Sabtu, 07 Juli 2018

Kelam Kerkhof Purbalingga

Sore itu, derau suara kendaraan yang berseliweran di jalan sedikit mengurangi suasana senyap kerkhof Purbalingga, tempat dikuburkannya jenasah orang-orang Belanda yang tutup usia di Purbalingga. Walau suasana kerkhof mulai gelap, namun hal tersebut lantas tak mengurangi rasa penasaran saya dan kawan-kawan dari Banjoemas Heritage menegnai salah satu jejak kolonial di Purbalingga ini.
Keadaan kerkhof Purbalingga saat ini.
Berbicara tentang sebutan kerkhof, sebutan yang merujuk pada makam-makam Belanda di Indonesia, sebutan ini asalnya dari gabungan dua kata Belanda, yakni Kerk yang berarti gereja dan hof(f) yang berarti halaman. Oleh karena itu kerkhof dapat diartikan sebagai halaman gereja. Hal ini merujuk pada kebiasaan masyarakat pedesaan di Eropa Barat yang menguburkan sanak saudara mereka di halaman gereja. Gereja menjadi pilihan tempat penguburan karena selain dipandang sebagai tempat suci, gereja merupakan titik fokus yang penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan Eropa, dimana upacara pembaptisan bayi, pernikahan, dan misa arwah dilakukan di gereja. Dengan demikian, daur hidup manusia dari lahir hingga meninggal tidak akan lepas dari gereja. Di samping itu, gereja adalah tempat umum yang dikunjungi banyak orang sehingga dengan menguburkan jasad keluarga yang telah tiada di halaman gereja, keluarga dapat menunjukan keberlangsungan suksesi kepada khalayak (Kerrigan, 2017; 141). 
Letak kerkhof Purbalingga.
Kebiasaan memakamkan jenasah di halaman gereja mulai pudar setelah populasi penduduk kian meningkat pada abad ke-18 Kota menjadi semakin padat dan halaman gereja mulai kehabisan lahan untuk menerima jasad baru. Untuk mengakalinya, seringkali jasad dari orang yang baru meninggal dikubur di atas jasad yang lama sehingga jarak antara permukaan tanah dengan jasad kian dangkal. Jasad yang membusuk akhirnya menjadi biang keladi penyakit dan penularannya semakin meluas melalui perantara jemaat yang menghadiri ibadah di gereja. Atas desakan para ahli kesehatan, gereja memtuskan untuk melarang praktik penguburan yang pertama kali dimulai di Perancis pada 1776 (Kerrigan, 2017; 145). Pada akhirnya, orang-orang Eropa kembali mengulang kebiasaan lama dari zaman Romawi, yakni membuat permakaman di di sebelah jalan utama di luar kota dan kerkhof Purbalingga adalah wujud dari gagasan ini.
Bentuk-bentuk pusara di kerkhof ini nyaris seragam dan tiada yang tampak istimewa. Bentuknya cenderung kaku dan minim pernak-pernik seperti patung atau ukiran ornamen. Ukurannya pun juga tak besar-besar amat. Walau demikian, besar kecilnya sebuah pusara tak mengurangi peran pusara itu sebagai sebuah monumen, monumen untuk keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Lapisan luarnya tampak baru saja diperbaiki, tanda bahwa pemerintah di sini masih cukup peduli dengan keberadaan kerkhof Purbalingga.
Makam Wilhelmine Hoff.
Kusam pada makam-makam ini menciptakan nuansa kelam pada Kerkhof Purbalingga. Dimanapun itu, yang namanya permakaman pasti lekat dengan nuansa kelam, muram, dan duka. Hal itu tak lepas dari fungsi permakaman sebagai tempat menguburkan jasad yang sudah meninggal. Karena itulah seni yang terlihat pada makam tak jauh-jauh dari urusan maut seperti makam milik Wilhelmine Hoff. Bentuknya sekilas seperti sebuah tiang patah, yang dalam seni permakaman (funerary art) merupakan makna dari putusnya kehidupan di dunia dan simbol duka.
Makam-makam yang dibubuhi nomor.
Di kerkhof ini, saya mendapati makam-makam yang diberi nomor, tanda bahwa kerkhof Purbalingga di masa lalu sudah diatur dengan baik. Pengaturan kaveling makam dirintis oleh pemakaman Kensal Green di Inggris sejak era Victoria (1830an hingga 1900an). Selain mengatur kaveling makam, pengelola Kensal Green juga menyediakan jalan ke arah pemakaman yang dapat dilalui oleh kereta jenazah. Model pemakaman Kensal Green kemudian ditiru oleh penyedia jasa pemakaman baik yang dikelola swasta, pemerintah, ataupun gereja. Selain menyediakan kaveling makam, pengelola makam juga menyediakan kereta jenazah, peti mati, dan jasa perawatan makam ( Kerrigan, 2017; 147-148 ).
Bangunan yang tampaknya dipakai sebagai knekelhuis tempat persemayaman jenasah sebelum dikubur.
Kerkhof Purbalingga memiliki sebuah bangunan kecil yang mungkin saja dulunya adalah knekelhuis, yakni tempat jenazah disemayamkan sebelum dimasukan ke liang lahat. Hampir mirip fungsinya dengan rumah duka. Membincangkan kerkhof tentu tak lepas dari tata upacara kematian. Dalam Java Courant 1 Juli 1846, diatur bahwa upacara pemakaman dapat dilakukan sesudah pukul enam malam. Bagi orang Belanda, merupakan suatu keagungan bila penguburan diadakan di kala matahari sudah terbenam. Aura duka pada upacara pemakaman begitu terasa dengan pancaran cahaya lilin dan obor yang seringkali dibawa dalam jumlah banyak, tidak peduli dengan harga lilin dan minyak yang saat itu cukup mahal. Pidato belasungkawa ditiadakan dengan alasan orang yang hadir di pemakaman sejak pukul 6 sore sudah kelelahan dan ada kecemasan pada kehadiran roh jahat penghuni kuburan (Soekiman, 2014; 129).
Salah satu nisan di kerkhof Purbalingga.
Karena faktor usia dan cuaca, beberapa batu nisan sudah tak bisa terbaca. Batu nisan dar marmer yang semula putih bersih berubah menjadi sedikit kehitaman akibat kerak jamur yang menempel. Pada permulaan masa kolonial, batu-batu nisan didatangkan dari Coromandel, dari jenis batuan arduin biru atau kunsteen biru. Hiasan sesuluran dipahatkan pada tepi batu nisan, sementara di atas nama si mati dipahatkan hiasan lambang keluarga yang dibingkai karangan bunga. Memasuki abad ke-19, batu nisan yang dipakai pada kerkhof mengalami perubahan. Pahatan hiasan pada batu nisan menjadi jarang. Batu yang dipakai merupakan batu marmer putih yang ditambang dari Gunung Carrara, Italia.


