Sabtu, 25 Februari 2023

Gema Sejarah Gereja Santa Perawan Maria Purworejo

Jalan Prof. Dr. N. Driyarkara, Purworejo merupakan sepenggal ruas jalan di Purworejo yang namanya diambil dari seorang putra daerah Purworejo yang menjadi filsuf Katolik terkemuka di Indonesia. Jalan Prof. Dr. N. Driyarkara sendiri sarat dengan bangunan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan Katolik mulai dari gereja, susteran, bruderan, dan sekolah Katolik. Di antara bangunan-bangunan tersebut, Gereja Santa Perawan Maria menyimpan sejarah yang menarik dan arsitektur yang mewakili kondisi pada zaman ketika bangunan tersebut dibangun. Lewat tulisan ini, Jejak Kolonial akan menuntun anda untuk mengenal lebih jauh tentang riwayat dan arsitektur gereja ini.

Foto yang diambil oleh Pastor Thien pada artikel...Keterangan foto "Pastoran di Purworejo, tampak begitu indah dan 'cukup lapang' dari luar, tetapi di dalamnya...." 
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928)

Tiga pastor pertama MSC di Jawa Tengah setibanya di Purworejo. Dari kiri ke kanan ; Pastor P. J. Thien, Pastor B.J. Visser, dan Pastor M. de Lange
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928).

Sekitar bulan September 1927, sebuah kapal bernama “Indrapoera” berlayar meninggalkan daratan Eropa dari pelabuhan Marseille dalam suasana tenang. Kapal tersebut dengan membawa banyak penumpang bergerak dengan tenang ke arah timur. Tiga penumpang kapal tersebut adalah pastor, yakni Pastor Bernardus Johannes Visser M.S.C selaku pengawas, Bernardus P. J Thien M.S.C dan Marteen de Lange M.S.C. Ketiganya merupakan anggota tarekat “Missionarii bacratissimi Cordis Jesu" atau disingkat MSC yang dalam sumber-sumber Belanda disebut Missionarisen H. Hart dan jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Misionaris Hati Kudus. (Visser, 1928; 39-40). Tarekat MSC didirikan oleh pastor dari Perancis bernama Jean Jules Chevalier pada 8 Desember 1854 bersamaan dengan tanggal diakuinya dogma Maria Dikandung Tanpa Noda oleh Paus Pius IX. Pada tahun 1881, Tahta Suci memberikan restu kepada MSC untuk mengutus anggotanya untuk menyiarkan agama Katolik ke berbagai penjuru dunia. Sejak saat itu, MSC memberangkatkan banyak misionaris termasuk misionaris dari Belanda yang berkedudukan di Tillburg. Mereka diutus ke Hindia-Belanda dan menjadikan Papua barat sebagai daerah tujuan pertamanya (Van Woesik. 1938 : 27-29).

Sekolah Hollandsch Inlandsche School yang dibuka oleh Serikat Jesuit pada 1 September 1922. Sebelum dibangun gedung baru, kegiatan belajar mengajar diadakan di beranda depan pastoran. (Sumber foto : Sint Claverbond 1923)

Gedung baru Hollandsche Inlandsche School yang berada di belakang pastoran. Gedung sekolah tersebut masih ada dan sekarang menjadi bagian dari kompleks SMP Bruderan
(Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Menoleh beberapa tahun ke belakang sebelum kedatangan ketiga pastor tersebut, Purworejo bersama beberapa daerah lain di Pulau Jawa menjadi ladang misi dari tarekat Serikat Jesuit yang memulai kembali kegiatannya pada 1859 setelah sekian lama tiarap karena kerajaan Belanda yang Protestan sempat tidak mengizinkan adanya penyebaran agama Katolik di Hindia-Belanda. Untuk kegiatan di Purworejo, Serikat Jesuit membeli sebuah rumah besar berhalaman luas dari kantor Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) pada tahun 1888 dan mereka mengadakan misa di aula kecil belakang rumah tersebut. Kehadiran Serikat Jesuit di Purworejo tidak banyak menarik banyak pengikut karena mereka bersaing dengan Kyai Sadrach yang karismatik atau dengan para zending Kristen utusan Gereformeerde Kerken. Meskipun demikian, ada sejumlah keluarga keturunan serdadu Afrika yang menjadi pengikut Gereja Katolik yang taat. Serikat Jesuit kemudian membuka sekolah dasar Hollandsche-Inlandsche School pada tahun 1922. Sebelum resmi dibuka pada 1 September 1922, Serikat Jesuit telah mengirim surat edaran kepada para kepala desa bahwa di Purworejo telah dibuka HIS “Canisius Vereeniging”. Banyak orang tua yang antusias mendaftarkan anaknya ke sana karena HIS masih jarang di Purworejo sehingga pendaftar sekolah tersebut hampir mencapai seribu anak sementara sekolah hanya menerima 160 anak. Akhirnya diadakan seleksi masuk secara mendadak karena sambutan dari masyarakat di luar bayangan misi. Mengingat sekolah tersebut adalah sekolah berbasis agama, maka sebelum mendaftar orang tua murid diberitahu bahwa murid yang bersekolah di sana akan diajarkan agama Katolik. Jika orang tua sepakat, baru sekolah dapat menerima murid tersebut (Van Baal, 1923 : 33-37)

Peta misi MSC di Jawa Tengah dari. Keterangan : "Area Misi Kami di Jawa Tengah. Garis silang adalah batasnya. Garis normal dengan garis putus-putus di sebelahnya merupakan batas ketiga Karesidenan. Garis putus-putus yang lebih tebal adalah jalur trem uap, garis balok adalah jalur kereta. Ada gereja di Tegal dan Tjilatjap, dan Sekolah Katolik di Purworejo. Di Pekalongan, Misa Kudus dirayakan di gudang pemerintah."

