Jumat, 07 April 2017

Lawangsewu, Sebuah Adikarya Arsitektur Kolonial

Sebagai salah satu tengara kota Semarang, reputasinya lebih mencorong sebagai satu dari sepuluh tempat angker di Asia. Padahal gedung itu sesungguhnya merupakan sebuah adikarya arsitektur kolonial dan istana dari kerajaan bisnis kereta api yang didirkan pada era transportasi kereta mencapai kedigdayaannya. Inilah ikhtiar saya untuk menggali sisi lain dari gedung Lawangsewu.
Gedung Lawangsewu setelah selesai dibangun tahun 1907 (sumber : colonialarchitecture.eu).
Suatu siang di bulan Oktober 2016, saya berdiri di bawah bayang-bayang Tugu Muda, sebuah monumen berbentuk lilin raksaksa yang didirikan untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Di sekeliling bundaran yang dahulu bernama Wilhelmina Plein itu, berdiri bangunan-bangunan penting seperti rumah dinas Gubernur Jawa Tengah yang memakai bekas kediaman Residen Semarang, Gereja Katedral Semarang, dan sebuah gedung elok dengan dua menara kembarnya berbentuk cerutu yang sekarang dikenal sebagai Lawangsewu. Dengan citra mistis yang sudah terlanjur melekat padanya, Lawangsewu lebih dikenal masyarakat luas sebagai sebuah gedung tua nan angker yang sarat cerita horror. Alih-alih dihantui oleh “penunggu” gedung ini, kecantikan bangunan inilah yang justu menghantui pikiran saya ketika berjumpa pertama kali dengannya.
Stasiun Semarang N.I.S. di desa Kemijen yang didirkan tahun 1864. Di sinilah  N.I.S.M., berkantor sebelum pindah ke Lawangsewu. Lingkungan yang kurang bersahabat dan kebutuhan yang semakin banyak menjadi alasan N.I.S.M.untuk membangun kantor baru yang lebih representatif. Stasiun pertama di Indonesia ini sekarang tinggal sedikit saja bekasnya karena sebagian besar sudah terendam oleh rob ( sumber : media-kitlv.nl).
Berjuluk Lawangsewu atau Pintu Seribu dalam bahasa Jawa, karena ia memiliki pintu yang sangat banyak sehingga orang Jawa asal menyebutnya memiliki seribu pintu. Walau mungkin jumlahnya belum tentu ada seribu buah, mengapa ada begitu banyak pintu di gedung ini mejadi pertanyaan besar di benak saya. Sembari menyusuri satu demi satu pintu krepyaknya, saya melayang ke masa lampau, ketika para pegawai Eropa dan pribumi ramai berseliweran di lorong-lorongnya. Ya, gedung megah laksana istana itu sejatinya merupakan hoofdkantoor atau kantor pusat dari perusahaan kereta api partikelir yang sudah berjasa mengenalkan kereta api di Indonesia, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij.
Proses penggalian tanah untuk menyiapkan pondasi Lawangsewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Bengkel tukang kayu. Para tukang kayu ini membuat bagian-bagian seperti rangka kuda-kuda, kusen pintu dan jendela beserta daunnya (sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916).