Berdasarkan makam tertua di kerkhof ini, yakni makam A.J. Vincent dan Claudien van Haak, kerkhof Purbalingga sudah ada sejak tahun 1865. Pada abad ke-19, abad saat, pemerintah kolonial di tingkat lokal mulai getol membuka lahan makam di wilayah pinggiran yang tanahnya masih luas. Lahan makam ini tentunya diperuntukan bagi warga Belanda atau campuran. Yang menarik adalah keberadaan makam perempuan di kerkhof ini. Di masa itu, jumlah perempuan Eropa masih terbatas di Hindia-Belanda. Para penguasa masa kolonial pada mulanya terdiri dari orang militer, pedagang, dan aparat pemerintah. Mereka datang tanpa anak atau isteri dikarenakan perjalanan laut waktu itu dari Belanda sampai Nusantara sangat lama dan berbahaya. Setelah ada jaminan keamanan pada perjalanan laut, apalagi setelah dibuknya terusan Suez yang mempersingkat waktu tempuh pelayaran, maka perempuan-perempuan kulit putih mulai berdatangan ke Hindia-Belanda (Soekiman, 2012;24-25).



Referensi

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis, dari zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Kerrigan. Michael, 2017, Sejarah Kematian ; Tradisi Penguburan dan Ritus-ritus Pemakaman dari Zaman Kuno sampai Zaman Modern. Jakarta : Elex Media Computindo.

Jatmiko. W. 3 April 2011. Kuburan Belanda Purbalingga dalam https://www.banjoemas.com/2011/04/kuburan-belanda-purbalingga.html

Selasa, 26 Juni 2018

Memandang Stasiun Tawang, Stasiun Terelok di Hindia-Belanda.