Mgr. Van Velsen, Vicaris Apostolik Batavia, dalam kunjungannya di Purworejo.
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1928)

Setelah menempuh perjalanan panjang di atas lautan, ketiga pastor tadi ketika menginjakkan kaki di Batavia pada 22 Oktober 1927. Tiga hari kemudian mereka berangkat ke Purworejo menggunakan kereta api. Kedatangan mereka ke Purworejo tidak lepas dari beralihnya kegiatan misi di sebagian wilayah Jawa Tengah dari Serikat Jesuit ke MSC. Latar belakang peralihan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan umat Katolik di Jawa Tengah berkat pendekatan Serikat Jesuit yang cukup baik sehingga mampu untuk menarik banyak penganut baru, terutama di sekitar Semarang, Magelang, dan Yogyakarta. Tenaga manusia Serikat Jesuit di Jawa rupanya cukup terbatas sehingga mereka kesulitan untuk menjangkau umat yang berada di luar wilayah-wilayah tersebut. Untuk mengurangi beban Serikat Jesuit, maka tugas untuk membina dan menuntun umat di wilayah yang melingkupi Karesidenan Banyumas, Pekalongan, dan sebagian Karesidenan Kedu selanjutnya akan dipercayakan kepada MSC. Tidak banyak aset yang ditinggalkan oleh Serikat Jesuit di tempat-tempat tersebut sehingga dari berbagai tempat tersebut, Purworejo dipilih sebagai pijakan pertama karena di sana sudah ada gereja dan tempat tinggal tetap untuk pastor. Pada 25 Oktober 1927, tiga gembala utusan MSC tiba di Purworejo untuk memulai tugas mulianya (Visser, 1928: 39-40). Menurut buku "De missionarissen van het H. Hart Tilburg en hun missiewerk in Nederlandsch Oost-Indië", disebutkan bahwa Purworejo adalah stasi pertama MSC di Jawa Tengah. 

Foto tampak samping gereja di Purworejo yang diambil oleh Schutz. 
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1933)
Bagian dalam gereja di Purworejo. Di tempat inilah misa diadakan sebelum dibangunnya Gereja Santa Perawan Maria Purworejo
(Sumber :Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Ferbuari 1933).

“Gereja sudah sangat kusam”, terang Pastor Visser dalam Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart 1 Februari 1928 ”dan foto yang kami sertakan ini tidak dapat menyembunyikan adanya lubang menganga di langit-langit, tempat burung terbang ke sarang mereka dan air merembes dengan deras saat hujan”. Tulisan Pastor Visser tersebut menggambar kondisi tempat ibadah umat di stasi Purworejo yang menempati bagian belakang pastoran. Kendati stasi pertama MSC ada di Purworejo, namun MSC memilih Purwokerto sebagai pusat administrasinya di Jawa Tengah. Tanggal 25 April 1932 menjadi tanggal bersejarah bagi MSC karena wilayah asuhan mereka yang semula berada di bawah naungan Vikariat Apostolik Batavia, kini dipisahkan menjadi Prefektur Apostolik Purwokerto. Vatikan kemudian mengangkat Pastor Visser sebagai Prefek Apostolik Purwokerto pada 2 Agustus 1932 ; sumber lainnya menyebut 18 Mei 1932 (Anonim. 1933 : 17).

Upacara peletakan batu pertama Gereja Santa Perawan Maria Purworejo.
(Sumber : 
Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Desember 1933)

Nama biro arsitek yang masih terbaca di dinding tenggara gereja.

Niatan untuk mendirikan bangunan baru gereja mengemuka pada tahun 1932 seiring dengan pesatnya pertumbuhan jemaat di Purworejo sehingga ruang gereja yang kecil mulai tidak sanggup menampung jemaat saat misa. Lokasi bangunan baru gereja dipilih di halaman depan bangunan pastoran yang lama karena halamannya masih cukup luas. Pada 5 Maret 1933, biro arsitek Fermont en Cuypers dari Batavia dilimpahkan tanggung jawab untuk merancang gedung gereja. Nama biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuypers sudah sangat tenar dalam jagat arsitektur Hindia-Belanda dan telah lama berkiprah dalam menyusun rancangan gedung gereja Katolik. Selain di Purworejo, hasil karya biro tersebut di wilayah Prefektur Apostolik Purwokerto antara lain gereja di Purwokerto dan Pekalongan; kedua gereja tersebut saat ini sudah berubah bentuk aslinya. Penunjukan biro arsitek sekelas Hulswit, Fermoent en Cuypers boleh dibilang adalah suatu yang langka di Purworejo mengingat kebanyakan bangunan yang ada di Purworejo dirancang oleh arsitek amatiran dari zeni militer, pemborong Tionghoa, atau dari instansi pemerintah Burgerlijke Openbare Werken.

Sketsa Gereja Santa Perawan Maria Purworejo yang dibuat oleh Fermont-Cupyers
(sumber : 
Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Juli 1933)

Foto Gereja Santa Perawan Maria beberapa waktu setelah diresmikan
(sumber : De Koerier 27 Agustus 1933)

Untuk menandai awal pembangunan gereja, maka diadakan upacara peletakkan batu pertama gereja oleh Pastor Lange pada tanggal 12 Maret 1933. Pada saat gereja dibangun, dunia sedang didera krisis ekonomi Great Depression. Masyarakat lokal mengenalnya sebagai malaise. Krisis tersebut dampaknya cukup terasa sampai Purworejo dan salah satu dampaknya adalah ditutupnya Pabrik Gula Purworejo di Jenar pada tahun yang sama dengan pembangunan Gereja Santa Perawan Maria. Masa itu memang menjadi masa yang sulit untuk semua orang. Ada yang usahanya bangkrut atau kehilangan pekerjaannya hingga akhirnya mereka jatuh miskin. Meskipun perekonomian sedang suram, namun hal tersebut tidak menyurutkan niat dan semangat umat Katolik dari golongan masyarakat Eropa dan Pribumi untuk mendirikan Rumah Tuhan di Purworejo meski dalam bentuk yang relatif sederhana. Berselang lima bulan dari upacara peletakan batu pertama, bangunan gereja yang didambakan dapat dituntaskan dalam waktu yang terhitung singkat. Pentahbisan gereja dilakukan Prefek Apostolik Purwokerto, Mgr. B. J. J. Visser MSC pada 13 Agustus 1933 dalam upacara yang sederhana namun khidmat (De Koerier 24 Agustus 1933). Ketika memandang gereja tersebut untuk pertama kali, orang akan mendapati paras gereja yang dipoles begitu sederhana dan sedikit hiasan. Hal tersebut menjadi pesan bahwa tidak pantas bagi Gereja untuk bermewah-mewahan di saat banyak orang sedang dilanda kesusahan. Meskipun arsitektur gereja terkesan polos, kewibawaan dan pesona sebagai sebuah bangunan sakral masih terpancar jelas. 