Bangunan Lawangsewu ketika hampir selesai. Terlihat perancah dari bambu yang masih terpasang. Ketika foto ini dibuat tampaknya pembangunan Lawangsewu sudah mencapai tahap pengecatan. Tampak bagian jendela yang nantinya akan dipasangi kaca patri masih belum dipasang. (sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916)
Lama sebelum berkantor di Lawangsewu, kantor pertama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij bertempat di lantai atas gedung percetakan G.C.T van Dorp. Sesudah bangunan Stasiun Semarang N.I.S dirampungkan pada tahun 1867, maka maskapai itu memindahkan kantornya ke sana (De Locomotief, 4 Juni 1907). Sejalan dengan kemajuan transportasi kereta, maka kegiatan administrasi mereka kian sibuk dan jumlah pegawainya ikut bertambah. Lokasi di sekitarnya juga terasa kurang bersahabat karena letaknya yang ada di dekat rawa-rawa, sarang idaman para nyamuk. Tak ayal, banyak pegawai jatuh sakit terkena malaria. Lantaran itulah N.I.S.M menyewa beberapa bangunan di tempat lain. Sebenarnya sudah terencanakan di benak mereka, sebuah gedung baru yang bertempat di lokasi yang nyaman dan lebih besar sebagai unjuk kedigdayaan perusahaan mereka. Lokasi yang mereka pilih sebagai cikal bakal istana baru mereka jatuh pada sepetak lahan luas di dekat Wilhelmina Plein yang sudah dikuasai oleh N.I.S.M di akhir tahun 1863. Sebuah pilihan yang tepat karena selain lingkungan lebih ramah, juga strategis karena berada di simpul pertemuan jalur Bodjongweg (sekarang Jalan Pemuda) yang menjadi jalan utama Kota Semarang dengan Kendalweg yang menjurus ke arah Kendal (Unit Konservasi dan Heritage, 2013 ; 1-4). Sesudah lahan dipilih, N.I.S.M membangun rumah pengelola kantor dan gedung percetakan yang dirancang oleh Ir. P. de Rieu di lahan dimana Lawangsewu akan berdiri.
Lokasi Lawangsewu pada peta kota Semarang tahun 1909 ( dengan keterangan Hoofdkantoor N.I.S ). Lawangsewu terletak di ujung kawasan Bojong yang dahulu merupakan kawasan hunian paling prestise di Semarang. Selain Lawangsewu, bangunan penting yang ada di kawasan ini adalah rumah kediaman residen Semarang yang saat ini menjadi rumah dinas gubernur Jawa Tengah ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Kemapanan N.I.S.M tercermin pada pemilihan arsitek yang akan membangun kantor baru mereka.Tidak tanggung-tanggung, gedung itu dirancang oleh maestro arsitektur dari Belanda, Prof. Klinkhamer. Tatkala merancang Lawangsewu di studionya di Amsterdam, ia dibantu oleh arsitek lain seperi B.J.Ouendag dan seorang arsitek muda bernama G.C. Citroen yang kelak akan menjadi salah satu arsitek ternama di Hindia-Belanda. Proses pembangunanpun dimulai pada 27 Februari 1904. Bahan bangunan yang dipakai bermutu prima dan dipesan khusus dari Eropa sehingga tidak heran jika memakan banyak biaya dan waktu. Selain bahan bangunan dari Eropa, bahan bangunan lokal juga dipakai, seperti pasir dan batu berasal dari Gunung Merapi dan diangkut dengan kereta. Sekitar bulan Juni 1908, gedung kantor baru N.I.S.M selesai dibangun dan masyarakat awam diberi kesempatan untuk melihat-lihat bagian dalam gedung. Tanpa gempita upacara peresmian, N.I.S.M memboyong kegiatan perkantoran ke istana barunya pada 1 Juli 1907 (Klinkahmer & Ouendag,  1916; 23-31).
Tampak depan Gedung A.
Sedari awal, direksi N.I.S.M sudah memiliki konsep tentang sebuah gedung yang di satu sisi terlihat sedehana, namun dirancang dengan baik. Konsep tersebut diwujudkan begitu sempurna oleh tangan dingin Klinkhamer yang sekarang dapat saya rasakan tatkala memandang keanggunan Gedung A, bagian utama Lawangsewu yang paling akrab dilihat orang. Secara kasat mata, bangunan ini memakai gaya arsitektur Rundbogenstil yang banyak dipakai pada gedung perkantoran di Jerman pada abad ke-19. Gaya arsitektur Rundbogenstil merupakan hasil perkawinan beragam gaya arsitketur lama seperti Byzantine, Romanesque dan Rennaisans. Sementara bentuk tapaknya terlihat seperti huruf “L” apabila dipandang dari atas. Bagian depannya memiliki kanopi yang juga merangkap sebagai balkon, tempat para petinggi N.I.S.M bersantai. Sulit dibayangkan bahwa pemandangan yang dulu dinikmati oleh para petinggi N.I.S.M dapat berubah kurang dari seratus tahun. Ketika ia dibangun, bagian depannya masih berupa sebuah taman lapang bernama Wilhelmina Plein. Kurang dari lima puluh tahun, taman tersebut menghilang dan tergantikan oleh sebuah monumen yang dibangun oleh bangsa yang pernah mereka jajah. Trem yang dulu sempat melintas di depan Lawangsewu sekarang juga sudah tiada.
Bagian belakang gedung A.
Tampak samping gedung A.

Cetak biru denah lantai 1 gedung A Lawansewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).