Suatu hari di Semarang, saya memandang sebuah bangunan kuno yang begitu cantik dengan atap kubahnya, bangunan yang sama dengan yang dipandang oleh seorang wartawan dari warta harian Bataviaasch Nieuwsblad pada hari bangunan itu diresmikan 100 tahun silam. Keesokan harinya, wartawan tadi menyanjung bangunan yang kemarin ia pandang sebagai stasiun terelok di Hindia-Belanda. Ya, bangunan jelita yang saya sedang saya pandang saat ini tidak lain adalah Stasiun Tawang.
Bangunan Stasiun Semarang milik NISM yang pertama di Desa Kemijen.
(Sumber : media-kitlv.nl)
Stasiun Tawang, nama yang sudah tidak asing di telinga warga Semarang, terutama untuk mereka yang sering berpergian menggunakan kereta. Sudah lebih dari seabad Stasiun Tawang senantiasa melayani penumpang setiap hari sepanjang tahun. Ia hanya libur ketika lantai stasiunnya tergenang banjir rob, fenomena alam yang menjadi permasalahan wilayah Semarang bawah. Memandang dari sisi sejarahnya, Stasiun Tawang dahulunya adalah stasiun kepunyaan Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM), maskapai kereta api swasta pada masa kolonial. Sebelum Stasiun Tawang dibangun, NISM sudah memiliki stasiun kereta yang dibangun pada tahun 1867 di Desa Kemijen. Tempat tersebut dipilih sebagai lokasi dari stasiun kereta pertama di Hindia-Belanda karena dekat dengan pelabuhan sehingga memudahkan dalam proses kegiatan bongkar muat barang. Hal tersebut dimaklumi mengingat tujuan awal dari pembangunan kereta api di Hindia-Belanda adalah melayani angkutan barang. Pada perkembangan berikutnya, kereta api tidak hanya menjadi moda angkutan barang semata namun juga mulai digunakan secara luas sebagai angkutan penumpang. Letak Stasiun Semarang yang ada di Desa Kemijen mulai dirasakan tidak nyaman untuk keperluan tersebut karena jaraknya terlampau jauh dari permukiman. Orang yang pergi ke stasiun mesti melewati jalanan panjang yang berdebu di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan. Tidak jarang air menggenangi jalan hingga pinggang orang dewasa sehingga membuat orang kesulitan menuju ke stasiun. Permasalah tersebut menjadi dasar keputusan NISM untuk membangun sebuah stasiun kereta khusus penumpang di Semarang (De Locomotef 18 Maret 1909).
Gambar rancangan Stasiun Tawang karya Hildering.
Berdasarkan pertimbangan bahwa stasiun baru NISM tersebut akan diutamakan sebagai stasiun penumpang, maka stasiun tersebut akan diletakkan sedekat mungkin dengan permukiman. NISM kemudian memilih untuk membangun stasiun di Tawang yang berada di sebelah utara kawasan Kota Lama Semarang yang menjadi jantung niaga Semarang. Di tempat tersebut sudah ada beberapa perkampungan orang pribumi yang berbatasan dengan rawa-rawa. Setelah NISM melakukan pembebasan lahan di kampung tersebut, tuan Hildring didapuk oleh NISM untuk merancang bangunan stasiun tersebut. Hildring sebelumnya pernah merancang bangunan-bangunan penting di Semarang seperti kantin militer Jurnatan dan Societeit Semarang. Pada proyek pembangunan Stasiun tersebut, Hildring hanya diizinkan untuk merancang tampilan fisik bangunan. Direksi NISM memberi pesan kepada Hildring supaya merancang sebuah bangunan stasiun yang tak perlu terlampau megah ukurannya namun tidak boleh terlihat hambar. Sementara biro teknis NISM sudah menyusun letak dan pembagian ruangan stasiun yang mengedepankan aspek kenyamanan penumpang. Untuk pembagian ruangan tersebut, Hildring tidak diperkenankan untuk mengubahnya (De Locomotef 18 Maret 1909).
Cinderamata untuk undangan upacara peletakan batu pertama Stasiun Tawang
(sumber : media-kitlv.nl)
Proses pembangunan Stasiun Tawang cukup istimewa karena secara simbolis diawali dengan upacara peletakan batu pertama dan hal tersebut jarang sekali dilakukan untuk pembangunan stasiun. Acara penting tersebut berlangsung pada tanggal 29 April 1911. Dewan direksi NISM mengundang segenap aparat pemerintah Semarang mulai dari Residen, asisten residen, dan bupati. Anna Wilhelmina van Lennep, salah satu kerabat dari petinggi NISM, diberi kesempatan untuk meletakan batu pertama dari Stasiun Tawang. Kesempatan tersebut juga digunakan untuk memperkenalkan Sloth-Blauwbower sebagai arsitek baru yang menggantikan Hildring. Di lain tempat, pegawai pribumi NISM menggelar slametan dan hiburan tayub. Para tamu yang hadir lalu diberi cinderamata berupa sertifikat (Het Nieuws van den dag 2 Mei 1911).
