Selasa, 12 Januari 2021

Mengais Sisa Ingatan Kerkhof Tanah Abang di Museum Taman Prasasti

Ada suatu masa dimana Jakarta pernah memiliki suatu permakaman yang berjejal dengan aneka makam bergaya Eropa. Nyaris tergusur seluruhnya, permakaman tersebut kini menyisakan lahan yang kini ditata sebagai museum dalam konsep taman terbuka yang berisikan batu-batu nisan yang akan menuturkan kisahnya masing-masing.

Pintu gerbang kerkhof Tanah Abang/Museum Taman Prasasti.

Balairung bergaya Yunani Kuna kuna menyambut saya sebelum memasuki museum. Balairung yang mengingatkan saya pada bangunan Kuil Yunani ini dibangun pada tahun 1844. Di bawah atap balairung ini, jenasah diturunkan dari kereta atau mobil jenasah dan diikuti dengan upacara pelepasan jenasah. Museum Taman Prasasti dahulunya memang merupakan permakaman untuk orang-orang Eropa di Batavia yang dikenal dengan nama Kerkhof Kebon Jahe Kober atau Kerkhof Tanah Abang. Lama sebelum Kerkhof Tanah Abang dibuka, orang-orang Belanda sebagaimana tradisi leluhurnya di Eropa memakamkan jenasah di halaman gereja. Pada mulanya mereka menguburkan jenasah di halaman kapel di dalam Kastil Batavia yang sempit. Setelah itu, halaman gereja Hollandsche Kerk atau Gereja Belanda menjadi satu-satunya tempat permakaman umum Eropa di Batavia sampai halaman Gereja Portugis Dalam Kota (Binnenkerk) juga dijadikan sebagai tempat penguburan pada 1654. Semenjak orang Belanda mendirikan kota Batavia di atas puing kota Jayakarta pada tahun 1619, banyak di antara dari mereka yang menghadapi mautnya di kota ini. Malaria, kolera, dan disentri adalah nama-nama penyakit yang merenggut nyawa orang-orang Belanda di sini tanpa mengenal pangkat dan kekayaan. Para dokter dan tenaga kesehatan tidak mampu menyembuhkan pasien yang terjangkit serangan wabah penyakit tropis itu. Keadaan rumah sakit yang buruk juga turut andil pada tingginya angka kematian di Batavia. Tidak mengherankan jika Batavia berjuluk “Kuburan Orang-orang Belanda” (Lombard, 82: 2018). Akibat tingginya angka kematian di Batavia, maka permakaman di halaman gereja kian menumpuk sehingga sulit mendapatkan tempat mengubur baru di sana. Sejak tahun 1704, permakaman di Hollandsche Kerk dan Binnenkerk tidak menerima jenasah dari orang berkasta rendah. Sebagai gantinya, mereka dikuburkan di permakaman dekat Buitenkerk atau Gereja Portugis Luar Kota (kini Gereja Sion). Bagi keluarga berada, mereka menguburkan jenasah di halaman rumah peristirahatan luar kota milik mereka. Saat permakaman di Hollandsche Kerk dan Binnenkerk tidak menawarkan cukup ruang lagi untuk penguburan baru, maka permakaman di kedua gereja tersebut dilarang pada tahun 1796. Lahan lahan permakaman yang tersedia lama-kelamaan menyusut sehingga dibukalah permakaman baru di Tanah Abang yang saat itu letaknya jauh dari kota. Penguburan jenasah sudah berlangsung di Tanah Abang sejak tahun 1795, namun tempat tersebut baru resmi dibuka untuk permakaman umum pada 6 Februari 1797 (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen,1922: 342-346). Jenasah pertama yang dimakamkan setelah diresmikannya Tanah Abang sebagai permakaman umum adalah jenasah seorang bayi 7 bulan bernama Carel Pieter yang dikubur pada 3 Januari 1799 (Prins, 1934: 51-53). Kerkhof Tanah Abang menjadi tempat penguburan Gubernur VOC terakhir, P.G. van Overstraten.


Letak kerkhof Tanah Abang atau Kebon Jahe (sumber : Batavia en Omstrekken 1904)

Suasana kerkhof Tanah Abang pada akhir abad 19 (sumber : media-kitlv.nl)

Kerkhof Tanah Abang adalah permakaman umum untuk golongan Eropa. Itu artinya setiap orang yang statusnya setara dengan orang Eropa boleh dimakamkan di sana. Itulah sebabnya di Kerkhof selain ada makam orang Belanda juga ada makam orang Inggris, Amerika Setikat, Yahudi, dll. Semula, pengelolaan Kerkhof Tanah Abang digarap oleh komisi pemerintah lokal yang disebut Kommisie voor Het Beheer Der Begraafplaatsen voor Lijken van Europanen en Met Dezen Gelijkgestelden. Bagi masyarakat Batavia, upacara kematian menjadi ajang pamer kemegahan yang penuh gengsi. Saat upacara duka, semua pelayat mengenakan busana warna hitam bahkan bagian dalam rumah pun juga diselubung dengan kain hitam. Peti mati yang sudah dihias lalu dipikul oleh sahabat, kenalan, atau tukang pikul yang disewa. Selanjutnya keluarga jenasah yang mampu akan mendatangkan beberapa orang yang dibayar untuk berpura-pura meratapi dan menangisi jenasah. Mereka akan menangisi hingga iringan jenasah menjauh dari rumah duka. Setidaknya ada dua pilihan kendaraan yang akan mengantarkan jenasah ke permakaman Tanah Abang. Pertama menggunakan kereta jenasah yang ditarik kuda hitam dan jumlah kudanya menyesuaikan bayaran. Pilihan kedua menggunakan perahu yang akan menyusuri Sungai Ciliwung. Namun jumlah iringan dibatasi hanya 3 perahu saja. Waktu yang dipilih untuk penguburan adalah pada saat hari sudah gelap sehingga tercipta suasana agung lewat temaram obor yang dibawa para pengantar jenasah (Soekiman, 2014:128-129).

Foto oleh Boy Lawson yang memperlihatkan keadaan kerkhof Tanah Abang pada tahun 1970
(sumber : troppenmuseum.nl)

Iklan "Hansen Jacobs" sebagai badan usaha pengelola kerkhof Tanah Abang.

Sejalan dengan Revolusi Industri yang mendorong kapitalisme, maka lahan permakaman yang asalnya merupakan tempat sakral namun tidak produktif diubah menjadi aset yang memberi keuntungan yan berlimpah. Praktik tersebut bermula dari pembukaan permakaman Kensal Green di London, Inggris pada tahun 1833. Permakaman tersebut membuka babak baru dalam sejarah tradisi permakaman karena untuk pertama kalinya permakaman dijalankan untuk kepentingan bisnis. Selain menyediakan lahan, pengurus permakaman akan memberikan pelayanan lebih untuk upacara permakaman berdasarkan tarif yang dipilih konsumen. Tren tersebut rupanya ditiru di Hindia-Belanda seabad kemudian. Pada tahun 1923, dua pengusaha Belanda yakni Hansen dan Jacobson bermaksud mengajukan izin usaha rumah duka kepada pemerintah kota. Alih-alih mendapat izin usah rumah duka, Hansen justru diberikan pacht atau sewa usaha untuk mengelola Kerkhof Tanah Abang yang saat itu dijalankan oleh perusahaan milik pemerintah kota yang bertahun-tahun terus merugi. Di bawah naungan firma “Hansen & Jacobson”, kerkhof Tanah Abang resmi diurus sebagai usaha komersil dan memperoleh keuntungan yang lumayan besar. Perusahaan yang berkantor di sebelah Kerkhof Tanah Abang tersebut menyediakan segala jasa untuk urusan kematian seperti pemberitahuan kabar duka, pembuatan peti mati, pemasangan pusara beserta hiasannya di atas makam. Selain itu, perusahan juga mengatur jalannya upacara permakaman yang seringkali terganggu oleh penduka tak diundang. Permakaman Mgr. E.S. Luypen menjadi permakaman pertama yang diurus oleh “Hansen & Jacobson”. Setiap bulan, Hansen membayar sewa usaha kepada pemerintah kota sebesar 450 gulden. Perjalanan “Hansen & Jacobson” sebagai pachter permakaman berakhir pada tahun 1933 seiring dengan krisis ekonomi yang menerpa Hindia-Belanda saat itu. Sekalipun nilai sewa dari pemerintah sudah diturunkan menjadi 300 gulden perbulan, hal itu belum cukup untuk menutupi kerugian yang ada. Akhirnya “Hansen & Jacobson” harus melepas izin sewanya kepada pemerintah kota (Bataviaasch Nieuwsblad 27 Oktober 1934).

Sebelum melangkah masuk ke dalam, saya mengamati tiga belas batu lempengan nisan berbentuk persegi panjang besar masih menempel berjejer di dinding samping kanan-kiri balairung. Batu-batu nisan tersebut “menuturkan” bahwa mereka merupakan pindahan dari permakaman tua yang dahulu ada di halaman Hollandsche Kerk dan Binnenkerk. Bangunan Holllandche Kerk dibongkar pada tahun 1809 atas perintah Daendels. Sementara gereja Binnenskerk habis terlalap api setahun sebelumnya. Beberapa batu nisan dipindahkan ke Kerkhof Tanah Abang dan sisanya dijual begitu saja. Sejumlah batu nisan yang berhasil ditemukan dibawa kembali ke Kerkhof Tanah Abang (Prins, 1934: 51-53). Pada awal abad ke-20, kerkhof Tanah Abang sebagaimana pendahulunya juga hampir terisi penuh. Pemerintah kota Batavia membuka lahan permakaman umum baru di Petamburan pada tahun 1919 (Eggink, 1930: 157). Meskipun sudah padat, kerkhof Tanah Abang tetap menjadi pilihan tempat penguburan karena makam baru di Petamburan jaraknya dirasa terlalu jauh (Algemeen Handelsblad, 23 Desember 1928). Sesudah kemerdekaan, Kerkhof Tanah Abang masih digunakan sebagai tempat permakaman. Beberapa tokoh yang dimakamkan pada masa itu antara lain aktivis Soe Hok Gie dan filsuf Drijakara. Kerkhof Tanah Abang rupanya tidak kekal. Memasuki tahun 1970an, Kerkhof sudah dalam keadaan terbengkalai. Pada tahun 1975, Kerkhof Tanah Abang ditutup. Pertumbuhan kota Jakarta yang tak terbendung memaksa orang-orang mati harus merelakan tanah tempat mereka bersemayam digusur untuk kepentingan orang-orang hidup. Maka jadilah lahan Kerkhof yang semula mencapai 5,9 ha, kini tinggal 1,3 ha saja karena lahannya dipangkas untuk kantor Walikota Jakarta Pusat. Beberapa keluarga yang saudaranya dimakamkan di Kerkhof Tanah Abang mengambil jenasahnya dan dikubur ke tempat lain (Leeuwarder Courant, 3 Januari 1976). Beruntungnya, tidak seperti kerkhof di tempat lain yang sudah lekang dari pemandangan kota, sepenggal lahan yang tersisa dari Kerkhof Tanah Abang dipertahankan dan beberapa batu nisan yang menonjol dihimpun. Begitulah kisah dari Kerkhof Tanah Abang yang membuka lembaran barunya sebagai Museum Taman Prasasti.

