Sabtu, 09 Maret 2019

Kerkhof Peneleh, Nekropolis di Tengah Metropolis Surabaya

Kala bertandang ke pemakaman Belanda atau kerkhof yang berada di tengah padatnya kampung Peneleh, Surabaya itu, tiada sambutan dari gerbang megah nan mencolok seperti lumrahnya beber. Namun bila melangkah ke dalam, siapapun yang masuk ke sini akan terpukau dengan pesona hamparan makam bergaya Eropanya yang masih berdiri di tempatnya.

Seperti kerkhof di kota lain, Kerkhof Peneleh dahulu memiliki pintu gerbang bergaya klasik. Namun gerbang ini hancur sewaktu perang dan tidak pernah dibangun lagi (sumber : media-kitlv.nl).

Berisikan 3.821 makam, kerkhof yang terletak di tengah sesaknya perkampungan Peneleh ini boleh jadi adalah salah satu pemakaman Eropa terluas di Indonesia yang masih tersisa. Banyaknya jumlah makam di dalamnya membuat kerkhof ini tampak seperti sebuah nekropolis, kota kematian. Sulit dibayangkan bagaimana nekropolis seluas 4,5 ha ini mampu sintas di tengah ramainya metropolitan Surabaya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kerkhof di kota-kota besar di Indonesia semakin ke sini makin tergerus oleh pesatnya perkembangan ruang, tersisihkan hingga hanya menyisakan sebagian kecil makam atau bahkan lenyap sama sekali. Andaipun masih utuh, banyak makam-makam di dalamnya sudah sulit dikenali lagi. Namun tampaknya kerkhof Peneleh terhindar dari takdir getir tersebut. 

Peta kota Surabaya tahun 1866. Tampak permukiman Eropa (1)  dan letak kerkhof Peneleh (2).

Hari ini, pemakaman tersebut hampir menapaki usia dua abad. Kisah dari kerkhof Peneleh bermula pada tahun 1830an, saat pemakaman Eropa yang ada di Krembangan hampir terisi penuh. Sementara tanah sekitar yang berupa rawa membuat pemakaman tersebut sukar diperluas. Dewan gereja selaku pihak pengurus pemakaman meminta kepada pemerintah kolonial untuk disediakan lahan pemakaman baru di tempat lain. Pada mulanya, pemerintah kolonial menawarkan daerah Kupang sebagai lahan pemakaman pengganti di Krembangan. Setelah itu, ketua dewan Gereja dan insinyur Tromp menjajaki calon lokasi yang ditawarkan. Mereka mendapati jika jarak tempat tersebut terlampau jauh dengan permukiman. Akibat pembatalan tersebut, pemakaman Krembangan yang sudah kelebihan daya tampung akhirnya tidak menerima penguburan baru. Selagi pemakaman untuk golongan masyarakat Eropa belum tersedia, maka jenazah mereka dimakamkan pada suatu pemakaman pribumi yang ada di Semarung  (Von Faber,1932; 314-315).

Berbagai sudut kerkhof Peneleh.

Batalnya pemilihan daerah Kupang sebagai lokasi pemakaman Eropa membuat pemerintah berpaling ke tempat lain. Belajar dari pengalaman sebelumnya, pemerintah kolonial kali ini lebih perhitungan dalam memilih lahan yang akan dijadikan sebagai pemakaman golongan Eropa. Beberapa pertimbangan yang telah ditentukan antara lain tanahnya tidak boleh tanah rawa, tidak mudah tergenang air dan tanahnya mudah digali. Letaknya sedapat mungkin tidak menghalangi perluasan kota dan hendaknya lingkungan sekitarnya masih belum berpenghuni sehingga pemakaman dapat diperluas bila dibutuhkan. Tempatnya juga harus mudah dijangkau supaya rombongan pengantar jenazah tidak menempuh perjalanan terlalu lama. Berdasarkan pertimbangan di atas, pilihan tempat pemakaman Eropa baru akhirnya jatuh pada sebidang lahan di pinggiran kampung Peneleh yang saat itu masih berupa hutan bambu. Pembersihan, pengurugan tanah, dan pembuatan saluran drainase beserta jalan menuju pemakaman dimulai pada 24 Februari 1846. Untuk proyek tersebut, pemerintah kolonial menganggarkan dana sebesar 10.000 gulden. Insinyur Geil dari kesatuan zeni militer menjadi pengawas untuk proyek yang dituntaskan sampai bulan Agustus 1847 itu. Pemakaman Peneleh dibuka untuk umum terhitung sejak 1 Desember 1847 (Von Faber,1932; 314-315).

Ketika seseorang meninggal, mereka umumnya akan cenderung membuat makam yang lebih besar dari lainnya dan kadang menciptakan kesan sombong.

Menapaki bagian dalam pemakaman, pengunjung akan disuguhkan dengan tatanan kerkhof Peneleh yang tampak begitu rapi. Setiap makam diberi jarak teratur dan letaknya ditata sedemikian rupa hingga jika dilihat dari atas pemakaman tersebut memiliki pola yang kotak-kotak yang rapi. Keteraturan tatanan tersebut menunjukan sejarah panjang seni tata lahan pemakaman ala Eropa yang sampai ke Nusantara melalui kolonisasi. Pada tahun 1910, pemerintah kota Surabaya menyusun “De Verordening op het beheer der Europeesche begraafplaatsen” sebagai peraturan hukum dalam pengelolaan pemakaman Eropa di Surabaya. Dalam peraturan tersebut, penduduk asing yang disetarakan dengan golongan Eropa seperti orang Jepang atau orang Tionghoa dan pribumi yang beragama Kristen, diperbolehkan untuk dimakamkan di pemakaman Belanda Peneleh (Faber G. v., 1931: 190).

Makam-makam bercungkup.