Tampak depan Gereja Santa Perawan Maria.

"Matris Filio dicata". Sepenggal kalimat bahasa Latin yang berarti “Didedikasikan untuk Putra Sang Bunda” tergurat di atas pintu masuk, menyambut setiap pengunjung yang datang. Pintu utama Gereja Santa Perawan Maria Purworejo menghadap ke arah timur, arah yang sama sebagaimana gereja-gereja kuno di Roma dahulu dibangun. Bagian depan gereja dahulu memiliki dua tiang bendera, tiang yang satu untuk mengibarkan bendera Belanda dan tiang yang kedua untuk mengibarkan bendera Tahta Suci Vatikan. Tengara yang menonjol di gereja ini adalah menara kecil yang menyembul dari atap limas gereja dan di dalamnya terdapat lonceng terukir sepenggal kalimat Latin "Non recuso laborem in Dei summi honorem". Alkisah, setelah gereja memesan lonceng dari pabrik Petit en Fritsen dari Aarle-Rixtel, rupanya uang untuk membayar lonceng tersebut masih kurang sehingga Pastor Visser lantas membuat tulisan di buletin Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart tanggal 1 Juli 1933 dan berharap agar pembaca yang terketuk hatinya dapat memberikan sumbangan seihklasnya untuk membantu pembelian lonceng. Lonceng itu akhirnya berhasil didatangkan dan kumandang dentangnya dapat terdengar oleh seluruh umat di hari pentahbisan gereja.

Bagian nave Gereja Santa Perawan Maria Purworejo.

Bagian yang dahulu digunakan sebagai tempat paduan suara.

Melangkah masuk ke dalam gereja, pengunjung dapat menjumpai dua kota sumbangan yang sudah ada sejak gereja dibangun. Uang yang masuk ke dalam kotak “Voor de Kerk” digunakan untuk pengelolaan gereja sedangkan uang yang masuk ke dalam kotak “Voor de Armen” digunakan untuk menolong orang-orang miskin. Bagian dalam gereja terkesan polos dan nyaris tidak menampakan hiasan berlebih yang mencolok. “Saat memasuki gereja ini, seseorang dapat membayangkan dirinya berada di dalam Basilika Roma” terang harian De Koerier tanggal 24 Agustus 1933 yang memuat deskripsi gereja sesaat setelah dibuka. Tata ruang Gereja Santa Perawan Maria Purworejo mengacu pada bangunan basilika masa Romawi yang dianggap sesuai untuk persekutuan umat Kristiani yang membutuhkan ruang luas. Denahnya berbentuk persegi panjang dibagi menjadi tiga bagian memanjang. Ruang utama di tengah adalah tempat berkumpulnya umat yang disebut nave. Kemudian nave diapit oleh lorong memanjang yang di sebut aisle. Ujung dari nave adalah tempat posisi altar memimpin ibadah. Pada awal dibuka, gereja direncanakan memiliki daya tampung mencapai 700 orang. Seiring dengan bertambahnya jemaat, maka diadakan penambah bangunan baru di sisi selatan pada akhir tahun 2022. Perubahan lainnya menyangkut pada perubahan tata cara ibadah paska Konsili Vatikan II (1962-1965). Sebelum Konsili Vatikan II, Tata Perayaan dan Ritus Perayaan dilakukan secara Ad Orientem, yakni Umat dan Imam sama-sama menghadap ke arah Altar. Setelah Konsili Vatikan II, Perayaan Ekaristi, yang semula berkonsep Ad Orientem berganti menjadi Versus Populum, dimana Imam tidak membelakangi Umat sehingga saling berhadapan sehingga posisi altar dimajukan ke depan (Abbas. 2021 : 44).

Kotak sumbangan untuk Gereja.
Kotak sumbangan untuk orang miskin.
Bejana baptis yang masih asli.

Aisle sisi utara memiliki tiga ruang pengakuan dosa. Sementara bagian barat merupakan panti imam. Kemudian aisle sisi selatan dapat dijumpai satu fitur langka yang jarang ditemukan di gereja manapun, yakni bejana untuk baptisan anak yang masih asli. Pada bejana dari batu jenis terazzo itu, tertera kalimat berbahasa Latin “In sanguini agni laverunt stolas suas” yang bila diartikan adalah “Dibasuh dalam darah Anak Domba”. Kalimat tersebut merujuk pada Kitab Wahyu 7:14 yang menyebut tentang orang-orang yang keluar dari kesengsaraan besar yang telah membasuh jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Ujung dari aisle sisi selatan Gereja Santa Perawan Maria adalah kapel kecil yang didedikasikan untuk Bunda Maria. Di dalam kapel tersebut, “di atas alas kayu sono berwarna gelap, berdiri patung Bunda Maria berwarna putih, persembahan dari umat Katolik Jawa dan menjadi permata yang indah untuk gereja ini” urai koran De Koerier. Patung tersebut saat ini sudah diberi tambahan warna. Keanggunan dari patung tersebut dilengkapi dengan tujuh jendela kaca patri di belakangnya. Jendela kaca patri berbentuk segitiga yang ujungnya mengarah ke patung tersebut menampilkan motif bunga matahari, bakung, mawar, dan melati.

Kapel Maria.