Cetak biru denah lantai 2 gedung A Lawangsewu. Bagian lantai 2 dahulu merupakan ruang kantor untuk pejabat tinggi N.I.S.M. Bagian ini sekarang tidak dibuka untuk umum setiap harinya ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Tiada bangunan di sekitar Lawangsewu yang melampaui kemegahannya, bahkan kediaman sang residen Semarang yang berdiri di seberangnya terlihat tiada bandingnya dengan Lawangsewu. Pancaran kemegahan Lawangsewu kian terlihat dengan adanya sepasang menara yang begitu anggun membelah cakrawala. Menara itu tak hanya sebagai pemanis saja. Pada salah satu menara, di dalamnya terdapat bak air untuk memenuhi kebutuhan air seluruh gedung. Air itu diambil dari sebuah sumur pompa yang ada di dekat Gedung A. Uniknya, bak air itu teknik penyambungannya tidak dilas, melainkan dengan paku keling. Bertengger di puncak fasad depan Gedung A,ada sebuah batu kecil yang menampakan roda bersayap yang tampak ditelan oleh sosok kepala Batara Kala, Dewa Waktu dalam mitologi Hindu. Batu itu mengandung sebuah pesan, pesan bahwa transportasi kereta tidak akan punah termakan waktu.
Salah satu menara.
Rumah sumur pompa yang menjadi sumber air untuk gedung Lawangsewu. Sumur ini dianggap keramat dan konon airnya tidak kering sekalipun di musim kemarau. Entah apakah sumur ini airnya masih sebanyak dahulu karena di sekitar Lawansewu sudah banyak bangunan baru yang sudah menghabiskan pasokan air tanah di kota Semarang.
Lobi Lawangsewu memang hanya dibuka pada saat tertentu saja, namun setidaknya lewat jendela di ruang sampingnya saya dapat mengintip rupa lobi itu. Sebuah prasasti berbahasa Belanda terpajang di dinding sisi kanan lobi. Isinya tentang peringatan berdirinya 50 tahun N.I.S.M. Batu granit hitam dan marmer putih tampak mengalasi lobi itu, disusun seperti papan catur. Berlempeng-lempeng granit hitam ditambang nun jauh dari Pegunungan Fichtel, Bavaria, Jerman, dipotong sesuai pesanan dan manakala sampai di sini, ia tinggal dipasang saja. Dari lobi, terdapat sebuah undakan besar yang menjurus ke lantai dua. Di mulut undakan itu, terpancang sebuah batu prasasti dari marmer putih yang didedikasikan oleh para pegawai N.I.S.M untuk G.C. Daum, direktur N.I.S.M yang pertama.
Bagian lobi.
Tangga utama menuju lantai dua. Terlihat sebuah tugu kecil di bawah undakan yang didirikan untuk mengenang direktur pertama N.I.S.M, G.C. Daum.
Cahaya mentari menembus kaca patri yang terpampang di undakan besar, menghasilkan bayang-bayang elok yang memukau indera penglihatan saya. Kaca patri yang berhasil membuat saya terbuai sesaat itu merupakan salah satu adikarya dari seorang seniman terpandang Belanda bernama J.L. Schouten. Ia membuat kaca-kaca itu di studionya di Delft dan sempat dipamerkan di Belanda sebelum dibawa ke sini. Dari pengamatan saya, di kaca patri itu terdapat dua sosok perempuan berparas ayu yang tak lain ialah dua dewi pagan, yakni Dewi Fortuna, dewi keberuntungan dan Dewi Venus, dewi cinta. Roda kereta bersayap, lambang perusahaan N.I.S.M, tampak diapit oleh dua sosok perempuan tadi. Hiasan kaca patri itu memang bukan sekedar pernik pemanis saja, namun di dalamnya tersirat sebuah doa, doa agar transportasi kereta selalu dilimpahkan dengan keberuntungan dan cinta. Berbagai lambang kota-kota penting diimbuhkan pula pada kaca patri itu, mulai dari lambang kota Batavia dan Semarang sebagai kota bandar utama di Pulau Jawa, dan lambang kota Amsterdam, ibukota Kerajaan Belanda yang kesejahteraanya didukung oleh dua kota tadi (Handinoto, 2012 ; 46-48).
Kaca patri buatan J.L. Schouten.
Salah satu ruas kaca patri yang menggambarkan Dewi Fortuna (kanan) dan Dewi Venus (kiri).
Dalam pencapaian teknik yang luar biasa, banyaknya pintu yang ada di gedung itu memungkinkan udara mengalir alami, menghasilkan ruangan yang terasa sejuk bagi siapapun yang ada di dalamnya. Dari situlah Lawangsewu mendapat namanya. Terjawab sudah pertanyaan saya di awal. Beranda keliling yang melindungi Lawangsewu dari tampias air hujan dan panas matahari merupakan hasil kejeniusan Klinkhamer yang lain dalam membuat  sebuah bangunan yang akrab dengan iklim tropis. Mengejutkannya, ia sendiri ternyata belum pernah samasekali mengunjungi wilayah tropis. Gambaran wilayah tropis hanya ia dapatkan lewat berbagai pustaka dan tutur orang yang pernah tinggal di Hindia-Belanda. Di kemudian hari, konsep itu menjadi acuan para arsitek-arsitek Belanda dalam mendesain bangunan-bangunan kolonial modern di kemudian hari. Wujud penyesuaian lainnya ialah cerat kecil yang berfungsi sebagai saluran air ketika bagian beranda tergenang air akibat hujan atau saat dibersihkan. Bentuk cerat yang terbuat dari batu granit itu mirip dengan cerat pada batu yoni (Handinoto, 2010; 28-29).
Cerat di bagian bawah untuk membuang air.
Cerat sisi atas.
Pintu-pintu yang banyak ini menjadi asal mula gedung ini dijuluki Lawangsewu.


Beranda gedung A.
Puas menikmati keindahan gedung A, saya kemudian beringsut ke gedung B yang ada di samping timur gedung A. Ia dihubungkan dengan gedung A lewat sebuah jembatan yang juga berfungsi sebagai doorlop. Gedung B sendiri baru dibangun tahun 1916, tatkala jumlah pegawai N.I.S.M kian bertambah. Secara konsep, ia masih serupa dengan gedung A, namun dari segi teknologi rancang bangunnya, ia sudah menggunakan teknologi mutakhir di zamannya. Inilah gedung pertama di Hindia-Belanda yang menggunakan beton bertulang. Belajar dari pengalaman pendirian gedung A, gedung B menggunakan material lokal yang lebih murah. Gedung B ini dulunya merupakan ruang kerja para pegawai dari golongan bumiputra.
Tampak luar Gedung B.
Pintu penghubung antar ruang yang terdapat di gedung B. Seandainya semua pintu yang ada di Lawangsewu ditutup, butuh berapa lama kira-kira untuk membukanya satu persatu ? Silahkan anda coba sendiri :-)
Di dalam ruang yang lengang itu, saya membayangkan berdiri bersama para pegawai-pegawai bumiputra, dengan raut wajah yang terlihat lembut, namun di hatinya tersimpan bara perlawanan terhadap ketidakadilan yang menimpa mereka. Ya, para pegawai itu dulu tergabung dalam Verenigin van Spoor-en Tramegpersoneel, serikat buruh yang dibentuk di Semarang pada tahun 1908 oleh Sneevliet, aktivis sosialis yang terkenal akan sikap radikalnya. Akar gerakan radikal dan progersif tumbuh dari serikat itu dan ia menjadi awal gerakan sosial modern di Hindia-Belanda. Pada 9 Mei 1923, hanya berselang beberapa hari setelah Hari Buruh, mereka menggelar aksi pemogokan buruh kereta api secara serempak di Jawa yang dikomando oleh Semaoen. Saya kembali membayangkan, dinding dan pintu di ruangan itu merekam segala keluh kesah para pegawai pribumi. Entah tentang perkara kesenjangan upah atau perlakuan semena-mena pegawai Belanda terhadap pegawai pribumi, walau tradisi kerja di N.I.S.M sedikit egaliter daripada perusahaan sejenis.
Lorong menuju ruang bawah tanah. Bagian ini sekarang tidak dapat diakses untuk umum.
Di dalam gedung B, terdapat pintu masuk yang mengarah ke ruang bawah tanah yang kini tergenang air. Inilah ruang bawah tanah yang kerap dibicarakan orang sebagai ruang paling angker di Lawangsewu. Semula, ia digunakan sebagai penyerap udara panas bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terasa panas. Namun pada pendudukan Jepang, selain dipakai sebagai kantor Riyukyu Sokyoku (Jawatan Transportasi) bagian ruang bawah tanah Lawangsewu oleh militer Jepang diubah menjadi penjara yang cukup menyiksa bagi para tahanan. Dengan luas satu petak hanya sebesar 2x3 meter, petak sempit itu diisi sebanyak 5-6 orang dewasa dalam posisi jongkok. Ada juga penjara berdiri yang ditambahkan belakangan oleh Jepang, dimana para tahanan dimasukan ke dalam sel yang sangat sempit sehingga para tahanan tidak dapat bergerak sama sekali. Tentu saja keadaan di dalam sel itu sangat menyiksa. Banyak tahanan yang tak kuasa menahan siksaan itu sehingga dan berakhir meregang nyawa di situ. Jasad mereka kemudian hanya dibuang begitu saja lewat lubang pembuangan.
Para pegawai  Riyukyu Sokyoku yang sedang berpose di depan pintu masuk utama Lawangsewu. Para pegawai  Riyukyu Sokyoku terdiri dari bekas pegawai N.I.S.M  yang sebagian besar adalah orang Belanda dan perwira militer Jepang. Di bawah foto tampak keterangan para perwira militer Jepang yang ikut berfoto 
(sumber : Semarang, Beeld van een Staad). 
Lewat sebuah tangga, saya mendaki ke bagian loteng Lawangsewu, tempat dahulu arsip-arisp disimpan. Walaupun sekedar loteng, ukurannya hampir menyamai sebuah aula. Kelelawar dan burung walet masih terlihat, namun tampaknya mereka tak lagi bersarang di situ.  Karena ruangan ini berada langsung di bawah atap, maka rancangan atap sudah dibuat sedemikan rupa sehingga kedap air sekaligus tetap dingin. Agar ruangan tetap sejuk dan kering, maka solusinya adalah membuat atap ganda dan di puncak atap ditambahkan menara ventilasi.
Bagian loteng Lawangsewu.
Ruangan di dalam gedung B.
Terpisah dari gedung utama dengan tujuan untuk menjaga higenitas, ada bangunan tambahan berupa lavatory atau kamar kecil tempat para pegawai membuang hajat mereka. Hal yang membuat saya takjub adalah di dalam situ saya masih bisa mendapati artefak-artefak toilet masa lampau berupa wastafel porselen dari pabrik Van der Berg and Co, Amsterdam dan urinoir merk “ The Adamant “ yang capnya masih menempel di situ.
Lavatory gedung A yang dihubungkan dengan bangunan utama lewat sebuah jembatan.
Bagian dalam lavatory.