Penguburan di sini dilakukan dalam dua cara, yakni penguburan Grafkelders, dan Aarden Graven. Pada penguburan Grafkelders, sudah disediakan suatu relung berdinding. Peti mati ditaruh ke dalamnya dan setelah itu relung tersebut ditutup. Sementara untuk jenis Aarden Graven, jenazah dimasukan ke liang lahat dan dipendam dengan tanah. Beberapa makam terbuat dari besi untuk mencegah penjarah mengambil benda berharga yang turut dikubur atau lebih gila lagi, mencuri jenazah untuk dijadikan obyek penelitian anatomi atau mencari kesaktian. Sulit diterima rasanya bila ada orang lain yang mengusik ketenangan dari jasad sanak keluarga mereka.



Batu nisan berbahasa Inggris, Armenian, dan Perancis.
Selain bahasa Belanda, beberapa makam juga menggunakan bahasa Inggris, Jerman, Perancis. Armenia, Ibrani, dan Jepang. Perbedaan jenis bahasa tersebut seakan menjadi bukti metropolitannya Surabaya di masa lalu. Dari awal keberadaanya, Surabaya yang terletak di pesisir dan dilalui jalur pelayaran menjadi kota persinggahan pedagang asing dari berbagai tempat seperti pedagang Tionghoa, Arab, dan Eropa. Lambat laun, Surabaya tumbuh menjadi kota pusat aktivitas dan menjadi tujuan banyak orang dari berbagai wilayah dan beragam latar budaya. Perjumpaan lintas budaya ini kemudian membangun karakter masyarakat Surabaya sebagai masyarakat yang terbuka dan mampu menerima hal-hal baru sehingga terbentuklah citra Surabaya sebagai kota majemuk dan harmonis. Majemuknya kehidupan di Surabaya akhirnya mendorong terjadinya persentuhan antar dua budaya yang berbeda seperti kebudayaan Belanda dengan Jawa yang melahirkan budaya Indisch. Karya dari budaya Indisch yang terjumpai di pemakaman Belanda Peneleh adalah cungkup-cungkup yang menudungi sejumlah makam. Tradisi pembuatan cungkup makam dilakukan oleh orang-orang Jawa untuk melindungi makam supaya tidak rusak tergerus oleh cuaca. Tradisi itu lalu ditiru oleh orang Eropa untuk makam-makam mereka.
Orang-orang Barat kadang menyertakan simbol-simbol yang terkait dengan kematian, misalnya guci berselimut seperti yang tampak pada makam paling kanan yang merupakan simbol dari jiwa yang sudah beristirahat.
Kadangkala sebauah batu nisan memiliki lebih dari satu simbol seperti makam Amalie van Hassen ini. Jam pasir bersayap (bagian atas), menunjukan bahwa waktu yang sudah dilaluinya sudah pergi. Obor dalam posisi biasa dan terbalik menunjukan bahwa ada kehidupan, ada pula kematian.
Pilar patah menjadi simbol putusnya kehidupan seseorang.
Makam keluarga Ch. M. Haccoue. Di bagian bawah tampak simbol jangkar yang mnyimbolkan harapan atau petunjuk bahwa dulunya ia adalah seorang pelaut.
Simbol ular yang menggigit ekor atau ouroboros yang berarti hidup selalu ada awal dan akhir.
Beginilah keadaan kerkhof Peneleh sekarang. Makam-makam mulai ambruk, atap cungkup sudah koyak, batu nisan mulai aus dan pecah. Sedikit pohon perindang yang tumbuh di pemakaman yang sangat luas ini. Hal itu tampaknya disengaja supaya pohon tidak menandingi kesan monumental sebuah makam.  Makam memang tidak sekedar pengabar bahwa di sana ada kuburan seseorang. Ia adalah penanda kenangan, perkabungan, rasa kehilangan dan sekaligus media pengingat kematian. Kenangan itu diukir dalam wujud nama insan yang telah meninggalkan rasa kehilangan bagi setiap orang yang mencintainya. Kematian itu tak hanya sekedar dalam nama yang dipahat pada kerasnya batu. Oleh sang pembuat makam, kematian diperingatkan dalam wujud monumen estetik, ukir-ukiran penyerta yang sarat dengan pesan akan kematian, dan patung-patung yang menambah rasa hormat kepada jiwa-jiwa yang kini terbaring dalam ketenangan dan kedamaian abadi di kota kematian ini. Sebagai contoh adalah ukiran jam pasir yang memiliki pesan tersirat bahwa segala yang hidup akan kembali mati dan segala yang telah mati akan dihidupkan kembali. Simbol lain adalah ukiran obor yang dibuat terbalik sebagai lambang dari kehidupan yang telah padam. Suatu simbol terkadang bisa bermakna ganda. Misalnya adalah simbol jangkar yang selain menunjukan bahwa yang dimakamkan di sana adalah pelaut, kadang bisa juga menjadi simbol harapan agar arwah dapat berlabuh dengan selamat  di dermaga akhirat.
Gubernur Jenderal Pieter Hendrik Merkus (sumber : common.wikimedia).
Makam Gubernur Jenderal Pieter Hendrik Merkus, satu-satunya gubernur jenderal Hindia-Belanda yang dimakamkan di luar Batavia.
Nisan sesungguhnya merupakan media perantara manusia dengan mereka yang telah meninggalkan dunia ini. Dari nisan lah seseorang yang telah tiada dapat menunjukan jatidirinya sewaktu masih hidup. Di salah satu sudut pemakaman, terdapat sebuah makam yang tidak terlalu megah, namun dari kata-kata yang terukir pada batu nisan yang kusam, kita dapat mengetahui bahwa ia dulunya adalah seorang yang berkuasa di masanya. Batu nisan tersebut tak lain adalah batu nisan dari Pieter Hendrik Merkus, gubernur jenderal Hindia-Belanda ke 47. Tentang Merkus, tidak banyak yang diketahui dari pria kelahiran Naarden 18 Maret 1787 ini. Disebutkan dalam Encyclopedia Nederlandsch Indie, sesudah merampungkan belajarnya di Leiden, Merkus diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 1815 dan setahun kemudian ditugaskan ke Hindia-Belanda. Karir Merkus di sini boleh dikatakan cemerlang. Pada tahun 1817, Merkus naik jabatan menjadi wakil sekretaris jenderal. Lalu pada tahun 1822 ditunjuk menjadi Gubernur Maluku. Saat duduk di kursi Dewan Hindia, Merkus membuat suatu keputusan bersejarah bahwa kekuasaan wilayah Banyumas, Bagelen, Madiun, dan Kediri harus diserahkan kepada pemerintah kolonial sebagai pampasan Perang Jawa. Merkus menentang rencana Sistem Tanam Paksa yang digulirkan oleh Johannes van den Bosch sehingga Merkus dicopot dari dari kursi Dewan Hindia pada 1836. Merkus kembali menduduki kursi Dewan Hindia tiga tahun setelahnya untuk menangani Perang Paderi. Merkus diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada tahun 1842. Itulah karir tertinggi Merkus sekaligus karir terakhirnya. Baru dua tahun lamanya menjabat, Merkus meninggal dunia di Huize Simpang (kini menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur) pada 2 Agustus 1844 (Graaff & Stibbe, 1918; 713-714). Ketika Merkus meninggal, pemakaman Belanda Peneleh belum dibuka sehingga jasad Merkus dikebumikan di area Benteng Prins Hendrik. Pada akhir abad ke-19, benteng tersebut dibongkar untuk keperluan pembangunan trem dan makam-makam di sana dipindahkan ke Peneleh termasuk makam Merkus ini. 
Frans Jacob Huber Bayer (sumber : Oud Soerabaia)
Simbol jangka dan siku seperti yang terlihat pada makam F.J.H Bayer ini umumnya merujuk bahwa yang dimakamkan di sini dahulunya adalah anggota Freemason. F.J.H Bayer sendiri dikenal sebagai industriawan yang memrakarsai industri baja di Surabaya.
Bentuk sebuah makam seringkali mengikuti keadaan ekonomi seseorang saat dia hidup. Untuk orang kaya, mereka berlomba mendirikan makam megah dengan hiasan menonjol di kaveling yang dibeli untuk dirinya. Sementara untuk orang yang kurang kaya, mereka cenderung membangun makam yang kecil atau kadang menyewa pada kaveling orang lain. Namun tidak semuanya  demikian. Sebagai contoh adalah makam Frans Jacob Hubert Bayer, raja baja Surabaya tempo dulu. Untuk orang sekelas Bayer, makamnya tampak berlainan dengan makam orang kaya pada umumnya. Makamnya hanya berupa lempengan baja mendatar. Kesederhanaan makamnya seakan berbanding terbalik dengan perannya yang luar biasa sebagai industriawan pembuka jalan industri baja di Hindia-Belanda. Kisah Bayer di Surabaya dimulai sebagai mekanik di pabrik Lands-Contructie Winkel, bengkel baja milik pemerintah. Bayer kemudian keluar dan dengan pengetahuannya ia mendirikan pabrik baja sendiri bernama Stoomfabriek van F.J.H Bayer yang kemudian berubah nama menjadi De Phoenix. Pada tahun 1844, pabriknya diterpa krisis keuangan sehingga Bayer menjual pabriknya kepada pemerintah dengan harga 100.000 gulden. Tidak patah semangat, Bayer mendirikan pabrik baja lagi dengan nama "Volharding". Untuk memperdalam pengetahuan soal industri baja, pada 1863 Bayer menyambangi negara-negara industri Eropa seperti Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, dan Belgia. Safari Bayer tersebut tidak sia-sia. Pabrik baja "Volhrading" menuai kesuksesan dan semakin maju setelah bea masuk untuk bijih besi mentah dipangkas. Kehadiran pabrik baja "Volharding" dapat mengurangi ketergantungan pasokan baja dari Eropa sehingga mendorong pertumbuhan industri-industri lain, terutama industri gula yang selama ini bergantung dari pabrikan Eropa (Knight, 2014; 52-55). Pabrik baja tersebut juga dilirik oleh para pelaku industri dari Jepang yang saat itu sedang menapaki Revolusi Industri. Atas jasanya yang mendorong kemajuan industri baja di Hindia-Belanda, Bayer dianugerahi medali Ridder den Orde van Nederland Leeuw. Karena alasan kesehatan, Bayer mengundurkan diri dari kegiatan pabrik dan meninggal pada tahun 1879.
Makam Pastor Martinus van den Elsen. Batu nisan sang pastor dibuat oleh pematung Kuyper dan dibawa langsung dari kota Maastricht, Belanda. Pastor Elsen memainkan peran penting dalam penyebaran agama Katolik di kota Surabaya.
Makam suster Mere Lousie, suster dari ordo Ursulin yang pertama tiba di Surabaya. Ia dimakamkan dengan suster-suster Ursulin yang lain.
Makam Wakil Presiden Raad Van Indie, Pierre Jan Baptiste Perez. Meninggal 16 Maret 1859 saat perjalanan ke Bajo. Tubuhnya dimakamkan pada tanggal 29 Maret 1859. Dalam prosesi kematiannya, 6 kuda berkulit hitam menarik kereta jenazahnya dan diiringi dengan dua batalyon infanteri, satu divisi kavaleri, dan satuan artileri.
Makam D.F.W. Pietermaat, Residen Surabaya dari tahun 1839 hingga 1848.
Makam Johannes Emde, salah satu tokoh penyebar agama Kristen di Jawa Timur.