Contoh panji heraldik.

Angka tahun yang tertera menunjukan kelawasan batu nisan yang ada di balairung. Bahannya terbuat dari batu yang dinamakan batu Coromandel. Nama tersebut merujuk pada asal tempat batu tersebut diperoleh. Masing-masing batu nisan memiliki ukiran yang disebut panji heraldik nan gagah yang tergurat pada setiap batu nisan tersebut. Istilah ‘heraldik’ asalnya dari kata Inggris, ‘herald’ yang dapat diartikan sebagai pengumuman atau penanda. Panji heraldik sarat akan informasi tentang identitas individu dan lingkungan budaya tempat mereka tinggal, serta sebagai perangkat pembantu untuk melacak asal-usul keluarga. Panji heraldik sudah muncul di Eropa sejak Abad Pertengahan, sebuah abad yang erat kaitannya dengan sistem feodalisme. Mulanya, panji heraldik hanya diperuntukan bagi keluarga raja dan bangsawan. Penggunaanya kemudian meluas pada kaum non bangsawan seperti rohaniwan gereja, pengrajin, gilda pekerja, dan tarekat keagamaan. Selain sebagai penanda kelompok tertentu, panji heraldic juga menjadi perlambang status sosial. Orang yang berjasa bagi kerajaan dianugerahi dengan panji heraldic dan mereka berhak untuk memasangnya di barang dan aset yang dimiliki. Sebaliknya jika mereka melanggar hukum, maka hak mereka untuk memasang lambang heraldic akan dicabut. Semenjak bergolaknya Revolusi Perancis yang membabat habis banyak bangsawan, penggunaan panji heraldic mulai surut, terutama setelah Sidang Dewan Konstiturante pada 19 Juni 1790 yang mengeluarkan dekrit penghapusan panji heraldik yang dipandang sebagai simbol feodalisme.



Batu-batu nisan berbahan besi di Museum Taman Prasasti.

Batu nisan berbahasa Ibrani dan Belanda.

Batu nisan berbahasa Inggris dan Armenia.

Makam kelurga Van Delden.

Koleks batu nisan di Museum Taman Prasasti.
Membicarkan museum, orang biasanya akan mendapati sebuah gedung yang berisi dengan barang-barang kuno. Namun saat menjejak ke dalam Museum Taman Prasasti, kita justru akan menjumpai sebuah taman terbuka hijau yang di atasnya terpajang aneka prasasti makam. Prasasti makam atau batu nisan tidak hanya berfungsi untuk menunjukan makam seseorang. Lebih dari itu, dari prasasti makam kita untuk memetik pengetahuan tentang proses perubahan budaya yang terjadi dalam ruang dan kurun waktu tertentu (Nurhadi, 2016: 56). Kata demi kata yang tertoreh pada batu nisan adalah kepingan kecil yang akan melengkapi sejarah yang lebih besar. Sayangya, batu-batu nisan yang ada di Museum Taman Prasasti sudah tercerabut dari tempat asalnya sehingga nuansa dari permakaman kuna yang dahulu pernah eksis di Jakarta sudah tidak terasa lagi. Meskipun demikian, setidaknya kerkhof Tanah Abang tidak sepenuhnya terhanyut oleh derasnya arus pembangunan Jakarta.

Membicarkan museum, orang biasanya akan mendapati sebuah gedung yang berisi dengan barang-barang kuno. Namun saat menjejak ke dalam Museum Taman Prasasti, kita justru akan menjumpai sebuah taman terbuka hijau yang di atasnya terpajang aneka prasasti makam. Prasasti makam atau batu nisan tidak hanya berfungsi untuk menunjukan makam seseorang. Lebih dari itu, dari prasasti makam kita untuk memetik pengetahuan tentang proses perubahan budaya yang terjadi dalam ruang dan kurun waktu tertentu (Nurhadi, 2016: 56). Kata demi kata yang tertoreh pada batu nisan adalah kepingan kecil yang akan melengkapi sejarah yang lebih besar. Sayangya, batu-batu nisan yang ada di Museum Taman Prasasti sudah tercerabut dari tempat asalnya sehingga nuansa dari permakaman kuna yang dahulu pernah eksis di Jakarta sudah tidak terasa lagi. Meskipun demikian, setidaknya kerkhof Tanah Abang tidak sepenuhnya terhanyut oleh derasnya arus pembangunan Jakarta.


Makam Olivia Mariamne Raffles.

Sejumlah batu nisan yang dituliskan dalam bahasa Inggris seakan menuturkan bahwa  di Kerkhof Tanah Abang selain orang Belanda juga dimakamkan beberapa orang Inggris. Di antaranya yang paling terkenal adalah makam Olivia Mariamne, istri dari pendiri negara kota Singapura, Thomas Stamford Raffles. Batu tangga makamnya diambil dari Hollandse Kerk. Sejatinya, makam Olivia memiliki atap namun karena sudah rusak maka dibongkar dan kedelapan kolomnya dipangkas. Sebagai bukit kecintaan terhadap istrinya, Raffles juga mendirikan monumen peringatan untuk istrinya di dalam Kebun Raya Bogor dan monumen tersebut sering disangka orang sebagai makam dari istri terkasihnya. Olivia adalah putri dari George Devenish. Kendati lahir di India, ia dibesarkan di Irlandia. Sepanjang hidupnya, Olivia sudah dua kali menikah. Pertama dengan Jacob Cassivelaun Fancourt yang dinikahinya pada tahun 1793. Setelah suami pertamanya meninggal, ia menikah untuk kedua kalinya dengan Thomas Stamford Raffles pada tahun 1805. Enam tahun setelah pernikahan keduanya, suami barunya mendapat mandat sebagai Letnan Gubernur Jawa. Sebagai pendamping hidup penguasa tertinggi Jawa, Olivia hampir tidak pernah ketinggalan dalam berbagai acara resmi. Ia juga turut menggelar perjamuan umum terbuka untuk semua orang dari berbagai jenis kelamin dan etnis, suatu hal yang tidak umum di Jawa karena para perempuan Eropa selama ini tidak pernah bergaul dengan masyarakat setempat. Olivia juga berupaya memperkenalkan sejumlah kebiasaan baru seperti melarang kebiasaan mengunyah pinang bagi perempuan Eropa ; sebagai langkah nyata, Olivia menyingkirkan jambangan tempat membuang bekas ludah pinang dari ruang tamu kediamannya. Ia juga menganjurkan supaya perempuan Eropa di Jawa berbusana layaknya perempuan di negara asalnya untuk kegiatan sehari-hari meskipun hal tersebut sulit dilakukan. Kenyataanya, sepeninggal Olivia perempuan-perempuan Eropa di Jawa masih mengenakan kebaya dan sarung untuk pakaian sehari-hari dibandingkan dengan korset karena pertimbangan iklim (Van de Wall, 1928: 246-247).

Batu nisan J.H.R. Kohler.

Johan Herman Rudolf Kohler.

Namanya adalah Johan Herman Rudolf Kohler, begitulah penuturan dari batu nisan yang keempat sudutnya memiliki ornamen obor terbalik sebagai lambang padamnya kehidupan seseorang. Nama Kohler tidak begitu asing terdengar bagi orang-orang yang membaca sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan militer Belanda. Karir Kohler di militer dimulai sejak usia 14 tahun. Di Belanda, ia diterjunkan untuk menumpas gerakan Revolusi Belgia pada 1833. Sesudah menyandang pangkat Sersan, ia ditempatkan di Hindia-Belanda pada 1839. Medali Militaire Willems Order Kelas IV yang merupakan penghargaan tertinggi dari kerajaan Belanda dianugerahkan kepada Kohler atas keberhasilannya dalam ekspedisi Lampung. Karir militernya terus melesat hingga menjadi mayor jenderal pada 1873. Ia kemudian diterjukan di palagan Perang Aceh pada 1873 dan didaulat sebagai pemimpin ekspedisi. Nahas bagi Kohler karena baru enam hari setelah menginjakan tanah di bumi rencong, tepatnya pada 14 April 1873, Kohler tewas terbunuh di Kutaraja oleh penembak jitu. Detik-detik tewasnya Kohler terjadi saat ia dan pasukannya sedang berada di Masjid Raya untuk mengamati keadaan sekitar. Kohler berdiri di bagian depan sambil tangannya memegang teropong. Tanpa diduga, Panglima Belanda tersebut menerima tembakan misterius yang menembus dadanya. “O God, ik ben getroffen!",”Ya Tuhan, saya terkena” adalah ucapan terakhirnya sebelum ia jatuh tersungkur dan tewas. Jenasahnya lalu diangkut ke Singapura dan kemudian dimakamkan dalam upacara militer di Kerkhof Tanah Abang (Kepper, 1902 : 344). Kematiannya diikuti dengan berakhirnya ekspedisi militer Belanda pertama ke Aceh. Ketika permakaman Tanah Abang tergusur, jenasahnya dipindahkan ke Kedutaan Besar Belanda dan sempat terkatung nasibnya di sana selama 2 tahun. Atas permintaan Gubernur Aceh saat itu, jenasahnya dipindahkan ke Kerkhof Peutjoet Banda Aceh pada 19 Mei 1978. Sebagai sesama korban Perang Aceh, Kerkhof Peutjoet adalah tempat yang sangat pantas untuknya karena di sana jenasahnya bersemayam bersama para serdadu Belanda korban dari keganasan Perang Aceh. Sementara jenasah Kohler dipindahkan ke Aceh, batu nisan dari makamnya tetap ditinggal sebagai koleksi dari Museum Taman Prasasti.