Jendela bundar di samping kapel memancarkan kilau cahaya warna-warni dari kaca patri karya Albert Verschuuren, seorang seniman dari kota Oosterhout, provinsi Nord Barabant, Belanda. Kaca patri tersebut memperlihatkan sebuah biduk atau perahu yang berlayar di atas ombak dengan berlatar belakang pelangi. Hiasan tersebut mengandung pesan bahwa Gereja yang dilambangkan dengan perahu akan mampu bertahan menghadapi ketidakpastian zaman laksana ombak di lautan dan menuntun umatnya menuju pelabuhan keselamatan. Sementara pelangi di latar melambangkan perlindungan Tuhan terhadap Gereja. Selain di kapel, Gereja Santa Perawan Maria Purworejo juga memiliki kaca patri di bagian depan namun kaca patri tersebut dirusak massa saat kerusuhan sipil Purworejo yang terjadi tahun 1990an.

Jendela kaca patri karya Albert Verschuuren.

Gereja Santa Perawan Maria saat ini tinggal menjadi satu-satunya karya biro arsitek Cupyers-Fermont yang masih utuh di wilayah Keuskupan Purwokerto. Gereja ini menjadi salah satu tengara bahwa di Purworejo, umat Katolik setidaknya dapat menjalankan ibadahnya dengan damai dan hidup berdampingan dengan umat lain. Kisah perjuangan umat untuk berupaya mendirikan gereja di tengah krisis ekonomi mengandung pesan bahwa nilai sebuah gereja tidak terletak pada ukuran atau kemegahannya, namun bagaimana umat yang beribadah di dalamnya tetap teguh dengan imannya sekalipun didera banyak cobaan. Semoga bangunan yang menjadi bagian dari khazanah warisan budaya di Purworejo ini senantiasa lestari...

Referensi

Abbas, Novida. Soleiman, Yusak. Suryaningsih, Febriyanti. Hutagalung, Sylvania. 2021. Gema Genta : 400 Tahun Gereja Warisan Budaya di Indonesia. Jakarta : Direktorat Pelindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Anonim. 1933. De Missionarisen Van Het H. Hart Tilburg en Hun Missiewerk in Nederl. Oost Indie. Limburg Dagblad.

De Koerier 24 Agustus 1933

Van Baal, Jos. 1923. "Opening Der H.I.S. Te Poerwaredja op 1 September 1922". dalam Sint Claverbon halaman 33-37.

Van Woesik. 1938. De Missioneerende Orden. 't Gravenhage ; Nederlandsch Medisch Missie Comite

Visser MSC. Bern J.J. 1928. "Onze Java Missie" dalam Annalen van O.L. Vrouw V. H. H Hart, 1 Februari 1928. Tillburg : Missionarisen H. Hart 39-40

Senin, 23 Januari 2023

Sudut Sejarah Kebumen yang Belum Terhapus Zaman

Kendati Kebumen terhitung kota yang tidak memiliki kawasan kota tua yang memukau atau bangunan lama yang arsitekturnya menonjol, namun bukan berarti Kebumen adalah kota tanpa sejarah sama sekali karena di beberapa sudutnya masih dapat dijumpai tinggalan sejarah yang menyimpan cerita sejarah yang cukup menarik untuk diikuti. Pada tulisan Jejak Kolonial kalini, penulis akan mengangkat beberapa tinggalan sejarah di kota yang dibelah oleh Sungai Luk Ulo ini.

Eks rumah tinggal asisten-residen Kebumen, pejabat tertinggi Belanda di Kebumen.
Rumah asisten residen Kebumen pada tahun 1910an
(Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Pada masa kolonial tepatnya setelah Perang Jawa, Kebumen yang sebelumnya dikenal dengan nama Panjer dijadikan oleh pemerintah kolonial sebagai pusat kedudukan asisten residen yang membawahi dua Kabupaten, yakni Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Karanganyar. Asisten Residen Kebumen bertanggung jawab kepada Residen Bagelen yang berkedudukan di Purworejo. Kabupaten Kebumen sendiri membawahi district Kebumen, Alihan, Kutowinangun, dan Prembun. Sementara Kabupaten Karanganyar membawahi district Karanganyar, Gombong, Rowokele, Pejagoan, dan Puring. Menurut keterangan Veth, Kebumen ditata dengan jalan yang bagus dan dihiasi pepohonan yang rindang. Pusat kota Kebumen memiliki alun-alun yang dikelilingi dengan bangunan penting seperti tempat tinggal asisten residen, kediaman bupati, masjid, gudang, dan penjara. Keseluruhan bangunan tersebut tidak ada yang layak untuk diperhatikan, perkecualian kediaman bupati yang di depannya berdiri pendapa indah yang dibalut dengan ukiran warna merah keemasan. Biarpun tidak ada bangunan yang istimewa, suasana lingkungan Kebumen relatif menyenangkan (Veth, 1882: 436). 

Peta Kebumen pada tahun 1905.
 (Sumber : digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Penataan pusat kota Kebumen juga tidak jauh berbeda dengan kota-kota di Jawa pada umumnya, yakni alun-alun sebagai pusat, masjid di sebelah barat alun-alun, dan rumah bupati di sebelah utara alun-alun. Sementara rumah tinggal asisten residen berada di sebelah timur. Bagian selatan alun-alun Kebumen juga terdapat beberapa bangunan penting lain seperti kantor pos dan penjara. Menjelang Agresi Militer Belanda Kedua, bangunan-bangunan di pusat kota Kebumen dibumihanguskan oleh pasukan gerilya seperti pendopo, jembatan, gedung pemerintahan, rumah gadai, sekolah, dan pertokoan (Harnoko & Poliman, 1987: 43). Kini di sekitar alun-alun Kebumen tidak banyak bangunan lama yang masih utuh kecuali eks rumah tinggal asisten residen yang saat ini menjadi bagian kompleks Sekretariat Daerah. Bangunan tersebut belum dapat diketahui tarikh pembangunannya namun diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1845 karena dalam Javasche Courant 8 Februari 1845 disebutkan pemerintah akan melakukan renovasi dan perbaikan pada rumah asisten residen di Kebumen. Asisten residen Kebumen terakhir sebelum pendudukan Jepang adalah J. A. Ochtman.