Sebenarnya masih ada beberapa tokoh penting yang dimakamkan di sini. Misalnya adalah makam tokoh penyebar agama seperti makam pastor Martinus van den Elsen, tokoh yang membawa Ordo Jesuit ke Surabaya dan makam Johannes Emde, penyebar agama Kristen di Karesidenan Surabaya. Kemudian ada tokoh pengusaha seperti Frans Jacob Hubert Bayer, raja besi Surabaya yang memperkenalkan industri besi ke Jawa sehingga harga besi menjadi murah. Lalu ada makam tokoh emansipasi perempuan sebelum Kartini, Rosalia Josepha. Berikutnya fotografer kondang Ouhannes Kurkdijan yang berkat fotonya orang-orang di masa kini dapat mengetahui suasana Surabaya tempo dulu. Sungguh masih tersimpan beribu kisah dari nekropolis ini namun semuanya tidak bisa diceritakan satu persatu di tulisan kecil ini. 
Osuarium kerkhof Peneleh yang oleh masyarakat setempat dinamai omah balung.
Di kerkhof ini, terdapat sebuah reruntuh bangunan yang kini hanya menyisakan dinding dan sebuah kolom. Masyarakat setempat menjuluki banguan tersebut dengan nama omah balung, merujuk pada banyaknya tulang-tulang yang ditaruh di rongga bawah bangunan tersebut. Keberadaan bangunan tersebut menunjukan masalah ketersediaan lahan pemakaman yang terjadi di Surabaya pada akhir abad ke 19. Di luar bayangan pemerintah kolonial, meningkatnya arus urbanisasi Surabaya rupanya telah mengubah lahan di sekitar kerkhof yang semula masih berupa kebun bambu menjadi perkampungan padat. Upaya perluasan pemakaman pun terhalang oleh perkampungan yang mengepung pemakaman. Sementara itu, dengan bertambahnya makam baru, maka lahan kosong yang tersedia mulai berkurang dan belum ada pemakaman Belanda lainnya di Surabaya selain di Peneleh saat itu (Soerabiasch Handelsblad, 13 Mei 1899). Ketika kebutuhan pemakaman kian mendesak, beberapa kuburan lama dibongkar dan sisa kerangkanya diambil untuk kuburan baru. Kerangka manusia kemudian ditempatkan di dalam ossuarium yang kemudian disebut omab balung. Masalah keterbatasan lahan makam juga diatasi dengan menerapkan sistem kubur huurkelder, dimana ruang kubur milik seseorang dapat disewakan untuk makam orang lain sehingga dalam satu kubur ada lebih dari satu jenazah. Meskipun demikian, upaya tersebut dirasakan belum mampu mengurai akar masalah yang ada ada sehingga pemerintah kolonial membuka pemakaman baru di Kembang Kuning pada tahun 1916 (Von Faber, 1934 ; 186-187). Pemakaman Belanda Peneleh tidak menerima jenazah lagi pada tahun 1960an.