Makam A.V. Michiels

Jenderal Andreas. V. Michiels.

Selain Kohler, ada juga jenderal kenamaan Belanda yang pusaranya masih tersimpan di Museum Taman Prasasti. Pada pusaranya yang lebih sederhana, tertulis “Generaal Majoor A.V. Michiels Balie 23 Mei 1849”. Pusara tersebut menuturkan bahwa sebagaimana Kohler, maut menjemput Andreas Victor Michiels di tengah peperangan. Tempat dan tanggal ia gugur terukir di pusaranya. Sebagai orang militer, Michiels sudah makan asam garam peperangan sejak usia 17 tahun. Tidak tanggung-tanggung, palagan pertamanya adalah pertempuran Waterloo yang dikenal sebagai pertempuran menentukan yang mengakhiri hasrat Napoleon Bonaparte untuk menguasai Eropa. Michiels lalu ditugaskan di Hindia-Belanda pada 1817 dengan penempatan pertamanya di Cirebon. Ia lalu turut berpartisipasi dalam Perang Jawa, kemudian memimpin ekspedisi militer Belanda ke Tapus, Barus, dan Singkil, serta penaklukan Naras, Kottiangan, dan Kesultanan Jambi. Ketika Perang Paderi di Sumatera Barat pecah, Michiels di garis depan memimpin anak buahnya menyerbu Benteng Bonjol, markas utama Tuanku Imam Bonjol. Pada 1837, Michiels diangkat sebagai gubernur “Sumatra Westkust” dan dengan bantuan pemimpin lokal ia memuluskan Belanda dalam pendirian pemerintahan di pedalaman Sumatra Barat. Tahun-tahun Michiels di Sumatera Barat dihabiskan untuk menumpas sejumlah perlawanan rakyat Minang. Sempat pula ia berseteru dengan seorang pemuda kontrolir Natal yang mengkritik kebijakan Michiels. Kontrolir muda itu bernama Eduard Douwes Dekker. Pada tahun 1848, Michiles menerima mandat untuk memimpin ekspedisi militer Belanda ketiga di Bali. Pasukannya berhasil menggapai sejumlah kemenangan dan beberapa kerajaan berhasil ditundukan. Namun rakyat Bali tidak berhenti begitu saja melawan pasukan yang dipimpin Michiels. Saat pasukan Michiles bermalam di dekat kampung Kusamba pada 24 Mei 1849, sejumlah laskar Bali tiba-tiba menyerbu kemah Michiels. Akibat serangan itu, Michiel terluka parah di pahanya dan tewas pada malam itu juga setelah kakinya diamputasi (Herfkens, 1902 : 59).

Batu nisan L.A. Brandes.

DR. Lauren Andries Brandes (1857-1905)

Di Museum ini, ada dua pusara dengan corak hiasan yang berusaha memperlihatkan unsur “Nusantara” dan membeberkan kisah hidup dari dua ahli purbakala ternama dalam belantika keilmuan arkeologi Indonesia, yakni Dr. Laurens Andries Brandes (1857-1905) dan W.F. Stuterheim (1892-1842). Sebelum berkecimpung di dunia arkeologi, Brandes telah mendalami telogi, bahasa Sansekerta, dan sastra klasik Nusantara di Univesitas Leiden. Ia adalah salah satu mahasiswa terbaik bimbingan Professor H.Kern, cendekiawan kajian sastra Nusantara. Gelar doctor ia peroleh pada tahun 1884 dan di tahun yang sama ia merantau ke Hindia-Belanda. Di sini, Brandes bekerja sebagai ahli bahasa untuk pemerintah kolonial. Selama di sini, Brandes mencurahkan waktunya untuk mempelajari prasasti-prasasti kuna baik yang sudah dikumpulkan di museum maupun yang masih terserak di tempat lain. Pada tahun 1901, Brandes ditunjuk sebagai ketua untuk Commisie in Ned. Indie voor oudheidkundige onderzoek op Java en Madoera, komisi bentukan pemerintah kolonial untuk menangani urusan kepurbakalaan di Jawa dan Madura. Komisi tersebut adalah cikal bikal dari Dinas Purbakala dan Pusat Penelitian Arkeologi di Indonesia. Selama menjabat, Brandes rajin menghimpun arca-arca masa kerajaan Mataram Kuna yang kini tersimpan di Museum Nasional. Selain itu, Brandes juga melakukan pemugaran terhadap reruntuhan Candi Pawon di Magelang sehingga candi itu dapat terlihat tampilan utuhnya (Bosch, 1934: 66). Brandes meninggal dunia pada 26 Juni 1905 karena penyakit usus. Kabar kematiannya cukup mengejutkan rekan sejawatnya karena beberapa bulan sebelumnya, mereka sempat berjumpa dengan Brandes yang saat itu tidak menunjukan tanda penyakit apapun. Pada pusara Brandes, terdapat corak hiasan yang mengambil ilham dari corak pada candi-candi kuna di Jawa.

Batu nisan W.F. Stuterheim

W.F. Stutterheim (1892-1942)

Corak yang masih selanggam dengan pusara Brandes juga terdapat pada makam ahli purbakala terkemuka lainnya, Willem Frederik Stutterheim. Lahir di Rotterdam pada 27 September 1892, Stutterheim merintis karirnya di Hindia-Belanda sebagai ahli bahasa di Oudkundige Dienst (jawatan kepurbakalaan) sejak tahun 1925. Pada tahun 1936, Stutterheim akhirnya diangkat sebagai kepala Oudheidkundige Dienst untuk menggantikan F.D.K. Bosch yang kembali ke Belanda. Oudheidkundige Dienst pada periode Sttuterheim mengalami kemajuan pesat. Obyek kajian meluas tidak hanya terbatas pada barang-barang purbakala dari era Hindu-Buddha saja, namun juga dari era pra-sejarah, Islam awal, hingga era VOC. Antara kegiatan penelitian arkeologi murni dan pemugaran juga saling bersinergi begitu baik, dimana kegiatan pemugaran dilandaskan atas kajian ilmiah dan kegiatan pemugaran juga tidak hanya semata menghasilkan rekonstruksi fisik semata namun juga karya ilmiah yang bermanfaat. Stutterheim juga menjalin kerja sama dengan pemerintah lokal dan yayasan pelestarian seperti Yayasan Oud Batavia dan Yayasan Fort Rotterdam, serta Museum Bali Denpasar. Stutterheim termasuk sosok yang rajin sekali menulis. Karya-karya Stutterheim antara lain “Oudheden van Bali", “Het oude rijk van Pedjeng” serta satu artikel ilmiah berjudul “Indian influences in Old-Balinese art" untuk The India Society.  Karya lainnya seperti “Cultuurgeschiedenis van Java in beeld”, “Tjandi Baraboedoer. Naam, vorm en beteekenis”. Syahdan, pendudukan Jepang atas Hindia-Belanda pada tahun 1942 menghentikan kegiatan Oudheidkundige Dienst karena banyak para ahli arkeologi berdarah Belanda yang ditawan atau mengungsi. Beberapa hari sebelum ulang tahun ke-50, Stutterheim meninggal dunia pada September 1942. Saat itu ia mendapat tugas dari pemerintah pendudukan Jepang untuk menyusun laporan dan saran terkait upaya pelestarian cagar budaya yang akan diambil alih oleh pemerintah Jepang. Sepeninggal Stutterheim, pekerjaanya yang belum sempat dituntaskan kemudian dilanjutkan oleh bawahannya yang merupakan orang-orang Indonesia (Kempers, 1949 : 15-22).

Batu nisan A.C. Claessens

Dari makam dua ahli purbakala, penuturan berlanjut pada makam dua petinggi Gereja Katolik di Batavia, yakni Mgr. Adamus Claessens dan Walterus Jacobus Staal. Pertama marilah tengok pusara dari Claessens dengan portrait setengah badan sang Uskup yang terukir begitu nyata di pusaranya. Jika saja portrait tersebut dapat berbicara kepada kita layaknya adegan dalam film “Night at The Museum”, mungkin kita akan mendengar kisah hidupnya dan sekelumit sejarah penyebaran agama Katolik semasa ia hidup di Hindia-Belanda. Mgr. Adamus Claessens mengabdi sebagai imam sejak usia 24 tahun. Pada tahun 1848, gereja menugaskkan Claessens ke Batavia yang saat itu sudah berstatus sebagai vikariat apostolik. Pada 16 Juni 1874, Claessens ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Batavia setelah Vrancken mengundurkan diri sebagai Vikaris Apostolik. Claessens mulai menyandang gelar uskup setelah ditunjuk sebagai Uskup Tituler Traianoupoli (Van der Velden, 1908 : 185). Pada masa Claessens penyebaran agama Katolik di Hindia-Belanda berkembang pesat. Sejumlah daerah misi yang sempat mati suri di masa VOC seperti Minahasa dan Ambon dihidupkan kembali. Kegiatan misi perlahan mulai bangkit dan tumbuh meskipun terhalang oleh kebijakan pemerintah kolonial dan adanya benturan dengan zending Protestan. Menjelang akhir jabatannya, gereja besar di Weltevreden yang menjadi gereja utama umat Katolik di Batavia roboh secara tidak terduga pada tahun 1890. Claessens lalu mengupayakan agar sebuah gereja baru dapat dibangun dan gereja baru itupun akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1901. Namun Claessens tidak sempat menyaksikan gereja baru itu yang sekarang dikenal sebagai Katedral Jakarta. Claessens mengundurkan diri dari jabatan Vikaris Apostolik Batavia pada 23 Mei 1893 karena alasan kesehatan dan tidak berselang lama kemudian Claessens kembali ke pangkuan Tuhan pada 10 Juli 1895 (Van der Velden, 1908 : 230). 