Sisa-sisa kejayaan pabrik bata Aboengamar.

Hampir setiap hari kepulan asap keputihan menyelimuti langit Kebumen. Kepulan asap tersebut berasal dari tungku-tungku pembakaran genteng dan bata yang tersebar di sekitar Kebumen terutama dari daerah Sokka. Dengan menyebut nama Sokka, orang pasti akan teringat dengan genteng karena industri genteng mudah dijumpai di sana. Sejarah perkembangan industri genteng di Sokka tidak dapat dilewatkan begitu saja karena industri tersebut telah melambungkan nama Kebumen sebagai sentra pembuatan genteng dan bata sejak masa Hindia-Belanda. Menurut koran De Preanger Bode 28 Juni 1919, pembuatan bata dan genteng di Sokka dimulai saat perusahaan kereta api Staatspoorwegen meninjau calon jalur kereta api Yogyakarta-Bandung. Ketika melakukan uji sampel tanah di Sokka, Kebumen, insinyur Staaspoorwegen menemukan bahwa tanah tersebut layak untuk dibuat bata dan genteng. Para penduduk sekitar lantas membuat tungku pembakaran. Pembuatannya masih sederhana namun mutu bata dan genteng yang dihasilkan sudah sangat bagus. Jembatan Tembana, jembatan terkenal di Kebumen yang menghubungkan Kebumen dengan Pejagoan, tersusun dari bata-bata buah tangan pengrajin Sokka. 

Struktur cerobong di pabrik bata Aboengamar yang masih berdiri tegap meski mulai rapuh dimakan usia.

Sokka tumbuh berkembang menjadi pusat pembuatan batu-bata sejalan dengan tingginya permintaan bata dari Staatspoorwegen untuk material bangunan. Setelah jalur kereta selesai dibuat pada tahun 1880an, permintaan bata sempat merosot karena saat itu orang-orang Eropa cenderung membuat bata di dekat lokasi pembangunan daripada memesan dari tempat yang jauh karena biaya pengangkutan saat itu cukup tinggi (De Preanger Bode 28 Juni 1919). Merebaknya wabah pes pada tahun 1910an justru menjadi tanda kebangkitan industri genteng Sokka. Permintaan genteng meningkat pesat karena tikus-tikus pembawa penyakit pes diketahui bersarang di atap rumah yang terbuat dari rumbia sehingga salah satu kebijakan yang diambil pemerintah kolonial dalam rangka pemberantasan wabah pes adalah mewajibkan penduduk untuk mengganti material atap rumah dari rumbia ke genteng. (De Locomotief 8 Februari 1917). Tercatat ada sekitar 200 tungku pembakaran di Sokka pada tahun 1916. Penduduk pribumi yang sebagian besar adalah petani menjadi pengrajin genteng dan bata untuk menambah pemasukan. Industri genteng dan bata Sokka begitu bagusnya sehingga sering dijadikan percontohan industri sejenis di tempat lain.

Iklan pabrik bata Aboengamar pada koran De Locomotief 13 Juni 1918

Dari sekian banyak pelaku industri genteng dan bata Sokka, salah satu yang menjadi legenda adalah Abungamar. Haji Abungamar meneruskan usaha dari ayahnya yang merintis usaha pembuatan genteng dan bata pada tahun 1890an. Pada awal tahun 1900an, Abungamar mewarisi usaha ayahnya dan ia melakukan perluasan besar-besaran. Berbeda dengan usaha ayahnya yang baru dipasarkan pada lingkungan lokal, usaha Abungamar mampu merambah dan menguasai pasar nasional dan internasional di masa kolonial. Pembeli utama bata dan genteng Abungamar berasal dari pabrik gula dan perusahaan kereta seperti Staatspoorwegen dan Nederlandsch Indisch Spoorweg Mij. Pabrik bata milik Abungamar mempekerjakan 1600 tenaga kerja dan setiap tahun mampu menghasilkan 12.000.000 genteng dan 6.000.000 bata yang dipasarkan hingga China dan Jepang. Boleh dikatakan jika Abungamar adalah pengusaha pribumi pertama di Kebumen yang mampu menembus pasar ekspor. Untuk mendukung pemasaran, dibuat jalur kereta yang mengarah pabrik bata Abungamar yang ada di selatan stasiun Sokka (De Locomotief 11 Februari 1920). Industri genteng Abungamar mengalami masa sulit saat Perang Revolusi Kemerdekaan karena permintaan menurun dan sebagian bangunan pabrik rusak. Pertengahan masa Orde Baru, industri genteng Sokka mengalami masa keemasan karena pemerintah saat itu sedang menggalakan banyak proyek pembangunan sehingga permintaan meningkat tajam. Industri genteng kembali menjamur di Sokka dan terus bertahan sampai saat ini.

Tampak depan GKJ Kebumen.

GKJ Kebumen pada tahun 1925 (sumber :Schetsen en Herinneringen).

Jalan Pemuda Kebumen adalah salah satu ruas jalan di Kebumen yang ramai dengan arus kendaraan yang nyaris tanpa henti. Di salah satu bagian jalan tersebut, terdapat sebuah bangunan gereja tua yang sekarang menjadi GKJ Kebumen. Pada fasad depan gereja yang berbentuk Dutch Gable, tergurat begitu jelas tulisan berbahasa Jawa “Mratobata lan pratjaja marang Indjil” yang berarti “Bertobatlah dan Percaya Kepada Injil”. Tulisan tersebut seakan menjadi pesan tersendiri untuk penganut Kristen. Arsitektur gereja tersebut terbilang sederhana dan tidak ada hiasan yang begitu istimewa dari bangunan gereja tersebut. Meskipun demikian, gereja tersebut memiliki nilai penting tersendiri khususnya dalam sejarah penyebaran agama Kristen di kalangan orang-orang Jawa.


Gedung Prabasanti yang ada di sebelah GKJ Kebumen.

Gedung Prabasanti ketika masih digunakan sebagai rumah tinggal pendeta K. van Dijk
(sumber  : Verslag van den zendingsarbeid op 't zendingsterrein van Friesland).