Sekian kisah dari kerkhof Peneleh, sebuah nekropolis yang sedang berjuang untuk bertahan di tengah pesatnya pertumbuhan metropolis Surabaya. Keheningan kerkhof Peneleh kontras dengan hingar-bingar kehidupan metropolitan Surabaya di luar tembok makam. Pada setiap makam yang terpancang, terkandung kisah lika-liku kehidupan manusia masa silam, petuah bijak tentang kematian, cita-rasa seni, latar belakang sosial-budaya, serta perasaan terhadap keabadian yang diungkapkan dalam tulisan dan karya pahatan. Sudah semestinya bila kerkhof ini untuk dilestarikan sebagai pembelajaran untuk manusia masa kini yang tampaknya sudah tidak terlalu peduli dengan kematian. Namun yang terjadi justru adalah aksi vandalisme oleh orang tak bertanggung jawab. Beberapa makam yang masih utuhpun setiap harinya semakin rusak.  Jalan untuk melestarikan nekropolis ini memang masih berliku. 

Referensi
Knight, G. R. (2014). Sugar, Steam, and Steel ; The Industrial Project in Colonial Java 1830-1885. Adelaide: University of Adelaide Press.

Mahendrani, Cahya Ratna. 2013. “Nisan Makam Belanda Peneleh Surabaya (Kajian Bentuk dan Ragam Hias)”. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Muller, Stephen. 2915. “ Colonial experiences of death, burial and memorialisation in West Terrace Cemetery,Adelaide: applying a phenomenological approach to cultural landscapes in historical archaeology ” dalam Australasian Historical Archaeology, Vol. 33 (2015), hlm 15-26

Graaff, S. D., & Stibbe, D. 1918. Encyclopaedie van Nederlandsch Indie. 'S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Von Faber, G.H. 1932. Oud Soerabia ; De Geschiedenis van Indies Eerste Koopstad van de Oudste Tijden tot de Instelling van Den Gemeenteraad. Surabaya : Gementee Soerabaia.
Von Faber, G.H. 1932. Nieuw Soerabia ; De Geschiedenis van Indies Voornaamste Koopstad in De Eerste Kwareeuw Sedert Hare Instelling 1906-1931. Surabaya ; N.V. Boekhandel en Drukkerij H.van Ingen.

Worpole, K. (2003). Last Landscape ; The Architecture of The Cemetery in The West. Reaktion Books: London.

Soerabiasch Handelsblad, 13 Mei 1899.

Jumat, 08 Februari 2019

Gedung De Javasche Bank Kota, Sebuah Persembahan dari Bank Sentral Tertua di Asia.

Dari sekian banyaknya gedung tua di kawasan Kota Tua Jakarta, salah satu yang cukup memukau adalah gedung De Javaache Bank, bank sentral pertama di Hindia Belanda cikal dari Bank Indonesia sekarang. Kekokohan gedung ini mencerminkan kemakmuran De Javasche Bank sebagai penopang keuangan utama di tanah jajahan. Jejak Kolonial kali ini akan menceritakan dua kisah, yakni kisah tentang De Javasche Bank sebagai bank sentral Hindia-Belanda dan gedung De Javasche Bank Batavia yang menjadi kantor terbesar mereka.