Batu nisan W.J. Staal

Panji milik W.C. Staal

Sepeninggal Claessens, jabatan Vikaris Apostolik Batavia diteruskan oleh Walterus Jacobus Staal. Pusaranya yang berbentuk seperti atap menara gereja terpajang dekat dengan pusara Claessens. Staal yang menyandang gelar uskup titular Mauricastrum ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Batavia pada 23 Mei 1893 (Van der Velden, 1908 : 232). Staal gemar berpergian untuk menemui umat Katolik yang ada di berbagai penjuru Hindia-Belanda. Setelah kunjungannya ke kepulaan Kei pada 21 Juni 1897, Staal mengalami demam parah. Di penghujung kehidupannya, Staal masih ingin melanjutkan lawatannya menuju Banda. Staal akhirnya meninggal dunia pada 30 Juni 1897 saat kapal “Arend” yang ia tumpangi sedang mengarungi perairan Banda. Jenasahnya lalu dipindahkan ke kapal “Outshoorn” untuk selanjutnya dibawa ke Batavia dan dikebumikan di kerkhof Tanah Abang pada 23 Juli 1897 (Van der Velden, 1908 : 232). Jika memandang secara seksama, kedua pusara uskup tersebut menyertakan lambang heraldik gerejawi dari kedua uskup tersebut. Heraldik gerejawi semula digunakan untuk menandai dokumen-dokumen yang dibuat oleh Gereja. Seiring peralanan waktu, heraldik gerejawi menjadi penanda para rohaniawan di lingkungan Gereja. Berbeda dengan heraldic di lingkungan umum, heraldic gerejawi menampilkan beberapa tanda pengenal khusus untuk menunjukan jabatan di lingkungan gereja selain perisai seperti tongkat gembala, tutup kepala mitra yang pemakaiannya terbatas untuk uskup, serta topi berkupel rendah dan lebar pinggirannya yang lazim disebut galero. Supaya pembuatannya tidak serampangan dan sesuai dengan doktrin dan hukum gereja, maka tatanan dan susunan lambang heraldic diarahkan oleh suatu lembaga di gereja.

Batu nisan Marius Hulswit.

Marius Hulswit (1862-1921)

Mata saya kemudian menatap makam dari arsitek Belanda generasi pertama di Hindia-Belanda yang kondang pada masanya, Marius Hulswit. Sebelum berkiprah di Hindia-Belanda, arsitek kelahiran Amsterdam tahun 1862 itu sempat menjalani magang di arsitek P.J.H. Cuypers dan terlibat dalam perancangan gedung Rijkmuseum Amsterdam. Hulswit menginjakan kaki di Hindia-Belanda untuk pertama kalinya pada tahun 1884 dan di sini Hulswit bertemu dengan J.M.S Merghart yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Setahun kemudian, Hulswit kembali ke Eropa dan bekerja di biro arsitek “Van Rossem en Vuyk” yang mengkhususkan diri dalam rancangan bangunan utilitas berbahan besi. Pada tahun 1890, Hulswit sekali lagi berangkat ke Hindia-Belanda dan kali ini mulai tinggal permanen di sini. Proyek pertamanya di sini adalah gedung Raad van Justitie Surabaya, gedung yang saat ini di atasnya berdiri Tugu Pahlawan. Dalam proyek tersebut, Hulswit diminta untuk meninjau rancangan gedung yang dibuat oleh insinyur dari Waterstaat Dienst. Selanjutnya Hulswit yang saat itu masih berkarir sebagai arsitek independen menerima pesanan untuk merancang gedung baru katedral Batavia pada tahun 1899. Bahtera pernikahan pertama Hulswit rupanya kandas di sela-sela proyek. Hulswit lalu menikah untuk kedua kalinya dengan Fransisca Karthaus. Pada tahun 1908, arsitek Eduard Cuypers yang masih keponakan dari P.J.H. Cuypers menjalin kemitraan dengan Hulswit. Alasannya adalah Cuypers tidak begitu akrab dengan kondisi lingkungan di Hindia-Belanda sementara ia sendiri kerap mendapat garapan dari Hindia-Belanda. Maka dari itu, sosok Hulswit yang sudah cukup lama tinggal di Hindia-Belanda dan lebih memahami kondisi alamnya amat diperlukan bagi Cuypers sebagai “pemandu lokal”. Cuypers beserta Hulswit mendirikan biro “Architectenbureau Ed. Cuypers en Hulswit” pada tahun 1910. Mereka menerima banyak pesanan dari dunia usaha di Hindia-Belanda yang saat itu sedang merjaya untuk membuatkan rancangan gedung kantor. Selain berkutat pada bangunan perkantoran, Hulswit juga memperoleh pesanan untuk gedung sekolah, rumah sakit, dan gereja. Cuypers akan merancang bangunannya dari Amsterdam. Sedangkan untuk pelaksanaan di lapangan, Cuypers mengandalkan Hulswit. Nama biro arsitek tersebut langsung berkibar dengan segudang proyek di seantero penjuru. Begitu produktifnya biro arsitek tersebut sampai Hulswit kewalahan sehingga ia menjalin mitra dengan kontraktor Arthur Fermont untuk membantunya. Biro arsitek tersebut berubah nama menjadi “Architectenbureau Hulswit, Fermont, en Cuypers”. Biro arsitek tersebut menjadi peletak pondasi bagi arsitektur kolonial modern di Indonesia. Selama Perang Dunia I, biro tersebut menjalani masa sulitnya karena jumlah proyek yang merosot. Barulah sesudah perang berakhir biro tersebut bisa bangkit. Sayangnya tidak lama setelah kebangkitannya, biro arsitek tersebut harus merelakan kepergian salah satu tokoh pentingnya, Marius Hulswit yang tutup usia pada 10 Januari 1921. Pusara yang berdiri di atas makam Hulswit merupakan karya Cuypers sebagai persembahan untuk rekan terbaiknya. Mengenai biro “Architectenbureau Hulswit, Fermont, en Cuypers”, biro tersebut bubar pada tahun 1954 (Akihary, 1990 : 35-38).


Petilasan Kapten Jas sekarang dan dulu.

Lewat penelusuran sisa-sisa batu-batu nisan di Museum Taman Prasasti tadi, kita dapat mengungkap kisah hidup orang-orang yang pernah hidup di masa lalu yang menjadi bagian kecil dari perjalanan sejarah. Dengan kata lain, makam adalah salah satu bukti otentik untuk menyibak masa lalu yang seringkali lebih banyak menyisakan pertanyaan daripada jawaban. Sekelumit pertanyaan itu masih tersisa pada makam ‘Kapten Jas’ yang masih dipertanyakan identitasnya. Ada berbagai cerita tentang asal-usulnya. Pertama menurut cerita yang disajikan H.D.H. Bosboom, nama Jas berasal dari kata Jassen-Kerk, gereja yang saat ini menjadi Gereja Sion Jl. Jayakarta. Dahulu sekitar gereja itu bermukiman pedagang kayu berasal dari Ciasem. Kayu itu disebut Jassemsche balken  balok dari Ciasem. Dari situlah gereja itu mendapat nama Jassen Kerk. Halaman gereja tersebut dahulunya berupa permakaman sehingga saat ada orang akan dikuburkan ke permakaman tersebut, mereka akan bilang “naar het land van Kapitein Jas” atau “pergi ke tanah Kapten Jas”. Kalimat tersebut rupanya masih berlaku saat permakaman sudah dipindahkan ke Kerkhof Tanah Abang. Sementara versi Bloys van Treslong Prins menyajikan cerita kedua, dimana nama Jas bersumber dari singkatan nama J(eremi)as van Reimsdijk, kepala juru tulis VOC yang menjual sebidang tanah di belakang gereja Sion untuk dijadikan sebagai permakaman. Selanjutnya dari versi De Haan, Kapten Jas adalah orang yang dikuburkan pertama kali di kerkhof Tanah Abang (Gemeente Batavia, 1937: 104-105). Saat permakaman ditutup, petilasan Kapten Jas sama sekali tidak diusik. Kendati masih simpang siur keberadaanya, masyarakat mengkeramatkan makam Kapten Jas sejak masa kolonial. Orang-orang yang ingin terkabul harapannya akan mendatangi petilasannya untuk menaruh karangan bunga dan lilin di bawah pohon Mimba yang saat ini sudah roboh. Orang-orang Belanda di Batavia dahulu juga mengenal tradisi ziarah kubur seperti yang biasa dilakukan umat Islam menjelang bulan Puasa atau orang Tionghoa pada saat Cengbeng. Tradisi tersebut bisanyanya dilakukan malam sebelum Hari Natal. Pada malam itu, tidak ada angkutan yang tersedia  sehingga peziarah berjalan menyusuri Kerkhoflaan dan melewati gerbang permakaman yang monumental. Setibanya di makam, mereka menghiasi makam dengan bunga segar, membersihkan makam, dan mengganti air di dalam vas (Algemeen Handelsblad, 23 Desember 1928).



Koleksi patung-patung sisa dari kerkhof Tanah Abang.

Benda yang disimpan di museum ini selain sisa pusara adalah sejumlah patung yang dahulu pernah menghiasi Kerkhof Kebon Jahe Kober. Pada zaman dahulu, orang-orang yang mampu menambahkan hiasan seperti patung untuk menambah keindahan dari makam. Bahan yang biasanya dipilih adalah bahan bermutu tinggi seperti marmer Italia yang untuk mendatangkannya perlu merogoh kantung cukup dalam. Sekalipun harganya cukup mahal, batu tersebut masih menjadi pilihan karena dapat meningkatkan gengsi (De Indische Courant Oost Java Editie, 1925). Batu tersebut dihargai begitu tinggi karena mutunya yang bagus Saat sinar matahari menerpa permukannya nan mulus, batu tersebut akan tampak berkilau sehingga orang akan dibuat terkesima olehnya. Sejalan dengan upaya orang untuk memperindah makam, maka munculah para pengrajin yang keahliannya didedikasikan untuk menciptakan makam dalam berbagai bentuk, ukuran, dan gaya berbeda. Hiasan-hiasan pada makam tidak hanya dibuat untuk tujuan keindahan semata namun dibaliknya terdapat pesan yang ingin disampaikan oleh almarhum kepada orang-orang yang melihat makamnya (Worpole, 2003: 128). Misalnya adalah patung berbbentuk malaikat yang banyak dijumpai di museum ini. Bentuk tersebut diyakini adalah cerminan dari sosok yang akan mendampingi jiwa-jiwa di alam baka. Pada abad ke-19, orang lebih menggemari ragam hias yang mengandung makna harapan baik setelah kematian. Maka hilanglah kemuraman dan kengerian dari permakaman, tergantikan oleh makam-makam yang elegan dengan segala pernak-perniknya. Permakaman akhirnya tidak sekedar sebagai tempat jenasah dikebumikan namun juga menjadi galeri seni. Saat hiburan dan ruan terbuka hijau di Batavia masih terbatas, orang-orang Belanda mendatangi Kerkhof Tanah Abang

Sumber :

Akihary, Huib. 1990. Architecture en Stedebouw in Indonesia 1870-1970. Zutphen : De Walburg Press.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. 1922. Oud Batavia Gedenkboek. Batavia : G. Kolff & Co.