Untuk menghindari persaingan sesama zending dalam mendapatkan jemaat pribumi, maka pemerintah kolonial mengatur pembagian wilayah penyebaran agama Kristen untuk setiap lembaga zending. Jawa Tengah bagian selatan yang melingkupi Karesidenan Surakarta, Yogyakarta, Kedu, dan Banyumas menjadi ladang pekabaran Injil untuk Gereformeerde Kerk in Nederland. Beberapa wilayah tersebut masih mengalami kekosongan kegiatan zending sehingga salah satu gereja yang berada di bawah naungan Gerefomeerde Kerk, Frisian Kerk atau Gereja Frisian mengutus pendeta Bakker pada tahun 1900 untuk membantu pekabaran Injil Gereformeerde Kerk. Dengan medan yang terentang luas, pdt. Bakker awalnya menemui kesulitan untuk memilih lokasi yang akan dirintisnya sebagai pos zending. Pilihan Bakker jatuh kepada Kebumen yang dinilai cocok untuknya. Pdt. Bakker beserta keluarganya tiba di Kebumen pada 11 September 1900 dan tanggal tersebut diperingati sebagai hari dimulainya zending Kebumen. Keluarga pdt. Bakker menetap di sebuah rumah kontrakan yang saat ini menjadi Griya Prabasanti. Karena pdt. Bakker belum memahami bahasa dan istiadat lokal, maka ia dibantu oleh dua helper atau penolong pribumi yakni Iskak dan Yakub (Bakker, 1925: 33).

Keluarga Pdt. Bakker di rumah kontrakan mereka (Sumber : Schetsen en Herinneringen).

Pendeta Bakker dan jemaat Kristen Kebumen (Sumber : Schetsen en Herinneringen)

Sebelum kedatangan pdt. Bakker, di Kebumen sudah ada jemaat Kristen yang merupakan pengikut Kyai Sadrach. Meskipun sama-sama Kristen, para pengikut Kyai Sadrach menjaga jarak dengan para pengutus Belanda seperti pendeta Bakker. Akhirnya hanya tercatat tiga orang Jawa yang menjadi anggota Gereformeerde Kerk yang tidak lain adalah hulper atau penolong pdt. Bakker, yakni Iskak, Yakub, dan istri Yakub. Secara perlahan, pendeta Bakker berhasil menarik pengikut meski jumlahnya masih sedikit. Salah satu pengikut baru merupakan keluarga lurah yang kemudian membantu pendeta Bakker mendirikan sekolah. Selain sekolah, pendeta Bakker juga mendirikan klinik di dekat pemandian air hangat Krakal yang dipercayai mengandung khasiat penyembuhan. Pendeta Bakker selanjutnya meninggalkan Kebumen pada 4 Juni 1906 karena dia mendapat tugas baru sebagai guru sekolah pendeta di Yogyakarta (Pol, 1939 : 330-332). 

Sinode pertama jemaat Kristen Jawa yang diadakan di Gereja Zending Kebumen pada 17-18 Februari 1931 (Sumber : Onze Zending Velden Midden Java ten Zuiden).

Meskipun berkarya hanya enam tahun, namun usaha pendeta Bakker telah mengukuhkan pondasi zending Kristen di Kebumen. Karya pendeta Bakker di Kebumen selanjutnya diteruskan oleh pendeta K. Van Dijk yang tiba di Kebumen pada 15 Februari 1906. Oleh Van Dijk, rumah yang dulu disewa oleh pendeta Bakker kemudian dibeli pada tahun 1908 dan sejak saat itu digunakan sebagai rumah tinggal pendeta. Bangunan tersebut kemudian dialih fungsikan sebagai gedung pertemuan Griya Prabasanti GKJ Kebumen pada tahun 2001. Jemaat-jemaat baru tidak hanya tumbuh di pusat kota Kebumen saja, melainkan juga di tempat lain seperti Karanganyar, Prembun, Pamriyan, Glonggong, Banjur, dan Krakal. Pada 17-18 Februari 1931, utusan kelompok jemaat dari klasis Kebumen, Purbalingga, Purworejo, Yogyakarta, dan Surakarta untuk pertama kalinya mengadakan sidang sinode dengan tujuan untuk merumuskan tatanan dan dasar dari Gereja Jawa yang lebih berdaya dan mandiri. Bangunan GKJ Kebumen yang saat itu masih bernama zendingskerk menjadi tempat dilangsungkannya sinode tersebut sehingga boleh dikatakan jika bangunan GKJ Kebumen menjadi saksi sejarah jemaat Kristen Jawa yang mulai memasuki tahap pendewasaan (Pol, 1939 : 237-238).

Tampak depan rumah sakit zending Pandjoeroeng (sumber :Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland).

Asrama untuk perawat rumah sakit (sumber :Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland).

Rumah tinggal direktur rumah sakit (sumber  :Schetsen en Herinneringen).

Sebagai pusat kegiatan zending Gereja Frisian yang berada di bawah naungan Gereformeerde Kerk, maka sudah sepantasnya Kebumen memiliki sebuah rumah sakit zending sendiri. Wacana pendirian rumah sakit tersebut mulai mengemuka sejak tahun 1911. Fasilitas kesehatan di Kebumen saat itu baru berupa sebuah klinik milik pemerintah yang dijalankan oleh seorang dokter Jawa saja dengan fasilitas dan pengetahuan yang masih terbatas. Tentu saja zending tidak sanggup membiayai sendiri pembangunan rumah sakit sehingga keinginan tersebut baru dapat terwujud setelah pemerintah kolonial menjamin akan menanggung sebagian besar biaya pembangunan rumah sakit tersebut (Vonk, 1925 : 79). Pendeta Van Dijk kemudian mendapatkan sebidang tanah yang terletak di sebelah barat stasiun Kebumen untuk lokasi rumah sakit. Tanah tersebut merupakan bekas dari pabrik pembantu milik PG Prembun. Pada bulan Mei 1915, Dokter Oosterhuis tiba di Kebumen sebagai direktur pertama yang akan mengurus rumah sakit zending yang sedang dipersiapkan. Arsitek bernama Polman dilimpahkan pekerjaan untuk merancang rumah sakit tersebut (Dijk, 1918 : 54).

