih ada di sini. Persis di belakang kolam itu, berdiri sebuah museum yang berisi memorabilia dan relikui yang menjabarkan perkembangan umat Katolik di Jawa Tengah. Saya kemudian memasuki museum tersebut dan disambut dengan hangat oleh penjaga museum. Museum itu cukup bersih dan terang. Koleksinya pun juga lumayan terawat dan setiap koleksi diberi penjelasan yang informatif. Salah satu koleksi yang menarik perhatian saya adalah sebuah bangku besar dari bambu. Sekalipun bangku tersebut terlihat sederhana, namun sosok yang pernah duduk di bangku itu bukanlah sekedar sosok biasa. Sosok tersebut ialah pemimpin umat Katolik seluruh dunia, Paus Yohanes Paulus II, Paus pertama yang mengunjungi Indonesia tahun 1989 silam. Ah, andai saja Van Lith waktu itu masih hidup. Pasti gembira sekali hatinya ketika kompleks misinya kedatangan tamu istimewa dari Vatikan tersebut…
Endapan banjir lahar dingin yang menutupi kompleks Xaverius College.
Dari museum, sekejap saya diajak oleh penjaga museum untuk melihat bagian belakang Pastoran. Di situ terlihat deretan kamar-kamar tempat para bruder tinggal. Dari deretan kamar tadi, ada sebuah pintu yang tak terlalu besar. Melalui pintu itu, jalan kemudian menurun dan samar-samar, terdengar gemericik aliran air. “Itu Kali Lamat mas”, jelas bapak itu, menunjuk sebuah sungai yang alirannya tak begitu deras. “Di situlah dulu anak-anak Kolese Xaverius mandi, mencuci, dan bermain air. Seringkali Opa Van Lith bermain air bersama mereka di situ. Beliau tak pernah malu berbaur dengan muridnya“, ujarnya. Tak hanya sebagai tempat mandi dan mencuci, sungai itu kadangkala dipakai sebagai tempat pembatisan. Maka pantaslah jika sungai kecil itu berjuluk “Sungai Jordan-nya Jawa“. Sekalipun demikian, sungai kecil ini pernah memperlihatkan wajah ganasnya saat banjir lahar dingin menerjang kompleks pad 2 Januari 1931.
SD Materdei.
Bagian luar SMP Kanisius.
Bagian dalam SMA Pangudi Luhur van Lith.
Napak tilas saya lanjutkan lagi, melihat bangunan tua lain di sekitar kompleks misi. Jenis bangunan yang paling mudah dijumpai di sini ialah gedung-gedung sekolah tua yang kini menjadi TK-SD Pangudi Luhur, SMA Pangudi Luhur van Lith, SMK Pangudi Luhur, TK Siswa Siwi, TK St. Theresia, SMP Marganingsih, SD Materdei, SD St.Yoseph, dan SMP Kanisius. Sepeninggal Van Lith, nasib Xaverius College mengalami pasang surut. Jumlah sekolah yang dibuka di lingkungan Xaverius College sempat bertambah dengan dibukanya sekolah seperti Hollandsch-Inlandsche School, Normaalschool, Holland Chineesche School, Standaarschool, dan Schalkeschool. Krisis ekonomi yang menerpa di tahun 1930an tidak mengurangi aktivitas belajar di kolese itu. 
Benih-benih kebangsaan perlahan dipupuk di Kolese Xaverius Muntilan. Mereka yang pernah menimba ilmu di Kolese Xaverius pada kemudian hari menjadi sosok yang terpandang dan memberikan sumbangsih karya yang tak ternilai bagi bangsa ini. Mgr.Albertus Soegijapranta, uskup pertama dari bangsa pribumi, I.J. Kasimo, politikus Katolik tiga zaman, hingga Y.B Mangunwijaya, rohaniawan merangkap budayawan, arsitek dan aktivis. Selain sebagai pusat pendidikan, kompleks misi ini juga menjadi jujugan warga pribumi yang ingin mendalami ajaran Katolik. Tak sedikit warga pribumi yang rela berjalan kaki dari pelosok desa di kaki perbukitan Menoreh ke Muntilan hanya sekedar untuk mengenal ajaran Katolik. Salah satu dari sekian warga tersebut ialah seorang guru agama Kristen bernama Dawud dari Kalibawang, Kulonprogo. Bersama empat kepala dusun, ia bertemu dengan Van Lith dan ingin belajar agama Katolik darinya. Tahun 1904, mereka membantu Van Lith menyebarkan ajaran Katolik di lereng Menoreh. Hasilnya, di akhir tahun yang sama ada 172 orang telah dibaptis di mata air Sendangsono (Wietjens, 1995;10). Tidak mengherankan jika Muntilan akhirnya mendapat julukan sebagai Bethlehem van Java. 