Stasiun Tawang beberapa bulan setelah diresmikan (sumber : colonialarchitecture.eu).
Gambar irisan tampak samping Stasiun Tawang. Tampak bagian pondasi stasiun yang dibuat dalam untuk mencegah bangunan melesak akibat kondisi tanahnya yang merupakan rawa (sumber : De Ingenieur 17 September 1927)
Stasiun Tawang berlokasi di tanah rawa yang labil. Para insinyur yang dilibatkan dalam pembangunan Stasiun Tawang akhirnya mengakali permasalahan tersebut dengan cara membuat suatu landasan dari beton dan selama beberapa bulan landasan tersebut diberi beban dua kali massa bangunan. Setelah landasan pondasi dirasa cukup kuat, barulah di atasnya didirikan bangunan beton bertulang dengan empat kolom yang memikul atap kubah. Kendati demikian, agar seluruh bangunan tak turut ambles ke bawah, maka struktur bangunan sayap stasiun dipisahkan dari struktur bangunan utama di tengah. Setelah melewati proses pembangunan yang panjang, bangunan Stasiun Tawang diresmikan dalam suatu perayaan yang digelar pada malam hari tanggal 30 Mei 1914. Sekitar 150 tamu diundang untuk menghadiri pesta perayaan tersebut. Tatkala matahari mulai menapaki langit pada hari pertama bulan Juni 1914, cahaya paginya menyingkap sebuah bangunan stasiun yang akan memulai kiprah perdananya pada hari tersebut. Dengan penuh antusias, khalayak menyambut baik keberadaan stasiun tersebut. Hasil penyelesaian bangunan sangat memuaskan sampai para wartawan yang hadir menyanjung keindahan stasiun baru itu dalam surat warta mereka Grootste en moosite, termegah dan terelok (Bataviaasch Nieuwsblad 2 Juni 1914).
Stasiun Tawang pada tahun 1920 (sumber : colonialarchitecture.eu).
Panorama Kota Lama dari udara, tampak bangunan Stasiun Tawang di sebelah utara
(sumber : media-kitvlv.nl).
Sewaktu Stasiun Tawang diresmikan, pemerintah kolonial sedang mengerahkan segala daya upaya untuk menggelar pameran akbar Koloniaale Tentoostelling di Semarang dalam rangka menyongsong seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis; sebuah ironi karena pameran untuk memperingati kemerdekaan dari penjajah justru digelar di tanah jajahan. Pameran tersebut ditaksir akan dibanjiri pengunjung dari berbagai penjuru mengingat pameran itu baru kali pertama digelar di Hindia-Belanda. Sebab itulah dibukanya Stasiun Tawang disambut dengan antusias oleh pemerintah kolonial karena hal itu sangat membantu kelancaran perhelatan penting mereka. Sayangnya, Koloniale Tentoostelling berakhir dengan kerugian karena jumlah pengunjung yang datang ternyata tidak memenuhi harapan karena pada saat yang sama Perang Dunia Pertama mulai berkecamuk di Eropa. Walau gelaran Koloniaale Tentoostelling telah usai namun bukan berarti stasiun ini kembali sepi. Sebaliknya Stasiun Tawang justru lekas menjadi stasiun kereta teramai di Semarang. Hal ini karena Stasiun Tawang merupakan batu pijakan pertama untuk memasuki wilayah Vorstenlanden dan pedalaman Jawa Tengah yang kaya dengan perkebunan dan sarana militer.
Bangunan utama Stasiun Tawang.
Rangka atap. Bagian ini dahulu diperuntukan sebahai tempat parkir kendaraan.
Bagi sebagian orang di masa itu, keindahan Stasiun Tawang terlihat sepadan dengan gedung Lawangsewu, kantor dari perusahaan NISM yang menjalankan stasiun ini. Boleh dikatakan jika kedua bangunan ini menjadi simbol kejayaan NISM sebagai sebuah maskapai kereta di zamannya. Stasiun Tawang dimahkotai oleh sebuah kubah yang bertengger di puncaknya. Sementara fasad depannya terlihat menawan dengan tiga kaca jendela besar yang diberi dekorasi yang menampilkan roda kereta bersayap, simbol perusahaan NISM. Penumpang yang turun atau naik ke mobil disediakan kanopi lebar di depan stasiun yang akan melindungi mereka dari terik sinar matahari dan hujan. Halaman depan Stasiun Tawang yang luas dahulu memiliki jalan selebar 50 meter yang sudah diaspal sehingga tidak menimbulkan kemacetan di depan stasiun. Jalanan juga menjadi tidak berdebu atau becek pada musim hujan. Selanjutnya di samping kanan dan kiri bangunan, terdapat atap memanjang yang cukup lebar dan masih menyisakan ruang untuk tempat parkir yang dapat menaungi 38 kendaraan (De Locomotef 18 Maret 1909).
Relief roda bersayap.
Eksterior Stasiun Tawang.