Wastafel dan uronoir lama.
Di belakang gedung A dan gedung B, terdapat sebuah bangunan kecil yang disebut sebagai gedung C. Inilah gedung yang berdiri pertama kali di area Lawangsewu, gedung yang dirancang oleh Ir. P. de Rieu itu. Di gedung itulah karcis-karcis kereta api dicetak. Deru suara mesin pencetak di dalamnya, kini tergantikan oleh heningnya suasana museum. Berbagai material bangunan yang ditemukan saat restorasi Lawangsewu seperti genting yang berasal dari Belanda dipamerkan di museum itu. Sebuah lift kuna pengangkut barang yang masih secara manual masih berada di tempatnya.
Bangunan Gedung C yang didirikan oleh Ir. P. de Rieu. Dahulu menjadi tempat percetakan karcis kereta.

Rak tempat untuk menyandarkan sepeda yang sudah ada sejak zaman Belanda. Keberadaan rak ini menunjukan bahwa N.I.S.M  memperhatikan kebutuhan karyawannya yang bersepeda dari rumah ke kantor. Bangunan baru di masa sekarang belum tentu memiliki fasilitas seperti ini sehingga banyak orang zaman sekarang enggan bersepeda.
Sebelum saya undur diri, saya menyempatkan diri melihat sebuah monumen kecil yang ada di halaman depan Lawangsewu. Monumen itu didirikan untuk mengenang pegawai DKARI ( Djawatan Kereta Api Rebulik Indonesia ) yang  tewas pada Pertempuran Lima Hari yang bekecamuk pada tanggal 15 – 19 Oktober 1945, ketika Lawangsewu menjadi kantor DKARI. Kala itu, para pemuda-pemuda Semarang bentrok dengan Korps Polisi Militer Jepang, Kido Butai. Banyak jiwa yang berguguran. Beberapa di antara ialah para pegawai DKARI yang tergabung dalam AMKA ( Angkatan Muda Kereta Api ) yang guugur di sekitar Lawangsewu. Mereka yang gugur antara lain Noersam, Salamoen, Roesman, R.M. Soetardjo, dan R.M. Moenardi. Situasi masih belum aman, sehingga jenazah mereka untuk sementara dimakamkan di halaman gedung Lawangsewu. Kelima jenazah tadi baru dipindah ke TMP Giri Tunggal pada tahun 1973. Tatkala militer Belanda kembali menduduki Indonesia, Lawangsewu digunakan sebagai markas militer Belanda. Lalu setelah Belanda pergi, Lawangsewu menjadi markas Kodam IV Diponegoro.
Tugu Muda pada tahun 1953. Tugu ini dibangun pada tahun 1950 dan diresmikan oleh presiden Ir.Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Tujuan pembangunan tugu ini yakni sebagai monumen peringatan pertempuran Lima Hari di Semarang. Di belakang tampak gedung Lawangsewu yang menjadi salah satu saksi bisu pertempuran Lima Hari di Semarang.
Setelah sekian lama dipakai oleh militer, Lawangsewu akhirnya kembali diserahkan kepada perusahaan kereta api pada tahun 1994. Namun ketika ia diserahkan, kondisi Lawangsewu benar-benar kosong dan nyaris terlantar, membuatnya terlihat sebagai sebuah gedung angker yang menjulang di tengah keramaian kota. Isu-isu berbau mistis pun bermunculan. Mulai dari penampakan hantu yang kerap bergentayangan di sepanjang lorong gelapnya hingga ada orang yang meninggal seusai uji nyali di gedung itu. Karena keangkerannya itulah, Lawangsewu dinobatkan sebagai salah satu dari 10 gedung terangker di Asia. Saking kuatnya, bahkan restorasi besar-besaran di tahun 2009 pun nampaknya belum memudarkan kesan mistis Lawangsewu. Entah sampai kapan citra mistis menyelubungi gedung yang sejatinya merupakan adikarya arsitektur kolonial itu.