F.X. Satiman, pastor Jawa pertama lulusan kweekschool Muntilan.
Albertus Soegijapranata, salah satu lulusan Xaverius College yang kelak menjadi uskup Jawa pertama.
Sayangya, riwayat Kolese Xaverius terpaksa berakhir di bulan Oktober 1943, ketika pemerintah pendudukan Jepang secara paksa menutup kompleks misi ini dan mengubahnya sebagai kamp interniran untuk orang-orang barat. Habis jatuh tertimpa tangga, belum pulih dari pendudukan Jepang, kira-kira lima hari menjelang Natal tahun 1948, kompleks misi ini sama sekali tak berdaya ketika ia dibumihanguskan oleh para milisi republik yang khawatir manakala bangunan ini dipakai sebagai markas militer serta adanya sentimen terhadap misi yang dianggap pro-Belanda. Padahal kompleks misi ini sudah mendapat surat resmi perlindungan dari pemerintah. Dua tahun kemudian, tepatnya 20 Juli 1950, kegiatan di Kompleks Misi Muntilan dapat dipulihkan kembali setelah ordo FIC masuk ke Muntilan. Bangunan kolese yang sebagian besar rusak diperbaiki dan sekolah-sekolah yang dahulu sempat ditutup di masa pendidikan Jepang dibuka kembali (Sulistyowati.Tri, 2004;13-31). Kompleks misi inipun akhirnya kembali bergeliat sampai hari ini meskipun kejayaanya tidak sebesar dulu lagi.
Kompleks bruderan.
Kapel Bruderan.
Tampak luar kompleks Bruderan FIC pada tahun 1932.
Br. Eustahchius, perintis misi FIC di Muntilan.
Selain sekolah, di kompleks ini terdapat bruderan yang dahulu dibangun oleh kongregasi FIC (Fratrum Immaculate Conceptionis). Dalam sumber Belanda kongregasi tersebut bernama "Broeders der Onbevlekte Ontvangenis Der H. Maagd Maria" atau Kongregasi para Bruder Santa Perawan Maria Yang Dikandung Tak Bernoda. Kehadiran kongregasi FIC di Muntilan dimulai ketika tiga bruder FIC yakni Br. Bonifacius, Eustasius, dan Wiro mulai tinggal di Muntilan sekitar akhir tahun 1921. Pada mulanya mereka bernaung di bekas rumah tinggal guru H.I.S. Selanjutnya pada tahun 1925, Bruder Eustasius diangkat sebagai pengampu kongregasi FIC di Muntilan dan ia ditugaskan untuk mempersiapkan pembangunan kompleks bruderan FIC (Congregatie, 1940; 82). Setelah melewati beberapa proses panjang, akhirnya bruderan tersebut mulai dapat dibangun sejak bulan Oktober 1930 dan peletakan batu pertama pada 21 November 1930 yang bertepatan dengan ulang tahun kongregasi FIC ke-90 mengawali secara simbolis pembangunan bruderan itu. Sempat terhambat oleh selama 3 minggu akibat bencana erupsi Merapi, kompleks Bruderan yang dirancang oleh arsitek C.W. van Oyen tersebut akhirnya diresmikan pada tanggal 8 September 1931 (De Locomotief, 9 September 1931). 
Bagian luar kapel Susteran OSF.
Biarawati Fransiscan di depan Susteran pada tahun 1928 (sumber : Sint Claverbond 1928).
Bangunan utama rumah sakit misi.
Selain bruderan, ada pula kompleks susteran Fransiscan. Kompleks susteran ini sendiri dibangun pada tahun 1926, bersamaan dengan pembangunan rumah sakit yang ada di sebelahnya. Jika para bruder membantu di kegiatan pendidikan, maka para suster di Muntilan memberi layanan di bidang kesehatan (Aufrida, 1928; 55). Lantaran itulah agar pelayanan menjadi mudah, maka lokasi rumah sakit dibangun di dekat kompleks susteran. Sekarang rumah sakit itu dikelola oleh pemerintah dan menjadi RSUD Muntilan.
Kompleks kerkhof Muntilan. 
Makam F. van Lith, peletak misi di Jawa Tengah.