Masuk ke dalam bangunan utama, kumandang lagu Gambang Semarang mengalir merdu di dalam aula ruang tunggu penumpang itu. Ruang tunggu setinggi 20 meter ini begitu memikat mata ketika cahaya matahari menembus kaca cupola yang berada di atas atap. Dengan disokong oleh empat tiang penopang, bangunan ruang tunggu ini tampak begitu kokoh. Relief perunggu karya Willem Brouwer turut andil dalam memperelok interiornya. Relief tersebut menampilkan lokomotif uap yang sedang menempuh perjalanan. Dahulu tulisan, “NIS” pernah terpampang pada salah satu relief namun tulisan tersebut kini sudah terhapus. Awalnya Stasiun Tawang memiliki empat lajur pemberhentian kereta dan dua atap peron tambahan. Walau sudah terjadi beberapa perubahan demi mengikuti tuntutan zaman, namun kekunoan Stasiun Tawang belum hilang. Pada malam hari, Stasiun Tawang awalnya diterangi dengan lampu gas sebelum diganti menggunakan lampu listrik.
Bekas ruang tunggu penumpang kelas 1 dan 2 Stasiun Tawang.
Interior ruang tunggu penumpang kelas 1 Stasiun Tawang
(sumber : colonialarchitecture.eu).
Kenyamanan pengguna jasa kereta menjadi aspek terdepan dalam perancangan Stasiun Tawang. Memasuki abad ke-20, NISM memang terbilang loyal dalam memberi pelayanan ekstra bagi pengguna jasa mereka. Supaya antrian tidak menimbulkan kerumunan besar, maka Stasiun Tawang menyiapkan enam konter penjualan karcis. Pembagian ruang tunggu Stasiun Tawang dibuat mengikuti bangunan baru Stasiun Kedungjati dan Ambarawa. Stasiun Tawang memiliki ruang tunggu khusus untuk penumpang kelas 1 dan 2 yang ada di sayap kiri. Jika diamati dari foto lama, bentuk ruang tunggu tersebut mirip dengan bar Eropa. Sembari menunggu kedatangan kereta, para penumpang kelas 1 dapat menikmati hidangan yang disajikan oleh restoran kelas satu di Semarang, Restaurant Smabers. Menariknya Stasiun Tawang menjadi stasiun pertama Hindia-Belanda yang menyediakan ruang tunggu dan toilet terpisah yang diperuntukan bagi penumpang wanita. Slogan “pembeli adalah raja” secara sungguh-sungguh diterapkan oleh NISM pada Stasiun Tawang. Sementara itu penumpang kelas 3 yang biasanya adalah orang-orang pribumi haram hukumnya menunggu di ruang tunggu kelas 1. Mereka disediakan tempat tunggu terbuka yang ada di sayap kanan. Hal ini menunjukan bahwa pembagian ruang tunggu di Stasiun NISM masih kuat dengan unsur segregasi ras. Sayangnya bagian ruang tunggu penumpang kelas 3 tersebut sudah hilang (Het Nieuws van den dag voor N.I 30 Mei 1914).
Cupola stasiun Tawang.
Tiang penopang.
Aula Stasiun Tawang pada tahun 1920
(Sumber : collectie.wereldculturen.nl)
Semenjak dibuka, Stasiun Tawang menjadi ujung dari jaringan jalur kereta NISM dan selama beberapa tahun jalur kereta antara Stasiun Tawang dengan Stasiun Poncol masih terputus. Hal ini kemudian merepotkan penumpang kereta dari kedua stasiun karena untuk melanjutkan perjalanan mereka harus berganti moda transportasi lain. Hambatan tersebut mulai disingkirkan manakala perusahaan kereta swasta lain di Semarang, Zustermaatschappij, memulai pembangunan jalur sambungan Poncol - Tawang pada 1 Mei 1940 dan mulai beroperasi sepenuhnya pada 6 Januari 1941. Jalur tersebut memiliki peran penting terutama untuk angkutan barang karena barang yang dibawa dari arah barat dapat dibawa langsung ke pelabuhan tanpa menggunakan trem kota terlebih dahulu. Sementara dari sisi angkutan penumpang, jalur tersebut belum memiliki peran penting karena perbedaan lebar jalur antara jalur SCS dan NIS belum memungkinkan untuk adanya perjalanan kereta langsung dari Pantura ke Vorstenlanden. Barulah setelah lebar jalur kereta di Pulau Jawa diseragamkan menjadi 1067 mm, keberadaan sambungan jalur mulai dirasakan faedahnya untuk angkutan penumpang.
Peron Stasiun Tawang.
Hari itu, rutinitas Stasiun Tawang berlangsung seperti biasa. Berbagai kereta dari berbagai arah datang dan pergi, mengisi dan meninggalkan stasiun. Stasiun ini dapat dikatakan stasiun yang super sibuk karena hampir semua kereta penumpang yang melintasi jalur utara singgah di sini. Dalam sehari, stasiun ini bisa disinggahi lebih dari selusin kereta seperti kereta Majapahit, Kertajaya, Sembrani, Matarmaja, Argo Bromo Anggrek, Menoreh, Ambarawa Ekspress, Kalijaga, Kamandaka, dan lain sebagainya. Deru suara mesin lokomotif yang singgah di antara keenam jalur aktifnya masih setia menggetarkan dinding stasiun. Bedanya jika dulu kala suara mesin uap yang mengisi udara stasiun, kini suara itu sudah tergantikan dengan gemetar suara mesin diesel.