Bosch, F.D.K. 1934. “Monumentenzorg In Nederlandsch Indie (1924-1934)” dalam Oudheidkundige Jaarbook hlmn. 66-71. Leiden : N.V. Boekhandel en Drukkerij Voorheen E.J. Brill.

Gemeente Batavia,1937. Batavia als handels-, industrie-, en woonstad. Batavia : G. Kolff & Co.

Herfkens, J.W.F. 1902. De Expeditie naar Balie. Breda : Militaire Academie.

Kempers, A.J. Bernet. 1949. “In Memoriam W.F. Stutterheim” dalam Oudheidkundige Verslag 1941-1947. Hlmn. 15-22. Bandung : A.C. Nix & Co.

Heuken, Adolf. 2016. Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta : Yayasan Loka Cipta Caraka.

Kepper, G.L. 1902. Wapenfeiten van het Nederlandsch Indische Leger. ‘s Gravenhage : M.M. Couvee.

Lombard, Denys. 2018. Nusa Jawa Silang Budaya I : Batas-Batas Pembaratan. Jakarta : Gramedia.

Prins, P.C Bloys van Treslong. 1934. Genealogische en Heraldische Gedenkwaardigen ; Betreffende Europanen op Java Deel I. Batavia : Drukkerij Albrecht.

Prins, P.C Bloys van Treslong. 1935. Genealogische en Heraldische Gedenkwaardigen ; Betreffende Europanen op Java Deel II. Batavia : Drukkerij De Unie.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis ; Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu

Van der Velden, Arn. J.H. 1908. De Roomsch Katholieke Missie in Nederlandsch Oost Indie. Nijmegen : L.C.G. Malmberg.

Van de Wall. V. I.1928. Vrouwen uit den Compagnies Tijd. Weltevreden : N.V. Boekhandel Visser & Co.

Minggu, 27 Desember 2020

Singkap Jejak Konglomerasi Koloniale Bank di Tanah Vorstenlanden

Sebagai negeri yang berkelimpahan sumberdaya alam, Nusantara telah memikat banyak pedagang dari berbagai penjuru sejak berabad-abad silam. Kontak perdagangan tersebut terbukti telah memberikan dampak yang amat penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah kontak perdagangan dengan bangsa Eropa yang terintis sejak abad ke-16. Meskipun kalah tua dengan pemain lama seperti pedagang dari India, Arab, dan Cina, namun pedagang Eropa - terutama dari Belanda - sebagai pendatang baru ternyata kemudian hari meninggalkan dampak yang luas dalam berbagai kehidupan masyarakat. Para pedagang Belanda yang berhimpun di bawah bendera perusahaan multinasional VOC telah mendominasi perdagangan Nusantara selama dua abad (1602-1799). Meskipun VOC sudah bubar, namun perusahaan tersebut telah meletakan pondasi bagi kapitalisme modern yang diteruskan oleh sejumlah perusahaan swasta baru. Salah satunya adalah Koloniale Bank. Bagaimanakah kiprah perusahaan tersebut di masa lalu ?
Kantor lama Koloniale Bank di Willemskade (kini Jalan Jembatan Merah) Surabaya sebelum dirombak pada tahun 1927. (sumber : media-kitlv.nl)
Eksploitasi penjajah terhadap alam Nusantara secara terstruktur dimulai saat Gubernur Jenderal Van den Boch menerapkan cultuurstelsel dimana setiap desa menyediakan seperlima lahannya sebagai perkebunan pemerintah. Lahan itu nantinya akan ditanami tumbuhan seperti nila, kopi, dan tebu yang seringkali ditanam melebihi luas lahan yang ditentukan. Meskipun keuntungan dari cultuurstelsel mengalir deras ke kas Kerajaan Belanda, namun geliat perniagaan di Hindia-Belanda berjalan lambat. Saat itu, orang-orang Eropa tidak ada hak untuk memiliki tanah dan hanya segelintir keluarga pejabat kolonial saja yang memilikinya. Di sisi lain, Nusantara dalam benak orang-orang Belanda adalah tempat yang jauh. Perjalanan melalui laut bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan dan setibanya di sana harus membiasakan diri dengan iklim tropis. Hanya pegawai pemerintah dan orang nekat pengundi nasib saja yang menetap ke Nusantara. Pandangan tersebut perlahan mulai pudar seiring berkembangnya Revolusi Industri di Eropa yang menjadi tonggak kapitalisme modern. Melalui sistem kapitalisme, siapapun sepanjang dia menguasai modal dan mampu mengelolanya dengan baik akan mendapatkan keuntungan. Sejumlah pengusaha swasta di Belanda mulai melirik potensi dari koloni Hindia-Belanda yang masih belum tergarap sepenuhnya dengan serius. Hal inilah yang mendorong pemerintah kolonial pada tahun 1870 untuk menghapus Cultuurstelsel dan menggantikannya dengan Undang-Undang Agraria yang membuka keran investasi asing selebar-lebarnya pada pengusaha swasta (Lombard, 2018; 88). Para pengusaha swasta tersebut sebagian besar berinvestasi di bidang agribisnis dan mereka butuh banyak suntikan modal untuk membuka dan memperluas perkebunan. Hal inilah yang kemudian menjadi pangsa pasar yang diincar oleh Koloniale Bank, sebuah lembaga keuangan yang resmi didirkan di Amsterdam pada 22 Maret 1881 dengan modal awal sebesar 5 juta gulden. Pendiran Koloniale Bank diprakarsai oleh M.C. Calkoen dan J. Hudig Dzn. Kantor perwakilan utamanya di Hindia-Belanda dibuka di Batavia pada 1 Juli 1881. Guna mendekatkan Koloniale Bank dengan kalangan pengusaha perkebunan yang saat itu lebih banyak berada di Jawa Timur, maka Koloniale Bank membuka kantor perwakilan kedua di Surabaya pada 15 Juli 1881 yang dekat dengan sentra perkebunan tebu. Berikutnya kantor perwakilan ketiga dibuka di Semarang pada Juni 1883 (De Bree, 1918 ; 306). 
Bangunan kantor baru Koloniale Bank karya arsitek Wolff Schoemaker. (sumber : media-kitlv.nl)
Sekitar tahun 1882-1883, Koloniale Bank telah meminjamkan uang sebesar 4.600.000 gulden kepada 39 pengusaha. Pinjaman tersebut dikembalikan melalui kesepakatan bagi hasil keuntungan dengan pemilik perkebunan. Prospek usaha tersebut terlihat cukup menjanjikan namun cukup beresiko karena bergantung pada keberhasilan panen dan tingkat penjualan di pasaran. Resiko itu akhirnya menjadi kenyataan saat krisis gula mendera pada tahun 1884 akibat membanjirnya jenis gula dari sugar beet (sejenis tanaman umbi yang memiliki kadar manis besar) yang menyebabkan harga gula tebu di pasaran jatuh. Satu per satu pengusaha jatuh pailit dan terancam gagal membayar hutangnya kepada Koloniale Bank. Baru dua tahun berdiri, nasib Koloniale Bank sudah di ujung tanduk. Untuk menalangi keuangan Koloniale Bank, maka dana darurat dihimpun oleh komite berisikan perusahaan kawakan Hindia-Belanda seperti Handelsvereeneging Amsterdam, Nederlandsch Handel Maatscahppij, dan De Javaasche Bank. Komite tersebut juga menyarankan agar Koloniale Bank menyita sejumlah aset perkebunan yang tidak sanggup melunasi pinjaman. Perkebunan yang telah disita itu selanjutnya dikelola oleh suatu badan usaha baru yang sebagian besar sahamnya dikuasai oleh Kolonials Bank. Krisis tersebut begitu mempengaruhi arah perusahaan dari yang mulanya adalah bank umum dan sebatas menyediakan modal perusahaan perkebunan, akhirnya mulai turut dalam urusan perkebunan dari awal sampai akhir. Koloniale Bank baru kembali menjalankan peran sebagai bank umum pada 1905 dalam skala yang lebih kecil (De Bree, 1918 : 305-355).
Bekas kantor Koloniale Bank yang saat ini menjadi kantor PTPN X.
Kantor perwakilan utama Koloniale Bank di Hindia-Belanda lalu dipindahkan dari Batavia ke Surabaya pada tahun 1885 karena bisnis terbesar Koloniale Bank ada di Jawa Timur. Kantor lama di Batavia kemudian menjadi kantor firma Tiedeman en Van Kerchem yang ditutup pada tahun 1915. Kantor mereka di Surabaya terletak di Willemskade (kini Jalan Jembatan Merah) dan berhadapan dengan Kali Mas. Tempat tersebut merupakan jantung perniagaan Surabaya yang ramai. Semula, jumlah pegawai Koloniale Bank tidak lebih dari 15 orang. Seiring berkembang pesatnya bisnis Koloniale Bank pada awal abad 20, jumlah pegawai juga ikut bertambah sehingga muncul kebutuhan terhadap ruang kantor yang lebih luas. Pada tahun 1925, J.H Lager sebagai kepala perwakilan Koloniale Bank saat itu memutuskan untuk membeli parsel tanah antara kantor mereka dengan Nutsspaarbank yang ada di sebelahnya sebagai persiapan untuk perluasan kantor. Selanjutnya Koloniale Bank merombak total kantor pada tahun 1927. Lager selanjutnya memilih arsitek Belanda ternama asal Bandung, Prof. Wolff Schoemaker, sebagai arsitek yang akan merancang gedung baru Koloniale Bank. Gedung Koloniale Bank Surabaya menjadi karya kedua yang Schoemaker buat untuk kantor bank ; sebelumnya ia sudah merancang kantor Nederlandsch Indische Handelsbank di Batavia. Karya Schoemaker di  Surabaya ini  memang terlihat ringkas, praktis dan sedikit hiasan mencolok naum masih terlihat elegan. Sirkulasi udara, cahaya, dan komposisi ruang sudah diperhitungkan secara cermat oleh Schoemaker. Bagian depan tersebut memiliki beranda lebar untuk menghalau masuknya cahaya matahari tropis dan tampias air hujan ke dalam bangunan. Pekerjaan bangunan baru tersebut digarap oleh Hollandsche Beton Maatschappij dengan nilai kontrak sebesar 390.000 gulden. Upacara peletakan batu pertama pada 7 September 1927 diabadikan pada prasasti yang tertempel di dekat pintu masuk. Hanya dalam waktu kurang dari setahun gedung tersebut selesai dibangun. Pada 10 November 1928 adalah hari yang ditunggu oleh jajaran pegawai Koloniale Bank karena pada hari itu gedung kantor baru mereka diresmikan. Upacara pembukaan diadakan pada pukul 10 pagi di aula besar lantai pertama yang akan menjadi ruang kerja pegawai bagian perkebunan tebu. Undangan yang hadir antara lain Ir. D.J. van Aalst sebagai perwakilan Hollandsche Beton Maatschappij, Prof. Schoemaker sebagai arsitek gedung Koloniale Bank, dan P.E. Staverman sebagai kepala perwakilan Koloniale Bank (De Indische Courat, 10 November 1928).
Foto lama PG Randugunting (Sumber : collectietropenmuseum.nl).
Bagian dalam PG Randungunting. (sumber : collectietroppenmuseum.nl)
Hanya dalam waktu 25 tahun, Koloniale Bank melesat sebagai perusahaan keuangan terkemuka dan masuk dalam jajaran perusahaan konglomerat besar di Hindia-Belanda seperti Cultuur Maatschppiij der Vorstenlanden, Internatio, Handelsvereeneging Amsterdam, Nederlandsh Handel Maatschppij, dan Nederlandsch Indie Landobouw Maatschppij  yang dikenal sebagai “The Big Six”. Koloniale Bank sempat berminat untuk memperlebar sayapnya ke Pulau Sumatera meskipun akhirnya kehilangan minat karena ketidakjelasan UU Perburuhan dan lemahnya prospek tanaman karet saat itu. Meskipun Koloniale Bank menaruh ketertarikan terhadap aneka tanaman komoditi seperti kopi, kakao, tembakau, kina, dan nila. Namun dari semua tanaman itu, yang menjadi primadona adalah tebu. Sekalipun sempat didera krisis, namun sesudahnya harga gula di pasaran relatif stabil. Tanaman inilah yang berjasa mengantarkan Koloniale Bank pada pucuk kejaayannya. Layaknya anak emas, segala cara ditempuh untuk meningkatkan keuntungan dari perkebunan tebu seperti memperbarui perangkat pabrik gula, perluasan jaringan lori, dan pembangunan saluran irigasi (Indische Mercuur, 1923).
Citra satelit google map yang menunjukan kondisi PG Randugunting saat ini. Keterangan A. Bekas cerobong PG ; B. Bekas klinik / rumah sakit pembantu Randugunting.
Denah kompleks PG Randugunting ketika masih berdiri (1935).
Sebagai perusahaan konglomerat, Koloniale Bank memiliki jejaring pabrik gula yang berdiri di mana-mana. Keberhasilan beberapa tahun di sektor industri gula mendorong Koloniale Bank untuk memperluas jejaring usahanya. Gurita usaha Koloniale Bank kemudian merembet hingga tanah Kasultanan Yogyakarta. Pijakan pertama konglomerasi Koloniale Bank di tanah Kasultanan adalah PG Randugunting yang posisinya dibelah oleh tapal batas provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bagian pabrik masuk Yogyakarta sementara kantornya berada di wilayah Jawa Tengah. Alasan mengapa pabrik tersebut letaknya ada di perbatasan karena pendirinya, K. A. Klaring, memiliki dua onderneming atau perkebunan, yakni "Randugunting" di sisi Yogyakarta dan "Tjandi Sewoe" di sisi Jawa Tengah. Klaring mengawali usahanya pada perkebunan nila, tanaman penghasil pewarna pakaian. Nila tidak laku di pasaran semenjak penemuan pewarna tekstil sintetis yang lebih murah dan mudah dibuat. Supaya bisnis agrarianya dapat bertahan, Klaring akhirnya beralih ke budidaya tanaman tebu dan diikuti dengan pendirian pabrik gula. Untuk melakukan semua hal tersebut, Klaring meminjam uang dari Koloniale Bank sebagai modal. Malangnya, Klaring tidak sanggup melunasi utangnya sehingga aset perkebunan beserta pabrik dijual Klaring pada tahun 1882 (De Locomotief, 3 April 1882). Pembeli yang berminat ternyata sedikit sehingga aset-aset tersebut langsung dikuasai oleh Koloniale Bank pada tahun 1889 (Het Vaderland, 4 September 1889). Perkebunan "Randugunting" yang semula dijalankan sebagai bisnis keluarga akhirnya menjadi badan usaha swasta bernama "N.V. Randoegoenting" pada tahun 1895. Total sahamnya sebesar 645.000 gulden dan dua pertiganya digenggam oleh Koloniale Bank. Berkat suntikan modal tambahan dari Koloniale Bank, PG Randugunting kemudian memperluas area ladang tebu dengan menggabungkan perkebunan "Tjandi-Sewoe". "N.V. Randoegoenting" berubah nama menjadi "N.V. Randoegoenting-Tjandisewoe". Perluasan perkebunan tersebut lalu diikuti dengan memperbesar bangunan pabrik (Nederlandsch Staatscourant, 23 Desember 1899).
Rumah dinas kepala PG Randugunting. Terlihat di foto, J.F.H.Gessner, kepala pabrik gula yang sedang bersantai di taman depan rumah.
Sisa struktur pagar rumah pegawai PG Randugunting.
Berbekal peta topografi dari zaman Belanda yang menggambarkan sangat detail pola tata ruang ketika PG masih berjaya, saya mencoba untuk meninjau jejak PG Randugunting. Peta yang saya gunakan memandu saya pada sebuah struktur berupa barisan tembok lama tidak menarik untuk dilihat bagi orang biasa. Namun untuk saya, tembok tadi adalah data yang berharga untuk melengkapi kepingan sejarah PG Randugunting yang masih terserak. Tembok lama yang sekilas tidak memiliki arti itu sesungguhnya adalah tembok pagar halaman rumah dinas PG pegawai Randugunting. Ukurannya memang lebih rendah dibanding pagar rumah sekarang karena “Pagar halaman orang Belanda“, tulis Harriet W. Ponder di Javanese Panorama, “ biasanya dibuat rendah, sehingga para penghuni yang sedang duduk santai di teras depan dapat menikmati lingkungan yang asri” (Rush, 2013; 218).  Jika dicocokan dengan peta, lokasi tembok itu persis berada di area kompleks perumahan pegawai PG Randugunting. 