Referensi
Handinoto. 2010. Arsitektur Kolonial dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Penerbit Graha Ilmu.

--------------. 2012. " Pemberian Ciri Lokal Pada Arsitektur Kolonial Lewat Ornamen pada Awal Abad ke 20 ", dalam Jurnal Arsiktekur Dimensi Vol.39, No.1 Juli 2012.

Klinkahmer & Ouendag. 1916. " Het Administratiegebouw der Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij te Semarang " dalam Nederlandsch-Indie Oud en Nieuw vol 1, Issue 1.

Unit Conservation & Heritage. 2013. Lawangsewu in Watercolor. Bandung : PT. Kereta Api Indonesia.

Sabtu, 01 April 2017

Melacak Jejak-Jejak Kolonial di Kota Temanggung

Kota Temanggung mungkin tak memiliki bangunan kolonial yang begitu mencolok atau monumental, seperti Semarang dengan Lawangsewu-nya atau Ambarawa dengan benteng dan stasiun-nya. Namun bukan berarti Temanggung tak memiliki jejak masa kolonial. Nah, pada edisi Jejak Kolonial kali ini, saya akan mencoba untuk melacak  sebagian jejak kolonial yang tertinggal di Temanggung. Apa saja itu dan seperti apa sejarahnya ?
Rumah tua di Kranggan, Temanggung.
Sebelum masuk kota Temanggung, tepatnya di Kranggan, saya sudah disambut oleh sebuah bangunan lawas yang berdiri di samping kanan jalan jika berjalan dari arah Secang. Bangunan itu cukup sedap dipandang mata walau bagian depannya sedikit bersalin rupa; sebagian beranda depannya ditutup. Sayang, bangunan itu tak bisa menceritakan banyak mengenai dirinya.
Persebaran bangunan kolonial di Temanggung. Keterangan :
1. Kawasan alun-alun.
2. Rumah controleur.
3. Rumah keluarga Lie.
4. Rumah beheeder.
5. Stasiun Temanggung.
6. Bekas Kerkhof Temanggung,
7.Klenteng Kong Ling Bio.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20an menit, tibalah saya di kota Temanngung. Secara geografis, kota Temanggung terletak di dataran Kedu yang merupakan dataran tinggi dan sangat subur, maka tidak heran jika budaya agraris mewarna sejarah perkembangan kota ini. Sejarah Temanggung sendiri dapat dilacak jauh sampai masa Hindu-Budha yang dibuktikan dengan keberadaan prasasti-prasasti kuno yang banyak ditemukan di sekitar Temanggu, misalnya Prasasti Wanua Tengah III, Gondosuli. Mantyasih, Tlahap, dan lain-lain. Pada masa kekuasaan Sultan Agung, Temanggung merupakan sentral penghasil beras yang menghidupo para pejabat kerajaan dan kerabat raja. Catatan sejarah kemudian menunjukan, pada masa kolonial Temanggung secara administratif berada di bawah Karesdienan Kedu. Pada waktu itu, Kabupaten Temanggung masih bernama Kabupaten Menoreh dengan hoofdplaats atau kedudukan pemerintahan di Parakan. 
Raden Adipati Arya Holland Soemodilogo, bupati ketiga Temanggung. Gelar adipati biasanya diberikan oleh pemerintah kolonial, tujuannya agar kekuasaan pemeritnah kolonial di tingkat daerah masih mendapat kepercayaan dari masyarakat. Gelar-gelar seperti adipati, pangeran, atau arya pada masa kolonial hanyalah gelar kosong belaka karena wewenang dan kekuasaan  telah dibatasi oleh pemerintah kolonial.
Bekas kediaman bupati Soemodilogi di Kranggan, Temanggung.
Raden Tumenggung Ario Soemodilogo, putra seorang patih dari Semarang diangkat sebagai bupati pertama Temanggung. Lazimnya bupati-bupati di Jawa saat itu yang tunduk dibawah perjanjian Belanda, bersama dengan bupati Magelang, Raden Danuningrat dan Bupati Brengkelan ( kini Purworejo ) Raden Reksodiwiryo, ia diperintahkan oleh Belanda untuk menghadapi perlawanan pasukan Diponegoro. Raden Tumenggung Ario Soemodilogo akhirnya tewas dalam ppeerangan sehingga posisinya digantikan oleh Raden Djojonegoro. Di masa Raden Djojonegoro inilah, ibukota Kabupaten Menoreh yang semula berada di Parakan dipindah ke kota Temanggung yang sekarang. Mengapa dipindah ? Dalam kepercayaan Jawa, ibukota yang sudah pernah diduduki musuh seperti Parakan dianggap sudah tidak “suci” lagi sehingga tidak layaklah tempat itu menjadi kedudukan pemerintahan. Selain alasan kepercayaan, pemindahan ini juga dikarenakan ada suatu distrik di wilayah Kabupaten Magelang yang bernama distrik Menoreh, sehingga nama Kabupaten Menoreh sudah tidak relevan lagi. Akhirnya, berdasarkan besluit yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 10 November 1834, Kabupaten Menoreh resmi berganti nama menjadi Kabupaten Temanggung dengan kedudukan pemerintahan di kota Temanggung yang sekarang (Muhammad 2013; 30 ).
Para pejabat Belanda dan Jawa yang sedang berpose di depan bangunan yang saat ini menjadi SMK Dr. Soetomo ( foto sekarang ada di bawah ). Duduk paling belakang, tampak C.J. Biynen, Raden Tumenggung Holland Soemodirdjo, G.L.H. Kruijsboom, G.G.L. Freiburg. Foto diambil tahun 1888 (sumber : media-kitlv.nl).
Temanggung sungguh beruntung karena dikaruniai dengan tanah vulkanis yang subur, sehingga hasil bumi di sini sangatlah melimpah. Hasil bumi yang menggerakan roda perekenomian Temanggung tidak lain adalah tembakau, si daun emas. Perkebunan tembakau di Temanggun sendiri cukup istimewa. Dalam daftar perkebunan Tembakau di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan yang dibuat oleh makelar tembakau J.H. Lieftinck & Zoon, tiada nama perkebunan tembakau besar di Temanggung. Tampaknya orang-orang Belanda di Temanggung kurang tertarik dengan bisnis tembakau karena tembakau butuh pemeliharaan rumit dan harganya juga tidak begitu menguntungkan (Muhammad 2013; 39). Hanya ada dua orang Belanda saja yang tertarik merintis usaha tembakau, yakni W. Hoofner dan D. Seeuws dan itupun termasuk perkebunan kecil (Anonim, 1914;145).