Referensi

Ir M. PH. Broekhuijsen,1947, “De verbindingslijn te Semarang” dalam Spoor- en Tramwegen, Nr 23, 6 November 1947 hlmn 369-373.

Bataviaasch Nieuwsblad 2 Juni 1914

Het Nieuws van den dag voor N.I 30 Mei 1914

De Locomotef 18 Maret 1909

Senin, 21 Mei 2018

Lacak Jejak Pabrik Gula Klampok, Banjarnegara

( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Akhir bulan Juni 2017, Klampok, Banjarnegara. Cahaya matahari pagi itu terasa hangat. Awan kelabu tipis perlahan sirna, berganti dengan birunya kubah langit. Cuaca hari itu mendukung penjelajahan saya bersama kawan-kawan Komunitas Banjoemas Heritage ke bekas PG Klampok, satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Banjarnegara.
Lokasi PG Klampok, tak jauh dari pusat pemerintahan distrik Purwareja ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Semua orang tentu tahu bahwa bumi Indonesia tercinta ini dikaruniai Tuhan berupa hamparan tanah subur sehingga hampir segala jenis tanaman dapat tumbuh di sini. Namun kesuburan tanah ini juga menjadi sumber penderitaan rakyat Nusantara selama lebih dari seabad karena kekayaan alam tersebut rupanya dikeruk oleh bangsa Belanda demi keuntungan mereka sendiri. Tidak lama setelah Belanda berhasil memantapkan kekuasaanya di sini pada pertengahan abad ke-19, lewat kebijakan cultuurstelsel mereka membuka lahan perkebunan di beberapa tempat untuk ditanami tanaman bernilai tinggi di pasaran seperti tanaman tebu yang diikuti dengan pendirian pabrik gula.
Emplasemen PG Klampok awal tahun 1900an ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Industri gula di Karesidenan Banyumas pertama kali dirintis oleh PG Kalibagor pada 1830an. Kesuksesan PG Kalibagor kemudian mendorong pengusaha partikelir lain untuk mendirikan pabrik gula lain di Karesidenan Banyumas. Salah satunya adalah A.W. de Rijk dari firma De Rijke, Groscamp & Co. Disahkannya UU Liberal pada 1870 yang membuka keran ekonomi tanah kolonial kepada pemodal Belanda menjadi peluang de Rijk dan ia mendirikan perusahaan baru bernama Soerabaia Bank en Handels Co. Lewat perusahaan itu, ia mendirikan PG Klampok pada 1889 dan PG Sempalwadak pada 1891. Namun karena memiliki kinerja yang buruk, maka PG Klampok diambil alih oleh sebuah badan usaha di bawah nama N.V. Cultuurmaatschappij Klampok (Wiseman,2001; 366). Perusahaan tersebut didirikan di Surabaya pada tahun 1889 dengan modal sebesar 200.000 gulden yang dibagi menjadi 40 saham dengan harga perlembar sebesar 5000 gulden. Kursi jabatan administrator atau kepala PG Klampok diduduki pertama kali oleh J.F. de Ruyter de Wildt, kemudian A.W. De Rijk menjadi akuntan editor dan kursi direktur pengawas diisi oleh Mr G. H. van Zyll de Jong dan C. W. Groskamp (Java Bode, 4 September 1889).
Foto satelit PG Klampok. Keterangan 1 : Bekas lokasi pabrik. 2 : Bekas rumah administrateur. 3 : Deretan eks rumah dinas PG Klampok. 4 : Kantor pos Klampok. 
Tibalah kami di situs PG Klampok. Tiada bangunan pabrik yang besar dengan cerobong yang tinggi menjulang di sana. Satu-satunya penanda sisa dari PG Klampok hanyalah barisan tembok batu-bata tua di belakang area gudang semen. Pabrik gula Klampok sendiri sudah lama pupus dan sepertinya dihancurkan di masa pendudukan Jepang. Sungguh tragis akhir nasib dari pabrik ini. Di masanya, ia diklaim sebagai pabrik gula paling modern karena PG Klampok adalah pabrik gula pertama di Jawa yang sudah teraliri listrik. Listrik-listrik itu dipakai baik untuk mendukung operasional mesin ataupun untuk penerangan rumah karyawan. Untuk tanah perkebunan, PG Klampok menyewa lahan seluas 3000 bouw atau 2100 hektar, menjadikannya PG dengan ladang terluas di Karesidenan Banyumas. Berbeda dengan di negara lain, pabrikan gula di Jawa seperti PG Klampok selain sebagai produsen gula juga merangkap sebagai petani. Pabrik akan mengawasi langsung jalannya penanaman tebu yang dilakukan oleh buruh tani kontrak di lapangan mulai dari penyiapan bibit, penggarapan tanah, penanaman tebu, pemupukan, pengairan, hingga pengangkutan dari ladang menuju pabrik. Ada alasan mengapa pabrik gula di Jawa juga harus terlibat dalam urusan penanaman dari awal. Menurut Tichelaar, lahan penanaman tebu di Pulau Jawa luasnya terbatas karena tidak setiap tempat dapat ditanami tebu dan jikapun tempatnya cocok harus berbagi dengan tanaman untuk makanan pokok seperti padi dan jagung. Supaya industri gula di Jawa memiliki daya saing di pasaran dunia, maka satu-satunya jalan adalah dengan melakukan intensifikasi pertanian yang ditangani sendiri oleh pabrik sehingga dengan luas lahan yang terbatas mampu menghasilkan panen yang melimpah (Tichelaar, 1927:82).
Salah satu lori PG Klampok (sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915).
Untuk membawa tebu dari perkebunan ke pabrik, dibuatlah jaringan lori yang panjang totalnya mencapai 140 km, setara dengan jarak Amsterdam-Den Haag. Seusai tebu diolah menjadi gula, berkarung-karung gula dari PG Klampok kemudian diangkut menggunakan kereta api. PG Klampok dahulu dilintasi oleh jalur kereta milik perusahaan kereta swasta Serajoe Daal Stoomtram Maatschappij yang stasiunnya berada di sebelah barat pabrik. Jalur tersebut dibuka pada 2 Juli 1897 dan pada saat itu baru menghubungkan Klampok dengan Sokaraja. Bersamaan dengan pembukaan jalur tersebut, mulai dibangun pula jalur kereta Klampok dengan Banjarnegara karena Serajoe Daal Stoomtram Maatschappij berminat untuk melanjutkan pembangunan jalur kereta hingga Wonosobo (De Locomotief, 5 Oktober 1898). Keberadaan jalur kereta di dekat pabrik gula Klampok adalah bentuk simbiosis mutualisme antara perusahaan pemilik pabrik dengan perusahaan jasa kereta. Dengan transportasi kereta, karung-karung gula hasil olahan pabrik dapat dikirim ke pasaran dengan lancar, sementara perusahaan kereta menangguk keuntungan dari jasa pengangkutan tersebut.
Gubernur Jenderal Hindia-Belanda A.W.F. Idenburg yang pernah mengunjungi PG Klampok tahun 1915.