Reruntuhan cerobong PG Randugunting.
Bagian dalam cerobong.
Dari tempat penemuan pagar tadi, saya beranjak ke tempat-tempat yang disinyalir masih meninggalkan jejak. Selagi menyusuri, dari kejauhan mata saya menangkap sebuah puing bangunan yang menjulang tinggi dan berdiri bergeming laksana raksasa di tengah kepungan permukiman warga. Penasaran, sayapun mencoba untuk menghampirinya. Reruntuhan yang saya temukan bukanlah sekedar reruntuhan biasa karena reruntuhan tersebut adalah sisa cerobong asap monumen kejayaan PG Randugunting, yang dulu asapnya mengepul dari reruntuhan yang kini berdiri di depan mata saya ini.  Pondasi setinggi kira-kira dua meter rela saya panjati hanya untuk mengintip seperti apa bagian dalamnya. Cukup sulit karena tidak ada tangga dan hanya mengandalkan tumpuan batu saja. Sesampainya di dalam, kesan pertama yang saya dapati adalah lembab, gelap dan gatal. Saya begitu kagum pada konstruksi bangunan yang bertahan lebih dari seabad. Hanya dengan mengandalkan tumpukan batu bata yang disusun sangat tebal tanpa ada tulangan besi, bangunan yang didirikan dengan teknologi seadanya ini mampu bertahan lebih dari seabad. Sayangnya, hanya inilah jejak PG Randugunting yang sejauh ini tersisa. Menurut penuturan warga sekitar yang kebetulan menemui saya, hampir semua bagian pabrik sudah lama dibongkar dan hanya bagian cerobong saja yang disisakan karena warga kesulitan membongkar akibat temboknya yang kelewat tebal. Apa yang disampaikan warga tadi diperkuat dengan bekas pukulan linggis yang saya jumpai di dalam cerobong. 
Bangunan pabrik yang sudah selesai dibuat (sumber : geheugen.delpher.nl).
Foto udara PG Medari yang diambil dari barat pabrik (sumber : geheugen.delpher.nl). 
Sukses dengan PG Randugunting, Koloniale Bank kali ini berupaya mendirikan sebuah pabrik gula yang dibangun dari nol. Pabrik gula tersebut bernama PG Medari. Rencana pembangunannya sudah muncul di permukaan pada tahun 1906 dan mulai dibangun pada tahun 1908 (De Locomotief, 25 Maret 1908). Letaknya dekat dengan jalur kereta api Yogyakarta-Magelang agar memudahkan proses pendatangan mesin-mesin pabrik buatan Machinefabriek Gebr. Stork & Co menuju ke lokasi pembangunan pabrik (Anonim. 1922; 83). Untuk menjalankan pabrik gula tersebut, Koloniale Bank membentuk badan usaha N.V. Cultuur Maatschappij Medari yang sahamnya sebagian besar dikuasai oleh Koloniale Bank. Saat berdiri, PG Medari merupakan pabrik gula terbesar di Yogyakarta dengan luas ladang perkebunan mencapai 2363 bouw atau 1654 hektar. Luas tersebut bertambah sehubungan dengan pembelian lahan perkebunan di sekitarnya pada tahun 1920. Lahan perkebunan yang dibeli antara lain Candi, Mlesen, Kebonagung, dan Wringin. Penambahan luas kebun ini selanjutnya diikuti dengan pembaruan mesin pabrik. Mesin yang sebelumnya digerakan dengan tenaga uap kemudian digerakan dengan tenaga listrik yang sumbernya berasal dari pembangkit. Di samping itu dibangunkan pula cerobong asap baru setinggi 45 meter pada tahun 1921. Untuk mengangkut panen tebu ke pabrik, PG Medari dilengkapi armada 8 lokomotif kecil dan 200 gerbong (De Preanger Bode, 4 Mei 1922).
Proses pembangunan cerobong pabrik (sumber : geheugen.delpher.nll).
Proses pemasangan kerangka pabrik. Terlihat bangunan cerobong yang sudah selesai dibuat (sumber : geheugen.delpher.nl).
Proses pembangunan rumah dinas pegawai pabrik (sumber : geheugen.delpher.nl).
Bangunan rumah dinas pegawai pabrik yang sudah selesai dibangun (sumber : geheugen.delpher.nl).
Ruang laboratorium PG Medari
(sumber : geheugen.delpher.nl).
Instalasi mesin masakan PG Medari (sumber : geheugen.delpher.nl).