Peta kawasan alun-alun Temanggung pada masa kolonial. Di sekitar Aloon-aloon (alun-alun), tampak bangunan penting seperti Mesigit (Masjid Agung Temanggung), Gevanngenis (Penjara), Regent (Rumah tinggal bupati), dan Assistent Residen (saat ini menjadi Kantor DPRD Temanggung).  (Sumber : maps.library.leiden.edu)
Melihat struktur tata kotanya, Temanggung seperti halnya kota-kota bentukan pemerintah kolonial memiliki tata kota Indis, yakni tata kota yang memadukan tata kota tradisional dan Belanda (Eropa). Hal ini dapat dibuktikan dari keberadaan alun-alun sebagai pusat kota tradisional dan bangunan-bangunan penting milik pemerintah kolonial dan pribumi (Soekiman, 2014;155). Misalnya masjid yang dalam struktur kota tradisional Jawa pasti ditaruh di sebelah barat alun-alun, kemudian kediaman bupati di sebelah utara alun-alun dengan muka menghadap ke alun-alun sekaligus kediaman asisten residen yang berada di selatan. Di sebelah barat alun-alun juga terdapat bangunan penting lainnya berupa gevangenis atau penjara. Dari keempat bangunan penting yang berdiri di sekitar alun-alun Temanggung tadi, sudah tiada lagi yang asli karena banyak yang sudah dibumihanguskan pada masa Perang Kemerdekaan. Karena kota Temanggung tidak memiliki fungsi perdagangan yang kuat, maka Temanggung berakhir menjadi kota administrasi pemerintah daerah yang berada di bawah Karesidenan Kedu. Sebab itu tidak terlalu banyak bangunan penting yang ditemukan di sini selain bangunan yang ada di alun-alun. Bangunan-bangunan penting lain yang dahulu pernah berdiri misalnya bank, sekolah, kantor pos, dan hotel yang terletak di sepanjang jalan utama Temanggung-Magelang atau Stasiun Temanggung yang diletakan agak ke pinggir kota supaya tidak terlalu banyak persimpangan jalan dan rel di tengah kota. 
Bangunan SDN 3 Temanggug, bekas rumah tinggal pejabat controleur atau kontrolir. 
Barangkali jejak pemerintah kolonial yang masih asli di Temanggung adalah bekas rumah controleur yang kini sudah menjadi Sekolah Dasar. Dalam jajaran Binnelandsch Bestuur atau korps pegawai negeri kolonial, pemerintahan dipecah menjadi dua, yakni Europesche Bestuur atau pemerintahan Eropa yang dipimpin asisten residen dan Inlandsch Bestuur atau pribumi yang dipimpin bupati. Para bupati kemudian dipasangkan oleh seorang controleur “ sebagai penasihat saudara tua yang baik bagi pemerintahan lokal” (Cribb dan Kahin, 2012; 75). Sistem ini secara tidak langsung merupakan upaya pemerintah kolonial untuk memerintah orang pribumi tanpa perlu membuang jabatan bupati yang sudah ada sejak era pra-kolonial. Pemerintah kolonial rupanya paham bahwa memaksakan ide-ide mereka secara langsung terhadap orang pribumi bukanlah tindakan yang tepat karena akan menimbulkan pertentangan dengan alasan mereka adalah bangsa asing seperti yang dituangkan sarjana seni asal Amerika Van Dyke dalam buku In Java and the Neighbouring Islands of Dutch East Indies. Sarjana yang mengunjungi Jawa pada tahun 1929 itupun lantas memuji Hindia-Belanda sebagai koloni terbaik di dunia dan bahkan menyarankan Amerika Serikat dan Inggris belajar dari pemerintah Hindia-Belanda yang menurutnya lebih liberal dan toleran (Rush, 2013; 212).
Rumah keluarga Lie yang masih terawat dengan baik.
Salah satu bangunan peninggalan masa kolonial di Temanggung yang mungkin paling layak untuk dilihat adalah sebuah rumah Indis di Jalan Pangeran Diponegoro. Kemolekan Rumah Indis Empire itu membuat saya terkesima. Rumah itu dahulunya dibangun pada 1870 oleh seorang juragan tembakau kaya bernama Lie Tiauw Ing. Uniknya, walau rumah ini dibangun dan ditempati oleh orang Tionghoa, namun sentuhan seni bangunnya justru justru lebih mirip rumah orang Belanda yang khas pada abad ke-19, dengan langit-langit tinggi, lantai dari marmer atau ubin, beranda yang luas, pilar neoklasik yang anggun, dan paviliun yang terpisah untuk memasak, mandi, dan semacamnya. Sepanjang abad ke-19, banyak orang-orang Belanda yang membangun rumah dengan gaya seperti ini dan kemudian diikuti oleh orang-orang Tionghoa kaya untuk mengangkat gengsi mereka karena sekaya apapun mereka, status sosial mereka saat itu masih berada di bawah orang Eropa. Walau rumah ini bergaya Eropa, di dalam rumah ini ada satu perabot yang tidak dapat ditemukan di rumah orang Eropa manapun, yakni meja altar leluhur  yang letaknya persis di tengah ruang tamu. Perabot satu ini merupakan perabot paling berharga bagi keluarga Tionghoa dan pasti diletakan di tempat yang banyak terlihat orang. Praktik penghormatan kepada arwah leluhur merupakan praktik paling dasar dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa. Penyembahan ini merupakan aspek ritual dari sistem keluarga tradisional Tionghoa yang menekankan pentingnya menjaga ikatan dengan leluhur. Oleh sebab itulah untuk mengekalkan kehadiran leluhur di dalam keluarga sebagai satu unit dasar, maka setiap rumah tinggal orang Tionghoa yang masih menjaga kepercayaanya pasti ada  meja altar arwah leluhur. Di atas meja altar leluhur biasanya ada foto arwah yang disembahyangi, lampu minyak dan lilin, tempat menaruh sinci, dan ada meja lebih kecil yang dapat ditarik keluar untuk meletakan sesaji di hari-hari tertentu (Pratiwo,2010; 19).
Klenteng Kong Ling Bio.
Selain rumah tempat tinggal Lie Tiauw Ing, komunitas Tionghoa di Temanggung meninggalkan jejak lain berupa kelenteng Kong Ling Bio. Usia kelenteng itu relative muda, baru didirikan pada tahun 1890 oleh pemimpin komunitas Tionghoa di Temanggung saat itu, Lieutnant Lie Ban Seng. Dana pembangunan kelenteng berasal dari 240 dermawan dari berbagai kota seperti Kranggan, Secang, Muntilan, Magelang, Parakan, dan lain-lain. Tanah kelenteng ini berdiri juga merupakan hibah dari seorang dermawan lain bernama Oei Loo. Selanjutnya pada tahun 1906, kelenteng ini dipugar oleh Lie Tiauw Ing ( Kota Tua Magelang, 28 Februari 2016 ). Bangunan kelenteng ini tidak terlalu besar, yakni terdiri dari pendopo depan dan ruang utama tempat menaruh toapekong. Dewa utama klenteng ini adalah Hok Tek Cing Sin atau Dewa Bumi, dewa yang banyak dipuja oleh masyarakat agraris seperti masyarakat Temanggung dan menariknya, masyarakat yang bersembahyang di klenteng ini tidak hanya orang Tionghoa saja, tapi juga oleh orang non-Tionghoa.