Van Lith menghadap ke Sang Pencipta di tahun 1926 dan beliau dikebumikan di kompleks makam yang terletak di ujung timur jalan Kartini tak jauh dari kompleks misi yang dirintisnya. Bersama Van Lith, dikebumikan pula beberapa tokoh penting dalam sejarah perkembangan Katolik di Indonesia di kompleks makam itu seperti P.J Hoovenar, pelopor misi di Jawa dan Kardinal Justinus Darmojuwono, kardinal pertama dari Indonesia. Di sini juga dimakamkan para pastor lain yang dahulu pernah berkarya di Muntilan dengan nisan salibnya yang sederhana serta beberapa orang Katolik pribumi. Menariknya beberapa nisan makam milik Pastor Belanda ada yang ditulis dalam bahasa Jawa seperti nisan milik rekan Van Lith dan rektor pertama Xaverius College, Pastor J.Mertens, yang meninggal pada tahun 1922. Bentuk makam Van Lith juga menunjukan pengaruh gaya seni lokal. Hal ini seakan menunjukan bahwa sudah ada sebuah ikatan antara para rohaniwan Katolik ini dengan budaya Jawa.

Di permakaman itu, para peziarah tampak berlalu-lalang di depan saya. Sementara itu, saya duduk di samping pusara Van Lith, sembari berusaha mengingat kembali karya terbesar apakah yang pernah dihasilkan oleh Van Lith ? Akhirnya, saya kembali teringat, bahwa karya terbesar yang dihasilkan oleh seorang Van Lith ialah cita-cita luhur kemerdekaan di benak setiap insan Katolik yang ia bimbing. Ia juga mengajarkan bahwa setiap insan harus tetap memegang teguh budaya asalnya sekalipun insan tersebut sudah menjadi seorang Katolik. Lewat didikanya maka lahirlah insan-insan Katolik berjiwa nasionalis dan humanis, seperti Mgr. Albertus Soegijapranta, I.J Kasimo hingga Romo Mangun. Itulah karya terbesar dari Van Lith, melampaui besarnya kompleks misi ini. Nama dan reputasi Van Lith tidak akan terhapus dari sejarah Kristenisasi Jawa dan mencatatkan Muntilan sebagai pusat penyebaran agama Katolik yang termahsyur. Akhir kata, sayapun kemudian bergegas meninggalkan kompleks misi ini, melambaikan tangan ke arah gereja, mengucapkan beberapa patah kata perpisahan untuk kompleks misi ini, “Sampai jumpa kembali kawan, semoga engkau selalu diberkati oleh Tuhan….”. Dan perlahan saya meninggalkan Muntilan, Betlehem van Java…

Referensi
Akihary, Huib. 1990. Architectuur & Stedebouw in Indoensie 1870-1970. Zutphen : De Walburg Pers.

Congregatie 
Der Broeders Van De Onbevlekte Ontvangenis Der Heilige Maagd Maria. Ons Missiewek Op Java 1920-1940. Yogyakarta : Canisius Drukkerij

DR. Jan Wietjens S.J.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.


Diderich, J. 1919. "
Bij de Plattegrond van het Xaverius College Muntilan" dalam Berichten uit Nederlandsch Indie. 's Gravenhage ; T.C.B. Te Hagen

Moeder Aufrida Fr. 1928. "Moentilan, St. Fransiscus Ziekenhuis" dalam Sint Claverbond 1928. Nijmegen : N.V. Centrale Drukkerij.


Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis ; Dari Masa Kompeni hingga Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.


Subanar SJ, G. Budi. 2003. Soegija, Si Anak Bethlehem van Java. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Sulistyowati, Tri. 2004. " Tata Ruang Kompleks Misi Katolik Muntilan ". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Van Rijkevorsel. 1917. " De. R.K. Scholen te Moentilan " dalam Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1917 Volume 02.

Vriens, S.J. 1934. "Vertig Jaren Java-Missie" dalam Sint Claverbond 1934. Nijmegen : N.V. Centrale Drukkerij.

Minggu, 17 April 2016

Di Balik Keantikan Stasiun Ambarawa

Kejayaan transportasi kereta di masa kolonial tergambarkan dengan baik di stasiun itu. Namun tak banyak yang tahu, di bawah rangka-rangka bajanya, tercium aroma diskriminasi di masa kolonial. Inilah kisah sebuah stasiun tua yang kini menjadi museum, Stasiun Ambarawa….
Bangunan utama stasiun Ambarawa.