Denah rumah sakit zending Pandjoeroeng Kebumen (sumber : Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland).

Rumah sakit zending Kebumen dibuat mengikuti standar rumah sakit pada masa itu yang terdiri dari poliklinik rawat jalan, bangsal rawat inap yang terpisah untuk pasien pria dan wanita, apotek, ruang operasi, rumah direktur rumah sakit, dan rumah tinggal perawat. Pasokan air bersih diperoleh dari sumur bor yang kemudian ditampung di bak tandon. Sementara penerangan rumah sakit menggunakan lampu gas yang dihasilkan dari mesin pengolah yang ditempatkan di bagian rumah sakit. Dalam Het Zendingsiblad Gereformeerde Kerken April 1918, bangunan rumah sakit zending Kebumen diuraikan “seperti semua bangunan rumah sakit (di Hindia-Belanda), seluruhnya dibangun dari batu, rangka dari kayu jati, (beratap) genteng, dan lantainya dari semen Portland. Kusen pintu dan jendela dicat warna abu-abu; dinding dilabur kapur dan dicat warna abu-abu". Semua bangunan di dalam tembok keliling dihubungkan oleh galeri tertutup dengan lantai plesteran, sehingga untuk berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya tidak harus terkena hujan tropis (Dijk, 1918 : 54-57).


Eks rumah dinas dokter rumah sakit zending Pandjoeroeng.

Zendingziekenhuis Kebumen memulai kiprahnya pada 1 Januari 1916 dan diberi nama “Pandjoeroeng” yang dalam bahasa Jawa berarti dorongan. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pdt. Van Dijk karena pembangunan rumah sakit tersebut didorong oleh keinginan agar Kebumen dapat memiliki rumah sakit yang dapat melayani pasien dari berbagai latar belakang sekalipun rumah sakit tersebut dikelola oleh zending Kristen (Vonk, 1939 : 80). Setelah kemerdekaan, Rumah Sakit Zending Pandjoeroeng dan rumah sakit zending lainnya di Jawa Tengah mengalami kesulitan keuangan. Pemerintah RI melalui Kementerian Kesehatan RI memberi tawaran kepada rumah-rumah sakit zending milik Gereformeerde Kerk untuk dinasionalisasi. Tawaran tersebut sangat penting karena biaya pengelolaan rumah sakit akan ditanggung oleh pemerintah. Di sisi lain keberadaan rumah sakit zending tersebut menjadi aset yang berarti bagi pemerintah RI yang pada masa awal belum memiliki banyak anggaran untuk membangun rumah sakit di tingkat daerah sedangkan layanan kesehatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Singkat cerita, rumah sakit zending di Jawa Tengah termasuk Kebumen bersedia untuk dinasionalisasi dan Rumah Sakit Pandjoeroeng sejak tahun 1953 resmi menjadi RSUD milik pemerintah Kabupaten Kebumen. Kompleks rumah sakit yang ada dirasa tidak memadai lagi untuk kegiatan rumah sakit yang terus berkembang sehingga RSUD Kebumen pindah ke Jalan Lingkar Selatan pada tahun 2015. Saat ini bekas Zendingziekenhuis Pandjoeroeng atau RSUD Kebumen saat ini dalam keadaan terlantar dan sejauh ini belum diketahui nasib selanjutnya dari rumah sakit bersejarah tersebut.

Pabrik "Oliefabriek Insulinde" dilihat dari sisi selatan (sumber : https://data.collectienederland.nl/)
Area pengeringan kopra (sumber : https://data.collectienederland.nl/)

Mesin pemeras minyak kopra (sumber : https://data.collectienederland.nl/).

Sudut sejarah Kebumen lainnya yang tidak bisa dilewatkan begitu saja adalah eks pabrik minyak Mexolie atau lebih dikenal dengan pabrik minyak Sari Nabati. Minyak yang dimaksud bukanlah minyak bumi, melainkan minyak dari pohon kelapa yang mudah dijumpai di Kebumen. Jika dibandingkan dengan teh, kopi, gula, dan tembakau, kelapa tidak menjadi komoditas unggulan kendati tumbuh subur di Kebumen karena harga jualnya terlalu rendah. Pamor kelapa mulai terangkat pada tahun 1850 seiring dengan meningkatnya penggunaan minyak kelapa untuk penerangan rumah-rumah penduduk. Memasuki tahun 1870an, penjualan kelapa kembali surut karena penduduk beralih dari minyak kelapa ke minyak tanah untuk bahan bakar penerangan. Kendati demikian kelapa masih diperlukan untuk bahan kopra. Kopra dihasilkan dengan cara mencungkil daging buah kelapa dan dikeringkan dengan cara dijemur atau diasap. Untuk mendapatkan minyak kopra, kopra diperas dengan tenaga manual atau mekanis. Di Hindia-Belanda, pemerasan minyak kopra secara mekanis dirintis oleh A.L.C. van Heel yang mendirikan pabrik kopra di Blitar dan Kediri pada tahun 1904. Kendali kedua pabrik tersebut beralih ke "Maatschappij tot Continuation der Zaken" pada tahun 1907. Kedua pabrik tersebut kemudian berpindah tangan ke perusahaan baru bernama "N.V. Oliefabriken Insulinde" pada 1 Januari 1913 (Muller, 1932 : 6). Untuk menekan ongkos produksi, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membangun pabrik sedekat mungkin dengan pemasok bahan bakunya. Oleh karena itu, Insulinde memutuskan untuk mendirikan pabrik baru di Kebumen pada tahun 1915. Proses pendiriannya dibimbing oleh W. Swets, kepala pabrik Kediri. Pabrik Insulinde di Kebumen dibuka pada 1 Januari 1916 (De Nieuwe Courant 7 Januari 1916).