Kenampakan kantor lama De Javasche Bank yang berada di sisi kanan sesudah jembatan. Bangunan tersebut dahulunya adalah rumah sakit dalam kota yang dibangun pada masa VOC (sumber : media-kitlv.nl).
Bila ditarik mundur ke belakang, sejarah dari De Javasche Bank jauh lebih panjang dibanding gedung kantornya yang saat ini menjadi Museum Bank Indonesia. Lembaran De Javasche Bank dimulai dari permulaan abad 19, dimana pemerintah kolonial saat itu sedang kesulitan dalam mengatur kebijakan moneter dan fiskal. Bersamaan dengan itu, pemerintah kolonial masih harus mendatangkan pasokan emas dan perak dari negeri Belanda, padahal kedua alat bayar tersebut sangat diperlukan untuk menutup defisit neraca perdagangan. Memang pada saat itu, perdagangan di Hindia-Belanda sedikit lesu setelah bubarnya VOC. Karena itulah berbagai kalangan baik di negeri Belanda maupun di tanah koloni mendesak pemerintah untuk membentuk suatu bank sirkulasi. Raja Belanda, Willem I akhirnya menuruti desakan tersebut dengan memberi kuasa kepada komisaris jenderal Du Bus de Gisignies untuk merundingkan pembentukan bank di Jawa. Untuk mempersiapkan modal bank sirkulasi, saham sebanyak 8.000 lembar dengan harga perlembarnya 500 gulden dilempar ke pasaran. Penjualan tidak berjalan mulus ; hanya 25 persen saham yang berhasil terjual, namun setidaknya angka penjualan dirasa sudah cukup untuk membuka dan menjalankan bank sirkulasi sehingga 24 Januari 1828, De Javasche Bank resmi didirikan (Kusuma, 2014 ; 11-14).
Gambar rancangan gedung baru De Javasche Bank 
(sumber : Ned.Indie Huis Oud en Nieuw).


Denah lantai dua
(sumber : Ned.Indie Huis Oud en Nieuw).
Walau sudah resmi berdiri, kegiatan De Javasche Bank belum sepenuhnya berjalan karena perangkat personalia dan kantor kerja belum dipersiapkan. Untuk perangkat personalia, ketika proses penjualan saham tengah berlangsung, sebenarnya sudah ada pilihan siapa yang akan menjadi pucuk tertinggi De Javasche Bank. Komisaris Jenderal Du Bus memilih ketua kantor pengadilan ngeri Semarang, C. De Haan sebagai presiden De Javasche Bank dan J.C. Smulders sebagai kepala sekretaris. Berikutnya, kursi direktur diduduki oleh tiga orang yang berasal dari kalangan usahawan, yakni O.M. Roberts, Ten Brink, dan A.J.L Ram. Mulanya ada keberatan dari ketiga direktur tersebut terkait dengan aturan kerja. Pertama adalah masalah gaji. Gaji sebesar 18.000 gulden per tahun rupanya dirasa lebih sedikit dibanding di tempat kerja asal. Setelah dinegosiasi, mereka diperbolehkan untuk merangkap jabatan. Kedua adalah terkait dengan jam kerja. Berdasarkan aturan, salah satu direktur setiap harinya harus berkantor dari pukul 10 pagi hingga 1 siang. Bagi ketiga direktur, hal tersebut mustahil dilakukan karena mereka masih ada kesibukan sebagai pemimpin perusahaan dagang. Keberatan tersebut ditanggapi dengan pemotongan jam kerja yang semula tiga jam menjadi satu jam. Sesudah urusan personalia dibereskan, De Javasche Bank lalu mencari gedung yang akan dipakai sebagai tempat kerja. 27 Maret 1828, De Javasche Bank mendapatkan gedung bekas rumah sakit dari zaman VOC, Binnen Hospitaal, sebagai kantor. Semenjak 8 April 1828, dimulailah kiprah De Javasche Bank sebagai bank sirkulasi di Hindia-Belanda (Kusuma, 2014;17).
Proses pembangunan gedung De Javasche Bank 
(sumber : Ned.Indie Huis Oud en Nieuw).
Ketika baru berdiri, De Javasche Bank adalah bank swasta pertama di Hindia-Belanda. Peran De Javasche Bank saat itu belum bisa dikatakan sebagai bank sentral. Walau sudah mendapat hak khusus untuk mencetak dan mengedarkan uang perak, namun seringkali uang perak tersebut tidak kembali ke bank. Hal itu dikarenakan dunia usaha di Hindia-Belanda cenderung membelanjakan uangnya di dalam negeri. Selain itu, muncul perselisihan antara De Javasche Bank dengan pemerintah kolonial. Perselisihan ini timbul karena De Javasche Bank sendiri bukan murni badan usaha milik negara, melainkan perusahaan swasta yang berada di bawah kendali pemerintah. Karena itulah De Javasche Bank cenderung mendahulukan kepentingan para pengusaha dibanding kepentingan pemerintah. Seiring waktu terus mengalir, De Jaavasche Bank kian berkembang pesat. Kendati namanya De Javasche Bank; Bank Jawa, namun operasionalnya tak sebatas di Pulau Jawa saja. Semenjak tahun 1864, De Javasche Bank sudah melebarkan sayapnya hingga kota-kota di luar Pulau Jawa seperti Padang, Kutaraja, Balikpapan, dan Makassar.
Upacara peletakan batu pertama gedung baru De Javasche Bank 
(sumber : Ned.Indie Huis Oud en Nieuw).