Kedatangan Gubernur Jenderal ke PG Klampok. Keterangan 1 : Gubernur Jenderal Idenburg. 2 : Administrateur PG Klampok, W. van der Haar. 3 : Residen Banyumas Doeve. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Gubernur Jenderal seusai menengok pabrik. Keterangan 1 : Gubernur Jenderal Idenburg. 2 : Administrateur PG Klampok, W. van der Haar. 3 : Residen Banyumas Doeve. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
24 Agustus 1915 adalah hari yang teramat istimewa untuk PG Klampok karena pada hari itu, akan ada tamu agung dari Batavia yang berkunjung ke pabrik yang terletak di tepi Sungai Serayu itu. Tamu ini bukan sembarang tamu karena ia adalah orang nomor satu di koloni Hindia-Belanda, Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg. Seperti yang diwartakan Weekblad voor Indie terbitan 5 september 1915, lawatan Zijn Execelentie ke PG Klampok didampingi oleh Residen Banyumas saat itu, Doeve dan kepala pabrik, W, van der Haar, dan bupati Banyumas. Setelah mengelilingi pabrik yang baru saja diperbesar tahun 1912 itu, Sebelum pulang, manajemen pabrik memberikan cinderamata berupa album berisi foto-foto pabrik gula kepada Idenburg.

Mesin sentrifugal (sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915).

Pompa ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Gambaran petani tebu yang sedang memulai bercocok tanam (sumber : media-kitlv.nl).
Gubernur Jenderal Idenburg begitu puas dan terkesan dengan kinerja PG Klampok yang dalam pandangannya adalah gambaran dari semangat para kapitalis Belanda dalam memajukan industri gula kolonial kala itu. Namun ia mungkin tak tahu, bahwa kemajuan yang diraih industri gula saat harus dibayar dengan peluh derita para petani yang tanah milik mereka direnggut secara halus. Kala itu, pabrik gula tidak dapat memiliki tanah dan sebagai gantinya mereka menyewa tanah pada petani. Para petani secara halus dipaksa menanam ladangnya dengan tebu. Pemandangan hamparan hijau tanaman padi, segera berganti dengan lebatnya batang-batang tebu yang tinggi. Nasib para petani yang semula bebas mengurus lahannya, kini berakhir menjadi buruh yang terikat kontrak pabrik gula. Tak jarang masa tanamnya melebihi waktu cocok tanam padi sehingga produksi padi terganggu dan stok beras menipis di pasaran. Dengan pendapatan yang amat kecil, nasib mereka kian sengsara karena mereka masih ditarik pajak yang mencekik.
Sisa tembok belakang PG Klampok.
Waktu-waktu kejayaan PG Klampok tampaknya telah habis. Warsa 1930an adalah tahun getir bagi industri gula di Jawa. Meredupnya industri gula tak lepas dari tersungkurnya harga gula di pasaran dunia akibat krisis keuangan atau malaise. Produksi gula diciutkan sehingga banyak pabrik gula yang ditutup, salah satunya adalah PG Klampok yang akhirnya tutup usia pada 1932. Bersama PG Klampok, PG lain di Banyumas yang bernasib serupa antara lain PG Kalirejo, PG Bojong, PG Purwokerto, dan PG Kalibagor. Tiada lagi pasokan gula yang dikirim ke Cilacap. Meskipun demikian, pihak manajemen masih terus berupaya mencari harapan untuk dapat membuka kembali lahannya dan membangkitkan PG Klampok dengan mencari suntikan modal baru (De Locomotief, 9 Mei 1935). Tapi upaya tersebut tampaknya berakhir sia-sia. PG Klampok tak pernah pulih. Seiring waktu, bekas pabrik yang pernah dikunjungi oleh Gubernur Jenderal itu akhirnya dipreteli sendiri mesin-mesinnya. Bangunan Societeit dibongkar oleh seorang pembeli Tionghoa. Selanjutnya pada tahun 1935, lahan pabrik diambil alih untuk dijadikan sebagai Landbouwkolonie, yakni semacam sekolah pelatihan pertanian. Bangunan perumahan pegawai lalu dijual seharga 4000 gulden untuk rumah tinggal peserta pelatihan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 21 November 1935).
Sisa-sisa rumah dinas pegawai PG Klampok.