Ketika kaki ini mulai melangkah masuk ke stasiun ini, saya serasa dibawa ke suatu periode, periode dimana kepulan uap kereta menyeruak ke langit-langit stasiun dan deru mesin menggetarkan lantai stasiun. Nuansa kekunoannya stasiun yang sejatinya bernama Stasiun Willem I ini masih terasa kentara. Kombinasi bata bergalzur kuning di bawah, guratan ekpose bata merah, dan dinding berwarna putih bersih mempercantik bangunan kantor dan ruang tunggu yang mungil. Tak diketahui siapakah arsitek yang merancangnya, namun setidaknya, stasiun ini berhasil mereprenstasikan puncak kejayaan transportasi kereta api di masa lampau.
Lokasi stasiun Ambarawa pada peta tahun 1909. Perhatikan lokasi stasiun yang dekat dengan benteng Willem I. Stasiun ini sengaja dibangun dekat dengan benteng untuk melayani kebutuhan militer. Dahulu terdapat dua akses ke stasiun ini, yakni di sebelah utara (kini jalan Stasiun) yang kebanyakan digunakan untuk kalangan sipil dan di sebelah selatan (kini jalan Margoroto) yang digunakan oleh kalangan militer (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pendirian stasiun ini berhubungan erat dengan peran Ambarawa sebagai kota militer setelah pemerintah kolonial mendirikan sebuah benteng besar yang sudah lama ada sebelum stasiun Ambarawa dibangun. Benteng yang dimaksud tidak lain adalah Benteng Willem I. Ambarawa lambat laun berkembang menjadi garnisun militer yang penting. Selain itu, perniagaan antara Eropa dan Hindia-Belanda kian bergeliat dengan dibukanya Terusan Suez pada 1869 yang memangkas waktu pelayaran antara Hindia-Belanda dengan Eropa. Kemajuan perniagaan tersebut lalu diiringi dengan semakin banyaknya investasi asing yang mengalir untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Hindia-Belanda paska dibukanya keran investasi swasta di Hindia-Belanda oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1870. Para pemodal berondong-bondong menanam modalnya dalam bentuk usaha perkebunan partikelir sehingga  perkebunan mulai tumbuh dimana-mana termasuk di sekitar Ambarawa yang notabene iklimnya cukup mendukung untuk tanaman kopi. Sayangnya perekenomian yang sedang bergairah tersebut tidak didukung dengan sarana transportasi yang layak untuk mengangkut orang dan barang dengan cepat dan murah. Jalan raya antara Semarang dan Ambarawa masih berupa jalan tanah yang setiap tahunnya harus rutin diperbaiki dan menjadi beban yang mesti ditanggung pemerintah. Moda angkutan darat yang tersedia saat itu juga masih primitif sekali yakni berupa pedati atau delman yang tidak bisa berjalan cepat dan daya angkutnya terbatas. Selain itu, di musim hujan jalan tersebut sulit dilintasi karena terendam banjir sehingga memperlambat proses pertukaran barang antara pedesaan dan pesisir. Dengan latar belakang tersebut, pemerintah kolonial merasa butuh sebuah sarana pengangkutan massal yang dapat meningkatkan mobilitas militer dan pengangkutan hasil bumi dari sekitar Ambarawa. Kereta api menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut karena dalam sekali jalan, kereta dapat mengangkut barang dan penumpang dalam jumlah besar. Lajunya pun lebih cepat daripada kendaraan tradisional kala itu seperti pedati sehingga waktu tempuh perjalanan menjadi berkurang dan hasil bumi yang diangkut tidak membusuk di perjalanan.
Pembangunan jalur kereta Kedungjati-Ambarawa (sumber : colonialarchitecture.eu).