Semakin berjaya De Javasche Bank, semakin berkembang pula kegiatan di kantor. Gedung lama bekas rumah sakit dari zaman kompeni mulai terasa kurang memadai. Oleh karena itulah pada paruh pertama abad 20, direksi De Javasche Bank berencana untuk membangun gedung kantor baru. Penggarapan gedung baru tersebut dipercayakan kepada Architects Bureau Ed. Cuypers en Hulswit. Biro arsitek ini baru dibentuk  tahun 1908 oleh duet arsitek asal Belanda, M.J. Hulswit dan E.H.G.H. Cuypers. Keduanya adalah arsitek profesional yang menimba ilmu arsitektur di perguruan tinggi dan orang-orang seperti mereka di Hindia-Belanda masih jarang. Dari sini dapat dilihat bahwa De Javaasche tak ingin asal-asalan dalam mendirikan gedung kantor baru mereka karena hal itu berkaitan pula dengan citra perusahaan, sehingga De Javasche Bank berani membayar mahal untuk jasa arsitek profesional. Pembangunan gedung baru De Javasche Bank diawali dengan upacara peletakan batu pertama pada 3 Oktober 1910. “Untuk itu kami menaruh kepercayaan kepada arsitek Cuypers dan Hulswit. Dan kami berharap bahwa bangunan ini akan menjadi maha karya yang dapat dibanggakan para arsitek bersangkutan”, pesan presiden De Javasche Bank saat itu, M.G. Vissering sewaktu memberi sambutan kepada arsitek Cuypers dan Hulswit. Batu pertama diletakan oleh putra M.G. Vissering, Simon Eyland Vessering, yang saat masih berusia delapan tahun (Kusuma, 2014;35).
Proses pembuatan pondasi gedung
(sumber : Ned.Indie Huis Oud en Nieuw).
Rencananya, keseluruhan gedung lama De Javasche Bank yang berbentuk dasar seperti huruf 'U' akan diganti dengan gedung baru. Pembangunan gedung dilakukan secara bertahap dan bagian gedung lama yang dirombak terlebih dahulu adalah sisi timur gedung yang menghadap  Binnennieuwpoortstraat (kini Jl. Pintu Besar Utara). Untuk tampak luar gedung De Javasche Bank, Cuypers dan Hulswit mengusung ekletisme, yakni suatu gerakan arsitektur yang berupaya memadukan berbagai unsur arsitektur yang berbeda. Pada gedung De Javasche Bank, gaya klasik-modern barat dipadukan dengan sedikit hiasan gaya Jawa Kuno yang membalut capital kolom. Hiasan tersebut buatan pematung Van den Bossche dan Crevels dari Amsterdam. Material bangunan ini didatangkan dari berbagai tempat. Ada yang berasal dari luar negeri seperti genteng yang merupakan buatan pabrik genteng di Amsterdam. Kemudian ada pula yang buatan lokal seperti batu bata yang dipasok dari pabrik bata di Batavia yang terkenal akan mutunya yang di atas rata-rata bata lain. Bahan lokal lainnya adalah sirtu untuk pondasi dan kayu jati untuk rangka atap, pintu, dan kusen jendela (Cuypers & Hulswit, 1913; 4-5). Untuk menambah kesan tinggi pada bangunan, sebuah menara ditambahkan di atap bagian tengah. Proses pembangunan gedung De Javasche Bank memakai teknologi yang sebelumnya tidak pernah diterapkan di Hindia-Belanda pada masa itu. Misalnya adalah mesin pancang yang dipakai untuk memasang tiga ratus tiang pancang. Teknologi baru lain yang jarang dipakai adalah pemakaian teknologi beton bertulang pada ruang khasanah. Bangunan baru De Javasche Bank memiliki dua tingkat, dimana tingkat pertama digunakan untuk khasanah atau ruang penyimpanan emas dan perak yang diberi pagar besi sebagai pengaman. Di bagian ini juga terdapat kamar kecil untuk pegawai. Ruangan untuk kegiatan perbankan sehari-hari seperti ruang pelayanan nasabah, ruang kasir, ruang pembukuan, dan ruang pencetakan nota bank menempati tingkat kedua. Pengunjung dari luar masuk ke dua pintu utama melalui undakan dari bahan granit Beiersch. Sementara itu bangunan lama bekas rumah sakit era kompeni masih disisakan untuk ruang kantor presiden, direksi, dan rapat. Setelah pembangunannya purna, kantor baru tersebut mulai ditempati pada 31 Maret 1913. Pihak De Javasche Bank tampak begitu puas dengan hasil biro arsitekur ini. Kemegahannya sepadan dengan kejayaan De Javasche Bank sebagai bank terbesar di Hindia-Belanda. Architects Bureau Ed. Cuypers en Hulswit berhasil mewujudkan pesan Vissering dan biro ini akhirnya dilibatkan dalam perancangan gedung-gedung kantor De Javasche Bank dikota lainnya (Kusuma, 2014;38).
Penampakan gedung De Javasche Bank sesudah selesai dibangun
(sumber : media-kitlv.nl).
Tahap perombakan berikutnya dilanjutkan pada tahun 1922. Keseluruhan bangunan lama yang ada di sisi utara, barat dan selatan diganti dengan bentuk menyesuaikan dengan bangunan yang dibuat tahun 1910. Menjelang seabad umur De Javaasche Bank, perombakan tersebut akhirnya selesai dan seluruh kegiatan menempati gedung baru. Tahap perombakan De Javasche Bank terakhir dilakukan pada tahun 1935. Kali ini, arsitek yang menangani adalah Thomas Nix yang juga bekerja pada Architects Bureau Ed. Cuypers en Hulswit. Sebelum memulai perombakan, terlebih dahulu Nix melakukan kajian pada bentuk bangunan lama. Dari hasil kajian Nix, bangunan akan diperlebar dan menara depan dihilangkan. Selain itu, pintu utama yang semula ada dua dikurangi menjadi satu. Karena itulah bila diperhatikan, tampilan gedung De Javaache Bank yang sekarang terlihat berbeda dengan gedung yang sering terlihat pada foto-foto lama. Perombakan ini melibatkan pemborong dari Hollandsch Beton Maatschappij (Fermont & Cuypers, 1937; 50).