Bangunan SMK Dr. Sutomo dengan pilar-pilarnya yang menjadi ciri khas dari arsitektur Indisch Empire Style.
Rekam jejak bangunan kolonial lain di Temanggung dapat dijumpai pada bangunan SMK Dr.Sutomo di jalan Dr. Sutomo. Sentuhan seni bangun Indisch Empire Style terlihat dari kolom-kolom kokoh bergaya Yunani di beranda depan bangunan.
Rumah tua di dekat perempatan Kodim 0706 Temanggung. Bangunan ini mulai terpengaruh oleh aristektur yang lebih modern.
Bangunan tua di Jalan P. Diponegoro yang juga bergaya Indisch Empire Stye. Tidak seperti rumah keluarga Lie yang pilarnya terbuat dari batu, pilar pada rumah ini menggunakan tiang besi, improvisasi dari masa yang lebih muda. Tampak beranda depan yang  dipasangi kerai. Pada masa kolonial, banyak rumah seperti ini yang bagian beranda depan dipasangi kerai. Tujuannya untuk mengurangi sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan.
Bangunan tua di sebelah timur Pasar Temanggung. Saat ini digunakan sebagai toko obat.
Bangunan rumah beheeder atau kepala pandhuis ( pegadaian ). Transaksi gadai sendiri berjalan di sebuah bangunan yang terdapat di belakang banguann rumah beheeder.
Bangunan kolonial lain di Temanggung yang masih utuh adalah bekas rumah beheeder atau kepala kantor pegadaian di jalan Ahmad Yani. Di masa kolonial, pegadaian dikenal dengan nama pandhuis. Kantor-kantor pandhuis tersebut dikelola oleh pemerintah kolonial dan banyak masyarakat yang memilih menggadaikan barang ke rumah gadai pemerintah ketimbang ke rumah gadai milik perorangan karena prosedurnya lebih sederhana, bunga yang rendah, serta taksirannya jelas.
Stasiun Temanggung.
Foto lama dari stasiun Temanggung. Foto ini diambil di sebelah barat stasiun. Tampak bagian overkapping atau atap emplasemen yang saat ini tidak ditemukan lagi keberadaannya (sumber : colonialarchitecture.eu).
Di penghujung penjelajahan di Temanggung, saya sempatkan untuk melihat Stasiun Temanggung. Stasiun tersebut adalah bukti kehadiran transportasi kereta api yang pernah menjangkau Temanggung pada masa silam. Munculnya jalur kereta di Temanggung bermula saat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM) telah mendapat izin dari pemerintah kolonial pada tahun 1900 untuk meneruskan proyek pembangunan jalur kereta Magelang - Ambarawa yang selesai pada tahun 1905. Pada lintasan tersebut, NISM ternyata memiliki rencana untuk membuat jalur kereta ke arah Parakan dengan mengambil percabangan dari Secang. Proses pembangunan tersebut dimulai pada bulan Mei 1905 dan diselesaikan secara bertahap ruas demi ruas. Pertama dari ruas Secang-Kranggan yang dibuka pada bulan Maret tahun 1906. Selanjutnya pada bulan Oktober di tahun yang sama, ruas Kranggan - Temanggung tuntas dibangun. Akhirnya keseluruhan jalur Secang-Parakan resmi beropeasi pada 1 Juli 1907. Stasiun Temanggung resmi beroperasi pada tanggal 3 Januari 1907, beberapa bulan sesudah jalur kereta Kranggan-Temanggung selesai dibuat (Buurman, 1907; 987). Stasiun yang menjadi titik pemberhentian kereta di Temanggung tersebut dahulu memiliki kanopi peron dari kayu yang sekarang sudah dicopot dari tempatnya dan tidak diketahui nasibnya. Adapun pembagian ruang stasiunnya meliputi ruang kantor pegawai, ruang komunikasi telegraf, dan ruang tunggu. Selain itu, stasiun Temanggung dulu juga dilengkapi dengan gudang dan rumah tinggal pegawai. Sayangnya sejak tahun 1973, mesin kereta sudah tidak menderu lagi di Temanggung. Beruntung bangunan stasiun yang tertinggal masih dipertahankan kendati sudah terjadi beberapa perubahan.
Jembatan kereta Kali Kuwas. Artefak sejarah kereta api Temanggung.
Tidak jauh di utara kota Temanggung, terdapat sebuah sungai bernama Kali Kuwas. Di atas sungai tersebut, terbentang jembatan kereta yang menjadi bagian jalur kereta Secang-Parakan. NISM setidaknya membangun empat jembatan besar pada jalur tersebut, yakni di Kali Progo, Kali Kuas, Kali Murung, dan Kali Galeh. Jembatan tersebut masih tampak kokoh meskipun usianya sudah lebih dari seabad. Di atas jembatan tersebut, masih terdapat jalur rel yang memiliki lebar 1067 mm. Lebar tersebut lebih kecil dibandingkan lebar jalur NISM lain yang memakai lebar standar 1435 mm. Khusus untuk jalur Yogyakarta-Ambarawa dan termasuk juga Secang-Parakan, NISM memilih untuk menggunakan acuan angkutan trem, bukannya angkutan kereta api standar. Pertimbangannya adalah karena jalur tersebut berupa medan pegunungan yang sulit dilintasi oleh kereta api standar. Trem yang berpostur lebih kecil dinilai lebih cocok untuk medan tersebut. Meskipun sekilas menggunakan lokomotif uap, perbedaan trem dengan kereta api biasa terletak pada kecepatannya yang lebih rendah serta memiliki banyak tempat pemberhentian. Selain itu, angkutan trem yang jalannya lebih pelan memungkinkan untuk membuat jalur yang dekat dengan jalan raya yang sudah tersedia. Oleh karena itu, menjadi suatu pemandangan umum saat angkutan trem berjalan beriringan dengan kendaraan darat lainnya. Namun untuk jalur Magelang-Ambarawa, tampaknya jalur tersebut sulit untuk diseuaikan jalan raya yang ada karena jalan tersebut memiliki kontur yang lebih terjal sehingga trem akan kesulitan melewati jalan tersebut. Jalur trem mustahil dipasang di sana apalagi setelah diketahui bahwa biaya pembangunan jalur trem yang mengikuti jalan raya sepadan dengan membuka jalur sendiri. Oleh karena itulah NISM membangun jalur baru yang lebih berliku tapi setidaknya kereta atau trem lebih mudah melintasinya.
Gapura kerkhof Temanggung.
Dalam perjalanan pulang, masih di dalam kota Temanngung, saya bersua dengan sebuah gapura yang tak lain adalah gapura kerkhof Temanggung. Sayangnya pada tahun 1980an, makam-makam Belanda di kerkhof ini digusur untuk dijadikan terminal. Tak diketahui dengan pasti nasib jasad yang dimakamkan di situ apakah sudah dipindah atau jangan-jangan mereka masih terbaring tenang di bawah warung-warung dan tempat parkir…