Denah PG Medari pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Citra satelit dari Google map yang menggambarkan kondisi PG Medari saat ini. Keterangan : Kotak merah : Lokasi pabri, A : Rumah dinas Administrateur (SMP N 1 Sleman), B : Rumah masinis pertama (KODIM 0732 Sleman), C : Bekas kantor pos, D : Stasiun Medari, Garis kuning : Eks jalur kereta.
Bekas bangunan rumah dinas administrateur PG Medari.
Rumah Administrateur PG Medari dilihat dari kereta api yang sedang melintas di depan rumah. (Sumber : Reis Willem I - Djocja)
Salah satu jejak PG Medari masih berdiri tegak di balik tingginya pagar SMP N 1 Sleman. Sekalipun berdiri di tengah kompleks sekolah, bangunan itu sama sekali tidak terlihat lazim untuk bangunan sekolah. Secara sepintas, bangunan itu justru mirip dengan sebuah villa besar milik seorang tuan tanah kaya raya. Kejanggalan bangunan itulah yang memicu rasa penasaran saya ketika berjumpa pertama kali dengannya. Dari kemegahan bangunannya, besar kemungkinan bila ia dulunya adalah tempat tinggal sang tuan administrateur, jabatan tertinggi dalam hirarki lingkungan pabrik gula. Tugas seorang administrateur meliputi banyak hal, dari penanaman tebu, jalannya pengolahan, urusan keuangan, hingga distribusi (Wiseman, 2001; 388). Apabila diamati secara seksama, gaya bangunan ini mencerminkan villa-villa besar di Jerman selatan yang berada di kaki pegunungan Alpen, terlihat pula dekorasi tempelan kayu di bagian gevel yang menambah manis kesan bangunan. Gaya arsitektur ini disebut gaya arsitektur Chalet, gaya yang banyak dipakai pada bangunan Indis akhir abad 19 dan awal abad 20. Tampak beranda depannya yang dulu terbuka dengan lengkungannya kini sudah ditututup. Menurut kesaksian penjaga sekolah, di dalam bangunan ini pernah terdapat arca-arca kuno. Kalangan elit Belanda memang memiliki kegemaran mengumpulkan arca-arca masa klasik untuk dipamerkan pada kolega mereka. Kepala arca itu sempat raib diambil orang dan akhirnya berhasil ditemukan di Singapura. Untuk keamanan, arca tersebut disimpan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY. Selain beberapa tahun silam, pernah ada kunjungan rombongan Belanda yang ternyata dulu pernah tinggal di situ.
Bangunan rumah masinis pertama PG Medari yang saat ini dtempati KODIM 0732 Sleman. (Sumber : geheugen.delpher.nl)
Kondisi rumah tinggal milik pegawai pribumi pada masa sekarang.
Rumah tinggal milik pegawai pribumi.Para pegawai pribumi pada umumnya memiliki jabatan yang rendah dan cukup sulit untuk naik jabatan.Rumah tinggal para pegawai pribumi berukuran kecil.Di bagian halaman,terlihat taman yang ditata dengan rapi.(Sumber : troppenmuseum.nl).
Di tepi Jalan Magelang-Yogyakarta yang ramai oleh lalu lalang kendaraan itu, masih ada sejumlah jejak eks PG Medari lainnya. Contohnya adalah bangunan Kodim 0732/Sleman yang letaknya persis di seberang SMP N 1 Sleman dan menempati bekas rumah kepala juru mesin PG Medari. Sementara itu, berdiri di balik deretan kios-kios kecil, bangunan mungil ini seolah malu-malu untuk memperlihatkan wujudnya. Mungil memang, tidak semewah dengan rumah sang tuan administrateur, namun ia memberi gambaran kepada mengenai fasilitas rumah dari perusahaan yang diterima oleh pegawai bumiputra. Pemilik pabrik gula, merekrut orang-orang Jawa terpelajar untuk mengurus administrasi pabrik. Standar gaji yang lebih rendah daripada orang kulit putih menjadi alasan mereka direkrut sebagai pegawai rendahan. Para pekerja Jawa ini sulit untuk meniti jenjang karir lebih tinggi dan tak jarang mereka mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari pegawai kulit putih. Sekalipun demikian,  mereka disediakan hunian yang terhitung layak untuk ukuran mereka.
Bekas stasiun Medari yang kini menjadi posyandu.
Bekas kantor pos Medari.
Dahulu, di sisi barat jalan, tempat saya berdiri sekarang, pernah membentang rel kereta Magelang – Yogyakarta yang ditutup tahun 1976. Jalan baja ini tentu amat vital perannya bagi industri gula. Tanpanya, gula-gula pabrik gula ini tak kan pernah sampai di dapur konsumen. Kereta-kereta uap yang dulu lalu lalang di halaman depan rumah sang tuan administrateur, juga merupakan sarana pengangkut utama yang membawa mesin-mesin besar untuk keperluan pabrik. Di sekitar sini, masih ada beberapa jejak perkeretapian, seperti bekas stasiun, pondasi jembatan, dan tiang sinyal. Sementara itu, tak jauh dari bekas stasiun Medari, terdapat bangunan bekas Hulp-post kantoor atau kantor pos pembantu yang kondisinya kini sudah terbengkalai. Di sinilah segala urusan surat menyurat para pegawai pabrik dan masyarakat lokal diurus. Keberadaan kantor pos ini jelas membantu urusan administrasi pabrik. Di belakang eks kantor pos ini, dulunya ada sebuah gedung sus atau kamar bola, tempat para pegawai kulit putih bersenang-senang.
PG Sendangpitu pada peta tahun 1925. (sumber : maps.library.leiden.edu)
Sisa PG Sendangpitu.
Bekas jembatan Lori PG Sendangpitu di atas Sungai Krasak, perbatasan Sleman-Magelang.
Jejak konglomerasi Koloniale Bank pada industri gula di Yogyakarta tidak hanya berhenti pada PG Medari saja. Seiring dengan lahan perkebunan PG Medari yang terus meluas, maka jarak antara PG Medari dengan lokasi perkebunan semakin jauh. Untuk itu, direksi Koloniale Bank memutuskan untuk mendirikan pabrik gula baru bernama PG Sendangpitu pada tahun 1920. Salah satu lahan perkebunan PG Medari, yakni Kebonagung yang memiliki luas 950 bouw ditetapkan sebagai area tanam PG Sendangpitu. Pada 6 Maret 1921, diadakan upacara peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan PG Sendangpitu. Tanggung jawab pembuatan desain pabrik diserahkan kepada penasihat teknis Koloniale Bank, Ir. Helmers. Sementara pekerjaan pembangunannya dilaksanakan oleh Ir. Leefers yang sebelumnya pernah membangun PG Banjaratma di Brebes. Setahun berikutnya, PG Sendangpitu selesai dibangun dan pada 25 April 1922, diadakan upacara giling pertama yang dihadiri sejumlah direksi Koloniale Bank dan PG Medari. Untuk pengangkutan tebu, jaringan rel lori dengan panjang total mencapai 35 km dipasang di berbagai penjuru perkebunan. Selain itu dibuatkan juga sekitar 200 jembatan lori baik berukuran besar maupun kecil. (De Preanger Bode, 30 April 1922).
Dam Pete.
Dam Tempur.
Pada masa Koloniale Bank masih berjaya, perusahaan tersebut sudah mengenal konsep tanggung jawab sosial perusahaan atau dalam istilah asing disebut Corporate Social Responbility. Beberapa media massa saat itu menyebut Koloniale Bank sebagai "teladan mulia untuk kepekaan sosial sebuah perusahaan swasta". Koloniale Bank menyisihkan sejumlah anggaran untuk kegiatan sosial seperti pendidikan, perbaikan jalan dan jembatan, serta pendirian sejumlah pekerjaan irigasi (Indishce Mercuur, 1923).  Pada awal bulan Agustus tahun 1924, di rumah Residen Yogyakarta diadakan pertemuan antara pihak Koloniale Bank (yang diwakili oleh Van Holst Pellekaan, Mac Donald, dan Hellendoorn) dengan asisten residen, controleur Yogyakarta, Bupati Sleman, Bupati Kalasan, dan dr. Offringa dari Rumah Sakit Petronella. Pertemuan tersebut membahas tentang rencana Koloniale Bank yang akan membagikan sebagian keuntungan pabrik gula milik mereka (PG Randungunting, PG Medari, dan PG Sendangpitu) untuk sejumlah program sosial di Yogyakarta. Beberapa program yang dimaksud yakni pendirian bank desa untuk usaha peternakan, pendirian Ambatchschool atau sekolah pertukangan di Sleman, perbaikan rumah sakit pembantu di Medari dan Bedoyo, pendirian balai pertemuan desa, dan pendirian beberapa bendung permanen untuk masyarakat (De Indische Courant, 2 Agustus 1924). Salah satu jejak program sosial Koloniale Bank yang masih ada adalah bendung permanen yang awalnya dimaksudkan untuk kepentingan perkebunan tebu. Ladang tebu harus dialiri dengan saluran irigasi yang baik supaya air senantiasa mengaliri tanaman tebu yang rakus air. Sumber air irigasi disadap dari sungai yang sudah dibendung oleh dam. Pada perkembangan selanjutnya, pembangunan saluran irigasi juga menyasar untuk masyarakat sekitar karena belum tersedianya sarana irigasi di wilayah timur Yogyakarta. Selama ini, air untuk ladang penduduk masih mengandalkan air hujan atau bendung semi-permanen yang harus berulangkali diperbaiki. Bendung-bendung buatan Koloniale Bank yang masih ada misalnya adalah Dam Pete dan Dam Tempur. Berdasarkan prasasti-prasasti yang tertempel di dam, pembuatan bendung tersebut dilakukan sekitar rentang tahun 1924 hingga 1926. Irigasi tersebut sampai saat ini dimanfaatkan oleh masyarakat. Dari sini terlihat bahwa keberadaan irigasi tersebut berguna bagi masyarakat sekarang sekitar meskipun proyek irigasi tersebut aslinya dimaksudkan untuk kepentingan perkebunan. 
Klinik PG Randugunting. Saat PG Randgunting bangkrut, pengelolaan klinik ini diambil alih oleh Petronella Hospitaal (sekarang RS Bethesda Yogyakarta) (sumber : troppenmuseum.nl)