Kompleks rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde yang pernah ditempati oleh Kodim Kebumen
(sumber : https://data.collectienederland.nl/).


Rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde dulu dan kini(sumber : https://data.collectienederland.nl/). 


Kompleks rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde yang saat ini digunakan untuk Hotel Mexolie (sumber : https://data.collectienederland.nl/)

Eks rumah dinas pegawai Oliefabriek Insulinde yang sekarang digunakan untuk Hotel Mexolie.

Meletusnya Perang Dunia I di Eropa membuat pasokan lemak hewani tersendat sehingga produsen margarin dan sabun beralih ke minyak kopra sebagai bahan pengganti lemak hewani. Pabrik minyak Insulinde kebanjiran pesanan dan menerima keuntungan yang sangat besar. Sayangnya keberuntungan tersebut tidak bertahan lama karena setelah perang berakhir produsen margarin dan sabun kembali memakai lemak hewani. Harga kopra yang sempat naik selama perang akhirnya merosot tajam. Awal tahun 1920an menjadi masa suram pabrik minyak Insulinde di berbagai tempat termasuk Kebumen karena pendapatan yang diterima menurun sehingga tidak mampu menutup ongkos produksi. Pada tahun 1921, Olie Fabriek Insulinde tidak mampu lagi mempertahankan usahanya sehingga aset pabrik di Kebumen disewakan kepada pihak luar. Pada tahun 1923, salah satu anak perusahaan Nederlandsch Indische Handelsbank bernama N.V. Maatschappij tot Expliotatie van Oliefabriken atau disingkat Mexolie menyewa pabrik minyak Insulinde di Kebumen (De Sumatra Post 10 Juli 1923). Aset Insulinde di berbagai kota termasuk di Kebumen kemudian dijual kepada Mexolie pada Desember 1926. Di bawah pengelolaan Mexolie, pabrik minyak di Kebumen mengalami peningkatan pendapatan yang besar. Pada masa pendudukan Jepang, pabrik minyak Mexolie juga menghasilkan minyak kemiri dan minyak karet.


Bekas-bekas bangunan cungkup di area pemakaman Tionghoa Pejagoan.

Membicarakan sejarah perkembangan suatu kota di Jawa tentu akan bersinggungan dengan kawasan permukiman orang Tionghoa yang disebut Pecinan. Pada tahun 1905, jumlah penduduk Tionghoa di pusat kota Kebumen mencapai 860 jiwa. Menurut harian De Locomotief 4 Februari 1930, Chineesche Kamp atau Pecinan Kebumen cukup luas. Selain di Pecinan, orang Tionghoa Kebumen juga tinggal di Stationweg (kini Jalan Pemuda) Mengingat banyak penduduk Tionghoa adalah pedagang, maka mereka mendirikan rumahnya di dekat pasar. Pasar yang dimaksud bukanlah Pasar Tumenggungan yang sekarang, melainkan pasar lama yang berada di barat daya Pasar Tumenggungan.Sewaktu pemerintah kolonial hendak mendirikan Pasar Tumenggungan pada pengujung 1920an, beberapa orang Tiongha berbondong-bondong membeli lahan di Pasar Tumenggungan untuk dibangun toko. Sementara pedagang Tionghoa di dekat pasar yang lama mengeluh akan kehilangan pembeli setelah pasar yang baru mulai beroperasi. Kehidupan niaga yang semarak bermunculan di pasar yang baru. Selain pedagang Tionghoa, rupanya ada pedagang Jepang yang baru muncul belakangan di sana dan mereka menjadi pesaing bisnis yang serius. (De Locomotief 24 Februari 1930). Selain ruko dan klenteng, tinggalan fisik yang identik dengan komunitas Tionhoa di suatu tempat adalah makam. Kompleks permakaman Tionghoa di Kebumen berada di Pejagoan. Beberapa makam Tionghoa di sana rupanya diberi struktur semacam cungkup. Sayangnya karena pengaruh usia, atap cungkup tersebut sudah hilang dan menyisakan struktur penopang di kedua sisi makam.


Demikian tulisan Jejak Kolonial mengenai sebagian sudut sejarah kota Kebumen yang belum terhapus oleh perkembangan zaman dan barangkali ada sudut lainnya yang belum sempat terkuak sejarahnya. Sudut sejarah tersebut akan menjadi pengingat orang bahwa Kebumen pada masa kolonial merupakan kota yang berarti, mulai dari sebagai pusat pembuatan bata dan genteng Hindia-Belanda yang mendunia, saksi sejarah pendewasaan jemaat Kristen Jawa, hingga perkembangan industri minyak kopra yang pernah berjaya pada masanya. Pada akhirnya kota kecil seperti Kebumen bukanlah kota tanpa sejarah samasekali. 

Referensi

Bakker, D. 1925. "De Eerste Jaren" dalam Schetsen en Herinneringen. Sneek : N.V. Drukkerij De Motor. Halaman 31-38.

Bleeker, P. 1850. "Fragementen eener Reis over Java ; Van Poerworedjo Naar Banjoemas" dalam Tijdschirft voor Nederlandsch Indie. Groningen : C. M. Van Bolhuis Hoitsema. Halaman 94-99.

Dijk, K. 1918. "Het Zendingshospitaal te Keboemen" dalam Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland. Halaman 54-58.

Harnoko, Darto & Poliman, B.A. Perang Kemerdekaan Kebumen Tahun 1942-1950. Yogyakarta : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Muller, J.H. 1932. De industrie van plantaardige oliën in Nederlandsch-lndië. Polytechnisch Weekblad.

Pol, D. 1939. Onze Zendingsvelden Midden Java ten Zuiden. Honderloo : De Drukkerij van De Stichting Hoenderloo.

Veth, P.J. 1882. Java, Geographisch, Ethnologisch, Historich. Haarlem : De Erven F. Bohn.

Vonk, A.H. 1925. "Onze Medische Dienst" dalam Schetsen en Herinneringen. Sneek : N.V. Drukkerij De Motor. Halaman 76-95

De Nieuwe Courant 7 Januari 1916

De Sumatra Post 10 Juli 1923