Pada saat perencanaan pembangunan jalur kereta api di Jawa pada tahun 1860an, Menteri Koloni Belanda Franssen van de Putte memohon kepada kongsi kereta api partikelir Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij (N.I.S.M) supaya Ambarawa dibuatkan jalur kereta terlebih dahulu sebelum ke tempat lainnya. Hal tersebut didasari oleh adanya keberadaan sarana militer berupa benteng dan garnisun yang sudah berdiri di Ambarawa sejak tahun 1840an. Ketersediaan transportasi seperti kereta api akan membantu sekali dalam kepentingan militer seperti mobilitas tentara dan dan logistik militer yang diperlukan seperti ransum, amunisi dan obat-obatan. Oleh karena itu rentetan pembangunan jalur kereta ke arah Ambarawa mulai dikerjakan dengan mengambil percabangan dari Kedungjati pada tahun 1867 bersamaan dengan mulai beroperasinya kereta api di Jawa. Pembangunan itu adalah tantangan berat pertama yang dihadapi oleh N.I.S.M lantaran kali ini mereka harus menggali bukit, menyingkirkan bongkahan batu besar, dan mendirikan jembatan di atas sungai curam. Dengan peralatan yang masih primitif, pembangunan itu tentu berjalan begitu pelan (Java Bode, 2 Oktober 1867). Pembangunan bahkan sempat terhenti pada tahun 1871 karena ada lintasan yang harus diubah dari rencana semula (Java Bode, 24 November 1871). Namun tantangan tadi berhasil dilalui dengan baik. Pada Maret 1873, pembangunan jalur memasuki tahap akhir. Bagian gudang stasiun Ambarawa sudah selesai dibuat dan segala perantinya sudah siap (Bataviasch Handelsblad, 26 Maret 1873). Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1873, jalur kereta lintas Kedungjati - Ambarawa diresmikan untuk umum (Riestma, 1928 : 24). Segala jerih payah selama pembangunan terbayarkan dengan manfaat yang diperoleh. Sebuah simbiosis mutualisme tercipta antara pemilik perkebunan dengan N.I.S.M yang menjalankan roda bisnis perkeretapian. Kehadiran kereta api memperlancar pertukaran barang dan orang antar wilayah menjadi lebih lancar. Hasil pertanian dan industri dapat dikirim ke pelabuhan dengan waktu yang lebih ringkas sehingga resiko hasil panen membusuk di pelabuhan dapat terhindarkan. Di sisi lain barang-barang yang diimpor dari luar dapat didatangkan ke pedalaman sehingga masyarakat yang tinggal jauh dari pelabuhan dapat memperoleh barang dengan mudah. Perpindahan penduduk antar wilayah juga menjadi lancar. Selain itu, kereta api juga mempercepat arus komunikasi dimana saat itu orang masih berkirim pesan melalui surat. Sebelum ada kereta api, surat diangkut dengan kereta khusus yang disebut kereta mail. Kereta tersebut rentan dirampok karena selain membawa surat juga mengangkut uang kiriman. Sejak surat-surat diangkut oleh kereta api, pengiriman surat menjadi lebih cepat dan aman. Pentingnya jalur tersebut untuk militer juga terbukti saat para serdadu yang bermarkas di Ambarawa diterjunkan dalam operasi militer di Lombok dan Aceh pada tahun 1890, 1894, dan 1896. Kereta apilah yang mengangkut mereka dari Ambarawa ke pelabuhan Semarang dan perjalanan tersebut hanya perlu ditempuh dalam waktu kurang dari satu hari saja. Dengan kata lain, kereta api tidak hanya sebagai alat penguras sumber daya alam dari tanah jajahan, namun juga turut menyumbang peran dalam upaya ekspansi kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.
Stasiun Ambarawa sebelum disempurnakan. Perhatikan bentuk stasiun yang masih sederhana sekali (sumber : media-kitlv.nl).
Sekitar awal abad-20, N.I.S.M. melakukan pembangunan jalur kereta baru yang akan menyambungkan Ambarawa dengan Magelang melalui Secang. Jalur kereta tersebut resmi dibuka untuk umum pada Februari 1905 (Rietsma, 1928 : 62). Namun berhubung medan yang dilalui berupa perbukitan, maka jalur kereta dibuat meliuk-liuk seperti ular yang mendaki bukit. Supaya kereta lebih mudah mengikuti liukan rel, maka lebar rel yang dipakai lebih kecil. Oleh sebab itulah di stasiun Ambarawa terdapat dua jenis jalur rel yang berbeda, yakni jalur rel 1435 mm di emplasemen selatan dan 1067 mm di emplasemen utara. Dari Kedungjati ke Ambarawa menggunakan rel 1435 mm, sementara dari Ambarawa menuju Yogyakarta melalui Magelang menggunakan  rel 1067 mm. Buku panduan terbitan Koninklijke Paketvaart Mij menyarankan para pelancong yang hendak ke Yogyakarta untuk mengambil jalur Kedungjati-Ambarawa-Magelang karena jalur itu menawarkan pemandangan bentang lahan pegunungan yang menarik dan indah ketimbang jalur Kedungjati-Surakarta yang cenderung datar dan monoton. Ketika kereta berhenti sejenak di Ambarawa, para pelancong dianjurkan untuk beranjangsana di Ambarawa, menikmati pemandangan hamparan sawah luas berlatar birunya danau Rawa Pening dan pegunungan di selatan Ambarawa. Di sore hari, dengan membayar sebesar 4 gulden, para pelancong dapat berkendara mengelilingi kota dan mampir melihat-lihat benteng Willem I (Koninklijke Paketvaart Mij, 1911: 69-70).
Suasana stasiun Ambarawa yang terekam pada video Reis Willem I Djocja.Terlihat kereta api yang akan memasuki peron stasiun.