Tampak depan De Javasche Bank sesudah perombakan tahun 1935  
(sumber : media-kitlv.nl ).

Denah gedung De Javasche Bank sesudah perombakan tahun 1935 (sumber : Locale Techniek 1937 ).
Pendudukan Jepang dari 1942 hingga 1945 merupakan tahun sulit bagi  perbankan di Hindia-Belanda. De Javasche Bank bersama bank-bank asing lain dilikuidasi dan secara resmi dibubarkan pada 20 Oktober 1942. Kegiatan perbankan lalu dijalankan oleh bank-bank milik Jepang yang sempat ditutup oleh pemerintah kolonial sebelum perang pecah. Nanpo Kaihatsu Ginko yang dibentuk pemerintah pendudukan Jepang menggantikan peran De Javasche Bank sebagai bank sirkulasi selama pendudukan. Pegawai De Javasche Bank yang lama masih dipekerjakan kendati jumlah dan gajinya sudah dikurangi. Sementara pegawai De Javasche Bank yang lain ada yang ditawan oleh Jepang, salah satunya adalah Presiden De Javasche Bank Buttingha Witchers. Selama pendudukan Jepang, De Javasche Bank mengalami kerugian sebesar 115 juta gulden. Belum termasuk inventaris kantor yang hilang. Namun kerugian tersebut tidak membuat kegiatan perbankan De Javasche Bank lumpuh sesudah kemerdekaan karena ketika perang mualai memanas, De Javasche Bank bergegas mengungsikan emas-emasnya ke luar negeri dan emas tersebut nilainya naik sesudah perang. De Javasche Bank kembali lagi aktif sesudah kemerdekaan Republik Indonesia. Namun pada saat bersamaan, pemerintah RI juga sudah membentuk bank sirkulasi sendiri bernama Bank Negara Indonesia. Hingga perjanjian KMB pada tahun 1949, De Javasche Bank beroperasi di wilayah yang dikuasai oleh Nederlands Indie Civil Administrator NICA sementara Bank Negara Indonesia beroperasi di wilayah RI. Pada KMB, disepakati bahwa De Javasche Bank masih dipertahankan sebagai bank sirkulasi swasta yang melayani kepentingan pemerintah RI. Nasionaliasi De Javasche Bank pada 15 Desember 1951 dan penggantian namanya menjadi Bank Indonesia pada 1 Juli 1953 menjadi akhir dari lembaran sejarah De Javasche Bank sekaligus menjadi tonggak awal dari Bank Indonesia (Kusuma, 2014; 112).
Wajah gedung De Javasche Bank pada masa sekarang.
Bagian lobi.
Detail hiasan.
Mari menyelami keindahan dari gedung ini. Nuansa hall gedung De Javasche Bank terasa sungguh elegan. Pengunjung museum yang masuk akan dibuat jatuh hati pada pandangan pertama. Lantainya beralaskan ubin PC yang disusun dalam pola geometris dengan kombinasi warna merah, hitam, biru muda, kuning, hitam dan coklat. Ubin-ubin tersebut dipasok dari produsen tegel yang berbeda. Sementara dinding bawah dilapisi dengan keramik cokelat tembaga. Tiang-tiang granit menopang atap hall yang dibuat melengkung. Bentuknya sedikit mengingatkan dengan bentuk atap pada stasiun Jakarta Kota. Bagian hall diapit oleh bagian kas en wissel afdeeling atau ruang kas di sebelah kanan dan bagian effecten afdeeling atau bagian efek di sebelah kiri.
Hiasan kaca patri pada lobi.
Hiasan kaca patri di tangga naik beranda tengah.

Pantulan panil-panil kaca patri yang ada di atas pintu masuk memperelok bagian dalam hall. Selain untuk keindahan, kaca patri ini juga berguna untuk mengurangi pancaran cahaya yang menembus ke dalam mengingat gedung ini menghadap ke timur. Arsitek Hulswit dan Cuypers menghadirkan 314 kaca patri yang semuanya digarap oleh seniman kaca patri tersohor, Jan Schoten di studio Prinsenhof, Delft. Selain kaca patri di gedung De Javasche Bank, buah tangan terampilnya juga menghiasi gedung kantor Nederlandsch Indisch Maatschappij. Saat membawanya dari Amsterdam ke Batavia, pihak pembuat menjaganya dengan sangat hati-hati supaya kaca patri indah nan mahal tidak pecah atau rusak. Untungnya tidak ada kerusakan apapun setibanya di Batavia sehingga kemilau kaca patri tersebut masih terjaga sampai terpasang pada tempatnya. Panil kaca patri pada pintu utama ada 18 panil. Panil yang dibuat pada tahun 1935 ini menuturkan tentang geliat kehidupan pada masa itu. Kaca patri lain di gedung ini yang menarik perhatian adalah kaca patri di rongga tangga tengah. Kaca patri tersebut menampilkan sosok Dewa Hermes, dewa pelindung perdagangan dalam pantheon Yunani kuno (Cuypers & Hulswit, 1913;87).
Ruang kas en wissel-afdeeling.
Beranjak dari hall, pengunjung museum terlebih dahulu diarahkan ke ruang kas en wissel-afdeeling, ruangan dimana dahulu nasabah De Javasche Bank menyetor dan melakukan pembayaran secara tunai. Para nasabah mendapat pelayanan di dalam sebuah bilik yang sengaja dibuat untuk melindungi privasi dan keamanan transaksi. Agar di antara kasir tidak menyeleweng, diterapkan langkah pengamanan berlapis sehingga nasabah harus melalui tahapan pembayaran dan penerimaan setoran pada kasir yang berbeda. Sementara itu, ruang penghitungan dan kerja personel diberi sekat kayu untuk tidak memancing perhatian orang awam. Bagian ini menjadi bukti bahwa dahulu, De Javasche Bank selain sebagai bank sirkulasi juga menjalankan peran sebagai bank komersial. Peran tersebut masih dijalankan setelah De Javasche Bank dinasionaliasi menjadi Bank Indonesia hingga tahun 1968.


Ruang kerja pegawai
(sumber : Ned.Indie Huis Oud en Nieuw).
Sesudah ruang kas en wissel-afdeeling, pengunjung memasuki ruangan yang dulunya adalah ruang arsip. Hingga 1963, Bank Indonesia masih bermarkas di kantor peninggalan De Javasche Bank yang berada kawasan Kota Tua. Karena jauh dari pusat pemerintahan RI, Bank Indonesia membangun gedung kantor baru di Thamrin pada 1963. Setelah BI tidak menempati gedung ini, gedung ini sempat lama tidak dimanfaatkan hingga akhirnya disulap menjadi museum yang resmi dibuka pada 21 Juli 2009. Museum ini merupakan gagasan dari pihak Bank Indonesia untuk memberi pencerahan kepada masyarakat akan sejarah perjalanan bank sirkulasi di Indonesia dari masa kemasa. Pemanfaatan gedung ini sebagai museum juga merupakan langkah Bank Indonesia untuk melestarikan gedung yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya (Tim Penyusun Kompas, 2014 ; 74).
Ruang kerja presiden De Javasche Bank / Gubernur Bank Indonesia.