Bekas klinik PG Randugunting.
Bekas klinik PG Medari yang dibuka tahun 1914. Bangunan sudah tidak ada dan kini menjadi RSUD Sleman. (sumber ; troppenmuseum.nl)
Bidang kesehatan dan kebersihan masyarakat juga tidak luput dari perhatian Koloniale Bank dengan membantu pemberantasan penyakit (seperti malaria, frambusia, dan cacing tambang) dan membuka banyak klinik kesehatan yang tidak jauh dari pabrik gula. Pada abad ke 20, kemunculan klinik atau rumah sakit di lingkungan pabrik gula menjadi fenomena baru dalam sejarah perkembangan rumah sakit di Hindia-Belanda. Kemunculan fasilitas klinik di pabrik gula tidak lepas dari anjuran H.F. Tillema agar setiap pemilik modal seperti Koloniale Bank memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Bila karyawan sejahtera, tentu akan berdampak terhadap meningkatnya produktivitas usaha. Di Yogyakarta, Koloniale Bank membangun klinik untuk karyawan pribumi di dekat PG Randungunting pada tahun 1910. Pabrik gula Randugunting adalah pabrik gula pertama di Yogyakarta yang memiliki fasilitas tersebut. Biaya operasional klinik mendapat subsidi dari pemerintah kolonial dan pengelolaan sehari-harinya dilakukan oleh tenaga kesehatan dari Rumah Petronella. Mengingat saat itu belum ada fasilitas kesehatan di sekitar PG Randugunting, maka klinik tersebut juga menerima pasien dari masyarakat sekitar dengan daya tampung lima puluh pasien. Mereka dirawat di klinik ini secara gratis dan dilayani oleh tenaga kesehatan yang terdiri seorang mantri dan dua perawat. Pembukaan klinik di pabrik gula tidak sepenuhnya murni karena kemanusiaan. Di balik itu, ada maksud ekonomis yakni untuk memberikan pengobatan secepat mungkin untuk karyawan sehingga mereka dapat kembali bertugas. Boleh dikatakan jika klinik-klinik perkebunan tersebut secara tidak langsung adalah bentuk investasi Koloniale Bank sebagai pemodal untuk meningkatkan produktivitas pabrik. Akibat krisis ekonomi yang mendera pada tahun 1930an, kepemilikan klinik di Randugunting itu selanjutnya diserahkan kepada Rumah Sakit Zending Petronella yang ada di Yogyakarta dan klinik tersebut menjadi bagian dari jaringan hulphospitaal atau rumah sakit pembantu milik Petronella yang tersebar di berbagai penjuru Yogyakarta untuk menjangkau lebih banyak pasien. Pasien yang berpenyakit ringan dirawat secara rawat jalan, sementara yang agak berat dirawat di rumah sakit pembantu terdekat. Pasien baru akan dirujuk ke RS Petronella apabila penyakitnya butuh penanganan serius. Untuk memudahkan komunikasi, RS Petronella terhubung dengan rumah sakit pembantu melalui jaringan telepon (Groot, 1936 : 45). Jejak klinik kesehatan tersebut masih ada namun saat ini kondisinya sudah merana dan beberapa bagian roboh saat gempa tahun 2006. Upaya lain Koloniale Bank untuk menjamin kesejahteraan karyawannya adalah pembentukan yayasan 'Onderling Pensioenfonds' pada tahun 1916 sebagai penyedia tunjangan pensiun karyawan dan santunan keluarga. Sedikit sekali perusahaan swasta di Hindia-Belanda saat itu yang sudah memikirkan jatah pensiun meski diprioritaskan untuk karyawan Eropa. Pegawai non-Eropa baru mendapatkan jatah dana pensiun pada tahun 1920 meskipun masih terbatas jumlahnya.
Kondisi PG Medari pada tahun 1949. (Sumber : indiegangers.nl)
Bekas dinding pembatas halaman pabrik.
Pada tahun 1930, terjadi krisis ekonomi yang dikenal sebagai Great Depression. Sebagai buah dari laju arus globaliasi, krisis tersebut menjalar sampai Hindia-Belanda. Krisis tersebut menghempas industri gula di Jawa karena untuk memperbaiki harga gula di pasaran, maka angka produksi gula harus diturunkan dan itu artinya akan ada banyak pabrik gula yang ditutup (Wilde & Moll, 1936 : 38). Salah satu yang terdampak adalah PG Randugunting. Sejak tahun 1932, ladang PG Randugunting tidak melalui musim tanam dan akhirnya PG Randugunting tutup selamanya pada tahun 1937 (Bataviaasch Nieuwsblad, 5 Februari 1936). Nasib serupa juga menimpa PG Sendangpitu yang sudah ditutup dari tahun 1931. Akhirnya tinggal PG Medari saja yang dipertahankan oleh Koloniale Bank dan tebu dari ladang pabrik gula yang ditutup selanjutnya dilimpahkan ke PG Medari. Tidak diketahui bagaimana nasib PG Medari saat zaman pendudukan Jepang, namun bangunan PG Medari tampaknya selamat dari perang. Hanya saja saat masa Agresi Militer Belanda Kedua, kondisi pabrik sudah berhenti beroperasi sepenuhnya. Masa pendudukan Jepang memang merupakan masa sulit untuk semua perusahaan perbankan di Hindia-Belanda tidak terkecuali Koloniale Bank. Sesudah kemerdekaan, kejayaan Koloniale Bank sudah sulit dipulihkan seperti sediakala. Sejumlah asetnya dincara pemerintah Republik Indonesia untuk dinasionalisasi. Di Yogyakarta situasinya lebih buruk. PG Medari yang tinggal menjadi pabrik gula satu-satunya Koloniale Bank di Yogyakarta sempat diduduki oleh militer Belanda dan setelah pengakuan kedaulatan RI pada tahun 1949, bangunan pabrik dibongkar. Berlalulah kejayaan Koloniale Bank di Hindia-Belanda. Koloniale Bank akhirnya mengganti namanya menjadi N.V. Cultuur-, Handel-, en Industriebank (Cultuurbank) pada 1949 (Nieuwe Courant, 7 Desember 1949). Lalu bagaimanakah dengan sisa-sisa dari bangunan utama ketiga pabrik tempat tebu digiling dan sarinya dikristalkan menjadi gula ? Tidak banyak lagi yang bisa menemukan jejaknya. PG Randugunting hancur dan menyisakan cerobong. Sementara PG Sendangpitu tinggal seonggok puing di sudut lapangan. Sementara PG Medari separo lahannya telah menjadi pabrik GKBI dan satu-satunya jejak yang tersisa darinya hanyalah dinding pembatas halaman pabrik yang masih kokoh sampai sekarang. Kendati sudah lama berkalang tanah, namun setidaknya masih ada sekelumit jejak yang tersisa dari pabrik gula milik Kolonial Bank yang dulu berdiri begitu angkuhnya di tanah Vorstenlanden. 

Di akhir tulisan ini ada sesuatu yang dapat direnungkan bahwa betapa roda nasib betul-betul memainkan perannya di sini. Perusahaan konglomerat bermodal besar dengan aset yang tersebar dimana-mana, kini sudah tidak terdengar lagi namanya dengan jejak yang hampir lenyap samasekali. Jejak-jejak itu adalah salah satu aspek kehidupan sosial terkait kapitalisme pada masa kolonial yang menurut arkeolog Daud Aris Tanudirjo dalam buku "Kuasa Makna ; Prespektif Baru dalam Arkeologi Indonesia" dapat menjadi bahan kajian Arkeologi Kapitalisme. Kajian tersebut dapat mengisi kekosongan pengetahuan arkeologi tentang hubungan sosial, ekonomi, dan budaya antar manusia yang diharapkan mampu memperkaya sudut pandang terhadap fenomena kapitalisme di Indonesia.

Referensi
Anonim. 1922. Machinefabriek Gebr. Stork. & Co. Hengelo.
Bree, L. De. 1918. Het Bankwezen. Batavia :Ruygrok & Co.
De Wilde, A. Neytzell & Moll, J. Th. 1936. The Netherlands Indie During Great Depression. Amsterdam : J. M. Muelenhoff.
Groot, K.P. 1936. Het Zendingsziekenhuis Petronella. Yogyakarta : Kolff-Buning.
Knight, G. Roger. 2013. Commodities and Colonialism, The Story of Big Sugar in Indonesia 1880-1942. Brill : Leiden.
Lombard, Denys. 2018. Nusa Jawa Silang Budaya ; Batas Pembaratan. Jakarta : Gramedia.
Rush, James R. 2013, Jawa Tempo Doeloe, 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985, Depok : Komunitas Bambu.
Wiseman, Roger. 2001. "Three Crises : Management in The Colonial Sugar Industry 1880-1930s". Tesis. Adelaide : Departement of History, University of Adelaide.
De Locomotief, 25 Maret 1908
Bataviaasch Nieuwsblad, 5 Februari 1936
De Indische Courant, 2 Agustus 1924
De Indische Courat, 10 November 1928
Nieuwe Courant, 7 Desember 1949
Indische Mercuur, 23 Juni 1908
Indishce Mercuur Jubilleum Nummer 1898-1923