Ketika pertama kali dibuka, bangunan Stasiun Ambarawa terlihat lebih bersahaja jika dibandingkan dengan bangunan yang ada saat ini karena saat itu keuangan N.I.S.M masih terbatas dan N.I.S.M lebih mengedepankan pengangkutan barang. Setelah N.I.S.M berhasil menangguk banyak pundi-pundi keuntungan, maka Stasiun Ambarawa disempurnakan bentuknya dengan gedung stasiun yang lebih menarik. Selain sebagai bentuk perayaan terhadap kemakmuran yang berhasil diraih oleh N.I.S.M, penyempurnaan Stasiun Ambarawa juga dimaksudkan untuk persiapan menyambut dibukanya jalur kereta Ambarawa-Secang. Proyek penyempurnaan bangunan stasiun Ambarawa dimulai setahun sebelum jalur tersebut dibuka. Untuk keperluan tersebut, maka gudang lama stasiun dibongkar untuk memperluas stasiun dan sebagai gantinya dibangun dua gudang baru. Pengerjaanya bangunan Stasiun Ambarawa yang baru akhirnya purna sekitar bulan April tahun 1907 dengan menghabiskan biaya sebesar 160.000 gulden (De Locomotief, 6 April 1907). Penyempurnaan itu tampaknya bertujuan untuk mendongkrak citra N.I.S.M sebagai sebuah perusahaan besar dan juga untuk menambah daya pikatnya sebagai stasiun sehingga lebih banyak penumpang agar menggunakan jasa kereta mereka. Apa yang terjadi pada Stasiun Ambarawa ini kurang lebihnya mirip dengan stasiun-stasiun di Perancis yang pada tahun 1850an bangunan stasiunnya masih terlihat kasar seakan-akan bangunan tersebut lebih mengedepankan aspek fungsionalnya semata sebagai tempat pemberhentian kereta. Seiring berkembangnya jasa perkeretapian di kemudian hari, bangunan-bangunan stasiun dibuat lebih anggun dan megah sehingga membuat bangunan stasiun laksana karya arsitektur yang patut diperhitungkan sebagai karya seni bercitarasa tinggi (Burchell. S. C, 1984 : 60).
Sisi depan stasiun Ambarawa.
Overkapping stasiun Ambarawa dilihat dari arah tenggara.
Saya kini berjalan di bawah naungan overkapping atau kanopi stasiun yang dibuat di Jerman. Harian De Locomotief tanggal 6 April 1907 menyebutkan bahwa kanopi stasiun tersebut adalah yang terbesar kedua di Jawa setelah kanopi stasiun Surabaya Kota. Atap stasiun tersebut memang dibuat dalam ukuran besar mengingat peran Stasiun Ambarawa sebagai stasiun transit kereta dari Secang dan sebaliknya yang memiliki lebar rel berbeda sehingga tentu cukup banyak penumpang yang akan turun di sini. Pembuatan dan pemasangannya sendiri menghabiskan biaya sebesar 60.000 gulden. Kanopi tersebut menudungi bangunan untuk tempat penjualan karcis, kantor telegraf, kantor kepala stasiun, biro paket, ruang tunggu penumpang kelas 1 dan 2 yang di dalamnya ada ruang toilet, dan ruang tunggu kelas 3 yang berada di luar. Bangunan yang terlihat rapi tanpa cacat dan masih berdiri kokoh sampai sekarang menunjukan kualitas pengerjaan yang dilakukan secara total dan bahan yang dipilih benar-benar bermutu prima. Selain kereta, jejak revolusi industri yang tampak pada stasiun ini juga terlihat pada material-material yang dipakainya. Material-material yang menyokong stasiun itu dibuat oleh pabrik pengecoran logam di Amsterdam sesuai pesanan. Kemudian barang-barang itu dikirim dengan kapal uap, melintasi Terusan Suez dan sesudah dibongkar di pelabuhan Semarang, mereka diangkut menggunakan kereta. Hamparan lantai tegel kekuningan yang saya injak inipun juga merupakan buah revolusi industri yang lain. Tegel-tegel itu dibuat secara masal di sebuah pabrik tegel di Maastricht, Belanda, dan ia diangkut ke sini dengan cara sebagaimana kanopi baja tadi diangkut. Ya, aura revolusi industri terasa kentara di stasiun ini.
Tiang-tiang baja penyangga konstruksi atap.