Bangunan-bangunan kuno yang masih terisa di Temanggung itu dalam konteks masa kini, boleh dikatakan adalah bentuk dari infrastuktur memori, yakni infrastruktur yang dibentuk untuk menjalin hubungan antara masa lalu dan masa kini. Gelombang modernitas menyebabkan mulai putusnya ikatan masyarakat terhadap memori atau ingatan kotanya. Pelestarian sebagai bentuk dari pembangunan infrastruktur memori adalah upaya untuk mengatasi krisis budaya tersebut dengan menyajikan tontonan dari masa lalu di hadapan masyarakat melalui bangunan-bangunan tuanya atau ruang-ruang lain yang dapat merangsang kesadaran masyarakat pada masa lalu. Namun, keberhasilan dari pembangunan infrastuktur ingatan bergantung pada sejauh mana obyek-obyek tersebut mampu meninggalkan pengalaman atau ingatan yang berkesan pada masyarakat.

Referensi

Buurman, D.C. 1907. "De lijn Setjang—Parakan der Nederlandsen-Indische Spoorweg-Maatschappij." dalam De Ingenieur No. 52 (978-987)

Handinoto. 2010.  Arsitektur dan kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Muhammad, Fariz Rizqi. 2013. "Tata Kota Temanggung dan Faktor-Faktor Pendukungnya Tahun 1834-1942". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada.

Pratiwo. 2010. Arsitetktur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis, dari zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Kota Tua Magelang, Pamflet "Djeladjah Petjinan #4 : Temanggoeng", 28 Februari 2016.