Kantor pos Klampok.
Walau PG Klampok telah musnah, namun beberapa jejaknya masih dapat dilacak di dekat dulu PG Klampok pernah berdiri yakni, di sekitar lapangan Balai Latihan Kerja Klampok. Di sana masih  berdiri rumah-rumah bergaya Indis peralihan yang diperuntukan pada para tenaga ahli pabrik seperti chemist, machinist, zinder, dan akuntan. Beberapa rumah bagian depannya memang sudah dirombak untuk keperluan tertentu, namun bentuk aslinya. Mengapa rumah-rumah itu dibangun di dekat pabrik ? Sebelumnya perlu dipahami tugas-tugas para pekerja pabrik gula tadi. Chemist adalah karyawan yang ahli dalam menentukan mutu produksi gula. Kemudian machinist berperan dalam perawatan mesin pabrik, baik mesin penggiling atau lori tebu. Sementara itu, tugas pengawasan proses pembibitan, penanaman, dan pemanenan di perkebuan diserahkan kepada Zinder ( Wiseman, 2001; 394-401 ).Dengan kesibukan pegawai yang tiap hari bergumul dengan urusan pabrik, tentu mereka butuh tempat tinggal yang dekat dengan pabrik. Apalagi saat itu kendaraan masih jarang, tidak seperti sekarang dimana para karyawan pabrik dapat tinggal di luar emplasemen pabrik. Sehingga untuk menunjang kinerja pegawai maka kompleks perumahan pegawai pabrik gula zaman Belanda, seperti PG Klampok, selalu dibangun di dekat pabrik.
Bekas rumah adminsitrateur yang kini menjadi kantor BLKP Klampok, Banjarnegara.
Interior rumah administrateur. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Persis di sebelah barat lapangan BLK, terdapat kantor BLKP Klampok. Walau bagian depan sedikit beralih rupa ; beranda depan ditutup dan ditambah kanopi, namun dinding sampingya tidak bisa menipu jika itu adalah sebuah bangunan kuna. BLKP Klampok menempati bekas rumah administrateur PG Klampok. Dalam struktur manajemen pabrik gula, administrateur adalah jabatan yang paling tinggi karena dialah yang menjalankan segala urusan dalam pabrik. Salah satu administrateur yang pernah tinggal di situ adalah W. van der Haar. Di masa kepemimpinannya, ia PG Klampok dimutakhirkan dan mendapat kunjungan kehormatan dari Gubernur Jenderal Idenburg.
Bekas makam Belanda di dekat PG Klampok.
Pelacakan PG Klampok tak berhenti sampai di bekas pabrik dan kompleks rumah pegawai saja. Sedikit menjauh ke utara, memasuki hutan bambu, kami menjumpai keberadaan beberapa makam Belanda yang jumlahnya tak sampai sepuluh buah. Sayangnya semua prasasti yang semula melekat di makam itu sudah hilang tak diketahui kemana rimbanya. Walhasil kami tidak mengetahui siapa saja yang dimakamkan di sini.

Referensi
Fajar Riadi. 30 Maret 2018. "Cara Penguasa Genjot Produksi Gula" dalam https://historia.id/modern/articles/cara-penguasa-genjot-produksi-gula-P0o5g
Jatmiko W. 28 Desember 2012. "Suikerfabriek Klampok" dalam  http://www.banjoemas.com/2010/10/suikerfabriek-klampok.html
Petrik Matanasi. 7 April 2017. "Swastanisasi Gula, Meliberalkan Jawa" dalam https://tirto.id/swastanisasi-gula-meliberalkan-jawa-cmhe
Suhendra. 7 April 2017. "Pasang Surut Industri Gula Indonesia " dalam https://tirto.id/pasang-surut-industri-gula-indonesia-cmhg
Tichelaar, J.J. 1927. De Java Suikerindustrie en hare beteekenis voor Land en Volk. Surabaya : N.V. Boekhandel en Drukkerij H. van Ingen.
Wiseman, Roger. 2001. "Three Crises : Management in The Colonial Java Sugar Industry". Tesis. Adelaide : University of Adelaide, Departement of History.
Java Bode, 4 September 1889
Weekblad voor Indie edisi 5 September 1915.
De Locomotief, 9 Mei 1935
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 21 November 1935