Para pengunjung tampak antusias berfoto-foto di setiap sudut stasiun dan anak-anak kecil terlihat berlarian tak karuan. Pemandangan tadi tentu tak terlintas di benak para meneer-meneer yang sedang menanti kedatangan kereta puluhan tahun silam, ketika mereka duduk di bangku peron yang panjang, menikmati semilir udara Ambarawa nan sejuk yang membuat mereka nyaris tidur terlelap di bangku itu. Supaya terjaga, beberapa ada yang membaca koran De Locomotief yang didapatkan secara cuma-cuma di ruang tunggu penumpang kelas I. Para kuli pribumi terlihat lalu lalang membawa barang dari gerbong ke gudang. Kepala stasiun berwajah tegas keluar dari kantornya, memberi aba-aba kepada penumpang untuk segera bergegas karena kereta sebentar lagi akan tiba...
Detail bangunan stasiun.
Sinyal kereta yang tanda masuk atau keluar dari stasiun Ambarawa diatur di dalam ruang kotak kecil ini. Sinyal yang dipakai menggunakan sinyal mekanik.
Saya kemudian memasuki ruang yang dulu menjadi ruang tunggu untuk penumpang kelas 1. Ruang tersebut menempati sebuah bangunan tersendiri dan terpisah dari ruangan administrasi.  Ruangan itu masih asli, sehingga begitu masuk saya serasa terhanyut oleh arus waktu yang membawa saya kembali ke belakang. Lihatlah lantai tegel antik bermotif bunga-bungaan yang membuat saya tak tega untuk menginjaknya. Di ruangan inilah para penumpang kulit putih menunggu kereta sembari bersantai menikmati kudapan yan prasmanan dan minuman keras seperti gin, genever, bir, atau wine yang disajikan secara prasmanan Di dalam sana juga sudah tersedia ruang buang hajat yang sudah dipisahkan sesuai jenis kelamiun. Namun dibalik keantikannya, ruangan itu sebenarnya adalah contoh bentuk segregasi orang pribumi dengan orang Eropa di masa kolonial…
Bangunan untuk ruang tunggu penumpang kulit putih.
Tegel dengan ornamen yang cantik ini menambah kesan mewah pada ruang tunggu untuk kulit putih.
Bagian dalam ruang tunggu dengan meja bartender. 
Toilet di dalam ruang tunggu. Toilet ini sudah dipisah berdasarkan gender.
Di masa lampau, bahkan sebelum mereka naik ke tangga kereta, terdapat perbedaan dalam perlakuan penumpang Eropa dengan penumpang pribumi. Orang pribumi memesan tiket di tempat yang terpisah dengan orang kulit putih. Sekalipun telah memesan tiket penumpang kelas 1, mereka tak ada yang berani menunggu di ruang tunggu orang kulit putih. Jikapun berani, mereka akan diusir oleh pegawai stasiun. Mereka akhirnya harus berpuas menunggu kereta di ruang tunggu terbuka di ujung barat stasiun ini yang dimaksudkan untuk penumpang kelas 2 dan 3.
Ruang tunggu untuk penumpang non-Eropa.
Bangunan toilet untuk penumpang non-Eropa.
Sembari berjalan keluar, saya melihat-lihat aneka lokomotif uap tua yang dipajang seperti rangkaian kereta. Lokomotif-lokomotif kuno ini merupakan sebagian kecil dari lokomotif kuno yang berhasil diselamatkan pada tahun 1970an. Kala itu, banyak lokomotif peninggalan Belanda yang tak lagi dioperasikan akibat biaya pemeliharaannya yang tinggi yang berujung digantinya mereka dengan lokomotif diesel. Menjadi pajangan adalah nasib terbaik yang diterima oleh lokomotif tua tadi. Kebanyakan mereka dibantai di peleburan besi-besi tua. Demi menyelamatkan artifak-artifak tadi, atas prakarsa Gubernur Jateng saat itu, Soepardjo Rustam dan Kepala Eksploitasi Tengah PJKA, Ir. Soeharso, tanggal 8 April 1976 dibahas suatu rencana untuk membuka sebuah Museum Kereta Api. Awalnya museum ini akan menjadi satu dengan Museum Transportasi di Jakarta, namun akhirnya rencana itu urung dilakukan. Pilihan terakhir jatuh ke Stasiun Ambarawa dengan pertimbangan nilai sejarah dan kondisi fisik bangunan yang masih terjaga. Maka pada 9 Oktober 1976, Stasiun Ambarawa diresmikan sebagai Museum Kereta Api (Gendro Keling, 2011: 100). Hingga sekarang, Stasiun Ambarawa masih eksis sebagai Museum Kereta Api terbesar di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.