Ruang pertemuan direksi.
Menempati gedung sisi barat, terdapat ruang kerja presiden dan direksi yang baru dibuat pada tahun 1924. Presiden De Javasche Bank; diangkat oleh Gubernur Jenderal atas persetujuan raja, sehari-harinya bekerja di ruangan yang dindingnya berselimut dengan kayu yang diplitur. Lemari buku, gantungan, jas, meja kerja dan wastafel adalah perabot yang melengkapi ruangan tempat dimana segala kebijakan De Javasche Bank bermula ini. Di sebelah ruang presiden, terdapat ruang direksi yang memiliki interior yang serupa. Jumlah direksi dari tahun ke tahun selalu berubah mengikuti kebijakan. Orang-orang yang akan mengisi jajaran direksi De Javasche Bank ditentukan lewat ‘rapat umum pemegang saham berhak-suara’. Ruang kerja presiden dan direksi terhubung dengan ruang rapat kecil yang digunakan untuk ruang rapat berkala dan penyusunan Laporan Mingguan. Ketiga ruang ini sekarang menjadi ruang diorama kegiatan saat gedung ini dipakai sebagai kantor.
Ruang pertemuan besar atau ruang hijau.
Kaca patri di ruang pertemuan besar.
Jam bandul yang menempel di salah satu sisi dinding ruang pertemuan besar.
Dari sekian ruangang di gedung ini, yang paling menonjol mungkin adalah ruang rapat besar atau Ruang Hijau. Nama Ruang Hijau berasal dari keramik warna hijau yang menutupi dinding ruangan ini. Keramik-keramik tersebut diimpor dari Friesland, Belanda yang didatangkan oleh perusahaan Martin & Co. Bila diamati lebih dekat, motif keramik tersebut memiliki corak yang mirip dengan relief candi-candi kuno Jawa. Ruangan ini semakin diperindah dengan kaca-kaca patri yang menggambarkan ragam jenis sumberdaya alam yang menguntungkan pihak kolonial seperti lada, cengkeh, garam, karet, minyak tanah, timah, kopra, minyak sawit, tembakau, kina, candu, dan gula. Kaca-kaca patri ini seolah menandai kepercayaan diri bangsa Belanda yang berhasil meraih kemakmuran di tanah jajahan. Di salah satu sisi ruangan, tertanam sebuah jam bandul yang merupakan kado persembahan dari bank sentral kerajaan Belanda, Nederlandsch Bank kepada De Javasche Bank atas kiprahnya di tanah jajahan yang sudah menginjak usia seabad.
Beranda tengah.


Prasasti yang dibuat tahun 1922.
Halaman tengah gedung De Javasche Bank.

Sebongkah prasasti dari batu merah keabu-abuan terpajang di bagian beranda tengah. Prasasti ini dipasang pada perombakan tahun 1922. Tulisan pada prasasti ini memakai bahasa Latin dan bunyinya, “ SEDULLA PROPELLIT / COLUMENQUE PECUSQUE / MINISTRAT /ARGENT ARIA / ATQUE COMES “. Bila dialih-bahasakan artinya adalah, “Bank yang aktif mendirikan tiang-tiang dan menjunjung seni hias menjadi pelopor dan pendukung kesenian”. Prasasti ini seakan menyampaikan pesan bahwa di samping menjadi bank sentral, De Javasche Bank  berusaha meneguhkan diri sebagai patron seni di Hindia-Belanda yang ditegaskan lewat arsitektur bangunan kantornya yang selalu tampil menawan. Walau demikian, pada kenyataanya nasib rakyat di tanah jajahan tidak selalu seindah gedung-gedung yang dibangun mereka.
Ruang brankas.
Iklan brankas merk Lips Dordecht, brankas yang digunakan pada kantor De Javasche Bank.

Kini sampailah pada ruang paling penting dari gedung ini yaitu ruang khazanah, tempat penyimpanan emas dan surat-surat berharga. Emas dan uang yang menumpuk di dalam bank sirkulasi ini menjadi sasaran yang menggiurkan bagi para perampok. Benar saja, sebelum gedung kantor yang terlihat sekarang dibangun, De Javasche pernah disatroni peramok pada 22 November 1902. Pelakunya adalah Cornelius Marius Gentis dan Herman Gentis (Kusuma, 2014;51). Kendati perampokan berakhir dengan kegagalan, kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga untuk De Javasche Bank dalam penjagaan pada aset-asetnya. Karena itulah pada pembangunan gedung baru, seluruh ruangan ini diselebungi dengan beton yang cukup tebal. Untuk tambahan pengamanan, ruang khanazah memiliki pintu besi berukuran besar yang dibuat oleh perusahaan Lips. Dordecht.

Demikian kisah dari gedung bank pendahulu bank Indonesia, De Javasche Bank. Keindahan dan kemegahan karya arsitektur bangunan De Javasche Bank merupakan salah satu upaya De Javasche Bank untuk mengabadikan pencapaian kemakmuran di tanah jajahan. Gedung ini memang adalah warisan penjajah namun bagaimanapun juga, ia telah menjadi bagian dari lembaran sejarah bangsa ini. Ucapan Sjafrudin Prawiranegara; Presiden De Javasch Bank dan Gubernur Bank Indonesia Pertama mungkin menjadi penutup yang tepat untuk tulisan ini. “Jika kita dapat menilai dan menghargai bank yang lama sebagaimana mestinya, bukan dengan perasaan benci atau sangsi, melainkan dengan pikiran tenang dan bersih serta bersedia menerima segala apa yang baik dari bank yang lama itu, maka mungkin Bank Indonesia akan menempuh sejarah yang lebih lama dan lebih jaya lagi daripada De Javasche Bank”.

Referensi :
Cuypers & Hulswit. 1913. Het Nederlandsch Indie Huis Oud en Nieuw. Amsterdam : N.V. Drukkerij “De Nieuwe Tijd”.
Fermont-Cuypers. 1937. “De Javasche Bank en Andere Kantorgebouw te Batavia” dalam Locale Techniek No.2  Maret-April 1937. Batavia : N.V. Drukkerij G. Kolff & Co.
Kusuma, Erwien. 2014. Dari De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.
Tim Kreatif Kompas. 2014. Indonesia dalam Infografik. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.