Di dekat stasiun, masih terjumpai beraneka artefak perkeretapian seperti corong air tempat memasukan air ke dalam ketel lokomotif. Air tersebut dipasok dari sumur bor dan ditampung reserovir di dekatnya. Selain itu ada alat berupa meja putar atau turntable yang berguna untuk melangsir lokomotif. Walaupun terlihat sederhana, namun komponen ini amatlah penting bagi kereta uap. Manakala kereta akan berjalan ke Stasiun Bedono yang posisinya lebih tinggi, posisi lokomotif harus berada di belakang rangkaian gerbong. Di ujung area stasiun, terdapat tinggalan depo lokomotif Stasiun Ambarawa yang dibangun tahun 1904. Depo tersebut memiliki lima pintu masuk di kedua sisinya. Di depo itulah lokomotif diperbaiki dan mendapat perawatan. Depo itu kira-kira dapat menampung dua jenis lokomotif yang berbeda lebar, yakni empat lokomotif dengan lebar 1453 mm dan enam lokomotif dengan lebar 1057 mm (De Locomotief, 10 Desember 1904)
Bangunan depo Stasiun Ambarawa tempo dulu (sumber : data.collectienederland.nl)
Depo staisun Ambarawa. Depo ini didesain khusus agar bisa memperbaiki lokomotif dengan gauge 1435 mm dan 1067 mm.
Turntable atau meja putar. Meja putar ini masih bisa diputar sampai sekarang.
Stasiun Ambarawa juga memiliki dua buah gudang yang terdapat di sebelah selatan dan barat stasiun. Di gudang itulah disimpan berbagai macam barang. Masing – masing gudang memiliki pintu model geser agarpintu dibuka berbenturan dengan gerbong barang ketika dibuka. Batur atau pondasi gudang sisi rel sengaja dibuat sejajar dengan tinggi boogie kereta untuk memudahkan pemindahan barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya. Hal yang sama juga tampak pada batur gudang sisi jalan yang telah disejajarkan dengan tinggi truk sehingga pemindahan barang dari truk ke gudang atau sebaliknya menjadi gampang. Stasiun Ambarawa juga dilengkapi tiga buah rumah kediaman untuk personel pegawainya yang mengelompok di sisi barat Lapangan Pangsar. Sudirman. Jaraknya masih cukup dekat dengan stasiun supaya mudah dijangkau pegawai. Sayang, pesona keantikan rumah-rumah tadi sedikit terhalang oleh beberapa kios yang berdiri di tepi jalan.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa dengan bentuk atap hipped gable yang kondisinya kurang terawat.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa yang baru saja direnovasi. Di samping rumah ini (yang masih satu atap) juga ada rumah yang bentuknya serupa, namun sudah tertutup oleh bangunan baru sehingga fasadnya tidak terlihat.
Seperti itulah kisah dibalik keantikan Stasiun Ambarawa, sebuah mutiara dari untaian jalur kereta yang kini tinggal kenangan saja. Melalui kolonialisme, terjadi suatu pertukaran antara Barat dan Timur. Belanda membawa hasil perkebunan dari bumi Nusantara ke benua Eropa untuk selanjutnya dikonsumsi oleh masyarakat Eropa. Pada saat yang sama pula, mereka memperkenalkan dan menerapkan teknologi modern temuan mereka ke Nusantara yang hingga hari ini masih dapat dirasakan manfaatnya seperti kereta api. Kendati tak lagi dipakai sebagai tempat naik turun penumpang, namun kini ia sintas menjadi museum yang menuturkan kejayaan kereta api di masa lampau. Kehadiran para pengunjung dan keberadaan para pedagang cenderamata di sekitarnya seolah menjadi tiupan sukma untuk kehipudan stasiun ini…

Referensi
Burchell, S. C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta:  Penerbit Tira Pustaka.
Keling, Gendro. 2011. "Latar Belakang Alih Fungsi Stasiun Kereta Api Willem I Menjadi Museum Kereta Api Ambarawa" dalam Forum Arkeologi TH.XXIV No.2 Agustus 2011.
Koninklijke Paketvaart Mij. 1911. Guide Through Netherlands India. Amsterdam : J. H. de-Bussy.
Rietsma, S.A. 1928. Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indisce Spoor-en Tramwegen. Weltevreden ; G.Kolff & Co.
Tim Penyusun. 2014. Forts in Indonesia, Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten :Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
De Locomotief, 10 Desember 1904
De Locomotief, 6 April 1907.
Java Bode, 24 November 1871
Java Bode, 2 Oktober 1867
Bataviasch Handelsblad, 26 Maret 1873